Tampilkan postingan dengan label Pastel Books. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pastel Books. Tampilkan semua postingan

7 Mar 2016

Dilan #2 - Dia adalah Dilanku di tahun 1991


Judul: Dilan #2 - Dia adalah Dilanku di tahun 1991
Penulis: Pidi Baiq
Ilustrasi sampul dan isi: Pidi Baiq
Penyunting naskah: Andika dan Moemoe
Penyunting ilustrasi: Pidi Baiq
Desain sampul: Kulniya Sally
Proofreader: Febti Sribagusdadi Rahayu
Layout sampul dan setting isi: Tim Pracetak dan Deni Sopian
Cetakan VII, Shafar 1437H/Desember 2015
Diterbitkan oleh Pastel Books
Jumlah halaman: 344 hlm; 20,5 cm
ISBN: 978- 602-7870-99-4
Genre: Romance, Indonesian Literature, Young Adult, Comedy
Status: Punya, dikasi tante Retno Dewi Lestari



"Jika aku berkata bahwa aku mencintainya, maka itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap."
-- Milea

"Senakal-nakalnya anak geng motor, Lia, mereka shalat pada waktu ujian praktek Agama."
-- Dilan


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Astaga... udah sebulan aja berlalu sejak terakhir nulis review... Yah, progres baca Bunda sebenernya banyak, tapi belum ada satu buku lagi yang tuntas... Hahaha... Sekalinya ada yang tuntas, Bunda nggak sempet nulis karena lagi banyak banget "work-in-progress" xD

Jadi, daripada kena priwit Divisi Membership BBI, Bunda harus posting bulan ini, yah... *dikeplak tante Ren*

Hmmm... Dilan kedua ini agak berbeda dengan Dilan pertama. Menurut Bunda suasananya agak lebih suram, jadi pas bacanya, rasanya nggak seberbunga-bunga sewaktu baca yang pertama. Kurang lebih ceritanya begini...

Jadi, di buku kedua kan emang Milea itu udah jadian dengan Dilan, tapi kebersamaan mereka lebih sedikit dibanding sewaktu di buku kedua. Mungkin salah satunya karena Dilan lebih sibuk membalaskan dendam. Parahnya lagi, Dilan bahkan sampai masuk penjara dan dikeluarkan dari sekolahnya... Jadi, dia nggak satu sekolah lagi dengan Milea.

Terus terang, karena segala kesuraman yang ada, Bunda jadi sempat malas meneruskan baca buku ini. Bunda jadi nggak simpati pada Milea. Tapi kalo Bunda turunin rating buku ini, kasian penulisnya. Hihihi... Penulis kan ga bisa terus-terusan memenuhi keinginan pembacanya. Mungkin penulis ingin menuturkan kisah anti mainstream, walau reaksi kebanyakan pembaca adalah nggak suka dengan ending cerita buku kedua ini...

Apakah Bunda Dilan masih jadi favorit Bunda? YA DONG!

Eh, eh... Walau sedih, nih, ada sedikit spoiler yang bisa Bunda bagi... semoga kalian tetap tersenyum membacanya ya...

"Tau gak, pas pelajaran Ibu Dewi lagi, Dilan bawa obat nyamuk," lanjut Piyan sambil senyum.
"Buat apa?"
"Obat nyamuknya, dia nyalain," jawab Piyan senyum bagai sedang nahan ketawa. "Yang tau cuma Piyan sama si Bambang."
"Terus?" kataku.
"Terus, obat nyamuknya disimpen di bawah mejanya," jawab Piyan.
"Di bawah mejanya sendiri?" tanya Wati dengan wajah sedikit bingung.
"Iya. Di atas obat nyamuknya disimpen petasan," jawab Piyan tersenyum. "Kan, apinya ngerembet, tuh, jadi pas kena petasan langsung meledak!"
"Hahahaha...," Wati ketawa. "Ngapaiiiin?" tanyanya kayak orang yang kesel karena melihat orang melakukan perbuatan yang tidak jelas.
"Sekelas gempar tau gak?" kata Piyan ketawa.
"Terus?" kutanya sambil senyum.
"Iya. Terus, Dilan kayak yang lemes gitu," jawab Piyan.
"Lho? Kan, dia yang nyalain?" tanya Wati.
"Iya. Dia bilang ke Bu Dewi, katanya bukan cuma dia yang biang kerok di kelas. Katanya, dia juga jadi korban."

Gimana? Kalian bisa ketawa baca adegan ini? xD Ini memorable abis! Bunda tergelak dan ngebayangin situasinya kayak apa... Hihihi... Masih ngakak setiap inget ini lho...

Masih banyak adegan yang bikin tergelak, kok, jadi walau Bunda kasih sedikit spoiler, tenang aja, nggak akan kehabisan bahan untuk tertawa, kok...

Review Bunda garing, yah... Abisnya, Bunda kesel abis sama buku kedua ini... jadi... kalian lah yang memutuskan apakah sepakat dengan Bunda atau tidak untuk urusan sebal pada Milea xD

Cheers! Love you both, xoxo




Terusin baca - Dilan #2 - Dia adalah Dilanku di tahun 1991

Dilan - Dia adalah Dilanku Tahun 1990 by Pidi Baiq


Judul: Dilan ~ dia adalah Dilanku tahun 1990
Penulis: Pidi Baiq
Ilustrasi sampul dan isi: Pidi Baiq
Penyunting naskah: Moemoe dan Huda Wahid
Penyunting ilustrasi: Pidi Baiq
Desain sampul: Kulniya Sally
Proofreader: Febti Sribagusdadi Rahayu
Layout sampul dan seting isi: Tim Artistik dan Deni Sopian
Diterbitkan oleh: Pastel Books ~ DAR Mizan
Cetakan III, Juni 2014
ISBN: 978-602-7870-41-3
Jumlah halaman: 332 halaman, 20.5 cm
Genre: Romance, Indonesian Literature, Young Adult, Comedy
Status: Punya, beli sendiri

"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja" (Dilan 1990)

"Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang." (Dilan 1990)

"Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli." (Milea 1990)


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Ya ampun... ini sudah ada dalam drafts sejak dua tahun lalu dan belum Bunda lanjutkan! *tepok jidat*

Jujur aja, udah agak-agak lupa, sama ceritanya... Tapi okelah, Bunda coba ceritakan ulang sedikit, yang Bunda ingat...

Ada seorang remaja lelaki bernama Dilan, yang jatuh hati pada seorang Milea Adnan Husein, anak baru pindahan dari Jakarta. "Kesamaan" yang dimiliki oleh Milea dan Dilan adalah sama-sama anak tentara. Dilan sebenernya anak geng motor, suka berkelahi, tipikal anak laki-laki yang sering dipanggil guru BP. Tapi dia agak "melunak" ketika mulai suka pada Milea.

Milea sendiri standar anak perempuan baik-baik yang nggak suka pada perkelahian dan kekerasan gitu. Jadi, kalo misalnya Dilan mendekati Milea pake standar ala-ala anak geng motor dengan gaya sok kece, sepertinya Milea nggak akan mau.

Cara Dilan mendekati Milea termasuk unik. Di malam perkenalannya, Dilan datang ke rumah Milea, mengaku sebagai Utusan Kantin, ketika berkenalan dengan ayah Milea. Hihihi. Lalu, Dilan kerap mengirimkan coklat pada Milea, titip pada tukang koran atau tukang apa aja yang pasti lewat rumah Milea. Nggak hanya itu, Dilan memberikan hadiah ulang tahun pada Milea berupa TTS yang semuanya sudah diisi, karena Dilan nggak mau Milea pusing saat mengisi TTS. Wahahaha...

Sikap Dilan yang begitu ingin melindungi Milea dan menghindarinya dari kesedihan menggugah siapa saja yang membaca. Dilan juga punya sahabat yang selalu bersamanya, Piyan, yang tak lain pacar sepupunya, Wati. 

Dari kesemua karakter yang ada di cerita Dilan ini, selain Dilan, Bunda suka banget dengan "Bunda". Nah, lho, bingung, ya, ada dua subject "Bunda" di sini. To make it easier, Bunda akan kasih keterangan Bunda Dilan biar ga bingung. Hihihi...

Bunda Dilan menurut Bunda adalah sosok keren. Dia adalah ibu hebat yang selalu mendukung anaknya, bahkan dia juga bisa akrab dengan Milea. Hey! Bunda jadi kepikiran... Kalo ntar kalian punya pacar, Bunda bisa nggak, ya, kayak Bunda Dilan yang akrab dan sayang banget dengan Milea? xD

Di balik kekerenan Dilan, dia tetap si "anak nakal" yang nggak segan-segan akan memulai perkelahian jika ada yang mengganggu Milea atau ketentraman hidup keluarga atau sahabatnya. Maka, di sini juga ada cerita tentang perkelahian antar geng motor gitu. Sigh...

Senangnya baca buku ini, ngakak-ngakak nggak jelas, walau  saat itu sedang ada di angkot. Ceritanya, dalam perjalanan pulang dari kantor, hari itu hujan deras dan menjelang maghrib, di suatu sore bulan Ramadhan. Bunda sudah berangkat dari selepas Ashar, nggak bawa makanan buat batalin puasa pas Maghrib, karena Bunda pikir bakalan sampai rumah sebelum Maghrib.

Ternyata dugaan Bunda salah.
Terjebak di jalanan berjam-jam, cuma ditemani buku Dilan. Akhirnya Bunda menyiksa diri dengan membaca Dilan walau jadinya ngakak-ngakak sendiri, diliatin orang seangkot. Bodo amat. Hihihi.. Walau telat banget berbuka puasa (udah lewat Isya' baru bisa buka puasa) tapi hati senang karena menikmati cerita Dilan.

Terlepas dari kisah romantisme Dilan yang nggak standar ini, Bunda jadi teringat papa kalian yang juga romantis dengan caranya sendiri. Bunda cerita di sini, sih. Kalian baca sendiri aja, ya... Hehehe...

Bunda jadi penasaran dengan kisah selanjutnya (kalo ada...)

Cheers! Love you both, xoxo



Terusin baca - Dilan - Dia adalah Dilanku Tahun 1990 by Pidi Baiq