12 Jan 2011

The Forest of Hands and Teeth


The Forest of Hands and Teeth
Penulis: Carrie Ryan
Penerjemah: T. Dewi Wulansari
Tata Letak: Tim Desain Kubika
Diterbitkan oleh: Penerbit Kubika, divisi PT Potensa Mitra Sinergi
Cetakan Pertama, Agustus 2010
Jumlah Halaman: 392 halaman
ISBN: 602-96987-3-7
Fiksi/Fantasi

Baca buku ini gara-gara "dipaksa" sama Mas Ijoel. Kenapa? Saya ikutan kuis cari typo atau kesalahan penulisan di blognya, trus dapet hadiah, deh. Hihi...

Kalo lihat cover dan judulnyanya, saya menduga ini buku dengan kategori seram, versi saya. Ternyata memang iya. Tapi, buku ini menjadi unable-to-put-down books.

The Forest of Hands and Teeth bercerita tentang seorang gadis bernama Mary, yang tinggal di sebuah desa di Belantara Hutan dan Gigi, yang berusaha mencari jalan keluar dari desanya. Desa tempatnya tinggal itu, dilingkupi oleh pagar besi di mana di luar pagar itu, ada kaum Ternoda yang senantiasa merintih dan berusaha menjebol pagar itu semampu mereka. Sebetulnya, di awal nggak jelas, apa itu yang mereka sebut dengan Ternoda. Sepertinya, apa yang disebut dengan Ternoda itu adalah para manusia yang sudah terinfeksi entah-apa-itu-namanya, dan membuat mereka mati tapi hidup. Lah, gimana nih? Bingung, kan?

Mary adalah gadis yang jatuh cinta pada sahabat masa kecilnya, Travis. Dia berharap, pada Pesta Musim Semi, Travis akan mengajaknya. Biasanya, setelah Pesta Musim Semi, setiap pasangan yang datang ke pesta itu, akan menikah. Dinikahkan oleh gereja. Sayangnya, yang ngajak Mary ke pesta itu bukan Travis, melainkan Harry, kakak Travis. Harry bilang, Travis sudah mengajak Cassandra, sahabat Mary. Di saat Harry mengajak Mary itulah, tiba-tiba bunyi sirene menggelegar. Itu pertanda bahaya. Seseorang sudah terkena gigitan Ternoda. Dan siapa sangka, bahwa sirene itu kemudian mengubah hidup Mary selamanya. Ayahnya sudah lama menjadi Ternoda, sementara sang ibu menjadi seperti gila, karena senantiasa menanti di dekat pagar, mencari-cari suaminya. Yeah, tanpa pengawasan Mary, sang ibu bergerak mendekati pagar dan akhirnya digigit oleh Ternoda.

Hukum yang berlaku di situ adalah: jika seseorang terkena gigitan Ternoda, maka dia harus segera dipenggal. Kakak Mary, Jed, yang menjadi Pengawas, sedang tidak berada di tempat saat kejadian. Mary tidak mungkin membiarkan ibunya dipenggal. Akhirnya, Mary melepaskan ibunya ke belantara, agar bisa bergabung dengan ayahnya. Sejak saat itu, hidup Mary berubah. Jed tidak lagi mau berbicara dengannya. Jed bahkan memasukkan Mary ke Katedral, untuk menjadi biara. Mary tidak lagi diterima di rumahnya.

Perjalanan kisah Mary yang memang selalu ingat akan cerita-cerita ibunya tentang laut, membuat Mary yakin, bahwa ada tempat di luar sana, yang aman dan bebas dari Ternoda. Sayangnya, dia tidak punya bukti apapun, karena satu-satunya gambar yang dia punya, foto neneknya dengan latar belakang laut, sudah hangus terbakar.

Mary pun menjalani kehidupan sebagai biara. Namun, kehidupan di biara, membuat rasa penasarannya semakin tinggi. Dia berusaha untuk mencari jalan keluar, memecahkan kode-kode yang ada di biara, dan bahkan cintanya pada Travis semakin menjadi, ketika Travis harus dirawat di Katedral karena serangan Ternoda. Dan dia bertemu seorang gadis bernama Gabrielle, yang kemudian menjadi Ternoda. Dia sangat penasaran dengan siapa Gabrielle dan dari mana datangnya.

Suster Tabitha, suster kepala di Katedral itu, kemudian menyatakan bahwa Mary harus menikahi Harry. Kehidupan di biara tidak cocok untuk Mary, katanya. Mary harus menikah dan memiliki keturunan dengan Harry. Ketika mereka menjalani prosesi pengikatan itu, desa mereka berhasil diterobos oleh Ternoda. Yah, bisa dibayangkan kekacauan seperti apa yang menimpa mereka. Mary, Harry, Travis, Cass, Jed, Beth (istri Jed dan adik Harry juga Travis), Argos (anjing Mary pemberian Harry) dan si kecil Jacob, melarikan diri bersama-sama, hingga mereka akhirnya menemukan sebuah desa lain yang tampaknya aman dari Ternoda. Ternyata tidak. Desa itu sama saja. Penuh dengan Ternoda. Tapi setidaknya, mereka bisa tinggal di suatu tempat yang aman dengan persediaan makanan yang cukup, sampai akhirnya, mereka harus melarikan diri lagi karena Ternoda telah berhasil mencapai mereka.

Di tempat di mana Mary dan Harry tinggal, Mary menemukan dokumen berupa surat kabar yang sudah nyaris hancur dan album foto. Potongan surat kabar itu mengatakan bahwa seluruh dunia sudah terinfeksi. Masih tidak dijelaskan, infeksi apa. Saya jadi teringat film I am Legend. Ketika semua kota mati, tidak ada orang satupun, selain si Will Smith itu aja, karena semua orang sudah terinfeksi. Mary terus berusaha mencari jalan keluar dari desa itu untuk menemukan laut, walau harus terpisah dengan semuanya. Mary mencari laut seorang diri.

Happy ending, ga? Hmm.. ceritanya nggantung. Ternyata ada buku keduanya. Hehe... jadi penasaran, deh, pengen baca buku keduanya...

Thanks, mas Ijoel. Saya suka baca buku ini...

Rate bintang dari saya: 4/5

1 komentar:

  1. Woh kaum ternoda yang cemaaaaaar.
    *cemari akuuuuh*
    #gakjelas

    BalasHapus

tirimikisih udah ninggalin komen di sini... *\(^0^)/*