Tampilkan postingan dengan label recommended. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label recommended. Tampilkan semua postingan

20 Mei 2013

[Miiko's Time] Namaku Miiko Vol. 4


Judul: Namaku Miiko Vol. 4 (Miiko Desu Vol. 4)
Penulis/Mangaka: Ono Eriko
Alih bahasa: Widya Winarya
Editor: Yoke Yuliana
Artistik: Pigar
Diterbitkan oleh: PT Gramedia
Cetakan kedua: Oktober 2005
Komik
Harga waktu beli: Rp. 11.000,-
Beli: 22 Januari 2006


Waduh, ulangan IPA mendadak! Gara-gara nggak belajar waktu liburan, Miiko nggak bisa menjawab soal-soal ulangan itu. Tengak-tengok... eitsss, nggak sengaja Miiko lihat jawaban Nakamura, anak paling pintar di kelas. Bukan berniat mencontek sih, tapi... sudah terlanjur melihat jawabannya, gimana dong baiknya? (dari kaver belakang)

------

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Ketemu lagi sama Miiko's Time... 
Walau terbitnya udah menjelang sore... Tadi, Bunda meeting seharian. Lalu, ketika tulisan ini dibuat, Bunda lagi nunggu papa jemput, karena bunda dapet kabar dari yangkung kalo adik Zidan tiba-tiba demam... huaaah!

Hmmm...
Ngomong-ngomong, Miiko edisi ini, ceweeeek banget. Bunda ngeliatnya, di sini, bu Ono mulai menggiring pembaca Miiko sebagai pembaca cewek yang mengenal pubertas. Kenapa? Di sini ada bahasan mengenai pertumbuhan payudara pada anak gadis, ciuman, kemudian mengenai masalah perempuan yang lain, di antaranya perasaan minder.

Bunda akan kasih sneak peek untuk masing-masing judul, ya. Seperti biasanya...

Dadaku Sakit
Di sini awalnya cerita tentang Mari-Chan yang merasa dadanya sakit. Dia pikir, dirinya sakit. Ternyata, dia sedang mulai mengalami masa pubertas. Yaitu, mulai tumbuh payudara. Itu yang akan dialami anak perempuan, menjelang menstruasi. Kalo pada anak laki-laki, tumbuh jakun yang menandakan bahwa dia akan berangkat menjelang dewasa. 
Trus, karena ternyata Yukko sudah mengalaminya juga, Miiko merasa sendirian. Sewaktu mamanya memperlihatkan foto-fotonya pas masih kelas 1 SMP, Miiko merasa lega, karena pertumbuhan setiap anak berbeda.


Terus Berjuang, Yuuki!
Miiko jadi panitia untuk menyemangati anak kelas satu yang akan bertanding olahraga. Sewaktu ditanya anak bernama Yuuki kelas berapa, Miiko dikatai kuntet karena kelas lima tapi badannya mungil. Awalnya Miiko kesal pada Yuuki, karena selain mengatainya kuntet, Yuuki juga mengganggu anak-anak lain. Ternyata, Yuuki kesal ayahnya nggak hadir pas pertandingan olahraga. Dari situ, Miiko bertekad untuk menjadi penyemangat untuk Yuuki.


Hadiah Miiko
Miiko punya sarung tangan yang dibelinya dari tabungan. Dia senang sekali, karena akhirnya bisa beli sarung tangan cakep itu. Mamoru juga senang, karena berhasil dapat tiket nonton baseball yang dia harus antri lama untuk bisa dapatinnya. Eh, ternyata, musibah terjadi. Tiket nonton tersiram teh, dan sewaktu mau dikeringkan malah terbakar. Mamoru marah sekali. Miiko berusaha menebusnya. Ah, Bunda sedih pas baca ini...


Gelang Janji Tomo-Chan
Di kelas Miiko, ada anak bernama Tomo-Chan yang pandai membuat gelang dari benang wol. Miiko minta diajari dan besoknya dia bawa benang wol. Eh, ternyata, Tomomi nggak masuk sekolah, karena alerginya muncul. Tomomi ga mau ditengok, karena malu. Oya, ini ada sedikit percakapan yang mengingatkan Bunda akan Bunda dan Papa. Hahahaha... Iya! Papa kalian tuh Tappei banget!

Tappei: "Kalau memang alergi, dilihat orang lama-lama juga biasa."
Miiko: "Me... Memang sih... tapi buat cewek, itu malapetaka!"
Tappei: "Ya nggak usah ditengok."
  Miiko: "Tapi... kasihan Tomo-Chan sendirian di kamar terus..."
  Tappei: "Ya udah, tengok sana! Rewel amat, sih...!"
  Miiko: ..... ngegebukin Tappei
 Tappei: "Aku salah apa lagi!"


Valentine yang Berantakan
Ceritanya, Miiko mau buat coklat Valentine. Dia minta diajari bikin truffle sama Yuka-Chan. Terus, pas udah jadi, Miiko bawa ke sekolah, dibagi-bagiin buat tiap orang. Cowok-cowok yang ga dapet coklat valentine, seneng kan, kebagian. Eh, sama Tappei dikacauin! Dia malah menjatuhkan sekotak truffle itu. Akhirnya, ga seorangpun makan! Duh! Miiko maraaah banget. Yah... Tappei punya cara sendiri buat menebus rasa bersalahnya, sih, walau akhirnya dia jadi sakit perut. Haha banget, yak!


Kiss-Kiss-Kiss
Ummm... ini materinya agak terlalu dewasa buat cerita anak, karena dimulai dengan adegan ciuman dua orang dewasa. Jadi "berat", karena kita di Indonesia, hal-hal kayak gini jarang dilakukan di depan umum. Orang Jawa bilang, "ora ilok". Mungkin karena di Jepang, hal-hal semacam ini lumrah, eh, padahal, orang Jepang setahu Bunda sangat pemalu, lho... apa ada juga, ya, adegan colongan macam gini? Entahlah... 
Nah, di sini, sih, Miiko, Mari-Chan dan Yukko jadi penasaran, apa sih, rasanya ciuman? Terus, mereka nanya Misaki, kakak Mari-Chan.
Hmmm... Kakak Ilman dan Adik Zidan..., kalo kalian belum cukup umur, nggak perlulah penasaran sama hal-hal semacam ciuman kayak begini, ya. Kalo sudah dewasa, sudah mampu bertanggung jawab, dan Bunda lebih sarankan lagi: sudah menikah, baru, deh, boleh melakukannya. Karena, dari ciuman aja, bisa ke mana-mana nantinya.


Hari Terpanjang Miiko
Miiko mau ulangan Kanji dan dia belum belajar. Akhirnya, dia pura-pura sakit dan akhirnya bolos. Ternyata, selama ada di rumah, ada kejadian yang membuatnya merasa takut berada sendirian di rumah, walau akhirnya ada Tappei datang menengok, mengantarkan catatan. Setelah mengalami hari yang menakutkan, ternyata ulangan Kanji nggak jadi, karena gurunya nggak masuk. Hahaha....


Makasih, Teru-Chan
Rencana piknik Miiko dan teman-temannya batal karena tiba-tiba hujan deras turun. Miiko menjatuhkan boneka teru ke tempat sampah karena kesal. Ternyata, Teru-chan, si boneka Teru yang dibuang Miiko, merintih minta tolong. Dia merasa bahwa dia telah gagal menghentikan hujan. Lalu, dia meminta tolong Miiko mengantarnya ke rumah Tappei, lalu berjuang bersama boneka teru-teru milik Tappei untuk menghentikan hujan.
Di Jepang, ada kepercayaan untuk menggantung boneka teru-teru di luar rumah, untuk menghalau hujan. Kayaknya, kalo di sini sama dengan menancapkan sate bawang dan cabe merah, kali, ya. 
Bunda pernah liyat beberapa varian boneka teru-teru, malah ngeri sendiri. Kayaknya, masing-masing boneka ini punya nilai magis tersendiri.... -_____-"


 Jangan Menyerah, Tomo-Chan
Nah! Ini kisah lanjutan Tomo-Chan. Dia akhirnya masuk sekolah dan ikut pelajaran berenang. Tapi ada dua anak yang ga mau satu kolam dengannya. Tappei dan Miiko membela Tomo-Chan, sehingga Tappei sempat digosipin. Lalu, ketika Mari-Chan dapat tiket berenang gratis, Tomo-Chan sempat menolak ajakan Mari-Chan. Tapi kemudian dia berubah pikiran, karena Miiko memintanya.


Kelihatan!
Miiko nggak belajar sewaktu liburan. Begitu masuk, ada ulangan mendadak IPA dan Miiko nggak bisa jawab. Tapi dia sempat melihat jawaban anak pintar di kelas yang duduk di depannya. Miiko nggak sengaja mencontek dan mendapat nilai tinggi. Miiko merasa nggak tenang. Miiko akhirnya membuat pengakuan supaya hatinya tenang. Bunda suka sekali cerita ini. Mari Chan menunggui Miiko di luar, ketika Miiko menghadap pak guru untuk mengakui perbuatannya. Cerita ini membuat Bunda melengkapi bintang lima untuk penutup serial Miiko Desu.


So far, dari sisi grafis, dialog, juga cerita, Namaku Miiko vol. 4 sudah banyak perkembangan dan membuat cerita semakin enak dibaca. Maka, mulai dari edisi ini, wajar banget kalo Bunda selalu kasih bintang 5... ;)
Terusin baca - [Miiko's Time] Namaku Miiko Vol. 4

31 Des 2012

[Review Bareng BBI] The Time Keeper - Sang Penjaga Waktu




Judul buku: The Timekeeper - Sang Penjaga Waktu
Penulis: Mitch Albom
Alih bahasa: Tanti Lesmana
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama Oktober 2012
Jumlah halaman: 312 halaman; 20 cm
ISBN: 978-979-22-8977-0
Fabel Fantasi
Status: Punya. Beli sendiri di Rumah Buku Bandung
Harga: IDR 50,000 (diskon 15%)



Dari penulis yang telah menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia dengan buku-bukunya, Tuesdays with Morrie dan The Five People You Meet in Heaven, kini hadir novel barunya, The Time Keeper - fabel tentang manusia pertama yang menghitung waktu di bumi. Orang yang kelak menjadi sang Penjaga Waktu.
Dialah pencipta jam pertama di dunia. Dia dihukum karena mencoba mengukur anugerah terbesar dari Tuhan, diasingkan ke dalam gua hingga berabad-abad dan dipaksa mendengarkan suara orang-orang yang minta diberi lebih banyak waktu. Lalu dia kembali ke dunia kita, dengan membawa jam pasir ajaib dan sebuah misi: menebus kesalahannya dengan mempertemukan dua manusia di bumi, untuk mengajarkan makna waktu pada mereka. (dari cover belakang buku).
Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Pertama kalinya dalam hidup Bunda, Bunda baca buku gres yang baru keluar dari penerbit :D
Lihat aja, terbitan Oktober 2012, dibaca Desember 2012, itu pun karena ada momen baca bareng sama teman-teman BBI. Hahaha...
Biasanya, kan, Bunda beli buku yang justru udah lama banget terbit. Atau, kalo pun masih baru terus dibeli, diendapin dulu lamaaaa banget.

Dan buku ini termasuk cepat kelar juga bacanya. Bunda sempat pesimis, sih. Takut nggak sampai dua hari dari pertama kali buka plastiknya. Ternyata memang benar. Lebih dari dua hari Bunda baru bisa selesaikan baca. Padahal, menurut tante Melisa, dia cuma baca tiga jam aja. Well, Bunda belum pernah punya waktu sampai benar-benar tiga jam hanya untuk membaca buku. Pastinya cuma tahan satu jam paling lama, itu pun di angkot, karena kalo lagi nggak di angkot, pastinya banyaaaak banget aktivitas yang bakalan Bunda lakukan.

Meski makan waktu empat hari, mungkin kalo setiap menitnya Bunda hitung, sebetulnya hanya sekitar 3-4 jam aja bacanya. Yah, diselingi sambil ngerjain kerjaan kantor, paper quilling, cuci setrika, ngurusin kalian berdua, ngobrol sama papa, belum lagi sempet mogok gara-gara terserang pening sangat parah kapan itu, ples main game.... jadi aja "makan waktu" empat hari. Hahaha. Akhirnya, Bunda nggak jadi baca buku bergenre GLBT seperti yang direncanakan semula, deh. Hiks...

Bunda sangat suka baca buku ini. Kenapa? Buku ini asik, keren, dan...
Pokoknya Bunda suka!

The Timekeeper bercerita tentang seorang Dor yang hidup di masa ribuan tahun yang lalu, ketika peradaban belum semodern sekarang. Sejak kecil, Dor bersahabat dengan Alli, juga Nim. Sejak kecil, Dor suka berlari-lari di bukit bersama Alli dan berbeda dengan anak-anak yang lain, Dor suka mengamati gerakan air, pasir, tongkat-tongkat yang kelak menjadikannya seorang pencipta pengukur waktu.
Pada masa dewasa, Dor menikah dengan Alli, sementara Nim menjadi raja yang kaya raya. Kehidupan Dor dan Alli tidaklah mewah, malah sangat kekurangan. Nim pernah menawarkan Dor untuk ikut dengannya, tapi Dor menolaknya dan membuat Dor dan Alli terusir, terpisah dari anak-anaknya.
Suatu ketika, Alli sakit parah dan membuat Dor ingin menghentikan penderitaan Alli. Dor berlari lalu menghancurkan menara sangat tinggi yang sedang dibangun oleh budak-budak Nim dan dari situ segalanya berubah. Dor terperangkap ke dalam sebuah gua dan hidup abadi selama ribuan tahun kemudian.

Dor terpenjara di sebuah gua selama ribuan tahun. Anehnya, dia tidak berubah menjadi tua. Di dalam gua itu, dia mendengarkan berbagai suara, yang semuanya berhubungan dengan waktu.
Dor akan kembali pada kehidupannya semula, jika dia sudah menemukan dua orang yang saling "berhubungan".

Ada dua tokoh utama lain di sini. Bunda akan ceritakan satu-satu, ya...

Sarah Lemon.
Gadis kelas tiga SMA yang sangat cerdas, namun bertubuh gemuk dan tidak terlalu cantik, bekerja sambilan di tempat penampungan. Dia termasuk kutu buku yang nggak begitu gaul dengan teman-temannya. Dunianya berubah ketika dia bertemu dengan Ethan di tempat penampungan itu. Ethan sering mengirimkan bahan makanan untuk tempat penampungan.
Sarah menyukainya, Ethan juga memanggilnya Lemon-ade. Ketika pertama kalinya Sarah mengajaknya kencan, Ethan tiba-tiba membatalkannya. Ketika akhirnya mereka "berkencan" betulan, Sarah mengira Ethan menginginkan dirinya. Sewaktu tahu bahwa Ethan telah mempermalukannya di sebuah jejaring sosial, Sarah memutuskan untuk bunuh diri.

Victor DelamonteSeorang lelaki pebisnis kaya raya, yang sudah berusia 80-an dan sakit-sakitan, tidak ingin meninggal. Dia ingin hidup abadi. Maka, ketika dia akhirnya menemukan teknologi krionika yang katanya akan membuatnya hidup abadi, dia memutuskan untuk menghentikan berbagai pengobatannya supaya dia bisa diawetkan dan dibangkitkan lagi ketika obat yang dibutuhkan untuk menyembuhkan penyakitnya sudah ditemukan. Dia akan melanjutkan hidupnya sebagai pebisnis kaya raya.
Namun, dia menyembunyikan semuanya dari istrinya, Grace, yang sangat mencintainya.

Sarah dan Victor dipertemukan oleh Dor pada momen tahun baru, ketika Sarah bunuh diri dan Victor menuju laboratorium tempat dia akan diawetkan sementara itu.

Endingnya sih bisa ditebak, kok, kayak gimana.

Bunda suka cara Mitch Albom bercerita di sini. Bagaimana kita sebagai pembaca hanyut dalam perenungan-perenungan yang dalam tentang waktu.

Di situ, Dor bilang, bahwa ketika dia mendapatkan keabadian, dia justru nggak mendapatkan apa-apa. Dia merasa hampa dan itu bukan kebahagiaan.
Setiap orang berusaha berefisiensi terhadap waktu supaya bisa melakukan hal yang lainnya dalam waktu yang sama, tapi mereka tidak menikmatinya. Semakin orang meminta waktu lebih banyak, justru semakin tidak menikmatinya.

Dipikir-pikir bener juga, ya. Kita selalu dikejar waktu, takut terlambat, takut ketinggalan, lalu kita nggak bisa menikmati waktu yang berjalan. Waktu terasa berlalu begitu cepat.

Bunda jadi ingat obrolan Bunda dengan Mbah Nata beberapa waktu yang lalu, sewaktu Bunda dan Mbah Nata sama-sama nggak libur di hari kejepit nasional menjelang libur Natal kemarin.
Mbah Nata bilang, "Orang-orang sekarang berpikir terbalik. Di hari Senin sampai Jumat, mereka mikirin rencana hari Sabtu. Sewaktu datang hari Sabtu, mereka malah memikirkan apa yang akan mereka kerjakan hari Senin."

Setiap hari Jumat, baik di Facebook maupun di Twitter, Bunda pasti nemu orang menulis, "TGIF". Thanks God, It's Friday. Kenapa? Dengan bertemu hari Jumat, maka sehari kemudian akan bertemu dengan hari Sabtu. Di mana Sabtu dan Minggu adalah hari libur bagi orang-orang yang sehari-harinya kudu berangkat kerja di kantor.

Entah kenapa, buat Bunda semua hari itu sama menyenangkannya. Memang, hari Sabtu, Minggu atau hari libur lainnya, waktu Bunda dengan Kakak Ilman, Adik Zidan, dan papa jadi lebih banyak karena Bunda nggak harus pergi ke kantor. Tapi bukan berarti bahwa Bunda nggak suka hari Senin sampai Jumat, lho.
Bunda selalu menikmati hari-hari yang Bunda lewati, dan Bunda selalu ingin, setiap hari ada satu momen menyenangkan yang bisa Bunda syukuri.

Setelah membaca buku ini, Bunda semakin ingin menikmati setiap detik yang dianugerahkan kepada Bunda. Detik-detik kencan Bunda bersama Allah. Sama papa. Sama Kakak Ilman dan Adik Zidan. Sama buku-buku. Sama makanan. Sama cucian. Sama game yang Bunda mainkan. Sama semua pekerjaan yang menjadi tugas Bunda. Sama teman-teman Bunda. Dan masih banyak lagi.
Akhirnya, satu kalimat yang selalu keluar menjelang tidur: Alhamdulillaah. Terima kasih, ya, Allah, untuk setiap detik yang diberikan kepada Bunda.

Oke, kalo dari sisi ceritanya di buku ini, Bunda sangat menikmatinya.
Terus, baca buku ini nggak capek karena efek setiap bab yang ditulis sedikit-sedikit. Baru aja buka halaman keempat, eh, ternyata udah selesai bab itu. Jadi, bacanya bikin semangat karena nggak panjang dan melelahkan. Keren juga triknya, nih.

Kalo soal terjemahannya... Bunda baik-baik aja, kok. Lumayan enak dan mengalir. Typo ada, sih, tapi nggak banyak sampai bikin ilfeel.

Cover!
Meski covernya beda sama novel bahasa aslinya, cover yang ini Bunda suka juga. Elegan dan tampak keren. Mencerminkan isi bukunya, deh. Hehe. Maklum, Bunda termasuk aliran "judge the book by the cover" :D

Bunda akan tutup postingan terakhir di tahun 2012 ini dengan harapan semoga di tahun 2013 nanti, Bunda lebih konsisten ngisi blognya. Kalo bisa, setiap abis baca, ada waktu buat mereview biar bisa lebih fokus dan masih segar dalam ingatan.
Target bacaan juga akan Bunda perbaiki. Pokoknya, berharap kehidupan lebih baik di tahun 2013.

Ini kalimat di buku yang bikin Bunda nyaris menangis.
"Ada sebabnya mengapa Tuhan membatasi hari-hari kita."
"Mengapa?"
"Supaya setiap hari itu berharga."
Yuk! Yang masih nggak menikmati hari-hari atau masih bilang "today is not my day", kita ubah cara berpikir kita. Setiap hari itu diciptakan Tuhan berharga, lho!
Terusin baca - [Review Bareng BBI] The Time Keeper - Sang Penjaga Waktu

12 Okt 2012

Totto Chan's Children - A Goodwill Journey to the Children of the World




Judul: Anak-anak Totto - Chan - Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-anak Dunia (Totto - Chan's Children - A Goodwill Journey to the Children of the World)
Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Alih bahasa: Ribkah Sukito
Editor: RC. Rully Larasati dan Nina Andiana
Desain dan ilustrasi cover: Martin Dima
Diterbitkan oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kedua: Juli 2010
328 hlm; 20 cm
ISBN: 978-979-22-5998-8
Memoar



Totto-chan kini sudah dewasa. Ia sekarang menjadi aktris terkenal dan punya banyak penggemar. Tapi Totto-chan tak pernah melupakan masa kecilnya. Karena itulah Totto-chan langsung setuju ketika UNICEF menawarinya untuk jadi Duta Kemanusiaan.

Sejak itu, Totto-chan berkunjung ke banyak negara dan menemui berbagai macam anak. Di negara-negara yang mengalami kekeringan hebat atau terkena dampak perang, anak-anak yang sebenarnya polos dan tak berdosa selalu jadi korban. Ternyata masih banyak sekali anak-anak dunia yang tidak bisa makan, tidak bisa sekolah, tidak bisa dirawat di rumah sakit, bahkan mengalami trauma hebat akibat perang.

Lewat buku ini Totto-chan ingin menceritakan pengalamannya saat bertemu anak-anak manis itu supaya makin banyak orang bisa membantu anak-anak dunia menggapai masa depan yang lebih baik. (dari cover belakang)

Halo, kakak Ilman dan adik Zidan...
udah lama banget, ya, Bunda ga nulis review. Miiko's Time mandek. Maaf. 

Baca buku ini butuh waktu lebih dari sebulan untuk Bunda selesaikan. Setiap halamannya selalu membuat Bunda menahan napas, tangis, haru, dan lainnya. Buku ini jauh lebih desperating ketimbang novel masokis. Karena semua yang terjadi di buku ini betul-betul terjadi. Bukan mimpi. Bukan ilusi. Real. Nyata.

Buku ini bercerita tentang pengalaman Totto-chan dewasa yang dipilih menjadi duta UNICEF untuk mengunjungi anak-anak di berbagai negara. Terutama negara yang sedang krisis oleh perang atau bencana alam.

Tanzania. Daerah ini kekeringan sekali. Air susah sekali didapat. Jangankan air jernih. Bisa dapat air keruh aja udah anugerah. Dan untuk mendapatkannya mereka harus berjalan sangat jauh dari rumah mereka. 4,8 kilometer adalah jarak sangat dekat dengan sumber air, sementara 9,6 kilometer adalah jarak sumber air tidak dekat. Selain air yang susah didapat, makanan pun susah didapat. Ada sekitar 14 juta anak meninggal dunia di awal tahun 1980-an akibat kelaparan, lingkungan yang tidak sehat. Juga banyak anak terbunuh karena terjebak di tengah perang, khususnya perang saudara. Meski anak-anak Tanzania ini adalah anak-anak asli Afrika Selatan, mereka tidak pernah melihat jerapah, zebra, gajah Afrika yang sering kita lihat di buku atau televisi - dalam keseharian hidup mereka. Karena, hewan-hewan seperti ini hanya hidup di tempat yang banyak airnya. Jadi, bisa kalian bayangkan, betapa keringnya tempat anak-anak ini tinggal. Selain itu, di penjara anak-anak yang ada di sana, ada anak yang dipenjara karena kesalahannya adalah mencuri t-shirt. Di sini, banyak di antara kita yang sering dapat t-shirt gratis. Baik itu promo produk atau kampanye. Tapi di sana... untuk punya t-shirt saja harus mencuri...

Nigeria. Di sini, curah hujan hanya sedikit sekali. Padahal, kata Nigeria itu berarti "satu sungai besar di antara banyak sungai besar". Miris sekali, mengingat pada tahun 1985, ketika ibu Tetsuko berkunjung ke sana, hanya 2,5 persen sumber air yang tersisa. Menurut buku yang dibaca beliau, panjang sungai Nigeria adalah 4.179 kilometer - sungai terpanjang ketiga di Afrika dan lebarnya 0,8 kilometer. Bisa kalian bayangkan dampak kekeringan yang berkepanjangan ini, kan? Selain kekeringan dan minimnya curah hujan (yang hanya 2,5 cm per tahun ketika itu), Nigeria juga sering dilanda badai pasir.

India. Hampir seluruh isi dunia tahunya India itu negara dengan tingkat kebudayaan yang tinggi. Di sana juga ada universitas tempat berlabuhnya para IT mendalami ilmu komputer. Tapi di kota Madras, 92 persen anak-anak menderita kekurangan gizi. Dari 8,3 juta anak yang meninggal setiap tahunnya di Asia, 3,5 juta di antaranya terjadi di India. Anak-anak ini meninggal karena dehidrasi akibat diare dan penyakit menular lainnya. Mengejutkan, ya?

Mozambik. Dulunya, Mozambik adalah negara yang kaya, juga merupakan tujuan wisata yang indah. Karena pemerintahan kulit hitam yang sukses merupakan ancaman bagi negara tetangga Mozambik, yaitu Afrika Selatan yang memberlakukan sistem yang dikenal dengan apartheid - sebuah kebijakan segregasi dengan diskriminasi rasial berdasarkan warna kulit - Afrika Selatan memberikan dukungan kepada tentara gerilya antipemerintah di Mozambik dan Angola, dengan memberikan suplai senjata dan uang dengan harapan bisa meruntuhkan pemerintahan kulit hitam di kedua negara itu.
Tentara gerilya menanam ranjau darat, menjarah hasil panen, membakar ladang, melempar mayat ke sumur sehingga airnya tidak bisa diminum, para lelaki dibunuh tanpa sebab, perempuan diperkosa, anak-anak lelaki yang sudah cukup besar diculik untuk kerja paksa dan dilatih menjadi tentara gerilya. Iya. Negara itu dipenuhi anak-anak yatim piatu.

Kamboja. Di sini ada kuburan massal Chong Ek yang isinya sekitar 9000 tengkorak yang dibiarkan bertumpuk di atas rumput. Pusat tahanan Tuol Sleng yang dulu berada di bawah rezim Pol Pot, yang semula adalah sekolah menengah diubah menjadi penjara dan pusat penyiksaan. Sekitar 14.500 orang dibunuh di sana, 2.000 di antaranya adalah anak-anak. Bunda pernah melihat sekilas di tv, ada di youtube, kayaknya. Bunda nggak sanggup membayangkannya. Manusia yang dikuasai setan ada di sana. Nggak punya nurani menyiksa dengan sesuka hati. Heran! Terbuat dari apa, sih, mereka?

Vietnam. Anak-anak bersekolah di malam hari, karena siangnya mereka harus bekerja mencari nafkah, akibat buruknya ekonomi di negara itu pasca perang dengan Amerika. Tidak hanya itu, banyak anak-anak yang cacat, seperti tidak punya bola mata, akibat racun bom yang pernah diledakkan semasa perang.  

Angola. Dulunya, negara ini adalah negara kaya sumber daya alam seperti berlian dan bijih besi. Juga kaya minyak bumi dan emas. Logam-logam langka yang dibutuhkan teknologi tinggi juga bisa ditambang di sana. Perang saudara yang terjadi di sana menghancurkan semuanya.  Anak-anak dipotong kaki dan tangannya oleh tentara gerilya antipemerintah. Ayah dan ibu mereka dibunuh di depan mata mereka.

Banglades. Bencana alam banjir yang mampu merendam sepertiga luas negara mereka, telah menyebabkan kelaparan dan wabah penyakit merajalela.  Bahkan ada yang tinggal di pemukiman yang berada di tumpukan sampah! Oya, di negara ini juga, ada seorang ekonom hebat yang mendapatkan penghargaan Nobel bidang ekonomi untuk program Bank Grameen-nya. Beliau adalah Dr. Muhammad Yunus. Bank Grameen adalah bank untuk orang miskin. Sembilan puluh empat persen peminjamnya adalah perempuan. Jadi, setiap wanita yang meminjam di sini dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk saling membantu. Yang mengharukan, meski pinjamannya kecil, namun cukup untuk memutar roda perekonomian mereka! Misalnya, seorang perempuan diberi pinjaman untuk membeli ayam satu ekor. Nanti setelah ayamnya bertelur dan telurnya bisa dijual, keuntungan dari jual telur itu bisa dikembalikan. Sehingga bisa dipinjam oleh orang lain yang membutuhkannya. Dari hanya seekor ayam, bisa berbiak menjadi berekor-ekor ayam bahkan sapi! Hebat, ya! Profil Dr. Muhammad Yunus bisa dilihat di sini.


Dr. Muhammad Yunus. Ekonom dari Banglades. Pendiri Bank Grameen. Peraih Nobel bidang Ekonomi. Orang hebat yang peduli rakyat kecil

Irak. Perang Teluk yang dilancarkan Amerika dan Sekutunya menggunakan misil senilai 1,5 juta dolar satunya. Dalam Perang Teluk ini, diperkenalkan istilah baru: pengeboman tepat sasaran. Dalam pengeboman tepat sasaran itu, tempat-tempat perang nggak seperti habis perang karena nggak tampak puing-puing. Tapi langsung menghancurkan pada tujuannya sampai sangat remuk. Pembangkit listrik hancur, sehingga saluran pembuangan rusak dan kotoran mulai mengalir ke rumah-rumah. Anak-anak bahkan dijadikan alat pendeteksi ranjau darat. 

Etiopia. Perang saudara dan bencana kekeringan telah membuat Etiopia menjadi sangat miskin. Tubuh orang-orang di sana sangat kurus! Hanya kulit membalut tulang. Setiap orang dijatah makannya, berdasarkan gelang kertas yang dipakaikannya. Gelang kertas ini menjadi penanda butuh seberapa banyak makanan yang mereka dapatkan.

Sudan. Perang saudara telah membuat anak-anak kehilangan orangtua mereka. Sama seperti di Mozambik. Banyak anak yang ditembak ketika mereka bersembunyi di semak-semak. Atau kepala mereka digigit hyena.

Rwanda. "Tidak ada lagi iblis di neraka. Mereka semua ada di sini, di Rwanda." (dari Majalah Time, yang dikutip dari pendeta setempat). Di sini, anak-anak bisa saja berpapasan dengan pembunuh keluarga mereka. Peperangan yang terjadi di sini adalah perang antarkelompok etnis, suku Hutu dan Tutsi. Secara tradisional, suku Hutu adalah petani yang mengolah tanah, sedangkan suku Tutsi adalah gembala yang memelihara ternak. Rwanda merupakan koloni Jerman sampai pemerintahannya diserahkan kepada Belgia pada akhir Perang Dunia I. Tahun 1920-an, orang-orang Belgia memutuskan untuk membatasi pemberian posisi di pemerintahan dan akses pendidikan tinggi bagi suku Tutsi. Orang-orang Belgia mendaftarkan semua penduduk Rwanda sebagai suku Tutsi atau Hutu pada hari kelahiran mereka. Jurang antara suku Hutu dan Tutsi makin dalam pada tahun-tahun menjelang dan sesudah kemerdekaan, tahun 1960-an. Tindakan pembantaian dimulai setelah pesawat terbang yang membawa Presiden Habyarimana ditembak jatuh. Suku Hutu menyalahkan suku Tutsi dan merancang rencana untuk membantai mereka secara sistematis. Pembantaian memicu perang saudara yang hebat. Anak laki-laki dipaksa menjadi tentara. Orangtua mereka dibunuh. 


Haiti. Columbus menemukan pulau Haiti ketika dia tiba di daratan Amerika. Haiti adalah negara kecil yang letaknya di Laut Karibia. Wilayah ini, mulanya dikuasai Spanyol. Lalu dikuasai Perancis. Setelah negara ini merdeka dan melakukan pemilihan umum pertama, delapan bulan setelahnya, terjadi kudeta dan presiden Aristide diasingkan. Selama empat tahun, negara ini berada di bawah rezim autokratis yang mengerikan. Anak-anak perempuan banyak menjadi pelacur untuk menafkahi keluarga mereka. Banyak anak-anak yang dipenjara tanpa tahu kesalahan mereka.

Bosnia - Herzegovina. Yugoslavia merupakan negara gabungan dari enam republik. Pada tahun 1992, Bosnia-Herzegovina mendeklarasikan kemerdekaannya, namun lalu pecah perang saudara. Awalnya perang ini merupakan konfrontasi antara kelompok Serbia yang antikemerdekaan dan kelompok Muslim serta Kroasia yang prokemerdekaan. Para pemimpin kelompok ini menyebarkan kebencian dan ketakutan di antara masyarakat, sehingga pertempuran pun semakin intens. Kerap terjadi pembersihan etnis, bahkan bom ditujukan untuk anak-anak. Mereka menyimpannya di kue, permen, mainan, benda apa pun yang menarik perhatian anak-anak. Anak-anak menderita masalah psikologis yang sangat parah di sana.


---

Dear Kakak Ilman dan Adik Zidan sayang,
setiap halaman membaca buku ini, satu kata yang selalu Bunda lafazhkan: "alhamdulillaah." Mungkin  kita bukan termasuk keluarga yang bergelimangan harta. Tapi kita hidup di negara yang aman. Meski nggak setiap saat kita bisa makan makanan yang mewah, tapi kita bisa makan dengan nikmat. Masalah kita seringnya, "makan apa, ya, hari ini?" atau "aku nggak berselera makan."
Tapi buat sebagian anak-anak yang ada di cerita di buku ini: makan apa aja hajar, bleh! Yang penting MAKAN.

Air. Bunda sering lihat di sekitar kita, banyak orang membiarkan air bersih mengalir terbuang sia-sia. Padahal di Tanzania sana, buat ngambil air keruh aja jalannya sejauh itu! Bunda mohon sama kalian berdua, untuk bijak memakai air. Seperlunya. Nggak dibuang-buang. Hemat air. That's very important!

Makanan. Kakak Ilman, adik Zidan... Sewaktu Bunda menulis ini, tahun 2012, kalian masih bocah-bocah yang kadang nggak tahu mana yang benar dan salah. Tapi Bunda dan papa nggak akan pernah lelah untuk mengingatkan bahwa kita harus bersyukur untuk semua makanan yang ada di hadapan kita. Rasulullaah SAW tidak pernah mencela makanan. Kita juga harus begitu. Makanan adalah rezeki untuk kita. Jadi, kalian nggak boleh buang-buang makanan, ya. Kalo sudah terlihat kalian nggak akan memakannya, jangan dicuil. Sebaiknya diberikan pada orang yang memang mau memakannya. 

Ketentraman. Terkadang rasa lelah akibat aktivitas di luar atau juga rasa lapar yang mendera membuat kita nggak bisa mengontrol emosi. Kita menjadi lebih peka dan lebih mudah marah. Ini juga pernah terjadi di keluarga kita. Entah itu kakak Ilman suka tiba-tiba marah karena video di yutub buffering-nya butuh waktu lama. Atau karena gadget tiba-tiba lemot. Lalu kakak akan marah-marah. Bunda juga sama. Kadang hanya karena internet lambat, Bunda suka marah-marah. Apalagi kalo unduhan jadi putus. Padahal, kalau mau sekali lagi merenungi apa yang terjadi di tempat-tempat yang jangankan ada jaringan internet atau gadget canggih - buat minum atau hidup aja susah - kenapa kita nggak jalani semuanya dengan syukur? Kemarahan sama sekali nggak akan menimbulkan ketentraman. Kita yang sudah dikasih hidup tentram, malah cari-cari masalah? Wow! *salto*

Kesehatan. Kita dikasih makan yang cukup, tempat untuk bernaung yang nyaman tapi kita suka mengabaikan kesehatan kita. Padahal, untuk orang-orang yang di buku ini, untuk bisa bebas dari diare aja, kayaknya mimpi. 

Kalo sudah begini, apa kita yang setiap hari bisa makan dengan cukup masih bilang kekurangan? Sudah punya rumah yang layak, masih bilang miskin? Masih bisa tidur dengan nyenyak, masih cari-cari alasan untuk mengeluhkan insomnia yang terkadang dikarang sendiri?

Review Bunda tentang buku ini:
Meski Bunda susah payah membacanya, buku ini Bunda kasih 5 bintang. Bukan karena Bunda suka dengan penderitaan orang-orang yang tertuang di buku ini. 5 bintang untuk kehebatan bu Tetsuko saat mengunjungi mereka. Menebarkan kasih sayang, walau mereka tidak berbicara dalam bahasa yang sama. Kasih sayang itu menjadi satu bahasa sendiri yang dipahami semua manusia. Karena hati yang berbicara. 

Susah payah membacanya karena Bunda menderita. Tapi buku ini harus kalian baca. Harus. Semoga kalian selalu ingat bahwa ada banyak orang yang membutuhkan kepedulian kalian. Kalian dilahirkan bukan untuk kesia-siaan, sayang.

Untuk terjemahannya, Bunda rasa lumayan. Bunda bisa mengikutinya. Meski ada beberapa typo kadang-kadang. Bunda suka ilustrasi sampulnya. Sampul buku bu Tetsuko selalu didominasi warna putih. Di dalam buku ini ada beberapa foto hitam putih.

Oya, ini dia bu Tetsuko Kuroyanagi. Cantik, ya? Profilnya bisa kalian baca di sini.


Tetsuko Kuroyanagi. Duta Kemanusiaan UNICEF

Semoga, setelah membaca review Bunda yang ini, kalian menjadi manusia yang banyak bersyukur untuk segala hal yang kalian terima. Di balik semua keluhan kita, ada sangat banyak hal yang harus kita syukuri.


`Dan semua anak kecil itu memendam kesedihan luar biasa
Dalam hati mereka yang kecil mengira bahwa merekalah yang bersalah atas kematian keluarga mereka
"aku melakukan hal-hal yang dilarang ibu; karena itulah dia dibunuh".` hal 15


`Seorang gadis kecil pergi ke kamarnya
langsung menghampiri boneka kesayangannya
"maaf aku tidak bisa membawamu bersamaku. Terima kasih sudah menunggu," mungkin begitu katanya
mengambil mainannya untuk dipeluk
saat itulah bom meledak,
lalu membunuh anak itu.` Hal 22


`Mungkin ketika kengerian dan pengalaman terus menerus terjadi, dengan baik hati Tuhan menyediakan amnesia sebagai jalan menghapus ingatan itu dari pikiran mereka. Tapi cara itu pun sangat mengerikan.` Hal 290


`Kita tidak dilahirkan untuk saling membenci, kita dilahirkan untuk saling mengasihi.` Hal 299

Note: beberapa foto ngambil dari: 
- http://thetravelersduck.blogspot.com/
- http://alifiaonline.wordpress.com/
- juga hasil googling




Terusin baca - Totto Chan's Children - A Goodwill Journey to the Children of the World

10 Sep 2012

[Miiko's Time] Namaku Miiko Vol 1


Judul: Namaku Miiko Vol. 1 (Miiko Desu #1)
Pengarang: Ono Eriko
Alih Bahasa: Widya Winarya
Editor: Yoke Yuliana
Artistik: Pigar
Diterbitkan oleh: PT Gramedia
Cetakan Kedua: Oktober 2005
Komik
Harga waktu beli: Rp. 11.000 (beli 22 Januari 2006)
5/5

Miiko merengek-rengek minta ikut les biar bisa jajan di kafe sepulang les! Memang setelah ikut les, nilainya jadi bagus. Tapi kenapa sekarang mama Miiko malah menyuruhnya berhenti les, ya? (dari cover belakang)

Sinopsis:
Aku Ingin Ikut Les -- Cerita tentang Miiko yang merengek minta ikut les ke mamanya. Sempet ditolak, tapi akhirnya mama papanya luluh. Akhirnya Miiko ikut les. Setelah ada peningkatan nilai, mamanya kemudian nyuruh Miiko berhenti les. Soalnya tubuh Miiko jadi melar karena ngemil melulu. Hihihi...

Happy Birthday, Mamoru! -- Mamoru ulang tahun! Janjinya, mama akan pulang cepat. Ternyata mama sibuk banget hari itu, sampai mama membatalkan janji pulang cepat plus beli kue untuk ulang tahun Mamoru. Papa juga sama. Dan yang paling bete ya Miiko, karena batal makan kue. Hihi. Mamoru diundang Yuka Chan, pacarnya, untuk merayakan ultah Mamoru di rumah Yuka Chan. Nah, selama itu, Miiko nyiapin pesta kejutan buat Mamoru. Miiko nggak tahu kalo Mamoru lagi pesta di rumah Yuka Chan.

Bros Santa Idaman -- Miiko punya sweater merah cakep baru. Dan Miiko juga naksir banget bros Santa di toko Lazy Moon, yang ternyata punya teman sekelas Miiko, Tappei. Harga bros itu mahal, 680 Yen, sementara Miiko cuma punya 347 Yen aja. Segala upaya untuk mendapatkan uang tambahan, Miiko lakukan. Mulai dari buka layanan pijat ke papa mama sampai layanan antar kamar ke Mamoru. Tetep nggak menjadikan uang Miiko berjumlah 680 Yen. Nah, waktu Miiko mau ke pesta Yukko, dia diledek sama Tappei, dikatain anak miskin. Miiko marah banget. Tapi waktu di perjalanan menuju rumah Yukko, Miiko tetep nyempetin mampir ke Lazy Moon demi lihat bros Santa. Wah, dia seneng banget karena bros itu didiskon 50%. Jadi beli, deh. Yang jelas, Miiko nggak tahu cerita di balik diskon itu. Hahaha...

Ini Dia Angpaonya! -- Tahun baru! Saatnya Miiko dapat angpao. Karena mama sama papa pergi nonton, trus Mamoru sembahyang di kuil sama Yuka Chan, akhirnya Miiko pergi ke kuil sendirian. Nah, dia beli permen. Setelah sembahyang, dia ketemu sama Tappei dan mamanya. Setelah mama Tappei pergi, Miiko baru sadar kalo dompet angpaonya hilang. Wah, ribet deh, urusannya. 

Ingin Memberi Cokelat -- Hari Valentine sudah tiba! Di Jepang, ada kebiasaan kalo pas hari Valentine tuh, cewek-cewek ngasih coklat ke cowok sebagai ungkapan perasaan mereka. Miiko ikut-ikutan bawa cokelat ke sekolah, meski ga tau mau dikasih buat siapa. Malam sebelumnya, Miiko mimpi ketemu pangeran yang mau dia kasih cokelat. Tapi, waktu muka pangeran itu jelas, pangeran itu malah ngomong, "Aku nggak doyan cokelat, Dudul!" Hahaha... Di sekolah, Miiko salah tingkah aja tiap mau kasih cokelat ke siapa aja yang ditemuinya. Puk puk puk. Kasihan Miiko...

Kejutan Musim Semi -- Miiko pengen tas baru. Padahal tas lamanya masih bagus. Waktu Miiko merengek ke mama dan ditolak mama, Miiko ngatain mama pelit. Akhirnya, mama berterus terang, kalo papa akan dipecat dari pekerjaannya. Jadi, hidup mereka nggak akan sama lagi. Berita ini membuat Miiko langsung sedih dan memutuskan untuk mencari kerja paruh waktu supaya bisa bantu mama. Miiko nggak tahu kalo dia sedang dikerjain mama :D

Miiko Ingin Tampil Cantik! -- Miiko iri sama Yuka Chan yang selalu tampil cantik pakai gaun berenda, sementara penampilannya sendiri selalu tomboi. Nah, suatu hari, Miiko memutuskan buat ke sekolah pakai gaun berenda. Dan hasilnya? Ya gitu, deh... Malah menuai ledekan Tappei yang emang pada dasarnya senang banget godain Miiko.

Aku Ingin Dipanggil Kakak! -- Ada pertanyaan pembaca, kenapa Mamoru nggak pernah manggil Miiko "kakak"? Yah, abisnya, emang jauh lebih dewasa Mamoru walau Miiko kakaknya. Hihi. Suatu malam, mereka ditinggal berdua di rumah, karena mama dan papa harus menginap di luar kota menghadiri pernikahan kerabat mereka. Bukannya bantuin Mamoru, Miiko malah asik baca komik dan nonton tv, sampai Mamoru kehujanan waktu angkat jemuran. Akibatnya, semalaman Mamoru demam. Nah, selama Mamoru demam, Miiko berusaha merawatnya sampai belain begadang, sampai Mamoru sehat. Cuma, waktu mama pulang, Miiko lagi tidur, jadi disangkain Miiko kerjanya cuma tiduran aja. Hahaha... Miiko apes banget, ya!

Teman di Atas Pohon (bagian awal dan akhir) -- Miiko dan teman-teman sekelasnya ikut karyawisata di luar kota dan mereka menginap di sebuah penginapan. Nah, di sana, Miiko ketemu teman baru, namanya Ayako. Miiko akrab banget sama Ayako. Suatu malam, Tappei kaget karena Miiko lagi ketawa sendiri, padahal sebenernya Miiko lagi ngobrol sama Ayako sambil lihat bintang. Dan ya gitu, deh. Akhirnya ketahuan juga siapa Ayako yang sebenarnya...


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Mulai hari ini, Bunda akan jadikan hari Senin sebagai Miiko's Time. Waktunya posting review tentang komik Miiko. Kalo semua komik Miiko yang Bunda punya sudah Bunda review, mungkin Bunda akan buat cerita sendiri tentang siapa Miiko dan lain-lain. Pokoknya, hari Senin adalah hari Miiko. Kenapa Bunda milih hari Senin? Ya nggak apa-apa. Seneng aja. Hihi...

Bunda udah lama jadi Miivers alias Miiko lovers. Tapi kayaknya istilah Miivers baru-baru ini aja adanya. Bunda baca komik Miiko kan udah dari tahun 2003. Dulu, Bunda masih pinjem. Pas tahun 2005, Bunda mulai koleksi sendiri alias beli. Pokoknya, nggak boleh ada satu pun komik Miiko yang terlewat untuk dimiliki!

Nah, bicara soal gambar... kayaknya tahun 1990 itu jadi debut pertama ibu Ono Eriko dengan Miiko ini. Gambarnya masih kasar. Tapi ceritanya sih udah oke banget. Di Namaku Miiko vol. 1 ini, keliatan banget bedanya dari sisi ilustrasi. Mulai dari cover sama cerita pengarang, beda banget sama ilustrasi di panel-panel komik volume 1 ini. Terus, cara penceritaannya juga masih belum halus, kalo dibandingkan dengan cerita pengantar di halaman terakhir.  Covernya cakep! Intinya, komik ini layak banget, deh, buat jadi koleksi ;)
Kalian nanti tinggal baca aja. Cuma, yah, emang sih. Miiko bukan komik cowok. Tapi sama sekali nggak salah kalo kalian baca. Toh, ceritanya tentang keseharian.

Bunda bener-bener menikmati perjalanan Miiko ini. Sampai ketemu di Miiko's Time Senin depan, ya! Insya Allah!


Terusin baca - [Miiko's Time] Namaku Miiko Vol 1

31 Agu 2012

To Kill A Mockingbird



Judul: To Kill A Mockingbird (Novel tentang Kasih Sayang dan Prasangka)
Penulis: Harper Lee
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penyunting: Berliani Mantili Nugrahani
Proofreader: Emi Kusmiati
Edisi Baru, Cetakan II, Juni 2008
Diterbitkan oleh Penerbit Qanita
Desain sampul: Windu Tampan
Jumlah halaman: 540 hlm; 20.5 cm
ISBN: 978-979-3269-87-8
Novel
Status: pinjem ama sepupu :D
5/5
Recommended!

Kehidupan Scout dan Jem Finch berubah total saat ayah mereka menjadi pembela seorang kulit hitam. Ketika Atticus membela seorang yang dianggap sampah masyarakat, kecaman pun datang dari seluruh penjuru kota. Di tengah terpaan masalah yang menimpa keluarganya, si kecil Scout belajar bahwa kehidupan tidak melulu hitam dan putih.

Dikisahkan dari sudut pandang gadis delapan tahun warga Maycomb, Alabama, novel ini akan menunjukkan bahwa sebuah prasangka sering kali membutakan manusia. Dan sebuah keadilan hanya dapat dilahirkan dari rasa cinta yang tak membedakan apa pun latar belakang seseorang. Harper Lee telah berhasil menyuguhkan sebuah novel menawan yang amat berkesan dan tak lekang oleh zaman. (dari cover belakang)


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Apa kabar? Eh, Bunda nulis ini setelah nulis tentang Mudik walau belum banyak. Nanti nulis lagi. Kalo kejar tayang tuh, segala jadi ga teratur. Haha. Badan masih ringsek gara-gara sakit. Tapi nggak nyalahin mudiknya. Bunda suka sekali mudik :D

Nah. Akhirnya Bunda berhasil menyelesaikan tantangan yang satu ini. Setelah pusing milih buku selama berhari-hari dan malah balik baca Perahu Kertas gara-gara abis nonton filmnya. Nah, waktu mudik kemarin, Bunda kayak disodorin disuruh baca buku ini. Buku itu tampil dengan manis di meja rumah Mbah di Semarang. Buku kepunyaan om Anan. Langsung aja Bunda tembak om Anan buat pinjem. Hehe.

Tante Ally yang suka buku ini dari dulu menyarankan buat baca. Atticus adalah papa favorit tante Ally. Iya, tante Ally suka banget dengan tokoh-tokoh ayah yang menyenangkan.

Buku ini bercerita tentang dua bersaudara Jem dan Scout Finch yang memulai petualangannya sewaktu musim panas. Di sekitar mereka, ada tetangga yang nggak pernah keluar rumah, namanya Boo Radley. Kenapa nggak pernah keluar rumah? Jem dan Scout nggak pernah tahu. Namun, keponakan Miss Rachel yang datang sewaktu liburan musim panas, Dill, membuat mereka jadi suka mancing-mancing Boo untuk keluar dari rumahnya. Banyak cerita menyeramkan yang beredar tentang Boo Radley, sehingga dibutuhkan nyali yang besar sekali untuk Jem, Scout atau Dill bisa menyentuh rumah keluarga Radley.

Ibu Jem dan Scout sudah lama meninggal. Mereka berdua diurus oleh Calpurnia. Jem sangat melindungi Scout. Oya, Scout ini perempuan. Namanya adalah Jean Louise Finch. Meski Scout perempuan, tapi dia paling gampang panasan dan suka sekali berkelahi untuk menyelesaikan masalahnya. 

Baik Jem maupun Scout adalah anak-anak yang pintar. Mereka suka membaca. Bahkan untuk Scout yang baru mulai sekolah, dia sudah pandai membaca, menulis, dan berhitung. Hal ini membuatnya sulit di sekolah, karena gurunya tidak suka murid yang sudah pintar duluan sebelum dia membuatnya pintar. Jadilah, Scout menyalahkan Calpurnia juga Atticus karena sudah membuatnya pintar.

Cerita ini mengambil setting waktu di mana rasis masih menjalar luas. Kemungkinan masih ada perbudakan juga. Jadi, orang kulit hitam selalu dianggap jelek oleh orang kulit putih. Dianggap bodoh. Nggak punya kesamaan hak. Nggak boleh pintar. Dianggap berpenyakit, hanya karena mereka berkulit hitam. Sekalinya orang kulit hitam membuat masalah dengan orang kulit putih, duh. Udah, deh. Segala upaya "hukum" ditegakkan.

Padahal, seperti yang kakak Ilman dan adik Zidan tahu, derajat semua manusia di mata Allah itu sama. Yang membedakan hanyalah akhlaq dan keimanannya saja. Mau kulit putih, kek, mau kulit hitam, kek, mau kulit biru, kek. Sama. Makhluk Allah juga. Kategorinya juga sama: manusia. Diberkahi perasaan dan akal. Sama-sama bisa digunakan.

Meski Jem dan Scout ini anak-anak kulit putih, tapi mereka sayang dengan orang-orang kulit hitam dan marah sewaktu Tom Robinson, orang kulit hitam yang dibela papa mereka di pengadilan karena suatu fitnah, dianggap bersalah. Padahal Tom nggak bersalah. Cuma karena Bob Ewell, orang kulit putih yang walau dianggap sampah, karena termasuk orang kulit putih, jadi dianggap benar. Walau dia bersalah. Menyedihkan, ya?

Atticus adalah ayah yang menyenangkan. Dia juga termasuk ayah yang adil dan bisa membuat Jem bertanggung jawab untuk melindungi adiknya. Atticus juga ayah yang bisa membuat anak-anaknya merasa nyaman. 

Ada satu percakapan yang Bunda suka, yang keluar dari Atticus:

"Sifat Scout yang gampang marah tidak akan hilang. Dia harus belajar menjaga perilakunya dan harus segera, dengan apa yang akan terjadi padanya beberapa bulan ke depan. Tapi dia sudah lebih baik. Jem semakin dewasa dan Scout meneladaninya. Yang dia butuhkan hanyalah bantuan, sekali-sekali."

"Atticus, kau belum pernah memukulnya."

"Aku mengakui itu. Sejauh ini aku berhasil hanya dengan mengancamnya. Jack, dia mematuhiku sebaik yang dia bisa. Kadang-kadang dia memang bandel, tetapi dia mencoba."

"Itu bukan jawabannya," kata Paman Jack.

"Tidak, jawabannya adalah dia tahu aku tahu dia mencoba. Itulah yang membedakan."

Setiap anak pasti punya kekeras kepalaan masing-masing. Seandainya semua orangtua belajar untuk berusaha memahami anaknya dan anaknya juga berusaha memahami orangtuanya, pasti ada kesepakatan. Nggak mungkin buntu terus. Ini yang ingin Bunda coba praktikkan di rumah bersama kalian. Semoga kita bisa saling mencoba untuk mengendalikan diri, sehingga nggak perlu ada ancaman atau teriakan. Terkadang, kita ingin mencoba melanggar justru karena kita dilarang. Bener, nggak?

Eh, ngomong-ngomong, kenapa judulnya "To Kill A Mockingbird", ya?

Jadi, ada percakapan antara Atticus dengan Scout, di mana katanya membunuh burung mockingbird itu dosa. Sebab, mockingbird adalah burung yang indah dan bersuara indah. Burung mockingbird suka sekali menyanyi dan menirukan suara-suara serangga. Jadi, membunuh burung tak berdosa itu, ya dosa.



Lalu, kenapa ngambil judul ini? Ada di bagian akhir yang dijelaskan. Kalo Bunda tulis di sini, namanya spoiler. Jadi Bunda nggak akan tulis. Yang pasti kalian harus baca. It's recommended!

Gimana dengan covernya? Bunda suka! Bunda suka desain cover versi terjemahan ini. Wajah Scout yang ada di cover buku sesuai dengan karakter Scout sendiri dalam bayangan Bunda.

Lalu, bagaimana dengan terjemahannya? Hmm... nggak tahu kenapa, Bunda ngerasa ada beberapa hal yang nggak dapat feel-nya ketimbang Bunda baca versi aslinya. Bunda kebetulan punya e-booknya, jadi agak bisa membandingkan. Tapi berhubung waktu Bunda mepet, Bunda jadi nggak bisa menuliskan di sini di mana letak perbandingannya. Yang pasti, sih, Bunda coba nikmati aja dua-duanya. Tapi nggak usah khawatir. Bisa dinikmati, kok. Buktinya Bunda kasih 5 untuk Harper Lee.

Lalu, terbuktikah ini termasuk 1001 books you must read before you die? Bunda bisa bilang, iya!
Terusin baca - To Kill A Mockingbird