Tampilkan postingan dengan label Gramedia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gramedia. Tampilkan semua postingan

13 Jun 2023

[2023: Book 11] Membaca Lambang - Acep Zamzam Noor

Judul: Membaca Lambang 
Penulis: Acep Zamzam Noor 
Ilustrasi sampul dan isi: sukutangan
Cetakan pertama, Oktober 2018
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 96 hlm; 20 cm
ISBN: 978- 602-06-1396-3
Genre: Indonesian Literature, Puisi, Poetry
Status: Beli di gramedia dot com pas ada sale gede-gedean
Dibaca: 22 Februari 2023

Di muara kudengar langkah waktu sayup-sayup sampai
Rumpun bakau menjelma ruang yang memantulkan gema
Ketika angin kemarau berkejaran dengan gulungan ombak
Di pantai. Aku tertinggal jauh di luar batas kesementaraan

Sekalipun yang tampak di hadapan tinggal kabut semata
Tentu ada yang masih bisa diteroka. Aku membaca lambang
Merenungi bagaimana langit merendah dan bumi meninggi
Namun bukan sedang mengulurkan benang basah ke udara

Pengembaraan adalah detik-detik yang mengalir dari gunung
Diteruskan sungai ke muara. Sedang penghayatan ibarat pasir
Yang butir-butir halusnya mengembara ke tengah samudra

Pelan-pelan aku menyaksikan senja berubah menjadi panggung
Sebuah resital cahaya mulai dipentaskan cakrawala. Di kejauhan
Gugusan pulau menggelepar-gelepar bagaikan para penari latar
 

Hai, Kakak Ilman dan Kakak Zi...

Ini bukan buku puisi pertama yang aku baca. Tapi ini buku puisi pertama karya Acep Zamzam Noor yang aku baca. Aku kesulitan buat mencernanya. Entah otak aku yang nggak nyampe atau memang tidak terbiasa dengan pemilihan kata-katanya. 

Menurutku, gaya puisi Acep Zamzam Noor ini kayak tumpah gitu. Kata-katanya memburu, tipikal yang kalo dibaca dalam satu kali nafas, ngos-ngosan kitanya. Bisa jadi karena gaya menulisnya seperti itu, aku jadi kayak tersesat. Boleh jadi, cara bacaku yang salah. Karena... 

Ketika aku baca ulang dengan pelan-pelan, aku udah nggak ngos-ngosan lagi. Pelan-pelan bisa menikmati setiap barisnya. Rasanya seperti berkeliling Indonesia, karena setiap judul mewakili tempat yang berbeda di Indonesia.


Adakah puisi favoritku di buku ini? Kayaknya nggak ada selain puisi yang berjudul Membaca Lambang, seperti yang dimunculkan di bagian blurb. Tapi itu juga bukan puisi favorit, sih. Setidaknya itu puisi paling netral yang ada di buku ini. Buatku, mayoritas puisi di buku ini mencerminkan kesedihan, kedukaan, dan sejenisnya. Karena emosiku mudah terpengaruh, jadinya sulit untuk bisa datar menyikapi setiap pesan yang ada di puisi ini. Dan aku nggak suka puisi yang mencerminkan luka. 

Bukan tempatku untuk bilang puisi-puisi di buku ini bagus atau nggak, karena semua masalah selera. Hanya saja, selain pilihan kata-kata yang memburu dan cerminan kesedihan yang bertebaran di hampir semua puisi di buku ini bikin aku jadi over thinking untuk banyak hal, aku suka pemilihan tema yang menggunakan tempat-tempat di Indonesia yang aku bahkan banyak belum dengar. Misalnya saja Sungai Walennae, Celukanbawang, dan masih banyak lagi. 


Walau aku bukan penikmat puisi, sesekali aku menyukai baca puisi. Aku jadi inget masa-masa sekolahku dulu. Jadi, waktu aku SD dan SMP tuh, ada teman sekelasku yang ekspresif banget kalo mendeklamasikan puisi. Pasti menghentak-hentak. Bahkan temen SMP tuh sering ikut lomba deklamasi puisi dan kalo ada pelajaran tentang puisi, dia pasti disuruh mendemokan deklamasi puisinya. Jadi, yang keinget di kepalaku adalah: baca puisi itu harus selalu lantang dan teriak-teriak. Yah, dimaklum aja, aku ga punya referensi lain soal mendeklamasikan puisi, mengingat orang tuaku miskin literasi soal puisi. They do not like poet.

Kayaknya itu sih yang bikin aku kurang menyukai puisi, karena di kepalaku, baca puisi itu harus menghentak-hentak. Gandeng tau! Hahahah...


Tapi belakangan aku jadi suka puisi gara-gara temanku yang ngefans banget sama Benedict Cumberbatch ngepost saat dia baca puisi. Tenaaaaang banget. Dan dia jugalah yang bikin aku mulai cari-cari puisi dan mulai baca puisi. Salah satunya di sini:


Gimana menurut kalian? Waktu aku rekam itu, aku belum ngerti caranya mixing puisi pake lagu. Tapi jadinya konsentrasinya hanya ke puisi, kan? 




Aku baca buku ini untuk ikut tantangan:
- Gooodreads Reading Challenge 2023
- Babat Timbunan 2023 Joglosemar
- Tantangan Membaca BBBBC 2023


Stay healthy, love you both always... xoxo
    
Terusin baca - [2023: Book 11] Membaca Lambang - Acep Zamzam Noor

6 Feb 2017

Captain Underpants and the Attacks of the Talking Toilets by Dav Pilkey


Judul: Captain Underpants and the Attacks of the Talking Toilets - Captain Underpants #2 (Kapten Kolor dan Serangan Toilet Cerewet)
Penulis: Dav Pilkey
Penerjemah: Meliana dan Rosi Simamora
Ilustrasi sampul dan isi: Dav Pinkey
Cetakan pertama, Februari 2010
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 176 hlm; 20 cm
ISBN: 978- 979-22-5369-6
Genre: Children, Humor, Fiction, Comics, Graphic Novel, Adventure, Fantasy, Comedy
Status: Beli, titip tante Dewi. Edisi Broken kalo ga salah
George dan Harold biasanya anak-anak yang penuh tanggung jawab maksudnya, kapan pun ada kejadian heboh di sekolah, pasti George dan Harold yang bertanggung jawab! Dan rupanya kembali bikin ulah! Mula-mula, mereka membikin kacau Lomba Karya Ilmiah yang diadakan di sekolah. Berikutnya, mereka tidak sengaja menciptakan pasukan jahat dan buas. Pasukan bersosok toilet cerewet itu siap mengambil ahli dunia.Siapa yang mampu menghentikan toilet yang suka makan orang itu? Rupanya ini tugas buat...

KAPTEN KOLOR!

KAPTEN KOLOR, kisah petualangan penuh aksi, penuh horor, sekaligus penuh tawa. Dilengkapi FLIP-O-RAMA, teknik ilustrasi unik yang membuat pembaca bisa menciptakan film animasi sendiri
 
Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Sebetulnya, buku ini sudah Bunda baca di tahun 2014. Tapi, gara-gara Kakak Ilman sedang Bunda ikutkan Tantangan Menara Buku 2017 di sekolah, Bunda jadi ikut baca lagi. Ternyata, Bunda memang belum bikin reviewnya di blog ini. Ini buku pertama yang selesai dibaca Kakak Ilman dalam waktu dua hari. Tanggal 28-29 Januari 2017 lalu.

Tantangan Menara Buku 2017
Ketentuan Tantangan Menara Bukunya adalah setiap selesai membaca satu buku, lapor ke guru, nanti dapat stiker dengan warna sesuai dengan kriteria bukunya. Stiker ini ditempel di dinding, nanti begitu event Tantangan Menara Buku selesai, Kakak Ilman harus difoto di samping stiker. Kira-kira nanti bakalan lebih tinggi mana? Menara atau Kakak? :P 
 
Sampai hari ini tulisan Bunda turun, Kakak Ilman baru dapat satu stiker. Hihi. Sulit sekali mengajak Kakak Ilman baca. Yang tantrum lah, yang marah-marah lah. Heuuuu.... 

Oke. Cukup cerita mengenai Kakak Ilman dan Tantangan Menara Bukunya. Sekarang, kita cerita tentang bukunya.

Sinopsis
Di cerita ini ada dua anak kelas 3 SD Jerome Horwitz bernama George Beard dan Harold Hutchins yang selalu bertanggung jawab bila ada kekacauan di sekolah. Kejadian bermula ketika tahun lalu ada Konvensi Invensi, semua kursi menjadi lengket. Semua patpat orang yang duduk di atasnya, melekat kuat di kursi. Sehingga, di Konvensi Invensi tahun ini, mereka berdua mendapat sangsi dari Kepala Sekolah mereka, Mr. Krupp. Selama Konvensi Invensi berlangsung, mereka dikurung di ruang kelas.
 
Bukan George dan Harold namanya, jika mereka hanya duduk di ruang kelas tanpa melakukan perbuatan "unik". Ketika Konvensi Invensi berlangsung, terjadi kekacauan dan sayangnya, Mr. Krupp tidak dapat membuktikan bahwa George dan Harold yang bertanggung jawab. Tapi, Mr. Krupp kemudian "menang", karena satu-satunya saksi, salah satu peserta Konvensi Invensi itu, memberikan kesaksian, bahwa sehari sebelum acara, kedua anak ini terlihat di Ruang Olahraga.

Ngapain lagi kalo bukan merencanakan semua kekacauan itu?

George dan Harold kemudian mendapat detensi berupa menulis kalimat di papan tulis. Berkat kecerdikan keduanya, menulis janji sepenuh papan tulis hanya memakan waktu sebentar, sementara waktu detensi masih lama. Keduanya pun membuat komik, dengan judul Kapten Kolor dan Serangan Toilet Cerewet. Ketika mereka bermaksud memperbanyak komik ini di mesin fotokopi, mereka malah menemukan salah satu mesin pencetak tiga dimensi, hasil temuan salah satu peserta Konvensi Invensi itu.

Bisa ditebak, bukannya menghasilkan komik, malah Toilet Cerewet yang muncul dalam jumlah sangat banyak dan mulai menjadi teror. Saatnya Kapten Kolor beraksi!

 
Review 
Sebetulnya, Bunda lebih suka baca cerita yang manis-manis aja. Tapi, tidak bisa Bunda pungkiri, Bunda punya dua anak laki-laki, yang kemungkinan besar jahilnya luar biasa. Mau nggak mau, Bunda harus memperbanyak baca buku seperti ini dan kalian juga akan mengalami petualangan seru dengan buku ini. Yang jelas, amit-amit banget, deh, kalo sampai kalian jadi trouble maker!

Ah, iya! Satu hal yang Bunda sukai dari tingkah laku kedua anak ini, yang konon selalu menjadi penyebab kekacauan, mereka adalah anak-anak cerdas dan kompak. Bunda kagum akan ide cemerlang mereka, walau sering digunakan untuk mengerjai orang. Dan Bunda kagum akan kekompakan mereka. Mereka adalah contoh anak-anak aktif dan kreatif yang tahu memanfaatkan waktu untuk bersenang-senang. 

Konsep Flip-o-Rama ini keren, tapi terus terang, susah mempraktikkannya. Hihi. Nggak jadi animatif kalo di tangan Bunda. Ntar kita coba lagi, ya, Kak...

Buku ini nggak bisa jadi pedoman dalam bertingkah laku, tapi paling nggak, bisa jadi bahan pertimbangan kalo mau berbuat aneh-aneh apalagi sampai merugikan orang lain.

Terjemahannya enak dan mengalir, walau ada typo di bagian "kafetaria" yang berubah-ubah. Kadang "kafateria", kadang "kefateria" yang bikin Kakak Ilman bingung. Yang jelas, dalam bahasa Inggris, itu adalah "cafetaria" berarti dialihbahasakan menjadi "kafetaria", Kak. Ikutin aja kata awal dalam bahasa aslinya. 

Bagi Kakak Ilman, informasi salah seperti kata yang tertulis typo akan membuat kebingungan. Kasian, kan... 

Oke, segitu dulu, ya. Semoga Kakak Ilman tetap semangat baca dan bisa mengumpulkan stiker sebanyak kemampuan baca Kakak Ilman. Tenaaaang.. Bunda nggak akan memaksa, karena Bunda juga lagi berjuang untuk memenuhi target baca lagi tahun ini....

Bunda sayang kalian, xoxo



Terusin baca - Captain Underpants and the Attacks of the Talking Toilets by Dav Pilkey

12 Jan 2017

Sepeda Merah ~ Bunga-bunga Hollyhock #2 oleh Kim Dong Hwa


Judul: Sepeda Merah ~ Bunga-bunga Hollyhock #2
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Meilia Kusumadewi
Ilustrasi sampul dan isi: Kim Dong Hwa
Penyunting: Tanti Lesmana
Teks dan tata letak: Anna Evita Rosaria
Cetakan pertama, Oktober 2012
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 176 hlm; 21 cm
ISBN: 978- 979-22-8776-9
Genre: Graphic novel, manhwa, komik, manga, Korean Literature
Status: Beli, titip uwa Susi. Kata uwa Susi sih, belinya di Nagareboshi
"Suatu kali, ketika anak perempuanku datang mengunjungiku, pemandangan mawar-mawar hollyhock mengingatkannya pada kenangan akan ibunya yang telah tiada. 
Aku menebarkan benih-benih bunga itu mulai dari jalan masuk desa hingga ke ambang pintu rumahku...
Kala menelusuri jalan setapak berbunga ini, anak perempuanku merasa seakan-akan ia tengah berjalan sembari menggenggam tangan ibunya.
Dengan sedikit kesabaran mawar-mawar hollyhock ini pun tumbuh dengan semaraknya..."

Melalui kisah-kisah pendeknya yang sarat dengan kelembutan, Kim Dong Hwa diperhitungkan sebagai salah satu penulis manhwa paling berbakat di hati orang-orang Korea.


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...

Nyambung dengan buku sebelumnya, kali ini kita digiring seolah-olah kita udah kenal banget sama penduduk Desa Yahwari, jadi Pak Pos berkuncir lumayan jarang muncul. 

Di buku kedua, dibagi dalam musim-musim, mulai dari musim semi sampai musim salju. Setiap musim punya cerita khas sendiri.

Di musim semi, ada kisah mengharukan mengenai seorang ayah yang menanam benih bunga-bunga hollyhock mulai dari gerbang desa sampai rumahnya untuk anak perempuannya. Jika suatu saat anak perempuannya pulang, sang ayah yakin, bunga-bunga ini sudah mulai bermekaran dan akan mengingatkan sang anak pada ibunya yang sudah pergi untuk selamanya.

Nasihat paling menggugah di cerita musim semi itu adalah tentang tunas muda. Ceritanya ada seorang anak perempuan yang memutuskan untuk berpisah dengan suaminya, ayahnya berusaha untuk menghiburnya. Nasihat sang ayah supaya anak perempuannya tetap semangat adalah, "tunas-tunas muda ini berhasil menembus kulit kayu pohon yang jauh lebih keras dibanding kulit sapi. Bukankah itu luar biasa?", "Coba lihat di sebelah sana. Daun-daun kecil mereka jauh lebih rapuh dibanding kuku-kuku bayi yang baru lahir. Padahal mereka berhasil mengangkat gumpalan tanah yang beratnya seribu kali dirinya".

Ada juga kisah klasik Korea yang dituturkan penulis, yang deskripsinya bisa ditemukan di berbagai tempat di Desa Yahwari. Ada yang lucu, kisah kakek-kakek yang bahas kerutan di wajah yang dijadikan "simbol" pangkat militer. Makin banyak kerutan di kening, berarti makin tinggi pangkat militernya. Hihihi. Atau tentang sepasang suami istri yang jarang berbicara, tapi suaminya bikin surat cinta lewat huruf-huruf yang disusun di atas tanah, pakai kepingan kelopak bunga XD Aaaaw... soooo sweet!

Di cerita musim panas, banyak juga adegan romantis yang dilakukan oleh pasangan kakek dan nenek. Kebanyakan cerita dari Sepeda Merah ini karakternya manula. Karena di ceritanya, para pemuda Desa Yahwari kebanyakan meninggalkan desa ini untuk mencari nafkah di kota.

Ada yang lucu, ketika seorang cucu liburan di rumah neneknya, minta makan pizza. Karena si nenek sayang banget sama cucunya, semahal apa pun harga pizza, dibeli juga, walau menurut nenek, harga yang mereka bayarkan untuk makan pizza itu sama dengan empat ratus buah mentimun (di cerita ini, pizzanya berharga 20.000 won atau setara dengan IDR 221,842.61 - saat review ini ditulis, kurs 1 won = IDR 11,09). Jadi, waktu Pak Pos nanya ke nenek, "Kalian sudah makan pizza bersama?" si nenek jawab, "Lebih tepatnya kami baru pulang sehabis makan empat ratus ketimun". Hihi

Di cerita musim gugur, kebanyakan agak bikin sedih atau terharu. Misalnya kisah seorang kakek yang bangga akan pemberian cucunya. Kakek ini punya mainan dinosaurus Duli (karakter manhwa yang terkenal di era 1980-an) dan jadi gantungan ponselnya. Saking bangganya akan pemberian dari cucunya, ke mana aja si kakek pergi, karakter ini selalu dibawanya.

Ada juga tentang seorang ayah yang berhias menjelang kepulangan anak perempuannya. Yang cukur rambut lah, yang pake pewangi lah. Ah. So sweet! Sayangnya, hubungan Bunda sama YangKung nggak semesra itu xD Ada juga cerita mengharukan mengenai mangkuk-mangkuk nasi bersejarah. Atau tentang Kelas Sore yang lebih mengena karena mengenai akhir kehidupan seseorang.

Di cerita musim dingin, ada banyak kehangatan yang terjadi di musim dingin, jadi Pak Pos nggak terlalu merasa kedinginan ketika banyak tangan yang menawarkan kehangatan buat Pak Pos, yang sayangnya harus ditolak dengan halus, akibat terlalu banyaknya surat yang menumpuk sebab cuaca buruk. Ada juga cerita tentang warga Desa Yahwari mempersiapkan diri menghadapi musim dingin.

Paling sedih dari kesemuanya adalah cerita penutup. Ini spoiler, tapi lebih sedih kalo dibaca langsung. Cerita mengenai seorang ibu yang senantiasa menantikan kepulangan putranya. Si ibu menunggunya di stasiun, tapi anaknya nggak datang juga. Si ibu pulang dengan perasaan sangat sedih, lalu pergi tidur. Tengah malam, ada mobil yang berhenti di depan rumah ibu ini, ternyata anaknya pulang. Tapi mata si ibu bukannya berbinar, malah merem. Alasannya takut silau dengan kekayaan yang dimiliki anaknya. Si ibu punya firasat kuat kalo kekayaan anaknya didapat bukan dengan cara yang halal. Pas anaknya mau ditangkap, si ibu bilang, "tunggu sampai dia bangun." Terus si ibu nyuguhin ubi kukus ke para tamu yang mau nangkap anaknya itu. Ibu ini siap nyerahin anaknya, tapi dia minta para penangkap ini menunggu si anaknya bangun, seraya bilang, kalo ibu ini tahu perbuatan haram anaknya. Aaaaaaa.... mrebes miliiiiiiii.....

Ketimbang ngereview, kayaknya Bunda lebih banyak cerita isinya, ya? Soalnya, review Bunda cuma satu kata: KEREN. Udah gitu aja. Hahaha. Nah. Nggak suka, kan, kalo Bunda cuma bilang gitu?

Oke, Bunda mau cerita tentang gambarnya. Setiap gambarnya, walau nggak ada teks narasi atau balon katanya, bercerita. Jadi, walau masuk ke satu halaman bergambar penuh tanpa panel-panel, Bunda tetap bisa membaca "cerita" di dalam gambar itu. Di kepala, kebayang narasinya kayak apa. Kayaknya Bunda mungkin lebih lama menatap gambar satu halaman penuh untuk dibaca, daripada baca panel-panel, deh. Heuheu. Kebiasaan, emang.

Terjemahannya enak. Nggak kaku, jadi gampang dicernanya, walau sebenernya semua katanya puitis dan daleeeeeeeeeeem banget.

Dibanding buku pertama? Kesannya sama, karena cara penuturannya sama. Bedanya, di buku kedua lebih filosofis ketimbang buku pertama. Buku ini highly recommended buat kalian berdua!

 Cheers! Love, xoxo




Terusin baca - Sepeda Merah ~ Bunga-bunga Hollyhock #2 oleh Kim Dong Hwa

5 Jan 2017

Sepeda Merah ~ Yahwari #1 oleh Kim Dong Hwa (01-2017)



Judul: Sepeda Merah ~ Yahwari #1
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Meilia Kusumadewi
Ilustrasi sampul dan isi: Kim Dong Hwa
Penyunting: Tanti Lesmana
Teks dan tata letak: Anna Evita Rosaria
Cetakan pertama, Oktober 2012
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 144 hlm; 21 cm
ISBN: 978- 979-22-8776-9
Genre: Graphic novel, manhwa, komik, manga, Korean Literature
Status: Beli, titip uwa Susi. Kata uwa Susi sih, belinya di Nagareboshi



"Telusurilah jalan-jalan pedesaan yang beraneka ragam itu untuk menemui para penduduk Yahwari. Anda pasti akan berpapasan dengan sepeda merah si tukang pos yang berkeliling pelan penuh keselarasan dengan alam sekitarnya."

Melalui kisah-kisah pendeknya yang sarat dengan kelembutan, Kim Dong Hwa diperhitungkan sebagai salah satu penulis manhwa paling berbakat di hati orang-orang Korea.


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Selamat tahun baru 2017! Buat Kakak Ilman, selamat, ya... udah khitan! Itu tandanya Kakak udah besar... 
Semoga Kakak Ilman semakin shalih dan menyayangi Allah SWT.

Bunda mau cerita pengalaman Bunda waktu kecil dulu. Bunda selalu seneeeng banget terima surat dari eyang buyut putri kalian. Momen paling mendebarkan itu, sewaktu denger kring-kringnya sepeda Pak Pos di depan pintu pagar. Wahahaha... Deg-degannya karena nebak-nebak, surat yang datang kira-kira buat Bunda atau buat YangKung ya? Hihihi...

Selalu menyenangkan baca surat dari Eyang Buyut itu. Tulisannya tegak bersambung ala jaman duluuu banget. Meski begitu, Bunda udah bisa bacanya. Berlembar-lembar gitu. Surat-surat itu menghibur Bunda, ketika ditinggal ibu kandung Bunda untuk selamanya. Eh, iya, malah pas YangKung pedekate sama YangTi yang sekarang itu, Bunda disuruh surat-suratan sama YangTi, lho... hihihi...

Setelah lulus SD, selama tiga tahun, Bunda sering korespondensi sama mantan temen sebangku dulu. Lupa cerita apa aja, tapi yang jelas, tiap minggu, gantian dapet suratnya. Minggu ini Bunda yang dapet surat, minggu depannya Bunda yang kirim surat.

Tapi Bunda nggak pernah mau ikutan mendaftarkan diri jadi Sahabat Pena di majalah Bobo. Kalo baca keluhan mereka, sih, konon jadi sibuk banget karena harus balesin semua surat yang masuk. Trus, udah gitu, sering dibilang sombong, kalo suratnya ga dibales-bales. Akibatnya, demi balesin surat dari fans, ga sempet belajar, lalu nilai jeblok. Gitu, sih, ceritanya. Heuheu. Tapi nggak punya sahabat pena via majalah juga, Bunda udah sibuk korespondensi sama Eyang Buyut, kan?

Sekarang jadi kepikiran, pengen ngulangin lagi. Hahaha. Ada yang mau jadi sahabat pena Bunda?

Cerita tentang Pak Pos yang sering keliling Desa Yahwari ini unik dan menghangatkan hati. Uniknya, di Desa Yahwari itu alamatnya bukan pakai nama jalan dan nomor. Tapi lebih ke deskripsi khusus rumah itu. Misalnya saja, "rumah kuning kehijauan", "rumah tempat kita merasa semakin baik dan membaik", atau "rumah yang bisa dilihat di antara dua pohon pinus siam" dan lain-lain. Meski sulit untuk diingat, tapi Pak Pos ini selalu bersemangat mengantarkan surat.

Kadang, nggak hanya surat yang diantarkannya. Di musim gugur, pas lagi rame panen, banyak yang titip hasil panen untuk dikirim ke saudara-saudara para petani di sisi lain desa. Atau, jika sedang tidak ada surat sama sekali, Pak Pos tetap berkeliling desa untuk bertegur sapa dengan penduduk desa. Uniknya, selalu sama waktunya, sehingga, orang-orang di desa itu jadi punya kebiasaan untuk menunggu kemunculan Pak Pos di waktu yang sama, ada atau tidak ada surat untuknya.

Pak Pos sendiri sering mendapat surat dari seorang penyair di desa itu. Jadi, setiap Pak Pos membuka kotak pos di rumah penyair, dia akan menemukan selembar daun kecoklatan bersama surat yang dilipat unik. Surat itu berisi puisi-puisi karya penyair. Jadi pengen niruin deh... Hihi...

Ada juga cerita sedihnya, jadi Pak Pos sering lewat rumah seorang gadis cantik berwajah pucat. Setiap hari saling menyapa, sampai Pak Pos cukup lama nggak pernah lihat gadis itu. Ternyata gadis itu sudah meninggal. Dia tinggal seorang diri di rumah itu, ditemukan sudah tergeletak di lantai rumahnya oleh para tetangganya. Pas dibawa ke rumah sakit, keburu meninggal. Huhuhu... 
 
Grafisnya yang menurut Bunda sederhana tapi mewah, bikin betaaaaah banget bacanya. Belum lagi bahasanya yang lembut dan penuh makna, rasanya sayang aja kalo cepet-cepet kelar (walau bisa dibaca ulang berjuta kali lagi, kok! hihi)

Buku ini akan Bunda simpan baik-baik. Suatu saat nanti, kalian harus baca buku ini setelah dewasa. Soalnya, seluruh kalimatnya emang ditujukan untuk orang dewasa. Banyak hal-hal filosofis untuk direnungkan di setiap kisahnya.

Sampai jumpa di review berikutnya!

Cheers! Love, xoxo



Terusin baca - Sepeda Merah ~ Yahwari #1 oleh Kim Dong Hwa (01-2017)

12 Jan 2016

ibuk, oleh Iwan Setyawan





Judul: ibuk,
Penulis: Iwan Setyawan
Editor: Mirna Yulistianti
Proof Reader: Dwi Ayu Ningrum
Ilustrasi dan desain sampul: Itjuk Rahay
Setter: Ayu Lestari
Cetakan pertama, Juni 2012
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 293 hal + xi
ISBN: 978-979-22-8568-0
Genre: Novel, Fiksi, Indonesian Literature, Family, True Story, Drama, Inspirational
Status: Punya. Beli seken di tante Selebvi keknya



"Seperti sepatumu ini, Nduk. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kamu mesti kuat. Buatlah pijakanmu kuat."
-Ibuk-

Masih belia usia Tinah saat itu. Suatu pagi di Pasar Batu telah mengubah hidupnya. Sim, seorang kenek angkot, seorang playboy pasar yang berambut selalu klimis dan bersandal jepit, hadir dalam hidup Tinah lewat sebuah tatapan mata. Keduanya menikah, mereka pun menjadi Ibuk dan Bapak.

Lima anak terlahir sebagai buah cinta. Hidup yang semakin meriah juga semakin penuh perjuangan. Angkot yang sering rusak, rumah mungil yang bocor di kala hujan, biaya pendidikan anak-anak yang besar, dan pernak-pernik permasalahan kehidupan dihadapi Ibuk dengan tabah. Air matanya membuat garis-garis hidup semakin indah.

ibuk, novel karya penulis national best seller Iwan Setyawan, berkisah tentang sebuah pesta kehidupan yang dipimpin oleh seorang perempuan sederhana yang perkasa. Tentang sosok perempuan bening dan hijau seperti pepohonan yang menutupi kegersangan, yang memberi napas bagi kehidupan. 



Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...

Sakit itu bikin segala nggak enak, ya. Males ngapa-ngapain. Haha. Sakit selama dua minggu sebelum tahun baru trus balik lagi kena flu berat itu sungguh mengganggu!

Untungnya, bacanya nggak kena males. Walau kecepatan baca masih seperti siput, sakit kepala dan running nose nggak menghalangi buat balik halaman berikutnya. Dan masih aja nekat duet nyanyi di Smule, dong! Hahahahaha. Kedengeran banget lah, melernya :P

Oke. Sekarang kita ngomongin buku ini. Beberapa tahun lalu, sekitar tahun 2013 waktu pertama kalinya Bunda ikutan Secret Santa, Bunda beli buku ini untuk hadiah target Bunda. Saat itu sih nggak tertarik buat beli untuk diri sendiri.

Beberapa waktu kemudian, waktu lihat banyak yang mereview buku ini, akhirnya jadi pengen baca juga. Tapi masih belum tergerak buat beli sampai tante Selvi jual buku ini bareng buku Pintu Harmonika dan beberapa buku lainnya. ibuk, ini jadi salah satu pilihan Bunda kemudian. Berhasil menarik perhatian papa, jadi dia yang baca duluan. Hihihi.

ibuk, bercerita tentang seorang Tinah muda yang harus putus sekolah di masa muda, lalu ikut mbahnya, Mbok Pah, berjualan pakaian bekas. Banyak yang menyukai Tinah, karena kesederhanaannya, kecantikannya juga. Di sebelah kios Mbok Pah, ada kios yang berjualan tempe. Pemuda penjual tempe itu kerap memberikan tempe pada Tinah, sebagai wujud rasa sukanya kepada Tinah.

Dari banyak pemuda yang tertarik pada Tinah, hanya Sim-lah yang membuat jantung Tinah berdegup. Sim adalah seorang kenek playboy yang menjaga penampilan. Walau seadanya, dia nggak berpenampilan lusuh seperti umumnya kenek. Justru dia tampil klimis dan rapi. Singkat cerita, Tinah dan Sim saling jatuh cinta, lalu menikah.

Apakah cinta sesederhana itu?

Cerita ibuk, ini menggambarkan bahwa "happily ever after the end" itu nggak seindah cuma senang-senang tanpa keluh kesah, rasa susah, dan lain-lain. Penceritaan ibuk, diambil dari sisi Bayek, anak Ibuk nomer tiga. Satu-satunya lelaki.

Suatu ketika, Bayek pernah "mati suri". Nggak sakit, tertidur lama, tapi nggak bernapas. Namun detak jantung ada. Hal ini membuat Ibuk sangat cemas. Bayek juga pernah "diramalkan" akan menjadi orang yang membahagiakan Ibuk. 

Ibuk adalah sosok seorang perempuan hebat yang perkasa, jauh dari manja. Ibuk mampu mengurus suami dan kelima anaknya dengan tangannya sendiri.

Awal baca buku ini sebenernya emosinya datar, tapi lumayan bisa dinikmati. Ibarat baca diary orang. Namun, ketika membaca penuturan perjuangan Ibuk, di saat Bapak mengeluh angkot bolak balik mogok, anak-anak rewel karena sudah waktunya bayar SPP, rapor Bayek harus tertahan tidak dibagikan disebabkan belum bayar SPP dan kalender (nggak abis pikir, kenapa diwajibkan beli kalender, ya?), sepatu semua anak jebol berbarengan, Ibuk harus ngutang dan cicil sana sini juga mengatur keuangan seadanya dan memutar otak supaya semua bisa kebagian, nggak kerasa air mata Bunda mengalir.

Ibuk berjuang membesarkan hati Bapak juga kelima anaknya. Ibuk mengajarkan kesederhanaan pada anak-anaknya. Ibuk juga mengajarkan anak-anaknya untuk punya pijakan yang kuat. Ibuk menumbuhkan kasih sayang di hati anak-anaknya. Ibuk yang punya tekad kuat supaya semua anaknya menyelesaikan sekolah, apapun yang menjadi rintangannya.

Ingatan Bunda kembali ke masa Bunda masih SD. Waktu itu, YangKung lagi belum ada kerjaan, karena banyak proyek yang sebetulnya sudah kelar, tapi pembayaran masih tersendat. Jadi, mau ngerjain pekerjaan berikutnya belum ada modal, disebabkan dari hasil pekerjaan sebelumnya belum
dapat bayaran. YangKung dulu berprofesi sebagai arsitek dan pembuat maket (miniatur gedung). Dibayarnya per proyek selesai. Jangankan untuk beli bahan-bahan maket, untuk makan sehari-hari aja udah abis bis bis.

Hari itu, Bunda pulang sekolah, mendapati YangTi sedang duduk di ruang tengah. Menunggu YangKung. YangTi membelai rambut Bunda dan bilang, "kita belum bisa makan dulu. Belum ada uang untuk beli beras. Tunggu Bapak, ya. Mudah-mudahan, ada yang mau bayar, walau baru sepuluh ribu saja". Saat itu, nilai sepuluh ribu rupiah mungkin sama dengan seratur ribu rupiah saat ini. Bunda duduk berdua YangTi. YangKung rupanya sudah berangkat dari pagi, nagih-nagih ke klien kayaknya. Pulang-pulang, beneran bawa uang selembar sepuluh ribu rupiah. YangTi langsung ke pasar untuk beli beras dan beberapa lauk.

Mungkin karena pernah ngalamin cerita sejenis, pas Papa bilang, "ceritanya nggak ada emosinya", Bunda malah punya perasaan yang berbeda. Bunda sempet baper juga, karena memang pernah mengalami hal serupa dengan Bayek. Papa juga pernah ngalamin hal serupa, kok :D

Bersyukurlah kalian yang nggak ngalamin masa susah ketika kecil dan semoga nggak membuat kalian mati rasa melihat orang lain yang lebih susah dari kalian.

Kalimat-kalimat yang ditulis Iwan Setyawan ini sederhana dan mengena, mengalir juga. Walau "status" bukunya novel, tapi jadi kayak baca semi biografi. Yang agak "kurang" sebenernya saat ada hal-hal yang bisa diungkapkan secara emosional, keluarnya jadi datar. Terus terang agak geregetan jadinya. Namun di beberapa bagian emang ada juga penuturan yang bisa hit my nerve lalu nggak kerasa bikin meleleh. 

Mestinya sontreknya masih A Song for Mama juga, nih. Heuheu.


Sayangnya kurang ditunjang sampul yang mestinya bikin adem (Bunda kurang tertarik dengan sampulnya, ke-rame-an) plus banyak penuturan yang emosinya nggak keluar hingga terasa agak datar, Bunda tetep kasih bintang empat untuk Ibuk yang hebat dan menginspirasi semua ibu di dunia agar tidak menjadi ibu dan istri yang cengeng dalam mengantarkan anak-anaknya menjadi anak yang hebat! :D

Semoga Bunda bisa jadi Ibuk yang baik buat kalian berdua! Aamiin...

Cheers and love! xoxo,





Terusin baca - ibuk, oleh Iwan Setyawan

1 Okt 2015

The Giver by Lois Lowry



Judul: Sang Pemberi (The Giver)
Penulis: Lois Lowry
Penerjemah: Ariyantri Eddy Tarman
Penyunting: Barokah Ruziati
Proofreader: Primadonna Angela 
Desain dan ilustrasi cover: Staven Andersen
Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustka Utama
Cetakan pertama, Agustus 2014
ISBN: 978-602-03-0668-1
Jumlah halaman: 232 hlm; 20 cm
Genre: Dystopia, Children, Adventure, Young Adult
Status: Punya. Beli seken dari Tante Selebvi

Dunia Jonas adalah dunia yang sempurna. Semuanya terkendali dan teratur. Tak ada perang, ketakutan, atau kesakitan. Juga tak ada yang namanya pilihan Semua orang memiliki peran di Komunitas. Saat Jonas menjadi Dua Belas, dia terpilih menerima latihan khusus dari Sang Pemberi. Selama ini Sang Pemberi memegang ingatan akan rasa sakit sejati dan kenikmatan hidup. Sekarang saatnya bagi Jonas untuk menerima kebenaran. Dan tak ada jalan untuk kembali.

Saat itu menjelang Desember, dan Jonas mulai merasa takut....

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Sewaktu lihat di kalender BBI ada event posting bareng buku penghargaan Newberry, Bunda belum punya satu bukupun terkait. Setelah berbulan-bulan berlalu, baru deh punya buku ini. Hihihi. Iya, Bunda masih "puasa" belanja buku baru. Haha.

Bunda baca buku ini karena sedang butuh bacaan ringan dan cepat. Nggak salah emang, ngambil buku ini. Dibilang ringan sebenarnya nggak. Dibilang cepat, termasuk super cepat, dibanding baca buku yang ini mah. Hahaha.

Sinopsis

Cerita dimulai dari pesawat terbang memutar di atas komunitas ketika Jonas bersepeda, lalu terdengar ada suara pengumuman untuk menghentikan kegiatan dan bersembunyi di tempat terdekat. Ada peraturan bahwa pesawat yang melintas, tidak boleh terlalu dekat dengan komunitas. Pilot yang melakukan kesalahan fatal seperti itu, akan Dilepaskan.

Jonas tinggal bersama kedua orangtuanya dan satu adik perempuan bernama Lily. Ayah dan Ibu bukanlah orangtua biologis Jonas dan Lily. Ibu Kandung dirawat untuk melahirkan sebanyak tiga kali, kemudian menjadi Buruh hingga saatnya dilepaskan. Sementara seorang Ibu atau Ayah bisa saja berprofesi apa saja yang terlihat hebat dan mulia, sambil memulai sebuah Unit Keluarga.

Menjelang Dua Belas, Jonas mulai merasakan keanehan pada dirinya, yang kita sebut dengan menyukai lawan jenis, karena Jonas punya perasaan senang pada Fiona, teman sebayanya, bahkan mulai memimpikannya. Ketika dia menceritakan ini pada Ibu, Jonas segera mendapatkan pil yang setelah diminum, rasa yang menyenangkan itu tiba-tiba hilang. 


Ceritapun kemudian bergulir pada keseharian mereka, rutinitas mereka, hingga Desember pun tiba, di mana Jonas telah masuk Dua Belas dan mulai mendapatkan penugasannya.

Hingga nama terakhir dipanggil dan mendapatkan penugasan, Jonas tidak dipanggil juga. Hal ini membuat semua hadirin bingung, khawatir, sekaligus takut. Tentu saja Jonas merasa ketakutan, karena dia tidak ingin dilepaskan dari komunitas jika dia memang telah melakukan kesalahan yang membuatnya harus Dilepaskan.

Jonas terpilih sebagai Penerima. Dia bertugas untuk menerima ingatan dari seluruh ingatan yang dimiliki oleh Sang Penerima sebelumnya. Ingatan akan apa? Ingatan seluruh dunia.

Dari sebagian ingatan yang sudah ditransfer kepada Jonas, dia mulai mengenali adanya perbedaan. Jonas mulai mengenali apa itu rasa senang sekaligus rasa sakit. Di dunia Jonas, semua sempurna, sehingga tidak akan merasakan sakit, tidak akan ada peperangan, dan lainnya. Semua sudah diatur sedemikian rupa, sehingga tidak terlihat ada perbedaan. Sebelum Jonas terpilih sebagai Penerima, dia memang sudah melihat sesuatu yang lain yang tidak ada dalam hidupnya. Di antaranya, ketika dia melihat apel yang dilemparkan, dia melihat sesuatu yang tampak aneh namun indah dari apel itu, yang kemudian dia kenal dengan Warna.

Semakin banyak Jonas menerima Ingatan dari Sang Pemberi (The Giver), semakin Jonas ingin pergi menuju komunitas lain. Hingga akhirnya, Jonas menjadi saksi sebuah upacara Pelepasan salah seorang bayi kembar yang dilakukan ayahnya.

Susah untuk nggak kasih sopiler selama bikin sinopsis dan review, karena rasanya pengen banget menumpahkan semuanya di sini, biar ketegangan selama baca ikut terlepaskan. Hihihi. Tapi kan jadi nggak asik kalo semua diceritain. 


Review

Bunda suka cerita bergenre distopia setelah genre fantasi, walau belum banyak cerita genre distopia yang Bunda baca. Selalu ada kejutan-kejutan di dalam cerita yang membuat kita membayangkan ada dunia lain yang berbeda dengan dunia kita.

Cerita Distopia yang pertama kali Bunda baca itu adalah di komik Bobo, sewaktu Bunda masih SD dulu. Bunda lupa judulnya apa, tapi di cerita itu, ada seorang anak yang hidup di dunia di mana air sangat langka dan sulit didapatkan. Adik anak tersebut sakit keras dan keinginan terakhirnya adalah melihat hujan turun. Tapi bagaimana mungkin? Semua orang mendapat jatah air setiap harinya yang hanya cukup untuk minum dan sedikit membersihkan tubuh. Jangan bayangkan mandi, berenang hingga menyiram tanaman apalagi memandikan kendaraan. 

Desa dan kota lama sudah mereka tinggalkan, hingga suatu ketika, si anak tersebut menemukan sebuah rumah yang dulunya bekas rumah kaca di kota lama karena tersesat. Dia menemukan bungkusan bibit tumbuhan dan sebidang tanah yang tampaknya masih ada harapan untuk ditumbuhkan. Dia mulai menanam bibit yang ditemukannya dan memakai jatah minumnya untuk menyiram calon tumbuhan itu.

Pertama kalinya tanaman itu tumbuh, menjadi tanaman monster. Anak ini sedih sekali. Karena, dia berharap, dengan adanya tumbuhan hidup, hujan akan turun dan adiknya akan pernah melihat hujan. Usaha itu dilakukannya pada bibit tumbuhan lain yang ditemukannya. Dia berhasil. Tanaman itu menumbuhkan bunga-bunga cantik dan hujan turun.

Perasaan Bunda saat membaca komik itu teraduk-aduk. Jangankan membayangkan air minum harus dijatah dan nggak bisa mandi seumur hidup, sehari aja air nggak ngalir, rasanya udah pengen ngamuk. Pas baca The Giver, perasaan yang muncul saat Bunda SD dulu ketika membaca si komik ini, muncul lagi. 

Yang Bunda suka dari The Giver ini adalah Endingnya. Membuat semua pembacanya memikirkan kesimpulan dan membuat ending sendiri-sendiri :D

Komentar Bunda tentang The Giver ini...
1. Ceritanya sederhana tapi dalem banget. Mengalir, hidup, nuansanya lebih "serem" daripada cerita distopia lain yang pernah Bunda baca, seperti Uglies series dan Divergent series.
2. Terjemahannya enak, bikin lancar bacanya dan bisa Bunda selesaikan dalam waktu sebentar aja, meski sayangnya, pada beberapa kata terdapat typo. 
3. Covernya cakep. Kalo nggak baca ceritanya, pasti bingung kenapa ada orang menghadap apel geroak, terus hanya sebagian berwarna sisanya satu dua warna aja? Covernya bikin Kakak Ilman sering memandangi bukunya. Kakak bilang, itu orang lagi shalat :D
4. Bikin bertanya-tanya. Apa yang mereka lihat sih kalo mereka nggak bisa melihat warna? Apa yang mereka rasakan jika sebuah Keinginan muncul tapi harus dihilangkan lewat minum pil? Apa rasanya ketika kita tidak bisa merasakan sakit? Padahal ketika rasa sakit dihilangkan, otomatis rasa bahagia ikut hilang, karena setelah duka ada suka.
5. Ide cerita ini gila banget. Ngeri!

Oya, ini trailer filmnya. Seperti biasa, cerita buku ama cerita film pasti beda lah ya... :D





Happy reading and watching the movie!

Love and cheers! xoxo, 


Terusin baca - The Giver by Lois Lowry

5 Mei 2014

Does My Head Look Big in This? by Randa Abdel-Fattah


Judul: Does My Head Look Big in This? - Memangnya Kenapa Kalau Aku Pakai Jilbab?
Penulis: Randa Abdel-Fattah
Alih bahasa: Alexandra Kirana
Editor: Meliana Simamora
Desain cover: Marcel A.W
Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama, Juli 2007
Jumlah halaman: 352 hlm; 20 cm
ISBN-10: 979-22-3050-5
ISBN-13: 978-979-22-3050-5
Genre: Young Adult, Realistic Fiction, Religion - Islam, Teenlit, Cultural - Australian, Contemporary Fiction, Novel
Status: Punya. Beli seken dari tante Natnat.


Sekolah di sekolah swasta bergengsi di Australia sudah cukup berat tanpa harus memakai jilbab...

Apa yang bakal dikatakan teman-teman sekelas Amal hari Senin saat Amal berjalan masuk memakai jilbab untuk pertama kalinya? Wah, mereka pasti bakal ngeri. Memakai jilbab? Di depan anak-anak satu sekolah? SERIUS NIH?

Keputusan Amal untuk memakai jilbab membutuhkan banyak keberanian. Bisakah ia menghadapi prasangka, menjaga teman-temannya, dan masih menarik perhatian cowok paling ganteng di sekolah?

Kisah cewek ABG Australia keturunan Palestina-Muslim yang sarat dengan pesan keberanian dan ketulusan.


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Bunda baru kali ini, deh, baca teenlit terjemahan suasananya religius. Buku ini cerita tentang seorang Amal Mohamed Nasrullah Abdel-Hakim, baru satu semester pindah ke sekolah swasta bergengsi - McCleans, dari sekolah Hidaya - sekolah khusus Muslim, di mana di Hidaya, jilbab adalah bagian dari seragam, memutuskan untuk memakai jilbab full-timer. Maksudnya pakai jilbab full-timer itu adalah pakai jilbab baik keluar rumah, di rumah ketika ada non mahrom, dan bukannya pakai jilbab karena mau sekolah aja. 

Karena Amal tinggal di Australia yang multi kultural dan Islam bukan agama mayoritas penduduk, tentu ini menjadi sangat sulit. Masih banyak yang beranggapan bahwa jilbab adalah budaya Arab, bukan aturan agama Islam. Sulit karena sepertinya, memakai jilbab itu dianggap teroris. Muslim di negara dengan penganut agama Islam minoritas sering mendapatkan perlakuan rasis. Apalagi kalo menunjukkan identitasnya sebagai Muslim secara terang-terangan, terutama untuk kaum Hawa, dalam hal ini berhijab. Perlakuan rasis ini mulai dari dipanggil "ninja", dilihat secara jijik dari ujung kepala sampai kaki, atau bahkan diludahi dan dilecehkan secara seksual. Na'udzubillaahi min dzaalik.

Ini juga yang jadi pertimbangan Amal. Sejujurnya dia nggak mau jadi pusat perhatian, di mana setiap dia berada - setelah pakai jilbab - orang ngeliat dia sebagai alien, orang aneh, dan seterusnya. Tapi di satu sisi, dia ingin menaati apa yang diperintahkan Allah untuk perempuan yang sudah baligh, yaitu berjilbab. Bahkan, Mum dan Dad aja sempat menyarankan Amal untuk menundanya, karena khawatir nanti Amal mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan yang akan membuat Amal menjadi galau, mengingat Amal masih muda.

Amal punya sahabat-sahabat di McCleans, yang berbeda agama dengannya, Simone dan Eileen. Meski beda kepercayaan, mereka berdua sangat mendukung keputusan Amal untuk berjilbab. Sahabat Amal dari sekolah lama, Yasmeen dan Laila juga mendukung, dong. Selain itu, guru favorit Bunda, Mr. Pearce, mendukung keputusan Amal, bahkan dia meminjamkan ruangan kantornya selama sepuluh menit di waktu shalat, supaya Amal bisa melaksanakan ibadah shalat tepat waktu. Salut!

Di hari pertama Amal memakai jilbab ke sekolah, tentu saja, banyak yang memandang aneh sekaligus segan terhadap Amal, termasuk Adam Keane, cowok yang Amal suka. Bahkan kepala sekolahnya, Mrs. Walsh, mengira Amal memakai jilbab karena paksaan orangtuanya. Sampai-sampai beliau memanggil kedua orangtua Amal untuk membicarakannya. 

Sebenarnya cerita ini nggak hanya tentang seputar keputusan Amal berjilbab, tapi juga bagaimana dia mulai berteman dengan tetangganya yang sering memakinya, Mrs. Vaselli. Juga mengenai diet Simone. Mengenai Adam. Mengenai Tia Ramos. Mengenai Laila yang sering dijodohkan ibunya. Mengenai pamannya yang sok Australian. Dan masih banyak lagi.

Nah, itu sinopsisnya, ya. Kalo diceritakan semua jadi sopiler.

Pertama, Bunda pengen komentar dulu soal... cover. Duh! Sumpah! Ini covernya nggak banget buat sebuah teenlit! Padahal ceritanya catchy, menurut Bunda. Sayang banget, garapan covernya bikin orang malas melirik buku ini. Kayak ga jauh-jauh dari buku tutorial berhijab ala hijabers masa kini. 

Kedua, Bunda pengen komentar mengenai... terjemahannya. Errrr... Kaku sekali. Jadi gak enak bacanya. Bunda butuh waktu lama buat mencerna isinya. Nggak ngalir gitu. Padahal ini teenlit. Sayang banget, deh. 

Ketiga, meski kavernya nggak banget, terjemahannya kaku, Bunda suka semua tokoh di dalamnya. Amal yang pintar, cantik, pemberani dan juga penyayang. Semuanya tergambar dari keputusan-keputusan yang dilakukan Amal, juga semua yang dilakukan Amal. Bunda juga jadi sayang sama Simone, yang gak pedean, tapi dia berhasil menarik hati Josh, cowok terpopuler di sekolah.

Di luar kekurangan cover dan terjemahannya yang kaku, semua tokoh di sini adorable. Perkembangan ceritanya menarik, klimaks dan anti klimaksnya juga keren. Selain itu, yang Bunda suka di buku ini adalah, gimana cara bu Randa nerangin prinsip-prinsip di Islam tanpa terkesan menggurui, lewat keteguhan hati Amal. Suka, deh... 

Menurut Bunda, sih. Sebenernya layak dapet bintang 4. Kalo ga terganjal masalah kaver dan terjemahan, sih. Heuheu...

Bunda jadi pengen baca karya Randa Abdel Fattah yang lain, soalnya Bunda suka dengan style berceritanya.

Eh, btw, kirain bu Randa pake kerudung. Tapi pas brosing, ternyata orangnya ga jilbaban. Heuheu...

Sebetulnya, rencananya, review ini buat posting bareng BBI tanggal 29 April tema perempuan. Tapi, karena Bunda ga sempat menyelesaikannya, jadinya cuma buat YA Challenge aja, keknya. Hiks. Banyak absen acara BBI, nih, belakangan :(

Tetap semangat, ya...
Love you both... Cheers,



Terusin baca - Does My Head Look Big in This? by Randa Abdel-Fattah

30 Jan 2014

Negeri 5 Menara by Ahmad Fuadi plus Tebak SS


Judul: Negeri 5 Menara - Man Jadda Wajada
Penulis: Alif Fikri Ahmad Fuadi
Editor: Mirna Yulistianti
Setting: Rahayu Lestari
Proofreader Danya Dewanti Fuadi
Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 432 hlm
Cetakan kedelapanbelas (cover film) Juni 2012
ISBN: 978-979-22-8004-3
Status: Punya. Dikasih Secret Santa
Genre: Indonesian Literature, Novel, Religi (Islam)

Seumur hidupnya Alif tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya dilalui dengan berburu durian runtuj di rimba Bukit Barisan, main bola di sawah dan mandi di air biru Danau Maninjau. Tiba-tiba dia harus melintasi punggung Sumatera menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie. Dan setengah hati dia mengikuti perintah ibunya: belajar di pondok.

Di hari pertama di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan "mantera" sakti man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid, mereka menunggu Magrib sambil menatap awan lembayung yang berarak ke ufuk. Awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Ke mana impian membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: jangan pernah meremehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.


Halo, Kakak Ilman dan Adek Zidan...

Waktunya untuk mereview buku hadiah dari Secret Santa, nih!

Udah lama buku ini masuk ke rak wish list Bunda. Ada lah sekitar 3 tahunan. Maju mundur terus mau beli apa nggak, karena rata-rata review bilang buku ini mirip Laskar Pelangi. Ah... Bunda tuh antara suka dan nggak suka dengan buku itu. Maksudnya, Bunda nggak selesai baca bukunya. Tapi, Bunda nonton filmnya berulang-ulang. Kemudian, ketika penulis bukunya mulai "ngawur", espektasi Bunda terhadap buku LP turun, anjlok mendadak. Sigh....
Nah, berkat rasa ragu dan review banyak orang, Bunda takut kecewa kalo jadi beli buku ini. Akhirnya Bunda hanya sanggup naruh di rak wish list, sambil berharap, suatu hari akan ada orang baik hati yang menghadiahi buku ini.

Oke. Sekarang Bunda akan cerita sedikit tentang Negeri 5 Menara.
Ada seorang pemuda belasan tahun yang baru lulus Madrasah Tsanawiyah (MT) - setingkat SMP - bernama Alif Fikri yang bercita-cita masuk SMA. Cita-citanya sederhana, memang. Cuma pengen melanjutkan sekolah di SMA. Namun, ibunya memintanya untuk melanjutkan ke Madrasah tingkat lanjut.

Merasa sejak SD, SMP sudah kenyang belajar di sekolah berbau agama, Alif pengen, dong, sesekali belajar di sekolah umum. Gaul gitu. Tapi, ibunya bersikukuh ingin Alif menjadi seorang berilmu agama dan bertugas menyampaikannya kelak. Dan anehnya, biasanya ayahnya bisa membujuk sang ibu, kali ini bahkan beliau mendukung kemauan sang ibu.

Alif mulai memberontak. Pundung, mengurung diri di kamar. Sampai akhirnya dia dapat surat dari pamannya yang cerita kalo beliau punya teman yang bersekolah di Mesir dan berasal dari pesantren Pondok Madani di Jawa Timur. Dari sini, Alif pun mulai berubah pikiran dan dia mau sekolah di pesantren, asalkan di Pondok Madani.

Cerita selanjutnya sih, bisa ketebak, lah, ya, gimana ibunya berat melepas anaknya terus anaknya juga jadi galau karena sekalinya nurutin keinginan ibunya, tapi langsung melesat jauh ke pulau yang belum pernah kebayang di kepalanya seumur hidup.

Terus, ya dilanjutkan dengan cerita mengenai kehidupannya di pesantren.

Sekarang, Bunda ngerti kenapa sebagian orang menganggap cerita ini membosankan, terlalu LP. Karena mungkin ceritanya sama-sama tentang sekolah. Tapi, buat Bunda cerita ini menarik. Penuturannya nggak terlalu mendayu-dayu kayak LP (mungkin itu yang bikin Bunda nggak kuat ngeberesin baca LP), lebih taktis dan sistematis. Hahaha. Yah, gaya bahasa wartawan kali, ya.

Hal lain yang bikin Bunda suka adalah karena Bunda serasa diingatkan akan kehidupan pesantren. Gini-gini, Bunda pernah jadi santriwati spesial selama seminggu, lho. Semua aturan yang ada di Pondok Madani ini mengingatkan Bunda akan Pesantren Gontor yang terkenal itu. Jangan dianggap remeh yang namanya pesantren. Bahkan di sekolah yang tadinya Bunda mau daftarkan Kakak Ilman, kalo mau masuk Gontor, dari kelas 4 sudah mulai masuk kelas penggemblengan supaya siap ikut Ujian Masuk Pesantren Gontor.

Adik-adik mentor Bunda sewaktu di Salman dulu ada beberapa yang sukses jadi santri/santriwati Gontor. Beberapa melanjutkan ke Kuala Lumpur dan negara lain. Tapi ada juga yang DO di tahun kedua, karena melakukan tiga kesalahan fatal yang satu aja bisa dikeluarkan apalagi kalo tiga! Sedih pas denger sih.

Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa, sih, aturan pesantren itu kejam? Sebetulnya bukan kejam. Tapi disipliner. Tidak dibenarkan melakukan kesalahan sekecil apa pun. Karena kesalahan kecil yang dianggap remeh, akan membuat kesalahan yang lebih besar pun diremehkan. Kesalahan kecil itu sebetulnya mirip fenomena bola salju. Semakin dibiarkan menggelinding akan semakin besar. Ketika sudah menghancurkan, barulah orang sadar, bahwa itu adalah kesalahan. Orang baru sadar kalo semua sudah hancur. 

Selain itu, semasa SMP, Papa kalian kan bersekolah di pesantren. Hihihi...

Jadi, tentu saja, karena Bunda menyukai cerita dan semua kisah-kisahnya, termasuk kisah curi-curi pandang ngeliat Sarah, anak salah satu ustadz, yang katanya cantiiiiiiik buanget itu, semua serasa mengingatkan Bunda pada masa puber dulu.

Selain itu, yang membuat Bunda suka dengan cerita ini, hampir di setiap halamanya membuat tergelak. Bunda membayangkan keluguan pemuda ABG yang punya kehidupan yang sama selama 24 jam sehari selama berbulan-bulan. Intinya, Bunda menikmati cerita Negeri 5 Menara ini, walau banyak yang ummm... grammar-nya mesti diperbaiki.

Semisal, di surat Randai untuk  Alif, ada kata "disini" yang mestinya kan "di sini"
Atau kata "mengkilap" yang mestinya "mengilap", dan seterusnya.

Sayang aja, sih. Agak mengganggu. Atau Bunda aja yang keganggu? Hahaha... Padahal kan ada editornya. Plus, ini Gramedia, loh. Penerbit besoaaaaar...

Tadinya mau kasih 5 bintang. Tapi, karena cara nulisnya gitu, nggak semuanya sesuai kaidah penulisan dalam Bahasa Indonesia, Bunda kepaksa nurunin satu bintang... huhuhuhu...

Eh, ini ada quote favorit yang Bunda sukaaaa banget. Jleb, deh! Ini kata-kata senior Alif di Pondok Madani, sewaktu ada seorang ayah bertanya, kapan belajar agamanya?
Di Madani, agama adalah oksigen, dia ada di mana-mana.
Dan karena yang Bunda punya saat ini berkaver edisi film, maka Bunda akan kasih lihat trailer filmnya.



Ini sekilas mengenai Ahmad Fuadi:   



Fuadi lahir di nagari Bayur, sebuah kampung kecil di pinggir Danau Maninjau tahun 1972, tidak jauh dari kampung Buya Hamka. Ibunya guru SD, ayahnya guru madrasah.

Lalu Fuadi merantau ke Jawa, mematuhi permintaan ibunya untuk masuk sekolah agama. Di Pondok Modern Gontor dia bertemu dengan kiai dan ustad yang diberkahi keikhlasan mengajarkan ilmu hidup dan ilmu akhirat.

Gontor pula yang membukakan hatinya kepada rumus sederhana tapi kuat, ”man jadda wajada”, siapa yang bersungguh sungguh akan sukses.

Juga sebuah hukum baru: ilmu dan bahasa asing adalah anak kunci jendela-jendela dunia. Bermodalkan doa dan manjadda wajada, dia mengadu untung di UMPTN. Jendela baru langsung terbuka. Dia diterima di jurusan Hubungan Internasional, UNPAD.

Semasa kuliah, Fuadi pernah mewakili Indonesia ketika mengikuti program Youth Exchange Program di Quebec, Kanada. Di ujung masa kuliah di Bandung, Fuadi mendapat kesempatan kuliah satu semester di National University of Singapore dalam program SIF Fellowship. Lulus kuliah, dia mendengar majalah favoritnya Tempo kembali terbit setelah Soeharto jatuh. Sebuah jendela baru tersibak lagi, Tempo menerimanya sebagai wartawan. Kelas jurnalistik pertamanya dijalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah para wartawan kawakan Indonesia.

Selanjutnya, jendela-jendela dunia lain bagai berlomba-lomba terbuka. Setahun kemudian, dia mendapat beasiswa Fulbright untuk program S-2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Merantau ke Washington DC bersama Yayi, istrinya—yang juga wartawan Tempo—adalah mimpi masa kecilnya yang menjadi kenyataan. Sambil kuliah, mereka menjadi koresponden TEMPO dan wartawan VOA. Berita bersejarah seperti peristiwa 11 September dilaporkan mereka berdua langsung dari Pentagon, White House dan Capitol Hill.

Tahun 2004, jendela dunia lain terbuka lagi ketika dia mendapatkan beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk bidang film dokumenter. Kini, penyuka fotografi ini menjadi Direktur Komunikasi di sebuah NGO konservasi: The Nature Conservancy.

Fuadi dan istrinya tinggal di Bintaro, Jakarta. Mereka berdua menyukai membaca dan traveling.

”Negeri 5 Menara” adalah buku pertama dari rencana trilogi. Buku-buku ini berniat merayakan sebuah pengalaman menikmati atmosfir pendidikan yang sangat inspiratif. Semoga buku ini bisa membukakan mata dan hati. Dan menebarkan inspirasi ke segala arah.
Setengah royalti diniatkan untuk merintis Komunitas Menara, sebuah organisasi sosial berbasis relawan (volunteer) yang menyediakan sekolah, perpustakaan, rumah sakit, dan dapur umum secara gratis buat kalangan yang tidak mampu.

>


Nah. Udah, ya. Urusan review kelar. Sekarang kita bahas mengenai siapa Secret Santa Bunda. Di posting yang lalu, ada clue penentu yang sengaja nggak Bunda keluarkan. Karena, Bunda ingin teman-teman Bunda bisa menebak hanya dari depannya aja. Ternyata nggak ada yang bisa menebak kalo nggak ada clue "dahsyat" yang langsung menunjuk hanya pada satu nama saja.


Ini clue sesungguhnya menurut sang Santa:   
<

>

Sebetulnya, kalo Bunda boleh jujur, Bunda belum pernah baca karyanya. Jadi, walau ada clue begini tetep aja nggak dhong. Tapi, hari itu, pas Bunda dapet paket dari Santa, Bunda kebeneran banget buka grup pesbuk BBI dan ternyata SS Bunda baruuuuuu aja posting di sana. Ngeliat profile picture-nya langsung ke clue! Wah! Ini sih... kayak disuruh nebak mie goreng instant di piring yang ditutup di hadapan Bunda, tapi dari wanginya udah kecium kalo itu mie goreng instant. Hihihi... Langsung ketebak, lah, ya... Andai SS Bunda malah ngirimin petunjuknya berupa buku karyanya plus tanda tangan. Udah, deh. Bunda ga usah nyari tau lagi. #dikeplakseBBI


Jadi, siapakah gerangan SS Bunda?   
<
love you even more photo loveyouevenmore_zps270a46ea.jpg


>
Ya... dia adalah... PETRONELA PUTRI pemilik blog Petronela Putri Books. Berakun twitter @Kopilovie_.
>

Makasih, ya, Santa... Bukumu bikin aku pengen ngelengkapin koleksi triloginya.... Pilihanmu keren banget. Dan ini hadiah terindah darimu buatku.... Muah!

Cheers, Love you both!


Terusin baca - Negeri 5 Menara by Ahmad Fuadi plus Tebak SS