Tampilkan postingan dengan label cerita anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita anak. Tampilkan semua postingan

5 Agu 2015

Hwaiting, Hye Mi! by Laksmi P Manohara





Judul buku: Hwaiting, Hye Mi!
Penulis: Laksmi P Manohara
Ilustrasi: Nisa Nafisah
Penyunting naskah: Huda Wahid dan Dian Hartati
Penyunting ilustrasi: Kulniya Sally
Proofreader: May May Maysarah 
Desain isi: Nisa Nafisah
Desain sampul: Kulniya Sally
Cetakan I, Shafar 1436 H/Desember 2014
Diterbitkan oleh penerbit DAR! Mizan
Jumlah halaman: 136 hal; 21 cm
ISBN: 978-602-242-628-8
Genre: Fiksi, K-Novel, Fiksi Korea, Children Books, KKPK


Tampil lepas di hadapan para juri, Hye Mi meraih juara perama kompetisi hip-hop dance. Sebagai satu-satunya wakil dari sekolah, dia merasa sangat bangga. Apalagi gadis itu telah berlatih keras melakukan hal yang paling disukainya tersebut.

Terpukau akan penampilan Hye Mi, utusan Kementerian Kebudayaan lantas mendapat ide cemerlang, "Bagaimana kalau..." Kepala sekolah pun memanggil Hye Mi. "Aku mengutusmu mewakili sekolah menari di kementerian," pinta beliau. "Nanti kamu akan belajar tari tradisional Korea."

"Tari tradisional?!" protes Hye Mi dalam hati. Dia kan hip-hop dancer! Lagi pula, tari tradisional kuno, lamban, musiknya juga kerap memilukan. Mana cocok menggambarkan hari-harinya sebagai gadis muda yang lincah dan penuh semangat? Kalau hip-hop dance? Baru cocok!





Sinopsis Cerita
 
Ketika seorang anak memiliki prestasi memuaskan berkat kerja kerasnya selama bertahun-tahun latihan, tentu dia akan merasa bangga. Dan otomatis, predikat prestasinya ini akan melekat dalam dirinya sebagai modal untuk percaya diri. Ini juga yang dialami Hye Mi, seorang gadis kecil Korea berusia sepuluh tahun yang pandai melakukan hip-hop dance yang bahkan sudah meraih banyak penghargaan itu.

Suatu ketika, dia mendapat perintah dari Kepala Sekolah, Tuan Jun Ki, agar Hye Mi ikut tampil menari tarian tradisional Korea di depan tamu negara. Sorot mata Hye Mi mendadak meredup dan badannya lesu, namun Tuan Jun Ki terlalu bersemangat untuk menjadikan Hye Mi sebagai wakil sekolah, karena Hye Mi sudah langganan menang kompetisi, tidak menyadari adanya perubahan raut wajah Hye Mi. 

Di rumah, Hye Mi pun lesu. Dia membayangkan betapa membosankannya latihan tarian tradisional itu. Padahal, ayah dan ibu tidak pernah lelah menyemangatinya.

Ketika Hye Mi mulai ikut latihan tarian tradisional yang diajarkan oleh Bu Kim, kesibukan Hye Mi mulai meningkat. Dia tidak menyadari bahwa Ji Hyo, sahabatnya, mulai menjauhinya. Sementara di tempat latihan menari, teman-teman baru Hye Mi juga mulai tidak menyukainya dan membencinya. Padahal, waktu pementasan sudah tidak lama lagi.

Hye Mi mulai menyadari bahwa tindakannya bermalas-malasan ikut latihan tarian tradisional, membuatnya dibenci teman-teman latihan menarinya. Dan dia semakin merasa sendiri ketika Ji Hyo selalu menghindarinya. Mana enak nggak punya teman?

Pada saat Nenek yang tinggal di Pulau Jeju mengunjungi Hye Mi, barulah Hye Mi menyadari mengapa Ji Hyo menjauhinya. Nenek yang dulu penaripun sibuk menggembleng Hye Mi untuk latihan lebih serius. Melalui Nenek lah, kecintaan Hye Mi terhadap tarian tradisional jangguchum mulai tumbuh.



Review

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan... Udah lama, ya, nggak nulis review lagi. Ah, kali ini nggak akan cerita alasannya, deh. Basi! :D

Bunda mau cerita sekilas mengenai hubungan Bunda dengan penulis cerita "Hwaiting, Hye Mi!" ini. Jadi, tante Laksmi tuh duluuuu banget, sewaktu Bunda masih duduk di kelas 2 dan 3 SMA adalah sahabat Bunda. Kami berempat punya geng bernama "Four Mbaketeer". Anggotanya terdiri dari Bunda, Tante Laksmi, Bude Dian, dan Tante Saptini. Selain ke mana-mana sering bareng, kalo salah satu dari kami ulang tahun, selalu ada surprise dari kami. Pisah pas masuk kuliah, susah lagi ngumpulinnya :D



Sebetulnya Bunda udah tahu lama kalo Tante Laksmi menulis buku. Dulu, Bunda dan Tante Laksmi pernah berkolaborasi compose lagu untuk tugas Bude Dian, karena dia anti banget sama ngarang lagu, padahal ada tugas ngarang lagu. Bunda sih udah compose lagu sendiri, begitu juga Tante Laksmi. Nah, karena Bude Dian ini ZBL banget sama seni musik, akhirnya Bunda dan Tante Laksmi keroyokan berkolaborasi composing lagu buat Bude Dian. Bunda bikin lirik, Tante Laksmi yang menggubahnya jadi lagu.

Setahu Bunda, buku pertama Tante Laksmi ada lagunya juga. Bener, ga, Tante? Tapi berhubung Bunda waktu itu masih fokus dengan buku-buku yang lain, Bunda nggak inget buat nge-take dulu via Tante Laksmi. Tapi ada satu hal juga, sih, yang bikin Bunda nggak mau kenalan dengan buku-buku Tante Laksmi terdahulu: Bunda ngiri berat karena Tante Laksmi udah maju sejauh ini, Bunda masih lari sprint di tempat. Hihihi.

Karena Bunda belum baca buku-buku terdahulu yang ditulis Tante Laksmi, Bunda jadi ga bisa bandingin dengan karya Tante Laksmi yang lain. Secara keseluruhan, cerita di buku ini lumayan mengenyangkan, salah satunya ada banyak istilah-istilah yang digunakan di Korea, sehingga bagi kamu yang sama sekali nggak ngerti istilah-istilah Korea, paling nggak minimal tahu, deh, "hwaiting" itu artinya apa. Selain itu, di cerita ini juga kita dikenalkan dengan beberapa nama tarian tradisional Korea, salah satunya tarian jangguchum yang ditarikan oleh Hye Mi. Jangguchum adalah tarian yang menggunakan alat bernama janggu. Memukul janggu harus sesuai dengan irama musik. Untuk menari jangguchum diperlukan badan yang kuat, karena tubuh harus menari sekaligus membawa janggu. Semua kelincahan di hip-hop dance bisa membantu Hye Mi kuat dalam menari jangguchum, dan dia baru menyadari beberapa waktu kemudian.

Nah, selain mengenyangkan karena ada pengetahuan baru mengenai budaya Korea, kita juga jadi tahu bahwa persahabatan itu penting dan satu lagi: memandang remeh sesuatu itu tidak baik. Belum tentu yang kita anggap remeh itu betul-betul remeh.

Ilustrasinya menarik, Bunda suka dengan style layout dan grafisnya.

Disajikan dalam bahasa yang mudah dicerna anak-anak, terutama anak usia 8-12 tahun, "Hwaiting, Hye Mi!" bisa direkomendasikan untuk kado, kok... ^_^


Kritik

Entah karena memang ini niatnya untuk masuk genre KKPK (Kecil-kecil Punya Karya), konflik di buku ini kurang kuat. Emosi Hye Mi ketika dijauhi oleh Ji Hyo dan teman-temannya kurang terasa oleh Bunda, jadi datar aja, nggak ikut sedih atau kesal :D

Bunda nggak ngerti juga, apakah ada batasan halaman atau apa, cuma rasanya emosi di bagian itu kurang kuat. Berbeda dengan emosi ketika Hye Mi merasa senang atau kecewa ketika Tuan Jun Ki memberinya mandat sebagai wakil sekolah. Juga ketika nenek datang, emosinya kerasaaa banget.

Sayang aja, sih, padahal klimaksnya ada di bagian ketika Hye Mi dijauhi teman-temannya.

Terus untuk layout, setiap halaman berasa terlalu ramai karena nggak hanya ada border, tapi di setiap halaman ada garis-garis membujur yang mengganggu (menurut Bunda sih) jadi mata bekerjanya dobel. Ya membaca, ya memilah mana huruf mana garis :D

Oya! Ada satu lagi yang agak mengganjal. Bunda sih belum pernah tahu ada anak-anak Korea berambut kriwil banget kayak Hye Mi, karena biasanya, anak-anak Korea itu rambutnya lurus dan hitam warnanya :D Kalo udah gede, sih, mereka umumnya udah kenal obat keriting dan lain-lain :D

Secara garis besar, ceritanya menarik dan cukup bergizi. Semoga Tante Laksmi tidak pernah berhenti berkarya...







Sekilas info tentang Tante Laksmi:
Nama lengkapnya Laksmi P Manohara Puspokusumo. Jagoan main piano. Demen membaca, menulis dan bermain musik (ya piano itu). Buku pertamanya yang terbit langsung lima, yaitu seri "Cerita dari Negeri Paranada" terbit tahun 2012.
Ini dia orangnya (Tante Laksmi, boleh pinjem fotonya, yaaaa)


FYI, kayaknya review berikutnya masih berbau Korea, deh. Hihihi. Soalnya bacanya udah lamaaaa banget, tapi baru punya mood buat review sekarang ini... Takut keburu diban sama Divisi Membership BBI juga, sih, karena sepi update... heuheu...  Okay, deh, sampai ketemu di review selanjutnya, yaaa...


Cheers and Love! xoxo,


Terusin baca - Hwaiting, Hye Mi! by Laksmi P Manohara

28 Mei 2014

[Miiko no Koonaa] Hai, Miiko #1 by Ono Eriko


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Mulai hari ini, setiap posting review Miiko, bakalan ada "button" di atas ini. Scrapbook Bunda yang judulnya "Miiko no Koonaa" alias "Pojok Miiko". Sebagai bentuk "penghargaan" Bunda pada sang mangaka. Dan karena Bunda sayang banget sama Miiko X))

Nah. Hari ini, Bunda mau bikin review Hai, Miiko! Vol. 1 yang dalam bahasa Jepangnya berjudul "Koichimuitte Miiko"

Judul: Hai, Miiko Vol.1
Penulis: Ono Eriko
Alih bahasa: Widya Winarya
Editor: Marin Hermanto
Artistik: Beatrix Saroya
Cetakan kedua: November 2004
Diterbitkan oleh PT Gramedia Majalah Unit Komik Gramedia Majalah
ISBN13: 978-979-230-8242
Status: Punya. Beli pake gaji ngelesin kalo ga salah :D
Harga: Rp. 9.500,- *beli bulan Desember 2004*

Blurb:
Miiko ngambek karena tidak dibelikan sweater merah idamannya, ia pun kabur dari rumah. Dalam perjalanannya, ia mendapatkan suatu pengalaman menarik...

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Ternyata, kalo terlalu suka sama sebuah buku itu, sampe kasih rating lima itu malah bingung gimana ngereviewnya. Apalagi, empat buku sebelumnya udah direview, kan... Hihihi...

Meski serial Miiko ini bukan cerita bersambung, tetep aja serial ini adalah serial yang selalu Bunda nantikan dan Bunda koleksi. 

Halaman pertama dibuka dari cerita bu Ono mengenai serial Miiko yang dimuat di majalah komik Pyong-Pyong secara rutin. Majalah itu sangat terkenal di kalangan anak-anak di Jepang. Karena mendapat sambutan yang baik, serial Miiko kemudian dibukukan, sehingga kita semua bisa baca di serial Namaku Miiko 1-4.

Cuma ternyata, Pyong-Pyong bubar dan digantikan Ciao. Miiko pun dilanjutkan di sana.

Apa bedanya serial Namaku Miiko (Miiko Desu) dengan serial Hai, Miiko (Koichimuitte Miiko)? Menurut Bunda, kayaknya sih, karena perbedaan awal diterbitkannya di mana. Yang satu di majalah Pyong-Pyong, yang satu di majalah Ciao #sotoybanget. Yang jelas, sih, ada perubahan style gambar antara serial Namaku Miiko dengan Hai, Miiko! Kayak bagian poni juga bentuk wajah Miiko yang berubah, bentuk wajah Mari Chan, Yukko, Tappei dan semua karakter di sini juga berubah banyak. Yang jelas, secara grafis, di Halo, Miiko, ~ style gambar bu Ono makin apik.

Gimana dengan ceritanya? Tetep lucu, mengharukan, dan semua-muanya, deh.... Hihihi...

Hai, Miiko! vol.1 terdiri dari sembilan cerita.

Salam Kenal
tentang perkenalan bu Ono dengan pembaca yang udah Bunda sebutkan di atas tadi (tentang awal mula komik Miiko berasal).

Cinta Pertama
Suatu malam, Mari Chan menelepon Miiko dan bilang pengen pindah bangku di bus. Dia pengen deketan sama seseorang di sana dan akan menyatakan cinta. Miiko jelas mau ngebantu, tapi akhirnya malah nyusahin Mari Chan. Di awal baca ini, Bunda nggak bisa nahan buat nggak ngikik, mau di manapun Bunda berada kalo baca komik ini. Meski udah berulang kali baca, tetep aja ngikik...

Tappei Pergi?
Kelihatannya ini awal mula cerita Miiko di Ciao. Jadi emang bu Ono bilang kalo beliau mau istirahat dulu kemudian melanjutkan menulis supaya lebih segar. Nah, jadi di sini masing-masing karakter bingung. Siapa yang bakalan tetap muncul di serial selanjutnya atau ada yang bakalan nggak ada. Ternyata, toko kelontong milik orangtua Tappei, Lazy Moon, tutup. Bahkan gosipnya, keluarga Tappei bakalan pindah. Duh, gimana, ya, kalo komik Miiko berlanjut tapi nggak ada Tappei? Beneran ga kebayang deh...

Orang Aneh di Sebelah
Ada murid baru di kelas Miiko, yang sekaligus karakter baru. Namanya Nomura Yoshiki. Anaknya pendiam, tapi kalo ngomong jutek dan blak-blakan. Ada ceritanya Miiko keseleo gara-gara berusaha ngambil penghapusnya yang jatuh di bawah kursi Yoshiki. Miiko nggak berani minta tolong diambilkan, karena sebelumnya, mereka berdua berbagi buku (buku pelajaran Miiko ketinggalan) terus Yoshiki ngedumel karena nggak bisa konsentrasi sama pelajaran. Hihi. Nah, yang jleb lagi pas ada acara bazaar sekolah. Mari Chan sibuk pengen bikin kukis lucu, tapi komentar Yoshiki adalah, "Kurasa nggak bakal laku... Apalagi kalo bikinnya nggak bagus. Memangnya bakal ada orang yang mau buang uang untuk membeli barang buatan kalian?" Pas dibentak Mari Chan, "Kalau kau memang hebat, terus kami disuruh jual apa?" Yoshiki jawab, "mi cup". Semuanya terpekur dengar jawaban Yoshiki. Tapi anehnya, justru pas hari H, Yoshiki bawa beberapa mi cup buat teman-temannya, banyak pengunjung yang nanya harga jualnya berapa. Ting tong banget, ga, sih...
Papa Pergi Dinas Luar
Papa dapat tugas mendadak ke luar kota selama sepuluh hari! Padahal, mama dan papa selalu berbagi tugas rumah tangga. Kalo kayak begini, kan, jadi repot. Nah, makanya, papa ngatur tugas supaya mama nggak harus kerjain kerjaan rumah tangga sendirian. Miiko mengajukan diri buat mencuci baju. Kenyataannya, Miiko malah baca komik, lupa ngerjain tugas cuci baju dan cuci piring sampai akhirnya, Mamoru kepaksa ga pakai baju karena kehabisan stok baju. Begitu pun mama, saat beliau butuh sendok buat makan, kehabisan sendok karena kotor semua belum dicuci Miiko. Akibatnya, ada piring kesayangan mama yang pecah. Duh... Kebayang, ya, kisruhnya. Kalo Bunda udah teriak-teriak kali, saking stresnya... :D
Tau-tau ada pengumuman dari sekolah, kalo saluran gas di kantin sekolah akan diperbaiki. Jadi, Miiko dan semua murid di SD Suginoki mesti bawa bekal sendiri. Nah, setelah berbagai insiden yang membuat Miiko merasa ga berguna itu, Miiko berinisiatif bikinin bekal buat mama dan Mamoru. Kalian pasti bisa bayangin, kayak apa tampang bekal buatan Miiko itu. Hihihi....

Air Mata Mari-Chan (bagian pertama dan kedua)
Persahabatan Miiko dan Mari Chan diuji. Ini semua bermula dari ke-sok-ngaturan Mari Chan saat mereka berlatih bola basket. Ya Chan yang gemas, bermaksud untuk berlatih sendiri tanpa mengajak Mari Chan. Miiko pun ikut dilibatkan. Miiko bingung. Dia ga pengen mengkhianati Mari Chan. Tapi Ya Chan maksa terus. Sampai akhirnya, Mari Chan lihat sendiri apa yang dilakukan Miiko. Miiko jelas nggak mau berkhianat, tapi kan, apa yang dilihat Mari Chan beda dengan apa yang dipikirkan Miiko...

Jaket Merah Muda
Miiko kabur dari rumah karena mama nggak mengabulkan permohonannya untuk dibelikan jaket merah muda. Pas lagi kabur, Miiko tabrakan dengan sepeda dan Miiko masuk ke tahun 1972. Di masa itu, Miiko ketemu mama yang seumur dengannya. Ternyata, Rie muda mirip banget sama Mamoru, dan saat ketemu dengan Miiko, Rie kecil lagi pengen dibelikan jaket merah muda. Hahaha. Sama banget, ya, ceritanya. Bedanya, sewaktu Rie kecil minta jaket merah muda itu, perusahaan tempat papa Rie kecil bekerja bangkrut. Jadi, keluarga ini lagi susah. Dan Rie bilang ke Miiko kalo dia dewasa nanti dia akan bekerja keras untuk menghasilkan uang banyak dan bisa belanja barang yang dipengeninnya sendiri.
Miya dan Gadis Salju
Kalo ini Miiko versi dongeng. Miiko berperan jadi Miya, si gadis miskin. Tiap hari, dia numpang makan di rumah Peta (pemeran Peta adalah Tappei) yang tinggal bersama neneknya. Miya tinggal di apartemen yang dimiliki oleh Mari (diperankan oleh Mari Chan).  Pas lagi main salju bertiga, tahu-tahu mata Tappei Peta dilempar es oleh Gadis Salju. Dan sejak saat itu, Peta berubah sikap. Peta bahkan diculik oleh Gadis Salju. Menurut nenek Peta, kalo diculik Gadis Salju, Peta akan membeku selamanya. Maka, Miya dan Mari berusaha menyelamatkan Peta.
Ada tambahannya juga, karakternya ga pake Miiko: Berjuanglah, Tako!
Yang ini tentang Tako, pemain basket bertubuh super tinggi, tapi gugup setiap kali berada di lapangan. Sementara Chizumi yang bertubuh pendek, selalu mengarahkan ke mana Tako harus bergerak. Ketika mereka kalah, Chizumi punya ide. Dia menuliskan lambang pada sebuah kain untuk diikat di kepala Tako, yang menurut Chizumi itu jimat supaya Tako bisa bermain basket dengan baik. Dan ternyata, jimat ini berhasil! Tim Tako pun menang, padahal on last shot, jimat Tako lepas!

~~~

Hmmm...
Menurut Bunda, yang jelas cerita-cerita Miiko selalu segar, tetap khas anak-anak. Nggak cuma menghibur, tapi juga mengajarkan banyak hal. Misalnya aja, Miiko bukan berasal dari orangtua super kaya di mana mama dan papa harus bekerja keras untuk support kehidupan mereka. Ditambah tinggal di apartemen kecil dan mama papa juga berbagi tugas rumah tangga. Bunda rasa, lewat cerita Miiko, semua pembaca diajak untuk bisa memahami kesulitan kedua orangtua, terutama ketika meminta barang yang diinginkannya.

Apa yang unik dari Hai Miiko! Vol 1 ini? Semuanya jelas menarik. Mulai dari cerita gimana komik Miiko bermula sampai dibukukan. Tentang kegalauan antar karakter mengenai siapa yang masih dipertahankan dan dibuang (yang ini lucu, menurut Bunda. Karakter aja bisa galau masih diajak "main" atau nggak di serial berikutnya), juga tentang "memberi label sebelum kenal dengan orang" (di cerita Orang Aneh di Sebelah). Cerita favorit Bunda yang mana di vol. 1 ini? Jelas Orang Aneh di Sebelah. Tapi semuanya Bunda suka, kok... Yang pasti, Bunda nggak akan melewatkan setiap serial Miiko. Tunggu review volume berikutnya, ya...

Sampai ketemu lagi di Miiko no Koonaa berikutnya... Teman-teman Bunda masih belum baca Hai, Miiko? Bunda tadi lihat di fanpage mnc comics, lagi re-stock, tuh! Buruan punya! :D


Love you both... Cheers...

Terusin baca - [Miiko no Koonaa] Hai, Miiko #1 by Ono Eriko

28 Jan 2014

Just so Stories by Rudyard Kipling



Posting kedua hari ini \:D/

Judul: Sekadar Cerita (Just So Stories)
Penulis: Rudyard Kipling
Penerjemah: Maggie Tiojakin
Ilustrasi dan desain cover: Staven Andersen
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 160 hlm; 20 cm
ISBN: 978-979-22-7803-3
Genre: Fabel, Cerita Anak, Klasik
Status: punya. Beli di Hobby Buku Online Shop


Just So Stories adalah kumpulan kisah pengantar tidur yang ditulis oleh Rudyard Kipling - penulis novel klasik legendaris The Jungle Book. Dalam kumpulan cerita pendek ini, kisah-kisah lucunya bukan sekadar cerita, tapi juga dihiasi ilustrasi goresan Staven Andersen yang memperkaya kisah-kisah fabel ini.

Walau ditulis lebih dari seratus tahun lalu, cerita-cerita dalam Just So Stories tak lekang oleh zaman karena dipadukan dengan mutiara kebijaksanaan. Di sini kita bisa membaca kisah kenapa unta berpunuk, bagaimana macan mendapat tutulnya, kenapa gajah punya belalai, bagaimana alfabet diciptakan, dll. Semua kisah ini akan membawa Anda menuju petualangan menembus waktu dan imajinasi pengarang peraih nobel sastra, Rudyard Kipling.

Halo, Kakak Ilman dan Adek Zidan...
Ini baru terjadi seumur hidup Bunda! Sekali ikut posting bareng BBI, bikin dua review! Wow! Kasih applause, dong, buat Bunda! :P

Sayang aja, sih, kalo nggak dibaca sekarang-sekarang dan direview. Kan, mumpung ada event posting bareng. Kebetulan Bunda udah lama punya buku ini. Kalo nggak karena baca dan posting bareng, kan, entah kapan kebacanya. Ya, nggak?

Baca Just So Stories mengingatkan Bunda pada kakek Roald Dahl. Penuturannya sama liarnya dengan cara bercerita kakek Roald Dahl. Juga imajinasinya yang bener-bener imajinatif. Misalnya aja, gimana ada cerita asal mula unta yang berpunuk. Atau asal mula ada alfabet. Atau kisah gajah yang tadinya sebetulnya hidungnya pendek gimana ceritanya jadi panjang yang kita sebut dengan belalai. Atau kenapa kulit badak berlipat.

Asli ngarang banget.

Tapi jadinya lucu. Hihihi...

Yang jelas, bukan kakek Rudy yang terinspirasi oleh kakek Roald Dahl, karena kakek Rudy kan udah lahir jauuuuuh sebelum kakek Dahl lahir :D

Dari semua cerita, nggak ada yang Bunda paling suka karena Bunda suka semua. Tapi khusus asal mula alfabet itu, ceritanya agak ngebosenin. Abis, kan, 26 huruf dibahas semua gitu. Jadi, yah...

Ada yang "maksa" banget sebenernya. Asal mula armadilo. Tapi... ya sudahlah. Kalian baca sendiri aja, biar tahu kenapa menurut Bunda maksa banget.

Untuk terjemahannya, Bunda acungkan jempol. Karena Bunda pernah baca cerita Rudyard Kipling yang berbahasa Inggris, terjemahan ini enak dan lumayan mengalir. Tapi yang jelas bacaan ini bukan untuk balita. Minimal udah kelas 3 SD lah. Terus, untuk cover dan ilustrasinya.... keren! Pake banget!


Cheers! Love you both,
Terusin baca - Just so Stories by Rudyard Kipling

The Wind in the Willows by Kenneth Graham



Waktunya untuk Posting Bareng BBI! Kali ini temanya #Fabel



Judul: The Wind in The Willows
Penulis: Kenneth Graham
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penyunting: Nadya Andwiani
Ilustrasi dan Pewajah Sampul:  Ella Elviana
Pewajah Isi: Basandid
Cetakan I: April 2010
Jumlah halaman: 138 halaman
ISBN: 978-979-19926-4-0
Diterbitkan oleh: Mahda Books
Genre: Fabel, cerita anak, klasik, fantasi, classic fantasy
Status: Punya, beli bekas siapa, ya? *kok mendadak lupa*


Kisah tentang persahabatan antara Tikus Tanah yang polos, Tikus Air yang sangat mencintai sungai, Luak yang bijaksana, serta Katak yang ceroboh. Di tepi sungai yang indah dan hutan belantara yang angker, kisah mereka terjalin dengan indah dan mendebarkan.

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Seharusnya, Bunda posting ini kemarin, karena waktunya Posting Bareng sesuai di kalender tanggal 27 Januari 2014. Cuma ya, namanya juga orang sibuk, sesempetnya aja, toh. :P

Sebenernya, Bunda udah pernah baca cerita ini. Kayaknya pas hamil adek Zidan. Terus, karena Bunda udah lupa punya fabel apa aja, Bunda ngambil ini, deh, buat acara posting bareng BBI.

Jadi, ceritanya seperti yang dibilang di atas, The Wind in the Willows itu bercerita tentang persahabatan antara Tikus Tanah, Tikus Air, Luak, dan Katak.

Tikus Tanah tuh cintaaaaaaaa banget sama rumahnya, meski rumahnya ada di bawah tanah dan sederhana banget. Nggak bisa dibilang mewah, tapi nyaman. Cerita bermula, ketika ia mengunjungi Tikus Air dan malah diajak berpetualang. Sebenernya, Tikus Tanah merasa nggak nyaman dengan petualangan ala Tikus Air. Tapi, ia nggak enak sama Tikus Air, jadi manut-manut aja. Dan ia nggak pernah balik ke rumahnya sendiri karena menginap di rumah Tikus Air.

Nah, ada kalanya, Tikus Tanah ini rindu pada sahabatnya yang lain, Luak. Masalahnya, Luak tinggal di dalam Hutan Rimba yang katanya berbahaya untuk dimasuki. selama musim dingin, Tikus Air ini kerjanya tidur melulu. Jadi, Tikus Tanah merasa kesepian. Ia pun nekat masuk ke Hutan Rimba. Nyaris terjadi sesuatu sih, pada Tikus Tanah, saking berbahayanya Hutan Rimba. Tapi ternyata, Tikus Air muncul di saat yang tepat.

Dan mereka pun nyasar karena permukaan Hutan Rimba tertutup salju. Sampai akhirnya mereka menemukan rumah Luak.

Cerita nggak selesai sampai di sini karena mereka harus melindungi Katak yang ndablek. Aduh! Bunda gemes banget sama si Katak ini. Udah dilindungi oleh sahabat-sahabatnya, tetep ajaaaaa bikin ulah. Saking ndableknya.

Bunda cukup suka cerita ini. Bukunya tipis juga, sih. Jadi cepet bacanya. Hihihi. Banyak ilustrasi yang menarik, khas karya klasik. Yang jelas, yang bikin buku terjemahan ini top markotop adalah... ilustrasi kavernya! Keren abis! Cuma satu kata: suka! Pake banget.

Cheers! Love you both,







Terusin baca - The Wind in the Willows by Kenneth Graham

19 Jun 2013

Harry Potter and The Goblet of Fire (Harry Potter #4)


Judul: Harry Potter dan Piala Api (Harry Potter and The Goblet of Fire, Harry Potter #4)
Penulis: J.K Rowling
Penerjemah: Listiana Srisanti
 Diterbitkan oleh: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kedua: Oktober 2001
ISBN: 979-655-854-8
Jumlah halaman: 896 halaman, 20 cm
Status: Masih pinjaman. Belum dikembaliin karena ga tau si yang punya rumahnya di mana :(
Genre: Fantasi, Children Literature, Sastra Eropa


Tahun ini akan berlangsung Piala Dunia Quidditch. Harry ingin sekali menontonnya, tetapi akankah keluarga Dursley mengijinkannya? Tahun ini Hogwarts juga akan menjadi tuan rumah turnamen sihir yang sudah lebih dari seratus tahun tak pernah diadakan. Tahun ini, Harry yang beranjak remaja, juga mulai naksir cewek. Siapakah cewek beruntung yang kejatuhan cinta penyihir dan Seeker beken ini? Tapi tak semua yang dialami Harry peristiwa hura-hura. Karena mendadak bekas luka di keningnya terasa sakit sekali. Dan di langit malam muncul Tanda Kegelapan, tanda yang menyatakan bangkitnya Lord Voldemort. Dan itu baru permulaan.

Wujud Lord Voldemort akan kembali sempurna bila dia berhasil mendapatkan darah musuh besarnya, Harry Potter. Dan dengan bantuan abdinya yang setia, Lord Voldemort menculik Harry.

Akhirnya, untuk pertama kalinya selama tiga belas tahun, Harry berhadapan langsung dengan musuh besarnya. Dan tak terhindarkan lagi, keduanya berduel... (dari kaver belakang buku)


Halo Kakak Ilman dan Adik Zaidan...

Iya. Bunda tahu, tugas bikin review ini mestinya dikerjakan bulan April lalu. Karena ini buku keempat. Dan kalo ngikut #HotterPotter mestinya sesuai jadwal, dong, ya. Buku keempat dibaca dan diposting reviewnya pada bulan keempat tahun ini. Bacanya sih beneran sesuai jadwal. Reviewnya itu yang ampun, deh...

Bunda ga akan curhat di sini, kenapa-kenapanya. Hahah. Ga penting jugak...

Mungkin Bunda bakalan kasih spoiler, cerita ulang tentang buku ini, lalu mengutarakan pendapat di akhir tulisan aja...

Buku keempat diawali dengan cerita mimpi Harry yang seperti nyata, dia melihat seseorang meninggal di depan matanya. Dan dia terbangun karena bekas luka di keningnya teramat sangat sakit.

Sementara itu, Turnamen Piala Dunia Quidditch akan diselenggarakan tak lama lagi. Sebagai Seeker tim Gryffindor, tentu Harry tidak ingin melewatkan menontonnya, kan? Tapi gimana caranya, dong? Dia harus bergabung dengan keluarga Weasley. Nggak mungkin banget ngajakin keluarga pamannya, kan?

Nah, Harry dijemput oleh Mr. Arthur Weasley juga Ron dan si kembar Fred - George. Sebelumnya emang Mr. Weasley udah ngasih kabar ke Paman Vernon kalo dia akan menjemput Harry. Dan seperti biasa, pasti ada drama yang lucu dan menghebohkan deh, kalo udah urusannya ada Fred dan George. Hahaha... Apalagi Mr. Weasley yang terobsesi dengan benda-benda milik Muggle.

Lalu, setelah Harry berhasil dibawa ke The Burrow (tempat keluarga Weasley berada), Harry bertemu dengan kakak-kakak Ron yang lain, seperti Bill dan Charlie. Harry belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya. Sementara Percy, yang sudah lulus dan bekerja di Kementerian Sihir, tetap congkak dan makin aja songong. Apalagi karena Percy menjadi anak buah "kesayangan" Barty Crouch, Kepala Departemen Kerjasama Sihir Internasional. Setiap saat ngobrol, dia senang sekali menyebut nama Mr. Crouch. Padahal, Barty Crouch pun nggak tahu nama Percy. Sering dipanggilnya, "Weatherby". Hahaha...

"Kurasa dia tidak akan pulang kalau tidak dipaksa Dad. Dia terobsesi. Jangan sekali-kali menyebut bosnya. Menurut Mr. Crouch... seperti kukatakan kepada Mr. Crouch... Mr Crouch berpendapat... Mr. Crouch memberitahuku... Pertunangan mereka bisa diumumkan setiap saat." (Ini Ron yang bilang pada Harry XD)

Lewat turnamen Piala Dunia Quidditch, Bunda menemukan hal baru, semisal:

1. Omniocular. Teropong ajaib yang bisa dilambatkan atau dicepatkan, sehingga bisa mengulang adegan favorit. Ini hebat, ya. Apakah dunia Muggle sudah bisa membuatnya? :D
2. Ada makhluk luar biasa cantik yang bisa membuat semua pria terpesona. Mereka adalah veela. Dan Ron sempat dibuat terpesona sampai ngacai waktu menyaksikan liukan para veela.

Kerusuhan sudah dimulai sejak selesainya pertandingan Piala Dunia Quidditch. Cukup menakjubkan, karena pertandingan tidak berlangsung lama. Ada Tanda Kegelapan yang ditembakkan ke langit dan membuat kegaduhan. Kemudian terjadi kebakaran di perkemahan, tempat semua penyihir yang nonton turnamen menginap. Dan Harry sempat menjadi tersangka, karena tongkatnya hilang dan Tanda Kegelapan ditembakkan dengan menggunakan tongkat Harry.

Usai kerusuhan, Harry dan teman-temannya kembali ke Hogwarts. Kali ini, guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam adalah Alastor Moody atau Mad-Eye Moody. Masih teuteup bukan Severus Snape.

Alastor Moody a.k.a Mad-Eye Moody
Mad-Eye Moody ini punya mata gaib yang bisa berputar 360 derajat. Dan Mad-Eye Moody ini selalu terlihat ingin melindungi Harry, seakan-akan bahaya betul-betul sedang mengintai Harry.

Seperti biasa, murid-murid Hogwarts disambut oleh Dumbledore dan kali ini Kepala Sekolah Hogwarts tersebut mengumumkan bahwa Pertandingan Quidditch ditiadakan. Sebagai gantinya, Hogwarts menjadi tuan rumah Turnamen Triwizard yang terakhir kalinya diadakan seratus tahun sebelumnya, karena angka kematian semakin tinggi. 

Sewaktu saatnya tiba, Hogwarts kedatangan tamu-tamu yaitu pelajar dari sekolah sihir di negara lain. Di antaranya Durmstrang yang berasal dari Rusia dan Beauxbatons dari Perancis. Masing-masing sekolah ini akan punya perwakilan untuk ikut Turnamen Triwizard.

Prosedur pendaftaran untuk menjadi peserta Turnamen Triwizard adalah harus berusia 17 tahun ke atas. Tentu saja, Harry belum boleh ikut, walau dia sangat ingin. Bahkan Fred dan George pun belum bisa ikut. Nama calon yang ditulis dalam perkamen harus dimasukkan ke dalam Piala Api yang akan menyala selama pendaftaran berlangsung. Dan nggak bisa melakukan kecurangan, sebab di sekitar Piala Api sudah dikelilingi oleh mantra penolak berbagai kecurangan. Kalo mau menuakan umur sedikitpun tetap nggak bisa. Fred dan George sudah mencobanya... :D

Piala Api

Nah, sewaktu mulai diumumkan peserta, hanya akan ada tiga peserta, masing-masing peserta (yang disebut dengan Para Juara) mewakili sekolah mereka. Nama pertama yang keluar dari Piala Api adalah Viktor Krum, dari Durmstrang. Nama kedua yang muncul adalah Fleur Delacour, dari Beauxbatons. Dan dari Hogwarts, muncul nama Cedric Diggory, dari asrama Hufflepuff.

Semua orang sudah bertepuk tangan, menyambut semua juara mereka. Ketika akhirnya tepukan mereka dihentikan oleh Piala Api yang tiba-tiba menyala lagi dan melemparkan satu nama baru. Kemudian mati selamanya. Nama yang muncul adalah Harry Potter. Kontan, semua terenyak. Menuduh bahwa Harry telah melakukan berbagai kecurangan, termasuk Karkaroff menuduh Dumbledore berada di balik semua ini.

Sewaktu nama Harry Potter muncul dari Piala Api

Lalu, Turnamen Triwizard pun dimulai.  Keempat Juara sama sekali nggak dikasih petunjuk mau ngapain di Turnamen itu. Sampai suatu malam, tiba-tiba Harry diminta datang seorang diri ke pondok Hagrid, pakai jubah gaib. Bersama Madam Maxim yang nggak tahu kalo ada Harry (karena ngumpet di balik jubah gaib) mereka bertiga masuk menuju Hutan Terlarang. Di situ ada empat naga berbahaya yang sedang dipindahkan. Dan ternyata Karkaroff juga ada di sana. Harry belum sempat tahu tugasnya apa, tapi dia hanya memperkirakan ada hubungannya dengan naga, lalu dia segera balik ke asramanya.

Beberapa hari sebelum pertandingan, Harry memberitahu Cedric mengenai naga itu, walau Cedric adalah saingannya. Menurut Harry, nggak adil kalo Cedric nggak tahu soal naga, sementara Madam Maxime dan Karkaroff pasti udah ngasih tahu masing-masing Juaranya mengenai tugas pertama mereka.
Harry baek banget, yaaa... *nangis pelangi*

Harry bocorin ke Cedric soal naga





Tugas pertama adalah mengambil telur naga. Nah, naga tuh sangat protektif. Jadi, naga akan melakukan apa saja untuk melindungi telurnya. Modal masing-masing juara hanyalah tongkat sihir. Sebelumnya, Harry sempat berkonsultasi dengan Sirius dan Sirius bermaksud memberitahunya. Tapi justru Harry dikasih bocoran oleh Moody.

Harry jadi orang keempat yang mengambil telur naga. Dia berhasil dengan sangat baik, walau jubahnya sempat terbakar. Dia melakukan mantra pemanggil sapu terbangnya, si Firebolt. Harry meraih nilai cukup tinggi untuk ini.


Harry menghindari semburan naga

Tugas kedua, setiap Juara dikasih telur emas. Sewaktu dibuka di ruang rekreasi Gryffindor, telur emas itu mengeluarkan suara memekakkan telinga, sehingga Harry sempat putus asa karena nggak tahu mesti gimana memecahkan misteri tugas berikutnya. Adalah Cedric yang merasa berhutang budi pada Harry yang udah ngasih tahu soal tugas kedua. Dia nyuruh Harry mandi di kamar mandi prefek dengan membawa telur itu... :D

si telur emas
Harry, Hermione dan Ron usai tugas kedua
Sebelum tugas ketiga sekaligus tugas terakhir dari Turnamen Triwizard dan penentu pemenangnya, diadakan pesta dansa. Masing-masing Juara mesti punya pasangan. Naaah, Harry ceritanya mulai naksir cewek. Lidah Harry sering kelu kalo ketemu Cho Chang. Ah.. kapan, ya, terakhir Bunda ngerasain kasmaran kayak begitu? #lah #mulaicurcol XD
Sayangnyaaaaa... Cho Chang udah keburu jadi pasangan dansa Cedric sewaktu Harry (yang udah susah payah berusaha bersikap natural sewaktu ngajak Cho Chang). Jadi, sampai detik-detik menjelang Pesta Dansa, Harry masih juga belum punya pasangan dansa, sementara Profesor McGonagall sudah wanti-wanti pada Harry. Pukpukpuk Harry. I feel ya...

Cho Chang
Cedric - Cho
Terus, kenapa Harry nggak ngajak Hermione? Ternyata Hermione udah dibooking buat jadi partner dansanya Viktor Krum! Idolanya si Ron. Mendadak Ron jadi ilfeel sama Krum karena kencan mereka ini... Wakakaka... Bunda baru ngeh, kalo Ron kayaknya naksir Hermione :D

 
Hermione - Krum
Seusai pesta dansa
Nah, selain kisah kasmaran Harry ke Cho, terus Hermione ke Krum, ada juga kisah kasmaran Hagrid. Iya, Hagrid gedebuk in lap sama Madam Maxime XD
 
Hagrid - Madam Maxim

Oya, menjelang dan selama Turnamen Triwizard, semua update diberitakan di Daily Prophet, korannya kaum penyihir. Ada satu reporter yang super annoying, bernama Rita Skeeter, dia punya pena bulu yang dahsyat. Kita nggak ngomong apa-apa, si pena udah nulis banyak aja. Cocok banget, deh, buat penulis skenario sinetron di Indonesia. Pena ini bisa otomatis nulis drama selebay apapun... X))

Tentu saja annoying, karena Harry kerap jadi bulan-bulanan. Dia juga digosipin dengan Hermione, sehingga sempat membuat Ginny dan Mrs. Weasley benci banget sama Hermione karena dianggap telah mematahkan hati Harry jadi berkeping-keping. Ini menurut Daily Prophet, lho!

Bunda ngeliatnya, fenomena Rita Skeeter dan pena bulu ini ibarat reporter yang sibuk cari gosip, di dunia nyata. Lebih ngeliat kehidupan pribadi seorang penampil publik daripada prestasi mereka. Di sini, diibaratkan, kehidupan pribadi Harry dilebih-lebihkan diekspos di koran. Sementara prestasi Harry sebenarnya tenggelam oleh gosip.

Penampakan Rita Skeeter
Nah, lalu... tugas terakhir adalah mencari jalan melalui labirin untuk menemukan Piala Triwizard. Cedric dan Harry sampai duluan di Piala itu dan Cedric memutuskan Harry lah yang pertama menyentuh piala itu. Namun, Harry merasa berhutang budi pada Cedric karena sempat menyelamatkannya dari suatu serangan, akhirnya mereka berdua menyentuh piala bersamaan.  Ternyata piala itu adalah portkey yang membuat Harry dan Cedric harus bertemu dengan Lord Voldemort juga para Pelahap Maut, jauh dari Hogwarts. Dan mulai sejak buku ini, Harry berduel dengan Lord Voldemort...



Pelahap Maut
 Sesungguhnya, buku ini amazing. Selain ga banyak detail yang diulang kayak di buku kedua dan ketiga, banyak cerita hal baru di dunia sihir yang membuka mata sekaligus seperti membantah persepsi Bunda sebelumnya. Misalnya, Bunda sempat berpikir bahwa dunia sihir dalam setting cerita hanya ada di Inggris.

Ya abisnya emang lokasi yang diceritain dari buku pertama sampai ketiga kan cuma di Inggris. Kemudian penjara Azkaban juga tempatnya di Inggris. Kalo ada penjahat sihir dari negara lain, apakah dikirim ke Azkaban atau adakah penjara semacam Azkaban di negara lain?

Dari apa yang udah Bunda ceritakan di atas, jelas, ya... Ternyata ada dunia sihir dari negara lain... Kalo di Indonesia, kira-kira makhluk sihirnya apa, dong? Pocong? Dedemit? Jenglot? Nggak keren banget, yak. Pantes, kalopun ada orang Indonesia nulis kisah fantasi, kayaknya males pake makhluk-makhluk klenik "khas Indonesia". Tampangnya aja nggak unyu. Namanya pun nggak fantastis. Wakakaka...

Cerita di judul keempat lebih kompleks, memang. Masalahnya lebih rumit dan pelik. Yang jelas, lebih banyak nggak ketebaknya. Soalnya, tadinya, Bunda sempet nuduh Ludo Bagman atau Barty Crouch yang masukin nama Harry ke Piala Api... Ternyata bukan.
Terus, Bunda nggak kepikiran kalo piala Triwizard itu jadi portkey. Waktu ternyata piala itu jadi portkey, bunda nuduh Ludo Bagman atau Barty Crouch karena kelakuannya, juga kelakuan peri rumahnya, bener-bener mencurigakan.

Gimana dengan Draco Malfoy? Huah! Makin menyebalkan aja dia! Dan makin berani buat menyerang Harry kapan aja dengan tongkatnya!

Lima bintang amatlah pantas untuk buku menakjubkan ini. Ingatkan Bunda buat beli, ya... Terus cari alamat si yang punya buku, lalu kirimkan... :D

Walau telat banget... Bunda pede aja. Ngepost ini untuk:
Hotter Potter
What's in A Name Challenge
FYE with Children's Literature
2013 TBRR PILE A Fantasy
READ BIG Challenge 
Terusin baca - Harry Potter and The Goblet of Fire (Harry Potter #4)

23 Mei 2013

Bad Girls


Judul: Bad Girls
Penulis: Jacqueline Wilson
Ilustrator: Nick Sharratt
Diterbitkan oleh: Corgi Yearling Book
Tahun diterbitkan: 1997
Teenlit, Novel
ISBN: 0-440-86356-95
ISBN13: 9-780440-863564
Paperback
Status: Punya. Beli seken di BukuMoo.




Kim's gang had better watch out! Because Tanya's my friend now, and she'll show them!

Mandy has been picked on at school for as long as she can remember. That's why she is delighted when cheeky, daring, full-of-fun Tanya picks her as a friend. Mum isn't happy - she thinks Tanya's a BAD GIRL and a bad influence. Mandy's sure Tanya can only get her out of trouble, not into it... or could she? (from back cover)

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Walau Bunda ngumpulin e-book Jacqueline Wilson, jujur aja, baru dua yang dibaca. *sigh*

Kenapa Bunda suka buku-buku bu Jacqueline Wilson? Bukunya cewek banget. Hehehe...
Gaya bu JW agak mirip lah dengan gaya bu Ono Eriko dalam menyampaikan cerita. Bedanya, kalo bu Ono kan pake komik, kalo bu JW pake cerita dalam bentuk novel.

Bad Girls ini tentang apa, Bun?

Ada gadis bernama Mandy White yang selalu jadi sasaran empuk bullying teman sekelasnya, Kim. Nggak hanya itu, Kim bersekongkol dengan Melanie, yang dulu pernah jadi sahabat karib Mandy dalam bullying ini.

Suatu ketika, Mandy tidak melihat jalan dan dia tertabrak bus. Hal ini membuat ibunya protes pada gurunya, bullying sudah membuat Mandy celaka.

Di saat masa istirahat pemulihan dari kecelakaan itu, Mandy kenalan dengan gadis berpenampilan aneh, bernama Tanya, yang ternyata usianya nggak terlalu jauh. Yah, keliatannya, Tanya bukan gadis baik-baik kalo dari penampilannya.

Setelah berakrab ria dengan Tanya, ibu Mandy justru resah. Pertama, karena ibu Mandy tidak suka penampilan Tanya, berikutnya, karena Tanya nggak jelas latar belakangnya. Ibu Mandy khawatir kalo Tanya justru akan memberi pengaruh pada Mandy yang cerdas.

Dan memang, sih, ada beberapa perilaku Tanya yang justru melibatkan Mandy dalam masalah. Hanya saja, itu tidak membuat rasa sayang Mandy terhadap Tanya luntur, karena Tanya-lah yang tulus padanya.

So far, ceritanya begitu seru dan menakjubkan. Banyak kejutan yang nggak Bunda sangka ada di dalam cerita ini. Bullying, apapun bentuknya, bukanlah perbuatan baik dan menyenangkan.

Bunda mau kutip kalimat yang diucapkan guru kelas enam Mandy, Miss Moseley, ketika mereka membuat lingkaran di kelas, membahas bullying.


"And I think we have to try to work out why people bully. Then we can maybe stop it before it gets too much of a habit. So. Why do you think people bully?"

"Are bullies happy people?"

"Think about when you're very very happy. Say it's your birthday and all your family and friends have given you a big hug and some lovely presents and you feel really great. Now, do you want to hurt anyone when you're in that short of situation?"
"Of course not, you just want to be nice to people. But suppose you've had a really bad day and got into trouble at school and your friends got off with someone else and your mum and dad are cross and they've given you little sister a treat and yet they just tell you off... Do you want to be nice to people now? Or do you feel like being nasty?"

"No-one ever asks to be bullied. But you're right, sometimes people get bullied because they're stupid. Though that's not a very kind word. People can't help it if they're not very bright. And that's a terrible reason for bullying someone, just because they're not clever."

"And other times someone can get bullied because they're ever so clever. Say they come top of the class and the bully doesn't like it because they're clever too and they want to be top."

"The big baboon screams a lot and bites all the little ones. All the other big baboons copy, screeching and scratching for fleas. Now, no-one here in my class wants to act like a bully baboon with a bright red bottom, do they?"

Nah. Kalo Kakak Ilman dan Adik Zidan menjadi saksi bullying, laporkan. Kalo kalian juga jadi korban bullying, ngomong ke Bunda atau Papa, ya... Kita harus hentikan semua bentuk bullying. Bunda pengen kalian berdua tahu, Bunda akan memerangi semua bentuk bullying...

Love you, kiddos...

diposting untuk ikut Fun Year Event with Children's Literature



Oh! Anyway by the way busway! Bunda punya freebies buat teman-teman Bunda berupa bookmark yang bisa diunduh!

Ini previewnya...



Kalo mau unduh, silakan klik link ini, ya... ^^

Terusin baca - Bad Girls

20 Mei 2013

[Miiko's Time] Namaku Miiko Vol. 4


Judul: Namaku Miiko Vol. 4 (Miiko Desu Vol. 4)
Penulis/Mangaka: Ono Eriko
Alih bahasa: Widya Winarya
Editor: Yoke Yuliana
Artistik: Pigar
Diterbitkan oleh: PT Gramedia
Cetakan kedua: Oktober 2005
Komik
Harga waktu beli: Rp. 11.000,-
Beli: 22 Januari 2006


Waduh, ulangan IPA mendadak! Gara-gara nggak belajar waktu liburan, Miiko nggak bisa menjawab soal-soal ulangan itu. Tengak-tengok... eitsss, nggak sengaja Miiko lihat jawaban Nakamura, anak paling pintar di kelas. Bukan berniat mencontek sih, tapi... sudah terlanjur melihat jawabannya, gimana dong baiknya? (dari kaver belakang)

------

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Ketemu lagi sama Miiko's Time... 
Walau terbitnya udah menjelang sore... Tadi, Bunda meeting seharian. Lalu, ketika tulisan ini dibuat, Bunda lagi nunggu papa jemput, karena bunda dapet kabar dari yangkung kalo adik Zidan tiba-tiba demam... huaaah!

Hmmm...
Ngomong-ngomong, Miiko edisi ini, ceweeeek banget. Bunda ngeliatnya, di sini, bu Ono mulai menggiring pembaca Miiko sebagai pembaca cewek yang mengenal pubertas. Kenapa? Di sini ada bahasan mengenai pertumbuhan payudara pada anak gadis, ciuman, kemudian mengenai masalah perempuan yang lain, di antaranya perasaan minder.

Bunda akan kasih sneak peek untuk masing-masing judul, ya. Seperti biasanya...

Dadaku Sakit
Di sini awalnya cerita tentang Mari-Chan yang merasa dadanya sakit. Dia pikir, dirinya sakit. Ternyata, dia sedang mulai mengalami masa pubertas. Yaitu, mulai tumbuh payudara. Itu yang akan dialami anak perempuan, menjelang menstruasi. Kalo pada anak laki-laki, tumbuh jakun yang menandakan bahwa dia akan berangkat menjelang dewasa. 
Trus, karena ternyata Yukko sudah mengalaminya juga, Miiko merasa sendirian. Sewaktu mamanya memperlihatkan foto-fotonya pas masih kelas 1 SMP, Miiko merasa lega, karena pertumbuhan setiap anak berbeda.


Terus Berjuang, Yuuki!
Miiko jadi panitia untuk menyemangati anak kelas satu yang akan bertanding olahraga. Sewaktu ditanya anak bernama Yuuki kelas berapa, Miiko dikatai kuntet karena kelas lima tapi badannya mungil. Awalnya Miiko kesal pada Yuuki, karena selain mengatainya kuntet, Yuuki juga mengganggu anak-anak lain. Ternyata, Yuuki kesal ayahnya nggak hadir pas pertandingan olahraga. Dari situ, Miiko bertekad untuk menjadi penyemangat untuk Yuuki.


Hadiah Miiko
Miiko punya sarung tangan yang dibelinya dari tabungan. Dia senang sekali, karena akhirnya bisa beli sarung tangan cakep itu. Mamoru juga senang, karena berhasil dapat tiket nonton baseball yang dia harus antri lama untuk bisa dapatinnya. Eh, ternyata, musibah terjadi. Tiket nonton tersiram teh, dan sewaktu mau dikeringkan malah terbakar. Mamoru marah sekali. Miiko berusaha menebusnya. Ah, Bunda sedih pas baca ini...


Gelang Janji Tomo-Chan
Di kelas Miiko, ada anak bernama Tomo-Chan yang pandai membuat gelang dari benang wol. Miiko minta diajari dan besoknya dia bawa benang wol. Eh, ternyata, Tomomi nggak masuk sekolah, karena alerginya muncul. Tomomi ga mau ditengok, karena malu. Oya, ini ada sedikit percakapan yang mengingatkan Bunda akan Bunda dan Papa. Hahahaha... Iya! Papa kalian tuh Tappei banget!

Tappei: "Kalau memang alergi, dilihat orang lama-lama juga biasa."
Miiko: "Me... Memang sih... tapi buat cewek, itu malapetaka!"
Tappei: "Ya nggak usah ditengok."
  Miiko: "Tapi... kasihan Tomo-Chan sendirian di kamar terus..."
  Tappei: "Ya udah, tengok sana! Rewel amat, sih...!"
  Miiko: ..... ngegebukin Tappei
 Tappei: "Aku salah apa lagi!"


Valentine yang Berantakan
Ceritanya, Miiko mau buat coklat Valentine. Dia minta diajari bikin truffle sama Yuka-Chan. Terus, pas udah jadi, Miiko bawa ke sekolah, dibagi-bagiin buat tiap orang. Cowok-cowok yang ga dapet coklat valentine, seneng kan, kebagian. Eh, sama Tappei dikacauin! Dia malah menjatuhkan sekotak truffle itu. Akhirnya, ga seorangpun makan! Duh! Miiko maraaah banget. Yah... Tappei punya cara sendiri buat menebus rasa bersalahnya, sih, walau akhirnya dia jadi sakit perut. Haha banget, yak!


Kiss-Kiss-Kiss
Ummm... ini materinya agak terlalu dewasa buat cerita anak, karena dimulai dengan adegan ciuman dua orang dewasa. Jadi "berat", karena kita di Indonesia, hal-hal kayak gini jarang dilakukan di depan umum. Orang Jawa bilang, "ora ilok". Mungkin karena di Jepang, hal-hal semacam ini lumrah, eh, padahal, orang Jepang setahu Bunda sangat pemalu, lho... apa ada juga, ya, adegan colongan macam gini? Entahlah... 
Nah, di sini, sih, Miiko, Mari-Chan dan Yukko jadi penasaran, apa sih, rasanya ciuman? Terus, mereka nanya Misaki, kakak Mari-Chan.
Hmmm... Kakak Ilman dan Adik Zidan..., kalo kalian belum cukup umur, nggak perlulah penasaran sama hal-hal semacam ciuman kayak begini, ya. Kalo sudah dewasa, sudah mampu bertanggung jawab, dan Bunda lebih sarankan lagi: sudah menikah, baru, deh, boleh melakukannya. Karena, dari ciuman aja, bisa ke mana-mana nantinya.


Hari Terpanjang Miiko
Miiko mau ulangan Kanji dan dia belum belajar. Akhirnya, dia pura-pura sakit dan akhirnya bolos. Ternyata, selama ada di rumah, ada kejadian yang membuatnya merasa takut berada sendirian di rumah, walau akhirnya ada Tappei datang menengok, mengantarkan catatan. Setelah mengalami hari yang menakutkan, ternyata ulangan Kanji nggak jadi, karena gurunya nggak masuk. Hahaha....


Makasih, Teru-Chan
Rencana piknik Miiko dan teman-temannya batal karena tiba-tiba hujan deras turun. Miiko menjatuhkan boneka teru ke tempat sampah karena kesal. Ternyata, Teru-chan, si boneka Teru yang dibuang Miiko, merintih minta tolong. Dia merasa bahwa dia telah gagal menghentikan hujan. Lalu, dia meminta tolong Miiko mengantarnya ke rumah Tappei, lalu berjuang bersama boneka teru-teru milik Tappei untuk menghentikan hujan.
Di Jepang, ada kepercayaan untuk menggantung boneka teru-teru di luar rumah, untuk menghalau hujan. Kayaknya, kalo di sini sama dengan menancapkan sate bawang dan cabe merah, kali, ya. 
Bunda pernah liyat beberapa varian boneka teru-teru, malah ngeri sendiri. Kayaknya, masing-masing boneka ini punya nilai magis tersendiri.... -_____-"


 Jangan Menyerah, Tomo-Chan
Nah! Ini kisah lanjutan Tomo-Chan. Dia akhirnya masuk sekolah dan ikut pelajaran berenang. Tapi ada dua anak yang ga mau satu kolam dengannya. Tappei dan Miiko membela Tomo-Chan, sehingga Tappei sempat digosipin. Lalu, ketika Mari-Chan dapat tiket berenang gratis, Tomo-Chan sempat menolak ajakan Mari-Chan. Tapi kemudian dia berubah pikiran, karena Miiko memintanya.


Kelihatan!
Miiko nggak belajar sewaktu liburan. Begitu masuk, ada ulangan mendadak IPA dan Miiko nggak bisa jawab. Tapi dia sempat melihat jawaban anak pintar di kelas yang duduk di depannya. Miiko nggak sengaja mencontek dan mendapat nilai tinggi. Miiko merasa nggak tenang. Miiko akhirnya membuat pengakuan supaya hatinya tenang. Bunda suka sekali cerita ini. Mari Chan menunggui Miiko di luar, ketika Miiko menghadap pak guru untuk mengakui perbuatannya. Cerita ini membuat Bunda melengkapi bintang lima untuk penutup serial Miiko Desu.


So far, dari sisi grafis, dialog, juga cerita, Namaku Miiko vol. 4 sudah banyak perkembangan dan membuat cerita semakin enak dibaca. Maka, mulai dari edisi ini, wajar banget kalo Bunda selalu kasih bintang 5... ;)
Terusin baca - [Miiko's Time] Namaku Miiko Vol. 4

13 Mei 2013

[Miiko's Time] Namaku Miiko Vol. 3

Judul Buku: Namaku Miiko Vol. 3 (Miiko Desu, Vol 3)
Penulis: Ono Eriko
Penerjemah: Widya Winarya
Editor: Yoke Yuliana
Artistik: Pigar
Diterbitkan poleh: PT Gramedia
Cetakan pertama: Tahun 2003
Komik
Harga waktu beli: Rp. 11.000,-
Beli: 22 Januari 2006 *eh, udah nikah ini* #penting :D


Gara-gara undangan pertemuan orangtua murid tempo hari, Papa-Mama Tappei yang sudah cerai mau rujuk lagi. Semua teman Tappei senang melihat keluarga ini bisa bersatu kembali. Si Miiko yang banyak ide dan baik hatipun berniat menyiapkan pesta pernikahan kejutan untuk Papa-Mama Tappei!
Sukses nggak, ya, si Miiko menyiapkan pesta itu? (dari kaver belakang)

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Ya! Miiko's Time mau dihidupkan lagi...
Sebelumnya... selamat ulang tahun, Miiko... juga bu Ono... 5 Mei lalu...
Kita saling mendoakan, yaaa... mwah mwah mwah... Sayaaaang, deh, sama Miiko....
Nah, sekarang, kita bedah isi Miiko Desu Vol. 3 ini...
Kita Bikin Pesta, Yuk! (Bagian Awal)
Melanjutkan cerita tentang kedua orang Tappei dari volume 2, Miiko punya usul buat bikin pesta pernikahan ulang kedua orangtua Tappei. Lalu, mereka bikin rapat di sebuah kafe, yang ternyata harga makanan dan minumannya mahal-mahal. Mereka jadi cuma pesan jus jeruk 4 gelas, sedotannya 7. Hahaha... Miiko juga nggak sengaja bikin sebuah kesalahan, yang membuat mereka diusir dari kafe itu. Tappei akhirnya kesel, lalu bilang, "nggak usah aja!" Teman-teman lainpun sama. Memutuskan membubarkan diri....

Kita Bikin Pesta, Yuk! (Bagian Akhir)
Sementara teman-temannya melupakan rencana Miiko, Miiko tetap berusaha keras untuk melanjutkan rencananya, berdua saja dengan Mamoru. Dia memaksa adiknya ikut kerja keras, begadang, untuk mempersiapkan pesta pernikahan ulang Papa-Mama Tappei.
Kabur di Malam Natal
Mama kerja di malam natal! Padahal, semestinya mereka makan malam di restoran Italia. Miiko marah sekali. Ketika mama memarahinya balik, Miiko memutuskan kabur. Tapi dia bingung, mau kabur ke mana. Lalu, akhirnya mendarat di tempat Kenta yang sedang membantu orangtuanya berjualan kue. Kenta Bakery lagi rame-ramenya, karena banyak pesanan dan orang-orang datang untuk beli kue natal.
Cowok yang Kusukai
Sewaktu Miiko dan kedua sahabatnya, Mari Chan dan Yukko ngobrol tentang cowok yang disukai, Miiko tiba-tiba aja nyeletuk kalo dia kagum sama Kenta. Dia kagum sama Kenta, karena Kenta membantu kedua orangtuanya bekerja di bakery. Ternyata, dasar Mari Chan, tukang gosip, jadi deh, bikin disorakin sekelas. Ada yang terluka, tuh, hatinya... Siapa, coba? :P
Hello, Baby!
Miiko dan teman-teman menengok bu guru bidang seni melahirkan di rumah sakit. Sewaktu ngobrol dengan bu guru, mereka sempat lihat ada perempuan yang hendak melahirkan dalam keadaan payah banget. Dan ini membuat Miiko dan teman-teman khawatir, juga ketakutan. Bu guru bilang, setiap perempuan mau melahirkan memang begitu.
Di rumah, Miiko mendesak mama menceritakan kisahnya sewaktu melahirkan Miiko. Mamapun cerita tentang proses kelahiran Miiko, di depan Miiko, Mari Chan, juga Yukko. Dan dari cerita itu, Miiko membuat keputusan untuk beli kado spesial buat guru musik mereka... :D

Nenek Datang!
Nenek buyut Miiko datang! Miiko senang sekali, karena nenek buyut ini funky! Jagoan main kartu bunga. Hingga suatu ketika, Miiko berkata ketus pada nenek buyut, karena Miiko makan sambil terburu-buru. Dan ini membuat nenek buyut akhirnya buru-buru pulang.

Cerita Hantu Sekolah!
----

Persahabatan Miiko - Mari
----
Misteri ABC
----

Makan Siangnya Apa, Ya?
Saat liburan, makan siang Miiko cuma nasi kepal, karena mama sibuk, nggak libur. Jadi, mama cuma sempat membuatkan nasi kepal untuk makan siang Miiko. Ketika Miiko protes, mama jadi marah. Tapi, lalu Miiko bersyukur, karena mama masih menyempatkan diri untuk bikin makan siang Miiko, walau hanya nasi kepal.
Aku Bukan Komikus yang Handal
Ini bonus komik. Isinya curhatan bu Ono, yang cerita perihal dirinya yang merasa bukan komik yang handal...

Nah...
Bunda yakin kalian pasti bertanya-tanya, kenapa di tiga judul, Bunda nggak menceritakannya. Soalnya, emang ini ada masalah dengan bukunya. Halamannya berantakan, justru tiga judul cerita ini nggak ada. Malah pengulangan cerita-cerita sebelumnya. Hehehe...

Yah, terus kenapa nggak Bunda tukar aja? Yah, mana Bunda tahu... Waktu Bunda beli kan bukunya disegel. Ya nggak kecek, lah.... :D
Terus, kenapa Bunda ga beli yang baru aja? Udah... Bunda udah beli... cuma terus, salah satu teman Bunda ulang tahun, Bunda jadiin kado, malah... Hahahah....

Entah kenapa, Bunda kurang terlalu suka dengan Namaku Miiko vol. 3 ini. Mungkin, karena tiga cerita hilang, ya, jadi Bunda merasa rugi. Cuma, yah, Bunda sempet kebawa sedih, sewaktu Miiko abis berkata ketus pada nenek buyutnya. Bunda merasa pernah melakukan hal seperti itu, dulu... :(

Lalu, kenapa kalo Bunda kurang terlalu suka, Bunda tetep kasih 4 bintang buat Miiko Desu vol. 3 ini? Yah, se-nggak sukanya Bunda sama Miiko, bukan berarti ga baca ulang dan membencinya. Ini tetep dibaca ulang, walau harus skip tiga cerita. Hiks...

Terusin baca - [Miiko's Time] Namaku Miiko Vol. 3