Tampilkan postingan dengan label 2015. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2015. Tampilkan semua postingan

5 Agu 2015

Hwaiting, Hye Mi! by Laksmi P Manohara





Judul buku: Hwaiting, Hye Mi!
Penulis: Laksmi P Manohara
Ilustrasi: Nisa Nafisah
Penyunting naskah: Huda Wahid dan Dian Hartati
Penyunting ilustrasi: Kulniya Sally
Proofreader: May May Maysarah 
Desain isi: Nisa Nafisah
Desain sampul: Kulniya Sally
Cetakan I, Shafar 1436 H/Desember 2014
Diterbitkan oleh penerbit DAR! Mizan
Jumlah halaman: 136 hal; 21 cm
ISBN: 978-602-242-628-8
Genre: Fiksi, K-Novel, Fiksi Korea, Children Books, KKPK


Tampil lepas di hadapan para juri, Hye Mi meraih juara perama kompetisi hip-hop dance. Sebagai satu-satunya wakil dari sekolah, dia merasa sangat bangga. Apalagi gadis itu telah berlatih keras melakukan hal yang paling disukainya tersebut.

Terpukau akan penampilan Hye Mi, utusan Kementerian Kebudayaan lantas mendapat ide cemerlang, "Bagaimana kalau..." Kepala sekolah pun memanggil Hye Mi. "Aku mengutusmu mewakili sekolah menari di kementerian," pinta beliau. "Nanti kamu akan belajar tari tradisional Korea."

"Tari tradisional?!" protes Hye Mi dalam hati. Dia kan hip-hop dancer! Lagi pula, tari tradisional kuno, lamban, musiknya juga kerap memilukan. Mana cocok menggambarkan hari-harinya sebagai gadis muda yang lincah dan penuh semangat? Kalau hip-hop dance? Baru cocok!





Sinopsis Cerita
 
Ketika seorang anak memiliki prestasi memuaskan berkat kerja kerasnya selama bertahun-tahun latihan, tentu dia akan merasa bangga. Dan otomatis, predikat prestasinya ini akan melekat dalam dirinya sebagai modal untuk percaya diri. Ini juga yang dialami Hye Mi, seorang gadis kecil Korea berusia sepuluh tahun yang pandai melakukan hip-hop dance yang bahkan sudah meraih banyak penghargaan itu.

Suatu ketika, dia mendapat perintah dari Kepala Sekolah, Tuan Jun Ki, agar Hye Mi ikut tampil menari tarian tradisional Korea di depan tamu negara. Sorot mata Hye Mi mendadak meredup dan badannya lesu, namun Tuan Jun Ki terlalu bersemangat untuk menjadikan Hye Mi sebagai wakil sekolah, karena Hye Mi sudah langganan menang kompetisi, tidak menyadari adanya perubahan raut wajah Hye Mi. 

Di rumah, Hye Mi pun lesu. Dia membayangkan betapa membosankannya latihan tarian tradisional itu. Padahal, ayah dan ibu tidak pernah lelah menyemangatinya.

Ketika Hye Mi mulai ikut latihan tarian tradisional yang diajarkan oleh Bu Kim, kesibukan Hye Mi mulai meningkat. Dia tidak menyadari bahwa Ji Hyo, sahabatnya, mulai menjauhinya. Sementara di tempat latihan menari, teman-teman baru Hye Mi juga mulai tidak menyukainya dan membencinya. Padahal, waktu pementasan sudah tidak lama lagi.

Hye Mi mulai menyadari bahwa tindakannya bermalas-malasan ikut latihan tarian tradisional, membuatnya dibenci teman-teman latihan menarinya. Dan dia semakin merasa sendiri ketika Ji Hyo selalu menghindarinya. Mana enak nggak punya teman?

Pada saat Nenek yang tinggal di Pulau Jeju mengunjungi Hye Mi, barulah Hye Mi menyadari mengapa Ji Hyo menjauhinya. Nenek yang dulu penaripun sibuk menggembleng Hye Mi untuk latihan lebih serius. Melalui Nenek lah, kecintaan Hye Mi terhadap tarian tradisional jangguchum mulai tumbuh.



Review

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan... Udah lama, ya, nggak nulis review lagi. Ah, kali ini nggak akan cerita alasannya, deh. Basi! :D

Bunda mau cerita sekilas mengenai hubungan Bunda dengan penulis cerita "Hwaiting, Hye Mi!" ini. Jadi, tante Laksmi tuh duluuuu banget, sewaktu Bunda masih duduk di kelas 2 dan 3 SMA adalah sahabat Bunda. Kami berempat punya geng bernama "Four Mbaketeer". Anggotanya terdiri dari Bunda, Tante Laksmi, Bude Dian, dan Tante Saptini. Selain ke mana-mana sering bareng, kalo salah satu dari kami ulang tahun, selalu ada surprise dari kami. Pisah pas masuk kuliah, susah lagi ngumpulinnya :D



Sebetulnya Bunda udah tahu lama kalo Tante Laksmi menulis buku. Dulu, Bunda dan Tante Laksmi pernah berkolaborasi compose lagu untuk tugas Bude Dian, karena dia anti banget sama ngarang lagu, padahal ada tugas ngarang lagu. Bunda sih udah compose lagu sendiri, begitu juga Tante Laksmi. Nah, karena Bude Dian ini ZBL banget sama seni musik, akhirnya Bunda dan Tante Laksmi keroyokan berkolaborasi composing lagu buat Bude Dian. Bunda bikin lirik, Tante Laksmi yang menggubahnya jadi lagu.

Setahu Bunda, buku pertama Tante Laksmi ada lagunya juga. Bener, ga, Tante? Tapi berhubung Bunda waktu itu masih fokus dengan buku-buku yang lain, Bunda nggak inget buat nge-take dulu via Tante Laksmi. Tapi ada satu hal juga, sih, yang bikin Bunda nggak mau kenalan dengan buku-buku Tante Laksmi terdahulu: Bunda ngiri berat karena Tante Laksmi udah maju sejauh ini, Bunda masih lari sprint di tempat. Hihihi.

Karena Bunda belum baca buku-buku terdahulu yang ditulis Tante Laksmi, Bunda jadi ga bisa bandingin dengan karya Tante Laksmi yang lain. Secara keseluruhan, cerita di buku ini lumayan mengenyangkan, salah satunya ada banyak istilah-istilah yang digunakan di Korea, sehingga bagi kamu yang sama sekali nggak ngerti istilah-istilah Korea, paling nggak minimal tahu, deh, "hwaiting" itu artinya apa. Selain itu, di cerita ini juga kita dikenalkan dengan beberapa nama tarian tradisional Korea, salah satunya tarian jangguchum yang ditarikan oleh Hye Mi. Jangguchum adalah tarian yang menggunakan alat bernama janggu. Memukul janggu harus sesuai dengan irama musik. Untuk menari jangguchum diperlukan badan yang kuat, karena tubuh harus menari sekaligus membawa janggu. Semua kelincahan di hip-hop dance bisa membantu Hye Mi kuat dalam menari jangguchum, dan dia baru menyadari beberapa waktu kemudian.

Nah, selain mengenyangkan karena ada pengetahuan baru mengenai budaya Korea, kita juga jadi tahu bahwa persahabatan itu penting dan satu lagi: memandang remeh sesuatu itu tidak baik. Belum tentu yang kita anggap remeh itu betul-betul remeh.

Ilustrasinya menarik, Bunda suka dengan style layout dan grafisnya.

Disajikan dalam bahasa yang mudah dicerna anak-anak, terutama anak usia 8-12 tahun, "Hwaiting, Hye Mi!" bisa direkomendasikan untuk kado, kok... ^_^


Kritik

Entah karena memang ini niatnya untuk masuk genre KKPK (Kecil-kecil Punya Karya), konflik di buku ini kurang kuat. Emosi Hye Mi ketika dijauhi oleh Ji Hyo dan teman-temannya kurang terasa oleh Bunda, jadi datar aja, nggak ikut sedih atau kesal :D

Bunda nggak ngerti juga, apakah ada batasan halaman atau apa, cuma rasanya emosi di bagian itu kurang kuat. Berbeda dengan emosi ketika Hye Mi merasa senang atau kecewa ketika Tuan Jun Ki memberinya mandat sebagai wakil sekolah. Juga ketika nenek datang, emosinya kerasaaa banget.

Sayang aja, sih, padahal klimaksnya ada di bagian ketika Hye Mi dijauhi teman-temannya.

Terus untuk layout, setiap halaman berasa terlalu ramai karena nggak hanya ada border, tapi di setiap halaman ada garis-garis membujur yang mengganggu (menurut Bunda sih) jadi mata bekerjanya dobel. Ya membaca, ya memilah mana huruf mana garis :D

Oya! Ada satu lagi yang agak mengganjal. Bunda sih belum pernah tahu ada anak-anak Korea berambut kriwil banget kayak Hye Mi, karena biasanya, anak-anak Korea itu rambutnya lurus dan hitam warnanya :D Kalo udah gede, sih, mereka umumnya udah kenal obat keriting dan lain-lain :D

Secara garis besar, ceritanya menarik dan cukup bergizi. Semoga Tante Laksmi tidak pernah berhenti berkarya...







Sekilas info tentang Tante Laksmi:
Nama lengkapnya Laksmi P Manohara Puspokusumo. Jagoan main piano. Demen membaca, menulis dan bermain musik (ya piano itu). Buku pertamanya yang terbit langsung lima, yaitu seri "Cerita dari Negeri Paranada" terbit tahun 2012.
Ini dia orangnya (Tante Laksmi, boleh pinjem fotonya, yaaaa)


FYI, kayaknya review berikutnya masih berbau Korea, deh. Hihihi. Soalnya bacanya udah lamaaaa banget, tapi baru punya mood buat review sekarang ini... Takut keburu diban sama Divisi Membership BBI juga, sih, karena sepi update... heuheu...  Okay, deh, sampai ketemu di review selanjutnya, yaaa...


Cheers and Love! xoxo,


Terusin baca - Hwaiting, Hye Mi! by Laksmi P Manohara

29 Jan 2015

[Opini Bareng Januari 2015] Ekspektasi - From Zero to Hero or Vice Versa





Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Ya ampun... waktu berlalu begitu cepat, sementara hari demi hari terus bergulir dan ini sudah menuju penghujung bulan! Bunda belum posting apapun di sini... Padahal di folder draft ada banyak tulisan mengantri untuk dipublish. Hanya saja....

OK. Di tahun 2015 ini, Divisi Event BBI nggak pasang dua tanggal #PostBar seperti tahun-tahun sebelumnya di kalender. Hanya ada satu #PostBar setiap bulannya, tapi ada postingan lain yang boleh ditulis kapan aja, asal masih di bulan itu, yaitu Opini Bareng. Untuk Opini Bareng Januari 2015 temanya adalah Ekspektasi.

Bunda milih Ekspektasi - From Zero to Hero or Vice Versa sebagai judul postingan ini. Kenapa?

Adalah wajar buat seorang manusia untuk berharap. Berharap jadi orang kaya, berharap jadi orang terkenal, berharap dapet pacar buat yang masih jomblo, berharap segera mendapat jodoh bagi yang merasa usianya sudah di usia menikah tapi belum juga menikah, dan seterusnya.

Sama juga dengan berharap kalo suatu buku yang lagi hype alias lagi rame dibicarain banyak orang (pinjem istilah tante Astrid) disebut-sebut pembaca lain sebagai buku keren, cakep, dan lain-lain, trus kita berharap bisa merasakan perasaan yang sama dengan orang-orang ketika mereka kasih review super indah sama buku itu.

Sayangnya, kalo udah urusan buku, makanan, atau film, balik ke masalah selera. Kalo nggak sesuai selera, buku semanis atau segurih apapun menurut orang-orang ya jadi terasa hambar pas dicicipi.

Bunda sendiri gimana? Pernah berharap lebih sama buku, terus taunya.... hambar? Pernah... Ini contohnya:
Menurut pakde Iwan, buku ini bikin dia ngeces. Jadilah Bunda nyari semua review yang berhubungan dengan buku ini. Kebanyakan emang review buku ini bilang pada bikin ngeces, laper, dan teman-temannya. Penasaran, dong. Terus, Bunda ikutan kuis di tempat tante Ferina. Dan Bunda jadi pemenangnya. Senang, dong! Tapi... Bunda lalu merasa agak kecewa, karena ternyata nggak bisa bikin laper, ngeces apalagi berminat sama makanan yang diceritain di situ...
 

Katanya, buku ini hawt. Banyak adegan panasnya. Karena Bunda penasaran, Bunda belilah. Seken. Di sebuah online shop. Emang mungkin karena udah kesel, ya, sama online shop itu, karena buku yang Bunda beli itu ada cap HADIAH DARI PENERBIT, TIDAK UNTUK DIJUAL, eeeh, malah diduitin ama online shopnya. Jadi, si owner online shop-nya dapet buku ini haratis dari penerbit karena dia ikut event si penerbit, terus abis ga pengen dikoleksi, dijualnya. Sakit hati, lah. Pas baca dalemannya juga... HAH? Hawt sebelah manaaaaa? Kayaknya masih jauh lebih hawt buku Marriageable deh. Jelas-jelas masih hawt chicklit Can You Keep A Secret-nya Sophie Kinsella. Iya, Bunda penasaran sama buku yang dibilang hot. Hot apaan! Agak nyesel kasih bintang 3 kemaren. Udah gitu covernya crop-an dari foto orang. Entah beli entah ngambil doang, sih. Itu urusan penerbit. Tapi biar gimana, bukan ceritanya yang keinget-inget, keselnya doang yang keingetan mengenai buku ini. HAHA.


Ini pelajaran buat Bunda yang udah gampang tergiur sama kata-kata: DIJAMIN TERTAWA, DIJAMIN MELEDAK, dan lain-lain. Mungkin iya, di halaman awal, Bunda NYENGIR. Tapi nggak bisa ngakak atau ngikik sekalipun. Buku ini... garing banget. Ngasi bintang 3 sebenernya beban juga. Karena dapet buntelan dari BBI yang dapet dari penerbit. Sejak saat itu, agak kapok nerima buntelan dari penerbit. Takut ga bisa fair saat ngasi rating... Fufufufu....


Asli kaget pas baca ini. Ciri khas Tante Dona ga ada sama sekali di sini. Karakterisasi tokohnya maksa banget. Mungkin karena sebelumnya udah berharap terlalu banyak, jadi kecewa, deh.

Sebaliknya, ini adalah buku-buku yang Bunda awalnya ga terlalu suka, setelah iseng baca, ternyata jadi suka pake banget..

Lucunya, karena Bunda ga suka sama covernya, Bunda sempet ga punya ekspektasi apa-apa sama buku ini. Tapi, setelah Bunda ikutin. Astaga... Bunda jadi merasa bersalah banget karena udah menganggap remeh buku ini karena covernya nggak Bunda sukai :D


Memang, Bunda tertarik sama covernya aja yang kayak kotak susu. Tapi nggak berharap banyak sama ceritanya. Meski nggak terlalu istimewa, karena nggak berharap banyak, ternyata Bunda menyukai ceritanya.


Jujur, waktu pertama kali liyat komik Miiko, Bunda ngeremehin. Ah, palingan nggak bakalan doyan. Sampai suatu ketika iseng baca komik Miiko minjem dari murid les Bunda (sekarang dia udah jadi guru, lho, bentar lagi menikah) sambil murid les Bunda ngerjain soal. Lah! Nggak bisa berhenti! Sejak saat itu, Bunda jadi penggemar setia Miiko dan teman-temannya.


Nggak nyangka aja kalo Bunda bakalan suka sama cerita di situ. Hihihi... Padahal tadinya beneran memandang sebelah mata. 

Sebenernya masih banyak lagi, sih. Cuma, karena Bunda nggak rajin bikin review, jadi yang bisa ditampilkan hanya segitu aja.

Kesannya Bunda nggak baca buku-buku bermutu banget kayak Tante Astrid atau teman-teman Bunda lainnya, ya... Hohoho...
Buat Bunda, membaca saat ini bener-bener buat hiburan aja. Jadi, kalo Bunda lagi nggak pengen nyentuh novel-novel yang katanya berat *mungkin terbuat dari batu*, bisa jadi karena selera Bunda aja lagi bawaannya males :D

Abis gimana. Selera Bunda itu unpredictable kalo urusannya ama buku dan film. Gimana mood dan suasana hati, deh. Kalo makanan? Ummm... Tentu saja, coklat, es grim dan bakso selalu jadi juaranya! Walau, Bunda sukaaaaaaaaaaaaaaaaaa semua makanan... Hihihi...

Jadi, opini Bunda gitu aja. Kesimpulannya, ekspektasi dalam membaca itu balik ke masalah selera dan kesukaan masing-masing. Denger pendapat orang lain perlu. Tapi, jangan gara-gara orang lain bilang bagus, keren, terus kita memaksakan diri buat berpendapat yang sama, padahal kata hati bilang hal yang berbeda. Gitu, deh...

Cheers... Love you both, xoxo



Terusin baca - [Opini Bareng Januari 2015] Ekspektasi - From Zero to Hero or Vice Versa