Tampilkan postingan dengan label Penerbit Matahati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penerbit Matahati. Tampilkan semua postingan

20 Jun 2012

The Necromancer - The Secret of The Immortal Nicholas Flamel



Penulis: Michael Scott
Penerjemah: M. Baihaqqi
Penyunting: Nadya Andwiani
Korektor: Bayu Ekawana
Tata Letak: MAB
Desain cover: Michael Wagner
Cetakan Pertama: Januari 2011
Cetakan Kedua: Februari 2011
Diterbitkan oleh: Penerbit Matahati
Fiksi fantasi
ISBN: 602859025-8
492 halaman, 14 x 21 cm
5/5

Saat terjadinya Litha semakin dekat.
Para Tetua Gelap semakin kuat.

Josh dan Sophie Newman akhirnya kembali ke San Fransisco, setelah petualangan tanpa henti di Ojai, Paris, hingga London.
Mereka menyadari bahwa ada lebih dari sekadar butiran kebenaran dari setiap mitos dan legenda. Pengalaman dan ilmu yang mereka peroleh dalam seminggu terakhir, membuat keduanya bingung akan masa depan mereka. Si kembar belum menguasai seluruh sihir yang diperlukan untuk menghadapi para Tetua Gelap, sementara Dr. John Dee masih terus mengejar mereka tanpa lelah.

Sementara itu di London, Dr. John Dee, yang untuk kesekian kalinya gagal melaksanakan tugas dari majikan Tetuanya, kini dinyatakan sebagai buronan dan berbalik dikejar oleh sekian banyak makhluk buas. Namun, Dee memiliki rencananya sendiri untuk menguasai dunia. (cover belakang buku)

Halo, kakak Ilman dan adik Zaidan...
Terus terang agak bingung, mau kasih judul apa. Soalnya, tulisan Bunda sekarang asli ga ada yang fokus. Hihihi... Banyak banget yang pengen diceritain, soalnya. Dan sedang nggak bisa ngambil benang merah dari semuanya, selain karena memang sedang nulis review tentang buku ini. 
Akhirnya, selesai juga baca buku ini. Setelah diskip sama buku-buku yang lain. Padahal, seru. Nggak bisa berhenti bacanya. Waktu itu, rencananya sambil nunggu Warlock dan Enchantress aja beresin bacanya. Biar nggak nunggu lama. Eh, ternyata, Enchantress sampai hari ini belum jelas kapan diterjemahkannya... :(

Eh, Bunda emang belum bikin review ketiga buku sebelumnya, sih, ya... Sepertinya harus Bunda buat juga... Supaya kebayang nanti sama Kakak Ilman dan Adik Zaidan, seperti apa serunya buku ini. Makanya, Bunda niat banget koleksi buku ini... Dan... ya ampun! Ternyata hari ini ada acara posting bareng BBI review buku Fantasi! Telat pula postingnya! Soalnya sampai sore tadi ada rapat di sini...

--------

Waktu akhirnya Sophie dan Josh berhasil kembali ke rumah bibi Agnes mereka di San Fransisco, sementara Nicholas Flamel dan Perenelle kembali ke rumah mereka, ternyata si kembar emas dan perak ini kedatangan tamu. Tamu-tamu itu adalah Aofie dan Niten. Aofie ini saudara kembar Scatcach, makanya waktu pertama ketemu Aofie ini, Sophie seneng banget, karena dikiranya Scatty. Aofie dan Scatty sudah ribuan tahun tidak saling bicara karena mereka terlibat pertengkaran hebat. Aofie tiba-tiba muncul karena dia merasakan sesuatu tidak beres dengan saudari kembarnya. Dan dia mencari informasi tentang kembarannya itu dari Sophie.

Sophie kemudian diculik Aofie, Josh menyusul Flamel dan Perenelle untuk mengejar Sophie. Setelah mereka bertemu dan terlibat dalam perdebatan yang serius, mereka sepakat untuk membawa Josh ke Prometheus untuk diajari sihir elemental lain, yaitu Sihir Api. Dari sini mulai kelihatan menyebalkannya Josh. Eh, tapi mungkin karena dia ada di bawah pengaruh Dee dan kekeras kepalaannya untuk membelot, membuatnya sangat mudah percaya dengan Dee. Apalagi, Josh sudah sangat terikat dengan pedang Clarent. Bisa dibayangkan, kan, ketika dia tahu Dee punya keempat pedang itu, ke mana arah perhatian Josh?

Ada percakapan antara Sophie dengan  Perenelle yang menarik. Dia merasa bahwa Flamel dan Perenelle memang telah merencanakan semuanya. Sophie dan Josh dibangkitkan. Perenelle memang bermaksud menceritakannya di saat Litha, sebab mereka akan dibangkitkan di waktu itu. Di mana aura emas dan perak mereka sedang berada di titik terkuat.

Apa itu Litha? Kalo menurut om Wikipedia, Litha itu...

Midsummer day simply refers to the period of time centered upon the summer solstice, but more often refers to specific European celebrations that accompany the actual solstice, or that take place on a day between June 21 and June 24, and the preceding evening. The exact dates vary between different cultures. Midsummer is especially important in the cultures of Scandinavia, Estonia and Latvia where it is the most celebrated holiday apart from Christmas.

Nah, lho, summer solstice apa lagi? Nanya lagi ke om Wiki, summer solstice itu adalah...

The summer solstice occurs at the instant when the Sun's place in the sky is at its smallest angular distance on the side of the equatorial plane from the watcher.
The word solstice comes from Latin sol (sun) and sistere (to not move), summer solstice meaning Sun stand still in summer.

Hmm... jadi intinya, Sophie dan Josh memang dibutuhkan oleh Nicholas Flamel dan Perenelle untuk dibangkitkan. Karena mereka kembar emas dan perak. Padahal, mereka bukan kembar emas dan perak pertama yang berusaha dibangkitkan oleh Flamel. Tapi, kalo sampai Dee bahkan pengen ikut menguasai juga, sepertinya Dee sudah mengendus kehebatan kedua kembar emas dan perak ini. Konon, mereka betulan kembar emas dan perak murni yang mereka cari selama ini. 

Waktu Josh dikendalikan Dee, dia ditawari untuk belajar necromancy. Yaitu sihir membangkitkan mereka yang telah mati. Josh yang sudah mulai tertarik akan ilmu arkeologi, langsung berkhayal, seandainya dia sudah menguasai sihir itu, tentu dia bisa membangkitkan dinosaurus dan lainnya yang sudah punah.

Jadi, gimana kelanjutan cerita di buku ini? Bacalah sendiri, anak-anak Bunda... Buat apa ada bukunya kalo Bunda cerita ulang semuanya di sini? :D

Di bagian akhir buku, Scott menulis tentang Alcatraz. Beberapa waktu lalu, Alcatraz sering ditayangkan di salah satu tv nasional di sini. Apa itu Alcatraz? Nah, hasil Bunda nanya sama mbah om Wiki lagi, diarahin ke situsnya tersendiri malahan... 



Alcatraz itu dulunya pernah jadi penjara. Banyak cerita serem yang beredar tentang Alcatraz. Nah, kesan serem ini makin diperuncing di serial ini dengan Alcatraz yang dibeli Dr. John Dee, trus dipake buat memenjarakan semua makhluk seram dan buas yang berasal dari ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, di sini. Suatu saat, semua makhluk ini akan dilepas ke dunia. Supaya punah umat humani dan nanti terbentuk humani yang baru yang nurut sama Dee. Kayaknya sih, rencana Dee begitu, ya...



Alcatraz atau The Rock, bernama  asli pulau Isla de los Alcatraces (Pulau Pelikan), yang ditemukan oleh Juan Manuel de Ayala.
“Aku namakan pulau ini Isla de los Alcatraces (Pulau Pelikan) karena jumlah mereka sangat banyak di sini. ” – Letnan Spanyol Juan Manuel de Ayala, 1775.
Di cerita ini, hantu Ayala yang menemani Perenelle selama berada di Alcatraz. Bahkan membantunya kabur dari situ.

Ternyata, suku Indian pribumi Ohlone atau Costanoan sudah lebih dulu mengumpulkan telur dan memancing di pulau itu selama beberapa generasi. Pulau ini juga menjadi tempat pertama kalinya menara suar di Pesisir Barat berada.

Di Alcatraz, dibangun rumah penjara pada tahun 1867. Awalnya memang untuk penjara militer, meski kemudian setelah terjadi gempa besar, penjara ini menampung banyak narapidana dari daratan utama. Alcatraz menjadi penjara militer sampai tahun 1933, kemudian berubah menjadi penjara federal sampai ditutupnya, tahun 1963.

Nah, foto di bawah ini adalah foto sewaktu Penduduk Asli Amerika berusaha menduduki Alcatraz. Mereka ingin pulau Alcatraz dikembalikan lagi kepada mereka. 



Mulai tahun 1972, Alcatraz menjadi bagian dari Area Rekreasi Nasional Golden Gate, yang setiap tahunnya dikunjungi lebih dari satu juta orang.

Kalo tentang bukunya sendiri, makin ke sini, terjemahannya semakin enak. Meski kadang, ada yang hilang, seperti tanda bacanya. Baca buku ini makin nggak bisa berhenti dan makin degdegan setiap bacanya. Bunda senang, karena untuk serial ini, cover asli dipertahankan. Habis ini, Bunda jadi pengen nulis review The Alchemyst, The Magician, The Sorceress [biarin telat juga] dan akan segera baca Warlock. Trus, kapan, ya, Enchantress-nya terbit? *poke pakde Babah* :D
Terusin baca - The Necromancer - The Secret of The Immortal Nicholas Flamel

25 Apr 2012

Belajar Memaafkan Bersama Aubrey






Judul: Love, Aubrey
Penulis: Suzanne LaFleur
Penerjemah: Ary Nilandari
Penyunting: Khairi Rumantati
Korektor: Herlina Sitorus
Tata Letak: MAB
Cover: Indra Bayu
Cetakan Pertama: Desember 2010
Diterbitkan oleh: M-pop (Kelompok Penerbit Matahati)
Drama/Teen Fiction
ISBN: 602962553-5
5 dari 5 bintang

Aubrey baru saja kehilangan ayah dan adiknya dalam kecelakaan tragis yang membuat seluruh hidupnya jungkir balik. Bersama ibunya, gadis itu berusaha menata hidupnya kembali. Namun pada suatu hari, sang ibu pergi meninggalkannya, entah ke mana, tanpa pesan, tak ingat pada dirinya.

Gadis berusia sebelas tahun itu terpaksa mengurus diri dan menjalani hari-harinya sendirian, menunggu ibunya kembali. 
Satu-satunya hal yang bisa dilakukannya adalah menulis surat untuk mengungkapkan perasaan, bahkan di saat tak ada seorang pun yang dapat membacanya.

Ini adalah kisah mengharukan tentang keluarga, persahabatan, kenangan, cinta, serta kekuatan untuk memaafkan. Pada akhirnya, semua pengalaman itu memaksa Aubrey membuat salah satu keputusan terbesar dalam hidupnya. (dari cover belakang)

Halo, kakak Ilman dan adik Zaidan...
Bunda baru selesai baca buku yang mengharu biru ini. Pernah baca di timelinenya tante Ida, tahun kemarin. Dan Bunda nggak berani membaca buku ini. Ternyata, Bunda akhirnya beli buku ini dan bahkan memutuskan menyukai buku ini.

Buku ini berkisah tentang Aubrey yang ditinggal mati oleh ayah dan adiknya di sebuah kecelakaan mobil. Kecelakaan itu sendiri meninggalkan luka di kening Aubrey. Tidak hanya meninggalkan luka di kening, tapi juga di hatinya.

Kesan Bunda tentang buku ini....
#1. Tidak ada yang mudah menerima perpisahan yang begitu mendadak oleh kematian. Tidak seorangpun. Hal ini telah membuat ibu Aubrey pergi meninggalkannya. Terlalu sulit untuk menerima kenyataan bahwa suami dan anak bungsunya pergi. Ibu Aubrey mengalami apa yang orang bilang sebagai depresi. Kehilangan seseorang secara mendadak memang bisa membuat orang limbung. Tidak punya semangat hidup. Kalau bisa, ikut menyusul juga.
Well, ini juga yang terjadi pada Bunda ketika Bunda masih kecil. Meski waktu itu umur Bunda baru 7 tahun, tapi Bunda tahu, ibu Bunda nggak akan pernah lagi membuka matanya untuk Bunda. Bunda tahu, tidak akan ada lagi senyum yang menghias wajahnya menyambut kepulangan Bunda dari sekolah. Tidak akan ada lagi game Treasure Hunt. Tapi waktu itu, Bunda masih terlalu kecil untuk bisa mengerti. Bunda ikut menangis? Ya. Tapi di sisi lain, Bunda merasa tenang, karena ibu Bunda sudah tidak sakit lagi.
Setiap melihat anak perempuan seumur Bunda waktu itu, jalan berdua ibunya, ada perasaan iri yang menyusup. Jadi, memang. Kehilangan orang yang paling kita sayangi itu sama sekali bukan hal yang mudah. Dan Bunda belajar dari Aubrey. Belajar menerima kenyataan dan tetap menyayangi orang yang telah dipanggil Allah. Kita tetap bisa, lho, menyampaikan salam kita pada mereka, melalui doa kita yang tulus.... 

#2. Karakter. Bunda suka Aubrey yang tabah. Berusaha menutupi keadaan bahwa ibunya telah meninggalkannya. Bermain Pura-pura. Dengan mengafirmasi diri, bahwa ibunya hanya keluar sebentar, nanti sore juga pulang. Walaupun ternyata, berhari-hari, ibunya tidak kunjung pulang. Dan bagaimana Aubrey bisa mengurus dirinya sendiri, tidak melolong dan sebagainya. Salut!
Gram. Gram adalah nenek hebat! Dia tidak mengomel, tidak marah, ketika mengetahui bahwa Aubrey sendirian. Dan Gram datang jauh-jauh dari Vermont ke Virginia hanya untuk memeriksa keadaan putri bungsunya juga cucunya. Dia hanya membuat keputusan bahwa Aubrey harus ikut dengannya sementara waktu.
Bridget. Wow! Pertama kalinya Aubrey dan Bridget berkenalan, sikap Bridget biasa banget. Nggak bertanya-tanya soal luka di kening Aubrey. Dia malah nunjukkin punya luka di lutut. Lalu mengajak Aubrey bermain. Ya, Bridget memang sudah tahu cerita tentang musibah yang dialami Aubrey, sehingga dia bisa berhati-hati dan berempati untuk bersikap pada Bridget. Bunda juga belajar dari Bridget, nih.... Satu kata aja: Bridget teman yang keren!

#3. Ceritanya. Meski ini buku pertama Suzanne, Bunda suka sekali. Memang, emosi kita diaduk-aduk dengan kesedihan. Tapi nggak sedikit juga banyak pencerahan di buku ini. Seperti waktu Gram bilang, sewaktu Granpa meninggal, Gram berusaha tetap bangun. Karena ada harapan dan kehidupan yang terus berjalan. Kata-kata Gram ini berhasil membuat Aubrey bangkit dari tempat tidur dan berusaha ceria.
Selain itu, pendalaman karakternya bagus. Keren. Jadi, Bunda bisa banget merasakan perasaan Aubrey, Gram, juga Bridget. Nggak hanya itu, penuturannya betul-betul sesuai untuk anak seumuran Aubrey. Jadi, secara psikologis, Bunda ikut tertarik ke masa Bunda masih kecil, masa-masa baru kehilangan ibu Bunda dan masa-masa belum punya ibu lagi.

#4. Sampul. Ternyata nggak sama ya, dengan sampul buku aslinya. Tapi, jujur, Bunda lebih suka dengan sampul yang diterbitkan Matahati. Nggak kerasa horornya. Hahaha...

#5. Kejutan dalam cerita. Biasanya, Bunda suka bisa menebak akhir sebuah cerita dengan tepat. Khusus buku ini, banyak kejutan yang bahkan Bunda nggak bisa tebak. Mungkin karena sedih, yaaa....

Trus, saran Bunda apa? Baca aja. Buku ini bagus, kok... bagus untuk belajar memaafkan. Bagus untuk belajar berdamai dengan diri sendiri.
Oya, selama baca buku ini, soundtrack yang mengiringi adalah Note to an Unknown Soldier-nya Five for Fighting sama Slice. Jadi, ya, sediiiiih bawaannyaaaa.... :D
Lima bintang dari lima bintang. Well done, Suzanne!

25 April 2012
16.47 WIB
Terusin baca - Belajar Memaafkan Bersama Aubrey

30 Mar 2012

Kebaikan Berbalas Kebaikan [Fatima's Good Fortune]


Judul: Keberuntungan Fatima [Fatima's Good Fortune]
Penulis: Joanne and Gerry Dyansky
Penerjemah: Susi Dwiyanti
Penyunting: Yana Nahriah Hajar
Korektor: Tisa Anggriani
Tata letak: MAB
375 halaman, 18 cm x 11 cm
Diterbitkan oleh: M-Pop (Kelompok Penerbit Matahati)
Cetakan Pertama: Maret 2011
Adult Fiction
ISBN: 602962554-3
4 dari 5 bintang

Rachida meninggalkan kampung halamannya di Djerba, Tunisia, untuk bekerja sebagai pelayan Countess Poulais du Roc di Paris. Namun, Rachida yang penuh semangat dan memiliki banyak mimpi tewas mengenaskan di rumah majikannya. Kakak kandung Rachida, Fatima, dipanggil sang Countess untuk menggantikan tempat Rachida.

Begitu tiba dari Tunisia yang indah untuk bekerja bagi Countess di Paris, Fatima langsung disergap tugas yang luar biasa banyak - mengantar anjing berjalan-jalan, berbelanja, membacakan surat kabar untuk Countess. Semua itu membuatnya kewalahan dan merasa terasing.

Tetapi sifatnya yang baik dan penyayang membuatnya bertahan di Kota Cahaya ini, dan tanpa diduga membawa keberuntungan bagi orang-orang di sekitarnya. Fatima's Good Fortune menyampaikan kisah cinta dan tekad kuat yang diwujudkan dalam kebaikan sederhana di dunia yang tak terduga ini... (dari cover belakang)


Halo, kakak Ilman dan adik Zaidan... apa kabar kalian? Yes. Udah lebih dari sebulan bunda nggak nulis di blog ini... Where have I been, ya? Cuma jalan-jalan aja, dari satu blog ke blog lain... bikin cita-cita, namun nggak tergerak untuk mewujudkannya... Haeeshhh...

Sebetulnya bunda udah lama menyelesaikan baca Fatima ini, ada lah sekitar dua minggu lalu kelar bacanya. Cuma gosipnya, BBI bikin acara posting bareng tanggal 30 Maret ini tentang women books, jadi bunda tunda dulu deh, nulisnya. Haha...

Nah, seperti yang diceritakan oleh cover belakang tadi, Fatima datang atas permintaan Countess Poulais  du Roc, untuk menggantikan almarhumah adiknya, Rachida, yang tewas karena tertimpa atap yang rubuh di apartemen majikannya. 

Berbeda dengan adiknya yang cerdas, ceria, dan cantik (halah, 3C banget), Fatima ini memiliki postur tubuh yang pendek, gemuk, serta memiliki warna bola mata yang berbeda satu sama lain. Penampilan fisik ini membuat Countess sempat kecewa. Lebih kecewa lagi, karena ternyata Fatima tidak belum memiliki kecekatan yang dimiliki Rachida. Ya iyalah, hari pertama gitu, ditimbun kerjaan seabreg, semacam menemani Emma - anjing kesayangan Countess - jalan-jalan, sambil beli espresso di Cafe Jean Valjean, dan kopi itu masih harus dalam keadaan panas ketika sampai ke rumah, dan belum lagi Fatima belum hapal sama daerah tempat tinggal barunya. Fyuuuuh... Kebayang riweuhnya...

Kemarahan Countess berbeda, ketika disadarinya bahwa Fatima ini nggak bisa membaca. Akibatnya, bisa ditebak. Fatima salah menerjemahkan catatan belanja yang diberikan Countess - walau sudah dibuatkan gambar oleh Hadley, salah satu sahabat baru Fatima yang kamarnya bersebelahan dengan kamar Fatima di lantai enam apartemen itu. 

Keinginan Countess untuk mengembalikan Fatima ke negerinya batal, karena Fatima berhasil menyelamatkan Emma, yang nyaris mati. Tanpa Emma, Countess tidak punya siapa-siapa lagi, selain Didi, keponakannya. Suami Countess meninggal dalam kecelakaan yang tragis. Rockababy, anak Countess, sudah lama pergi meninggalkannya, setelah pertengkaran hebat mereka. 

Fatima yang memang bekerja untuk menabung, karena ingin menyusul suami yang telah menceraikannya, Mahmoud, ke Wisconsin, semakin hari semakin menunjukkan keterampilannya. Dia pun belajar membaca dengan Hadley.

Fatima pernah dimaki oleh Hyppolite Suget, karena Emma pernah meninggalkan kotorannya di cafe tempat Suget bekerja. Namun Fatima tidak menaruh dendam. Dan sebagai permintaan maaf, Suget mengajak Fatima berjalan-jalan ketika sedang libur.

Karena kebaikan Fatima, dia jadi punya banyak teman di tempat barunya. Semuanya ingin membantunya. Sebab, Fatima tidak pendendam dan mau membantu siapapun. Bisa ditebak, sih, sebetulnya, akhirnya gimana...

Nah, ini review bunda... semoga layak disebut review... :D

Pertama, tentang opini orang yang suka membanding-bandingkan satu sama lain. Meski Rachida dan Fatima kakak beradik, nggak berarti mereka harus sama persis, plek plek plek, kan? Nah, sayangnya, Countess berharap terlalu banyak ketika Fatima datang. Dan langsung dikasih kerjaan yang sama dengan Rachida, di awal harinya berada di Paris. Bunda jadi ingat, waktu salah satu sepupu bunda mempekerjakan pembantu yang kakak beradik. Dia membandingkan, bahwa kakaknya jauh lebih baik daripada adiknya. Tapi, ya, lumayan, lah, adiknya bisa kepake juga. Gitu, kurang lebih, katanya. 

Kedua, tentang pelayan yang berasal dari negara lain. Kakak Ilman dan adek Zaidan tentu tahu, bahwa negara kita, Indonesia, juga punya banyak pahlawan devisa, yang disebut sebagai Tenaga Kerja Indonesia atau TKI? Nggak tahu kenapa, khusus untuk perempuan ada istilah Tenaga Kerja Wanita alias TKW, sementara untuk kaum lelakinya nggak ada istilah Tenaga Kerja Pria atau TKP. Singkatan TKP justru dipakai untuk akronim Tempat Kejadian Perkara. #kriuk
Bunda baru tahu dari buku ini, kalo Tunisia juga menghasilkan TKW yang diekspor ke berbagai negara, termasuk Perancis. Kelihatannya, sama saja dengan di Indonesia, perlindungan warga negara Tunisia yang bekerja sebagai TKW di negara lain, kurang mendapatkan perhatian dari pemerintahnya. Di Indonesia, TKW yang bekerja di luar negeri yang disiksa, bahkan dibunuh oleh majikannya, kurang mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia. Mengenaskan, ya. Padahal mereka mendapat gelar sebagai "pahlawan devisa negara". Miris banget. Tampaknya pemerintah baru bergerak kalo udah dioprak-oprak orang-orang lewat media. Gemes banget, deh, kalo udah begini...

Nah, sekarang yang ketiga. Tentang ceritanya. Bunda suka ceritanya. Mengalir dan terkait satu sama lain dengan jelas. Meski terkadang, alurnya pindah-pindah, tapi nggak mengganggu. Sebab, alur yang berpindah-pindah ini mampu menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang ada ketika membaca. Namun, berhubung bunda nggak belum bisa berbahasa Perancis, bingung juga memahami kutipan bahasa Perancisnya. Plus, nggak ada footnote yang menjelaskannya. Jadi, yah, kurang lebih, menginterpretasikan sendiri, deh... tahu sendiri, kan, kalo menginterpretasikan sendiri, bisa ke mana-mana arahnya? *keluh*

Keempat. Karakter. Ada banyaaaaaaaaaak sekali karakter di dalam buku ini. Plus, nama mereka lumayan susah, terutama yang bernama Perancis. Bunda cuma bisa mengingat beberapa nama karakter di dalam cerita ini, terutama yang paling sering disebut. Semisal Countess, Suget, Hadley, Didi, Emma, Carmen, Angel, Monsiour Robert, dan sebagainya, dan sebagainya.... Jadi, akibat "kebolotan" bunda ini, kadang kudu bolak balik halaman, untuk mengingat lagi, ini siapa, ya? Hubungannya apa, ya? Dia tadi ngapain, ya? Gitu... hehe... Tapi, ke semua karakter ini punya hubungan satu sama lain. Jadi, yah, seperti di poin ketiga tadi, ceritanya mengalir. 

Kelima, setting. Dengan mengambil setting kota Paris, Perancis, di sini ada banyak informasi tentang kota ini. Misalnya tentang pemakaman di sana, sistem transportasi di sana, keadaan jalan raya di sana, dan masih banyak lagi informasi yang bisa bunda dapatkan dari buku ini. So, bunda bisa membayangkan kayak apa, sih, salah satu sudut kota Paris itu, meski belum pernah ke sana...
Keenam, moral ceritanya. Pesan di dalam cerita ini kuat banget, meski agak membosankan, karena kita tahu. Berhubung desain ceritanya kayak kehidupan sehari-hari, pesan moralnya terangkat dengan baik. Kebaikan dibalas dengan kebaikan. Bunda sih percaya, masih ada banyaaaaaaak orang-orang baik yang tulus di dunia ini. Semoga, kita salah satunya, ya... Hehe...
Ketujuh. Sampul alias cover. Terus terang, dari judul sama gambar sampul, rada "menipu". Kenapa? Soalnya, di sampulnya terlihat tampak seperti chicklit, padahal bukan. Hehehe. Tapi bunda suka desain sampulnya, jujur aja. Hanya saja, teks di bagian belakang, warna fontnya  nggak kontras dengan gambar sampul belakang. Bunda susah payah membaca bagian belakang bukunya. Padahal, itu kan sinopsis buku ini. Ya penting, tentu saja. 

Nah, dari ketujuh point di atas, bunda kasih bintang 4 dari 5 bintang. Mungkin kalo bukunya bakalan cetul alias cetak ulang, poin ke-6 dan poin ke-3 (yang tentang bahasa Perancisnya) sebaiknya diperhatikan, karena ini buku bagus, walau nggak bisa dibilang buku ringan, tapi buku ini menghibur, menginspirasi, sekaligus memberi informasi. Bunda sempat hanyut dalam perasaan Fatima, karena di saat yang sama, bunda sempat merasa sama nggak beruntungnya kayak Fatima. Halah! Recommended-kah buku ini untuk dibaca para perempuan? Yup! Ini buku bagus!
Terusin baca - Kebaikan Berbalas Kebaikan [Fatima's Good Fortune]

5 Apr 2011

Evolusi Calpurnia Tate [The Evolution of Calpurnia Tate]


Evolusi Calpurnia Tate (The Evolution of Calpurnia Tate)
Penulis: Jacqueline Kelly
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penyunting: Nadya Andwiani
Korektor: Nani
Tata Letak: MAB
Diterbitkan oleh Penerbit Matahati
Cetakan Pertama, November 2010
Teen Fiction
Cover Designer: Dwi Siti Aisyah
ISBN: 978-6028-590-228
384 hlm; 20 x 13.5 cm
5 dari 5 bintang
Calpurnia Tate, yang biasa dipanggil Callie Vee, adalah satu-satunya anak perempuan dari tujuh bersaudara. Sebagai satu-satunya anak perempuan, tentu dia diharapkan segera menikah di usia muda dan memasuki kehidupan para wanita dengan korset ketatnya, memiliki keahlian rumah tangga seperti memasak juga membuat kerajinan rumah tangga. Calpurnia bahkan dipaksa harus menguasai permainan piano dengan belajar pada Mrs. Brown yang tidak segan-segan akan memukul buku tangan dengan penggaris jika membuat kesalahan.
Calpurnia sama sekali tidak tertarik dengan itu semua. Kakak tertuanya, Harry, pernah menghadiahinya sebuah buku tulis. Di buku tulis itu, Calpurnia sering menuangkan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan alam dan dia sangat suka mengumpulkan spesimen. Dia ingin menjadi seorang naturalis dan dapat mengecap pendidikan di universitas, suatu hari nanti.
Calpurnia memiliki seorang kakek yang sering bekerja keras sendirian di laboratoriumnya. Calpurnia dan saudara-saudaranya bahkan segan pada kakeknya, karena sang kakek seakan tidak mengenal mereka dan bersikap tak acuh.
Setiap ada pertanyaan yang Calpurnia belum bisa menemukan jawabannya, dia sering bertanya pada Harry atau ayahnya. Harry pernah menyarankannya untuk bertanya pada kakek, karena menurut Harry, kakek tahu banyak. Ketika itu, Calpurnia masih merasa enggan, hingga suatu ketika dia menemukan spesimen belalang berwarna kuning janggal yang belum pernah ditemuinya. Dia sibuk bertanya pada seluruh anggota keluarganya, jangankan member jawaban, bahkan menaruh minat pun tidak. Demi mendapatkan jawabannya, Calpurnia berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk menemui sang kakek di laboratorium, yang sedang sibuk mencari cara untuk menyuling biji pecan menjadi wiski – dengan mengutarakan kebingungannya tentang belalang kuning janggal tadi.
Pertemuan pertamanya dengan sang kakek seperti bertemu dengan naga. Tidak menyemburkan api tapi juga tidak memberikan jawaban yang memuaskan, karena sang kakek malah menyuruhnya kembali padanya jika Calpurnia sudah tahu jawabannya.
Suatu hari, Harry pergi ke Lockhart, ibukota Caldwell County, untuk mengambil persediaan. Calpurnia meminta ikut. Dia ingin meminjam buku The Origin of Species karya Charles Darwin di perpustakaan daerah itu. Namun, jawaban petugas perpustakaan itu sungguh membuatnya kesal. Petugas perpustakaan mengatakan bahwa perpustakaan itu tidak akan memiliki buku semacam itu. Buku itu hanya ada di perpustakaan Austin, dan jika menginginkannya perlu lima puluh sen untuk ongkos kirim. Petugas perpustakaan itu bertanya apakah Calpurnia punya uang sebanyak itu dan untuk bisa meminjam buku itu, Calpurnia harus memiliki surat izin dari ibunya. Calpurnia sangat marah, hingga muncul bentol-bentol ungu di lehernya.
Ketika sampai di rumah, Calpurnia merasa tidak tahan lagi, dia berlari ke sungai dekat rumahnya, menceburkan diri ke dalamnya dan membenamkan kepalanya berkali-kali sambil berteriak sampai rasa kesalnya hilang. Seketika itu dia mulai memikirkan rumahnya, rumput kasar berwarna keemasan pada musim panas itu dan dia mulai tahu jawaban tentang belalang itu.
Dia akhirnya tahu, bahwa itu bukan belalang yang baru. Belalang kuning janggal itu menyerupai warna rumput yang menguning, sehingga tidak bisa dengan mudahnya menjadi santapan burung-burung, sementara belalang hijau berumur lebih pendek karena mudah menjadi mangsa.
Calpurnia melaporkan hasil pengamatannya pada sang kakek dan sejak itulah mereka mulai dekat, sering mengumpulkan spesies bersama-sama. Calpurnia bahkan mendapatkan buku yang diinginkannya itu, The Origin of Species karya Charles Darwin dari sang kakek. Hingga suatu ketika, mereka menemukan sebuah vetch yang belum pernah ada di referensi manapun. Calpurnia dan kakeknya mendaftarkan spesies temuan mereka itu.
Cerita ini mengambil latar abad ke-19 dan Texas. Meski sang ibu memaksa Calpurnia untuk menguasai keterampilan rumah tangga, Calpurnia “keukeuh” untuk bisa tetap mencari apa yang disukainya.
Yang saya suka dari karakter Calpurnia ini adalah meski dia berada di bawah tekanan ibunya yang menginginkan Calpurnia meneruskan cita-cita beliau yang tak sampai, dia tidak sampai menjadi pemberontak seutuhnya. Maksud saya, Calpurnia masih berusaha menjalankan yang diminta ibunya, dan di satu sisi dia tidak berhenti untuk menemukan spesimen dan melakukan penelitian bersama sang kakek.
Lucu juga menikmati cerita bagaimana Calpurnia menjalani hidupnya sebagai satu-satunya anak perempuan, dengan banyak saudara laki-laki yang kelakuannya lumayan bikin mengelus dada. Belum lagi ketika tiga saudara laki-lakinya berebut perhatian Lula Gates, sahabat Calpurnia. Juga ketika Harry jatuh cinta pada seorang perempuan yang menurut Calpurnia wanita jahat, sehingga Calpurnia merasa dirinya bukan lagi kesayangan Harry.
Meski menunjukkan sikap pemberontakan seorang anak perempuan yang berusaha menentang apa yang ditetapkan untuknya sebagai seorang gadis muda, cerita di buku ini secara halus menunjukkan bahwa ada cara-cara yang baik untuk menunjukkan minat kita, tanpa mengecewakan orangtua kita yang sudah membuat ketetapan untuk kita. Intinya, buku ini mengajarkan kita bahwa kita masih bisa lho, menekuni dan mendapatkan apa yang kita mau, sambil sekaligus berusaha menyenangkan kedua orang tua kita. Sayangnya, buku ini nggak ada lanjutannya. Ceritanya selesai di satu buku itu aja. Padahal, saya pengen tahu, apa yang akan terjadi pada Calpurnia berikutnya… apakah dia berhasil mengecap pendidikan di universitas? Apakah dia jadi naturalis? Apa penemuan berikutnya bersama sang kakek? Entahlah…
-p3n1-
Terusin baca - Evolusi Calpurnia Tate [The Evolution of Calpurnia Tate]

13 Jan 2011

Marcy's Problem at School (Cat Ate My Gymsuit)


Marcy's Problem at School
Judul Asli: CAT ATE MY GYMSUIT
Copyright (c) 1974 by Paula Danziger
Hak terjemahan ada pada Penerbit Matahati
Penerjemah: Maria M. Lubis
Penyunting: Nadya
Diterbitkan oleh Penerbit Matahati
Cetakan pertama: Juni 2008
ISBN: 979-1141-26-6
Tebal : 178 halaman ; 12,5 x 19 cm
Fiksi

Perkenalkan, namaku Marcy Lewis. Aku gemuk dan berjerawat. Canggung dan mudah gugup. Sekolahku mengerikan. Aku tahu teman-teman tertawa di belakangku. Keadaan di rumah lebih buruk. Ayah menganggapku tidak berarti, dan seringkali bertengkar dengan ibu. Singkatnya, aku punya banyak masalah!

Review saya:
Ini buku bagus yang pernah saya baca. Tentang common problem gadis ABG. Yang kehilangan rasa percaya diri gara-gara bertubuh gemuk dan berjerawat. Marcy merasa dia adalah orang dengan masalah paling buruk di dunia. Selain dengan kondisi tubuhnya yang gemuk, yang membuatnya minder, ayahnya seringkali membentaknya. Karena ayahnya merasa telah bekerja keras, menganggap Mercy tidak berguna karena tubuhnya yang gemuk, dan lainnya. Rumahnya selalu dihiasi dengan teriakan sang ayah :(

Di sekolah, keadaannya juga tidak bagus. Guru-guru datang dan pergi. Sampai akhirnya, Ms. Barbara Finney datang. Semula, Marcy mengira, gurunya hanya akan bertahan beberapa hari saja. Namun ternyata, seisi kelas, bahkan anak-anak kelas lain, sangat menyukai Ms. Finney. Metode pengajaran yang dilakukannya, membuat Mercy mulai memiliki rasa percaya diri yang baik. Teman-temannya juga begitu.

Sayangnya, Kepala Sekolah tidak sependapat, sehingga Ms. Finney dipecat. Keadaan ini membuat semua murid malah semakin kompak, begitu juga dengan orangtua mereka. Tentu saja, ada yang pro dan ada yang kontra. Dan ketika berusaha membela Ms. Finney, Marcy justru menjadi sangat dekat dengan Joel, yang sama sekali tidak peduli dengan tubuh gemuk Marcy.

Buku ini positif buat dihadiahkan ke cewek-cewek yang bermasalah dengan rasa percaya diri. Bintang 5 buat buku ini. Hehe...
Terusin baca - Marcy's Problem at School (Cat Ate My Gymsuit)