Tampilkan postingan dengan label manga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manga. Tampilkan semua postingan

2 Jun 2023

[2023: Book 8] Delicious Days with Martha vol 1 - Jing Takao

 


Judul: Delicious Days with Martha vol 1 
Author: Jing Takao
Alih bahasa: She
Editor: Vonny
Desain sampul: Nurdjito T
Cetakan pertama, 2014
Diterbitkan oleh PT Elex Media Computindo
Jumlah halaman: 136 hlm; 20 cm
ISBN: 978- 979-27-4907-0
Genre: Fiction, Manga, Young Adult, Portugal Literature, Asian Literature, Japanese Literature, Komik, Asia, Komik Remaja
Status: Lungsuran dari Tante Echan


 Martha berasal dari Portugal. 
Gadis bokek namun hobi makan. 
Sendirian menikmati hidup sekalipun uang pas-pasan dan tinggal di apartemen bobrok yang berumur 70 tahunan.
Mulai dari menikmati segarnya jeruk musim panas, gurihnya nasi goreng dengan minyak ayam, lezatnya charsew teh hitam, enaknya kue tart dari pinggiran roti tawar, dan lain-lain.
Martha membuktikan bahwa sekalipun bokek, dia tetap bisa makan enak.


Halo, Kakak Ilman dan Kakak Zi...

Review kali ini sayangnya nggak bisa buat ikut Babat Timbunan 2023, karena walau ini buku lama, termasuk buku baru. Eh, gimana...

Aku baru terima buku ini di tahun 2023, lungsuran dari Tante Echan. Jadi terhitungnya buku baru, kan, karena baru diperoleh. Walau sebenernya ini buku yang udah lama banget usianya. 

Aku tertarik baca ini karena bahas makanan. Umumnya, manga yang bahas makanan disertai resep membuatnya atau tips-tips tertentu untuk menikmatinya. Intinya, manga yang cerita tentang makanan pasti kepake banget ilmunya.


Jani begidi...

Karakter utama manga ini adalah Martha, gadis Portugal yang baru menyelesaikan kuliah Magisternya di Jepang. Dia ingin menikmati hidup lebih lama di Jepang, karena menurutnya, Jepang nggak hanya indah alamnya, tapi juga makanannya enak!

Volume 1 dibuka dengan cerita pengiriman paket dari Portugal, yang baunya agak tidak menyenangkan menurut kurir paketnya. Dia sempat membatin, apakah paket yang dibawanya adalah tulang belulang manusia T___T

Untuk orang Jepang yang tidak terbiasa dengan aroma ekstrim, tentu kiriman paket yang aromanya agak menyengat ini mengganggu. Isi paket itu adalah ikan kod yang diawetkan dengan garam dan dijemur. Di Indonesia, ini mungkin yang disebut dengan ikan asin, kali, ya. Dalam Bahasa Portugal, ikan yang diawetkan dengan cara seperti ini disebut "bacalhau".

Martha menyuguhkan tips mengolah bacalhau dengan memadukannya bersama rebusan kentang yang dihaluskan terlebih dulu sehingga menjadi kroket bacalhau, di antara 300 cara mengolah bacalhau.  

Makanan lain yang dibahas di sini antara lain crab dip (celupan krim yang terbuat dari krim asam dan udang karang yang dipancing Martha dari sungai dekat apartemennya) untuk makan kraker, charsew (daging babi) yang dimasak dengan teh hitam, selai jeruk yang dibuat dari kulit jeruk, Bellini (cocktail buah persik) ala Roberto Capa, kare tanpa daging, pepes ikan, xiaolongbao, oil sardine, tart dari pinggiran roti, dan soppa aletenjana (sup telur ala Portugal).

Tidak hanya membahas resep, tapi di beberapa bagian ada yang diceritakan cara makannya aja atau how to get it in Japan.


Selain bahas makanan, Martha kasih kita tips untuk bisa tidur nyenyak lewat lavender. Caranya semprotkan lavender dengan air, terus tutup dengan saputangan dan jemur sampai air di lavender meresap ke sapu tangan dan kering. Letakkan di dekat kita saat tidur. Yah, dijamin bablas tidurnya.

Kemudian ada tips membuat minyak ayam, yang bisa kita gunakan untuk minyak tumisan. Soal ini sih emang udah sering aku praktikkan, meski awal dapat ilmunya bukan dari cerita Martha.  


Sekarang aku mau bahas soal visualisasi makanannya, ya... Ini poin penting, soalnya kan keutamaan dari serial ini adalah "makanan".

Secara grafis, visualisasi makanannya menurutku kurang menggugah selera, kalo aku harus "membandingkan"nya dengan grafik visualisasi makanan di Miiko atau Yotsuba! Meski sederhana, visualisasi makanan secara grafis di Miiko dan Yotsuba! cukup mengundang lapar, karena "ngeblend" dengan karakternya.

Buatku, grafis makanannya kurang menonjol dibandingkan grafis Martha-nya sendiri. Semua detail grafis terekspos di Martha.  

Ketersampaian penggambaran "nikmatnya makanan yang dinikmati" Martha dibantu oleh deskripsi dan ekspresi Martha saat menikmati makanannya, bukan murni hasil visualisasi lewat grafisnya. Yang memperparah dari visualisasi makanan ini adalah adanya tampilan foto makanan yang sayangnya buram, jadi makin tidak menggugah selera. Mestinya digambar aja, karena foto buram nggak membantu pembaca membayangkan makanannya. Atau bisa jadi il-feel gara-gara lihat foto makanannya yang nggak menarik. 



All in all, serial ini menarik. Sayangnya aku nggak punya lengkap secara berurut. Tante Echan cuma punya empat volume dan nggak berurut juga. Alhamdulillaah. Info dan tips di serial Martha berguna banget, semacam lyfe hacks di saat sedang bokek, walau mungkin nggak semuanya bisa plek kita tiru, contohnya kayak mengolah charsew (daging babi) atau cocktail karena bahan makanannya bukan yang edible buat kita yang beragama Islam. Tapi kurasa masih bisa diganti dengan bahan lain yang edible buat kita. Karena di dunia ini masih ada sangat banyak bahan makanan yang bisa kita makan di luar bahan makanan yang dinyatakan haram. YGY?

Baca ini buat cicil beresin: 
- Goodreads Challenge 2023
- BBBBC Reading Challenge 2023




Sehat-sehat kalian, ya... Sampai ketemu di posting berikutnya... xoxo...




 




Terusin baca - [2023: Book 8] Delicious Days with Martha vol 1 - Jing Takao

30 Mei 2023

[2023: Book 7] Hai, Miiko - Vol 35

 


Judul: Hai, Miiko! Vol. 35    
Mangaka: Ono Eriko
Alih Bahasa: Dian Indrinuswati  
Penyunting: D. Tyagita Ayuningtyas 
Artistik: Ikmal Aldwinsyah
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama - M&C! 
Cetakan pertama, 2023
Halaman: 102 halaman
ISBN: 978-623-03-0923-6
Genre: Fiksi, Children, Komik, Manga, Japan Literature   
Status: Beli, pre order 


Miiko yang penuh semangat sudah kelas 1 SMP! Miiko dan teman-temannya sedikit demi sedikit mulai menjadi lebih dewasa. 
Terkadang rasa gelisah muncul, dan terkadang kesalahpahaman juga bisa terjadi. Namun, keceriaan Miiko bisa kembali menyatukan mereka semua!

Ayo kita ikuti perkembangan Miiko dan kawan-kawan yang selalu penuh warna! 

 

Hae, Kakak Ilman dan Kakak Zi...

Aktivitas annual kita nungguin kedatangan Miiko tunai sudah. Berkat kedatangan Miiko volume 35 yang kontroversial. Ahahaha.

Kenapa kontroversial? Sebab... di edisi asli yang diterbitin Penerbit Ciao, totalnya ada 9 chapter, sedangkan yang diterbitkan di sini, hanya 6 chapter. Yak, betul! Dipangkas 3 chapter. Kenapa?

Dari kabar yang aku terima, sudah diverifikasi juga, bu Ono mengangkat issue LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual, dan Transgender) ke volume 35 (dan 36, karena sudah terbit di sana. Entah dengan volume 37 dan seterusnya). Aku nggak tahu apa yang membuat bu Ono mengangkat tema ini, mungkin di sana sedang berkampanye tentang LGBT? Entah. I don't follow juga, jadi belum bisa cerita banyak. Nanti kita coba cari tahu, ya.

Terkait isi volume 35 yang diterbitkan Ciao akan aku bahas di tulisan lain, karena aku udah titip Kocchimuite Miiko Vol 35 dan 36 ke temenku yang lagi sekolah di Jepang dan mudik di Lebaran tahun ini. 

Sekarang, kalian mungkin bertanya-tanya, kenapa, sih, tema LGBT "terlarang" betul di sini, sampai akhirnya Miiko vol 35 (dan mungkin 36) dipangkas halamannya sampai sebanyak itu?

Begini, di negara Wakanda ini, apa aja bisa jadi bahan ribut, termasuk salah satunya issue LGBT. Bisa jadi karena mayoritas penduduk negara Wakanda yang beragama Islam dan memang di ajaran Islam itu issue LGBT termasuk hal yang dilaknat Allah, sehingga untuk keamanan dan kenyamanan bersama, issue LGBT dijadikan issue sensitif yang sebisa mungkin tidak boleh dibahas sama sekali.

Misalnya, Penerbit M&C! nekat tidak memangkas 3 chapter tentang LGBT dengan alasan mau memberi edukasi kepada anak-anak dan remaja terkait issue ini, sama aja dengan berdiri di tepi jurang yang sangat dalam. Semacam tinggal tunggu waktu aja untuk "mati". Pastinya pihak M&C! juga berat menyampaikan hal ini ke bu Ono, gimanapun niat baik bu Ono untuk menyampaikan pesan penting ini ke pembaca. Pembaca juga jadinya merasa rugi dan gelisah, karena ada chapter yang hilang, yang seharusnya bisa dinikmati seperti biasanya.

"Untung"nya, pihak M&C! udah menyediakan merchandise yang menurutku "agak" sepadan dengan hilangnya 3 chapter, walau emang jelas tidak bisa dibanding-bandingke, dong, yaaa...

Merchandise Hai, Miiko! Vol 35

Lalu, apa yang menarik di Hai, Miiko! Volume 35 ini, selain hilangnya 3 chapter tentang LGBT? Keenam chapternya tentu seru, dong, ya... Cuma di sini Tappei kurang banyak muncul... huhu... Padahal aku tuh, ya, selalu deg-degan sama romance Miiko dan Tappei. 

Di volume 35 lebih banyak diceritakan tentang pengalaman ekstra kurikuler yang dijalani Miiko dan teman-temannya. Aku lihat lebih banyak eksplorasi tentang kegiatan ekstra kurikuler di SMP yang dulu nggak Miiko jalani sewaktu SD. Aku pikir ide bu Ono mengeksplorasi kegiatan ekstra kurikuler di SMP ini bagus untuk memberi insight ke pembaca muda, terutama yang akan masuk SMP kayak adek Zi sekarang ini, biar terbayang nanti di SMP mau berkegiatan apa.

Di volume sebelumnya, volume 34, Miiko sempet galau mau masuk klub Basket atau nggak gara-gara dikata-katain pendek sama kakak kelasnya yang ada di klub Basket. Mari Chan yang saat itu ikut denger juga, jadi tersinggung dan berusaha memengaruhi Miiko buat masuk Klub Komik aja dengan disclaimer kalo orang-orang Klub Komik nggak ada yang mempermasalahkan fisik dan mereka semua ramah. 

Ketika Tappei menegur Miiko dengan keras tentang motivasi Miiko yang gaje ini lumayan nabok Miiko, juga ditambah fakta bahwa kapten tim basket putri di SMP Suginoki ternyata sependek Miiko tapi jagoan banget shoot bola 3 points, memperkuat keputusan Miiko untuk masuk Klub Basket, apa pun yang terjadi. 

Di volume ini mulai diperlihatkan beratnya jadi anak Klub Basket. Walau kelas 1 tugasnya masih lap-lap bola sampai mengilap, mereka tetap harus berlatih sama kerasnya dengan kakak-kakak kelas. Sebab mereka akan ada di bangku cadangan di setiap pertandingan yang sewaktu-waktu bisa diturunkan untuk bertanding kalo perlu pergantian pemain. Jadi tetep harus siap tanding walau duduk di bangku cadangan. Makanya perlu latihan keras, sama kerasnya dengan pemain utama. Miiko juga punya teman baru, seorang artis remaja, yang harus pinter bagi waktu antara kerja, sekolah, dan latihan basket. 

Di volume ini juga mulai terasa "tension" menjadi anak SMP di sisi pergaulan dan percakapan. Di volume 34 masih ada transisi dari masa anak-anak ke masa remaja, karena beberapa chapter masih bahas keberadaan Miiko di SD sampai kelulusannya juga saat hari pertama bersekolah di SMP, sementara di volume 35, suasananya sudah betul-betul di masa remaja. Miiko sudah menjadi remaja secara otomatis, karena dia sekarang siswi SMP. 

Kinda sad? Yes! Absolutely! Natürlich! Tamaaman! For a very long time, I have known Miiko as a 4th/5th grader and now she's in 7th grade. Also known as a teenager. 

Selain Miiko, ada Tappei dan Kenta di Klub Basket. Cuma karena Klub Basket putra dan putri latihan dan tandingnya juga dipisah, intensitas kemunculan Miiko dan Tappei secara berbarengan agak berkurang. Soalnya kan emang sibuk ya, bun...

Lalu bagaimana dengan Mari Chan? Syukurlah, di SMP Suginoki ada Klub Komik yang bisa memfasilitasi obsesi Mari Chan untuk jadi komikus. Jadi di kesehariannya, ga jauh beda dengan semasa di SD, tetep sibuk dengan komiknya. Miiko tentu tetap jadi asistennya di sela-sela kesibukannya dengan latihan rutinnya sendiri. 

Sementara Yukko memilih ekskul Atletik. Keputusan ini sempat membuat Miiko kaget, karena kalo misalnya memang Yukko memang mau ikut ekskul olahraga, bisa sama-sama ikut basket bareng Miiko dan Kenta, kan? Celetukan Mari Chan yang menyadarkan Yukko sendiri, bahwa selama ini, Yukko selalu mengurusi orang lain dan ekskul Atletik termasuk kegiatan yang bisa dilakukan sendiri. 

Cerita nggak barunya tentang Yukko, sebagai remaja yang kelihatan lebih dewasa dari umurnya, sama aja kayak waktu SD, di SMP juga Yukko tetep banyak yang ngecengin, terutama kakak kelas. Terus gimana dong, kisahnya sama Kenta? Ya gitu, lah. Nothing new. Tetep akur walau Yukko suka tiba-tiba aneh. Mas Kenta sabar banget, ya, bun... Hihi..

Anak lain yang diceritain kegiatan ekskulnya adalah Yoshiki. Iya, si bocah yang gedenya nanti pengen jadi sutradara, yang ngecengin Tanimura Miho dan sekarang badannya mulai tinggi itu. Syukurlah, SMP Suginoki punya Klub Peneliti Film yang memfasilitasi cita-cita Yoshiki. Setiap pekan, anak-anak Klub Peneliti Film akan mengundang siswa lain untuk menonton film yang ditayangkan di hari itu, lalu ada diskusinya. Sewaktu Miiko dan Mari Chan lihat poster yang dipasang tim Klub Peneliti Film, tentu langsung setuju untuk datang karena pengen nonton film gratis, kan. 

Yang lucu di sini, saat Miho "ditembak" kakak kelas dan diajak nonton film di bioskop yang ditolaknya dengan alasan nggak punya uang, Miiko malah mendukung kencan mereka dengan bilang, "nonton di sini aja, gratis!" sambil nunjuk poster Klub Peneliti Film yang mau menayangkan film Charlie's Angels. Hahaha..

Sesuai janji bu Ono, karena di volume 34 nggak banyak adegan Yoshida (padahal ada, kok!), di volume 35 ada dua chapter yang bahas tentang hubungan Yoshida dan Miiko. Tappei tetep pasti muncul sih, tapi sayangnya di salah satu chapter, kehadiran Tappei beneran cuma cameo. Sedih, ga, sih... Ketika berharap banyak sama Tappei, eh, malah.... (isi sendiri).

Kayaknya semua chapter udah aku bahas, ya. Oh! Ada satu chapter lagi, yang bahas khusus tentang Momo Chan, yang dapat homeroom teacher baru di DayCare-nya. Terus terang, cerita di chapter ini sukses bikin mrebes mili.

Sampai selesai semua chapter dibahas, barulah aku sadar kalo Papa, Mamoru, dan juga pak Oonishi nggak muncul sama sekali. Meski sekelas lagi sama Watanabe dan Nasu, mereka juga nggak muncul. Rasanya aneh aja gitu. Di setiap volume Miiko, mereka selalu ada kan. Di volume 35 ini, mereka nggak muncul. Satupun! T___T

Di review berikut-berikutnya nanti, aku akan bahas perbedaan versi bahasa Indonesia dan versi bahasa Jepang, ya. Aku masih cicil review yang lain dulu... 

Baca ini buat cicil beresin: 
- Goodreads Challenge 2023
- Abroad and Beyond Reading Challenge 2023 
- BBBBC Reading Challenge 2023


Sehat-sehat, ya, kalian berdua... Sampai ketemu di posting berikutnya... xoxo




 





 



Terusin baca - [2023: Book 7] Hai, Miiko - Vol 35

12 Jan 2017

Sepeda Merah ~ Bunga-bunga Hollyhock #2 oleh Kim Dong Hwa


Judul: Sepeda Merah ~ Bunga-bunga Hollyhock #2
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Meilia Kusumadewi
Ilustrasi sampul dan isi: Kim Dong Hwa
Penyunting: Tanti Lesmana
Teks dan tata letak: Anna Evita Rosaria
Cetakan pertama, Oktober 2012
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 176 hlm; 21 cm
ISBN: 978- 979-22-8776-9
Genre: Graphic novel, manhwa, komik, manga, Korean Literature
Status: Beli, titip uwa Susi. Kata uwa Susi sih, belinya di Nagareboshi
"Suatu kali, ketika anak perempuanku datang mengunjungiku, pemandangan mawar-mawar hollyhock mengingatkannya pada kenangan akan ibunya yang telah tiada. 
Aku menebarkan benih-benih bunga itu mulai dari jalan masuk desa hingga ke ambang pintu rumahku...
Kala menelusuri jalan setapak berbunga ini, anak perempuanku merasa seakan-akan ia tengah berjalan sembari menggenggam tangan ibunya.
Dengan sedikit kesabaran mawar-mawar hollyhock ini pun tumbuh dengan semaraknya..."

Melalui kisah-kisah pendeknya yang sarat dengan kelembutan, Kim Dong Hwa diperhitungkan sebagai salah satu penulis manhwa paling berbakat di hati orang-orang Korea.


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...

Nyambung dengan buku sebelumnya, kali ini kita digiring seolah-olah kita udah kenal banget sama penduduk Desa Yahwari, jadi Pak Pos berkuncir lumayan jarang muncul. 

Di buku kedua, dibagi dalam musim-musim, mulai dari musim semi sampai musim salju. Setiap musim punya cerita khas sendiri.

Di musim semi, ada kisah mengharukan mengenai seorang ayah yang menanam benih bunga-bunga hollyhock mulai dari gerbang desa sampai rumahnya untuk anak perempuannya. Jika suatu saat anak perempuannya pulang, sang ayah yakin, bunga-bunga ini sudah mulai bermekaran dan akan mengingatkan sang anak pada ibunya yang sudah pergi untuk selamanya.

Nasihat paling menggugah di cerita musim semi itu adalah tentang tunas muda. Ceritanya ada seorang anak perempuan yang memutuskan untuk berpisah dengan suaminya, ayahnya berusaha untuk menghiburnya. Nasihat sang ayah supaya anak perempuannya tetap semangat adalah, "tunas-tunas muda ini berhasil menembus kulit kayu pohon yang jauh lebih keras dibanding kulit sapi. Bukankah itu luar biasa?", "Coba lihat di sebelah sana. Daun-daun kecil mereka jauh lebih rapuh dibanding kuku-kuku bayi yang baru lahir. Padahal mereka berhasil mengangkat gumpalan tanah yang beratnya seribu kali dirinya".

Ada juga kisah klasik Korea yang dituturkan penulis, yang deskripsinya bisa ditemukan di berbagai tempat di Desa Yahwari. Ada yang lucu, kisah kakek-kakek yang bahas kerutan di wajah yang dijadikan "simbol" pangkat militer. Makin banyak kerutan di kening, berarti makin tinggi pangkat militernya. Hihihi. Atau tentang sepasang suami istri yang jarang berbicara, tapi suaminya bikin surat cinta lewat huruf-huruf yang disusun di atas tanah, pakai kepingan kelopak bunga XD Aaaaw... soooo sweet!

Di cerita musim panas, banyak juga adegan romantis yang dilakukan oleh pasangan kakek dan nenek. Kebanyakan cerita dari Sepeda Merah ini karakternya manula. Karena di ceritanya, para pemuda Desa Yahwari kebanyakan meninggalkan desa ini untuk mencari nafkah di kota.

Ada yang lucu, ketika seorang cucu liburan di rumah neneknya, minta makan pizza. Karena si nenek sayang banget sama cucunya, semahal apa pun harga pizza, dibeli juga, walau menurut nenek, harga yang mereka bayarkan untuk makan pizza itu sama dengan empat ratus buah mentimun (di cerita ini, pizzanya berharga 20.000 won atau setara dengan IDR 221,842.61 - saat review ini ditulis, kurs 1 won = IDR 11,09). Jadi, waktu Pak Pos nanya ke nenek, "Kalian sudah makan pizza bersama?" si nenek jawab, "Lebih tepatnya kami baru pulang sehabis makan empat ratus ketimun". Hihi

Di cerita musim gugur, kebanyakan agak bikin sedih atau terharu. Misalnya kisah seorang kakek yang bangga akan pemberian cucunya. Kakek ini punya mainan dinosaurus Duli (karakter manhwa yang terkenal di era 1980-an) dan jadi gantungan ponselnya. Saking bangganya akan pemberian dari cucunya, ke mana aja si kakek pergi, karakter ini selalu dibawanya.

Ada juga tentang seorang ayah yang berhias menjelang kepulangan anak perempuannya. Yang cukur rambut lah, yang pake pewangi lah. Ah. So sweet! Sayangnya, hubungan Bunda sama YangKung nggak semesra itu xD Ada juga cerita mengharukan mengenai mangkuk-mangkuk nasi bersejarah. Atau tentang Kelas Sore yang lebih mengena karena mengenai akhir kehidupan seseorang.

Di cerita musim dingin, ada banyak kehangatan yang terjadi di musim dingin, jadi Pak Pos nggak terlalu merasa kedinginan ketika banyak tangan yang menawarkan kehangatan buat Pak Pos, yang sayangnya harus ditolak dengan halus, akibat terlalu banyaknya surat yang menumpuk sebab cuaca buruk. Ada juga cerita tentang warga Desa Yahwari mempersiapkan diri menghadapi musim dingin.

Paling sedih dari kesemuanya adalah cerita penutup. Ini spoiler, tapi lebih sedih kalo dibaca langsung. Cerita mengenai seorang ibu yang senantiasa menantikan kepulangan putranya. Si ibu menunggunya di stasiun, tapi anaknya nggak datang juga. Si ibu pulang dengan perasaan sangat sedih, lalu pergi tidur. Tengah malam, ada mobil yang berhenti di depan rumah ibu ini, ternyata anaknya pulang. Tapi mata si ibu bukannya berbinar, malah merem. Alasannya takut silau dengan kekayaan yang dimiliki anaknya. Si ibu punya firasat kuat kalo kekayaan anaknya didapat bukan dengan cara yang halal. Pas anaknya mau ditangkap, si ibu bilang, "tunggu sampai dia bangun." Terus si ibu nyuguhin ubi kukus ke para tamu yang mau nangkap anaknya itu. Ibu ini siap nyerahin anaknya, tapi dia minta para penangkap ini menunggu si anaknya bangun, seraya bilang, kalo ibu ini tahu perbuatan haram anaknya. Aaaaaaa.... mrebes miliiiiiiii.....

Ketimbang ngereview, kayaknya Bunda lebih banyak cerita isinya, ya? Soalnya, review Bunda cuma satu kata: KEREN. Udah gitu aja. Hahaha. Nah. Nggak suka, kan, kalo Bunda cuma bilang gitu?

Oke, Bunda mau cerita tentang gambarnya. Setiap gambarnya, walau nggak ada teks narasi atau balon katanya, bercerita. Jadi, walau masuk ke satu halaman bergambar penuh tanpa panel-panel, Bunda tetap bisa membaca "cerita" di dalam gambar itu. Di kepala, kebayang narasinya kayak apa. Kayaknya Bunda mungkin lebih lama menatap gambar satu halaman penuh untuk dibaca, daripada baca panel-panel, deh. Heuheu. Kebiasaan, emang.

Terjemahannya enak. Nggak kaku, jadi gampang dicernanya, walau sebenernya semua katanya puitis dan daleeeeeeeeeeem banget.

Dibanding buku pertama? Kesannya sama, karena cara penuturannya sama. Bedanya, di buku kedua lebih filosofis ketimbang buku pertama. Buku ini highly recommended buat kalian berdua!

 Cheers! Love, xoxo




Terusin baca - Sepeda Merah ~ Bunga-bunga Hollyhock #2 oleh Kim Dong Hwa

18 Jun 2014

[Blog Tour] Simple Thinking about Blood Type by Park Dong Sun

Judul: Simple Thinking about Blood Type
Penulis: Park Dong Sun
Ilustrator: Park Dong Sun
Penerjemah: Achie Linda
Penyunting: Nyi Blo
Proofreader: Yuli Yono
Layout cover: @teguhra
Layout isi: Vanessa Fabiola dan @teguhra
Diterbitkan oleh Penerbit Haru
Cetakan kelima, April 2014
Jumlah halaman: 262 hlm; 20 cm
ISBN: 978-602-7742-25-3
Genre: Non Fiction, Komik, Manga, Manhwa, Sequential Arts
Harga: IDR 58,000
Bisa dipesan lewat OwlBookStore
Status: Punya. Dibuntelin sama Penerbit Haru


Tahu nggak sih kalo orang bergolongan darah A itu orang-orang yang halus, tapi kaku dan taat pada peraturan? Atau tahukah kamu kalau golongan darah B itu orang-orang yang kreatif dan bebas?

Apa jadinya kalo mereka disatukan? Jangan-jangan, bisa terjadi pertengkaran!

Ternyata, selain perbedaan jenis kelamin, tempat tinggal, dan kondisi ekonomi, golongan darah juga bisa menentukan perbedaan sifat kita, lho.

Meski sifat seseorang tidak hanya bisa dilihat dari golongan darahnya, semoga komik Simple Thinking about Blood Type ini bisa menghibur, sekaligus sedikit membantu kamu memahami orang lain, ya!


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Wuih! Bunda seneng banget sewaktu diundang oleh Kak Lia dari Penerbit Haru untuk ikut serangkaian blog tour buku Simple Thinking about Blood Type ini. Kenapa? Soalnya, Bunda emang suka banget ngintipin komik stripnya di sini. Sebetulnya itu bukan blog penulisnya, sih. Kalo ngintip blog penulisnya, komik-komik webtoon yang dimuat di sana pake huruf Hangul. Sementara kalo di tumblr itu, udah diterjemahin sama fans beratnya. Thanks to the owner of the blog, kita yang nggak belum bisa bahasa Korea dan baca huruf Hangul jadi ngerti cerita yang dibuat oleh om Park Dong Sun ini.

Waktu sering ngintipin blog terjemahannya dalam bahasa Inggris itu, Bunda sering senyam senyum ga jelas. Antara kesindir sama membenarkan semua karakter di sana. Terus gereget pengen punya bukunya. Bukan aja cocok untuk panduan memahami karakter orang lain, tapi juga karena style karakter di komik juga perpaduan warna-warnanya soft, nggak bikin sakit mata.

Jadi pas buku ini udah datang ke Indonesia dan diterbitkan oleh Penerbit Haru, Bunda senang, dong. Cuma berhubung belum masuk anggaran belanja buku (karena di tahun 2014 Bunda baru berencana akan belanja buku di bulan Juni) jadi Bunda belum berangkat buat beli sampai akhirnya ternyata dibuntelin sama Penerbit Haru. Senang, dong, tentunya. Nggak diajakin ikutan blog tour juga udah bakalan beli, kok, karena emang worth it banget buat punya. Makanya, nggak sabar nunggu buku keduanya yang rencananya akan rilis bulan Juli 2014. Makanya, nanti ikutan PO-nya, ya, di OwlBookStore. Sering-sering aja intip ke sana, cari tahu kapan buku keduanya bisa didapat. Yang beruntung malah bisa dapat buku edisi bertanda tangan penulisnya, loh! Woooh! Itu sih, Bunda mau banget!

Di rumah, karakter kita berempat mungkin mirip. Karena kita berempat bergolongan darah O. Papa bergolongan darah O. Bunda bergolongan darah O. Jadi, nggak mungkin kalian berdua ada yang bergolongan darah A, B, apalagi AB. Tentu saja golongan darah kalian *sudi nggak sudi* O juga. Hahahaha...

Sini, Bunda kasih bocoran tentang masing-masing golongan darah...



Ternyata, di ruangan tempat Bunda kerja, yang bener-bener punya semua perilaku di atas itu adalah om Ginan. Bener banget, deh! Trus, pas Bunda tanyain apa blood type-nya, dia jawab A! Wow! Sebetulnya, om Nova sama om Ayus juga goldarnya A. Tapi ga semua karakter goldar A mereka punya. Jadi, pas Bunda tahu apa goldar om Ginan, Bunda cuma bisa melongo saking takjubnya akan kebenaran riset om Park Dong Sun ini.

Bunda belum ketemu sama yang ngaku bergolongan darah B ini, sih. Kayaknya dari keseluruhan tipe golongan darah, goldar B ini paling nyante. Sama kek yang dibilang penulisnya di buku, tipe goldar B ini juga favorit Bunda karena kayaknya asik banget :D

 
Nah... ini adalah golongan darah kita berempat... Coba kalian perhatikan masing-masing panel. Ada, nggak, yang mirip atau nyerempet dengan kalian? :D Bunda rasa, panel kedua dan ketiga tentang golongan darah O mirip sama karakter Bunda. Banyak, sih, yang mirip sama karakter Bunda. Hihihi... Gimana dengan kalian berdua?

Hmm.. di ruangan Bunda, yang mewakili karakter golongan darah AB itu om Putra. Dan iya, kadang om Putra tuh suka ngeremehin, menganggap enteng sesuatu yang malahan perlu dibilang nggak enteng juga. Om Putra yang Bunda kenal sih nggak panikan. Meski tugas di kampusnya belum kelar, dia tenang-tenang aja ngerjain di kantor. Meski di saat yang sama, di kantor lagi kerjaannya banyak kena revisi, dia nggak panik.

Nah, terus, gimana kalo orang-orang dari keempat golongan darah ini janjian?


Itu... soal goldar O pas janjian... ummm... kadang-kadang benar adanya... -____-"
Tapi papa kalian tipe yang kalo janjian kek golongan darah A dan AB, kok.  Akhirnya, Bunda ngerti bahwa tipe golongan darah emang ikut berperan dalam menentukan karakter seseorang.

Jadi, sekarang Bunda belajar memahami rekan-rekan kantor Bunda, bahkan mungkin teman-teman Bunda yang lain lewat karakter golongan darah mereka karena apa yang diceritain oleh om Park Dong Sun emang mewakili semuanya.

Oya, sebenernya Bunda sedikit ngerti kalo tata bahasa Korea itu berbeda dengan tata bahasa Indonesia apalagi bahasa Inggris. Jadi, pas baca terjemahannya (karena Bunda belum sukses memahami bahasa Korea), terus terang agak kesulitan memahami ceritanya. Bunda ngerti, pasti penyunting kerja keras banget buat bikin buku ini bisa mudah dicerna. Semoga di terjemahan berikutnya, lebih enak dicerna, ya...

Jangan lupa, ya, kalo bulan Juli, buku kedua udah bisa dilakukan pre-order di OwlBookStore. Kek gini, nih, covernya:


Beberapa waktu lalu, Penerbit Haru mengadakan Meet and Greet bareng om Park Dong Sun, loh.






Ask the Author of Simple Thinking about Blood Type 

1.  Dari manakah Anda mendapatkan inspirasi saat membuat Simple Thinking about Blood Type?
                Saya mendapatkan inspirasi ketika mendengarkan cerita dari seorang junior saya. Jadi ceritanya, saat semua sedang berkumpul untuk makan tiba-tiba si junior yang bergolongan darah AB berdiri dan pergi begitu saja, kemudian si golongan darah O karena penasaran pergi mengikutinya. Si golongan darah A yang melihat hal tersebut berpikir kalau itu semua karena dirinya. Saya akhirnya bertanya pendapat si golongan darah B tetapi si golongan darah B tidak tertarik sama sekali. (Kisah ini bisa dilihat di halaman 137 Simple Thinking about Blood Type)

2.   Berapa lama yang Anda butuhkan untuk membuat Simple Thinking about Blood Type?
Pertama kali saya menggambar komik ini pada tanggal 20 Desember 2004.  Semenjak itu, saat waktu luang saya membaca buku yang berhubungan dengan hal tersebut ataupun melihat dan mengamati orang-orang yang ada di sekitar saya sambil mengumpulkan bahan cerita.

3. Simple Thinking about Blood Type ini disebut sebagai webtoon. Apa sih bedanya dengan komik?
Webtoon adalah komik yang ditayangkan di web. Dari situ, para pembaca bisa memberikan komentar. Menurut saya pribadi, webtoon mengalami proses penyempurnaan melalui komentar dari para netizen (pengguna internet). Sayang sekali, waktu terbit menjadi komik, komentar-komentar itu tidak bisa dimasukkan ke dalam komik.

4.   Apa riset yang Anda lakukan untuk membuat Simple Thinking about Blood Type? Apakah Anda punya latar belakang medis?
Ada satu hal yang harus saya sampaikan kepada orang-orang yang membaca komik Simple Thinking about Blood Type, bahwa buku ini bukanlah buku ilmiah. Saya berharap cerita dalam “Simple Thinking about Blood Type” tidak dipercayai begitu saja. Sebaiknya dibaca hanya sebagai hiburan. Oiya, saya adalah lulusan dari sekolah desain visual. 

5.  Apa Anda mengalami kesulitan dalam pembuatan komik ini?
Saya mendapatkan bahan cerita dari kehidupan sehari-hari. Namun karena harus disesuaikan dan mengharuskan memunculkan semua golongan darah, tidak mudah untuk mencari bahan ceritanya.
Kesulitan lainnya... karena mulai dari konsep cerita, sketsa, membikin garis panel, pewarnaan, sampai membuat “speech bubbles” (membuat ruang untuk percakapan) saya mengerjakannya sendiri, jadi membutuhkan waktu yang cukup lama.

6.  Apakah Anda menyukai kehidupan Anda sebagai seorang komikus?
Sekarang saya sangat puas dengan kehidupan saya. Kedepannya saya juga akan menggambar sesuatu yang saya inginkan dan ingin memberikan kebahagiaan kepada banyak orang.

7. Darimana Anda mendapatkan inspirasi mengenai desain karakter di “Simple Thinking about Blood Type”?
Saya tidak mendapatkan inspirasinya secara khusus. Sejak saya mengambil jurusan desain visual saya mempunyai pemikiran yang saya sebut “Simple is Best”. Dengan berpikir begitu akhirnya saya membuat karakter yang sederhana.

8.  Selain “Simple Thinking about Blood Type”, apakah ada kemungkinan untuk membuat atau merencanakan komik ataupun proyek yang lain?)
Dalam waktu dekat saya ingin menggambar komik harian yang menunjukkan kehidupan rumah tangga saya, dan juga cerita berseri, kemudian saya juga ingin belajar lebih tentang menggambar lalu membuat cerita yang cukup masuk akal yang bisa diangkat ke dalam drama ataupun film.

9.  Ceritakan dong, proses pembuatan komik ini?
Kalau membuat konsep cerita, saya menggambar sketsanya di komputer. (Kalau dulu saya membuat sketsanya di ruang latihan lalu mengunggahnya ke komputer tapi sekarang semuanya saya kerjakan langsung di komputer.) Setelah memperhalus sketsa saya mengerjakan pembuatan garis panel, kemudian pewarnaan, lau membuat “speech bubbles” (membuat ruang untuk percakapan). Semuanya membutuhkan waktu sekitar 9~10 jam.

10.  Komik ini telah diterbitkan dalam beberapa bahasa, bagaimana pendapat Anda, dan apakah ada perasaan khusus mengenai penerbitan di Indonesia?
Di Korea, China, dan Jepang cerita komik ini merupakan cerita yang populer tetapi saya merasa takjub karena di negara lain pun cerita ini juga memiliki daya tarik. Biasanya menerbitkan komik di daerah Asia itu banyak kesamaannya walaupun berbeda beda negara.
Di Indonesia inilah saya pertama kalinya pergi ke negara penerbit dan bertemu langsung dengan penerbit dan pembacanya. Saya merasa istimewa dan sangat menikmatinya.

11.  Komik ini juga dibuat dalam bentuk animasi, ceritakan sedikit, ya. Apakah Anda juga berperan dalam pembuatan animasinya?)
Animasinya diproduksi secara umum di perusahaan penerbitan di Jepang. Karena banyak orang-orang ahli yang berperan dalam pembuatan animasi ini saya menerima banyak sekali cinta.  Saya hanya penulis dan tidak terlibat dalam pekerjaan animasi.

12.  Selain sebagai komikus apakah Anda memiliki pekerjaan lainnya?)
Seperti anak muda di Korea saya juga pernah melamar pekerjaan. Sesekali saya mendesain iklan di Koran dan saya juga bekerja di perusahaan web design. Sampai tahun 2011 selama 3 tahun saya mengajar kesenian di SMA tetapi karena saya memutuskan untuk menggambar komik jadi saya berhenti pada pekerjaan itu. Sekarang tidak ada pekerjaan lainnya.

13. Saat Anda mengatakan untuk membuat komik yang berhubungan dengan sifat dan golongan darah bagaimana reaksi dari keluarga dan teman dekat Anda?)
Saat saya mengungkapkan bahwa saya ingin menjadikan menggambar komik itu sebagai pekerjaan saya teman-teman dekat saya sangat mendukung tetapi orang tua saya menentang dengan keras. Tetapi karena kehidupan saya adalah pilihan saya akhirnya saya memutuskan untuk berhenti menjadi guru seni dan memulai untuk menggambar komik.

14. Anda pernah mengunjungi Indonesia, bagaimana pendapat Anda tentang Indonesia terutama Jakarta?)
Saya iri dengan kebebasan orang Indonesia. Saya juga masih ingat makanan-makanan enak yang pernah saya makan di Indonesia.

15. Bagaimana pendapat Anda tentang pembaca di Indonesia?
Saya sangat berterima kasih kepada para pembaca yang telah membaca komik saya. Saya sangat senang karena sepertinya saya mendapatkan simpati dari para pembaca.

16. Mengapa Anda memilih membuat komik dalam menjelaskan tentang golongan darah? Kenapa tidak buku non fiksi saja?
Sejak dulu saya suka mengekspresikan sesuatu melalui gambar dan saya memiliki kepercayaan diri dengan itu. Di samping dapat menyampaikan isi cerita, sebuah gambar punya kekuatan yang besar untuk memberikan makna yang mendalam.

17.  Apabila bertemu dengan orang baru, apakah Anda bisa menebak apa golongan darahnya dengan tepat?
Secara pribadi, menurut saya... akan tidak sopan jika menerka-nerka sifat lawan bicara hanya berdasarkan golongan darah sehingga saya harus berhati-hati akan hal itu. Terkadang ada juga pembaca yang baru saya temui menyuruh saya menerka golongan darahnya, tetapi dugaan saya salah. Orang-orang disekitar saya juga mencoba menebak-nebak golongan darah orang lain, tetapi kebanyakan salah.

18. Saya dan teman-teman memiliki golongan darah yang berbeda-beda. Jika melihat komik ini akan sulit untuk hidup dengan orang yang bergolongan darah yang berbeda, untuk tetap menjaga keharmonisan hubungan, apakah yang harus dilakukan?)
                Saling menghargai perbedaan, mengaku salah jika memang salah. Ini merupakan langkah awal dalam menjalin sebuah hubungan dan bersosialisasi.

19. Bagaimana reaksi Anda jika ada yang mengkritik atau tidak setuju dengan komik yang Anda tulis?
Karena setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda, pendapat ataupun sanggahan bisa saja terjadi. Secara pribadi saya tidak masalah, namun apabila disampaikan dengan tidak sopan, tentu saja bisa melukai perasaan.

20.  Anda paling menyukai sifat dari golongan darah apa? Apakah alasannya?
Dalam kehidupan sehari-hari, saya menyukai golongan darah B yang bisa menghadapi sesuatu dengan santai. Sedangkan di komik ini saya menyukai golongan darah O. Karena  saya sendiri bergolongan darah O dan karakter golongan darah O menggambarkan bagian dari diri saya yang penuh kasih sayang.

21. Apakah ada rencana untuk mengunjungi Indonesia kembali? Kalau begitu hal seperti apa yang akan Anda lakukan atau adakah tempat yang ingin Anda kunjungi?
Saya ingin sekali mengunjungi pulau Bali yang merupakan tempat relaksasi yang terkenal di Indonesia. Saya ingin datang untuk istirahat dengan tenang tanpa gangguan.
 


Minggu depan, Bunda mau bikin giveaway. Hadiahnya buku Simple Thinking about Blood Type untuk dua orang pemenang. Bunda nggak akan susah-susah bikin kuisnya, kok. Yang jelas, review Bunda yang ini mesti dibaca baik-baik karena petunjuknya ada di review ini.

Kalian bisa berkunjung ke review di blog tante Ana Indriyani, kak Mei Koo, tante Irnala Sari, tante Dyah Muawiyah, tante Putri Kurnia Nurmala, tante Dini Y Nurhasanah, tante Retno P Hartono, juga tante Khairisa Ramadhani P. Cek cek cek, siapa tau sekarang ini lagi berlangsung giveaway ^^

Nantikan giveaway Bunda di pekan depan, ya...


 Love you both... Cheers!





Terusin baca - [Blog Tour] Simple Thinking about Blood Type by Park Dong Sun