Tampilkan postingan dengan label graphic novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label graphic novel. Tampilkan semua postingan

6 Feb 2017

Captain Underpants and the Attacks of the Talking Toilets by Dav Pilkey


Judul: Captain Underpants and the Attacks of the Talking Toilets - Captain Underpants #2 (Kapten Kolor dan Serangan Toilet Cerewet)
Penulis: Dav Pilkey
Penerjemah: Meliana dan Rosi Simamora
Ilustrasi sampul dan isi: Dav Pinkey
Cetakan pertama, Februari 2010
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 176 hlm; 20 cm
ISBN: 978- 979-22-5369-6
Genre: Children, Humor, Fiction, Comics, Graphic Novel, Adventure, Fantasy, Comedy
Status: Beli, titip tante Dewi. Edisi Broken kalo ga salah
George dan Harold biasanya anak-anak yang penuh tanggung jawab maksudnya, kapan pun ada kejadian heboh di sekolah, pasti George dan Harold yang bertanggung jawab! Dan rupanya kembali bikin ulah! Mula-mula, mereka membikin kacau Lomba Karya Ilmiah yang diadakan di sekolah. Berikutnya, mereka tidak sengaja menciptakan pasukan jahat dan buas. Pasukan bersosok toilet cerewet itu siap mengambil ahli dunia.Siapa yang mampu menghentikan toilet yang suka makan orang itu? Rupanya ini tugas buat...

KAPTEN KOLOR!

KAPTEN KOLOR, kisah petualangan penuh aksi, penuh horor, sekaligus penuh tawa. Dilengkapi FLIP-O-RAMA, teknik ilustrasi unik yang membuat pembaca bisa menciptakan film animasi sendiri
 
Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Sebetulnya, buku ini sudah Bunda baca di tahun 2014. Tapi, gara-gara Kakak Ilman sedang Bunda ikutkan Tantangan Menara Buku 2017 di sekolah, Bunda jadi ikut baca lagi. Ternyata, Bunda memang belum bikin reviewnya di blog ini. Ini buku pertama yang selesai dibaca Kakak Ilman dalam waktu dua hari. Tanggal 28-29 Januari 2017 lalu.

Tantangan Menara Buku 2017
Ketentuan Tantangan Menara Bukunya adalah setiap selesai membaca satu buku, lapor ke guru, nanti dapat stiker dengan warna sesuai dengan kriteria bukunya. Stiker ini ditempel di dinding, nanti begitu event Tantangan Menara Buku selesai, Kakak Ilman harus difoto di samping stiker. Kira-kira nanti bakalan lebih tinggi mana? Menara atau Kakak? :P 
 
Sampai hari ini tulisan Bunda turun, Kakak Ilman baru dapat satu stiker. Hihi. Sulit sekali mengajak Kakak Ilman baca. Yang tantrum lah, yang marah-marah lah. Heuuuu.... 

Oke. Cukup cerita mengenai Kakak Ilman dan Tantangan Menara Bukunya. Sekarang, kita cerita tentang bukunya.

Sinopsis
Di cerita ini ada dua anak kelas 3 SD Jerome Horwitz bernama George Beard dan Harold Hutchins yang selalu bertanggung jawab bila ada kekacauan di sekolah. Kejadian bermula ketika tahun lalu ada Konvensi Invensi, semua kursi menjadi lengket. Semua patpat orang yang duduk di atasnya, melekat kuat di kursi. Sehingga, di Konvensi Invensi tahun ini, mereka berdua mendapat sangsi dari Kepala Sekolah mereka, Mr. Krupp. Selama Konvensi Invensi berlangsung, mereka dikurung di ruang kelas.
 
Bukan George dan Harold namanya, jika mereka hanya duduk di ruang kelas tanpa melakukan perbuatan "unik". Ketika Konvensi Invensi berlangsung, terjadi kekacauan dan sayangnya, Mr. Krupp tidak dapat membuktikan bahwa George dan Harold yang bertanggung jawab. Tapi, Mr. Krupp kemudian "menang", karena satu-satunya saksi, salah satu peserta Konvensi Invensi itu, memberikan kesaksian, bahwa sehari sebelum acara, kedua anak ini terlihat di Ruang Olahraga.

Ngapain lagi kalo bukan merencanakan semua kekacauan itu?

George dan Harold kemudian mendapat detensi berupa menulis kalimat di papan tulis. Berkat kecerdikan keduanya, menulis janji sepenuh papan tulis hanya memakan waktu sebentar, sementara waktu detensi masih lama. Keduanya pun membuat komik, dengan judul Kapten Kolor dan Serangan Toilet Cerewet. Ketika mereka bermaksud memperbanyak komik ini di mesin fotokopi, mereka malah menemukan salah satu mesin pencetak tiga dimensi, hasil temuan salah satu peserta Konvensi Invensi itu.

Bisa ditebak, bukannya menghasilkan komik, malah Toilet Cerewet yang muncul dalam jumlah sangat banyak dan mulai menjadi teror. Saatnya Kapten Kolor beraksi!

 
Review 
Sebetulnya, Bunda lebih suka baca cerita yang manis-manis aja. Tapi, tidak bisa Bunda pungkiri, Bunda punya dua anak laki-laki, yang kemungkinan besar jahilnya luar biasa. Mau nggak mau, Bunda harus memperbanyak baca buku seperti ini dan kalian juga akan mengalami petualangan seru dengan buku ini. Yang jelas, amit-amit banget, deh, kalo sampai kalian jadi trouble maker!

Ah, iya! Satu hal yang Bunda sukai dari tingkah laku kedua anak ini, yang konon selalu menjadi penyebab kekacauan, mereka adalah anak-anak cerdas dan kompak. Bunda kagum akan ide cemerlang mereka, walau sering digunakan untuk mengerjai orang. Dan Bunda kagum akan kekompakan mereka. Mereka adalah contoh anak-anak aktif dan kreatif yang tahu memanfaatkan waktu untuk bersenang-senang. 

Konsep Flip-o-Rama ini keren, tapi terus terang, susah mempraktikkannya. Hihi. Nggak jadi animatif kalo di tangan Bunda. Ntar kita coba lagi, ya, Kak...

Buku ini nggak bisa jadi pedoman dalam bertingkah laku, tapi paling nggak, bisa jadi bahan pertimbangan kalo mau berbuat aneh-aneh apalagi sampai merugikan orang lain.

Terjemahannya enak dan mengalir, walau ada typo di bagian "kafetaria" yang berubah-ubah. Kadang "kafateria", kadang "kefateria" yang bikin Kakak Ilman bingung. Yang jelas, dalam bahasa Inggris, itu adalah "cafetaria" berarti dialihbahasakan menjadi "kafetaria", Kak. Ikutin aja kata awal dalam bahasa aslinya. 

Bagi Kakak Ilman, informasi salah seperti kata yang tertulis typo akan membuat kebingungan. Kasian, kan... 

Oke, segitu dulu, ya. Semoga Kakak Ilman tetap semangat baca dan bisa mengumpulkan stiker sebanyak kemampuan baca Kakak Ilman. Tenaaaang.. Bunda nggak akan memaksa, karena Bunda juga lagi berjuang untuk memenuhi target baca lagi tahun ini....

Bunda sayang kalian, xoxo



Terusin baca - Captain Underpants and the Attacks of the Talking Toilets by Dav Pilkey

12 Jan 2017

Sepeda Merah ~ Bunga-bunga Hollyhock #2 oleh Kim Dong Hwa


Judul: Sepeda Merah ~ Bunga-bunga Hollyhock #2
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Meilia Kusumadewi
Ilustrasi sampul dan isi: Kim Dong Hwa
Penyunting: Tanti Lesmana
Teks dan tata letak: Anna Evita Rosaria
Cetakan pertama, Oktober 2012
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 176 hlm; 21 cm
ISBN: 978- 979-22-8776-9
Genre: Graphic novel, manhwa, komik, manga, Korean Literature
Status: Beli, titip uwa Susi. Kata uwa Susi sih, belinya di Nagareboshi
"Suatu kali, ketika anak perempuanku datang mengunjungiku, pemandangan mawar-mawar hollyhock mengingatkannya pada kenangan akan ibunya yang telah tiada. 
Aku menebarkan benih-benih bunga itu mulai dari jalan masuk desa hingga ke ambang pintu rumahku...
Kala menelusuri jalan setapak berbunga ini, anak perempuanku merasa seakan-akan ia tengah berjalan sembari menggenggam tangan ibunya.
Dengan sedikit kesabaran mawar-mawar hollyhock ini pun tumbuh dengan semaraknya..."

Melalui kisah-kisah pendeknya yang sarat dengan kelembutan, Kim Dong Hwa diperhitungkan sebagai salah satu penulis manhwa paling berbakat di hati orang-orang Korea.


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...

Nyambung dengan buku sebelumnya, kali ini kita digiring seolah-olah kita udah kenal banget sama penduduk Desa Yahwari, jadi Pak Pos berkuncir lumayan jarang muncul. 

Di buku kedua, dibagi dalam musim-musim, mulai dari musim semi sampai musim salju. Setiap musim punya cerita khas sendiri.

Di musim semi, ada kisah mengharukan mengenai seorang ayah yang menanam benih bunga-bunga hollyhock mulai dari gerbang desa sampai rumahnya untuk anak perempuannya. Jika suatu saat anak perempuannya pulang, sang ayah yakin, bunga-bunga ini sudah mulai bermekaran dan akan mengingatkan sang anak pada ibunya yang sudah pergi untuk selamanya.

Nasihat paling menggugah di cerita musim semi itu adalah tentang tunas muda. Ceritanya ada seorang anak perempuan yang memutuskan untuk berpisah dengan suaminya, ayahnya berusaha untuk menghiburnya. Nasihat sang ayah supaya anak perempuannya tetap semangat adalah, "tunas-tunas muda ini berhasil menembus kulit kayu pohon yang jauh lebih keras dibanding kulit sapi. Bukankah itu luar biasa?", "Coba lihat di sebelah sana. Daun-daun kecil mereka jauh lebih rapuh dibanding kuku-kuku bayi yang baru lahir. Padahal mereka berhasil mengangkat gumpalan tanah yang beratnya seribu kali dirinya".

Ada juga kisah klasik Korea yang dituturkan penulis, yang deskripsinya bisa ditemukan di berbagai tempat di Desa Yahwari. Ada yang lucu, kisah kakek-kakek yang bahas kerutan di wajah yang dijadikan "simbol" pangkat militer. Makin banyak kerutan di kening, berarti makin tinggi pangkat militernya. Hihihi. Atau tentang sepasang suami istri yang jarang berbicara, tapi suaminya bikin surat cinta lewat huruf-huruf yang disusun di atas tanah, pakai kepingan kelopak bunga XD Aaaaw... soooo sweet!

Di cerita musim panas, banyak juga adegan romantis yang dilakukan oleh pasangan kakek dan nenek. Kebanyakan cerita dari Sepeda Merah ini karakternya manula. Karena di ceritanya, para pemuda Desa Yahwari kebanyakan meninggalkan desa ini untuk mencari nafkah di kota.

Ada yang lucu, ketika seorang cucu liburan di rumah neneknya, minta makan pizza. Karena si nenek sayang banget sama cucunya, semahal apa pun harga pizza, dibeli juga, walau menurut nenek, harga yang mereka bayarkan untuk makan pizza itu sama dengan empat ratus buah mentimun (di cerita ini, pizzanya berharga 20.000 won atau setara dengan IDR 221,842.61 - saat review ini ditulis, kurs 1 won = IDR 11,09). Jadi, waktu Pak Pos nanya ke nenek, "Kalian sudah makan pizza bersama?" si nenek jawab, "Lebih tepatnya kami baru pulang sehabis makan empat ratus ketimun". Hihi

Di cerita musim gugur, kebanyakan agak bikin sedih atau terharu. Misalnya kisah seorang kakek yang bangga akan pemberian cucunya. Kakek ini punya mainan dinosaurus Duli (karakter manhwa yang terkenal di era 1980-an) dan jadi gantungan ponselnya. Saking bangganya akan pemberian dari cucunya, ke mana aja si kakek pergi, karakter ini selalu dibawanya.

Ada juga tentang seorang ayah yang berhias menjelang kepulangan anak perempuannya. Yang cukur rambut lah, yang pake pewangi lah. Ah. So sweet! Sayangnya, hubungan Bunda sama YangKung nggak semesra itu xD Ada juga cerita mengharukan mengenai mangkuk-mangkuk nasi bersejarah. Atau tentang Kelas Sore yang lebih mengena karena mengenai akhir kehidupan seseorang.

Di cerita musim dingin, ada banyak kehangatan yang terjadi di musim dingin, jadi Pak Pos nggak terlalu merasa kedinginan ketika banyak tangan yang menawarkan kehangatan buat Pak Pos, yang sayangnya harus ditolak dengan halus, akibat terlalu banyaknya surat yang menumpuk sebab cuaca buruk. Ada juga cerita tentang warga Desa Yahwari mempersiapkan diri menghadapi musim dingin.

Paling sedih dari kesemuanya adalah cerita penutup. Ini spoiler, tapi lebih sedih kalo dibaca langsung. Cerita mengenai seorang ibu yang senantiasa menantikan kepulangan putranya. Si ibu menunggunya di stasiun, tapi anaknya nggak datang juga. Si ibu pulang dengan perasaan sangat sedih, lalu pergi tidur. Tengah malam, ada mobil yang berhenti di depan rumah ibu ini, ternyata anaknya pulang. Tapi mata si ibu bukannya berbinar, malah merem. Alasannya takut silau dengan kekayaan yang dimiliki anaknya. Si ibu punya firasat kuat kalo kekayaan anaknya didapat bukan dengan cara yang halal. Pas anaknya mau ditangkap, si ibu bilang, "tunggu sampai dia bangun." Terus si ibu nyuguhin ubi kukus ke para tamu yang mau nangkap anaknya itu. Ibu ini siap nyerahin anaknya, tapi dia minta para penangkap ini menunggu si anaknya bangun, seraya bilang, kalo ibu ini tahu perbuatan haram anaknya. Aaaaaaa.... mrebes miliiiiiiii.....

Ketimbang ngereview, kayaknya Bunda lebih banyak cerita isinya, ya? Soalnya, review Bunda cuma satu kata: KEREN. Udah gitu aja. Hahaha. Nah. Nggak suka, kan, kalo Bunda cuma bilang gitu?

Oke, Bunda mau cerita tentang gambarnya. Setiap gambarnya, walau nggak ada teks narasi atau balon katanya, bercerita. Jadi, walau masuk ke satu halaman bergambar penuh tanpa panel-panel, Bunda tetap bisa membaca "cerita" di dalam gambar itu. Di kepala, kebayang narasinya kayak apa. Kayaknya Bunda mungkin lebih lama menatap gambar satu halaman penuh untuk dibaca, daripada baca panel-panel, deh. Heuheu. Kebiasaan, emang.

Terjemahannya enak. Nggak kaku, jadi gampang dicernanya, walau sebenernya semua katanya puitis dan daleeeeeeeeeeem banget.

Dibanding buku pertama? Kesannya sama, karena cara penuturannya sama. Bedanya, di buku kedua lebih filosofis ketimbang buku pertama. Buku ini highly recommended buat kalian berdua!

 Cheers! Love, xoxo




Terusin baca - Sepeda Merah ~ Bunga-bunga Hollyhock #2 oleh Kim Dong Hwa

5 Jan 2017

Sepeda Merah ~ Yahwari #1 oleh Kim Dong Hwa (01-2017)



Judul: Sepeda Merah ~ Yahwari #1
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Meilia Kusumadewi
Ilustrasi sampul dan isi: Kim Dong Hwa
Penyunting: Tanti Lesmana
Teks dan tata letak: Anna Evita Rosaria
Cetakan pertama, Oktober 2012
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 144 hlm; 21 cm
ISBN: 978- 979-22-8776-9
Genre: Graphic novel, manhwa, komik, manga, Korean Literature
Status: Beli, titip uwa Susi. Kata uwa Susi sih, belinya di Nagareboshi



"Telusurilah jalan-jalan pedesaan yang beraneka ragam itu untuk menemui para penduduk Yahwari. Anda pasti akan berpapasan dengan sepeda merah si tukang pos yang berkeliling pelan penuh keselarasan dengan alam sekitarnya."

Melalui kisah-kisah pendeknya yang sarat dengan kelembutan, Kim Dong Hwa diperhitungkan sebagai salah satu penulis manhwa paling berbakat di hati orang-orang Korea.


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Selamat tahun baru 2017! Buat Kakak Ilman, selamat, ya... udah khitan! Itu tandanya Kakak udah besar... 
Semoga Kakak Ilman semakin shalih dan menyayangi Allah SWT.

Bunda mau cerita pengalaman Bunda waktu kecil dulu. Bunda selalu seneeeng banget terima surat dari eyang buyut putri kalian. Momen paling mendebarkan itu, sewaktu denger kring-kringnya sepeda Pak Pos di depan pintu pagar. Wahahaha... Deg-degannya karena nebak-nebak, surat yang datang kira-kira buat Bunda atau buat YangKung ya? Hihihi...

Selalu menyenangkan baca surat dari Eyang Buyut itu. Tulisannya tegak bersambung ala jaman duluuu banget. Meski begitu, Bunda udah bisa bacanya. Berlembar-lembar gitu. Surat-surat itu menghibur Bunda, ketika ditinggal ibu kandung Bunda untuk selamanya. Eh, iya, malah pas YangKung pedekate sama YangTi yang sekarang itu, Bunda disuruh surat-suratan sama YangTi, lho... hihihi...

Setelah lulus SD, selama tiga tahun, Bunda sering korespondensi sama mantan temen sebangku dulu. Lupa cerita apa aja, tapi yang jelas, tiap minggu, gantian dapet suratnya. Minggu ini Bunda yang dapet surat, minggu depannya Bunda yang kirim surat.

Tapi Bunda nggak pernah mau ikutan mendaftarkan diri jadi Sahabat Pena di majalah Bobo. Kalo baca keluhan mereka, sih, konon jadi sibuk banget karena harus balesin semua surat yang masuk. Trus, udah gitu, sering dibilang sombong, kalo suratnya ga dibales-bales. Akibatnya, demi balesin surat dari fans, ga sempet belajar, lalu nilai jeblok. Gitu, sih, ceritanya. Heuheu. Tapi nggak punya sahabat pena via majalah juga, Bunda udah sibuk korespondensi sama Eyang Buyut, kan?

Sekarang jadi kepikiran, pengen ngulangin lagi. Hahaha. Ada yang mau jadi sahabat pena Bunda?

Cerita tentang Pak Pos yang sering keliling Desa Yahwari ini unik dan menghangatkan hati. Uniknya, di Desa Yahwari itu alamatnya bukan pakai nama jalan dan nomor. Tapi lebih ke deskripsi khusus rumah itu. Misalnya saja, "rumah kuning kehijauan", "rumah tempat kita merasa semakin baik dan membaik", atau "rumah yang bisa dilihat di antara dua pohon pinus siam" dan lain-lain. Meski sulit untuk diingat, tapi Pak Pos ini selalu bersemangat mengantarkan surat.

Kadang, nggak hanya surat yang diantarkannya. Di musim gugur, pas lagi rame panen, banyak yang titip hasil panen untuk dikirim ke saudara-saudara para petani di sisi lain desa. Atau, jika sedang tidak ada surat sama sekali, Pak Pos tetap berkeliling desa untuk bertegur sapa dengan penduduk desa. Uniknya, selalu sama waktunya, sehingga, orang-orang di desa itu jadi punya kebiasaan untuk menunggu kemunculan Pak Pos di waktu yang sama, ada atau tidak ada surat untuknya.

Pak Pos sendiri sering mendapat surat dari seorang penyair di desa itu. Jadi, setiap Pak Pos membuka kotak pos di rumah penyair, dia akan menemukan selembar daun kecoklatan bersama surat yang dilipat unik. Surat itu berisi puisi-puisi karya penyair. Jadi pengen niruin deh... Hihi...

Ada juga cerita sedihnya, jadi Pak Pos sering lewat rumah seorang gadis cantik berwajah pucat. Setiap hari saling menyapa, sampai Pak Pos cukup lama nggak pernah lihat gadis itu. Ternyata gadis itu sudah meninggal. Dia tinggal seorang diri di rumah itu, ditemukan sudah tergeletak di lantai rumahnya oleh para tetangganya. Pas dibawa ke rumah sakit, keburu meninggal. Huhuhu... 
 
Grafisnya yang menurut Bunda sederhana tapi mewah, bikin betaaaaah banget bacanya. Belum lagi bahasanya yang lembut dan penuh makna, rasanya sayang aja kalo cepet-cepet kelar (walau bisa dibaca ulang berjuta kali lagi, kok! hihi)

Buku ini akan Bunda simpan baik-baik. Suatu saat nanti, kalian harus baca buku ini setelah dewasa. Soalnya, seluruh kalimatnya emang ditujukan untuk orang dewasa. Banyak hal-hal filosofis untuk direnungkan di setiap kisahnya.

Sampai jumpa di review berikutnya!

Cheers! Love, xoxo



Terusin baca - Sepeda Merah ~ Yahwari #1 oleh Kim Dong Hwa (01-2017)