Tampilkan postingan dengan label Ono Eriko. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ono Eriko. Tampilkan semua postingan

30 Mei 2023

[2023: Book 7] Hai, Miiko - Vol 35

 


Judul: Hai, Miiko! Vol. 35    
Mangaka: Ono Eriko
Alih Bahasa: Dian Indrinuswati  
Penyunting: D. Tyagita Ayuningtyas 
Artistik: Ikmal Aldwinsyah
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama - M&C! 
Cetakan pertama, 2023
Halaman: 102 halaman
ISBN: 978-623-03-0923-6
Genre: Fiksi, Children, Komik, Manga, Japan Literature   
Status: Beli, pre order 


Miiko yang penuh semangat sudah kelas 1 SMP! Miiko dan teman-temannya sedikit demi sedikit mulai menjadi lebih dewasa. 
Terkadang rasa gelisah muncul, dan terkadang kesalahpahaman juga bisa terjadi. Namun, keceriaan Miiko bisa kembali menyatukan mereka semua!

Ayo kita ikuti perkembangan Miiko dan kawan-kawan yang selalu penuh warna! 

 

Hae, Kakak Ilman dan Kakak Zi...

Aktivitas annual kita nungguin kedatangan Miiko tunai sudah. Berkat kedatangan Miiko volume 35 yang kontroversial. Ahahaha.

Kenapa kontroversial? Sebab... di edisi asli yang diterbitin Penerbit Ciao, totalnya ada 9 chapter, sedangkan yang diterbitkan di sini, hanya 6 chapter. Yak, betul! Dipangkas 3 chapter. Kenapa?

Dari kabar yang aku terima, sudah diverifikasi juga, bu Ono mengangkat issue LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual, dan Transgender) ke volume 35 (dan 36, karena sudah terbit di sana. Entah dengan volume 37 dan seterusnya). Aku nggak tahu apa yang membuat bu Ono mengangkat tema ini, mungkin di sana sedang berkampanye tentang LGBT? Entah. I don't follow juga, jadi belum bisa cerita banyak. Nanti kita coba cari tahu, ya.

Terkait isi volume 35 yang diterbitkan Ciao akan aku bahas di tulisan lain, karena aku udah titip Kocchimuite Miiko Vol 35 dan 36 ke temenku yang lagi sekolah di Jepang dan mudik di Lebaran tahun ini. 

Sekarang, kalian mungkin bertanya-tanya, kenapa, sih, tema LGBT "terlarang" betul di sini, sampai akhirnya Miiko vol 35 (dan mungkin 36) dipangkas halamannya sampai sebanyak itu?

Begini, di negara Wakanda ini, apa aja bisa jadi bahan ribut, termasuk salah satunya issue LGBT. Bisa jadi karena mayoritas penduduk negara Wakanda yang beragama Islam dan memang di ajaran Islam itu issue LGBT termasuk hal yang dilaknat Allah, sehingga untuk keamanan dan kenyamanan bersama, issue LGBT dijadikan issue sensitif yang sebisa mungkin tidak boleh dibahas sama sekali.

Misalnya, Penerbit M&C! nekat tidak memangkas 3 chapter tentang LGBT dengan alasan mau memberi edukasi kepada anak-anak dan remaja terkait issue ini, sama aja dengan berdiri di tepi jurang yang sangat dalam. Semacam tinggal tunggu waktu aja untuk "mati". Pastinya pihak M&C! juga berat menyampaikan hal ini ke bu Ono, gimanapun niat baik bu Ono untuk menyampaikan pesan penting ini ke pembaca. Pembaca juga jadinya merasa rugi dan gelisah, karena ada chapter yang hilang, yang seharusnya bisa dinikmati seperti biasanya.

"Untung"nya, pihak M&C! udah menyediakan merchandise yang menurutku "agak" sepadan dengan hilangnya 3 chapter, walau emang jelas tidak bisa dibanding-bandingke, dong, yaaa...

Merchandise Hai, Miiko! Vol 35

Lalu, apa yang menarik di Hai, Miiko! Volume 35 ini, selain hilangnya 3 chapter tentang LGBT? Keenam chapternya tentu seru, dong, ya... Cuma di sini Tappei kurang banyak muncul... huhu... Padahal aku tuh, ya, selalu deg-degan sama romance Miiko dan Tappei. 

Di volume 35 lebih banyak diceritakan tentang pengalaman ekstra kurikuler yang dijalani Miiko dan teman-temannya. Aku lihat lebih banyak eksplorasi tentang kegiatan ekstra kurikuler di SMP yang dulu nggak Miiko jalani sewaktu SD. Aku pikir ide bu Ono mengeksplorasi kegiatan ekstra kurikuler di SMP ini bagus untuk memberi insight ke pembaca muda, terutama yang akan masuk SMP kayak adek Zi sekarang ini, biar terbayang nanti di SMP mau berkegiatan apa.

Di volume sebelumnya, volume 34, Miiko sempet galau mau masuk klub Basket atau nggak gara-gara dikata-katain pendek sama kakak kelasnya yang ada di klub Basket. Mari Chan yang saat itu ikut denger juga, jadi tersinggung dan berusaha memengaruhi Miiko buat masuk Klub Komik aja dengan disclaimer kalo orang-orang Klub Komik nggak ada yang mempermasalahkan fisik dan mereka semua ramah. 

Ketika Tappei menegur Miiko dengan keras tentang motivasi Miiko yang gaje ini lumayan nabok Miiko, juga ditambah fakta bahwa kapten tim basket putri di SMP Suginoki ternyata sependek Miiko tapi jagoan banget shoot bola 3 points, memperkuat keputusan Miiko untuk masuk Klub Basket, apa pun yang terjadi. 

Di volume ini mulai diperlihatkan beratnya jadi anak Klub Basket. Walau kelas 1 tugasnya masih lap-lap bola sampai mengilap, mereka tetap harus berlatih sama kerasnya dengan kakak-kakak kelas. Sebab mereka akan ada di bangku cadangan di setiap pertandingan yang sewaktu-waktu bisa diturunkan untuk bertanding kalo perlu pergantian pemain. Jadi tetep harus siap tanding walau duduk di bangku cadangan. Makanya perlu latihan keras, sama kerasnya dengan pemain utama. Miiko juga punya teman baru, seorang artis remaja, yang harus pinter bagi waktu antara kerja, sekolah, dan latihan basket. 

Di volume ini juga mulai terasa "tension" menjadi anak SMP di sisi pergaulan dan percakapan. Di volume 34 masih ada transisi dari masa anak-anak ke masa remaja, karena beberapa chapter masih bahas keberadaan Miiko di SD sampai kelulusannya juga saat hari pertama bersekolah di SMP, sementara di volume 35, suasananya sudah betul-betul di masa remaja. Miiko sudah menjadi remaja secara otomatis, karena dia sekarang siswi SMP. 

Kinda sad? Yes! Absolutely! Natürlich! Tamaaman! For a very long time, I have known Miiko as a 4th/5th grader and now she's in 7th grade. Also known as a teenager. 

Selain Miiko, ada Tappei dan Kenta di Klub Basket. Cuma karena Klub Basket putra dan putri latihan dan tandingnya juga dipisah, intensitas kemunculan Miiko dan Tappei secara berbarengan agak berkurang. Soalnya kan emang sibuk ya, bun...

Lalu bagaimana dengan Mari Chan? Syukurlah, di SMP Suginoki ada Klub Komik yang bisa memfasilitasi obsesi Mari Chan untuk jadi komikus. Jadi di kesehariannya, ga jauh beda dengan semasa di SD, tetep sibuk dengan komiknya. Miiko tentu tetap jadi asistennya di sela-sela kesibukannya dengan latihan rutinnya sendiri. 

Sementara Yukko memilih ekskul Atletik. Keputusan ini sempat membuat Miiko kaget, karena kalo misalnya memang Yukko memang mau ikut ekskul olahraga, bisa sama-sama ikut basket bareng Miiko dan Kenta, kan? Celetukan Mari Chan yang menyadarkan Yukko sendiri, bahwa selama ini, Yukko selalu mengurusi orang lain dan ekskul Atletik termasuk kegiatan yang bisa dilakukan sendiri. 

Cerita nggak barunya tentang Yukko, sebagai remaja yang kelihatan lebih dewasa dari umurnya, sama aja kayak waktu SD, di SMP juga Yukko tetep banyak yang ngecengin, terutama kakak kelas. Terus gimana dong, kisahnya sama Kenta? Ya gitu, lah. Nothing new. Tetep akur walau Yukko suka tiba-tiba aneh. Mas Kenta sabar banget, ya, bun... Hihi..

Anak lain yang diceritain kegiatan ekskulnya adalah Yoshiki. Iya, si bocah yang gedenya nanti pengen jadi sutradara, yang ngecengin Tanimura Miho dan sekarang badannya mulai tinggi itu. Syukurlah, SMP Suginoki punya Klub Peneliti Film yang memfasilitasi cita-cita Yoshiki. Setiap pekan, anak-anak Klub Peneliti Film akan mengundang siswa lain untuk menonton film yang ditayangkan di hari itu, lalu ada diskusinya. Sewaktu Miiko dan Mari Chan lihat poster yang dipasang tim Klub Peneliti Film, tentu langsung setuju untuk datang karena pengen nonton film gratis, kan. 

Yang lucu di sini, saat Miho "ditembak" kakak kelas dan diajak nonton film di bioskop yang ditolaknya dengan alasan nggak punya uang, Miiko malah mendukung kencan mereka dengan bilang, "nonton di sini aja, gratis!" sambil nunjuk poster Klub Peneliti Film yang mau menayangkan film Charlie's Angels. Hahaha..

Sesuai janji bu Ono, karena di volume 34 nggak banyak adegan Yoshida (padahal ada, kok!), di volume 35 ada dua chapter yang bahas tentang hubungan Yoshida dan Miiko. Tappei tetep pasti muncul sih, tapi sayangnya di salah satu chapter, kehadiran Tappei beneran cuma cameo. Sedih, ga, sih... Ketika berharap banyak sama Tappei, eh, malah.... (isi sendiri).

Kayaknya semua chapter udah aku bahas, ya. Oh! Ada satu chapter lagi, yang bahas khusus tentang Momo Chan, yang dapat homeroom teacher baru di DayCare-nya. Terus terang, cerita di chapter ini sukses bikin mrebes mili.

Sampai selesai semua chapter dibahas, barulah aku sadar kalo Papa, Mamoru, dan juga pak Oonishi nggak muncul sama sekali. Meski sekelas lagi sama Watanabe dan Nasu, mereka juga nggak muncul. Rasanya aneh aja gitu. Di setiap volume Miiko, mereka selalu ada kan. Di volume 35 ini, mereka nggak muncul. Satupun! T___T

Di review berikut-berikutnya nanti, aku akan bahas perbedaan versi bahasa Indonesia dan versi bahasa Jepang, ya. Aku masih cicil review yang lain dulu... 

Baca ini buat cicil beresin: 
- Goodreads Challenge 2023
- Abroad and Beyond Reading Challenge 2023 
- BBBBC Reading Challenge 2023


Sehat-sehat, ya, kalian berdua... Sampai ketemu di posting berikutnya... xoxo




 





 



Terusin baca - [2023: Book 7] Hai, Miiko - Vol 35

28 Mei 2014

[Miiko no Koonaa] Hai, Miiko #1 by Ono Eriko


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Mulai hari ini, setiap posting review Miiko, bakalan ada "button" di atas ini. Scrapbook Bunda yang judulnya "Miiko no Koonaa" alias "Pojok Miiko". Sebagai bentuk "penghargaan" Bunda pada sang mangaka. Dan karena Bunda sayang banget sama Miiko X))

Nah. Hari ini, Bunda mau bikin review Hai, Miiko! Vol. 1 yang dalam bahasa Jepangnya berjudul "Koichimuitte Miiko"

Judul: Hai, Miiko Vol.1
Penulis: Ono Eriko
Alih bahasa: Widya Winarya
Editor: Marin Hermanto
Artistik: Beatrix Saroya
Cetakan kedua: November 2004
Diterbitkan oleh PT Gramedia Majalah Unit Komik Gramedia Majalah
ISBN13: 978-979-230-8242
Status: Punya. Beli pake gaji ngelesin kalo ga salah :D
Harga: Rp. 9.500,- *beli bulan Desember 2004*

Blurb:
Miiko ngambek karena tidak dibelikan sweater merah idamannya, ia pun kabur dari rumah. Dalam perjalanannya, ia mendapatkan suatu pengalaman menarik...

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Ternyata, kalo terlalu suka sama sebuah buku itu, sampe kasih rating lima itu malah bingung gimana ngereviewnya. Apalagi, empat buku sebelumnya udah direview, kan... Hihihi...

Meski serial Miiko ini bukan cerita bersambung, tetep aja serial ini adalah serial yang selalu Bunda nantikan dan Bunda koleksi. 

Halaman pertama dibuka dari cerita bu Ono mengenai serial Miiko yang dimuat di majalah komik Pyong-Pyong secara rutin. Majalah itu sangat terkenal di kalangan anak-anak di Jepang. Karena mendapat sambutan yang baik, serial Miiko kemudian dibukukan, sehingga kita semua bisa baca di serial Namaku Miiko 1-4.

Cuma ternyata, Pyong-Pyong bubar dan digantikan Ciao. Miiko pun dilanjutkan di sana.

Apa bedanya serial Namaku Miiko (Miiko Desu) dengan serial Hai, Miiko (Koichimuitte Miiko)? Menurut Bunda, kayaknya sih, karena perbedaan awal diterbitkannya di mana. Yang satu di majalah Pyong-Pyong, yang satu di majalah Ciao #sotoybanget. Yang jelas, sih, ada perubahan style gambar antara serial Namaku Miiko dengan Hai, Miiko! Kayak bagian poni juga bentuk wajah Miiko yang berubah, bentuk wajah Mari Chan, Yukko, Tappei dan semua karakter di sini juga berubah banyak. Yang jelas, secara grafis, di Halo, Miiko, ~ style gambar bu Ono makin apik.

Gimana dengan ceritanya? Tetep lucu, mengharukan, dan semua-muanya, deh.... Hihihi...

Hai, Miiko! vol.1 terdiri dari sembilan cerita.

Salam Kenal
tentang perkenalan bu Ono dengan pembaca yang udah Bunda sebutkan di atas tadi (tentang awal mula komik Miiko berasal).

Cinta Pertama
Suatu malam, Mari Chan menelepon Miiko dan bilang pengen pindah bangku di bus. Dia pengen deketan sama seseorang di sana dan akan menyatakan cinta. Miiko jelas mau ngebantu, tapi akhirnya malah nyusahin Mari Chan. Di awal baca ini, Bunda nggak bisa nahan buat nggak ngikik, mau di manapun Bunda berada kalo baca komik ini. Meski udah berulang kali baca, tetep aja ngikik...

Tappei Pergi?
Kelihatannya ini awal mula cerita Miiko di Ciao. Jadi emang bu Ono bilang kalo beliau mau istirahat dulu kemudian melanjutkan menulis supaya lebih segar. Nah, jadi di sini masing-masing karakter bingung. Siapa yang bakalan tetap muncul di serial selanjutnya atau ada yang bakalan nggak ada. Ternyata, toko kelontong milik orangtua Tappei, Lazy Moon, tutup. Bahkan gosipnya, keluarga Tappei bakalan pindah. Duh, gimana, ya, kalo komik Miiko berlanjut tapi nggak ada Tappei? Beneran ga kebayang deh...

Orang Aneh di Sebelah
Ada murid baru di kelas Miiko, yang sekaligus karakter baru. Namanya Nomura Yoshiki. Anaknya pendiam, tapi kalo ngomong jutek dan blak-blakan. Ada ceritanya Miiko keseleo gara-gara berusaha ngambil penghapusnya yang jatuh di bawah kursi Yoshiki. Miiko nggak berani minta tolong diambilkan, karena sebelumnya, mereka berdua berbagi buku (buku pelajaran Miiko ketinggalan) terus Yoshiki ngedumel karena nggak bisa konsentrasi sama pelajaran. Hihi. Nah, yang jleb lagi pas ada acara bazaar sekolah. Mari Chan sibuk pengen bikin kukis lucu, tapi komentar Yoshiki adalah, "Kurasa nggak bakal laku... Apalagi kalo bikinnya nggak bagus. Memangnya bakal ada orang yang mau buang uang untuk membeli barang buatan kalian?" Pas dibentak Mari Chan, "Kalau kau memang hebat, terus kami disuruh jual apa?" Yoshiki jawab, "mi cup". Semuanya terpekur dengar jawaban Yoshiki. Tapi anehnya, justru pas hari H, Yoshiki bawa beberapa mi cup buat teman-temannya, banyak pengunjung yang nanya harga jualnya berapa. Ting tong banget, ga, sih...
Papa Pergi Dinas Luar
Papa dapat tugas mendadak ke luar kota selama sepuluh hari! Padahal, mama dan papa selalu berbagi tugas rumah tangga. Kalo kayak begini, kan, jadi repot. Nah, makanya, papa ngatur tugas supaya mama nggak harus kerjain kerjaan rumah tangga sendirian. Miiko mengajukan diri buat mencuci baju. Kenyataannya, Miiko malah baca komik, lupa ngerjain tugas cuci baju dan cuci piring sampai akhirnya, Mamoru kepaksa ga pakai baju karena kehabisan stok baju. Begitu pun mama, saat beliau butuh sendok buat makan, kehabisan sendok karena kotor semua belum dicuci Miiko. Akibatnya, ada piring kesayangan mama yang pecah. Duh... Kebayang, ya, kisruhnya. Kalo Bunda udah teriak-teriak kali, saking stresnya... :D
Tau-tau ada pengumuman dari sekolah, kalo saluran gas di kantin sekolah akan diperbaiki. Jadi, Miiko dan semua murid di SD Suginoki mesti bawa bekal sendiri. Nah, setelah berbagai insiden yang membuat Miiko merasa ga berguna itu, Miiko berinisiatif bikinin bekal buat mama dan Mamoru. Kalian pasti bisa bayangin, kayak apa tampang bekal buatan Miiko itu. Hihihi....

Air Mata Mari-Chan (bagian pertama dan kedua)
Persahabatan Miiko dan Mari Chan diuji. Ini semua bermula dari ke-sok-ngaturan Mari Chan saat mereka berlatih bola basket. Ya Chan yang gemas, bermaksud untuk berlatih sendiri tanpa mengajak Mari Chan. Miiko pun ikut dilibatkan. Miiko bingung. Dia ga pengen mengkhianati Mari Chan. Tapi Ya Chan maksa terus. Sampai akhirnya, Mari Chan lihat sendiri apa yang dilakukan Miiko. Miiko jelas nggak mau berkhianat, tapi kan, apa yang dilihat Mari Chan beda dengan apa yang dipikirkan Miiko...

Jaket Merah Muda
Miiko kabur dari rumah karena mama nggak mengabulkan permohonannya untuk dibelikan jaket merah muda. Pas lagi kabur, Miiko tabrakan dengan sepeda dan Miiko masuk ke tahun 1972. Di masa itu, Miiko ketemu mama yang seumur dengannya. Ternyata, Rie muda mirip banget sama Mamoru, dan saat ketemu dengan Miiko, Rie kecil lagi pengen dibelikan jaket merah muda. Hahaha. Sama banget, ya, ceritanya. Bedanya, sewaktu Rie kecil minta jaket merah muda itu, perusahaan tempat papa Rie kecil bekerja bangkrut. Jadi, keluarga ini lagi susah. Dan Rie bilang ke Miiko kalo dia dewasa nanti dia akan bekerja keras untuk menghasilkan uang banyak dan bisa belanja barang yang dipengeninnya sendiri.
Miya dan Gadis Salju
Kalo ini Miiko versi dongeng. Miiko berperan jadi Miya, si gadis miskin. Tiap hari, dia numpang makan di rumah Peta (pemeran Peta adalah Tappei) yang tinggal bersama neneknya. Miya tinggal di apartemen yang dimiliki oleh Mari (diperankan oleh Mari Chan).  Pas lagi main salju bertiga, tahu-tahu mata Tappei Peta dilempar es oleh Gadis Salju. Dan sejak saat itu, Peta berubah sikap. Peta bahkan diculik oleh Gadis Salju. Menurut nenek Peta, kalo diculik Gadis Salju, Peta akan membeku selamanya. Maka, Miya dan Mari berusaha menyelamatkan Peta.
Ada tambahannya juga, karakternya ga pake Miiko: Berjuanglah, Tako!
Yang ini tentang Tako, pemain basket bertubuh super tinggi, tapi gugup setiap kali berada di lapangan. Sementara Chizumi yang bertubuh pendek, selalu mengarahkan ke mana Tako harus bergerak. Ketika mereka kalah, Chizumi punya ide. Dia menuliskan lambang pada sebuah kain untuk diikat di kepala Tako, yang menurut Chizumi itu jimat supaya Tako bisa bermain basket dengan baik. Dan ternyata, jimat ini berhasil! Tim Tako pun menang, padahal on last shot, jimat Tako lepas!

~~~

Hmmm...
Menurut Bunda, yang jelas cerita-cerita Miiko selalu segar, tetap khas anak-anak. Nggak cuma menghibur, tapi juga mengajarkan banyak hal. Misalnya aja, Miiko bukan berasal dari orangtua super kaya di mana mama dan papa harus bekerja keras untuk support kehidupan mereka. Ditambah tinggal di apartemen kecil dan mama papa juga berbagi tugas rumah tangga. Bunda rasa, lewat cerita Miiko, semua pembaca diajak untuk bisa memahami kesulitan kedua orangtua, terutama ketika meminta barang yang diinginkannya.

Apa yang unik dari Hai Miiko! Vol 1 ini? Semuanya jelas menarik. Mulai dari cerita gimana komik Miiko bermula sampai dibukukan. Tentang kegalauan antar karakter mengenai siapa yang masih dipertahankan dan dibuang (yang ini lucu, menurut Bunda. Karakter aja bisa galau masih diajak "main" atau nggak di serial berikutnya), juga tentang "memberi label sebelum kenal dengan orang" (di cerita Orang Aneh di Sebelah). Cerita favorit Bunda yang mana di vol. 1 ini? Jelas Orang Aneh di Sebelah. Tapi semuanya Bunda suka, kok... Yang pasti, Bunda nggak akan melewatkan setiap serial Miiko. Tunggu review volume berikutnya, ya...

Sampai ketemu lagi di Miiko no Koonaa berikutnya... Teman-teman Bunda masih belum baca Hai, Miiko? Bunda tadi lihat di fanpage mnc comics, lagi re-stock, tuh! Buruan punya! :D


Love you both... Cheers...

Terusin baca - [Miiko no Koonaa] Hai, Miiko #1 by Ono Eriko

20 Mei 2013

[Miiko's Time] Namaku Miiko Vol. 4


Judul: Namaku Miiko Vol. 4 (Miiko Desu Vol. 4)
Penulis/Mangaka: Ono Eriko
Alih bahasa: Widya Winarya
Editor: Yoke Yuliana
Artistik: Pigar
Diterbitkan oleh: PT Gramedia
Cetakan kedua: Oktober 2005
Komik
Harga waktu beli: Rp. 11.000,-
Beli: 22 Januari 2006


Waduh, ulangan IPA mendadak! Gara-gara nggak belajar waktu liburan, Miiko nggak bisa menjawab soal-soal ulangan itu. Tengak-tengok... eitsss, nggak sengaja Miiko lihat jawaban Nakamura, anak paling pintar di kelas. Bukan berniat mencontek sih, tapi... sudah terlanjur melihat jawabannya, gimana dong baiknya? (dari kaver belakang)

------

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Ketemu lagi sama Miiko's Time... 
Walau terbitnya udah menjelang sore... Tadi, Bunda meeting seharian. Lalu, ketika tulisan ini dibuat, Bunda lagi nunggu papa jemput, karena bunda dapet kabar dari yangkung kalo adik Zidan tiba-tiba demam... huaaah!

Hmmm...
Ngomong-ngomong, Miiko edisi ini, ceweeeek banget. Bunda ngeliatnya, di sini, bu Ono mulai menggiring pembaca Miiko sebagai pembaca cewek yang mengenal pubertas. Kenapa? Di sini ada bahasan mengenai pertumbuhan payudara pada anak gadis, ciuman, kemudian mengenai masalah perempuan yang lain, di antaranya perasaan minder.

Bunda akan kasih sneak peek untuk masing-masing judul, ya. Seperti biasanya...

Dadaku Sakit
Di sini awalnya cerita tentang Mari-Chan yang merasa dadanya sakit. Dia pikir, dirinya sakit. Ternyata, dia sedang mulai mengalami masa pubertas. Yaitu, mulai tumbuh payudara. Itu yang akan dialami anak perempuan, menjelang menstruasi. Kalo pada anak laki-laki, tumbuh jakun yang menandakan bahwa dia akan berangkat menjelang dewasa. 
Trus, karena ternyata Yukko sudah mengalaminya juga, Miiko merasa sendirian. Sewaktu mamanya memperlihatkan foto-fotonya pas masih kelas 1 SMP, Miiko merasa lega, karena pertumbuhan setiap anak berbeda.


Terus Berjuang, Yuuki!
Miiko jadi panitia untuk menyemangati anak kelas satu yang akan bertanding olahraga. Sewaktu ditanya anak bernama Yuuki kelas berapa, Miiko dikatai kuntet karena kelas lima tapi badannya mungil. Awalnya Miiko kesal pada Yuuki, karena selain mengatainya kuntet, Yuuki juga mengganggu anak-anak lain. Ternyata, Yuuki kesal ayahnya nggak hadir pas pertandingan olahraga. Dari situ, Miiko bertekad untuk menjadi penyemangat untuk Yuuki.


Hadiah Miiko
Miiko punya sarung tangan yang dibelinya dari tabungan. Dia senang sekali, karena akhirnya bisa beli sarung tangan cakep itu. Mamoru juga senang, karena berhasil dapat tiket nonton baseball yang dia harus antri lama untuk bisa dapatinnya. Eh, ternyata, musibah terjadi. Tiket nonton tersiram teh, dan sewaktu mau dikeringkan malah terbakar. Mamoru marah sekali. Miiko berusaha menebusnya. Ah, Bunda sedih pas baca ini...


Gelang Janji Tomo-Chan
Di kelas Miiko, ada anak bernama Tomo-Chan yang pandai membuat gelang dari benang wol. Miiko minta diajari dan besoknya dia bawa benang wol. Eh, ternyata, Tomomi nggak masuk sekolah, karena alerginya muncul. Tomomi ga mau ditengok, karena malu. Oya, ini ada sedikit percakapan yang mengingatkan Bunda akan Bunda dan Papa. Hahahaha... Iya! Papa kalian tuh Tappei banget!

Tappei: "Kalau memang alergi, dilihat orang lama-lama juga biasa."
Miiko: "Me... Memang sih... tapi buat cewek, itu malapetaka!"
Tappei: "Ya nggak usah ditengok."
  Miiko: "Tapi... kasihan Tomo-Chan sendirian di kamar terus..."
  Tappei: "Ya udah, tengok sana! Rewel amat, sih...!"
  Miiko: ..... ngegebukin Tappei
 Tappei: "Aku salah apa lagi!"


Valentine yang Berantakan
Ceritanya, Miiko mau buat coklat Valentine. Dia minta diajari bikin truffle sama Yuka-Chan. Terus, pas udah jadi, Miiko bawa ke sekolah, dibagi-bagiin buat tiap orang. Cowok-cowok yang ga dapet coklat valentine, seneng kan, kebagian. Eh, sama Tappei dikacauin! Dia malah menjatuhkan sekotak truffle itu. Akhirnya, ga seorangpun makan! Duh! Miiko maraaah banget. Yah... Tappei punya cara sendiri buat menebus rasa bersalahnya, sih, walau akhirnya dia jadi sakit perut. Haha banget, yak!


Kiss-Kiss-Kiss
Ummm... ini materinya agak terlalu dewasa buat cerita anak, karena dimulai dengan adegan ciuman dua orang dewasa. Jadi "berat", karena kita di Indonesia, hal-hal kayak gini jarang dilakukan di depan umum. Orang Jawa bilang, "ora ilok". Mungkin karena di Jepang, hal-hal semacam ini lumrah, eh, padahal, orang Jepang setahu Bunda sangat pemalu, lho... apa ada juga, ya, adegan colongan macam gini? Entahlah... 
Nah, di sini, sih, Miiko, Mari-Chan dan Yukko jadi penasaran, apa sih, rasanya ciuman? Terus, mereka nanya Misaki, kakak Mari-Chan.
Hmmm... Kakak Ilman dan Adik Zidan..., kalo kalian belum cukup umur, nggak perlulah penasaran sama hal-hal semacam ciuman kayak begini, ya. Kalo sudah dewasa, sudah mampu bertanggung jawab, dan Bunda lebih sarankan lagi: sudah menikah, baru, deh, boleh melakukannya. Karena, dari ciuman aja, bisa ke mana-mana nantinya.


Hari Terpanjang Miiko
Miiko mau ulangan Kanji dan dia belum belajar. Akhirnya, dia pura-pura sakit dan akhirnya bolos. Ternyata, selama ada di rumah, ada kejadian yang membuatnya merasa takut berada sendirian di rumah, walau akhirnya ada Tappei datang menengok, mengantarkan catatan. Setelah mengalami hari yang menakutkan, ternyata ulangan Kanji nggak jadi, karena gurunya nggak masuk. Hahaha....


Makasih, Teru-Chan
Rencana piknik Miiko dan teman-temannya batal karena tiba-tiba hujan deras turun. Miiko menjatuhkan boneka teru ke tempat sampah karena kesal. Ternyata, Teru-chan, si boneka Teru yang dibuang Miiko, merintih minta tolong. Dia merasa bahwa dia telah gagal menghentikan hujan. Lalu, dia meminta tolong Miiko mengantarnya ke rumah Tappei, lalu berjuang bersama boneka teru-teru milik Tappei untuk menghentikan hujan.
Di Jepang, ada kepercayaan untuk menggantung boneka teru-teru di luar rumah, untuk menghalau hujan. Kayaknya, kalo di sini sama dengan menancapkan sate bawang dan cabe merah, kali, ya. 
Bunda pernah liyat beberapa varian boneka teru-teru, malah ngeri sendiri. Kayaknya, masing-masing boneka ini punya nilai magis tersendiri.... -_____-"


 Jangan Menyerah, Tomo-Chan
Nah! Ini kisah lanjutan Tomo-Chan. Dia akhirnya masuk sekolah dan ikut pelajaran berenang. Tapi ada dua anak yang ga mau satu kolam dengannya. Tappei dan Miiko membela Tomo-Chan, sehingga Tappei sempat digosipin. Lalu, ketika Mari-Chan dapat tiket berenang gratis, Tomo-Chan sempat menolak ajakan Mari-Chan. Tapi kemudian dia berubah pikiran, karena Miiko memintanya.


Kelihatan!
Miiko nggak belajar sewaktu liburan. Begitu masuk, ada ulangan mendadak IPA dan Miiko nggak bisa jawab. Tapi dia sempat melihat jawaban anak pintar di kelas yang duduk di depannya. Miiko nggak sengaja mencontek dan mendapat nilai tinggi. Miiko merasa nggak tenang. Miiko akhirnya membuat pengakuan supaya hatinya tenang. Bunda suka sekali cerita ini. Mari Chan menunggui Miiko di luar, ketika Miiko menghadap pak guru untuk mengakui perbuatannya. Cerita ini membuat Bunda melengkapi bintang lima untuk penutup serial Miiko Desu.


So far, dari sisi grafis, dialog, juga cerita, Namaku Miiko vol. 4 sudah banyak perkembangan dan membuat cerita semakin enak dibaca. Maka, mulai dari edisi ini, wajar banget kalo Bunda selalu kasih bintang 5... ;)
Terusin baca - [Miiko's Time] Namaku Miiko Vol. 4

13 Mei 2013

[Miiko's Time] Namaku Miiko Vol. 3

Judul Buku: Namaku Miiko Vol. 3 (Miiko Desu, Vol 3)
Penulis: Ono Eriko
Penerjemah: Widya Winarya
Editor: Yoke Yuliana
Artistik: Pigar
Diterbitkan poleh: PT Gramedia
Cetakan pertama: Tahun 2003
Komik
Harga waktu beli: Rp. 11.000,-
Beli: 22 Januari 2006 *eh, udah nikah ini* #penting :D


Gara-gara undangan pertemuan orangtua murid tempo hari, Papa-Mama Tappei yang sudah cerai mau rujuk lagi. Semua teman Tappei senang melihat keluarga ini bisa bersatu kembali. Si Miiko yang banyak ide dan baik hatipun berniat menyiapkan pesta pernikahan kejutan untuk Papa-Mama Tappei!
Sukses nggak, ya, si Miiko menyiapkan pesta itu? (dari kaver belakang)

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Ya! Miiko's Time mau dihidupkan lagi...
Sebelumnya... selamat ulang tahun, Miiko... juga bu Ono... 5 Mei lalu...
Kita saling mendoakan, yaaa... mwah mwah mwah... Sayaaaang, deh, sama Miiko....
Nah, sekarang, kita bedah isi Miiko Desu Vol. 3 ini...
Kita Bikin Pesta, Yuk! (Bagian Awal)
Melanjutkan cerita tentang kedua orang Tappei dari volume 2, Miiko punya usul buat bikin pesta pernikahan ulang kedua orangtua Tappei. Lalu, mereka bikin rapat di sebuah kafe, yang ternyata harga makanan dan minumannya mahal-mahal. Mereka jadi cuma pesan jus jeruk 4 gelas, sedotannya 7. Hahaha... Miiko juga nggak sengaja bikin sebuah kesalahan, yang membuat mereka diusir dari kafe itu. Tappei akhirnya kesel, lalu bilang, "nggak usah aja!" Teman-teman lainpun sama. Memutuskan membubarkan diri....

Kita Bikin Pesta, Yuk! (Bagian Akhir)
Sementara teman-temannya melupakan rencana Miiko, Miiko tetap berusaha keras untuk melanjutkan rencananya, berdua saja dengan Mamoru. Dia memaksa adiknya ikut kerja keras, begadang, untuk mempersiapkan pesta pernikahan ulang Papa-Mama Tappei.
Kabur di Malam Natal
Mama kerja di malam natal! Padahal, semestinya mereka makan malam di restoran Italia. Miiko marah sekali. Ketika mama memarahinya balik, Miiko memutuskan kabur. Tapi dia bingung, mau kabur ke mana. Lalu, akhirnya mendarat di tempat Kenta yang sedang membantu orangtuanya berjualan kue. Kenta Bakery lagi rame-ramenya, karena banyak pesanan dan orang-orang datang untuk beli kue natal.
Cowok yang Kusukai
Sewaktu Miiko dan kedua sahabatnya, Mari Chan dan Yukko ngobrol tentang cowok yang disukai, Miiko tiba-tiba aja nyeletuk kalo dia kagum sama Kenta. Dia kagum sama Kenta, karena Kenta membantu kedua orangtuanya bekerja di bakery. Ternyata, dasar Mari Chan, tukang gosip, jadi deh, bikin disorakin sekelas. Ada yang terluka, tuh, hatinya... Siapa, coba? :P
Hello, Baby!
Miiko dan teman-teman menengok bu guru bidang seni melahirkan di rumah sakit. Sewaktu ngobrol dengan bu guru, mereka sempat lihat ada perempuan yang hendak melahirkan dalam keadaan payah banget. Dan ini membuat Miiko dan teman-teman khawatir, juga ketakutan. Bu guru bilang, setiap perempuan mau melahirkan memang begitu.
Di rumah, Miiko mendesak mama menceritakan kisahnya sewaktu melahirkan Miiko. Mamapun cerita tentang proses kelahiran Miiko, di depan Miiko, Mari Chan, juga Yukko. Dan dari cerita itu, Miiko membuat keputusan untuk beli kado spesial buat guru musik mereka... :D

Nenek Datang!
Nenek buyut Miiko datang! Miiko senang sekali, karena nenek buyut ini funky! Jagoan main kartu bunga. Hingga suatu ketika, Miiko berkata ketus pada nenek buyut, karena Miiko makan sambil terburu-buru. Dan ini membuat nenek buyut akhirnya buru-buru pulang.

Cerita Hantu Sekolah!
----

Persahabatan Miiko - Mari
----
Misteri ABC
----

Makan Siangnya Apa, Ya?
Saat liburan, makan siang Miiko cuma nasi kepal, karena mama sibuk, nggak libur. Jadi, mama cuma sempat membuatkan nasi kepal untuk makan siang Miiko. Ketika Miiko protes, mama jadi marah. Tapi, lalu Miiko bersyukur, karena mama masih menyempatkan diri untuk bikin makan siang Miiko, walau hanya nasi kepal.
Aku Bukan Komikus yang Handal
Ini bonus komik. Isinya curhatan bu Ono, yang cerita perihal dirinya yang merasa bukan komik yang handal...

Nah...
Bunda yakin kalian pasti bertanya-tanya, kenapa di tiga judul, Bunda nggak menceritakannya. Soalnya, emang ini ada masalah dengan bukunya. Halamannya berantakan, justru tiga judul cerita ini nggak ada. Malah pengulangan cerita-cerita sebelumnya. Hehehe...

Yah, terus kenapa nggak Bunda tukar aja? Yah, mana Bunda tahu... Waktu Bunda beli kan bukunya disegel. Ya nggak kecek, lah.... :D
Terus, kenapa Bunda ga beli yang baru aja? Udah... Bunda udah beli... cuma terus, salah satu teman Bunda ulang tahun, Bunda jadiin kado, malah... Hahahah....

Entah kenapa, Bunda kurang terlalu suka dengan Namaku Miiko vol. 3 ini. Mungkin, karena tiga cerita hilang, ya, jadi Bunda merasa rugi. Cuma, yah, Bunda sempet kebawa sedih, sewaktu Miiko abis berkata ketus pada nenek buyutnya. Bunda merasa pernah melakukan hal seperti itu, dulu... :(

Lalu, kenapa kalo Bunda kurang terlalu suka, Bunda tetep kasih 4 bintang buat Miiko Desu vol. 3 ini? Yah, se-nggak sukanya Bunda sama Miiko, bukan berarti ga baca ulang dan membencinya. Ini tetep dibaca ulang, walau harus skip tiga cerita. Hiks...

Terusin baca - [Miiko's Time] Namaku Miiko Vol. 3

17 Sep 2012

[Miiko's Time] Namaku Miiko Vol. 2


Judul buku: Namaku Miiko Vol. 2
Pengarang: Ono Eriko
Penerjemah: Widya Winarya
Editor: Yoke Yuliana
Artistik: Pigar
Diterbitkan oleh: PT Gramedia Majalah
Cetakan pertama: Mei 2003
Komik
Harga waktu beli: Rp. 9.500,-  (beli 12 Nopember 2004)
 5/5

 
Waktunya timbang badan, saatnya pamer baju dalam lucu sama teman-teman! Miiko pun nggak mau kalah. Dia ingin pamer baju dalam barunya yang gambar strawberry. Sayangnya Miiko sedang gendut. Baju dalamnya sempit, dan gambar strawberrynya jadi kayak gambar tomat! (dari cover belakang)

Sinopsis:
Ayo, Mamoru! Berenang, dong! -- Cerita tentang Mamoru yang nggak bisa berenang. Nah, pas di kolam, dia diledekin sama Shinji. Mana udah gitu dipermalukan pula, disuruh mencontoh Shinji dan Yuka Chan. Jadi panas, deh, si Mamoru. Mamoru jelas sedih. Ternyata, Mamoru nggak bisa berenang karena takut air. Dulu pernah nyaris tenggelam pas berenang sama Miiko. Huhuhu. Kasihan Mamoru, ya...

Membantu Sang Komikus -- Mari Chan lagi main di rumah Miiko sambil nunjukkin karya komik terbarunya, waktu mama pulang dan pamit buat pergi lagi ke rumah komikus. Mau nagih naskah, katanya. Mendengar itu, Mari Chan yang emang pengen banget bisa memulai debutnya dengan menjadi asisten komikus, langsung memohon ke mama Miiko buat dibolehin ikut. Ternyata, saat mereka membantu komikus malah berantem rebutan kerjaan. Duh, Miiko! Mari Chan! Akibatnya, ada naskah yang sobek juga ketimpa tinta. Huh!

Mama Mencium Santa -- Mama dan papa Miiko berantem gara-gara capek mesti kerja di akhir tahun. Jadinya, bukannya bikin pesta, malah bikin suasana rumah jadi panas. Miiko sama Mamoru akhirnya kepikiran buat kasih kado ke orangtua mereka. Kado yang spesial dan buatan sendiri.

Kencan Pertama Miiko -- Aih! Miiko diajak kencan! Cowok itu bernama Yoshida. Miiko jadi jaim gimana gitu, deh, ke Yoshida. Nggak jadi diri sendiri. Yoshida jadi kagok lihatnya.

Aku Ingin Anak Anjing -- Waktu Miiko lagi numpang baca di sebuah toko buku, ada seekor anjing mengendus-endus kantung bekal Miiko. Setelah dikasih roti sama Miiko, ternyata anjing itu ngikutin Miiko ke rumahnya. Tapi Miiko keburu jatuh hati sama si anjing. Gimana, dong? Padahal, di mansion kan ga boleh miara anjing?

Tak Akan Kalah Saat Timbang Badan! -- Mau ada acara timbang badan di sekolah. Yang sudah-sudah sih, disuruh pakai baju dalam pas acara timbang badan. Nah, waktu Ya-Chan bilang dia udah punya baju dalam baru dibelikan mamanya, Miiko juga jadi pengen pamer baju dalamnya. Lah, pas dicobain di rumah, ternyata baju dalamnya udah kekecilan. Motif strawberrynya jadi bengkak! Hihi. Yah, Miiko merengek lah ke mamanya, minta dibeliin yang baru...

Mothers Day -- Kalo yang ini sih, ceritain tentang papa dan mama Tappei yang sudah bercerai. Tappei lagi tanding baseball, ngundang papanya tanpa kasih tau ibunya. Sepulang pertandingan, Miiko ditraktir papa Tappei. Sepulang ke toko Tappei, Miiko keceplosan nyebut papa Tappei. Jadi deh, mama Tappei agak gimana gitu...

Baikan, Yuk!/Mari Kita Baikan! -- (judul di daftar isi ama judul di halamannya beda :D). Ini juga lanjutan kisah mama dan papa Tappei. Di sini, mereka udah baikan gitu ternyata. Nah, Miiko dan teman-teman merancang pesta pernikahan ulang keduanya. 

Harajuku, Oh Yes! -- Miiko jalan-jalan sama Mari Chan dan Yukko ke Harajuku. Ternyata di sana ada banyak sekali orang yang bikin Miiko kepisah sama Mari Chan dan Yukko. Miiko pun tersesat. Di jalan, dia ketemu anak bule. Karena sama-sama tersesat mereka ngobrol, deh, jadinya. Tapi karena Miiko nggak bisa bahasa Inggris begitu pula si anak bule ga bisa bahasa Jepang, akhirnya mereka bicara dalam bahasa masing-masing. 

Kenapa Nggak Suka Darmawisata? -- Miiko senang sekali besok ada acara darma wisata. Tapi Mari Chan nggak suka. Oh, ternyata karena Mari Chan sering terkena mabuk perjalanan. Nah, Miiko dan teman-teman menghibur Mari Chan sepanjang perjalanan supaya Mari Chan nggak mabuk.


Halo, kakak Ilman dan adik Zidan...
hei.. hari Senin! It's Miiko's Time! Tapi Bunda baru bisa nulis udah sore begini. Soalnya pagi tadi meeting, trus baca-baca materi yang kemungkinan akan jadi pekerjaan Bunda berikutnya, plus scrapping lah. Mumpung moodnya lagi ada. Hihi...

Cerita-cerita di Namaku Miiko vol. 2 ini lebih bervariatif ketimbang volume 1. Grafisnya juga lumayan membaik. Bunda tersentuh pas Mama Mencium Santa juga Baikan, Yuk! Bunda suka sekali dengan semangat Miiko. Nggak salah, deh, kalo Yoshida suka sama Miiko dan ngajak Miiko kencan. 

Di sini, udah mulai kelihatan kalo Tappei suka sama Miiko. Ada ekspresi cemburu yang ditunjukkan oleh Tappei, waktu Mari Chan ngajak Tappei membuntuti Miiko dan Yoshida di tempat kencan mereka.

Bunda terharu juga sih pas baca Aku ingin Anak Anjing. Kebayang aja, udah sayang, eh tahu-tahu nggak bisa miara anjing. 

Over all, cerita-cerita di sini makin banyak perbaikannya. Kita makin dibuat akrab dengan semua karakternya. Bunda jadi tahu latar belakang Tappei yang selama ini sikapnya suka kasar gitu. Biasanya, anak yang bermasalah di rumah, di luaran suka bersikap kasar atau semaunya. Karena dia nggak pengen diperhatiin. Pengen nyembunyiin apa yang sebenernya terjadi. Dia nggak pengen orang lain tahu masalah pribadinya.

Belajar dari ini, Bunda berharap, kakak Ilman dan adik Zidan tumbuh menjadi anak yang penuh kasih sayang karena kalian mendapat limpahan kasih sayang yang tidak sedikit. Dan terus terang, baca tentang kisah mama dan papa Tappei yang pisah bikin Bunda sedih, lho. Karena, biar gimana juga, perpisahan kedua orangtua itu akibatnya nggak pernah bagus untuk anak-anak mereka.

Nah, 5 dari 5 rate untuk Namaku Miiko vol. 2. Nggak turun dan nggak naik, soalnya udah maksimal segitu. Hehe. Makanya Bunda koleksi ;)


Terusin baca - [Miiko's Time] Namaku Miiko Vol. 2

10 Sep 2012

[Miiko's Time] Namaku Miiko Vol 1


Judul: Namaku Miiko Vol. 1 (Miiko Desu #1)
Pengarang: Ono Eriko
Alih Bahasa: Widya Winarya
Editor: Yoke Yuliana
Artistik: Pigar
Diterbitkan oleh: PT Gramedia
Cetakan Kedua: Oktober 2005
Komik
Harga waktu beli: Rp. 11.000 (beli 22 Januari 2006)
5/5

Miiko merengek-rengek minta ikut les biar bisa jajan di kafe sepulang les! Memang setelah ikut les, nilainya jadi bagus. Tapi kenapa sekarang mama Miiko malah menyuruhnya berhenti les, ya? (dari cover belakang)

Sinopsis:
Aku Ingin Ikut Les -- Cerita tentang Miiko yang merengek minta ikut les ke mamanya. Sempet ditolak, tapi akhirnya mama papanya luluh. Akhirnya Miiko ikut les. Setelah ada peningkatan nilai, mamanya kemudian nyuruh Miiko berhenti les. Soalnya tubuh Miiko jadi melar karena ngemil melulu. Hihihi...

Happy Birthday, Mamoru! -- Mamoru ulang tahun! Janjinya, mama akan pulang cepat. Ternyata mama sibuk banget hari itu, sampai mama membatalkan janji pulang cepat plus beli kue untuk ulang tahun Mamoru. Papa juga sama. Dan yang paling bete ya Miiko, karena batal makan kue. Hihi. Mamoru diundang Yuka Chan, pacarnya, untuk merayakan ultah Mamoru di rumah Yuka Chan. Nah, selama itu, Miiko nyiapin pesta kejutan buat Mamoru. Miiko nggak tahu kalo Mamoru lagi pesta di rumah Yuka Chan.

Bros Santa Idaman -- Miiko punya sweater merah cakep baru. Dan Miiko juga naksir banget bros Santa di toko Lazy Moon, yang ternyata punya teman sekelas Miiko, Tappei. Harga bros itu mahal, 680 Yen, sementara Miiko cuma punya 347 Yen aja. Segala upaya untuk mendapatkan uang tambahan, Miiko lakukan. Mulai dari buka layanan pijat ke papa mama sampai layanan antar kamar ke Mamoru. Tetep nggak menjadikan uang Miiko berjumlah 680 Yen. Nah, waktu Miiko mau ke pesta Yukko, dia diledek sama Tappei, dikatain anak miskin. Miiko marah banget. Tapi waktu di perjalanan menuju rumah Yukko, Miiko tetep nyempetin mampir ke Lazy Moon demi lihat bros Santa. Wah, dia seneng banget karena bros itu didiskon 50%. Jadi beli, deh. Yang jelas, Miiko nggak tahu cerita di balik diskon itu. Hahaha...

Ini Dia Angpaonya! -- Tahun baru! Saatnya Miiko dapat angpao. Karena mama sama papa pergi nonton, trus Mamoru sembahyang di kuil sama Yuka Chan, akhirnya Miiko pergi ke kuil sendirian. Nah, dia beli permen. Setelah sembahyang, dia ketemu sama Tappei dan mamanya. Setelah mama Tappei pergi, Miiko baru sadar kalo dompet angpaonya hilang. Wah, ribet deh, urusannya. 

Ingin Memberi Cokelat -- Hari Valentine sudah tiba! Di Jepang, ada kebiasaan kalo pas hari Valentine tuh, cewek-cewek ngasih coklat ke cowok sebagai ungkapan perasaan mereka. Miiko ikut-ikutan bawa cokelat ke sekolah, meski ga tau mau dikasih buat siapa. Malam sebelumnya, Miiko mimpi ketemu pangeran yang mau dia kasih cokelat. Tapi, waktu muka pangeran itu jelas, pangeran itu malah ngomong, "Aku nggak doyan cokelat, Dudul!" Hahaha... Di sekolah, Miiko salah tingkah aja tiap mau kasih cokelat ke siapa aja yang ditemuinya. Puk puk puk. Kasihan Miiko...

Kejutan Musim Semi -- Miiko pengen tas baru. Padahal tas lamanya masih bagus. Waktu Miiko merengek ke mama dan ditolak mama, Miiko ngatain mama pelit. Akhirnya, mama berterus terang, kalo papa akan dipecat dari pekerjaannya. Jadi, hidup mereka nggak akan sama lagi. Berita ini membuat Miiko langsung sedih dan memutuskan untuk mencari kerja paruh waktu supaya bisa bantu mama. Miiko nggak tahu kalo dia sedang dikerjain mama :D

Miiko Ingin Tampil Cantik! -- Miiko iri sama Yuka Chan yang selalu tampil cantik pakai gaun berenda, sementara penampilannya sendiri selalu tomboi. Nah, suatu hari, Miiko memutuskan buat ke sekolah pakai gaun berenda. Dan hasilnya? Ya gitu, deh... Malah menuai ledekan Tappei yang emang pada dasarnya senang banget godain Miiko.

Aku Ingin Dipanggil Kakak! -- Ada pertanyaan pembaca, kenapa Mamoru nggak pernah manggil Miiko "kakak"? Yah, abisnya, emang jauh lebih dewasa Mamoru walau Miiko kakaknya. Hihi. Suatu malam, mereka ditinggal berdua di rumah, karena mama dan papa harus menginap di luar kota menghadiri pernikahan kerabat mereka. Bukannya bantuin Mamoru, Miiko malah asik baca komik dan nonton tv, sampai Mamoru kehujanan waktu angkat jemuran. Akibatnya, semalaman Mamoru demam. Nah, selama Mamoru demam, Miiko berusaha merawatnya sampai belain begadang, sampai Mamoru sehat. Cuma, waktu mama pulang, Miiko lagi tidur, jadi disangkain Miiko kerjanya cuma tiduran aja. Hahaha... Miiko apes banget, ya!

Teman di Atas Pohon (bagian awal dan akhir) -- Miiko dan teman-teman sekelasnya ikut karyawisata di luar kota dan mereka menginap di sebuah penginapan. Nah, di sana, Miiko ketemu teman baru, namanya Ayako. Miiko akrab banget sama Ayako. Suatu malam, Tappei kaget karena Miiko lagi ketawa sendiri, padahal sebenernya Miiko lagi ngobrol sama Ayako sambil lihat bintang. Dan ya gitu, deh. Akhirnya ketahuan juga siapa Ayako yang sebenarnya...


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Mulai hari ini, Bunda akan jadikan hari Senin sebagai Miiko's Time. Waktunya posting review tentang komik Miiko. Kalo semua komik Miiko yang Bunda punya sudah Bunda review, mungkin Bunda akan buat cerita sendiri tentang siapa Miiko dan lain-lain. Pokoknya, hari Senin adalah hari Miiko. Kenapa Bunda milih hari Senin? Ya nggak apa-apa. Seneng aja. Hihi...

Bunda udah lama jadi Miivers alias Miiko lovers. Tapi kayaknya istilah Miivers baru-baru ini aja adanya. Bunda baca komik Miiko kan udah dari tahun 2003. Dulu, Bunda masih pinjem. Pas tahun 2005, Bunda mulai koleksi sendiri alias beli. Pokoknya, nggak boleh ada satu pun komik Miiko yang terlewat untuk dimiliki!

Nah, bicara soal gambar... kayaknya tahun 1990 itu jadi debut pertama ibu Ono Eriko dengan Miiko ini. Gambarnya masih kasar. Tapi ceritanya sih udah oke banget. Di Namaku Miiko vol. 1 ini, keliatan banget bedanya dari sisi ilustrasi. Mulai dari cover sama cerita pengarang, beda banget sama ilustrasi di panel-panel komik volume 1 ini. Terus, cara penceritaannya juga masih belum halus, kalo dibandingkan dengan cerita pengantar di halaman terakhir.  Covernya cakep! Intinya, komik ini layak banget, deh, buat jadi koleksi ;)
Kalian nanti tinggal baca aja. Cuma, yah, emang sih. Miiko bukan komik cowok. Tapi sama sekali nggak salah kalo kalian baca. Toh, ceritanya tentang keseharian.

Bunda bener-bener menikmati perjalanan Miiko ini. Sampai ketemu di Miiko's Time Senin depan, ya! Insya Allah!


Terusin baca - [Miiko's Time] Namaku Miiko Vol 1