Tampilkan postingan dengan label humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label humor. Tampilkan semua postingan

12 Jul 2023

[2023: Book 16] George's Marvellous Medicine - Roald Dahl

 

Judul: George's Marvellous Medicine 
Penulis: Roald Dahl
Ilustrasi sampul: Quentin Blake
Diterbitkan oleh Puffin Books, 2016 
Jumlah halaman: 96 halaman
Format: e-book
ISBN: 9780141369297 (ISBN10: 0141369299)
Genre: Children, Fiction, Novel, Fantasy, Young Adult, Magical Realism, Magic, Drama, Young Adult Fantasy, Humor, Middle Grade
Status: Punya


George Kranky's Grandma is a miserable grouch. George really hates that horrid old witchy woman.
One Saturday morning, George is in charge of giving Grandma her medicine.
So-ho! Ah-ha! Ho-hum! George knows exactly what to do.
A magic medicine* it will be. One that will either cure her completely . . . or blow off the top of her head.

*WARNING: Do not try to make George's Marvellous Medicine yourselves at home. It could be dangerous.



Hai, Ilman dan Zaidan!

Kalo kalian baca George's Marvellous Medicine ini, kalian mungkin akan bilang, "sungguh tidak habis fikri! Sangat di luar nurul!" saking menggemaskannya cerita ini. Gimana nggak? George yang kesel sama neneknya yang bawel, keidean buat bikin ramuan obat yang berdampak...
....
....
well...
.....
luar biasa mengerikan ðŸ™„

Nenek George adalah seorang perempuan tua yang penyakitan dan menyebalkan. Kerjanya menggerutu. Mending kalo hanya menggerutu. Di setiap gerutuannya, selalu terselip, eh, bukan, seluruh kata-katanya memaki George. Semua orang sekali dimaki aja akan sakit hati. Gimana lagi yang sehari-hari makanannya dimaki neneknya sendiri? Lama-lama ngeselin kan?

Tiba waktunya, ketika mama George harus pergi berbelanja dan George dititipi menjaga neneknya (terutama menyuapinya obat yang harus diminum di jam tertentu dan nggak boleh terlambat) lalu George harus mendengar seluruh kalimat cacian dari neneknya plus dia sudah sampai di puncak tertinggi batas kesabaran... dia terpikir untuk menambahkan sesuatu pada obat itu hanya untuk menghentikan racauan neneknya. 

Beberapa jam sebelum jam minum obat neneknya tiba, seperti sedang kesambet sesuatu, segala yang ada di rumah itu masuk ke panci untuk dibuat ramuannya, bareng dengan obat yang harus diminum neneknya. Makin lama George makin asik menambahkan segala sesuatu yang ada di rumah itu. Mulai dari saus-saus yang ada di dapur, sampai perlengkapan bersih-bersih di kamar mandi bahkan segala cairan yang ada di bengkel dimasukkannya ke dalam ramuannya. 

Di menit-menit menjelang jam minum obat, karena George nggak kelihatan berkeliaran di rumah, neneknya mulai mengomel. Akhirnya ketika ramuan itu jadi, tepat di jam jadwal neneknya minum obat, George menyuapkan obat tersebut dan.... plop! Nenek tiba-tiba bertumbuh dan berkembang sampai atap rumah jebol. 

Melihat reaksi berlebihan yang sungguh di luar nurul, George menjadi panik. Karena dia berharap neneknya hanya jadi "diam selamanya" setelah minum ramuannya, bukannya malah bertumbuh dan berkembang menjadi raksasa yang bahkan menghancurkan rumah mereka. Di tengah kepanikan seperti itu, ayah George pulang (dari.. lupa, ladang kayaknya) dan melihat fenomena ini. George mengira ayahnya akan mengamuk, tak disangka, ayah George malah bahagia. Yang terpikir oleh ayah George hanyalah "wang... wang... wang...". Yes! Dia bermaksud memberikan ramuan hasil karya cipta George ke hewan ternaknya untuk mendapatkan hasil yang berlipat ganda. 


Kalo kalian sudah terbiasa membaca karya Roald Dahl, kalian pasti akan menebak ke mana arah cerita ini bahkan endingnya. Saking khas-nya karya imajinatif beliau. Jadi aku nggak harus spill sampai selesai, karena mendingan kalian baca sendiri. 

Baca George's Marvellous Medicine ini seperti halnya baca karya-karya Roald Dahl yang lain: selalu ada geregetan moment, juga ada geuleuh moment. Hahaha. Sampe kadang-kadang mikir, beliau dulu kecilnya nakal banget apa alim banget ya, sampe punya imajinasi luarrrrrr binasa. Meski begitu, tetep enjoyable baca ceritanya. Baca sendiri lebih sensasional ketimbang sekadar baca review.    

Selamat membaca George's Marvellous Medicine-nya Roald Dahl dan selamat geregetan bacanya... 


Aku baca ini buat memenuhi tantangan:
- 2023 Goodreads Reading Challenge
- Babat Timbunan 2023 Joglosemar
- Abroad & Beyond Reading Challenge 
- Tantangan Membaca BBBBC
- Books in English Reading Challenge 


Stay healthy, love you both, always! xoxo








  

Terusin baca - [2023: Book 16] George's Marvellous Medicine - Roald Dahl

6 Feb 2017

Captain Underpants and the Attacks of the Talking Toilets by Dav Pilkey


Judul: Captain Underpants and the Attacks of the Talking Toilets - Captain Underpants #2 (Kapten Kolor dan Serangan Toilet Cerewet)
Penulis: Dav Pilkey
Penerjemah: Meliana dan Rosi Simamora
Ilustrasi sampul dan isi: Dav Pinkey
Cetakan pertama, Februari 2010
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 176 hlm; 20 cm
ISBN: 978- 979-22-5369-6
Genre: Children, Humor, Fiction, Comics, Graphic Novel, Adventure, Fantasy, Comedy
Status: Beli, titip tante Dewi. Edisi Broken kalo ga salah
George dan Harold biasanya anak-anak yang penuh tanggung jawab maksudnya, kapan pun ada kejadian heboh di sekolah, pasti George dan Harold yang bertanggung jawab! Dan rupanya kembali bikin ulah! Mula-mula, mereka membikin kacau Lomba Karya Ilmiah yang diadakan di sekolah. Berikutnya, mereka tidak sengaja menciptakan pasukan jahat dan buas. Pasukan bersosok toilet cerewet itu siap mengambil ahli dunia.Siapa yang mampu menghentikan toilet yang suka makan orang itu? Rupanya ini tugas buat...

KAPTEN KOLOR!

KAPTEN KOLOR, kisah petualangan penuh aksi, penuh horor, sekaligus penuh tawa. Dilengkapi FLIP-O-RAMA, teknik ilustrasi unik yang membuat pembaca bisa menciptakan film animasi sendiri
 
Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Sebetulnya, buku ini sudah Bunda baca di tahun 2014. Tapi, gara-gara Kakak Ilman sedang Bunda ikutkan Tantangan Menara Buku 2017 di sekolah, Bunda jadi ikut baca lagi. Ternyata, Bunda memang belum bikin reviewnya di blog ini. Ini buku pertama yang selesai dibaca Kakak Ilman dalam waktu dua hari. Tanggal 28-29 Januari 2017 lalu.

Tantangan Menara Buku 2017
Ketentuan Tantangan Menara Bukunya adalah setiap selesai membaca satu buku, lapor ke guru, nanti dapat stiker dengan warna sesuai dengan kriteria bukunya. Stiker ini ditempel di dinding, nanti begitu event Tantangan Menara Buku selesai, Kakak Ilman harus difoto di samping stiker. Kira-kira nanti bakalan lebih tinggi mana? Menara atau Kakak? :P 
 
Sampai hari ini tulisan Bunda turun, Kakak Ilman baru dapat satu stiker. Hihi. Sulit sekali mengajak Kakak Ilman baca. Yang tantrum lah, yang marah-marah lah. Heuuuu.... 

Oke. Cukup cerita mengenai Kakak Ilman dan Tantangan Menara Bukunya. Sekarang, kita cerita tentang bukunya.

Sinopsis
Di cerita ini ada dua anak kelas 3 SD Jerome Horwitz bernama George Beard dan Harold Hutchins yang selalu bertanggung jawab bila ada kekacauan di sekolah. Kejadian bermula ketika tahun lalu ada Konvensi Invensi, semua kursi menjadi lengket. Semua patpat orang yang duduk di atasnya, melekat kuat di kursi. Sehingga, di Konvensi Invensi tahun ini, mereka berdua mendapat sangsi dari Kepala Sekolah mereka, Mr. Krupp. Selama Konvensi Invensi berlangsung, mereka dikurung di ruang kelas.
 
Bukan George dan Harold namanya, jika mereka hanya duduk di ruang kelas tanpa melakukan perbuatan "unik". Ketika Konvensi Invensi berlangsung, terjadi kekacauan dan sayangnya, Mr. Krupp tidak dapat membuktikan bahwa George dan Harold yang bertanggung jawab. Tapi, Mr. Krupp kemudian "menang", karena satu-satunya saksi, salah satu peserta Konvensi Invensi itu, memberikan kesaksian, bahwa sehari sebelum acara, kedua anak ini terlihat di Ruang Olahraga.

Ngapain lagi kalo bukan merencanakan semua kekacauan itu?

George dan Harold kemudian mendapat detensi berupa menulis kalimat di papan tulis. Berkat kecerdikan keduanya, menulis janji sepenuh papan tulis hanya memakan waktu sebentar, sementara waktu detensi masih lama. Keduanya pun membuat komik, dengan judul Kapten Kolor dan Serangan Toilet Cerewet. Ketika mereka bermaksud memperbanyak komik ini di mesin fotokopi, mereka malah menemukan salah satu mesin pencetak tiga dimensi, hasil temuan salah satu peserta Konvensi Invensi itu.

Bisa ditebak, bukannya menghasilkan komik, malah Toilet Cerewet yang muncul dalam jumlah sangat banyak dan mulai menjadi teror. Saatnya Kapten Kolor beraksi!

 
Review 
Sebetulnya, Bunda lebih suka baca cerita yang manis-manis aja. Tapi, tidak bisa Bunda pungkiri, Bunda punya dua anak laki-laki, yang kemungkinan besar jahilnya luar biasa. Mau nggak mau, Bunda harus memperbanyak baca buku seperti ini dan kalian juga akan mengalami petualangan seru dengan buku ini. Yang jelas, amit-amit banget, deh, kalo sampai kalian jadi trouble maker!

Ah, iya! Satu hal yang Bunda sukai dari tingkah laku kedua anak ini, yang konon selalu menjadi penyebab kekacauan, mereka adalah anak-anak cerdas dan kompak. Bunda kagum akan ide cemerlang mereka, walau sering digunakan untuk mengerjai orang. Dan Bunda kagum akan kekompakan mereka. Mereka adalah contoh anak-anak aktif dan kreatif yang tahu memanfaatkan waktu untuk bersenang-senang. 

Konsep Flip-o-Rama ini keren, tapi terus terang, susah mempraktikkannya. Hihi. Nggak jadi animatif kalo di tangan Bunda. Ntar kita coba lagi, ya, Kak...

Buku ini nggak bisa jadi pedoman dalam bertingkah laku, tapi paling nggak, bisa jadi bahan pertimbangan kalo mau berbuat aneh-aneh apalagi sampai merugikan orang lain.

Terjemahannya enak dan mengalir, walau ada typo di bagian "kafetaria" yang berubah-ubah. Kadang "kafateria", kadang "kefateria" yang bikin Kakak Ilman bingung. Yang jelas, dalam bahasa Inggris, itu adalah "cafetaria" berarti dialihbahasakan menjadi "kafetaria", Kak. Ikutin aja kata awal dalam bahasa aslinya. 

Bagi Kakak Ilman, informasi salah seperti kata yang tertulis typo akan membuat kebingungan. Kasian, kan... 

Oke, segitu dulu, ya. Semoga Kakak Ilman tetap semangat baca dan bisa mengumpulkan stiker sebanyak kemampuan baca Kakak Ilman. Tenaaaang.. Bunda nggak akan memaksa, karena Bunda juga lagi berjuang untuk memenuhi target baca lagi tahun ini....

Bunda sayang kalian, xoxo



Terusin baca - Captain Underpants and the Attacks of the Talking Toilets by Dav Pilkey

17 Sep 2015

Negeri van Oranje by Wahyuningrat, dkk


Judul: Negeri van Oranje
Penulis: Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
Editor: Gunawan B.S
Desain Sampul: Natalia
Pemeriksa aksara: Yudith
Penata aksara: Hanum
Diterbitkan oleh Penerbit Bentang
ISBN: 978-979-1227-58-2
Cetakan Ketiga, Juni 2009
Jumlah halaman: vii + 478 hlm; 20,5 cm
Genre: Novel, Fiction, Travel, Indonesian Literature, Romance, Humor, Adventures
Status: Punya, beli seken di tante Nadiah Alwi

Kata siapa kuliah di luar negeri itu gampang? Perkenalkan Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri. Lima anak manusia terlahir di Indonesia, terdampar bersekolah di Belanda demi meraih gelar S2. Mulai dari kurang tidur karena begadang demi paper, kurang tenaga karena mesti genjot sepeda berkilo-kilo meter bolak-balik ke kampus setiap hari, sampai kurang duit hingga terpaksa mencari pekerjaan paruh waktu; semua pernah mereka alami.

Selain menjalani kisah susah senangnya menjadi mahasiswa rantau di Eropa, mereka juga menjalin persahabatan dan berbagai tip bertahan hidup di Belanda. Mereka pun bergelut dengan selintas pertanyaan di benak mahasiswa yang pernah bersekolah di luar negeri: untuk apa pulang ke Indonesia? Dalam perjalanan menemukan jawaban masing-masing, takdir menuntut mereka memiliki keteguhan hati untuk melampaui rintangan, menggapai impian, serta melakukan hal yang paling sulit: the courage to love!

Novel ini ditulis dengan gaya lincah, kocak, sekaligus menyentuh emosi pembaca. Kita juga akan diajak berkeliling mulai dari Brussel hingga Barcelona, mengunjungi tempat-tempat memikat di Eropa, dan berbagi tip berpetualang ala backpacker


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Sebelum mereview, Bunda mau ngabarin sedikit berita sedih. Tahun ini, lagi-lagi kalian berdua gagal dapat adik seperti tahun lalu. Pertengahan Agustus 2015 ini, Bunda keguguran lagi, sama seperti Agustus 2014. Mungkin sudah saatnya Bunda berhenti berusaha memberi kalian berdua adik dan lebih fokus pada kalian berdua, karena ternyata kalian berdua itu begitu demanding terhadap Bunda, ya... Sedih? Jelas. Tapi ada sisi lega juga, karena ternyata kalian semakin demanding. Kebayang aja, sih, kalo ada adek bayi sementara situasi kalian lagi seperti ini, mungkin kalian tidak terurus. 

Sudah, ya, berita sedihnya. Sekarang Bunda pengen cerita tentang buku yang mulai Bunda baca sejak April apa Mei ini dan baru kelar 8 September 2015. Lama? Ya banget. Tebal? Nggak sampai 500 halaman padahal. Lalu kenapa sedemikian lama?
Ah... kisahnya panjang.... Haha. Tapi review Bunda mungkin bisa bikin kalian maklum, kenapa Bunda lama selesaiin bacanya (sebenernya bukan faktor utama banget, tapi faktor penunjang juga dan cukup krusial)


Sinopsis

Seperti yang dibahas di blurb di atas, Negeri van Oranje berkisah tentang persahabatan kelima mahasiswa yang sedang berjuang di Negeri Oranye alias Walanda, errr, Belanda. Mereka adalah Banjar, Daus, Wicak, Geri, dan Lintang. Sebenernya, kelima orang ini nggak datang dari kampus yang sama, bahkan mereka ini beda kota semua. Ada yang di Den Haag, Wageningen, Leiden, Utrecht, Amsterdam, dan lainnya (lupa lagi. hihi)

Mereka menamai diri mereka sebagai Aagaban, sering ngobrol ngocol lewat conference di Yahoo Messenger group. Mereka sangat dekat satu sama lain walau masing-masing dari anggota Aagaban ini punya masalah pribadi yang cukup rumit, misalnya aja Daus yang sering gagal berbuat maksiat padahal mumpung lagi di "surga tempat maksiat" ~ mungkin doa Engkongnya sedemikian melekat jadi dia selalu terlindungi dari berbuat maksiat. Banjar yang kehabisan duit sehingga ngos-ngosan cari kerja sambilan di sebuah restoran Indonesia. Lintang yang punya mimpi bersuamikan bule ganteng, tapi sering kandas setiap pacaran dengan para bule itu. Wicak dengan masalahnya sendiri juga. Cuma Geri yang kayaknya sempurna. Ganteng, anak orang kaya, pinter, manis. Tapi jujur, Bunda selalu curiga dengan pria macam ini. Hehe.

Romance-nya muncul ketika ternyata para pria ini bersaing mendapatkan Lintang. Di akhir tahun mereka berada di Belanda, para pria ini ternyata perang dingin karena ternyata mereka sama-sama memendam perasaan pada Lintang. Yah, seperti yang Sarah Sechan bilang di acara talkshow-nya pas para pemain Negeri van Oranje hadir, "pada akhirnya Lintang hanya memilih satu dari keempat pria itu".

Yes, Negeri van Oranje dibuat filmnya. Sejujurnya, Bunda pengen banget nonton, karena pengen tau gimana feelnya kalo dibuat film.




Sedikit bocoran aja (sampai Bunda ngetik review ini belum nemu trailer filmnya soalnya) orang-orang yang bakalan jadi karakter-karakter di Negeri van Oranje adalah sebagai berikut:

Abimana Aryasatya sebagai Wicak
Ge Pamungkas sebagai Daus
Arifin Putra sebagai  Banjar
Chico Jericho sebagai Geri
Tatjana Saphira sebagai Lintang
Bunda emang pengen baca Negeri van Oranje sejak awal terbit, tapi entah kenapa tiap beli buku kelupaan mulu ambil yang ini. Nah, karena teman-teman Kubugil udah pada baca (jelas laaaah, kan, ada uwa Aaqq yang ikut berkontribusi nulis novel ini), Bunda nggak mau ketinggalan doooong. Eh, buku di tangan udah dari tahun 2010 kalo ga salah, tetep aja kelupaan mau baca. Padahal buku ini udah banyak cetak ulangnya.

Sampai akhirnya, awal Maret 2015 lalu, pas Bunda lagi iseng cari buku buat dibaca, Bunda ambil buku ini dari rak dan malah papa duluan yang terlihat menikmati bacanya. Hihihi... Bunda jadi pengen baca juga karena bentar lagi kan filmnya mau tayang. 



Oke, ini Review Bunda

Pertama, soal pertemuan mereka kalo menurut Bunda terbilang too good to be true kalo buat langsung jadi akrab dan bersahabat sekaligus mengingat latar belakang mereka sangat jauh berbeda, tapi yah, faktor mereka "sama-sama mahasiswa Indonesia" bisa dimaafkan lah sedikit :D

Kedua, Bunda melihat novelnya itu hanya casing. Di halaman pertama, kesannya bagus banget. Wah, kayaknya seru, nih! Tapi, setelah masuk ke halaman berikutnya, kesan yang sampai ke Bunda adalah buku ini sebenernya panduan jadi mahasiswa di Belanda (kayak tips dan berbagi pengalaman selama jadi mahasiswa di Belanda plus jalan-jalan ala backpacker) yang dibungkus novel.

Ketiga, karena bikin ceritanya berempat dan dipaksakan untuk satu gaya cerita, jadi aneh. Jujur, ini yang bikin Bunda susah payah menelan cerita di sini karena gaya cerita yang dipaksakan untuk jadi satu gaya. Kenapa? Yang nulis berempat, kan? Tiap orang itu isi kepala dan gaya menulisnya berbeda. Sehingga, Bunda perhatikan, setiap karakter di sini bisa diceritakan dengan gaya yang mengalir dan menyenangkan, tapi kadang boriiiiiiiing banget cara menceritakannya sampai males nerusin ke halaman berikutnya. Ada juga yang disampaikan dengan style kayak di novel tante Otak Prima itu. 

Keempat, hampir semua deskripsi ceritanya membosankan, kecuali beberapa line yang bikin bunda ngakak. Misalnya, "Ketiganya punya prinsip serupa: bikin dosa, minimal berjamaah." (hal 275). Hahahaha...

Kelima, romance yang terbangun di cerita ini terlalu ringan, jadi malah garing. Hihihi. Entah kalo di film nanti. 

Keenam, buku ini bercerita tentang teknologi pada masanya. Jadi ketika dibaca enam tahun setelah buku itu terbit, agak terkaget-kaget juga, sih, mengingat dalam enam tahun, telah terjadi kemajuan teknologi sedemikian dahsyatnya. Hihi. Tapi lumayan lah, buat sedikit pengingat bahwa pada masa itu, teknologi yang paling canggih adalah komputer berprosesor dual core :D *belum disinggung tablet sih, karena Wicak masih pake PDA a.k.a Personal Digital Assistant*

Ketujuh, ini plusnya, hampir keseluruhan dialognya menyenangkan dan hidup, jadi ya lumayan bisa jadi alasan untuk bertahan membaca dan juga penasaran kalo dibuat film seperti apa jadinya. 

Oya, papa protes tuh, kenapa bukan kecengannya (Chika Jessica) yang jadi pemeran Lintang. Diiiih!  Walau di novel diceritakan kalo Lintang itu cempreng, tapi Bunda mah ga ridho kalo Chika Jessica yang meranin jadi Lintang. Syukurlah, yang jadi Lintang itu Tatjana Saphira. Haha. Bukan cemburu ama Chika Jessica, sih, cuma gimana, ya... nggak banget lah kalo hanya kecemprengan yang dinilai layak memerankan Lintang. 

Papa ngecengin Chika Jessica? Ya begitu, deh, selera cewek-cewek papa. Tipenya semacam. Mulai dari Fitri Tropika, Chika Jessica, dan cewek heboh semacam mereka itulah. Hihihi. Untunglah karakter Bunda yang kalem menghanyutkan gitu, jadi bisa menetralkan selera aneh papa. Ups! /dipentung :D *nggak meremehkan atau merendahkan mereka, kok, cuma yah... kurang sreg aja ama style beliau-beliau :D*

Nah, jadi untuk beberapa alasan di atas, bintang tiga lumayan banyak loh, ya...

Btw, ternyata Arifin Putra itu ganteng pake banget, yaaaaa.... hihihi....

Cheers and Love! xoxo,




Terusin baca - Negeri van Oranje by Wahyuningrat, dkk

30 Mei 2014

Saya Cinta Indonesia: Ocehan Komika tentang Kelucuan di Negerinya by Isman H Suryaman, dkk

Judul: Saya Cinta Indonesia: Ocehan Komika tentang Kelucuan di Negerinya
Penulis: Isman H. Suryaman, Andi Gunawan, Sammy 'not a slim boy', Miund
Penyunting: Agus Wahadyo
Desain cover: Budi Setiawan
Penata letak: Eko Haryanto
Diterbitkan pertama kali oleh: mediakita
Cetakan kedua, 2013
ISBN: 979-794-368-2
Status: punya, edisi bertandatangan om Isman (dapet lewat nepotisme ke tante Primadonna Angela)


Blurb:
Kenapa orang Sunda ada yang susah membedakan arah? Saya baru menyadarinya ketika pergi ke Yogyakarta. Berkebalikan dengan karakteristik umum orang Sunda, prang Yogya umumnya sangat paham arah.
Saking pahamnya, kalau saya nanya jalan, saya tetap bingung.
"Permisi, Mas. Kalau ke Malioboro ke arah mana, ya?"
"Oh, Malioboro? Gampang itu. Ambil arah utara 500 meter, nanti ketemu persimpangan. Belok aja ke barat daya sekitar 300 meter. Belok lagi ke jalan yang tenggara, ikuti sekitar 700 meter. Nanti balik ke Utara. Gampang"
..."Saya telepon taksi aja, ya, Mas."

posting bareng BBI Mei 2014 tema Humor dan Komedi

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Setelah beberapa bulan absen, Bunda akhirnya ikut lagi baca dan posting barengnya BBI. Tapi bulan ini, Bunda nggak ikut tema Katulistiwa Literature Award 2013. Alasannya, karena Bunda nggak punya satu pun bukunya. Kedua juga belum tergerak untuk punya apalagi beli. Pasti mandek bacanya.
Kebetulan Bunda udah kelarin baca buku om Isman dan teman-temannya ini, jadi buku ini Bunda bisa pakein alasan untuk ikut posting bareng. Hehehe...

Mungkin kalian belum tahu siapa om Isman. Hmm... sebetulnya, om Isman itu lulusan Teknik Informatika ITB, kakak kelasnya om Fatah, om Ruli dan teman-teman Bunda lainnya yang membelot menjadi komedian dengan spesifikasi stand up comedy alias jadi komika. Nah, om Isman menikah dengan tante Dona, teman Bunda. Iya, tante Dona yang Primadonna Angela itu... 

Apakah sebagai komika, om Isman itu lucu? XD
Pertanyaan yang sulit. Soalnya, om Isman itu nggak cuma lucu, tapi juga absurd. Dan kalo udah merhatiin sahut-sahutannya sama tante Donna di twitter, Bunda bisa bayangin tiap hari ketawa melulu kalo ada di dekat mereka berdua. Hihihi. 
Om Isman membuktikan bahwa jadi orang pinter (pinter karena beliau mengenyam pendidikan di Teknik Informatika ITB ~ yang mana pas jaman Bunda mau masuk kuliah dulu, passing grade-nya paling tinggi se-Indonesia) nggak selamanya kaku, nggak bisa bercanda dan datar. Selain pinter secara akademik (yang dibuktikan dengan di mana beliau lulus kuliah), om Isman juga pinter ngelucu. 

Heiiii! Kenapa Bunda bahas tentang pinter nggak pinter di review, sih? KOK? Bunda mulai kebawa-bawa sama tante yang satu itu, sih... Yang setiap saat nulis, pasti bawa-bawa soal otak, kepintaran, dan teman-temannya. D'oh!

Hayu kita fokus ke review Bunda tentang buku ini. Hmmm... Bunda baru sadar, bedanya menyimak stand up comedy dengan baca ocehan mereka di buku, setelah baca buku ini. Hampir semua yang diceritain di buku ini sesungguhnya cerita yang miris, menyedihkan. Tapi karena yang ceritanya komika, tentu diserempet-serempetin biar lucu. Sayangnyaaaa... karena ini buku, sebetulnya bukan humor yang berasa, tapi kadang malah sedih. Nyengir ada sih. Tapi nggak sampai ngakak kayak kalo nonton mereka lagi open mic. Mungkin karena pengaruh mimik muka, gerak tubuh, suara, tatap mata saat komika open mic, kita bisa menertawakan sesuatu yang sebetulnya menyedihkan. 

Eh, tapi, di awal cerita ini, Bunda lumayan ngakak, lho. Ngebayangin tampang om Isman yang tinggal di Bandung, terus dikasih tau arah menuju Malioboro pas di Yogya... hihihi... Kayaknya, kalo jualan GPS di Yogyakarta nggak akan laku sama orang asli Yogya atau yang udah tinggal di sana lama, ya. Hahaha... Abisnya, ngasi tau arah, bener-bener sama akuratnya kayak di GPS! XD

Kalo cerita-cerita lain om Isman, kayak tentang debat capres, telemarketing, dan lain-lain, kita dibuat agak mikir. Soalnya konsep tulisannya lebih ke dialog. Masih kerasa lucu, cuma Bunda tetep susah ngakak, karena butuh visual komika untuk bisa menertawakan ini. 

Sementara untuk ocehan om Andi Gunawan cukup sukses bikin Bunda ngikik sekaligus miris. Segini parahnya kah, negeri kita saat ini? Rangkaian ocehan om Andi ditutup dengan komik strip yang bikin Bunda ngakak kejungkel saking lucunya...

Sementara ada cerita om Sammy 'not a slim boy' yang malah mengundang air mata haru. Misalnya, dia cerita tentang ketakutannya akan bapaknya diculik PKI karena bapaknya seorang perwira TNI. FYI, di masa Bunda kecil, sepertinya sama juga dengan om Sammy, semua siswa sekolah sempat diwajibkan untuk nonton film Penumpasan G30S/PKI setiap tahunnya. Beruntung banget, Bunda nggak perlu nonton ke bioskop, karena bioskop yang ada di Bandung terlalu jauh untuk dijangkau oleh kami. Film itu sebetulnya sadis dan bukan konsumsi anak SD. Nggak tahu kenapa, kami diwajibkan nonton itu setiap tahunnya... >_<
Ada, sih, cerita yang lucu. Tapi kebanyakan yang diceritain om Sammy di buku ini kok, malah sedih, ya? Favorit Bunda adalah cerita Guru Omar Bakrie, Sebuah Ilustrasi. Bikin mewek.

Buku ini ditutup dengan kumpulan ocehan tante Miund. Ocehan tante Miund ini beneran bikin ngakak, karena ceritanya nggak jauh dari lingkungan sehari-hari. Ngakaknya bukan karena lucu, tapi bener-bener miris. Ada ceritanya, tante Miund diajak ibunya untuk ngajarin ibu-ibu PKK di daerah kumuh di Jakarta Utara. Kumuhnya bener-bener kumuh. Rumah petak-petak sangat rapat, bau lembap, dan buang air atau mandi mesti di MCK. Tapi, pas lagi makan siang, tante Miund sempet ngeliat ada anak-anak yang pegang PSP terbaru. Asli, bukan KW apalagi palsu. Pas tante Miund nawarin makan siang ke mereka (saat itu konsumsinya adalah paket nasi Hokben), mereka jawab, "nggak, ah! Bosen Hokben mulu."

WHAT?

Ocehan-ocehan lain tante Miund bikin ngikik juga, kayak gimana komentar tante Miund tentang cerita dongeng ala Disney vs dongeng Indonesia. Kita digiring buat mikir soal dongeng-dongeng ala Disney itu. Hihi... Bikin Bunda agak merasa beruntung karena nggak harus mengenalkan princesses itu ke anak-anak Bunda, karena anak-anak Bunda laki-laki semua. Hahaha... Ada juga tentang perempuan di gym. Juga tentang Jakarta. Semuanya bikin nyengir lebar.

All in all, meski kerasa bedanya antara nonton komika saat open mic dengan baca cerita mereka di buku, buku ini tetep punya greget kalo menurut Bunda. Biarpun keempat komika ini gemes suremes sama negerinya sendiri, mereka bener-bener mencintai negerinya dan pastinya mendukung perubahan ke arah yang lebih baik. Dengan kata pengantar dari om Pandji Pragiwaksono, komika yang nggak pernah lelah mengajak anak-anak muda Indonesia untuk melek politik di Indonesia, Bunda yakin, kehadiran para komika yang bener-bener peduli sama perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik bisa jadi motor supaya alay-alay ikut peduli sama negaranya sendiri. Empat bintang untuk Saya Cinta Indonesia!

Love you both... Cheers!



Terusin baca - Saya Cinta Indonesia: Ocehan Komika tentang Kelucuan di Negerinya by Isman H Suryaman, dkk

20 Mei 2014

How to Train Your Dragon by Cressida Cowell

 

Judul: How to Train Your Dragon ~ Bagaimana Caranya Melatih Nagamu
 (How to Train Your Dragon #1)
oleh: Hiccup Horrendous Haddock III
ditulis (baca: diterjemahkan dari Naskah Norwegia Kuno) oleh Cressida Cowell
Penerjemah: Mutia Dharma
Penyunting: Maria Masniari Lubis
Proofreader: Ela Karmila
Teks ilustrasi: tulisan tangan kiri Maria M. Lubis
Cetakan I, Januari 2006
Diterbitkan oleh Penerbit Little K ~ PT Mizan Pustaka
Ilustrasi sampul: Jimmy Pickering
Desain sampul: David Mackintosh
Desain dan ilustrasi isi: Cressida Cowell
ISBN: 979-3659-63-7
Jumlah halaman: 256 hlm.; 19,5 cm
Genre: Fantasy, Children, Young Adult, Adventure, Humor, Media Tie In ~ Movie, Middle Grade

TENTANG PENULIS
Hiccup Horrendeus Haddock III adalah seorang Pahlawan Viking yang sangat unik dan istimewa. Dia adalah seorang kepala suku, kesatria besar, dan pendekar pedang yang dahsyat. Dia juga terkenal sebagai "Sang Pembisik Naga", karena keperkasaannya menaklukkan makhluk menyeramkan itu. Tapi, menjadi seorang pahlawan yang sukses ternyata tak semudah yang Hiccup bayangkan.

Inilah kisah masa kecil Hiccup, yang menjadi pahlawan dengan cara susah payah...

"Kisah klasik." - The Viking Post
"How to Train Your Dragon wajib dibaca oleh semua Pahlawan yang mengalami kesulitan bertingkah laku penuh Kepahlawanan."
- Pustakawan Barbar

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Bunda udah lama punya buku ini. Kalo nggak salah, pas kakak Ilman masih di perut Bunda, deh. Hihi. Bunda pernah bacain beberapa halaman sih, buat kakak Ilman. Tapi terus Bunda lupa lagi ceritanya, karena lain banget sama filmnya, makanya Bunda baca lagi sekarang. Bunda udah punya bukunya sampai buku lima, terus ternyata kaget aja, buku ini udah sampai nomer sebelas! Dan sama Mizan baru diterjemahin sampai lima buku. Hiks...

Awal Bunda kenal buku ini karena buku ini dulu bagian dari kerjaannya tante Umay alias tante Maria yang ngedit buku ini. Pas Bunda kenalan sama Hiccup, Bunda jadi jatuh hati sama buku ini. Makanya pengen ngumpulin, apa lagi anak-anak Bunda kan laki-laki semua. Kalian wajib baca buku ini, nih..

Terlahir sebagai anak kepala Suku Hooligan Berbulu ~ Stoick Agung, Hiccup tidaklah istimewa. Secara postur, Hiccup termasuk mungil dan lemah. Nggak sesangar ayahnya yang menjadi kepala suku. Meski begitu, Hiccup seharusnya ditakdirkan menjadi Pahlawan, karena dia adalah Harapan dan Ahli Waris Tahta Suku Hooligan Berbulu. Postur Hiccup yang kecil dan tampak lemah ini - juga tidak suka berkelahi, oleh Dogsbreath, salah satu anak lain yang tergabung dalam Anggota Muda Suku Hooligan Berbulu, Hiccup mendapat julukan: Hiccup The Useless (Hiccup Si Tak Berguna). Selain Dogbreath ada si Snoutlout, yang juga senang menghina Hiccup.

Nah, buku pertama ini bercerita tentang seleksi penerimaan Anggota Muda Suku Hooligan Berbulu yang terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah menangkap naga mereka sendiri. Mereka diantarkan ke Tebing Naga Liar untuk masuk ke Ruang Bermain Anak-anak Naga, di mana di sana ada tiga ribu ekor anak naga yang sedang tidur koma selama musim dingin. Tugas mereka harus mengambil satu dari anak naga yang sedang tidur itu dengan selamat dan memasukkannya ke dalam keranjang. Di awal cerita ini aja udah ada aja ketegangan yang muncul, terutama karena Fishlegs telah membuat anak naga ini bangun dan menyebabkan kesepuluh anak ini nyaris celaka.

Meski begitu, akhirnya Hiccup mendapatkan seekor naga biasa, yang bahkan tidak bergigi yang dijuluki (lagi-lagi oleh Snoutlout) Toothless. Dia pun jadi bahan tertawaan beberapa anak lain, kecuali sahabatnya, Fishlegs.

Pas tahap melatih naga mereka sendiri, mereka diwajibkan membaca buku panduan karya Profesor Dr. Yobbish B.A, M.A, HONS, DLL yang berjudul How to Train Your Dragon. Buku ini milik perpustakaan Suku Meathead yang dicuri oleh Gobber, salah satu pahlawan dari Suku Hooligan Berbulu yang bertugas mengasuh kesepuluh calon anggota muda itu.

Ketika Hiccup dan Fishlegs berniat membaca serius buku ini, ternyata buku ini cuma berisi satu halaman saja cara melatih naga. Bahkan cuma satu bab aja. Bab pertama sekaligus terakhir itu cuma berisikan kalimat: BERTERIAKLAH PADA MEREKA! (Semakin keras semakin baik).

Udah aja! Hihihi...Dudududu... Hiccup kan ga bisa berteriak. Gimana, dong?

Sementara itu, jauh sebelum acara penerimaan ini, Hiccup udah sering mengamati naga, bahkan dia pun bisa berbahasa naga. Hiccup melatih Toothless dengan cara berbicara kepadanya. Mulai dari menghadiahinya lobster dan masih banyak lagi, termasuk menceritakan lelucon yang disukai Toothless. Dan dia ga berharap lagi menjadi pahlawan. Kayaknya asal lolos aja di Ujian Penerimaan Para Pahlawan Muda di hari Perayaan Kamis Thor itu udah cukup banget, deh. Mengingat naga-naga anggota lain tampak lebih sangar.

Ketika harinya tiba, setelah menangkap dan melatih naga mereka, di hari Perayaan Kamis Thor atau Thor'sday Thursday, kesepuluh anak calon Anggota Muda Suku Hooligan Berbulu bergabung dengan sepuluh anak calon Anggota Muda Suku Meathead dari pulau Meathead akan menghadapi Ujian Penerimaan Para Pahlawan Muda. Yang nggak kepilih harus diasingkan selama-lamanya.

Seharusnya, mereka semua lolos, sih... Tapi... gara-gara Toothless manas-manasin Fireworm, semua naga anak-anak itu berkelahi dan anak-anak ini sama sekali nggak berdaya mencegah perkelahian dan kekacauan ini. Thor pun marah dan setelah para pejabat berembug, mereka memutuskan akan mengasingkan keduapuluh anak ini untuk selamanya keesokan harinya. 

Selama hari itu hingga keesokan harinya, badai terus saja mengamuk. Badai besar itu telah mengangkat dua naga raksasa yang selama beratus-ratus tahun tidur di bawah laut ke permukaan dan ditemukan oleh Badbreath the Gruff. Ketika dia memberitahukan pada Stoick Agung, maka Dewan Perang pun dikumpulkan. 

Sampai di sini, peran Hiccup sebagai Pahlawan pun mulai terungkap. Gimana dia susah payah menjadi Pahlawan, bertarung antara hidup dan mati. Hiccup pun membuktikan bahwa berteriak sekerasnya pada naga, bukanlah cara melatih naga.

Hmmm... Gimana, ya...

Bunda suka terjemahannya. Jadi, Bunda menikmati bacanya. Meski kecepatan baca Bunda udah nggak secepat dulu (bukan faktor U, tapi faktor kesibukan karena Bunda kan selain ngantor juga ngebabu di rumah), buku ini termasuk gampang dicerna dan menyenangkan. Juga asik berimajinasi tentang naga itu sendiri.

Ceritanya sendiri meski rumit tapi kebacanya simpel aja. Humornya kena. Ketegangannya pun kerasa. Perasaan Hiccup pun kerasa banget ke hati. Ukuran font dan warna kertasnya bikin buku nyaman dibaca.

Kekurangannya apa, ya? Oh. Itu. Penempatan ilustrasi yang ada teksnya banyak memotong kalimat. Jadi, karena Bunda pengen beresin baca kalimatnya dulu, terus mesti balik lagi ke halaman yang ada ilustrasi berteks itu. Kesannya ilustrasi itu cuma pemanis buku. Padahal, ilustrasi itu memperkuat cerita buku. Jadi, bagusnya, menurut Bunda, sih, supaya pembacanya nggak terdistraksi, mendingan ilustrasi yang mengandung teks, ditaruh di bagian akhir bab aja atau di akhir paragraf. Jadi, seberesnya baca kalimat dalam satu paragraf, bisa beralih ke ilustrasi tanpa terganggu. Gitu aja, sih, kekurangannya menurut Bunda.

Yah, cuma gara-gara kekurangan itu, Bunda kepaksa kasih 4 aja. Padahal kalo dari sisi cerita dan keasikan menikmati ceritanya, layak banget dapat 5 ^_^

Oya, ini ada kalimat favorit Bunda yang diucapkan sama Wrinkly Tua, kakek Hiccup dari pihak ibu. 
"Pahlawan Masa Depan harus cerdas dan terampil, bukan hanya berbadan besar dengan otot yang terlalu kekar. Dia harus bisa menghentikan pertengkaran sesama anggota suku dan membuat mereka menghadapi musuh bersama-sama."
Bener banget, kan? :D

Jadi, kesimpulan Bunda? Kalian wajib baca buku ini! Hihihi...

Love you both... Cheers!



Terusin baca - How to Train Your Dragon by Cressida Cowell

21 Mar 2014

Marriageable by Riri Sardjono


Judul: Marriageable
Penulis: Riri Sardjono
Editor: Windy Ariestanty
Proofreader: Mita M. Supardi
Penata letak: Gita Ramayudha
Desain sampul: Dwi Annisa Anindhika
Diterbitkan oleh: Gagas Media
Cetakan ketujuh, 2013
Jumlah halaman: x + 358 hlm; 13 x 19 cm
ISBN: 979-780-651-0
Genre: Novel dewasa, Adult, Romance Indonesia, Romance, Indonesian Literature, Chicklit
Status: Punya. Beli di Rumah Buku. Harganya 49rb, diskon 20% + 2%
Namaku Flory. Usia mendekati tiga puluh dua. Status? Tentu saja single! Karena itu Mamz memutuskan pencarian Datuk Maringgi abad modern untukku.
"Kenapa, sih, gue jadi nggak normal cuma gara-gara gue belom kawin?"
"Karena elo punya kantong rahim, Darling," jawab Dina kalem.
"Kantong rahim sama kayak susu Ultra. Mereka punya expired date."
"Yeah," sahutku sinis. "Sementara sperma kayak wine. Masih berlaku untuk jangka waktu yang lama."
Mamz pikir aku belum menikah karena nasibku yang buruk.
Dan kalau beliau tidak segera bertindak, maka nasibku akan semakin memburuk. Tapi Mamz lupa bertanya apa alasanku hingga belum tergerak untuk melangkah ke arah sana.
Alasanku simple. Karena Mamz dan Papz bukan pasangan Huxtable. Mungkin jauh di dalam hatinya, mereka menyesali keputusannya untuk menikah. Atau paling tidak, menyesali pilihannya. Seperti Dina, sahabatku.
"Kenapa sih elo bisa kawin sama laki?"
Dina tergelak mendengarnya. "Hormon, Darling! Kadang-kadang kerja hormon kayak telegram. Salah ketik waktu ngirim sinyal ke otak. Mestinya horny, dia ngetik cinta!"
See?
"Oh my God!" desah Kika ngeri. "Pernikahan adalah waktu yang terlalu lama untuk cinta!"
Yup!
That's my reason, Darling!

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Bunda melewatkan banyak keriaan di acara ulang tahun BBI tahun ini. Soalnya... Bunda kan sakit dua pekan, sampai sempat jadi penghuni rumah sakit hampir semingguan. Jadi... ya sudahlah... Bunda emang dari awal udah prediksi ga bisa ikut serangkaian acara ultah BBI tahun ini. Udah punya feeling gitu aja. Entah kenapa.

Dampak bagusnya, sebelum Bunda dirawat di rumah sakit, Bunda jadi menghabiskan dua-tiga buku gitu, deh. Kalo pas dirawat di rumah sakit, malah ga baca buku sama sekali meski bekal buku. Ternyata, obat-obatan di dalam infus bikin Bunda terlelap terus. Coba kalo sehat. Butuh waktu sebulan buat menyelesaikan baca satu buku saja. Hihihi. Jadi, ada banyak bahan buat nulis di sini... ^_^

Oke. Sekarang, Bunda mau cerita tentang Marriageable ini. Seperti kalian baca di atas, itu adalah potongan adegan saat Flory ngumpul dengan sahabat-sahabatnya, curhat mengenai usaha mamanya buat mendapatkan suami untuk putri satu-satunya itu. Karena menurut Mamz, usia Flory saat itu udah SOS harus segera menikah. Alasannya ya seperti yang dibilang sama Dina itu. Perempuan itu punya kantung rahim yang punya expired date.

Terus, akhirnya Flory berkenalan dengan seorang Vadin, hasil temuan Mamz. Tante Mia, ibu Vadin cukup akrab sama Mamz. Semula, Flory benar-benar muak dengan perjodohan ini dan mengira bahwa Vadin juga punya perasaan yang sama. Sama-sama muak. Ternyata, di luar dugaan, Vadin santai aja dengan perjodohan ini. Nggak terlihat marah atau apa. Malah, #destiny mereka seperti sering dipertemukan secara ga sengaja. Yaelah, kebawa lagi, deh, kata #destiny.... #tepokjidat

Melihat Vadin yang santai dan nggak terlihat pengen menggagalkan perjodohan ini bikin Flory semakin kesal sebetulnya. Tapi Vadin sendiri nggak melihat alasan kenapa perjodohan ini harus digagalkan? Secara fisik, Flory menarik. Vadin juga. Terus kenapa mesti menolak? Kan gitu aja mikirnya, simple.

Sayangnya, Flory tetep keukeuh menolak perjodohan ini sampai akhirnya dia lelah dan kemudian mencoba menikah dengan Vadin dengan satu syarat yang Bunda nggak akan cerita di sini. Bunda mau cerita di blog lain aja. Hihihi...

Ini #sopiler. Ceritanya happy ending. Udah gitu aja :D

Nah, kesan Bunda terhadap buku ini satu kata aja: SUKA.

Kalo suka, kenapa Bunda nggak kasih rating yang lebih tinggi? Katakanlah lima? Nah, ini dia persoalannya. Si Flory ini bener-bener menjengkelkan tu de maks, deh. Ke-keukeuh-an Flory bikin cerita ini tarik ulur dan menyebalkan buat diikuti. Terus terang, karakter Flory dan semua perilakunya bikin Bunda sempat ilfeel banget sama cerita ini secara keseluruhan. Meski demikian, nggak pantes juga kalo Bunda hadiahi cuma dua atau satu bintang, karena memang Bunda suka dengan Marriageable ini.

Okelah, mungkin karena di sekitarnya, ada "teladan buruk" Flory yang membuat dia parno dengan pernikahan. Tapi ya nggak gitu juga keleuuusss....

Sepupu Bunda, salah satu tante Bunda, bahkan salah satu pakde Bunda juga ada yang mengalami gagal permikahan. Belum lagi ternyata banyak teman sekolah Bunda yang juga mengalami perceraian, bahkan satu sahabat Bunda yang dari luar Bunda yakin mereka kayak pasangan Huxtable, bisa bubar juga. Lalu apakah semua pernikahan harus berakhir dengan perceraian? Haruskah semua pasangan menikah tampak ideal seperti pasangan Huxtable?

Jawabannya: Nggak.

Seperti kata pepatah, "lain lubuk lain ikannya". Lain kepala, lain isi pikirannya. Lain orang, lain isi hatinya. Nggak semua pernikahan harus sama modelnya. Ada yang memang model romantis. Ada yang memang model cuek banget. Ada yang memang kerjanya berantem melulu tapi awet. Ada yang kayak adem ayem tapi di hati masing-masing punya dendam, sekalinya ada pemicu keluar semua lalu bubar jalan. Macam-macam. Tinggal kita milih mau seperti apa punya konsep pernikahan itu.

Terus, kalian (mungkin) akan bertanya. Gimana Bunda menjalani pernikahan dengan Papa?

Jawabannya simple aja. Cuma mengandalkan Allah. Karena Dia yang mengatur semuanya.

Bunda percaya dengan pilihan Bunda. Papa percaya dengan pilihan Papa. Kedengarannya gampang? Iya. Kalo segala sesuatu diserahkan ke Allah, sisanya kita tenang, kog. Tinggal fokus sama apa yang memang harus dihadapi. Bareng-bareng menghadapi rintangan walau memang nggak mudah. Ada, kok, di lubuk hati *kadang-kadang*, rasa penasaran apakah Papa happy dengan Bunda, dst.

Tapi, sewaktu Bunda memilih Papa, Bunda sudah konsultasi dengan Yang Maha Mengetahui. Dan DIA yang kasih jawaban Bunda. So, kayak apa pun Papa, meski nggak 100% ideal di mata Bunda, dia 1000% memenuhi kebutuhan Bunda. Tapi, Bunda nggak tau dengan Papa. Soalnya, Papa tuh kalo ditanya ya gitu deh jawabannya. Dia nggak memusatkan hal-hal sesepele ini.

Bunda jadi ingat sebuah quote.



Nah. Di sana jelas disebutkan "I received everything I needed". Memang, jujur aja, setiap ada pria yang mendekati Bunda sejak Bunda SD dulu, Bunda selalu mikir jauh ke depan. Bunda bakalan sering komunikasi dengan orang ini, loh, kalo sampe jadian. Apa bakalan betah? Nah, Bunda selalu percaya pada "jatuh cinta pada pandangan pertama". Jadi, kalo dari pertama ngeliat udah nggak nyaman, seterusnya ternyata emang gitu. Makanya, dulu itu, setiap Bunda merasa didekati seorang cowok, Bunda selalu langsung mundur teratur atau malah kabur. Karena, Bunda juga nggak mau ngasih harapan kosong atau terus malah jadi nggak enakan satu sama lain. Sebelum mereka nembak, Bunda udah lari duluan. Dan akhirnya, setelah bertahun-tahun kemudian, mereka baru ngaku satu per satu kalo dulu mereka deketin Bunda tapi Bunda-nya ngacir duluan sebelum "ditembak". Jumlahnya lumayan banyak. Berarti, feeling Bunda dulu ga pernah salah :D

Makanya, mantan pacar Bunda nggak banyak. Tapi mantan TTM banyak ternyata #gubrak.

Balik lagi ke soal memilih pasangan dan keputusan buat menikah. Ada yang ngeles dengan menikah jadi nggak bebas, semua ruang gerak terbatas karena ada yang menunggu di rumah, tanggung jawab jadi lebih besar, dst.

Menikah atau nggak, keduanya punya konsekuensi. Konsekuensi ini yang harus diterima setiap orang sejak awal. Bunda suka kesal kalo denger teman yang bilang, "iya, nih, gara-gara udah punya anak, gue jadi nggak bisa nonton konser, deh..". Please, deh, jangan bilang "gara-gara". Belum tentu yang wara-wiri bolak balik nonton konser *karena masih single* nggak ngiri dengan mereka yang udah berkeluarga, kok.

Dan satu lagi, kita nggak perlu kasih judgement pada orang yang sudah menikah di usia muda atau masih single meski usianya sudah kepala 3 atau 4. Setiap orang punya jalan hidup masing-masing, punya pilihan masing-masing yang bukan urusan kita untuk mencampurinya. Hargai setiap orang dengan keputusan dan jalan hidup masing-masing. Bicara kalo diminta pendapat aja. Karena kadang, kita bicara karena udah dimintai pendapat aja masih dibantah, kog.

Buat yang pengen menikah tapi masih takut, nggak perlu takut. Semua hal dalam hidup ada resikonya. Semua perlu dihadapi. Buat yang nggak mau menikah karena takut atau hal-hal lain juga, nggak masalah. Itu pilihan. Jangan tiba-tiba membuat keputusan menikah karena takut ketuaan atau iri sama orang lain. Buatlah keputusan menikah karena memang ingin menikah. Titik.

Nah, balik ke cerita Marriageable, tokoh Vadin ini adorable banget menurut Bunda. Bunda sukaaaaaaaaa banget sama Vadin. Dan ga tau kenapa, sejak awal ngikutin tentang Vadin, kebayang Bunda,
Vadin itu kayak gini:   


Terus, Bunda kesel sama Flory, karena apa-apa diceritain semua ke sahabatnya. Ini yang bikin Bunda kesel. Tapi mungkin, karena Flory masih takut gitu kali, ya... Entah deh. Tapi kan jadinya rahasia ranjang pun keluar ke sahabatnya. Padahal, katanya, sih, soal cerita ranjang itu baiknya ga diceritain ke siapa aja. Jadi rahasia berdua aja. Gitu.... Meski akhirnya, ternyata sahabat-sahabatnya juga yang mendukung supaya Flory tetep bertahan dengan pernikahannya... So sweet, ya... empat bintang oke deh, buat Marriageable...

Diposting juga buat:
Indonesian Romance Reading Challenge
Lucky No. 14 Reading Challenge

Review versi lain *karena mengandung adegan uhuk-uhuk* ada di sini.

Stay hungry stay foolish ~ Steve Jobs.
Love you both, xoxo



Terusin baca - Marriageable by Riri Sardjono

23 Jul 2013

More Weird Things Customers Say in Bookshops


Judul: More Weird Things Customers Say in Bookshops
Penulis: Jen Campbell
Ilustrasi: The Brothers McLeod 2013
Desain: Basement Press, Glaisdale
Diterbitkan oleh: Constable
ISBN-13: 978-1-47210-741-1
e-book
Genre: Humor, Funny, Non-fiction, Comedy, Contemporary


Customer (holding up a book): What’s this? The Secret Garden? Well, it’s not so secret now, is it, since they bloody well wrote a book about it!

Weird Things Customers Say in Bookshops was a Sunday Times bestseller, and could be found displayed on bookshop counters up and down the country. The response to the book from booksellers all over the world has been one of heartfelt agreement: it would appear that customers are saying bizarre things all over the place - from asking for books with photographs of Jesus in them, to hunting for the best horse owner’s manual that has a detailed chapter on unicorns.

Customer: I had such a crush on Captain Hook when I was younger. Do you think this means I have unresolved issues?

More Weird Things Customers Say in Bookshops has yet more tales from the antiquarian bookshop where Jen Campbell works, and includes a selection of ‘Weird Things...’ sent in from other booksellers across the world. The book is illustrated by the BAFTA winning Brothers McLeod. (dari Goodreads)

ALERT: 
REVIEW (ATAU BUKAN REVIEW?) 
INI ISINYA CUMA SPOILER 
*maaf*


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...

Sekarang hari ke-15 bulan Ramadhan. Udah separuh bulan Ramadhan. Duh, tadarus Bunda tersendat begini...
Oh, ya... Akhirnya, Bunda dapet juga sekuel dari buku Weird Things Customers Say in Bookshops. Buku pertama, dalam format e-book yang Bunda dapet, meski jarak font, dll-nya bikin jereng, cukup sukses bikin Bunda ngekek-ngekek. Format ebook di buku kedua yang Bunda dapat, cukup beradab, lah... Yang jelas, bacanya ga pake perjuangan, selain kudu bisa bahasa Inggris. hihihi....

Buku ini terbagi atas tiga bagian. Eh, empat. Bagian pertama Introduction. Bagian kedua, tentang percakapan yang terjadi di Ripping Yarns Bookshop. Bagian ketiga, percakapan "weird" yang terjadi di bookshops lain. Dan bagian keempat, terakhir, adalah peristiwa celoteh orang-orang yang dateng saat acara Book Signings buku ini.

Menurut pendapat Bunda:
Kalo yang baca buku ini nggak pernah baca buku, nggak doyan Harry Potter atau nggak kenal dengan dunia imajinasi, maka buku ini adalah bacaan yang tidak mudah dipahami, tidak mudah dicerna. Jadi, untuk baca buku ini, haruslah punya wawasan cukup untuk bisa ngerti. Kenapa kesannya kayak baca buku yang satu itu, ya? X))

Sebab, buku ini emang bercerita tentang kelakuan aneh-aneh di sudut pandang bookseller. Jadi, wajar, kalo ada yang saking pengen merasa keren lalu baca buku ini, tapi dia nggak ngerti apa-apa, nggak tau di mana letak lucunya, bisa jadi, dia nggak pernah baca buku sebelumnya :D

Nah, apa yang bikin ngakak? Banyak. Sengaja Bunda ga pake tutup buka buat lihat spoilernya. Sebab, di atas udah dikasih tau bahwa review ini full of spoiler :D Atau sebenarnya ini bukan review? Reviewnya udah di atas. Cukup dua paragraf aja. Sisanya... Bunda suguhkan spoiler aja. Semoga berkenan :D

Di halaman pertama aja, udah nemu percakapan yang bikin pengen nejeh-nejeh customer :))

BOOKSELLER: Hi. Can I help you find anything?
CUSTOMER: Yes, Ths is your history section, right?
BOOKSELLER: Yep.
CUSTOMER: I can see you've got books on World War I and World War II.
BOOKSELLER:  Yes, we do.
CUSTOMER: But I can't find any books on World War III. Where are those?

CHILD: Mummy, who was Hitler?
MOTHER: Hitler?
CHILD: Yeah. Who was he?
MOTHER: Erm, he was a very bad man from a long time ago.
CHILD: Oh. How bad?
MOTHER: He was like... he was like Voldemort.
CHILD: Oh! That's really, really bad.
MOTHER: Yes.
CHILD: (Pause) So, did Harry Potter kill Hitler, too?

CUSTOMER (picking up a copy of Little Women): Is this a book about really short people?

LITTLE GIRL (pointing at Dr. Seuss books): I made a hat for my cat, but he won't wear it. That book is full of lies.


CUSTOMER: I don’t like biographies. The main character pretty much always dies in the end. It’s so predictable!

WOMAN (holding a copy of a Weight Watchers book in one hand, and The Hunger Games in the other): Which of these dieting books would you recommend most?

CUSTOMER: I really don’t like the planet today – can you recommend a book set far, far away?

CUSTOMER: Are you prepared? 
BOOKSELLER: ... For what? 
CUSTOMER: For the zombie apocalypse.

CUSTOMER: Do you believe in past lives?
BOOKSELLER: Erm, well, I ...
CUSTOMER: I do. I absolutely do. I feel very at one with everything. I’m pretty sure this is my seventh time on earth.
BOOKSELLER: I see.
CUSTOMER (looking pleased with herself): And I’m almost certain that in a past life I was Sherlock Holmes.
BOOKSELLER: ... You know, Sherlock Holmes is a fictional character.
CUSTOMER (outraged): ... Are you trying to tell me that I don’t exist?
BOOKSELLER: ...

YOUNG GIRL (pointing to a cupboard under one of the bookshelves): Can you get to Narnia through there?
BOOKSELLER: Unfortunately, I don’t think you can.
YOUNG GIRL: Oh. Our wardrobe at home doesn’t work for getting to Narnia, either.
BOOKSELLER: No? 
YOUNG GIRL: No. Dad says it’s because Mum bought it at IKEA

CUSTOMER: Where are your books on war?
BOOKSELLER: They’ll be in with history. Our history section is split up into British History, European History, American History and World History. Which war are you looking for, specifically?
 
CUSTOMER: I want a history of the ongoing war between werewolves and vampires.
BOOKSELLER: …
CUSTOMER: Where would I find that?

Terus, ada juga yang paling epic dari semuanya...

YOUNG BOY: You should put a basement in your bookshop.
BOOKSELLER: You think so?
YOUNG BOY: Yeah. And then you could keep a dragon in it, and he could look after the books for you when you're not here.
BOOKSELLER: That's pretty cool idea. Dragons breathe fire, though. Do you think he might accidentally burn the books?
YOUNG BOY: He might, but you could get one who'd passed a test in bookshop-guarding. Then, you'd be OK
BOOKSELLER: You know, I think you're on to something here.

---
Dan, kayaknya karena pas ditulis Fifty Shades of Grey - E.L James lagi marak, jadi sebagian besar isi percakapan mengenai buku itu. Di antaranya:

CUSTOMER: I'm looking for this picture book for my daughter. I read about it in a review somewhere, I think it's by someone called E. L. James.
BOOKSELLER: Erm, I don't think it was by that person; that's who wrote Fifty Shades of Grey.
CUSTOMER (going bright red and clutching her handbag, as though hiding something inside it): Oh! I don't know how that name cropped into my head, then, I've certainly never read any of those books! Never!

---

Terus ada yang curhat, dia ga mampu olahraga di sports club, minta ijin buat olahraga angkat beban pake buku-buku tebal yang ada di toko buku. Hadooooh! X))

Nah, ini pengalaman Jen Campbell pas acara book signings:

WOMAN: So. Are you the new J. K. Rowling then? You don't look like her. You've got different hair.

WOMAN (walks up to me, holding up a copy of Fifty Shades of Grey): Will you sign this for me?
ME: ... I didn't write that book
WOMAN: But the sign here says that you're signing books today.
ME: Yes... I'm signing the book that I wrote (indicates Weird Things...)
WOMAN: Just that one?
ME: ... Yes
WOMAN: Not any of others?
ME: ... No.
WOMAN: Oh, well, that's very odd. (She wanders off, looking confused)

Nah... masih penasaran? Silakan dibaca bukunya. Syaratnya tetep satu: HARUS NGERTI BUKU biar tahu letak lucunya di mana :D

Oya, ini Bunda masukkan linky untuk yang mau posting review Books In English RC. Maaf, Bunda belum sempat blogwalk. Tapi kan kalo ada linky, Bunda bisa jalan-jalan jadinya nanti... :)

Terusin baca - More Weird Things Customers Say in Bookshops