Tampilkan postingan dengan label terjemahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label terjemahan. Tampilkan semua postingan

30 Mei 2023

[2023: Book 7] Hai, Miiko - Vol 35

 


Judul: Hai, Miiko! Vol. 35    
Mangaka: Ono Eriko
Alih Bahasa: Dian Indrinuswati  
Penyunting: D. Tyagita Ayuningtyas 
Artistik: Ikmal Aldwinsyah
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama - M&C! 
Cetakan pertama, 2023
Halaman: 102 halaman
ISBN: 978-623-03-0923-6
Genre: Fiksi, Children, Komik, Manga, Japan Literature   
Status: Beli, pre order 


Miiko yang penuh semangat sudah kelas 1 SMP! Miiko dan teman-temannya sedikit demi sedikit mulai menjadi lebih dewasa. 
Terkadang rasa gelisah muncul, dan terkadang kesalahpahaman juga bisa terjadi. Namun, keceriaan Miiko bisa kembali menyatukan mereka semua!

Ayo kita ikuti perkembangan Miiko dan kawan-kawan yang selalu penuh warna! 

 

Hae, Kakak Ilman dan Kakak Zi...

Aktivitas annual kita nungguin kedatangan Miiko tunai sudah. Berkat kedatangan Miiko volume 35 yang kontroversial. Ahahaha.

Kenapa kontroversial? Sebab... di edisi asli yang diterbitin Penerbit Ciao, totalnya ada 9 chapter, sedangkan yang diterbitkan di sini, hanya 6 chapter. Yak, betul! Dipangkas 3 chapter. Kenapa?

Dari kabar yang aku terima, sudah diverifikasi juga, bu Ono mengangkat issue LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual, dan Transgender) ke volume 35 (dan 36, karena sudah terbit di sana. Entah dengan volume 37 dan seterusnya). Aku nggak tahu apa yang membuat bu Ono mengangkat tema ini, mungkin di sana sedang berkampanye tentang LGBT? Entah. I don't follow juga, jadi belum bisa cerita banyak. Nanti kita coba cari tahu, ya.

Terkait isi volume 35 yang diterbitkan Ciao akan aku bahas di tulisan lain, karena aku udah titip Kocchimuite Miiko Vol 35 dan 36 ke temenku yang lagi sekolah di Jepang dan mudik di Lebaran tahun ini. 

Sekarang, kalian mungkin bertanya-tanya, kenapa, sih, tema LGBT "terlarang" betul di sini, sampai akhirnya Miiko vol 35 (dan mungkin 36) dipangkas halamannya sampai sebanyak itu?

Begini, di negara Wakanda ini, apa aja bisa jadi bahan ribut, termasuk salah satunya issue LGBT. Bisa jadi karena mayoritas penduduk negara Wakanda yang beragama Islam dan memang di ajaran Islam itu issue LGBT termasuk hal yang dilaknat Allah, sehingga untuk keamanan dan kenyamanan bersama, issue LGBT dijadikan issue sensitif yang sebisa mungkin tidak boleh dibahas sama sekali.

Misalnya, Penerbit M&C! nekat tidak memangkas 3 chapter tentang LGBT dengan alasan mau memberi edukasi kepada anak-anak dan remaja terkait issue ini, sama aja dengan berdiri di tepi jurang yang sangat dalam. Semacam tinggal tunggu waktu aja untuk "mati". Pastinya pihak M&C! juga berat menyampaikan hal ini ke bu Ono, gimanapun niat baik bu Ono untuk menyampaikan pesan penting ini ke pembaca. Pembaca juga jadinya merasa rugi dan gelisah, karena ada chapter yang hilang, yang seharusnya bisa dinikmati seperti biasanya.

"Untung"nya, pihak M&C! udah menyediakan merchandise yang menurutku "agak" sepadan dengan hilangnya 3 chapter, walau emang jelas tidak bisa dibanding-bandingke, dong, yaaa...

Merchandise Hai, Miiko! Vol 35

Lalu, apa yang menarik di Hai, Miiko! Volume 35 ini, selain hilangnya 3 chapter tentang LGBT? Keenam chapternya tentu seru, dong, ya... Cuma di sini Tappei kurang banyak muncul... huhu... Padahal aku tuh, ya, selalu deg-degan sama romance Miiko dan Tappei. 

Di volume 35 lebih banyak diceritakan tentang pengalaman ekstra kurikuler yang dijalani Miiko dan teman-temannya. Aku lihat lebih banyak eksplorasi tentang kegiatan ekstra kurikuler di SMP yang dulu nggak Miiko jalani sewaktu SD. Aku pikir ide bu Ono mengeksplorasi kegiatan ekstra kurikuler di SMP ini bagus untuk memberi insight ke pembaca muda, terutama yang akan masuk SMP kayak adek Zi sekarang ini, biar terbayang nanti di SMP mau berkegiatan apa.

Di volume sebelumnya, volume 34, Miiko sempet galau mau masuk klub Basket atau nggak gara-gara dikata-katain pendek sama kakak kelasnya yang ada di klub Basket. Mari Chan yang saat itu ikut denger juga, jadi tersinggung dan berusaha memengaruhi Miiko buat masuk Klub Komik aja dengan disclaimer kalo orang-orang Klub Komik nggak ada yang mempermasalahkan fisik dan mereka semua ramah. 

Ketika Tappei menegur Miiko dengan keras tentang motivasi Miiko yang gaje ini lumayan nabok Miiko, juga ditambah fakta bahwa kapten tim basket putri di SMP Suginoki ternyata sependek Miiko tapi jagoan banget shoot bola 3 points, memperkuat keputusan Miiko untuk masuk Klub Basket, apa pun yang terjadi. 

Di volume ini mulai diperlihatkan beratnya jadi anak Klub Basket. Walau kelas 1 tugasnya masih lap-lap bola sampai mengilap, mereka tetap harus berlatih sama kerasnya dengan kakak-kakak kelas. Sebab mereka akan ada di bangku cadangan di setiap pertandingan yang sewaktu-waktu bisa diturunkan untuk bertanding kalo perlu pergantian pemain. Jadi tetep harus siap tanding walau duduk di bangku cadangan. Makanya perlu latihan keras, sama kerasnya dengan pemain utama. Miiko juga punya teman baru, seorang artis remaja, yang harus pinter bagi waktu antara kerja, sekolah, dan latihan basket. 

Di volume ini juga mulai terasa "tension" menjadi anak SMP di sisi pergaulan dan percakapan. Di volume 34 masih ada transisi dari masa anak-anak ke masa remaja, karena beberapa chapter masih bahas keberadaan Miiko di SD sampai kelulusannya juga saat hari pertama bersekolah di SMP, sementara di volume 35, suasananya sudah betul-betul di masa remaja. Miiko sudah menjadi remaja secara otomatis, karena dia sekarang siswi SMP. 

Kinda sad? Yes! Absolutely! Natürlich! Tamaaman! For a very long time, I have known Miiko as a 4th/5th grader and now she's in 7th grade. Also known as a teenager. 

Selain Miiko, ada Tappei dan Kenta di Klub Basket. Cuma karena Klub Basket putra dan putri latihan dan tandingnya juga dipisah, intensitas kemunculan Miiko dan Tappei secara berbarengan agak berkurang. Soalnya kan emang sibuk ya, bun...

Lalu bagaimana dengan Mari Chan? Syukurlah, di SMP Suginoki ada Klub Komik yang bisa memfasilitasi obsesi Mari Chan untuk jadi komikus. Jadi di kesehariannya, ga jauh beda dengan semasa di SD, tetep sibuk dengan komiknya. Miiko tentu tetap jadi asistennya di sela-sela kesibukannya dengan latihan rutinnya sendiri. 

Sementara Yukko memilih ekskul Atletik. Keputusan ini sempat membuat Miiko kaget, karena kalo misalnya memang Yukko memang mau ikut ekskul olahraga, bisa sama-sama ikut basket bareng Miiko dan Kenta, kan? Celetukan Mari Chan yang menyadarkan Yukko sendiri, bahwa selama ini, Yukko selalu mengurusi orang lain dan ekskul Atletik termasuk kegiatan yang bisa dilakukan sendiri. 

Cerita nggak barunya tentang Yukko, sebagai remaja yang kelihatan lebih dewasa dari umurnya, sama aja kayak waktu SD, di SMP juga Yukko tetep banyak yang ngecengin, terutama kakak kelas. Terus gimana dong, kisahnya sama Kenta? Ya gitu, lah. Nothing new. Tetep akur walau Yukko suka tiba-tiba aneh. Mas Kenta sabar banget, ya, bun... Hihi..

Anak lain yang diceritain kegiatan ekskulnya adalah Yoshiki. Iya, si bocah yang gedenya nanti pengen jadi sutradara, yang ngecengin Tanimura Miho dan sekarang badannya mulai tinggi itu. Syukurlah, SMP Suginoki punya Klub Peneliti Film yang memfasilitasi cita-cita Yoshiki. Setiap pekan, anak-anak Klub Peneliti Film akan mengundang siswa lain untuk menonton film yang ditayangkan di hari itu, lalu ada diskusinya. Sewaktu Miiko dan Mari Chan lihat poster yang dipasang tim Klub Peneliti Film, tentu langsung setuju untuk datang karena pengen nonton film gratis, kan. 

Yang lucu di sini, saat Miho "ditembak" kakak kelas dan diajak nonton film di bioskop yang ditolaknya dengan alasan nggak punya uang, Miiko malah mendukung kencan mereka dengan bilang, "nonton di sini aja, gratis!" sambil nunjuk poster Klub Peneliti Film yang mau menayangkan film Charlie's Angels. Hahaha..

Sesuai janji bu Ono, karena di volume 34 nggak banyak adegan Yoshida (padahal ada, kok!), di volume 35 ada dua chapter yang bahas tentang hubungan Yoshida dan Miiko. Tappei tetep pasti muncul sih, tapi sayangnya di salah satu chapter, kehadiran Tappei beneran cuma cameo. Sedih, ga, sih... Ketika berharap banyak sama Tappei, eh, malah.... (isi sendiri).

Kayaknya semua chapter udah aku bahas, ya. Oh! Ada satu chapter lagi, yang bahas khusus tentang Momo Chan, yang dapat homeroom teacher baru di DayCare-nya. Terus terang, cerita di chapter ini sukses bikin mrebes mili.

Sampai selesai semua chapter dibahas, barulah aku sadar kalo Papa, Mamoru, dan juga pak Oonishi nggak muncul sama sekali. Meski sekelas lagi sama Watanabe dan Nasu, mereka juga nggak muncul. Rasanya aneh aja gitu. Di setiap volume Miiko, mereka selalu ada kan. Di volume 35 ini, mereka nggak muncul. Satupun! T___T

Di review berikut-berikutnya nanti, aku akan bahas perbedaan versi bahasa Indonesia dan versi bahasa Jepang, ya. Aku masih cicil review yang lain dulu... 

Baca ini buat cicil beresin: 
- Goodreads Challenge 2023
- Abroad and Beyond Reading Challenge 2023 
- BBBBC Reading Challenge 2023


Sehat-sehat, ya, kalian berdua... Sampai ketemu di posting berikutnya... xoxo




 





 



Terusin baca - [2023: Book 7] Hai, Miiko - Vol 35

5 Jan 2017

Sepeda Merah ~ Yahwari #1 oleh Kim Dong Hwa (01-2017)



Judul: Sepeda Merah ~ Yahwari #1
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Meilia Kusumadewi
Ilustrasi sampul dan isi: Kim Dong Hwa
Penyunting: Tanti Lesmana
Teks dan tata letak: Anna Evita Rosaria
Cetakan pertama, Oktober 2012
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 144 hlm; 21 cm
ISBN: 978- 979-22-8776-9
Genre: Graphic novel, manhwa, komik, manga, Korean Literature
Status: Beli, titip uwa Susi. Kata uwa Susi sih, belinya di Nagareboshi



"Telusurilah jalan-jalan pedesaan yang beraneka ragam itu untuk menemui para penduduk Yahwari. Anda pasti akan berpapasan dengan sepeda merah si tukang pos yang berkeliling pelan penuh keselarasan dengan alam sekitarnya."

Melalui kisah-kisah pendeknya yang sarat dengan kelembutan, Kim Dong Hwa diperhitungkan sebagai salah satu penulis manhwa paling berbakat di hati orang-orang Korea.


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Selamat tahun baru 2017! Buat Kakak Ilman, selamat, ya... udah khitan! Itu tandanya Kakak udah besar... 
Semoga Kakak Ilman semakin shalih dan menyayangi Allah SWT.

Bunda mau cerita pengalaman Bunda waktu kecil dulu. Bunda selalu seneeeng banget terima surat dari eyang buyut putri kalian. Momen paling mendebarkan itu, sewaktu denger kring-kringnya sepeda Pak Pos di depan pintu pagar. Wahahaha... Deg-degannya karena nebak-nebak, surat yang datang kira-kira buat Bunda atau buat YangKung ya? Hihihi...

Selalu menyenangkan baca surat dari Eyang Buyut itu. Tulisannya tegak bersambung ala jaman duluuu banget. Meski begitu, Bunda udah bisa bacanya. Berlembar-lembar gitu. Surat-surat itu menghibur Bunda, ketika ditinggal ibu kandung Bunda untuk selamanya. Eh, iya, malah pas YangKung pedekate sama YangTi yang sekarang itu, Bunda disuruh surat-suratan sama YangTi, lho... hihihi...

Setelah lulus SD, selama tiga tahun, Bunda sering korespondensi sama mantan temen sebangku dulu. Lupa cerita apa aja, tapi yang jelas, tiap minggu, gantian dapet suratnya. Minggu ini Bunda yang dapet surat, minggu depannya Bunda yang kirim surat.

Tapi Bunda nggak pernah mau ikutan mendaftarkan diri jadi Sahabat Pena di majalah Bobo. Kalo baca keluhan mereka, sih, konon jadi sibuk banget karena harus balesin semua surat yang masuk. Trus, udah gitu, sering dibilang sombong, kalo suratnya ga dibales-bales. Akibatnya, demi balesin surat dari fans, ga sempet belajar, lalu nilai jeblok. Gitu, sih, ceritanya. Heuheu. Tapi nggak punya sahabat pena via majalah juga, Bunda udah sibuk korespondensi sama Eyang Buyut, kan?

Sekarang jadi kepikiran, pengen ngulangin lagi. Hahaha. Ada yang mau jadi sahabat pena Bunda?

Cerita tentang Pak Pos yang sering keliling Desa Yahwari ini unik dan menghangatkan hati. Uniknya, di Desa Yahwari itu alamatnya bukan pakai nama jalan dan nomor. Tapi lebih ke deskripsi khusus rumah itu. Misalnya saja, "rumah kuning kehijauan", "rumah tempat kita merasa semakin baik dan membaik", atau "rumah yang bisa dilihat di antara dua pohon pinus siam" dan lain-lain. Meski sulit untuk diingat, tapi Pak Pos ini selalu bersemangat mengantarkan surat.

Kadang, nggak hanya surat yang diantarkannya. Di musim gugur, pas lagi rame panen, banyak yang titip hasil panen untuk dikirim ke saudara-saudara para petani di sisi lain desa. Atau, jika sedang tidak ada surat sama sekali, Pak Pos tetap berkeliling desa untuk bertegur sapa dengan penduduk desa. Uniknya, selalu sama waktunya, sehingga, orang-orang di desa itu jadi punya kebiasaan untuk menunggu kemunculan Pak Pos di waktu yang sama, ada atau tidak ada surat untuknya.

Pak Pos sendiri sering mendapat surat dari seorang penyair di desa itu. Jadi, setiap Pak Pos membuka kotak pos di rumah penyair, dia akan menemukan selembar daun kecoklatan bersama surat yang dilipat unik. Surat itu berisi puisi-puisi karya penyair. Jadi pengen niruin deh... Hihi...

Ada juga cerita sedihnya, jadi Pak Pos sering lewat rumah seorang gadis cantik berwajah pucat. Setiap hari saling menyapa, sampai Pak Pos cukup lama nggak pernah lihat gadis itu. Ternyata gadis itu sudah meninggal. Dia tinggal seorang diri di rumah itu, ditemukan sudah tergeletak di lantai rumahnya oleh para tetangganya. Pas dibawa ke rumah sakit, keburu meninggal. Huhuhu... 
 
Grafisnya yang menurut Bunda sederhana tapi mewah, bikin betaaaaah banget bacanya. Belum lagi bahasanya yang lembut dan penuh makna, rasanya sayang aja kalo cepet-cepet kelar (walau bisa dibaca ulang berjuta kali lagi, kok! hihi)

Buku ini akan Bunda simpan baik-baik. Suatu saat nanti, kalian harus baca buku ini setelah dewasa. Soalnya, seluruh kalimatnya emang ditujukan untuk orang dewasa. Banyak hal-hal filosofis untuk direnungkan di setiap kisahnya.

Sampai jumpa di review berikutnya!

Cheers! Love, xoxo



Terusin baca - Sepeda Merah ~ Yahwari #1 oleh Kim Dong Hwa (01-2017)

1 Okt 2015

The Giver by Lois Lowry



Judul: Sang Pemberi (The Giver)
Penulis: Lois Lowry
Penerjemah: Ariyantri Eddy Tarman
Penyunting: Barokah Ruziati
Proofreader: Primadonna Angela 
Desain dan ilustrasi cover: Staven Andersen
Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustka Utama
Cetakan pertama, Agustus 2014
ISBN: 978-602-03-0668-1
Jumlah halaman: 232 hlm; 20 cm
Genre: Dystopia, Children, Adventure, Young Adult
Status: Punya. Beli seken dari Tante Selebvi

Dunia Jonas adalah dunia yang sempurna. Semuanya terkendali dan teratur. Tak ada perang, ketakutan, atau kesakitan. Juga tak ada yang namanya pilihan Semua orang memiliki peran di Komunitas. Saat Jonas menjadi Dua Belas, dia terpilih menerima latihan khusus dari Sang Pemberi. Selama ini Sang Pemberi memegang ingatan akan rasa sakit sejati dan kenikmatan hidup. Sekarang saatnya bagi Jonas untuk menerima kebenaran. Dan tak ada jalan untuk kembali.

Saat itu menjelang Desember, dan Jonas mulai merasa takut....

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Sewaktu lihat di kalender BBI ada event posting bareng buku penghargaan Newberry, Bunda belum punya satu bukupun terkait. Setelah berbulan-bulan berlalu, baru deh punya buku ini. Hihihi. Iya, Bunda masih "puasa" belanja buku baru. Haha.

Bunda baca buku ini karena sedang butuh bacaan ringan dan cepat. Nggak salah emang, ngambil buku ini. Dibilang ringan sebenarnya nggak. Dibilang cepat, termasuk super cepat, dibanding baca buku yang ini mah. Hahaha.

Sinopsis

Cerita dimulai dari pesawat terbang memutar di atas komunitas ketika Jonas bersepeda, lalu terdengar ada suara pengumuman untuk menghentikan kegiatan dan bersembunyi di tempat terdekat. Ada peraturan bahwa pesawat yang melintas, tidak boleh terlalu dekat dengan komunitas. Pilot yang melakukan kesalahan fatal seperti itu, akan Dilepaskan.

Jonas tinggal bersama kedua orangtuanya dan satu adik perempuan bernama Lily. Ayah dan Ibu bukanlah orangtua biologis Jonas dan Lily. Ibu Kandung dirawat untuk melahirkan sebanyak tiga kali, kemudian menjadi Buruh hingga saatnya dilepaskan. Sementara seorang Ibu atau Ayah bisa saja berprofesi apa saja yang terlihat hebat dan mulia, sambil memulai sebuah Unit Keluarga.

Menjelang Dua Belas, Jonas mulai merasakan keanehan pada dirinya, yang kita sebut dengan menyukai lawan jenis, karena Jonas punya perasaan senang pada Fiona, teman sebayanya, bahkan mulai memimpikannya. Ketika dia menceritakan ini pada Ibu, Jonas segera mendapatkan pil yang setelah diminum, rasa yang menyenangkan itu tiba-tiba hilang. 


Ceritapun kemudian bergulir pada keseharian mereka, rutinitas mereka, hingga Desember pun tiba, di mana Jonas telah masuk Dua Belas dan mulai mendapatkan penugasannya.

Hingga nama terakhir dipanggil dan mendapatkan penugasan, Jonas tidak dipanggil juga. Hal ini membuat semua hadirin bingung, khawatir, sekaligus takut. Tentu saja Jonas merasa ketakutan, karena dia tidak ingin dilepaskan dari komunitas jika dia memang telah melakukan kesalahan yang membuatnya harus Dilepaskan.

Jonas terpilih sebagai Penerima. Dia bertugas untuk menerima ingatan dari seluruh ingatan yang dimiliki oleh Sang Penerima sebelumnya. Ingatan akan apa? Ingatan seluruh dunia.

Dari sebagian ingatan yang sudah ditransfer kepada Jonas, dia mulai mengenali adanya perbedaan. Jonas mulai mengenali apa itu rasa senang sekaligus rasa sakit. Di dunia Jonas, semua sempurna, sehingga tidak akan merasakan sakit, tidak akan ada peperangan, dan lainnya. Semua sudah diatur sedemikian rupa, sehingga tidak terlihat ada perbedaan. Sebelum Jonas terpilih sebagai Penerima, dia memang sudah melihat sesuatu yang lain yang tidak ada dalam hidupnya. Di antaranya, ketika dia melihat apel yang dilemparkan, dia melihat sesuatu yang tampak aneh namun indah dari apel itu, yang kemudian dia kenal dengan Warna.

Semakin banyak Jonas menerima Ingatan dari Sang Pemberi (The Giver), semakin Jonas ingin pergi menuju komunitas lain. Hingga akhirnya, Jonas menjadi saksi sebuah upacara Pelepasan salah seorang bayi kembar yang dilakukan ayahnya.

Susah untuk nggak kasih sopiler selama bikin sinopsis dan review, karena rasanya pengen banget menumpahkan semuanya di sini, biar ketegangan selama baca ikut terlepaskan. Hihihi. Tapi kan jadi nggak asik kalo semua diceritain. 


Review

Bunda suka cerita bergenre distopia setelah genre fantasi, walau belum banyak cerita genre distopia yang Bunda baca. Selalu ada kejutan-kejutan di dalam cerita yang membuat kita membayangkan ada dunia lain yang berbeda dengan dunia kita.

Cerita Distopia yang pertama kali Bunda baca itu adalah di komik Bobo, sewaktu Bunda masih SD dulu. Bunda lupa judulnya apa, tapi di cerita itu, ada seorang anak yang hidup di dunia di mana air sangat langka dan sulit didapatkan. Adik anak tersebut sakit keras dan keinginan terakhirnya adalah melihat hujan turun. Tapi bagaimana mungkin? Semua orang mendapat jatah air setiap harinya yang hanya cukup untuk minum dan sedikit membersihkan tubuh. Jangan bayangkan mandi, berenang hingga menyiram tanaman apalagi memandikan kendaraan. 

Desa dan kota lama sudah mereka tinggalkan, hingga suatu ketika, si anak tersebut menemukan sebuah rumah yang dulunya bekas rumah kaca di kota lama karena tersesat. Dia menemukan bungkusan bibit tumbuhan dan sebidang tanah yang tampaknya masih ada harapan untuk ditumbuhkan. Dia mulai menanam bibit yang ditemukannya dan memakai jatah minumnya untuk menyiram calon tumbuhan itu.

Pertama kalinya tanaman itu tumbuh, menjadi tanaman monster. Anak ini sedih sekali. Karena, dia berharap, dengan adanya tumbuhan hidup, hujan akan turun dan adiknya akan pernah melihat hujan. Usaha itu dilakukannya pada bibit tumbuhan lain yang ditemukannya. Dia berhasil. Tanaman itu menumbuhkan bunga-bunga cantik dan hujan turun.

Perasaan Bunda saat membaca komik itu teraduk-aduk. Jangankan membayangkan air minum harus dijatah dan nggak bisa mandi seumur hidup, sehari aja air nggak ngalir, rasanya udah pengen ngamuk. Pas baca The Giver, perasaan yang muncul saat Bunda SD dulu ketika membaca si komik ini, muncul lagi. 

Yang Bunda suka dari The Giver ini adalah Endingnya. Membuat semua pembacanya memikirkan kesimpulan dan membuat ending sendiri-sendiri :D

Komentar Bunda tentang The Giver ini...
1. Ceritanya sederhana tapi dalem banget. Mengalir, hidup, nuansanya lebih "serem" daripada cerita distopia lain yang pernah Bunda baca, seperti Uglies series dan Divergent series.
2. Terjemahannya enak, bikin lancar bacanya dan bisa Bunda selesaikan dalam waktu sebentar aja, meski sayangnya, pada beberapa kata terdapat typo. 
3. Covernya cakep. Kalo nggak baca ceritanya, pasti bingung kenapa ada orang menghadap apel geroak, terus hanya sebagian berwarna sisanya satu dua warna aja? Covernya bikin Kakak Ilman sering memandangi bukunya. Kakak bilang, itu orang lagi shalat :D
4. Bikin bertanya-tanya. Apa yang mereka lihat sih kalo mereka nggak bisa melihat warna? Apa yang mereka rasakan jika sebuah Keinginan muncul tapi harus dihilangkan lewat minum pil? Apa rasanya ketika kita tidak bisa merasakan sakit? Padahal ketika rasa sakit dihilangkan, otomatis rasa bahagia ikut hilang, karena setelah duka ada suka.
5. Ide cerita ini gila banget. Ngeri!

Oya, ini trailer filmnya. Seperti biasa, cerita buku ama cerita film pasti beda lah ya... :D





Happy reading and watching the movie!

Love and cheers! xoxo, 


Terusin baca - The Giver by Lois Lowry

9 Mei 2014

Bliss (The Bliss Bakery Trilogy #1) by Kathryn Littlewood


Judul: Bliss (The Bliss Bakery Trilogy #1)
Penulis: Kathryn Littlewood
Penerjemah: Nadia Mirzha
Penyunting: Lulu Fitri Rahman
Penyelaras aksara: Aini Zahra
Penata aksara: elcreative
Diterbitkan oleh Noura Books ~ Mizan Fantasi
Cetakan pertama, November 2012
ISBN: 978-979-433-690-8
Paperback, 320 halaman
Genre: Novel, Fantasy, Children, Middle Grade, Fantasy, Magic, Foodie, Mystery, Young Adult, Adventure, Family, Juvenile
Status: Punya. Dikasih tante Ferina sebagai hadiah giveaway karena Bunda ngasih komen paling koplak #eh



Musim panas itu, Rosemary Bliss melihat ibunya mengaduk halilintar ke dalam semangkuk adonan dan semakin yakin bahwa orangtuanya menggunakan sihir di Toko Roti Bliss. Rahasianya ada pada sebuah buku resep Bliss Cookery Booke.

Namun apa jadinya jika Rose dan Ty memutuskan bereksperimen dengan beberapa resep saat orangtua mereka pergi? Yah, beberapa Muffin Asmara dan Cookie kebenaran sepertinya tak akan menimbulkan masalah, bukan?


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Sebenernya, buku ini udah lama banget ada di tangan Bunda, hadiah dari tante Ferina. Waktu itu dia bikin giveaway di blognya, terus Bunda berpartisipasi dengan ngasih komen koplak. Eh, ga nyangka. Taunya malah Bunda yang dapet. Rafflecopter saat itu sedang berpihak pada Bunda. Alhamdulillaah :D

Terus, ya baru dapet kesempatan baca dua bulan lalu. Mestinya sih jadi posting bareng sama BBI buat tema Kuliner. Tapi dikarenakan Bunda sempet dirawat di RS itu, ya batal deh posting barengnya.

Buku ini cerita tentang Rose yang dititipi ibunya toko bakery Bliss karena ibu dan ayahnya mendapat tugas dari walikota untuk membuat kue dalam jumlah banyak selama beberapa minggu karena ada wabah penyakit aneh, sementara menurut penduduk di kota itu, hanya ibu dan ayah Rose lah yang mampu membuat kue ajaib untuk menyembuhkan penyakit itu.

Tepat ketika ibu dan ayah Rose pergi, muncullah seorang perempuan yang mengaku bibi mereka, bernama bibi Lily. Pada awalnya, Rose merasa jenuh ketika menjaga toko bakery mereka karena merasa nggak ada sesuatu yang menarik seperti ketika orangtua mereka ada di rumah. Maka dia dan Ty, abangnya, mulai melakukan sesuatu yang seharusnya tidak mereka lakukan. Yaitu membuat kue dari buku resep Bliss Cookery Booke yang disimpan di ruang penyimpanan khusus. 

Dari situ, kejadian-kejadian ganjil ~ atau kalo boleh dibilang mengacaukan satu kota terjadi. Dan mereka berusaha membalikkan keadaan. Dan di sini, sikap bibi Lily yang tadinya mencurigakan Rose, berperan penting dalam ikut membalikkan keadaan. Rose sempat menyesal karena dia sudah mencurigai bibi Lily.

Hmmm...
Gimana, ya?

Pertama, kalo dari kover, tampak menjanjikan. Sungguh! Meski nggak dapat hadiah giveaway juga Bunda punya niat beli. Syukurnya, ternyata ini emang cover asli. Worth it kalo beli juga.

Kedua, terjemahannya mengalir banget. Meski Bunda baru kali ini baca nama penerjemah, maksudnya ini buku pertama terjemahan sang penerjemah yang Bunda baca ~halah mbulet~ kalo baca nama penyuntingnya sih, yakin kalo penyuntingnya bisa bikin buku kacrut kek apa juga jadi tampak indah. Hehe. Beberapa buku yang terjemahannya kacau balau berhasil disulap jadi enak dibaca oleh penyunting yang satu ini. Jadi, tentu saja baca terjemahannya enak aja gitu...

Ketiga. Dari sisi font. Oke, kok, untuk genre Young Adult atau Children - Middle Grade. Nyaman di mata dan bikin betah baca.

Keempat. Mungkin ini faktor penentu, ya... Jadi gini, kebanyakan orang ngereview buku ini bilangnya ngiler pas baca semua deskripsi makanan di sini. Termasuk pakde Iwan yang sering banget nyuruh Bunda baca buku ini ketika tahu Bunda punya buku ini.
Sayangnya...
Entah imajinasi Bunda yang nggak sampai apa gimana, Bunda sama sekali nggak ngeces ngebayangin makanan yang ada di cerita ini. Huhuhuhu. Asli sedih banget. Awalnya, Bunda pikir cuma Bunda aja yang kayaknya ngerasa aneh. Berkali-kali baca ulang pun, tetep. Dalam keadaan lapar pun tetep. Sama sekali ga bikin Bunda merasa lapar. Lalu, Bunda cek tret kapan itu Bunda pernah share di sebuah sosmed. Ternyata beberapa teman Bunda seperti Tante Kobo dan Tante Donna juga bilang hal yang sama. Tante Vina malah bilang, "kecut". 

Bunda malah ngeces ngebayangin bolu kuali atau jus labu kuning di Harry Potter daripada kue-kue di sini. Nggak tahu kenapa. Mungkin karena deskripsi bahannya, salah satunya pakai air mata atau apa lah itu, bikin Bunda udah ilfeel duluan, bukannya pengen makan. Hehehe... Gitu, deh.

Jadi... bintang 3 kayaknya cukup untuk semua yang udah Bunda tuturkan di atas kali, ya...

Oya, ini skrinsyut komen koplak Bunda di giveaway tante Ferina itu



Yang jelas, meski kecewa karena ga sesuai harapan, nggak menyurutkan langkah Bunda untuk baca kelanjutan trilogi ini dan nunggu buku ketiga terbit.

Diposting juga buat Children Literature Challenge dan Young Adult Challenge

Love you both, cheers



Terusin baca - Bliss (The Bliss Bakery Trilogy #1) by Kathryn Littlewood

29 Nov 2013

Prey by Michael Crichton (Posting Bareng November BBI, Thriller-Horror)



Judul: MANGSA (PREY)
Penulis: Michael Crichton
Alih bahasa: Hendarto Setiadi
Sampul dikerjakan oleh: Marcel A.W
Diterbitkan pertama kali oleh PT Gramedia Pustaka Utama
Agustus 2003
ISBN: 979-22-0449-0
Genre: Thriller, Horor, Suspense, Mystery, Science Fiction
Status: Antara punya dengan nggak. Buku ini milik seseorang yang Bunda sandera karena Bunda belum digaji waktu kerja dengan orang tersebut. #eh


Di gurun pasir Nevada, suatu eksperimen berubah menjadi bencana. Sekelompok nanopartikel - robot mikro - lolos dari laboratorium. Robot-robot ini mandiri dan bisa bereproduksi. Mereka juga cerdas dan belajar dari pengalaman. Bisa dibilang, mereka merupakan makhluk hidup.
Kelompok robot ini diprogram sebagai predator. Dengan cepat mereka berevolusi, menjadi makin mematikan dalam hitungan jam.
Semua usaha untuk menghancurkannya gagal.
Sementara waktu terus berjalan.
Dan kitalah mangsanya. 

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Fyuuuh! Bunda ikut Posting Bareng lagi, nih! Kali ini temanya Thriller/Horror! Waduh! Bunda agak anti sebetulnya dengan tema ini. Jadi, terkadang Bunda ga pengen baca yang baru. Makanya, Bunda pilih PREY yang sudah pernah Bunda baca sekitar 10 tahun lalu, karena Bunda udah tahu ceritanya. Hihihi. Minimal, "ketegangan"nya bisa diantisipasi sebelumnya. Eaaaa...

Ternyata cara Bunda berpikir sepuluh tahun lalu dengan hari ini berbeda jauh, ya. Begitu juga cara Bunda membaca buku ini. Jauh berbeda dibanding sepuluh tahun lalu. Dan yang paling penting dari semuanya, ternyata Bunda lupa 90% detailnya. Hahaha.

Oke, ini termasuk buku favorit Bunda yang keren banget. Bunda terkesan dan jatuh cinta pada karya Michael Crichton dimulai dari buku ini. Walau sebelum baca buku ini, film Jurassic Park sudah beredar dan Bunda belum baca bukunya, Bunda jatuh hati pada karya beliau lewat buku ini.

Sinopsis buku ini...

Buku ini bercerita tentang Jack Forman, seorang programmer yang menjadi bapak rumah tangga selama enam bulan setelah dipecat dari tempatnya bekerja karena dianggap membahayakan perusahaan. Sebetulnya, lebih tepatnya, membahayakan kedudukan bos-nya, karena dia tahu rahasia pribadi sang bos. Salah bosnya sendiri, sih, selingkuh ga hati-hati. Transaksi pribadi pake email kantor. Ya kebaca lah, sama Jack Forman ini. Karena semua email yang masuk, bisa dia baca. Hihi.

Sementara Jack Forman jadi bapak rumah tangga yang mengurus rumah dan ketiga anaknya: Nicole, abege berumur 11 tahun; Eric bocah berumur delapan tahun; dan Amanda si bayi yang berusia enam bulan; Julia Forman, istrinya, lebih banyak menghabiskan waktu di tempatnya bekerja. Saat ini, perusahaan tempat Julia bekerja, Xymos, sedang mengembangkan sebuah teknologi yang akan mengubah dunia. Untuk itu, perusahaan ini memerlukan suntikan dana yang sangat besar untuk pengembangan lebih lanjut. Karenanya, Julia jarang pulang di waktu anak-anaknya masih terjaga.

Tidak hanya itu, lama kelamaan sikap Julia pun semakin aneh. Suatu ketika, Amanda tiba-tiba menangis seperti kesakitan tapi tidak ada demam. Ketika dibawa ke rumah sakit oleh Jack, sekujur tubuh Amanda tiba-tiba merah. Dan ketika dicari penyebabnya tidak ketemu, dokter memutuskan melakukan scan MRI yang malah berakibat mesinnya rusak.

Beberapa hari kemudian, tubuh Amanda tiba-tiba berubah warna menjadi ungu. Ketika Jack berada di rumah sakit, ternyata ada beberapa orang yang masuk ke dalam rumah mereka, seperti membersihkan sesuatu. Ini diketahui oleh Eric dan Nicole, tapi Julia tidak bicara apa pun mengenai ini pada Jack. Semakin hari, tingkah Julia semakin aneh dan ini membuat Jack berkesimpulan bahwa Julia, berselingkuh dengan rekan kerjanya, Ricky. Apalagi, ketika Jack kebetulan bertemu dengan Ricky di sebuah supermarket, sikap Ricky begitu aneh. Pun ketika membahas Julia. 

Hingga suatu ketika, Jack bertemu dengan salah satu agen yang membantunya mencarikannya pekerjaan, Jack ditawari kembali ke perusahaannya. Kebetulan, perusahaan tempatnya bekerja telah bekerja sama dengan perusahaan tempat Julia bekerja. Itu sebabnya, kenapa ada Ricky, mantan anak buah Jack, di Xymos. Semula Jack tidak mau. Tapi, Annie, agennya ini, mengingatkan Jack, bahwa programmer nganggur enam bulan itu berarti posisi Jack tidak menguntungkan. Kalo peluang ini ga diambil, dia akan menganggur selamanya.

Ketika akhirnya Jack Forman pergi ke Nevada, tempat pabrik Xymos berada, dia menemukan banyak keanehan. Di antaranya munculnya nanopartikel yang lepas dan menjadi tidak terkendali. Juga segala sesuatu yang ga sinkron. seperti tidak kompaknya kata-kata Ricky dengan kata-kata Mae, ahli biologi mereka atau Chaley, salah satu programmer.

Nah, mulai dari sini berasa aura tegangnya, bagaimana Jack Forman menemukan sarang "makhluk hidup baru" ini, menghadapi mereka dan perasaan mereka ketika rekan kerja mereka ada yang mati dan berkhianat.

Pendapat Bunda

Sepuluh tahun lalu, Bunda terkagum-kagum ketika membaca ini dan memberikan lima bintang untuk buku ini. Karena, meski PREY ini novel, fiksi, Michael Crichton menulis berdasarkan riset, sehingga seluruh alur di sini berasa nyata, membuat kita berpikir bahwa bisa saja ini terjadi. Yeah. Mungkin saja.

Nah, sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk bisa mengubah cara berpikir Bunda. Kali ini Bunda ngasih empat bintang jadinya. Meski belum masuk ke angka ribuan jumlah buku yang Bunda baca, beberapa buku yang Bunda baca telah mengubah cara Bunda berpikir. Termasuk cara mengapresiasi apa yang Bunda baca.

Dulu mungkin, karya yang katanya cemen, tetap akan Bunda bilang bagus. Sekarang, Bunda sudah punya banyak pembanding. Atau, sekarang, Bunda sudah punya cara pandang yang baru, sehingga bisa melihat mana yang efisien atau nggak, mana yang terlalu bertele-tele di dalam sebuah cerita.
Iya, kurang lebih seperti itu.

Memang ada bagian-bagian yang tidak tertebak, tapi lebih banyak bagian-bagian yang mudah ditebak, cuma pembaca tetep digiring supaya ga tahu. Padahal kebaca jelas, kok, bisa ditebak. Untuk bagian-bagian yang ga tertebak, Bunda acungi jempol. Keren!

Lalu, apa yang membuat Bunda terpaksa menurunkan rate dari lima ke empat? Di bagian ending atau penutupnya, dibuat kesimpulan yang sebetulnya sudah bisa ditebak oleh pembaca sejak pertengahan jalan cerita. Semua "teka-teki" sudah bisa dirangkai sendiri oleh pembaca. Nah, sebetulnya, oke-oke aja, sih, bikin kesimpulan. Tapi sepertinya memang harus dengan cara lain yang tidak terduga. Terus terang, endingnya sih udah ketebak kayak gimana. Dan ini bukan karena Bunda udah pernah baca, ya. Jujurly, Bunda udah lupa sama sekali ending ceritanya gimana. Horornya di sebelah mana. De-el-el. Jadi, anggap aja Bunda baru baca.

Untuk semua ketegangan dan jalan cerita, tetap saja, Michael Crichton jagoan Bunda. Empat bintang, layak, lah :D

Oya, ini tentang penulisnya:

Michael Crichton (1942–2008) was one of the most successful novelists of his generation, admired for his meticulous scientific research and fast-paced narrative. He graduated summa cum laude and earned his MD from Harvard Medical School in 1969. His first novel, Odds On (1966), was written under the pseudonym John Lange and was followed by seven more Lange novels. He also wrote as Michael Douglas and Jeffery Hudson. His novel A Case of Need won the Edgar Award in 1969. Popular throughout the world, he has sold more than 200 million books. His novels have been translated into thirty-eight languages, and thirteen have been made into films.



Cheers! Love you both! xoxo
Terusin baca - Prey by Michael Crichton (Posting Bareng November BBI, Thriller-Horror)

29 Jan 2013

[Review Hotter Potter #1] Harry Potter and The Sorcerer's Stone



Judul: Harry Potter dan Batu Bertuah (Harry Potter and The Sorcerer's Stone, Harry Potter #1)
Penulis: J. K. Rowling
Penerjemah: Listiana Srisanti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan keduapuluh dua: Desember 2012
Jumlah halaman: 384 hlm; 20 cm
ISBN: 979-655-851-3
Fantasi
Status: Punya. Beli online di Gramedia.com


Harry Potter belum pernah jadi bintang tim Quidditch, mencetak angka sambil terbang tinggi naik sapu. Dia tak tahu mantra sama sekali, belum pernah membantu menetaskan naga ataupun memakai Jubah Gaib yang bisa membuatnya tidak kelihatan.
Selama ini dia hidup menderita bersama paman dan bibinya, serta Dudley, anak mereka yang gendut dan manja. Kamar Harry adalah lemari sempit di bawah tangga loteng, dan selama sebelas tahun, belum pernah sekali pun dia merayakan ulang tahun.
Tetapi semua itu berubah dengan datangnya surat misterius yang dibawa oleh burung hantu. Surat yang mengundangnya datang ke tempat luar biasa, tempat yang tak terlupakan bagi Harry - dan siapa saja yang membaca kisahnya. Karena di tempat itu dia tak hanya menemukan teman, olahraga udara, dan sihir dalam segala hal, dari pelajaran sampai makanan, melainkan juga takdirnya untuk menjadi penyihir besar... kalau Harry berhasil selama berhadapan dengan musuh bebuyutannya. (dari cover belakang)

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Akhirnya, impian Bunda tahun lalu buat baca ulang HP ini jadi kenyataan. Oya, sebelum cerita tentang buku ini, Bunda mau cerita dua kisah pendek dulu. 

Kisah pertama, gimana susahnya Bunda dapat buku ini. Jadi, Bunda selama ini merasa punya buku HP #1 ini. Nah, setelah lebaran kalo nggak salah, Bunda merapikan rak buku dan.... tadaaaa! Kaget! Buku Harry Potter #1 kok nggak ada? Padahal, semuanya disusun berurut. Bunda cari ke mana-mana nggak ketemu. Dan bisa dipastikan... emang itu buku entah ke mana. Mungkin ada yang pinjam tahunan lalu dan Bunda lupa kembalikan? Atau sebetulnya Bunda emang nggak punya? Entahlah. Intinya, ternyata Bunda nggak punya buku pertama ini.

Kemudian, cari-cari sejak bulan Oktober, mulai hunting di Rumah Buku, segala macem jenis Gramedia yang ada di Bandung, titip liatin ke temen-temen yang ada di kota masing-masing, seperti Jakarta, Bekasi, Solo, Semarang, Yogya, Surabaya, bahkan sampai sejauh Manado, Makassar, juga Kendari! Nggak dapat! Fyuuuh!

Akhirnya, suatu ketika, di bulan Desember, Bunda iseng buka situs online shop Gramedia, di situ ada stocknya. Sebetulnya, Bunda rada kapok beli buku via online shop. Karena pernah ngalamin, di situ dibilangnya "stock available", setelah dua bulan Bunda tunggu, baru ada kabar kalo sebenernya... stocknya nggak ada... :(
Tapi, Bunda percaya sama online shop satu ini. Toh, penerbitnya masih ini-ini juga, bukan? Masa iya, bilang "stock available" trus taunya nggak ada, kan... Dan ternyata, dua hari kemudian... Yes! Bunda terima barangnya... SENANG!

Kisah kedua, sewaktu Bunda mulai baca Harry Potter #1 ini, Bunda sengaja ambil waktu malam, setelah kalian bobo. Akibatnya, yah, Bunda jadi tidur lebih malam dari biasanya. Nah, dari situ, Papa mengernyitkan kening sambil tanya ke Bunda, "Memangnya, Bunda belum pernah baca buku Harry Potter?" (Kayaknya, waktu Bunda baca HP 1, emang belum kenal papa, sih... :D) Tapi ya gitu. Sering banget susah payah kudu ngeberesinnya karena selalu disuruh tidur sama papa... :))

Sudah.. sudah... cuma ada dua kisah, kok. Nggak penting, sih, sebenernya. Tapi, kayaknya perlu aja diingat. Apasih...

Jadi, ceritanya tuh, ada seorang anak yang di dunia sihir terkenal sekali, bernama Harry Potter, karena "kesaktiannya" membuat seorang penyihir jahat bernama Voldemort yang berniat menguasai dunia sihir kalah dan kehilangan kesaktiannya karena gagal membunuh bayi Harry Potter. Orangtua Harry Potter tewas terbunuh oleh Voldemort.

Untuk menyelamatkan hidupnya sampai sudah cukup umur untuk bersekolah di Sekolah Sihir Hogwarts, Harry Potter bayi dititipkan di tempat tinggal paman dan bibinya, kakak dari ibunya. Mereka adalah Paman Vernon Dursley dan bibi Petunia. Mereka juga punya anak gendut yang sangat dimanja bernama Dudley. Tinggal bersama mereka ini membuat seumur hidup Harry Potter merana dan menderita karena perlakuan keluarganya itu. Hingga akhirnya, Harry dijemput oleh Hagrid, salah satu staf Hogwarts, yang dulu mengantarkan Harry Potter bayi ke rumah paman Vernon.

Harry terkaget-kaget sewaktu mengetahui dirinya adalah seorang penyihir. Terkenal. Semua orang mengenalinya. Memujanya. Padahal, selama dia tinggal dengan keluarga pamannya, boro-boro dia terkenal. Yang ada dia malah nggak punya teman satu pun, karena semua temannya takut pada Dudley.

Bunda mau cerita beberapa item menarik yang ada di cerita Harry Potter and The Sorcerer's Stone ini...

Topi Seleksi a.k.a Sorting Hat
Setiap anak kelas satu di Hogwarts, akan melalui seleksi masuk asrama. Di Hogwarts tuh ada empat asrama: Ravenclaw, Hufflepuff, Slytherin, dan Griffindor. Nah, nama-nama asrama ini diambil dari nama alumni Hogwarts yang bersejarah.

Topi Seleksi a.k.a Sorting Hat


Kelas Transfigurasi
Di kelas ini, Harry dan teman-teman belajar mengubah bentuk dengan tongkat sihir. Pengajarnya adalah Profesor Minerva McGonagall yang sering berubah menjadi kucing.

Profesor Minerva McGonagall


Cermin Tarsah a.k.a Mirror Erised 
Cermin ini ditemukan Harry di ruang yang tidak pernah didatangi siswa Hogwart. Sewaktu Harry bersembunyi dari Mr. Filch, penjaga sekolah itu, karena Harry baru saja "bermain" di perpustakaan untuk mencari tahu siapa Nicolas Flamel pada waktu malam hari di mana semua siswa seharusnya tidur. Melalui cermin ini, Harry bertemu dengan ayah dan ibunya.
Oya, Bunda baru sadar kalo kata "erised" yang diterjemahkan jadi "tarsah" itu asalnya kata "desire" yang kalo diterjemahkan berartu "hasrat". Bunda baru sadar sewaktu setahun lalu, lihat di grup Indo Harry Potter, tante Poppy bercerita gimana kerennya ibu (alm) Lis menemukan padanan kata "Erised" dan kata-kata lainnya. Lalu, Bunda bahas dengan pakde Iwan, yang hanya dijawab dengan, "baru nyadar?" =)) Menyebalkan!

Harry di depan Cermin Tarsah


Kelas Ramuan
Guru kelas ramuan ini adalah Profesor Severus Snape. Guru favorit Bunda. Hihihi... Lewat pelajaran ramuan ini, Harry dan teman-teman kelak bakalan jago bikin ramuan-ramuan yang nanti akan mereka butuhkan di petualangan berikutnya.

Waktu Harry kelas 1, guru Ramuan itu Profesor Severus Snape


Quidditch
Mungkin, ini termasuk salah satu andalan utama dari keseluruhan serial Harry Potter.

Wood membuka kotaknya. Di dalamnya ada empat bola yang berbeda ukuran.
"Baik," kata Wood. "Quidditch cukup mudah dimengerti, walaupun tak semudah itu dimainkan. Ada tujuh pemain pada masing-masing regu. Tiga di antaranya disebut Chaser atau pengejar."
"Tiga Chaser," Harry mengulang, ketika Wood mengeluarkan bola merah manyala sebesar bola sepak.
"Bola ini namanya Quaffle," kata Wood. "Chaser melempar Quaffle kepada sesama Chaser dan berusaha memasukkannya ke salah satu lingkaran untuk mendapatkan angka. Sepuluh setiap kali bola berhasil dimasukkan ke lingkaran. Mengerti?"
"Para Chaser melempar Quaffle dan memasukkannya ke dalam lingkaran untuk mendapatkan angka," kata Harry. "Jadi -- semacam basket yang dimainkan naik sapu terbang dengan enam keranjang, iya, kan?"
"Apa itu basket?" tanya Wood ingin tahu.
"Ah, sudahlah," kata Harry cepat-cepat.
"Nah, ada lagi pemain dalam masing-masing regu yang disebut Keeper -- aku Keeper Gryffindor. Aku harus beterbangan sekeliling lingkaran dan mencegah tim musuh mencetak gol." Rupanya Keeper tugasnya sama dengan kiper atau penjaga gawang dalam permainan sepak bola.
"Tiga Chaser, satu Keeper," kata Harry yang bertekad mengingat semuanya. "Dan mereka bermain dengan Quaffle. Oke, mengerti. Jadi, untuk apa yang itu?" Dia menunjuk tiga bola lain yang masih ada di dalam kotak.
"Akan kutunjukkan sekarang," kata Wood. "Ambil ini." Dia menyerahkan kepada Harry pemukul kecil yang mirip pemukul kasti.
"Akan kutunjukkan apa yang dilakukan Bludger," kata Wood. "Dua bola ini namanya Bludger."
Dia menunjukkan kepada Harry dua bola kembar, hitam egam dan sedikit lebih kecil daripada Quaffle merah. Harry melihat bahwa kedua bola itu kelihatannya berusaha keras melepaskan diri dari ikatan yang menahannya di dalam kotak.
"Mundur," Wood memperingatkan Harry. Dia membungkuk dan melepas salah satu Bludger.
Langsung saja bola hitam itu meluncur tinggi ke angkasa dan kemudian melesat turun menuju wajah Harry. Harry memukulnya dengan pemukul untuk mencegahnya mematahkan hidungnya, membuatnya zig-zag di udara -- bola itu mendesing mengitari kepala mereka, kemudian melesat ke arah Wood, yang melompat menyambarnya dan berhasil memitingnya di tanah.
"Lihat, kan?" Wood tersengal, memasukkan kembali dengan paksa Bludger yang memberontak itu ke dalam kotak dan mengikatnya kembali supaya aman. "Bludger ini meluncur ke mana-mana, berusaha menjatuhkan pemain dari sapu mereka. Itulah sebabnya masing-masing tim punya dua Beater -- Pemukul. Si kembar Weasley adalah Beater kita. Tugas merekalah untuk melindungi tim kita dari serangan Bludger dan berusaha memukul Bludger itu ke arah tim lawan. Jadi -- bisa dimengerti?"
"Tiga Chaser mencoba mencetak gol dengan Quaffle, si Keeper menjaga gawang, dua Beater menjauhkan Bludger dari tim mereka," Harry menjelaskan.
......
"Ini," kata Wood, "adalah Golden Snitch -- Tangkapan Emas, dan ini bola yang paling penting dari semuanya. Bola ini sangat susah ditangkap karena geraknya cepat sekali dan susah dilihat. Tugas Seekerlah untuk menangkapnya. Kau harus meliuk-liuk di antara Chaser, Beater, Bludger, dan Quaffle untuk menangkapnya sebelum keduluan Seeker tim lawan. Seeker yang berhasil menangkap Snitch, menambah angka seratus lima puluh untuk timnya, maka mereka hampir selalu menang. Itulah sebabnya Seeker banyak dikerjai. Pertandingan Quidditch hanya berakhir kalau Snitch sudah berhasil ditangkap. Jadi pertandingan ini bisa berlangsung lama sekali -- kalau tak salah rekor paling lama adalah tiga bulan, mereka harus bolak-balik mengajukan pemain cadangan, supaya para pemain bisa tidur."
Harry Potter dan Quidditch

 Persahabatan antara Ron, Hermione, dan Harry
Hermione adalah gadis pintar dan selalu serius soal belajar. Kehadirannya terkadang membuat Harry dan Ron gugup sekaligus kesal, karena Hermione muncul seperti alarm pengingat kesengsaraan. Hahaha. Iya, semacam mengingatkan buat belajar, mengerjakan tugas, dan lain-lain. Tapi, Harry dan Ron sangat melindungi Hermione, ketika ada troll muncul dan nyaris menghancurkan Hermione.


Hermione, Ron, dan Harry usai bermain Catur Sihir

Rubeus Hagrid
Penjaga binatang liar di Hogwarts ini ternyata meski termasuk raksasa, berbadan besar dan bertampang garang, hatinya lembuuuut banget. Terbukti sewaktu dia melepas Harry bayi dia menangis. Juga sewaktu harus melepas Norbert, naga peliharaannya. Dan dia menyebut dirinya "mama" untuk si bayi naga itu, lho! Bwuihihihi...

Rubeus Hagrid


Profesor Albus Dumbledore
Bunda akan menulis tentang Profesor Albus Dumbledore sebagai penutup tulisan ini. Kepala sekolah hebat yang membuat Harry sangat terkagum-kagum. Bisa dibilang, Dumbledore ini seperti "kakek" yang tidak pernah Harry temui semasa hidupnya. Bunda suka bonding yang terjadi di antara mereka berdua...
Oya, Bunda mengutip beberapa kata-kata beliau di sini...
"Besok cermin ini akan dipindahkan ke tempat baru, Harry, dan aku memintamu agar tidak mencarinya lagi. Jika suatu kali nanti kau kebetulan melihatnya lagi, kau sudah siap. Tak ada gunanya memikirkan impian berlama-lama sampai lupa hidup, ingat itu. Nah, sekarang bagaimana kalau kaupakai lagi jubah istimewa itu dan pergi tidur?" bab Cermin Tarsah, hal 266

"Panggil dia Voldemort, Harry. Selalu gunakan nama yang benar untuk apa saja. Ketakutan akan nama memperbesar ketakutan akan benda itu sendiri." bab Laki-laki dengan Dua Wajah, hal 368.
Profesor Albus Dumbledore

Nah... Bunda emang ga kepingin cerita total tentang buku ini. Tapi semoga, kalo kalian belum pernah baca Harry Potter, kalian bakalan tertarik dengan seluruh fantasi yang ada di kisah ini, lewat beberapa "item" unik yang ada di kisah Harry Potter... Selamat membaca dan menyelami keindahan dunia sihir di dalamnya.... Temukan banyak kebaikan di dalamnya... :D Bukan nyuruh kalian belajar sihir, kok.... Hahaha... Don't get Bunda wrong! Bunda cuma menikmati semua jalinan kata yang dirangkai penulisnya... Dan kalian harus tahu rasanya.... 

Posting ini dibuat untuk:

 
 


 
Terusin baca - [Review Hotter Potter #1] Harry Potter and The Sorcerer's Stone

31 Des 2012

[Review Bareng BBI] The Time Keeper - Sang Penjaga Waktu




Judul buku: The Timekeeper - Sang Penjaga Waktu
Penulis: Mitch Albom
Alih bahasa: Tanti Lesmana
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama Oktober 2012
Jumlah halaman: 312 halaman; 20 cm
ISBN: 978-979-22-8977-0
Fabel Fantasi
Status: Punya. Beli sendiri di Rumah Buku Bandung
Harga: IDR 50,000 (diskon 15%)



Dari penulis yang telah menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia dengan buku-bukunya, Tuesdays with Morrie dan The Five People You Meet in Heaven, kini hadir novel barunya, The Time Keeper - fabel tentang manusia pertama yang menghitung waktu di bumi. Orang yang kelak menjadi sang Penjaga Waktu.
Dialah pencipta jam pertama di dunia. Dia dihukum karena mencoba mengukur anugerah terbesar dari Tuhan, diasingkan ke dalam gua hingga berabad-abad dan dipaksa mendengarkan suara orang-orang yang minta diberi lebih banyak waktu. Lalu dia kembali ke dunia kita, dengan membawa jam pasir ajaib dan sebuah misi: menebus kesalahannya dengan mempertemukan dua manusia di bumi, untuk mengajarkan makna waktu pada mereka. (dari cover belakang buku).
Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Pertama kalinya dalam hidup Bunda, Bunda baca buku gres yang baru keluar dari penerbit :D
Lihat aja, terbitan Oktober 2012, dibaca Desember 2012, itu pun karena ada momen baca bareng sama teman-teman BBI. Hahaha...
Biasanya, kan, Bunda beli buku yang justru udah lama banget terbit. Atau, kalo pun masih baru terus dibeli, diendapin dulu lamaaaa banget.

Dan buku ini termasuk cepat kelar juga bacanya. Bunda sempat pesimis, sih. Takut nggak sampai dua hari dari pertama kali buka plastiknya. Ternyata memang benar. Lebih dari dua hari Bunda baru bisa selesaikan baca. Padahal, menurut tante Melisa, dia cuma baca tiga jam aja. Well, Bunda belum pernah punya waktu sampai benar-benar tiga jam hanya untuk membaca buku. Pastinya cuma tahan satu jam paling lama, itu pun di angkot, karena kalo lagi nggak di angkot, pastinya banyaaaak banget aktivitas yang bakalan Bunda lakukan.

Meski makan waktu empat hari, mungkin kalo setiap menitnya Bunda hitung, sebetulnya hanya sekitar 3-4 jam aja bacanya. Yah, diselingi sambil ngerjain kerjaan kantor, paper quilling, cuci setrika, ngurusin kalian berdua, ngobrol sama papa, belum lagi sempet mogok gara-gara terserang pening sangat parah kapan itu, ples main game.... jadi aja "makan waktu" empat hari. Hahaha. Akhirnya, Bunda nggak jadi baca buku bergenre GLBT seperti yang direncanakan semula, deh. Hiks...

Bunda sangat suka baca buku ini. Kenapa? Buku ini asik, keren, dan...
Pokoknya Bunda suka!

The Timekeeper bercerita tentang seorang Dor yang hidup di masa ribuan tahun yang lalu, ketika peradaban belum semodern sekarang. Sejak kecil, Dor bersahabat dengan Alli, juga Nim. Sejak kecil, Dor suka berlari-lari di bukit bersama Alli dan berbeda dengan anak-anak yang lain, Dor suka mengamati gerakan air, pasir, tongkat-tongkat yang kelak menjadikannya seorang pencipta pengukur waktu.
Pada masa dewasa, Dor menikah dengan Alli, sementara Nim menjadi raja yang kaya raya. Kehidupan Dor dan Alli tidaklah mewah, malah sangat kekurangan. Nim pernah menawarkan Dor untuk ikut dengannya, tapi Dor menolaknya dan membuat Dor dan Alli terusir, terpisah dari anak-anaknya.
Suatu ketika, Alli sakit parah dan membuat Dor ingin menghentikan penderitaan Alli. Dor berlari lalu menghancurkan menara sangat tinggi yang sedang dibangun oleh budak-budak Nim dan dari situ segalanya berubah. Dor terperangkap ke dalam sebuah gua dan hidup abadi selama ribuan tahun kemudian.

Dor terpenjara di sebuah gua selama ribuan tahun. Anehnya, dia tidak berubah menjadi tua. Di dalam gua itu, dia mendengarkan berbagai suara, yang semuanya berhubungan dengan waktu.
Dor akan kembali pada kehidupannya semula, jika dia sudah menemukan dua orang yang saling "berhubungan".

Ada dua tokoh utama lain di sini. Bunda akan ceritakan satu-satu, ya...

Sarah Lemon.
Gadis kelas tiga SMA yang sangat cerdas, namun bertubuh gemuk dan tidak terlalu cantik, bekerja sambilan di tempat penampungan. Dia termasuk kutu buku yang nggak begitu gaul dengan teman-temannya. Dunianya berubah ketika dia bertemu dengan Ethan di tempat penampungan itu. Ethan sering mengirimkan bahan makanan untuk tempat penampungan.
Sarah menyukainya, Ethan juga memanggilnya Lemon-ade. Ketika pertama kalinya Sarah mengajaknya kencan, Ethan tiba-tiba membatalkannya. Ketika akhirnya mereka "berkencan" betulan, Sarah mengira Ethan menginginkan dirinya. Sewaktu tahu bahwa Ethan telah mempermalukannya di sebuah jejaring sosial, Sarah memutuskan untuk bunuh diri.

Victor DelamonteSeorang lelaki pebisnis kaya raya, yang sudah berusia 80-an dan sakit-sakitan, tidak ingin meninggal. Dia ingin hidup abadi. Maka, ketika dia akhirnya menemukan teknologi krionika yang katanya akan membuatnya hidup abadi, dia memutuskan untuk menghentikan berbagai pengobatannya supaya dia bisa diawetkan dan dibangkitkan lagi ketika obat yang dibutuhkan untuk menyembuhkan penyakitnya sudah ditemukan. Dia akan melanjutkan hidupnya sebagai pebisnis kaya raya.
Namun, dia menyembunyikan semuanya dari istrinya, Grace, yang sangat mencintainya.

Sarah dan Victor dipertemukan oleh Dor pada momen tahun baru, ketika Sarah bunuh diri dan Victor menuju laboratorium tempat dia akan diawetkan sementara itu.

Endingnya sih bisa ditebak, kok, kayak gimana.

Bunda suka cara Mitch Albom bercerita di sini. Bagaimana kita sebagai pembaca hanyut dalam perenungan-perenungan yang dalam tentang waktu.

Di situ, Dor bilang, bahwa ketika dia mendapatkan keabadian, dia justru nggak mendapatkan apa-apa. Dia merasa hampa dan itu bukan kebahagiaan.
Setiap orang berusaha berefisiensi terhadap waktu supaya bisa melakukan hal yang lainnya dalam waktu yang sama, tapi mereka tidak menikmatinya. Semakin orang meminta waktu lebih banyak, justru semakin tidak menikmatinya.

Dipikir-pikir bener juga, ya. Kita selalu dikejar waktu, takut terlambat, takut ketinggalan, lalu kita nggak bisa menikmati waktu yang berjalan. Waktu terasa berlalu begitu cepat.

Bunda jadi ingat obrolan Bunda dengan Mbah Nata beberapa waktu yang lalu, sewaktu Bunda dan Mbah Nata sama-sama nggak libur di hari kejepit nasional menjelang libur Natal kemarin.
Mbah Nata bilang, "Orang-orang sekarang berpikir terbalik. Di hari Senin sampai Jumat, mereka mikirin rencana hari Sabtu. Sewaktu datang hari Sabtu, mereka malah memikirkan apa yang akan mereka kerjakan hari Senin."

Setiap hari Jumat, baik di Facebook maupun di Twitter, Bunda pasti nemu orang menulis, "TGIF". Thanks God, It's Friday. Kenapa? Dengan bertemu hari Jumat, maka sehari kemudian akan bertemu dengan hari Sabtu. Di mana Sabtu dan Minggu adalah hari libur bagi orang-orang yang sehari-harinya kudu berangkat kerja di kantor.

Entah kenapa, buat Bunda semua hari itu sama menyenangkannya. Memang, hari Sabtu, Minggu atau hari libur lainnya, waktu Bunda dengan Kakak Ilman, Adik Zidan, dan papa jadi lebih banyak karena Bunda nggak harus pergi ke kantor. Tapi bukan berarti bahwa Bunda nggak suka hari Senin sampai Jumat, lho.
Bunda selalu menikmati hari-hari yang Bunda lewati, dan Bunda selalu ingin, setiap hari ada satu momen menyenangkan yang bisa Bunda syukuri.

Setelah membaca buku ini, Bunda semakin ingin menikmati setiap detik yang dianugerahkan kepada Bunda. Detik-detik kencan Bunda bersama Allah. Sama papa. Sama Kakak Ilman dan Adik Zidan. Sama buku-buku. Sama makanan. Sama cucian. Sama game yang Bunda mainkan. Sama semua pekerjaan yang menjadi tugas Bunda. Sama teman-teman Bunda. Dan masih banyak lagi.
Akhirnya, satu kalimat yang selalu keluar menjelang tidur: Alhamdulillaah. Terima kasih, ya, Allah, untuk setiap detik yang diberikan kepada Bunda.

Oke, kalo dari sisi ceritanya di buku ini, Bunda sangat menikmatinya.
Terus, baca buku ini nggak capek karena efek setiap bab yang ditulis sedikit-sedikit. Baru aja buka halaman keempat, eh, ternyata udah selesai bab itu. Jadi, bacanya bikin semangat karena nggak panjang dan melelahkan. Keren juga triknya, nih.

Kalo soal terjemahannya... Bunda baik-baik aja, kok. Lumayan enak dan mengalir. Typo ada, sih, tapi nggak banyak sampai bikin ilfeel.

Cover!
Meski covernya beda sama novel bahasa aslinya, cover yang ini Bunda suka juga. Elegan dan tampak keren. Mencerminkan isi bukunya, deh. Hehe. Maklum, Bunda termasuk aliran "judge the book by the cover" :D

Bunda akan tutup postingan terakhir di tahun 2012 ini dengan harapan semoga di tahun 2013 nanti, Bunda lebih konsisten ngisi blognya. Kalo bisa, setiap abis baca, ada waktu buat mereview biar bisa lebih fokus dan masih segar dalam ingatan.
Target bacaan juga akan Bunda perbaiki. Pokoknya, berharap kehidupan lebih baik di tahun 2013.

Ini kalimat di buku yang bikin Bunda nyaris menangis.
"Ada sebabnya mengapa Tuhan membatasi hari-hari kita."
"Mengapa?"
"Supaya setiap hari itu berharga."
Yuk! Yang masih nggak menikmati hari-hari atau masih bilang "today is not my day", kita ubah cara berpikir kita. Setiap hari itu diciptakan Tuhan berharga, lho!
Terusin baca - [Review Bareng BBI] The Time Keeper - Sang Penjaga Waktu