12 Jan 2011

The Homework Machine


The Homework Machine (Mesin PR)
Penulis: Dan Gutman
Penerjemah: Maria M. Lubis
Penyunting: Jia Effendi
Penyelaras: Ida Wajdi
Pewajah Isi: Siti
Ilustrasi: Yulianto Qin
Diterbitkan oleh Penerbit Atria
Cetakan I: Juni 2010
ISBN: 978-979-024-452-8
Jumlah Halaman: 163 halaman, ix


Sebuah mesin PR?
Bisa mengerjakan semua PR-mu?
Sepertinya itu mustahil...

The Homework Machine berkisah tentang empat anak kelas 5 Sekolah Dasar di Grand Canyon, Arizona, yang terlibat dalam sebuah kasus pembuangan sampah di ngarai itu.

Keempat anak yang digabung dalam kelompok "Skuadron D" oleh guru kelas mereka, Miss Rasmussen, terdiri dari Sam Dawkins, Kelsey Donnelly, Judy Douglas, dan Brenton Damagatchi.

Sam Dawkins atau Snik - kependekan dari Snikwad - Dawkins dibalik - adalah anak baru di sekolah itu. Dia pindah ke sekolah itu, karena ayahnya, seorang anggota Angkatan Udara, mendapat tugas di Pangkalan Angkatan Udara Luke, dekat Phoenix.
Snik bukanlah anak yang unggul dalam pelajaran, bahkan dia sangat membenci PR. Baginya, PR adalah bukti ketidakmampuan guru. Jika seorang guru benar-benar ahli, para murid bisa mempelajari semuanya di sekolah dan tidak perlu lagi mempelajarinya di rumah. Itu adalah salah satu dari "Sepuluh Peraturan tentang PR" yang dibuatnya, ketika mendapat tugas dari Miss Rasmussen. Meski sang guru tidak menyukai apa yang ditulis Snik, dia mendapat nilai B, karena telah menggunakan kreativitasnya. Haha.

Sama halnya dengan Snik, Kelsey Donnelly juga tidak menyukai PR. Dia lebih suka mendandani dirinya dengan penampilan yang tidak umum untuk seorang anak sekolah, seperti cat rambut merah atau tindik di pusar. Sesuatu semacam itulah. Meski begitu, dia tetap berusaha mengerjakan PR-nya. Karena dia tidak ingin gagal dan mengulang kelas yang sama hanya karena tidak menyelesaikan PR.

Judy Douglas, termasuk anak yang menonjol di kelasnya. Menurutnya PR memaksa pengetahuan yang dipelajari di sekolah masuk ke otak. Dan ya, dia sangat menyukai PR.

Brenton Damagatchi, seorang genius penyuka komputer yang memiliki berbagai perangkat komputer canggih, karena ayahnya bekerja di sebuah perusahaan komputer. Brenton bukan termasuk anak yang unggul, bahkan dianggap anak yang aneh, karena dia tidak suka berteman.

Karena tempat duduk Skuadron D ini berdekatan, mau tidak mau, Brenton harus berinteraksi dengan teman-teman sekelompoknya, termasuk dengan Snik.

Suatu ketika, Snik mengeluhkan soal PR pada Brenton. Dari curhatannya, dia sedikit ingin tahu bagaimana Brenton bisa menyelesaikan PRnya dengan baik dan tampak santai. Padahal Brenton tidak memiliki adik atau kakak yang dapat membantunya mengerjakan PR. Sama halnya dengan Snik, Brenton juga anak tunggal. Entah karena kesal atau malas menjawab, Brenton sekenanya mengatakan bahwa dia punya mesin PR yang membantunya mengerjakan PR.
Tentu saja, Brenton kemudian menyesali apa yang telah dikatakannya itu. Snik awalnya tidak percaya ada mesin yang dapat membuat PR. Brenton menyetujui ketika Snik minta diperlihatkan mesin PR itu, karena dia tidak ingin dicap sebagai tukang bohong. Judy dan Kelsey pun akhirnya terlibat. Bersama-sama, mereka melihat apa yang disebut dengan mesin PR itu.

Setelah memikirkan "keuntungan" mengerjakan PR dengan mesin PR itu, maka setiap hari sepulang sekolah, mereka selalu berkumpul di rumah Brenton untuk "mengerjakan PR" bersama. Sampai akhirnya, Miss Rasmussen mencurigai PR mereka dan membubarkan Skuadron D.

Ada tokoh lain yang mengejutkan dan cukup menakutkan di sini, seorang pria bernama Miller. Entah bagaimana dia bisa mendapatkan data anak-anak ini, yang pasti mereka sudah cukup ketakutan dengan masalah mesin PR ini, ditambah lagi dengan pria misterius bernama Miller yang sering mengontak mereka.

Yeah, akhirnya memang bisa ditebak, mereka kemudian berurusan dengan polisi. Cuma nggak nyangka aja, kenapa mereka bisa berurusan dengan polisi, padahal ternyata perkaranya "sepele" banget. Hehe... Penasaran? Baca aja sendiri... :p

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tirimikisih udah ninggalin komen di sini... *\(^0^)/*