Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

4 Jan 2016

Pintu Harmonika oleh Clara Ng dan Icha Rahmanti



Judul: Pintu Harmonika
Penulis: Clara Ng dan Icha Rahmanti
Penyunting: Arief Ash Shiddiq
Perancang Sampul: Diani Apsari
Pemeriksa aksara: Dias Rifanza Salim
Penata aksara: Kuswanto
Desain: Teguh Pandirian
Ilustrasi: Herdiyani
Diterbitkan oleh: PlotPoint Publishing (PT Bentang Pustaka)
Cetakan Pertama, Januari 2013
ISBN: 978-602-9481-10-5
Genre: Novel, Young Adult, Fiksi, Family, Drama, Indonesian Literatur
Status: Punya, beli di Selebvi (seken tapi masih segel :D)
Harga: Lupa!


Dijual cepat: S U R G A!

Punyakah kamu surga di Bumi, tempatmu merasa bebas, terlindungi dan begitu bahagia hanya dengan berada di situ?

Rizal, Juni, dan David menemukan surga lewat ketidaksengajaan. Buka pintu harmonika, berjalan mengikuti sinar matahari, dan temukan surga. Surga yang tersembunyi di belakang ruko tempat tinggal mereka.

Walau mereka berbeda usia dan tidak juga lantas bermain bersama, Surga membuat mereka menemukan bukan hanya sahabat, tetapi juga saudara dan keluarga. Ketika surga mereeka akan berakhir, semangat mempertahankannya membawa mereka pada sebuah petualangan lewat tengah malam. Apa pula hubungannya dengan pencitraan Rizal, masalah Juni di sekolah dan bulu hitam misterius yang berpendar cantik temuan David serta suara-suara misterius di atap rukonya?



 Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...

Selamat tahun baru 2016! Semoga di tahun 2016 ini target baca yang sudah diset terpenuhi, begitu juga target menulis review di blog ini. Tertampar akibat target baca dan nulis review di tahun lalu yang begitu kendor, berantakan dan buyatak, tahun ini Bunda bertekad mau memperbaiki bacaan Bunda. Rencananya nggak pake perencanaan mau baca apa, random aja. Yang penting, harus jadi mood booster untuk baca dan nulis review, biar nggak disemprit atau sampai ditendang oleh Divisi Membership BBI.  *peace* :D

Sebelumnya, pengen teriak dulu...

INI REVIEW PERTAMA DI 2016! *colok sound system*

Akibat sakit cukup lama, Bunda dikasih istirahat di Surga kita. Diambil secara random, keambil buku ini, deh. Buku bintang lima pertama yang Bunda baca di tahun 2016. Senang sekali! Semoga bisa menjadi mood booster untuk baca yang berikut-berikutnya, ya...

Alasannya kenapa sampai Bunda kasih lima bintang? Emang ceritain apa aja, sih?

Buku ini dibagi tiga bagian. Masing-masing bagian diceritakan oleh setiap karakter. Awal buku ini dikisahkan oleh Rizal Zaigham Harahap, remaja lelaki siswa SMP yang baru pindah ke kompleks ruko di mana Surga berada. Ayah Rizal, om Firdaus, punya toko kelontong di rukonya. Rizal adalah seorang seleb di dunia maya, blogger yang punya fans fanatik tersendiri bernama Rizal's Angels. Di blognya, Rizal sering bercerita tentang travelling ke luar negeri. Intinya, sebagai blogger muda, dia punya pengaruh besar bagi kalangan netizen. Rizal juga cakep, bodinya keren karena sering ditempa di "gym" bernama Firdaus Bootcamp.

Bunda suka dengan gaya bahasa Rizal. Santai dan dalem. Rizal baru saja ditinggal ibunya sebelum mereka pindah ke ruko itu. Oya, ada "cerita" tersendiri, nih. Pas baca bagian Rizal sedang mengenang mendiang ibunya, pas Kakak Ilman lagi pilih-pilih lagu di playlist. Trus, ada lagu A Song for Mama-nya Boyz II Men yang kebetulan kepencet Kakak. Eh, Bunda minta Kakak perdengarkan lagu itu. Lagunya sendiri emang punya efek membuat leleh alias menangis, dipadu dengan kisah Rizal sedang mengenang Ibunya, Bunda jadi nangis bombay, deh. Hahaha. Baper, yak.

Tulisan Rizal sebenernya sarat muatan "pesan" untuk orang-orang dewasa yang disampaikan lewat gaya abege. Terutama tentang pencitraan. Ngena banget!

Oya, soal Rizal's Angel. Ini bagian yang cukup bikin ngakak, mengingat Bunda adalah Emotional Angels. Apa itu? YongHwa CNBLUE ahjussi kan Emotional, nah, karena Bunda adalah salah satu front pembela YongHwa ahjussi, Bunda masuk Emotional Angels XD

Di bagian kedua, disampaikan oleh karakter Juni. Sebenernya jadi agak ada pengulangan cerita, karena beberapa sebelumnya sudah diceritakan oleh Rizal. Tapi nggak mengganggu, karena memang ada beberapa detail mengenai Juni yang Rizal nggak tahu, kan? :D

Juni Syahnaz, gadis pintar, tetangga sebelah rumah Rizal, ayahnya pemilik usaha sablon. Dulunya sering dibully kakak kelasnya karena dia pintar, namun kemudian berubah menjadi pembully. Salah satu efek sampingnya adalah bisnis sablon ayahnya nyaris gulung tikar akibat kelakuannya membully adik kelasnya.

Di bagian ketiga, disampaikan oleh David Edogawa, seorang anak SD imut-imut yang pintar bermain piano. David anak tante Imelda, seorang pembuat kue. Kue malaikat adalah kue terkenal buatan tante Imelda. Namun, ketika Rizal mempromosikan kue malaikat untuk penggalangan dana tim dance di sekolahnya, ada yang salah dengan kue itu. Senyum khas yang biasa menghiasi kue malaikat menghilang! Ini misterius!

Sebagai seorang yang sangat memuja Conan Edogawa, David merasa tersinggung karena dianggap anak kecil oleh Juni dan Rizal, salah satunya ketika nggak diajak untuk beroperasi tengah malam. Agak aneh juga, karena di dua bagian cerita, sama sekali nggak melibatkan David yang padahal dia pintar dan bahkan telah membuat laporan penemuan hilangnya kucing tetangga mereka. Mestinya mereka perlu bantuan David, tuh!

Ketika dua sudut pandang bercerita tentang pengalaman Rizal dan Juni melakukan operasi PIA (Progressive Indirect Attack) untuk mencegah dijualnya Surga, diceritakan ada suara gaduh dari ruko tante Imelda, tapi nggak pernah dibahas baik di sudut Rizal maupun Juni. Tentu saja ini mengundang penasaran. Apaan, sih?

Twist dan akhir cerita yang sama sekali tidak tertebak sejak awal membuat sulit sekali berhenti membacanya. Sama seperti ketika membaca The Da Vinci Code ~ Dan Brown dan PREY ~ Michael Crichton, susah naruh buku walau ada yang lain yang lebih penting yang harus dilakukan. Hihihi.

Kalo ditanya, dari sudut siapa Bunda paling suka, Bunda paling suka dari sudut Rizal. Bunda suka dengan gaya ayah Rizal, juga ketika Rizal menulis untuk mengakui kesalahannya! Keren!

Covernya yang cantik, cara berceritanya yang renyah kayak makan keripik jagung ~ susah berhentinya, bikin Bunda ngerasa buku ini pantes dapat bintang lima versi Bunda.

Filmnya sendiri udah tayang tahun 2013. Bunda belum nonton, sih. Entah, deh, kalo liyat trailernya doang, keknya nggak seperti bayangan Bunda pas baca. Kalo nanti udah nonton, Bunda coba bikin reviewnya di sini, deh...


Oke, sampai ketemu di review berikutnya. Have a nice day! ^_^

Love and cheers! xoxo,








Terusin baca - Pintu Harmonika oleh Clara Ng dan Icha Rahmanti

5 Agu 2015

Hwaiting, Hye Mi! by Laksmi P Manohara





Judul buku: Hwaiting, Hye Mi!
Penulis: Laksmi P Manohara
Ilustrasi: Nisa Nafisah
Penyunting naskah: Huda Wahid dan Dian Hartati
Penyunting ilustrasi: Kulniya Sally
Proofreader: May May Maysarah 
Desain isi: Nisa Nafisah
Desain sampul: Kulniya Sally
Cetakan I, Shafar 1436 H/Desember 2014
Diterbitkan oleh penerbit DAR! Mizan
Jumlah halaman: 136 hal; 21 cm
ISBN: 978-602-242-628-8
Genre: Fiksi, K-Novel, Fiksi Korea, Children Books, KKPK


Tampil lepas di hadapan para juri, Hye Mi meraih juara perama kompetisi hip-hop dance. Sebagai satu-satunya wakil dari sekolah, dia merasa sangat bangga. Apalagi gadis itu telah berlatih keras melakukan hal yang paling disukainya tersebut.

Terpukau akan penampilan Hye Mi, utusan Kementerian Kebudayaan lantas mendapat ide cemerlang, "Bagaimana kalau..." Kepala sekolah pun memanggil Hye Mi. "Aku mengutusmu mewakili sekolah menari di kementerian," pinta beliau. "Nanti kamu akan belajar tari tradisional Korea."

"Tari tradisional?!" protes Hye Mi dalam hati. Dia kan hip-hop dancer! Lagi pula, tari tradisional kuno, lamban, musiknya juga kerap memilukan. Mana cocok menggambarkan hari-harinya sebagai gadis muda yang lincah dan penuh semangat? Kalau hip-hop dance? Baru cocok!





Sinopsis Cerita
 
Ketika seorang anak memiliki prestasi memuaskan berkat kerja kerasnya selama bertahun-tahun latihan, tentu dia akan merasa bangga. Dan otomatis, predikat prestasinya ini akan melekat dalam dirinya sebagai modal untuk percaya diri. Ini juga yang dialami Hye Mi, seorang gadis kecil Korea berusia sepuluh tahun yang pandai melakukan hip-hop dance yang bahkan sudah meraih banyak penghargaan itu.

Suatu ketika, dia mendapat perintah dari Kepala Sekolah, Tuan Jun Ki, agar Hye Mi ikut tampil menari tarian tradisional Korea di depan tamu negara. Sorot mata Hye Mi mendadak meredup dan badannya lesu, namun Tuan Jun Ki terlalu bersemangat untuk menjadikan Hye Mi sebagai wakil sekolah, karena Hye Mi sudah langganan menang kompetisi, tidak menyadari adanya perubahan raut wajah Hye Mi. 

Di rumah, Hye Mi pun lesu. Dia membayangkan betapa membosankannya latihan tarian tradisional itu. Padahal, ayah dan ibu tidak pernah lelah menyemangatinya.

Ketika Hye Mi mulai ikut latihan tarian tradisional yang diajarkan oleh Bu Kim, kesibukan Hye Mi mulai meningkat. Dia tidak menyadari bahwa Ji Hyo, sahabatnya, mulai menjauhinya. Sementara di tempat latihan menari, teman-teman baru Hye Mi juga mulai tidak menyukainya dan membencinya. Padahal, waktu pementasan sudah tidak lama lagi.

Hye Mi mulai menyadari bahwa tindakannya bermalas-malasan ikut latihan tarian tradisional, membuatnya dibenci teman-teman latihan menarinya. Dan dia semakin merasa sendiri ketika Ji Hyo selalu menghindarinya. Mana enak nggak punya teman?

Pada saat Nenek yang tinggal di Pulau Jeju mengunjungi Hye Mi, barulah Hye Mi menyadari mengapa Ji Hyo menjauhinya. Nenek yang dulu penaripun sibuk menggembleng Hye Mi untuk latihan lebih serius. Melalui Nenek lah, kecintaan Hye Mi terhadap tarian tradisional jangguchum mulai tumbuh.



Review

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan... Udah lama, ya, nggak nulis review lagi. Ah, kali ini nggak akan cerita alasannya, deh. Basi! :D

Bunda mau cerita sekilas mengenai hubungan Bunda dengan penulis cerita "Hwaiting, Hye Mi!" ini. Jadi, tante Laksmi tuh duluuuu banget, sewaktu Bunda masih duduk di kelas 2 dan 3 SMA adalah sahabat Bunda. Kami berempat punya geng bernama "Four Mbaketeer". Anggotanya terdiri dari Bunda, Tante Laksmi, Bude Dian, dan Tante Saptini. Selain ke mana-mana sering bareng, kalo salah satu dari kami ulang tahun, selalu ada surprise dari kami. Pisah pas masuk kuliah, susah lagi ngumpulinnya :D



Sebetulnya Bunda udah tahu lama kalo Tante Laksmi menulis buku. Dulu, Bunda dan Tante Laksmi pernah berkolaborasi compose lagu untuk tugas Bude Dian, karena dia anti banget sama ngarang lagu, padahal ada tugas ngarang lagu. Bunda sih udah compose lagu sendiri, begitu juga Tante Laksmi. Nah, karena Bude Dian ini ZBL banget sama seni musik, akhirnya Bunda dan Tante Laksmi keroyokan berkolaborasi composing lagu buat Bude Dian. Bunda bikin lirik, Tante Laksmi yang menggubahnya jadi lagu.

Setahu Bunda, buku pertama Tante Laksmi ada lagunya juga. Bener, ga, Tante? Tapi berhubung Bunda waktu itu masih fokus dengan buku-buku yang lain, Bunda nggak inget buat nge-take dulu via Tante Laksmi. Tapi ada satu hal juga, sih, yang bikin Bunda nggak mau kenalan dengan buku-buku Tante Laksmi terdahulu: Bunda ngiri berat karena Tante Laksmi udah maju sejauh ini, Bunda masih lari sprint di tempat. Hihihi.

Karena Bunda belum baca buku-buku terdahulu yang ditulis Tante Laksmi, Bunda jadi ga bisa bandingin dengan karya Tante Laksmi yang lain. Secara keseluruhan, cerita di buku ini lumayan mengenyangkan, salah satunya ada banyak istilah-istilah yang digunakan di Korea, sehingga bagi kamu yang sama sekali nggak ngerti istilah-istilah Korea, paling nggak minimal tahu, deh, "hwaiting" itu artinya apa. Selain itu, di cerita ini juga kita dikenalkan dengan beberapa nama tarian tradisional Korea, salah satunya tarian jangguchum yang ditarikan oleh Hye Mi. Jangguchum adalah tarian yang menggunakan alat bernama janggu. Memukul janggu harus sesuai dengan irama musik. Untuk menari jangguchum diperlukan badan yang kuat, karena tubuh harus menari sekaligus membawa janggu. Semua kelincahan di hip-hop dance bisa membantu Hye Mi kuat dalam menari jangguchum, dan dia baru menyadari beberapa waktu kemudian.

Nah, selain mengenyangkan karena ada pengetahuan baru mengenai budaya Korea, kita juga jadi tahu bahwa persahabatan itu penting dan satu lagi: memandang remeh sesuatu itu tidak baik. Belum tentu yang kita anggap remeh itu betul-betul remeh.

Ilustrasinya menarik, Bunda suka dengan style layout dan grafisnya.

Disajikan dalam bahasa yang mudah dicerna anak-anak, terutama anak usia 8-12 tahun, "Hwaiting, Hye Mi!" bisa direkomendasikan untuk kado, kok... ^_^


Kritik

Entah karena memang ini niatnya untuk masuk genre KKPK (Kecil-kecil Punya Karya), konflik di buku ini kurang kuat. Emosi Hye Mi ketika dijauhi oleh Ji Hyo dan teman-temannya kurang terasa oleh Bunda, jadi datar aja, nggak ikut sedih atau kesal :D

Bunda nggak ngerti juga, apakah ada batasan halaman atau apa, cuma rasanya emosi di bagian itu kurang kuat. Berbeda dengan emosi ketika Hye Mi merasa senang atau kecewa ketika Tuan Jun Ki memberinya mandat sebagai wakil sekolah. Juga ketika nenek datang, emosinya kerasaaa banget.

Sayang aja, sih, padahal klimaksnya ada di bagian ketika Hye Mi dijauhi teman-temannya.

Terus untuk layout, setiap halaman berasa terlalu ramai karena nggak hanya ada border, tapi di setiap halaman ada garis-garis membujur yang mengganggu (menurut Bunda sih) jadi mata bekerjanya dobel. Ya membaca, ya memilah mana huruf mana garis :D

Oya! Ada satu lagi yang agak mengganjal. Bunda sih belum pernah tahu ada anak-anak Korea berambut kriwil banget kayak Hye Mi, karena biasanya, anak-anak Korea itu rambutnya lurus dan hitam warnanya :D Kalo udah gede, sih, mereka umumnya udah kenal obat keriting dan lain-lain :D

Secara garis besar, ceritanya menarik dan cukup bergizi. Semoga Tante Laksmi tidak pernah berhenti berkarya...







Sekilas info tentang Tante Laksmi:
Nama lengkapnya Laksmi P Manohara Puspokusumo. Jagoan main piano. Demen membaca, menulis dan bermain musik (ya piano itu). Buku pertamanya yang terbit langsung lima, yaitu seri "Cerita dari Negeri Paranada" terbit tahun 2012.
Ini dia orangnya (Tante Laksmi, boleh pinjem fotonya, yaaaa)


FYI, kayaknya review berikutnya masih berbau Korea, deh. Hihihi. Soalnya bacanya udah lamaaaa banget, tapi baru punya mood buat review sekarang ini... Takut keburu diban sama Divisi Membership BBI juga, sih, karena sepi update... heuheu...  Okay, deh, sampai ketemu di review selanjutnya, yaaa...


Cheers and Love! xoxo,


Terusin baca - Hwaiting, Hye Mi! by Laksmi P Manohara

21 Mar 2014

Marriageable by Riri Sardjono


Judul: Marriageable
Penulis: Riri Sardjono
Editor: Windy Ariestanty
Proofreader: Mita M. Supardi
Penata letak: Gita Ramayudha
Desain sampul: Dwi Annisa Anindhika
Diterbitkan oleh: Gagas Media
Cetakan ketujuh, 2013
Jumlah halaman: x + 358 hlm; 13 x 19 cm
ISBN: 979-780-651-0
Genre: Novel dewasa, Adult, Romance Indonesia, Romance, Indonesian Literature, Chicklit
Status: Punya. Beli di Rumah Buku. Harganya 49rb, diskon 20% + 2%
Namaku Flory. Usia mendekati tiga puluh dua. Status? Tentu saja single! Karena itu Mamz memutuskan pencarian Datuk Maringgi abad modern untukku.
"Kenapa, sih, gue jadi nggak normal cuma gara-gara gue belom kawin?"
"Karena elo punya kantong rahim, Darling," jawab Dina kalem.
"Kantong rahim sama kayak susu Ultra. Mereka punya expired date."
"Yeah," sahutku sinis. "Sementara sperma kayak wine. Masih berlaku untuk jangka waktu yang lama."
Mamz pikir aku belum menikah karena nasibku yang buruk.
Dan kalau beliau tidak segera bertindak, maka nasibku akan semakin memburuk. Tapi Mamz lupa bertanya apa alasanku hingga belum tergerak untuk melangkah ke arah sana.
Alasanku simple. Karena Mamz dan Papz bukan pasangan Huxtable. Mungkin jauh di dalam hatinya, mereka menyesali keputusannya untuk menikah. Atau paling tidak, menyesali pilihannya. Seperti Dina, sahabatku.
"Kenapa sih elo bisa kawin sama laki?"
Dina tergelak mendengarnya. "Hormon, Darling! Kadang-kadang kerja hormon kayak telegram. Salah ketik waktu ngirim sinyal ke otak. Mestinya horny, dia ngetik cinta!"
See?
"Oh my God!" desah Kika ngeri. "Pernikahan adalah waktu yang terlalu lama untuk cinta!"
Yup!
That's my reason, Darling!

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Bunda melewatkan banyak keriaan di acara ulang tahun BBI tahun ini. Soalnya... Bunda kan sakit dua pekan, sampai sempat jadi penghuni rumah sakit hampir semingguan. Jadi... ya sudahlah... Bunda emang dari awal udah prediksi ga bisa ikut serangkaian acara ultah BBI tahun ini. Udah punya feeling gitu aja. Entah kenapa.

Dampak bagusnya, sebelum Bunda dirawat di rumah sakit, Bunda jadi menghabiskan dua-tiga buku gitu, deh. Kalo pas dirawat di rumah sakit, malah ga baca buku sama sekali meski bekal buku. Ternyata, obat-obatan di dalam infus bikin Bunda terlelap terus. Coba kalo sehat. Butuh waktu sebulan buat menyelesaikan baca satu buku saja. Hihihi. Jadi, ada banyak bahan buat nulis di sini... ^_^

Oke. Sekarang, Bunda mau cerita tentang Marriageable ini. Seperti kalian baca di atas, itu adalah potongan adegan saat Flory ngumpul dengan sahabat-sahabatnya, curhat mengenai usaha mamanya buat mendapatkan suami untuk putri satu-satunya itu. Karena menurut Mamz, usia Flory saat itu udah SOS harus segera menikah. Alasannya ya seperti yang dibilang sama Dina itu. Perempuan itu punya kantung rahim yang punya expired date.

Terus, akhirnya Flory berkenalan dengan seorang Vadin, hasil temuan Mamz. Tante Mia, ibu Vadin cukup akrab sama Mamz. Semula, Flory benar-benar muak dengan perjodohan ini dan mengira bahwa Vadin juga punya perasaan yang sama. Sama-sama muak. Ternyata, di luar dugaan, Vadin santai aja dengan perjodohan ini. Nggak terlihat marah atau apa. Malah, #destiny mereka seperti sering dipertemukan secara ga sengaja. Yaelah, kebawa lagi, deh, kata #destiny.... #tepokjidat

Melihat Vadin yang santai dan nggak terlihat pengen menggagalkan perjodohan ini bikin Flory semakin kesal sebetulnya. Tapi Vadin sendiri nggak melihat alasan kenapa perjodohan ini harus digagalkan? Secara fisik, Flory menarik. Vadin juga. Terus kenapa mesti menolak? Kan gitu aja mikirnya, simple.

Sayangnya, Flory tetep keukeuh menolak perjodohan ini sampai akhirnya dia lelah dan kemudian mencoba menikah dengan Vadin dengan satu syarat yang Bunda nggak akan cerita di sini. Bunda mau cerita di blog lain aja. Hihihi...

Ini #sopiler. Ceritanya happy ending. Udah gitu aja :D

Nah, kesan Bunda terhadap buku ini satu kata aja: SUKA.

Kalo suka, kenapa Bunda nggak kasih rating yang lebih tinggi? Katakanlah lima? Nah, ini dia persoalannya. Si Flory ini bener-bener menjengkelkan tu de maks, deh. Ke-keukeuh-an Flory bikin cerita ini tarik ulur dan menyebalkan buat diikuti. Terus terang, karakter Flory dan semua perilakunya bikin Bunda sempat ilfeel banget sama cerita ini secara keseluruhan. Meski demikian, nggak pantes juga kalo Bunda hadiahi cuma dua atau satu bintang, karena memang Bunda suka dengan Marriageable ini.

Okelah, mungkin karena di sekitarnya, ada "teladan buruk" Flory yang membuat dia parno dengan pernikahan. Tapi ya nggak gitu juga keleuuusss....

Sepupu Bunda, salah satu tante Bunda, bahkan salah satu pakde Bunda juga ada yang mengalami gagal permikahan. Belum lagi ternyata banyak teman sekolah Bunda yang juga mengalami perceraian, bahkan satu sahabat Bunda yang dari luar Bunda yakin mereka kayak pasangan Huxtable, bisa bubar juga. Lalu apakah semua pernikahan harus berakhir dengan perceraian? Haruskah semua pasangan menikah tampak ideal seperti pasangan Huxtable?

Jawabannya: Nggak.

Seperti kata pepatah, "lain lubuk lain ikannya". Lain kepala, lain isi pikirannya. Lain orang, lain isi hatinya. Nggak semua pernikahan harus sama modelnya. Ada yang memang model romantis. Ada yang memang model cuek banget. Ada yang memang kerjanya berantem melulu tapi awet. Ada yang kayak adem ayem tapi di hati masing-masing punya dendam, sekalinya ada pemicu keluar semua lalu bubar jalan. Macam-macam. Tinggal kita milih mau seperti apa punya konsep pernikahan itu.

Terus, kalian (mungkin) akan bertanya. Gimana Bunda menjalani pernikahan dengan Papa?

Jawabannya simple aja. Cuma mengandalkan Allah. Karena Dia yang mengatur semuanya.

Bunda percaya dengan pilihan Bunda. Papa percaya dengan pilihan Papa. Kedengarannya gampang? Iya. Kalo segala sesuatu diserahkan ke Allah, sisanya kita tenang, kog. Tinggal fokus sama apa yang memang harus dihadapi. Bareng-bareng menghadapi rintangan walau memang nggak mudah. Ada, kok, di lubuk hati *kadang-kadang*, rasa penasaran apakah Papa happy dengan Bunda, dst.

Tapi, sewaktu Bunda memilih Papa, Bunda sudah konsultasi dengan Yang Maha Mengetahui. Dan DIA yang kasih jawaban Bunda. So, kayak apa pun Papa, meski nggak 100% ideal di mata Bunda, dia 1000% memenuhi kebutuhan Bunda. Tapi, Bunda nggak tau dengan Papa. Soalnya, Papa tuh kalo ditanya ya gitu deh jawabannya. Dia nggak memusatkan hal-hal sesepele ini.

Bunda jadi ingat sebuah quote.



Nah. Di sana jelas disebutkan "I received everything I needed". Memang, jujur aja, setiap ada pria yang mendekati Bunda sejak Bunda SD dulu, Bunda selalu mikir jauh ke depan. Bunda bakalan sering komunikasi dengan orang ini, loh, kalo sampe jadian. Apa bakalan betah? Nah, Bunda selalu percaya pada "jatuh cinta pada pandangan pertama". Jadi, kalo dari pertama ngeliat udah nggak nyaman, seterusnya ternyata emang gitu. Makanya, dulu itu, setiap Bunda merasa didekati seorang cowok, Bunda selalu langsung mundur teratur atau malah kabur. Karena, Bunda juga nggak mau ngasih harapan kosong atau terus malah jadi nggak enakan satu sama lain. Sebelum mereka nembak, Bunda udah lari duluan. Dan akhirnya, setelah bertahun-tahun kemudian, mereka baru ngaku satu per satu kalo dulu mereka deketin Bunda tapi Bunda-nya ngacir duluan sebelum "ditembak". Jumlahnya lumayan banyak. Berarti, feeling Bunda dulu ga pernah salah :D

Makanya, mantan pacar Bunda nggak banyak. Tapi mantan TTM banyak ternyata #gubrak.

Balik lagi ke soal memilih pasangan dan keputusan buat menikah. Ada yang ngeles dengan menikah jadi nggak bebas, semua ruang gerak terbatas karena ada yang menunggu di rumah, tanggung jawab jadi lebih besar, dst.

Menikah atau nggak, keduanya punya konsekuensi. Konsekuensi ini yang harus diterima setiap orang sejak awal. Bunda suka kesal kalo denger teman yang bilang, "iya, nih, gara-gara udah punya anak, gue jadi nggak bisa nonton konser, deh..". Please, deh, jangan bilang "gara-gara". Belum tentu yang wara-wiri bolak balik nonton konser *karena masih single* nggak ngiri dengan mereka yang udah berkeluarga, kok.

Dan satu lagi, kita nggak perlu kasih judgement pada orang yang sudah menikah di usia muda atau masih single meski usianya sudah kepala 3 atau 4. Setiap orang punya jalan hidup masing-masing, punya pilihan masing-masing yang bukan urusan kita untuk mencampurinya. Hargai setiap orang dengan keputusan dan jalan hidup masing-masing. Bicara kalo diminta pendapat aja. Karena kadang, kita bicara karena udah dimintai pendapat aja masih dibantah, kog.

Buat yang pengen menikah tapi masih takut, nggak perlu takut. Semua hal dalam hidup ada resikonya. Semua perlu dihadapi. Buat yang nggak mau menikah karena takut atau hal-hal lain juga, nggak masalah. Itu pilihan. Jangan tiba-tiba membuat keputusan menikah karena takut ketuaan atau iri sama orang lain. Buatlah keputusan menikah karena memang ingin menikah. Titik.

Nah, balik ke cerita Marriageable, tokoh Vadin ini adorable banget menurut Bunda. Bunda sukaaaaaaaaa banget sama Vadin. Dan ga tau kenapa, sejak awal ngikutin tentang Vadin, kebayang Bunda,
Vadin itu kayak gini:   


Terus, Bunda kesel sama Flory, karena apa-apa diceritain semua ke sahabatnya. Ini yang bikin Bunda kesel. Tapi mungkin, karena Flory masih takut gitu kali, ya... Entah deh. Tapi kan jadinya rahasia ranjang pun keluar ke sahabatnya. Padahal, katanya, sih, soal cerita ranjang itu baiknya ga diceritain ke siapa aja. Jadi rahasia berdua aja. Gitu.... Meski akhirnya, ternyata sahabat-sahabatnya juga yang mendukung supaya Flory tetep bertahan dengan pernikahannya... So sweet, ya... empat bintang oke deh, buat Marriageable...

Diposting juga buat:
Indonesian Romance Reading Challenge
Lucky No. 14 Reading Challenge

Review versi lain *karena mengandung adegan uhuk-uhuk* ada di sini.

Stay hungry stay foolish ~ Steve Jobs.
Love you both, xoxo



Terusin baca - Marriageable by Riri Sardjono

6 Feb 2014

All You Can Eat by Christian Simamora

Judul: All You Can Eat
Penulis: Christian Simamora
Editor: Alit Tisna Palupi
Proofreader: Mita M. Supardi
Penata letak: Gita Ramayudha
Desainer sampul: Jeffri Fernando
Ilustrasi isi dan paper doll: Levina Lesmana
Diterbitkan oleh Gagasmedia
Cetakan pertama, 2013
Jumlah halaman: xii + 460 hlm; 13 x 19 cm
ISBN: 979-780-643-x
Genre: Novel dewasa, drama, romance, chicklit, Indonesian Literature, Contemporary Romance
Status: punya, beli seken dari seseorang, dengan cap: BUKU INI TIDAK DIJUAL. PERSEMBAHAN PENERBIT


'CINTA KOK BIKIN SEDIH?'
Dear pembaca,
Berbeda dengan penulis lain di luar sana, aku akan berterus terang mengenai akhir novel ini: bahagia. Tapi kumohon, jangan desak aku untuk menceritakan awal ceritanya. Juga tentang siapa Sarah, siapa Jandro, dan apa yang menghubungkan mereka berdua.

Aku juga tak akan melebih-lebihkan penjelasanku mengenai novel kesepuluhku ini. 'All You Can Eat' memang bukan cerita yang orisinal. Jadi, jangan terkejut saat mendapati ceritanya mengingatkanmu pada curhatan seorang teman atau malah pengalaman hidupmu sendiri. Ini tentang seseorang yang istimewa di hati. Yang tak bisa kamu lupakan, juga tak bisa kamu miliki.

Jadi, apa keputusanmu? Kalau setelah penjelasan tadi kamu masih ingin membaca novel ini, tak ada lagi yang bisa aku katakan kecuali: selamat menikmati.

Dan selamat jatuh cinta.
Christian Simamora

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Bunda tergoda baca ini karena terpengaruh oleh beberapa review bagus mengenai buku ini yang melintas di mata ketika blogwalking. Ditambah kavernya yang oh-so-cute, karena simpel, bikin penasaran buat baca.

Kakak Ilman dan Adik Zidan,
suatu saat nanti, ketika kalian mulai mengenal yang disebut "cinta pertama", kalian akan tahu, bahwa itu akan sulit dilupakan seumur hidup kalian. Dari apa yang Bunda alami, cinta pertama bukanlah cinta monyet yang sekadar naksir-naksiran karena si target lucu, cakep, pinter, de el es be. Cinta pertama itu jelas sulit dilupakan, karena saat itulah pertama kalinya kita mulai resah, gelisah, galau gara-gara seseorang. Bikin nggak enak makan, tidur karena resah.

Cinta pertama itu selalu bikin bertanya-tanya: dia lagi apa sekarang? Dia di mana sekarang? Sama siapa? Apa dia baik-baik aja? Dan seterusnya.

Cinta pertama Bunda termasuk absurd, karena Bunda dulu naksir Takuya Kimura. Kenapa absurd? Karena dia cuma bisa Bunda lihat di layar TV, lewat dorama Asunaro Hakusho (Ordinary People) di stasiun tv bernama Indosiar. Iya, Takuya Kimura itu aktor, pemain dorama asal Jepang. Dan yes, dia cinta pertama Bunda.

Kok, nggak nemu cinta pertama yang wajar aja, sih, Bun? Temen sekolah, kek. Kakak kelas, kek. Adik kelas, kek.

Too bad.

Cuma Kimutaku yang bener-bener bikin Bunda degdegan pertama kalinya nunggu dia muncul. Dramanya cuma seminggu sekali tayang. Cuma Kimutaku yang pertama kalinya bikin Bunda resah. Kalo doramanya abis, nanti Bunda bisa lihat dia di mana lagi? Cuma Kimutaku yang bikin Bunda lost focus saat nonton drama, sampe nggak ngerti, sebenernya ini drama lagi ceritain apa, sih?

Kenapa?

Karena, Bunda sibuk memandangi Kimutaku. Rasa kangen terpuaskan setiap ketemu di layar kaca. Begitu drama kelar, langsung rindu lagi. Ga sabar nunggu minggu depan. Dan kalo mau ketemu Kimutaku, Bunda mandi dulu. Pake cologne biar wangi. Rambut disisir rapi, pake baju pergi. Biar kerasa banget, tampil spesial saat "ketemu" Kimutaku.

Gimana? Absurd, kan? Hihihi...

Terus, Bunda kapan jatuh cinta beneran sama orang yang bukan cuma bisa ditemui lewat tv?

Kayaknya pas Bunda udah kuliah, deh. Dan itu pun ke papa. Meski sebelumnya Bunda udah punya pacar, tapi sewaktu pacaran sama mantan, Bunda nggak bisa bilang itu real cinta pertama Bunda. Karena Bunda nggak ngerasain deg-degan, kangen atau perasaan apa pun yang dirasain ke pacar. Biasa aja. Cenderung terlalu lurus. Tau-tau diajak jadian. Terus tau-tau putus :D

Nah, pengalaman jatuh cinta pertama kalinya yang dialami Jandro Vimana adalah pada Sarah Kristina, sahabat kakaknya sendiri, Anye Vimana. Sewaktu Jandro yang katanya oh-so-nerd itu, pas SMP -- iya, masih SMP pake seragam putih biru -- nembak Sarah yang udah termasuk dewasa, langsung ditolak karena Jandro masih SMP.

Jelas lah, Jandro patah hati banget. Karena, Jandro nggak cuma tertarik pada fisik Sarah, melainkan menyukai Sarah secara utuh. Keseluruhan.

Setelah bertahun-tahun kemudian, terjadi pertemuan tak terduga antara Sarah dan Jandro lagi. Saat itu, Sarah sedang melarikan diri menyepi di Ubud, di vila milik keluarga Anye dan Jandro, sementara Jandro pun melarikan diri menenangkan diri ke vila milik keluarganya (iya, di tempat yang sama mereka ketemu) karena pacarnya yang sudah punya tunangan itu memilih tunangannya daripada memilihnya.

Terus terang, Bunda nggak suka dengan sikap Sarah yang berkali-kali merendahkan Jandro. Sikap Sarah ini selalu berhasil membuat emosi Bunda naik turun. Tapi kadang, sikap Jandro yang kadang berubah-ubah ini juga bikin gemes.

Christian Simamora berhasil bikin cerita dengan POV orang ketiga yang berubah-ubah secara mulus menurut Bunda. Bunda serasa nonton FTV, sih, pas baca ini. Cuma sayangnya, nggak bisa bikin Bunda jatuh cinta, meski penggambaran secara fisik begitu gamblang.

Tapi sialnya, begini.   
<
Di kantor Bunda, ada junior yang emang badannya atletis gitu. Selama ini, seumur-umur, Bunda tuh ga pernah mantengin badan cowok. Ga pernah tergoda sama yang namanya badan ala Ade Rai. Nah, pas kemaren, efek baca deskripsi mendetail bodi Jandro, mata Bunda pas ngeliat si om satu ini lagi pake kemeja ngepas badan. Yah, sebenernya, biasanya juga dia pake apa aja juga bodinya keliatan gimana gitu. Tapi, entah kenapa, cara Bunda ngeliat kemaren beda banget. Padahal kemeja itu sering dia pake. Mata Bunda sempet ke-lock ke dia dan euh! Tenaaaang... Ga sampe jadi horny, kok. Cuma sebel aja. Jadi sempet merhatiin bodi temen kantor Bunda itu. huh!
>

Nah, usai berhasil bikin emosi naik turun, endingnya sesuai janji penulis, kok. Happy. Meski menyebalkan sekali.

Sebetulnya, Bunda sempat kecewa dengan imajinasi Bunda sendiri. Jadi gini. Pas ngobrol di Spank Club, tante Desty bilang, kalo AYCE itu dari awal sampe akhir bikin kipas-kipas. Tentu, Bunda membayangkan kalo yang namanya kipas-kipas itu ya semacam buku yang bikin semua kipas Bunda rontok. Kenyataannya, buku ini emang bikin kipas-kipas karena Bunda kesel setengah mati sama Sarah. Juga Jandro.

Emang kenapa kalo Jandro jauh lebih muda? Papa kalian juga lebih muda dari Bunda, kok. *sempet ngerasa bete karena berasa dihina si Sarah ini*

Dan meski penuturannya mengalir, lancar dan enakeun, Bunda keganggu dengan kata-kata "puh-lizz", "ah-mazing", "oh-so-called", dst. Agak-agak gimana gitu. Tapi karena ini buku pertama Christian Simamora yang Bunda baca, jadi Bunda nggak tahu apakah ini memang style penulis seperti itu apa gimana.

Tiga bintang cukup untuk mengapresiasi All You Can Eat ini... 


Sedikit mengenai Christian Simamora:   
<


Christian Simamora started as a teenlit (teenage literature) writer, but didn't forget his forever love on romance genre.
His published works: Jangan Bilang Siapa-siapa (2006), Boylicious (2006), Kissing Me Softly (2006, under pseudonym Ino Crystal), Macarin Anjing (2007), and Coklat Stroberi (2007). His sixth novel, a collaboration with his former editor Windy Ariestanty, SHIT HAPPENS: Gue yang Ogah Nikah, Kok Lo yang Rese?! won Best Local Book 2007 from Free! Magazine.

On 2010, he started a series for adult readers: JBoyfriend. The male characters's name of each books would be start with letter J.

The first book: PILLOW TALK was named as 'Book of the Year (2010)' by the publisher, GagasMedia. GOOD FIGHT, the second installment, was already released on March 2012. The third, WITH YOU, is a Gagas Duet book, written together with fellow author, Orizuka.

Next, ALL YOU CAN EAT was already released on June 2013.

GUILTY PLEASURE, the latest installment, was already finished and will be released soon.

Meanwhile, he's working on his next work. Or book shopping. Or simply just get lazy in his home. Ah, life. :)
>


Cheers! Love you both,
Terusin baca - All You Can Eat by Christian Simamora

8 Okt 2013

Genk Kompor One for All, All for Dhuaaar! by Genk Kompor



Judul: Genk Kompor - One for All, All for Dhuaaaar!
Penulis: Genk Kompor (Abe, Nando, Sandi, Erin, Eno, Deny)
Diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia
Tahun terbit 2013
Jumlah halaman: 195 hal + xxiv
Genre: Fiksi Kontemporer, Komedi, Teenlit
Status: Punya. Buntelan dari Tante Yudith


Ketika para peleduk bertemu, apa yang akan terjadi?
Korslet? Kebakaran? Kerusuhan?

Abe, Deni, Eno, Erin, Nando, dan Sandi adalah segerombolan anak dengan segudang sifat dan keanehan yang berbeda jenis tapi saling melengkapi. Melengkapi keonaran satu sama lain! Saling sulut-menyulut, saling kompor-mengompori, dan akhirnyaaa: Dhuaaar? Meleduk!!!

Genk Kompor: tidak hanya memancing tawa, tapi juga haru!


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Kali ini Bunda dapat "tugas" mereview buntelan yang dikasih ke Bunda sebagai member BBI. Hahay! Sewaktu om Dion nunjukin foto setumpuk buku, entah kenapa, Bunda jadi yang pertama komen dan bilang, "mau Genk Kompor!"

Mungkin karena Bunda butuh tertawa, makanya, begitu baca kata Genk Kompor langsung menarik perhatian tanpa pikir panjang. Di Goodreadspun, sepertinya baru Bunda yang kasih rating :P *err, setidaknya sampai hari ini*

Oke. Seperti yang diceritakan oleh sinopsis di atas, buku ini bercerita tentang persahabatan. Yang Bunda suka adalah idenya. Ternyata, nama-nama tokoh seperti Abe, Deni, Eno, Erin, Nando, dan Sandi diambil dari nama-nama penulisnya sendiri. Jadi, para penulis ini bikin proyek keroyokan serial Genk Kompor yang katanya termasuk Serial Laris Story Teenlit Magazine. 

Karakter di dalam buku ini, di antaranya:
Abe, si poni Justin Bieber. Dia ini anak IPA, tapi karena ada gebetannya di kelas IPS, jadi sering ikut pelajaran di kelas IPS. 
Deni, si penyair pantun. Kadang pantunnya nyambung, lucu, tapi banyakan ga jelasnya. Dia ini alergian, jadi gampang bersin. 
Eno, cewek mungil berkacamata, bawel. Suka banget mondar-mandir di koridor. Punya kucing jantan bernama Beldo dan kakak bernama Arum.
Erin, cewek penyuka coklat yang doyan banget dandan. Kapan aja ada kesempatan, pasti deh, lagi mupurin mukanya pake bedak. Agak heran juga, sih, anak SMA dia bawa-bawa perlengkapan lenong selengkap eye shadow, blush on dan lipstik. *eyeroll*
Nando, si jambul, yang dikit-dikit kerjanya benerin jambul. Dia sayang banget sama ibu dan adiknya. 
Sandi, cowok asal Medan yang pendiam ini semasa kecil bersahabat dengan Eno. Dialah yang paling misterius di antara kelima sahabat lainnya.

Blurbnya juga menjanjikan, sih. Jadi, Bunda sempat berharap banyak banget sama buku ini, supaya Bunda bisa teraduk-aduk karena tertawa.

Nah, sayangnya, pas awal-awal baca buku ini, Bunda mulai boring. Nggak ngakak. Biasa aja. Cengar-cengir standar. Pertanyaan Bunda cuma satu, sih, waktu itu, "Ini Bunda yang sense of humor-nya udah ngedrop sampai titik minus atau emang cerita komedinya garing?"

Meski ada pertanyaan kayak gitu, Bunda maju terus buat baca. Bunda yakin, bahwa "Warning! Ngakak Abis" di kaver nggak cuma omong kosong. Kalo iya, Bunda akan tuntut! *halah* :P

Ternyata, mulai di pertengahan buku, cengiran Bunda mulai melebar. Dan setelah hampir lembar-lembar terakhir, Bunda mulai tertawa. Bunda paling suka cerita Menjemput Masa Lalu yang udah mulai "panas" banget. Bunda inget, Bunda baca di angkot - yang, untunglah cuma ada dua penumpang lain di depan - terkikik geli membayangkan scene Nando yang dijuluki "bayi lumba-lumba" oleh teman-temannya ketika menginap di rumah Deni. Dan masih di cerita ini juga, Bunda dibuat menangis. 

Kenapa Bunda sempat pesimis dan mempertanyakan sense of humor Bunda? Karena cerita di awal, bodorannya (apa, ya, bahasa Indonesia-nya? Oh! Humornya!) garing, udah ketebak dan standar banget. Semacam.. ummm... klise? 

Terus pas giliran tebak-tebakan bahasa Inggris, Bunda sempat dibuat gemas. Ada banyak "pengetahuan umum" yang kalo dibaca sama anak-anak jaman sekarang, kalo sasarannya anak SMP-SMA sekarang, udah terbilang basi. Misalnya aja, ada tebakan yang jawabannya, "run no car no" (kalo diinget-inget itu adalah plesetan dari nama Rano Karno, salah satu aktor Indonesia, yang saat ini menjadi Wagub Banten). Masalahnya, Bunda nggak yakin, ada abege sekarang yang tahu siapa Rano Karno. Anaknya mungkin. Tapi segmen pembaca secara keseluruhan kayaknya ga tau siapa beliau.

Ada lagi sih, yang bikin Bunda cengar-cengir. Salah satu bab yang berjudul Tomboy kok Mellow. Nah, di situ ada adegan Sandi dan Eno ngobrol. Mereka berdua ngobrol pakai logat Batak. Bikin Bunda ingat sama Om Helvry dan Tante Putri yang kalo ngobrol, logat mereka Batak abis. Hihihi.

Walau Bunda sempat kecewa dengan warning ngakak abisnya itu, ternyata Bunda terhibur banget dengan buku ini. Bunda juga salut dengan persahabatan mereka. Misalnya, pas Abe udah berusaha banget mendekati Tria, cewek incerannya, tapi ketika dekat dengan Tria, Abe malah gugup dan salting. Trus, malah, Tria udah keembat duluan sama Vincent. Nah, pas akhirnya, Abe dapat kesempatan buat deketin Tria, dia malah milih nguntit Sandi yang misterius dan akhirnya kencan pertama Abe - Tria batal.

Kalo ditanya, Bunda paling suka karakter mana, yang jelas, Bunda suka semuanya secara adil dan merata. Karena, mereka semua adorable. Buku ini nggak cuma menghibur, tapi juga "mengajarkan" kasih sayang, kepedulian dalam persahabatan. 

Oya, itu di kaver belakang, ada kata-kata agak mengganggu. "saling sulut-menyulut, saling kompor-mengompori". Padahal cukup ditulis, "saling menyulut, saling mengompori" aja. 

Makasih, Genk Kompor dan Tante Yudith. Bunda terhibur! ^_^

Terusin baca - Genk Kompor One for All, All for Dhuaaar! by Genk Kompor

17 Jul 2013

Blue Romance


Judul buku: Blue Romance
Penulis: Sheva Thalia
Penyunting: Donna Widjajanto
Perancang sampul: Diani Apsari
Pemeriksa aksara: Primanilla Serny
Penata aksara: Kuswanto
Desain dan ilustrasi: Diani Apsari, Teguh Pandirian
Diterbitkan oleh: PlotPoint Publishing
Jumlah halaman: vi + 216 hlm; 19 cm
ISBN: 978-602-9481-16-7
Cetakan kedua: November 2012
Novel
Status: Punya, dong. Beli di Rumah Buku :D
Harga: Rp. 38.000


Sinopsis di kaver belakang buku:   

Selamat datang di Blue Romance, sebuah coffee shop yang buka setiap hari, dan mungkin kau lewati hari ini.

Blue Romance menyediakan kopi ternikmat dan sahabat saat kau dituntut untuk terus terjaga. Blue Romance juga punya banyak cerita. Ada kisah jatuh cinta dan patah hati, perpisahan dan pertemuan kembali. Kisah-kisah ini berbalut kafein dan aroma kopi, berderai tawa dan tangis, di sela desis coffee maker

Seperti Latte, Affogato, Americano, dan Espresso, setiap kisah punya kopinya sendiri.

Kisah mana yang cocok dengan kopimu?

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Yeah! Bunda mereview lagi! Mana tepuk tangannya? :P

Bunda masih punya prinsip: 
"Judge the book by the cover. Collect a book with lovely cover."

Itulah kisah Bunda bersama buku ini awalnya. Pas ngeliat buku ini wara-wiri di Goodreads, Bunda langsung naksir dan masukin ke wishlist. Iya! Bunda naksir berat sama kavernya. Bunda sukaaaa sekali tipe-tipe gambar begini.

Nah, supaya Bunda nggak jadi galau karena Bunda sangat yakin ingin memilikinya, Bunda sengaja nggak baca review yang bertebaran ketika itu. Bunda nggak mau kecewa sebelum punya bukunya, kalo ternyata ratingnya jelek. Paling nggak, walaupun (kemungkinan terburuk) ratingnya jelek, Bunda koleksi buku ini karena satu hal: kavernya cakep. Sangat. Hahahaha...

Terus ya gitu, deh. Bunda lupa kapan beli ini yang jelas. Tapi pas main ke Rumah Buku dan melihat ada buku ini, Bunda langsung masukkan ke keranjang belanja tanpa berpikir lagi. Sekali lagi nggak berharap buku ini bakalan bagus atau apa. Yang penting kalo dipajang di rak display (kalo udah punya nanti), pasti bakalan cantik banget. X))

Alasan macam apa itu?

Balik lagi ke prinsip Bunda di atas :P

Lalu, buku ini bercerita tentang apa sebenernya? Buku ini masuk ke Omnibooks kalo menurut penerbitnya. Maksudnya, ini termasuk "seri buku yang terdiri dari sekumpulan kisah dengan satu benang merah yang ditulis penulis baru berbakat."

Mari kita bedah satu persatu isi buku ini:

Rainy Saturday
Kopi yang disuguhin di cerita ini adalah: Affogato. Affogato adalah espresso dituangkan ke atas gelato. Biasanya es krim yang dipilih adalah es krim rasa vanilla, pada prakteknya terserah pelanggan.

Rainy Saturday bercerita tentang dua orang yang dipertemukan secara tidak sengaja (apakah ini destiny?) di Blue Romance, gara-gara keduanya terjebak hujan. Tokoh yang satu (cewek) sudah duluan duduk di dalam kafe, terpaksa berbagi meja dengan seorang cowok yang datang dan nggak kebagian meja, karena orang-orang yang biasa duduk di teras luar jadi memenuhi ruangan dalam supaya nggak kehujanan.

Di sini mereka berkenalan lalu bertukar cerita dan menemukan kesamaan. Bahkan mereka pun janjian untuk ketemu lagi minggu berikutnya di jam yang sama dan mereka sama sekali nggak bertukar nomor telepon demi satu kata: kejutan.

Yang Bunda sukaaaaa dari cerita ini adalah di cerita ini ada detail mengenai keunikan dari kafe Blue Romance yang unik. Softboard dan kertas juga pensil yang disediakan kafe supaya pelanggan bisa menulis apa saja lalu ditempel di softboard. Bunda suka banget konsep yang begini...

Nggak cuma itu. Sebetulnya tokoh utama (si cewek) ini diceritakan detail kisah pribadinya. Tapi entah kenapa, Bunda nggak merasa boring. Pas aja gitu. Keren, deh!

1997-2002
Kopi yang disuguhin di cerita ini: Mochaccino. Mochaccino adalah espresso dengan cokelat, susu panas, biasanya bagian atasnya diberi whipped cream.

1997-2002 bercerita tentang reuni dua sahabat berbeda lawan jenis yang sudah lama berpisah, karena tokoh Nico harus ikut orangtuanya ke Jerman. Sebelum mereka berpisah, ternyata tokoh Rika dan Nico sempat bertengkar hebat tanpa sempat meminta maaf.
Setelah mereka berdua bertemu, keluar aja semua cerita masa lalu dan kenangan-kenangan mereka. Termasuk mereka berdua ternyata doyan nonton J-dorama Long Vacation! Ah! Ternyata Rika suka ama Kimutaku! #jeles #bantaiajabundakaloginimah X))

Kalo untuk cerita yang ini sih, Bunda udah bisa nebak. Jadi... kesan Bunda biasa aja. Tapi tetep pas :)

 
Blue Moon
Kopi yang disuguhin di cerita ini: Caffe Latte, kopi berbasis espresso dengan tambahan susu yang panas, dihidangkan dengan selapis tipis whipped cream atau bisa juga tidak sama sekali, tergantung keinginan pelanggan.
Cerita di Blue Moon cukup mengharukan, karena bertutur mengenai hubungan ayah dan anak. Entah kenapa, Bunda seperti menemukan kesamaan antara cerita ini dengan hubungan Bunda dan Yangkung yang nggak seakrab anak perempuan pada umumnya ke papanya. Dibilang musuhan nggak, tapi dibilang dekat juga nggak. Takut iya. 

Tokoh utama di cerita ini bernama Edi, yang adalah barista Blue Romance. Orangtua Edi tinggal di Surabaya. Edi bisa kuliah di Jakarta atas bantuan buliknya yang tinggal di Semarang. Sementara itu, Edi dan Emma, adiknya, bekerja sambilan di Blue Romance.

Edi teringat ayahnya ketika dia menemukan seorang pelanggan mabuk yang datang tengah malam dan meracau sampai ngasih jackpot ke celemek kerja Edi, karena ayah pelanggan ini baru saja meninggal tanpa mereka sempat bertemu dulu.

Edi ingat karena tubuhnya yang besar, dia sering menjadi korban bullying. Dihajar tiba-tiba tanpa bisa melawan. Lalu ayahnya lah yang merawatnya, membersihkan lukanya...

Iya, cerita ini mengharu biru. Nggak bertele-tele, tapi pas untuk bikin Bunda menitikkan air mata...

A Farewell to A Dream

Kopi yang disuguhin di cerita ini: Americano. Americano adalah espresso dan air panas yang biasanya dicampur dalam jumlah yang sama. Americano diciptakan oleh tentara Amerika saat Perang Dunia I, yang menambahkan air panas untuk mengurangi kuatnya rasa espresso tradisional.

Cerita di Blue Moon ini pahit. Sama pahitnya dengan rasa espresso walau sudah ditambahkan air panas dalam jumlah yang sama dengan espresso yang ada di cangkir/gelas. Sebab, dalam Americano, nggak ditambahkan gula. Maka, sepahit itu cerita di Blue Moon ini.

Bunda lebay parah, ya?

Tapi ini bener! Blue Moon bercerita tentang kasih tak sampai, kok. Pahit, kan? Banget! Tentang seseorang yang terpaksa merelakan seseorang yang menjadi sumber inspirasinya selama ini kepada sahabatnya, hanya karena dia nggak mau persahabatan mereka berakhir. Klise? Iya, mungkin. Cerita sejenis ini banyak. Meski begitu, Bunda bisa merasakan kepahitan yang dialami Bima... T___T
Happy Days

Kopi yang disuguhin di cerita ini: Caffe Macchiato, sejumlah kecil susu, atau kadang-kadang, busanya disendok ke dalam espresso.


Cerita ini sebetulnya sama pahitnya dengan cerita Blue Moon. Tapi lebih pahit meski dicampur susu. Tokoh dalam cerita ini bertemu seseorang yang lain di sebuah mini market secara tidak sengaja, lalu kenalan dan menjadi akrab, karena sebuah lighter.


Ketika orangtua si tokoh ini bertengkar kemudian bercerai, tokoh cerita melarikan diri ke rumah si kenalannya tadi dan merasa terlindungi.


Yang kemudian bikin cerita ini semakin pahit adalah... ceritain ga ya? Spoiler abis soalnya... T____T

The Coffee and Cream Book Club

Kopi yang disuguhin di cerita ini: Coffee and cream. Kopi berbasis espresso, disajikan dengan krimer dan gula yang bisa ditambahkan sesuai keinginan pelanggan.

Kopi macam gini sebetulnya yang sering Bunda minum. Ish, Bunda kan peminum kopi instan X))

Di sini berkisah tentang Book Club yang didirikan di Blue Romance oleh Bening dan Anya dengan syarat anggotanya suka baca dan suka kopi krim. Setiap dua minggu sekali, mereka berdiskusi mengenai buku yang mereka harus baca selama dua minggu itu. Kegiatan book club berjalan baik sampai kehadiran Jeff yang tidak disukai Bening.

Cerita di The Coffee and Cream Book Club mengharu biru. Bikin Bunda inget sama ibu kandung Bunda. Yang jelas, mata Bunda berkaca-kaca dan menangis baca cerita yang ini... Bukan karena faktor hormon. Tapi emang ceritanya mengharukan, karena Bunda punya kisah tersendiri dengan mendiang ibu kandung Bunda....


A Tale about One Day

Kopi yang disuguhin di cerita ini: Espresso. Kopi dasar dari semua jenis kopi. Kadar airnya sedikit, sehingga konsistensinya lebih kental, dan tentu saja, lebih membuat mata terjaga.

Bentar. Bunda ngebayangin rasa kopi espresso yang super pahit dan sanggup bikin kaki nggak napak... Hihihi... Kebiasaan minum kopi instan, pastinya pas dikasih espresso bakalan melayang-layang ga napak. Bahkan ga bisa mikir... X))

Lalu A Tale about One Day cerita tentang apa? Kai, seorang keturunan Perancis - Jawa yang menjadi guru bahasa Perancis di sebuah sekolah, sedang memeriksa jawaban murid-muridnya di Blue Romance. Sewaktu Kai ke toilet dan balik ke mejanya, gadis kecil bernama Chantal sudah duduk di salah satu kursi di mejanya. Dari situ perkenalan mereka berlanjut dan entah kenapa, cerita pribadi mereka mulai tergali. Chantal dan Kai punya persamaan, bahkan Chantal yang diantar pulang oleh Kai karena sudah malam sempat meminta diantar ke sebuah alamat untuk mencari ayah kandungnya.

Kesan Bunda pas baca cerita ini sih sama biasanya dengan waktu baca 1997-2007, karena udah ketebak ceritanya gimana dan endingnya gimana.

Sekarang, kesan Bunda mengenai Blue Romance

Lalu, kesan Bunda setelah baca Blue Romance gimana?

Kalo dilihat dari keseluruhan cerita, Bunda rela banget kasih 4 bintang buat semua ceritanya. Yang jelas, Bunda ikut ngerasain keharuan di cerita Blue Moon juga Coffee and Cream Book Club, ikut ngerasain kepahitan di cerita Happy Days dan A Farewell to A Dream.

Menurut Bunda, untuk novel pertamanya, Sheva udah tahu takaran yang pas untuk sebuah cerita yang diramu dalam kumpulan cerita pendek. Semuanya terasa pas. Nggak terlalu panjang atau bertele-tele, nggak juga hambar. Pas banget.

Dan ternyata, setelah buka berbagai review di Goodreads, rata-rata emang kasih bintang 4. Ternyata Bunda nggak sendirian menilai Blue Romance ini bagus...

Ditambah kaver yang begitu manis, bikin Bunda makin tergoda buat baca ulang buku ini. Oh, ya. Jangan lupakan kehadiran bookmark cantiknya!

bookmark Blue Romance

All in all, ma kasih, Sheva. Udah bikin cerita-cerita yang pas untukku... Satu kata aja: SUKA!

Eh, btw, Bunda nemu postingan begini di sosmed kapan itu. Bertema kopi :D


Terusin baca - Blue Romance

23 Mei 2013

Bad Girls


Judul: Bad Girls
Penulis: Jacqueline Wilson
Ilustrator: Nick Sharratt
Diterbitkan oleh: Corgi Yearling Book
Tahun diterbitkan: 1997
Teenlit, Novel
ISBN: 0-440-86356-95
ISBN13: 9-780440-863564
Paperback
Status: Punya. Beli seken di BukuMoo.




Kim's gang had better watch out! Because Tanya's my friend now, and she'll show them!

Mandy has been picked on at school for as long as she can remember. That's why she is delighted when cheeky, daring, full-of-fun Tanya picks her as a friend. Mum isn't happy - she thinks Tanya's a BAD GIRL and a bad influence. Mandy's sure Tanya can only get her out of trouble, not into it... or could she? (from back cover)

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Walau Bunda ngumpulin e-book Jacqueline Wilson, jujur aja, baru dua yang dibaca. *sigh*

Kenapa Bunda suka buku-buku bu Jacqueline Wilson? Bukunya cewek banget. Hehehe...
Gaya bu JW agak mirip lah dengan gaya bu Ono Eriko dalam menyampaikan cerita. Bedanya, kalo bu Ono kan pake komik, kalo bu JW pake cerita dalam bentuk novel.

Bad Girls ini tentang apa, Bun?

Ada gadis bernama Mandy White yang selalu jadi sasaran empuk bullying teman sekelasnya, Kim. Nggak hanya itu, Kim bersekongkol dengan Melanie, yang dulu pernah jadi sahabat karib Mandy dalam bullying ini.

Suatu ketika, Mandy tidak melihat jalan dan dia tertabrak bus. Hal ini membuat ibunya protes pada gurunya, bullying sudah membuat Mandy celaka.

Di saat masa istirahat pemulihan dari kecelakaan itu, Mandy kenalan dengan gadis berpenampilan aneh, bernama Tanya, yang ternyata usianya nggak terlalu jauh. Yah, keliatannya, Tanya bukan gadis baik-baik kalo dari penampilannya.

Setelah berakrab ria dengan Tanya, ibu Mandy justru resah. Pertama, karena ibu Mandy tidak suka penampilan Tanya, berikutnya, karena Tanya nggak jelas latar belakangnya. Ibu Mandy khawatir kalo Tanya justru akan memberi pengaruh pada Mandy yang cerdas.

Dan memang, sih, ada beberapa perilaku Tanya yang justru melibatkan Mandy dalam masalah. Hanya saja, itu tidak membuat rasa sayang Mandy terhadap Tanya luntur, karena Tanya-lah yang tulus padanya.

So far, ceritanya begitu seru dan menakjubkan. Banyak kejutan yang nggak Bunda sangka ada di dalam cerita ini. Bullying, apapun bentuknya, bukanlah perbuatan baik dan menyenangkan.

Bunda mau kutip kalimat yang diucapkan guru kelas enam Mandy, Miss Moseley, ketika mereka membuat lingkaran di kelas, membahas bullying.


"And I think we have to try to work out why people bully. Then we can maybe stop it before it gets too much of a habit. So. Why do you think people bully?"

"Are bullies happy people?"

"Think about when you're very very happy. Say it's your birthday and all your family and friends have given you a big hug and some lovely presents and you feel really great. Now, do you want to hurt anyone when you're in that short of situation?"
"Of course not, you just want to be nice to people. But suppose you've had a really bad day and got into trouble at school and your friends got off with someone else and your mum and dad are cross and they've given you little sister a treat and yet they just tell you off... Do you want to be nice to people now? Or do you feel like being nasty?"

"No-one ever asks to be bullied. But you're right, sometimes people get bullied because they're stupid. Though that's not a very kind word. People can't help it if they're not very bright. And that's a terrible reason for bullying someone, just because they're not clever."

"And other times someone can get bullied because they're ever so clever. Say they come top of the class and the bully doesn't like it because they're clever too and they want to be top."

"The big baboon screams a lot and bites all the little ones. All the other big baboons copy, screeching and scratching for fleas. Now, no-one here in my class wants to act like a bully baboon with a bright red bottom, do they?"

Nah. Kalo Kakak Ilman dan Adik Zidan menjadi saksi bullying, laporkan. Kalo kalian juga jadi korban bullying, ngomong ke Bunda atau Papa, ya... Kita harus hentikan semua bentuk bullying. Bunda pengen kalian berdua tahu, Bunda akan memerangi semua bentuk bullying...

Love you, kiddos...

diposting untuk ikut Fun Year Event with Children's Literature



Oh! Anyway by the way busway! Bunda punya freebies buat teman-teman Bunda berupa bookmark yang bisa diunduh!

Ini previewnya...



Kalo mau unduh, silakan klik link ini, ya... ^^

Terusin baca - Bad Girls

31 Jan 2013

AKAR - Dee plus Siapakah Secret Santa Bunda?


Judul buku: AKAR (Supernova #2)
Penulis: Dee a.k.a Dewi Lestari
Penyunting: Dhewiberta
Perancang sampul: Fahmi Ilmansyah
Penata aksara: Irevitari, Binangkit
Pemeriksa aksara: Intan Ren, Intari D
Foto penulis: Reza Gunawan
Simbol sampul: Flower of Life
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan ketiga, September 2012
Jumlah halaman: x + 262 hlm; 20 cm
ISBN: 978-602-8811-71-2
Novel
Status: Punya. Hadiah dari Secret Santa


Di Bolivia, Gio mendapat kabar bahwa Diva hilang dalam sebuah ekspedisi sungai di pedalaman Amazon. Di Indonesia, perjalanan seorang anak yatim piatu bernama Bodhi dimulai. Bodhi, yang dibesarkan di wihara oleh Guru Liong, akhirnya meninggalkan tempat ia dibesarkan dan bertualang ke Asia Tenggara. Di Bangkok, ia bertemu dengan pria eksentrik bernama Kell yang mengajarinya seni tato.
Setelah melalui petualangan yang berliku di berbagai negara, Bodhi akhirnya kembali ke Indonesia. Ia dipertemukan dengan tokoh punk karismatik bernama Bong. Sejak itu, Bodhi menjadi bagian dari komunitas punk dengan perannya sebagai seniman tato.
Sebuah surat misterius yang ditemukan secara tidak sengaja oleh Bodhi kembali membawanya ke gerbang petualangan baru. (dari cover belakang buku)

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Setelah sekian lama "tidur" baca petualangan Supernova, Bunda mulai baca lagi lanjutannya. Buku kedua ini menurut Bunda lebih simpel, karena karakternya nggak terlalu banyak ketimbang buku pertamanya. Dan humornya lebih mengena. Bunda suka sekali.

Berbeda dengan buku pertama yang terdiri dari banyak keping (maksudnya, Bab), di Akar, Bunda hanya menemukan 3 keping saja.

Keping pertama bercerita tentang Gio. Gio sudah diperkenalkan di buku pertama. Jadi, Bunda nggak asing lagi dengan Gio. Cuma, cerita Gio di Akar "berakhir" dengan kepergiannya untuk menemukan Diva yang hilang di pedalaman Amazon. Nggak banyak "cerita menarik" tentang Gio di sini. Tapi, sepertinya bukan Dee, kalo nggak menyembunyikan teka-teki tentang Gio untuk dilanjutkan di buku berikutnya, barangkali?

Keping kedua dan ketiga bercerita tentang Bodhi. Hidup Bodhi yang ditemukan di bawah sebuah pohon yang tumbuh di sebuah wihara oleh Guru Liong, yang kemudian mengurus dan membesarkannya dan bahkan menjadikan Bodhi sebagai "guru"nya!

Setelah 18 tahun hidup di wihara, Bodhi memutuskan untuk keluar dari wihara. Pada saat perpisahannya dengan Guru Liong, sang guru ini bilang, supaya Bodhi pergi jauh dan jangan kembali lagi. Banyak "keberuntungan" yang menyertai Bodhi ketika dia memulai petualangannya. Bodhi yang nggak pernah punya akte kelahiran apalagi KTP, bisa terbang sampai Thailand! Dan di sana dia bertemu dengan seorang lelaki tampan yang "bersuami" banyak, bernama Kell, yang kelak mengajarinya menjadi seniman tatto. 

Perjalanan Bodhi menyusuri Thailand, Laos, juga Vietnam membuatnya menemukan arti kehidupan. Ada banyak sekali "kebetulan" yang tercipta sehingga Bodhi selalu berada dalam keadaan aman, selamat, sehat wal afiat. Sampai akhirnya, Bodhi kembali ke Indonesia.

Petualangan Bodhi sendiri membuat novel kedua Supernova ini menarik. Terus terang, entah karena Bunda baca Supernova edisi "fotokopian" *maksudnya, dulu Dee pernah nerbitin Supernova edisi ekonomis, dikarenakan pada saat itu harga buku sangat mahal*, Bunda merasa tulisan Dee di Akar lebih matang. Humor dan semuanya berpadu menjadi satu, sehingga sukses berat mengaduk emosi Bunda. Emosi tawa, haru, geram... campur aduk, ada semua!

Dan karena covernya dibuat baru, Bunda merasa worth it to collect, terlepas dari memang serial Supernova ini pada akhirnya akan menjadi salah satu serial kesayangan Bunda... Good job, teh Dewi!

Nah, kayaknya reviewnya segitu aja dulu. Soalnya, ada yang Bunda pengen ceritain...
Kalian ingat postingan yang ini, nggak? Tentang Secret Santa?

Buku ini hadiah dari Secret Santa, yang bisa Bunda baca secara ngebut. Entah karena memang bahasa Indonesia asli (bukan terjemahan), entah karena emang Dee mampu membius Bunda melalui permainan katanya... yang jelas, Bunda bisa selesaikan baca hanya dalam waktu dua hari. Itu juga diselang banyak aktivitas, kan... Nggak duduk baca doang :D

Sebetulnya, Bunda bertanya-tanya. Ini maunya Secret Santa, apa, sih? Bunda udah jelas tuliskan buku apa yang Bunda mau dan udah dimasukin ke rak khusus Dear SS. Tapi, Bunda malah dapetnya buku Akar, yang justru ada di dalam rak wishlist, dan berada di dalam timbunan yang entah ke berapa. Kok, dia bisa menemukan buku Akar? Padahal di rak wishlist itu ada banyaaaaaaak banget, judul buku yang Bunda pengen.

Lalu, ditambah clue:
Si Bintang berkacamata penikmat kisah fantasi.

Bunda got no clue!

Let's see... Setelah konsultasi sana sini juga googling nama "bintang", Bunda menemukan banyak nama. Udah gitu, mana ada yang suka "ngegodain" pula di whatsapp. Bikin Bunda jadi gemes, apakah sebenarnya dia Santa Bunda?

Kita coba dari kata "bintang", ya.
Dalam berbagai bahasa, "bintang" itu di antaranya: 'stellarium", "orion", "kartika", "astrid", "danica", "esther", dan seterusnya. Nah, lho!

Ada tiga tersangka, yang namanya sama dengan nama teman-teman Bunda di BBI, yang berarti "bintang":
1. Kartika Utomo
2. Astrid Felicia Liem
3. Daneeollie atau Perdani Budiarti.

Semula, mengaitkan dengan pilihan buku "Akar", Bunda merujuk pada nama Kartika Utomo. Dalam bahasa Jawa, "kartika" berarti "cahaya malam". Jadi, Bunda stalk tuh, tante Ika. Tapi, Bunda sama sekali nggak menemukan fakta bahwa tante Ika berkacamata. Bahkan tanya sana sini pun, nggak ada yang tahu kalo tante Ika berkacamata. Meski, YES, tante Ika adalah penikmat kisah fantasi.

Lalu, nama Astrid Felicia Liem. Kok, kayaknya bukan tante Astrid, karena fakta yang sama juga. Nggak berkacamata. Bunda malah mencurigai kalo tante Astrid adalah Secret Santa teman Bunda yang lain... Ples, Bunda nggak tahu kalo seandainya tante Astrid hobi menggambar. Meski dalam bahasa Yunani, Astrid berarti "bintang" untuk anak perempuan. Argh!

Ketiga...
Gini. Sewaktu Bunda laporan di grup Whatsapp BBI Bajay, kalo buku dari Santa udah sampai, ada satu nama yang langsung merespon kaget. "Oh, bukunya sudah sampai?" errr.. ini membuat Bunda sempat curiga. Masalahnya, Bunda ga dapet struk pengirimannya. Jadi, Bunda nggak tahu berasal dari kota manakah si Santa ini...

Lalu, faktanya dia berkacamata. Entah kenapa, dari awal, Bunda ngerasa kok, dia, ya, Secret Santa Bunda. Nggak tahu kenapa. Dan sepertinya, dia penikmat kisah fantasi. Dikaitkan dengan Danica yang berarti "bintang timur - untuk anak perempuan" dalam bahasa Slavic (Eropa), nama ini muncul sebagai panggilan atau nicknamenya.

So! Setelah Bunda konsultasi dengan pakde Iwan... rasanya, pilihan ketiga ini yang paling memungkinkan. Meski, kalo nggak salah beliau ini berasal dari Jawa Tengah, kok, nulis kata "Mbak Peni" menjadi "Mba Peni"? Kalo bersuku Jawa, biasanya menulis kata "mbak" itu dengan "mbak", bukan dengan "mba". Argh! Bunda jadi galaaaaau! Oh, ya. Ada satu fakta lagi, sih. Sepertinya, "bintang" yang ini suka menggambar.... :D

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Bunda memilih....

Perdani Budiarti a.k.a Daneeollie a.k.a Dani 

sebagai Secret Santa Bunda.

Bener, nggak, ya? Kalo salah, Bunda mau ngumpet dulu di bawah meja.... X)
Terusin baca - AKAR - Dee plus Siapakah Secret Santa Bunda?