Tampilkan postingan dengan label buku 2010. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku 2010. Tampilkan semua postingan

20 Feb 2012

Twenties Girl




Judul: Twenties Girl
Penulis: Sophie Kinsella
Diterbitkan oleh: The Dial Press
e-book
eISBN: 978-0-440-33880-2
First Edition, July 2009
Young women fiction, Ghosts Fiction, Treasure troves Fiction
409 halaman
4 dari 5 bintang



Lara Lington has always had an overactive imagination, but suddenly that imagination seems to be in overdrive. Normal professional twenty-something young women don’t get visited by ghosts. Or do they?

When the spirit of Lara’s great-aunt Sadie—a feisty, demanding girl with firm ideas about fashion, love, and the right way to dance—mysteriously appears, she has one request: Lara must find a missing necklace that had been in Sadie’s possession for more than seventy-five years, because Sadie cannot rest without it.

Lara and Sadie make a hilarious sparring duo, and at first it seems as though they have nothing in common. But as the mission to find Sadie’s necklace leads to intrigue and a new romance for Lara, these very different “twenties” girls learn some surprising truths from and about each other. Written with all the irrepressible charm and humor that have made Sophie Kinsella’s books beloved by millions, Twenties Girl is also a deeply moving testament to the transcendent bonds of friendship and family
. (dari Random House Publishing)

Halo, kakak Ilman dan adek Zaidan...

Akhirnya, bunda selesaikan juga baca kisah Lara Lington dan guardian angel-nya, Sadie Lanchester. Perlu waktu sebulan lebih buat beresin bacanya. Awalnya sempet mogok karena kaget. Ih! Kok, ada hantunyaaaa!! Kalian kan tahu, bunda benci banget cerita berhantu. Hehe.. Tapi, trus, rasa penasaran menggelitik bunda buat nerusin baca. Toh, di buku Harry Potter Saga dan The Secret of The Immortal Nicholas Flamel juga ada hantunya. Lagian, kan, genre tulisan Sophie Kinsella tuh chicklit. Ga mungkin jadi cerita horor, laaah... Hahahaha...

Awalnya mau baca buku ini, karena ada tantangan baca buku bareng awal tahun 2011. Deadline-nya bulan Juni apa, ya? Tapi, yah, karena kesibukan bunda sebagai ibu baru lagi waktu adek lahir, tentu bunda ga bisa seenaknya aja nyempatin baca, sementara adek meraung-raung minta didekap atau diurusin. Hihi...

Oke, jadi, buku ini awalnya cerita tentang pemakaman great aunt-nya Lara Lington, Sadie Lanchester,  yang meninggal di usia 105 tahun. Di pemakaman ini, cuma hadir Lara, Mom, dan Daddy-nya. Sementara, adik Daddy-nya, Uncle Bill, seorang pebisnis terkenal yang punya Lington Coffee yang tersebar di seluruh Inggris juga prinsip marketing Two Little Coins yang sangat terkenal itu juga hadir sama istri dan anaknya, Diamante. Nggak kayak pemakaman pada umumnya, di pemakaman Sadie sama sekali nggak banyak tamu, bunga, dan sepi banget, deh. Bahkan, nih, Lara sama sekali nggak kenal sama great aunt-nya semasa hidup. Udah gitu, Lara sempat salah masuk pemakaman. Dia masuk ke pemakaman yang dipenuhi orang gitu.

Lara sedang duduk sendirian sewaktu upacara akan dimulai, tiba-tiba dia denger suatu suara yang nanyain, "where's my necklace?". Awalnya, Lara pikir itu ibunya. Tapi ekspresi ibunya nggak nunjukkin kalo ibunya lah yang nanyain kalung ke dia. Diabaikan, malah nanya melulu, sampe akhirnya Lara nanya ke ibunya, apakah ibunya dengar sebuah suara?

Trus, yang bikin bunda sempet nyaris melempar si e-book reader bunda itu adalah, waktu di situ diceritain ada tangan pucat menepuk pundak Lara, dengan pertanyaan yang sama. Hihihi. Ketauan, kan, penakutnya bundaaaa... Soalnya bacanya pas tengah malem, udah pada sepiiii... Kalian sama papa udah pulas. Yangti, yangkung, om sama aunty pasti udah pada wisata ke alam mimpi.

Selanjutnya, entah gimana, akhirnya Lara berteriak minta upacara pemakaman ditangguhkan. Dia sempet bilang, kalo ada sesuatu yang salah dengan kematian great aunt-nya itu. Yakni dibunuh. Bisa ditebak, Lara akhirnya berurusan dengan kepolisian.

Sejak saat itu, arwah Sadie Lanchester alias great aunt-nya, ngikutin Lara terus. Di sisi lain, kehidupan Lara nggak gitu baik. Dia baru putus sama pacarnya, Josh. Trus, di kantor, tiba-tiba partner kerjanya, Natalie, melarikan diri di saat genting. Lara yang kerja sebagai headhunter kena damprat dari perusahaan yang butuhin tenaga. Jadilah Lara yang harus menyelesaikan berbagai masalah di kantornya.

Meski kadang Sadie ini merepotkan, tapi Sadie sering banget membantu Lara juga. Ada kisah yang kemudian mengubah hidup Lara. Jadi, pas lagi menginvestigasi sebuah kantor yang katanya nggak boleh bawa anjing ke tempat kerja, padahal ada anjing di situ, Sadie nemuin cowok bernama Ed Harrison dan minta Lara kencan buat Sadie. Kebayang, nggak, sih, Lara belum pernah kenal sama Ed, tahu-tahu disuruh kencan buta gitu. Dan, untuk ngajak kencan si Ed ini, Lara masuk ke sebuah conference room. Begitu selesai acara, Lara dipaksa Sadie buat ngajak kencan Ed, di depan semua orang. Haduuuh...

Dan untuk berkencan sama Ed, Sadie minta Lara berdandan ala gadis tahun dua puluhan. Ed ini ternyata orang Amerika yang sedang bertugas di Inggris. Di sisi lain, Lara minta Sadie untuk membujuk Josh kembali ke Lara, yang akhirnya Lara sadar, bahwa Josh nggak pernah mencintainya, meskipun akhirnya mereka udah balikan lagi.

Trus gimana nasib Lara berikutnya? Bisa ditebak, sih, kalo Lara akhirnya jadian sama Ed. Tapi, di sini konfliknya. Tentu saja Sadie marah besar, karena ia merasa dikhianati. Sadie pun minggat. Nah, karena Lara udah mulai sayang banget sama Sadie, Lara berniat mencari Sadie, ke manapun Sadie mungkin berada. Dan di pencarian inilah, akhirnya ketahuan siapa sebenarnya Sadie dan bagaimana berartinya seorang Sadie Lanchester terhadap dunia. Dan ketahuan juga, rahasia terbesar Uncle Bill di balik kesuksesannya.


Review bunda begini:
Bunda baca buku ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan cover.  Biasanya, kan, bunda tertarik baca buku, awalnya karena covernya bagus, reviewnya bagus, bla bla bla. Berhubung ini versi e-book (lagi-lagi berupaya keras memberdayakan si iRiver kesayangan), bunda nggak tahu covernya gimana. Soalnya kan layarnya hitam putih. Hehe.


Bunda baca Twenties Girl karena pengen ikut baca bareng ala Bookstalker. Meski deadline-nya Juni 2011, tapi nggak menyurutkan bunda buat baca sekarang. Nah, si iRiver sempet nyaris bunda lempar, gara-gara takut, ini buku ada hantunya. Hahaha.


Selama hampir sebulan, hari-hari bunda waktu di angkot atau memerah ASI di kantor, ditemani sama Lara Lington dan Sadie Lanchester. Nggak seperti karakter rekaan Sophie Kinsella pada umumnya, Lara Lington ini bukan tipe yang grasa-grusu. Okelah, dia suka berbuat bodoh, salah satunya karena masih tergila-gila sama Josh sampe nyuruh Sadie ngebuntutin dia. Tapi, dia sebetulnya menarik dan menyenangkan. Jadi, ya, bunda sayang sama Lara Lington ini.


Trus, soal Sadie. Sadie pernah curhat sama Lara, kalo dia ini selama masa hidupnya nggak pernah ngasih arti buat orang lain. Dan dia sedih banget waktu tahu pemakamannya (yang ditunda itu) nggak dihadiri banyak orang. Tapi dia lalu mengagumi dirinya sendiri, waktu tahu, bahwa sebetulnya Sadie banyak dipuja orang. Dan Sadie ini beneran hantu menjelang dewasa yang menggemaskan dengan gaya twenties-nya.


Kalo tentang alur ceritanya sih, sempet bosen pas di bagian awal cerita. Tapi terus bunda cobain aja nerusin baca, sampai akhirnya nemuin apa yang asyik di buku ini. 

Jadi, waktu Lara sedih berpisah dengan Sadie, bunda juga ikut sedih karena harus berpisah dengan cerita ini yang udah hampir sebulan lebih nemenin bunda. Cerita ini layak dapat 4 bintang dari bunda. Ma kasih, Sophie Kinsella!



Terusin baca - Twenties Girl

13 Jan 2011

Tumbuh di Tengah Badai


Tumbuh di Tengah Badai
Penulis: Herniwatty Moechiam
Penyunting: Gunawan BS
Perancang Sampul: Tyo
Pemeriksa Aksara: Kus Wardani
Penata Aksara: Sih Gagas dan Anya
Cetakan I, April 2009
Diterbitkan oleh: Penerbit Bentang
xii + 236 hlm; 20,5 cm
ISBN: 978-979-1227-56-8
Memoar

Hati ibu mana yang tak hancur saat mengetahui anaknya tak mungkin tumbuh normal seperti anak-anak lainnya? Catra didiagnosis autis, sebuah gangguan perkembangan yang belum dikenal luas pada masa itu. Di saat anak-anak lain mulai berinteraksi, dia malah sibuk dengan dunianya sendiri, sebuah dunia yang tak bisa dimasuki orang lain, tak terkecuali ibu yang telah melahirkannya.

Saya kenal dengan penulis buku ini lewat sebuah aplikasi game di jejaring sosial. Kebetulan, beliau adalah tante dari ibutio. Kenal sama nini, begitu saya menyebut beliau, gara-gara sama-sama menyukai aplikasi game di jejaring sosial itu. Difasilitasi chat box di game itu, saya mulai berinteraksi dengan nini.

Nini banyak bercerita tentang pengalamannya membesarkan putranya yang kini kuliah di Yogyakarta. Bukanlah suatu hal yang mudah, mengingat di sana, anaknya seorang diri dengan keadaannya yang autis, sementara nini di Bekasi. Itu membuktikan, bahwa nini sudah berhasil menjadikan Catra sebagai anak autis yang mandiri.

Jangankan punya anak autis, punya anak normal aja sering kali orangtua mengurut dada. Apalagi punya anak autis atau anak-anak berkebutuhan khusus lainnya. Ya tenaga, ya tangki kesabaran, ya materi, ya waktu dan lainnya, mesti senantiasa diupgrade.

Banyak hal yang saya dapatkan setelah membaca buku ini. Mulai dari gejala-gejala autis, bagaimana menghadapi reaksi orang lain, belum lagi minimnya dukungan dari keluarga dan suami. Menurut saya, nini adalah perempuan super. Dengan segala hal yang dihadapinya, nini masih sanggup bertahan.

Yah, saya mengamini apa yang dikatakan Farhan ketika mengomentari buku ini. Pengalaman orang lain adalah pelajaran yang paling berharga. Apapun kondisi anak, orangtua harus kompak dalam segala halnya. Ma kasih, nini, udah berbagi dengan kami. Bintang 4 buat nini.
Terusin baca - Tumbuh di Tengah Badai

3 Agu 2010

Ocehan Si Mbot - Gilanya Orang Kantoran


Ocehan Si Mbot: Gilanya Orang Kantoran
Penulis: Agung 'Si Mbot' Nugroho
Penyunting Isi: Isman H. Suryaman
Copyright (c) 2008 Agung Nugroho
Diterbitkan pertama kali oleh PT Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 242 halaman, xxviii
ISBN: 978-979-22-4046-7
NONFIKSI


Sebelumnya, memang udah sering baca blognya dan nggak pernah bosan baca apapun yang ditulisnya di blognya. Selalu aja ada sesuatu yang nggak pernah kepikiran (olehku, tentunya) bisa jadi bahan tulisan buatnya.

Sewaktu orang yang bersangkutan promosiin bukunya, saya sudah yakin akan ada beberapa tulisan di blognya yang pasti masuk bukunya. Tapi, tetep nggak akan menyesal baca bukunya, walau sudah pernah baca di blognya. Hihihi. Terlebih, saya kenal dan pernah ketemu dengan istrinya, pernah pesan Amris buatannya, sebelum kotakkue ada. Anaknya juga pernah "ngobrol" sama ilman. Hahaha, beneran detail nggak penting, nih!

Saya dapat buku asli, bukan bajakan, beli lewat penulisnya. Dapat pin dan ditanda tanganin sama penulisnya. Heuheu. Buku ini udah ada di tangan saya sejak tahun 2008, tapi saya baru baca bulan Juni 2010, karena buku ini sempat diembat adik saya dan disandera sekian bulan lamanya.

Sebetulnya, saya nggak begitu suka dengan pemilihan judul "Gilanya Orang Kantoran" karena terdengar lebay. Tapi, ya sudahlah. Itu nggak begitu mengganggu sewaktu sudah baca isinya.

Oke, mari kita mulai jelajah buku ini.

Buku ini dibagi atas beberapa bagian, mulai dari Lobi, Kubikel sampai Rumah. Keseluruhannya cerita tentang kantoran? Nggak juga. Tapi, saya rasa, apa yang dialami Mbot, mungkin agak-agak mirip dengan apa yang dialami sebagian besar orang kantoran lainnya.
Nggak ada satu judulpun dari tulisannya yang nggak membuat saya ngakak sampai keluar air mata. Ini saya, lho. Nggak tahu dengan pembaca lainnya. Saya nggak terpengaruh testimoni pembaca atau blogger lain yang ada di bagian depan. Saya sudah membuktikannya jauh sebelum buku ini lahir.

Di bagian Lobi, di sini kita akan menemukan realita hidup seperti tanda-tanda ketuaan. Itu, lho, kalo kita merasa teramat sangat bahagia kalo kita disangka masih lebih muda dari umur kita yang sebenarnya. Walaupun cuma dianggap lebih muda beberapa jam. Di sini juga akan kita temukan tips-tips bagaimana menghadapi wawancara kerja. FYI, Mbot adalah sarjana psikologi. Jadi, dia sudah sangat tahu etika wawancara kerja. Apalagi dia udah sering dapat case untuk rekrutmen.

Di bagian Tangga dan Lift, ada banyak kekonyolan-kekonyolan yang mungkin "luput" dari perhatian kita. Seperti orang yang lagi telponan, entah itu selingkuh entah pacaran beneran. Cuma dari cara ngomongnya itu, keliatan takut terdengar orang lain. Hihihi. Ada quote menarik di sini, "Sebuah hukum alam yang berlaku di mana pun: orang yang sedang curiga selalu lebih awas daripada orang yang santai-santai aja."
Dan nggak ketinggalan juga, masih di bagian ini, gimana "duka"nya seorang sarjana psikologi, yang sekolah susah-susah buat jadi tukang psikologi, setelah lulus dan bekerja, ternyata kerjanya "cuma" ngisi air ke dalam balon.

Di bagian Kubikel, akan kita temui istilah "Stapler" yang mungkin pernah kita temui di forwardan email sekitar tahun 2005-2006 dulu. Di forward itu, sama sekali nggak ada nama penulis aslinya. Yah, dialah, Agung Nugroho yang menulis tentang istilah Stapler dalam bahasa Indonesia itu.

Di bagian Jalan Raya, kita akan temui suka duka jadi anggota Bike 2 Work atau ide Carpooling.

Di bagian Rumah, akan kita temui sindiran-sindiran soal alasan bolos karena long weekend dan masih banyak lagi.

Segitu aja? Tentu tidak. Masih banyak lagi yang menarik di buku ini. Baca sendiri aja, deh, biar nemu sensasi sendiri setelah baca buku ini.

Yang pasti, sejak baca buku ini, saya mulai belajar menggunakan EYD bahasa Indonesia dengan baik dan benar, sesuai tuntunan. Kan, bangga sebagai bangsa Indonesia. :D

Oya, kalo lihat di blognya, banyak tulisan-tulisan baru yang layak jadi buku keduanya (menurut saya, sih). Semoga, memang ada niat Agung untuk membukukan tulisan-tulisan berikutnya. Karena banyak pelajaran dan tawa terurai yang saya dapatkan setelah baca tulisannya, saya ingin kasih Agung 5 bintang untuk Ocehan Si Mbot - Gilanya Orang Kantoran ini.

- peni -
Terusin baca - Ocehan Si Mbot - Gilanya Orang Kantoran