Tampilkan postingan dengan label buntelan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buntelan. Tampilkan semua postingan

30 Jan 2015

PostBarSSBBI2014 - Meet the Sennas by Orizuka


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Sama seperti di postingan sebelum posting ini, Bunda tetep nggak akan ngebongkar siapa Santa Bunda. Hihihi. Bunda hanya akan posting review aja. Sebetulnya nggak wajib review keduanya, sih. Tapi, berhubung Bunda udah kelar bacanya (salah satunya karena ada event Readathon Day pada hari Sabtu lalu, 23 Januari 2015), Bunda merasa harus bikin reviewnya juga. Ini salah satu bentuk terima kasih Bunda pada Santa, kan...


Judul: Meet the Sennas - Bahkan Matematika pun Nggak Serumit Cinta
Penulis: Orizuka
Penyunting: Dellafirayama
Penyelaras aksara: Fakhri Fauzi, Lian Kagura
Penata aksara: Nurhasanah
Perancang Sampul: Fahmi Ilmansyah
Penggambar ilustrasi: Maima Widya Adiputri
Diterbitkan oleh teen@noura
Cetakan I, Januari 2014
ISBN: 978-602-7816-66-4
Jumlah halaman: 364 + Galeri halaman, 13x19 cm
Genre: Novel Remaja, Romance, Family, Young Adult, Coming of Age, Indonesian Literature, Contemporary Fiction, Humor
Status: PUNYA. Hadiah dari Santa

Aku Daza Senna.
Anak kedua dari tiga bersaudara. Yang artinya aku anak tengah...

Astaga. Aku menulis apa, sih?
Oke, mari coba lagi.

Aku Daza Senna.
Aku tinggal bersama orang-orang yang sama sekali tak bisa disebut normal. Dan sialnya, orang-orang itu adalah keluargaku.

Hmm, ini sudah lebih bagus.

Siapa sih yang mau tinggal dengan orang-orang yang memberi semacam formulir pendaftaran dan serangkaian ujian kepada setiap cowok yang ingin dekat denganku? Memangnya cowok-cowok itu mau SNMPTN? Coba bayangkan penderitaanku. Belum terbayang? Berarti kalian harus bertemu dengan mereka.

Tinggal bersama keluarga besar yang hampir semuanya "aneh" itu luar biasa. Hihihi. Setiap hari, pasti ada yang dicemaskan. Ketika Daza ulang tahun ke-17, semua anggota keluarganya memberinya hadiah-hadiah luar biasa. Luar biasa menyebalkan maksudnya. Mulai dari Bundanya yang menghadiahinya Rumah Barbie, Ayahnya yang menghadiahinya piano Casio kecil (aduh, itu jaman Bunda SD, harganya mahaaaaal banget! Tapi keren, dan Bunda seneng banget maininnya. Entah barang itu berada di mana sekarang. Sudah rusak, mungkin?), Kakek yang menghadiahinya sempoa, Nenek yang memberinya ban renang berbentuk bebek berwarna pink, Om Sony memberi komik Doraemon jilid pertama, Tante Amy yang menghadiahi Daza sebuah diari dengan bau menyengat, Denis, abang Daza, memberinya gamewatch Tetris yang bisa ditekuk, dan terakhir, Zenith, adik Daza, memberinya permainan halma.

Sebenernya semuanya nggak aneh, sih, kalo menurut Bunda. Namanya juga hadiah ulang tahun. Tapi yang paling ajib emang hadiah dari Bunda dan Nenek. Di satu sisi, ini jelas aneh, sebetulnya, mengingat ternyata, Kakek dan Ayah Daza adalah konglomerat. Jadi, mereka pasti mampu beliin hadiah super mewah. Kemudian, di sisi lain, Daza adalah seorang gadis SMA yang sedang bertumbuh, wajar saja kalo dia berharap ada hadiah keren, misalnya mobil (ingat, ini Daza yang sedang berulang tahun ke-17, berasal dari keluarga kaya tujuh turunan, dan sudah boleh punya KTP juga SIM, kan?) atau apa, deh, hadiah lain yang agak-agak waras. 

Nggak sampai di situ. Tante Amy sedang hamil besar, ternyata menikah dengan teman kuliahnya, yang lalu meninggalkannya, tapi Tante Amy santai aja. Kayak nggak ada masalah atau beban, padahal dia sedang mengandung. Badass, sih, menurut Bunda, Tante Amy ini. Karena dia santai dengan persoalan besar ini. Kebayang kalo Bunda yang ngalamin.

Cerita bermula dari keputusan Ayah untuk memberi Daza seorang guru les matematika. Guru les matematika Daza ini adalah sahabat Dennis yang super galak. Udahlah Daza benci Matematika, ditambahin lagi harus les Matematika, setiap hari. Namanya Logan.

Ternyata, Logan ini galak-galak ngangenin. Meski Logan galak, judes, menyebalkan, dia telah berhasil membuat Daza memikirkannya. Kalo Daza bertanya urusan pribadi Logan, Logan pasti marah dan memintanya untuk nggak mencampuri urusannya.

Sementara itu, ada seorang Dalas yang manis, yang jelas-jelas suka padanya. Mereka memutuskan jadian, tapi back street, karena Daza khawatir, Dalas akan dikerjai oleh keluarganya. Ternyata benar! Meski mereka pacaran back street, ketahuan juga hingga akhirnya Dalas harus mengikuti ujian demi ujian supaya bisa menjadi bagian dari keluarga Daza. Duh. Kebayang, ya, kalo anak Bunda diperlakukan begitu sama keluarga pacarnya... Bunda pasti nggak rela. Terlebih lagi, ternyata emang keluarga Daza nggak menginginkan keberadaan Dalas, meskipun Daza suka padanya atau Dalas suka banget sama Daza.

Meet the Sennas menurut Bunda pas buat jadi bacaan remaja. Dari segi bahasa dan penuturan enak banget, mengalir. Humor yang dilemparkannya juga segar, nggak krik krik. Gaya penuturan Orizuka nggak kaku untuk novel remaja ini. Bunda kemudian baru tahu kalo ternyata sebelumnya, Meet the Sennas pernah diterbitkan dengan judul berbeda di tahun 2006. Nggak diceritakan oleh penulisnya gimana nasib bukunya itu. Yang jelas, di Meet the Sennas, pastinya banyak perombakan yang disesuaikan dengan tahun terbit, 2014.

Covernya pun dibuat segar. Warnanya eye catching, meski Bunda nggak ngerti, kenapa gambarnya harus roti? :D Bookmarknya juga lucu.
Ilustrasi bagian dalam juga pas untuk ukuran novel remaja. Cuma bagi Bunda, masih kurang bikin naksir sama Logan kalo berdasarkan ilustrasi semata. Tapi, Bunda bisa kebayang cakepnya Logan atau cute-nya Dalas, kalo dari imajinasi cerita. Hihihi...

Sepertinya, Bunda masih bisa baca novel buat remaja, ya. Hihihi. Mungkin aja, kalo teman-teman seusia Bunda baca ini bakal bilang, garing atau apa. Bunda sih suka-suka aja. Walau Bunda emang nggak berharap banyak sama cerita ini, Bunda mendapat twist yang cukup keren. Bunda kasih tiga untuk Meet the Sennas ;)


Cheers! Love you both! xoxo




Terusin baca - PostBarSSBBI2014 - Meet the Sennas by Orizuka

PostBarSSBBI2014 - Train Man (Densha Otoko) by Hitori Nakano






Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...

Ketemu lagi sama posting berbau Secret Santa BBI 2014 :D
Tapi... jangan seneng dulu... Di sini, nggak akan ada posting nebak siapa santa Bunda, karena posting ini hanya untuk review aja. Biar nggak campur aduk. Pengennya, ya postingan khusus review, biar buat review aja. Nggak dicampuri hal lain.

Oke. Boleh diskip ke judul lain, kok. Bunda akan tetep lanjutin ngetik review Bunda mengenai Train Man yang udah lama Bunda idam-idamkan ini.. :D




Judul: Train Man (Densha Otoko)
Penulis: Hitori Nakano
Penerjemah: Kanti Anwar
Penyunting: Tim Redaksi Qanita
Proofreader: Wiwien Widyawati
Desain cover: Agung Wulandana
Diterbitkan oleh Penerbit Qanita
Cetakan 1, Mei 2013
ISBN: 978-602-9225-71-6
Jumlah halaman: 436 halaman; 20,5 cm
 Genre: Romance, Kultural Jepang, Japanese Literature, Fiksi Jepang, Kontemporer, Young Adult, Asian Literature


Berdasarkan statistik, cowok otaku akan menyerah saat jatuh cinta pada cewek sungguhan. Apalagi kalau cewek itu berkali-kali lipat lebih baik darinya.

Mereka juga putus asa.

Namun, Pria Kereta Api tidak begitu. Saat jatuh cinta dengan gadis yang ditolongnya, dia langsung main ke sebuah forum internet untuk meminta dukungan. Untungnya, teman-temannya di dunia cyber baik-baik dan sangat bersemangat.

Mereka memberi tips-tips pada Pria Kereta Api agar dia bisa bersatu dengan gadis itu.

Masalahnya, terkadang tips-tips itu agak aneh dan diusulkan para jomblo yang tidak berpengalaman. Berhasilkah Pria Kereta Api meluluhkan hati gadis cantik yang perlahan-lahan mengubah hidupnya?



Cuma satu kata: SUKAAAAAAAAAA!

Baca sejak halaman pertama tuh, serasa lagi ada di dalam utas/forum otaku, tapi cuma jadi silent reader. Ikut degdegan juga di setiap perkembangan yang ada. Hihihi.

Jadi, ceritanya, si Pria Kereta Api tuh curhat. Di dalam kereta api yang dinaikinya, ada seorang kakek mabuk yang mengganggu di dalam kereta. Korbannya adalah para penumpang perempuan. Bunda sih kebayang serem, ya, kalo di dalam kereta, ada orang mabuk, terus melakukan tindakan senonoh. Nah, karena melihat para penumpang wanita ketakutan, Pria Kereta Api berusaha menghalau si kakek pemabuk itu dari mengganggu para penumpang wanita. Ketika akhirnya si kakek mabuk digelandang di kantor keamanan stasiun, kemudian Pria Kereta Api menjadi saksi, para penumpang wanita itu mengucapkan terima kasih padanya. Dan dari semua perempuan yang berterima kasih padanya, ada satu perempuan (dia sempet nyebut "bibi") yang disukainya. Dan tanpa disangka, ternyata si bibi yang disukainya itu mengiriminya hadiah berupa cangkir merk Hermes, sebagai tanda terima kasih. Wohohoho...

Namanya juga suka, pas dapet hadiah dari orang yang disukai tuh rasanya gimana gitu yaa...

Akhirnya atas dorongan warga utas, Pria Kereta Api berhasil mengontak si bibi, yang kemudian dipanggil Nona Hermes oleh warga utas. Pria Kereta Api ini betul-betul mengubah total penampilannya, jadi rajin belanja pakaian, bahkan datang ke salon untuk mengubah penampilannya, supaya dia tampak menghargai Nona Hermes.

Begitulah. Cerita terus bergulir. Kalian mungkin sudah bisa menebak bagaimana endingnya. Iya. Bunda kasih sopilernya. Happy ending.

Tapi...

Bukan endingnya yang Bunda nikmatin. Dari awal emang udah ketebak, kok, ceritanya akan berakhir di mana...

Bunda menyukai obrolan di dalam utas ini. Seperti yang Bunda bilang di atas tadi, rasanya Bunda seperti silent reader di dalam utas itu, yang ikut degdegan pada setiap berita terbaru. Lucunya lagi, mereka main ikon. Heuheu. Atau istilah akan ada korban bergelimpangan, karena ini adalah peperangan. Yep. Perang antara Pria Kereta Api dengan rasa takut saat mendekati Nona Hermes. Wuih! Seru! Selalu bikin ngakak setiap ada respons yang masuk. Hihihi...

Somehow, Bunda bisa memahami perasaan orang yang sedang jatuh cinta. Ada perasaan takut ditolak, yang mana harga diri akan jatuh jika ditolak, juga perasaan ingin terbang di kala ternyata si orang yang disukai itu punya perasaan yang sama. Jadi, aura kasmaran sekaligus kegugupan Pria Kereta Api terasa banget di sini. Dan mungkin juga karena diterjemahkan langsung dari Bahasa Jepang, ya, kerasa banget lah, kalo memang bersetting di Jepang.

Terjemahannya enak, mengalir. Mudah-mudahan nggak ada yang lost in translation (pinjam istilah Tante Stefanie Sugia). Jadi, rasanya kalo Bunda kasih bintang 5 itu sama sekali nggak berlebihan, karena emang Bunda sukaaaaaaaaaaaaaaaaa banget cerita ini. Tapi untuk dibaca lagi dalam waktu dekat, nggak dulu, deh. Timbunan Bunda yang lain masih buanyaaaaaaaaaaaaaak. Baru dapat banyak kiriman buku juga dari Uwak Threez. Sayang kalo nggak dibaca.

Lalu, ketika Bunda sampai di halaman penutup, Bunda menemukan ini


Pria Kereta Api 
Penulis/Hitori Nakano*

Hak cipta dari keseluruhan buku ini tidak dimaksudkan untuk membatasi hak cipta tulisan anonim dengan cara apa pun. Hak untuk penerbitan buku ini didasarkan pada kesepakatan khusus dengan 2 channel dan dipegang oleh (PT) Shinchosha. Hak cipta masing-masing penulis di 2 channel sendiri tidak hilang. Karena penulis-penulis anonim di sini sulit ditelusuri identitasnya, kami memperoleh kesepakatan khusus dengan 2 channel sebagai pemegang hak. Selain itu, kami telah meminta persetujuan terlebih dahulu tentang kemungkinan mengutip/mencetak ulang kuki (cookies) dalam 2 channel. Berdasarkan hal tersebut di atas, terhadap rekan penulis asli, kami mohon dengan maklum atas cetak ulang tanpa izin dan imbalan. Selain itu, terkait dengan penerbitan log lama di buku ini, terlebih dahulu kami mohon maaf atas beberapa suntingan yang tidak mengubah makna seperti kesalahan atau kelalaian pengetikan.

*Hitori Nakano adalah nama rekaan yang bermakna "orang-orang lajang yang berkumpul di papan buletin internet".

Sewaktu Bunda posting reading progress di Goodreads, yang cross post ke facebook, Bunda dapat komentar dari tante Syifa yang bilang, kalo dia udah nonton doramanya. OH! Ada doramanya, toh? Bunda terus ngecek, kan, ke tempat forum dorama. MEMANG ADAAA! Di sinopsisnya dibilang kalo cerita Train Man diambil dari kisah nyata. Haduuuh! Jadi pengen donlot! Ntar, deh. Kemaren abis donlot drama Koreyah yang panjang banget episodenya demi si akang x))

Nah, jadi, dear Santa... Bunda senaaaaaaaaaaaaaaaaaang sekali dapat hadiah buku ini. YAY! Bunda juga udah bilang, kan, di twitter (kalo Santa baca, sih... hihi...) MAKASIH, YAAA! Semoga kebaikan Santa dibalas Tuhan! 
Soal pembalasan, Bunda lagi siapin hadiah buat Santa, sih... masih in progress. Sabar, ya, Santa... 

OK. Bunda mau review buku hadiah dari Santa satunya lagi. Abis itu, Bunda akan bongkar hasil investigasi Bunda mengenai siapa Secret Santa Bunda di tahun 2014. Semoga nggak salah tebak kayak dua tahun lalu, yaaa....

See you....

Cheers! Love you both! xoxo







Terusin baca - PostBarSSBBI2014 - Train Man (Densha Otoko) by Hitori Nakano

18 Jun 2014

[Blog Tour] Simple Thinking about Blood Type by Park Dong Sun

Judul: Simple Thinking about Blood Type
Penulis: Park Dong Sun
Ilustrator: Park Dong Sun
Penerjemah: Achie Linda
Penyunting: Nyi Blo
Proofreader: Yuli Yono
Layout cover: @teguhra
Layout isi: Vanessa Fabiola dan @teguhra
Diterbitkan oleh Penerbit Haru
Cetakan kelima, April 2014
Jumlah halaman: 262 hlm; 20 cm
ISBN: 978-602-7742-25-3
Genre: Non Fiction, Komik, Manga, Manhwa, Sequential Arts
Harga: IDR 58,000
Bisa dipesan lewat OwlBookStore
Status: Punya. Dibuntelin sama Penerbit Haru


Tahu nggak sih kalo orang bergolongan darah A itu orang-orang yang halus, tapi kaku dan taat pada peraturan? Atau tahukah kamu kalau golongan darah B itu orang-orang yang kreatif dan bebas?

Apa jadinya kalo mereka disatukan? Jangan-jangan, bisa terjadi pertengkaran!

Ternyata, selain perbedaan jenis kelamin, tempat tinggal, dan kondisi ekonomi, golongan darah juga bisa menentukan perbedaan sifat kita, lho.

Meski sifat seseorang tidak hanya bisa dilihat dari golongan darahnya, semoga komik Simple Thinking about Blood Type ini bisa menghibur, sekaligus sedikit membantu kamu memahami orang lain, ya!


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Wuih! Bunda seneng banget sewaktu diundang oleh Kak Lia dari Penerbit Haru untuk ikut serangkaian blog tour buku Simple Thinking about Blood Type ini. Kenapa? Soalnya, Bunda emang suka banget ngintipin komik stripnya di sini. Sebetulnya itu bukan blog penulisnya, sih. Kalo ngintip blog penulisnya, komik-komik webtoon yang dimuat di sana pake huruf Hangul. Sementara kalo di tumblr itu, udah diterjemahin sama fans beratnya. Thanks to the owner of the blog, kita yang nggak belum bisa bahasa Korea dan baca huruf Hangul jadi ngerti cerita yang dibuat oleh om Park Dong Sun ini.

Waktu sering ngintipin blog terjemahannya dalam bahasa Inggris itu, Bunda sering senyam senyum ga jelas. Antara kesindir sama membenarkan semua karakter di sana. Terus gereget pengen punya bukunya. Bukan aja cocok untuk panduan memahami karakter orang lain, tapi juga karena style karakter di komik juga perpaduan warna-warnanya soft, nggak bikin sakit mata.

Jadi pas buku ini udah datang ke Indonesia dan diterbitkan oleh Penerbit Haru, Bunda senang, dong. Cuma berhubung belum masuk anggaran belanja buku (karena di tahun 2014 Bunda baru berencana akan belanja buku di bulan Juni) jadi Bunda belum berangkat buat beli sampai akhirnya ternyata dibuntelin sama Penerbit Haru. Senang, dong, tentunya. Nggak diajakin ikutan blog tour juga udah bakalan beli, kok, karena emang worth it banget buat punya. Makanya, nggak sabar nunggu buku keduanya yang rencananya akan rilis bulan Juli 2014. Makanya, nanti ikutan PO-nya, ya, di OwlBookStore. Sering-sering aja intip ke sana, cari tahu kapan buku keduanya bisa didapat. Yang beruntung malah bisa dapat buku edisi bertanda tangan penulisnya, loh! Woooh! Itu sih, Bunda mau banget!

Di rumah, karakter kita berempat mungkin mirip. Karena kita berempat bergolongan darah O. Papa bergolongan darah O. Bunda bergolongan darah O. Jadi, nggak mungkin kalian berdua ada yang bergolongan darah A, B, apalagi AB. Tentu saja golongan darah kalian *sudi nggak sudi* O juga. Hahahaha...

Sini, Bunda kasih bocoran tentang masing-masing golongan darah...



Ternyata, di ruangan tempat Bunda kerja, yang bener-bener punya semua perilaku di atas itu adalah om Ginan. Bener banget, deh! Trus, pas Bunda tanyain apa blood type-nya, dia jawab A! Wow! Sebetulnya, om Nova sama om Ayus juga goldarnya A. Tapi ga semua karakter goldar A mereka punya. Jadi, pas Bunda tahu apa goldar om Ginan, Bunda cuma bisa melongo saking takjubnya akan kebenaran riset om Park Dong Sun ini.

Bunda belum ketemu sama yang ngaku bergolongan darah B ini, sih. Kayaknya dari keseluruhan tipe golongan darah, goldar B ini paling nyante. Sama kek yang dibilang penulisnya di buku, tipe goldar B ini juga favorit Bunda karena kayaknya asik banget :D

 
Nah... ini adalah golongan darah kita berempat... Coba kalian perhatikan masing-masing panel. Ada, nggak, yang mirip atau nyerempet dengan kalian? :D Bunda rasa, panel kedua dan ketiga tentang golongan darah O mirip sama karakter Bunda. Banyak, sih, yang mirip sama karakter Bunda. Hihihi... Gimana dengan kalian berdua?

Hmm.. di ruangan Bunda, yang mewakili karakter golongan darah AB itu om Putra. Dan iya, kadang om Putra tuh suka ngeremehin, menganggap enteng sesuatu yang malahan perlu dibilang nggak enteng juga. Om Putra yang Bunda kenal sih nggak panikan. Meski tugas di kampusnya belum kelar, dia tenang-tenang aja ngerjain di kantor. Meski di saat yang sama, di kantor lagi kerjaannya banyak kena revisi, dia nggak panik.

Nah, terus, gimana kalo orang-orang dari keempat golongan darah ini janjian?


Itu... soal goldar O pas janjian... ummm... kadang-kadang benar adanya... -____-"
Tapi papa kalian tipe yang kalo janjian kek golongan darah A dan AB, kok.  Akhirnya, Bunda ngerti bahwa tipe golongan darah emang ikut berperan dalam menentukan karakter seseorang.

Jadi, sekarang Bunda belajar memahami rekan-rekan kantor Bunda, bahkan mungkin teman-teman Bunda yang lain lewat karakter golongan darah mereka karena apa yang diceritain oleh om Park Dong Sun emang mewakili semuanya.

Oya, sebenernya Bunda sedikit ngerti kalo tata bahasa Korea itu berbeda dengan tata bahasa Indonesia apalagi bahasa Inggris. Jadi, pas baca terjemahannya (karena Bunda belum sukses memahami bahasa Korea), terus terang agak kesulitan memahami ceritanya. Bunda ngerti, pasti penyunting kerja keras banget buat bikin buku ini bisa mudah dicerna. Semoga di terjemahan berikutnya, lebih enak dicerna, ya...

Jangan lupa, ya, kalo bulan Juli, buku kedua udah bisa dilakukan pre-order di OwlBookStore. Kek gini, nih, covernya:


Beberapa waktu lalu, Penerbit Haru mengadakan Meet and Greet bareng om Park Dong Sun, loh.






Ask the Author of Simple Thinking about Blood Type 

1.  Dari manakah Anda mendapatkan inspirasi saat membuat Simple Thinking about Blood Type?
                Saya mendapatkan inspirasi ketika mendengarkan cerita dari seorang junior saya. Jadi ceritanya, saat semua sedang berkumpul untuk makan tiba-tiba si junior yang bergolongan darah AB berdiri dan pergi begitu saja, kemudian si golongan darah O karena penasaran pergi mengikutinya. Si golongan darah A yang melihat hal tersebut berpikir kalau itu semua karena dirinya. Saya akhirnya bertanya pendapat si golongan darah B tetapi si golongan darah B tidak tertarik sama sekali. (Kisah ini bisa dilihat di halaman 137 Simple Thinking about Blood Type)

2.   Berapa lama yang Anda butuhkan untuk membuat Simple Thinking about Blood Type?
Pertama kali saya menggambar komik ini pada tanggal 20 Desember 2004.  Semenjak itu, saat waktu luang saya membaca buku yang berhubungan dengan hal tersebut ataupun melihat dan mengamati orang-orang yang ada di sekitar saya sambil mengumpulkan bahan cerita.

3. Simple Thinking about Blood Type ini disebut sebagai webtoon. Apa sih bedanya dengan komik?
Webtoon adalah komik yang ditayangkan di web. Dari situ, para pembaca bisa memberikan komentar. Menurut saya pribadi, webtoon mengalami proses penyempurnaan melalui komentar dari para netizen (pengguna internet). Sayang sekali, waktu terbit menjadi komik, komentar-komentar itu tidak bisa dimasukkan ke dalam komik.

4.   Apa riset yang Anda lakukan untuk membuat Simple Thinking about Blood Type? Apakah Anda punya latar belakang medis?
Ada satu hal yang harus saya sampaikan kepada orang-orang yang membaca komik Simple Thinking about Blood Type, bahwa buku ini bukanlah buku ilmiah. Saya berharap cerita dalam “Simple Thinking about Blood Type” tidak dipercayai begitu saja. Sebaiknya dibaca hanya sebagai hiburan. Oiya, saya adalah lulusan dari sekolah desain visual. 

5.  Apa Anda mengalami kesulitan dalam pembuatan komik ini?
Saya mendapatkan bahan cerita dari kehidupan sehari-hari. Namun karena harus disesuaikan dan mengharuskan memunculkan semua golongan darah, tidak mudah untuk mencari bahan ceritanya.
Kesulitan lainnya... karena mulai dari konsep cerita, sketsa, membikin garis panel, pewarnaan, sampai membuat “speech bubbles” (membuat ruang untuk percakapan) saya mengerjakannya sendiri, jadi membutuhkan waktu yang cukup lama.

6.  Apakah Anda menyukai kehidupan Anda sebagai seorang komikus?
Sekarang saya sangat puas dengan kehidupan saya. Kedepannya saya juga akan menggambar sesuatu yang saya inginkan dan ingin memberikan kebahagiaan kepada banyak orang.

7. Darimana Anda mendapatkan inspirasi mengenai desain karakter di “Simple Thinking about Blood Type”?
Saya tidak mendapatkan inspirasinya secara khusus. Sejak saya mengambil jurusan desain visual saya mempunyai pemikiran yang saya sebut “Simple is Best”. Dengan berpikir begitu akhirnya saya membuat karakter yang sederhana.

8.  Selain “Simple Thinking about Blood Type”, apakah ada kemungkinan untuk membuat atau merencanakan komik ataupun proyek yang lain?)
Dalam waktu dekat saya ingin menggambar komik harian yang menunjukkan kehidupan rumah tangga saya, dan juga cerita berseri, kemudian saya juga ingin belajar lebih tentang menggambar lalu membuat cerita yang cukup masuk akal yang bisa diangkat ke dalam drama ataupun film.

9.  Ceritakan dong, proses pembuatan komik ini?
Kalau membuat konsep cerita, saya menggambar sketsanya di komputer. (Kalau dulu saya membuat sketsanya di ruang latihan lalu mengunggahnya ke komputer tapi sekarang semuanya saya kerjakan langsung di komputer.) Setelah memperhalus sketsa saya mengerjakan pembuatan garis panel, kemudian pewarnaan, lau membuat “speech bubbles” (membuat ruang untuk percakapan). Semuanya membutuhkan waktu sekitar 9~10 jam.

10.  Komik ini telah diterbitkan dalam beberapa bahasa, bagaimana pendapat Anda, dan apakah ada perasaan khusus mengenai penerbitan di Indonesia?
Di Korea, China, dan Jepang cerita komik ini merupakan cerita yang populer tetapi saya merasa takjub karena di negara lain pun cerita ini juga memiliki daya tarik. Biasanya menerbitkan komik di daerah Asia itu banyak kesamaannya walaupun berbeda beda negara.
Di Indonesia inilah saya pertama kalinya pergi ke negara penerbit dan bertemu langsung dengan penerbit dan pembacanya. Saya merasa istimewa dan sangat menikmatinya.

11.  Komik ini juga dibuat dalam bentuk animasi, ceritakan sedikit, ya. Apakah Anda juga berperan dalam pembuatan animasinya?)
Animasinya diproduksi secara umum di perusahaan penerbitan di Jepang. Karena banyak orang-orang ahli yang berperan dalam pembuatan animasi ini saya menerima banyak sekali cinta.  Saya hanya penulis dan tidak terlibat dalam pekerjaan animasi.

12.  Selain sebagai komikus apakah Anda memiliki pekerjaan lainnya?)
Seperti anak muda di Korea saya juga pernah melamar pekerjaan. Sesekali saya mendesain iklan di Koran dan saya juga bekerja di perusahaan web design. Sampai tahun 2011 selama 3 tahun saya mengajar kesenian di SMA tetapi karena saya memutuskan untuk menggambar komik jadi saya berhenti pada pekerjaan itu. Sekarang tidak ada pekerjaan lainnya.

13. Saat Anda mengatakan untuk membuat komik yang berhubungan dengan sifat dan golongan darah bagaimana reaksi dari keluarga dan teman dekat Anda?)
Saat saya mengungkapkan bahwa saya ingin menjadikan menggambar komik itu sebagai pekerjaan saya teman-teman dekat saya sangat mendukung tetapi orang tua saya menentang dengan keras. Tetapi karena kehidupan saya adalah pilihan saya akhirnya saya memutuskan untuk berhenti menjadi guru seni dan memulai untuk menggambar komik.

14. Anda pernah mengunjungi Indonesia, bagaimana pendapat Anda tentang Indonesia terutama Jakarta?)
Saya iri dengan kebebasan orang Indonesia. Saya juga masih ingat makanan-makanan enak yang pernah saya makan di Indonesia.

15. Bagaimana pendapat Anda tentang pembaca di Indonesia?
Saya sangat berterima kasih kepada para pembaca yang telah membaca komik saya. Saya sangat senang karena sepertinya saya mendapatkan simpati dari para pembaca.

16. Mengapa Anda memilih membuat komik dalam menjelaskan tentang golongan darah? Kenapa tidak buku non fiksi saja?
Sejak dulu saya suka mengekspresikan sesuatu melalui gambar dan saya memiliki kepercayaan diri dengan itu. Di samping dapat menyampaikan isi cerita, sebuah gambar punya kekuatan yang besar untuk memberikan makna yang mendalam.

17.  Apabila bertemu dengan orang baru, apakah Anda bisa menebak apa golongan darahnya dengan tepat?
Secara pribadi, menurut saya... akan tidak sopan jika menerka-nerka sifat lawan bicara hanya berdasarkan golongan darah sehingga saya harus berhati-hati akan hal itu. Terkadang ada juga pembaca yang baru saya temui menyuruh saya menerka golongan darahnya, tetapi dugaan saya salah. Orang-orang disekitar saya juga mencoba menebak-nebak golongan darah orang lain, tetapi kebanyakan salah.

18. Saya dan teman-teman memiliki golongan darah yang berbeda-beda. Jika melihat komik ini akan sulit untuk hidup dengan orang yang bergolongan darah yang berbeda, untuk tetap menjaga keharmonisan hubungan, apakah yang harus dilakukan?)
                Saling menghargai perbedaan, mengaku salah jika memang salah. Ini merupakan langkah awal dalam menjalin sebuah hubungan dan bersosialisasi.

19. Bagaimana reaksi Anda jika ada yang mengkritik atau tidak setuju dengan komik yang Anda tulis?
Karena setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda, pendapat ataupun sanggahan bisa saja terjadi. Secara pribadi saya tidak masalah, namun apabila disampaikan dengan tidak sopan, tentu saja bisa melukai perasaan.

20.  Anda paling menyukai sifat dari golongan darah apa? Apakah alasannya?
Dalam kehidupan sehari-hari, saya menyukai golongan darah B yang bisa menghadapi sesuatu dengan santai. Sedangkan di komik ini saya menyukai golongan darah O. Karena  saya sendiri bergolongan darah O dan karakter golongan darah O menggambarkan bagian dari diri saya yang penuh kasih sayang.

21. Apakah ada rencana untuk mengunjungi Indonesia kembali? Kalau begitu hal seperti apa yang akan Anda lakukan atau adakah tempat yang ingin Anda kunjungi?
Saya ingin sekali mengunjungi pulau Bali yang merupakan tempat relaksasi yang terkenal di Indonesia. Saya ingin datang untuk istirahat dengan tenang tanpa gangguan.
 


Minggu depan, Bunda mau bikin giveaway. Hadiahnya buku Simple Thinking about Blood Type untuk dua orang pemenang. Bunda nggak akan susah-susah bikin kuisnya, kok. Yang jelas, review Bunda yang ini mesti dibaca baik-baik karena petunjuknya ada di review ini.

Kalian bisa berkunjung ke review di blog tante Ana Indriyani, kak Mei Koo, tante Irnala Sari, tante Dyah Muawiyah, tante Putri Kurnia Nurmala, tante Dini Y Nurhasanah, tante Retno P Hartono, juga tante Khairisa Ramadhani P. Cek cek cek, siapa tau sekarang ini lagi berlangsung giveaway ^^

Nantikan giveaway Bunda di pekan depan, ya...


 Love you both... Cheers!





Terusin baca - [Blog Tour] Simple Thinking about Blood Type by Park Dong Sun