Tampilkan postingan dengan label 4 stars. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 4 stars. Tampilkan semua postingan

7 Mar 2016

Dilan - Dia adalah Dilanku Tahun 1990 by Pidi Baiq


Judul: Dilan ~ dia adalah Dilanku tahun 1990
Penulis: Pidi Baiq
Ilustrasi sampul dan isi: Pidi Baiq
Penyunting naskah: Moemoe dan Huda Wahid
Penyunting ilustrasi: Pidi Baiq
Desain sampul: Kulniya Sally
Proofreader: Febti Sribagusdadi Rahayu
Layout sampul dan seting isi: Tim Artistik dan Deni Sopian
Diterbitkan oleh: Pastel Books ~ DAR Mizan
Cetakan III, Juni 2014
ISBN: 978-602-7870-41-3
Jumlah halaman: 332 halaman, 20.5 cm
Genre: Romance, Indonesian Literature, Young Adult, Comedy
Status: Punya, beli sendiri

"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja" (Dilan 1990)

"Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang." (Dilan 1990)

"Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli." (Milea 1990)


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Ya ampun... ini sudah ada dalam drafts sejak dua tahun lalu dan belum Bunda lanjutkan! *tepok jidat*

Jujur aja, udah agak-agak lupa, sama ceritanya... Tapi okelah, Bunda coba ceritakan ulang sedikit, yang Bunda ingat...

Ada seorang remaja lelaki bernama Dilan, yang jatuh hati pada seorang Milea Adnan Husein, anak baru pindahan dari Jakarta. "Kesamaan" yang dimiliki oleh Milea dan Dilan adalah sama-sama anak tentara. Dilan sebenernya anak geng motor, suka berkelahi, tipikal anak laki-laki yang sering dipanggil guru BP. Tapi dia agak "melunak" ketika mulai suka pada Milea.

Milea sendiri standar anak perempuan baik-baik yang nggak suka pada perkelahian dan kekerasan gitu. Jadi, kalo misalnya Dilan mendekati Milea pake standar ala-ala anak geng motor dengan gaya sok kece, sepertinya Milea nggak akan mau.

Cara Dilan mendekati Milea termasuk unik. Di malam perkenalannya, Dilan datang ke rumah Milea, mengaku sebagai Utusan Kantin, ketika berkenalan dengan ayah Milea. Hihihi. Lalu, Dilan kerap mengirimkan coklat pada Milea, titip pada tukang koran atau tukang apa aja yang pasti lewat rumah Milea. Nggak hanya itu, Dilan memberikan hadiah ulang tahun pada Milea berupa TTS yang semuanya sudah diisi, karena Dilan nggak mau Milea pusing saat mengisi TTS. Wahahaha...

Sikap Dilan yang begitu ingin melindungi Milea dan menghindarinya dari kesedihan menggugah siapa saja yang membaca. Dilan juga punya sahabat yang selalu bersamanya, Piyan, yang tak lain pacar sepupunya, Wati. 

Dari kesemua karakter yang ada di cerita Dilan ini, selain Dilan, Bunda suka banget dengan "Bunda". Nah, lho, bingung, ya, ada dua subject "Bunda" di sini. To make it easier, Bunda akan kasih keterangan Bunda Dilan biar ga bingung. Hihihi...

Bunda Dilan menurut Bunda adalah sosok keren. Dia adalah ibu hebat yang selalu mendukung anaknya, bahkan dia juga bisa akrab dengan Milea. Hey! Bunda jadi kepikiran... Kalo ntar kalian punya pacar, Bunda bisa nggak, ya, kayak Bunda Dilan yang akrab dan sayang banget dengan Milea? xD

Di balik kekerenan Dilan, dia tetap si "anak nakal" yang nggak segan-segan akan memulai perkelahian jika ada yang mengganggu Milea atau ketentraman hidup keluarga atau sahabatnya. Maka, di sini juga ada cerita tentang perkelahian antar geng motor gitu. Sigh...

Senangnya baca buku ini, ngakak-ngakak nggak jelas, walau  saat itu sedang ada di angkot. Ceritanya, dalam perjalanan pulang dari kantor, hari itu hujan deras dan menjelang maghrib, di suatu sore bulan Ramadhan. Bunda sudah berangkat dari selepas Ashar, nggak bawa makanan buat batalin puasa pas Maghrib, karena Bunda pikir bakalan sampai rumah sebelum Maghrib.

Ternyata dugaan Bunda salah.
Terjebak di jalanan berjam-jam, cuma ditemani buku Dilan. Akhirnya Bunda menyiksa diri dengan membaca Dilan walau jadinya ngakak-ngakak sendiri, diliatin orang seangkot. Bodo amat. Hihihi.. Walau telat banget berbuka puasa (udah lewat Isya' baru bisa buka puasa) tapi hati senang karena menikmati cerita Dilan.

Terlepas dari kisah romantisme Dilan yang nggak standar ini, Bunda jadi teringat papa kalian yang juga romantis dengan caranya sendiri. Bunda cerita di sini, sih. Kalian baca sendiri aja, ya... Hehehe...

Bunda jadi penasaran dengan kisah selanjutnya (kalo ada...)

Cheers! Love you both, xoxo



Terusin baca - Dilan - Dia adalah Dilanku Tahun 1990 by Pidi Baiq

5 Agu 2015

Hwaiting, Hye Mi! by Laksmi P Manohara





Judul buku: Hwaiting, Hye Mi!
Penulis: Laksmi P Manohara
Ilustrasi: Nisa Nafisah
Penyunting naskah: Huda Wahid dan Dian Hartati
Penyunting ilustrasi: Kulniya Sally
Proofreader: May May Maysarah 
Desain isi: Nisa Nafisah
Desain sampul: Kulniya Sally
Cetakan I, Shafar 1436 H/Desember 2014
Diterbitkan oleh penerbit DAR! Mizan
Jumlah halaman: 136 hal; 21 cm
ISBN: 978-602-242-628-8
Genre: Fiksi, K-Novel, Fiksi Korea, Children Books, KKPK


Tampil lepas di hadapan para juri, Hye Mi meraih juara perama kompetisi hip-hop dance. Sebagai satu-satunya wakil dari sekolah, dia merasa sangat bangga. Apalagi gadis itu telah berlatih keras melakukan hal yang paling disukainya tersebut.

Terpukau akan penampilan Hye Mi, utusan Kementerian Kebudayaan lantas mendapat ide cemerlang, "Bagaimana kalau..." Kepala sekolah pun memanggil Hye Mi. "Aku mengutusmu mewakili sekolah menari di kementerian," pinta beliau. "Nanti kamu akan belajar tari tradisional Korea."

"Tari tradisional?!" protes Hye Mi dalam hati. Dia kan hip-hop dancer! Lagi pula, tari tradisional kuno, lamban, musiknya juga kerap memilukan. Mana cocok menggambarkan hari-harinya sebagai gadis muda yang lincah dan penuh semangat? Kalau hip-hop dance? Baru cocok!





Sinopsis Cerita
 
Ketika seorang anak memiliki prestasi memuaskan berkat kerja kerasnya selama bertahun-tahun latihan, tentu dia akan merasa bangga. Dan otomatis, predikat prestasinya ini akan melekat dalam dirinya sebagai modal untuk percaya diri. Ini juga yang dialami Hye Mi, seorang gadis kecil Korea berusia sepuluh tahun yang pandai melakukan hip-hop dance yang bahkan sudah meraih banyak penghargaan itu.

Suatu ketika, dia mendapat perintah dari Kepala Sekolah, Tuan Jun Ki, agar Hye Mi ikut tampil menari tarian tradisional Korea di depan tamu negara. Sorot mata Hye Mi mendadak meredup dan badannya lesu, namun Tuan Jun Ki terlalu bersemangat untuk menjadikan Hye Mi sebagai wakil sekolah, karena Hye Mi sudah langganan menang kompetisi, tidak menyadari adanya perubahan raut wajah Hye Mi. 

Di rumah, Hye Mi pun lesu. Dia membayangkan betapa membosankannya latihan tarian tradisional itu. Padahal, ayah dan ibu tidak pernah lelah menyemangatinya.

Ketika Hye Mi mulai ikut latihan tarian tradisional yang diajarkan oleh Bu Kim, kesibukan Hye Mi mulai meningkat. Dia tidak menyadari bahwa Ji Hyo, sahabatnya, mulai menjauhinya. Sementara di tempat latihan menari, teman-teman baru Hye Mi juga mulai tidak menyukainya dan membencinya. Padahal, waktu pementasan sudah tidak lama lagi.

Hye Mi mulai menyadari bahwa tindakannya bermalas-malasan ikut latihan tarian tradisional, membuatnya dibenci teman-teman latihan menarinya. Dan dia semakin merasa sendiri ketika Ji Hyo selalu menghindarinya. Mana enak nggak punya teman?

Pada saat Nenek yang tinggal di Pulau Jeju mengunjungi Hye Mi, barulah Hye Mi menyadari mengapa Ji Hyo menjauhinya. Nenek yang dulu penaripun sibuk menggembleng Hye Mi untuk latihan lebih serius. Melalui Nenek lah, kecintaan Hye Mi terhadap tarian tradisional jangguchum mulai tumbuh.



Review

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan... Udah lama, ya, nggak nulis review lagi. Ah, kali ini nggak akan cerita alasannya, deh. Basi! :D

Bunda mau cerita sekilas mengenai hubungan Bunda dengan penulis cerita "Hwaiting, Hye Mi!" ini. Jadi, tante Laksmi tuh duluuuu banget, sewaktu Bunda masih duduk di kelas 2 dan 3 SMA adalah sahabat Bunda. Kami berempat punya geng bernama "Four Mbaketeer". Anggotanya terdiri dari Bunda, Tante Laksmi, Bude Dian, dan Tante Saptini. Selain ke mana-mana sering bareng, kalo salah satu dari kami ulang tahun, selalu ada surprise dari kami. Pisah pas masuk kuliah, susah lagi ngumpulinnya :D



Sebetulnya Bunda udah tahu lama kalo Tante Laksmi menulis buku. Dulu, Bunda dan Tante Laksmi pernah berkolaborasi compose lagu untuk tugas Bude Dian, karena dia anti banget sama ngarang lagu, padahal ada tugas ngarang lagu. Bunda sih udah compose lagu sendiri, begitu juga Tante Laksmi. Nah, karena Bude Dian ini ZBL banget sama seni musik, akhirnya Bunda dan Tante Laksmi keroyokan berkolaborasi composing lagu buat Bude Dian. Bunda bikin lirik, Tante Laksmi yang menggubahnya jadi lagu.

Setahu Bunda, buku pertama Tante Laksmi ada lagunya juga. Bener, ga, Tante? Tapi berhubung Bunda waktu itu masih fokus dengan buku-buku yang lain, Bunda nggak inget buat nge-take dulu via Tante Laksmi. Tapi ada satu hal juga, sih, yang bikin Bunda nggak mau kenalan dengan buku-buku Tante Laksmi terdahulu: Bunda ngiri berat karena Tante Laksmi udah maju sejauh ini, Bunda masih lari sprint di tempat. Hihihi.

Karena Bunda belum baca buku-buku terdahulu yang ditulis Tante Laksmi, Bunda jadi ga bisa bandingin dengan karya Tante Laksmi yang lain. Secara keseluruhan, cerita di buku ini lumayan mengenyangkan, salah satunya ada banyak istilah-istilah yang digunakan di Korea, sehingga bagi kamu yang sama sekali nggak ngerti istilah-istilah Korea, paling nggak minimal tahu, deh, "hwaiting" itu artinya apa. Selain itu, di cerita ini juga kita dikenalkan dengan beberapa nama tarian tradisional Korea, salah satunya tarian jangguchum yang ditarikan oleh Hye Mi. Jangguchum adalah tarian yang menggunakan alat bernama janggu. Memukul janggu harus sesuai dengan irama musik. Untuk menari jangguchum diperlukan badan yang kuat, karena tubuh harus menari sekaligus membawa janggu. Semua kelincahan di hip-hop dance bisa membantu Hye Mi kuat dalam menari jangguchum, dan dia baru menyadari beberapa waktu kemudian.

Nah, selain mengenyangkan karena ada pengetahuan baru mengenai budaya Korea, kita juga jadi tahu bahwa persahabatan itu penting dan satu lagi: memandang remeh sesuatu itu tidak baik. Belum tentu yang kita anggap remeh itu betul-betul remeh.

Ilustrasinya menarik, Bunda suka dengan style layout dan grafisnya.

Disajikan dalam bahasa yang mudah dicerna anak-anak, terutama anak usia 8-12 tahun, "Hwaiting, Hye Mi!" bisa direkomendasikan untuk kado, kok... ^_^


Kritik

Entah karena memang ini niatnya untuk masuk genre KKPK (Kecil-kecil Punya Karya), konflik di buku ini kurang kuat. Emosi Hye Mi ketika dijauhi oleh Ji Hyo dan teman-temannya kurang terasa oleh Bunda, jadi datar aja, nggak ikut sedih atau kesal :D

Bunda nggak ngerti juga, apakah ada batasan halaman atau apa, cuma rasanya emosi di bagian itu kurang kuat. Berbeda dengan emosi ketika Hye Mi merasa senang atau kecewa ketika Tuan Jun Ki memberinya mandat sebagai wakil sekolah. Juga ketika nenek datang, emosinya kerasaaa banget.

Sayang aja, sih, padahal klimaksnya ada di bagian ketika Hye Mi dijauhi teman-temannya.

Terus untuk layout, setiap halaman berasa terlalu ramai karena nggak hanya ada border, tapi di setiap halaman ada garis-garis membujur yang mengganggu (menurut Bunda sih) jadi mata bekerjanya dobel. Ya membaca, ya memilah mana huruf mana garis :D

Oya! Ada satu lagi yang agak mengganjal. Bunda sih belum pernah tahu ada anak-anak Korea berambut kriwil banget kayak Hye Mi, karena biasanya, anak-anak Korea itu rambutnya lurus dan hitam warnanya :D Kalo udah gede, sih, mereka umumnya udah kenal obat keriting dan lain-lain :D

Secara garis besar, ceritanya menarik dan cukup bergizi. Semoga Tante Laksmi tidak pernah berhenti berkarya...







Sekilas info tentang Tante Laksmi:
Nama lengkapnya Laksmi P Manohara Puspokusumo. Jagoan main piano. Demen membaca, menulis dan bermain musik (ya piano itu). Buku pertamanya yang terbit langsung lima, yaitu seri "Cerita dari Negeri Paranada" terbit tahun 2012.
Ini dia orangnya (Tante Laksmi, boleh pinjem fotonya, yaaaa)


FYI, kayaknya review berikutnya masih berbau Korea, deh. Hihihi. Soalnya bacanya udah lamaaaa banget, tapi baru punya mood buat review sekarang ini... Takut keburu diban sama Divisi Membership BBI juga, sih, karena sepi update... heuheu...  Okay, deh, sampai ketemu di review selanjutnya, yaaa...


Cheers and Love! xoxo,


Terusin baca - Hwaiting, Hye Mi! by Laksmi P Manohara

12 Des 2014

If I Stay - Gayle Forman

Judul: If I Stay
Penulis: Gayle Forman
Diterbitkan oleh: Dutton Books, 2 April 2009
Format: e-book
Jumlah halaman: 210 halaman
ISBN: 1101045027
Genre: Young Adult, Kontemporer, Romance, Fiksi, Music


In a single moment, everything changes. Seventeenyear-old Mia has no memory of the accident; she can only recall riding along the snow-wet Oregon road with her family. Then, in a blink, she finds herself watching as her own damaged body is taken from the wreck...

A sophisticated, layered, and heartachingly beautiful story about the power of family and friends, the choices we all make, and the ultimate choice Mia commands.

 
Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Rasanya udah lama banget, ya, Bunda nggak apdet. Mianhe. Ada banyak kejadian terhitung sejak menjelang lebaran. Mulai dari kehilangan calon adik bayi buat kalian (yes, Bunda keguguran akhir Juli lalu dan baru dikuret 1 Agustus), trus kakak Ilman harus dirawat di rumah sakit pas bulan September, disusul adek Zidan yang juga harus dirawat di rumah sakit yang sama di bulan Oktober. Fyuuuuh...

Ternyata semuanya berpengaruh ke mood baca, nulis, dan lain-lain. Tentu saja Bunda khawatir kalo ada anggota keluarga Bunda yang sakit. Pas Bunda nemenin kalian diambil darah, diinfus... rasanya ingin, deh, bertukar tempat...

Oke! Sekarang kita bahas buku yang udah Bunda kelarin baca entah sejak kapan ini...
Buku ini bercerita tentang Mia Hall yang sedang dalam perjalanan bersama orangtua dan adiknya di jalanan yang basah dan licin karena hujan di Oregon. Tiba-tiba Mia keluar dari tubuhnya sendiri, menyaksikan kedua orangtuanya sudah tidak bernyawa dan adiknya, Teddy, entah ada di mana.

Tubuh Mia dibawa ke rumah sakit dan ditempatkan di ruang ICU. Selama itu, jiwanya berkeliaran ke setiap sudut. Awalnya, dia mencari tahu, apakah Teddy "selamat" seperti dirinya. Ini penting, karena itu akan jadi alasan Mia untuk kembali ke tubuhnya dan hidup lagi.

Sementara tubuh Mia dalam keadaan koma, jiwa Mia berjalan-jalan untuk melihat Adam (pacarnya), Kim (sahabatnya), Granny juga Gran. Di saat itulah, jiwa Mia bimbang. Antara mau masuk lagi ke tubuhnya dan meneruskan kehidupan tanpa Mom, Dad juga Teddy, atau mau ikut menyusul ketiganya aja.

Sebelumnya, Bunda pernah baca review Aki Erie di goodreads. Katanya, aki pusing karena plotnya jeduk-jeduk. Hihihi... Bunda pikir, dia bacanya sambil joget, terus kejeduk-jeduk gitu #eaaaa #garing

Jadi, setelah Bunda baca sendiri, ternyata yang dibilang aki Erie itu benar adanya. Plotnya ga berjalan lurus mulus. Konsentrasi tinggi (buat Bunda, sih) diperlukan banget nikmatin cerita ini. Kenapa? Ya itu. Karena plotnya mudah sekali berubah. Antara flashback dengan cerita yang sedang terjadi itu nyaris tipis bedanya. Kalo nggak konsentrasi bacanya, pasti bingung dan ya itu, babak belur karena merasa kejedot dan bertanya-tanya.

Hmmm... Tapi, Bunda jadi mikir. Apakah karena aki Erie itu pria, ya, yang notabene lebih dominan pakai logikanya ketimbang perasaannya? Soalnya, Bunda ga merasa ada masalah ketika baca cerita ini. Emosi Bunda emang naik turun, segimana penuturannya aja. Bagi Bunda pribadi, sama sekali nggak ada masalah ketika cerita sedang flash back atau sedang cerita kejadian saat itu, di waktu yang berbarengan, di scene yang sama. Mungkin, Bunda sendiri suka begitu kalo lagi bercerita. Hahahaha.

So far, Bunda menyukai emosi yang ada di If I Stay ini. Bunda ngebayangin, Adam itu ganteng kayak Adam Levine versi abege. Atau minimal secakep pemeran Augustus Waters di film TFIOS. Tapi, yah, ketika lihat trailernya, ternyata nggak seganteng bayangan Bunda. Hohoho. Kecewa? Ga tau. Bunda belum nonton. Kayaknya kalo aktingnya bagus, masalah nggak seganteng imajinasi Bunda itu bisa termaafkan :P

Yang jelas, Bunda sangat penasaran dengan adegan/dialog Gran saat "mengikhlaskan" Mia kalo di film. Adegan itu Bunda bacanya di angkot, air mata Bunda meleleh, dan Bunda ga bawa tisu. Huhuhuhuhu.... I miss my grandpas... >_<

Bunda suka If I Stay ini. Tapi kalo untuk re-read, kayaknya nggak sekarang. Bunda kan biasanya bilang, kalo bagus banget maka Bunda akan re-read. Cuma, untuk re-read, kayaknya nggak dulu, deh. Masih banyak buku lain yang belum dibaca. Hihihi... Jadi, 4 bintang, boleh yaaa...





Terusin baca - If I Stay - Gayle Forman

20 Jun 2014

Tokyo ~ Falling (Setiap Tempat Punya Cerita #6) by Sefryana Khairil

Judul: Tokyo ~ Falling (Setiap Tempat Punya Cerita #6)
Penulis: Sefryana Khairil
Editor: Ayuning dan Gita Romadhona
Proofreader: Mita M. Supardi
Penata letak: Landi A. Handwiko
Desain sampul: Levina Lesmana
Ilustrasi isi: Tyo
Penerbit: Gagas Media
Cetakan kedua, 2013
Jumlah halaman: x + 338 hlm; 13 x 19 cm
ISBN: 979-780-663-4
Genre: Novel, Romance, Contemporay Fiction, Love
Status: Punya. Beli di Rumah Buku
Harga: IDR 53,000
Pembaca tersayang, 
Musim panas di Tokyo selalu memiliki banyak warna. Sefryana Khairil, penulis Sweet Nothings dan Coba Tunjuk Satu Bintang, mengajak kita berkeliling di Negeri Sakura bersama dua wartawan bernama Thalia dan Tora.

Keduanya dipertemukan oleh sebuah lensa. Lalu, Danau Shinobazu membuka mata keduanya, tentang bahwa kenyataan sering sekali berbeda dengan asumsi mereka pada awalnya. 
Thalia dan Tora berbagi tawa dan saling menyembuhkan.
Hingga mereka sama-sama ragu, benarkah semuanya hanya sekadar kebetulan? Ataukah ini adalah satu dari misteri Ilahi yang belum mereka temukan jawbannya?

Setiap tempat punya cerita.
Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari Negeri Timur yang sarat akan aroma lembut bunga sakura.

Enjoy the Journey,
Editor


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Bunda percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada. Mungkin itu yang terjadi antara Bunda dengan Papa. Begitu pertama ketemu, langsung muncul rasa sayang, padahal kenal juga belum. Tahu latar belakangnya juga belum. Tapi, di hari-hari kemudian, Papa adalah orang yang selalu berusaha menjaga hati Bunda. Selalu tahu apa yang tidak Bunda sukai dan berusaha supaya Bunda tidak merasa terluka.

Waktu itu, Bunda masih punya pacar. Sampai suatu ketika, teman Papa nanya ke Papa, "mau sampai kapan nemenin dia (Bunda, maksudnya)?" Jawaban Papa ketika itu adalah, "sampai si cowoknya serius. Kalo cowok itu serius ke dia, saya baru pergi."


Yang jelas, selama bersahabat dengan Papa, Bunda merasakan kenyamanan yang nggak pernah Bunda dapatkan dari pacar atau sahabat Bunda yang lain. Bersama Papa ketika itu, Bunda nggak takut sama apapun. Bunda yakin dan percaya diri. Bahkan, ketika ternyata Bunda terlambat lulus kuliah, Papalah yang senantiasa mendukung Bunda, benar-benar membantu, bukan sekadar menyemangati kayak pacar Bunda dan mamanya yang cuma bisa omdo nanyain gimana progres skripshitsi Bunda.

Jadi, ketika membayangkan kalo suatu hari tiba-tiba pacar Bunda serius mau menikahi Bunda, Bunda langsung merasa sedih, karena kenyamanan yang Bunda rasakan dengan Papa seolah-olah akan direnggut dari Bunda. Akhirnya, setelah memikirkan, menimbang, Bundapun memutuskan meminta pacar Bunda ketika itu untuk menyudahi hubungan kami berdua. Daripada memaksakan diri?

Nah, ini yang terjadi antara Tora dan Thalia dalam cerita ini. Keduanya sama-sama wartawan yang ketemu nggak sengaja karena bertabrakan di sebuah event yang mereka liput, yang mengakibatkan telephoto lens milik Thalia retak. Karena keduanya pakai lensa itu untuk kebutuhan liputan mereka, akhirnya mereka melakukan liputan bareng dengan pakai lensa yang sama, bergantian.

Tora dan Thalia datang ke Tokyo, selain untuk tugas meliput, juga ingin menemui mantan pacar masing-masing. Tora ingin bertemu Hana, mantan pacarnya. Tora ingin menemukan kejelasan, kenapa Hana memutuskannya dan ingin memperbaiki hubungan mereka. Begitu juga dengan Thalia. Dia ingin bertemu Dean dan mengulang lagi kisah mereka, menemukan kepastian yang ditunggunya.

Yang terjadi adalah: semuanya buyar.

Tora nggak lagi bisa menjalin hubungan dengan Hana karena Hana hendak menikah dengan pria lain. Sementara Thalia? Dia sering harus menelan kekecewaannya karena Dean sering tiba-tiba membatalkan janji dengan alasan dia ada meeting mendadak. Meski akhirnya apa yang diimpikan Thalia jadi kenyataan, Dean melamarnya dan bahkan merencanakan pernikahan mereka, Thalia merasa bahwa dia sangat nyaman dengan Tora. Bukan dengan Dean.

Baca cerita ini, kita serasa diajak jalan-jalan mengenal Tokyo dan sekitarnya. Ikut mengenal bahasa Jepang dan budayanya. Nggak hanya itu, kita diajak ikut hanyut dalam perasaan Tora dan Thalia. Meski belum pernah menginjak Tokyo dan sekitarnya, tapi apa yang dirasakan Tora dan Thalia itu pernah Bunda rasakan juga.

Penulis berhasil membawa emosi cerita sekaligus memperkenalkan seluk beluk kota Tokyo, transportasi yang digunakan dan beberapa kebiasaan yang ada di Jepang dengan mengalir. Meski banyak catatan kaki (Bunda rasa catatan kakinya perlu banget) nggak berasa mengganggu karena kita langung dapat informasi saat itu juga.

Ah... Rasanya jadi makin pengen aja pergi ke Jepang. Hihihi... *belajar bahasa Jepang dulu dengan serius, Bun!*

Bunda suka dengan Tora. Meski dia nggak serapi Dean, tapi dia melindungi dan memahami Thalia dalam hitungan hari. Dia langsung tahu kalo Thalia nggak suka sayuran, jadi pas makan bareng, Tora selalu memisahkan sayuran di mangkuk Thalia. Awwww.... Rasanya nggak berlebihan kalo Thalia kemudian jatuh hati pada Tora, karena Tora sudah memberikannya rasa nyaman yang belum pernah dirasakannya dari Dean. Tora bisa jadi book boyfriend Bunda, nih... :D

Eh, ini quote favorit Bunda

Rindu ini sedang mencari arah.
Tanpamu, ia tidak tahu jalan pulang

Satu bintang untuk Tora.
Satu bintang untuk Tokyo.
Dua bintang untuk ceritanya yang hangat.

Diposting juga untuk:
Lucky No. 14 Challenge
Indonesian Romance Reading Challenge



Love you both... Cheers!



Terusin baca - Tokyo ~ Falling (Setiap Tempat Punya Cerita #6) by Sefryana Khairil

18 Jun 2014

[Blog Tour] Simple Thinking about Blood Type by Park Dong Sun

Judul: Simple Thinking about Blood Type
Penulis: Park Dong Sun
Ilustrator: Park Dong Sun
Penerjemah: Achie Linda
Penyunting: Nyi Blo
Proofreader: Yuli Yono
Layout cover: @teguhra
Layout isi: Vanessa Fabiola dan @teguhra
Diterbitkan oleh Penerbit Haru
Cetakan kelima, April 2014
Jumlah halaman: 262 hlm; 20 cm
ISBN: 978-602-7742-25-3
Genre: Non Fiction, Komik, Manga, Manhwa, Sequential Arts
Harga: IDR 58,000
Bisa dipesan lewat OwlBookStore
Status: Punya. Dibuntelin sama Penerbit Haru


Tahu nggak sih kalo orang bergolongan darah A itu orang-orang yang halus, tapi kaku dan taat pada peraturan? Atau tahukah kamu kalau golongan darah B itu orang-orang yang kreatif dan bebas?

Apa jadinya kalo mereka disatukan? Jangan-jangan, bisa terjadi pertengkaran!

Ternyata, selain perbedaan jenis kelamin, tempat tinggal, dan kondisi ekonomi, golongan darah juga bisa menentukan perbedaan sifat kita, lho.

Meski sifat seseorang tidak hanya bisa dilihat dari golongan darahnya, semoga komik Simple Thinking about Blood Type ini bisa menghibur, sekaligus sedikit membantu kamu memahami orang lain, ya!


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Wuih! Bunda seneng banget sewaktu diundang oleh Kak Lia dari Penerbit Haru untuk ikut serangkaian blog tour buku Simple Thinking about Blood Type ini. Kenapa? Soalnya, Bunda emang suka banget ngintipin komik stripnya di sini. Sebetulnya itu bukan blog penulisnya, sih. Kalo ngintip blog penulisnya, komik-komik webtoon yang dimuat di sana pake huruf Hangul. Sementara kalo di tumblr itu, udah diterjemahin sama fans beratnya. Thanks to the owner of the blog, kita yang nggak belum bisa bahasa Korea dan baca huruf Hangul jadi ngerti cerita yang dibuat oleh om Park Dong Sun ini.

Waktu sering ngintipin blog terjemahannya dalam bahasa Inggris itu, Bunda sering senyam senyum ga jelas. Antara kesindir sama membenarkan semua karakter di sana. Terus gereget pengen punya bukunya. Bukan aja cocok untuk panduan memahami karakter orang lain, tapi juga karena style karakter di komik juga perpaduan warna-warnanya soft, nggak bikin sakit mata.

Jadi pas buku ini udah datang ke Indonesia dan diterbitkan oleh Penerbit Haru, Bunda senang, dong. Cuma berhubung belum masuk anggaran belanja buku (karena di tahun 2014 Bunda baru berencana akan belanja buku di bulan Juni) jadi Bunda belum berangkat buat beli sampai akhirnya ternyata dibuntelin sama Penerbit Haru. Senang, dong, tentunya. Nggak diajakin ikutan blog tour juga udah bakalan beli, kok, karena emang worth it banget buat punya. Makanya, nggak sabar nunggu buku keduanya yang rencananya akan rilis bulan Juli 2014. Makanya, nanti ikutan PO-nya, ya, di OwlBookStore. Sering-sering aja intip ke sana, cari tahu kapan buku keduanya bisa didapat. Yang beruntung malah bisa dapat buku edisi bertanda tangan penulisnya, loh! Woooh! Itu sih, Bunda mau banget!

Di rumah, karakter kita berempat mungkin mirip. Karena kita berempat bergolongan darah O. Papa bergolongan darah O. Bunda bergolongan darah O. Jadi, nggak mungkin kalian berdua ada yang bergolongan darah A, B, apalagi AB. Tentu saja golongan darah kalian *sudi nggak sudi* O juga. Hahahaha...

Sini, Bunda kasih bocoran tentang masing-masing golongan darah...



Ternyata, di ruangan tempat Bunda kerja, yang bener-bener punya semua perilaku di atas itu adalah om Ginan. Bener banget, deh! Trus, pas Bunda tanyain apa blood type-nya, dia jawab A! Wow! Sebetulnya, om Nova sama om Ayus juga goldarnya A. Tapi ga semua karakter goldar A mereka punya. Jadi, pas Bunda tahu apa goldar om Ginan, Bunda cuma bisa melongo saking takjubnya akan kebenaran riset om Park Dong Sun ini.

Bunda belum ketemu sama yang ngaku bergolongan darah B ini, sih. Kayaknya dari keseluruhan tipe golongan darah, goldar B ini paling nyante. Sama kek yang dibilang penulisnya di buku, tipe goldar B ini juga favorit Bunda karena kayaknya asik banget :D

 
Nah... ini adalah golongan darah kita berempat... Coba kalian perhatikan masing-masing panel. Ada, nggak, yang mirip atau nyerempet dengan kalian? :D Bunda rasa, panel kedua dan ketiga tentang golongan darah O mirip sama karakter Bunda. Banyak, sih, yang mirip sama karakter Bunda. Hihihi... Gimana dengan kalian berdua?

Hmm.. di ruangan Bunda, yang mewakili karakter golongan darah AB itu om Putra. Dan iya, kadang om Putra tuh suka ngeremehin, menganggap enteng sesuatu yang malahan perlu dibilang nggak enteng juga. Om Putra yang Bunda kenal sih nggak panikan. Meski tugas di kampusnya belum kelar, dia tenang-tenang aja ngerjain di kantor. Meski di saat yang sama, di kantor lagi kerjaannya banyak kena revisi, dia nggak panik.

Nah, terus, gimana kalo orang-orang dari keempat golongan darah ini janjian?


Itu... soal goldar O pas janjian... ummm... kadang-kadang benar adanya... -____-"
Tapi papa kalian tipe yang kalo janjian kek golongan darah A dan AB, kok.  Akhirnya, Bunda ngerti bahwa tipe golongan darah emang ikut berperan dalam menentukan karakter seseorang.

Jadi, sekarang Bunda belajar memahami rekan-rekan kantor Bunda, bahkan mungkin teman-teman Bunda yang lain lewat karakter golongan darah mereka karena apa yang diceritain oleh om Park Dong Sun emang mewakili semuanya.

Oya, sebenernya Bunda sedikit ngerti kalo tata bahasa Korea itu berbeda dengan tata bahasa Indonesia apalagi bahasa Inggris. Jadi, pas baca terjemahannya (karena Bunda belum sukses memahami bahasa Korea), terus terang agak kesulitan memahami ceritanya. Bunda ngerti, pasti penyunting kerja keras banget buat bikin buku ini bisa mudah dicerna. Semoga di terjemahan berikutnya, lebih enak dicerna, ya...

Jangan lupa, ya, kalo bulan Juli, buku kedua udah bisa dilakukan pre-order di OwlBookStore. Kek gini, nih, covernya:


Beberapa waktu lalu, Penerbit Haru mengadakan Meet and Greet bareng om Park Dong Sun, loh.






Ask the Author of Simple Thinking about Blood Type 

1.  Dari manakah Anda mendapatkan inspirasi saat membuat Simple Thinking about Blood Type?
                Saya mendapatkan inspirasi ketika mendengarkan cerita dari seorang junior saya. Jadi ceritanya, saat semua sedang berkumpul untuk makan tiba-tiba si junior yang bergolongan darah AB berdiri dan pergi begitu saja, kemudian si golongan darah O karena penasaran pergi mengikutinya. Si golongan darah A yang melihat hal tersebut berpikir kalau itu semua karena dirinya. Saya akhirnya bertanya pendapat si golongan darah B tetapi si golongan darah B tidak tertarik sama sekali. (Kisah ini bisa dilihat di halaman 137 Simple Thinking about Blood Type)

2.   Berapa lama yang Anda butuhkan untuk membuat Simple Thinking about Blood Type?
Pertama kali saya menggambar komik ini pada tanggal 20 Desember 2004.  Semenjak itu, saat waktu luang saya membaca buku yang berhubungan dengan hal tersebut ataupun melihat dan mengamati orang-orang yang ada di sekitar saya sambil mengumpulkan bahan cerita.

3. Simple Thinking about Blood Type ini disebut sebagai webtoon. Apa sih bedanya dengan komik?
Webtoon adalah komik yang ditayangkan di web. Dari situ, para pembaca bisa memberikan komentar. Menurut saya pribadi, webtoon mengalami proses penyempurnaan melalui komentar dari para netizen (pengguna internet). Sayang sekali, waktu terbit menjadi komik, komentar-komentar itu tidak bisa dimasukkan ke dalam komik.

4.   Apa riset yang Anda lakukan untuk membuat Simple Thinking about Blood Type? Apakah Anda punya latar belakang medis?
Ada satu hal yang harus saya sampaikan kepada orang-orang yang membaca komik Simple Thinking about Blood Type, bahwa buku ini bukanlah buku ilmiah. Saya berharap cerita dalam “Simple Thinking about Blood Type” tidak dipercayai begitu saja. Sebaiknya dibaca hanya sebagai hiburan. Oiya, saya adalah lulusan dari sekolah desain visual. 

5.  Apa Anda mengalami kesulitan dalam pembuatan komik ini?
Saya mendapatkan bahan cerita dari kehidupan sehari-hari. Namun karena harus disesuaikan dan mengharuskan memunculkan semua golongan darah, tidak mudah untuk mencari bahan ceritanya.
Kesulitan lainnya... karena mulai dari konsep cerita, sketsa, membikin garis panel, pewarnaan, sampai membuat “speech bubbles” (membuat ruang untuk percakapan) saya mengerjakannya sendiri, jadi membutuhkan waktu yang cukup lama.

6.  Apakah Anda menyukai kehidupan Anda sebagai seorang komikus?
Sekarang saya sangat puas dengan kehidupan saya. Kedepannya saya juga akan menggambar sesuatu yang saya inginkan dan ingin memberikan kebahagiaan kepada banyak orang.

7. Darimana Anda mendapatkan inspirasi mengenai desain karakter di “Simple Thinking about Blood Type”?
Saya tidak mendapatkan inspirasinya secara khusus. Sejak saya mengambil jurusan desain visual saya mempunyai pemikiran yang saya sebut “Simple is Best”. Dengan berpikir begitu akhirnya saya membuat karakter yang sederhana.

8.  Selain “Simple Thinking about Blood Type”, apakah ada kemungkinan untuk membuat atau merencanakan komik ataupun proyek yang lain?)
Dalam waktu dekat saya ingin menggambar komik harian yang menunjukkan kehidupan rumah tangga saya, dan juga cerita berseri, kemudian saya juga ingin belajar lebih tentang menggambar lalu membuat cerita yang cukup masuk akal yang bisa diangkat ke dalam drama ataupun film.

9.  Ceritakan dong, proses pembuatan komik ini?
Kalau membuat konsep cerita, saya menggambar sketsanya di komputer. (Kalau dulu saya membuat sketsanya di ruang latihan lalu mengunggahnya ke komputer tapi sekarang semuanya saya kerjakan langsung di komputer.) Setelah memperhalus sketsa saya mengerjakan pembuatan garis panel, kemudian pewarnaan, lau membuat “speech bubbles” (membuat ruang untuk percakapan). Semuanya membutuhkan waktu sekitar 9~10 jam.

10.  Komik ini telah diterbitkan dalam beberapa bahasa, bagaimana pendapat Anda, dan apakah ada perasaan khusus mengenai penerbitan di Indonesia?
Di Korea, China, dan Jepang cerita komik ini merupakan cerita yang populer tetapi saya merasa takjub karena di negara lain pun cerita ini juga memiliki daya tarik. Biasanya menerbitkan komik di daerah Asia itu banyak kesamaannya walaupun berbeda beda negara.
Di Indonesia inilah saya pertama kalinya pergi ke negara penerbit dan bertemu langsung dengan penerbit dan pembacanya. Saya merasa istimewa dan sangat menikmatinya.

11.  Komik ini juga dibuat dalam bentuk animasi, ceritakan sedikit, ya. Apakah Anda juga berperan dalam pembuatan animasinya?)
Animasinya diproduksi secara umum di perusahaan penerbitan di Jepang. Karena banyak orang-orang ahli yang berperan dalam pembuatan animasi ini saya menerima banyak sekali cinta.  Saya hanya penulis dan tidak terlibat dalam pekerjaan animasi.

12.  Selain sebagai komikus apakah Anda memiliki pekerjaan lainnya?)
Seperti anak muda di Korea saya juga pernah melamar pekerjaan. Sesekali saya mendesain iklan di Koran dan saya juga bekerja di perusahaan web design. Sampai tahun 2011 selama 3 tahun saya mengajar kesenian di SMA tetapi karena saya memutuskan untuk menggambar komik jadi saya berhenti pada pekerjaan itu. Sekarang tidak ada pekerjaan lainnya.

13. Saat Anda mengatakan untuk membuat komik yang berhubungan dengan sifat dan golongan darah bagaimana reaksi dari keluarga dan teman dekat Anda?)
Saat saya mengungkapkan bahwa saya ingin menjadikan menggambar komik itu sebagai pekerjaan saya teman-teman dekat saya sangat mendukung tetapi orang tua saya menentang dengan keras. Tetapi karena kehidupan saya adalah pilihan saya akhirnya saya memutuskan untuk berhenti menjadi guru seni dan memulai untuk menggambar komik.

14. Anda pernah mengunjungi Indonesia, bagaimana pendapat Anda tentang Indonesia terutama Jakarta?)
Saya iri dengan kebebasan orang Indonesia. Saya juga masih ingat makanan-makanan enak yang pernah saya makan di Indonesia.

15. Bagaimana pendapat Anda tentang pembaca di Indonesia?
Saya sangat berterima kasih kepada para pembaca yang telah membaca komik saya. Saya sangat senang karena sepertinya saya mendapatkan simpati dari para pembaca.

16. Mengapa Anda memilih membuat komik dalam menjelaskan tentang golongan darah? Kenapa tidak buku non fiksi saja?
Sejak dulu saya suka mengekspresikan sesuatu melalui gambar dan saya memiliki kepercayaan diri dengan itu. Di samping dapat menyampaikan isi cerita, sebuah gambar punya kekuatan yang besar untuk memberikan makna yang mendalam.

17.  Apabila bertemu dengan orang baru, apakah Anda bisa menebak apa golongan darahnya dengan tepat?
Secara pribadi, menurut saya... akan tidak sopan jika menerka-nerka sifat lawan bicara hanya berdasarkan golongan darah sehingga saya harus berhati-hati akan hal itu. Terkadang ada juga pembaca yang baru saya temui menyuruh saya menerka golongan darahnya, tetapi dugaan saya salah. Orang-orang disekitar saya juga mencoba menebak-nebak golongan darah orang lain, tetapi kebanyakan salah.

18. Saya dan teman-teman memiliki golongan darah yang berbeda-beda. Jika melihat komik ini akan sulit untuk hidup dengan orang yang bergolongan darah yang berbeda, untuk tetap menjaga keharmonisan hubungan, apakah yang harus dilakukan?)
                Saling menghargai perbedaan, mengaku salah jika memang salah. Ini merupakan langkah awal dalam menjalin sebuah hubungan dan bersosialisasi.

19. Bagaimana reaksi Anda jika ada yang mengkritik atau tidak setuju dengan komik yang Anda tulis?
Karena setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda, pendapat ataupun sanggahan bisa saja terjadi. Secara pribadi saya tidak masalah, namun apabila disampaikan dengan tidak sopan, tentu saja bisa melukai perasaan.

20.  Anda paling menyukai sifat dari golongan darah apa? Apakah alasannya?
Dalam kehidupan sehari-hari, saya menyukai golongan darah B yang bisa menghadapi sesuatu dengan santai. Sedangkan di komik ini saya menyukai golongan darah O. Karena  saya sendiri bergolongan darah O dan karakter golongan darah O menggambarkan bagian dari diri saya yang penuh kasih sayang.

21. Apakah ada rencana untuk mengunjungi Indonesia kembali? Kalau begitu hal seperti apa yang akan Anda lakukan atau adakah tempat yang ingin Anda kunjungi?
Saya ingin sekali mengunjungi pulau Bali yang merupakan tempat relaksasi yang terkenal di Indonesia. Saya ingin datang untuk istirahat dengan tenang tanpa gangguan.
 


Minggu depan, Bunda mau bikin giveaway. Hadiahnya buku Simple Thinking about Blood Type untuk dua orang pemenang. Bunda nggak akan susah-susah bikin kuisnya, kok. Yang jelas, review Bunda yang ini mesti dibaca baik-baik karena petunjuknya ada di review ini.

Kalian bisa berkunjung ke review di blog tante Ana Indriyani, kak Mei Koo, tante Irnala Sari, tante Dyah Muawiyah, tante Putri Kurnia Nurmala, tante Dini Y Nurhasanah, tante Retno P Hartono, juga tante Khairisa Ramadhani P. Cek cek cek, siapa tau sekarang ini lagi berlangsung giveaway ^^

Nantikan giveaway Bunda di pekan depan, ya...


 Love you both... Cheers!





Terusin baca - [Blog Tour] Simple Thinking about Blood Type by Park Dong Sun