3 Mar 2010

Masa Kecil yang Hebat

Sebenernya bukan karena mupeng pengen hadiahnya. Bukan juga karena "terpaksa" ikutan kuis, makanya baru nulis tentang penulis favorit saya. Sejujurnya, ada sejuta *halah, lebay* penulis favorit saya. Tapi mungkin, keterpaksaan ini membuat saya menulis salah satu dari mereka. Siapa tau, berlanjut ke nulis tentang penulis lainnya. Hehe...


Saya memilih Roald Dahl sebagai penulis kesayangan saya. Kenapa? Saya suka ceritanya. Fantasi tapi sarat dengan moral.

Buku pertama karya Roald Dahl yang saya baca adalah Matilda. Saya sama sekali nggak ngeh, waktu nonton film Matilda di salah satu tv swasta - adalah Matilda yang merupakan adaptasi dari cerita Roald Dahl.
Pas disimak, kok, ceritanya mirip ama yang di bukunya Roald Dahl, ya? Hahaha. Dan saya beneran baru ngeh pas baca credit title-nya! Huh! Ter la lu.

Mungkin, karena saya bukan tipe pembanding-banding. Maksud saya, saya lebih baik nggak tau film ini adaptasi dari buku mana atau buku mana adalah adaptasi dari film mana. Jadi, saya bisa menikmati keduanya dan nggak membandingkan aja. Jadi, walau imajinasi saya betul-betul terbentuk saat baca bukunya, ga terganggu dengan membanding-bandingkannya saat nonton filmnya juga. Jujur aja, ketika saya tertekan, saya ingin sekali punya kehebatan seperti Matilda. Setiap saya ingat orang-orang yang menindas saya, rasanya saya pengen punya kekuatan ala Matilda yang bisa membuat orang-orang itu merana. Hahaha...

Buku kedua karya Roald Dahl yang saya baca adalah Charlie and The Chocolate Factory. Ya ya... aktor ganteng Johnny Depp menjadi salah satu peran utama di filmnya. Saya nggak merasa rugi cerita ini difilmkan, karena hasilnya bagus, agak-agak mirip ama imajinasi saya hasil baca bukunya. Hehe. Dan saya suka cara Johnny Depp memerankan tokoh Willy Wonka.


Buku ketiga karya Roald Dahl yang saya baca adalah Aruk-aruk (dalam bahasa Inggris berjudul Esiotrot, maksudnya Tortoise, dibalik gitu. Makanya terjemahannya juga dari Kura-Kura jadi Aruk-Aruk. Hehe). Buku ini cerita tentang seorang kakek yang beternak kura-kura.


Buku keempat karya Roald Dahl yang saya baca berjudul The Twits, yang mengisahkan tentang suami istri Mr dan Mrs Twits yang kerap gila-gilaan dalam saling mengerjai, bahkan mengerjai binatang dengan cara-cara yang ganjil.

Buku lain yang berkesan buat saya adalah buku autobiografi-nya (walau ia sendiri tidak mau menyebutkannya sebagai autobiografi) Boy: Kisah Masa Kecil berjudul asli Boy Tales of Childhood. Dahl menceritakan masa kecilnya yang sarat dengan kejailan, tapi ia betul-betul punya masa kecil yang sangat menyenangkan. Lengkap dengan segala taktik kejailan, tentu saja. Misalnya saja, bagaimana ia dan teman-temannya memasukkan bangkai tikus ke dalam stoples permen karena sebal dengan penjaga tokonya. Atau ia menganti tembakau di pipa teman kakaknya dengan kotoran kambing karena orang itu sangat sombong. Hahaha. Liar sekali, bukan? Kisah masa kecilnya itulah yang sangat membekas dalam ingatannya dan menjadi inspirasi buat buku-bukunya yang bisa kita nikmati sekarang. What a wonderful childhood!

Judul-judul buku lainnya:
- Jari Ajaib - The Magic Finger
- Mr. Fox yang Fantastis
- Ratu Penyihir - The Witches
- Charlie dan Elevator Kaca Luar Biasa - Charlie and the Great Glass Elevator
- Danny Juara Dunia - Danny The Champion of The World
- Si Buaya Raksasa - The Enormous Crocodile
- James dan Persik Raksasa - James and The Giant Peach
- Raksasa Besar yang Baik - The BFG
- Boy and Going Solo
- Cinderella
- The Golden Ticket
- The Three Little Pigs

dan masih banyaaaaaaaaaak lagi!!! Buku-buku Roald Dahl memakai jasa ilustrator Quentin Blake untuk ilustrasi baik cover maupun ilustrasi di dalam buku. Jadinya, buku-buku Roald Dahl, khas banget ilustrasinya.

Udah waktunya, nih, nabung buat bisa beli Roald Dahl sebox terbitan GPU yang ada 14 buku itu, tuh! huhuhu.... harganya lumayen aje....

No wonder, Roald Dahl adalah No.1 The World's Storyteller. Orangnya memang sudah nggak ada, tapi karya-karyanya inspiratif dan abadi. Semua cerita Roald Dahl yang sarat pesan moral itu, disampaikan dengan cara yang sangat anak-anak. Mengena dan nggak terkesan menggurui.
Salah satu pesan moral yang saya pelajari adalah bahwa masa kanak-kanak itu tidak bisa diremehkan. Masa kanak-kanak yang menyenangkan kelak akan membentuk manusia dewasa yang kreatif dan berpikiran luas. Kalo ada orang dewasa yang kelakuannya kayak anak kecil, pastinya dia adalah seorang anak yang kehilangan masa kanak-kanaknya.


Kebayang, kan, kalo muka udah emak-emak atau bapak-bapak, tapi kelakuan masih kayak anak-anak. Sayang sama anak-anak nggak berarti mesti bertingkah seperti anak-anak. Dan Roald Dahl sudah menunjukkannya. Beliau pantas jadi salah satu teladan kita, kan?


foto saya ambil dari sini, sini, sini dan sini

buat menghargai yang udah bikin kuis ini, ini link si kuis itu...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tirimikisih udah ninggalin komen di sini... *\(^0^)/*