Tampilkan postingan dengan label teenlit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teenlit. Tampilkan semua postingan

30 Jan 2015

PostBarSSBBI2014 - Meet the Sennas by Orizuka


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Sama seperti di postingan sebelum posting ini, Bunda tetep nggak akan ngebongkar siapa Santa Bunda. Hihihi. Bunda hanya akan posting review aja. Sebetulnya nggak wajib review keduanya, sih. Tapi, berhubung Bunda udah kelar bacanya (salah satunya karena ada event Readathon Day pada hari Sabtu lalu, 23 Januari 2015), Bunda merasa harus bikin reviewnya juga. Ini salah satu bentuk terima kasih Bunda pada Santa, kan...


Judul: Meet the Sennas - Bahkan Matematika pun Nggak Serumit Cinta
Penulis: Orizuka
Penyunting: Dellafirayama
Penyelaras aksara: Fakhri Fauzi, Lian Kagura
Penata aksara: Nurhasanah
Perancang Sampul: Fahmi Ilmansyah
Penggambar ilustrasi: Maima Widya Adiputri
Diterbitkan oleh teen@noura
Cetakan I, Januari 2014
ISBN: 978-602-7816-66-4
Jumlah halaman: 364 + Galeri halaman, 13x19 cm
Genre: Novel Remaja, Romance, Family, Young Adult, Coming of Age, Indonesian Literature, Contemporary Fiction, Humor
Status: PUNYA. Hadiah dari Santa

Aku Daza Senna.
Anak kedua dari tiga bersaudara. Yang artinya aku anak tengah...

Astaga. Aku menulis apa, sih?
Oke, mari coba lagi.

Aku Daza Senna.
Aku tinggal bersama orang-orang yang sama sekali tak bisa disebut normal. Dan sialnya, orang-orang itu adalah keluargaku.

Hmm, ini sudah lebih bagus.

Siapa sih yang mau tinggal dengan orang-orang yang memberi semacam formulir pendaftaran dan serangkaian ujian kepada setiap cowok yang ingin dekat denganku? Memangnya cowok-cowok itu mau SNMPTN? Coba bayangkan penderitaanku. Belum terbayang? Berarti kalian harus bertemu dengan mereka.

Tinggal bersama keluarga besar yang hampir semuanya "aneh" itu luar biasa. Hihihi. Setiap hari, pasti ada yang dicemaskan. Ketika Daza ulang tahun ke-17, semua anggota keluarganya memberinya hadiah-hadiah luar biasa. Luar biasa menyebalkan maksudnya. Mulai dari Bundanya yang menghadiahinya Rumah Barbie, Ayahnya yang menghadiahinya piano Casio kecil (aduh, itu jaman Bunda SD, harganya mahaaaaal banget! Tapi keren, dan Bunda seneng banget maininnya. Entah barang itu berada di mana sekarang. Sudah rusak, mungkin?), Kakek yang menghadiahinya sempoa, Nenek yang memberinya ban renang berbentuk bebek berwarna pink, Om Sony memberi komik Doraemon jilid pertama, Tante Amy yang menghadiahi Daza sebuah diari dengan bau menyengat, Denis, abang Daza, memberinya gamewatch Tetris yang bisa ditekuk, dan terakhir, Zenith, adik Daza, memberinya permainan halma.

Sebenernya semuanya nggak aneh, sih, kalo menurut Bunda. Namanya juga hadiah ulang tahun. Tapi yang paling ajib emang hadiah dari Bunda dan Nenek. Di satu sisi, ini jelas aneh, sebetulnya, mengingat ternyata, Kakek dan Ayah Daza adalah konglomerat. Jadi, mereka pasti mampu beliin hadiah super mewah. Kemudian, di sisi lain, Daza adalah seorang gadis SMA yang sedang bertumbuh, wajar saja kalo dia berharap ada hadiah keren, misalnya mobil (ingat, ini Daza yang sedang berulang tahun ke-17, berasal dari keluarga kaya tujuh turunan, dan sudah boleh punya KTP juga SIM, kan?) atau apa, deh, hadiah lain yang agak-agak waras. 

Nggak sampai di situ. Tante Amy sedang hamil besar, ternyata menikah dengan teman kuliahnya, yang lalu meninggalkannya, tapi Tante Amy santai aja. Kayak nggak ada masalah atau beban, padahal dia sedang mengandung. Badass, sih, menurut Bunda, Tante Amy ini. Karena dia santai dengan persoalan besar ini. Kebayang kalo Bunda yang ngalamin.

Cerita bermula dari keputusan Ayah untuk memberi Daza seorang guru les matematika. Guru les matematika Daza ini adalah sahabat Dennis yang super galak. Udahlah Daza benci Matematika, ditambahin lagi harus les Matematika, setiap hari. Namanya Logan.

Ternyata, Logan ini galak-galak ngangenin. Meski Logan galak, judes, menyebalkan, dia telah berhasil membuat Daza memikirkannya. Kalo Daza bertanya urusan pribadi Logan, Logan pasti marah dan memintanya untuk nggak mencampuri urusannya.

Sementara itu, ada seorang Dalas yang manis, yang jelas-jelas suka padanya. Mereka memutuskan jadian, tapi back street, karena Daza khawatir, Dalas akan dikerjai oleh keluarganya. Ternyata benar! Meski mereka pacaran back street, ketahuan juga hingga akhirnya Dalas harus mengikuti ujian demi ujian supaya bisa menjadi bagian dari keluarga Daza. Duh. Kebayang, ya, kalo anak Bunda diperlakukan begitu sama keluarga pacarnya... Bunda pasti nggak rela. Terlebih lagi, ternyata emang keluarga Daza nggak menginginkan keberadaan Dalas, meskipun Daza suka padanya atau Dalas suka banget sama Daza.

Meet the Sennas menurut Bunda pas buat jadi bacaan remaja. Dari segi bahasa dan penuturan enak banget, mengalir. Humor yang dilemparkannya juga segar, nggak krik krik. Gaya penuturan Orizuka nggak kaku untuk novel remaja ini. Bunda kemudian baru tahu kalo ternyata sebelumnya, Meet the Sennas pernah diterbitkan dengan judul berbeda di tahun 2006. Nggak diceritakan oleh penulisnya gimana nasib bukunya itu. Yang jelas, di Meet the Sennas, pastinya banyak perombakan yang disesuaikan dengan tahun terbit, 2014.

Covernya pun dibuat segar. Warnanya eye catching, meski Bunda nggak ngerti, kenapa gambarnya harus roti? :D Bookmarknya juga lucu.
Ilustrasi bagian dalam juga pas untuk ukuran novel remaja. Cuma bagi Bunda, masih kurang bikin naksir sama Logan kalo berdasarkan ilustrasi semata. Tapi, Bunda bisa kebayang cakepnya Logan atau cute-nya Dalas, kalo dari imajinasi cerita. Hihihi...

Sepertinya, Bunda masih bisa baca novel buat remaja, ya. Hihihi. Mungkin aja, kalo teman-teman seusia Bunda baca ini bakal bilang, garing atau apa. Bunda sih suka-suka aja. Walau Bunda emang nggak berharap banyak sama cerita ini, Bunda mendapat twist yang cukup keren. Bunda kasih tiga untuk Meet the Sennas ;)


Cheers! Love you both! xoxo




Terusin baca - PostBarSSBBI2014 - Meet the Sennas by Orizuka

5 Mei 2014

Does My Head Look Big in This? by Randa Abdel-Fattah


Judul: Does My Head Look Big in This? - Memangnya Kenapa Kalau Aku Pakai Jilbab?
Penulis: Randa Abdel-Fattah
Alih bahasa: Alexandra Kirana
Editor: Meliana Simamora
Desain cover: Marcel A.W
Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama, Juli 2007
Jumlah halaman: 352 hlm; 20 cm
ISBN-10: 979-22-3050-5
ISBN-13: 978-979-22-3050-5
Genre: Young Adult, Realistic Fiction, Religion - Islam, Teenlit, Cultural - Australian, Contemporary Fiction, Novel
Status: Punya. Beli seken dari tante Natnat.


Sekolah di sekolah swasta bergengsi di Australia sudah cukup berat tanpa harus memakai jilbab...

Apa yang bakal dikatakan teman-teman sekelas Amal hari Senin saat Amal berjalan masuk memakai jilbab untuk pertama kalinya? Wah, mereka pasti bakal ngeri. Memakai jilbab? Di depan anak-anak satu sekolah? SERIUS NIH?

Keputusan Amal untuk memakai jilbab membutuhkan banyak keberanian. Bisakah ia menghadapi prasangka, menjaga teman-temannya, dan masih menarik perhatian cowok paling ganteng di sekolah?

Kisah cewek ABG Australia keturunan Palestina-Muslim yang sarat dengan pesan keberanian dan ketulusan.


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Bunda baru kali ini, deh, baca teenlit terjemahan suasananya religius. Buku ini cerita tentang seorang Amal Mohamed Nasrullah Abdel-Hakim, baru satu semester pindah ke sekolah swasta bergengsi - McCleans, dari sekolah Hidaya - sekolah khusus Muslim, di mana di Hidaya, jilbab adalah bagian dari seragam, memutuskan untuk memakai jilbab full-timer. Maksudnya pakai jilbab full-timer itu adalah pakai jilbab baik keluar rumah, di rumah ketika ada non mahrom, dan bukannya pakai jilbab karena mau sekolah aja. 

Karena Amal tinggal di Australia yang multi kultural dan Islam bukan agama mayoritas penduduk, tentu ini menjadi sangat sulit. Masih banyak yang beranggapan bahwa jilbab adalah budaya Arab, bukan aturan agama Islam. Sulit karena sepertinya, memakai jilbab itu dianggap teroris. Muslim di negara dengan penganut agama Islam minoritas sering mendapatkan perlakuan rasis. Apalagi kalo menunjukkan identitasnya sebagai Muslim secara terang-terangan, terutama untuk kaum Hawa, dalam hal ini berhijab. Perlakuan rasis ini mulai dari dipanggil "ninja", dilihat secara jijik dari ujung kepala sampai kaki, atau bahkan diludahi dan dilecehkan secara seksual. Na'udzubillaahi min dzaalik.

Ini juga yang jadi pertimbangan Amal. Sejujurnya dia nggak mau jadi pusat perhatian, di mana setiap dia berada - setelah pakai jilbab - orang ngeliat dia sebagai alien, orang aneh, dan seterusnya. Tapi di satu sisi, dia ingin menaati apa yang diperintahkan Allah untuk perempuan yang sudah baligh, yaitu berjilbab. Bahkan, Mum dan Dad aja sempat menyarankan Amal untuk menundanya, karena khawatir nanti Amal mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan yang akan membuat Amal menjadi galau, mengingat Amal masih muda.

Amal punya sahabat-sahabat di McCleans, yang berbeda agama dengannya, Simone dan Eileen. Meski beda kepercayaan, mereka berdua sangat mendukung keputusan Amal untuk berjilbab. Sahabat Amal dari sekolah lama, Yasmeen dan Laila juga mendukung, dong. Selain itu, guru favorit Bunda, Mr. Pearce, mendukung keputusan Amal, bahkan dia meminjamkan ruangan kantornya selama sepuluh menit di waktu shalat, supaya Amal bisa melaksanakan ibadah shalat tepat waktu. Salut!

Di hari pertama Amal memakai jilbab ke sekolah, tentu saja, banyak yang memandang aneh sekaligus segan terhadap Amal, termasuk Adam Keane, cowok yang Amal suka. Bahkan kepala sekolahnya, Mrs. Walsh, mengira Amal memakai jilbab karena paksaan orangtuanya. Sampai-sampai beliau memanggil kedua orangtua Amal untuk membicarakannya. 

Sebenarnya cerita ini nggak hanya tentang seputar keputusan Amal berjilbab, tapi juga bagaimana dia mulai berteman dengan tetangganya yang sering memakinya, Mrs. Vaselli. Juga mengenai diet Simone. Mengenai Adam. Mengenai Tia Ramos. Mengenai Laila yang sering dijodohkan ibunya. Mengenai pamannya yang sok Australian. Dan masih banyak lagi.

Nah, itu sinopsisnya, ya. Kalo diceritakan semua jadi sopiler.

Pertama, Bunda pengen komentar dulu soal... cover. Duh! Sumpah! Ini covernya nggak banget buat sebuah teenlit! Padahal ceritanya catchy, menurut Bunda. Sayang banget, garapan covernya bikin orang malas melirik buku ini. Kayak ga jauh-jauh dari buku tutorial berhijab ala hijabers masa kini. 

Kedua, Bunda pengen komentar mengenai... terjemahannya. Errrr... Kaku sekali. Jadi gak enak bacanya. Bunda butuh waktu lama buat mencerna isinya. Nggak ngalir gitu. Padahal ini teenlit. Sayang banget, deh. 

Ketiga, meski kavernya nggak banget, terjemahannya kaku, Bunda suka semua tokoh di dalamnya. Amal yang pintar, cantik, pemberani dan juga penyayang. Semuanya tergambar dari keputusan-keputusan yang dilakukan Amal, juga semua yang dilakukan Amal. Bunda juga jadi sayang sama Simone, yang gak pedean, tapi dia berhasil menarik hati Josh, cowok terpopuler di sekolah.

Di luar kekurangan cover dan terjemahannya yang kaku, semua tokoh di sini adorable. Perkembangan ceritanya menarik, klimaks dan anti klimaksnya juga keren. Selain itu, yang Bunda suka di buku ini adalah, gimana cara bu Randa nerangin prinsip-prinsip di Islam tanpa terkesan menggurui, lewat keteguhan hati Amal. Suka, deh... 

Menurut Bunda, sih. Sebenernya layak dapet bintang 4. Kalo ga terganjal masalah kaver dan terjemahan, sih. Heuheu...

Bunda jadi pengen baca karya Randa Abdel Fattah yang lain, soalnya Bunda suka dengan style berceritanya.

Eh, btw, kirain bu Randa pake kerudung. Tapi pas brosing, ternyata orangnya ga jilbaban. Heuheu...

Sebetulnya, rencananya, review ini buat posting bareng BBI tanggal 29 April tema perempuan. Tapi, karena Bunda ga sempat menyelesaikannya, jadinya cuma buat YA Challenge aja, keknya. Hiks. Banyak absen acara BBI, nih, belakangan :(

Tetap semangat, ya...
Love you both... Cheers,



Terusin baca - Does My Head Look Big in This? by Randa Abdel-Fattah

3 Des 2013

Pojok Lavender oleh Primadonna Angela

 Judul: Pojok Lavender
Penulis: Primadonna Angela
Desain dan Ilustrasi cover: eMTe
Diterbitkan pertama kali oleh PT Gramedia
April 2013
ISBN: 978-979-22-9490-3
Genre: Teenlit, Kumpulan Cerpen, Fiksi
Status: punya, edisi bertanda tangan ^_^
 

Banyak hal dapat terjadi dalam sebuah kafe. Kafe bisa menjadi latar berseminya cinta sampai patahnya hati, menjadi saksi perselisihan sampai saksi persahabatan yang tulus, tepat seseorang mengembangkan harapan atau mematikannya. Drama kehidupan yang silih-berganti.
Dalam buku ini ada beraneka kisah yang berkaitan dengan Pojok Lavender. Ya, Lavender Rosemary, adik Cinnamon Cherry, juga punya ceritanya sendiri. Tapi apa kisah cintanya akan berakhir indah seperti yang dialami banyak pasangan yang berkencan di kafenya?

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...

Akhir-akhir ini agak bingung mau baca apa, padahal bacaan menumpuk. Terus, reading challenge Bunda di goodreads kan belum sampai 50%. Akhirnya Bunda set ulang demi dapatkan badge lolos. Hahaha. Curang, ya. Tapi, ini jadi evaluasi buat bulan depan. Jangan pasang target terlalu tinggi kalo memang belum mampu.

Terus, Bunda teringat kalo Bunda punya buku ini. Kalo ngeliat blurbnya, keliatannya sih, konsep dan idenya sama dengan Blue Romance. Jadi, Bunda sudah antusias, ingin sekali baca kumpulan cerpen berlatar sebuah kafe (lagi).

Harap diingat, Bunda nggak pernah membatasi genre bacaan. Jadi, teenlit tetap masuk ke selera Bunda.

Buku ini berisi enam belas cerita pendek. Banyak, ya? Iya. Tapi, kebanyakan cerita hanya sekitar dua halaman. Jadi kayak fragmen gitu. Tapi ga masalah sih. Lebih cepat selesai baca cerita itu, biasanya meningkatkan mood baca, karena terasa cepat menyelesaikannya.

Sayangnya, nggak begitu dengan buku ini. Entah kenapa, feel-nya nggak dapet sama sekali. Bunda baca, kok, cerita-cerita ibu Donna yang lain, misalnya How to be A Writer, Kotak Mimpi, juga Satsuki Sensei. Dan Bunda nggak masalah dengan cerita-cerita beliau. Suka.

Hanya di buku ini... Seperti bukan tante Donna yang biasanya. Pemilihan kata-katanya juga terlalu baku untuk genre teenlit yang benar-benar mengambil segmen usia anak tiga belas tahun. Spoiler sedikit, Lavender Rosemary, yang punya kafe Pojok Lavender ini berusia 13 tahun. Nah, ini yang sedikit membuat Bunda merasa bahasanya terlalu "tua" untuk seluruh karakter di buku ini. Ya, Bunda tahu, nggak semua karakter di buku ini seumuran dengan Lavender. Cuma tetep aja, pemilihan cara bertutur ternyata menjadi kunci keseluruhan kenikmatan membaca. #menurutbundayangpembacabiasa

Di buku-buku lain, twistnya terasa banget. Kadang ga ketebak. Tapi, di buku ini, sejak baca cerita pertama, dari bab awal aja udah kebayang cerita ini ke mana arahnya, bahkan endingnya. Dan ini muncul (hampir) di keseluruhan cerita. Ehm. Cuma di cerita berjudul "Hmm.." yang tidak terduga endingnya. Tapi, di cerita ini juga justru Bunda menemukan apa, ya? Sesuatu yang mungkin jadi kritikan atau masukan.

Jadi gini. Tokoh utama di cerita "Hmm" itu, dia pake kata "gue" sebagai kata ganti pertama. Sayangnya, eksekusinya gagal, karena kalimat yang digunakan sedemikian baku, sehingga kurang nyaman bacanya. Kata "aku" rasanya lebih masuk di sini. Maksud Bunda, kalo mau pake kata "gue" sebagai kata ganti pertama, selanjutnya, pakailah bahasa prokem sekalian yang nggak baku, supaya ga berasa belang dan aneh bacanya. Plus, ada sesuatu yang kurang masuk akal di sini. Di cerita ini, ada seorang ibu yang dijambret. Ibu ini kehilangan uang sebesar sembilan juta rupiah. Namun, untuk memudahkan pencarian, ternyata uang ini sudah digambari bunga. Meski seratus ribuan, menggambari uang sebanyak 90 lembar itu lumayan kurang kerjaan, ya. Heuheu. Gapapa, sih. Imajinasi mah boleh aja liar. Cuma itu aja masukannya. Kata "gue" ini jadi mengganggu keseluruhan cerita, walau idenya keren dan endingnya tidak terduga sama sekali.

Berhubung ada quote-quote bagus di dalamnya, Bunda kasih dua bintang, ya, untuk ratingnya. Maaf, ya, tante Donna. Bunda tetap tunggu dan mau baca cerita-cerita tante Donna yang lain, karena Bunda selalu suka ide-ide cerita tante Donna.

Cheers! Love you both,
Terusin baca - Pojok Lavender oleh Primadonna Angela

8 Okt 2013

Genk Kompor One for All, All for Dhuaaar! by Genk Kompor



Judul: Genk Kompor - One for All, All for Dhuaaaar!
Penulis: Genk Kompor (Abe, Nando, Sandi, Erin, Eno, Deny)
Diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia
Tahun terbit 2013
Jumlah halaman: 195 hal + xxiv
Genre: Fiksi Kontemporer, Komedi, Teenlit
Status: Punya. Buntelan dari Tante Yudith


Ketika para peleduk bertemu, apa yang akan terjadi?
Korslet? Kebakaran? Kerusuhan?

Abe, Deni, Eno, Erin, Nando, dan Sandi adalah segerombolan anak dengan segudang sifat dan keanehan yang berbeda jenis tapi saling melengkapi. Melengkapi keonaran satu sama lain! Saling sulut-menyulut, saling kompor-mengompori, dan akhirnyaaa: Dhuaaar? Meleduk!!!

Genk Kompor: tidak hanya memancing tawa, tapi juga haru!


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Kali ini Bunda dapat "tugas" mereview buntelan yang dikasih ke Bunda sebagai member BBI. Hahay! Sewaktu om Dion nunjukin foto setumpuk buku, entah kenapa, Bunda jadi yang pertama komen dan bilang, "mau Genk Kompor!"

Mungkin karena Bunda butuh tertawa, makanya, begitu baca kata Genk Kompor langsung menarik perhatian tanpa pikir panjang. Di Goodreadspun, sepertinya baru Bunda yang kasih rating :P *err, setidaknya sampai hari ini*

Oke. Seperti yang diceritakan oleh sinopsis di atas, buku ini bercerita tentang persahabatan. Yang Bunda suka adalah idenya. Ternyata, nama-nama tokoh seperti Abe, Deni, Eno, Erin, Nando, dan Sandi diambil dari nama-nama penulisnya sendiri. Jadi, para penulis ini bikin proyek keroyokan serial Genk Kompor yang katanya termasuk Serial Laris Story Teenlit Magazine. 

Karakter di dalam buku ini, di antaranya:
Abe, si poni Justin Bieber. Dia ini anak IPA, tapi karena ada gebetannya di kelas IPS, jadi sering ikut pelajaran di kelas IPS. 
Deni, si penyair pantun. Kadang pantunnya nyambung, lucu, tapi banyakan ga jelasnya. Dia ini alergian, jadi gampang bersin. 
Eno, cewek mungil berkacamata, bawel. Suka banget mondar-mandir di koridor. Punya kucing jantan bernama Beldo dan kakak bernama Arum.
Erin, cewek penyuka coklat yang doyan banget dandan. Kapan aja ada kesempatan, pasti deh, lagi mupurin mukanya pake bedak. Agak heran juga, sih, anak SMA dia bawa-bawa perlengkapan lenong selengkap eye shadow, blush on dan lipstik. *eyeroll*
Nando, si jambul, yang dikit-dikit kerjanya benerin jambul. Dia sayang banget sama ibu dan adiknya. 
Sandi, cowok asal Medan yang pendiam ini semasa kecil bersahabat dengan Eno. Dialah yang paling misterius di antara kelima sahabat lainnya.

Blurbnya juga menjanjikan, sih. Jadi, Bunda sempat berharap banyak banget sama buku ini, supaya Bunda bisa teraduk-aduk karena tertawa.

Nah, sayangnya, pas awal-awal baca buku ini, Bunda mulai boring. Nggak ngakak. Biasa aja. Cengar-cengir standar. Pertanyaan Bunda cuma satu, sih, waktu itu, "Ini Bunda yang sense of humor-nya udah ngedrop sampai titik minus atau emang cerita komedinya garing?"

Meski ada pertanyaan kayak gitu, Bunda maju terus buat baca. Bunda yakin, bahwa "Warning! Ngakak Abis" di kaver nggak cuma omong kosong. Kalo iya, Bunda akan tuntut! *halah* :P

Ternyata, mulai di pertengahan buku, cengiran Bunda mulai melebar. Dan setelah hampir lembar-lembar terakhir, Bunda mulai tertawa. Bunda paling suka cerita Menjemput Masa Lalu yang udah mulai "panas" banget. Bunda inget, Bunda baca di angkot - yang, untunglah cuma ada dua penumpang lain di depan - terkikik geli membayangkan scene Nando yang dijuluki "bayi lumba-lumba" oleh teman-temannya ketika menginap di rumah Deni. Dan masih di cerita ini juga, Bunda dibuat menangis. 

Kenapa Bunda sempat pesimis dan mempertanyakan sense of humor Bunda? Karena cerita di awal, bodorannya (apa, ya, bahasa Indonesia-nya? Oh! Humornya!) garing, udah ketebak dan standar banget. Semacam.. ummm... klise? 

Terus pas giliran tebak-tebakan bahasa Inggris, Bunda sempat dibuat gemas. Ada banyak "pengetahuan umum" yang kalo dibaca sama anak-anak jaman sekarang, kalo sasarannya anak SMP-SMA sekarang, udah terbilang basi. Misalnya aja, ada tebakan yang jawabannya, "run no car no" (kalo diinget-inget itu adalah plesetan dari nama Rano Karno, salah satu aktor Indonesia, yang saat ini menjadi Wagub Banten). Masalahnya, Bunda nggak yakin, ada abege sekarang yang tahu siapa Rano Karno. Anaknya mungkin. Tapi segmen pembaca secara keseluruhan kayaknya ga tau siapa beliau.

Ada lagi sih, yang bikin Bunda cengar-cengir. Salah satu bab yang berjudul Tomboy kok Mellow. Nah, di situ ada adegan Sandi dan Eno ngobrol. Mereka berdua ngobrol pakai logat Batak. Bikin Bunda ingat sama Om Helvry dan Tante Putri yang kalo ngobrol, logat mereka Batak abis. Hihihi.

Walau Bunda sempat kecewa dengan warning ngakak abisnya itu, ternyata Bunda terhibur banget dengan buku ini. Bunda juga salut dengan persahabatan mereka. Misalnya, pas Abe udah berusaha banget mendekati Tria, cewek incerannya, tapi ketika dekat dengan Tria, Abe malah gugup dan salting. Trus, malah, Tria udah keembat duluan sama Vincent. Nah, pas akhirnya, Abe dapat kesempatan buat deketin Tria, dia malah milih nguntit Sandi yang misterius dan akhirnya kencan pertama Abe - Tria batal.

Kalo ditanya, Bunda paling suka karakter mana, yang jelas, Bunda suka semuanya secara adil dan merata. Karena, mereka semua adorable. Buku ini nggak cuma menghibur, tapi juga "mengajarkan" kasih sayang, kepedulian dalam persahabatan. 

Oya, itu di kaver belakang, ada kata-kata agak mengganggu. "saling sulut-menyulut, saling kompor-mengompori". Padahal cukup ditulis, "saling menyulut, saling mengompori" aja. 

Makasih, Genk Kompor dan Tante Yudith. Bunda terhibur! ^_^

Terusin baca - Genk Kompor One for All, All for Dhuaaar! by Genk Kompor

16 Okt 2012

Gossip from the Girls' Room



Judul: Gossip from the Girls' Room - Gosip dari Toilet Cewek (Blogstastic #1)
Penulis: Rose Cooper
Penerjemah: Nadya Andwiani
Penyunting: Ida Wajdi
Penyelaras Aksara: Fenty Nadia
Pewajah Isi: Aniza Pujiati
Diterbitkan oleh: Penerbit Atria
Cetakan I: Maret 2012
ISBN: 978-979-024-478-8
teenlit




Jika ada sesuatu yang menarik terjadi di SMP Middlebrook, Sofia mengetahuinya. Dan semuanya ada di dalam buku catatan super-rahasianya....

Aku, Sofia Becker, pasti akan menjadi salah satu murid populer di Middlebrook, dan bukan seperti Mia St. Claire. Karena itu, begitu naik ke kelas enam, dibantu oleh sahabatku, Nona Bows, aku akan bertekad mewujudkannya. Caranya dengan mengisi blog anonim di situs web sekolah dengan informasi-informasi menarik - yang kudapatkan dari Bilik Bau di toilet cewek.

Dan sekarang, mana yang lebih menarik? Mia yang naksir Andrew - yang pasti tidak akan mungkin karena Andrew suka padaku - atau kisah tragis salah satu murid Middlebrook yang ibunya mengandung lagi - kau tahu kan seperti apa orangtua saat mereka punya bayi? (dari cover belakang)


Buku ini bercerita tentang Sofia Becker, penulis blog di SMP Middlebrooks. Sofia bukanlah tipe cewek populer di sekolahnya, tapi popular-wanna-be. Dia ingin menjadi terkenal setelah blognya terkenal. Maka, Sofia memutuskan untuk menjadi blogger anonim di blog sekolahnya.

Untuk menarik minat pembacanya, Sofia menuliskan gosip-gosip "penting". Tentu saja seputaran sekolah. Nah, untuk mengumpulkan data, Sofia bersembunyi di sebuah toilet yang dikutuk sebagai Toilet Bau, di mana tidak seorang pun berminat masuk ke sana. Sambil nongkrong untuk menguping, Sofia punya buku catatan khusus untuk data blognya. Supaya tidak menarik perhatian, buku catatan ini disamarkan sebagai buku catatan biasa saja yang tidak menarik minat.

Pada mulanya, saat menulis di blog, Sofia terang-terangan menyebutkan nama, hingga dia mendapat teguran dari Mr. Andrew untuk tidak menulis nama seseorang secara terang-terangan. Akhirnya, Sofie menulis inisialnya saja.

Ada beberapa orang yang tidak Sofia sukai, di antaranya adalah Mia St. Clair dan Penelope. Mia St. Clair ini sebenarnya bukan anak orang kaya. Tapi dia bertingkah seperti orang kaya dan suka pamer pada Sofia. Di sisi lain, ada Penelope yang memang anak orang kaya dan sering sekali pakai baju dan sepatu bermerek untuk lalu dipamerkan pada Mia.

Suatu ketika pernah buku catatan khusus sebelum ngeblog milik Sofia hilang! Dan ternyata terjatuh di toilet. Yang menemukannya adalah petugas kebersihan sekolah, yang tidak lain adalah ayah Mia! 


Hai, Kakak Ilman dan Adik Zidan...



Membaca kisah Sofia ini, bikin Bunda seperti tertarik ke masa Bunda sewaktu SMP. Masa-masa di mana "popularitas" adalah hal yang sangat penting. Padahal, populernya juga bukan karena hal yang hebat. Cuma karena dia pakai sepatu keluaran terbaru, ditaksir cowok paling culun atau paling keren, atau karena dia baru jadian dengan playboy! Yah, begitulah masa bunda di SMP, di mana cewek-cewek berlomba mencari popularitas, meski dengan cara yang.. well, nggak keren sama sekali :D
*untung Bunda bukan termasuk cewek tenar. jadi, begitu ketemu teman-teman SMP lagi, Bunda mah biasa aja. Berbeda dengan teman-teman yang dulunya tenar, seakan-akan mereka masih butuh ketenaran itu... :D*

Akan punya adik bayi ketika kamu SMP itu seperti mimpi buruk. Sampai penting untuk diangkat di blog dan dianggap memalukan, bahkan kasihan sekali yang bakalan punya adik kecil itu. Eh, padahal, Bunda punya adik bayi waktu saya kelas 1 SMP dan kelas 3 SMA, lho. Rasanya? Senaaaaaaaaang! Bukan mimpi buruk! :p
 

Pasti senewen, ya, kalo mendapati ibu kalian ngajar di tempat kalian sekolah. Untuk masa-masa ABG, pasti itu jadi tekanan sendiri. Kalo ada gosip yang berhubungan dengan kalian di sekolah, ibu kalian pasti tahu juga. Susah ngumpet dan bohong juga, kalo kalian mabal dengan alasan ada urusan di sekolah, padahal kalian mau ke mall.

Anyway by the way busway, Bunda sebal dengan karakter Sofia ini. Sebal bukan karena dia pengen ngetop dengan cara anonim. Tapi lebih karena dia nggak membalaskan semua dendamnya secara elegan. Haha. Apaan, sih. Namanya juga masih ABG. Wajar aja kalo pola pikirnya ajaib.

Well, Rose Cooper menulis karakter Sofia Becker - anak SMP - dengan karakter alami, standar anak SMP yang biasa banget. Nggak terlalu pintar, nggak terlalu cantik. Super biasa aja. Dengan masalah-masalah standar anak SMP. Meski nggak berhasil membuat Bunda tergelak atau menangis, lumayan lah. Sempet geregetan sama Sofia, apalagi pas isi bukunya dibaca sama yang menemukannya. :D


Jadi pengen baca buku berikutnya. Katanya sih gosip dari toilet cowok. Kita lihat saja nanti...

Oya, blog penulisnya bisa kalian kunjungi di sini.

Terusin baca - Gossip from the Girls' Room

2 Agu 2012

Klub ala Penny Lane



Judul: The Lonely Hearts Club
Penulis: Elizabeth Eulberg
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penyunting: Dhewiberta, Dila Maretihaq Sari
Perancang Sampul: Itsna Hidayatun
Pemeriksa Aksara: Intari Diah P., Pritameani, dan Nurani
Penata aksara: Supardi
Diterbitkan oleh: Penerbit Bentang Belia
Jumlah halaman: x + 282 hlm; 20.5 cm
ISBN: 978-602-9397-00-0
Cetakan Pertama, Januari 2012
Rate: 4/5

Mana yang lebih penting? Pacar atau sahabat? Setelah dikhianati Nate, Penny Lane bersumpah enggak akan mau dekat-dekat apalagi sampai pacaran sama manusia berlabel cowok. Sohibnya, Diane meninggalkan Penny juga demi cowok. Gimana Penny enggak makin kebakaran?

Penny enggak sendiri. Banyak cewek di sekolah punya pengalaman sama; korban cowok enggak penting! Penny akhirnya mendirikan sebuah klub cewek jomlo The Lonely Hearts Club.

Peraturan utamanya ekstrem: enggak boleh pacaran! Huffft.. apa bisa aturan gila ini ditaati?


Masalah lalu muncul saat Ryan Bauer, cowok populer di sekolah mendekati Penny. Sementara itu ikatan di antara sohib cewek The Lonely Hearts Club makin kuat.

Mampu enggak, sih, Penny Lane menahan godaan untuk enggak nge-date sama Ryan yang super-cool? Siapa yang akan dipilih Penny? Cowok yang jadi rebutan cewek satu sekolah atau klub berisi sohib superasyik?

Elizabeth Eulberg lahir dan besar di WIsconsin sebelum kuliah di Syracuse dan berkarir di industri buku di New York City. Pencinta musik ini memulai kariernya di dunia penerbitan sejak usia 14 tahun. The Lonely Hearts Club adalah buku pertamanya dan telah diterbitkan di 13 negara. Untuk meriset buku ini, dia mencoba menjauhi lelaki selamanya. Sayangnya, tidak pernah berhasil. (dari belakang buku)

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Setelah beberapa hari ini air mata Bunda habis dikuras karena ikut memikirkan putra teman Bunda, mungkin saatnya kita untuk mendoakan saja supaya orangtua Abdullah tetap semangat menjalani hidup, ya. Semoga, semangat Abdullah bisa menjadi cerminan kita buat meraih surga. Aamiin.

Nah, sekarang, Bunda akan cerita tentang buku ini. Sebetulnya, Bunda nggak yakin, anak-anak Bunda, yang keduanya adalah laki-laki bakalan suka buku ini. Sebab, ini buku cewek sekali. Errr, probably, kalian mungkin akan paham perasaan perempuan, kalo baca buku ini. Haha! Bunda belum terpikir buat ngasih kalian adik perempuan, secara eyangti udah woro-woro udah SANGAT CUKUP buat punya kalian berdua aja. Hihi...

Buku ini cerita tentang Penny Lane yang dinamain dari salah satu judul The Beatles, sebab orangtuanya, bapak dan ibu Bloom adalah penggemar fanatik The Beatles. Ketiga anak perempuannya dinamai dari judul lagu The Beatles. Lucy, Rita, dan Penny Lane. Liburan mereka juga nggak jauh-jauh dari markas The Beatles. Konyolnya, ibu Penny, menentang anak-anaknya makan daging, karena Paul McCartney adalah vegetarian :D

Nah, ini ceritanya tentang Penny Lane yang patah hati karena dikhianati Nate Taylor (teman semasa kecil, anak sahabat kedua orangtuanya, sering melewatkan Thanksgiving bareng antar keluarga, sering jadi pengiring pengantin bareng, bahkan jadian meski kedua orangtua mereka nggak tahu), waktu dia nyaris memenuhi keinginan Nate untuk lebih dari sekadar pegangan tangan dan menemukan Nate sedang bersama perempuan lain, di rumah Penny!

Rasa sakit hati ini membuat Penny memutuskan untuk bikin The Lonely Hearts Club (diambil juga dari judul lagu The Beatles). Awalnya cuma beranggotakan dirinya sendiri, kemudian Tracy, sahabatnya, ikut bergabung. Di luar dugaannya, sahabat lamanya, Diane (yang meninggalkannya karena punya pacar bernama Ryan, kemudian putus) memutuskan mau jadi anggota dan jadi sahabatnya lagi.

Lama-lama klub ini berkembang dan beranggotakan banyak. Memang awalnya untuk menampung korban-korban sakit hati dan menjadikan cowok sebagai "musuh", tapi lama-lama, klub ini berubah menjadi klub yang memberi dampak positif bagi anggotanya. Semacam klub "penumbuh rasa percaya diri". 

Seperti yang diceritakan di atas tadi, Ryan Bauer yang putus dari Diane, malah mendekati Penny. Yah, Penny emang suka sama Ryan. Soalnya Ryan baek banget dan temenan baik lah, udah beberapa tahun. Jadinya, ya, Penny percaya aja, kalo Ryan nggak naksir Penny dan hanya bersikap baik, sebagai teman.

Sampai akhirnya, Ryan ngajak Penny kencan. Bisa dibayangin, nggak, ricuhnya anggota The Lonely Hearts Club, karena isu ini?

Nah, Bunda mau cerita kesan Bunda tentang buku ini...
Pertama kali ngambil buku ini dari rak di Rumah Buku, gara-gara kesengsem sama covernya yang abegeh banget.

Bunda bukan penggemar The Beatles yang fanatik. Bunda hanya tahu lagu Yesterday dan beberapa lagu lain, tapi nggak dengan lagu The Lonely Hearts Club atau Penny Lane. Bukan berarti Bunda nggak suka The Beatles. Bunda suka, hanya saja nggak tahu banyak lagu mereka.

Awalnya, pas baca buku ini, Bunda agak kesulitan memahaminya. Tapi ini sih, tipikal Bunda baca buku, emang. Selalu nggak dapet feel-nya pas di awal baca.

Bunda suka buku ini. Banyak kejutan-kejutan di dalamnya, meski sebenernya udah ketebak endingnya kayak apa, kejutan-kejutan dan drama di dalamnya membuat buku ini menjadi hidup. Soalnya kayak nyata banget, deh. Yah, sejenis sama Anna and The French Kiss itu, lah... :D

Cuma emang, sih, ada hal-hal yang rada nggak masuk akal, kayak waktu Michelle ninggalin Mike demi jadi anggota klub ini. Mike itu adik Tracy, akibatnya Mike nggak mau bicara dengan Tracy selama Michelle masih jadi anggota klub. Bukannya kalo lagi kasmaran mah, cewek nempel terus sampai didepak cowoknya? Kok, ini nggak ada masalah ama cowoknya, terus ninggalin cowoknya?

Lalu ada cerita, tiba-tiba Penny Lane bermasalah dengan Kepala Sekolah, sampai orangtuanya dipanggil hanya gara-gara klub ini yang dianggap memusuhi cowok. Memangnya, kepala sekolah ngurusin hal kayak gini sampai sedetail ini, ya? Eh, apa sekolah di Amrik mah emang gitu, kali, ya? Emang di negara kita? Hihi... Kepseknya sibuk cari proyekan di luar sekolah. *Mode suudzhan on*

Terus kepsek juga yang melarang adanya pencarian dana buat bikin seragam tim basket. Ini mah semacam sentimen pribadi yang dibawa-bawa ke sekolah, ya? Atau Bunda aja kali, yang terlalu lurus pas sekolah dulu, jadi nggak tahu bahwa di banyak sekolah, atau mungkin di sekolah Bunda sendiri, ada intrik-intrik murid vs kepsek.

Tapi ya itu sih, yang rada anehnya. Apa iya, ada kepsek yang memihak satu murid kelompok murid aja? Sekali lagi, maafkan Bunda yang naif lurus ini.

Oh iya. Ada kalimat yang agak ganjil Bunda temukan di sini.

Siapa pun yang pernah berpegangan pada lagu seperti rakit kehidupan musik pasti mengerti. (hal 12)

Apa itu "rakit kehidupan musik"?

nemu typo:
Sepulang makan malam dengan diane (hal 50)

tapi yang lain ga kecek juga, sih...

ada kalimat yang hilang juga:

Kubayangkan mereka berdan
ya drama dapat mereda hari Minggu dan sekolah normal lagi hari Senin.
(hal 123)

Ternyata oh ternyata, waktu lihat di Goodreads, cover aslinya lebih keren. Kayak cover salah satu album The Beatles. *gigit jari*
Nggak beli rights covernya, kali, ya... 

Jadi kalo ditanya kerenan mana, jelas kerenan cover aslinya. Tapi Bunda nggak menampik, kalo Bunda ngambil buku ini buat dibeli gara-gara covernya. Unyu. :D 

*tolong jangan tanya ke Bunda apa artinya unyu. Bunda nggak tahu. Cuma ikut-ikutan tren tahun 2011-2012 ini*

Lalu... Bunda ingin cerita sedikit tentang The Beatles ini sendiri. Iya. The Beatles, grup band yang jadi pembungkus menarik seluruh cerita di buku The Lonely Hearts Club karya Elizabeth Eulberg. 

Menurut om Wiki (diterjemahkan secara ngarang yang penting kena):
The Beatles itu grup band yang berasal dari Inggris, beraliran rock, dibentuk di Liverpool, tahun 1960. The Beatles ini merupakan grup band yang paling sukses secara komersial dan paling banyak dapat pujian di dunia musik pop. Tahun 1962, kelompok ini punya anggota yang terdiri dari John Lennon (gitar rythm, vokal), Paul McCartney (gitar bass, vokal), George Harrison (gitar utama, vokal), dan Ringo Starr (drum, vokal). 



Aliran mereka awalnya skiffle dan rock and roll di tahun 1950-an. Mereka juga pandai memainkan musik dari berbagai genre lain, seperti folk rock sampai rock psikedelik (jenis musik rock yang menggambarkan orang sedang kecanduan. Alat musiknya biasanya memakai gitar elektrik) juga memasukkan unsur musik klasik dan elemen lain. Sehingga The Beatles merupakan grup band revolusioner yang berpengaruh di tahun 1960-an.

Singel pertama mereka, Love Me Do, meraih kesuksesan di Britania Raya. Sepanjang tahun berikutnya, mereka aktif mengadakan tur internasional sampai tahun 1966 dan merekam album mereka di dalam negeri sampai mereka bubar, tahun 1970.

Setelah bubar, masing-masing personel The Beatles merintis karir solo mereka masing-masing. Boleh dibilang semuanya sukses dengan karir solo mereka. Namun, John Lennon tewas ditembak oleh fans-nya sendiri di New York, tahun 1980. Harrison meninggal karena kanker pada tahun 2001. Sampai Bunda menulis sekarang, Paul McCartney dan Ringo Starr masih aktif bermusik.

The Beatles merilis karya-karya yang dinilai terbaik oleh kritikus musik, di antaranya Sgt. Peppers Lonely Hearts Club Band di tahun 1967, yang dipuji sebagai karya agung. Walau sudah empat dekade grup musik ini bubar, tapi musik mereka tetap ngetop. Tetap didengar hingga hari ini.

Album mereka banyak juga. Please, Please Me (1963), With the Beatles (1963), A Hard Day's Night (1964), Beatles for Sale (1964), Help! (1965), Rubber Soul (1965), Revolver (1966), Sgt. Peppers Lonely Hearts Club Band (1967), The Beatles "The White Album" (1968), Yellow Submarine (1969), Abbey Road (1969), dan Let It Be (1970) yang merupakan album terakhir mereka. 

Cover buku The Lonely Hearts Club karya Elizabeth Eulberg itu ngambil konsep sampul album Abbey Road yang ini. 



Cakep, yah? Jadi, agak menyesal juga. Kok, penerbit Bentang ngambil konsepnya jauuuuuuuuuuuh banget sama sampul Abbey Road :(

Terusin baca - Klub ala Penny Lane

31 Mei 2012

Mau Jadi Penulis? Baca Ini Dulu....




Judul: How to be a Writer
Penulis: Primadonna Angela
Desain cover: maryna_design@yahoo.com
Layout isi dan ilustrasi: eMTe
Cetakan pertama: Februari 2012
Diterbitkan oleh: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Teenlit
Jumlah halaman: 232 hlm, 20 cm
ISBN: 978-979-22-7983-2
4 dari 5 bintang


Bagian Pertama:
Zoya Zinnia yakin dirinya genius dalam menulis. Bukankah Bu Molly, guru Bahasa Indonesia-nya, selalu berkata demikian? Sayang, Bu Molly cuti dan digantikan Bu Selma. Guru yang satu ini, sudah nggak bisa dandan, payah pula dalam mengenali bakat. Apa perjalanan Zoya sebagai penulis harus berhenti gara-gara Bu Selma?

Bagian Kedua:
Berminat menjadi penulis? Nggak hanya sekadar mimpi. Di sini akan dipaparkan cara mengejar ide dan mengembangkannya, sehingga kamu pun, asal tekun, bisa menyelesaikan naskahmu sendiri. (dari cover belakang)

Halo, kakak Ilman dan adik Zaidan...
Bunda baru kelar baca satu buku ini, ngebut. Hihi. Soalnya dengar BBI ada acara posting bareng hari ini. Ya Bunda nggak mau ketinggalan. Soalnya, kalo nggak gitu, nggak ada progresnya nanti.
Membaca pake target? Antara nikmat sama nggak, sih. Terkadang jadi beban. Hehe. Hanya saja, buat Bunda ini sebagai latihan disiplin. Halah!

Judulnya memang How to, yang setiap orang yang baca, pasti langsung nebak, "ini pasti buku teori tentang ..." 

Memang betul! Seperti judulnya, buku ini memang tentang bagaimana caranya menjadi penulis. Teori bagaimana menjadi seorang penulis, dari sisi pengetahuan penulisnya. Makanya nggak ada sumber referensinya. Sebab, ini benar-benar apa yang dialami penulis.
Bedanya, penuturan yang disampaikan nggak melulu tentang teori. Di awal, tante Donna cerita dulu tentang Zoya, yang sakit hati oleh Bu Selma, menggantikan Bu Molly yang sedang cuti melahirkan, untuk mengajar Bahasa Indonesia. Kenapa Zoya sakit hati? Sebab, baru kali ini, tulisan Zoya bukannya dipuji habis-habisan oleh Bu Molly sebagaimana biasanya, malah mendapat kritikan dan disuruh riset supaya tulisan Zoya lebih hidup dan tidak mengada-ada.

Ya. Riset memang penting. Jangankan untuk menulis cerita atau artikel, menulis review buku sekalipun, perlu sekali tentang riset. Bunda pernah baca ini di sini, tips tentang menulis review. Di sana jelas banget pada poin keempat, riset itu penting dalam menulis!

Over all, banyak teori tentang 'how to write" yang memang sudah Bunda ketahui sebelumnya. Well, gini-gini Bunda sebetulnya suka menulis dan pernah melalap buku-buku yang mengusung tema "how to write". Dan terpaksa menulis, karena berhubungan dengan pekerjaan Bunda. Hahaha. Dan dulu sekali, mantan pacar Bunda (bukan papa, lho, ya :D) sangat menginginkan Bunda buat jadi penulis. Pakde Iwan juga sama, tuh! Ngedukung banget Bunda buat nulis. Tapi... (eh, kata Tante Dona di buku ini, ga boleh bilang "tapi" kalo mau jadi penulis!)

Buku ini habis-habisan nyepet Bunda. Mungkin itu memang common problem penulis, kali, ya. Writer Blockitis, istilahnya. Hihihi. Mulai dari nggak tahu mau nulis apa, ngerasa buntu, dikit-dikit pengen ngedit tulisan sampe akhirnya mikir yang nggak-nggak tentang tulisan sendiri. Hawhawhaw...

Kalo bicara soal cover... Dari semua buku Tante Donna, Bunda paling suka cover yang ini. Simpel, nggak pake ribet. Dan font-nya! Bunda senang sekali menemukan font baru di novel yang nggak melulu Times New Roman atau Century. Hihi. Beneran, deh. Bunda bosan sama buku yang font-nya Times New Roman. Padahal font itu kan banyak! Kenapa harus ketemu dengan Times New Roman lagi kalo baca buku? Makanya, mata berasa sangat dimanjakan dengan munculnya font lain, selain TNR :D

Nah, di buku ini, muncul sisi Tante Donna yang Tante Donna. Maksudnya, kita kayak ngobrol sama Tante Donna. Bukan lewat cerita, tapi seolah-olah kita lagi dengerin tips dari beliau tentang gimana sih, caranya jadi penulis. Bunda memang lebih banyak berinteraksi dengan Tante Donna di Plurk atau Twitter, jadi cara penuturan di buku ini (di luar cerita tentang Zoya itu, ya), kayak ngobrol sama beliau aja.

Yang pasti, begitu selesai baca buku ini, Bunda tergerak buat menulis. Salah satunya nulis review ini. Hihihi... Masalah bagus nggaknya, gimana nanti. Yang penting Bunda nulis dulu. Bunda yakin, alah bisa karena biasa. Makin sering latihan, makin terpoles juga, kan nantinya...

Dikarenakan Tante Donna udah berhasil nyepet Bunda habis-habisan dan jadi tergerak buat mulai menulis lagi (minimal membenahi blog-blog Bunda) dan juga mengingatkan Bunda akan beberapa tips dari mantan pacar Bunda yang dia dapat dulu dari dosen pembimbingnya (semisal, cari variasi kata biar nggak pake kata yang sama, dan seterusnya), Bunda mau kasih Tante Donna empat bintang buat buku ini. Hihihi.

Maaf, ya, Kakak Ilman dan Adik Zidan... Bunda sama sekali nggak bermaksud nginget-nginget mantan pacar Bunda, kok. Cuma inget gimana dukungannya dulu sama Bunda supaya Bunda menulis. Hehe. Papamu tetap the only one ;)




Terusin baca - Mau Jadi Penulis? Baca Ini Dulu....