Tampilkan postingan dengan label 60booksin2013. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 60booksin2013. Tampilkan semua postingan

31 Des 2013

Cookie by Jacqueline Wilson #PostBarDes #Liburan #BBI

Judul: Cookie
Penulis: Jacqueline Wilson
Penerjemah: Muntya Ayudya
Editor: Mery Riansyah
Ilustrasi: Nick Sharratt
Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama
Januari, 2012
ISBN: 978-979-22-7934-4
Jumlah halaman: 376 hlm; 20 cm
Genre: Realistic Fiction, Childrens, Young Adult, Young Reader, Family, Liburan (oke, yang terakhir rada maksa :P)
Status: Punya. Beli di Rumah Buku. Harga IDR 48,000

Wajah Beauty Cookson biasa saja, ia juga pemalu. Karena itu teman-teman di sekolahnya memberinya julukan baru-Ugly, si Jelek!
Tapi ada yang lebih parah daripada ejekan itu: Dad. Suasana hati Dad gampang berubah, hal paling sepele bisa memicu amarahnya. Untung ada Mum yang sangat menyayangi Beauty dan selalu berusaha membahagiakannya. Mereka bahkan punya hobi baru, yaitu membuat cookie.
Makin lama, Dad sayangnya makin tak terkendali. Mampukah Beauty dan Mum terus bertahan? Ataukah ada cara lain untuk memulai hidup baru yang lebih indah?

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Tak terasa, ini sudah masuk ke penghujung tahun 2013. Posting bareng terakhir dengan BBI di tahun 2013. Tema yang dipilih untuk posting bareng tanggal 31 Desember 2013 adalah liburan. Kebetulan Bunda sedang baca ini, ya sudah, Bunda jadiin salah satu pilihan aja buat posting bareng. Maksa banget sih, padahal. 

Sekilas cerita mengenai Cookie
Jadi ceritanya ada anak perempuan yang biasa banget, badannya besar, wajahnya bundar berbintik-bintik, rambut panjang bernama Beauty. Nah, karena dia nggak cantik, pas dia masuk ke sekolah baru, sekolah khusus anak perempuan, dia malah dapat julukan Ugly alias si Jelek, oleh beberapa anak yang populer di sekolahnya, seperti Skye - yang sialnya, dia emang cantik banget. Kayaknya lebih cocok jadi anak Mr. Cookson, deh, daripada Beauty.

Di satu sisi, Mr. Cookson ini seorang kontraktor kaya raya banget. Dia punya berbagai Happy Homes. Mulai dari Happy Home sederhana sampai Happy Home Deluxe. 

Meski Beauty terlahir sebagai anak orang kaya banget yang kamarnya itu mungkin harganya milyaran, dia sama sekali nggak bahagia. Dad bukanlah seorang yang penyabar.  Dad tuh moody banget. Kalo mood swing Dad buruk, beuh... abis, deh...

Di balik semuanya, Beauty punya Mum yang teramat menyayanginya. Mum juga takut pada Dad. Jadi, setiap Beauty bermaksud memberontak pada Dad, Mum selalu membelanya. Oya, Beauty juga punya sahabat, yang sayangnya, sahabatnya ini udah sahabatan duluan dengan Skye, bernama Rhona. Rhona sayaaang banget pada Beauty. Ibunya pun menyayangi Beauty. Dia dapat hadiah kembaran boneka teddy bear Rhona - saat pesta ulang tahun Rhona, yang dicemplungin Skye di kolam renang sehingga ga ketemu meski sudah dicari ke mana-mana. 

Suatu ketika, Beauty dan Mum sudah tidak tahan dengan seluruh perlakuan Dad. Mum mengajak Beauty melarikan diri. Ternyata, Mum tak tahu mau melarikan diri ke mana. Yang jelas, Mum menyuruh Beauty membawa barang terpenting, dia membawa semua peralatan gambarnya juga hasil karyanya yang selama ini dia buat untuk Sam dan Lily si kelinci, di acara Rabbit Hutch, acara yang menurut Beauty, hanya untuk bayi.

Sementara Mum membawa serta semua buku petunjuk memasak cookie, karena Mum bertekad untuk punya keterampilan membuat Cookie, supaya Beauty tidak dipanggil Ugly lagi, melainkan Cookie, karena Mum bermaksud "mengubah" Beauty menjad "peri Cookie" :D

Setelah berkelana tanpa tujuan, mereka berdua sampai di sebuah tempat indah bernama Rabbit Cove. Langsung saja, Beauty dan Mum menyebut kunjungan mereka ke sana sebagai liburan. Tempat di Rabbit Cove begitu tenang dan menyenangkan, sehingga mereka lupa, bahwa mereka baru saja mengalami kejadian menyedihkan. Mereka berdua betah sekali berada di sana. Terlebih, pemilik cottage tempat mereka tinggal di sana, Mike, orang yang sangat baik hati dan suka melukis. Dia sangat menyayangi Beauty.

Yang jelas, setelah semuanya terjadi, meski Dad datang menyusul mereka, Beauty berkeras tidak mau pulang. Dan cookie buatan Mum semakin hari semakin enak dan bagus, membuat Beauty dan Mum menjadi terkenal di Rabbit Cove.

Review Bunda

Aduh! Cerita karya bu Jackie ini lagi-lagi, deh... bikin hati berasa diremas-remas. Nggak sampai nangis, sih. Tapi emosinya selalu dapat. Ceritanya dalem banget. Cerita kayak gini sebetulnya "lazim" terjadi di beberapa keluarga. Terutama, para ayah yang punya tekanan tinggi dalam pekerjaan mereka, keinginan untuk membahagiakan keluarga secara materi, jadi lupa, bahwa kebahagiaan sejati letaknya bukan pada materi. Meski memang, untuk bisa berlibur bersama keluarga ke tempat indah, makan enak di tempat mewah, semua perlu uang yang sangaaaaat banyak. 

Jadi ingat, Papa pernah minta maaf pada Bunda, karena sampai sekarang, belum pernah bisa bawa kita liburan ke tempat-tempat keren seperti Disneyland - Tokyo, atau bahkan tempat sedekat Kuta, Bali. Well, Bunda cuma nyengir aja tiap Papa minta maaf begitu. Buat Bunda, liburan itu ga penting ke mananya. Toh, meski "cuma" pergi ke Semarang buat nengokin si Mbah (om Bunda) atau ke Garut buat ke rumah Nenek, itu udah bisa kita anggap liburan, kan? Atau bisa spare time di rumah dengan bikin sesuatu yang menyenangkan, itu sudah liburan yang luar biasa menurut Bunda.

Kadang-kadang, cuma keliling Cimahi, kejebak macet aja, itu udah liburan menyenangkan buat Bunda, lho. Bisa pergi berempat, menikmati banyak hal di jalan, ngobrol dengan Papa dalam keadaan macet itu jadi hiburan tersendiri.

So... liburan itu adalah gimana kita mau manfaatin situasinya aja. Kalo kita ada di tempat seindah Kuta Bali, misalnya, tapi kita nggak bisa menikmatinya karena sakit perut atau lagi sedih luar biasa, ya, percuma udah keluar uang banyak. Meski murah atau nyaris ga keluar uang sama sekali, kalo kita enjoy dengan liburan itu, ya tetap jadi liburan yang menyenangkan. Liburan bukan sekedar menghasilkan foto supaya ga dibilang "no picture = hoax" :D

Liburan terletak pada hati kita menyukai apa yang ada di luar rutinitas dan bahagia dengan itu. Misalnya, liburan ke hati Lee Min Ho. Uuuuuuuppppsssss!

Nah, balik lagi ke cerita Cookie di atas, meski cerita liburannya nggak banyak, tapi di sana Beauty menemukan arti sesungguhnya dari liburan itu sendiri. Jauh dari rutinitas yang sering membuatnya tertekan menjadi lebih rileks, menemukan sesuatu yang mengubah caranya berpikir, lebih banyak menghargai dirinya sendiri, dan seterusnya. Liburan memang harus seperti itu. Bisa membuat kita lebih rileks - alih-alih stres karena pengeluaran biayanya, lebih menghargai diri kita sendiri, dan lain-lain.

Lagi-lagi, bu Jackie membuat hati teremas-remas karena kita harus "menikmati" kemarahan Dad pada Mum atau Beauty. Sungguh, pengalaman "wisata hati" yang membuat perasaan diaduk-aduk. Kita dibuat bisa berempati pada Beauty juga Mum. Dan selalu khas karya Bu Jackie, setiap bikin cerita penuh masalah, beliau juga kasih penyelesaiannya. Karena memang Tuhan menciptakan masalah selalu bersama solusinya. Sooo, keep the spirit high, ya....

Nah, ga salah, deh, ya, kalo Bunda kasih 4 untuk Cookie. Terjemahannya juga oke, kok... 

Cheers! Love you both!
Terusin baca - Cookie by Jacqueline Wilson #PostBarDes #Liburan #BBI

3 Des 2013

Pojok Lavender oleh Primadonna Angela

 Judul: Pojok Lavender
Penulis: Primadonna Angela
Desain dan Ilustrasi cover: eMTe
Diterbitkan pertama kali oleh PT Gramedia
April 2013
ISBN: 978-979-22-9490-3
Genre: Teenlit, Kumpulan Cerpen, Fiksi
Status: punya, edisi bertanda tangan ^_^
 

Banyak hal dapat terjadi dalam sebuah kafe. Kafe bisa menjadi latar berseminya cinta sampai patahnya hati, menjadi saksi perselisihan sampai saksi persahabatan yang tulus, tepat seseorang mengembangkan harapan atau mematikannya. Drama kehidupan yang silih-berganti.
Dalam buku ini ada beraneka kisah yang berkaitan dengan Pojok Lavender. Ya, Lavender Rosemary, adik Cinnamon Cherry, juga punya ceritanya sendiri. Tapi apa kisah cintanya akan berakhir indah seperti yang dialami banyak pasangan yang berkencan di kafenya?

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...

Akhir-akhir ini agak bingung mau baca apa, padahal bacaan menumpuk. Terus, reading challenge Bunda di goodreads kan belum sampai 50%. Akhirnya Bunda set ulang demi dapatkan badge lolos. Hahaha. Curang, ya. Tapi, ini jadi evaluasi buat bulan depan. Jangan pasang target terlalu tinggi kalo memang belum mampu.

Terus, Bunda teringat kalo Bunda punya buku ini. Kalo ngeliat blurbnya, keliatannya sih, konsep dan idenya sama dengan Blue Romance. Jadi, Bunda sudah antusias, ingin sekali baca kumpulan cerpen berlatar sebuah kafe (lagi).

Harap diingat, Bunda nggak pernah membatasi genre bacaan. Jadi, teenlit tetap masuk ke selera Bunda.

Buku ini berisi enam belas cerita pendek. Banyak, ya? Iya. Tapi, kebanyakan cerita hanya sekitar dua halaman. Jadi kayak fragmen gitu. Tapi ga masalah sih. Lebih cepat selesai baca cerita itu, biasanya meningkatkan mood baca, karena terasa cepat menyelesaikannya.

Sayangnya, nggak begitu dengan buku ini. Entah kenapa, feel-nya nggak dapet sama sekali. Bunda baca, kok, cerita-cerita ibu Donna yang lain, misalnya How to be A Writer, Kotak Mimpi, juga Satsuki Sensei. Dan Bunda nggak masalah dengan cerita-cerita beliau. Suka.

Hanya di buku ini... Seperti bukan tante Donna yang biasanya. Pemilihan kata-katanya juga terlalu baku untuk genre teenlit yang benar-benar mengambil segmen usia anak tiga belas tahun. Spoiler sedikit, Lavender Rosemary, yang punya kafe Pojok Lavender ini berusia 13 tahun. Nah, ini yang sedikit membuat Bunda merasa bahasanya terlalu "tua" untuk seluruh karakter di buku ini. Ya, Bunda tahu, nggak semua karakter di buku ini seumuran dengan Lavender. Cuma tetep aja, pemilihan cara bertutur ternyata menjadi kunci keseluruhan kenikmatan membaca. #menurutbundayangpembacabiasa

Di buku-buku lain, twistnya terasa banget. Kadang ga ketebak. Tapi, di buku ini, sejak baca cerita pertama, dari bab awal aja udah kebayang cerita ini ke mana arahnya, bahkan endingnya. Dan ini muncul (hampir) di keseluruhan cerita. Ehm. Cuma di cerita berjudul "Hmm.." yang tidak terduga endingnya. Tapi, di cerita ini juga justru Bunda menemukan apa, ya? Sesuatu yang mungkin jadi kritikan atau masukan.

Jadi gini. Tokoh utama di cerita "Hmm" itu, dia pake kata "gue" sebagai kata ganti pertama. Sayangnya, eksekusinya gagal, karena kalimat yang digunakan sedemikian baku, sehingga kurang nyaman bacanya. Kata "aku" rasanya lebih masuk di sini. Maksud Bunda, kalo mau pake kata "gue" sebagai kata ganti pertama, selanjutnya, pakailah bahasa prokem sekalian yang nggak baku, supaya ga berasa belang dan aneh bacanya. Plus, ada sesuatu yang kurang masuk akal di sini. Di cerita ini, ada seorang ibu yang dijambret. Ibu ini kehilangan uang sebesar sembilan juta rupiah. Namun, untuk memudahkan pencarian, ternyata uang ini sudah digambari bunga. Meski seratus ribuan, menggambari uang sebanyak 90 lembar itu lumayan kurang kerjaan, ya. Heuheu. Gapapa, sih. Imajinasi mah boleh aja liar. Cuma itu aja masukannya. Kata "gue" ini jadi mengganggu keseluruhan cerita, walau idenya keren dan endingnya tidak terduga sama sekali.

Berhubung ada quote-quote bagus di dalamnya, Bunda kasih dua bintang, ya, untuk ratingnya. Maaf, ya, tante Donna. Bunda tetap tunggu dan mau baca cerita-cerita tante Donna yang lain, karena Bunda selalu suka ide-ide cerita tante Donna.

Cheers! Love you both,
Terusin baca - Pojok Lavender oleh Primadonna Angela

29 Nov 2013

Prey by Michael Crichton (Posting Bareng November BBI, Thriller-Horror)



Judul: MANGSA (PREY)
Penulis: Michael Crichton
Alih bahasa: Hendarto Setiadi
Sampul dikerjakan oleh: Marcel A.W
Diterbitkan pertama kali oleh PT Gramedia Pustaka Utama
Agustus 2003
ISBN: 979-22-0449-0
Genre: Thriller, Horor, Suspense, Mystery, Science Fiction
Status: Antara punya dengan nggak. Buku ini milik seseorang yang Bunda sandera karena Bunda belum digaji waktu kerja dengan orang tersebut. #eh


Di gurun pasir Nevada, suatu eksperimen berubah menjadi bencana. Sekelompok nanopartikel - robot mikro - lolos dari laboratorium. Robot-robot ini mandiri dan bisa bereproduksi. Mereka juga cerdas dan belajar dari pengalaman. Bisa dibilang, mereka merupakan makhluk hidup.
Kelompok robot ini diprogram sebagai predator. Dengan cepat mereka berevolusi, menjadi makin mematikan dalam hitungan jam.
Semua usaha untuk menghancurkannya gagal.
Sementara waktu terus berjalan.
Dan kitalah mangsanya. 

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Fyuuuh! Bunda ikut Posting Bareng lagi, nih! Kali ini temanya Thriller/Horror! Waduh! Bunda agak anti sebetulnya dengan tema ini. Jadi, terkadang Bunda ga pengen baca yang baru. Makanya, Bunda pilih PREY yang sudah pernah Bunda baca sekitar 10 tahun lalu, karena Bunda udah tahu ceritanya. Hihihi. Minimal, "ketegangan"nya bisa diantisipasi sebelumnya. Eaaaa...

Ternyata cara Bunda berpikir sepuluh tahun lalu dengan hari ini berbeda jauh, ya. Begitu juga cara Bunda membaca buku ini. Jauh berbeda dibanding sepuluh tahun lalu. Dan yang paling penting dari semuanya, ternyata Bunda lupa 90% detailnya. Hahaha.

Oke, ini termasuk buku favorit Bunda yang keren banget. Bunda terkesan dan jatuh cinta pada karya Michael Crichton dimulai dari buku ini. Walau sebelum baca buku ini, film Jurassic Park sudah beredar dan Bunda belum baca bukunya, Bunda jatuh hati pada karya beliau lewat buku ini.

Sinopsis buku ini...

Buku ini bercerita tentang Jack Forman, seorang programmer yang menjadi bapak rumah tangga selama enam bulan setelah dipecat dari tempatnya bekerja karena dianggap membahayakan perusahaan. Sebetulnya, lebih tepatnya, membahayakan kedudukan bos-nya, karena dia tahu rahasia pribadi sang bos. Salah bosnya sendiri, sih, selingkuh ga hati-hati. Transaksi pribadi pake email kantor. Ya kebaca lah, sama Jack Forman ini. Karena semua email yang masuk, bisa dia baca. Hihi.

Sementara Jack Forman jadi bapak rumah tangga yang mengurus rumah dan ketiga anaknya: Nicole, abege berumur 11 tahun; Eric bocah berumur delapan tahun; dan Amanda si bayi yang berusia enam bulan; Julia Forman, istrinya, lebih banyak menghabiskan waktu di tempatnya bekerja. Saat ini, perusahaan tempat Julia bekerja, Xymos, sedang mengembangkan sebuah teknologi yang akan mengubah dunia. Untuk itu, perusahaan ini memerlukan suntikan dana yang sangat besar untuk pengembangan lebih lanjut. Karenanya, Julia jarang pulang di waktu anak-anaknya masih terjaga.

Tidak hanya itu, lama kelamaan sikap Julia pun semakin aneh. Suatu ketika, Amanda tiba-tiba menangis seperti kesakitan tapi tidak ada demam. Ketika dibawa ke rumah sakit oleh Jack, sekujur tubuh Amanda tiba-tiba merah. Dan ketika dicari penyebabnya tidak ketemu, dokter memutuskan melakukan scan MRI yang malah berakibat mesinnya rusak.

Beberapa hari kemudian, tubuh Amanda tiba-tiba berubah warna menjadi ungu. Ketika Jack berada di rumah sakit, ternyata ada beberapa orang yang masuk ke dalam rumah mereka, seperti membersihkan sesuatu. Ini diketahui oleh Eric dan Nicole, tapi Julia tidak bicara apa pun mengenai ini pada Jack. Semakin hari, tingkah Julia semakin aneh dan ini membuat Jack berkesimpulan bahwa Julia, berselingkuh dengan rekan kerjanya, Ricky. Apalagi, ketika Jack kebetulan bertemu dengan Ricky di sebuah supermarket, sikap Ricky begitu aneh. Pun ketika membahas Julia. 

Hingga suatu ketika, Jack bertemu dengan salah satu agen yang membantunya mencarikannya pekerjaan, Jack ditawari kembali ke perusahaannya. Kebetulan, perusahaan tempatnya bekerja telah bekerja sama dengan perusahaan tempat Julia bekerja. Itu sebabnya, kenapa ada Ricky, mantan anak buah Jack, di Xymos. Semula Jack tidak mau. Tapi, Annie, agennya ini, mengingatkan Jack, bahwa programmer nganggur enam bulan itu berarti posisi Jack tidak menguntungkan. Kalo peluang ini ga diambil, dia akan menganggur selamanya.

Ketika akhirnya Jack Forman pergi ke Nevada, tempat pabrik Xymos berada, dia menemukan banyak keanehan. Di antaranya munculnya nanopartikel yang lepas dan menjadi tidak terkendali. Juga segala sesuatu yang ga sinkron. seperti tidak kompaknya kata-kata Ricky dengan kata-kata Mae, ahli biologi mereka atau Chaley, salah satu programmer.

Nah, mulai dari sini berasa aura tegangnya, bagaimana Jack Forman menemukan sarang "makhluk hidup baru" ini, menghadapi mereka dan perasaan mereka ketika rekan kerja mereka ada yang mati dan berkhianat.

Pendapat Bunda

Sepuluh tahun lalu, Bunda terkagum-kagum ketika membaca ini dan memberikan lima bintang untuk buku ini. Karena, meski PREY ini novel, fiksi, Michael Crichton menulis berdasarkan riset, sehingga seluruh alur di sini berasa nyata, membuat kita berpikir bahwa bisa saja ini terjadi. Yeah. Mungkin saja.

Nah, sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk bisa mengubah cara berpikir Bunda. Kali ini Bunda ngasih empat bintang jadinya. Meski belum masuk ke angka ribuan jumlah buku yang Bunda baca, beberapa buku yang Bunda baca telah mengubah cara Bunda berpikir. Termasuk cara mengapresiasi apa yang Bunda baca.

Dulu mungkin, karya yang katanya cemen, tetap akan Bunda bilang bagus. Sekarang, Bunda sudah punya banyak pembanding. Atau, sekarang, Bunda sudah punya cara pandang yang baru, sehingga bisa melihat mana yang efisien atau nggak, mana yang terlalu bertele-tele di dalam sebuah cerita.
Iya, kurang lebih seperti itu.

Memang ada bagian-bagian yang tidak tertebak, tapi lebih banyak bagian-bagian yang mudah ditebak, cuma pembaca tetep digiring supaya ga tahu. Padahal kebaca jelas, kok, bisa ditebak. Untuk bagian-bagian yang ga tertebak, Bunda acungi jempol. Keren!

Lalu, apa yang membuat Bunda terpaksa menurunkan rate dari lima ke empat? Di bagian ending atau penutupnya, dibuat kesimpulan yang sebetulnya sudah bisa ditebak oleh pembaca sejak pertengahan jalan cerita. Semua "teka-teki" sudah bisa dirangkai sendiri oleh pembaca. Nah, sebetulnya, oke-oke aja, sih, bikin kesimpulan. Tapi sepertinya memang harus dengan cara lain yang tidak terduga. Terus terang, endingnya sih udah ketebak kayak gimana. Dan ini bukan karena Bunda udah pernah baca, ya. Jujurly, Bunda udah lupa sama sekali ending ceritanya gimana. Horornya di sebelah mana. De-el-el. Jadi, anggap aja Bunda baru baca.

Untuk semua ketegangan dan jalan cerita, tetap saja, Michael Crichton jagoan Bunda. Empat bintang, layak, lah :D

Oya, ini tentang penulisnya:

Michael Crichton (1942–2008) was one of the most successful novelists of his generation, admired for his meticulous scientific research and fast-paced narrative. He graduated summa cum laude and earned his MD from Harvard Medical School in 1969. His first novel, Odds On (1966), was written under the pseudonym John Lange and was followed by seven more Lange novels. He also wrote as Michael Douglas and Jeffery Hudson. His novel A Case of Need won the Edgar Award in 1969. Popular throughout the world, he has sold more than 200 million books. His novels have been translated into thirty-eight languages, and thirteen have been made into films.



Cheers! Love you both! xoxo
Terusin baca - Prey by Michael Crichton (Posting Bareng November BBI, Thriller-Horror)

25 Nov 2013

No One to Someone - Nina Moran

Judul: No One to Someone
The Story of Gogirl! Magazine and Friends
Penulis: Nina Moran
Penyunting: Nurjannah Intan dan Ikhdah Henny
Perancang sampul: Gogirl!
Pemeriksa aksara: Titish A. K dan Chalida
Penata aksara: Dian Nareswari dan Adfina Fahd
Foto: Arman Yonathan
Make up: Jeinita Ant
Art Direction: Anita Moran
Diterbitkan oleh: Penerbit B First (kelompok Bentang Pustaka)
Jumlah halaman: x + 194 hlm; 20 cm
ISBN: 978-602-8864-82-4
Genre: Kehidupan, Inspiratif
Status: Punya, beli di bukabuku, edisi bertanda tangan





"What if, we can actually make it work?
What if it can actually come true?"
Gogirl! lahir dari pertanyaan di atas yang terus menerus dipikirkan Nina Moran, Anita Moran, dan Githa Moran. Three sisters yang punya mimpi besar dan kecintaan tinggi terhadap majalah. It was born out full of passion on "maganizism".

Tepat setelah Gogirl! kali pertama terbit, banyak yang meramalkan majalah ini tutup setelah 4 edisi saja. But now, they proved them wrong! Gogirl! berhasil menjadi icon remaja cewek yang creative, smart, and stylish.

Akan tetapi, semua kesuksesan itu tentu saja nggak instan. Buku ini ditulis sebagai bukti bahwa keberhasilan itu kadang cuma terasa semenit. Dan sisanya, penuh dengan pergumulan, kerja keras, kesedihan, air mata, dan kemauan untuk terus maju.

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Entah karena Bunda sempat sakit pekan lalu, entah karena semangat setelah mudik ke blog masih terbawa, Bunda tumben banget jadi agak cepat bacanya. Cepat di sini bukan berarti satu buku sehari, ya. Nggak. Itu masih jauh dari harapan. Paling nggak, 3 hari ada yang kelar satu buku. Yang Bunda mau review ini. Hihihi.

Lah, kan halamannya dikit, Bun?

Itu dia. Mau halamannya sedikit, kalo kecepatan baca menurun, tetep aja lamaaa banget kelarnya. Bisa sebulan!

Separah itu, Bun?

Iyaaaaa! Separah ituuuu!

Sekarang separah itu. Sebab, sepulang Bunda dari kantor kan nemenin kalian dulu. Apalagi adek tidurnya malem. Weekend cuci setrika karena kita gak punya bibik. Jadi ya diatur dari situ waktu tersisa buat baca.

Buuuun! Kok malah curhaaaat? Katanya mau review?

Eh. Iya! Maaf... Ayok, balik lagi... Mari kita balik ke review...

Buku ini bercerita tentang petualangan pengalaman ibu Nina Moran, ibu Anita Moran, dan ibu Githa Moran sewaktu membangun Gogirl!.

Bunda udah pernah dengar ceritanya, sih, dulu ibu Nina Moran pernah diwawancara oleh Farhan di sebuah stasiun tv swasta. Nah, waktu itu memang nggak cerita sedihnya yang diceritain. Lebih ke motivasi, tujuan, dll sih. Tapi ya Bunda senang aja menyimaknya.

Apalagi ternyata, ibu Nina Moran mau bercerita lewat buku. Yang Bunda kaget, semua dikupas tuntas sampai sedetail mungkin. Mulai dari awal mula ibu Nina iseng bikin business plan yang ketahuan oleh ayah mereka. Terus waktu akhirnya muncul keputusan merealisasikan majalah ini. Gimana ibu Nina mulai mencari dana yang dibutuhkan. Semuanya bikin Bunda menahan napas. Ya ampun... Majalah yang Bunda kagumi ini, ternyata kelahirannya begitu berat dan sulit...

Kenapa Bunda kaget dengan detail cerita di dalamnya? Sebab, nggak semua perusahaan mau cerita sampai sedetail ini. Nggak semua perusahaan mau cerita susahnya mereka. Jadi yang mau diperlihatkan sukanya aja. Nah, ibu Nina beda. Dia bahkan berani "bongkar aib" untuk cerita kalo dia sendiri yang ngebungkusin semua merchandise ketika pihak percetakan yang seharusnya mengerjakan nggak mau mengerjakan.


Salah satu masalah antara lain, susahnya dapat iklan, karena mereka masih baru dan belum dikenal pasar. Belum lagi cibiran orang-orang, terutama yang sudah bergerak terlebih dahulu di dunia permajalahan. Atau, ketidak cocokan dengan percetakan.

Bayangin aja, setelah majalah didistribusikan ke pasar dan sampai ke konsumen, ternyata majalahnya lepas semua. Ini emang karena percetakan sedang bereksperimen dengan jenis lem baru yang ternyata nggak kuat, tapi sayangnya mereka nggak mau mengganti.

Belum lagi soal merchandise yang adaaaa aja ributnya. Duh!

Meski Bunda nggak ikut nangis pas baca pengalaman ibu Nina, tapi Bunda bisa bayangkan gimana beratnya perjuangan mereka sehingga Gogirl! bisa sebesar sekarang. Dan yang bikin Bunda envy adalah mereka bertiga begitu kompak. Belum lagi dukungan pacar masing-masing (yang sekarang sudah jadi suami masing-masing) dan keluarganya. Juga dukungan ibu dan ayah mereka yang begitu dahsyat. 

Yang jelas, buku ini bercerita tentang kekuatan tekad, kekuatan kekompakan, dan kekuatan cinta serta dukungan keluarga itu memang penting dalam memulai usaha. Di buku juga diceritakan, bahwa mereka sekarang "senang", sebetulnya karena hasil kerja keras mereka yang yah, begitu menguras tenaga, air mata, emosi, dan lain-lain. Intinya, yang namanya bisnis itu susah. Bukan nakut-nakutin. Tapi, di dunia bisnis, cuma yang kuat yang maju. Kuat di sini bukan kuat nyewa preman buat "membunuh" usaha-usaha lain. Tapi kuat keyakinan bahwa Tuhan itu ada dan akan membantu.

Bunda jadi teringat, mantan pacar Bunda dulu pernah bilang, bahwa di dalam hadits dikatakan, "dari 12 pintu rejeki, 11 di antaranya adalah berniaga". Dan bisnis adalah berniaga. Ada 11 pintu rejeki, lhoooo!

Terus, Bunda jadinya mau mulai berbisnis atau gimana?

#terpekur

Yang jelas, selain mengenai kerja keras, tahan bantingan dan lain-lain, kreativitas juga diperlukan dalam berbisnis. Juga melihat sebuah peluang dan bagaimana memanfaatkan peluang itu. #lirikatasanBunda :P

Nah, sejauh ini, sih, Bunda yang memang langganan Gogirl! dan fans berat ketiga pendirinya, tentu buku ini wajib punya. Eh, Bunda termasuk Gogirl! Tribe, bukan, yaaa... hihihi... masa ibu-ibu kok, bacanya Gogirl! Yah, soalnya, sewaktu Bunda belum menikah dulu, nggak ada majalah sekeren ini. Yang bisa kasih informasi fashion (meski ga mengubah Bunda jadi fashionista juga, sih), tentang self education, make up, pengetahuan umum, psikologi, lingkungan hidup bahkan sampai political views kayaknya cuma Gogirl!. Jadi, yah, dimaklum aja, deh, kalo Bunda ikut-ikutan kayak abege baca beginian :D

Sayangnya, ada beberapa "masalah" yang bikin Bunda agak gimanaaa gitu sama buku ini.

Pertama, bahasanya yang campur aduk. Memang, sih, Bunda jadi belajar bahasa Inggris juga dengan bahasa campuran macam begini. Kadang emang ga nyampe kalo ditulis dalam bahasa Indonesia. Tapi, ya, tetep aja. Rasanya aneh. Terutama, untuk wawancara dengan ibu Dian Noeh Abubakar, kalo ga salah. Yah, jadi berasa baca Vickytisasi gitu deh.

Apa itu Vickytisasi? Jadi, pernah ada di sini, di negeri ini, seleb yang memalukan sok-sok nginggris gitu yang bikin jijay bajay. Nah, walau pun misalnya memang ibu Dian ini bicaranya begitu, sebaiknya sih, penyunting bisa membantu dengan menyunting bahasanya biar enak dibaca. Iya, jatuhnya jadi kurang enak dibaca. Bunda sih, sudah terbiasa dengan bahasa campuran khas Gogirl! Tapi, untuk yang bagian wawancara itu tadi, agak terbaca kampungan. Maaf, ya... Sayang aja, sih. Mending sama penyuntingnya disunting atau dipilihin kalimat yang lebih nyaman untuk dibaca. Karena itulah guna penyunting a.k.a editor... ^_^

Kedua, untuk foto. Bunda tahu, warna merah ikut mendominasi hitam putih yang jadi warna buku ini. Tapi, kalo foto hitam putih ikut ditambahin warna merah, rasanya aneh. Sepia bukan. Black and white bukan, terus pewarnaan merahnya bikin mata kurang nyaman.

Itu aja, sih, komplen Bunda. Yang lainnya tetep inspiring dan khas Gogirl!

Jadi, bintang 3 kayaknya layak, ya...

sebagian merchandise dari majalah Gogirl! yang Bunda punya :D

Ini dia penulisnya:
 
Nina Moran is a media entrepreneur in Indonesia. Together with her sisters Anita Moran and Githa Moran published a monthly teen magazine in 2004 called Gogirl! The name is not a typo, it's meant to be that way so that it can be registered in Indonesian copyright office yet still sounded the same.

The magazine that they published was once predicted to survived only 4 editions. They had to fight all critics that said that they will not be able to compete with other magazines that was produced by other and larger media companies.

Right now, Gogirl! is not only successful but also thriving. By now they also have e-magazine, video channel, website, online mall, etc.

Aside from building her company, Nina Moran has a passion for teaching and writing. Since she was 24, despite her young age, she had been invited to speak about marketing strategies, strategic management, entrepreneurship, and self developments.

Her first book is "No One To Someone, The Story of Gogirl! Magazine and Friend", or the way she calls it; The NTS book. Like the tittle suggest, it is her story of building Gogirl! Magazine. The funny thing is, although Nina Moran always wanted to write a book, but she imagined she'd write books on business strategies or life strategies. She never thought of a semi-autobiography like The NTS book.

Needless to say, The NTS book will not be the only book she writes.


Oke. Bunda mau pulang dulu, ya... Sampai ketemu di rumah!

Cheers! Love you both! xoxo

Terusin baca - No One to Someone - Nina Moran

13 Nov 2013

Wonder - R.J Palacio


Judul: Wonder
Penulis: R.J. Palacio
Diterbitkan oleh: Knopf Books for Young Reader, 14 Februari 2012
ISBN: 978-037-589-9881
Jumlah halaman: 314 halaman
Format: e-book
Bahasa: Inggris
Genre: Young Adult, Realistic Fiction, Childrens - Middle Grade, Fiksi Kontemporer, Book Club, Family, Academic, Young Adult - Teen
Status: Punya. Dan pengen punya paperbacknya


I won't describe what I look like. Whatever you're thinking, it's probably worse.
August Pullman was born with a facial deformity that, up until now, has prevented him from going to a mainstream school. Starting 5th grade at Beecher Prep, he wants nothing more than to be treated as an ordinary kid—but his new classmates can’t get past Auggie’s extraordinary face. WONDER, now a #1 New York Times bestseller and included on the Texas Bluebonnet Award master list, begins from Auggie’s point of view, but soon switches to include his classmates, his sister, her boyfriend, and others. These perspectives converge in a portrait of one community’s struggle with empathy, compassion, and acceptance. (dari Goodreads)
Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Sewaktu memutuskan mau baca buku apa untuk #PostBarOkt #Debut BBI, Bunda bingung. Mau baca apa, ya? Sementara buku ini sebetulnya masih masuk ke dalam rak wish list. Tapi, Bunda punya e-booknya. Dan mengingat buku ini banyak mendapat award seperti Carnegie Medal in Literature Nominee (2013), The Judy Lopez Memorial Award for Children's Literature Medalist (2013), NAIBA Book of the Year for Middle Readers (2012), Waterstones Children's Book Prize (2013),  
rasanya pantas-pantas aja Bunda menempatkan buku ini untuk posting bareng.

Lalu Bunda mulai baca. Sayangnya, nggak seperti yang diperkirakan. Adaaaa aja distraksi yang membuat Bunda lama banget menyelesaikan baca buku ini. Jadi semakin mempertanyakan kemampuan Bunda dalam membaca sepanjang tahun ini. Turunnya kok makin mengenaskan begini, ya? #iyainicurhat

Oke, seperti kata sinopsis di atas, buku ini bercerita tentang August Pullman atau Auggie, yang mengalami deformed face sejak lahir. Walau sudah dilakukan banyak operasi untuk memperbaiki bentuk wajahnya, tetap saja dia mirip alien. Membuat semua orang yang melihatnya pertama kali takut. Dan buku ini bercerita tentang pengalaman Auggie memasuki middle school, yang mana ini pertama kalinya Auggie masuk ke sekolah resmi. Sekolah di mana ada gedung berisikan ruang kelas, auditorium, laboratorium, loker, kantin, guru, kepala sekolah, teman-teman sekelas, dan masih banyak lagi.

Sebelumnya, Auggie bersekolah di rumah alias home schooling. Ibunya yang menjadi gurunya. Auggie terpaksa home schooling karena jadwal operasinya yang memakan waktu sekolah. Meski begitu, Auggie bukan anak yang bodoh. Dia bahkan tertarik pada science subject.

Sebagai anak dengan deformed face, tentu dia mengalami banyak hal. Terutama reaksi orang-orang sekitar setiap melihat wajahnya. Dan Auggie sebetulnya sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Tepatnya, dia berusaha membiasakan diri. Auggie punya kakak, ibu, dan ayah yang sayang padanya. Dan itu bisa menjadi salah satu kekuatan Auggie menghadapi semuanya.

Buku ini disampaikan dalam berbagai PoV. Baik itu dari sisi Auggie sendiri, Via (kakak Auggie), Justin (pacar Via), Miranda (sahabat Via), Jack (teman sekelas Auggie), juga Summer (teman sekolah Auggie yang sering bersamanya di saat istirahat makan). Masing-masing PoV terkait satu sama lain, tapi alurnya ga terlalu jauh mundur, sehingga meski buku ini mirip puzzle, kita tetap bisa menikmati buku ini, walau berbeda sudut pandang.

Di sini diceritakan gimana pertama kalinya Auggie ditawari untuk bersekolah di sekolah formal oleh orangtuanya. Kita bisa merasakan kegalauannya. Kekhawatirannya untuk menapaki dunia baru. Pengalaman hari pertama di sekolah barunya. Gimana perasaannya sewaktu dia menemukan fakta bahwa orang yang dia kira best friend-nya ternyata bersandiwara. Cuma suruhan Mr. Tushman, kepala sekolahnya.

Semua karakter di buku ini adorable. Auggie yang bikin Bunda pengen meluk. Mom dan Dad-nya yang keren. Via yang yeah, meski abege dan sempat labil, tapi dia kakak penyayang. Daisy, anjing mereka yang adorable. Justin yang ternyata punya sifat melindungi. Summer yang unyu. Jack yang setia. Mr. Tushman yang wow! Beliau ini mengingatkan Bunda pada pak Kobayashi di cerita Totto Chan.

Meski begitu, nggak semua karakter di sini adorable, sih. Ada Justin dan ibunya yang bikin pengen lemparin kulit pisang. Ke ibunya, sih. Soalnya, ibunya Justin ini ngingetin Bunda ke Malcius Malfoy. Kenapa, ya, dewan sekolah itu, kok, isinya orang songong semua? Atau karena mereka songong, makanya dijadiin dewan sekolah? Kalo ya, crap banget!
Ada anak bernama Eddie yang perlu diajari sopan santun. Perlu diajari empati. Kemungkinan besar, dia berasal dari keluarga yang nggak pernah punya kasih sayang di dalamnya. Karena, untuk menumbuhkan empati pada orang lain, harus dibangun di dalam keluarga dulu. Keluarga itu rumah segala perasaan, kok...

Setiap chapter dalam buku ini hanya satu-tiga halaman. Nggak lebih. Dan ini yang membuat cerita mudah dicerna. Penggunaan kalimatnya nggak bertele-tele. Meski to the point, cara penceritaannya berhasil membangun emosi pembaca. Nggak salah emang, kalo buku ini memenangkan berbagai award. Karena emang buku ini keren banget. Dapet banget emosinya. Dan ada banyak quote yang pantas menenangkan hati kita.

Ini Bunda kumpulin quote-nya. Bunda mau bikin bookmark dengan quote ini.

The things we do are like monuments that people build to honor heroes after they've died. They're like the pyramids that the Egyptians built to honor the pharaohs. Only instead of being made out of stone, they're made out of the memories people have of you. That's why your deeds are like your monuments. Built with memories instead of with stones. - Auggie
"Sometimes you don't have to mean to hurt someone to hurt someone", said Veronica, Jack's baby sitter
Do people look the same when they get to heaven?"
“I don’t know, sweetie.” She sounded tired. “They just feel it. You don’t need your eyes to love, right? You just feel it inside you. That’s how it is in heaven. It’s just love, and no one forgets who they love. 
Dan masih ada lagi. Nanti Bunda masukkan ke bookmark dan Bunda jadiin freebies ^_^

Akhirnya, nambah satu lagi, deh, wish list Bunda. Worth it to collect, kok. Walau kavernya (meski representatif) kurang catchy :D

Tentang penulis:


R. J. PALACIO lives in NYC with her husband, two sons, and two dogs. For more than twenty years, she was an art director and graphic designer, designing book jackets for other people while waiting for the perfect time in her life to start writing her own novel. But one day several years ago, a chance encounter with an extraordinary child in front of an ice cream store made R. J. realize that the perfect time to write that novel had finally come. Wonder is her first novel. She did not design the cover, but she sure does love it. (copas dari Goodreads)

Cheers, Love you both!
Terusin baca - Wonder - R.J Palacio

8 Okt 2013

Genk Kompor One for All, All for Dhuaaar! by Genk Kompor



Judul: Genk Kompor - One for All, All for Dhuaaaar!
Penulis: Genk Kompor (Abe, Nando, Sandi, Erin, Eno, Deny)
Diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia
Tahun terbit 2013
Jumlah halaman: 195 hal + xxiv
Genre: Fiksi Kontemporer, Komedi, Teenlit
Status: Punya. Buntelan dari Tante Yudith


Ketika para peleduk bertemu, apa yang akan terjadi?
Korslet? Kebakaran? Kerusuhan?

Abe, Deni, Eno, Erin, Nando, dan Sandi adalah segerombolan anak dengan segudang sifat dan keanehan yang berbeda jenis tapi saling melengkapi. Melengkapi keonaran satu sama lain! Saling sulut-menyulut, saling kompor-mengompori, dan akhirnyaaa: Dhuaaar? Meleduk!!!

Genk Kompor: tidak hanya memancing tawa, tapi juga haru!


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Kali ini Bunda dapat "tugas" mereview buntelan yang dikasih ke Bunda sebagai member BBI. Hahay! Sewaktu om Dion nunjukin foto setumpuk buku, entah kenapa, Bunda jadi yang pertama komen dan bilang, "mau Genk Kompor!"

Mungkin karena Bunda butuh tertawa, makanya, begitu baca kata Genk Kompor langsung menarik perhatian tanpa pikir panjang. Di Goodreadspun, sepertinya baru Bunda yang kasih rating :P *err, setidaknya sampai hari ini*

Oke. Seperti yang diceritakan oleh sinopsis di atas, buku ini bercerita tentang persahabatan. Yang Bunda suka adalah idenya. Ternyata, nama-nama tokoh seperti Abe, Deni, Eno, Erin, Nando, dan Sandi diambil dari nama-nama penulisnya sendiri. Jadi, para penulis ini bikin proyek keroyokan serial Genk Kompor yang katanya termasuk Serial Laris Story Teenlit Magazine. 

Karakter di dalam buku ini, di antaranya:
Abe, si poni Justin Bieber. Dia ini anak IPA, tapi karena ada gebetannya di kelas IPS, jadi sering ikut pelajaran di kelas IPS. 
Deni, si penyair pantun. Kadang pantunnya nyambung, lucu, tapi banyakan ga jelasnya. Dia ini alergian, jadi gampang bersin. 
Eno, cewek mungil berkacamata, bawel. Suka banget mondar-mandir di koridor. Punya kucing jantan bernama Beldo dan kakak bernama Arum.
Erin, cewek penyuka coklat yang doyan banget dandan. Kapan aja ada kesempatan, pasti deh, lagi mupurin mukanya pake bedak. Agak heran juga, sih, anak SMA dia bawa-bawa perlengkapan lenong selengkap eye shadow, blush on dan lipstik. *eyeroll*
Nando, si jambul, yang dikit-dikit kerjanya benerin jambul. Dia sayang banget sama ibu dan adiknya. 
Sandi, cowok asal Medan yang pendiam ini semasa kecil bersahabat dengan Eno. Dialah yang paling misterius di antara kelima sahabat lainnya.

Blurbnya juga menjanjikan, sih. Jadi, Bunda sempat berharap banyak banget sama buku ini, supaya Bunda bisa teraduk-aduk karena tertawa.

Nah, sayangnya, pas awal-awal baca buku ini, Bunda mulai boring. Nggak ngakak. Biasa aja. Cengar-cengir standar. Pertanyaan Bunda cuma satu, sih, waktu itu, "Ini Bunda yang sense of humor-nya udah ngedrop sampai titik minus atau emang cerita komedinya garing?"

Meski ada pertanyaan kayak gitu, Bunda maju terus buat baca. Bunda yakin, bahwa "Warning! Ngakak Abis" di kaver nggak cuma omong kosong. Kalo iya, Bunda akan tuntut! *halah* :P

Ternyata, mulai di pertengahan buku, cengiran Bunda mulai melebar. Dan setelah hampir lembar-lembar terakhir, Bunda mulai tertawa. Bunda paling suka cerita Menjemput Masa Lalu yang udah mulai "panas" banget. Bunda inget, Bunda baca di angkot - yang, untunglah cuma ada dua penumpang lain di depan - terkikik geli membayangkan scene Nando yang dijuluki "bayi lumba-lumba" oleh teman-temannya ketika menginap di rumah Deni. Dan masih di cerita ini juga, Bunda dibuat menangis. 

Kenapa Bunda sempat pesimis dan mempertanyakan sense of humor Bunda? Karena cerita di awal, bodorannya (apa, ya, bahasa Indonesia-nya? Oh! Humornya!) garing, udah ketebak dan standar banget. Semacam.. ummm... klise? 

Terus pas giliran tebak-tebakan bahasa Inggris, Bunda sempat dibuat gemas. Ada banyak "pengetahuan umum" yang kalo dibaca sama anak-anak jaman sekarang, kalo sasarannya anak SMP-SMA sekarang, udah terbilang basi. Misalnya aja, ada tebakan yang jawabannya, "run no car no" (kalo diinget-inget itu adalah plesetan dari nama Rano Karno, salah satu aktor Indonesia, yang saat ini menjadi Wagub Banten). Masalahnya, Bunda nggak yakin, ada abege sekarang yang tahu siapa Rano Karno. Anaknya mungkin. Tapi segmen pembaca secara keseluruhan kayaknya ga tau siapa beliau.

Ada lagi sih, yang bikin Bunda cengar-cengir. Salah satu bab yang berjudul Tomboy kok Mellow. Nah, di situ ada adegan Sandi dan Eno ngobrol. Mereka berdua ngobrol pakai logat Batak. Bikin Bunda ingat sama Om Helvry dan Tante Putri yang kalo ngobrol, logat mereka Batak abis. Hihihi.

Walau Bunda sempat kecewa dengan warning ngakak abisnya itu, ternyata Bunda terhibur banget dengan buku ini. Bunda juga salut dengan persahabatan mereka. Misalnya, pas Abe udah berusaha banget mendekati Tria, cewek incerannya, tapi ketika dekat dengan Tria, Abe malah gugup dan salting. Trus, malah, Tria udah keembat duluan sama Vincent. Nah, pas akhirnya, Abe dapat kesempatan buat deketin Tria, dia malah milih nguntit Sandi yang misterius dan akhirnya kencan pertama Abe - Tria batal.

Kalo ditanya, Bunda paling suka karakter mana, yang jelas, Bunda suka semuanya secara adil dan merata. Karena, mereka semua adorable. Buku ini nggak cuma menghibur, tapi juga "mengajarkan" kasih sayang, kepedulian dalam persahabatan. 

Oya, itu di kaver belakang, ada kata-kata agak mengganggu. "saling sulut-menyulut, saling kompor-mengompori". Padahal cukup ditulis, "saling menyulut, saling mengompori" aja. 

Makasih, Genk Kompor dan Tante Yudith. Bunda terhibur! ^_^

Terusin baca - Genk Kompor One for All, All for Dhuaaar! by Genk Kompor

29 Agu 2013

[Posting Bareng BBI Sastra Indonesia] Hujan Bulan Juni - Sapardi Djoko Damono

source
Judul: Hujan Bulan Juni
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Editum
Jumlah halaman: 103 halaman, paperback
ISBN13: 978-602-959-154-5
Status: Punya. Beli titip ama tante Danee
 Genre: Puisi, Sastra Indonesia
 




Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
 
Kabar per hari ini, alhamdulillaah, trombosit papa sudah balik ke angka normal. Papa udah boleh istirahat di rumah... Yay... It means... Bunda balik ke kehidupan semula: back to work dan blogging :D
 
Ini dia, saatnya posting bareng sama teman-teman BBI. Bulan ini pilihannya ada dua: Sastra Indonesia, yang diposting hari ini, 29 Agustus 2013 dan Buku Bertema Perang, yang diposting besok, 30 Agustus 2013.

Karena satu dan lain hal, Bunda ga sempat baca buku bertema perang. Bunda cuma sempat baca buku Hujan Bulan Juni, karya Sapardi Djoko Damono. 


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..


Aku Ingin - SDD, 1989

Bunda kenal puisi di atas, sewaktu Bunda masih kuliah. Teman-teman Bunda penyuka puisi, pernah menulisnya di Maklumat. Maklumat itu adalah bukom (buku komunikasi) buat pembina PAS. Nah, waktu itu, Bunda meresapi banget setiap kata di sana, lalu langsung jatuh cinta pada karya SDD.

Bunda suka puisi? Iya, Bunda suka puisi. Sewaktu SMP dulu, tiap minggu Bunda sering nulis puisi. Tapi, menjelang SMA, Bunda suka pengen ngetawain karya-karya Bunda. Untunglah, ga ada yang tersimpan, jadi nggak ada bahan tertawaan X))
 
 tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
 tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu


tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu


Hujan Bulan Juni - SDD, 1989
 
Nah, sewaktu Bunda kenalan dengan puisi di atas, Bunda merasa ada sesuatu di puisi ini yang teramat dalam. Terutama di kalimat "dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu". Bikin galau nggak, sih? :D

Kalo pernah mengalami kisah kasih tak sampai, kalimat "dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu" sungguh bikin jleb-jleb di hati. Iya, ini pengalaman Bunda, kok. Pernah mengalami kisah kasih tak sampai... Mwahahaha... Makanya, ngena banget di hati :D #curhaaaaat

Kebanyakan kumpulan puisi di dalam kumpulan puisi Hujan Bulan Juni ini termasuk suram-suram bikin merinding gimanaaaa gitu...

Contohnya ada yang berjudul Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati, Berjalan di Belakang Jenazah, Maut, Pada Suatu Pagi Hari, Catatan Masa Kecil, dan masih banyak lagi. Bukan SDD kalo puisinya meski suram ga bikin nagih...

Ada kekuatan magis di setiap kata yang disusun di dalam puisi-puisinya, yang bikin terkadang hati berasa trenyuh, dirayu, dan lain-lain. Misalnya Aku Ingin itu. Kata-katanya sederhana, tapi dalem.
 
Kayaknya ini nggak bisa disebut review, karena Bunda belum sempat melakukan riset mendalam mengenai setiap puisi. Mungkin next time, Bunda akan buat posting tersendiri, termasuk perenungan Bunda mengenai puisi-puisi ini.  

Dan Bunda akan menutup tulisan ini dengan puisi favorit Bunda lainnya

hidup telah mendidikmu dengan keras
agar bersikap sopan
misalnya buru-buru melepaskan topi
atau sejenak menundukkan kepala
jika ada jenazah lewat

hidup juga telah mengajarkanmu
merapikan rambutmu yang sudah memutih
membetulkan letak kacamatamu
dan menggumamkan beberapa larik doa
jika ada jenazah lewat

agar masih dianggap menghormati
lambang kekalahannya sendiri

Ajaran Hidup - SDD, 1992


Ditulis untuk ikut Posting Bareng BBI Sastra Indonesia, dengan hash tag #PostBarAgt #SastraIndonesia



Oh, iya! Pas Bunda gugling image untuk Hujan Bulan Juni, Bunda lihat ada banyak banget foto hujan. Nah, karena objek favorit kalo Bunda memotret emang air, terutama tetesan air, Bunda pengen kasih lihat beberapa karya foto Bunda tentang hujan :D

ini diambil dari kamar 745 RS Santosa, sewaktu nungguin Kakak Ilman yang dirawat, pake si Ipin (ponsel iphone)




dari semua foto yang Bunda buat untuk objek hujan, puisi Hujan Bulan Juni itu emang benar adanya, ya... Empat jempol buat pak SDD untuk Hujan Bulan Juni...
Terusin baca - [Posting Bareng BBI Sastra Indonesia] Hujan Bulan Juni - Sapardi Djoko Damono

23 Agu 2013

Harry Potter and The Order of Phoenix oleh JK Rowling




Judul: Harry Potter dan Orde Phoenix (Harry Potter and The Order of Phoenix, Harry Potter #5)
Penulis: J.K Rowling
Penerjemah: Listiana Srisanti
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama, Januari 2004
Jumlah halaman: 1200 halaman
Genre: Fantasy, Children Literature, Sastra Eropa
ISBN: 979-220-652-3
Status: Punya. Beli di pameran buku


 
Tak diragukan lagi tahun kelima Harry Potter bersekolah di Hogwarts merupakan tahun yang sangat penting. Kini ia berusia lima belas tahun, dan sebagai remaja ia mengalami gejolak masa muda yang mengubah beberapa sifat dasarnya. Ia akan menjalani ujian OWL yang menegangkan, yang menentukan akan jadi apa dirinya setelah lulus. Ia sering sekali bertengkar dengan Cho, sehingga bukan tidak mungkin hubungan mereka putus. Dan ketika ia berkelahi dengan Draco Malfoy, peranannya sebagai Seeker tim Quidditch Gryffindor terancam. Semua ini membuat Harry begitu nelangsa, sehingga untuk pertama kalinya ia ingin sekali meninggalkan Hogwarts. Di tengah semua kegalauan itu, Lord Voldemort dengan kekuatan sihirnya yang luar biasa terus-menerus menghantui Harry. Tanpa henti Pangeran Kegelapan menyiksanya melalui bekas lukanya, dan akhirnya memaksa Harry bertarung mati-matian melawan para Pelahap Maut. Dan puncaknya adalah ia harus menyaksikan kematian seseorang yang amat dicintainya...


Halo, Kakak Ilman dan Adek Zidan...
Sungguh, ini super late posting... Harusnya ini dikerjakan tiga bulan lalu... Kok, Bunda senang sekali melakukan kebingungan dan penundaan, ya...
Bulan ini udah mestinya jatahnya Harry Potter #7. Tapi, ya, gitu, deh....

STOP MENGELUH! X))

Ketika Bunda nulis ini, Bunda lagi di rumah sakit, nemenin papa yang terbaring karena typhoid dan demam berdarah. Tahu Bunda ga bisa diem aja, kecuali ada hal-hal yang harus dikerjakan saat menjaga papa, seperti nyuapin, nganter ke kamar mandi, manggil perawat dan lain-lain, papa menyarankan bawa laptopnya buat Bunda browsing atau main game. Lalu, karena terdesak deadline, Bunda memutuskan buat bikin review X))

Harry Potter and The Order of Phoenix tuh suasananya udah mulai suram. Diawali dengan suasana liburan yang sama sekali nggak menyenangkan, karena nggak ada kabar sedikitpun dari teman-temannya, membuat Harry kesal. Kemudian mereka berdiam di Grimmauld Place, rumah keluarga Black, yang diwariskan kepada Sirius Black, wali Harry. Di sana anggota Orde berkumpul dan mengadakan rapat rahasia. Saking rahasianya, anak-anak nggak boleh mendengarkan. Fred dan George yang sukses bikin toko "mainan" sendiri, menciptakan Telinga Julur buat menguping yang malah nggak bisa dengar apa-apa karena nggak mempan oleh mantra perlindungan. Hihihi...

Kemudian, Kementerian Sihir mulai ikut campur di Hogwarts dengan menempatkan Dolores Umbridge menjadi guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Dengan adanya Dolores Umbridge, kehidupan anak-anak Hogwarts jadi terasa nggak aman. Dia mengeluarkan berbagai dekrit yang ditandatangani oleh Menteri Sihir. Ngeselin abis, deh. Dan kegiatan Harry dan teman-temannya pun diawasi. 

Dolores Umbridge. Ya gitu, mukanya kayak kodok? XD

Gara-gara cara mengajar Umbridge di luar kebutuhan, teman-teman Harry meminta Harry untuk mengajari mereka Ilmu Pertahanan terhadap Sihir Hitam. Kenapa? Soalnya, Harry dianggap sudah beberapa kali menang lawan Kau Tahu Siapa. Lalu dibentuklah Laskar Dumbledore. Mereka memakai Kamar Kebutuhan sebagai tempat latihan, karena kegiatan mereka diawasi. Dalam dekrit disebutkan, nggak boleh ada kelompok murid yang terdiri lebih dari 3 orang.

Laskar Dumbledore
Nggak cuma kehadiran Umbridge yang bikin ngelus dada karena kesal sama orang Kementerian, Percy Weasley juga bikin ulah! Dia udah jadi anak durhaka karena berpihak kepada Kementerian dan memilih pergi dari rumah, bahkan bersikap tidak kenal ayahnya! Grrr!

Dampak dari kematian Cedric Diggory membawa banyak perubahan buat Harry. Misalnya saja, dia dianggap gila, mengarang cerita bahwa Lord Voldemort sudah kembali. Iya, sih. Nggak ada saksinya selain Pelahap Maut, kan.. Hanya Dumbledore yang percaya. Jadilah, Rita Skeeter itu bikin berita yang mengisyaratkan ketidakwarasan Harry di Daily Prophet. Begitu juga Kementerian menganggap Harry nggak waras. Makanya, bikin berbagai macam aturan, karena Menteri Sihir nggak mau mengakui kembalinya Lord Voldemort.

Oya, di sini, Harry sempat jadian ama Cho Chang, pacar Cedric. Tapi terus putus, karena Cho cemburu sama Hermione. Hihihi...

Soal Fred dan George, mereka dimodali Harry untuk bikin toko lelucon mereka sendiri. Hadiah Turnamen Triwizard yang diterima Harry, diserahkan semua oleh Harry kepada si kembar Weasley, karena menurutnya, dia nggak layak dapat hadiah itu. Tadinya sih, si kembar ga mau nerima. 1000 galeon gitu. Tapi, karena Harry bilang, dia jadi pemodal, akhirnya mereka berdua mau dan tokonya laris manis...

Karena toko mereka laris manis, mereka pun memutuskan keluar dari Hogwarts setelah sebelumnya meninggalkan kenang-kenangan untuk Umbridge, yang saat itu menjadi Kepala Sekolah Hogwarts yang sukses mengudeta Dumbledore.

Di buku ini, Harry berkenalan Luna Lovegood, dari asrama Ravenclaw. Atas bantuannya, nama Harry menjadi bersih. Dia dan ayahnya termasuk orang nyentrik. Ayahnya adalah editor The Quibbler, yang memuat wawancara sesungguhnya dengan Harry yang berhasil membuat orang percaya bahwa Kau Tahu Siapa sudah kembali. Luna juga termasuk anggota Laskar Dumbledore.  

Luna Lovegood
Oya. Karena ada koneksi pikiran antara Harry dengan Kau Tahu Siapa, Dumbledore meminta Harry buat belajar Occlumency dengan Snape. Harry nggak serius menutup pikirannya dan ini membuat Snape geram. Ada kejadian yang membuat Bunda semakin bersimpati terhadap Snape, ketika Harry berhasil tahu masa lalu Snape. Ternyata Snape menjadi korban bullying ayah Harry semasa muda. Kesimpulan Bunda, sih, Snape benci banget ama Harry karena Harry mengingatkannya ama James Potter kali, ya... :D

Terus terang, sejak buku kelima ini, progres baca Bunda jadi semakin lambat. Bukan karena tebalnya, itu sih nggak masalah. Tapi karena suram banget. Belum lagi, ada kematian yang tiba-tiba, yang kayaknya nggak mungkin, tapi betul-betul terjadi. Pertama kali baca buku ini, 7 tahun lalu, Bunda nangis, karena ikut merasakan penyesalan yang dirasakan Harry. Ternyata setelah baca ulang, Bunda tetep mewek juga.

Gabungan antara gemas, geli, lucu, seram, geram, marah, sedih ada di sini. Campur aduk. Kalo lihat di Goodreads, ada yang cuma kasih bintang 2 dan komentarnya: "jelek banget!"
Nggak tahu kenapa senepsong itu kasih bintang 2. Mungkin karena suram, kali, ya... Hihi.. Tapi banyak yang kasih bintang 5 kek Bunda, kok... 

Kalo Bunda kasih bintang 5 bukan untuk kematian Sirius Black. Tapi untuk Laskar Dumbledore, untuk Fred dan George, untuk Snape, untuk Dolores Umbridge, untuk Percy, dan lain-lain. Untuk semua perasaan campur aduk yang ada di buku ini...
Terusin baca - Harry Potter and The Order of Phoenix oleh JK Rowling

30 Jul 2013

[Posting Bareng BBI Bulan Juli 2013] There's a Wocket in My Pocket - Dr. Seuss

Source


source

Judul: There's a Wocket in My Pocket - Dr. Seuss' Book of Ridiculous Rhymes
Penulis: Dr. Seuss
Diterbitkan oleh Random House, 1974
ISBN: 0-679-88283-9
ISBN13: 978-0679-882-831
HARDCOVER
36 halaman, ukuran buku saku
Status: PUNYA, beli seken di Lulu

 

A host of inventive creatures help beginning readers recognize many common "household" words. (kata Goodreads)


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Whoaaaa! Akhirnya, Bunda "berhasil" juga ikut posting bareng BBI di tahun 2013 ini setelah beberapa bulan "lolos". Soalnya, temanya agak "enteng" yang ini. Posting bareng buku anak. Meski latar belakangnya buku favorit sewaktu anak-anak dulu, nggak menggoyahkan buat Bunda tetep posting, meski pas Bunda kecil dulu, Bunda sama sekali nggak kenal Dr. Seuss :D

Jujur, Bunda tahu Dr. Seuss karena bergabung dengan BBI. Dari sana kan Bunda jadi sering lihat-lihat buku apa aja yang ditawarin buat nitip beli atau ada yang jual seken. Pertama kali tahu Dr. Seuss dari cerita The Cat in the Hat (nanti Bunda tulis review bukunya yang udah Bunda baca) di sebuah situs PBS. Karena penasaran, kenapa The Cat in the Hat - Dr. Seuss ini dibuat film kartun dan sampai ada gamenya di situs itu, akhirnya Bunda mulai mencari buku-buku Dr. Seuss. 

Sampai akhirnya, Bunda ketemu buku yang satu ini! Bunda langsung gedebuk in lap sama buku ini! Ridiculous rhymes-nya beneran ridiculous! T.O.P banget, dah! Hahaha... rhyming-nya pas banget! Dan beliau, Dr. Seuss ini, created karakter-karakter yang nyambung dengan benda-benda yang ada di dalam rumah, sekaligus sifat masing-masing dari mereka. Meski maksudnya menemukan sesuatu yang berima, Bunda menemukan satu sisi kehebatan dari "ridiculous rhyme" ini. Anak belajar kata! 

Misalnya aja, dibuat karakter Bofa yang duduk di Sofa. Di sana digambarin Bofa ini suka baca dan ga peduli sama kita yang pencilakan di sekitarnya. Tetep aja asik baca. 

Bunda tahu, sebagian besar anak-anak di luar negeri punya teman khayalan dengan berbagai bentuk. Nah, karakter teman khayalan yang di-create oleh Dr. Seuss ini, rata-rata berbulu. Cocok lah ama karakter-karakter di Monster Inc. Nyaman, empuk, nggak bikin anak-anak takut. Mestinya, sih.
Nah, entah, deh, kalo anak-anak Indonesia punya teman khayalan, bakalan kayak apa, ya? Kok, kalo dari cerita temen Bunda, yang semasa kecilnya suka ada yang ngikutin, penampakan mereka seram gitu. Hiiyyy! >_< 
Semoga kalian nggak pernah punya teman khayalan yang menyeramkan!
Bunda pernah punya teman khayalan? Nggak, sih. Paling Bunda membayangkan lagi ngobrol sama teman-teman Bunda aja. Seperti itulah. :D

Terus, karakter apa yang paling Bunda suka di buku ini? Cuma tiga. Tiganyanya nyata banget bikin nyaman kalo tidur #eh

"And when I hear a TOCK, I know a ZLOCK's behind the CLOCK"
 
"But the BOFA on the SOFA acts as if he doesn't care"

"But the ZILLOW on my PILLOW always helps me fall asleep"

Sudah tahu, kan, yang mana karakter favorit Bunda? Hati-hati membedakan, mana kata benda dan mana karakter favorit Bunda di buku ini... ;)

Eniwei baidewei baswei...
Bunda membacakannya dan direkam di Soundcloud. Ada backsound adek ngakak-ngakak pas ngedengerinnya. Bunda sebenernya bingung. Adek kenapa ketawa? Pilihannya:
#1 Cara Bunda bacain emang lucu
#2 Adek sudah paham apa yang Bunda katakan (sounds impossible, mengingat Adek baru berumur 2 tahun)
#3 Karena rhyming lalu terdengar lucu?
#4 Entahlah....

Mau membuktikan Adek ketawa? Silakan cek di link ini....

All in all, Bunda sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali buku ini! Ukurannya kecil, warnanya kuning ngejreng, terus, kata dalam berima-nya..... TOP banget! Wajar, kan, kalo Bunda kasih 5 bintang buat buku ini? ;)
Terusin baca - [Posting Bareng BBI Bulan Juli 2013] There's a Wocket in My Pocket - Dr. Seuss