7 Mar 2016

Dilan #2 - Dia adalah Dilanku di tahun 1991


Judul: Dilan #2 - Dia adalah Dilanku di tahun 1991
Penulis: Pidi Baiq
Ilustrasi sampul dan isi: Pidi Baiq
Penyunting naskah: Andika dan Moemoe
Penyunting ilustrasi: Pidi Baiq
Desain sampul: Kulniya Sally
Proofreader: Febti Sribagusdadi Rahayu
Layout sampul dan setting isi: Tim Pracetak dan Deni Sopian
Cetakan VII, Shafar 1437H/Desember 2015
Diterbitkan oleh Pastel Books
Jumlah halaman: 344 hlm; 20,5 cm
ISBN: 978- 602-7870-99-4
Genre: Romance, Indonesian Literature, Young Adult, Comedy
Status: Punya, dikasi tante Retno Dewi Lestari



"Jika aku berkata bahwa aku mencintainya, maka itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap."
-- Milea

"Senakal-nakalnya anak geng motor, Lia, mereka shalat pada waktu ujian praktek Agama."
-- Dilan


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Astaga... udah sebulan aja berlalu sejak terakhir nulis review... Yah, progres baca Bunda sebenernya banyak, tapi belum ada satu buku lagi yang tuntas... Hahaha... Sekalinya ada yang tuntas, Bunda nggak sempet nulis karena lagi banyak banget "work-in-progress" xD

Jadi, daripada kena priwit Divisi Membership BBI, Bunda harus posting bulan ini, yah... *dikeplak tante Ren*

Hmmm... Dilan kedua ini agak berbeda dengan Dilan pertama. Menurut Bunda suasananya agak lebih suram, jadi pas bacanya, rasanya nggak seberbunga-bunga sewaktu baca yang pertama. Kurang lebih ceritanya begini...

Jadi, di buku kedua kan emang Milea itu udah jadian dengan Dilan, tapi kebersamaan mereka lebih sedikit dibanding sewaktu di buku kedua. Mungkin salah satunya karena Dilan lebih sibuk membalaskan dendam. Parahnya lagi, Dilan bahkan sampai masuk penjara dan dikeluarkan dari sekolahnya... Jadi, dia nggak satu sekolah lagi dengan Milea.

Terus terang, karena segala kesuraman yang ada, Bunda jadi sempat malas meneruskan baca buku ini. Bunda jadi nggak simpati pada Milea. Tapi kalo Bunda turunin rating buku ini, kasian penulisnya. Hihihi... Penulis kan ga bisa terus-terusan memenuhi keinginan pembacanya. Mungkin penulis ingin menuturkan kisah anti mainstream, walau reaksi kebanyakan pembaca adalah nggak suka dengan ending cerita buku kedua ini...

Apakah Bunda Dilan masih jadi favorit Bunda? YA DONG!

Eh, eh... Walau sedih, nih, ada sedikit spoiler yang bisa Bunda bagi... semoga kalian tetap tersenyum membacanya ya...

"Tau gak, pas pelajaran Ibu Dewi lagi, Dilan bawa obat nyamuk," lanjut Piyan sambil senyum.
"Buat apa?"
"Obat nyamuknya, dia nyalain," jawab Piyan senyum bagai sedang nahan ketawa. "Yang tau cuma Piyan sama si Bambang."
"Terus?" kataku.
"Terus, obat nyamuknya disimpen di bawah mejanya," jawab Piyan.
"Di bawah mejanya sendiri?" tanya Wati dengan wajah sedikit bingung.
"Iya. Di atas obat nyamuknya disimpen petasan," jawab Piyan tersenyum. "Kan, apinya ngerembet, tuh, jadi pas kena petasan langsung meledak!"
"Hahahaha...," Wati ketawa. "Ngapaiiiin?" tanyanya kayak orang yang kesel karena melihat orang melakukan perbuatan yang tidak jelas.
"Sekelas gempar tau gak?" kata Piyan ketawa.
"Terus?" kutanya sambil senyum.
"Iya. Terus, Dilan kayak yang lemes gitu," jawab Piyan.
"Lho? Kan, dia yang nyalain?" tanya Wati.
"Iya. Dia bilang ke Bu Dewi, katanya bukan cuma dia yang biang kerok di kelas. Katanya, dia juga jadi korban."

Gimana? Kalian bisa ketawa baca adegan ini? xD Ini memorable abis! Bunda tergelak dan ngebayangin situasinya kayak apa... Hihihi... Masih ngakak setiap inget ini lho...

Masih banyak adegan yang bikin tergelak, kok, jadi walau Bunda kasih sedikit spoiler, tenang aja, nggak akan kehabisan bahan untuk tertawa, kok...

Review Bunda garing, yah... Abisnya, Bunda kesel abis sama buku kedua ini... jadi... kalian lah yang memutuskan apakah sepakat dengan Bunda atau tidak untuk urusan sebal pada Milea xD

Cheers! Love you both, xoxo




Terusin baca - Dilan #2 - Dia adalah Dilanku di tahun 1991

Dilan - Dia adalah Dilanku Tahun 1990 by Pidi Baiq


Judul: Dilan ~ dia adalah Dilanku tahun 1990
Penulis: Pidi Baiq
Ilustrasi sampul dan isi: Pidi Baiq
Penyunting naskah: Moemoe dan Huda Wahid
Penyunting ilustrasi: Pidi Baiq
Desain sampul: Kulniya Sally
Proofreader: Febti Sribagusdadi Rahayu
Layout sampul dan seting isi: Tim Artistik dan Deni Sopian
Diterbitkan oleh: Pastel Books ~ DAR Mizan
Cetakan III, Juni 2014
ISBN: 978-602-7870-41-3
Jumlah halaman: 332 halaman, 20.5 cm
Genre: Romance, Indonesian Literature, Young Adult, Comedy
Status: Punya, beli sendiri

"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja" (Dilan 1990)

"Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang." (Dilan 1990)

"Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli." (Milea 1990)


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Ya ampun... ini sudah ada dalam drafts sejak dua tahun lalu dan belum Bunda lanjutkan! *tepok jidat*

Jujur aja, udah agak-agak lupa, sama ceritanya... Tapi okelah, Bunda coba ceritakan ulang sedikit, yang Bunda ingat...

Ada seorang remaja lelaki bernama Dilan, yang jatuh hati pada seorang Milea Adnan Husein, anak baru pindahan dari Jakarta. "Kesamaan" yang dimiliki oleh Milea dan Dilan adalah sama-sama anak tentara. Dilan sebenernya anak geng motor, suka berkelahi, tipikal anak laki-laki yang sering dipanggil guru BP. Tapi dia agak "melunak" ketika mulai suka pada Milea.

Milea sendiri standar anak perempuan baik-baik yang nggak suka pada perkelahian dan kekerasan gitu. Jadi, kalo misalnya Dilan mendekati Milea pake standar ala-ala anak geng motor dengan gaya sok kece, sepertinya Milea nggak akan mau.

Cara Dilan mendekati Milea termasuk unik. Di malam perkenalannya, Dilan datang ke rumah Milea, mengaku sebagai Utusan Kantin, ketika berkenalan dengan ayah Milea. Hihihi. Lalu, Dilan kerap mengirimkan coklat pada Milea, titip pada tukang koran atau tukang apa aja yang pasti lewat rumah Milea. Nggak hanya itu, Dilan memberikan hadiah ulang tahun pada Milea berupa TTS yang semuanya sudah diisi, karena Dilan nggak mau Milea pusing saat mengisi TTS. Wahahaha...

Sikap Dilan yang begitu ingin melindungi Milea dan menghindarinya dari kesedihan menggugah siapa saja yang membaca. Dilan juga punya sahabat yang selalu bersamanya, Piyan, yang tak lain pacar sepupunya, Wati. 

Dari kesemua karakter yang ada di cerita Dilan ini, selain Dilan, Bunda suka banget dengan "Bunda". Nah, lho, bingung, ya, ada dua subject "Bunda" di sini. To make it easier, Bunda akan kasih keterangan Bunda Dilan biar ga bingung. Hihihi...

Bunda Dilan menurut Bunda adalah sosok keren. Dia adalah ibu hebat yang selalu mendukung anaknya, bahkan dia juga bisa akrab dengan Milea. Hey! Bunda jadi kepikiran... Kalo ntar kalian punya pacar, Bunda bisa nggak, ya, kayak Bunda Dilan yang akrab dan sayang banget dengan Milea? xD

Di balik kekerenan Dilan, dia tetap si "anak nakal" yang nggak segan-segan akan memulai perkelahian jika ada yang mengganggu Milea atau ketentraman hidup keluarga atau sahabatnya. Maka, di sini juga ada cerita tentang perkelahian antar geng motor gitu. Sigh...

Senangnya baca buku ini, ngakak-ngakak nggak jelas, walau  saat itu sedang ada di angkot. Ceritanya, dalam perjalanan pulang dari kantor, hari itu hujan deras dan menjelang maghrib, di suatu sore bulan Ramadhan. Bunda sudah berangkat dari selepas Ashar, nggak bawa makanan buat batalin puasa pas Maghrib, karena Bunda pikir bakalan sampai rumah sebelum Maghrib.

Ternyata dugaan Bunda salah.
Terjebak di jalanan berjam-jam, cuma ditemani buku Dilan. Akhirnya Bunda menyiksa diri dengan membaca Dilan walau jadinya ngakak-ngakak sendiri, diliatin orang seangkot. Bodo amat. Hihihi.. Walau telat banget berbuka puasa (udah lewat Isya' baru bisa buka puasa) tapi hati senang karena menikmati cerita Dilan.

Terlepas dari kisah romantisme Dilan yang nggak standar ini, Bunda jadi teringat papa kalian yang juga romantis dengan caranya sendiri. Bunda cerita di sini, sih. Kalian baca sendiri aja, ya... Hehehe...

Bunda jadi penasaran dengan kisah selanjutnya (kalo ada...)

Cheers! Love you both, xoxo



Terusin baca - Dilan - Dia adalah Dilanku Tahun 1990 by Pidi Baiq

12 Jan 2016

ibuk, oleh Iwan Setyawan





Judul: ibuk,
Penulis: Iwan Setyawan
Editor: Mirna Yulistianti
Proof Reader: Dwi Ayu Ningrum
Ilustrasi dan desain sampul: Itjuk Rahay
Setter: Ayu Lestari
Cetakan pertama, Juni 2012
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 293 hal + xi
ISBN: 978-979-22-8568-0
Genre: Novel, Fiksi, Indonesian Literature, Family, True Story, Drama, Inspirational
Status: Punya. Beli seken di tante Selebvi keknya



"Seperti sepatumu ini, Nduk. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kamu mesti kuat. Buatlah pijakanmu kuat."
-Ibuk-

Masih belia usia Tinah saat itu. Suatu pagi di Pasar Batu telah mengubah hidupnya. Sim, seorang kenek angkot, seorang playboy pasar yang berambut selalu klimis dan bersandal jepit, hadir dalam hidup Tinah lewat sebuah tatapan mata. Keduanya menikah, mereka pun menjadi Ibuk dan Bapak.

Lima anak terlahir sebagai buah cinta. Hidup yang semakin meriah juga semakin penuh perjuangan. Angkot yang sering rusak, rumah mungil yang bocor di kala hujan, biaya pendidikan anak-anak yang besar, dan pernak-pernik permasalahan kehidupan dihadapi Ibuk dengan tabah. Air matanya membuat garis-garis hidup semakin indah.

ibuk, novel karya penulis national best seller Iwan Setyawan, berkisah tentang sebuah pesta kehidupan yang dipimpin oleh seorang perempuan sederhana yang perkasa. Tentang sosok perempuan bening dan hijau seperti pepohonan yang menutupi kegersangan, yang memberi napas bagi kehidupan. 



Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...

Sakit itu bikin segala nggak enak, ya. Males ngapa-ngapain. Haha. Sakit selama dua minggu sebelum tahun baru trus balik lagi kena flu berat itu sungguh mengganggu!

Untungnya, bacanya nggak kena males. Walau kecepatan baca masih seperti siput, sakit kepala dan running nose nggak menghalangi buat balik halaman berikutnya. Dan masih aja nekat duet nyanyi di Smule, dong! Hahahahaha. Kedengeran banget lah, melernya :P

Oke. Sekarang kita ngomongin buku ini. Beberapa tahun lalu, sekitar tahun 2013 waktu pertama kalinya Bunda ikutan Secret Santa, Bunda beli buku ini untuk hadiah target Bunda. Saat itu sih nggak tertarik buat beli untuk diri sendiri.

Beberapa waktu kemudian, waktu lihat banyak yang mereview buku ini, akhirnya jadi pengen baca juga. Tapi masih belum tergerak buat beli sampai tante Selvi jual buku ini bareng buku Pintu Harmonika dan beberapa buku lainnya. ibuk, ini jadi salah satu pilihan Bunda kemudian. Berhasil menarik perhatian papa, jadi dia yang baca duluan. Hihihi.

ibuk, bercerita tentang seorang Tinah muda yang harus putus sekolah di masa muda, lalu ikut mbahnya, Mbok Pah, berjualan pakaian bekas. Banyak yang menyukai Tinah, karena kesederhanaannya, kecantikannya juga. Di sebelah kios Mbok Pah, ada kios yang berjualan tempe. Pemuda penjual tempe itu kerap memberikan tempe pada Tinah, sebagai wujud rasa sukanya kepada Tinah.

Dari banyak pemuda yang tertarik pada Tinah, hanya Sim-lah yang membuat jantung Tinah berdegup. Sim adalah seorang kenek playboy yang menjaga penampilan. Walau seadanya, dia nggak berpenampilan lusuh seperti umumnya kenek. Justru dia tampil klimis dan rapi. Singkat cerita, Tinah dan Sim saling jatuh cinta, lalu menikah.

Apakah cinta sesederhana itu?

Cerita ibuk, ini menggambarkan bahwa "happily ever after the end" itu nggak seindah cuma senang-senang tanpa keluh kesah, rasa susah, dan lain-lain. Penceritaan ibuk, diambil dari sisi Bayek, anak Ibuk nomer tiga. Satu-satunya lelaki.

Suatu ketika, Bayek pernah "mati suri". Nggak sakit, tertidur lama, tapi nggak bernapas. Namun detak jantung ada. Hal ini membuat Ibuk sangat cemas. Bayek juga pernah "diramalkan" akan menjadi orang yang membahagiakan Ibuk. 

Ibuk adalah sosok seorang perempuan hebat yang perkasa, jauh dari manja. Ibuk mampu mengurus suami dan kelima anaknya dengan tangannya sendiri.

Awal baca buku ini sebenernya emosinya datar, tapi lumayan bisa dinikmati. Ibarat baca diary orang. Namun, ketika membaca penuturan perjuangan Ibuk, di saat Bapak mengeluh angkot bolak balik mogok, anak-anak rewel karena sudah waktunya bayar SPP, rapor Bayek harus tertahan tidak dibagikan disebabkan belum bayar SPP dan kalender (nggak abis pikir, kenapa diwajibkan beli kalender, ya?), sepatu semua anak jebol berbarengan, Ibuk harus ngutang dan cicil sana sini juga mengatur keuangan seadanya dan memutar otak supaya semua bisa kebagian, nggak kerasa air mata Bunda mengalir.

Ibuk berjuang membesarkan hati Bapak juga kelima anaknya. Ibuk mengajarkan kesederhanaan pada anak-anaknya. Ibuk juga mengajarkan anak-anaknya untuk punya pijakan yang kuat. Ibuk menumbuhkan kasih sayang di hati anak-anaknya. Ibuk yang punya tekad kuat supaya semua anaknya menyelesaikan sekolah, apapun yang menjadi rintangannya.

Ingatan Bunda kembali ke masa Bunda masih SD. Waktu itu, YangKung lagi belum ada kerjaan, karena banyak proyek yang sebetulnya sudah kelar, tapi pembayaran masih tersendat. Jadi, mau ngerjain pekerjaan berikutnya belum ada modal, disebabkan dari hasil pekerjaan sebelumnya belum
dapat bayaran. YangKung dulu berprofesi sebagai arsitek dan pembuat maket (miniatur gedung). Dibayarnya per proyek selesai. Jangankan untuk beli bahan-bahan maket, untuk makan sehari-hari aja udah abis bis bis.

Hari itu, Bunda pulang sekolah, mendapati YangTi sedang duduk di ruang tengah. Menunggu YangKung. YangTi membelai rambut Bunda dan bilang, "kita belum bisa makan dulu. Belum ada uang untuk beli beras. Tunggu Bapak, ya. Mudah-mudahan, ada yang mau bayar, walau baru sepuluh ribu saja". Saat itu, nilai sepuluh ribu rupiah mungkin sama dengan seratur ribu rupiah saat ini. Bunda duduk berdua YangTi. YangKung rupanya sudah berangkat dari pagi, nagih-nagih ke klien kayaknya. Pulang-pulang, beneran bawa uang selembar sepuluh ribu rupiah. YangTi langsung ke pasar untuk beli beras dan beberapa lauk.

Mungkin karena pernah ngalamin cerita sejenis, pas Papa bilang, "ceritanya nggak ada emosinya", Bunda malah punya perasaan yang berbeda. Bunda sempet baper juga, karena memang pernah mengalami hal serupa dengan Bayek. Papa juga pernah ngalamin hal serupa, kok :D

Bersyukurlah kalian yang nggak ngalamin masa susah ketika kecil dan semoga nggak membuat kalian mati rasa melihat orang lain yang lebih susah dari kalian.

Kalimat-kalimat yang ditulis Iwan Setyawan ini sederhana dan mengena, mengalir juga. Walau "status" bukunya novel, tapi jadi kayak baca semi biografi. Yang agak "kurang" sebenernya saat ada hal-hal yang bisa diungkapkan secara emosional, keluarnya jadi datar. Terus terang agak geregetan jadinya. Namun di beberapa bagian emang ada juga penuturan yang bisa hit my nerve lalu nggak kerasa bikin meleleh. 

Mestinya sontreknya masih A Song for Mama juga, nih. Heuheu.


Sayangnya kurang ditunjang sampul yang mestinya bikin adem (Bunda kurang tertarik dengan sampulnya, ke-rame-an) plus banyak penuturan yang emosinya nggak keluar hingga terasa agak datar, Bunda tetep kasih bintang empat untuk Ibuk yang hebat dan menginspirasi semua ibu di dunia agar tidak menjadi ibu dan istri yang cengeng dalam mengantarkan anak-anaknya menjadi anak yang hebat! :D

Semoga Bunda bisa jadi Ibuk yang baik buat kalian berdua! Aamiin...

Cheers and love! xoxo,





Terusin baca - ibuk, oleh Iwan Setyawan

4 Jan 2016

Pintu Harmonika oleh Clara Ng dan Icha Rahmanti



Judul: Pintu Harmonika
Penulis: Clara Ng dan Icha Rahmanti
Penyunting: Arief Ash Shiddiq
Perancang Sampul: Diani Apsari
Pemeriksa aksara: Dias Rifanza Salim
Penata aksara: Kuswanto
Desain: Teguh Pandirian
Ilustrasi: Herdiyani
Diterbitkan oleh: PlotPoint Publishing (PT Bentang Pustaka)
Cetakan Pertama, Januari 2013
ISBN: 978-602-9481-10-5
Genre: Novel, Young Adult, Fiksi, Family, Drama, Indonesian Literatur
Status: Punya, beli di Selebvi (seken tapi masih segel :D)
Harga: Lupa!


Dijual cepat: S U R G A!

Punyakah kamu surga di Bumi, tempatmu merasa bebas, terlindungi dan begitu bahagia hanya dengan berada di situ?

Rizal, Juni, dan David menemukan surga lewat ketidaksengajaan. Buka pintu harmonika, berjalan mengikuti sinar matahari, dan temukan surga. Surga yang tersembunyi di belakang ruko tempat tinggal mereka.

Walau mereka berbeda usia dan tidak juga lantas bermain bersama, Surga membuat mereka menemukan bukan hanya sahabat, tetapi juga saudara dan keluarga. Ketika surga mereeka akan berakhir, semangat mempertahankannya membawa mereka pada sebuah petualangan lewat tengah malam. Apa pula hubungannya dengan pencitraan Rizal, masalah Juni di sekolah dan bulu hitam misterius yang berpendar cantik temuan David serta suara-suara misterius di atap rukonya?



 Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...

Selamat tahun baru 2016! Semoga di tahun 2016 ini target baca yang sudah diset terpenuhi, begitu juga target menulis review di blog ini. Tertampar akibat target baca dan nulis review di tahun lalu yang begitu kendor, berantakan dan buyatak, tahun ini Bunda bertekad mau memperbaiki bacaan Bunda. Rencananya nggak pake perencanaan mau baca apa, random aja. Yang penting, harus jadi mood booster untuk baca dan nulis review, biar nggak disemprit atau sampai ditendang oleh Divisi Membership BBI.  *peace* :D

Sebelumnya, pengen teriak dulu...

INI REVIEW PERTAMA DI 2016! *colok sound system*

Akibat sakit cukup lama, Bunda dikasih istirahat di Surga kita. Diambil secara random, keambil buku ini, deh. Buku bintang lima pertama yang Bunda baca di tahun 2016. Senang sekali! Semoga bisa menjadi mood booster untuk baca yang berikut-berikutnya, ya...

Alasannya kenapa sampai Bunda kasih lima bintang? Emang ceritain apa aja, sih?

Buku ini dibagi tiga bagian. Masing-masing bagian diceritakan oleh setiap karakter. Awal buku ini dikisahkan oleh Rizal Zaigham Harahap, remaja lelaki siswa SMP yang baru pindah ke kompleks ruko di mana Surga berada. Ayah Rizal, om Firdaus, punya toko kelontong di rukonya. Rizal adalah seorang seleb di dunia maya, blogger yang punya fans fanatik tersendiri bernama Rizal's Angels. Di blognya, Rizal sering bercerita tentang travelling ke luar negeri. Intinya, sebagai blogger muda, dia punya pengaruh besar bagi kalangan netizen. Rizal juga cakep, bodinya keren karena sering ditempa di "gym" bernama Firdaus Bootcamp.

Bunda suka dengan gaya bahasa Rizal. Santai dan dalem. Rizal baru saja ditinggal ibunya sebelum mereka pindah ke ruko itu. Oya, ada "cerita" tersendiri, nih. Pas baca bagian Rizal sedang mengenang mendiang ibunya, pas Kakak Ilman lagi pilih-pilih lagu di playlist. Trus, ada lagu A Song for Mama-nya Boyz II Men yang kebetulan kepencet Kakak. Eh, Bunda minta Kakak perdengarkan lagu itu. Lagunya sendiri emang punya efek membuat leleh alias menangis, dipadu dengan kisah Rizal sedang mengenang Ibunya, Bunda jadi nangis bombay, deh. Hahaha. Baper, yak.

Tulisan Rizal sebenernya sarat muatan "pesan" untuk orang-orang dewasa yang disampaikan lewat gaya abege. Terutama tentang pencitraan. Ngena banget!

Oya, soal Rizal's Angel. Ini bagian yang cukup bikin ngakak, mengingat Bunda adalah Emotional Angels. Apa itu? YongHwa CNBLUE ahjussi kan Emotional, nah, karena Bunda adalah salah satu front pembela YongHwa ahjussi, Bunda masuk Emotional Angels XD

Di bagian kedua, disampaikan oleh karakter Juni. Sebenernya jadi agak ada pengulangan cerita, karena beberapa sebelumnya sudah diceritakan oleh Rizal. Tapi nggak mengganggu, karena memang ada beberapa detail mengenai Juni yang Rizal nggak tahu, kan? :D

Juni Syahnaz, gadis pintar, tetangga sebelah rumah Rizal, ayahnya pemilik usaha sablon. Dulunya sering dibully kakak kelasnya karena dia pintar, namun kemudian berubah menjadi pembully. Salah satu efek sampingnya adalah bisnis sablon ayahnya nyaris gulung tikar akibat kelakuannya membully adik kelasnya.

Di bagian ketiga, disampaikan oleh David Edogawa, seorang anak SD imut-imut yang pintar bermain piano. David anak tante Imelda, seorang pembuat kue. Kue malaikat adalah kue terkenal buatan tante Imelda. Namun, ketika Rizal mempromosikan kue malaikat untuk penggalangan dana tim dance di sekolahnya, ada yang salah dengan kue itu. Senyum khas yang biasa menghiasi kue malaikat menghilang! Ini misterius!

Sebagai seorang yang sangat memuja Conan Edogawa, David merasa tersinggung karena dianggap anak kecil oleh Juni dan Rizal, salah satunya ketika nggak diajak untuk beroperasi tengah malam. Agak aneh juga, karena di dua bagian cerita, sama sekali nggak melibatkan David yang padahal dia pintar dan bahkan telah membuat laporan penemuan hilangnya kucing tetangga mereka. Mestinya mereka perlu bantuan David, tuh!

Ketika dua sudut pandang bercerita tentang pengalaman Rizal dan Juni melakukan operasi PIA (Progressive Indirect Attack) untuk mencegah dijualnya Surga, diceritakan ada suara gaduh dari ruko tante Imelda, tapi nggak pernah dibahas baik di sudut Rizal maupun Juni. Tentu saja ini mengundang penasaran. Apaan, sih?

Twist dan akhir cerita yang sama sekali tidak tertebak sejak awal membuat sulit sekali berhenti membacanya. Sama seperti ketika membaca The Da Vinci Code ~ Dan Brown dan PREY ~ Michael Crichton, susah naruh buku walau ada yang lain yang lebih penting yang harus dilakukan. Hihihi.

Kalo ditanya, dari sudut siapa Bunda paling suka, Bunda paling suka dari sudut Rizal. Bunda suka dengan gaya ayah Rizal, juga ketika Rizal menulis untuk mengakui kesalahannya! Keren!

Covernya yang cantik, cara berceritanya yang renyah kayak makan keripik jagung ~ susah berhentinya, bikin Bunda ngerasa buku ini pantes dapat bintang lima versi Bunda.

Filmnya sendiri udah tayang tahun 2013. Bunda belum nonton, sih. Entah, deh, kalo liyat trailernya doang, keknya nggak seperti bayangan Bunda pas baca. Kalo nanti udah nonton, Bunda coba bikin reviewnya di sini, deh...


Oke, sampai ketemu di review berikutnya. Have a nice day! ^_^

Love and cheers! xoxo,








Terusin baca - Pintu Harmonika oleh Clara Ng dan Icha Rahmanti

1 Okt 2015

The Giver by Lois Lowry



Judul: Sang Pemberi (The Giver)
Penulis: Lois Lowry
Penerjemah: Ariyantri Eddy Tarman
Penyunting: Barokah Ruziati
Proofreader: Primadonna Angela 
Desain dan ilustrasi cover: Staven Andersen
Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustka Utama
Cetakan pertama, Agustus 2014
ISBN: 978-602-03-0668-1
Jumlah halaman: 232 hlm; 20 cm
Genre: Dystopia, Children, Adventure, Young Adult
Status: Punya. Beli seken dari Tante Selebvi

Dunia Jonas adalah dunia yang sempurna. Semuanya terkendali dan teratur. Tak ada perang, ketakutan, atau kesakitan. Juga tak ada yang namanya pilihan Semua orang memiliki peran di Komunitas. Saat Jonas menjadi Dua Belas, dia terpilih menerima latihan khusus dari Sang Pemberi. Selama ini Sang Pemberi memegang ingatan akan rasa sakit sejati dan kenikmatan hidup. Sekarang saatnya bagi Jonas untuk menerima kebenaran. Dan tak ada jalan untuk kembali.

Saat itu menjelang Desember, dan Jonas mulai merasa takut....

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Sewaktu lihat di kalender BBI ada event posting bareng buku penghargaan Newberry, Bunda belum punya satu bukupun terkait. Setelah berbulan-bulan berlalu, baru deh punya buku ini. Hihihi. Iya, Bunda masih "puasa" belanja buku baru. Haha.

Bunda baca buku ini karena sedang butuh bacaan ringan dan cepat. Nggak salah emang, ngambil buku ini. Dibilang ringan sebenarnya nggak. Dibilang cepat, termasuk super cepat, dibanding baca buku yang ini mah. Hahaha.

Sinopsis

Cerita dimulai dari pesawat terbang memutar di atas komunitas ketika Jonas bersepeda, lalu terdengar ada suara pengumuman untuk menghentikan kegiatan dan bersembunyi di tempat terdekat. Ada peraturan bahwa pesawat yang melintas, tidak boleh terlalu dekat dengan komunitas. Pilot yang melakukan kesalahan fatal seperti itu, akan Dilepaskan.

Jonas tinggal bersama kedua orangtuanya dan satu adik perempuan bernama Lily. Ayah dan Ibu bukanlah orangtua biologis Jonas dan Lily. Ibu Kandung dirawat untuk melahirkan sebanyak tiga kali, kemudian menjadi Buruh hingga saatnya dilepaskan. Sementara seorang Ibu atau Ayah bisa saja berprofesi apa saja yang terlihat hebat dan mulia, sambil memulai sebuah Unit Keluarga.

Menjelang Dua Belas, Jonas mulai merasakan keanehan pada dirinya, yang kita sebut dengan menyukai lawan jenis, karena Jonas punya perasaan senang pada Fiona, teman sebayanya, bahkan mulai memimpikannya. Ketika dia menceritakan ini pada Ibu, Jonas segera mendapatkan pil yang setelah diminum, rasa yang menyenangkan itu tiba-tiba hilang. 


Ceritapun kemudian bergulir pada keseharian mereka, rutinitas mereka, hingga Desember pun tiba, di mana Jonas telah masuk Dua Belas dan mulai mendapatkan penugasannya.

Hingga nama terakhir dipanggil dan mendapatkan penugasan, Jonas tidak dipanggil juga. Hal ini membuat semua hadirin bingung, khawatir, sekaligus takut. Tentu saja Jonas merasa ketakutan, karena dia tidak ingin dilepaskan dari komunitas jika dia memang telah melakukan kesalahan yang membuatnya harus Dilepaskan.

Jonas terpilih sebagai Penerima. Dia bertugas untuk menerima ingatan dari seluruh ingatan yang dimiliki oleh Sang Penerima sebelumnya. Ingatan akan apa? Ingatan seluruh dunia.

Dari sebagian ingatan yang sudah ditransfer kepada Jonas, dia mulai mengenali adanya perbedaan. Jonas mulai mengenali apa itu rasa senang sekaligus rasa sakit. Di dunia Jonas, semua sempurna, sehingga tidak akan merasakan sakit, tidak akan ada peperangan, dan lainnya. Semua sudah diatur sedemikian rupa, sehingga tidak terlihat ada perbedaan. Sebelum Jonas terpilih sebagai Penerima, dia memang sudah melihat sesuatu yang lain yang tidak ada dalam hidupnya. Di antaranya, ketika dia melihat apel yang dilemparkan, dia melihat sesuatu yang tampak aneh namun indah dari apel itu, yang kemudian dia kenal dengan Warna.

Semakin banyak Jonas menerima Ingatan dari Sang Pemberi (The Giver), semakin Jonas ingin pergi menuju komunitas lain. Hingga akhirnya, Jonas menjadi saksi sebuah upacara Pelepasan salah seorang bayi kembar yang dilakukan ayahnya.

Susah untuk nggak kasih sopiler selama bikin sinopsis dan review, karena rasanya pengen banget menumpahkan semuanya di sini, biar ketegangan selama baca ikut terlepaskan. Hihihi. Tapi kan jadi nggak asik kalo semua diceritain. 


Review

Bunda suka cerita bergenre distopia setelah genre fantasi, walau belum banyak cerita genre distopia yang Bunda baca. Selalu ada kejutan-kejutan di dalam cerita yang membuat kita membayangkan ada dunia lain yang berbeda dengan dunia kita.

Cerita Distopia yang pertama kali Bunda baca itu adalah di komik Bobo, sewaktu Bunda masih SD dulu. Bunda lupa judulnya apa, tapi di cerita itu, ada seorang anak yang hidup di dunia di mana air sangat langka dan sulit didapatkan. Adik anak tersebut sakit keras dan keinginan terakhirnya adalah melihat hujan turun. Tapi bagaimana mungkin? Semua orang mendapat jatah air setiap harinya yang hanya cukup untuk minum dan sedikit membersihkan tubuh. Jangan bayangkan mandi, berenang hingga menyiram tanaman apalagi memandikan kendaraan. 

Desa dan kota lama sudah mereka tinggalkan, hingga suatu ketika, si anak tersebut menemukan sebuah rumah yang dulunya bekas rumah kaca di kota lama karena tersesat. Dia menemukan bungkusan bibit tumbuhan dan sebidang tanah yang tampaknya masih ada harapan untuk ditumbuhkan. Dia mulai menanam bibit yang ditemukannya dan memakai jatah minumnya untuk menyiram calon tumbuhan itu.

Pertama kalinya tanaman itu tumbuh, menjadi tanaman monster. Anak ini sedih sekali. Karena, dia berharap, dengan adanya tumbuhan hidup, hujan akan turun dan adiknya akan pernah melihat hujan. Usaha itu dilakukannya pada bibit tumbuhan lain yang ditemukannya. Dia berhasil. Tanaman itu menumbuhkan bunga-bunga cantik dan hujan turun.

Perasaan Bunda saat membaca komik itu teraduk-aduk. Jangankan membayangkan air minum harus dijatah dan nggak bisa mandi seumur hidup, sehari aja air nggak ngalir, rasanya udah pengen ngamuk. Pas baca The Giver, perasaan yang muncul saat Bunda SD dulu ketika membaca si komik ini, muncul lagi. 

Yang Bunda suka dari The Giver ini adalah Endingnya. Membuat semua pembacanya memikirkan kesimpulan dan membuat ending sendiri-sendiri :D

Komentar Bunda tentang The Giver ini...
1. Ceritanya sederhana tapi dalem banget. Mengalir, hidup, nuansanya lebih "serem" daripada cerita distopia lain yang pernah Bunda baca, seperti Uglies series dan Divergent series.
2. Terjemahannya enak, bikin lancar bacanya dan bisa Bunda selesaikan dalam waktu sebentar aja, meski sayangnya, pada beberapa kata terdapat typo. 
3. Covernya cakep. Kalo nggak baca ceritanya, pasti bingung kenapa ada orang menghadap apel geroak, terus hanya sebagian berwarna sisanya satu dua warna aja? Covernya bikin Kakak Ilman sering memandangi bukunya. Kakak bilang, itu orang lagi shalat :D
4. Bikin bertanya-tanya. Apa yang mereka lihat sih kalo mereka nggak bisa melihat warna? Apa yang mereka rasakan jika sebuah Keinginan muncul tapi harus dihilangkan lewat minum pil? Apa rasanya ketika kita tidak bisa merasakan sakit? Padahal ketika rasa sakit dihilangkan, otomatis rasa bahagia ikut hilang, karena setelah duka ada suka.
5. Ide cerita ini gila banget. Ngeri!

Oya, ini trailer filmnya. Seperti biasa, cerita buku ama cerita film pasti beda lah ya... :D





Happy reading and watching the movie!

Love and cheers! xoxo, 


Terusin baca - The Giver by Lois Lowry

17 Sep 2015

Negeri van Oranje by Wahyuningrat, dkk


Judul: Negeri van Oranje
Penulis: Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
Editor: Gunawan B.S
Desain Sampul: Natalia
Pemeriksa aksara: Yudith
Penata aksara: Hanum
Diterbitkan oleh Penerbit Bentang
ISBN: 978-979-1227-58-2
Cetakan Ketiga, Juni 2009
Jumlah halaman: vii + 478 hlm; 20,5 cm
Genre: Novel, Fiction, Travel, Indonesian Literature, Romance, Humor, Adventures
Status: Punya, beli seken di tante Nadiah Alwi

Kata siapa kuliah di luar negeri itu gampang? Perkenalkan Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri. Lima anak manusia terlahir di Indonesia, terdampar bersekolah di Belanda demi meraih gelar S2. Mulai dari kurang tidur karena begadang demi paper, kurang tenaga karena mesti genjot sepeda berkilo-kilo meter bolak-balik ke kampus setiap hari, sampai kurang duit hingga terpaksa mencari pekerjaan paruh waktu; semua pernah mereka alami.

Selain menjalani kisah susah senangnya menjadi mahasiswa rantau di Eropa, mereka juga menjalin persahabatan dan berbagai tip bertahan hidup di Belanda. Mereka pun bergelut dengan selintas pertanyaan di benak mahasiswa yang pernah bersekolah di luar negeri: untuk apa pulang ke Indonesia? Dalam perjalanan menemukan jawaban masing-masing, takdir menuntut mereka memiliki keteguhan hati untuk melampaui rintangan, menggapai impian, serta melakukan hal yang paling sulit: the courage to love!

Novel ini ditulis dengan gaya lincah, kocak, sekaligus menyentuh emosi pembaca. Kita juga akan diajak berkeliling mulai dari Brussel hingga Barcelona, mengunjungi tempat-tempat memikat di Eropa, dan berbagi tip berpetualang ala backpacker


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Sebelum mereview, Bunda mau ngabarin sedikit berita sedih. Tahun ini, lagi-lagi kalian berdua gagal dapat adik seperti tahun lalu. Pertengahan Agustus 2015 ini, Bunda keguguran lagi, sama seperti Agustus 2014. Mungkin sudah saatnya Bunda berhenti berusaha memberi kalian berdua adik dan lebih fokus pada kalian berdua, karena ternyata kalian berdua itu begitu demanding terhadap Bunda, ya... Sedih? Jelas. Tapi ada sisi lega juga, karena ternyata kalian semakin demanding. Kebayang aja, sih, kalo ada adek bayi sementara situasi kalian lagi seperti ini, mungkin kalian tidak terurus. 

Sudah, ya, berita sedihnya. Sekarang Bunda pengen cerita tentang buku yang mulai Bunda baca sejak April apa Mei ini dan baru kelar 8 September 2015. Lama? Ya banget. Tebal? Nggak sampai 500 halaman padahal. Lalu kenapa sedemikian lama?
Ah... kisahnya panjang.... Haha. Tapi review Bunda mungkin bisa bikin kalian maklum, kenapa Bunda lama selesaiin bacanya (sebenernya bukan faktor utama banget, tapi faktor penunjang juga dan cukup krusial)


Sinopsis

Seperti yang dibahas di blurb di atas, Negeri van Oranje berkisah tentang persahabatan kelima mahasiswa yang sedang berjuang di Negeri Oranye alias Walanda, errr, Belanda. Mereka adalah Banjar, Daus, Wicak, Geri, dan Lintang. Sebenernya, kelima orang ini nggak datang dari kampus yang sama, bahkan mereka ini beda kota semua. Ada yang di Den Haag, Wageningen, Leiden, Utrecht, Amsterdam, dan lainnya (lupa lagi. hihi)

Mereka menamai diri mereka sebagai Aagaban, sering ngobrol ngocol lewat conference di Yahoo Messenger group. Mereka sangat dekat satu sama lain walau masing-masing dari anggota Aagaban ini punya masalah pribadi yang cukup rumit, misalnya aja Daus yang sering gagal berbuat maksiat padahal mumpung lagi di "surga tempat maksiat" ~ mungkin doa Engkongnya sedemikian melekat jadi dia selalu terlindungi dari berbuat maksiat. Banjar yang kehabisan duit sehingga ngos-ngosan cari kerja sambilan di sebuah restoran Indonesia. Lintang yang punya mimpi bersuamikan bule ganteng, tapi sering kandas setiap pacaran dengan para bule itu. Wicak dengan masalahnya sendiri juga. Cuma Geri yang kayaknya sempurna. Ganteng, anak orang kaya, pinter, manis. Tapi jujur, Bunda selalu curiga dengan pria macam ini. Hehe.

Romance-nya muncul ketika ternyata para pria ini bersaing mendapatkan Lintang. Di akhir tahun mereka berada di Belanda, para pria ini ternyata perang dingin karena ternyata mereka sama-sama memendam perasaan pada Lintang. Yah, seperti yang Sarah Sechan bilang di acara talkshow-nya pas para pemain Negeri van Oranje hadir, "pada akhirnya Lintang hanya memilih satu dari keempat pria itu".

Yes, Negeri van Oranje dibuat filmnya. Sejujurnya, Bunda pengen banget nonton, karena pengen tau gimana feelnya kalo dibuat film.




Sedikit bocoran aja (sampai Bunda ngetik review ini belum nemu trailer filmnya soalnya) orang-orang yang bakalan jadi karakter-karakter di Negeri van Oranje adalah sebagai berikut:

Abimana Aryasatya sebagai Wicak
Ge Pamungkas sebagai Daus
Arifin Putra sebagai  Banjar
Chico Jericho sebagai Geri
Tatjana Saphira sebagai Lintang
Bunda emang pengen baca Negeri van Oranje sejak awal terbit, tapi entah kenapa tiap beli buku kelupaan mulu ambil yang ini. Nah, karena teman-teman Kubugil udah pada baca (jelas laaaah, kan, ada uwa Aaqq yang ikut berkontribusi nulis novel ini), Bunda nggak mau ketinggalan doooong. Eh, buku di tangan udah dari tahun 2010 kalo ga salah, tetep aja kelupaan mau baca. Padahal buku ini udah banyak cetak ulangnya.

Sampai akhirnya, awal Maret 2015 lalu, pas Bunda lagi iseng cari buku buat dibaca, Bunda ambil buku ini dari rak dan malah papa duluan yang terlihat menikmati bacanya. Hihihi... Bunda jadi pengen baca juga karena bentar lagi kan filmnya mau tayang. 



Oke, ini Review Bunda

Pertama, soal pertemuan mereka kalo menurut Bunda terbilang too good to be true kalo buat langsung jadi akrab dan bersahabat sekaligus mengingat latar belakang mereka sangat jauh berbeda, tapi yah, faktor mereka "sama-sama mahasiswa Indonesia" bisa dimaafkan lah sedikit :D

Kedua, Bunda melihat novelnya itu hanya casing. Di halaman pertama, kesannya bagus banget. Wah, kayaknya seru, nih! Tapi, setelah masuk ke halaman berikutnya, kesan yang sampai ke Bunda adalah buku ini sebenernya panduan jadi mahasiswa di Belanda (kayak tips dan berbagi pengalaman selama jadi mahasiswa di Belanda plus jalan-jalan ala backpacker) yang dibungkus novel.

Ketiga, karena bikin ceritanya berempat dan dipaksakan untuk satu gaya cerita, jadi aneh. Jujur, ini yang bikin Bunda susah payah menelan cerita di sini karena gaya cerita yang dipaksakan untuk jadi satu gaya. Kenapa? Yang nulis berempat, kan? Tiap orang itu isi kepala dan gaya menulisnya berbeda. Sehingga, Bunda perhatikan, setiap karakter di sini bisa diceritakan dengan gaya yang mengalir dan menyenangkan, tapi kadang boriiiiiiiing banget cara menceritakannya sampai males nerusin ke halaman berikutnya. Ada juga yang disampaikan dengan style kayak di novel tante Otak Prima itu. 

Keempat, hampir semua deskripsi ceritanya membosankan, kecuali beberapa line yang bikin bunda ngakak. Misalnya, "Ketiganya punya prinsip serupa: bikin dosa, minimal berjamaah." (hal 275). Hahahaha...

Kelima, romance yang terbangun di cerita ini terlalu ringan, jadi malah garing. Hihihi. Entah kalo di film nanti. 

Keenam, buku ini bercerita tentang teknologi pada masanya. Jadi ketika dibaca enam tahun setelah buku itu terbit, agak terkaget-kaget juga, sih, mengingat dalam enam tahun, telah terjadi kemajuan teknologi sedemikian dahsyatnya. Hihi. Tapi lumayan lah, buat sedikit pengingat bahwa pada masa itu, teknologi yang paling canggih adalah komputer berprosesor dual core :D *belum disinggung tablet sih, karena Wicak masih pake PDA a.k.a Personal Digital Assistant*

Ketujuh, ini plusnya, hampir keseluruhan dialognya menyenangkan dan hidup, jadi ya lumayan bisa jadi alasan untuk bertahan membaca dan juga penasaran kalo dibuat film seperti apa jadinya. 

Oya, papa protes tuh, kenapa bukan kecengannya (Chika Jessica) yang jadi pemeran Lintang. Diiiih!  Walau di novel diceritakan kalo Lintang itu cempreng, tapi Bunda mah ga ridho kalo Chika Jessica yang meranin jadi Lintang. Syukurlah, yang jadi Lintang itu Tatjana Saphira. Haha. Bukan cemburu ama Chika Jessica, sih, cuma gimana, ya... nggak banget lah kalo hanya kecemprengan yang dinilai layak memerankan Lintang. 

Papa ngecengin Chika Jessica? Ya begitu, deh, selera cewek-cewek papa. Tipenya semacam. Mulai dari Fitri Tropika, Chika Jessica, dan cewek heboh semacam mereka itulah. Hihihi. Untunglah karakter Bunda yang kalem menghanyutkan gitu, jadi bisa menetralkan selera aneh papa. Ups! /dipentung :D *nggak meremehkan atau merendahkan mereka, kok, cuma yah... kurang sreg aja ama style beliau-beliau :D*

Nah, jadi untuk beberapa alasan di atas, bintang tiga lumayan banyak loh, ya...

Btw, ternyata Arifin Putra itu ganteng pake banget, yaaaaa.... hihihi....

Cheers and Love! xoxo,




Terusin baca - Negeri van Oranje by Wahyuningrat, dkk

5 Agt 2015

Hwaiting, Hye Mi! by Laksmi P Manohara





Judul buku: Hwaiting, Hye Mi!
Penulis: Laksmi P Manohara
Ilustrasi: Nisa Nafisah
Penyunting naskah: Huda Wahid dan Dian Hartati
Penyunting ilustrasi: Kulniya Sally
Proofreader: May May Maysarah 
Desain isi: Nisa Nafisah
Desain sampul: Kulniya Sally
Cetakan I, Shafar 1436 H/Desember 2014
Diterbitkan oleh penerbit DAR! Mizan
Jumlah halaman: 136 hal; 21 cm
ISBN: 978-602-242-628-8
Genre: Fiksi, K-Novel, Fiksi Korea, Children Books, KKPK


Tampil lepas di hadapan para juri, Hye Mi meraih juara perama kompetisi hip-hop dance. Sebagai satu-satunya wakil dari sekolah, dia merasa sangat bangga. Apalagi gadis itu telah berlatih keras melakukan hal yang paling disukainya tersebut.

Terpukau akan penampilan Hye Mi, utusan Kementerian Kebudayaan lantas mendapat ide cemerlang, "Bagaimana kalau..." Kepala sekolah pun memanggil Hye Mi. "Aku mengutusmu mewakili sekolah menari di kementerian," pinta beliau. "Nanti kamu akan belajar tari tradisional Korea."

"Tari tradisional?!" protes Hye Mi dalam hati. Dia kan hip-hop dancer! Lagi pula, tari tradisional kuno, lamban, musiknya juga kerap memilukan. Mana cocok menggambarkan hari-harinya sebagai gadis muda yang lincah dan penuh semangat? Kalau hip-hop dance? Baru cocok!





Sinopsis Cerita
 
Ketika seorang anak memiliki prestasi memuaskan berkat kerja kerasnya selama bertahun-tahun latihan, tentu dia akan merasa bangga. Dan otomatis, predikat prestasinya ini akan melekat dalam dirinya sebagai modal untuk percaya diri. Ini juga yang dialami Hye Mi, seorang gadis kecil Korea berusia sepuluh tahun yang pandai melakukan hip-hop dance yang bahkan sudah meraih banyak penghargaan itu.

Suatu ketika, dia mendapat perintah dari Kepala Sekolah, Tuan Jun Ki, agar Hye Mi ikut tampil menari tarian tradisional Korea di depan tamu negara. Sorot mata Hye Mi mendadak meredup dan badannya lesu, namun Tuan Jun Ki terlalu bersemangat untuk menjadikan Hye Mi sebagai wakil sekolah, karena Hye Mi sudah langganan menang kompetisi, tidak menyadari adanya perubahan raut wajah Hye Mi. 

Di rumah, Hye Mi pun lesu. Dia membayangkan betapa membosankannya latihan tarian tradisional itu. Padahal, ayah dan ibu tidak pernah lelah menyemangatinya.

Ketika Hye Mi mulai ikut latihan tarian tradisional yang diajarkan oleh Bu Kim, kesibukan Hye Mi mulai meningkat. Dia tidak menyadari bahwa Ji Hyo, sahabatnya, mulai menjauhinya. Sementara di tempat latihan menari, teman-teman baru Hye Mi juga mulai tidak menyukainya dan membencinya. Padahal, waktu pementasan sudah tidak lama lagi.

Hye Mi mulai menyadari bahwa tindakannya bermalas-malasan ikut latihan tarian tradisional, membuatnya dibenci teman-teman latihan menarinya. Dan dia semakin merasa sendiri ketika Ji Hyo selalu menghindarinya. Mana enak nggak punya teman?

Pada saat Nenek yang tinggal di Pulau Jeju mengunjungi Hye Mi, barulah Hye Mi menyadari mengapa Ji Hyo menjauhinya. Nenek yang dulu penaripun sibuk menggembleng Hye Mi untuk latihan lebih serius. Melalui Nenek lah, kecintaan Hye Mi terhadap tarian tradisional jangguchum mulai tumbuh.



Review

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan... Udah lama, ya, nggak nulis review lagi. Ah, kali ini nggak akan cerita alasannya, deh. Basi! :D

Bunda mau cerita sekilas mengenai hubungan Bunda dengan penulis cerita "Hwaiting, Hye Mi!" ini. Jadi, tante Laksmi tuh duluuuu banget, sewaktu Bunda masih duduk di kelas 2 dan 3 SMA adalah sahabat Bunda. Kami berempat punya geng bernama "Four Mbaketeer". Anggotanya terdiri dari Bunda, Tante Laksmi, Bude Dian, dan Tante Saptini. Selain ke mana-mana sering bareng, kalo salah satu dari kami ulang tahun, selalu ada surprise dari kami. Pisah pas masuk kuliah, susah lagi ngumpulinnya :D



Sebetulnya Bunda udah tahu lama kalo Tante Laksmi menulis buku. Dulu, Bunda dan Tante Laksmi pernah berkolaborasi compose lagu untuk tugas Bude Dian, karena dia anti banget sama ngarang lagu, padahal ada tugas ngarang lagu. Bunda sih udah compose lagu sendiri, begitu juga Tante Laksmi. Nah, karena Bude Dian ini ZBL banget sama seni musik, akhirnya Bunda dan Tante Laksmi keroyokan berkolaborasi composing lagu buat Bude Dian. Bunda bikin lirik, Tante Laksmi yang menggubahnya jadi lagu.

Setahu Bunda, buku pertama Tante Laksmi ada lagunya juga. Bener, ga, Tante? Tapi berhubung Bunda waktu itu masih fokus dengan buku-buku yang lain, Bunda nggak inget buat nge-take dulu via Tante Laksmi. Tapi ada satu hal juga, sih, yang bikin Bunda nggak mau kenalan dengan buku-buku Tante Laksmi terdahulu: Bunda ngiri berat karena Tante Laksmi udah maju sejauh ini, Bunda masih lari sprint di tempat. Hihihi.

Karena Bunda belum baca buku-buku terdahulu yang ditulis Tante Laksmi, Bunda jadi ga bisa bandingin dengan karya Tante Laksmi yang lain. Secara keseluruhan, cerita di buku ini lumayan mengenyangkan, salah satunya ada banyak istilah-istilah yang digunakan di Korea, sehingga bagi kamu yang sama sekali nggak ngerti istilah-istilah Korea, paling nggak minimal tahu, deh, "hwaiting" itu artinya apa. Selain itu, di cerita ini juga kita dikenalkan dengan beberapa nama tarian tradisional Korea, salah satunya tarian jangguchum yang ditarikan oleh Hye Mi. Jangguchum adalah tarian yang menggunakan alat bernama janggu. Memukul janggu harus sesuai dengan irama musik. Untuk menari jangguchum diperlukan badan yang kuat, karena tubuh harus menari sekaligus membawa janggu. Semua kelincahan di hip-hop dance bisa membantu Hye Mi kuat dalam menari jangguchum, dan dia baru menyadari beberapa waktu kemudian.

Nah, selain mengenyangkan karena ada pengetahuan baru mengenai budaya Korea, kita juga jadi tahu bahwa persahabatan itu penting dan satu lagi: memandang remeh sesuatu itu tidak baik. Belum tentu yang kita anggap remeh itu betul-betul remeh.

Ilustrasinya menarik, Bunda suka dengan style layout dan grafisnya.

Disajikan dalam bahasa yang mudah dicerna anak-anak, terutama anak usia 8-12 tahun, "Hwaiting, Hye Mi!" bisa direkomendasikan untuk kado, kok... ^_^


Kritik

Entah karena memang ini niatnya untuk masuk genre KKPK (Kecil-kecil Punya Karya), konflik di buku ini kurang kuat. Emosi Hye Mi ketika dijauhi oleh Ji Hyo dan teman-temannya kurang terasa oleh Bunda, jadi datar aja, nggak ikut sedih atau kesal :D

Bunda nggak ngerti juga, apakah ada batasan halaman atau apa, cuma rasanya emosi di bagian itu kurang kuat. Berbeda dengan emosi ketika Hye Mi merasa senang atau kecewa ketika Tuan Jun Ki memberinya mandat sebagai wakil sekolah. Juga ketika nenek datang, emosinya kerasaaa banget.

Sayang aja, sih, padahal klimaksnya ada di bagian ketika Hye Mi dijauhi teman-temannya.

Terus untuk layout, setiap halaman berasa terlalu ramai karena nggak hanya ada border, tapi di setiap halaman ada garis-garis membujur yang mengganggu (menurut Bunda sih) jadi mata bekerjanya dobel. Ya membaca, ya memilah mana huruf mana garis :D

Oya! Ada satu lagi yang agak mengganjal. Bunda sih belum pernah tahu ada anak-anak Korea berambut kriwil banget kayak Hye Mi, karena biasanya, anak-anak Korea itu rambutnya lurus dan hitam warnanya :D Kalo udah gede, sih, mereka umumnya udah kenal obat keriting dan lain-lain :D

Secara garis besar, ceritanya menarik dan cukup bergizi. Semoga Tante Laksmi tidak pernah berhenti berkarya...







Sekilas info tentang Tante Laksmi:
Nama lengkapnya Laksmi P Manohara Puspokusumo. Jagoan main piano. Demen membaca, menulis dan bermain musik (ya piano itu). Buku pertamanya yang terbit langsung lima, yaitu seri "Cerita dari Negeri Paranada" terbit tahun 2012.
Ini dia orangnya (Tante Laksmi, boleh pinjem fotonya, yaaaa)


FYI, kayaknya review berikutnya masih berbau Korea, deh. Hihihi. Soalnya bacanya udah lamaaaa banget, tapi baru punya mood buat review sekarang ini... Takut keburu diban sama Divisi Membership BBI juga, sih, karena sepi update... heuheu...  Okay, deh, sampai ketemu di review selanjutnya, yaaa...


Cheers and Love! xoxo,


Terusin baca - Hwaiting, Hye Mi! by Laksmi P Manohara