Tampilkan postingan dengan label 40booksin2015. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 40booksin2015. Tampilkan semua postingan

1 Okt 2015

The Giver by Lois Lowry



Judul: Sang Pemberi (The Giver)
Penulis: Lois Lowry
Penerjemah: Ariyantri Eddy Tarman
Penyunting: Barokah Ruziati
Proofreader: Primadonna Angela 
Desain dan ilustrasi cover: Staven Andersen
Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustka Utama
Cetakan pertama, Agustus 2014
ISBN: 978-602-03-0668-1
Jumlah halaman: 232 hlm; 20 cm
Genre: Dystopia, Children, Adventure, Young Adult
Status: Punya. Beli seken dari Tante Selebvi

Dunia Jonas adalah dunia yang sempurna. Semuanya terkendali dan teratur. Tak ada perang, ketakutan, atau kesakitan. Juga tak ada yang namanya pilihan Semua orang memiliki peran di Komunitas. Saat Jonas menjadi Dua Belas, dia terpilih menerima latihan khusus dari Sang Pemberi. Selama ini Sang Pemberi memegang ingatan akan rasa sakit sejati dan kenikmatan hidup. Sekarang saatnya bagi Jonas untuk menerima kebenaran. Dan tak ada jalan untuk kembali.

Saat itu menjelang Desember, dan Jonas mulai merasa takut....

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Sewaktu lihat di kalender BBI ada event posting bareng buku penghargaan Newberry, Bunda belum punya satu bukupun terkait. Setelah berbulan-bulan berlalu, baru deh punya buku ini. Hihihi. Iya, Bunda masih "puasa" belanja buku baru. Haha.

Bunda baca buku ini karena sedang butuh bacaan ringan dan cepat. Nggak salah emang, ngambil buku ini. Dibilang ringan sebenarnya nggak. Dibilang cepat, termasuk super cepat, dibanding baca buku yang ini mah. Hahaha.

Sinopsis

Cerita dimulai dari pesawat terbang memutar di atas komunitas ketika Jonas bersepeda, lalu terdengar ada suara pengumuman untuk menghentikan kegiatan dan bersembunyi di tempat terdekat. Ada peraturan bahwa pesawat yang melintas, tidak boleh terlalu dekat dengan komunitas. Pilot yang melakukan kesalahan fatal seperti itu, akan Dilepaskan.

Jonas tinggal bersama kedua orangtuanya dan satu adik perempuan bernama Lily. Ayah dan Ibu bukanlah orangtua biologis Jonas dan Lily. Ibu Kandung dirawat untuk melahirkan sebanyak tiga kali, kemudian menjadi Buruh hingga saatnya dilepaskan. Sementara seorang Ibu atau Ayah bisa saja berprofesi apa saja yang terlihat hebat dan mulia, sambil memulai sebuah Unit Keluarga.

Menjelang Dua Belas, Jonas mulai merasakan keanehan pada dirinya, yang kita sebut dengan menyukai lawan jenis, karena Jonas punya perasaan senang pada Fiona, teman sebayanya, bahkan mulai memimpikannya. Ketika dia menceritakan ini pada Ibu, Jonas segera mendapatkan pil yang setelah diminum, rasa yang menyenangkan itu tiba-tiba hilang. 


Ceritapun kemudian bergulir pada keseharian mereka, rutinitas mereka, hingga Desember pun tiba, di mana Jonas telah masuk Dua Belas dan mulai mendapatkan penugasannya.

Hingga nama terakhir dipanggil dan mendapatkan penugasan, Jonas tidak dipanggil juga. Hal ini membuat semua hadirin bingung, khawatir, sekaligus takut. Tentu saja Jonas merasa ketakutan, karena dia tidak ingin dilepaskan dari komunitas jika dia memang telah melakukan kesalahan yang membuatnya harus Dilepaskan.

Jonas terpilih sebagai Penerima. Dia bertugas untuk menerima ingatan dari seluruh ingatan yang dimiliki oleh Sang Penerima sebelumnya. Ingatan akan apa? Ingatan seluruh dunia.

Dari sebagian ingatan yang sudah ditransfer kepada Jonas, dia mulai mengenali adanya perbedaan. Jonas mulai mengenali apa itu rasa senang sekaligus rasa sakit. Di dunia Jonas, semua sempurna, sehingga tidak akan merasakan sakit, tidak akan ada peperangan, dan lainnya. Semua sudah diatur sedemikian rupa, sehingga tidak terlihat ada perbedaan. Sebelum Jonas terpilih sebagai Penerima, dia memang sudah melihat sesuatu yang lain yang tidak ada dalam hidupnya. Di antaranya, ketika dia melihat apel yang dilemparkan, dia melihat sesuatu yang tampak aneh namun indah dari apel itu, yang kemudian dia kenal dengan Warna.

Semakin banyak Jonas menerima Ingatan dari Sang Pemberi (The Giver), semakin Jonas ingin pergi menuju komunitas lain. Hingga akhirnya, Jonas menjadi saksi sebuah upacara Pelepasan salah seorang bayi kembar yang dilakukan ayahnya.

Susah untuk nggak kasih sopiler selama bikin sinopsis dan review, karena rasanya pengen banget menumpahkan semuanya di sini, biar ketegangan selama baca ikut terlepaskan. Hihihi. Tapi kan jadi nggak asik kalo semua diceritain. 


Review

Bunda suka cerita bergenre distopia setelah genre fantasi, walau belum banyak cerita genre distopia yang Bunda baca. Selalu ada kejutan-kejutan di dalam cerita yang membuat kita membayangkan ada dunia lain yang berbeda dengan dunia kita.

Cerita Distopia yang pertama kali Bunda baca itu adalah di komik Bobo, sewaktu Bunda masih SD dulu. Bunda lupa judulnya apa, tapi di cerita itu, ada seorang anak yang hidup di dunia di mana air sangat langka dan sulit didapatkan. Adik anak tersebut sakit keras dan keinginan terakhirnya adalah melihat hujan turun. Tapi bagaimana mungkin? Semua orang mendapat jatah air setiap harinya yang hanya cukup untuk minum dan sedikit membersihkan tubuh. Jangan bayangkan mandi, berenang hingga menyiram tanaman apalagi memandikan kendaraan. 

Desa dan kota lama sudah mereka tinggalkan, hingga suatu ketika, si anak tersebut menemukan sebuah rumah yang dulunya bekas rumah kaca di kota lama karena tersesat. Dia menemukan bungkusan bibit tumbuhan dan sebidang tanah yang tampaknya masih ada harapan untuk ditumbuhkan. Dia mulai menanam bibit yang ditemukannya dan memakai jatah minumnya untuk menyiram calon tumbuhan itu.

Pertama kalinya tanaman itu tumbuh, menjadi tanaman monster. Anak ini sedih sekali. Karena, dia berharap, dengan adanya tumbuhan hidup, hujan akan turun dan adiknya akan pernah melihat hujan. Usaha itu dilakukannya pada bibit tumbuhan lain yang ditemukannya. Dia berhasil. Tanaman itu menumbuhkan bunga-bunga cantik dan hujan turun.

Perasaan Bunda saat membaca komik itu teraduk-aduk. Jangankan membayangkan air minum harus dijatah dan nggak bisa mandi seumur hidup, sehari aja air nggak ngalir, rasanya udah pengen ngamuk. Pas baca The Giver, perasaan yang muncul saat Bunda SD dulu ketika membaca si komik ini, muncul lagi. 

Yang Bunda suka dari The Giver ini adalah Endingnya. Membuat semua pembacanya memikirkan kesimpulan dan membuat ending sendiri-sendiri :D

Komentar Bunda tentang The Giver ini...
1. Ceritanya sederhana tapi dalem banget. Mengalir, hidup, nuansanya lebih "serem" daripada cerita distopia lain yang pernah Bunda baca, seperti Uglies series dan Divergent series.
2. Terjemahannya enak, bikin lancar bacanya dan bisa Bunda selesaikan dalam waktu sebentar aja, meski sayangnya, pada beberapa kata terdapat typo. 
3. Covernya cakep. Kalo nggak baca ceritanya, pasti bingung kenapa ada orang menghadap apel geroak, terus hanya sebagian berwarna sisanya satu dua warna aja? Covernya bikin Kakak Ilman sering memandangi bukunya. Kakak bilang, itu orang lagi shalat :D
4. Bikin bertanya-tanya. Apa yang mereka lihat sih kalo mereka nggak bisa melihat warna? Apa yang mereka rasakan jika sebuah Keinginan muncul tapi harus dihilangkan lewat minum pil? Apa rasanya ketika kita tidak bisa merasakan sakit? Padahal ketika rasa sakit dihilangkan, otomatis rasa bahagia ikut hilang, karena setelah duka ada suka.
5. Ide cerita ini gila banget. Ngeri!

Oya, ini trailer filmnya. Seperti biasa, cerita buku ama cerita film pasti beda lah ya... :D





Happy reading and watching the movie!

Love and cheers! xoxo, 


Terusin baca - The Giver by Lois Lowry

17 Sep 2015

Negeri van Oranje by Wahyuningrat, dkk


Judul: Negeri van Oranje
Penulis: Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
Editor: Gunawan B.S
Desain Sampul: Natalia
Pemeriksa aksara: Yudith
Penata aksara: Hanum
Diterbitkan oleh Penerbit Bentang
ISBN: 978-979-1227-58-2
Cetakan Ketiga, Juni 2009
Jumlah halaman: vii + 478 hlm; 20,5 cm
Genre: Novel, Fiction, Travel, Indonesian Literature, Romance, Humor, Adventures
Status: Punya, beli seken di tante Nadiah Alwi

Kata siapa kuliah di luar negeri itu gampang? Perkenalkan Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri. Lima anak manusia terlahir di Indonesia, terdampar bersekolah di Belanda demi meraih gelar S2. Mulai dari kurang tidur karena begadang demi paper, kurang tenaga karena mesti genjot sepeda berkilo-kilo meter bolak-balik ke kampus setiap hari, sampai kurang duit hingga terpaksa mencari pekerjaan paruh waktu; semua pernah mereka alami.

Selain menjalani kisah susah senangnya menjadi mahasiswa rantau di Eropa, mereka juga menjalin persahabatan dan berbagai tip bertahan hidup di Belanda. Mereka pun bergelut dengan selintas pertanyaan di benak mahasiswa yang pernah bersekolah di luar negeri: untuk apa pulang ke Indonesia? Dalam perjalanan menemukan jawaban masing-masing, takdir menuntut mereka memiliki keteguhan hati untuk melampaui rintangan, menggapai impian, serta melakukan hal yang paling sulit: the courage to love!

Novel ini ditulis dengan gaya lincah, kocak, sekaligus menyentuh emosi pembaca. Kita juga akan diajak berkeliling mulai dari Brussel hingga Barcelona, mengunjungi tempat-tempat memikat di Eropa, dan berbagi tip berpetualang ala backpacker


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Sebelum mereview, Bunda mau ngabarin sedikit berita sedih. Tahun ini, lagi-lagi kalian berdua gagal dapat adik seperti tahun lalu. Pertengahan Agustus 2015 ini, Bunda keguguran lagi, sama seperti Agustus 2014. Mungkin sudah saatnya Bunda berhenti berusaha memberi kalian berdua adik dan lebih fokus pada kalian berdua, karena ternyata kalian berdua itu begitu demanding terhadap Bunda, ya... Sedih? Jelas. Tapi ada sisi lega juga, karena ternyata kalian semakin demanding. Kebayang aja, sih, kalo ada adek bayi sementara situasi kalian lagi seperti ini, mungkin kalian tidak terurus. 

Sudah, ya, berita sedihnya. Sekarang Bunda pengen cerita tentang buku yang mulai Bunda baca sejak April apa Mei ini dan baru kelar 8 September 2015. Lama? Ya banget. Tebal? Nggak sampai 500 halaman padahal. Lalu kenapa sedemikian lama?
Ah... kisahnya panjang.... Haha. Tapi review Bunda mungkin bisa bikin kalian maklum, kenapa Bunda lama selesaiin bacanya (sebenernya bukan faktor utama banget, tapi faktor penunjang juga dan cukup krusial)


Sinopsis

Seperti yang dibahas di blurb di atas, Negeri van Oranje berkisah tentang persahabatan kelima mahasiswa yang sedang berjuang di Negeri Oranye alias Walanda, errr, Belanda. Mereka adalah Banjar, Daus, Wicak, Geri, dan Lintang. Sebenernya, kelima orang ini nggak datang dari kampus yang sama, bahkan mereka ini beda kota semua. Ada yang di Den Haag, Wageningen, Leiden, Utrecht, Amsterdam, dan lainnya (lupa lagi. hihi)

Mereka menamai diri mereka sebagai Aagaban, sering ngobrol ngocol lewat conference di Yahoo Messenger group. Mereka sangat dekat satu sama lain walau masing-masing dari anggota Aagaban ini punya masalah pribadi yang cukup rumit, misalnya aja Daus yang sering gagal berbuat maksiat padahal mumpung lagi di "surga tempat maksiat" ~ mungkin doa Engkongnya sedemikian melekat jadi dia selalu terlindungi dari berbuat maksiat. Banjar yang kehabisan duit sehingga ngos-ngosan cari kerja sambilan di sebuah restoran Indonesia. Lintang yang punya mimpi bersuamikan bule ganteng, tapi sering kandas setiap pacaran dengan para bule itu. Wicak dengan masalahnya sendiri juga. Cuma Geri yang kayaknya sempurna. Ganteng, anak orang kaya, pinter, manis. Tapi jujur, Bunda selalu curiga dengan pria macam ini. Hehe.

Romance-nya muncul ketika ternyata para pria ini bersaing mendapatkan Lintang. Di akhir tahun mereka berada di Belanda, para pria ini ternyata perang dingin karena ternyata mereka sama-sama memendam perasaan pada Lintang. Yah, seperti yang Sarah Sechan bilang di acara talkshow-nya pas para pemain Negeri van Oranje hadir, "pada akhirnya Lintang hanya memilih satu dari keempat pria itu".

Yes, Negeri van Oranje dibuat filmnya. Sejujurnya, Bunda pengen banget nonton, karena pengen tau gimana feelnya kalo dibuat film.




Sedikit bocoran aja (sampai Bunda ngetik review ini belum nemu trailer filmnya soalnya) orang-orang yang bakalan jadi karakter-karakter di Negeri van Oranje adalah sebagai berikut:

Abimana Aryasatya sebagai Wicak
Ge Pamungkas sebagai Daus
Arifin Putra sebagai  Banjar
Chico Jericho sebagai Geri
Tatjana Saphira sebagai Lintang
Bunda emang pengen baca Negeri van Oranje sejak awal terbit, tapi entah kenapa tiap beli buku kelupaan mulu ambil yang ini. Nah, karena teman-teman Kubugil udah pada baca (jelas laaaah, kan, ada uwa Aaqq yang ikut berkontribusi nulis novel ini), Bunda nggak mau ketinggalan doooong. Eh, buku di tangan udah dari tahun 2010 kalo ga salah, tetep aja kelupaan mau baca. Padahal buku ini udah banyak cetak ulangnya.

Sampai akhirnya, awal Maret 2015 lalu, pas Bunda lagi iseng cari buku buat dibaca, Bunda ambil buku ini dari rak dan malah papa duluan yang terlihat menikmati bacanya. Hihihi... Bunda jadi pengen baca juga karena bentar lagi kan filmnya mau tayang. 



Oke, ini Review Bunda

Pertama, soal pertemuan mereka kalo menurut Bunda terbilang too good to be true kalo buat langsung jadi akrab dan bersahabat sekaligus mengingat latar belakang mereka sangat jauh berbeda, tapi yah, faktor mereka "sama-sama mahasiswa Indonesia" bisa dimaafkan lah sedikit :D

Kedua, Bunda melihat novelnya itu hanya casing. Di halaman pertama, kesannya bagus banget. Wah, kayaknya seru, nih! Tapi, setelah masuk ke halaman berikutnya, kesan yang sampai ke Bunda adalah buku ini sebenernya panduan jadi mahasiswa di Belanda (kayak tips dan berbagi pengalaman selama jadi mahasiswa di Belanda plus jalan-jalan ala backpacker) yang dibungkus novel.

Ketiga, karena bikin ceritanya berempat dan dipaksakan untuk satu gaya cerita, jadi aneh. Jujur, ini yang bikin Bunda susah payah menelan cerita di sini karena gaya cerita yang dipaksakan untuk jadi satu gaya. Kenapa? Yang nulis berempat, kan? Tiap orang itu isi kepala dan gaya menulisnya berbeda. Sehingga, Bunda perhatikan, setiap karakter di sini bisa diceritakan dengan gaya yang mengalir dan menyenangkan, tapi kadang boriiiiiiiing banget cara menceritakannya sampai males nerusin ke halaman berikutnya. Ada juga yang disampaikan dengan style kayak di novel tante Otak Prima itu. 

Keempat, hampir semua deskripsi ceritanya membosankan, kecuali beberapa line yang bikin bunda ngakak. Misalnya, "Ketiganya punya prinsip serupa: bikin dosa, minimal berjamaah." (hal 275). Hahahaha...

Kelima, romance yang terbangun di cerita ini terlalu ringan, jadi malah garing. Hihihi. Entah kalo di film nanti. 

Keenam, buku ini bercerita tentang teknologi pada masanya. Jadi ketika dibaca enam tahun setelah buku itu terbit, agak terkaget-kaget juga, sih, mengingat dalam enam tahun, telah terjadi kemajuan teknologi sedemikian dahsyatnya. Hihi. Tapi lumayan lah, buat sedikit pengingat bahwa pada masa itu, teknologi yang paling canggih adalah komputer berprosesor dual core :D *belum disinggung tablet sih, karena Wicak masih pake PDA a.k.a Personal Digital Assistant*

Ketujuh, ini plusnya, hampir keseluruhan dialognya menyenangkan dan hidup, jadi ya lumayan bisa jadi alasan untuk bertahan membaca dan juga penasaran kalo dibuat film seperti apa jadinya. 

Oya, papa protes tuh, kenapa bukan kecengannya (Chika Jessica) yang jadi pemeran Lintang. Diiiih!  Walau di novel diceritakan kalo Lintang itu cempreng, tapi Bunda mah ga ridho kalo Chika Jessica yang meranin jadi Lintang. Syukurlah, yang jadi Lintang itu Tatjana Saphira. Haha. Bukan cemburu ama Chika Jessica, sih, cuma gimana, ya... nggak banget lah kalo hanya kecemprengan yang dinilai layak memerankan Lintang. 

Papa ngecengin Chika Jessica? Ya begitu, deh, selera cewek-cewek papa. Tipenya semacam. Mulai dari Fitri Tropika, Chika Jessica, dan cewek heboh semacam mereka itulah. Hihihi. Untunglah karakter Bunda yang kalem menghanyutkan gitu, jadi bisa menetralkan selera aneh papa. Ups! /dipentung :D *nggak meremehkan atau merendahkan mereka, kok, cuma yah... kurang sreg aja ama style beliau-beliau :D*

Nah, jadi untuk beberapa alasan di atas, bintang tiga lumayan banyak loh, ya...

Btw, ternyata Arifin Putra itu ganteng pake banget, yaaaaa.... hihihi....

Cheers and Love! xoxo,




Terusin baca - Negeri van Oranje by Wahyuningrat, dkk

5 Agu 2015

Hwaiting, Hye Mi! by Laksmi P Manohara





Judul buku: Hwaiting, Hye Mi!
Penulis: Laksmi P Manohara
Ilustrasi: Nisa Nafisah
Penyunting naskah: Huda Wahid dan Dian Hartati
Penyunting ilustrasi: Kulniya Sally
Proofreader: May May Maysarah 
Desain isi: Nisa Nafisah
Desain sampul: Kulniya Sally
Cetakan I, Shafar 1436 H/Desember 2014
Diterbitkan oleh penerbit DAR! Mizan
Jumlah halaman: 136 hal; 21 cm
ISBN: 978-602-242-628-8
Genre: Fiksi, K-Novel, Fiksi Korea, Children Books, KKPK


Tampil lepas di hadapan para juri, Hye Mi meraih juara perama kompetisi hip-hop dance. Sebagai satu-satunya wakil dari sekolah, dia merasa sangat bangga. Apalagi gadis itu telah berlatih keras melakukan hal yang paling disukainya tersebut.

Terpukau akan penampilan Hye Mi, utusan Kementerian Kebudayaan lantas mendapat ide cemerlang, "Bagaimana kalau..." Kepala sekolah pun memanggil Hye Mi. "Aku mengutusmu mewakili sekolah menari di kementerian," pinta beliau. "Nanti kamu akan belajar tari tradisional Korea."

"Tari tradisional?!" protes Hye Mi dalam hati. Dia kan hip-hop dancer! Lagi pula, tari tradisional kuno, lamban, musiknya juga kerap memilukan. Mana cocok menggambarkan hari-harinya sebagai gadis muda yang lincah dan penuh semangat? Kalau hip-hop dance? Baru cocok!





Sinopsis Cerita
 
Ketika seorang anak memiliki prestasi memuaskan berkat kerja kerasnya selama bertahun-tahun latihan, tentu dia akan merasa bangga. Dan otomatis, predikat prestasinya ini akan melekat dalam dirinya sebagai modal untuk percaya diri. Ini juga yang dialami Hye Mi, seorang gadis kecil Korea berusia sepuluh tahun yang pandai melakukan hip-hop dance yang bahkan sudah meraih banyak penghargaan itu.

Suatu ketika, dia mendapat perintah dari Kepala Sekolah, Tuan Jun Ki, agar Hye Mi ikut tampil menari tarian tradisional Korea di depan tamu negara. Sorot mata Hye Mi mendadak meredup dan badannya lesu, namun Tuan Jun Ki terlalu bersemangat untuk menjadikan Hye Mi sebagai wakil sekolah, karena Hye Mi sudah langganan menang kompetisi, tidak menyadari adanya perubahan raut wajah Hye Mi. 

Di rumah, Hye Mi pun lesu. Dia membayangkan betapa membosankannya latihan tarian tradisional itu. Padahal, ayah dan ibu tidak pernah lelah menyemangatinya.

Ketika Hye Mi mulai ikut latihan tarian tradisional yang diajarkan oleh Bu Kim, kesibukan Hye Mi mulai meningkat. Dia tidak menyadari bahwa Ji Hyo, sahabatnya, mulai menjauhinya. Sementara di tempat latihan menari, teman-teman baru Hye Mi juga mulai tidak menyukainya dan membencinya. Padahal, waktu pementasan sudah tidak lama lagi.

Hye Mi mulai menyadari bahwa tindakannya bermalas-malasan ikut latihan tarian tradisional, membuatnya dibenci teman-teman latihan menarinya. Dan dia semakin merasa sendiri ketika Ji Hyo selalu menghindarinya. Mana enak nggak punya teman?

Pada saat Nenek yang tinggal di Pulau Jeju mengunjungi Hye Mi, barulah Hye Mi menyadari mengapa Ji Hyo menjauhinya. Nenek yang dulu penaripun sibuk menggembleng Hye Mi untuk latihan lebih serius. Melalui Nenek lah, kecintaan Hye Mi terhadap tarian tradisional jangguchum mulai tumbuh.



Review

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan... Udah lama, ya, nggak nulis review lagi. Ah, kali ini nggak akan cerita alasannya, deh. Basi! :D

Bunda mau cerita sekilas mengenai hubungan Bunda dengan penulis cerita "Hwaiting, Hye Mi!" ini. Jadi, tante Laksmi tuh duluuuu banget, sewaktu Bunda masih duduk di kelas 2 dan 3 SMA adalah sahabat Bunda. Kami berempat punya geng bernama "Four Mbaketeer". Anggotanya terdiri dari Bunda, Tante Laksmi, Bude Dian, dan Tante Saptini. Selain ke mana-mana sering bareng, kalo salah satu dari kami ulang tahun, selalu ada surprise dari kami. Pisah pas masuk kuliah, susah lagi ngumpulinnya :D



Sebetulnya Bunda udah tahu lama kalo Tante Laksmi menulis buku. Dulu, Bunda dan Tante Laksmi pernah berkolaborasi compose lagu untuk tugas Bude Dian, karena dia anti banget sama ngarang lagu, padahal ada tugas ngarang lagu. Bunda sih udah compose lagu sendiri, begitu juga Tante Laksmi. Nah, karena Bude Dian ini ZBL banget sama seni musik, akhirnya Bunda dan Tante Laksmi keroyokan berkolaborasi composing lagu buat Bude Dian. Bunda bikin lirik, Tante Laksmi yang menggubahnya jadi lagu.

Setahu Bunda, buku pertama Tante Laksmi ada lagunya juga. Bener, ga, Tante? Tapi berhubung Bunda waktu itu masih fokus dengan buku-buku yang lain, Bunda nggak inget buat nge-take dulu via Tante Laksmi. Tapi ada satu hal juga, sih, yang bikin Bunda nggak mau kenalan dengan buku-buku Tante Laksmi terdahulu: Bunda ngiri berat karena Tante Laksmi udah maju sejauh ini, Bunda masih lari sprint di tempat. Hihihi.

Karena Bunda belum baca buku-buku terdahulu yang ditulis Tante Laksmi, Bunda jadi ga bisa bandingin dengan karya Tante Laksmi yang lain. Secara keseluruhan, cerita di buku ini lumayan mengenyangkan, salah satunya ada banyak istilah-istilah yang digunakan di Korea, sehingga bagi kamu yang sama sekali nggak ngerti istilah-istilah Korea, paling nggak minimal tahu, deh, "hwaiting" itu artinya apa. Selain itu, di cerita ini juga kita dikenalkan dengan beberapa nama tarian tradisional Korea, salah satunya tarian jangguchum yang ditarikan oleh Hye Mi. Jangguchum adalah tarian yang menggunakan alat bernama janggu. Memukul janggu harus sesuai dengan irama musik. Untuk menari jangguchum diperlukan badan yang kuat, karena tubuh harus menari sekaligus membawa janggu. Semua kelincahan di hip-hop dance bisa membantu Hye Mi kuat dalam menari jangguchum, dan dia baru menyadari beberapa waktu kemudian.

Nah, selain mengenyangkan karena ada pengetahuan baru mengenai budaya Korea, kita juga jadi tahu bahwa persahabatan itu penting dan satu lagi: memandang remeh sesuatu itu tidak baik. Belum tentu yang kita anggap remeh itu betul-betul remeh.

Ilustrasinya menarik, Bunda suka dengan style layout dan grafisnya.

Disajikan dalam bahasa yang mudah dicerna anak-anak, terutama anak usia 8-12 tahun, "Hwaiting, Hye Mi!" bisa direkomendasikan untuk kado, kok... ^_^


Kritik

Entah karena memang ini niatnya untuk masuk genre KKPK (Kecil-kecil Punya Karya), konflik di buku ini kurang kuat. Emosi Hye Mi ketika dijauhi oleh Ji Hyo dan teman-temannya kurang terasa oleh Bunda, jadi datar aja, nggak ikut sedih atau kesal :D

Bunda nggak ngerti juga, apakah ada batasan halaman atau apa, cuma rasanya emosi di bagian itu kurang kuat. Berbeda dengan emosi ketika Hye Mi merasa senang atau kecewa ketika Tuan Jun Ki memberinya mandat sebagai wakil sekolah. Juga ketika nenek datang, emosinya kerasaaa banget.

Sayang aja, sih, padahal klimaksnya ada di bagian ketika Hye Mi dijauhi teman-temannya.

Terus untuk layout, setiap halaman berasa terlalu ramai karena nggak hanya ada border, tapi di setiap halaman ada garis-garis membujur yang mengganggu (menurut Bunda sih) jadi mata bekerjanya dobel. Ya membaca, ya memilah mana huruf mana garis :D

Oya! Ada satu lagi yang agak mengganjal. Bunda sih belum pernah tahu ada anak-anak Korea berambut kriwil banget kayak Hye Mi, karena biasanya, anak-anak Korea itu rambutnya lurus dan hitam warnanya :D Kalo udah gede, sih, mereka umumnya udah kenal obat keriting dan lain-lain :D

Secara garis besar, ceritanya menarik dan cukup bergizi. Semoga Tante Laksmi tidak pernah berhenti berkarya...







Sekilas info tentang Tante Laksmi:
Nama lengkapnya Laksmi P Manohara Puspokusumo. Jagoan main piano. Demen membaca, menulis dan bermain musik (ya piano itu). Buku pertamanya yang terbit langsung lima, yaitu seri "Cerita dari Negeri Paranada" terbit tahun 2012.
Ini dia orangnya (Tante Laksmi, boleh pinjem fotonya, yaaaa)


FYI, kayaknya review berikutnya masih berbau Korea, deh. Hihihi. Soalnya bacanya udah lamaaaa banget, tapi baru punya mood buat review sekarang ini... Takut keburu diban sama Divisi Membership BBI juga, sih, karena sepi update... heuheu...  Okay, deh, sampai ketemu di review selanjutnya, yaaa...


Cheers and Love! xoxo,


Terusin baca - Hwaiting, Hye Mi! by Laksmi P Manohara

18 Feb 2015

Our Story by Orizuka



Judul buku: Our Story
Penulis: Orizuka
Penyunting: Agatha Tristanti
Penata letak: Teddy Hanggara
Desain sampul: Teddy Hanggara
Foto: Chusnul Chairudin
Penerbit: Authorized Books
Cetakan kedua, 2011
Jumlah halaman: 240 hlm, 13.5 cm x 19 cm
ISBN: 978-602-96894-1-9


Masa SMA. 
Masa yang selalu disebut sebagai masa paling indah, tapi tidak bagi anak-anak SMA Budi Bangsa.

SMA Budi Bangsa adalah sebuah SMA di pinggiran ibukota, yang terkenal dengan sebutan SMA pembuangan sampah karena segala jenis sampah masyarakat ada di sana.

Preman. Pengacau. Pembangkang. Pembuli. Pelacur.

Masuk dan pulang sekolah sesuka hati. Guru-guru honorer jarang masuk dan memilih mengajar di tempat lain. Angka drop-out jauh lebih besar daripada yang lulus. 

Sekilas, tidak ada masa depan bagi anak-anak SMA Budi Bangsa, bahkan jika mereka menginginkannya.

Masa SMA bagi mereka hanyalah sebuah masa suram yang harus segera dilewati.

Supaya mereka dapat keluar dari status 'remaja' dan menjadi 'dewasa'. Supaya tidak ada lagi orang dewasa yang bisa mengatur mereka. Supaya mereka akhirnya bisa didengarkan.

Ini, adalah cerita mereka.


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Ini adalah buku kedua dari author Orizuka yang Bunda baca. Sejauh ini, Bunda menikmati gaya bertutur Orizuka.

Our Story bermula dari seorang Yasmine, murid pindahan dari US, yang pendaftaran sekolahnya diurus oleh supir teman ayahnya. Yasmine kaget banget (lebih tepatnya shocked) ketika sekolah yang didatanginya jauh dari kesan sekolah internasional yang seharusnya, karena supir teman ayahnya itu (sepertinya) salah dengar dari kata SMA Bukti Bangsa (yang bertaraf internasional) malah mendaftarkan Yasmine ke SMA Budi Bangsa yang terkenal sebagai sekolah buangan.

Uang tiga puluh juta rupiah yang sudah digelontorkan untuk sekolah barunya itu nggak mungkin bisa diambil lagi. Yasmine cuma bisa bengong ketika dia bersekolah yang bisa dibilang, hidup nggak, mati segan.

Sebagai anak baru, bukan nggak mungkin Yasmine dibully oleh teman sekelasnya. Di sekolah itu ada ketua geng, Nino namanya, yang ditakuti geng-geng lain. Entah kenapa, Nino tidak mengganggu Yasmine sama sekali. Di antara siswa-siswa yang bisa dibilang nggak jelas masa depannya, Yasmine menemukan satu siswa yang kayak oase gitu. Namanya Ferris, yang juga jadi Ketua Osis, meski semua proposalnya selalu ditolak oleh sang kepala sekolah. Yasmine bisa akrab dengan Ferris dan akhirnya ikut Ferris berjuang di sekolah itu.

Perjalanan Yasmine selama menjadi siswa di SMA Budi Bangsa nggak menyenangkan dan membuatnya semakin benci sekolah. Nggak di US, nggak di negeri sendiri, masa SMA baginya nggak jauh-jauh dari neraka. Setelah ngobrol banyak dengan Ferris, Yasmine akhirnya mencoba mengubah cara pandangnya terhadap sekolah. Sampai akhirnya memang di bulan-bulan terakhir menjelang UN, terjadi perubahan drastis yang cukup mencengangkan: anak-anak itu mau belajar supaya lulus. 

Kalo Bunda ibaratkan, membaca Our Story ini seperti mengupas bawang. Oleh Orizuka, setiap lapis demi lapis diramu sedemikian rupa sehingga semakin mendekati akhir, gas air mata semakin kuat diembuskan dan mampu membuat pertahanan air mata kita jebol. Nggak, Bunda nggak lagi bicara soal menangis, karena Bunda sama sekali nggak menangis ketika baca Our Story. Yang Bunda maksudkan adalah setiap penokohan  karakter di sini kuat dan punya alasan masing-masing untuk berdiri di dalam cerita. Bahkan, setiap karakter dalam cerita ini mampu membuat ceritanya sendiri. Gimana Bunda bisa bayangin sosok Nino, Ferris, Yasmine, Mei, bahkan sampai Sisca sekalipun, dalam kisah mereka masing-masing.

Ferris kalo Bunda bayangin, dia cocok diperankan oleh Kang Ha Neul.  


Nino.. cocoknya oleh siapa, ya? Sebelumnya soalnya yang kebayang tukang bully itu pernah diperanin Kim Woo Bin, sih... 


Tapi kayaknya Lee Jong Suk cocok juga. Hahahaha...


Ini kok kayak nyuruh Our Story dibuat cerita versi drama koreyahnya, sih. Hahaha... 

Cover yang dibuat dengan nuansa kelam ini sebenernya udah memperlihatkan banget daleman ceritanya akan seperti apa. 

Bunda jadi teringat waktu Tante Asih mengajar jadi guru STM. Sekolah di mana kadang ada anak yang udah enam bulan nggak sekolah, sekolah yang di saat lagi ujian, salah satu tugas Tante Asih adalah kasih lembar jawaban ke masing-masing murid sebelum guru pengawas datang. Kalopun guru pengawas datang, sudah diamini oleh mereka. Karena ini emang kerja mereka. Yang penting, reputasi sekolah tetep dengan semua anak lulus, walau anaknya entah belajar entah nggak. Entah pernah masuk sekolah entah nggak. Yang penting pas ujian masuk dan lulus.

Tentu jadi beban berat untuk menjadi guru yang ditempatkan di sekolah seperti itu. Sekolah yang hidup segan, tapi mati juga nggak mau. Dengan berbagai tipe siswa, mulai dari yang cuma datang satu semester sekali, siswa yang udah tiga tahun nggak bayar uang sekolah, tapi rajin sekolah, walau buku aja mungkin dia nggak bawa, yang datang pagi terus entah ke mana ~ yang jelas berseragam, dan lain-lain dan lain-lain. Bunda jadi ngerti alasan anak-anak itu: dengan masuk sekolah, entah apa pun yang dilakukan di dalamnya, ada tempat "berlindung" dari kejamnya dunia luar. Kalo status mereka sudah lepas dari sekolah, mereka berubah jadi orang dewasa yang nggak lagi punya tempat berlindung.

Our Story menggambarkan banyak sekolah "bobrok" di Indonesia yang nggak keekspos cerita sebenernya. Alhamdulillaah, Bunda selalu bersekolah di sekolah yang terjamin, sehingga ketika mendengar sendiri cerita sejenis ini, Bunda cuma bisa bergidik. Begitu juga pas baca. Ada banyak sekali PR untuk pendidik, terutama di Indonesia ini, untuk meraih anak-anak yang terbilang "madesu" (masa depan suram). Miris? Iya. Itu sebabnya, selalu ada jurang yang sangat curam antara orang mampu dengan nggak mampu, apalagi menyangkut masalah pendidikan dan kepedulian.

Teriring doa dan harapan, semoga Bunda dan Papa bisa selalu menyekolahkan Kakak Ilman dan Adik Zaidan di sekolah yang layak, sehingga kalian bisa mendapatkan pendidikan yang layak, sesuai kebutuhan kalian.

Yasmine tahu, ia datang ke sekolah ini untuk sebuah alasan. Semua anak datang ke sekolah ini dan bertemu untuk sebuah alasan. Mereka semua masih berada di sini hari ini untuk sebuah alasan.

Masing-masing memiliki cerita. Masing-masing berbagi cerita. Masing-masing mendengarkan cerita. Dan cerita ini, tidak akan berakhir sampai di sini. Cerita itu masih akan terus berlanjut. ~p229

Love you both. Cheers! xoxo


Terusin baca - Our Story by Orizuka