Tampilkan postingan dengan label curcol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curcol. Tampilkan semua postingan

29 Jan 2015

[Opini Bareng Januari 2015] Ekspektasi - From Zero to Hero or Vice Versa





Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Ya ampun... waktu berlalu begitu cepat, sementara hari demi hari terus bergulir dan ini sudah menuju penghujung bulan! Bunda belum posting apapun di sini... Padahal di folder draft ada banyak tulisan mengantri untuk dipublish. Hanya saja....

OK. Di tahun 2015 ini, Divisi Event BBI nggak pasang dua tanggal #PostBar seperti tahun-tahun sebelumnya di kalender. Hanya ada satu #PostBar setiap bulannya, tapi ada postingan lain yang boleh ditulis kapan aja, asal masih di bulan itu, yaitu Opini Bareng. Untuk Opini Bareng Januari 2015 temanya adalah Ekspektasi.

Bunda milih Ekspektasi - From Zero to Hero or Vice Versa sebagai judul postingan ini. Kenapa?

Adalah wajar buat seorang manusia untuk berharap. Berharap jadi orang kaya, berharap jadi orang terkenal, berharap dapet pacar buat yang masih jomblo, berharap segera mendapat jodoh bagi yang merasa usianya sudah di usia menikah tapi belum juga menikah, dan seterusnya.

Sama juga dengan berharap kalo suatu buku yang lagi hype alias lagi rame dibicarain banyak orang (pinjem istilah tante Astrid) disebut-sebut pembaca lain sebagai buku keren, cakep, dan lain-lain, trus kita berharap bisa merasakan perasaan yang sama dengan orang-orang ketika mereka kasih review super indah sama buku itu.

Sayangnya, kalo udah urusan buku, makanan, atau film, balik ke masalah selera. Kalo nggak sesuai selera, buku semanis atau segurih apapun menurut orang-orang ya jadi terasa hambar pas dicicipi.

Bunda sendiri gimana? Pernah berharap lebih sama buku, terus taunya.... hambar? Pernah... Ini contohnya:
Menurut pakde Iwan, buku ini bikin dia ngeces. Jadilah Bunda nyari semua review yang berhubungan dengan buku ini. Kebanyakan emang review buku ini bilang pada bikin ngeces, laper, dan teman-temannya. Penasaran, dong. Terus, Bunda ikutan kuis di tempat tante Ferina. Dan Bunda jadi pemenangnya. Senang, dong! Tapi... Bunda lalu merasa agak kecewa, karena ternyata nggak bisa bikin laper, ngeces apalagi berminat sama makanan yang diceritain di situ...
 

Katanya, buku ini hawt. Banyak adegan panasnya. Karena Bunda penasaran, Bunda belilah. Seken. Di sebuah online shop. Emang mungkin karena udah kesel, ya, sama online shop itu, karena buku yang Bunda beli itu ada cap HADIAH DARI PENERBIT, TIDAK UNTUK DIJUAL, eeeh, malah diduitin ama online shopnya. Jadi, si owner online shop-nya dapet buku ini haratis dari penerbit karena dia ikut event si penerbit, terus abis ga pengen dikoleksi, dijualnya. Sakit hati, lah. Pas baca dalemannya juga... HAH? Hawt sebelah manaaaaa? Kayaknya masih jauh lebih hawt buku Marriageable deh. Jelas-jelas masih hawt chicklit Can You Keep A Secret-nya Sophie Kinsella. Iya, Bunda penasaran sama buku yang dibilang hot. Hot apaan! Agak nyesel kasih bintang 3 kemaren. Udah gitu covernya crop-an dari foto orang. Entah beli entah ngambil doang, sih. Itu urusan penerbit. Tapi biar gimana, bukan ceritanya yang keinget-inget, keselnya doang yang keingetan mengenai buku ini. HAHA.


Ini pelajaran buat Bunda yang udah gampang tergiur sama kata-kata: DIJAMIN TERTAWA, DIJAMIN MELEDAK, dan lain-lain. Mungkin iya, di halaman awal, Bunda NYENGIR. Tapi nggak bisa ngakak atau ngikik sekalipun. Buku ini... garing banget. Ngasi bintang 3 sebenernya beban juga. Karena dapet buntelan dari BBI yang dapet dari penerbit. Sejak saat itu, agak kapok nerima buntelan dari penerbit. Takut ga bisa fair saat ngasi rating... Fufufufu....


Asli kaget pas baca ini. Ciri khas Tante Dona ga ada sama sekali di sini. Karakterisasi tokohnya maksa banget. Mungkin karena sebelumnya udah berharap terlalu banyak, jadi kecewa, deh.

Sebaliknya, ini adalah buku-buku yang Bunda awalnya ga terlalu suka, setelah iseng baca, ternyata jadi suka pake banget..

Lucunya, karena Bunda ga suka sama covernya, Bunda sempet ga punya ekspektasi apa-apa sama buku ini. Tapi, setelah Bunda ikutin. Astaga... Bunda jadi merasa bersalah banget karena udah menganggap remeh buku ini karena covernya nggak Bunda sukai :D


Memang, Bunda tertarik sama covernya aja yang kayak kotak susu. Tapi nggak berharap banyak sama ceritanya. Meski nggak terlalu istimewa, karena nggak berharap banyak, ternyata Bunda menyukai ceritanya.


Jujur, waktu pertama kali liyat komik Miiko, Bunda ngeremehin. Ah, palingan nggak bakalan doyan. Sampai suatu ketika iseng baca komik Miiko minjem dari murid les Bunda (sekarang dia udah jadi guru, lho, bentar lagi menikah) sambil murid les Bunda ngerjain soal. Lah! Nggak bisa berhenti! Sejak saat itu, Bunda jadi penggemar setia Miiko dan teman-temannya.


Nggak nyangka aja kalo Bunda bakalan suka sama cerita di situ. Hihihi... Padahal tadinya beneran memandang sebelah mata. 

Sebenernya masih banyak lagi, sih. Cuma, karena Bunda nggak rajin bikin review, jadi yang bisa ditampilkan hanya segitu aja.

Kesannya Bunda nggak baca buku-buku bermutu banget kayak Tante Astrid atau teman-teman Bunda lainnya, ya... Hohoho...
Buat Bunda, membaca saat ini bener-bener buat hiburan aja. Jadi, kalo Bunda lagi nggak pengen nyentuh novel-novel yang katanya berat *mungkin terbuat dari batu*, bisa jadi karena selera Bunda aja lagi bawaannya males :D

Abis gimana. Selera Bunda itu unpredictable kalo urusannya ama buku dan film. Gimana mood dan suasana hati, deh. Kalo makanan? Ummm... Tentu saja, coklat, es grim dan bakso selalu jadi juaranya! Walau, Bunda sukaaaaaaaaaaaaaaaaaa semua makanan... Hihihi...

Jadi, opini Bunda gitu aja. Kesimpulannya, ekspektasi dalam membaca itu balik ke masalah selera dan kesukaan masing-masing. Denger pendapat orang lain perlu. Tapi, jangan gara-gara orang lain bilang bagus, keren, terus kita memaksakan diri buat berpendapat yang sama, padahal kata hati bilang hal yang berbeda. Gitu, deh...

Cheers... Love you both, xoxo



Terusin baca - [Opini Bareng Januari 2015] Ekspektasi - From Zero to Hero or Vice Versa

11 Jul 2014

[Blog Tour Haru] Pengumuman Pemenang Giveaway Simple Thinking About Blood Type by Park Dong Sun




Halo semua...
Duh, maaf, ya... beberapa hari ini saya susah banget konek ke internet. Emang lagi jeprut jaringannya, jadi telat banget ngumumin pemenangnya... Maaf...

Dudududu.... jawaban kalian ini bikin pengen menangin semuanya. Tapi, cuma ada dua buku yang tersedia. Jadi, setelah kontemplasi dan relaksasi #apaansih, trus minta petunjuk sama random.org, yang dapat hadiah buku Simple Thinking About Blood Type by Park Dong Sun adalah....


*drum roll*

Satu....

Dua...

Tiiii....

Amaya Kim
Zaitun Hakimiah NS

Selamat, ya, buat pemenang! Silakan kasih alamat kirim kamu beserta nomer telpon via email address ke peniastiti [at] gmail [dot] com. 

Makasih buat semua partisipan. Jadi kepikiran buat bikin giveaway tiap bulan, deh... hehe.. Ternyata berbagi itu menyenangkan, ya... Makasih dah mampir ke Ketimbun Buku... Mudah-mudahan cita-cita saya buat bikin giveaway tiap bulan bisa terwujud, yaaa....


Oya... udah pada ikutan PO buku keduanya, belum? Saya udah, lho... ^^

Love and peace,



Terusin baca - [Blog Tour Haru] Pengumuman Pemenang Giveaway Simple Thinking About Blood Type by Park Dong Sun

18 Feb 2014

♪♫ Happy (belated) Blogoversary, Ketimbun Buku.... ♪♫

source




Hallo, Dear Ketimbun Buku...
Bunda udah ngucapin selamat ulang tahun hari Sabtu lalu via Path. Crosspost ke Facebook, Tumblr, juga Twitter. Bunda juga post di Plurk. Tapi kayaknya belum afdol kalo Bunda nggak post di sini, ya?

Bermula dari ngeliat beberapa anggota Kubugil (Kutu Buku Gila) yang pada bikin blog khusus review buku, Bunda jadi ikut-ikutan. Padahal, seumur-umur ketika itu, Bunda belum pernah bikin review. Jujur, pas posting pertama kali review Sherlock Holmes dan Laskar Jalanan Baker Street - Misteri Kematian Bintang Sirkus (buku hadiah ulang tahun dari tante Maria Lubis a.k.a Umay), Bunda bingung. Gimanaaaa cara bikin review itu?


Adakah format baku untuk menulis review?
Apakah yang harus disampaikan di dalam review?
Haruskah hanya memuji? Atau haruskah mencela juga?

Padahal, Tante Umay pernah ngomong di sebuah siaran radio, sewaktu diundang oleh SKY FM - Bandung, katanya, gemar membaca itu mendorong seseorang buat menulis. Minimal, menulis review. Bunda waktu itu belum kenalan sama sosmed khusus buku bernama Goodreads itu, sih. Jadi, masih blank, nulis review itu kayak apa.

Sampai suatu ketika, ya jalan-jalan di blognya beberapa Kubugil yang punya lapak khusus review buku. Dari situ, Bunda mencoba nyontek. Meski ga bisa niru 100% dari review mereka, paling nggak, Bunda bangga bisa punya blog khusus buku sendiri.

Kemudian, suatu ketika, kamu ditemukan oleh Rahib Tanzil. Dimasukkan jadi member Blogger Buku Indonesia, pertama kali dulu di nomor urut 77 :D. Bunda tahunya, pas dapat mention dari Bebi (which is sekarang, Bunda yang jadi aktor di balik Bebi. Asli ga pernah nyangka soal ini).

Berkah kamu ditemukan oleh Rahib adalah, mau nggak mau, Bunda jadi tergerak untuk terus mereview meski kecepatan baca dan review Bunda seperti siput melendut. Paling tidak, Bunda mengusahakan ada posting di setiap bulannya. Nggak dibiarkan terbengkalai seperti halnya nasib blog-blog Bunda yang lain. Selain itu, sahabat Bunda bertambah. Bunda jadi punya banyak kenalan yang sama-sama suka baca juga menulis review yang datang dari seluruh penjuru Indonesia. Genre baca Bunda jadi meluas, pengetahuan Bunda akan buku dikit-dikit meningkat dan juga koleksi buku bertambah. Meski yang terakhir ini sering bikin tabungan dan dompet babak belur. Hihihi...

Meski usiamu udah 4 tahun, statistik pengunjung tetap belum banyak. Hahaha. Mungkin, karena Bunda hampir ga pernah bikin giveaway, ya. Sebab, giveaway itu penarik pengunjung, lho :))

Ternyata, review Namaku Miiko - Vol. 1 masih selalu dikunjungi setiap harinya, lho! Ini bikin Bunda jadi pengen mewujudkan Miiko no Koona. Kok, ya, masih malas aja mau bergerak ini.... -_____-" Ayo, deh, Ketimbun Buku, kita semangat mewujudkannya, yuk!

Makasih, ya, Ketimbun Buku. Kamu udah ngasih warna-warna dari spektrum yang Bunda belum pernah masuki. Bunda seneng bisa terus berkarya bareng kamu. Bunda sayaaang banget sama kamu... Happy 4th birthday, Ketimbun Buku sayaaaang! Mwah mwah mwah!

source

So much love...



Terusin baca - ♪♫ Happy (belated) Blogoversary, Ketimbun Buku.... ♪♫

16 Nov 2013

#5BukuDalamHidupku - Someday






Someday when we are wiser,
When the world's older,
When we have learned.
I pray someday we may yet live to live and let live.
Someday life will be fairer,
Need will be rarer
Greed will not pay.
God speed this bright millennium on its way.
Let it come someday.
Someday our fight will be won then,
We'll stand in the sun then,
That bright afternoon.
Till then, on days when the sun is gone,
We'll hang on,
Wish upon the moon.
There are some days dark and bitter
Seems we haven't got a prayer
But a prayer for something better
Is the one thing we all share

(Someday - All 4 One/Mariah Carey)

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Ini adalah hari terakhir dari serangkaian proyek mudik bareng ke blog sendiri. Terima kasih untuk om @irwanbajang atas ide dan kesempatannya. Sekali lagi, motivasi Bunda ikut ini bukan untuk dapat hadiah, walau, yeah, kalo dapet hadiah seneng banget, ye... Tapi, Bunda ingin berbagi, bahwa ada banyak buku yang Bunda baca telah mengubah hidup Bunda.

Bunda sengaja memilih buku ini untuk menutup serangkaian proses mudik bareng ini. Sejak awal, Bunda nggak tahu gimana caranya bisa bikin review komedi dari semua buku yang Bunda baca. Termasuk, nggak bisa bikin cerita komedi untuk kisah buku-buku Bunda. Jadi, Bunda minta maaf kalo asli garing. Hawhaw...

Nah.. yuk, kita mulai...

Begini. Sejak banyak orang curiga dengan perkembangan Kakak Ilman di usia dua tahun, seperti nggak menyahut ketika dipanggil, belum bisa berbicara alias masih bubbling, nggak berkomunikasi dua arah, menyendiri, dan lain-lain, Bunda makin defensif dan over protective ke Kakak. Bunda menyangkal kalo memang ada sesuatu yang harus dicurigai atas "unresponsive"-nya Kakak.

Kenapa Bunda menyangkal? Sebab, kalo sama Bunda, Kakak mau bertatapan mata. Kalo Bunda panggil, Kakak mau lihat Bunda. Karena Bunda baru pertama kali punya anak, jadi menurut Bunda, ga ada masalah dengan Kakak. Bunda marah sekali pada papa yang berkali-kali membujuk Bunda untuk memeriksakan Kakak.

Sampai suatu ketika, Bunda baca artikel mengenai anak autis yang terlambat ditangani. Makan waktu lebih lama untuk memperbaiki keadaan. Dan itu karena kesalahan orangtuanya yang "denial". Waktu itu, Bunda menangis. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Kakak dan itu karena Bunda sibuk denial, maka Bunda-lah yang patut disalahkan.

Maka, Bunda memberanikan diri membawa Kakak ke ahli tumbuh kembang. Kaget banget Bunda. Ternyata, untuk biaya observasi, terapi okupasi, terapi wicara dan terapi perilaku butuh biaya yang sangat besar. Waktu itu, Bunda dan papa nggak punya uang sebanyak itu untuk perilaku. Akhirnya, Bunda berusaha mencari tempat lain yang bisa dijangkau dengan harga lebih murah.

Sampai akhirnya, Bunda ketemu dengan sekolah tempat Kakak bersekolah sekarang. Sampai akhirnya, Bunda tahu bahwa diagnosa Kakak bukan sekadar "speech delayed". Bunda akhirnya tahu, bahwa speech delayed itu gejala dari salah satu ciri-ciri anak berkebutuhan khusus. Sekitar dua tahun lalu, setelah Kakak diperiksa secara intensif oleh salah satu psikiater dari RSHS, Kakak didiagnosa asperger.

Ini PR besar untuk Bunda juga papa. Karena kami berdua buta dan minim pengetahuan mengenai asperger. Ditambah lagi, kami harus menghadapi keseharian kami dengan Kakak yang seringkali tak terduga. Jangan salah. Kakak Ilman amazing banget. Seperti mampu menghafal nursery rhymes "This Old Man" yang panjang itu dan kata-kata berima yang bahkan Bunda aja butuh waktu lama untuk menghafalnya. Kakak melakukannya dalam waktu sebentar. Kakak juga mencoreti dinding dengan bagian-bagian lirik untuk membantu menghafal. Dan itu terjadi di usia kakak yang kelima tahun.

Kakak Ilman bahkan membuat takjub bu guru Kakak di TK Sarijadi, karena di hari kedua Kakak bersekolah, Kakak langsung menyusun balok huruf menjadi sebuah kalimat: T - H - I - S - O - L - D - M - A - N. Masih banyak hal-hal menakjubkan lain yang selalu membuat kami terpana. Kakak sudah kenal dengan mesin pencari bernama Google sejak usia 2 tahun. Kakak bahkan mengetik SMS berbunyi "EVERYTHING", "BONGKAR", "BENTO", dll di usia 2 tahun. Kakak sudah bisa mengetik semua kata di komputer, di usia 3 tahun.

Di sisi lain, kami terkadang lelah kalo harus menghadapi Kakak yang tantrum. Energi Kakak luar biasa sekali kalo sedang tantrum, mengingat usia Kakak masih batita.

Yang Bunda takutkan adalah... Bunda nggak mampu membimbing dan mendidik Kakak sehingga Kakak bisa menjadi orang yang bisa memanfaatkan potensi Kakak. Padahal, dengan seluruh energi dan cara berpikir Kakak, Bunda yakin, Kakak bisa menjadi agen perubahan bagi dunia menjadi lebih baik.

Nah, ketika baca buku ini, Bunda belajar bagaimana mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Bunda belajar untuk tidak memaksakan kehendak supaya Bunda dimengerti oleh orang lain. Bunda  belajar, bahwa orang-orang cenderung punya pendapat sendiri dan terkadang sok tahu. Untuk bisa tahu perasaan orang lain, kita memang harus bisa merasakan berdiri di sepatu orang lain. Kalo nggak salah, peribahasa dalam bahasa Inggrisnya tuh, "standing on other's shoes".
 
Sehingga, Bunda tahu, bahwa apa pun keadaan Kakak Ilman, Kakak adalah anugerah untuk Bunda. Untuk papa. Untuk eyang. Untuk adek Zidan. Untuk semesta. Kami diminta untuk mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Sulitnya komunikasi dengan Kakak membuat kami berusaha untuk mencari alternatif cara lain berkomunikasi, sehingga sekarang, komunikasi dengan Kakak lebih mudah.

Dengan kehadiran Kakak Ilman di kehidupan kami, justru membuka cakrawala kami. Bahwa Allah menciptakan manusia secara unik. Kita aja ga pernah tahu. Sejak Bunda mulai terbiasa dengan titel ibu dengan anak berkebutuhan khusus, Bunda belajar mensyukuri segala sesuatu mulai dari hal yang paling tampak sepele. Bunda belajar mengagumi kebesaran Allah, melalui hal paling kecil semisal debu. 

Buku apa yang membawa perubahan paling besar dalam hidup Bunda?

Judul: Letters to Sam - Pelajaran dari Seorang Kakek tentang Cinta, Kehilangan, dan Anugerah Hidup
Penulis: Daniel Gottlieb
Penerjemah: Windy Ariestanty
Editor: Ninus D. Andarnuswari
Proofreader: Christian Simamora
Penata Letak: Nopianto Ricaesar
Desain Sampul: Dwi Annisa Anindhika
Diterbitkan oleh: GagasMedia
Cetakan kedua, 2011
Jumlah halaman: xiv + 218 hlm; 14 x 20 cm
ISBN 979-780-510-7
Nonfiksi/Memoar
 
Reviewnya bisa dilihat di sini


Quote favorit Bunda yang juga nasihat untuk Kakak Ilman adalah:
“Aku berharap kau sanggup mengubah kemarahanmu menjadi energi untuk berjuang demi keadilan bagi orang lain” —Daniel Gotlieb
Terima kasih, Kakak Ilman. Terima kasih, Adik Zidan. Lewat kalian, Bunda belajar bersyukur dan melihat dunia lebih baik.

Bunda mengakhiri proyek mudik Bunda dengan ucapan: Alhamdulillaahirabbil'alamiin...

*Ditulis dalam rangka mudik ke blog sendiri yang digagas oleh @irwanbajang. Syarat dan ketentuan ada di blog penggagas. Makasih, om Irwan!
 
Cheers! Love you both,
Terusin baca - #5BukuDalamHidupku - Someday

15 Nov 2013

#5BukuDalamHidupku - Looking Through The Eyes of Love


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Nggak terasa sudah hari keempat Bunda ikut proyek mudik bareng ke blog sendiri. Semoga besok bisa bertahan. Sayang, kan, tinggal sehari lagi.

Kok, nadanya kayak udah mulai jenuh, ya? Sebetulnya bukan jenuh. Hanya saja, konsentrasi jadi terbelah ke mana-mana padahal ada deadline. Bingung mau nentuin mana duluan yang harus dikerjakan. Hiks. It's so me. Hiks (lagi)

Di hari ketiga ini, Bunda pengen cerita tentang sebuah buku bergenre young adult - romance yang sempat membuat Bunda mabuk kepayang.

Awalnya iseng aja, ngajakin tante Alvina baca bareng. Terus ternyata, tante Desty dan tante Putri juga ikutan. Jadi, teman-teman Spank Club minimal sudah pernah baca ini. Entah dengan pak presnya. Hihihi...

Sekarang, Bunda ngerti, kenapa buku ini dapat nominasi penghargaan di Goodreads. Sedang menanti vote. Bunda juga ngerti, kenapa buku ini banyak dibicarakan orang.

Genre romance, young adult, udah jelas, dong, arahannya ke mana? Pastinya tentang sepasang remaja yang saling jatuh cinta. Gitu, kan? Iya, memang tentang jatuh cinta yang kayak begitu, kok. Terus, jatuh cinta itu umumnya standar, gitu-gitu aja. Ada yang akhirnya pacaran, ada yang nggak. Iya, memang kayak begitu.

Terus, apa bedanya dengan cerita romance - young adult lainnya?

Bunda nggak tahu. Karena Bunda belum punya pembanding. Atau dibandingkan dengan salah satu novel romance - young adult lain kayak Anna and the French Kiss juga ga sebanding, sih. Ceritanya mungkin boleh klise. Ide ceritanya mungkin nggak asing.

Tapi yang membuat Bunda suka adalah meski tentang jatuh cinta, karakter yang ada di dalamnya membuat Bunda terpikat. Sangat terpikat. Dan asal kalian tahu, Bunda sadar bahwa Bunda pernah mengalami masa-masa mabuk kepayang.

Kalian perlu tahu sesuatu. Bunda ini orangnya nggak banci tampil. Benci malah kalo harus terlihat tampil. Itu sebabnya, kadang Bunda malu kalo nama Bunda terpajang di sebuah struktur organisasi, sementara Bunda belum tahu posisi Bunda atau tugas Bunda apa. Yang lebih mengenaskan lagi, Bunda malu kalo Bunda ga pernah berkontribusi apa-apa. Nampang iya, tapi kontribusi nggak ada. Bunda lebih suka bergerak di belakang layar. Lebih banyak orang yang ga tahu kalo itu hasil karya Bunda, lebih baik. Bunda merasa lebih comfortable dengan itu. Cuma emang susahnya, kalo ada yang complaint, mereka jadi ga tahu mesti complaint ke mana :D

Kenapa bisa begitu? Karena, Bunda punya... ummm... masalah dengan percaya diri. Parah banget, deh. Jadi ingat sewaktu Bunda pacaran dengan seseorang-yang-bukan-papa-kalian, selama empat tahun, dia bekerja keras mendongkrak Bunda supaya Bunda bisa semakin pede. Sedikit aja ada prestasi Bunda, dia kasih pujian. Anehnya, pujian itu malah bikin Bunda terpuruk. Bunda malah merasa itu adalah sarkasme. Parah banget ya?

Memang, sih, setelah menikah dan punya anak, masalah ga percaya diri ini seperti terabaikan. Mungkin karena Bunda punya banyak kesibukan, jadi nggak sempet lagi terlihat minder. Padahal, setiap ngobrol sama seorang sahabat Bunda, si pakde, mesti keluar ga pedenya. Bahkan ngobrol dengan papa pun, mesti ga keluar ga pedenya. Mesti curhat yang ujung-ujungnya "menjatuhkan" diri Bunda sendiri. What the heck is it?

Awal tahun ini pun, ketika Bunda dekat dengan seseorang, dan entah kenapa, bisa keluar tuh "menjatuhkan" diri di depan dia, sampai dia berkomentar, "kamu itu kok, nggak ngajeni?"

Jedang.
Mampus.

Berita buruknya sih, sayangnya dengan seseorang ini udah nggak dekat lagi. Mungkin beliau sudah ga peduli lagi #iyainicurhat

Balik lagi ke masalah ga percaya diri. Meski di luaran Bunda keliatan banci tampil atau apa aja, terkadang faktor-faktor orang dekat lah yang bikin rasa percaya diri Bunda jatuh, hancur berkeping-keping. 

Lalu, Bunda baca buku ini. Di sana karakter cowok pernah bilang dalam hati, kalo si cewek kayak pengen tetep terlihat jelek.

Jleb.

Nggak pernah dipuji cantik bukan berarti jelek, lho. Sekalinya dipuji cantik tuh, bukan berarti sarkasme. Meski 99 dari 100 orang bilang ga cantik, pasti ada 1 orang yang bilang cantik. Hehe.

Nah, dari situlah, Bunda "bangkit". It's not about the way people look at you. It's about how you look into yourself. No matter how people see or treat you, if you respect yourself, you're a great person.

Satu lagi. Bunda belajar dari buku ini, kalo berharap punya anak yang menghormati dan menghargai orang lain, maka anak ini harus dilimpahi kasih sayang yang berawal dari rumah dan orangtuanya. Jadi, kalo kalian bertemu dengan anak yang ga bisa menghormati atau menghargai orang lain, kasihanilah. Mungkin dia nggak pernah tahu rasanya dihormati dan dihargai.  Mungkin di rumahnya dia ga pernah dapat itu semua...

Selama baca buku ini, Bunda selalu terngiang lagu Looking through the Eyes of Love - Nikka Costa:

Please, don't let this feeling end
It's everything I am
Everything I wanna be
I can see what's mine now
Finding out what's true
Since I've found you...
Looking through the eyes of love...
 
Buku itu adalah...


Judul: Eleanor & Park
Penulis: Rainbow Rowell
Diterbitkan 12 April 2012
Penerbit: Orion
ISBN13: 978-1409-116-332
E-book
Jumlah halaman: 329 halaman
Genre: Fiksi Kontemporer, Romance, Young Adult
Status: Punya. Trus lagi pre-order juga di Bookdepository, seperti diceritakan di sini 
 
Reviewnya bisa dilihat di sini.
 
*Ditulis dalam rangka mudik ke blog sendiri yang digagas oleh @irwanbajang. Syarat dan ketentuan ada di blog penggagas.
 
Cheers! Love you both,
 
Terusin baca - #5BukuDalamHidupku - Looking Through The Eyes of Love

14 Nov 2013

#5BukuDalamHidupku - Timbunanku...


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Wah! Nggak terasa, sudah hari ketiga Bunda ikut proyek ini. Biasanya, blog Bunda biarkan bersarang laba-laba. Ini jadi tiap hari ditengokin. Makasih, om @irwanbajang :D

Motivasi Bunda bukan pada hadiah, walau pun proyek mudik bareng ini berhadiah. Motivasi Bunda adalah untuk tetap menjenguk blog Bunda. Memperhatikan interaksi di sana. Dan terlebih, jadi lebih sering blog walking. Memang menghabiskan waktu. Tapi, berkenalan dengan orang lain lewat tulisan mereka itu bermanfaat, kok ^_^

Kali ini, Bunda mau cerita tentang sebuah buku lain yang mengubah hidup Bunda. Kalo kemarin Bunda cerita tentang berdirinya Spank Club karena beberapa kesamaan di antaranya karena #FiftyUnited dan #BukuBiruLegendaris, kali ini Bunda mau cerita tentang proyek baca bareng setiap bulan.

Sejak setahun lalu, ketika Bunda "ditemukan" oleh Rahib Tanzil, eh, kok sounds wrong, ya?

Oke, Bunda ralat.

Sejak setahun lalu, ketika blog khusus review buku Bunda ditemukan oleh Rahib Tanzil dan masuk ke salah satu daftar blogger buku di Goodreads, link blog buku Bunda ada di sana. Terus, Bunda nanya ke tante Ally, memangnya ada persyaratan tertentu untuk masuk komunitas itu? Karena setahu Bunda, memang tante Ally ada di sana. Bunda nggak tahu kalo kemudian ternyata tante Ally-lah justru salah satu pendiri komunitas ini.

Nah, ketika oleh tante Ally Bunda diundang masuk ke grupnya, betapa takjubnya Bunda. Ternyata grupnya heboh. Memang bukan pertama kalinya Bunda "masuk" ke komunitas bookworm atau kutu buku. Mungkin ini komunitas kedua Bunda ada di dalamnya. Komunitas pertama lebih sinting, apalagi mereka menamai diri mereka adalah "KuBuGil" alias "Kutu Buku Gila". Ada proyek baca bareng juga nulis review. Kadang ada hadiahnya juga. Tapi, seiring dengan ngehe-nya jejaring sosial bernama Multiply (yang sekarang sudah almarhum), komunitas itu pun ikut "mati suri". Kebanyakan masyarakat komunitas ini beralih ke otang (oven tangkring) dan kesibukan masing-masing setelah berkeluarga. Meraih cita-cita dan impian masing-masing. Semoga kelak dibangkitkan kembali dari kematiannya. Bunda kangen dengan komunitas itu.

Sama dengan KuBuGil, komunitas ini juga ada proyek baca bareng dan posting bareng. Dan yeah, hampir semua punya akun di Goodreads. Senang juga kalo bisa ikut proyek baca bareng. Apalagi ternyata, blog Bunda masuk ke agregator komunitas ini. Sehingga, kemungkinan besar, banyak yang tahu blog buku Bunda dari agregator ini. Otomatis, ini juga yang meningkatkan jumlah pengunjung blog Bunda.

Sebetulnya, apa, ya, keuntungan banyaknya jumlah pengunjung blog? Nggak tahu. Cuma seneng aja kalo lihat di statistik, pengunjung blog Bunda meningkat. Hahaha. Ini baru kesenangan pribadi. Keuntungannya sendiri Bunda belum tahu.

Ada satu lagi. Selain masuk ke agregator, ternyata, link postingan Bunda juga suka masuk ke twit komunitas ini. Jadi, ya, siapa tahu memang begitu adanya. Karena baca bareng, posting bareng, masuk agregator terus ditwit, pengunjung blog Bunda bertambah? Nggak tahu juga, sih. Wallaahu 'alaam. Yang penting, Bunda harus rutin produksi tulisan untuk menjamu tamu. Titik.

Hanya sajaaaaa... Komunitas ini seperti mengorek-ngorek kelemahan Bunda paling fatal. Dari sebelum kenal komunitas mana pun, Bunda terkenal tukang menimbun buku. Beli bukunya kapaaan, dibacanya entah kapan. Setelah berada di dalam komunitas ini, Bunda makin nggak berdaya. Terutama dalam hal menimbun buku. Itu sebabnya, kenapa nama blog Bunda: Ketimbun Buku. Karena memang beginilah adanya.

Nah, karena program baca bareng ini bertujuan meluaskan wawasan, terutama sebetulnya karena bacaan Bunda masih satu tema yang sama, otomatis membuat Bunda jadi compulsive buyer. Alasannya karena "Eh, Bunda kan ga punya buku itu? Gimana, dong? Mau ikut baca bareng..." terus, akhirnya beli.

Dari asalnya alasannya begitu, makin lama, makin mudah tergoda. Ada diskon, nitip. Ada yang lagi keluar negeri, nitip. Ada yang lagi di toko buku seken, nitip. Gitu aja terus. Sementara, kemampuan membaca Bunda berbanding terbalik dengan kemampuan membeli. Ini berbahaya sekali sebetulnya. Dan Bunda baru menyadari sekarang ini, setelah menyaksikan timbunan paket buku yang bahkan belum Bunda buka sama sekali. Sigh.

Itu sebabnya, Bunda berhenti ikutan giveaway. Itu sebabnya, Bunda ingin sekali berhenti belanja buku untuk sementara ini. Tapi entahlah. Bunda tuh mudah tergoda. Apalagi kalo baca reviewnya yang rata-rata bagus. Belum lagi godaan kaver buku. Belum lagi godaan sale. Titip menitip. Sigh. Sekali lagi, walau ini bertujuan investasi, tetep aja: BAHAYA.

Meski begitu, karena komunitas inilah, Bunda jadi termotivasi untuk membaca dan menulis reviewnya. Kalo nggak karena komunitas ini, Bunda ga akan tahu ada proyek mudik ke blog sendiri. Kalo nggak karena ada komunitas ini, mungkin blog Bunda bakalan bersarang laba-lama karena ga pernah disentuh. Selalu ada positif dan negatif dari semuanya. Untuk hal positif tinggal ditingkatkan. Untuk hal negatif, harus diperbaiki, kalo perlu ditinggalkan.

Komunitas apakah itu?
Blogger Buku Indonesia.

Ketika komunitas ini mulai "serius" dengan punya struktur organisasi, Bunda malah diajak terlibat di dalamnya. Dan yang bikin Bunda merasa "terhormat", Bunda bahkan dipercaya untuk mengurus sosial medianya. Uhuk. Terharu. Mudah-mudahan, Bunda nggak mengecewakan banyak orang, ya. Memang, sepak terjangnya, sih, terus terang, banyak yang rese. Tapi, itulah hidup. Hahaha. Nggak semua orang menyenangkan, toh :P

Lalu, buku apakah yang kemudian menjadi pengaruh dalam hidup Bunda di kemudian hari, karena keterlibatan Bunda ikut program Posting Bareng?

Judul: Love, Aubrey
Penulis: Suzanne LaFleur
Penerjemah: Ary Nilandari
Penyunting: Khairi Rumantati
Korektor: Herlina Sitorus
Tata Letak: MAB
Cover: Indra Bayu
Cetakan Pertama: Desember 2010
Diterbitkan oleh: M-pop (Kelompok Penerbit Matahati)
Drama/Teen Fiction
ISBN: 602962553-5
5 dari 5 bintang
Reviewnya bisa dibaca di sini

Waktu itu, pollingnya adalah baca bareng buku terbitan Serambi, Matahati, dan lain-lain. Yang tertinggi adalah terbitan Serambi dan tertinggi kedua adalah Matahati. Dan waktu itu Bunda lagi pingin baca buku Aubrey, maka Bunda ambil pilihan kedua dan memang jadinya diposting bareng. Sejak saat itu, Bunda selalu berusaha ikut baca posting bareng, walau pun buku yang dijadikan "seragam" bukan cangkir teh Bunda (maksudnya sih, my cup of tea :P). Posting-nya jarang bareng karena telat melulu :D

Minimal, karena ada acara ini, timbunan (seharusnya) berkurang. Tapi, karena ada program ini juga, terkadang timbunan malah bertambah. Bukunya nambah, yang dibaca makin kurang. Selalu ada dua sisi dalam setiap kehidupan. Tsaaah.

Karena nulis postingan ini, Bunda jadi terpikir sesuatu. Sudah waktunya mulai menghabiskan timbunan dan rajin memelihara blog ini. Dan blog-blog Bunda yang lain. Terima kasih, BBI. I love you a lot.

*Ditulis dalam rangka mudik ke blog sendiri yang digagas oleh @irwanbajang. Syarat dan ketentuan ada di blog penggagas.

Cheers! Love you both, kiddo


Terusin baca - #5BukuDalamHidupku - Timbunanku...

13 Nov 2013

#5BukuDalamHidupku - Karena Dia, Spank Club Ada





Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Intermezzo: Oya, hari ini wedding anniversary Bunda dan papa, lho... Hihi...
 
Ketemu lagi di tantangan hari kedua proyek mudik bareng ke blog sendiri #5BukuDalamHidupku. Kali ini, Bunda mau cerita tentang sebuah buku yang mengubah hidup Bunda. Ada kelanjutan dari kisah buku yang kemarin Bunda posting.
 
Adalah sebuah review kacrut di Goodreads yang menimbulkan kontroversi di dunia perbukuan. Bedanya, karena ini penulis luar negeri dan yang jelas, terkenal banget gara-gara buku ini, si penulis nggak akan repot-repot nge-troll postingan kontak Bunda di Goodreads. Dia terlalu sibuk mempromosikan bukunya atau mungkin bikin skenario film dan melakukan casting? Entah. Yang jelas, buku ini mendunia. Beliau nggak akan menghabiskan waktunya untuk ngetroll review bukunya :D

Di satu sisi, di sebuah petak kecil di planet yang bernama Bumi, ada sekelompok orang yang sibuk menghabiskan waktunya untuk mereview buku yang mereka sebut kacrut. Nggak hanya bukunya yang disebut kacrut. Reviewnya sendiri juga... errr... kacrut. Haha. Dan mereka pun menghabiskan waktu mereka untuk membaca review teman lain juga saling komentar di sana. Ada triple kacrut yang "looping" di sini dan ga selesai-selesai. Buku kacrut - review kacrut - komentar kacrut. Terus aja gitu. #rauwisuwis

Mereka janjian untuk baca bareng dan mereview bareng. Sepertinya mereka berbakat jadi komedian saat mereview buku ini. Padahal, buku ini bukan buku komedi atau humor. Sama sekali bukan. Tapi entah kenapa, membaca review mereka justru membuat Bunda sukses terpingkal-pingkal. Hampir semua review mereka sukses jadi review terkocak yang pernah Bunda baca.

Karena review merekalah, Bunda jadi penasaran untuk membacanya. Sebetulnya, Bunda nggak mau ngaku sama mereka, kalo Bunda sudah baca buku ini. Yah, atas nama jaga image alias pencitraan, Bunda merasa nggak perlu dunia tahu kalo Bunda sudah baca buku ini. Ya, kan?

Nah, pas kejadian trolling di review buku biru legendaris itu, Bunda sering kirim direct message lewat bu dokter A.S Dewi, sebetulnya cuma share informasi aja sih, awalnya. Share informasi hasil stalk teman Bunda yang lain mengenai troll, sih. Setelah sekian lama ngobrol berdua aja berjalan, kami mulai menyeret tante Ren dan Aki Hippo (user Hippo ini sering banget ganti nama. Masih labil sepertinya. Butuh lebih sering bancakan bubur merah putih #dispankAki). Kami berempat memulai grup kecil  dengan nama "Ngegosip ajalah".

Setelah kami sadar, bahwa kesamaan kami adalah sama-sama sudah baca buku yang membuat bumi sempat gonjang-ganjing itu, kami mulai menarik dua anggota lain, yaitu tante Alvina dan tante Desty. Sebetulnya, masih ada tiga anggota lain, yaitu Tukang Kueh, tante Putri, dan om Tezar. Ketiga member ini masih diperhitungkan keanggotaannya sekarang, karena mereka belum baca buku ini. Hahaha...

Oya, nama grup ini labil. Beberapa kali ganti. Maklum, masih dalam pencarian bentuk yang lebih stabil. Setelah dari "Ngegosip ajalah" berganti jadi "Grup Tentakel". Terus, jadi "Grup Pecinta Kipas". Terus berubah lagi menjadi "Grup Pecinta Kapas" dengan banyak ikon tentakel di belakangnya. Dan sekarang, grup ini menjadi "Spank Club".

Ada "aturan" baku di Spank Club ini. Yaitu, kalo ada yang typo di percakapan kami, akan ada sanksi. Yaitu kena spank. Iya, spank yang itu. Spank yang ada di emoticon whatsapp. Bisa kebayang, kan, satu orang dispank rame-rame. Untung cuma emot. Tapi kebayang ngilunya X))

Nggak hanya itu. Sanksi kena spank juga berlaku untuk salah kamar. Dan salah-salah yang lain. Hahaha... Biar begitu, nggak pernah kapok buat ngobrol bersama teman-teman Spank Club, karena mereka kayak sodara sendiri. Ketawa, nangis, tinggal nemplok ke mereka. Udah gitu lega banget kalo udah curhat ke mereka. Bersama mereka, Bunda bisa jadi diri sendiri. Nggak perlu pake topeng untuk jadi orang lain. Bersama mereka, Bunda bisa jujur jadi diri sendiri, nggak perlu nutup-nutupin siapa diri Bunda. Kalo sama yang lain, kan, tetep aja kudu pake ja-im. Sayangnya, di Spank Club, ja-im Bunda failed. Hahaha.

Yah, akhirnya memang Bunda pikir ngapain juga Bunda sembunyi dari kenyataan bahwa Bunda udah baca buku ini. Toh, gara-gara "kesamaan" ini, Bunda jadi punya sahabat tempat berbagi suka dan duka. Meski kadang, Bunda minder dengan pengetahuan mereka akan buku jauh lebih luas dari Bunda. At least, Bunda bersyukur ketemu mereka, karena Bunda jadi belajar banyaaaaak banget dari mereka.

Sepertinya kalian sudah tahu, buku apa yang Bunda maksudkan. Ya. Benar. Buku yang itu.

 Judul: Fifty Shades of Grey (Fifty Shades #1)

Penulis: E. L. James
 Cover image: Papuga2006 | Dreamstime.com
Cover design: Jennifer McGuire
Diterbitkan pertama kali oleh The Writer's Coffe Shop
Edisi 1, April 2011
ISBN: 978-1-61213-029-3
erotika, xxx, buku dewasa
review Bunda ada di sini dan di sini


Buku dasi abu-abu sudah membuat kami mendirikan #FiftyUnited dan Spank Club. Kami bahkan akan ada di IRF 2013 di Museum Bank Mandiri tanggal 8 Desember 2013, insya Allah. Cek aja booth C3. Infonya bisa dilihat di sini, apa nama booth kami X))

Tentu saja, Bunda berterima kasih pada ibu E.L James, atas apa pun kontroversi yang ditimbulkannya. Yang jelas, gara-gara karyanya yang totally epic ini, review Bunda yang itu jadi sering dilihat. Bahkan review tante Ren tentang buku ini mencapai angka 20.000 lebih untuk statistik "viewed"-nya. Congratulations! 

Yang jelas, meski nama booth-nya demikian, kami bukan porn seeker. Justru gara-gara cerita-cerita beginilah, kami jadi ngetawain hal-hal bodoh yang dilakukan orang-orang yang "mendewakan" seks. Karena kami ini "brainiac" bukan "sex maniac" :D


*Ditulis dalam rangka mudik ke blog sendiri yang digagas oleh @irwanbajang. Syarat dan ketentuan ada di blog penggagas.
 
Cheers! Love you both...

Terusin baca - #5BukuDalamHidupku - Karena Dia, Spank Club Ada

12 Nov 2013

#5BukuDalamHidupku Buku Biru Legendaris - Hidup Memang Keras, Teman!

http://irwanbajang.com/2013/11/5bukudalamhidupku-sebuah-proyek-mudik-bareng-ke-blog-sendiri/


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Adalah sebuah link yang diposting oleh Rahib Tanzil, sesepuh kami di Blogger Buku Indonesia alias BBI, yang membuat Bunda tersentak. Sesaat, karena image posting dalam blog ini yang memang eye-catching, kemudian proyeknya sendiri membuat Bunda tersadar, bahwa sebetulnya, selama sekian tahun Bunda menjadi blogger buku, nggak produktif. *sigh*

Terus terang, ini proyek ternekat yang pernah Bunda ikuti sepanjang sejarah #lebay emang. Karena selama lima hari berturut-turut, Bunda harus rutin posting. Dan memang, ada lebih dari 5 buku yang sudah mengubah hidup Bunda. Tapi tentu ada 5 yang wajib diceritakan, mengapa buku-buku itu mengubah hidup Bunda.

Mari kita mulai proyek mudik ini di hari pertama. Semoga Bunda sampai ke tempat tujuan dan ga nyasar. Karena kalo nyasar, nggak ada yang kehilangan apalagi mencari Bunda. #lho 

Buku ini sempat heboh sekali di tahun 2012 (kalo Bunda nggak salah ingat). Kenapa? Sebab, ketika itu, ada review "kacrut" yang memancing virtual war di jejaring sosial khusus buku bernama Goodreads. Review itu membahas mengenai betapa kacrutnya jalan cerita di buku ini. Ide ceritanya sebetulnya bagus. Tapi eksekusinya payah. Wajarlah, kalo ada reviewer menulis kekecewaannya terhadap buku. Itu kan perasaannya terhadap buku yang dibacanya.

Apa yang membuat buku ini menjadi heboh? Perilaku penulisnya yang membuat semua pembaca, se-Indonesia, menoleh pada buku ini. Karena, penulisnya mengeluarkan sebuah syarat untuk menjadi pembaca bukunya.

Syarat untuk bisa mencerna buku ini adalah: KAMU HARUS BEROTAK PRIMA!

Setelah seluruh drama yang ditimbulkan, baik oleh penulis, teror fans berat penulis di thread reviewer, mau pun pendukung penulis review buku ini di Goodreads ada "hikmah" dan "pelajaran" di balik semua ini.

Penulis cuma manusia, bukan dewa. Wajar sekali kalo dia bereaksi keras dan merasa insecure sehingga mengeluarkan statement tertentu, demi melindungi karyanya. Walau itu membuatnya kehilangan harga diri. Wibawanya jatuh di mata pembaca. Apa pun itu. Dia nggak mau intelektualnya terinjak-injak. Dia mengerahkan segala caranya untuk melindungi hak intelektualnya.


Reviewer juga cuma manusia, bukan dewa. Wajar juga kalo pembaca yang menulis review menyampaikan pendapatnya mengenai buku yang dibacanya. Pembaca tuh ada usaha dalam membaca dan menuliskan review. Minimal, dia beli/pinjam bukunya. Kemudian, menyediakan waktu untuk membaca, memahami apa yang dibacanya. Terakhir, dia menulis pendapatnya di review.

Untuk review sedetail review kacrut tadi, reviewer harus punya ilmu yang berkaitan dengan apa yang dibacanya tadi. Misalnya, mengenai kedokteran. Berarti, kan, kalo berani mengkritik alur cerita atau adegan mengenai kedokteran, reviewer ini minimal tahu beberapa hal di bidang kedokteran? Intinya, sang reviewer ingin penulis tuh kalo menulis cerita, novel seimajinatif apa pun, tetap pakai riset yang masuk logika.

Dan Bunda setuju dengan sebuah quote "Buku adalah jendela dunia." Kita belajar mengenai apa pun melalui buku. Novel sekali pun. Berarti, untuk menjadi penulis, harus melakukan riset yang serius, karena nantinya bakalan disampaikan di tulisan mereka. Dan pembaca akan mencerna tulisannya.

Hidup memang keras. Begitu juga untuk bertahan di dunia tulis menulis. Orang nyinyir mah ada di mana aja. Kapan aja juga jadi kalo mau dinyinyirin mah. Dalam hidup tuh nggak ada yang sempurna. Pasti ada celanya. Karena kesempurnaan milik Tuhan semata. Selama kita menerima kritikan, berarti emang ada yang perhatian ke kita. Harus kita syukuri dulu fakta itu. Ada yang masih mau mengkritik, berarti ada yang perhatian. Kalo kita masih bereaksi buruk terhadap sebuah kritikan, mari kita berdoa, semoga kita diberikan cara pandang yang baru terhadap seluruh kritikan yang mengarah pada kita. Lalu, jadikan kritikan itu salah satu masukan yang membuat kita menjadi lebih baik. Harusnya, sih. Errr.. Look who's talking? X)) #ngakaksendiri

Dampak lain dari buku yang heboh ini adalah Bunda jadi berteman akrab dengan sang reviewer yang diserang oleh fans berat penulis buku ini. Bunda belum pernah ketemu muka dengan beliau. Tapi, sudah banyak cerita yang kami saling tukar hampir setahunan ini. Buku ini pun berhasil menyatukan banyak pembaca di Indonesia. Saling bahu membahu membela kebenaran #haiyah

Buku apakah itu?

Tadaaaaa...

Judul: Memory and Destiny
Penulis: Yunisa KD
Editor: Hetih Rusli
Co Editor: Raya Fitrah
Foto sampul: Jose AS Reyes
Diterbitkan oleh: PT Gramedia Pustaka Utama
April, 2010
Jumlah halaman: 264 hlm, 18 cm
ISBN: 978-979-22-5658-1

Bunda sudah pernah mereview buku ini. Dilihat dari kacamata Bunda sendiri. Silakan dilihat aja review Bunda di sini, ya... :D

*Ditulis dalam rangka mudik ke blog sendiri yang digagas oleh @irwanbajang. Syarat dan ketentuan ada di blog penggagas.

Cheers!
Terusin baca - #5BukuDalamHidupku Buku Biru Legendaris - Hidup Memang Keras, Teman!

Bookish Top Ten #3 Best Book Covers




Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Ketemu lagi di meme Bookish Top Ten. Sebetulnya, ini udah meme ketiga. Tapi, Bunda baru posting yang kedua. Bulan lalu, Bunda ga ikutan. Antara kelupaan sama kehabisan ide, sebab, topiknya mengenai villain. Dan kalian tahu, Bunda takut dengan hal seperti itu.. :D

Tema Bookish Top Ten bulan ini adalah Best Book Covers. Hmm. Bunda suka banget topik ini. Karena, jujurly, Bunda penganut "judge the book by its cover" garis keras X)) Biasanya, Bunda pilih buku karena covernya dulu. Abis itu, biasanya nengok rating atau review orang lain mengenai buku yang Bunda pilih.

Oke. Jadi, cover buku apa aja yang bikin Bunda tertarik baca? Here we go! Ini Bunda ambil secara acak, ya....


Letters to Sam - Daniel Gottlieb



The Evolution of Calpurnia Tate - Jacqueline Kelly
Eleanor & Park - Rainbow Rowell
Train Man - Hitori Nakano

Blue Romance - Sheva
One Amazing Thing - Chitra Banerjee Divakaruni

To Kill A Mockingbird - Harper Lee
Jake and Lily - Jerry Spinelli
Anna and the French Kiss - Stephanie Perkins

Inside Out and Back Again - Thanhha Lai
Sebetulnya, masih banyak buku-buku yang Bunda tahu dan kepincut karena covernya yang unyu. Tapi, berhubung tante Yuska Lust and Coffee cuma nyuruh ngasih tau sepuluh aja, ya segitu aja. Sekali lagi, ini random, ya. Bukan urutan mana terbaik menurut Bunda. 

Teman-teman Bunda pengen menyuarakan juga 10 best book covers menurut kalian? Tengok sini aturan mainnya... 

Cheers!

Love you both,
Terusin baca - Bookish Top Ten #3 Best Book Covers

9 Okt 2013

Wishful Wednesday #24





Salam hari Rabu! Salam Wishful Wednesday!
Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Tadi pagi, begitu Bunda sampai di kantor, ada koran Pikiran Rakyat yang baru datang. Jarang, sih, Bunda baca koran. Hanya saja, tadi Bunda ingin duduk sejenak menikmati baca koran. Walau hanya baca satu rubrik aja, agri bisnis yang lagi bahas mengenai peternakan sapi. Salut pada semua wartawan koran yang sanggup merangkum berita sebanyak itu untuk dimuat dalam koran dan terbit harian. *menjura*

Lah? Lalu, "wish" Bunda koran? Hahaha. Bukan! Di koran tadi, setelah baca rubrik Agri Bisnis, Bunda lihat-lihat halaman lain dan menemukan ada rekomendasi buku. Salah satunya buku yang bikin Bunda jadi ngiler. Hahaha. Salahin desainer kavernya deh. Dia yang bikin Bunda kepingin :P

Jadi, Bunda pengen buku apa?

Tadaaaa....


Jadi, setelah lihat di koran, Bunda iseng ngubek Train Man di Goodreads. Di sana diceritakan:


Berdasarkan statistik, cowok otaku akan menyerah saat jatuh cinta pada cewek sungguhan. Apalagi kalau cewek itu berkali-kali lipat lebih baik darinya.

Mereka juga putus asa.

Namun, Pria Kereta Api tidak begitu. Saat jatuh cinta dengan gadis yang ditolongnya, dia langsung main ke sebuah forum internet untuk meminta dukungan. Untungnya, teman-temannya di dunia cyber baik-baik dan sangat bersemangat.

Mereka memberi tips-tips pada Pria Kereta Api agar dia bisa bersatu dengan gadis itu.

Masalahnya, terkadang tips-tips itu agak aneh dan diusulkan para jomblo yang tidak berpengalaman. Berhasilkah Pria Kereta Api meluluhkan hati gadis cantik yang perlahan-lahan mengubah hidupnya?


Sebagai cewek semi otaku yang pernah "berurusan hati" dengan seorang otaku sejati, Bunda merasa perlu baca buku ini. Ha. Ha. 



Seperti biasa, kalo teman Bunda mau ikutan meme Wishful Wednesday...
  1. Silakan follow blog Books To Share    
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!    
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)
Terusin baca - Wishful Wednesday #24

4 Sep 2013

Wishful Wednesday #20


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Salam hari Rabu! Salam Wishful Wednesday!

Wah, ga kerasa, ini sudah meme yang ke-20. Ternyata lumayan "berat" juga ya, buat tetap konsisten itu :D

Seperti bunyi hukum 1 Newton tentang gerak:

setiap benda akan memiliki kecepatan yang konstan kecuali ada gaya yang resultannya tidak nol bekerja pada benda tersebut. Berarti jika resultan gaya nol, maka pusat massa dari suatu benda tetap diam, atau bergerak dengan kecepatan konstan (tidak mengalami percepatan).

Yang Bunda rasakan, kalo Bunda menulis postingan,  Bunda akan mengalami kecepatan konstan, yaitu rutin menulis. Misalnya meme Wishful Wednesday ini. Bunda akan mengusahakan buat menulisnya setiap hari Rabu, apapun kendalanya. Terus, untuk posting review, misalnya, kalo ada sesuatu yang menggerakkannya sehingga bisa lebih sering posting, berarti ada resultan gaya yang tidak nol bekerja pada pikiran kita untuk lebih sering mereview dan kecepatan membacanya meningkat. 

Bila yang terjadi sebaliknya, yaitu resultan gaya nol, alias rasa malas posting muncul dan dipelihara, posting akan mandek. Atau, alibi lain, deh. Misalnya, karena ada liburan dan hal-hal lain yang menyebabkan Bunda absen ngisi meme, otomatis pas memulai hari Rabu yang baru agak canggung lagi, karena mulai dari awal lagi.

Itu pula yang terjadi pas mau ikut meme SoT (Scene on Three-nya tante Bzee). Postingnya setiap tanggal yang mengandung angka 3. Terus, karena belum pernah memulai, ya, kelupaan terus. Berarti resultan gaya untuk keinginan posting meme SoT tersebut masih NOL.

SIGH!

Bunda ngomong apa, sih? Bukannya mau bahas meme Wishful Wednesday? X))

Baiklah, ga panjang bicara lagi, untuk posting Wishful Wednesday ke-20 ini, Bunda pengen:





Bunda pernah ketemu sama om Waditya di salah satu acara kopdar SMAN 2 Bandung Outsiders. Kan, beliau suami tante Arie, adik kelas Bunda. Ah, ngomong-ngomong, jadi kangen ngobrol nyablak lagi ama tante Arie. Udah jadi seleb sekarang... Hehehe...

Sebelum jadi suami tante Arie, Bunda udah tau sih, tentang Kementerian Desain Indonesia. Suka juga sama Helo Motion-nya. Kadang pengen ikutan... tapi... ah... #hilangsinyal

Nah... balik lagi ke keinginan Bunda, pengen banget buku ini. Kangen ngakak baca-baca komik konyol om Waditya yang dulu sering diposting pesbuk :D

So? Ada yang mau ngadoin ini buat Bunda? Dalam rangka apa aja, deh. Yang penting ngadoin :D


Seperti biasa, kalo teman Bunda mau ikutan meme Wishful Wednesday...
  1. Silakan follow blog Books To Share    
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!    
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)
Terusin baca - Wishful Wednesday #20