Tampilkan postingan dengan label Penerbit Qanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penerbit Qanita. Tampilkan semua postingan

23 Jan 2014

Takkan Pernah Menyerah - Sari Meutia dan Emak-emak AAB


Judul: Takkan Pernah Menyerah
Penulis: Sari Meutia, dkk
Penyunting: Budhyastuti R.H
Proofreader: Adriyani Kamsyach
Desainer sampul: Agung Wulandana
Ilustrasi hlm 130: Agung Wulandana
Foto: koleksi pribadi
Penerbit: Qanita
Cetakan pertama, Desember 2013
Jumlah halaman: 136 hal + xii, 20,5 cm
ISBN: 978-602-1637-17-3
Genre: Inspirasi, Kehidupan, Family, Non Fiksi, Memoar

"Aku kadang tidak tahu, apakah aku berdoa agar dia diberi usia panjang atau minta dihentikan saja penderitaannya."

"Dia pun pergi dengan meninggalkan aku yang tak kuasa membendung air mata.Bau parfumnya yang tertinggal di kamar membuatku semakin mual..."

"Tapi, putriku? Aku khawatir akan terjadi penyesalan di masa datang dan semua itu karena salahku dalam pengambilan keputusan saat ini."

Para ibu, tergabung dalam komunitas Arisan Antar Benua (AAB) yang mengawali persahabatannya di kegiatan Pembinaan Anak-anak Salman ITB,

Euis Fauziah - Hepti Mulyati Hakim - Ira Shintia - Keukeu Nurjannah Abdullah - Meilani Dewi Mayasari - Niken Sesanti Suci Rohani - Sangganiawaty - Sari Meutia - Sinta Asfandiyar - Ummi Aisyah,

menuliskan pengalaman mereka menjalankan bahtera rumah tangga dengan suka dukanya. Dari urusan mencari sekolah yang layak untuk anak, merawat suami atau anak yang divonis sakit berat bahkan meninggal, merantau menemani suami, hingga suami yang menikah lagi. Persoalan-persoalan khas istri yang tidak mudah dijalani, kecuali ketangguhan dan kesabaran menjadi perisainya. Perjuangan untuk menjadi manusia yang lebih baik, yang mandiri.

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Selamat tahun baru 2014.. masih "hangat" dari sisa-sisa pesta akhir tahun lalu. Pastinya penuh harapan. Bunda belum punya semangat buat bikin master post bakalan ikut challenge apa aja tahun ini. Bikin resolusi baca juga belum. Haha.

Bunda sih kepingin men-challenge sendiri dengan minimal 30 review bisa Bunda produksi di tahun 2014 ini. Entah, deh. Mari kita hadapi aja apa yang akan terjadi di tahun ini dengan semua harapan ;)

Nah, di tanggal awal di tahun baru ini akan Bunda isi dengan buku yang sudah selesai Bunda baca dengan penuh lelehan air mata. Lebay? Mungkin. Meski bukunya berwarna pink, yang Bunda sebut dengan "buku pinkih", bukan berarti isinya penuh keceriaan, romantisme yang mendayu-dayu menggetarkan hati sekaligus bikin kasmaran...

Jadi, buku ini berisi sepuluh kisah nyata para ibu dalam merawat keluarganya. Misalnya aja, ada Uwak Sari yang sepenuh hati merawat Uwak Basrah yang sakit dan harus bolak balik cuci darah. Jadi kebayang kayak apa perjuangan Uwak Sari juga Uwak Basrah saat menghadapi ujian itu. Bukan hanya waktu dan tenaga yang harus dikeluarkan, biaya juga nggak sedikit yang harus dikeluarkan. Banyak nahan napas pas baca kisah mereka.

Terus ada Uwak Ira yang nahan napas karena khawatir melihat kak Safa berkutat di bawah kayak pas kayaknya terbalik di air yang arusnya yang super deras. Meski kak Safa sudah ahli eskimo roll saat simulasi, tetep aja pas kayak kebalik di air yang arusnya deras beda urusan.

Ada lagi cerita tentang kak Fahmi-nya Uwak Nia yang termasuk ABK seperti Kakak Ilman. Gimana perjuangan Uwak Nia mengasuh dan mengantar kak Fahmi supaya mandiri dan bisa bersosialisasi dengan teman-teman biasa.

Juga cerita Uwak Maya yang bikin waswas karena anaknya tiba-tiba kena stroke pasca kejeduk... T_____T 

Belum lagi cerita Bude Uci yang bikin.... napas sempat berhenti. Bunda nggak kuasa menuliskannya di sini. Selain jadi sop iler juga kok, malah nanti bikin mewek. Mending baca sendiri aja.

Nggak semua cerita di sini bikin sesak napas karena sedih, kok. Ada yang "ceria" seperti yang ditulis Uwak Euis, yang ceritain pengalamannya sewaktu sempat menjadi penduduk Jeddah. Atau cerita Uwak Sinta yang stres karena milih sekolah buat anaknya. Juga cerita inspiring yang bikin bersyukur banget dari cerita Uwak Hepti.

Empat bintang sangat layak Bunda persembahkan buat ibu-ibu hebat ini... ^_^

Terusin baca - Takkan Pernah Menyerah - Sari Meutia dan Emak-emak AAB

31 Agu 2012

To Kill A Mockingbird



Judul: To Kill A Mockingbird (Novel tentang Kasih Sayang dan Prasangka)
Penulis: Harper Lee
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penyunting: Berliani Mantili Nugrahani
Proofreader: Emi Kusmiati
Edisi Baru, Cetakan II, Juni 2008
Diterbitkan oleh Penerbit Qanita
Desain sampul: Windu Tampan
Jumlah halaman: 540 hlm; 20.5 cm
ISBN: 978-979-3269-87-8
Novel
Status: pinjem ama sepupu :D
5/5
Recommended!

Kehidupan Scout dan Jem Finch berubah total saat ayah mereka menjadi pembela seorang kulit hitam. Ketika Atticus membela seorang yang dianggap sampah masyarakat, kecaman pun datang dari seluruh penjuru kota. Di tengah terpaan masalah yang menimpa keluarganya, si kecil Scout belajar bahwa kehidupan tidak melulu hitam dan putih.

Dikisahkan dari sudut pandang gadis delapan tahun warga Maycomb, Alabama, novel ini akan menunjukkan bahwa sebuah prasangka sering kali membutakan manusia. Dan sebuah keadilan hanya dapat dilahirkan dari rasa cinta yang tak membedakan apa pun latar belakang seseorang. Harper Lee telah berhasil menyuguhkan sebuah novel menawan yang amat berkesan dan tak lekang oleh zaman. (dari cover belakang)


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Apa kabar? Eh, Bunda nulis ini setelah nulis tentang Mudik walau belum banyak. Nanti nulis lagi. Kalo kejar tayang tuh, segala jadi ga teratur. Haha. Badan masih ringsek gara-gara sakit. Tapi nggak nyalahin mudiknya. Bunda suka sekali mudik :D

Nah. Akhirnya Bunda berhasil menyelesaikan tantangan yang satu ini. Setelah pusing milih buku selama berhari-hari dan malah balik baca Perahu Kertas gara-gara abis nonton filmnya. Nah, waktu mudik kemarin, Bunda kayak disodorin disuruh baca buku ini. Buku itu tampil dengan manis di meja rumah Mbah di Semarang. Buku kepunyaan om Anan. Langsung aja Bunda tembak om Anan buat pinjem. Hehe.

Tante Ally yang suka buku ini dari dulu menyarankan buat baca. Atticus adalah papa favorit tante Ally. Iya, tante Ally suka banget dengan tokoh-tokoh ayah yang menyenangkan.

Buku ini bercerita tentang dua bersaudara Jem dan Scout Finch yang memulai petualangannya sewaktu musim panas. Di sekitar mereka, ada tetangga yang nggak pernah keluar rumah, namanya Boo Radley. Kenapa nggak pernah keluar rumah? Jem dan Scout nggak pernah tahu. Namun, keponakan Miss Rachel yang datang sewaktu liburan musim panas, Dill, membuat mereka jadi suka mancing-mancing Boo untuk keluar dari rumahnya. Banyak cerita menyeramkan yang beredar tentang Boo Radley, sehingga dibutuhkan nyali yang besar sekali untuk Jem, Scout atau Dill bisa menyentuh rumah keluarga Radley.

Ibu Jem dan Scout sudah lama meninggal. Mereka berdua diurus oleh Calpurnia. Jem sangat melindungi Scout. Oya, Scout ini perempuan. Namanya adalah Jean Louise Finch. Meski Scout perempuan, tapi dia paling gampang panasan dan suka sekali berkelahi untuk menyelesaikan masalahnya. 

Baik Jem maupun Scout adalah anak-anak yang pintar. Mereka suka membaca. Bahkan untuk Scout yang baru mulai sekolah, dia sudah pandai membaca, menulis, dan berhitung. Hal ini membuatnya sulit di sekolah, karena gurunya tidak suka murid yang sudah pintar duluan sebelum dia membuatnya pintar. Jadilah, Scout menyalahkan Calpurnia juga Atticus karena sudah membuatnya pintar.

Cerita ini mengambil setting waktu di mana rasis masih menjalar luas. Kemungkinan masih ada perbudakan juga. Jadi, orang kulit hitam selalu dianggap jelek oleh orang kulit putih. Dianggap bodoh. Nggak punya kesamaan hak. Nggak boleh pintar. Dianggap berpenyakit, hanya karena mereka berkulit hitam. Sekalinya orang kulit hitam membuat masalah dengan orang kulit putih, duh. Udah, deh. Segala upaya "hukum" ditegakkan.

Padahal, seperti yang kakak Ilman dan adik Zidan tahu, derajat semua manusia di mata Allah itu sama. Yang membedakan hanyalah akhlaq dan keimanannya saja. Mau kulit putih, kek, mau kulit hitam, kek, mau kulit biru, kek. Sama. Makhluk Allah juga. Kategorinya juga sama: manusia. Diberkahi perasaan dan akal. Sama-sama bisa digunakan.

Meski Jem dan Scout ini anak-anak kulit putih, tapi mereka sayang dengan orang-orang kulit hitam dan marah sewaktu Tom Robinson, orang kulit hitam yang dibela papa mereka di pengadilan karena suatu fitnah, dianggap bersalah. Padahal Tom nggak bersalah. Cuma karena Bob Ewell, orang kulit putih yang walau dianggap sampah, karena termasuk orang kulit putih, jadi dianggap benar. Walau dia bersalah. Menyedihkan, ya?

Atticus adalah ayah yang menyenangkan. Dia juga termasuk ayah yang adil dan bisa membuat Jem bertanggung jawab untuk melindungi adiknya. Atticus juga ayah yang bisa membuat anak-anaknya merasa nyaman. 

Ada satu percakapan yang Bunda suka, yang keluar dari Atticus:

"Sifat Scout yang gampang marah tidak akan hilang. Dia harus belajar menjaga perilakunya dan harus segera, dengan apa yang akan terjadi padanya beberapa bulan ke depan. Tapi dia sudah lebih baik. Jem semakin dewasa dan Scout meneladaninya. Yang dia butuhkan hanyalah bantuan, sekali-sekali."

"Atticus, kau belum pernah memukulnya."

"Aku mengakui itu. Sejauh ini aku berhasil hanya dengan mengancamnya. Jack, dia mematuhiku sebaik yang dia bisa. Kadang-kadang dia memang bandel, tetapi dia mencoba."

"Itu bukan jawabannya," kata Paman Jack.

"Tidak, jawabannya adalah dia tahu aku tahu dia mencoba. Itulah yang membedakan."

Setiap anak pasti punya kekeras kepalaan masing-masing. Seandainya semua orangtua belajar untuk berusaha memahami anaknya dan anaknya juga berusaha memahami orangtuanya, pasti ada kesepakatan. Nggak mungkin buntu terus. Ini yang ingin Bunda coba praktikkan di rumah bersama kalian. Semoga kita bisa saling mencoba untuk mengendalikan diri, sehingga nggak perlu ada ancaman atau teriakan. Terkadang, kita ingin mencoba melanggar justru karena kita dilarang. Bener, nggak?

Eh, ngomong-ngomong, kenapa judulnya "To Kill A Mockingbird", ya?

Jadi, ada percakapan antara Atticus dengan Scout, di mana katanya membunuh burung mockingbird itu dosa. Sebab, mockingbird adalah burung yang indah dan bersuara indah. Burung mockingbird suka sekali menyanyi dan menirukan suara-suara serangga. Jadi, membunuh burung tak berdosa itu, ya dosa.



Lalu, kenapa ngambil judul ini? Ada di bagian akhir yang dijelaskan. Kalo Bunda tulis di sini, namanya spoiler. Jadi Bunda nggak akan tulis. Yang pasti kalian harus baca. It's recommended!

Gimana dengan covernya? Bunda suka! Bunda suka desain cover versi terjemahan ini. Wajah Scout yang ada di cover buku sesuai dengan karakter Scout sendiri dalam bayangan Bunda.

Lalu, bagaimana dengan terjemahannya? Hmm... nggak tahu kenapa, Bunda ngerasa ada beberapa hal yang nggak dapat feel-nya ketimbang Bunda baca versi aslinya. Bunda kebetulan punya e-booknya, jadi agak bisa membandingkan. Tapi berhubung waktu Bunda mepet, Bunda jadi nggak bisa menuliskan di sini di mana letak perbandingannya. Yang pasti, sih, Bunda coba nikmati aja dua-duanya. Tapi nggak usah khawatir. Bisa dinikmati, kok. Buktinya Bunda kasih 5 untuk Harper Lee.

Lalu, terbuktikah ini termasuk 1001 books you must read before you die? Bunda bisa bilang, iya!
Terusin baca - To Kill A Mockingbird

15 Feb 2010

Sherlock Holmes dan Laskar Jalanan Baker Street - Misteri Kematian Bintang Sirkus

Oke. Tidak ada kata terlambat untuk review buku, film dan mungkin juga game. hehe.

Ini bakalan jadi review pertama saya. Buku yang sudah saya timang sejak 2008, tapi baru saya baca pertengahan Februari 2010. Buku pertama tahun 2010 yang berhasil saya lalap hanya dalam tiga hari saja. Hehehe. Saya terlalu banyak buku mogok, soalnya....



Sherlock Holmes dan Laskar Jalanan Baker Street - Misteri Kematian Bintang Sirkus (diterjemahkan dari Sherlock Holmes and The Baker Street Irregulars)
Penulis: Tracy Mack dan Michael Citrin

Penerjemah: Maria M. Lubis

Penyunting: Andhy Romdani

Proofreader: M. Eka Mustamar
Cetakan I, Februari 2008

Diterbitkan oleh Penerbit Qanita

Tebal: 316 halaman; 13 x 20,5 cm

ISBN:978-979-3269-73-3

Bintang Sirkus Grand Barboza, Walenda Bersaudara, terjatuh dan tewas seketika saat pertunjukan di hadapan para penonton.
Tali akrobat mereka putus secara misterius. Sementara itu, di Istana Buckingham Inggris, The Stuart Chronicle, buku berumur dua ratus tahun yang bertatahkan batu-batu mulia lambang kekuasaan kerajaan, dicuri!

Kelompok informan andalan sang Master Detektif pun lalu diberdayakan untuk membantunya mencari informasi aktual dalam mengungkap kasus ini. Mereka adalah Laskar Jalanan Baker Street, dengan Wiggins sebagai pemimpin kelompok mereka.
Mereka adalah anak-anak tunawisma yatim piatu yang hidup di jalanan dan tinggal di sebuah gudang bekas yang mereka sebut sebagai kastel.
Cerita yang ditulis dalam buku ini begitu mengalir dan kita diajak untuk mengumpulkan dan merangkai fakta-fakta sehingga kita dapat menarik kesimpulan. Duet suami istri Tracy Mack dan Michael Citrin ini berhasil menciptakan sensasi ketegangan luar biasa di adegan konflik. Belum lagi bagaimana saya bisa merasakan kengerian teramat sangat ketika Ozzy mengalami sebuah jahitan akibat luka menganga di tubuhnya karena jatuh dan harus merasakan jahitan tanpa biusan namun setelahnya ia bersikukuh masih harus menunaikan tugas, melakukan pengintaian di sebuah dermaga.
Buku ini menceritakan murni sikap anak-anak saat melakukan pengintaian. Kecerobohan demi kecerobohan yang umum terjadi jika kau mempekerjakan anak-anak, menjadikan kisah dalam buku ini begitu natural. Begitu juga rasa persaudaraan yang terjalin di antara mereka, membuat buku ini semakin hangat buat dibaca.
Terusin baca - Sherlock Holmes dan Laskar Jalanan Baker Street - Misteri Kematian Bintang Sirkus