Tampilkan postingan dengan label Indonesian Literature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesian Literature. Tampilkan semua postingan

13 Jun 2023

[2023: Book 11] Membaca Lambang - Acep Zamzam Noor

Judul: Membaca Lambang 
Penulis: Acep Zamzam Noor 
Ilustrasi sampul dan isi: sukutangan
Cetakan pertama, Oktober 2018
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 96 hlm; 20 cm
ISBN: 978- 602-06-1396-3
Genre: Indonesian Literature, Puisi, Poetry
Status: Beli di gramedia dot com pas ada sale gede-gedean
Dibaca: 22 Februari 2023

Di muara kudengar langkah waktu sayup-sayup sampai
Rumpun bakau menjelma ruang yang memantulkan gema
Ketika angin kemarau berkejaran dengan gulungan ombak
Di pantai. Aku tertinggal jauh di luar batas kesementaraan

Sekalipun yang tampak di hadapan tinggal kabut semata
Tentu ada yang masih bisa diteroka. Aku membaca lambang
Merenungi bagaimana langit merendah dan bumi meninggi
Namun bukan sedang mengulurkan benang basah ke udara

Pengembaraan adalah detik-detik yang mengalir dari gunung
Diteruskan sungai ke muara. Sedang penghayatan ibarat pasir
Yang butir-butir halusnya mengembara ke tengah samudra

Pelan-pelan aku menyaksikan senja berubah menjadi panggung
Sebuah resital cahaya mulai dipentaskan cakrawala. Di kejauhan
Gugusan pulau menggelepar-gelepar bagaikan para penari latar
 

Hai, Kakak Ilman dan Kakak Zi...

Ini bukan buku puisi pertama yang aku baca. Tapi ini buku puisi pertama karya Acep Zamzam Noor yang aku baca. Aku kesulitan buat mencernanya. Entah otak aku yang nggak nyampe atau memang tidak terbiasa dengan pemilihan kata-katanya. 

Menurutku, gaya puisi Acep Zamzam Noor ini kayak tumpah gitu. Kata-katanya memburu, tipikal yang kalo dibaca dalam satu kali nafas, ngos-ngosan kitanya. Bisa jadi karena gaya menulisnya seperti itu, aku jadi kayak tersesat. Boleh jadi, cara bacaku yang salah. Karena... 

Ketika aku baca ulang dengan pelan-pelan, aku udah nggak ngos-ngosan lagi. Pelan-pelan bisa menikmati setiap barisnya. Rasanya seperti berkeliling Indonesia, karena setiap judul mewakili tempat yang berbeda di Indonesia.


Adakah puisi favoritku di buku ini? Kayaknya nggak ada selain puisi yang berjudul Membaca Lambang, seperti yang dimunculkan di bagian blurb. Tapi itu juga bukan puisi favorit, sih. Setidaknya itu puisi paling netral yang ada di buku ini. Buatku, mayoritas puisi di buku ini mencerminkan kesedihan, kedukaan, dan sejenisnya. Karena emosiku mudah terpengaruh, jadinya sulit untuk bisa datar menyikapi setiap pesan yang ada di puisi ini. Dan aku nggak suka puisi yang mencerminkan luka. 

Bukan tempatku untuk bilang puisi-puisi di buku ini bagus atau nggak, karena semua masalah selera. Hanya saja, selain pilihan kata-kata yang memburu dan cerminan kesedihan yang bertebaran di hampir semua puisi di buku ini bikin aku jadi over thinking untuk banyak hal, aku suka pemilihan tema yang menggunakan tempat-tempat di Indonesia yang aku bahkan banyak belum dengar. Misalnya saja Sungai Walennae, Celukanbawang, dan masih banyak lagi. 


Walau aku bukan penikmat puisi, sesekali aku menyukai baca puisi. Aku jadi inget masa-masa sekolahku dulu. Jadi, waktu aku SD dan SMP tuh, ada teman sekelasku yang ekspresif banget kalo mendeklamasikan puisi. Pasti menghentak-hentak. Bahkan temen SMP tuh sering ikut lomba deklamasi puisi dan kalo ada pelajaran tentang puisi, dia pasti disuruh mendemokan deklamasi puisinya. Jadi, yang keinget di kepalaku adalah: baca puisi itu harus selalu lantang dan teriak-teriak. Yah, dimaklum aja, aku ga punya referensi lain soal mendeklamasikan puisi, mengingat orang tuaku miskin literasi soal puisi. They do not like poet.

Kayaknya itu sih yang bikin aku kurang menyukai puisi, karena di kepalaku, baca puisi itu harus menghentak-hentak. Gandeng tau! Hahahah...


Tapi belakangan aku jadi suka puisi gara-gara temanku yang ngefans banget sama Benedict Cumberbatch ngepost saat dia baca puisi. Tenaaaaang banget. Dan dia jugalah yang bikin aku mulai cari-cari puisi dan mulai baca puisi. Salah satunya di sini:


Gimana menurut kalian? Waktu aku rekam itu, aku belum ngerti caranya mixing puisi pake lagu. Tapi jadinya konsentrasinya hanya ke puisi, kan? 




Aku baca buku ini untuk ikut tantangan:
- Gooodreads Reading Challenge 2023
- Babat Timbunan 2023 Joglosemar
- Tantangan Membaca BBBBC 2023


Stay healthy, love you both always... xoxo
    
Terusin baca - [2023: Book 11] Membaca Lambang - Acep Zamzam Noor

12 Jun 2023

[2023: Book 10] Bijak Ala Dalai Lama Berani Ala Nelson Mandela - Dion Yulianto

 

Judul: Bijak Ala Dalai Lama Berani Ala Nelson Mandela
Penulis: Dion Yulianto
Editor: Ayuniverse
Tata sampul: Ferdika
Tata Isi: Vitrya
Pracetak: Wardi
Cetakan pertama, 2021
Diterbitkan oleh Penerbit Laksana
Jumlah halaman: 156 hlm; 14x20 cm
ISBN: 978- 623-327-106-6
Genre: Non Fiction, Self Improvement, Indonesian Literature
Status: Beli lewat penulisnya 
Dibaca: 13 Februari 2023 - 20 Februari 2023


Dalai Lama adalah seorang biksu rendah hati pejuang kemerdekaan Tibet lewat jalur damai. Posisinya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi secara spiritual maupun politis hingga 2010 tidak menjadikannya tinggi hati.

Sedangkan Nelson Mandela adalah pejuang pembebasan dari Afrika Selatan. Selama lebih dari 40 tahun, ia berjuang tidak kenal lelah untuk menghapus sistem apartheid yang mendiskriminasi warga kulit hitam.

Lewat buku ini, Anda dapat menapaktilasi perjuangan dua tokoh besar tersebut. Dari Dalai Lama, Anda bisa belajar tentang kebijaksanaan hidup. Sedangkan dari Nelson Mandela, Anda akan termotivasi oleh keberaniannya yang tak terpatahkan.

Selamat membaca! Jadilah bijak dan berani seperti mereka.


Hai, Kakak Ilman dan Kakak Zi...
Ketemu lagi di tulisan aku yang ke-11 di blog ini. Ini buku non fiksi ke-3 yang aku baca tahun ini. Buku ini tulisannya om Dion. Aku belinya udah lama, deh, kayaknya pas bukunya baru rilis. Tentu aku beli lewat om Dion. Tapi aku lupa minta tanda tangan om Dion. hahaha. Aduh!

Kalo kalian bertanya-tanya, kenapa aku nggak minta buntelan aja ke om Dion, secara om Dion temen aku... well, this is my answer: aku nggak suka minta buntelan. Aku nerima buntelan hanya kalo penulisnya memang mau ngasih. Tapi kalo dia jual, ya aku beli. Supporting friends is just like that. 


Oke, sekarang kita bahas bukunya, ya...

Seperti yang dibahas di sinopsisnya, buku ini mengungkapkan bagaimana bijaknya seorang Dalai Lama dan beraninya seorang Nelson Mandela. 

Di buku ini ditulis bahwa Dalai Lama itu orangnya sangat sabar. Sebagai penganut Budha yang memang kesabaran dan ketenangan adalah inti ajarannya, Dalai Lama menjunjung tinggi ketenangan terutama dalam menghadapi masalah. Dibahas juga tentang bagaimana cara Dalai Lama menyelesaikan masalah kenegaraan yang pelik. Gimana dia harus menyingkir dulu sambil menyusun strategi tanpa menimbulkan peperangan. Karena di setiap peperangan yang terjadi selalu ada korban. Dan adanya korban itu bukan hal yang menyenangkan yang harus dilalui. Kalo bisa lewat cara damai, kenapa tidak?


Begitu juga dengan kisah Nelson Mandela yang berjuang melawan Apartheid (sistem pemisahan ras yang ditetapkan oleh pemerintah kulit putih di Afrika Selatan yang dimulai di sektitar awal abad ke-20 sampai tahun 1990). Berkali-kali Nelson Mandela dijebloskan ke penjara karena usahanya untuk melawan sistem yang membedakan ras kulit hitam dan kulit putih. Baginya, manusia semua sama, terserah warna kulitnya apa, bentuk hidungnya apa, punya hak yang sama. Jadi, seorang manusia berkulit putih nggak berarti lebih istimewa dibanding manusia berkulit hitam. Tuhan menciptakan kita beragam tapi dengan tujuan yang sama. Jadi ide pemisahan ras dengan mengistimewakan orang kulit putih di Afrika Selatan yang jelas-jelas bukan tuan rumah itu ya penghinaan banget bagi bangsa Afrika Selatan. Dan karena Nelson Mandela adalah orang yang menempuh pendidikan tinggi, itulah yang dia perjuangkan bagi bangsanya. Aku rasa, bangsa Afrika Selatan sekarang bersyukur karena sistem Apartheid sudah dihapuskan, salah satunya berkat keberanian Nelson Mandela dalam memperjuangkannya, walau nyawa taruhannya. 


Udah jelas lah ya, om Dion ngajak pembacanya untuk sama-sama jadi orang yang bijak dan cinta damai kayak Dalai Lama, sekaligus jadi pemberani kayak Nelson Mandela, belajar lewat kisah hidup mereka. Di buku ini, referensi penulis untuk Dalai Lama cukup banyak, terlihat dari daftar pustakanya memuat beberapa buku tentang Dalai Lama, begitu juga di footnote. Sayangnya, referensi tentang Nelson Mandela justru tidak diambil dari buku tertentu, melainkan dari internet atau koran. Aku ga paham juga apakah referensi biografi tentang Nelson Mandela yang memang sedikit atau nggak ada, tapi untuk menulis buku, sebaiknya referensi biografi seseorang diambil dari buku tentang biografi orang tersebut kali ya.  

Dan satu lagi, aku melihat karena kurangnya referensi inilah, pengulangan kalimat banyak terjadi di sekian bab. Misalnya sudah diceritakan di bab 1, diceritakan lagi di bab 2, ketemu lagi di bab 3, dan seterusnya. Kalo dapat editor kejam, lima bab bisa dipangkas jadi dua bab aja karena pengulangan materi yang terus menerus, meski kalimatnya berbeda. Aku nggak tahu apakah pengulangan simultan ini bertujuan untuk mengingatkan beraninya Nelson Mandela atau memang karena ada target minimal halaman. 

Bukan berarti di bagian Dalai Lama nggak ada pengulangan, hanya saja, pengulangan di bagian Nelson Mandela ini terlalu intens buatku. Jadi rasanya aku ga selesai-selesai baca bukunya. Sayang aja, sih, karena idenya bagus banget. Cuma eksekusinya agak-agak kendor kalo menurutku, karena bagian referensi masih kurang banyak. Tentu saja aku sangat tahu kalo penulis adalah pelahap buku. Tapi ini semua nggak membuat kenikmatan baca berkurang atau hilang sama sekali. Hanya saja kalo kamu terganggu dengan pengulangan yang terlalu intens, hal ini akan terasa betul.

Mudah-mudahan ke depannya, kalo bikin buku tentang tokoh besar seperti kedua orang ini, penulis bisa memperkaya referensi melalui buku biografi yang reliable. Aku nggak bilang artikel koran nggak reliable, lho, hanya saja rasanya kurang "dalem" jadinya informasinya. Sayang sekali.


Aku menyelesaikan baca buku ini untuk memenuhi tantangan:
- Goodreads Challenge 2023
- Tantangan Membaca Satu Bulan Satu NonFiksi MissFioree 2023
- Joglosemar Babat Timbunan 2023
- BBBBC Reading Challenge 2023

Stay healthy, both of you! xoxo
Terusin baca - [2023: Book 10] Bijak Ala Dalai Lama Berani Ala Nelson Mandela - Dion Yulianto

30 Jan 2023

[2023 ~ Book 4] Bausastra Lelembut - Lentera Nusantara

 


Judul: Bausastra Lelembut  
Penulis: Tim Lentera Nusantara 
Editor in Chief: Azizah Assattari
Contributors: Lingga Krisnadi a.k.a Aya Rinka, Wahyu Agung Pramudito
Art Director: Anindyo Wishnu Wibowo
Illustrator: Agung Syaeful Anwar 
Design and Layout: Aziz Dwi Septori
Project Administrator: Ryan Sandria R, Ananda Elivia K 
Cetakan pertama, 2019
Diterbitkan oleh PT Gramedia, Jakarta
Jumlah halaman: 184 hlm
ISBN: 978-623-00-0913-6
Genre: Non Fiction, Reference, Indonesian Literature, Asian Literature, Asian,  
Status: Beli lewat Bude Truly Rudiono, pas ada diskon gede-gedean GM kalo ga salah harus beli minimal 1,5juta dulu. Jadi ini patungan sama bude Truly beli apa gitu, biar kekumpul 1,5 juta


Apakah kamu takut hantu?

Hantu telah bersama kita sejak awal. Berabad-abad dalam cerita rakyat, literatur, dan mipi kita. Sebagai negara multikultural dengan ribuan kisah dan dongeng tentang roh dan makhluk ajaib, masyarakat Indonesia menghayati budaya mistis dalam kehidupan mereka. Setiap daerah di Nusantara memiliki karakter hantu sendiri yang terkait dengan budaya lokal.

Bausastra Lelembut adalah bahasa Nusantara kuno yang berarti Ensiklopedia Hantu. Ini adalah eksplorasi yang mencerahkan dan terkadang lucu dari kepribadian untuk hantu-hantu yang mewarnai kehidupan di Indonesia. Penjelasan, informasi yang bagus, dan dongeng lokal yang diberikan memungkinkan pembaca untuk menemukan perbedaan di antara hantu-hantu dan roh-roh. Terdapat seratus spesies hantu dan roh yang dideskripsikan dengan detail melalui klasifikasi tersegmentasi.

Panduan komprehensif dan kaya ilustrasi tentang dunia hantu di Nusantara dari pengembang game "Ghost Parade" ini adlah hasil dari penelitian selama bertahun-tahun seiring perkembangan game-nya. Ia menjelajahi pemahaman tentang siapakah hantu itu dan mengapa mereka menghantui, secara visual dan historis. Dari halaman pertama hingga terakhir, taksonomi hantu dipaparkan. 

Buku ini menyorot beragam jenis hantu dan arwah lain dari warisan Nusantara. Dengan ilustrasi yang menarik dan penjelasan singkat, "Bausastra Lelembut" mengajak pembaca untuk berkenalan dengan berbagai roh Nusantara. Jelajahi dunia hantu yang misterius. Ketahui latar belakang mereka. Baca kisah mereka. Mengungkap rahasia mereka dan temukan bahwa hantu lebih dari sekadar pamali seram untuk anak-anak. 
Halo, Kakak Ilman dan Zi...

Buku ini udah lama dibelinya. Eh tahun lalu, sih. Pokoknya pas GM suatu cabang di Jakarta lagi ngadain diskon besar-besaran (kalo nggak salah 90%) dengan syarat harus beli minimal sekian juta rupiah. Sebenernya ga kepikiran ikutan hype-nya, karena...
Pertama, harus ke Jakarta
Kedua, harus punya duid banyak 
Ketiga, belum ada daftar belanja lagi (awalnya) 
Keempat, ternyata nggak semua buku yang didiskon dan itu TIDAK DISEBUTKAN DI IKLAN. HAHAHAHAHA. 

Poin keempat ini aku kemudian tahu pas akhirnya aku diajak bude Truly buat nge-jastip ke om Jun, kalo ga salah. Tapi aku titipnya sama bude Truly. Ada sekitar 10 judul yang aku ajukan ke bude Truly dan.... ZONK. Kesepuluh judul yang aku titip itu ga diskon. HUAHAHAHAHAHAHA 

Aku sama bude Truly ngakak-ngakak. Karena kami bertiga (aku, bude Truly, dan om Dion) udah masukin sejumlah judul yang emang jadi wishlist dan ga ada satupun dari judul yang kami buat daftarnya ada dalam daftar diskon.

Tapi... berhubung om Jun udah ada di lokasi dan kasian juga kalo ga jadi belanja-belanja... akhirnya, kami memutuskan untuk beli apa yang ada. Salah satunya buku Bausastra Lelembut ini. Bude Truly beli dua, duanyanya ada di aku. Hihi

Yang satu aku pinjem dari Bude Truly, berikut buku-buku pinjaman lainnya. Satunya akhirnya kubeli. Itupun lewat om Dion belinya. Bingung? Sama. Pokoknya gitu, deh... Intinya kedua fisik buku ini ada di aku. Satu punyaku yang kubeli dari Bude Truly lewat om Dion, satunya pinjem punya Bude Truly. Hiahahahaha... mumet-mumet, deh... ^_^


Tadinya mau dibaca bulan Oktober 2022, biar ada bau-bau Halloween. Cuma kayaknya karena sedang baca buku yang lain, jadi kelupaan soal mau baca ini. Berhubung pas tahun baru sempet terkapar dan ga bisa bangkit dari bed, kebetulan buku ini terjangkau tanganku biar ga usah bangun-bangun gitu. Jadi dalam sehari udah kelar aja baca buku ini.

Baca Bausastra Lelembut ini bikin jadi tahu nama-nama roh dan arwah yang dipercaya hidup di Indonesia. Semua karakter hantu, arwah, roh, dan apapun itu namanya, digambarkan dengan imut, meski sebagian besar deskripsinya hampir semua tampaknya mereka itu nggak berguna selain "mengganggu" manusia.  

Ada, nih, hantu yang bikin aku ngeri bayanginnya. Salah satunya adalah "hantu pringis". Jadi katanya bentuknya itu kayak kelapa. Suka tiba-tiba jatuh dan menggelinding gitu. Masalahnya adalah... kalo dia menggelinding kan mukanya jadi keliatan ya... Kalo pas lagi menghadap ke arah kita kebetulan mukanya... dia bakalan nyengir ke kita... HIIII... bayangin aja ada kelapa punya wajah... terus pringas pringis (nyengir) ke kita...

Aku baru tahu kalo kuntilanak itu ga cuma yang pake baju putih aja. Tapi juga pake baju merah, namanya Kuntilanak Merah. Perbedaan antara Kuntilanak (berbaju putih) dengan Kuntilanak Merah adalah: kalo Kuntilanak itu adalah hantu seorang perempuan hamil yang meninggal sebelum anaknya lahir. Dia jadi gentayangan karena sedih ga bisa melahirkan. Sementara Kuntilanak Merah itu konon adalah arwah seorang perempuan yang meninggal ketika melahirkan dan membawa potongan-potongan kenangan ketika dia masih hidup. Jadi, semakin sedih atau marah dirinya, bakalan semakin merah warna bajunya. Fungsi keduanya apa? Nggak ada gunanya sih. Hihi...

Kuntilanak
 
Kuntilanak Merah


Salah satu makhluk gaib yang ada gunanya disebut di sini tuh namanya Jurig Orowodol yang konon dulu dipelihara petani untuk menjaga kebun buah dari tangan-tangan jahil. Jadi inget, di grup Perang Makanan, istilah "orowodol" adalah campuran sisa-sisa makanan yang dihangatkan lagi (biasanya sisa makanan lebaran). Yang sering bikin "orowodol" itu Yangti, sewaktu kami masih kecil. Seiring bertambahnya usia dan jumlah kita udah tambah banyak, udah ga ada lagi yang namanya "orowodol" di rumah Yangti saat lebaran. Di hari kedua udah tandas semua masakannya. Lah.. dari ngomongin jurig jadi makanan, ya... hahaha...

Ada juga siluman yang baik hati karena suka menggembala ternak atau bahkan mengantar manusia yang tersesat, namanya Siluman Kambe', penampakannya mirip-mirip Firenze kalo di dunianya Harry Potter. Kepalanya manusia, berwajah manusia, tapi punya tanduk, kaki dan badannya berbentuk tubuh kambing. Centaur versi kambing, lah, ya... 

Siluman Kambe'


Di sini diceritain juga hantu legendaris SMA Negeri 3 Bandung: Nancy. Cewek bangsawan Belanda yang meninggal karena nggak bisa hidup bersama pujaan hatinya dan konon sering ada penampakannya di sekolah ini. Tapi temen-temenku yang bersekolah di sini bilang, sih, mereka belum pernah lihat ada penampakan Nancy sama sekali selama tiga tahun mereka bersekolah di sana. Mungkin beda jam piket kali ya...
Nancy

Sebenernya apa manfaat aku baca buku ini? Nggak ada, sih. Cuma seru juga, ternyata ada banyak "makhluk gaib" di Indonesia (yang aku yakin mungkin di buku ini belum semua disebutkan) dan semuanya punya nama-nama juga karakter yang unik. Kalo dijadiin karakter game dan buku sih emang seru. Bahkan bisa digambar seimut iniii... Tapi kalo harus ketemu mereka... aku NO. Tidak. Terima kasih. Ketemu manusia normal aja adaaaa aja yang bikin gedeg. Apalagi ini! 
Aku suka buku ini karena ngasih banyak info dan yang pasti ilustrasinya menyenangkan mata karena meski deskripsinya kebanyakan serem, karakternya digambarkan dengan imut ga tertahankan... Kalo penampakannya beneran seimut itu tentu makhluk-makhluk gaib ini jatuhnya nggak menyeramkan, dong... ^^

Aku beli buku ini seharga 10rebu ditambah ongkir (soalnya kan dikirim dari Jakarta ke Yogyes lalu dari Yogyes dikirim ke Bandung). Kalo nggak salah harga aslinya 90rebu gitu. Mahal? Iya! Lux banget kertasnya. Dicetak di kertas mengilap. Mewah banget dan khas banget ensiklopedia gitu, deh. Meski bukunya tipis, buku ini berat. Mungkin karena faktor kertasnya yang mengilap ini. Aku nggak menyesal beli buku ini (yaiyalah, pas dapet diskon murah banget -____-') Seandainya udah tahu buku ini dari dulu, mungkin kubeli juga, mengingat kertasnya yang bagus. Tapi keknya bakalan nangis kejer kalo tahu kemudian harganya terjun bebas kali, ya... Udah rezekinya dapet buku bagus dan murah xD   
Oke, segini dulu ceritaku bersama Bausastra Lelembut ini.. Aku sama Zi sempet diskusi beberapa halaman tentang buku ini. Kayaknya waktu itu kita bahas tentang Kuntilanak deh, ya... Zi kan selalu tertarik sama yang viral...

Buku ini dibaca untuk memenuhi 
- Goodreads Challenge 2023
- BBI Joglosemar Babat Timbunan 2023
- BBBBC Reading Challenge 2023
- Satu Bulan Satu NonFiksi Reading Challenge 2023


Sampai ketemu di posting berikutnya, ya... Love you both, xoxo 💋








  

Terusin baca - [2023 ~ Book 4] Bausastra Lelembut - Lentera Nusantara

7 Mar 2016

Dilan #2 - Dia adalah Dilanku di tahun 1991


Judul: Dilan #2 - Dia adalah Dilanku di tahun 1991
Penulis: Pidi Baiq
Ilustrasi sampul dan isi: Pidi Baiq
Penyunting naskah: Andika dan Moemoe
Penyunting ilustrasi: Pidi Baiq
Desain sampul: Kulniya Sally
Proofreader: Febti Sribagusdadi Rahayu
Layout sampul dan setting isi: Tim Pracetak dan Deni Sopian
Cetakan VII, Shafar 1437H/Desember 2015
Diterbitkan oleh Pastel Books
Jumlah halaman: 344 hlm; 20,5 cm
ISBN: 978- 602-7870-99-4
Genre: Romance, Indonesian Literature, Young Adult, Comedy
Status: Punya, dikasi tante Retno Dewi Lestari



"Jika aku berkata bahwa aku mencintainya, maka itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap."
-- Milea

"Senakal-nakalnya anak geng motor, Lia, mereka shalat pada waktu ujian praktek Agama."
-- Dilan


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Astaga... udah sebulan aja berlalu sejak terakhir nulis review... Yah, progres baca Bunda sebenernya banyak, tapi belum ada satu buku lagi yang tuntas... Hahaha... Sekalinya ada yang tuntas, Bunda nggak sempet nulis karena lagi banyak banget "work-in-progress" xD

Jadi, daripada kena priwit Divisi Membership BBI, Bunda harus posting bulan ini, yah... *dikeplak tante Ren*

Hmmm... Dilan kedua ini agak berbeda dengan Dilan pertama. Menurut Bunda suasananya agak lebih suram, jadi pas bacanya, rasanya nggak seberbunga-bunga sewaktu baca yang pertama. Kurang lebih ceritanya begini...

Jadi, di buku kedua kan emang Milea itu udah jadian dengan Dilan, tapi kebersamaan mereka lebih sedikit dibanding sewaktu di buku kedua. Mungkin salah satunya karena Dilan lebih sibuk membalaskan dendam. Parahnya lagi, Dilan bahkan sampai masuk penjara dan dikeluarkan dari sekolahnya... Jadi, dia nggak satu sekolah lagi dengan Milea.

Terus terang, karena segala kesuraman yang ada, Bunda jadi sempat malas meneruskan baca buku ini. Bunda jadi nggak simpati pada Milea. Tapi kalo Bunda turunin rating buku ini, kasian penulisnya. Hihihi... Penulis kan ga bisa terus-terusan memenuhi keinginan pembacanya. Mungkin penulis ingin menuturkan kisah anti mainstream, walau reaksi kebanyakan pembaca adalah nggak suka dengan ending cerita buku kedua ini...

Apakah Bunda Dilan masih jadi favorit Bunda? YA DONG!

Eh, eh... Walau sedih, nih, ada sedikit spoiler yang bisa Bunda bagi... semoga kalian tetap tersenyum membacanya ya...

"Tau gak, pas pelajaran Ibu Dewi lagi, Dilan bawa obat nyamuk," lanjut Piyan sambil senyum.
"Buat apa?"
"Obat nyamuknya, dia nyalain," jawab Piyan senyum bagai sedang nahan ketawa. "Yang tau cuma Piyan sama si Bambang."
"Terus?" kataku.
"Terus, obat nyamuknya disimpen di bawah mejanya," jawab Piyan.
"Di bawah mejanya sendiri?" tanya Wati dengan wajah sedikit bingung.
"Iya. Di atas obat nyamuknya disimpen petasan," jawab Piyan tersenyum. "Kan, apinya ngerembet, tuh, jadi pas kena petasan langsung meledak!"
"Hahahaha...," Wati ketawa. "Ngapaiiiin?" tanyanya kayak orang yang kesel karena melihat orang melakukan perbuatan yang tidak jelas.
"Sekelas gempar tau gak?" kata Piyan ketawa.
"Terus?" kutanya sambil senyum.
"Iya. Terus, Dilan kayak yang lemes gitu," jawab Piyan.
"Lho? Kan, dia yang nyalain?" tanya Wati.
"Iya. Dia bilang ke Bu Dewi, katanya bukan cuma dia yang biang kerok di kelas. Katanya, dia juga jadi korban."

Gimana? Kalian bisa ketawa baca adegan ini? xD Ini memorable abis! Bunda tergelak dan ngebayangin situasinya kayak apa... Hihihi... Masih ngakak setiap inget ini lho...

Masih banyak adegan yang bikin tergelak, kok, jadi walau Bunda kasih sedikit spoiler, tenang aja, nggak akan kehabisan bahan untuk tertawa, kok...

Review Bunda garing, yah... Abisnya, Bunda kesel abis sama buku kedua ini... jadi... kalian lah yang memutuskan apakah sepakat dengan Bunda atau tidak untuk urusan sebal pada Milea xD

Cheers! Love you both, xoxo




Terusin baca - Dilan #2 - Dia adalah Dilanku di tahun 1991

Dilan - Dia adalah Dilanku Tahun 1990 by Pidi Baiq


Judul: Dilan ~ dia adalah Dilanku tahun 1990
Penulis: Pidi Baiq
Ilustrasi sampul dan isi: Pidi Baiq
Penyunting naskah: Moemoe dan Huda Wahid
Penyunting ilustrasi: Pidi Baiq
Desain sampul: Kulniya Sally
Proofreader: Febti Sribagusdadi Rahayu
Layout sampul dan seting isi: Tim Artistik dan Deni Sopian
Diterbitkan oleh: Pastel Books ~ DAR Mizan
Cetakan III, Juni 2014
ISBN: 978-602-7870-41-3
Jumlah halaman: 332 halaman, 20.5 cm
Genre: Romance, Indonesian Literature, Young Adult, Comedy
Status: Punya, beli sendiri

"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja" (Dilan 1990)

"Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang." (Dilan 1990)

"Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli." (Milea 1990)


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Ya ampun... ini sudah ada dalam drafts sejak dua tahun lalu dan belum Bunda lanjutkan! *tepok jidat*

Jujur aja, udah agak-agak lupa, sama ceritanya... Tapi okelah, Bunda coba ceritakan ulang sedikit, yang Bunda ingat...

Ada seorang remaja lelaki bernama Dilan, yang jatuh hati pada seorang Milea Adnan Husein, anak baru pindahan dari Jakarta. "Kesamaan" yang dimiliki oleh Milea dan Dilan adalah sama-sama anak tentara. Dilan sebenernya anak geng motor, suka berkelahi, tipikal anak laki-laki yang sering dipanggil guru BP. Tapi dia agak "melunak" ketika mulai suka pada Milea.

Milea sendiri standar anak perempuan baik-baik yang nggak suka pada perkelahian dan kekerasan gitu. Jadi, kalo misalnya Dilan mendekati Milea pake standar ala-ala anak geng motor dengan gaya sok kece, sepertinya Milea nggak akan mau.

Cara Dilan mendekati Milea termasuk unik. Di malam perkenalannya, Dilan datang ke rumah Milea, mengaku sebagai Utusan Kantin, ketika berkenalan dengan ayah Milea. Hihihi. Lalu, Dilan kerap mengirimkan coklat pada Milea, titip pada tukang koran atau tukang apa aja yang pasti lewat rumah Milea. Nggak hanya itu, Dilan memberikan hadiah ulang tahun pada Milea berupa TTS yang semuanya sudah diisi, karena Dilan nggak mau Milea pusing saat mengisi TTS. Wahahaha...

Sikap Dilan yang begitu ingin melindungi Milea dan menghindarinya dari kesedihan menggugah siapa saja yang membaca. Dilan juga punya sahabat yang selalu bersamanya, Piyan, yang tak lain pacar sepupunya, Wati. 

Dari kesemua karakter yang ada di cerita Dilan ini, selain Dilan, Bunda suka banget dengan "Bunda". Nah, lho, bingung, ya, ada dua subject "Bunda" di sini. To make it easier, Bunda akan kasih keterangan Bunda Dilan biar ga bingung. Hihihi...

Bunda Dilan menurut Bunda adalah sosok keren. Dia adalah ibu hebat yang selalu mendukung anaknya, bahkan dia juga bisa akrab dengan Milea. Hey! Bunda jadi kepikiran... Kalo ntar kalian punya pacar, Bunda bisa nggak, ya, kayak Bunda Dilan yang akrab dan sayang banget dengan Milea? xD

Di balik kekerenan Dilan, dia tetap si "anak nakal" yang nggak segan-segan akan memulai perkelahian jika ada yang mengganggu Milea atau ketentraman hidup keluarga atau sahabatnya. Maka, di sini juga ada cerita tentang perkelahian antar geng motor gitu. Sigh...

Senangnya baca buku ini, ngakak-ngakak nggak jelas, walau  saat itu sedang ada di angkot. Ceritanya, dalam perjalanan pulang dari kantor, hari itu hujan deras dan menjelang maghrib, di suatu sore bulan Ramadhan. Bunda sudah berangkat dari selepas Ashar, nggak bawa makanan buat batalin puasa pas Maghrib, karena Bunda pikir bakalan sampai rumah sebelum Maghrib.

Ternyata dugaan Bunda salah.
Terjebak di jalanan berjam-jam, cuma ditemani buku Dilan. Akhirnya Bunda menyiksa diri dengan membaca Dilan walau jadinya ngakak-ngakak sendiri, diliatin orang seangkot. Bodo amat. Hihihi.. Walau telat banget berbuka puasa (udah lewat Isya' baru bisa buka puasa) tapi hati senang karena menikmati cerita Dilan.

Terlepas dari kisah romantisme Dilan yang nggak standar ini, Bunda jadi teringat papa kalian yang juga romantis dengan caranya sendiri. Bunda cerita di sini, sih. Kalian baca sendiri aja, ya... Hehehe...

Bunda jadi penasaran dengan kisah selanjutnya (kalo ada...)

Cheers! Love you both, xoxo



Terusin baca - Dilan - Dia adalah Dilanku Tahun 1990 by Pidi Baiq

12 Jan 2016

ibuk, oleh Iwan Setyawan





Judul: ibuk,
Penulis: Iwan Setyawan
Editor: Mirna Yulistianti
Proof Reader: Dwi Ayu Ningrum
Ilustrasi dan desain sampul: Itjuk Rahay
Setter: Ayu Lestari
Cetakan pertama, Juni 2012
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 293 hal + xi
ISBN: 978-979-22-8568-0
Genre: Novel, Fiksi, Indonesian Literature, Family, True Story, Drama, Inspirational
Status: Punya. Beli seken di tante Selebvi keknya



"Seperti sepatumu ini, Nduk. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kamu mesti kuat. Buatlah pijakanmu kuat."
-Ibuk-

Masih belia usia Tinah saat itu. Suatu pagi di Pasar Batu telah mengubah hidupnya. Sim, seorang kenek angkot, seorang playboy pasar yang berambut selalu klimis dan bersandal jepit, hadir dalam hidup Tinah lewat sebuah tatapan mata. Keduanya menikah, mereka pun menjadi Ibuk dan Bapak.

Lima anak terlahir sebagai buah cinta. Hidup yang semakin meriah juga semakin penuh perjuangan. Angkot yang sering rusak, rumah mungil yang bocor di kala hujan, biaya pendidikan anak-anak yang besar, dan pernak-pernik permasalahan kehidupan dihadapi Ibuk dengan tabah. Air matanya membuat garis-garis hidup semakin indah.

ibuk, novel karya penulis national best seller Iwan Setyawan, berkisah tentang sebuah pesta kehidupan yang dipimpin oleh seorang perempuan sederhana yang perkasa. Tentang sosok perempuan bening dan hijau seperti pepohonan yang menutupi kegersangan, yang memberi napas bagi kehidupan. 



Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...

Sakit itu bikin segala nggak enak, ya. Males ngapa-ngapain. Haha. Sakit selama dua minggu sebelum tahun baru trus balik lagi kena flu berat itu sungguh mengganggu!

Untungnya, bacanya nggak kena males. Walau kecepatan baca masih seperti siput, sakit kepala dan running nose nggak menghalangi buat balik halaman berikutnya. Dan masih aja nekat duet nyanyi di Smule, dong! Hahahahaha. Kedengeran banget lah, melernya :P

Oke. Sekarang kita ngomongin buku ini. Beberapa tahun lalu, sekitar tahun 2013 waktu pertama kalinya Bunda ikutan Secret Santa, Bunda beli buku ini untuk hadiah target Bunda. Saat itu sih nggak tertarik buat beli untuk diri sendiri.

Beberapa waktu kemudian, waktu lihat banyak yang mereview buku ini, akhirnya jadi pengen baca juga. Tapi masih belum tergerak buat beli sampai tante Selvi jual buku ini bareng buku Pintu Harmonika dan beberapa buku lainnya. ibuk, ini jadi salah satu pilihan Bunda kemudian. Berhasil menarik perhatian papa, jadi dia yang baca duluan. Hihihi.

ibuk, bercerita tentang seorang Tinah muda yang harus putus sekolah di masa muda, lalu ikut mbahnya, Mbok Pah, berjualan pakaian bekas. Banyak yang menyukai Tinah, karena kesederhanaannya, kecantikannya juga. Di sebelah kios Mbok Pah, ada kios yang berjualan tempe. Pemuda penjual tempe itu kerap memberikan tempe pada Tinah, sebagai wujud rasa sukanya kepada Tinah.

Dari banyak pemuda yang tertarik pada Tinah, hanya Sim-lah yang membuat jantung Tinah berdegup. Sim adalah seorang kenek playboy yang menjaga penampilan. Walau seadanya, dia nggak berpenampilan lusuh seperti umumnya kenek. Justru dia tampil klimis dan rapi. Singkat cerita, Tinah dan Sim saling jatuh cinta, lalu menikah.

Apakah cinta sesederhana itu?

Cerita ibuk, ini menggambarkan bahwa "happily ever after the end" itu nggak seindah cuma senang-senang tanpa keluh kesah, rasa susah, dan lain-lain. Penceritaan ibuk, diambil dari sisi Bayek, anak Ibuk nomer tiga. Satu-satunya lelaki.

Suatu ketika, Bayek pernah "mati suri". Nggak sakit, tertidur lama, tapi nggak bernapas. Namun detak jantung ada. Hal ini membuat Ibuk sangat cemas. Bayek juga pernah "diramalkan" akan menjadi orang yang membahagiakan Ibuk. 

Ibuk adalah sosok seorang perempuan hebat yang perkasa, jauh dari manja. Ibuk mampu mengurus suami dan kelima anaknya dengan tangannya sendiri.

Awal baca buku ini sebenernya emosinya datar, tapi lumayan bisa dinikmati. Ibarat baca diary orang. Namun, ketika membaca penuturan perjuangan Ibuk, di saat Bapak mengeluh angkot bolak balik mogok, anak-anak rewel karena sudah waktunya bayar SPP, rapor Bayek harus tertahan tidak dibagikan disebabkan belum bayar SPP dan kalender (nggak abis pikir, kenapa diwajibkan beli kalender, ya?), sepatu semua anak jebol berbarengan, Ibuk harus ngutang dan cicil sana sini juga mengatur keuangan seadanya dan memutar otak supaya semua bisa kebagian, nggak kerasa air mata Bunda mengalir.

Ibuk berjuang membesarkan hati Bapak juga kelima anaknya. Ibuk mengajarkan kesederhanaan pada anak-anaknya. Ibuk juga mengajarkan anak-anaknya untuk punya pijakan yang kuat. Ibuk menumbuhkan kasih sayang di hati anak-anaknya. Ibuk yang punya tekad kuat supaya semua anaknya menyelesaikan sekolah, apapun yang menjadi rintangannya.

Ingatan Bunda kembali ke masa Bunda masih SD. Waktu itu, YangKung lagi belum ada kerjaan, karena banyak proyek yang sebetulnya sudah kelar, tapi pembayaran masih tersendat. Jadi, mau ngerjain pekerjaan berikutnya belum ada modal, disebabkan dari hasil pekerjaan sebelumnya belum
dapat bayaran. YangKung dulu berprofesi sebagai arsitek dan pembuat maket (miniatur gedung). Dibayarnya per proyek selesai. Jangankan untuk beli bahan-bahan maket, untuk makan sehari-hari aja udah abis bis bis.

Hari itu, Bunda pulang sekolah, mendapati YangTi sedang duduk di ruang tengah. Menunggu YangKung. YangTi membelai rambut Bunda dan bilang, "kita belum bisa makan dulu. Belum ada uang untuk beli beras. Tunggu Bapak, ya. Mudah-mudahan, ada yang mau bayar, walau baru sepuluh ribu saja". Saat itu, nilai sepuluh ribu rupiah mungkin sama dengan seratur ribu rupiah saat ini. Bunda duduk berdua YangTi. YangKung rupanya sudah berangkat dari pagi, nagih-nagih ke klien kayaknya. Pulang-pulang, beneran bawa uang selembar sepuluh ribu rupiah. YangTi langsung ke pasar untuk beli beras dan beberapa lauk.

Mungkin karena pernah ngalamin cerita sejenis, pas Papa bilang, "ceritanya nggak ada emosinya", Bunda malah punya perasaan yang berbeda. Bunda sempet baper juga, karena memang pernah mengalami hal serupa dengan Bayek. Papa juga pernah ngalamin hal serupa, kok :D

Bersyukurlah kalian yang nggak ngalamin masa susah ketika kecil dan semoga nggak membuat kalian mati rasa melihat orang lain yang lebih susah dari kalian.

Kalimat-kalimat yang ditulis Iwan Setyawan ini sederhana dan mengena, mengalir juga. Walau "status" bukunya novel, tapi jadi kayak baca semi biografi. Yang agak "kurang" sebenernya saat ada hal-hal yang bisa diungkapkan secara emosional, keluarnya jadi datar. Terus terang agak geregetan jadinya. Namun di beberapa bagian emang ada juga penuturan yang bisa hit my nerve lalu nggak kerasa bikin meleleh. 

Mestinya sontreknya masih A Song for Mama juga, nih. Heuheu.


Sayangnya kurang ditunjang sampul yang mestinya bikin adem (Bunda kurang tertarik dengan sampulnya, ke-rame-an) plus banyak penuturan yang emosinya nggak keluar hingga terasa agak datar, Bunda tetep kasih bintang empat untuk Ibuk yang hebat dan menginspirasi semua ibu di dunia agar tidak menjadi ibu dan istri yang cengeng dalam mengantarkan anak-anaknya menjadi anak yang hebat! :D

Semoga Bunda bisa jadi Ibuk yang baik buat kalian berdua! Aamiin...

Cheers and love! xoxo,





Terusin baca - ibuk, oleh Iwan Setyawan