Tampilkan postingan dengan label Indonesian Romance Reading Challenge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesian Romance Reading Challenge. Tampilkan semua postingan

12 Nov 2025

[Review] Perkumpulan Anak Luar Nikah - Grace Tioso

 

Perkumpulan Anak Luar Nikah - Grace Tioso

Statistik saat aku baca buku ini via aplikasi Bookly

Judul: Perkumpulan Anak Luar Nikah  
Penulis: Grace Tioso 
Penyunting: Yuli Pritania
Penyelaras Aksara: Nuraini S., Dhiwangkara
Desainer: Ali Mustofa
Illustrator isi: freepik.com 
Cetakan pertama, Juni 2023
Diterbitkan oleh PT Noura Books
Jumlah halaman: 402 hlm
ISBN: 978-623-24-2398-5
Genre: Historical Fiction, Fiction, Indonesian Literature, Novels, Romance, Historica, Slice of Life, Contemporary Fiction  
Status: Pinjem sama tante Disty (mama Heka)



Shocking Confession from an Indonesian’s Ex-ASEAN Scholarship Recipient

Judul artikel itu mengguncang media sosial dalam semalam.

Martha, sang tersangka, panik. Keteledoran masa lalunya kini mencuat ke permukaan. Sebagai lulusan Computer Science, bagaimana bisa dia meninggalkan jejak digital yang menghantuinya dengan iming-iming penjara pada masa sekarang?

Pernikahannya guncang, kebebasannya terenggut, anak-anaknya terancam kehilangan sosok ibu hanya karena Martha memainkan “25 Question About Me” di blognya belasan tahun lalu dan menjawab terlalu jujur pertanyaan: “What is the wildest thing you’ve ever done when you’re 17 years old?”

I forged a legal document. Later, I used it to apply for a scholarship, and I got accepted!


Halo, Kakak Ilman dan adek Zi...

-- Curhat dulu --

Kemarin aku lupa cerita kalo sebenarnya aku tuh lagi "ngikut" NaNoWriMo (National November Writing Month 2025). Biasanya aku nulis jurnal yang kapan-kapan bisa aku ubah jadi novel kalo niat xD

Aku udah ikut NaNoWriMo dari tahun 2023. Saat itu masih ada website-nya yang bisa jadi setoran berapa jumlah kata tulisan yang berhasil kita buat (ada fitur words tracker-nya). Jadi, selama Oktober dan November biasanya aku sampai begadang, karena ngejar target. Oktober di gambar (ikut Inktober dan Viztober), November di nulis.

Unfortunately, di bulan Oktober aku nggak bisa selesaikan gambar-gambar itu karena ada kendala teknis, dan karena itu harus dikerjakan per hari, jadinya bertumpuk. Aku nggak bisa ngurusin energiku untuk menyelesaikan PR gambar-gambar itu karena aku juga punya banyak aktivitas lain, kerjaan juga lumayan lagi high. Jadi aku gagal Inktober dan Viztober 2025 ini. Semoga tahun depan aku bisa melakukannya dengan lebih baik. Dan selesai.

Awal November, walau masih sakit, aku sempat nulis jurnal satu hari, dalam rangka ikut NaNoWriMo. Tapi karena aku nggak sanggup berjaga sampai malam, pengaruh obat-obatan juga bolak-balik bikin aku tidur terus, akhirnya keteteran. Per kemarin, aku pikir, aku tetap harus melanjutkan menulis walau tertinggal banyak, paling tidak, menyelesaikan review buku-buku yang kubaca tahun ini. Aku nggak ingin blog ini mati suri selamanya. Jadi bangkitnya blog review ini sebenarnya karena NaNoWriMo 2025. Oh ya, sadly, aku baru tahu bahwa situs NaNoWriMo ternyata sudah ditutup sejak beberapa bulan lalu, due to finance matter. Yaudah, gapapa. Aku tetap berusaha konsisten melakukan ini setiap tahun, ada atau tidak writing tracker kayak di situs NaNoWriMo. 

Udah dulu curhatnya, mari balik ke novel. 


Martha adalah seorang Cindo (istilah yang lagi happening saat aku nulis ini, untuk warga Indonesia keturunan Cina) yang tinggal di Singapura. Di dalam kesehariannya, Martha adalah seorang ibu rumah tangga dengan dua anak dan menikahi suaminya bernama Ronny, yang adalah seniornya ketika di kampus dulu. Mereka bertemu ketika Martha kuliah di kampus itu, melalui jalur beasiswa.

Selain dua sahabat karibnya, Fanny dan Linda, tidak ada yang tahu kalo Martha adalah pemilik akun twitter dengan username @duolion163, bekerja sama dengan sepupunya, Yuni, istri juragan kecap, yang juga ibu rumah tangga. Akun twitter berfokus pada perilaku politikus. Mereka berdua menyajikan fakta-fakta terkait para politikus, yang cenderung bisa mendukung atau malah menjatuhkan para politikus yang sedang dibahas. Tidak sedikit politikus yang dikuliti oleh mereka berdua.  

Suatu hari, muncul berita nasional di Singapura, yang memberitakan bahwa telah terjadi pemalsuan dokumen yang digunakan untuk mengajukan beasiswa, akibat seseorang mengunggah "pengakuan" di blog lama Martha, yang membuat hidup Martha dan keluarganya berubah sepenuhnya, sebab Martha harus berurusan dengan hukum di Singapura. 

Apakah semua ini ada kaitannya dengan politikus yang baru saja menjadi pembahasan di akun @duolion163? Apakah akhirnya identitas Martha ketahuan, sehingga ada orang yang membocorkan kesalahannya di masa lalu?

 

Lewat Perkumpulan Anak Luar Nikah, aku baru tahu bahwa Anak Luar Nikah itu bukan anak-anak yang lahir di luar pernikahan, melainkan karena orang tua dari anak-anak ini adalah stateless (tidak memiliki kewarganegaraan). Walau status mereka ditulis sebagai WNA (Warga Negara Asing) di dokumen, anehnya, mereka sebetulnya lahir di Indonesia, tidak pernah keluar dari Indonesia dan tidak bisa berbahasa negara leluhur mereka. Untuk novel ini, khususnya bangsa Cina. 

Ketika menjalani pemeriksaan, banyak yang mengira bahwa pemalsuan dokumen yang dilakukan Martha tuh berupa mark up nilai atau membuat ijazah palsu. Penyelidik terkejut saat mengetahui bahwa "dosa" Martha hanya mengubah status Anak Luar Nikah menjadi "Anak dari..." di akta kelahirannya. Martha menulis nama papa dan mamanya. Sebab dia tidak merasa bahwa dia adalah anak haram. Dia lahir dari pernikahan yang sah. 


Walau ini adalah fiksi, di mana karakter-karakter dan ceritanya memang fiktif, namun sejarah yang dimunculkan adalah benar. Cocok buat jadi Historical Fiction, tapi bukan juga sih. Gimana ya? Atau mungkin bisa kita kasih nama "fiksi mengandung sejarah". Apa bahasa Inggrisnya sok?

Fokus cerita nggak hanya pada Martha, sebab semua karakter dibahas satu persatu di sini dengan baik. Bahwa mereka adalah Anak Luar Nikah. Pembaca juga bisa jadi tahu tentang apa yang terjadi di masa lalu, terkait pemberontakan di Tionghoa yang membuat "lahirnya" satu generasi Anak Luar Nikah. Pengalaman setiap karakter saat terjadi Tragedi 1998 pun membuat kita seolah sedang membaca biografi mereka. 

Di balik segala kesulitan yang dihadapi Martha, aku senang karena penulis nggak bener-bener bikin hidup Martha sengsara se-sengsara-sengsaranya. Ada tetangga apartemennya, seorang nenek warga India, yang mereka panggil "Paati" yang siap membantunya menjaga anak-anaknya. Ada sahabat-sahabatnya yang selalu mendukungnya. Dan ada wartawan Hongkong Post bernama Krisna, yang walau di sepanjang cerita karakter orang ini sangat mencurigakan, tapi ternyata dia pelaku turning table dari keseluruhan cerita Martha. 

Semua cerita ini terasa natural sehingga aku merasa bahwa Martha dan Ronny benar-benar ada, pernah mengalami semua cerita yang diceritakan. Nggak salah juga kalo Grace Tioso menjadi salah satu pemenang Mizan Writing Bootcamp.


Ada yang ingin aku kutip dari utas yang ditulis Martha di akun @duolion163, sebelum mereka memutuskan untuk menonaktifkan akun tersebut. 

"This is a super complex issue. Ada faktor politik perang ideologi. Yang paling susah tentu keturunan Tionghoa yang lahir setelah masa itu. Mereka nggak pernah memilih, tapi ikut menanggung akibatnya.

"Orang Tionghoa di Indonesia adalah keturunan Tionghoa yang memilih untuk tinggal dan jadi WNI".

Dengar, ya, kakak Ilman dan adek Zi.. aku tiap hari cerewet sama kalian untuk nggak pernah beda-bedain teman, apapun suku bangsanya. Kalo masih melanggarnya, buka lagi QS Al Hujurat ayat 13. Oke? 

Sampai ketemu besok. Besok review apa, yaaaa... 

xoxo 

 

   
Terusin baca - [Review] Perkumpulan Anak Luar Nikah - Grace Tioso

20 Jun 2014

Tokyo ~ Falling (Setiap Tempat Punya Cerita #6) by Sefryana Khairil

Judul: Tokyo ~ Falling (Setiap Tempat Punya Cerita #6)
Penulis: Sefryana Khairil
Editor: Ayuning dan Gita Romadhona
Proofreader: Mita M. Supardi
Penata letak: Landi A. Handwiko
Desain sampul: Levina Lesmana
Ilustrasi isi: Tyo
Penerbit: Gagas Media
Cetakan kedua, 2013
Jumlah halaman: x + 338 hlm; 13 x 19 cm
ISBN: 979-780-663-4
Genre: Novel, Romance, Contemporay Fiction, Love
Status: Punya. Beli di Rumah Buku
Harga: IDR 53,000
Pembaca tersayang, 
Musim panas di Tokyo selalu memiliki banyak warna. Sefryana Khairil, penulis Sweet Nothings dan Coba Tunjuk Satu Bintang, mengajak kita berkeliling di Negeri Sakura bersama dua wartawan bernama Thalia dan Tora.

Keduanya dipertemukan oleh sebuah lensa. Lalu, Danau Shinobazu membuka mata keduanya, tentang bahwa kenyataan sering sekali berbeda dengan asumsi mereka pada awalnya. 
Thalia dan Tora berbagi tawa dan saling menyembuhkan.
Hingga mereka sama-sama ragu, benarkah semuanya hanya sekadar kebetulan? Ataukah ini adalah satu dari misteri Ilahi yang belum mereka temukan jawbannya?

Setiap tempat punya cerita.
Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari Negeri Timur yang sarat akan aroma lembut bunga sakura.

Enjoy the Journey,
Editor


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Bunda percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada. Mungkin itu yang terjadi antara Bunda dengan Papa. Begitu pertama ketemu, langsung muncul rasa sayang, padahal kenal juga belum. Tahu latar belakangnya juga belum. Tapi, di hari-hari kemudian, Papa adalah orang yang selalu berusaha menjaga hati Bunda. Selalu tahu apa yang tidak Bunda sukai dan berusaha supaya Bunda tidak merasa terluka.

Waktu itu, Bunda masih punya pacar. Sampai suatu ketika, teman Papa nanya ke Papa, "mau sampai kapan nemenin dia (Bunda, maksudnya)?" Jawaban Papa ketika itu adalah, "sampai si cowoknya serius. Kalo cowok itu serius ke dia, saya baru pergi."


Yang jelas, selama bersahabat dengan Papa, Bunda merasakan kenyamanan yang nggak pernah Bunda dapatkan dari pacar atau sahabat Bunda yang lain. Bersama Papa ketika itu, Bunda nggak takut sama apapun. Bunda yakin dan percaya diri. Bahkan, ketika ternyata Bunda terlambat lulus kuliah, Papalah yang senantiasa mendukung Bunda, benar-benar membantu, bukan sekadar menyemangati kayak pacar Bunda dan mamanya yang cuma bisa omdo nanyain gimana progres skripshitsi Bunda.

Jadi, ketika membayangkan kalo suatu hari tiba-tiba pacar Bunda serius mau menikahi Bunda, Bunda langsung merasa sedih, karena kenyamanan yang Bunda rasakan dengan Papa seolah-olah akan direnggut dari Bunda. Akhirnya, setelah memikirkan, menimbang, Bundapun memutuskan meminta pacar Bunda ketika itu untuk menyudahi hubungan kami berdua. Daripada memaksakan diri?

Nah, ini yang terjadi antara Tora dan Thalia dalam cerita ini. Keduanya sama-sama wartawan yang ketemu nggak sengaja karena bertabrakan di sebuah event yang mereka liput, yang mengakibatkan telephoto lens milik Thalia retak. Karena keduanya pakai lensa itu untuk kebutuhan liputan mereka, akhirnya mereka melakukan liputan bareng dengan pakai lensa yang sama, bergantian.

Tora dan Thalia datang ke Tokyo, selain untuk tugas meliput, juga ingin menemui mantan pacar masing-masing. Tora ingin bertemu Hana, mantan pacarnya. Tora ingin menemukan kejelasan, kenapa Hana memutuskannya dan ingin memperbaiki hubungan mereka. Begitu juga dengan Thalia. Dia ingin bertemu Dean dan mengulang lagi kisah mereka, menemukan kepastian yang ditunggunya.

Yang terjadi adalah: semuanya buyar.

Tora nggak lagi bisa menjalin hubungan dengan Hana karena Hana hendak menikah dengan pria lain. Sementara Thalia? Dia sering harus menelan kekecewaannya karena Dean sering tiba-tiba membatalkan janji dengan alasan dia ada meeting mendadak. Meski akhirnya apa yang diimpikan Thalia jadi kenyataan, Dean melamarnya dan bahkan merencanakan pernikahan mereka, Thalia merasa bahwa dia sangat nyaman dengan Tora. Bukan dengan Dean.

Baca cerita ini, kita serasa diajak jalan-jalan mengenal Tokyo dan sekitarnya. Ikut mengenal bahasa Jepang dan budayanya. Nggak hanya itu, kita diajak ikut hanyut dalam perasaan Tora dan Thalia. Meski belum pernah menginjak Tokyo dan sekitarnya, tapi apa yang dirasakan Tora dan Thalia itu pernah Bunda rasakan juga.

Penulis berhasil membawa emosi cerita sekaligus memperkenalkan seluk beluk kota Tokyo, transportasi yang digunakan dan beberapa kebiasaan yang ada di Jepang dengan mengalir. Meski banyak catatan kaki (Bunda rasa catatan kakinya perlu banget) nggak berasa mengganggu karena kita langung dapat informasi saat itu juga.

Ah... Rasanya jadi makin pengen aja pergi ke Jepang. Hihihi... *belajar bahasa Jepang dulu dengan serius, Bun!*

Bunda suka dengan Tora. Meski dia nggak serapi Dean, tapi dia melindungi dan memahami Thalia dalam hitungan hari. Dia langsung tahu kalo Thalia nggak suka sayuran, jadi pas makan bareng, Tora selalu memisahkan sayuran di mangkuk Thalia. Awwww.... Rasanya nggak berlebihan kalo Thalia kemudian jatuh hati pada Tora, karena Tora sudah memberikannya rasa nyaman yang belum pernah dirasakannya dari Dean. Tora bisa jadi book boyfriend Bunda, nih... :D

Eh, ini quote favorit Bunda

Rindu ini sedang mencari arah.
Tanpamu, ia tidak tahu jalan pulang

Satu bintang untuk Tora.
Satu bintang untuk Tokyo.
Dua bintang untuk ceritanya yang hangat.

Diposting juga untuk:
Lucky No. 14 Challenge
Indonesian Romance Reading Challenge



Love you both... Cheers!



Terusin baca - Tokyo ~ Falling (Setiap Tempat Punya Cerita #6) by Sefryana Khairil

7 Mei 2014

Kisahku Bersama Sepotong Kata Maaf


Judul: Sepotong Kata Maaf
Penulis: Yunisa KD
Editor: Anin Patrajuangga
Desainer Cover: Steffi
Penata isi: Phiy
Diterbitkan oleh PT Grasindo
Cetakan pertama 2013
Jumlah halaman: 304 hal
Genre: Novel, Fiksi Kontemporer, Time travel, Woman, Semi-thriller
ISBN: 978-602-251-132-8
Status: Punya. Beli di Hobby Buku Online Bookshop
Harga: IDR 53,000


Blurb:
Ini adalah kisah nyata seorang gadis yang menolak untuk meminta maaf meskipun telah berulang kali diajukan permintaan resmi agar ia melakukannya. Dia meninggal 7 kali oleh pena seorang novelis. Itulah cara ringan untuk merangkum cerita ini.

Dalam dimensi yang berbeda, hidup memang seperti persamaan Matematika: ada berbagai variabel dan konstanta. Kematian seorang gadis bermoto "Maaf tampaknya adalah kata tersulit", itulah sang konstanta.

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Kelar juga baca buku ini setelah mandek lama. Hehe...



Sama penulisnya, buku ini digadang sebagai buku yang berdasarkan kisah nyata, pengalaman penulisnya sendiri. Konon, sneak peek-nya sering beredar di fanpage penulis. Cuma Bunda nggak ngikutin, sih, jadi ga begitu tau. Takutnya, kalo Bunda terlalu tahu cerita hidup penulis, Bunda nggak netral lagi dalam mereview bukunya. Bunda nggak tertarik dengan kehidupan pribadi penulis, makanya nggak follow twitternya maupun gabung di fanpagenya. Dengan begitu, Bunda bisa baca novel yang ini ya apa adanya yang tertuang di sini aja. Walaupun dibilang berdasarkan kisah nyata.

Jadi? Sepotong Kata Maaf ceritanya tentang apa?

Ceritanya bermula dari kekesalan Dewi yang pada saat acara ROM (penandatanganan perjanjian pernikahan) mesti menyaksikan suaminya, Jeremy Subroto, berfoto dengan sahabatnya, Lisa Hisman ~yang kemudian diberi julukan "ganjen"~ tanpa mempelai perempuan. Yang menambah kekesalan Dewi adalah posisi Lisa yang teramat dekat dengan Jeremy yang hanya tersisa sedikit aja ruang sehingga mereka nyaris nempel. Jeremy yang menganggap Lisa adalah sahabatnya, tentu nggak ngeh dengan kekesalan Dewi. Menurut Jeremy, ini wajar aja, karena mereka bersahabat. Sementara menurut Dewi, keluarga Dewi dan teman-teman Dewi, pose foto berdua seperti itu, tanpa mempelai wanita juga, bikin geger dan geram.

Dari situ, cerita berkembang ke berbagai alternatif kematian Lisa Hisman di dimensi yang berbeda. Gimana cara? Pake mesin waktu, dong...

Di cerita awal, Lisa dan Armand akan melangsungkan pernikahan, tapi gereja tempat mereka menikah dibom. Kemudian, Jeremy yang jenius itu, masuk ke mesin waktu ciptaannya untuk mencegah pengeboman terjadi, karena niatnya sih, menyelamatkan orang lain yang ga bersalah. Kalo Lisa doang yang mati ya biar aja. Kurang lebih gitu. Maka dimulailah kisah petualangan Jeremy Subroto melintasi berbagai dimensi lewat mesin waktu yang ternyata nyasar melulu. Yang jelas, ini bikin penulis leluasa membunuh Lisa Hisman di berbagai dimensi waktu dengan berbagai alternatif cara kematian :D

Kabarnya, sih, ini emang kisah nyata penulis pada saat dia dan suaminya meresmikan pernikahan mereka. Jadi, anggaplah, ini novel balas dendam buat mbak Lisa (nama sebenarnya) yang sudah membuat penulis murka.

Sebetulnya, ide time travel itu udah nggak aneh, sih. Jadi ya nggak ada yang istimewa banget dari novel ini. Yang jelas, sih, aura dendamnya nyampe banget ke pembaca. Kelewatan aja, sih, menurut Bunda... Dengan kata lain: lebay banget dendam kesumatnya.

Beberapa catatan yang sempet Bunda simpan tentang buku ini, ya...

1. Kalo dari sisi ide, terus terang Bunda nggak suka, apalagi "inspired from true story". Karena penulis memang berniat membunuh seorang Lisa Hisman di dalam novelnya sampai tujuh kali. Well, oke. Merasa kesal, benci karena seseorang telah "melukai" perasaan kita tuh wajar. Tapi, jauh lebih baik memaafkan duluan daripada "mengemis" permintaan maaf dari orang lain dan ketika permohonan maaf nggak kunjung datang, lalu memutuskan "membunuh" orang yang dibenci (meski) dalam bentuk cerita fiksi dalam berbagai alternatif itu cuma membuat penulis terlihat sama sekali nggak bermartabat. Sorry to say.

2. Bunda juga pernah merasa cemburu atau kesal sama orang. Tapi, Bunda percaya, memaafkan lebih dulu itu lebih bikin legowo dan nggak kepikiran, kok. Hidup jadi tenang dan nggak penuh dendam. Tips dari Bunda, daripada membenci seseorang lebih baik mengabaikan orang yang (tadinya) kita benci aja. Lebih enak dan ga musingin ke kitanya. Beneran, deh! Cobain aja. Ignorance is bliss :D

3. Dari sisi penceritaan. Hmm.. nggak ada yang berubah, sih, dibanding buku biru legendaris penulis. Apalagi kalo yang dimaksud dengan karakter Dewi di sini adalah penulis itu sendiri. Aura narsisnya udah over dosis, jauh melampaui narsisaurus syndrome-nya Gilderoy Lockhart. Bayangin narsisnya si Gilderoy Lockhart aja udah bikin muak, maka kalo ada orang lain yang narsisnya melampaui beliau, silakan takar sendiri standar kemuakan kalian.

4. Deskripsi karakter utama yang terus menerus diulang, bikin 300 halaman buku terasa seperti pemborosan. Karena, kayaknya kalo bisa dilangsingin, 150 halaman juga kelar. Bunda coba bandingkan cara penulis lain yang bukunya Bunda baca dan beberapa udah Bunda review di antaranya, rata-rata mereka nggak saklek mendeskripsikan karakter utama mereka kayak gimana. Ngalir aja di cerita, tapi kita sebagai pembaca, bisa langsung ngebayangin dan punya imajinasi sendiri mengenai karakter di cerita itu. Nggak rusak oleh deskripsi yang bener-bener text book dari penulis.

Sebagai contoh, semua pembaca serial Harry Potter pasti tahu gimana cerdasnya Hermione Ginger tanpa perlu disebutin berkali-kali kalo Hermione itu pinter, genius, penghafal cepat dan pelahap buku. Semua muncul lewat dialog-dialog yang cerdas dan ide-ide yang dicetuskan Hermione ketika mereka menghadapi masalah.

Atau, karakter Amal di buku Does My Head Look Big in This? Meski nggak disebutin segimana cantik, cerdas, penuh sopan santun dan punya kebaikan hati yang luar biasanya Amal, kita bisa tahu gitu aja (atau minimal ngebayangin, deh) melalui semua dialog dan ceritanya.

Masih banyak deh yang lainnya. Termasuk gimana kita bisa ngebayangin gantengnya Christian Grey di FSOG. Ga perlu deskripsi lengkap banget yang bakalan menghancurkan imajinasi pembaca.
Sementara di buku ini, penulis kek pengen ngasi tau pembacanya berulang-ulang, kalo Dewi itu cantik, sempurna, punya buah dada yang menggemaskan, pintar, kaya, tahu sopan santun, punya tata krama dan seterusnya.

5. Sebentar. Tadi Bunda bilang, berkali-kali disebutin Dewi itu cantik, sempurna, punya buah dada yang menggemaskan, pintar, kaya, tahu sopan santun, punya tata krama dan seterusnya, kan? Nah. Kalo iya, tahu sopan santun, punya tata krama, ini ada sesuatu yang bikin Bunda agak sakit kepala.
Dewi ini berkali-kali mengomeli suaminya dengan kata-kata, "kamu ini goblok atau goblok, sih, Mi?" Kalo seorang Dewi adalah seperti yang disebutkan berulang-ulang di atas, lalu bisa nyebut suaminya goblok berulang-ulang setiap dia merasa kesal pada suaminya yang kurang peka sama perasaannya, terutama terhadap kekesalannya pada Lisa Hisman, lalu gimana dengan perilaku orang yang nggak punya tata krama dan sopan santun, ya? *headspin*

6. Penulis berusaha keras banget buat terlihat kalo dia banyak banget pengetahuannya dengan memasukkan berbagai quote yang kadang nggak nyambung dengan konteks cerita. Trus, udah gitu, seakan-akan pengen bilang, bahwa pembacanya bodoh ga sepintar dia, ditulislah dua bahasa itu quote. Too much information, I guess.

7. Mengenai kalimat "innalillaahi wa inna ilaihi raaji'uun" yang oleh penulis disebut sebagai common phrase di Indonesia, rasanya Bunda harus luruskan dulu. Semoga ini memang karena ketidak tahuan penulis. Masukan Bunda buat penulis adalah penulis mau berteman dengan orang-orang penganut agama Islam, jadi bisa diskusi, minimal nanya-nanya, terutama yang berkaitan dengan doa.

Kalimat "innalillaahi wa inna ilaihi raaji'uun" adalah kalimat yang harus diucapkan (umat Muslim) ketika mendengar ada orang lain mendapat musibah atau dirinya sendiri mengalami musibah. Arti dari kalimat "innalillaahi wa inna ilaihi raaji'uun" adalah "to Allah we belong and to Allah we will return/kita milik Allah dan akan kembali kepada Allah."


Bolehlah sebut ini novel fiksi. Biarpun ini fiksi, menurut Bunda, sefiksi-fiksinya fiksi, tetep aja kalo ada informasi yang akurat tetep ga boleh dibelokin. Bunda banyak belajar dari komik atau novel. Jadi, sebaiknya emang informasi sepenting itu masuk sebagai bahan informasi buat pembaca, walau pun ceritanya fiktif. Kan penulisnya katanya pinter banget. Pasti risetnya udah dalem banget, dong, ya...

8. Bunda masih nggak habis pikir, kenapa Dewi bisa sedendam ini sampai "ngemis" dan melakukan berbagai cara supaya Lisa Hisman minta maaf. Kalo Lisa-nya nggak ngerasa berbuat salah, ya udahlah. Biarin aja. Tapi kalo sampai dibunuh dengan berbagai variasi, mending bikin novel thriller dengan judul "Tujuh Alternatif Pembunuhan Lisa Hisman", bukannya "Sepotong Kata Maaf".

9. Untuk ide masuk ke berbagai dimensi, okelah. Bolehlah. Tapi, kenapa hampir di semua dimensi yang bukan dimensi sebenarnya itu, Roger Gunawan muncul sebagai suami Dewi? Kok, kesannya, Dewi nyesel nikah sama Jeremy Subroto, ya? Kesannya, penulis pengen banget menikah dengan Roger Gunawan - if he is existing in this world. Atau emang ada orangnya? Soalnya dengan nulis nama semua karakter mirip dengan aslinya, apa itu nggak menyinggung perasaan suaminya? Sebelum menikah sampai sekarang, Bunda selalu dinasihati untuk menjaga perasaan suami, bertutur kata yang baik pada suami. Lah ini? Suami digoblok-goblok. Semoga kalian berdua kelak dapat istri yang selalu memuliakan suaminya. Aamiin. Biar pun Dewi secantik bidadari, kalo kata-katanya bau begitu... errrr... masih bisa disebut cantik dan sempurna?

10. Masih bingung dengan pola pikir Jeremy mau pun Roger sebagai laki-laki di dalam cerita ini. Gimana, ya. Boleh, deh, Bunda disebut ganjen atau genit karena mayoritas teman Bunda adalah laki-laki. Tapi keuntungan dari punya banyak teman laki-laki adalah: Bunda memahami cara berpikir mereka yang sama sekali beda banget dengan cara berpikir cewek. Tapi di cerita ini, cara berpikir semua orang di karakter, kecuali Lisa Hisman tentunya, sama banget dengan cara berpikir Dewi, termasuk cara berpikir para pria yang pro ke Dewi semuanya. Bunda sih, percaya dengan peribahasa Indonesia yang bilang, "lain ladang, lain belalang. lain lubuk lain ikannya." Jadi, beda orang ya beda isi kepalanya. Mau punya pengalaman yang sama persis plek kek apa pun, tetep aja pasti ada perbedaan pendapat dan cara berpikir. Apa lagi kalo makhluk bernama cowok itu datengnya dari Mars dan cewek itu datengnya dari Venus. Dua planet yang berbeda, kan? *apa maksudnya, coba?*

11. Salut sama pemakaian kata "menyeleweng" (sounds jadul, tuwek banget) sementara kebanyakan orang sekarang nulis kata "selingkuh" :D

12. Di akhir buku, sih, akhirnya Dewi bilang ke Jeremy nggak usah berusaha memperbaiki keadaan. Intinya, dia udah nerima gimana "keukeuhnya" Lisa yang nggak merasa bersalah berikut permohonan maaf yang ga kunjung dateng. Tapi, tetep aja, Lisa-nya dibikin mati yang otomatis nggak jadi menikah dengan Armand. Cuma agak bingung juga, di dimensi ke-7 tuh maksudnya Jeremy pulang ke dimensi asal apa gimana, sih? Soalnya kalo pulang, mestinya ga ke dimensi ke-7, dong? Apa ini maksudnya Jeremy dateng ke Jeremy di dimensi lain? Blunder :D

Tapi kesan yang ditinggalkan di akhir dimensi ini ditutup dengan manis banget, menunjukkan Dewi yang nggak mau memusingkan perkara Lisa lagi, yang udah lalu biarlah berlalu. Meski tetep, Lisa dibuat mati di sini, plus, dipermalukan (dikasih nama Tante Ganjen) di depan anak-anaknya yang sudah besar dengan alasan sebagai contoh. Kalo suatu saat Bunda mau nasihatin kalian mengenai memilih perempuan yang baik, Bunda nggak akan buka aib orang lain. Bunda akan kasih case aja, nggak perlu memperlihatkan foto-foto kenangan buruk yang tersimpan berabad-abad. Itu sama aja dengan menyimpan dendam dan mewariskan dendam pada anak-anak Bunda. Never. Bunda pun nggak pernah akan ngasih tau kalian kalo semisal Bunda punya orang yang Bunda benci. Karena rasa benci itu menular.

13. Sekarang, kira-kira di antara kumpulan kata ini:

pintar ramah goblok cantik kaya sopan goblok santun goblok cemerlang genius goblok tampan cerdas goblok lintas waktu goblok miliarder sempurna goblok tinggi menjulang goblok

sensasi apa yang kalian dapatkan saat baca kumpulan kata di atas? Kata apa yang bakalan paling nempel di kepala kalian saat membacanya? Kurang lebih, seperti itulah sensasi saat membaca novel ini.

14. Apakah review Bunda ini negatif? Hmm... terus terang, ya, suka heran kenapa review yang sifatnya mengkritik itu, kok, sama penulis dibilang review negatif dan yang nge-reviewnya dianggap haters? Karena Bunda bukan hater penulis, meski bukan juga fans berat penulis, Bunda benci kalo seandainya penulis sempat baca review Bunda ini langsung ngecap Bunda termasuk haters-nya. Daripada membenci orang, Bunda lebih suka mengabaikan orang. Membenci itu menguras energi. Keingetan terus dan bahkan malah jadi kenal lebih banyak, jauh lebih banyak dari porsi semestinya ketika membenci orang. Makanya, Bunda memilih mengabaikan ketika Bunda nggak suka sama orang lain. Jadi, energi Bunda ga perlu habis mikirin orang itu. Mending mikirin yang indah-indah aja dan menikmati semua yang indah daripada hidup penuh kebencian. Capek, bow...

Bunda nggak pernah bermaksud menulis review negatif. Dan ga pernah mendaftarkan diri jadi haters fanatiknya. Tapi apa yang Bunda tulis di atas hanya catatan Bunda mengenai apa yang udah Bunda baca aja dan cukup ngeganjel. Gitu aja, sih. Bunda tipe orang yang kalo suka akan bilang suka, kalo ga suka ya bilang ga suka. Titik. Yang jelas, Bunda baca dari awal sampai habis, bukan untuk menyerang penulisnya. Emang murni pengen baca. Titik.

Penulis yang baik akan nerima review sepedas apa pun dari pembacanya dan ga ngecap, "cuma pembaca". Jadi pembaca itu repot juga, kok. Bunda ngemodal buat beli buku ini. Pake ongkos kirim. Sampulnya beli juga. Bacanya makan waktu juga, karena perlu mood bener-bener baik biar ga marah-marah saat baca buku ini, karena seperti penulisnya bilang di blognya, "Orang yang baru pertama kali baca novelku bilang mereka suka banget, bukunya mudah dibaca, bisa merasakan emosi, bisa tertawa dan misuh-misuh saat membaca." Jujurly, kalimat yang Bunda tebalkan benar adanya. Bunda bisa tertawa dan misuh-misuh saat membaca, kok. Hihihi. Misuh-misuhnya bukan karena gemas pada Lisa atau Jeremy melainkan oleh pola pikir penulis. Tertawa karena apa, ya? Menertawakan kenarsisan penulis, mungkin? :D

15. Bunda nggak akan bertanya-tanya kenapa buku ini bisa ikut terpilih untuk diterbitkan di lomba Grasindo - Publisher Seeking Author (PSA) dari 630 naskah yang masuk. Bunda juga nggak akan mempertanyakan kriteria panitia. Tapi kalo naskah kayak gini bisa lolos, gimana dengan naskah yang ga lolos, ya?

16. Agak bingung dengan blurb-nya. Kok nggak nyambung sama keseluruhan cerita.
 





All in all, ma kasih buat penulis yang sudah meramaikan kancah pernovelan Indonesia. Termasuk segala kehebohan yang pernah ditimbulkan. Belajar dari novel ini, memaafkan itu jauh lebih simpel dan mulia ketimbang berharap orang lain menyadari kesalahannya pada kita sampai membuat kita berkali-kali memberi teguran supaya yang bersangkutan minta maaf (apalagi pake cara formal banget) bahkan sampe pengen membunuhnya sebanyak tujuh kali, meski itu hanya di dalam imajinasi. Heuheu... Demikianlah kisah Bunda bersama Sepotong Kata Maaf.

Pesan Bunda, sih, simpel aja. Kalo orang lain yang bersalah ke kita ga mau minta maaf, maafin aja duluan. Pahalanya lebih gede, kok, insya Allah. Daripada dendam sampe pengen matiin. Duh, kayak orang nggak bermartabat aja...

Love you both... Cheers...








Terusin baca - Kisahku Bersama Sepotong Kata Maaf

21 Mar 2014

Marriageable by Riri Sardjono


Judul: Marriageable
Penulis: Riri Sardjono
Editor: Windy Ariestanty
Proofreader: Mita M. Supardi
Penata letak: Gita Ramayudha
Desain sampul: Dwi Annisa Anindhika
Diterbitkan oleh: Gagas Media
Cetakan ketujuh, 2013
Jumlah halaman: x + 358 hlm; 13 x 19 cm
ISBN: 979-780-651-0
Genre: Novel dewasa, Adult, Romance Indonesia, Romance, Indonesian Literature, Chicklit
Status: Punya. Beli di Rumah Buku. Harganya 49rb, diskon 20% + 2%
Namaku Flory. Usia mendekati tiga puluh dua. Status? Tentu saja single! Karena itu Mamz memutuskan pencarian Datuk Maringgi abad modern untukku.
"Kenapa, sih, gue jadi nggak normal cuma gara-gara gue belom kawin?"
"Karena elo punya kantong rahim, Darling," jawab Dina kalem.
"Kantong rahim sama kayak susu Ultra. Mereka punya expired date."
"Yeah," sahutku sinis. "Sementara sperma kayak wine. Masih berlaku untuk jangka waktu yang lama."
Mamz pikir aku belum menikah karena nasibku yang buruk.
Dan kalau beliau tidak segera bertindak, maka nasibku akan semakin memburuk. Tapi Mamz lupa bertanya apa alasanku hingga belum tergerak untuk melangkah ke arah sana.
Alasanku simple. Karena Mamz dan Papz bukan pasangan Huxtable. Mungkin jauh di dalam hatinya, mereka menyesali keputusannya untuk menikah. Atau paling tidak, menyesali pilihannya. Seperti Dina, sahabatku.
"Kenapa sih elo bisa kawin sama laki?"
Dina tergelak mendengarnya. "Hormon, Darling! Kadang-kadang kerja hormon kayak telegram. Salah ketik waktu ngirim sinyal ke otak. Mestinya horny, dia ngetik cinta!"
See?
"Oh my God!" desah Kika ngeri. "Pernikahan adalah waktu yang terlalu lama untuk cinta!"
Yup!
That's my reason, Darling!

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Bunda melewatkan banyak keriaan di acara ulang tahun BBI tahun ini. Soalnya... Bunda kan sakit dua pekan, sampai sempat jadi penghuni rumah sakit hampir semingguan. Jadi... ya sudahlah... Bunda emang dari awal udah prediksi ga bisa ikut serangkaian acara ultah BBI tahun ini. Udah punya feeling gitu aja. Entah kenapa.

Dampak bagusnya, sebelum Bunda dirawat di rumah sakit, Bunda jadi menghabiskan dua-tiga buku gitu, deh. Kalo pas dirawat di rumah sakit, malah ga baca buku sama sekali meski bekal buku. Ternyata, obat-obatan di dalam infus bikin Bunda terlelap terus. Coba kalo sehat. Butuh waktu sebulan buat menyelesaikan baca satu buku saja. Hihihi. Jadi, ada banyak bahan buat nulis di sini... ^_^

Oke. Sekarang, Bunda mau cerita tentang Marriageable ini. Seperti kalian baca di atas, itu adalah potongan adegan saat Flory ngumpul dengan sahabat-sahabatnya, curhat mengenai usaha mamanya buat mendapatkan suami untuk putri satu-satunya itu. Karena menurut Mamz, usia Flory saat itu udah SOS harus segera menikah. Alasannya ya seperti yang dibilang sama Dina itu. Perempuan itu punya kantung rahim yang punya expired date.

Terus, akhirnya Flory berkenalan dengan seorang Vadin, hasil temuan Mamz. Tante Mia, ibu Vadin cukup akrab sama Mamz. Semula, Flory benar-benar muak dengan perjodohan ini dan mengira bahwa Vadin juga punya perasaan yang sama. Sama-sama muak. Ternyata, di luar dugaan, Vadin santai aja dengan perjodohan ini. Nggak terlihat marah atau apa. Malah, #destiny mereka seperti sering dipertemukan secara ga sengaja. Yaelah, kebawa lagi, deh, kata #destiny.... #tepokjidat

Melihat Vadin yang santai dan nggak terlihat pengen menggagalkan perjodohan ini bikin Flory semakin kesal sebetulnya. Tapi Vadin sendiri nggak melihat alasan kenapa perjodohan ini harus digagalkan? Secara fisik, Flory menarik. Vadin juga. Terus kenapa mesti menolak? Kan gitu aja mikirnya, simple.

Sayangnya, Flory tetep keukeuh menolak perjodohan ini sampai akhirnya dia lelah dan kemudian mencoba menikah dengan Vadin dengan satu syarat yang Bunda nggak akan cerita di sini. Bunda mau cerita di blog lain aja. Hihihi...

Ini #sopiler. Ceritanya happy ending. Udah gitu aja :D

Nah, kesan Bunda terhadap buku ini satu kata aja: SUKA.

Kalo suka, kenapa Bunda nggak kasih rating yang lebih tinggi? Katakanlah lima? Nah, ini dia persoalannya. Si Flory ini bener-bener menjengkelkan tu de maks, deh. Ke-keukeuh-an Flory bikin cerita ini tarik ulur dan menyebalkan buat diikuti. Terus terang, karakter Flory dan semua perilakunya bikin Bunda sempat ilfeel banget sama cerita ini secara keseluruhan. Meski demikian, nggak pantes juga kalo Bunda hadiahi cuma dua atau satu bintang, karena memang Bunda suka dengan Marriageable ini.

Okelah, mungkin karena di sekitarnya, ada "teladan buruk" Flory yang membuat dia parno dengan pernikahan. Tapi ya nggak gitu juga keleuuusss....

Sepupu Bunda, salah satu tante Bunda, bahkan salah satu pakde Bunda juga ada yang mengalami gagal permikahan. Belum lagi ternyata banyak teman sekolah Bunda yang juga mengalami perceraian, bahkan satu sahabat Bunda yang dari luar Bunda yakin mereka kayak pasangan Huxtable, bisa bubar juga. Lalu apakah semua pernikahan harus berakhir dengan perceraian? Haruskah semua pasangan menikah tampak ideal seperti pasangan Huxtable?

Jawabannya: Nggak.

Seperti kata pepatah, "lain lubuk lain ikannya". Lain kepala, lain isi pikirannya. Lain orang, lain isi hatinya. Nggak semua pernikahan harus sama modelnya. Ada yang memang model romantis. Ada yang memang model cuek banget. Ada yang memang kerjanya berantem melulu tapi awet. Ada yang kayak adem ayem tapi di hati masing-masing punya dendam, sekalinya ada pemicu keluar semua lalu bubar jalan. Macam-macam. Tinggal kita milih mau seperti apa punya konsep pernikahan itu.

Terus, kalian (mungkin) akan bertanya. Gimana Bunda menjalani pernikahan dengan Papa?

Jawabannya simple aja. Cuma mengandalkan Allah. Karena Dia yang mengatur semuanya.

Bunda percaya dengan pilihan Bunda. Papa percaya dengan pilihan Papa. Kedengarannya gampang? Iya. Kalo segala sesuatu diserahkan ke Allah, sisanya kita tenang, kog. Tinggal fokus sama apa yang memang harus dihadapi. Bareng-bareng menghadapi rintangan walau memang nggak mudah. Ada, kok, di lubuk hati *kadang-kadang*, rasa penasaran apakah Papa happy dengan Bunda, dst.

Tapi, sewaktu Bunda memilih Papa, Bunda sudah konsultasi dengan Yang Maha Mengetahui. Dan DIA yang kasih jawaban Bunda. So, kayak apa pun Papa, meski nggak 100% ideal di mata Bunda, dia 1000% memenuhi kebutuhan Bunda. Tapi, Bunda nggak tau dengan Papa. Soalnya, Papa tuh kalo ditanya ya gitu deh jawabannya. Dia nggak memusatkan hal-hal sesepele ini.

Bunda jadi ingat sebuah quote.



Nah. Di sana jelas disebutkan "I received everything I needed". Memang, jujur aja, setiap ada pria yang mendekati Bunda sejak Bunda SD dulu, Bunda selalu mikir jauh ke depan. Bunda bakalan sering komunikasi dengan orang ini, loh, kalo sampe jadian. Apa bakalan betah? Nah, Bunda selalu percaya pada "jatuh cinta pada pandangan pertama". Jadi, kalo dari pertama ngeliat udah nggak nyaman, seterusnya ternyata emang gitu. Makanya, dulu itu, setiap Bunda merasa didekati seorang cowok, Bunda selalu langsung mundur teratur atau malah kabur. Karena, Bunda juga nggak mau ngasih harapan kosong atau terus malah jadi nggak enakan satu sama lain. Sebelum mereka nembak, Bunda udah lari duluan. Dan akhirnya, setelah bertahun-tahun kemudian, mereka baru ngaku satu per satu kalo dulu mereka deketin Bunda tapi Bunda-nya ngacir duluan sebelum "ditembak". Jumlahnya lumayan banyak. Berarti, feeling Bunda dulu ga pernah salah :D

Makanya, mantan pacar Bunda nggak banyak. Tapi mantan TTM banyak ternyata #gubrak.

Balik lagi ke soal memilih pasangan dan keputusan buat menikah. Ada yang ngeles dengan menikah jadi nggak bebas, semua ruang gerak terbatas karena ada yang menunggu di rumah, tanggung jawab jadi lebih besar, dst.

Menikah atau nggak, keduanya punya konsekuensi. Konsekuensi ini yang harus diterima setiap orang sejak awal. Bunda suka kesal kalo denger teman yang bilang, "iya, nih, gara-gara udah punya anak, gue jadi nggak bisa nonton konser, deh..". Please, deh, jangan bilang "gara-gara". Belum tentu yang wara-wiri bolak balik nonton konser *karena masih single* nggak ngiri dengan mereka yang udah berkeluarga, kok.

Dan satu lagi, kita nggak perlu kasih judgement pada orang yang sudah menikah di usia muda atau masih single meski usianya sudah kepala 3 atau 4. Setiap orang punya jalan hidup masing-masing, punya pilihan masing-masing yang bukan urusan kita untuk mencampurinya. Hargai setiap orang dengan keputusan dan jalan hidup masing-masing. Bicara kalo diminta pendapat aja. Karena kadang, kita bicara karena udah dimintai pendapat aja masih dibantah, kog.

Buat yang pengen menikah tapi masih takut, nggak perlu takut. Semua hal dalam hidup ada resikonya. Semua perlu dihadapi. Buat yang nggak mau menikah karena takut atau hal-hal lain juga, nggak masalah. Itu pilihan. Jangan tiba-tiba membuat keputusan menikah karena takut ketuaan atau iri sama orang lain. Buatlah keputusan menikah karena memang ingin menikah. Titik.

Nah, balik ke cerita Marriageable, tokoh Vadin ini adorable banget menurut Bunda. Bunda sukaaaaaaaaa banget sama Vadin. Dan ga tau kenapa, sejak awal ngikutin tentang Vadin, kebayang Bunda,
Vadin itu kayak gini:   


Terus, Bunda kesel sama Flory, karena apa-apa diceritain semua ke sahabatnya. Ini yang bikin Bunda kesel. Tapi mungkin, karena Flory masih takut gitu kali, ya... Entah deh. Tapi kan jadinya rahasia ranjang pun keluar ke sahabatnya. Padahal, katanya, sih, soal cerita ranjang itu baiknya ga diceritain ke siapa aja. Jadi rahasia berdua aja. Gitu.... Meski akhirnya, ternyata sahabat-sahabatnya juga yang mendukung supaya Flory tetep bertahan dengan pernikahannya... So sweet, ya... empat bintang oke deh, buat Marriageable...

Diposting juga buat:
Indonesian Romance Reading Challenge
Lucky No. 14 Reading Challenge

Review versi lain *karena mengandung adegan uhuk-uhuk* ada di sini.

Stay hungry stay foolish ~ Steve Jobs.
Love you both, xoxo



Terusin baca - Marriageable by Riri Sardjono

12 Feb 2014

Master Post Rapel 4 Reading Challenge

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Kayaknya Bunda masih belum kapok juga ikut Reading Challenge, nih...:D
Setelah gatot ikutan Reading Challenge tahun lalu *selain reading challenge sendiri tentunya*, Bunda mencoba bangkit dan memetakan juga bikin perencanaan. Mudah-mudahan, sih, terealisasi semuanya. Seperti motto yang sering diucapkan di novel karya A. Fuadi: Man Jadda Wajada! Siapa bersungguh-sungguh pasti akan berhasil!

Setelah meminta ijin pada para host challenge ini untuk diperbolehkan menggabungkan master post *biar irit di timeline*, dengan ini Bunda menyatakan bahwasanya, Bunda akan mengikuti challenges sebagai berikut:

  1. Lucky 14 Reading Challenge yang dihost oleh Tante Astrid Felicia Lim
  2. Young Adult Reading Challenge yang dihost oleh Tante Tammy Rahmasari
  3. Indonesia's Romance Reading Challenge yang dihost oleh Tante Sulis Peri Hutan
  4. Blogger Buku Indonesia Review Challenge yang dihost oleh Divisi Event BBI
Sebetulnya, selain Bunda ikut Books in English Reading Challenge - Chapter 3 (ya sebagai host tetep harus ikut serta di dalamnya, dong, ah), Bunda mau ikut Children Literature Reading Challenge yang dihost oleh Tante Bzee. Tapi, setelah konsultasi dengan beliau, karena Children Literature RC adalah proyek baca selama tiga tahun, sebaiknya master post dibuat tersendiri untuk perencanaan. Jadi, setelah ini, Bunda akan buat master post khusus rencana ikut Children Literature Reading Challenge. Plus, di mulai bulan Mei 2014, Bunda mau mengadakan The Secret of The Immortal Nicholas Flamel Reading Challenge a.k.a TSOTINF-RC. Panjang bener, ya. Ada ide buat bikin singkatannya? :D
Oke, mari kita bahas satu persatu masing-masing reading challenge yang insha Allah akan Bunda ikuti ini...

#1 Lucky No. 14 Reading Challenge

http://perpuskecil.wordpress.com/2013/11/12/lucky-no-14-reading-challenge/
~image linked to the source~


Di dalam challenge ini, peserta diharuskan membaca 14 buku dengan kategori:
  • Visit the country. Di rumah, Bunda ada buku Melbourne. Tapi, Bunda juga pengen baca Tokyo terbitan Gagas. Karena Bunda pingin pergi ke Tokyo ^^; 
  • Cover lust. Dari rak di rumah, Bunda tertarik baca All You Can Eat - Christian Simamora dan Marriageable - Riri Sardjono. Covernya sederhana tapi mengundang buat dimamah :D
  • Blame it on bloggers. Sepertinya, Bunda pengen baca Bartimaeus Trilogy. Bunda mau nyalahin Tante Ally dan Tante Tammy yang udah ngeracunin Bunda lewat cerita mereka :P
  • Bargain all the way. Kalo yang ini, Bunda sepertinya akan baca 13 Reasons Why. Tapi kalo takut, Bunda akan ganti judul buku. Sebab, Bunda (jujur) beli ini karena obral super murah di Matahati sewaktu mereka akan tutup.
  • (Not so) fresh from the oven. Hmmm. Sepertinya Ocean on The Lane-nya Neil Gaiman atau The Empress of Ice Cream-nya Anthony Capella akan jadi pilihan. Bunda beli tahun lalu dan belum sempat dibaca :D
  • First letter's rule. Disuruh baca buku berawalan huruf "P". Apa, ya? Ntar Bunda obrak-abrik di rak buku di rumah dulu.
  • Once upon a time. Nah. Kategori ini maksudnya buku-buku yang rilis pertama kali di tahun yang lebih lama dari tahun lahir Bunda. Untuk yang ini, sih, Bunda berencana baca beberapa buku Ramona Quimby Series karya Cleary Beverly.
  • Chunky brick. Ini sih buku bantal. Paling dikit 500 halaman! Hmmm.. Sepertinya mau baca Rahasia Meede karya E.S Ito, deh. Soalnya itu nyambung dengan tema historical fiction-nya baca bareng BBI di bulan Februari 2014. Chunky brick dapet, historical fiction dapet :D
  • Favorite author. Tentu saja Bunda akan memilih buku Jacqueline Wilson: Hetty Feather. Plus The Wonderful Story of Henry Sugar and Six More-nya Roald Dahl. Kalo milih favorite author, Bunda ga bisa milih antara JW dengan RD soalnya :D
  • It's been there forever. Pilih buku yang udah berdebu dan belum dibaca. Umm. Heidy? Little Men? :D
  • Movies vs books. Devil Wears Prada. Bunda udah nonton berkali-kali film ini. Tapi keknya belum baca, deh. Tapi kalo tiba-tiba berubah jadi pengen baca The Notebook atau P.S I Love You, jangan salahin juga sih :D
  • Freebies time. Errr... Bunda akan pilih Bliss. Hadiah dari Tante Ferina dari kapan itu yang belum Bunda baca. Rencananya mau dibaca untuk ikut Baca Bareng BBI bulan Februari 2014 tema kuliner...
  • Not my cup of tea. Nah. Sebetulnya romance Nora Roberts begini not cup of my tea. Jadi, Bunda berencana baca Nora Roberts - The MacGregor Brides hadiah dari Ibutio :D
  • Walking down the memory lane. Noddy series. Kebeneran dapet beberapa buku ini hasil nitip Tante Dewi waktu beliau liburan di India. 


#2 Young Adult Reading Challenge

http://teatimeandbook.blogspot.com/2014/01/young-adult-reading-challenge-2014.html
~image linked to the source~
Kebetulan, syaratnya nggak ribet selain cuma baca buku bergenre Young Adult aja. Alasan Bunda ikut ini juga memang karena pengen mengurangi timbunan buku-buku bergenre Young Adult.
Meski di bawah ini bukan daftar mutlak karena pasti berubah di tengah jalan, minimal ada acuan Bunda mau baca apa aja:
  • The Hunger Games Series
  • Delirium Series
  • Shatter Me Series
  • Divergent Series
  • Beberapa karya Rainbow Rowell, Gayle Forman dan Elizabeth Eulberg
  • Masih ada beberapa judul. Liyat aja gimana nanti di wrap-up post. hihihi

#3 Indonesian Romance Reading Challenge 2014

http://kubikelromance.blogspot.com/2013/12/update-indonesian-romance-reading.html
~image linked to the source~

Di challenge ini, syaratnya cuma baca romance-nya Indonesia. Di sana ada beberapa level yang bisa diikuti. Sepertinya, Bunda akan coba level First Date dulu, yang syaratnya baca 6-10 buku. Mudah-mudahan naik level saking asiknya ^^a

#4 Blogger Buku Indonesia Review Challenge



Sebagai awak BBI, Bunda merasa harus ikut challenge ini walau mungkin level terbawah. Syaratnya ya bikin review sampai jumlah tertentu. Gunanya menantang diri sendiri, sekaligus mengingatkan bahwa produksi review meski sedikit jauh lebih baik daripada nggak sama sekali :D

Untuk itu, Bunda mau ikut mencoba bikin 45 review. Keliatannya sih gampang. Tapi buktinya, tahun lalu, review Bunda ga sampai 30 :D

Meski semua challenge di atas berhadiah, tujuan utama Bunda ikut challenge ini bukan untuk hadiah. Tapi mengurangi timbunan yang bertumpuk di rumah. Cuma, kayaknya, kalo ikut RC Tante Sulis itu cari penyakit. Sebab, Bunda nggak banyak punya buku Indonesian Romance :D

Oke. Doakan Bunda sukses mengurangi timbunan supaya Bunda bisa bertanggung jawab terhadap semua timbunan buku di rumah pada Allah kelak. Tanggung jawab dalam bentuk mereviewnya. Sebenernya, kayaknya ada satu challenge yang mau Bunda ikuti terkait dengan mengurangi timbunan, sih. We'll see. Liyat rulesnya dulu, deh. Belum sempet nengokin. Hihi :D


Salaam. Cheers! Love you both,




Terusin baca - Master Post Rapel 4 Reading Challenge