31 Mei 2012

Mau Jadi Penulis? Baca Ini Dulu....




Judul: How to be a Writer
Penulis: Primadonna Angela
Desain cover: maryna_design@yahoo.com
Layout isi dan ilustrasi: eMTe
Cetakan pertama: Februari 2012
Diterbitkan oleh: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Teenlit
Jumlah halaman: 232 hlm, 20 cm
ISBN: 978-979-22-7983-2
4 dari 5 bintang


Bagian Pertama:
Zoya Zinnia yakin dirinya genius dalam menulis. Bukankah Bu Molly, guru Bahasa Indonesia-nya, selalu berkata demikian? Sayang, Bu Molly cuti dan digantikan Bu Selma. Guru yang satu ini, sudah nggak bisa dandan, payah pula dalam mengenali bakat. Apa perjalanan Zoya sebagai penulis harus berhenti gara-gara Bu Selma?

Bagian Kedua:
Berminat menjadi penulis? Nggak hanya sekadar mimpi. Di sini akan dipaparkan cara mengejar ide dan mengembangkannya, sehingga kamu pun, asal tekun, bisa menyelesaikan naskahmu sendiri. (dari cover belakang)

Halo, kakak Ilman dan adik Zaidan...
Bunda baru kelar baca satu buku ini, ngebut. Hihi. Soalnya dengar BBI ada acara posting bareng hari ini. Ya Bunda nggak mau ketinggalan. Soalnya, kalo nggak gitu, nggak ada progresnya nanti.
Membaca pake target? Antara nikmat sama nggak, sih. Terkadang jadi beban. Hehe. Hanya saja, buat Bunda ini sebagai latihan disiplin. Halah!

Judulnya memang How to, yang setiap orang yang baca, pasti langsung nebak, "ini pasti buku teori tentang ..." 

Memang betul! Seperti judulnya, buku ini memang tentang bagaimana caranya menjadi penulis. Teori bagaimana menjadi seorang penulis, dari sisi pengetahuan penulisnya. Makanya nggak ada sumber referensinya. Sebab, ini benar-benar apa yang dialami penulis.
Bedanya, penuturan yang disampaikan nggak melulu tentang teori. Di awal, tante Donna cerita dulu tentang Zoya, yang sakit hati oleh Bu Selma, menggantikan Bu Molly yang sedang cuti melahirkan, untuk mengajar Bahasa Indonesia. Kenapa Zoya sakit hati? Sebab, baru kali ini, tulisan Zoya bukannya dipuji habis-habisan oleh Bu Molly sebagaimana biasanya, malah mendapat kritikan dan disuruh riset supaya tulisan Zoya lebih hidup dan tidak mengada-ada.

Ya. Riset memang penting. Jangankan untuk menulis cerita atau artikel, menulis review buku sekalipun, perlu sekali tentang riset. Bunda pernah baca ini di sini, tips tentang menulis review. Di sana jelas banget pada poin keempat, riset itu penting dalam menulis!

Over all, banyak teori tentang 'how to write" yang memang sudah Bunda ketahui sebelumnya. Well, gini-gini Bunda sebetulnya suka menulis dan pernah melalap buku-buku yang mengusung tema "how to write". Dan terpaksa menulis, karena berhubungan dengan pekerjaan Bunda. Hahaha. Dan dulu sekali, mantan pacar Bunda (bukan papa, lho, ya :D) sangat menginginkan Bunda buat jadi penulis. Pakde Iwan juga sama, tuh! Ngedukung banget Bunda buat nulis. Tapi... (eh, kata Tante Dona di buku ini, ga boleh bilang "tapi" kalo mau jadi penulis!)

Buku ini habis-habisan nyepet Bunda. Mungkin itu memang common problem penulis, kali, ya. Writer Blockitis, istilahnya. Hihihi. Mulai dari nggak tahu mau nulis apa, ngerasa buntu, dikit-dikit pengen ngedit tulisan sampe akhirnya mikir yang nggak-nggak tentang tulisan sendiri. Hawhawhaw...

Kalo bicara soal cover... Dari semua buku Tante Donna, Bunda paling suka cover yang ini. Simpel, nggak pake ribet. Dan font-nya! Bunda senang sekali menemukan font baru di novel yang nggak melulu Times New Roman atau Century. Hihi. Beneran, deh. Bunda bosan sama buku yang font-nya Times New Roman. Padahal font itu kan banyak! Kenapa harus ketemu dengan Times New Roman lagi kalo baca buku? Makanya, mata berasa sangat dimanjakan dengan munculnya font lain, selain TNR :D

Nah, di buku ini, muncul sisi Tante Donna yang Tante Donna. Maksudnya, kita kayak ngobrol sama Tante Donna. Bukan lewat cerita, tapi seolah-olah kita lagi dengerin tips dari beliau tentang gimana sih, caranya jadi penulis. Bunda memang lebih banyak berinteraksi dengan Tante Donna di Plurk atau Twitter, jadi cara penuturan di buku ini (di luar cerita tentang Zoya itu, ya), kayak ngobrol sama beliau aja.

Yang pasti, begitu selesai baca buku ini, Bunda tergerak buat menulis. Salah satunya nulis review ini. Hihihi... Masalah bagus nggaknya, gimana nanti. Yang penting Bunda nulis dulu. Bunda yakin, alah bisa karena biasa. Makin sering latihan, makin terpoles juga, kan nantinya...

Dikarenakan Tante Donna udah berhasil nyepet Bunda habis-habisan dan jadi tergerak buat mulai menulis lagi (minimal membenahi blog-blog Bunda) dan juga mengingatkan Bunda akan beberapa tips dari mantan pacar Bunda yang dia dapat dulu dari dosen pembimbingnya (semisal, cari variasi kata biar nggak pake kata yang sama, dan seterusnya), Bunda mau kasih Tante Donna empat bintang buat buku ini. Hihihi.

Maaf, ya, Kakak Ilman dan Adik Zidan... Bunda sama sekali nggak bermaksud nginget-nginget mantan pacar Bunda, kok. Cuma inget gimana dukungannya dulu sama Bunda supaya Bunda menulis. Hehe. Papamu tetap the only one ;)




5 komentar:

  1. hihihi, lucu reviewnya... suka ngikutin reviewnya

    BalasHapus
  2. ma kasih, mbak sinta... hehe...

    BalasHapus
  3. iya, mb peni ini nulis reviewnya nggak biasa :)

    BalasHapus
  4. nggak biasa gimana, niiih? :D

    BalasHapus
  5. salam kenal mba.. aq dah punya bukunya, tp belum dibaca.. jadi penasaran banget setelah bca reviwe ini.. Setuju ma mb Peri Hutan, gaya mb mereview gak bisa dalam arti kata segar dan nancep di hati..;)

    BalasHapus

tirimikisih udah ninggalin komen di sini... *\(^0^)/*