Tampilkan postingan dengan label beli sendiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label beli sendiri. Tampilkan semua postingan

12 Jan 2016

ibuk, oleh Iwan Setyawan





Judul: ibuk,
Penulis: Iwan Setyawan
Editor: Mirna Yulistianti
Proof Reader: Dwi Ayu Ningrum
Ilustrasi dan desain sampul: Itjuk Rahay
Setter: Ayu Lestari
Cetakan pertama, Juni 2012
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 293 hal + xi
ISBN: 978-979-22-8568-0
Genre: Novel, Fiksi, Indonesian Literature, Family, True Story, Drama, Inspirational
Status: Punya. Beli seken di tante Selebvi keknya



"Seperti sepatumu ini, Nduk. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kamu mesti kuat. Buatlah pijakanmu kuat."
-Ibuk-

Masih belia usia Tinah saat itu. Suatu pagi di Pasar Batu telah mengubah hidupnya. Sim, seorang kenek angkot, seorang playboy pasar yang berambut selalu klimis dan bersandal jepit, hadir dalam hidup Tinah lewat sebuah tatapan mata. Keduanya menikah, mereka pun menjadi Ibuk dan Bapak.

Lima anak terlahir sebagai buah cinta. Hidup yang semakin meriah juga semakin penuh perjuangan. Angkot yang sering rusak, rumah mungil yang bocor di kala hujan, biaya pendidikan anak-anak yang besar, dan pernak-pernik permasalahan kehidupan dihadapi Ibuk dengan tabah. Air matanya membuat garis-garis hidup semakin indah.

ibuk, novel karya penulis national best seller Iwan Setyawan, berkisah tentang sebuah pesta kehidupan yang dipimpin oleh seorang perempuan sederhana yang perkasa. Tentang sosok perempuan bening dan hijau seperti pepohonan yang menutupi kegersangan, yang memberi napas bagi kehidupan. 



Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...

Sakit itu bikin segala nggak enak, ya. Males ngapa-ngapain. Haha. Sakit selama dua minggu sebelum tahun baru trus balik lagi kena flu berat itu sungguh mengganggu!

Untungnya, bacanya nggak kena males. Walau kecepatan baca masih seperti siput, sakit kepala dan running nose nggak menghalangi buat balik halaman berikutnya. Dan masih aja nekat duet nyanyi di Smule, dong! Hahahahaha. Kedengeran banget lah, melernya :P

Oke. Sekarang kita ngomongin buku ini. Beberapa tahun lalu, sekitar tahun 2013 waktu pertama kalinya Bunda ikutan Secret Santa, Bunda beli buku ini untuk hadiah target Bunda. Saat itu sih nggak tertarik buat beli untuk diri sendiri.

Beberapa waktu kemudian, waktu lihat banyak yang mereview buku ini, akhirnya jadi pengen baca juga. Tapi masih belum tergerak buat beli sampai tante Selvi jual buku ini bareng buku Pintu Harmonika dan beberapa buku lainnya. ibuk, ini jadi salah satu pilihan Bunda kemudian. Berhasil menarik perhatian papa, jadi dia yang baca duluan. Hihihi.

ibuk, bercerita tentang seorang Tinah muda yang harus putus sekolah di masa muda, lalu ikut mbahnya, Mbok Pah, berjualan pakaian bekas. Banyak yang menyukai Tinah, karena kesederhanaannya, kecantikannya juga. Di sebelah kios Mbok Pah, ada kios yang berjualan tempe. Pemuda penjual tempe itu kerap memberikan tempe pada Tinah, sebagai wujud rasa sukanya kepada Tinah.

Dari banyak pemuda yang tertarik pada Tinah, hanya Sim-lah yang membuat jantung Tinah berdegup. Sim adalah seorang kenek playboy yang menjaga penampilan. Walau seadanya, dia nggak berpenampilan lusuh seperti umumnya kenek. Justru dia tampil klimis dan rapi. Singkat cerita, Tinah dan Sim saling jatuh cinta, lalu menikah.

Apakah cinta sesederhana itu?

Cerita ibuk, ini menggambarkan bahwa "happily ever after the end" itu nggak seindah cuma senang-senang tanpa keluh kesah, rasa susah, dan lain-lain. Penceritaan ibuk, diambil dari sisi Bayek, anak Ibuk nomer tiga. Satu-satunya lelaki.

Suatu ketika, Bayek pernah "mati suri". Nggak sakit, tertidur lama, tapi nggak bernapas. Namun detak jantung ada. Hal ini membuat Ibuk sangat cemas. Bayek juga pernah "diramalkan" akan menjadi orang yang membahagiakan Ibuk. 

Ibuk adalah sosok seorang perempuan hebat yang perkasa, jauh dari manja. Ibuk mampu mengurus suami dan kelima anaknya dengan tangannya sendiri.

Awal baca buku ini sebenernya emosinya datar, tapi lumayan bisa dinikmati. Ibarat baca diary orang. Namun, ketika membaca penuturan perjuangan Ibuk, di saat Bapak mengeluh angkot bolak balik mogok, anak-anak rewel karena sudah waktunya bayar SPP, rapor Bayek harus tertahan tidak dibagikan disebabkan belum bayar SPP dan kalender (nggak abis pikir, kenapa diwajibkan beli kalender, ya?), sepatu semua anak jebol berbarengan, Ibuk harus ngutang dan cicil sana sini juga mengatur keuangan seadanya dan memutar otak supaya semua bisa kebagian, nggak kerasa air mata Bunda mengalir.

Ibuk berjuang membesarkan hati Bapak juga kelima anaknya. Ibuk mengajarkan kesederhanaan pada anak-anaknya. Ibuk juga mengajarkan anak-anaknya untuk punya pijakan yang kuat. Ibuk menumbuhkan kasih sayang di hati anak-anaknya. Ibuk yang punya tekad kuat supaya semua anaknya menyelesaikan sekolah, apapun yang menjadi rintangannya.

Ingatan Bunda kembali ke masa Bunda masih SD. Waktu itu, YangKung lagi belum ada kerjaan, karena banyak proyek yang sebetulnya sudah kelar, tapi pembayaran masih tersendat. Jadi, mau ngerjain pekerjaan berikutnya belum ada modal, disebabkan dari hasil pekerjaan sebelumnya belum
dapat bayaran. YangKung dulu berprofesi sebagai arsitek dan pembuat maket (miniatur gedung). Dibayarnya per proyek selesai. Jangankan untuk beli bahan-bahan maket, untuk makan sehari-hari aja udah abis bis bis.

Hari itu, Bunda pulang sekolah, mendapati YangTi sedang duduk di ruang tengah. Menunggu YangKung. YangTi membelai rambut Bunda dan bilang, "kita belum bisa makan dulu. Belum ada uang untuk beli beras. Tunggu Bapak, ya. Mudah-mudahan, ada yang mau bayar, walau baru sepuluh ribu saja". Saat itu, nilai sepuluh ribu rupiah mungkin sama dengan seratur ribu rupiah saat ini. Bunda duduk berdua YangTi. YangKung rupanya sudah berangkat dari pagi, nagih-nagih ke klien kayaknya. Pulang-pulang, beneran bawa uang selembar sepuluh ribu rupiah. YangTi langsung ke pasar untuk beli beras dan beberapa lauk.

Mungkin karena pernah ngalamin cerita sejenis, pas Papa bilang, "ceritanya nggak ada emosinya", Bunda malah punya perasaan yang berbeda. Bunda sempet baper juga, karena memang pernah mengalami hal serupa dengan Bayek. Papa juga pernah ngalamin hal serupa, kok :D

Bersyukurlah kalian yang nggak ngalamin masa susah ketika kecil dan semoga nggak membuat kalian mati rasa melihat orang lain yang lebih susah dari kalian.

Kalimat-kalimat yang ditulis Iwan Setyawan ini sederhana dan mengena, mengalir juga. Walau "status" bukunya novel, tapi jadi kayak baca semi biografi. Yang agak "kurang" sebenernya saat ada hal-hal yang bisa diungkapkan secara emosional, keluarnya jadi datar. Terus terang agak geregetan jadinya. Namun di beberapa bagian emang ada juga penuturan yang bisa hit my nerve lalu nggak kerasa bikin meleleh. 

Mestinya sontreknya masih A Song for Mama juga, nih. Heuheu.


Sayangnya kurang ditunjang sampul yang mestinya bikin adem (Bunda kurang tertarik dengan sampulnya, ke-rame-an) plus banyak penuturan yang emosinya nggak keluar hingga terasa agak datar, Bunda tetep kasih bintang empat untuk Ibuk yang hebat dan menginspirasi semua ibu di dunia agar tidak menjadi ibu dan istri yang cengeng dalam mengantarkan anak-anaknya menjadi anak yang hebat! :D

Semoga Bunda bisa jadi Ibuk yang baik buat kalian berdua! Aamiin...

Cheers and love! xoxo,





Terusin baca - ibuk, oleh Iwan Setyawan

18 Feb 2015

Our Story by Orizuka



Judul buku: Our Story
Penulis: Orizuka
Penyunting: Agatha Tristanti
Penata letak: Teddy Hanggara
Desain sampul: Teddy Hanggara
Foto: Chusnul Chairudin
Penerbit: Authorized Books
Cetakan kedua, 2011
Jumlah halaman: 240 hlm, 13.5 cm x 19 cm
ISBN: 978-602-96894-1-9


Masa SMA. 
Masa yang selalu disebut sebagai masa paling indah, tapi tidak bagi anak-anak SMA Budi Bangsa.

SMA Budi Bangsa adalah sebuah SMA di pinggiran ibukota, yang terkenal dengan sebutan SMA pembuangan sampah karena segala jenis sampah masyarakat ada di sana.

Preman. Pengacau. Pembangkang. Pembuli. Pelacur.

Masuk dan pulang sekolah sesuka hati. Guru-guru honorer jarang masuk dan memilih mengajar di tempat lain. Angka drop-out jauh lebih besar daripada yang lulus. 

Sekilas, tidak ada masa depan bagi anak-anak SMA Budi Bangsa, bahkan jika mereka menginginkannya.

Masa SMA bagi mereka hanyalah sebuah masa suram yang harus segera dilewati.

Supaya mereka dapat keluar dari status 'remaja' dan menjadi 'dewasa'. Supaya tidak ada lagi orang dewasa yang bisa mengatur mereka. Supaya mereka akhirnya bisa didengarkan.

Ini, adalah cerita mereka.


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Ini adalah buku kedua dari author Orizuka yang Bunda baca. Sejauh ini, Bunda menikmati gaya bertutur Orizuka.

Our Story bermula dari seorang Yasmine, murid pindahan dari US, yang pendaftaran sekolahnya diurus oleh supir teman ayahnya. Yasmine kaget banget (lebih tepatnya shocked) ketika sekolah yang didatanginya jauh dari kesan sekolah internasional yang seharusnya, karena supir teman ayahnya itu (sepertinya) salah dengar dari kata SMA Bukti Bangsa (yang bertaraf internasional) malah mendaftarkan Yasmine ke SMA Budi Bangsa yang terkenal sebagai sekolah buangan.

Uang tiga puluh juta rupiah yang sudah digelontorkan untuk sekolah barunya itu nggak mungkin bisa diambil lagi. Yasmine cuma bisa bengong ketika dia bersekolah yang bisa dibilang, hidup nggak, mati segan.

Sebagai anak baru, bukan nggak mungkin Yasmine dibully oleh teman sekelasnya. Di sekolah itu ada ketua geng, Nino namanya, yang ditakuti geng-geng lain. Entah kenapa, Nino tidak mengganggu Yasmine sama sekali. Di antara siswa-siswa yang bisa dibilang nggak jelas masa depannya, Yasmine menemukan satu siswa yang kayak oase gitu. Namanya Ferris, yang juga jadi Ketua Osis, meski semua proposalnya selalu ditolak oleh sang kepala sekolah. Yasmine bisa akrab dengan Ferris dan akhirnya ikut Ferris berjuang di sekolah itu.

Perjalanan Yasmine selama menjadi siswa di SMA Budi Bangsa nggak menyenangkan dan membuatnya semakin benci sekolah. Nggak di US, nggak di negeri sendiri, masa SMA baginya nggak jauh-jauh dari neraka. Setelah ngobrol banyak dengan Ferris, Yasmine akhirnya mencoba mengubah cara pandangnya terhadap sekolah. Sampai akhirnya memang di bulan-bulan terakhir menjelang UN, terjadi perubahan drastis yang cukup mencengangkan: anak-anak itu mau belajar supaya lulus. 

Kalo Bunda ibaratkan, membaca Our Story ini seperti mengupas bawang. Oleh Orizuka, setiap lapis demi lapis diramu sedemikian rupa sehingga semakin mendekati akhir, gas air mata semakin kuat diembuskan dan mampu membuat pertahanan air mata kita jebol. Nggak, Bunda nggak lagi bicara soal menangis, karena Bunda sama sekali nggak menangis ketika baca Our Story. Yang Bunda maksudkan adalah setiap penokohan  karakter di sini kuat dan punya alasan masing-masing untuk berdiri di dalam cerita. Bahkan, setiap karakter dalam cerita ini mampu membuat ceritanya sendiri. Gimana Bunda bisa bayangin sosok Nino, Ferris, Yasmine, Mei, bahkan sampai Sisca sekalipun, dalam kisah mereka masing-masing.

Ferris kalo Bunda bayangin, dia cocok diperankan oleh Kang Ha Neul.  


Nino.. cocoknya oleh siapa, ya? Sebelumnya soalnya yang kebayang tukang bully itu pernah diperanin Kim Woo Bin, sih... 


Tapi kayaknya Lee Jong Suk cocok juga. Hahahaha...


Ini kok kayak nyuruh Our Story dibuat cerita versi drama koreyahnya, sih. Hahaha... 

Cover yang dibuat dengan nuansa kelam ini sebenernya udah memperlihatkan banget daleman ceritanya akan seperti apa. 

Bunda jadi teringat waktu Tante Asih mengajar jadi guru STM. Sekolah di mana kadang ada anak yang udah enam bulan nggak sekolah, sekolah yang di saat lagi ujian, salah satu tugas Tante Asih adalah kasih lembar jawaban ke masing-masing murid sebelum guru pengawas datang. Kalopun guru pengawas datang, sudah diamini oleh mereka. Karena ini emang kerja mereka. Yang penting, reputasi sekolah tetep dengan semua anak lulus, walau anaknya entah belajar entah nggak. Entah pernah masuk sekolah entah nggak. Yang penting pas ujian masuk dan lulus.

Tentu jadi beban berat untuk menjadi guru yang ditempatkan di sekolah seperti itu. Sekolah yang hidup segan, tapi mati juga nggak mau. Dengan berbagai tipe siswa, mulai dari yang cuma datang satu semester sekali, siswa yang udah tiga tahun nggak bayar uang sekolah, tapi rajin sekolah, walau buku aja mungkin dia nggak bawa, yang datang pagi terus entah ke mana ~ yang jelas berseragam, dan lain-lain dan lain-lain. Bunda jadi ngerti alasan anak-anak itu: dengan masuk sekolah, entah apa pun yang dilakukan di dalamnya, ada tempat "berlindung" dari kejamnya dunia luar. Kalo status mereka sudah lepas dari sekolah, mereka berubah jadi orang dewasa yang nggak lagi punya tempat berlindung.

Our Story menggambarkan banyak sekolah "bobrok" di Indonesia yang nggak keekspos cerita sebenernya. Alhamdulillaah, Bunda selalu bersekolah di sekolah yang terjamin, sehingga ketika mendengar sendiri cerita sejenis ini, Bunda cuma bisa bergidik. Begitu juga pas baca. Ada banyak sekali PR untuk pendidik, terutama di Indonesia ini, untuk meraih anak-anak yang terbilang "madesu" (masa depan suram). Miris? Iya. Itu sebabnya, selalu ada jurang yang sangat curam antara orang mampu dengan nggak mampu, apalagi menyangkut masalah pendidikan dan kepedulian.

Teriring doa dan harapan, semoga Bunda dan Papa bisa selalu menyekolahkan Kakak Ilman dan Adik Zaidan di sekolah yang layak, sehingga kalian bisa mendapatkan pendidikan yang layak, sesuai kebutuhan kalian.

Yasmine tahu, ia datang ke sekolah ini untuk sebuah alasan. Semua anak datang ke sekolah ini dan bertemu untuk sebuah alasan. Mereka semua masih berada di sini hari ini untuk sebuah alasan.

Masing-masing memiliki cerita. Masing-masing berbagi cerita. Masing-masing mendengarkan cerita. Dan cerita ini, tidak akan berakhir sampai di sini. Cerita itu masih akan terus berlanjut. ~p229

Love you both. Cheers! xoxo


Terusin baca - Our Story by Orizuka

7 Mei 2014

Kisahku Bersama Sepotong Kata Maaf


Judul: Sepotong Kata Maaf
Penulis: Yunisa KD
Editor: Anin Patrajuangga
Desainer Cover: Steffi
Penata isi: Phiy
Diterbitkan oleh PT Grasindo
Cetakan pertama 2013
Jumlah halaman: 304 hal
Genre: Novel, Fiksi Kontemporer, Time travel, Woman, Semi-thriller
ISBN: 978-602-251-132-8
Status: Punya. Beli di Hobby Buku Online Bookshop
Harga: IDR 53,000


Blurb:
Ini adalah kisah nyata seorang gadis yang menolak untuk meminta maaf meskipun telah berulang kali diajukan permintaan resmi agar ia melakukannya. Dia meninggal 7 kali oleh pena seorang novelis. Itulah cara ringan untuk merangkum cerita ini.

Dalam dimensi yang berbeda, hidup memang seperti persamaan Matematika: ada berbagai variabel dan konstanta. Kematian seorang gadis bermoto "Maaf tampaknya adalah kata tersulit", itulah sang konstanta.

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Kelar juga baca buku ini setelah mandek lama. Hehe...



Sama penulisnya, buku ini digadang sebagai buku yang berdasarkan kisah nyata, pengalaman penulisnya sendiri. Konon, sneak peek-nya sering beredar di fanpage penulis. Cuma Bunda nggak ngikutin, sih, jadi ga begitu tau. Takutnya, kalo Bunda terlalu tahu cerita hidup penulis, Bunda nggak netral lagi dalam mereview bukunya. Bunda nggak tertarik dengan kehidupan pribadi penulis, makanya nggak follow twitternya maupun gabung di fanpagenya. Dengan begitu, Bunda bisa baca novel yang ini ya apa adanya yang tertuang di sini aja. Walaupun dibilang berdasarkan kisah nyata.

Jadi? Sepotong Kata Maaf ceritanya tentang apa?

Ceritanya bermula dari kekesalan Dewi yang pada saat acara ROM (penandatanganan perjanjian pernikahan) mesti menyaksikan suaminya, Jeremy Subroto, berfoto dengan sahabatnya, Lisa Hisman ~yang kemudian diberi julukan "ganjen"~ tanpa mempelai perempuan. Yang menambah kekesalan Dewi adalah posisi Lisa yang teramat dekat dengan Jeremy yang hanya tersisa sedikit aja ruang sehingga mereka nyaris nempel. Jeremy yang menganggap Lisa adalah sahabatnya, tentu nggak ngeh dengan kekesalan Dewi. Menurut Jeremy, ini wajar aja, karena mereka bersahabat. Sementara menurut Dewi, keluarga Dewi dan teman-teman Dewi, pose foto berdua seperti itu, tanpa mempelai wanita juga, bikin geger dan geram.

Dari situ, cerita berkembang ke berbagai alternatif kematian Lisa Hisman di dimensi yang berbeda. Gimana cara? Pake mesin waktu, dong...

Di cerita awal, Lisa dan Armand akan melangsungkan pernikahan, tapi gereja tempat mereka menikah dibom. Kemudian, Jeremy yang jenius itu, masuk ke mesin waktu ciptaannya untuk mencegah pengeboman terjadi, karena niatnya sih, menyelamatkan orang lain yang ga bersalah. Kalo Lisa doang yang mati ya biar aja. Kurang lebih gitu. Maka dimulailah kisah petualangan Jeremy Subroto melintasi berbagai dimensi lewat mesin waktu yang ternyata nyasar melulu. Yang jelas, ini bikin penulis leluasa membunuh Lisa Hisman di berbagai dimensi waktu dengan berbagai alternatif cara kematian :D

Kabarnya, sih, ini emang kisah nyata penulis pada saat dia dan suaminya meresmikan pernikahan mereka. Jadi, anggaplah, ini novel balas dendam buat mbak Lisa (nama sebenarnya) yang sudah membuat penulis murka.

Sebetulnya, ide time travel itu udah nggak aneh, sih. Jadi ya nggak ada yang istimewa banget dari novel ini. Yang jelas, sih, aura dendamnya nyampe banget ke pembaca. Kelewatan aja, sih, menurut Bunda... Dengan kata lain: lebay banget dendam kesumatnya.

Beberapa catatan yang sempet Bunda simpan tentang buku ini, ya...

1. Kalo dari sisi ide, terus terang Bunda nggak suka, apalagi "inspired from true story". Karena penulis memang berniat membunuh seorang Lisa Hisman di dalam novelnya sampai tujuh kali. Well, oke. Merasa kesal, benci karena seseorang telah "melukai" perasaan kita tuh wajar. Tapi, jauh lebih baik memaafkan duluan daripada "mengemis" permintaan maaf dari orang lain dan ketika permohonan maaf nggak kunjung datang, lalu memutuskan "membunuh" orang yang dibenci (meski) dalam bentuk cerita fiksi dalam berbagai alternatif itu cuma membuat penulis terlihat sama sekali nggak bermartabat. Sorry to say.

2. Bunda juga pernah merasa cemburu atau kesal sama orang. Tapi, Bunda percaya, memaafkan lebih dulu itu lebih bikin legowo dan nggak kepikiran, kok. Hidup jadi tenang dan nggak penuh dendam. Tips dari Bunda, daripada membenci seseorang lebih baik mengabaikan orang yang (tadinya) kita benci aja. Lebih enak dan ga musingin ke kitanya. Beneran, deh! Cobain aja. Ignorance is bliss :D

3. Dari sisi penceritaan. Hmm.. nggak ada yang berubah, sih, dibanding buku biru legendaris penulis. Apalagi kalo yang dimaksud dengan karakter Dewi di sini adalah penulis itu sendiri. Aura narsisnya udah over dosis, jauh melampaui narsisaurus syndrome-nya Gilderoy Lockhart. Bayangin narsisnya si Gilderoy Lockhart aja udah bikin muak, maka kalo ada orang lain yang narsisnya melampaui beliau, silakan takar sendiri standar kemuakan kalian.

4. Deskripsi karakter utama yang terus menerus diulang, bikin 300 halaman buku terasa seperti pemborosan. Karena, kayaknya kalo bisa dilangsingin, 150 halaman juga kelar. Bunda coba bandingkan cara penulis lain yang bukunya Bunda baca dan beberapa udah Bunda review di antaranya, rata-rata mereka nggak saklek mendeskripsikan karakter utama mereka kayak gimana. Ngalir aja di cerita, tapi kita sebagai pembaca, bisa langsung ngebayangin dan punya imajinasi sendiri mengenai karakter di cerita itu. Nggak rusak oleh deskripsi yang bener-bener text book dari penulis.

Sebagai contoh, semua pembaca serial Harry Potter pasti tahu gimana cerdasnya Hermione Ginger tanpa perlu disebutin berkali-kali kalo Hermione itu pinter, genius, penghafal cepat dan pelahap buku. Semua muncul lewat dialog-dialog yang cerdas dan ide-ide yang dicetuskan Hermione ketika mereka menghadapi masalah.

Atau, karakter Amal di buku Does My Head Look Big in This? Meski nggak disebutin segimana cantik, cerdas, penuh sopan santun dan punya kebaikan hati yang luar biasanya Amal, kita bisa tahu gitu aja (atau minimal ngebayangin, deh) melalui semua dialog dan ceritanya.

Masih banyak deh yang lainnya. Termasuk gimana kita bisa ngebayangin gantengnya Christian Grey di FSOG. Ga perlu deskripsi lengkap banget yang bakalan menghancurkan imajinasi pembaca.
Sementara di buku ini, penulis kek pengen ngasi tau pembacanya berulang-ulang, kalo Dewi itu cantik, sempurna, punya buah dada yang menggemaskan, pintar, kaya, tahu sopan santun, punya tata krama dan seterusnya.

5. Sebentar. Tadi Bunda bilang, berkali-kali disebutin Dewi itu cantik, sempurna, punya buah dada yang menggemaskan, pintar, kaya, tahu sopan santun, punya tata krama dan seterusnya, kan? Nah. Kalo iya, tahu sopan santun, punya tata krama, ini ada sesuatu yang bikin Bunda agak sakit kepala.
Dewi ini berkali-kali mengomeli suaminya dengan kata-kata, "kamu ini goblok atau goblok, sih, Mi?" Kalo seorang Dewi adalah seperti yang disebutkan berulang-ulang di atas, lalu bisa nyebut suaminya goblok berulang-ulang setiap dia merasa kesal pada suaminya yang kurang peka sama perasaannya, terutama terhadap kekesalannya pada Lisa Hisman, lalu gimana dengan perilaku orang yang nggak punya tata krama dan sopan santun, ya? *headspin*

6. Penulis berusaha keras banget buat terlihat kalo dia banyak banget pengetahuannya dengan memasukkan berbagai quote yang kadang nggak nyambung dengan konteks cerita. Trus, udah gitu, seakan-akan pengen bilang, bahwa pembacanya bodoh ga sepintar dia, ditulislah dua bahasa itu quote. Too much information, I guess.

7. Mengenai kalimat "innalillaahi wa inna ilaihi raaji'uun" yang oleh penulis disebut sebagai common phrase di Indonesia, rasanya Bunda harus luruskan dulu. Semoga ini memang karena ketidak tahuan penulis. Masukan Bunda buat penulis adalah penulis mau berteman dengan orang-orang penganut agama Islam, jadi bisa diskusi, minimal nanya-nanya, terutama yang berkaitan dengan doa.

Kalimat "innalillaahi wa inna ilaihi raaji'uun" adalah kalimat yang harus diucapkan (umat Muslim) ketika mendengar ada orang lain mendapat musibah atau dirinya sendiri mengalami musibah. Arti dari kalimat "innalillaahi wa inna ilaihi raaji'uun" adalah "to Allah we belong and to Allah we will return/kita milik Allah dan akan kembali kepada Allah."


Bolehlah sebut ini novel fiksi. Biarpun ini fiksi, menurut Bunda, sefiksi-fiksinya fiksi, tetep aja kalo ada informasi yang akurat tetep ga boleh dibelokin. Bunda banyak belajar dari komik atau novel. Jadi, sebaiknya emang informasi sepenting itu masuk sebagai bahan informasi buat pembaca, walau pun ceritanya fiktif. Kan penulisnya katanya pinter banget. Pasti risetnya udah dalem banget, dong, ya...

8. Bunda masih nggak habis pikir, kenapa Dewi bisa sedendam ini sampai "ngemis" dan melakukan berbagai cara supaya Lisa Hisman minta maaf. Kalo Lisa-nya nggak ngerasa berbuat salah, ya udahlah. Biarin aja. Tapi kalo sampai dibunuh dengan berbagai variasi, mending bikin novel thriller dengan judul "Tujuh Alternatif Pembunuhan Lisa Hisman", bukannya "Sepotong Kata Maaf".

9. Untuk ide masuk ke berbagai dimensi, okelah. Bolehlah. Tapi, kenapa hampir di semua dimensi yang bukan dimensi sebenarnya itu, Roger Gunawan muncul sebagai suami Dewi? Kok, kesannya, Dewi nyesel nikah sama Jeremy Subroto, ya? Kesannya, penulis pengen banget menikah dengan Roger Gunawan - if he is existing in this world. Atau emang ada orangnya? Soalnya dengan nulis nama semua karakter mirip dengan aslinya, apa itu nggak menyinggung perasaan suaminya? Sebelum menikah sampai sekarang, Bunda selalu dinasihati untuk menjaga perasaan suami, bertutur kata yang baik pada suami. Lah ini? Suami digoblok-goblok. Semoga kalian berdua kelak dapat istri yang selalu memuliakan suaminya. Aamiin. Biar pun Dewi secantik bidadari, kalo kata-katanya bau begitu... errrr... masih bisa disebut cantik dan sempurna?

10. Masih bingung dengan pola pikir Jeremy mau pun Roger sebagai laki-laki di dalam cerita ini. Gimana, ya. Boleh, deh, Bunda disebut ganjen atau genit karena mayoritas teman Bunda adalah laki-laki. Tapi keuntungan dari punya banyak teman laki-laki adalah: Bunda memahami cara berpikir mereka yang sama sekali beda banget dengan cara berpikir cewek. Tapi di cerita ini, cara berpikir semua orang di karakter, kecuali Lisa Hisman tentunya, sama banget dengan cara berpikir Dewi, termasuk cara berpikir para pria yang pro ke Dewi semuanya. Bunda sih, percaya dengan peribahasa Indonesia yang bilang, "lain ladang, lain belalang. lain lubuk lain ikannya." Jadi, beda orang ya beda isi kepalanya. Mau punya pengalaman yang sama persis plek kek apa pun, tetep aja pasti ada perbedaan pendapat dan cara berpikir. Apa lagi kalo makhluk bernama cowok itu datengnya dari Mars dan cewek itu datengnya dari Venus. Dua planet yang berbeda, kan? *apa maksudnya, coba?*

11. Salut sama pemakaian kata "menyeleweng" (sounds jadul, tuwek banget) sementara kebanyakan orang sekarang nulis kata "selingkuh" :D

12. Di akhir buku, sih, akhirnya Dewi bilang ke Jeremy nggak usah berusaha memperbaiki keadaan. Intinya, dia udah nerima gimana "keukeuhnya" Lisa yang nggak merasa bersalah berikut permohonan maaf yang ga kunjung dateng. Tapi, tetep aja, Lisa-nya dibikin mati yang otomatis nggak jadi menikah dengan Armand. Cuma agak bingung juga, di dimensi ke-7 tuh maksudnya Jeremy pulang ke dimensi asal apa gimana, sih? Soalnya kalo pulang, mestinya ga ke dimensi ke-7, dong? Apa ini maksudnya Jeremy dateng ke Jeremy di dimensi lain? Blunder :D

Tapi kesan yang ditinggalkan di akhir dimensi ini ditutup dengan manis banget, menunjukkan Dewi yang nggak mau memusingkan perkara Lisa lagi, yang udah lalu biarlah berlalu. Meski tetep, Lisa dibuat mati di sini, plus, dipermalukan (dikasih nama Tante Ganjen) di depan anak-anaknya yang sudah besar dengan alasan sebagai contoh. Kalo suatu saat Bunda mau nasihatin kalian mengenai memilih perempuan yang baik, Bunda nggak akan buka aib orang lain. Bunda akan kasih case aja, nggak perlu memperlihatkan foto-foto kenangan buruk yang tersimpan berabad-abad. Itu sama aja dengan menyimpan dendam dan mewariskan dendam pada anak-anak Bunda. Never. Bunda pun nggak pernah akan ngasih tau kalian kalo semisal Bunda punya orang yang Bunda benci. Karena rasa benci itu menular.

13. Sekarang, kira-kira di antara kumpulan kata ini:

pintar ramah goblok cantik kaya sopan goblok santun goblok cemerlang genius goblok tampan cerdas goblok lintas waktu goblok miliarder sempurna goblok tinggi menjulang goblok

sensasi apa yang kalian dapatkan saat baca kumpulan kata di atas? Kata apa yang bakalan paling nempel di kepala kalian saat membacanya? Kurang lebih, seperti itulah sensasi saat membaca novel ini.

14. Apakah review Bunda ini negatif? Hmm... terus terang, ya, suka heran kenapa review yang sifatnya mengkritik itu, kok, sama penulis dibilang review negatif dan yang nge-reviewnya dianggap haters? Karena Bunda bukan hater penulis, meski bukan juga fans berat penulis, Bunda benci kalo seandainya penulis sempat baca review Bunda ini langsung ngecap Bunda termasuk haters-nya. Daripada membenci orang, Bunda lebih suka mengabaikan orang. Membenci itu menguras energi. Keingetan terus dan bahkan malah jadi kenal lebih banyak, jauh lebih banyak dari porsi semestinya ketika membenci orang. Makanya, Bunda memilih mengabaikan ketika Bunda nggak suka sama orang lain. Jadi, energi Bunda ga perlu habis mikirin orang itu. Mending mikirin yang indah-indah aja dan menikmati semua yang indah daripada hidup penuh kebencian. Capek, bow...

Bunda nggak pernah bermaksud menulis review negatif. Dan ga pernah mendaftarkan diri jadi haters fanatiknya. Tapi apa yang Bunda tulis di atas hanya catatan Bunda mengenai apa yang udah Bunda baca aja dan cukup ngeganjel. Gitu aja, sih. Bunda tipe orang yang kalo suka akan bilang suka, kalo ga suka ya bilang ga suka. Titik. Yang jelas, Bunda baca dari awal sampai habis, bukan untuk menyerang penulisnya. Emang murni pengen baca. Titik.

Penulis yang baik akan nerima review sepedas apa pun dari pembacanya dan ga ngecap, "cuma pembaca". Jadi pembaca itu repot juga, kok. Bunda ngemodal buat beli buku ini. Pake ongkos kirim. Sampulnya beli juga. Bacanya makan waktu juga, karena perlu mood bener-bener baik biar ga marah-marah saat baca buku ini, karena seperti penulisnya bilang di blognya, "Orang yang baru pertama kali baca novelku bilang mereka suka banget, bukunya mudah dibaca, bisa merasakan emosi, bisa tertawa dan misuh-misuh saat membaca." Jujurly, kalimat yang Bunda tebalkan benar adanya. Bunda bisa tertawa dan misuh-misuh saat membaca, kok. Hihihi. Misuh-misuhnya bukan karena gemas pada Lisa atau Jeremy melainkan oleh pola pikir penulis. Tertawa karena apa, ya? Menertawakan kenarsisan penulis, mungkin? :D

15. Bunda nggak akan bertanya-tanya kenapa buku ini bisa ikut terpilih untuk diterbitkan di lomba Grasindo - Publisher Seeking Author (PSA) dari 630 naskah yang masuk. Bunda juga nggak akan mempertanyakan kriteria panitia. Tapi kalo naskah kayak gini bisa lolos, gimana dengan naskah yang ga lolos, ya?

16. Agak bingung dengan blurb-nya. Kok nggak nyambung sama keseluruhan cerita.
 





All in all, ma kasih buat penulis yang sudah meramaikan kancah pernovelan Indonesia. Termasuk segala kehebohan yang pernah ditimbulkan. Belajar dari novel ini, memaafkan itu jauh lebih simpel dan mulia ketimbang berharap orang lain menyadari kesalahannya pada kita sampai membuat kita berkali-kali memberi teguran supaya yang bersangkutan minta maaf (apalagi pake cara formal banget) bahkan sampe pengen membunuhnya sebanyak tujuh kali, meski itu hanya di dalam imajinasi. Heuheu... Demikianlah kisah Bunda bersama Sepotong Kata Maaf.

Pesan Bunda, sih, simpel aja. Kalo orang lain yang bersalah ke kita ga mau minta maaf, maafin aja duluan. Pahalanya lebih gede, kok, insya Allah. Daripada dendam sampe pengen matiin. Duh, kayak orang nggak bermartabat aja...

Love you both... Cheers...








Terusin baca - Kisahku Bersama Sepotong Kata Maaf

14 Nov 2013

Curhatan Emak-emak dalam Komik - Mamomics

Judul: Curhatan Emak-emak dalam Komik
Penulis: Mamomics
Penyunting: Juliagar R. N
Ilustrator: Mamomics
Penata Letak: Andipa Sandy
Desain cover: Ticks
Diterbitkan pertama kali oleh: Anak Kita
Paperbacks, 116 halaman
Cetakan pertama: 2013
ISBN: 978-602-286-002-0
Genre: Parenting, Komik, Aktual, Spiritual
Status: punya. Beli di buku-plus
Harga: IDR 27.700 belum sama ongkir


Mereka bisa membuat ruangan yang sudah rapi, jadi berantakan dalam sekejap.

Mereka punya keingintahuan besar yang membuat orang dewasa kagum.

Mereka punya daya imajinasi yang liar dan bebas, juga kepolosan yang bikin tercengang.

Mereka punya 1001 tingkah ajaib yang membuat hari-hari para emak jauh dari yang namanya bosan.

Inilah cerita hari-hari para emak bersama tingkah laku anak-anak mereka, si "monster kecil" dengan sejuta pesona.

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Rekor, loh! Bunda berhasil baca satu buku dalam waktu sekejap tadi malam! Padahal jumlah halamannya lumayan di atas 100. 116 kurang lebih. Hihi. Soalnya dalam bentuk komik, sih. Yeah! Kasih standing applause, dong, ke Bunda, karena berhasil kelarin baca buku sebentar. Komik aja biasanya berhari-hari, kan... Biasa sih. Ditinggal tidur.

Bunda tertarik baca buku ini bukan karena komik semata. Bukan juga karena Bunda kebetulan "kenal" dengan salah satu dua komikus di dalamnya. Tapi memang karena komik yang mereka buat terinspirasi dari anak-anak mereka sendiri. Semacam curhat yang dibuat dalam bentuk komik. Apa yang bikin menarik? Karena disampaikan dalam bentuk gambar. 

Menurut seorang praktisi pendidikan seni rupa untuk anak-anak yang Bunda kebetulan kenal juga (karena Bunda pernah ikut jadi salah satu fasilitator di klub bermain miliknya), ibu Luna Setiati, bahasa rupa atau bahasa gambar itu lebih mudah dicerna dan mampu bercerita banyak daripada teks. Jadi, kalo mau memperkenalkan membaca pada anak, kenalkan dengan buku-buku minim teks yang gambarnya maksimal. 

Sebentar. Bunda kok malah bahas teori belajar membaca, sih? 

Ayo, balik ke tujuan semula!

Yah, intinya, curhat dalam bentuk gambar itu ga bisa bertele-tele mainin kata-kata. Sedikit kata-kata tapi berbicara banyak. Begitu, deh, kurang lebih. Makanya, ketika baca setiap halaman di buku ini, feel-nya dapet. Bunda bisa ngakak terpingkal-pingkal. Sekaligus terharu. Nangis, bisa juga, karena terharu.

Ada lah empat orang emak-emak dan satu orang gadis yang doyan curhat lewat komik. Mereka suka curhat di facebook mereka, kejadian sehari-hari dengan anak-anak mereka. 
Kita bahas satu persatu, ya...

1. Andriani Suryansyah
Karya ibu dua anak cowok ini, di keseluruhan judul, ceritanya bikin ngakak semua.
Baik ibu maupun kedua anaknya sama-sama kocak. Ini Bunda ambil dari facebook Mamomics aja, ya... hehe...












See? Kocak semua, kan? X)) Itu baru seprintil. Masih banyaaaak lagi di komik ini... :D

2. Dyah Dydy
Ibu dua anak ini tinggal di Amerika. Kalo lihat gambarnya, duh... Rasanya Bunda jadi pengen di rumah aja, menikmati imajinasi kalian. Tapi gimana. Saat-saat ini, Bunda masih harus kerja di kantor.







3. Dyotami Febriani
Nah, ini salah satu komikus yang tadi Bunda bilang, Bunda "kenal". Kenal akrab di dunia maya, sih, dari jaman dulu masih di Multiply. Pssst! Bunda fans berat uwak Dyo ini, lho! Sebab, dulu, Bunda suka baca nomik (novel komik) terbitan DAR! Mizan yang novelnya ditulis oleh uwak Ali Muakhir sementara bagian komiknya dibuat oleh uwak Dyo. Uh! Keren banget! Uwak Dyo pernah bikin Bunda mimpi jadi komikus. Mimpi doang. Belajar nggambarnya ga pernah. #mintadigetok

Dulu sewaktu di Multiply, uwak Dyo suka sharing tentang Ziya, seumuran kakak Ilman, kalo ga salah. Eh, di atas kakak Ilman, ding. Bunda juga suka sharing tentang kakak Ilman di Multiply. Nah, karena inilah jadi "akrab". Trus, karena Multiply bubar, ya gitu, deh. Nyaris putus komunikasi. Tapi ketemu sih, di pesbuk. Hihihi.. 

Kalo bacain status-status uwak Dyo sewaktu dia hamil si kembar Aji dan Magi, keknya seru. Padahal, yang dulu pengen hamil anak kembar tuh Bunda. Lah, yang dapet anak kembarnya malah uwak Dyo. Alhamdulillaah... :D

Ini salah sekian karya uwak Dyo di komik ini



Kebayang ribet dan serunya punya anak kembar X))
Di bagian jurnal uwak Dyo juga ada yang bikin Bunda menitikkan air mata. Yaitu waktu salah satu dari si kembar demam. Hiks...

4. Harlia Hasjim a.k.a Ibu Ranger
Beliau ini Bunda udah "kenal" lamaaa banget dari jaman Multiply juga, tapi baru berinteraksi beberapa bulan lalu karena pesan kaos Totoro ke beliau :D
Bunda termasuk fans berat si abang yang keren. Ngefans juga sama ibunya, sih. Ini salah satu karyanya di buku ini


5. Lia Hartati
Kalo dia ini, karena belum berkeluarga, jadi bercerita tentang pengalaman keluarga orang lain. Bikin ngakak juga. Yang paling bikin ngakak sih sebetulnya baca profilnya. Ngakunya suka banget nggambar cowok pake celemek sambil ngegendong anak. Nggak ada kesan melambai, melainkan tampak macho. IH! ITU SIH IYA BANGET! Bunda paling suka lihat pria gendong anak. Bunda paling suka lihat Kimutaku lagi gendong anak. Serius! Loh! Kok, bawa-bawa Kimutaku? Maksudnya, kalo pemandangan papa gendong anak sih emang biasa, walau di hati berbunga-bunga liyatnya... Uhuk! Apalagi kalo lihat dia mengerjakan pekerjaan rumah. Uh! Gitu, deh! :P

Tentu saja, tingkah anak-anak itu memang sering bikin kesal, tapi di lain waktu, bikin ketawa. Bener juga, sih. Selama ini, Bunda belum pernah merasa bosan sejak kehadiran papa lalu ada kalian berdua. Meski kadang kalian tuh suka bikin tensi naik alias esmoni, tapi di sisi lain, kalian adalah penyejuk hati Bunda. Sumber semangat Bunda. Sumber inspirasi Bunda. Bunda memang bukan ibu yang sempurna, tapi Bunda, sama seperti ibu-ibu yang ada di dunia ini, sangat mencintai anak-anaknya. 

Komik ini nggak cuma mengajari banyak hal atau mengajak menertawai diri sendiri melihat tingkah laku "perwakilan" anak-anak di dunia. Buku ini berhasil mengajak Bunda bersyukur atas semua yang Bunda miliki, termasuk kalian berdua juga papa. Buku ini juga berhasil mengajak Bunda membuka wawasan, bukan cuma kalian anak-anak yang heboh. Anak-anak memang pada dasarnya heboh dan itu normal. Alaminya anak-anak. 

Karena Bunda pesan buku ini pas pre-order, Bunda dapat hadiah stiker.

 
Oya. Buku ini jadi rebutan Bunda dan papa, lho! Setelah Bunda berhasil menyampulinya dulu, Bunda langsung kasih ke papa, biar papa baca duluan. IH! Ga sampai lima menit, papa selesai bacanya. Huhuhu... I envy you, papaaa... Bunda butuh 30 menit buat beresin baca... :(


Kesimpulannya, sih... Ilmu parenting itu nggak melulu harus teori pakar. Ilmu parenting bisa dibagi oleh semua orang yang mengalami menjadi orangtua dengan keseharian mereka menjadi orangtua. Berbagi pengalaman menjadi orangtua itu juga ilmu parenting. Dan ilmu parenting juga ga melulu harus dituangkan dalam bentuk teks. Komik seperti yang dibuat Mamomics ini terbilang unik tapi jleb. "Pesan"nya sampai.

Tentu saja, Bunda suka buku ini. Nggak salah, kan, kalo Bunda sematkan empat bintang untuk Mamomics edisi pertama ini? Bunda doakan, ada Mamomics edisi kedua dan seterusnya. Ada yang Bunda tunggu. Karya Uwak Sheila Rooswita belum masuk, nih ^_^


Nah, Kakak Ilman dan Adik Zidan... makasih, ya... udah jadi inspirasi Bunda. Memang nggak mudah untuk ga marah-marah kalo kalian ngeselin. Setiap hari, Bunda belajar dari kalian... Doakan, Bunda dan papa selalu mampu memperbaiki diri dan bisa menjadi orangtua terbaik untuk kalian...

Cheers! Love you both, 
Terusin baca - Curhatan Emak-emak dalam Komik - Mamomics

29 Agu 2013

[Posting Bareng BBI Sastra Indonesia] Hujan Bulan Juni - Sapardi Djoko Damono

source
Judul: Hujan Bulan Juni
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Editum
Jumlah halaman: 103 halaman, paperback
ISBN13: 978-602-959-154-5
Status: Punya. Beli titip ama tante Danee
 Genre: Puisi, Sastra Indonesia
 




Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
 
Kabar per hari ini, alhamdulillaah, trombosit papa sudah balik ke angka normal. Papa udah boleh istirahat di rumah... Yay... It means... Bunda balik ke kehidupan semula: back to work dan blogging :D
 
Ini dia, saatnya posting bareng sama teman-teman BBI. Bulan ini pilihannya ada dua: Sastra Indonesia, yang diposting hari ini, 29 Agustus 2013 dan Buku Bertema Perang, yang diposting besok, 30 Agustus 2013.

Karena satu dan lain hal, Bunda ga sempat baca buku bertema perang. Bunda cuma sempat baca buku Hujan Bulan Juni, karya Sapardi Djoko Damono. 


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..


Aku Ingin - SDD, 1989

Bunda kenal puisi di atas, sewaktu Bunda masih kuliah. Teman-teman Bunda penyuka puisi, pernah menulisnya di Maklumat. Maklumat itu adalah bukom (buku komunikasi) buat pembina PAS. Nah, waktu itu, Bunda meresapi banget setiap kata di sana, lalu langsung jatuh cinta pada karya SDD.

Bunda suka puisi? Iya, Bunda suka puisi. Sewaktu SMP dulu, tiap minggu Bunda sering nulis puisi. Tapi, menjelang SMA, Bunda suka pengen ngetawain karya-karya Bunda. Untunglah, ga ada yang tersimpan, jadi nggak ada bahan tertawaan X))
 
 tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
 tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu


tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu


Hujan Bulan Juni - SDD, 1989
 
Nah, sewaktu Bunda kenalan dengan puisi di atas, Bunda merasa ada sesuatu di puisi ini yang teramat dalam. Terutama di kalimat "dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu". Bikin galau nggak, sih? :D

Kalo pernah mengalami kisah kasih tak sampai, kalimat "dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu" sungguh bikin jleb-jleb di hati. Iya, ini pengalaman Bunda, kok. Pernah mengalami kisah kasih tak sampai... Mwahahaha... Makanya, ngena banget di hati :D #curhaaaaat

Kebanyakan kumpulan puisi di dalam kumpulan puisi Hujan Bulan Juni ini termasuk suram-suram bikin merinding gimanaaaa gitu...

Contohnya ada yang berjudul Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati, Berjalan di Belakang Jenazah, Maut, Pada Suatu Pagi Hari, Catatan Masa Kecil, dan masih banyak lagi. Bukan SDD kalo puisinya meski suram ga bikin nagih...

Ada kekuatan magis di setiap kata yang disusun di dalam puisi-puisinya, yang bikin terkadang hati berasa trenyuh, dirayu, dan lain-lain. Misalnya Aku Ingin itu. Kata-katanya sederhana, tapi dalem.
 
Kayaknya ini nggak bisa disebut review, karena Bunda belum sempat melakukan riset mendalam mengenai setiap puisi. Mungkin next time, Bunda akan buat posting tersendiri, termasuk perenungan Bunda mengenai puisi-puisi ini.  

Dan Bunda akan menutup tulisan ini dengan puisi favorit Bunda lainnya

hidup telah mendidikmu dengan keras
agar bersikap sopan
misalnya buru-buru melepaskan topi
atau sejenak menundukkan kepala
jika ada jenazah lewat

hidup juga telah mengajarkanmu
merapikan rambutmu yang sudah memutih
membetulkan letak kacamatamu
dan menggumamkan beberapa larik doa
jika ada jenazah lewat

agar masih dianggap menghormati
lambang kekalahannya sendiri

Ajaran Hidup - SDD, 1992


Ditulis untuk ikut Posting Bareng BBI Sastra Indonesia, dengan hash tag #PostBarAgt #SastraIndonesia



Oh, iya! Pas Bunda gugling image untuk Hujan Bulan Juni, Bunda lihat ada banyak banget foto hujan. Nah, karena objek favorit kalo Bunda memotret emang air, terutama tetesan air, Bunda pengen kasih lihat beberapa karya foto Bunda tentang hujan :D

ini diambil dari kamar 745 RS Santosa, sewaktu nungguin Kakak Ilman yang dirawat, pake si Ipin (ponsel iphone)




dari semua foto yang Bunda buat untuk objek hujan, puisi Hujan Bulan Juni itu emang benar adanya, ya... Empat jempol buat pak SDD untuk Hujan Bulan Juni...
Terusin baca - [Posting Bareng BBI Sastra Indonesia] Hujan Bulan Juni - Sapardi Djoko Damono

23 Mei 2013

Bad Girls


Judul: Bad Girls
Penulis: Jacqueline Wilson
Ilustrator: Nick Sharratt
Diterbitkan oleh: Corgi Yearling Book
Tahun diterbitkan: 1997
Teenlit, Novel
ISBN: 0-440-86356-95
ISBN13: 9-780440-863564
Paperback
Status: Punya. Beli seken di BukuMoo.




Kim's gang had better watch out! Because Tanya's my friend now, and she'll show them!

Mandy has been picked on at school for as long as she can remember. That's why she is delighted when cheeky, daring, full-of-fun Tanya picks her as a friend. Mum isn't happy - she thinks Tanya's a BAD GIRL and a bad influence. Mandy's sure Tanya can only get her out of trouble, not into it... or could she? (from back cover)

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Walau Bunda ngumpulin e-book Jacqueline Wilson, jujur aja, baru dua yang dibaca. *sigh*

Kenapa Bunda suka buku-buku bu Jacqueline Wilson? Bukunya cewek banget. Hehehe...
Gaya bu JW agak mirip lah dengan gaya bu Ono Eriko dalam menyampaikan cerita. Bedanya, kalo bu Ono kan pake komik, kalo bu JW pake cerita dalam bentuk novel.

Bad Girls ini tentang apa, Bun?

Ada gadis bernama Mandy White yang selalu jadi sasaran empuk bullying teman sekelasnya, Kim. Nggak hanya itu, Kim bersekongkol dengan Melanie, yang dulu pernah jadi sahabat karib Mandy dalam bullying ini.

Suatu ketika, Mandy tidak melihat jalan dan dia tertabrak bus. Hal ini membuat ibunya protes pada gurunya, bullying sudah membuat Mandy celaka.

Di saat masa istirahat pemulihan dari kecelakaan itu, Mandy kenalan dengan gadis berpenampilan aneh, bernama Tanya, yang ternyata usianya nggak terlalu jauh. Yah, keliatannya, Tanya bukan gadis baik-baik kalo dari penampilannya.

Setelah berakrab ria dengan Tanya, ibu Mandy justru resah. Pertama, karena ibu Mandy tidak suka penampilan Tanya, berikutnya, karena Tanya nggak jelas latar belakangnya. Ibu Mandy khawatir kalo Tanya justru akan memberi pengaruh pada Mandy yang cerdas.

Dan memang, sih, ada beberapa perilaku Tanya yang justru melibatkan Mandy dalam masalah. Hanya saja, itu tidak membuat rasa sayang Mandy terhadap Tanya luntur, karena Tanya-lah yang tulus padanya.

So far, ceritanya begitu seru dan menakjubkan. Banyak kejutan yang nggak Bunda sangka ada di dalam cerita ini. Bullying, apapun bentuknya, bukanlah perbuatan baik dan menyenangkan.

Bunda mau kutip kalimat yang diucapkan guru kelas enam Mandy, Miss Moseley, ketika mereka membuat lingkaran di kelas, membahas bullying.


"And I think we have to try to work out why people bully. Then we can maybe stop it before it gets too much of a habit. So. Why do you think people bully?"

"Are bullies happy people?"

"Think about when you're very very happy. Say it's your birthday and all your family and friends have given you a big hug and some lovely presents and you feel really great. Now, do you want to hurt anyone when you're in that short of situation?"
"Of course not, you just want to be nice to people. But suppose you've had a really bad day and got into trouble at school and your friends got off with someone else and your mum and dad are cross and they've given you little sister a treat and yet they just tell you off... Do you want to be nice to people now? Or do you feel like being nasty?"

"No-one ever asks to be bullied. But you're right, sometimes people get bullied because they're stupid. Though that's not a very kind word. People can't help it if they're not very bright. And that's a terrible reason for bullying someone, just because they're not clever."

"And other times someone can get bullied because they're ever so clever. Say they come top of the class and the bully doesn't like it because they're clever too and they want to be top."

"The big baboon screams a lot and bites all the little ones. All the other big baboons copy, screeching and scratching for fleas. Now, no-one here in my class wants to act like a bully baboon with a bright red bottom, do they?"

Nah. Kalo Kakak Ilman dan Adik Zidan menjadi saksi bullying, laporkan. Kalo kalian juga jadi korban bullying, ngomong ke Bunda atau Papa, ya... Kita harus hentikan semua bentuk bullying. Bunda pengen kalian berdua tahu, Bunda akan memerangi semua bentuk bullying...

Love you, kiddos...

diposting untuk ikut Fun Year Event with Children's Literature



Oh! Anyway by the way busway! Bunda punya freebies buat teman-teman Bunda berupa bookmark yang bisa diunduh!

Ini previewnya...



Kalo mau unduh, silakan klik link ini, ya... ^^

Terusin baca - Bad Girls

31 Des 2012

[Review Bareng BBI] The Time Keeper - Sang Penjaga Waktu




Judul buku: The Timekeeper - Sang Penjaga Waktu
Penulis: Mitch Albom
Alih bahasa: Tanti Lesmana
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama Oktober 2012
Jumlah halaman: 312 halaman; 20 cm
ISBN: 978-979-22-8977-0
Fabel Fantasi
Status: Punya. Beli sendiri di Rumah Buku Bandung
Harga: IDR 50,000 (diskon 15%)



Dari penulis yang telah menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia dengan buku-bukunya, Tuesdays with Morrie dan The Five People You Meet in Heaven, kini hadir novel barunya, The Time Keeper - fabel tentang manusia pertama yang menghitung waktu di bumi. Orang yang kelak menjadi sang Penjaga Waktu.
Dialah pencipta jam pertama di dunia. Dia dihukum karena mencoba mengukur anugerah terbesar dari Tuhan, diasingkan ke dalam gua hingga berabad-abad dan dipaksa mendengarkan suara orang-orang yang minta diberi lebih banyak waktu. Lalu dia kembali ke dunia kita, dengan membawa jam pasir ajaib dan sebuah misi: menebus kesalahannya dengan mempertemukan dua manusia di bumi, untuk mengajarkan makna waktu pada mereka. (dari cover belakang buku).
Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Pertama kalinya dalam hidup Bunda, Bunda baca buku gres yang baru keluar dari penerbit :D
Lihat aja, terbitan Oktober 2012, dibaca Desember 2012, itu pun karena ada momen baca bareng sama teman-teman BBI. Hahaha...
Biasanya, kan, Bunda beli buku yang justru udah lama banget terbit. Atau, kalo pun masih baru terus dibeli, diendapin dulu lamaaaa banget.

Dan buku ini termasuk cepat kelar juga bacanya. Bunda sempat pesimis, sih. Takut nggak sampai dua hari dari pertama kali buka plastiknya. Ternyata memang benar. Lebih dari dua hari Bunda baru bisa selesaikan baca. Padahal, menurut tante Melisa, dia cuma baca tiga jam aja. Well, Bunda belum pernah punya waktu sampai benar-benar tiga jam hanya untuk membaca buku. Pastinya cuma tahan satu jam paling lama, itu pun di angkot, karena kalo lagi nggak di angkot, pastinya banyaaaak banget aktivitas yang bakalan Bunda lakukan.

Meski makan waktu empat hari, mungkin kalo setiap menitnya Bunda hitung, sebetulnya hanya sekitar 3-4 jam aja bacanya. Yah, diselingi sambil ngerjain kerjaan kantor, paper quilling, cuci setrika, ngurusin kalian berdua, ngobrol sama papa, belum lagi sempet mogok gara-gara terserang pening sangat parah kapan itu, ples main game.... jadi aja "makan waktu" empat hari. Hahaha. Akhirnya, Bunda nggak jadi baca buku bergenre GLBT seperti yang direncanakan semula, deh. Hiks...

Bunda sangat suka baca buku ini. Kenapa? Buku ini asik, keren, dan...
Pokoknya Bunda suka!

The Timekeeper bercerita tentang seorang Dor yang hidup di masa ribuan tahun yang lalu, ketika peradaban belum semodern sekarang. Sejak kecil, Dor bersahabat dengan Alli, juga Nim. Sejak kecil, Dor suka berlari-lari di bukit bersama Alli dan berbeda dengan anak-anak yang lain, Dor suka mengamati gerakan air, pasir, tongkat-tongkat yang kelak menjadikannya seorang pencipta pengukur waktu.
Pada masa dewasa, Dor menikah dengan Alli, sementara Nim menjadi raja yang kaya raya. Kehidupan Dor dan Alli tidaklah mewah, malah sangat kekurangan. Nim pernah menawarkan Dor untuk ikut dengannya, tapi Dor menolaknya dan membuat Dor dan Alli terusir, terpisah dari anak-anaknya.
Suatu ketika, Alli sakit parah dan membuat Dor ingin menghentikan penderitaan Alli. Dor berlari lalu menghancurkan menara sangat tinggi yang sedang dibangun oleh budak-budak Nim dan dari situ segalanya berubah. Dor terperangkap ke dalam sebuah gua dan hidup abadi selama ribuan tahun kemudian.

Dor terpenjara di sebuah gua selama ribuan tahun. Anehnya, dia tidak berubah menjadi tua. Di dalam gua itu, dia mendengarkan berbagai suara, yang semuanya berhubungan dengan waktu.
Dor akan kembali pada kehidupannya semula, jika dia sudah menemukan dua orang yang saling "berhubungan".

Ada dua tokoh utama lain di sini. Bunda akan ceritakan satu-satu, ya...

Sarah Lemon.
Gadis kelas tiga SMA yang sangat cerdas, namun bertubuh gemuk dan tidak terlalu cantik, bekerja sambilan di tempat penampungan. Dia termasuk kutu buku yang nggak begitu gaul dengan teman-temannya. Dunianya berubah ketika dia bertemu dengan Ethan di tempat penampungan itu. Ethan sering mengirimkan bahan makanan untuk tempat penampungan.
Sarah menyukainya, Ethan juga memanggilnya Lemon-ade. Ketika pertama kalinya Sarah mengajaknya kencan, Ethan tiba-tiba membatalkannya. Ketika akhirnya mereka "berkencan" betulan, Sarah mengira Ethan menginginkan dirinya. Sewaktu tahu bahwa Ethan telah mempermalukannya di sebuah jejaring sosial, Sarah memutuskan untuk bunuh diri.

Victor DelamonteSeorang lelaki pebisnis kaya raya, yang sudah berusia 80-an dan sakit-sakitan, tidak ingin meninggal. Dia ingin hidup abadi. Maka, ketika dia akhirnya menemukan teknologi krionika yang katanya akan membuatnya hidup abadi, dia memutuskan untuk menghentikan berbagai pengobatannya supaya dia bisa diawetkan dan dibangkitkan lagi ketika obat yang dibutuhkan untuk menyembuhkan penyakitnya sudah ditemukan. Dia akan melanjutkan hidupnya sebagai pebisnis kaya raya.
Namun, dia menyembunyikan semuanya dari istrinya, Grace, yang sangat mencintainya.

Sarah dan Victor dipertemukan oleh Dor pada momen tahun baru, ketika Sarah bunuh diri dan Victor menuju laboratorium tempat dia akan diawetkan sementara itu.

Endingnya sih bisa ditebak, kok, kayak gimana.

Bunda suka cara Mitch Albom bercerita di sini. Bagaimana kita sebagai pembaca hanyut dalam perenungan-perenungan yang dalam tentang waktu.

Di situ, Dor bilang, bahwa ketika dia mendapatkan keabadian, dia justru nggak mendapatkan apa-apa. Dia merasa hampa dan itu bukan kebahagiaan.
Setiap orang berusaha berefisiensi terhadap waktu supaya bisa melakukan hal yang lainnya dalam waktu yang sama, tapi mereka tidak menikmatinya. Semakin orang meminta waktu lebih banyak, justru semakin tidak menikmatinya.

Dipikir-pikir bener juga, ya. Kita selalu dikejar waktu, takut terlambat, takut ketinggalan, lalu kita nggak bisa menikmati waktu yang berjalan. Waktu terasa berlalu begitu cepat.

Bunda jadi ingat obrolan Bunda dengan Mbah Nata beberapa waktu yang lalu, sewaktu Bunda dan Mbah Nata sama-sama nggak libur di hari kejepit nasional menjelang libur Natal kemarin.
Mbah Nata bilang, "Orang-orang sekarang berpikir terbalik. Di hari Senin sampai Jumat, mereka mikirin rencana hari Sabtu. Sewaktu datang hari Sabtu, mereka malah memikirkan apa yang akan mereka kerjakan hari Senin."

Setiap hari Jumat, baik di Facebook maupun di Twitter, Bunda pasti nemu orang menulis, "TGIF". Thanks God, It's Friday. Kenapa? Dengan bertemu hari Jumat, maka sehari kemudian akan bertemu dengan hari Sabtu. Di mana Sabtu dan Minggu adalah hari libur bagi orang-orang yang sehari-harinya kudu berangkat kerja di kantor.

Entah kenapa, buat Bunda semua hari itu sama menyenangkannya. Memang, hari Sabtu, Minggu atau hari libur lainnya, waktu Bunda dengan Kakak Ilman, Adik Zidan, dan papa jadi lebih banyak karena Bunda nggak harus pergi ke kantor. Tapi bukan berarti bahwa Bunda nggak suka hari Senin sampai Jumat, lho.
Bunda selalu menikmati hari-hari yang Bunda lewati, dan Bunda selalu ingin, setiap hari ada satu momen menyenangkan yang bisa Bunda syukuri.

Setelah membaca buku ini, Bunda semakin ingin menikmati setiap detik yang dianugerahkan kepada Bunda. Detik-detik kencan Bunda bersama Allah. Sama papa. Sama Kakak Ilman dan Adik Zidan. Sama buku-buku. Sama makanan. Sama cucian. Sama game yang Bunda mainkan. Sama semua pekerjaan yang menjadi tugas Bunda. Sama teman-teman Bunda. Dan masih banyak lagi.
Akhirnya, satu kalimat yang selalu keluar menjelang tidur: Alhamdulillaah. Terima kasih, ya, Allah, untuk setiap detik yang diberikan kepada Bunda.

Oke, kalo dari sisi ceritanya di buku ini, Bunda sangat menikmatinya.
Terus, baca buku ini nggak capek karena efek setiap bab yang ditulis sedikit-sedikit. Baru aja buka halaman keempat, eh, ternyata udah selesai bab itu. Jadi, bacanya bikin semangat karena nggak panjang dan melelahkan. Keren juga triknya, nih.

Kalo soal terjemahannya... Bunda baik-baik aja, kok. Lumayan enak dan mengalir. Typo ada, sih, tapi nggak banyak sampai bikin ilfeel.

Cover!
Meski covernya beda sama novel bahasa aslinya, cover yang ini Bunda suka juga. Elegan dan tampak keren. Mencerminkan isi bukunya, deh. Hehe. Maklum, Bunda termasuk aliran "judge the book by the cover" :D

Bunda akan tutup postingan terakhir di tahun 2012 ini dengan harapan semoga di tahun 2013 nanti, Bunda lebih konsisten ngisi blognya. Kalo bisa, setiap abis baca, ada waktu buat mereview biar bisa lebih fokus dan masih segar dalam ingatan.
Target bacaan juga akan Bunda perbaiki. Pokoknya, berharap kehidupan lebih baik di tahun 2013.

Ini kalimat di buku yang bikin Bunda nyaris menangis.
"Ada sebabnya mengapa Tuhan membatasi hari-hari kita."
"Mengapa?"
"Supaya setiap hari itu berharga."
Yuk! Yang masih nggak menikmati hari-hari atau masih bilang "today is not my day", kita ubah cara berpikir kita. Setiap hari itu diciptakan Tuhan berharga, lho!
Terusin baca - [Review Bareng BBI] The Time Keeper - Sang Penjaga Waktu