20 Jun 2014

Tokyo ~ Falling (Setiap Tempat Punya Cerita #6) by Sefryana Khairil

Judul: Tokyo ~ Falling (Setiap Tempat Punya Cerita #6)
Penulis: Sefryana Khairil
Editor: Ayuning dan Gita Romadhona
Proofreader: Mita M. Supardi
Penata letak: Landi A. Handwiko
Desain sampul: Levina Lesmana
Ilustrasi isi: Tyo
Penerbit: Gagas Media
Cetakan kedua, 2013
Jumlah halaman: x + 338 hlm; 13 x 19 cm
ISBN: 979-780-663-4
Genre: Novel, Romance, Contemporay Fiction, Love
Status: Punya. Beli di Rumah Buku
Harga: IDR 53,000
Pembaca tersayang, 
Musim panas di Tokyo selalu memiliki banyak warna. Sefryana Khairil, penulis Sweet Nothings dan Coba Tunjuk Satu Bintang, mengajak kita berkeliling di Negeri Sakura bersama dua wartawan bernama Thalia dan Tora.

Keduanya dipertemukan oleh sebuah lensa. Lalu, Danau Shinobazu membuka mata keduanya, tentang bahwa kenyataan sering sekali berbeda dengan asumsi mereka pada awalnya. 
Thalia dan Tora berbagi tawa dan saling menyembuhkan.
Hingga mereka sama-sama ragu, benarkah semuanya hanya sekadar kebetulan? Ataukah ini adalah satu dari misteri Ilahi yang belum mereka temukan jawbannya?

Setiap tempat punya cerita.
Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari Negeri Timur yang sarat akan aroma lembut bunga sakura.

Enjoy the Journey,
Editor


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Bunda percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada. Mungkin itu yang terjadi antara Bunda dengan Papa. Begitu pertama ketemu, langsung muncul rasa sayang, padahal kenal juga belum. Tahu latar belakangnya juga belum. Tapi, di hari-hari kemudian, Papa adalah orang yang selalu berusaha menjaga hati Bunda. Selalu tahu apa yang tidak Bunda sukai dan berusaha supaya Bunda tidak merasa terluka.

Waktu itu, Bunda masih punya pacar. Sampai suatu ketika, teman Papa nanya ke Papa, "mau sampai kapan nemenin dia (Bunda, maksudnya)?" Jawaban Papa ketika itu adalah, "sampai si cowoknya serius. Kalo cowok itu serius ke dia, saya baru pergi."


Yang jelas, selama bersahabat dengan Papa, Bunda merasakan kenyamanan yang nggak pernah Bunda dapatkan dari pacar atau sahabat Bunda yang lain. Bersama Papa ketika itu, Bunda nggak takut sama apapun. Bunda yakin dan percaya diri. Bahkan, ketika ternyata Bunda terlambat lulus kuliah, Papalah yang senantiasa mendukung Bunda, benar-benar membantu, bukan sekadar menyemangati kayak pacar Bunda dan mamanya yang cuma bisa omdo nanyain gimana progres skripshitsi Bunda.

Jadi, ketika membayangkan kalo suatu hari tiba-tiba pacar Bunda serius mau menikahi Bunda, Bunda langsung merasa sedih, karena kenyamanan yang Bunda rasakan dengan Papa seolah-olah akan direnggut dari Bunda. Akhirnya, setelah memikirkan, menimbang, Bundapun memutuskan meminta pacar Bunda ketika itu untuk menyudahi hubungan kami berdua. Daripada memaksakan diri?

Nah, ini yang terjadi antara Tora dan Thalia dalam cerita ini. Keduanya sama-sama wartawan yang ketemu nggak sengaja karena bertabrakan di sebuah event yang mereka liput, yang mengakibatkan telephoto lens milik Thalia retak. Karena keduanya pakai lensa itu untuk kebutuhan liputan mereka, akhirnya mereka melakukan liputan bareng dengan pakai lensa yang sama, bergantian.

Tora dan Thalia datang ke Tokyo, selain untuk tugas meliput, juga ingin menemui mantan pacar masing-masing. Tora ingin bertemu Hana, mantan pacarnya. Tora ingin menemukan kejelasan, kenapa Hana memutuskannya dan ingin memperbaiki hubungan mereka. Begitu juga dengan Thalia. Dia ingin bertemu Dean dan mengulang lagi kisah mereka, menemukan kepastian yang ditunggunya.

Yang terjadi adalah: semuanya buyar.

Tora nggak lagi bisa menjalin hubungan dengan Hana karena Hana hendak menikah dengan pria lain. Sementara Thalia? Dia sering harus menelan kekecewaannya karena Dean sering tiba-tiba membatalkan janji dengan alasan dia ada meeting mendadak. Meski akhirnya apa yang diimpikan Thalia jadi kenyataan, Dean melamarnya dan bahkan merencanakan pernikahan mereka, Thalia merasa bahwa dia sangat nyaman dengan Tora. Bukan dengan Dean.

Baca cerita ini, kita serasa diajak jalan-jalan mengenal Tokyo dan sekitarnya. Ikut mengenal bahasa Jepang dan budayanya. Nggak hanya itu, kita diajak ikut hanyut dalam perasaan Tora dan Thalia. Meski belum pernah menginjak Tokyo dan sekitarnya, tapi apa yang dirasakan Tora dan Thalia itu pernah Bunda rasakan juga.

Penulis berhasil membawa emosi cerita sekaligus memperkenalkan seluk beluk kota Tokyo, transportasi yang digunakan dan beberapa kebiasaan yang ada di Jepang dengan mengalir. Meski banyak catatan kaki (Bunda rasa catatan kakinya perlu banget) nggak berasa mengganggu karena kita langung dapat informasi saat itu juga.

Ah... Rasanya jadi makin pengen aja pergi ke Jepang. Hihihi... *belajar bahasa Jepang dulu dengan serius, Bun!*

Bunda suka dengan Tora. Meski dia nggak serapi Dean, tapi dia melindungi dan memahami Thalia dalam hitungan hari. Dia langsung tahu kalo Thalia nggak suka sayuran, jadi pas makan bareng, Tora selalu memisahkan sayuran di mangkuk Thalia. Awwww.... Rasanya nggak berlebihan kalo Thalia kemudian jatuh hati pada Tora, karena Tora sudah memberikannya rasa nyaman yang belum pernah dirasakannya dari Dean. Tora bisa jadi book boyfriend Bunda, nih... :D

Eh, ini quote favorit Bunda

Rindu ini sedang mencari arah.
Tanpamu, ia tidak tahu jalan pulang

Satu bintang untuk Tora.
Satu bintang untuk Tokyo.
Dua bintang untuk ceritanya yang hangat.

Diposting juga untuk:
Lucky No. 14 Challenge
Indonesian Romance Reading Challenge



Love you both... Cheers!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tirimikisih udah ninggalin komen di sini... *\(^0^)/*