Tampilkan postingan dengan label books about books. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label books about books. Tampilkan semua postingan

15 Des 2025

[Review] The Slippery Art of Book Reviewing by Mayra Calvani & Anne K. Edwards

 

Judul: The Slippery Art of Book Reviewing    
Penulis: Mayra Calvani, Anne K. Edwards
Penerbit: Paladine Timeless Books 
Cetakan pertama, June 2008
Halaman: 190 halaman
Format: E-Book
ISBN: 978-193-33-5322-7
Genre: Non-Fiction, Writing, Books about Books, Reference, E-book, Professional Development  
Status: Punya 

This book was written not only with the aspiring reviewer in mind, but also for the established reviewer who needs a bit of refreshing and also for anybody--be they author, publisher, reader, bookseller, librarian or publicist--who wants to become more informed about the value, purpose and effectiveness of reviews. 
The Slippery Art of Book Reviewing by Mayra Calvani and Anne K. Edwards is the Winner in the category of Reference Non-Fiction in the 2011 Global eBook Awards; Winner in the category of Writing in the ForeWord Magazine 2008 Book of the Year Award; an Award-Winning Finalist in the E-Book Non-Fiction category of the 2009 Next Generation Indie Book Awards, an Award-Winning Finalist in the "Business: Writing & Publishing" category of the National Best Books 2008 Awards, sponsored by USA Book News and an EPPIE finalist in the category of Non-Fiction - Self-Help. 



Hellow, Ilman dan Zi...

Aku tahu, seharusnya setelah baca buku ini, aku menerapkan ilmu yang aku dapat dari buku ini. Sebab, di The Slippery Art of Book Reviewing dikupas banget tentang mengulas buku secara profesional secara akurat.

The thing is.. I am no professional of book reviewer. Book reviewer pada dasarnya dibayar untuk menulis ulasan secara profesional dan terstruktur, sehingga calon pembaca buku yang diulas mendapat informasi terkait buku tersebut. Profesional dan terstruktur tuh maksudnya kalo memang ada kekurangan, nggak dibahas dengan kalimat yang menyudutkan buku tersebut, apalagi sampai cerita ke mana-mana soal penulisnya, misalnya.   

Di buku ini juga dibahas tentang penggunaan kalimat yang nggak klise saat menyatakan kekurangan atau kelebihan buku (praising the book). Misaaaal... "ini buku paling buruk yang pernah aku baca" atau "ini buku paling bagus yang pernah aku baca di tahun ini". Dipikir-pikir iya juga, ya. Soal terburuk atau terbaik dalam konteks kalimat itu jatuhnya bias, sebab nggak ada parameter ukurannya. Jadi, alih-alih pakai kalimat itu, mungkin bisa dibahas kenapa buku itu kurang berkenan di hati pengulas. 

Alhamdulillaah-nya (lho?) di The Slippery Art of Book Reviewing juga dibahas tentang review dari sisi pembaca. Kayak terserah pembaca mau nulis kayak gimana, sebab tidak ada tuntutan profesional. Pembaca kan umumnya beli sendiri bukunya, dia baca, lalu dia ulas. Jadi nggak ada batasan khusus karena dia nggak dibayar untuk mengulas buku itu. Tapi di sana juga dibahas, meski begitu, kalo bisa sih, ya nggak nyudutin banget penulisnya, apalagi sampai bawa urusan personal soal penulis, misalnya. 

Baca bagian itu aku kayak ketampar. Sebab, dulu banget, aku pernah nggak suka sama penulis yang ngata-ngatain pembacanya, sampai aku terniat beli satu bukunya, hanya untuk aku... review dengan panjang banget dan jujur. Detail bahkan. Ceritanya sendiri penuh emosi, kayak kita baca diary dia secara terbuka. Bedanya dia punya imajinasi dalam ceritanya itu untuk menghancurkan seseorang yang dia benci itu.

Balik ke The Slippery Art of Book Reviewing. Walau dari sudut pembaca yang membeli bukunya dengan uang sendiri, sebenernya saat pembaca menulis ulasannya bisa jadi bahan latihan sesuai tuntunan, karena siapa tahu nanti ada yang tertarik untuk minta bukunya diulas. Sebab itu yang terjadi pada beberapa kenalanku saat kami semua masih aktif nulis ulasan di blog buku. Ingat, kan, kalo aku adalah bagian dari Blogger Buku Indonesia? Nah, beberapa temanku yang bloger buku aktif sempat dijadikan pengulas buku dari beberapa penerbit. Banyak dari mereka menerima buku gratis untuk dibaca dan diulas lalu dipublish di blog mereka. Ketika penerbit suka, bloger ini akan terus dipakai jasanya dan sebagai bayarannya, dia akan menerima buku gratis. Bahkan mungkin bisa dibayar per tulisan.

Kayaknya aku pernah nyoba buat review satu buku karena dihubungi penerbit, tapi nggak berhasil menyelesaikan bukunya, karena aku menerima buku yang ternyata bukan cangkir tehku. Aku nggak punya cukup energi untuk menyelesaikan buku itu, sehingga aku didenda oleh penerbit, diminta bayar xD 


Catatan penting untuk jadi pengulas buku adalah harus siap dengan segala genre buku yang akan diterima dan diulas atau berani menolak buku yang nggak sesuai dengan cangkir tehmu. Risikonya kemungkinan nggak akan dipakai lagi oleh penerbit karena penolakan tersebut. Tapi ada juga kok, penerbit yang fair play, yang sadar penuh bahwa manusia punya selera dan takaran masing-masing. Jika perwakilan penerbitnya teliti, dia bisa aja nandain, misal pengulas A tuh luwes saat mengulas buku bergenre romance, pengulas B lebih ahli di buku bergenre non fiksi, pengulas C bisa dimintain tolong buat mengulas buku-buku yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya; misalnya dia seorang dokter -- jadi familiar dengan istilah-istilah kedokteran, dan seterusnya. Berbicara soal profesional, memang kayak harus sanggup "menelan" segala genre dan memuntahkannya kembali dalam sebuah tulisan berupa ulasan yang bisa dicerna dengan mudah oleh calon pembaca. 

Satu lagi yang aku highlight dari catatan untuk menjadi pengulas adalah ulasan yang ditulis karena profesinya sebagai pengulas atau reviewer sebaiknya tidak mencantumkan rating buku. Dia hanya "boleh" (ini kesimpulanku sendiri aja saat baca buku itu) menceritakan kedalaman buku ini seperlunya, misalnya kenapa sih, buku ini perlu dibaca? Intinya reviewer boleh punya opini pribadi, tapi harus netral. Dan penekanan kata "netral" ini berulang kali diingatkan penulis, walau si reviewer ini nggak suka sama sekali dengan buku itu. Itu sebabnya, sebenernya nggak mudah kan, untuk jadi reviewer kalo kita suka banget mencela keburukan orang yang walau cuma ada satu, tapi bisa berbab-bab dibahasnya. 

Aku butuh waktu lama untuk menyelesaikan buku ini, karena saat mulai baca buku ini, ada banyak yang harus aku catat, mengingat aku ini pelupa. Aku mulai baca buku ini di bulan Februari tahun 2023, nyangkut di bab awal karena aku nggak menyediakan pena dan notes untuk mencatat bagian penting yang niatnya mau aku buat dalam format sketch notes. Karena keinginan terlalu idealis itulah, aku jadi nggak maju dari halaman awal. Sampai akhirnya aku memutuskan baca lagi dari awal (tapi catatan di Goodreads aku biarin aja mulai dari 17 Februari 2023), kayaknya sekitar seminggu terakhir November 2025. Jadi aku selesai baca Thee Slippery Art of Book Reviewing di tanggal 3 Desember 2025, iya, banyak yang aku salin dari sana, yang nantinya, rencananya, mau aku buat versi sketchnotes. Harapannya sih, dengan punya semacam rangkuman ini tuh, bisa jadi panduan aku buat tetap ingat menjaga kenetralan pendapatku terkait sebuah buku. Walaupun menemukan kejanggalan, nggak sampai menyudutkan. Intinya gitu. 


The Slippery Art of Book Reviewing juga bahas terkait stars. Seperti pada umumnya, panduannya kurang lebih gini:


ini untuk OUTSTANDING, compelling plot and characterization, writing sparkles. Recommended highly


ini untuk GOOD to VERY GOOD. Plot characterizations still compelling, the book doesn't "sizzle" as much. Not strongly recommended.


ini untuk MEDIOCRE to FAIRLY GOOD. Has both good and bad qualities. Intriguing plot buat lacks characterization or inconsistencies. Weak plot. Spelling mistakes. Entertaining enough to keep reading.


ini untuk POOR. Poorly written. Poorly edited. Poorly executed plot and no characterization. Full of inconsistencies. Sometimes, DNF (Did Not Finish)


ini untuk TERRIBLE. Not worth reading. Badly written. Not edited at all. Filled with spelling and grammatical mistakes.

Dalam ngasih rating buku, misalnya rating 2 stars, nggak harus semua kriteria itu masuk. Salah satunya aja cukup. Kayak aku kasih rating 1 untuk buku yang aku sertakan tautannya di atas, alasanku adalah "not worth reading". Tapi buku itu juga punya kesan "badly written", "not edited at all". Terkait filled with spelling and grammatical mistakes tidak aku sebutkan, sepertinya aku nggak menemukan kesalahan itu. Tapi karena memang sifat penulisan buku itu TERRIBLE, jadi aku cuma sanggup kasih rating 1, untuk usaha dia menulis. 


Oh, ya. Ada lagi. Untuk menggambarkan "jiwa" buku yang sedang diulas, memang perlu mencantumkan quote atau bagian terpenting yang ditulis. Misalnya di halaman berapa yang menarik untuk disimak atau direnungkan. Tulis bagian itu aja. Nggak perlu semua quote bagus ditulis juga. Karena aku pernah menemukan penerbit "memarahi" reviewer (belasan tahun lalu) karena emang isinya cuma quote doang xD sementara orang tersebut udah dipercaya banyak penerbit untuk jadi first reader dan mengulas (bahkan dibayar lebih dari sekadar buku gratis). Pihak penerbit itu kesal karena si reviewer bukannya cerita tentang bukunya, malah banyakin quote dan jatuhnya spoiler. Aku masih inget marahnya pihak penerbit itu. Jadi pas dibahas di The Slippery Art of Book Reviewing langsung teringat karena pernah menyaksikan "kejadian" itu secara "langsung", saat itu percakapannya terjadi di platform Twitter (saat aku nulis ini namanya X). Penerbit terang-terangan memarahi reviewer yang kirim tautan ulasan buku yang diminta penerbit itu di utasnya di Twitter. Pas dicek, isinya quote semua. Marahlah penerbitnya.



Aku ngasih rating 4 untuk The Slippery Art of Book Reviewing bukan karena not highly recommended. Tetep rekomen, tapi aku ngerasa buku ini nggak untuk semua orang. Kalo nggak karena perlu banget, mungkin aku nggak akan kepikiran buat menyelesaikan buku ini, sebab aku lumayan berharap banyak sama buku ini. Tapi setengah buku ke sana, udah mulai kerasa boring. Aku masih bertahan karena hampir bagian terakhir buku dibahas tentang perspektif review yang dibuat oleh pembaca. Kalo nggak karena bagian ini, kemungkinan besar aku DNF, sih. Entah karena mood swing aku kurang oke entah memang jatuhnya aku jenuh xD 

Aku tetep rekomen untuk baca The Slippery Art of Book Reviewing kalo pengen dapet ilmu review buku, minimal dapat contoh supaya kalimat yang kita keluarkan nggak seklise "The best book I ever read this year!" Soalnya kalo baru dibaca Januari, ntar di bulan-bulan lain nemu buku yang lebih baik dari yang dibilang the-best-book-I-read-this-year kan jadi saru. Ya, nggak? xD

PS: Aku gagal menyelesaikan 50.000 kata di bulan November karena banyak kondisi yang tidak bisa aku ceritakan. Sepertinya tahun 2025 ini aku gagal dengan beberapa challenge, tapi setidaknya, per hari ini, aku berhasil melampaui target baca yang aku pasang di awal tahun 2025 ini: 45 buku. Bravo me! Alhamdulillaah... Masih ada buku yang mau aku selesaikan baca sampai akhir tahun 2025. 

Stay healthy, see you tomorrow! xoxo,

Terusin baca - [Review] The Slippery Art of Book Reviewing by Mayra Calvani & Anne K. Edwards

1 Mei 2013

[posting bareng] Mr. Penumbra's 24-Hours Bookstore

 Judul: Mr. Penumbra's 24-Hours Bookstore A Novel
Penulis: Robin Sloan
Diterbitkan oleh: Farrar, Straus and Giroux
First edition, 2012
e-book
273 pages
e-ISBN: 9780374708832



Sinopsis Goodreads:   

A gleeful and exhilarating tale of global conspiracy, complex code-breaking, high-tech data visualization, young love, rollicking adventure, and the secret to eternal life—mostly set in a hole-in-the-wall San Francisco bookstore

The Great Recession has shuffled Clay Jannon out of his life as a San Francisco Web-design drone—and serendipity, sheer curiosity, and the ability to climb a ladder like a monkey has landed him a new gig working the night shift at Mr. Penumbra’s 24-Hour Bookstore. But after just a few days on the job, Clay begins to realize that this store is even more curious than the name suggests. There are only a few customers, but they come in repeatedly and never seem to actually buy anything, instead “checking out” impossibly obscure volumes from strange corners of the store, all according to some elaborate, long-standing arrangement with the gnomic Mr. Penumbra. The store must be a front for something larger, Clay concludes, and soon he’s embarked on a complex analysis of the customers’ behavior and roped his friends into helping to figure out just what’s going on. But once they bring their findings to Mr. Penumbra, it turns out the secrets extend far outside the walls of the bookstore.

With irresistible brio and dazzling intelligence, Robin Sloan has crafted a literary adventure story for the twenty-first century, evoking both the fairy-tale charm of Haruki Murakami and the enthusiastic novel-of-ideas wizardry of Neal Stephenson or a young Umberto Eco, but with a unique and feisty sensibility that’s rare to the world of literary fiction. Mr. Penumbra’s 24-Hour Bookstore is exactly what it sounds like: an establishment you have to enter and will never want to leave, a modern-day cabinet of wonders ready to give a jolt of energy to every curious reader, no matter the time of day.

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Seharusnya, Bunda posting ini kemarin, dalam rangka #PostingBarengBBI untuk tema #Buku. Iya, kan, bulan April kemarin tuh ada World Books International Day yang jatuh pada tanggal 23. Cuma, berhubung koneksi internet yang seperti siput melendut, Bunda menyerah. Ditambah kan mesti nyiapin meeting untuk siangnya.

Sebetulnya, Bunda juga bingung kenapa milih buku ini untuk ikut event baca bareng BBI bulan April. Hihihi. Kenal juga nggak, tapi pas nemu e-booknya, malah milih ini. Awalnya sih satu: tertarik sama covernya yang simple namun misterius. Kesannya ga digarap serius supaya menarik. Justru Bunda malah penasaran. Apakah ceritanya sesimpel covernya?

Ternyata nggak! Di dalamnya, Bunda mendapatkan banyak ketegangan #halah dan misteri. Juga pengetahuan baru.

Mr. Penumbra's 24-Hours Bookstore cerita tentang Clay Jannon, seorang desainer web, yang baru saja kehilangan pekerjaan di NewBagel, karena perusahaan ini tutup. Di NewBagel, Clay bekerja sebagai desainer yang membuat tampilan website juga promo kit perusahaan. Karenanya, Clay akrab dengan berbagai macam desain. 

Berhubung hidup harus terus berjalan juga dibiayai, mau nggak mau Clay harus mendapatkan pekerjaan, kan? Iya, lah. Dengan bekerja, kita bisa menghasilkan uang untuk menyambung hidup, termasuk bayar sewa apartemen, seperti yang Clay lakukan. Lalu, di sanalah, di Mr. Penumbra's 24-Hours Bookstore, Clay bekerja sebagai clerk sekaligus penjaga toko shift malam.

Unik juga, ya, ada toko buku 24 jam. Biasanya, kan, toko yang buka 24 jam itu semacam toko obat atau apotek. Ini toko buku, lho!

Yang bikin aneh, selain karena buka 24 jam, buku yang dijual di sana juga ga umum. Clay baru menyadarinya ketika ada calon pelanggan masuk toko menanyakan buku biografi Steve Jobs, pendiri Apple Inc. Buku itu tidak tersedia di sana. Sebagai toko buku, tentu saja ini hal yang aneh. Bahkan, Clay hanya menjual beberapa kartu pos saja dari toko ini.

Keanehannya nggak hanya di situ. Pertama, Clay dilarang buka-buka buku yang ada di rak belakang. Dilarang baca pun. Clay menyebutnya "Waybacklist shelf". Kedua, pada jam-jam tertentu di giliran shift Clay bekerja, muncul pelanggan yang datang mengembalikan buku dan meminjam buku lain. Bukunya pun bukan buku biasa. Dan mereka punya kartu anggota dengan kode tertentu.

Akhirnya, Clay terpikir untuk membuat sebuah simulasi model dengan menggunakan software Ruby, di mana dia bisa memperkirakan siapa saja yang akan datang pada jam-jam tertentu. Oya, ada yang terlewat. Clay juga Oliver *yang jaga sebelum Clay*, diwajibkan menulis data pelanggan yang datang dengan ciri mendetail di logbook. Misalnya, pakai baju apa, dan lain-lain. Ternyata, logbook ini kemudian berguna dalam membuat simulasi model itu.

Clay punya cita-cita pengen membuat toko buku tempat bekerjanya ini dikenal orang banyak dan menjadi tempat mampir orang-orang karena menarik. Nggak hanya itu, Clay pun membuat semacam advertising di Google, yang membuatnya bertemu dengan Kat, seorang karyawan Google yang jenius. Pertemuannya dengan Kat-lah yang membuat cerita di buku ini mulai menemukan keseruannya.

Bukan! Bukan kisah kasih Kat dan Clay-nya yang seru. Malah kalo boleh dibilang, hambar banget. Sepertinya, fokus Robin Sloan memang bukan di kisah kasih Kat dan Clay. Melainkan pada pemecahan misteri. Bunda jadi inget serial The Secrets of The Immortal of Nicholas Flammel.

Oke, Bunda nggak mau spoiler, ya. Ini buku wajib kalian baca. Hihi... Dan, gara-gara baca ini, Bunda jadi melakukan beberapa riset, di antaranya mengenai

1. Ruby
Apa itu Ruby? Untuk penggemar perhiasan, ruby adalah batu mulia berwarna merah delima. Biasanya ya dipasang di perhiasan, semisal kalung, cincin atau gelang. Ruby yang diceritakan di sini adalah bahasa pemrograman yang dirancang oleh Yukihiro "matz" Matsumoto. Kelebihan Ruby adalah walau berbasis script, pemrograman ini berorientasi pada obyek. 
Apa maksudnya berorientasi pada obyek?

Di Ruby, semua adalah obyek. Setiap informasi dan kode bisa diberi property dan action. Pemrograman berorientasi obyek memanggil property dengan nama variabel instan dan action, yang disebut sebagai metode. Pendekatan murni berorientasi obyek terutama terlihat pada demonstrasi sedikit kode yang diberikan pada number. (sumber: website Ruby)

Aplikasinya di cerita ini, Clay memasukkan data-data dari logbook. Kemudian setelah dicompile, muncullah visualisasi yang tampak nyata. Misalnya: Fedorov *salah satu pelanggan unik itu* datang jam berapa, pakai baju apa dan apa yang dikatakannya. Di sini, Clay bisa memperkirakan sehabis pinjam buku C, Fedorov akan pinjam buku F. Kurang lebih seperti itu. Maka, ada kejadian, di mana ketika Clay berhadapan dengan satu tamu dalam dua dunia. Satu di dunia nyata, satunya di layar monitor.

2. Typografi
Sewaktu Clay harus "mencuri" salah satu logbook lama demi kepentingan modelling di Ruby, Clay dan Mat membuat tiruan logbook yang "dicuri" itu supaya bisa sama persis. Mat, teman seapartemen Clay, adalah pembuat model. Jadi, membuat tiruan logbook dengan sangat presisi ini membutuhkan ketelitian, termasuk font yang digunakan pada embosan sampul logbook. Yang digunakan di logbook ini adalah Gerritszoon Display.

Sebagai seseorang yang pernah menjadi web designer, tentu Clay sangat akrab dengan berbagai macam font. Clay pun bercerita, sewaktu kuliah, dia pernah dapat tugas membuat font yang akhirnya nggak selesai. Makanya, Clay nggak pernah berani pakai font bajakan, karena tahu susahnya mendesain font. Berhubung font Gerritszoon Display ini ternyata harganya ribuan dolar dan Clay nggak punya uang sebanyak itu untuk membelinya... dia terpaksa mengerahkan salah satu kenalannya, Grumble, untuk mendapatkan bajakannya.

Ternyata proses membuat font rumit juga, ya. Bunda baca di sini dan di sini. Bunda jadi ingat. Salah satu teman Bunda di kantor, pernah cerita, font buatannya yang diupload di sebuah website khusus font mendapat komentar dari seseorang di luar negeri sana. Dia minta ijin buat pakai font karya teman Bunda itu. Dan nanya, kalo dipake buat bikin kaos 50 buah, dia mesti bayar berapa? Teman Bunda kaget, sih. Ternyata font-nya dihargai sebegitunya. Awalnya, dia mau pasang tarif. Tapi, akhirnya, dia memutuskan untuk menggratiskan alias silakan pakai aja, toh, cuma sedikit ini kaosnya dan sudah minta ijin.

Bunda yang selama ini sembarangan pake font buat scrapbook, jadi mikir. Eh, tapi Bunda sih dapat font gratisan, kok. Cuma ga tau juga. Jangan-jangan, gratisannya hasil bajakan, ya? #berpikirkeras. Terus terang, Bunda jadi pengen bikin font sendiri. Nanti Bunda namai font Bunda: Peni Astiti. Hahahahahaha....

Dari teman Bunda ini juga, katanya sih, ada film mengenai typografi ini. Judulnya Helvetica. Mungkin bisa dilihat trailernya di bawah ini... ^_^



3. Aldus Manutius
Manutius disebut-sebut di sini sebagai "leluhur" pemilik toko buku misterius ini. Jadi, Penumbra itu salah satu "murid" Manutius. Karena Bunda kepo, maka Bunda meluncur ke engine search, mencari nama Aldus Manutius
Aldus Manutius adalah seorang publisher yang mendirikan Aldine Press pada tahun 1495. Aldus juga menciptakan beberapa font, di antaranya Aldine 401, Poliphilus, juga Bembo. 

Kesan Bunda terhadap buku ini? Buku ini keren banget, menurut Bunda. Walau nggak disebut setting tahun cerita berlangsung secara pasti seperti di buku yang ngayal edan ini, buku ini up to date banget. Iya, sih, terbit tahun 2012. Cuma semuanya berasa nyata. Bunda sampai googling tuh, penasaran sama yang namanya font Gerritszoon Display itu, yang ternyata hanya rekaan semata. Hahaha. Sebel... -_____-"

Trus, Robin Sloan berhasil membuat Bunda percaya dengan khayalan-khayalan mengenai apa yang akan dihasilkan oleh Google. Seperti Google Smell, mungkin? :P

Pasti kalian bertanya-tanya, terus buku tentang bukunya di sebelah mana? Cuma cerita tentang toko bukunya? Nah... itu dia. Di sini diceritain tentang codex-vitae. Semacam catatan perjalanan hidup seseorang yang bisa menjadikannya immortal. Hihi... Baik Manutius mau pun Penumbra, bahkan punya tuh codex vitae-nya. Dari sini juga, Bunda ngerti soal proses bikin e-book...

Oya, ini adalah quotes yang sempat Bunda abadikan:

"I did not know people your age still read books," Penumbra says. He raises his eyebrow. "I was under the impression they read everything on their mobile phones."
"Not everyone. There are plenty of people who, you know-people who still like the smell of books."

"It is the text that matters, brothers and sisters. Remember this. Everything we need is already here in the text. As long as we have that, and as long as we have our minds, we don't need anything else."

"How can you stay interested in anything - or anyone - for long when the whole world is your canvas?"

"When you read a book, the story definitely happens inside your head. When you listen, it seems to happen in a little cloud all around it, like a fuzzy knit cap pulled down over your eyes."

"It's easy to find a needle in a haystack! Ask the hays to find it!"

Buku ini rekomen buat kalian? Banget! Wajib baca! :D

Diposting juga buat ikutan:

Fantasy Reading Challenge



Finding New Authors 2013 Challenge

What's in a Name Challenge 2013


Books in English
Terusin baca - [posting bareng] Mr. Penumbra's 24-Hours Bookstore