Tampilkan postingan dengan label e-book. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label e-book. Tampilkan semua postingan

14 Jun 2023

[2023: Book 12] Whoppsy-Whiffling Joke Book - Roald Dahl

 

Judul: Whoppsy-Whiffling Joke Book 
Penulis: Roald Dahl
Ilustrator: Quentin Blake
Cetakan pertama, 2016
Diterbitkan oleh Puffin Books
Jumlah halaman: 119 hlm
ISBN: 978- 045-14-7931-0
Genre: Fiction, Comedy, Fantasy, Children Literature, e-book, Favorit, English Book 
Status: Punya. Ada di e-book reader
Dibaca:  22 Maret 2023 - 23 Maret 2023



Roald Dahl is known for his humor! This joke book is an ideal companion to his beloved novels.

Roald Dahl's Whoppsy-Whiffling Joke Book is a collection of hundreds of great jokes that would make even the Trunchbull laugh! Inspired by Roald Dahl's wonderful world, these gigglesome gags are guaranteed to raise a chuckle from human beans young and old.

CONTENT NOTE : The jokes in this book may cause reader to become the embodiment of the crying-laughing emoji. Side effects include but are not limited to stomach pains, tears of joy, falling off chairs, and flailing.


Hai, Kakak Ilman dan Adek Zi... (maap manggil Zi sesuai mood)

Suatu hari aku lihat WhatsApp story tante Lila, mengutip joke-nya Roald Dahl yang bikin aku iri dan kepingin baca. Berkat sedikit usaha, akupun dapat versi e-book-nya. Sayangnya, baca ini nggak bisa aku masukkan ke dalam tantangan Babat Timbunan Joglosemar 2023, karena statusnya buku "baru" yang tidak ditimbun lama. 

Meski bukunya disebut jokes, nggak semua isinya bikin aku ketawa ngakak, kok. Karena nggak sedikit jokes-nya yang kelewat garing atau meh. Atau otak aku terlalu teflon buat memahami joke ini maksudnya apa, yaaaaaa...

Asiknya buku ini ada banyak teka-teki tulalit yang bikin sebel orang yang ditanya. Misalnya aja, 

Why did the teacher turn the lights on?
Because the class was so dim!

Why is six afraid of seven?
Because seven eight nine!

Apaan coba?

Atau internal jokes yang kalian cuma bisa paham kalo baca karya Roald Dahl, karena emang ini jokes-nya berdasarkan karya-karya Roald Dahl yang udah ada. Misalnya nih

Why was Miss Trunchbull worried?
Because there were too many rulers in school! 

Yap. Miss Trunchbull adalah karakter dari cerita Matilda, guru yang luar biasa galak dan mengerikan.

Ada jokes yang menurut aku nggak lucu, tapi nggak meh juga, karena menurut aku ini permainan kata... Misalnya aja

How do bees get to school?
By school buzz!

What is a pirate's favorite subject?
Arrrrrrt!

Kalo joke yang menurut aku lucu tuh, misalnya ini

What is a snake's favorite subject?
Hiss-tory! 

What's a witch's favorite subject?
Spell-ing!

hihi...


Rasanya menyenangkan bisa ketawa-ketawa atau mengerutkan kening saat baca jokes yang dibuat Roald Dahl ini. Setidaknya aku bisa "melepaskan" diri dari semua keabsurd-an cerita Roald Dahl sejenak karena jokes ini. 

Yang selalu aku salut dari Roald Dahl adalah imajinasi masa kanak-kanaknya nggak pernah hilang. I wonder, keknya dia dulunya termasuk anak yang dapat predikat "bocah nakal", deh, mengingat imajinasi dan ide-ide gilanya nggak ada habisnya untuk dituangkan di cerita. Kenapa aku berpikir begitu, ya? Mungkin kalo anaknya lurus-lurus aja, mikirnya juga akan kelewat lurus setelah dewasa. Lumayan banyak meninggalkan imajinasi anak-anak, biasanya. Like me. *sigh*

Surely, kalian harus baca ini ketika kalian udah jago bahasa Inggris nanti, biar ngerti jokes-nya. Sebab, kalo diterjemahin ke Bahasa Indonesia, jadi aneh dan nggak lucu. Beneran! 


Aku baca ini untuk ikut tantangan:
- Goodreads Reading Challenge 2023
- Abroad and Beyond Reading Challenge 
- BBBBC Reading Challenge 2023
- Books in English Reading Challenge 2023


Stay healthy both of you! xoxo! 




  
   

Terusin baca - [2023: Book 12] Whoppsy-Whiffling Joke Book - Roald Dahl

1 Okt 2013

Eleanor and Park


Judul: Eleanor & Park
Penulis: Rainbow Rowell
Diterbitkan 12 April 2012
Penerbit: Orion
ISBN13: 978-1409-116-332
E-book
Jumlah halaman: 329 halaman
Genre: Fiksi Kontemporer, Romance, Young Adult
Status: Punya. Trus lagi pre-order juga di Bookdepository, seperti diceritakan di sini 


Eleanor is the new girl in town, and she's never felt more alone. All mismatched clothes, mad red hair and chaotic home life, she couldn't stick out more if she tried. Then she takes the seat on the bus next to Park. Quiet, careful and, in Eleanor's eyes, impossibly cool, Park's worked out that flying under the radar is the best way to get by. Slowly, steadily, through late-night conversations and an ever-growing stack of mixed tapes, Eleanor and Park fall in love. They fall in love the way you do the first time, when you're 16, and you have nothing and everything to lose .. Set over the course of one school year in 1986, Eleanor and Park is funny, sad, shocking and true - an exquisite nostalgia trip for anyone who has never forgotten their first love.

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Sebetulnya, Bunda ga tau mau review apa dengan buku ini. Yang jelas... Bunda tersepona banget sama cerita di buku ini. Terutama, Bunda tersepona dengan karakter cowok yang bernama Park Sheridan. Lah, kok, namanya agak mirip dengan nama adek Zidan, ya? *maksaaaa*

Ceritanya, Park ketemu dengan Eleanor, yang murid baru ketika itu, di bis sekolah. Sewaktu baru naik, Eleanor ini kayak "raksasa" gitu keliatannya. Badannya tinggi besar *kayaknya montok banget*, wajahnya penuh bintik dan rambutnya merah kayak api. Seketika itu, dia langsung nggak disukai karena penampilannya oleh teman-teman sebisnya. Tapi, Park nggak bersikap lain. Dia sih biasa aja. Untuk beberapa pelajaran, Park sekelas dengan Eleanor. Di antaranya pelajaran Bahasa Inggris. Dan Eleanor langsung jadi idola guru Bahasa Inggris.

Suatu ketika, Park memperhatikan, Eleanor kayak memandangnya. Sebenernya bukan. Setelah diperhatikan lagi, ternyata Eleanor lagi baca komik yang dibawanya. Sejak saat itu, Park menaruh komik yang dia maksud pinjamkan ke Eleanor, di bangku tempat Eleanor duduk. Lucunya, mereka tetap nggak bicara satu sama lain. Cuma minjemin, terus ntar Eleanor balikin bukunya. Lucu, yaaa...

Trus ada momen, yang bikin Bunda merinding ngebayanginnya saking romantisnya, Park masangin headset ke telinga Eleanor, supaya Eleanor dengerin musik yang lagi didengerin Park. Ketika mereka mulai berbicara satu sama lain, Park bahkan bikinin kompilasi musik di kaset tersendiri. Juga minjemin walkman ke Eleanor. Kyaaaa... soooo sweeeeet!

Eleanor & Park mengambil setting tahun 1986, di Omaha, Nebraska. Dengan settingan tahun itu, masih musim kaset dan walkman. Jadi, yang diceritain ya kaset dan tape, juga walkman. Walkman itu biasanya pake batre kecil AA, dua buah. Yang kekuatannya cuma beberapa jam aja. Kalo rajin tekan Rewind, ya paling cuma tiga jam tahannya. Nggak kayak sekarang, yang semua gadget dengerin musik bisa dicharge. Dulu, kalo ga punya batre, terus ga punya duit... ya wassalaam.

Jadi inget, Bunda juga dulu suka bikin kompilasi musik dalam kaset. Kayaknya pernah cerita di sini, deh, ya, sampai dibisnisin segala. Hahaha...

Balik lagi ke apa yang bikin Bunda terpesona dengan Park... Dia nggak seperti cowok kebanyakan yang mementingkan fisik. Dengan fisik Eleanor yang katanya ajaib itu, Park tetep suka. Kadang, Park berpikir, apakah Eleanor emang pengen terlihat jelek? Park berasal dari keluarga yang hangat. Ibunya seorang Korea, makanya Park berwajah Asia. Kalo mau dijelasin lagi, mungkin berwajah Asia Timur, kali, ya. Dan bukan Oriental. Sebab, Oriental itu buat makanan. Gitu kata buku ini.

Park punya ayah dan ibu yang hangat dan perhatian. Nenek dan kakek dari pihak ayahnya juga begitu hangat. Pokoknya bertentangan banget dengan keadaan keluarga Eleanor, deh.

Sementara itu, Eleanor berasal dari keluarga broken home. Ibunya bercerai, tapi punya anak lima. Terus menikah lagi dengan seorang pemabuk, pemarah juga kasar. Bahkan, Eleanor pernah terusir sampai tinggal di rumah tetangganya. Bukan tinggal bersama ayah kandungnya. Entah demi apa, ibunya sepertinya sangat berusaha supaya suami barunya ini nggak pernah marah. Padahal, Eleanor sangat membenci Richie. 

Singkat cerita, mereka berdua, Park dan Eleanor jadian. Ibu Park sempat nggak suka, tapi pas tahu gimana latar belakang Eleanor, bahkan ibu Park mengundang Eleanor untuk sering datang ke rumah mereka.

Cerita kisah manis mereka tiba-tiba berubah ketika akhirnya Eleanor tahu siapa yang suka menulis di balik buku Matematikanya dengan kata-kata menjijikkan, lebih ke melecehkan Eleanor. Semula, Eleanor mencurigai Tina, salah satu cewek populer di sekolahnya. Sebab, Tina ini suka menghina dia.

Jadiiii.... Sungguh! Bunda jatuh cinta sama Park! Baca buku ini, bikin Bunda tersipu-sipu sendiri. Tertawa. Dan jatuh cinta! Kok, malah Bunda yang kasmaran, sih? Yeah! Congratulations, Sheridan Park! You're my first book boyfriend now. And also, your dad. He's my second book father now, after Atticus.

Cuma, yang sama sekali nggak nyangka, ending buku ini. Bikin pengen banting e-book reader. Nggak jadi, sih. Buktinya, tetep pre-order paperbacknya. Walau lama. Hahaha... 

Oke... 
Ini sebagian kata-kata Park yang bikin....

"I don't like you. I need you."

"Nothing before you counts," he said. "And I can't even imagine an after." 

"I look like a hobo?"
"Worse," he said. "Like a sad hobo clown."
"And you like it?"
"I love it."
As soon as he said it, she broke into a smile. And when Eleanor smiled, something broke inside of him.
Something always did."
 
Mau nggak gedebuk in lap gimana, coba? 

Ya udah. Bunda ga mau bahas lebih jauh. Ini aja berusaha menajamkan otak, biar bisa cerita serileks mungkin. Ternyata, kalo udah menyangkut Park... susah!

Note:
Eleanor and Park adalah buku pertama yang jadi bahan baca bareng Grup Spank. Nantikan postingan baca bareng bulan berikutnya, ya...
Terusin baca - Eleanor and Park

1 Mei 2013

[posting bareng] Mr. Penumbra's 24-Hours Bookstore

 Judul: Mr. Penumbra's 24-Hours Bookstore A Novel
Penulis: Robin Sloan
Diterbitkan oleh: Farrar, Straus and Giroux
First edition, 2012
e-book
273 pages
e-ISBN: 9780374708832



Sinopsis Goodreads:   

A gleeful and exhilarating tale of global conspiracy, complex code-breaking, high-tech data visualization, young love, rollicking adventure, and the secret to eternal life—mostly set in a hole-in-the-wall San Francisco bookstore

The Great Recession has shuffled Clay Jannon out of his life as a San Francisco Web-design drone—and serendipity, sheer curiosity, and the ability to climb a ladder like a monkey has landed him a new gig working the night shift at Mr. Penumbra’s 24-Hour Bookstore. But after just a few days on the job, Clay begins to realize that this store is even more curious than the name suggests. There are only a few customers, but they come in repeatedly and never seem to actually buy anything, instead “checking out” impossibly obscure volumes from strange corners of the store, all according to some elaborate, long-standing arrangement with the gnomic Mr. Penumbra. The store must be a front for something larger, Clay concludes, and soon he’s embarked on a complex analysis of the customers’ behavior and roped his friends into helping to figure out just what’s going on. But once they bring their findings to Mr. Penumbra, it turns out the secrets extend far outside the walls of the bookstore.

With irresistible brio and dazzling intelligence, Robin Sloan has crafted a literary adventure story for the twenty-first century, evoking both the fairy-tale charm of Haruki Murakami and the enthusiastic novel-of-ideas wizardry of Neal Stephenson or a young Umberto Eco, but with a unique and feisty sensibility that’s rare to the world of literary fiction. Mr. Penumbra’s 24-Hour Bookstore is exactly what it sounds like: an establishment you have to enter and will never want to leave, a modern-day cabinet of wonders ready to give a jolt of energy to every curious reader, no matter the time of day.

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Seharusnya, Bunda posting ini kemarin, dalam rangka #PostingBarengBBI untuk tema #Buku. Iya, kan, bulan April kemarin tuh ada World Books International Day yang jatuh pada tanggal 23. Cuma, berhubung koneksi internet yang seperti siput melendut, Bunda menyerah. Ditambah kan mesti nyiapin meeting untuk siangnya.

Sebetulnya, Bunda juga bingung kenapa milih buku ini untuk ikut event baca bareng BBI bulan April. Hihihi. Kenal juga nggak, tapi pas nemu e-booknya, malah milih ini. Awalnya sih satu: tertarik sama covernya yang simple namun misterius. Kesannya ga digarap serius supaya menarik. Justru Bunda malah penasaran. Apakah ceritanya sesimpel covernya?

Ternyata nggak! Di dalamnya, Bunda mendapatkan banyak ketegangan #halah dan misteri. Juga pengetahuan baru.

Mr. Penumbra's 24-Hours Bookstore cerita tentang Clay Jannon, seorang desainer web, yang baru saja kehilangan pekerjaan di NewBagel, karena perusahaan ini tutup. Di NewBagel, Clay bekerja sebagai desainer yang membuat tampilan website juga promo kit perusahaan. Karenanya, Clay akrab dengan berbagai macam desain. 

Berhubung hidup harus terus berjalan juga dibiayai, mau nggak mau Clay harus mendapatkan pekerjaan, kan? Iya, lah. Dengan bekerja, kita bisa menghasilkan uang untuk menyambung hidup, termasuk bayar sewa apartemen, seperti yang Clay lakukan. Lalu, di sanalah, di Mr. Penumbra's 24-Hours Bookstore, Clay bekerja sebagai clerk sekaligus penjaga toko shift malam.

Unik juga, ya, ada toko buku 24 jam. Biasanya, kan, toko yang buka 24 jam itu semacam toko obat atau apotek. Ini toko buku, lho!

Yang bikin aneh, selain karena buka 24 jam, buku yang dijual di sana juga ga umum. Clay baru menyadarinya ketika ada calon pelanggan masuk toko menanyakan buku biografi Steve Jobs, pendiri Apple Inc. Buku itu tidak tersedia di sana. Sebagai toko buku, tentu saja ini hal yang aneh. Bahkan, Clay hanya menjual beberapa kartu pos saja dari toko ini.

Keanehannya nggak hanya di situ. Pertama, Clay dilarang buka-buka buku yang ada di rak belakang. Dilarang baca pun. Clay menyebutnya "Waybacklist shelf". Kedua, pada jam-jam tertentu di giliran shift Clay bekerja, muncul pelanggan yang datang mengembalikan buku dan meminjam buku lain. Bukunya pun bukan buku biasa. Dan mereka punya kartu anggota dengan kode tertentu.

Akhirnya, Clay terpikir untuk membuat sebuah simulasi model dengan menggunakan software Ruby, di mana dia bisa memperkirakan siapa saja yang akan datang pada jam-jam tertentu. Oya, ada yang terlewat. Clay juga Oliver *yang jaga sebelum Clay*, diwajibkan menulis data pelanggan yang datang dengan ciri mendetail di logbook. Misalnya, pakai baju apa, dan lain-lain. Ternyata, logbook ini kemudian berguna dalam membuat simulasi model itu.

Clay punya cita-cita pengen membuat toko buku tempat bekerjanya ini dikenal orang banyak dan menjadi tempat mampir orang-orang karena menarik. Nggak hanya itu, Clay pun membuat semacam advertising di Google, yang membuatnya bertemu dengan Kat, seorang karyawan Google yang jenius. Pertemuannya dengan Kat-lah yang membuat cerita di buku ini mulai menemukan keseruannya.

Bukan! Bukan kisah kasih Kat dan Clay-nya yang seru. Malah kalo boleh dibilang, hambar banget. Sepertinya, fokus Robin Sloan memang bukan di kisah kasih Kat dan Clay. Melainkan pada pemecahan misteri. Bunda jadi inget serial The Secrets of The Immortal of Nicholas Flammel.

Oke, Bunda nggak mau spoiler, ya. Ini buku wajib kalian baca. Hihi... Dan, gara-gara baca ini, Bunda jadi melakukan beberapa riset, di antaranya mengenai

1. Ruby
Apa itu Ruby? Untuk penggemar perhiasan, ruby adalah batu mulia berwarna merah delima. Biasanya ya dipasang di perhiasan, semisal kalung, cincin atau gelang. Ruby yang diceritakan di sini adalah bahasa pemrograman yang dirancang oleh Yukihiro "matz" Matsumoto. Kelebihan Ruby adalah walau berbasis script, pemrograman ini berorientasi pada obyek. 
Apa maksudnya berorientasi pada obyek?

Di Ruby, semua adalah obyek. Setiap informasi dan kode bisa diberi property dan action. Pemrograman berorientasi obyek memanggil property dengan nama variabel instan dan action, yang disebut sebagai metode. Pendekatan murni berorientasi obyek terutama terlihat pada demonstrasi sedikit kode yang diberikan pada number. (sumber: website Ruby)

Aplikasinya di cerita ini, Clay memasukkan data-data dari logbook. Kemudian setelah dicompile, muncullah visualisasi yang tampak nyata. Misalnya: Fedorov *salah satu pelanggan unik itu* datang jam berapa, pakai baju apa dan apa yang dikatakannya. Di sini, Clay bisa memperkirakan sehabis pinjam buku C, Fedorov akan pinjam buku F. Kurang lebih seperti itu. Maka, ada kejadian, di mana ketika Clay berhadapan dengan satu tamu dalam dua dunia. Satu di dunia nyata, satunya di layar monitor.

2. Typografi
Sewaktu Clay harus "mencuri" salah satu logbook lama demi kepentingan modelling di Ruby, Clay dan Mat membuat tiruan logbook yang "dicuri" itu supaya bisa sama persis. Mat, teman seapartemen Clay, adalah pembuat model. Jadi, membuat tiruan logbook dengan sangat presisi ini membutuhkan ketelitian, termasuk font yang digunakan pada embosan sampul logbook. Yang digunakan di logbook ini adalah Gerritszoon Display.

Sebagai seseorang yang pernah menjadi web designer, tentu Clay sangat akrab dengan berbagai macam font. Clay pun bercerita, sewaktu kuliah, dia pernah dapat tugas membuat font yang akhirnya nggak selesai. Makanya, Clay nggak pernah berani pakai font bajakan, karena tahu susahnya mendesain font. Berhubung font Gerritszoon Display ini ternyata harganya ribuan dolar dan Clay nggak punya uang sebanyak itu untuk membelinya... dia terpaksa mengerahkan salah satu kenalannya, Grumble, untuk mendapatkan bajakannya.

Ternyata proses membuat font rumit juga, ya. Bunda baca di sini dan di sini. Bunda jadi ingat. Salah satu teman Bunda di kantor, pernah cerita, font buatannya yang diupload di sebuah website khusus font mendapat komentar dari seseorang di luar negeri sana. Dia minta ijin buat pakai font karya teman Bunda itu. Dan nanya, kalo dipake buat bikin kaos 50 buah, dia mesti bayar berapa? Teman Bunda kaget, sih. Ternyata font-nya dihargai sebegitunya. Awalnya, dia mau pasang tarif. Tapi, akhirnya, dia memutuskan untuk menggratiskan alias silakan pakai aja, toh, cuma sedikit ini kaosnya dan sudah minta ijin.

Bunda yang selama ini sembarangan pake font buat scrapbook, jadi mikir. Eh, tapi Bunda sih dapat font gratisan, kok. Cuma ga tau juga. Jangan-jangan, gratisannya hasil bajakan, ya? #berpikirkeras. Terus terang, Bunda jadi pengen bikin font sendiri. Nanti Bunda namai font Bunda: Peni Astiti. Hahahahahaha....

Dari teman Bunda ini juga, katanya sih, ada film mengenai typografi ini. Judulnya Helvetica. Mungkin bisa dilihat trailernya di bawah ini... ^_^



3. Aldus Manutius
Manutius disebut-sebut di sini sebagai "leluhur" pemilik toko buku misterius ini. Jadi, Penumbra itu salah satu "murid" Manutius. Karena Bunda kepo, maka Bunda meluncur ke engine search, mencari nama Aldus Manutius
Aldus Manutius adalah seorang publisher yang mendirikan Aldine Press pada tahun 1495. Aldus juga menciptakan beberapa font, di antaranya Aldine 401, Poliphilus, juga Bembo. 

Kesan Bunda terhadap buku ini? Buku ini keren banget, menurut Bunda. Walau nggak disebut setting tahun cerita berlangsung secara pasti seperti di buku yang ngayal edan ini, buku ini up to date banget. Iya, sih, terbit tahun 2012. Cuma semuanya berasa nyata. Bunda sampai googling tuh, penasaran sama yang namanya font Gerritszoon Display itu, yang ternyata hanya rekaan semata. Hahaha. Sebel... -_____-"

Trus, Robin Sloan berhasil membuat Bunda percaya dengan khayalan-khayalan mengenai apa yang akan dihasilkan oleh Google. Seperti Google Smell, mungkin? :P

Pasti kalian bertanya-tanya, terus buku tentang bukunya di sebelah mana? Cuma cerita tentang toko bukunya? Nah... itu dia. Di sini diceritain tentang codex-vitae. Semacam catatan perjalanan hidup seseorang yang bisa menjadikannya immortal. Hihi... Baik Manutius mau pun Penumbra, bahkan punya tuh codex vitae-nya. Dari sini juga, Bunda ngerti soal proses bikin e-book...

Oya, ini adalah quotes yang sempat Bunda abadikan:

"I did not know people your age still read books," Penumbra says. He raises his eyebrow. "I was under the impression they read everything on their mobile phones."
"Not everyone. There are plenty of people who, you know-people who still like the smell of books."

"It is the text that matters, brothers and sisters. Remember this. Everything we need is already here in the text. As long as we have that, and as long as we have our minds, we don't need anything else."

"How can you stay interested in anything - or anyone - for long when the whole world is your canvas?"

"When you read a book, the story definitely happens inside your head. When you listen, it seems to happen in a little cloud all around it, like a fuzzy knit cap pulled down over your eyes."

"It's easy to find a needle in a haystack! Ask the hays to find it!"

Buku ini rekomen buat kalian? Banget! Wajib baca! :D

Diposting juga buat ikutan:

Fantasy Reading Challenge



Finding New Authors 2013 Challenge

What's in a Name Challenge 2013


Books in English
Terusin baca - [posting bareng] Mr. Penumbra's 24-Hours Bookstore