Tampilkan postingan dengan label buku anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku anak. Tampilkan semua postingan

5 Agu 2015

Hwaiting, Hye Mi! by Laksmi P Manohara





Judul buku: Hwaiting, Hye Mi!
Penulis: Laksmi P Manohara
Ilustrasi: Nisa Nafisah
Penyunting naskah: Huda Wahid dan Dian Hartati
Penyunting ilustrasi: Kulniya Sally
Proofreader: May May Maysarah 
Desain isi: Nisa Nafisah
Desain sampul: Kulniya Sally
Cetakan I, Shafar 1436 H/Desember 2014
Diterbitkan oleh penerbit DAR! Mizan
Jumlah halaman: 136 hal; 21 cm
ISBN: 978-602-242-628-8
Genre: Fiksi, K-Novel, Fiksi Korea, Children Books, KKPK


Tampil lepas di hadapan para juri, Hye Mi meraih juara perama kompetisi hip-hop dance. Sebagai satu-satunya wakil dari sekolah, dia merasa sangat bangga. Apalagi gadis itu telah berlatih keras melakukan hal yang paling disukainya tersebut.

Terpukau akan penampilan Hye Mi, utusan Kementerian Kebudayaan lantas mendapat ide cemerlang, "Bagaimana kalau..." Kepala sekolah pun memanggil Hye Mi. "Aku mengutusmu mewakili sekolah menari di kementerian," pinta beliau. "Nanti kamu akan belajar tari tradisional Korea."

"Tari tradisional?!" protes Hye Mi dalam hati. Dia kan hip-hop dancer! Lagi pula, tari tradisional kuno, lamban, musiknya juga kerap memilukan. Mana cocok menggambarkan hari-harinya sebagai gadis muda yang lincah dan penuh semangat? Kalau hip-hop dance? Baru cocok!





Sinopsis Cerita
 
Ketika seorang anak memiliki prestasi memuaskan berkat kerja kerasnya selama bertahun-tahun latihan, tentu dia akan merasa bangga. Dan otomatis, predikat prestasinya ini akan melekat dalam dirinya sebagai modal untuk percaya diri. Ini juga yang dialami Hye Mi, seorang gadis kecil Korea berusia sepuluh tahun yang pandai melakukan hip-hop dance yang bahkan sudah meraih banyak penghargaan itu.

Suatu ketika, dia mendapat perintah dari Kepala Sekolah, Tuan Jun Ki, agar Hye Mi ikut tampil menari tarian tradisional Korea di depan tamu negara. Sorot mata Hye Mi mendadak meredup dan badannya lesu, namun Tuan Jun Ki terlalu bersemangat untuk menjadikan Hye Mi sebagai wakil sekolah, karena Hye Mi sudah langganan menang kompetisi, tidak menyadari adanya perubahan raut wajah Hye Mi. 

Di rumah, Hye Mi pun lesu. Dia membayangkan betapa membosankannya latihan tarian tradisional itu. Padahal, ayah dan ibu tidak pernah lelah menyemangatinya.

Ketika Hye Mi mulai ikut latihan tarian tradisional yang diajarkan oleh Bu Kim, kesibukan Hye Mi mulai meningkat. Dia tidak menyadari bahwa Ji Hyo, sahabatnya, mulai menjauhinya. Sementara di tempat latihan menari, teman-teman baru Hye Mi juga mulai tidak menyukainya dan membencinya. Padahal, waktu pementasan sudah tidak lama lagi.

Hye Mi mulai menyadari bahwa tindakannya bermalas-malasan ikut latihan tarian tradisional, membuatnya dibenci teman-teman latihan menarinya. Dan dia semakin merasa sendiri ketika Ji Hyo selalu menghindarinya. Mana enak nggak punya teman?

Pada saat Nenek yang tinggal di Pulau Jeju mengunjungi Hye Mi, barulah Hye Mi menyadari mengapa Ji Hyo menjauhinya. Nenek yang dulu penaripun sibuk menggembleng Hye Mi untuk latihan lebih serius. Melalui Nenek lah, kecintaan Hye Mi terhadap tarian tradisional jangguchum mulai tumbuh.



Review

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan... Udah lama, ya, nggak nulis review lagi. Ah, kali ini nggak akan cerita alasannya, deh. Basi! :D

Bunda mau cerita sekilas mengenai hubungan Bunda dengan penulis cerita "Hwaiting, Hye Mi!" ini. Jadi, tante Laksmi tuh duluuuu banget, sewaktu Bunda masih duduk di kelas 2 dan 3 SMA adalah sahabat Bunda. Kami berempat punya geng bernama "Four Mbaketeer". Anggotanya terdiri dari Bunda, Tante Laksmi, Bude Dian, dan Tante Saptini. Selain ke mana-mana sering bareng, kalo salah satu dari kami ulang tahun, selalu ada surprise dari kami. Pisah pas masuk kuliah, susah lagi ngumpulinnya :D



Sebetulnya Bunda udah tahu lama kalo Tante Laksmi menulis buku. Dulu, Bunda dan Tante Laksmi pernah berkolaborasi compose lagu untuk tugas Bude Dian, karena dia anti banget sama ngarang lagu, padahal ada tugas ngarang lagu. Bunda sih udah compose lagu sendiri, begitu juga Tante Laksmi. Nah, karena Bude Dian ini ZBL banget sama seni musik, akhirnya Bunda dan Tante Laksmi keroyokan berkolaborasi composing lagu buat Bude Dian. Bunda bikin lirik, Tante Laksmi yang menggubahnya jadi lagu.

Setahu Bunda, buku pertama Tante Laksmi ada lagunya juga. Bener, ga, Tante? Tapi berhubung Bunda waktu itu masih fokus dengan buku-buku yang lain, Bunda nggak inget buat nge-take dulu via Tante Laksmi. Tapi ada satu hal juga, sih, yang bikin Bunda nggak mau kenalan dengan buku-buku Tante Laksmi terdahulu: Bunda ngiri berat karena Tante Laksmi udah maju sejauh ini, Bunda masih lari sprint di tempat. Hihihi.

Karena Bunda belum baca buku-buku terdahulu yang ditulis Tante Laksmi, Bunda jadi ga bisa bandingin dengan karya Tante Laksmi yang lain. Secara keseluruhan, cerita di buku ini lumayan mengenyangkan, salah satunya ada banyak istilah-istilah yang digunakan di Korea, sehingga bagi kamu yang sama sekali nggak ngerti istilah-istilah Korea, paling nggak minimal tahu, deh, "hwaiting" itu artinya apa. Selain itu, di cerita ini juga kita dikenalkan dengan beberapa nama tarian tradisional Korea, salah satunya tarian jangguchum yang ditarikan oleh Hye Mi. Jangguchum adalah tarian yang menggunakan alat bernama janggu. Memukul janggu harus sesuai dengan irama musik. Untuk menari jangguchum diperlukan badan yang kuat, karena tubuh harus menari sekaligus membawa janggu. Semua kelincahan di hip-hop dance bisa membantu Hye Mi kuat dalam menari jangguchum, dan dia baru menyadari beberapa waktu kemudian.

Nah, selain mengenyangkan karena ada pengetahuan baru mengenai budaya Korea, kita juga jadi tahu bahwa persahabatan itu penting dan satu lagi: memandang remeh sesuatu itu tidak baik. Belum tentu yang kita anggap remeh itu betul-betul remeh.

Ilustrasinya menarik, Bunda suka dengan style layout dan grafisnya.

Disajikan dalam bahasa yang mudah dicerna anak-anak, terutama anak usia 8-12 tahun, "Hwaiting, Hye Mi!" bisa direkomendasikan untuk kado, kok... ^_^


Kritik

Entah karena memang ini niatnya untuk masuk genre KKPK (Kecil-kecil Punya Karya), konflik di buku ini kurang kuat. Emosi Hye Mi ketika dijauhi oleh Ji Hyo dan teman-temannya kurang terasa oleh Bunda, jadi datar aja, nggak ikut sedih atau kesal :D

Bunda nggak ngerti juga, apakah ada batasan halaman atau apa, cuma rasanya emosi di bagian itu kurang kuat. Berbeda dengan emosi ketika Hye Mi merasa senang atau kecewa ketika Tuan Jun Ki memberinya mandat sebagai wakil sekolah. Juga ketika nenek datang, emosinya kerasaaa banget.

Sayang aja, sih, padahal klimaksnya ada di bagian ketika Hye Mi dijauhi teman-temannya.

Terus untuk layout, setiap halaman berasa terlalu ramai karena nggak hanya ada border, tapi di setiap halaman ada garis-garis membujur yang mengganggu (menurut Bunda sih) jadi mata bekerjanya dobel. Ya membaca, ya memilah mana huruf mana garis :D

Oya! Ada satu lagi yang agak mengganjal. Bunda sih belum pernah tahu ada anak-anak Korea berambut kriwil banget kayak Hye Mi, karena biasanya, anak-anak Korea itu rambutnya lurus dan hitam warnanya :D Kalo udah gede, sih, mereka umumnya udah kenal obat keriting dan lain-lain :D

Secara garis besar, ceritanya menarik dan cukup bergizi. Semoga Tante Laksmi tidak pernah berhenti berkarya...







Sekilas info tentang Tante Laksmi:
Nama lengkapnya Laksmi P Manohara Puspokusumo. Jagoan main piano. Demen membaca, menulis dan bermain musik (ya piano itu). Buku pertamanya yang terbit langsung lima, yaitu seri "Cerita dari Negeri Paranada" terbit tahun 2012.
Ini dia orangnya (Tante Laksmi, boleh pinjem fotonya, yaaaa)


FYI, kayaknya review berikutnya masih berbau Korea, deh. Hihihi. Soalnya bacanya udah lamaaaa banget, tapi baru punya mood buat review sekarang ini... Takut keburu diban sama Divisi Membership BBI juga, sih, karena sepi update... heuheu...  Okay, deh, sampai ketemu di review selanjutnya, yaaa...


Cheers and Love! xoxo,


Terusin baca - Hwaiting, Hye Mi! by Laksmi P Manohara

28 Mei 2014

[Miiko no Koonaa] Hai, Miiko #1 by Ono Eriko


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Mulai hari ini, setiap posting review Miiko, bakalan ada "button" di atas ini. Scrapbook Bunda yang judulnya "Miiko no Koonaa" alias "Pojok Miiko". Sebagai bentuk "penghargaan" Bunda pada sang mangaka. Dan karena Bunda sayang banget sama Miiko X))

Nah. Hari ini, Bunda mau bikin review Hai, Miiko! Vol. 1 yang dalam bahasa Jepangnya berjudul "Koichimuitte Miiko"

Judul: Hai, Miiko Vol.1
Penulis: Ono Eriko
Alih bahasa: Widya Winarya
Editor: Marin Hermanto
Artistik: Beatrix Saroya
Cetakan kedua: November 2004
Diterbitkan oleh PT Gramedia Majalah Unit Komik Gramedia Majalah
ISBN13: 978-979-230-8242
Status: Punya. Beli pake gaji ngelesin kalo ga salah :D
Harga: Rp. 9.500,- *beli bulan Desember 2004*

Blurb:
Miiko ngambek karena tidak dibelikan sweater merah idamannya, ia pun kabur dari rumah. Dalam perjalanannya, ia mendapatkan suatu pengalaman menarik...

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Ternyata, kalo terlalu suka sama sebuah buku itu, sampe kasih rating lima itu malah bingung gimana ngereviewnya. Apalagi, empat buku sebelumnya udah direview, kan... Hihihi...

Meski serial Miiko ini bukan cerita bersambung, tetep aja serial ini adalah serial yang selalu Bunda nantikan dan Bunda koleksi. 

Halaman pertama dibuka dari cerita bu Ono mengenai serial Miiko yang dimuat di majalah komik Pyong-Pyong secara rutin. Majalah itu sangat terkenal di kalangan anak-anak di Jepang. Karena mendapat sambutan yang baik, serial Miiko kemudian dibukukan, sehingga kita semua bisa baca di serial Namaku Miiko 1-4.

Cuma ternyata, Pyong-Pyong bubar dan digantikan Ciao. Miiko pun dilanjutkan di sana.

Apa bedanya serial Namaku Miiko (Miiko Desu) dengan serial Hai, Miiko (Koichimuitte Miiko)? Menurut Bunda, kayaknya sih, karena perbedaan awal diterbitkannya di mana. Yang satu di majalah Pyong-Pyong, yang satu di majalah Ciao #sotoybanget. Yang jelas, sih, ada perubahan style gambar antara serial Namaku Miiko dengan Hai, Miiko! Kayak bagian poni juga bentuk wajah Miiko yang berubah, bentuk wajah Mari Chan, Yukko, Tappei dan semua karakter di sini juga berubah banyak. Yang jelas, secara grafis, di Halo, Miiko, ~ style gambar bu Ono makin apik.

Gimana dengan ceritanya? Tetep lucu, mengharukan, dan semua-muanya, deh.... Hihihi...

Hai, Miiko! vol.1 terdiri dari sembilan cerita.

Salam Kenal
tentang perkenalan bu Ono dengan pembaca yang udah Bunda sebutkan di atas tadi (tentang awal mula komik Miiko berasal).

Cinta Pertama
Suatu malam, Mari Chan menelepon Miiko dan bilang pengen pindah bangku di bus. Dia pengen deketan sama seseorang di sana dan akan menyatakan cinta. Miiko jelas mau ngebantu, tapi akhirnya malah nyusahin Mari Chan. Di awal baca ini, Bunda nggak bisa nahan buat nggak ngikik, mau di manapun Bunda berada kalo baca komik ini. Meski udah berulang kali baca, tetep aja ngikik...

Tappei Pergi?
Kelihatannya ini awal mula cerita Miiko di Ciao. Jadi emang bu Ono bilang kalo beliau mau istirahat dulu kemudian melanjutkan menulis supaya lebih segar. Nah, jadi di sini masing-masing karakter bingung. Siapa yang bakalan tetap muncul di serial selanjutnya atau ada yang bakalan nggak ada. Ternyata, toko kelontong milik orangtua Tappei, Lazy Moon, tutup. Bahkan gosipnya, keluarga Tappei bakalan pindah. Duh, gimana, ya, kalo komik Miiko berlanjut tapi nggak ada Tappei? Beneran ga kebayang deh...

Orang Aneh di Sebelah
Ada murid baru di kelas Miiko, yang sekaligus karakter baru. Namanya Nomura Yoshiki. Anaknya pendiam, tapi kalo ngomong jutek dan blak-blakan. Ada ceritanya Miiko keseleo gara-gara berusaha ngambil penghapusnya yang jatuh di bawah kursi Yoshiki. Miiko nggak berani minta tolong diambilkan, karena sebelumnya, mereka berdua berbagi buku (buku pelajaran Miiko ketinggalan) terus Yoshiki ngedumel karena nggak bisa konsentrasi sama pelajaran. Hihi. Nah, yang jleb lagi pas ada acara bazaar sekolah. Mari Chan sibuk pengen bikin kukis lucu, tapi komentar Yoshiki adalah, "Kurasa nggak bakal laku... Apalagi kalo bikinnya nggak bagus. Memangnya bakal ada orang yang mau buang uang untuk membeli barang buatan kalian?" Pas dibentak Mari Chan, "Kalau kau memang hebat, terus kami disuruh jual apa?" Yoshiki jawab, "mi cup". Semuanya terpekur dengar jawaban Yoshiki. Tapi anehnya, justru pas hari H, Yoshiki bawa beberapa mi cup buat teman-temannya, banyak pengunjung yang nanya harga jualnya berapa. Ting tong banget, ga, sih...
Papa Pergi Dinas Luar
Papa dapat tugas mendadak ke luar kota selama sepuluh hari! Padahal, mama dan papa selalu berbagi tugas rumah tangga. Kalo kayak begini, kan, jadi repot. Nah, makanya, papa ngatur tugas supaya mama nggak harus kerjain kerjaan rumah tangga sendirian. Miiko mengajukan diri buat mencuci baju. Kenyataannya, Miiko malah baca komik, lupa ngerjain tugas cuci baju dan cuci piring sampai akhirnya, Mamoru kepaksa ga pakai baju karena kehabisan stok baju. Begitu pun mama, saat beliau butuh sendok buat makan, kehabisan sendok karena kotor semua belum dicuci Miiko. Akibatnya, ada piring kesayangan mama yang pecah. Duh... Kebayang, ya, kisruhnya. Kalo Bunda udah teriak-teriak kali, saking stresnya... :D
Tau-tau ada pengumuman dari sekolah, kalo saluran gas di kantin sekolah akan diperbaiki. Jadi, Miiko dan semua murid di SD Suginoki mesti bawa bekal sendiri. Nah, setelah berbagai insiden yang membuat Miiko merasa ga berguna itu, Miiko berinisiatif bikinin bekal buat mama dan Mamoru. Kalian pasti bisa bayangin, kayak apa tampang bekal buatan Miiko itu. Hihihi....

Air Mata Mari-Chan (bagian pertama dan kedua)
Persahabatan Miiko dan Mari Chan diuji. Ini semua bermula dari ke-sok-ngaturan Mari Chan saat mereka berlatih bola basket. Ya Chan yang gemas, bermaksud untuk berlatih sendiri tanpa mengajak Mari Chan. Miiko pun ikut dilibatkan. Miiko bingung. Dia ga pengen mengkhianati Mari Chan. Tapi Ya Chan maksa terus. Sampai akhirnya, Mari Chan lihat sendiri apa yang dilakukan Miiko. Miiko jelas nggak mau berkhianat, tapi kan, apa yang dilihat Mari Chan beda dengan apa yang dipikirkan Miiko...

Jaket Merah Muda
Miiko kabur dari rumah karena mama nggak mengabulkan permohonannya untuk dibelikan jaket merah muda. Pas lagi kabur, Miiko tabrakan dengan sepeda dan Miiko masuk ke tahun 1972. Di masa itu, Miiko ketemu mama yang seumur dengannya. Ternyata, Rie muda mirip banget sama Mamoru, dan saat ketemu dengan Miiko, Rie kecil lagi pengen dibelikan jaket merah muda. Hahaha. Sama banget, ya, ceritanya. Bedanya, sewaktu Rie kecil minta jaket merah muda itu, perusahaan tempat papa Rie kecil bekerja bangkrut. Jadi, keluarga ini lagi susah. Dan Rie bilang ke Miiko kalo dia dewasa nanti dia akan bekerja keras untuk menghasilkan uang banyak dan bisa belanja barang yang dipengeninnya sendiri.
Miya dan Gadis Salju
Kalo ini Miiko versi dongeng. Miiko berperan jadi Miya, si gadis miskin. Tiap hari, dia numpang makan di rumah Peta (pemeran Peta adalah Tappei) yang tinggal bersama neneknya. Miya tinggal di apartemen yang dimiliki oleh Mari (diperankan oleh Mari Chan).  Pas lagi main salju bertiga, tahu-tahu mata Tappei Peta dilempar es oleh Gadis Salju. Dan sejak saat itu, Peta berubah sikap. Peta bahkan diculik oleh Gadis Salju. Menurut nenek Peta, kalo diculik Gadis Salju, Peta akan membeku selamanya. Maka, Miya dan Mari berusaha menyelamatkan Peta.
Ada tambahannya juga, karakternya ga pake Miiko: Berjuanglah, Tako!
Yang ini tentang Tako, pemain basket bertubuh super tinggi, tapi gugup setiap kali berada di lapangan. Sementara Chizumi yang bertubuh pendek, selalu mengarahkan ke mana Tako harus bergerak. Ketika mereka kalah, Chizumi punya ide. Dia menuliskan lambang pada sebuah kain untuk diikat di kepala Tako, yang menurut Chizumi itu jimat supaya Tako bisa bermain basket dengan baik. Dan ternyata, jimat ini berhasil! Tim Tako pun menang, padahal on last shot, jimat Tako lepas!

~~~

Hmmm...
Menurut Bunda, yang jelas cerita-cerita Miiko selalu segar, tetap khas anak-anak. Nggak cuma menghibur, tapi juga mengajarkan banyak hal. Misalnya aja, Miiko bukan berasal dari orangtua super kaya di mana mama dan papa harus bekerja keras untuk support kehidupan mereka. Ditambah tinggal di apartemen kecil dan mama papa juga berbagi tugas rumah tangga. Bunda rasa, lewat cerita Miiko, semua pembaca diajak untuk bisa memahami kesulitan kedua orangtua, terutama ketika meminta barang yang diinginkannya.

Apa yang unik dari Hai Miiko! Vol 1 ini? Semuanya jelas menarik. Mulai dari cerita gimana komik Miiko bermula sampai dibukukan. Tentang kegalauan antar karakter mengenai siapa yang masih dipertahankan dan dibuang (yang ini lucu, menurut Bunda. Karakter aja bisa galau masih diajak "main" atau nggak di serial berikutnya), juga tentang "memberi label sebelum kenal dengan orang" (di cerita Orang Aneh di Sebelah). Cerita favorit Bunda yang mana di vol. 1 ini? Jelas Orang Aneh di Sebelah. Tapi semuanya Bunda suka, kok... Yang pasti, Bunda nggak akan melewatkan setiap serial Miiko. Tunggu review volume berikutnya, ya...

Sampai ketemu lagi di Miiko no Koonaa berikutnya... Teman-teman Bunda masih belum baca Hai, Miiko? Bunda tadi lihat di fanpage mnc comics, lagi re-stock, tuh! Buruan punya! :D


Love you both... Cheers...

Terusin baca - [Miiko no Koonaa] Hai, Miiko #1 by Ono Eriko

13 Nov 2013

Wonder - R.J Palacio


Judul: Wonder
Penulis: R.J. Palacio
Diterbitkan oleh: Knopf Books for Young Reader, 14 Februari 2012
ISBN: 978-037-589-9881
Jumlah halaman: 314 halaman
Format: e-book
Bahasa: Inggris
Genre: Young Adult, Realistic Fiction, Childrens - Middle Grade, Fiksi Kontemporer, Book Club, Family, Academic, Young Adult - Teen
Status: Punya. Dan pengen punya paperbacknya


I won't describe what I look like. Whatever you're thinking, it's probably worse.
August Pullman was born with a facial deformity that, up until now, has prevented him from going to a mainstream school. Starting 5th grade at Beecher Prep, he wants nothing more than to be treated as an ordinary kid—but his new classmates can’t get past Auggie’s extraordinary face. WONDER, now a #1 New York Times bestseller and included on the Texas Bluebonnet Award master list, begins from Auggie’s point of view, but soon switches to include his classmates, his sister, her boyfriend, and others. These perspectives converge in a portrait of one community’s struggle with empathy, compassion, and acceptance. (dari Goodreads)
Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Sewaktu memutuskan mau baca buku apa untuk #PostBarOkt #Debut BBI, Bunda bingung. Mau baca apa, ya? Sementara buku ini sebetulnya masih masuk ke dalam rak wish list. Tapi, Bunda punya e-booknya. Dan mengingat buku ini banyak mendapat award seperti Carnegie Medal in Literature Nominee (2013), The Judy Lopez Memorial Award for Children's Literature Medalist (2013), NAIBA Book of the Year for Middle Readers (2012), Waterstones Children's Book Prize (2013),  
rasanya pantas-pantas aja Bunda menempatkan buku ini untuk posting bareng.

Lalu Bunda mulai baca. Sayangnya, nggak seperti yang diperkirakan. Adaaaa aja distraksi yang membuat Bunda lama banget menyelesaikan baca buku ini. Jadi semakin mempertanyakan kemampuan Bunda dalam membaca sepanjang tahun ini. Turunnya kok makin mengenaskan begini, ya? #iyainicurhat

Oke, seperti kata sinopsis di atas, buku ini bercerita tentang August Pullman atau Auggie, yang mengalami deformed face sejak lahir. Walau sudah dilakukan banyak operasi untuk memperbaiki bentuk wajahnya, tetap saja dia mirip alien. Membuat semua orang yang melihatnya pertama kali takut. Dan buku ini bercerita tentang pengalaman Auggie memasuki middle school, yang mana ini pertama kalinya Auggie masuk ke sekolah resmi. Sekolah di mana ada gedung berisikan ruang kelas, auditorium, laboratorium, loker, kantin, guru, kepala sekolah, teman-teman sekelas, dan masih banyak lagi.

Sebelumnya, Auggie bersekolah di rumah alias home schooling. Ibunya yang menjadi gurunya. Auggie terpaksa home schooling karena jadwal operasinya yang memakan waktu sekolah. Meski begitu, Auggie bukan anak yang bodoh. Dia bahkan tertarik pada science subject.

Sebagai anak dengan deformed face, tentu dia mengalami banyak hal. Terutama reaksi orang-orang sekitar setiap melihat wajahnya. Dan Auggie sebetulnya sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Tepatnya, dia berusaha membiasakan diri. Auggie punya kakak, ibu, dan ayah yang sayang padanya. Dan itu bisa menjadi salah satu kekuatan Auggie menghadapi semuanya.

Buku ini disampaikan dalam berbagai PoV. Baik itu dari sisi Auggie sendiri, Via (kakak Auggie), Justin (pacar Via), Miranda (sahabat Via), Jack (teman sekelas Auggie), juga Summer (teman sekolah Auggie yang sering bersamanya di saat istirahat makan). Masing-masing PoV terkait satu sama lain, tapi alurnya ga terlalu jauh mundur, sehingga meski buku ini mirip puzzle, kita tetap bisa menikmati buku ini, walau berbeda sudut pandang.

Di sini diceritakan gimana pertama kalinya Auggie ditawari untuk bersekolah di sekolah formal oleh orangtuanya. Kita bisa merasakan kegalauannya. Kekhawatirannya untuk menapaki dunia baru. Pengalaman hari pertama di sekolah barunya. Gimana perasaannya sewaktu dia menemukan fakta bahwa orang yang dia kira best friend-nya ternyata bersandiwara. Cuma suruhan Mr. Tushman, kepala sekolahnya.

Semua karakter di buku ini adorable. Auggie yang bikin Bunda pengen meluk. Mom dan Dad-nya yang keren. Via yang yeah, meski abege dan sempat labil, tapi dia kakak penyayang. Daisy, anjing mereka yang adorable. Justin yang ternyata punya sifat melindungi. Summer yang unyu. Jack yang setia. Mr. Tushman yang wow! Beliau ini mengingatkan Bunda pada pak Kobayashi di cerita Totto Chan.

Meski begitu, nggak semua karakter di sini adorable, sih. Ada Justin dan ibunya yang bikin pengen lemparin kulit pisang. Ke ibunya, sih. Soalnya, ibunya Justin ini ngingetin Bunda ke Malcius Malfoy. Kenapa, ya, dewan sekolah itu, kok, isinya orang songong semua? Atau karena mereka songong, makanya dijadiin dewan sekolah? Kalo ya, crap banget!
Ada anak bernama Eddie yang perlu diajari sopan santun. Perlu diajari empati. Kemungkinan besar, dia berasal dari keluarga yang nggak pernah punya kasih sayang di dalamnya. Karena, untuk menumbuhkan empati pada orang lain, harus dibangun di dalam keluarga dulu. Keluarga itu rumah segala perasaan, kok...

Setiap chapter dalam buku ini hanya satu-tiga halaman. Nggak lebih. Dan ini yang membuat cerita mudah dicerna. Penggunaan kalimatnya nggak bertele-tele. Meski to the point, cara penceritaannya berhasil membangun emosi pembaca. Nggak salah emang, kalo buku ini memenangkan berbagai award. Karena emang buku ini keren banget. Dapet banget emosinya. Dan ada banyak quote yang pantas menenangkan hati kita.

Ini Bunda kumpulin quote-nya. Bunda mau bikin bookmark dengan quote ini.

The things we do are like monuments that people build to honor heroes after they've died. They're like the pyramids that the Egyptians built to honor the pharaohs. Only instead of being made out of stone, they're made out of the memories people have of you. That's why your deeds are like your monuments. Built with memories instead of with stones. - Auggie
"Sometimes you don't have to mean to hurt someone to hurt someone", said Veronica, Jack's baby sitter
Do people look the same when they get to heaven?"
“I don’t know, sweetie.” She sounded tired. “They just feel it. You don’t need your eyes to love, right? You just feel it inside you. That’s how it is in heaven. It’s just love, and no one forgets who they love. 
Dan masih ada lagi. Nanti Bunda masukkan ke bookmark dan Bunda jadiin freebies ^_^

Akhirnya, nambah satu lagi, deh, wish list Bunda. Worth it to collect, kok. Walau kavernya (meski representatif) kurang catchy :D

Tentang penulis:


R. J. PALACIO lives in NYC with her husband, two sons, and two dogs. For more than twenty years, she was an art director and graphic designer, designing book jackets for other people while waiting for the perfect time in her life to start writing her own novel. But one day several years ago, a chance encounter with an extraordinary child in front of an ice cream store made R. J. realize that the perfect time to write that novel had finally come. Wonder is her first novel. She did not design the cover, but she sure does love it. (copas dari Goodreads)

Cheers, Love you both!
Terusin baca - Wonder - R.J Palacio

18 Okt 2013

Charlie and the Chocolate Factory by Roald Dahl


Judul: Charlie and the Chocolate Factory
Penulis: Roald Dahl
Alih bahasa: Ade Dina Sigarlaki
Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan keempat: Juni 2006
ISBN: 979-686-889-X
Jumlah halaman: 200 halaman; 20 cm
Genre: Children Literature, Fantasi, Fiksi Anak
Status: Punya. Beli di Gramedia
 

Ciptaan-ciptaan Mr. Wonka menakjubkan. Pria misterius itu membuat berbagai macam permen enak di pabrik cokelatnya yang luar biasa. Tapi tidak seorang pun pernah melihat bagian dalam pabrik tersebut, atau bahkan bertemu Mr. Wonka! Karena itu orang-orang langsung gempar ketika Mr. Wonka mengadakan sayembara.
Charlie Bucket nyaris tidak bisa memercayai kemujurannya ketika ia menemukan tiket emas sayembara dan memenangkan perjalanan paling mengesankan seumur hidupnya: berkeliling pabrik cokelat yang terkenal itu dan melihat berbagai kreasi terbaru Mr. Wonka.

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Bunda baru sadar, ternyata, meski Bunda menyukai cerita ini, Bunda belum pernah baca buku ini sama sekali. Yang jelas, Bunda sudah menonton filmnya berkali-kali.

Kebetulan karena ada event Read A Long - Roald Dahl yang diadakan oleh tante Hobby Buku, Bunda jadi "kepaksa" baca.

Seperti halnya filmnya yang membuat liur menetes-netes, cerita di sini sangat fantastis. Betul-betul bikin imajinasi Bunda menggelegak. Terutama membayangkan kunjungan ke pabrik Wonka yang selama ini rahasia.

Bayangkan saja, ada sungai cokelat yang harum baunya. Naik perahu yang terbuat dari permen tapi tidak lengket kecuali dijilati. Ada banyak ruangan yang seluruhnya dibuat untuk membuat cokelat! Dan tidak hanya cokelat, Pak Wonka juga membuat berbagai permen, es krim, dan kudapan-kudapan lainnya yang membuat ngiler!

Khusus untuk cerita ini, Bunda merinding senang bacanya. Karena berkaitan dengan coklat, kakek Roald Dahl jelas-jelas mengeluarkan semua imajinasi yang sangat anak-anak. Bunda memang selalu suka dengan cerita kakek Roald Dahl. Meski kakek Roald Dahl sudah menjadi orang dewasa saat menulis cerita ini, kakek Roald Dahl tidak pernah lupa imajinasi anak-anak seperti apa.

Nggak hanya bercerita mengenai imajinasi yang super fantastis, kakek Roald Dahl juga menyampaikan sikap-sikap anak-anak yang menyebalkan sebagai konflik di dalam ceritanya, sehingga jelaslah, pemenang dari semua sikap adalah sikap tenang, rendah hati, dan sabar.

Kelima anak yang beruntung mendapatkan tiket emas untuk berkunjung ke pabrik cokelat Willy Wonka dan bertemu langsung dengan Mr. Wonka sendiri. Nah, sikap-sikap tak pantas itu muncul di cerita ini lewat beberapa karakter, di antaranya Augustus Gloop, harus kalah di putaran pertama karena ketamakannya. Jelas, kan, sikap tamak tidak akan membawa keuntungan di manapun. Termasuk untuk seorang anak bernama Augustus Gloop.

Kemudian, ada anak yang bernama Violet Beauregarde yang seumur hidupnya mengunyah permen karet. Sikap sombongnya telah membuatnya kalah di setelah Augustus Gloop. Dia tidak mau mendengarkan larangan Mr. Wonka. Sikap sok tahunya telah membuat tubuhnya menggelembung dan berwarna ungu, seperti blueberry.

Lalu, anak yang bernama Veruca Salt bersama orangtuanya harus "terlempar" ke tempat sampah karena baik Veruca Salt maupun kedua orangtuanya sama-sama tidak menghargai orang lain dan menganggap bahwa uang adalah segalanya. Semacam "you can buy the whole wide world with the money". Padahal, sikap sombong, angkuh, dan suka meremehkan orang lain adalah senjata utama kehancuran seseorang.

Mike Teeve juga kesandung masalah karena dia tak mau mendengarkan larangan Mr. Wonka. Dia berubah menjadi kerdil karena sok tahu.

Apakah kalian memperhatikan? Bahwa sikap-sikap seperti itu bukanlah sikap baik. Sikap-sikap macam itu hanya akan membuat kalian sengsara di kemudian hari. 

Ini yang Bunda suka dari semua cerita yang dibuat oleh kakek Roald Dahl. Tanpa menghilangkan unsur imajinasi khas anak-anak, kakek Roald Dahl mampu menunjukkan moral cerita secara gamblang lewat masing-masing karakter. Jadi, dengan masih membayangkan Bunda berada di dalam pabrik Willy Wonka, Bunda mau kasih bintang lima untuk Charlie and the Chocolate Factory. Muah!

 
Postingan ini dibuat selain untuk menuh-menuhin agregator, juga untuk ikut Read A Long Roald Dahl yang dibuat oleh Hobby Buku.
 

Terusin baca - Charlie and the Chocolate Factory by Roald Dahl

30 Jul 2013

[Posting Bareng BBI Bulan Juli 2013] There's a Wocket in My Pocket - Dr. Seuss

Source


source

Judul: There's a Wocket in My Pocket - Dr. Seuss' Book of Ridiculous Rhymes
Penulis: Dr. Seuss
Diterbitkan oleh Random House, 1974
ISBN: 0-679-88283-9
ISBN13: 978-0679-882-831
HARDCOVER
36 halaman, ukuran buku saku
Status: PUNYA, beli seken di Lulu

 

A host of inventive creatures help beginning readers recognize many common "household" words. (kata Goodreads)


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Whoaaaa! Akhirnya, Bunda "berhasil" juga ikut posting bareng BBI di tahun 2013 ini setelah beberapa bulan "lolos". Soalnya, temanya agak "enteng" yang ini. Posting bareng buku anak. Meski latar belakangnya buku favorit sewaktu anak-anak dulu, nggak menggoyahkan buat Bunda tetep posting, meski pas Bunda kecil dulu, Bunda sama sekali nggak kenal Dr. Seuss :D

Jujur, Bunda tahu Dr. Seuss karena bergabung dengan BBI. Dari sana kan Bunda jadi sering lihat-lihat buku apa aja yang ditawarin buat nitip beli atau ada yang jual seken. Pertama kali tahu Dr. Seuss dari cerita The Cat in the Hat (nanti Bunda tulis review bukunya yang udah Bunda baca) di sebuah situs PBS. Karena penasaran, kenapa The Cat in the Hat - Dr. Seuss ini dibuat film kartun dan sampai ada gamenya di situs itu, akhirnya Bunda mulai mencari buku-buku Dr. Seuss. 

Sampai akhirnya, Bunda ketemu buku yang satu ini! Bunda langsung gedebuk in lap sama buku ini! Ridiculous rhymes-nya beneran ridiculous! T.O.P banget, dah! Hahaha... rhyming-nya pas banget! Dan beliau, Dr. Seuss ini, created karakter-karakter yang nyambung dengan benda-benda yang ada di dalam rumah, sekaligus sifat masing-masing dari mereka. Meski maksudnya menemukan sesuatu yang berima, Bunda menemukan satu sisi kehebatan dari "ridiculous rhyme" ini. Anak belajar kata! 

Misalnya aja, dibuat karakter Bofa yang duduk di Sofa. Di sana digambarin Bofa ini suka baca dan ga peduli sama kita yang pencilakan di sekitarnya. Tetep aja asik baca. 

Bunda tahu, sebagian besar anak-anak di luar negeri punya teman khayalan dengan berbagai bentuk. Nah, karakter teman khayalan yang di-create oleh Dr. Seuss ini, rata-rata berbulu. Cocok lah ama karakter-karakter di Monster Inc. Nyaman, empuk, nggak bikin anak-anak takut. Mestinya, sih.
Nah, entah, deh, kalo anak-anak Indonesia punya teman khayalan, bakalan kayak apa, ya? Kok, kalo dari cerita temen Bunda, yang semasa kecilnya suka ada yang ngikutin, penampakan mereka seram gitu. Hiiyyy! >_< 
Semoga kalian nggak pernah punya teman khayalan yang menyeramkan!
Bunda pernah punya teman khayalan? Nggak, sih. Paling Bunda membayangkan lagi ngobrol sama teman-teman Bunda aja. Seperti itulah. :D

Terus, karakter apa yang paling Bunda suka di buku ini? Cuma tiga. Tiganyanya nyata banget bikin nyaman kalo tidur #eh

"And when I hear a TOCK, I know a ZLOCK's behind the CLOCK"
 
"But the BOFA on the SOFA acts as if he doesn't care"

"But the ZILLOW on my PILLOW always helps me fall asleep"

Sudah tahu, kan, yang mana karakter favorit Bunda? Hati-hati membedakan, mana kata benda dan mana karakter favorit Bunda di buku ini... ;)

Eniwei baidewei baswei...
Bunda membacakannya dan direkam di Soundcloud. Ada backsound adek ngakak-ngakak pas ngedengerinnya. Bunda sebenernya bingung. Adek kenapa ketawa? Pilihannya:
#1 Cara Bunda bacain emang lucu
#2 Adek sudah paham apa yang Bunda katakan (sounds impossible, mengingat Adek baru berumur 2 tahun)
#3 Karena rhyming lalu terdengar lucu?
#4 Entahlah....

Mau membuktikan Adek ketawa? Silakan cek di link ini....

All in all, Bunda sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali buku ini! Ukurannya kecil, warnanya kuning ngejreng, terus, kata dalam berima-nya..... TOP banget! Wajar, kan, kalo Bunda kasih 5 bintang buat buku ini? ;)
Terusin baca - [Posting Bareng BBI Bulan Juli 2013] There's a Wocket in My Pocket - Dr. Seuss

18 Jul 2013

[Genre Buku] Children's Literature - Picture Books

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...

Sesuai janji Bunda pekan lalu, hari ini Bunda akan bahas mengenai picture books atau buku bergambar. Picture Books termasuk ke dalam klasifikasi berdasarkan genre pada Children's Literature.

Seperti namanya, Picture Books atau Buku Bergambar adalah buku-buku yang sarat dengan ilustrasi. Ada yang mencantumkan teks, ada juga yang sama sekali tidak ada teks di dalamnya. Buku bergambar dengan teks pun bermacam-macam. Ada yang mencantumkan teks sepanjang satu paragraf atau lebih, ada yang bahkan hanya mencantumkan satu kata saja.

Buku bergambar pada umumnya ditargetkan untuk anak-anak yang belum bisa membaca, misalnya bayi sampai anak berusia dua tahun. Makin bertambah usia mereka, biasanya pada gambar sudah mulai ditambahkan teks satu huruf, satu kata atau satu kalimat.

Buku bergambar sendiri punya beberapa subgenre, termasuk:
Alphabet Book
  • Alphabet books, buku-buku bergambar yang mengajarkan huruf alphabet. Misalnya untuk menunjukkan kegunaan huruf "a", pada halaman buku itu, ada berbagai benda yang diawali dengan huruf "a", bahkan huruf "a" juga dicantumkan di sana. Begitu seterusnya. Contohnya bisa dilihat di sini.
  • Concept books, buku-buku non fiksi untuk anak-anak. Biasanya, dalam satu buku dibahas satu konsep yang sama. Misalnya berbicara tentang "warna hijau". Di dalamnya bakalan diceritain semua yang berhubungan dengan warna hijau. Tujuannya jelas, supaya pembaca, dalam hal ini anak-anak, paham sama yang namanya warna hijau melalui gambar-gambar yang ada di dalam buku itu. Gambarnya ya jelas dong, warnanya hijau... :D Contohnya bisa dilihat di sini
Concept Book
  • Early readers, buku-buku cerita yang diperuntukkan bagi anak-anak yang sudah mulai tertarik membaca. Biasanya di sini sudah mulai ada kalimat yang digunakan untuk menyampaikan cerita pada anak. Ilustrasi jelas masih ada, dong... Contohnya bisa dilihat di sini.
  • Nursery rhymes, buku-buku yang biasanya berisikan nursery rhymes atau lagu-lagu anak seperti Twinkle Twinkle Little Stars atau Old McDonald had A Farm atau B-I-N-G-O dan masih banyak lagi. Jadi, buku-buku ini berisikan lirik nursery rhymes disertai ilustrasi. Ada yang sebuku isinya beberapa nursery rhymes, ada juga yang sebuku isinya cuma satu judul nursery rhymes tapi di dalemnya ada bermacam versi kalimat gubahan. Ilustrasi jelas mengikuti cerita. Contohnya bisa dilihat di sini.
  • Toy books. Biasanya toy books berupa buku dan ada permainannya. Misalnya buku ular tangga atau buku tebak-tebakan. Bisa juga berupa buku mencocokkan angka. Macem-macem deh. Contohnya bisa dilihat di sini. 
Setelah klasifikasi berdasarkan subgenre tadi, masih ada beberapa kategori picture books lain, lho... Di antaranya...
  • Soft books. Bahan dari buku halus ini (halah, terjemahan Bahasa Indonesia-nya aneh banget) biasanya dari kain dan busa. Biasanya terdiri dari 4-8 halaman dilipat dan ada kancingnya. Sewaktu kakak Ilman dan Adik Zaidan bayi, Bunda menyediakan board books untuk kalian gigit-gigit tapi tetep keliatan lagi baca buku :D 
  • Board books. Dikarenakan anak-anak suka sekali merobek kertas, buku-buku untuk anak-anak biasanya didesain susah dirobek. Yaitu dari kertas tebal yang biasa disebut card board. Memang jadi berat, makanya jumlah halaman untuk board books biasanya tidak banyak. Paling banyak 10 halaman.
  • pop up book
    pop up book
  • Pop Up Books. Kalo di Barney - Read and Dance, Bunda pernah denger terjemahannya jadi "buku meletup". Kenapa begitu? Sebab, pas dibuka, biasanya ada gambar yang muncul. Entah itu binatang, pohon, rumah, apa pun. Biasanya, pop up books termasuk bagian dari board books, dilihat dari sisi bahan kertas yang digunakan.
pop up book

  • Lift the Flap Books. Untuk saat ini, kalian punya beberapa buku-buku lift the flap

    lift the flap book
    books. Flip up books biasanya menyembunyikan teks atau gambar yang belum diketahui, dan ada gambar yang bisa ditarik atau diangkat untuk melihat teks atau gambar yang tersembunyi itu. 





Wow... dari satu genre Picture Books aja, udah ada berapa sub genre tuh? :D


Yang jelas, membaca picture books itu selalu menyenangkan. Oya, picture books yang Bunda paling suka adalah Winnie The Pooh. Bunda suka dengan kelembutan Pooh, urakannya Tigger, bawelnya Rabit, penakutnya Piglet, keibuannya Kanga, kehebohan Roo dan masih banyak lagi!


Kamis depan, Insya Allah, Bunda akan ulas mengenai Buku Anak - Sastra Tradisional






Terusin baca - [Genre Buku] Children's Literature - Picture Books