20 Mei 2013

[Miiko's Time] Namaku Miiko Vol. 4


Judul: Namaku Miiko Vol. 4 (Miiko Desu Vol. 4)
Penulis/Mangaka: Ono Eriko
Alih bahasa: Widya Winarya
Editor: Yoke Yuliana
Artistik: Pigar
Diterbitkan oleh: PT Gramedia
Cetakan kedua: Oktober 2005
Komik
Harga waktu beli: Rp. 11.000,-
Beli: 22 Januari 2006


Waduh, ulangan IPA mendadak! Gara-gara nggak belajar waktu liburan, Miiko nggak bisa menjawab soal-soal ulangan itu. Tengak-tengok... eitsss, nggak sengaja Miiko lihat jawaban Nakamura, anak paling pintar di kelas. Bukan berniat mencontek sih, tapi... sudah terlanjur melihat jawabannya, gimana dong baiknya? (dari kaver belakang)

------

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Ketemu lagi sama Miiko's Time... 
Walau terbitnya udah menjelang sore... Tadi, Bunda meeting seharian. Lalu, ketika tulisan ini dibuat, Bunda lagi nunggu papa jemput, karena bunda dapet kabar dari yangkung kalo adik Zidan tiba-tiba demam... huaaah!

Hmmm...
Ngomong-ngomong, Miiko edisi ini, ceweeeek banget. Bunda ngeliatnya, di sini, bu Ono mulai menggiring pembaca Miiko sebagai pembaca cewek yang mengenal pubertas. Kenapa? Di sini ada bahasan mengenai pertumbuhan payudara pada anak gadis, ciuman, kemudian mengenai masalah perempuan yang lain, di antaranya perasaan minder.

Bunda akan kasih sneak peek untuk masing-masing judul, ya. Seperti biasanya...

Dadaku Sakit
Di sini awalnya cerita tentang Mari-Chan yang merasa dadanya sakit. Dia pikir, dirinya sakit. Ternyata, dia sedang mulai mengalami masa pubertas. Yaitu, mulai tumbuh payudara. Itu yang akan dialami anak perempuan, menjelang menstruasi. Kalo pada anak laki-laki, tumbuh jakun yang menandakan bahwa dia akan berangkat menjelang dewasa. 
Trus, karena ternyata Yukko sudah mengalaminya juga, Miiko merasa sendirian. Sewaktu mamanya memperlihatkan foto-fotonya pas masih kelas 1 SMP, Miiko merasa lega, karena pertumbuhan setiap anak berbeda.


Terus Berjuang, Yuuki!
Miiko jadi panitia untuk menyemangati anak kelas satu yang akan bertanding olahraga. Sewaktu ditanya anak bernama Yuuki kelas berapa, Miiko dikatai kuntet karena kelas lima tapi badannya mungil. Awalnya Miiko kesal pada Yuuki, karena selain mengatainya kuntet, Yuuki juga mengganggu anak-anak lain. Ternyata, Yuuki kesal ayahnya nggak hadir pas pertandingan olahraga. Dari situ, Miiko bertekad untuk menjadi penyemangat untuk Yuuki.


Hadiah Miiko
Miiko punya sarung tangan yang dibelinya dari tabungan. Dia senang sekali, karena akhirnya bisa beli sarung tangan cakep itu. Mamoru juga senang, karena berhasil dapat tiket nonton baseball yang dia harus antri lama untuk bisa dapatinnya. Eh, ternyata, musibah terjadi. Tiket nonton tersiram teh, dan sewaktu mau dikeringkan malah terbakar. Mamoru marah sekali. Miiko berusaha menebusnya. Ah, Bunda sedih pas baca ini...


Gelang Janji Tomo-Chan
Di kelas Miiko, ada anak bernama Tomo-Chan yang pandai membuat gelang dari benang wol. Miiko minta diajari dan besoknya dia bawa benang wol. Eh, ternyata, Tomomi nggak masuk sekolah, karena alerginya muncul. Tomomi ga mau ditengok, karena malu. Oya, ini ada sedikit percakapan yang mengingatkan Bunda akan Bunda dan Papa. Hahahaha... Iya! Papa kalian tuh Tappei banget!

Tappei: "Kalau memang alergi, dilihat orang lama-lama juga biasa."
Miiko: "Me... Memang sih... tapi buat cewek, itu malapetaka!"
Tappei: "Ya nggak usah ditengok."
  Miiko: "Tapi... kasihan Tomo-Chan sendirian di kamar terus..."
  Tappei: "Ya udah, tengok sana! Rewel amat, sih...!"
  Miiko: ..... ngegebukin Tappei
 Tappei: "Aku salah apa lagi!"


Valentine yang Berantakan
Ceritanya, Miiko mau buat coklat Valentine. Dia minta diajari bikin truffle sama Yuka-Chan. Terus, pas udah jadi, Miiko bawa ke sekolah, dibagi-bagiin buat tiap orang. Cowok-cowok yang ga dapet coklat valentine, seneng kan, kebagian. Eh, sama Tappei dikacauin! Dia malah menjatuhkan sekotak truffle itu. Akhirnya, ga seorangpun makan! Duh! Miiko maraaah banget. Yah... Tappei punya cara sendiri buat menebus rasa bersalahnya, sih, walau akhirnya dia jadi sakit perut. Haha banget, yak!


Kiss-Kiss-Kiss
Ummm... ini materinya agak terlalu dewasa buat cerita anak, karena dimulai dengan adegan ciuman dua orang dewasa. Jadi "berat", karena kita di Indonesia, hal-hal kayak gini jarang dilakukan di depan umum. Orang Jawa bilang, "ora ilok". Mungkin karena di Jepang, hal-hal semacam ini lumrah, eh, padahal, orang Jepang setahu Bunda sangat pemalu, lho... apa ada juga, ya, adegan colongan macam gini? Entahlah... 
Nah, di sini, sih, Miiko, Mari-Chan dan Yukko jadi penasaran, apa sih, rasanya ciuman? Terus, mereka nanya Misaki, kakak Mari-Chan.
Hmmm... Kakak Ilman dan Adik Zidan..., kalo kalian belum cukup umur, nggak perlulah penasaran sama hal-hal semacam ciuman kayak begini, ya. Kalo sudah dewasa, sudah mampu bertanggung jawab, dan Bunda lebih sarankan lagi: sudah menikah, baru, deh, boleh melakukannya. Karena, dari ciuman aja, bisa ke mana-mana nantinya.


Hari Terpanjang Miiko
Miiko mau ulangan Kanji dan dia belum belajar. Akhirnya, dia pura-pura sakit dan akhirnya bolos. Ternyata, selama ada di rumah, ada kejadian yang membuatnya merasa takut berada sendirian di rumah, walau akhirnya ada Tappei datang menengok, mengantarkan catatan. Setelah mengalami hari yang menakutkan, ternyata ulangan Kanji nggak jadi, karena gurunya nggak masuk. Hahaha....


Makasih, Teru-Chan
Rencana piknik Miiko dan teman-temannya batal karena tiba-tiba hujan deras turun. Miiko menjatuhkan boneka teru ke tempat sampah karena kesal. Ternyata, Teru-chan, si boneka Teru yang dibuang Miiko, merintih minta tolong. Dia merasa bahwa dia telah gagal menghentikan hujan. Lalu, dia meminta tolong Miiko mengantarnya ke rumah Tappei, lalu berjuang bersama boneka teru-teru milik Tappei untuk menghentikan hujan.
Di Jepang, ada kepercayaan untuk menggantung boneka teru-teru di luar rumah, untuk menghalau hujan. Kayaknya, kalo di sini sama dengan menancapkan sate bawang dan cabe merah, kali, ya. 
Bunda pernah liyat beberapa varian boneka teru-teru, malah ngeri sendiri. Kayaknya, masing-masing boneka ini punya nilai magis tersendiri.... -_____-"


 Jangan Menyerah, Tomo-Chan
Nah! Ini kisah lanjutan Tomo-Chan. Dia akhirnya masuk sekolah dan ikut pelajaran berenang. Tapi ada dua anak yang ga mau satu kolam dengannya. Tappei dan Miiko membela Tomo-Chan, sehingga Tappei sempat digosipin. Lalu, ketika Mari-Chan dapat tiket berenang gratis, Tomo-Chan sempat menolak ajakan Mari-Chan. Tapi kemudian dia berubah pikiran, karena Miiko memintanya.


Kelihatan!
Miiko nggak belajar sewaktu liburan. Begitu masuk, ada ulangan mendadak IPA dan Miiko nggak bisa jawab. Tapi dia sempat melihat jawaban anak pintar di kelas yang duduk di depannya. Miiko nggak sengaja mencontek dan mendapat nilai tinggi. Miiko merasa nggak tenang. Miiko akhirnya membuat pengakuan supaya hatinya tenang. Bunda suka sekali cerita ini. Mari Chan menunggui Miiko di luar, ketika Miiko menghadap pak guru untuk mengakui perbuatannya. Cerita ini membuat Bunda melengkapi bintang lima untuk penutup serial Miiko Desu.


So far, dari sisi grafis, dialog, juga cerita, Namaku Miiko vol. 4 sudah banyak perkembangan dan membuat cerita semakin enak dibaca. Maka, mulai dari edisi ini, wajar banget kalo Bunda selalu kasih bintang 5... ;)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tirimikisih udah ninggalin komen di sini... *\(^0^)/*