Diterbitkan oleh: Knopf Books for Young Reader, 14 Februari 2012
ISBN: 978-037-589-9881
Jumlah halaman: 314 halaman
Format: e-book
Bahasa: Inggris
Genre: Young Adult, Realistic Fiction, Childrens - Middle Grade, Fiksi Kontemporer, Book Club, Family, Academic, Young Adult - Teen
Status: Punya. Dan pengen punya paperbacknya
I won't describe what I look like. Whatever you're thinking, it's probably worse. August
Pullman was born with a facial deformity that, up until now, has
prevented him from going to a mainstream school. Starting 5th grade at
Beecher Prep, he wants nothing more than to be treated as an ordinary
kid—but his new classmates can’t get past Auggie’s extraordinary face. WONDER, now a #1 New York Times
bestseller and included on the Texas Bluebonnet Award master list,
begins from Auggie’s point of view, but soon switches to include his
classmates, his sister, her boyfriend, and others. These perspectives
converge in a portrait of one community’s struggle with empathy,
compassion, and acceptance. (dari Goodreads)
Lalu Bunda mulai baca. Sayangnya, nggak seperti yang diperkirakan. Adaaaa aja distraksi yang membuat Bunda lama banget menyelesaikan baca buku ini. Jadi semakin mempertanyakan kemampuan Bunda dalam membaca sepanjang tahun ini. Turunnya kok makin mengenaskan begini, ya? #iyainicurhat
Oke, seperti kata sinopsis di atas, buku ini bercerita tentang August Pullman atau Auggie, yang mengalami deformed face sejak lahir. Walau sudah dilakukan banyak operasi untuk memperbaiki bentuk wajahnya, tetap saja dia mirip alien. Membuat semua orang yang melihatnya pertama kali takut. Dan buku ini bercerita tentang pengalaman Auggie memasuki middle school, yang mana ini pertama kalinya Auggie masuk ke sekolah resmi. Sekolah di mana ada gedung berisikan ruang kelas, auditorium, laboratorium, loker, kantin, guru, kepala sekolah, teman-teman sekelas, dan masih banyak lagi.
Sebelumnya, Auggie bersekolah di rumah alias home schooling. Ibunya yang menjadi gurunya. Auggie terpaksa home schooling karena jadwal operasinya yang memakan waktu sekolah. Meski begitu, Auggie bukan anak yang bodoh. Dia bahkan tertarik pada science subject.
Sebagai anak dengan deformed face, tentu dia mengalami banyak hal. Terutama reaksi orang-orang sekitar setiap melihat wajahnya. Dan Auggie sebetulnya sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Tepatnya, dia berusaha membiasakan diri. Auggie punya kakak, ibu, dan ayah yang sayang padanya. Dan itu bisa menjadi salah satu kekuatan Auggie menghadapi semuanya.
Buku ini disampaikan dalam berbagai PoV. Baik itu dari sisi Auggie sendiri, Via (kakak Auggie), Justin (pacar Via), Miranda (sahabat Via), Jack (teman sekelas Auggie), juga Summer (teman sekolah Auggie yang sering bersamanya di saat istirahat makan). Masing-masing PoV terkait satu sama lain, tapi alurnya ga terlalu jauh mundur, sehingga meski buku ini mirip puzzle, kita tetap bisa menikmati buku ini, walau berbeda sudut pandang.
Di sini diceritakan gimana pertama kalinya Auggie ditawari untuk bersekolah di sekolah formal oleh orangtuanya. Kita bisa merasakan kegalauannya. Kekhawatirannya untuk menapaki dunia baru. Pengalaman hari pertama di sekolah barunya. Gimana perasaannya sewaktu dia menemukan fakta bahwa orang yang dia kira best friend-nya ternyata bersandiwara. Cuma suruhan Mr. Tushman, kepala sekolahnya.
Semua karakter di buku ini adorable. Auggie yang bikin Bunda pengen meluk. Mom dan Dad-nya yang keren. Via yang yeah, meski abege dan sempat labil, tapi dia kakak penyayang. Daisy, anjing mereka yang adorable. Justin yang ternyata punya sifat melindungi. Summer yang unyu. Jack yang setia. Mr. Tushman yang wow! Beliau ini mengingatkan Bunda pada pak Kobayashi di cerita Totto Chan.
Meski begitu, nggak semua karakter di sini adorable, sih. Ada Justin dan ibunya yang bikin pengen lemparin kulit pisang. Ke ibunya, sih. Soalnya, ibunya Justin ini ngingetin Bunda ke Malcius Malfoy. Kenapa, ya, dewan sekolah itu, kok, isinya orang songong semua? Atau karena mereka songong, makanya dijadiin dewan sekolah? Kalo ya, crap banget!
Ada anak bernama Eddie yang perlu diajari sopan santun. Perlu diajari empati. Kemungkinan besar, dia berasal dari keluarga yang nggak pernah punya kasih sayang di dalamnya. Karena, untuk menumbuhkan empati pada orang lain, harus dibangun di dalam keluarga dulu. Keluarga itu rumah segala perasaan, kok...
Setiap chapter dalam buku ini hanya satu-tiga halaman. Nggak lebih. Dan ini yang membuat cerita mudah dicerna. Penggunaan kalimatnya nggak bertele-tele. Meski to the point, cara penceritaannya berhasil membangun emosi pembaca. Nggak salah emang, kalo buku ini memenangkan berbagai award. Karena emang buku ini keren banget. Dapet banget emosinya. Dan ada banyak quote yang pantas menenangkan hati kita.
Ini Bunda kumpulin quote-nya. Bunda mau bikin bookmark dengan quote ini.
The things we do are like monuments that people build to honor heroes
after they've died. They're like the pyramids that the Egyptians built
to honor the pharaohs. Only instead of being made out of stone, they're
made out of the memories people have of you. That's why your deeds are
like your monuments. Built with memories instead of with stones. - Auggie
"Sometimes you don't have to mean to hurt someone to hurt someone", said Veronica, Jack's baby sitter
Do people look the same when they get to heaven?"
“I don’t know, sweetie.” She sounded tired. “They just feel it. You
don’t need your eyes to love, right? You just feel it inside you. That’s
how it is in heaven. It’s just love, and no one forgets who they love.
Dan masih ada lagi. Nanti Bunda masukkan ke bookmark dan Bunda jadiin freebies ^_^
Akhirnya, nambah satu lagi, deh, wish list Bunda. Worth it to collect, kok. Walau kavernya (meski representatif) kurang catchy :D
Tentang penulis:
R.
J. PALACIO lives in NYC with her husband, two sons, and two dogs. For
more than twenty years, she was an art director and graphic designer,
designing book jackets for other people while waiting for the perfect
time in her life to start writing her own novel. But one day several
years ago, a chance encounter with an extraordinary child in front of an
ice cream store made R. J. realize that the perfect time to write that
novel had finally come. Wonder is her first novel. She did not design
the cover, but she sure does love it. (copas dari Goodreads)
Judul: There's a Wocket in My Pocket - Dr. Seuss' Book of Ridiculous Rhymes
Penulis: Dr. Seuss
Diterbitkan oleh Random House, 1974
ISBN: 0-679-88283-9
ISBN13: 978-0679-882-831
HARDCOVER
36 halaman, ukuran buku saku
Status: PUNYA, beli seken di Lulu
A host of inventive creatures help beginning readers recognize many common "household" words. (kata Goodreads)
Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Whoaaaa! Akhirnya, Bunda "berhasil" juga ikut posting bareng BBI di tahun 2013 ini setelah beberapa bulan "lolos". Soalnya, temanya agak "enteng" yang ini. Posting bareng buku anak. Meski latar belakangnya buku favorit sewaktu anak-anak dulu, nggak menggoyahkan buat Bunda tetep posting, meski pas Bunda kecil dulu, Bunda sama sekali nggak kenal Dr. Seuss :D
Jujur, Bunda tahu Dr. Seuss karena bergabung dengan BBI. Dari sana kan Bunda jadi sering lihat-lihat buku apa aja yang ditawarin buat nitip beli atau ada yang jual seken. Pertama kali tahu Dr. Seuss dari cerita The Cat in the Hat (nanti Bunda tulis review bukunya yang udah Bunda baca) di sebuah situs PBS. Karena penasaran, kenapa The Cat in the Hat - Dr. Seuss ini dibuat film kartun dan sampai ada gamenya di situs itu, akhirnya Bunda mulai mencari buku-buku Dr. Seuss.
Sampai akhirnya, Bunda ketemu buku yang satu ini! Bunda langsung gedebuk in lap sama buku ini! Ridiculous rhymes-nya beneran ridiculous! T.O.P banget, dah! Hahaha... rhyming-nya pas banget! Dan beliau, Dr. Seuss ini, created karakter-karakter yang nyambung dengan benda-benda yang ada di dalam rumah, sekaligus sifat masing-masing dari mereka. Meski maksudnya menemukan sesuatu yang berima, Bunda menemukan satu sisi kehebatan dari "ridiculous rhyme" ini. Anak belajar kata!
Misalnya aja, dibuat karakter Bofa yang duduk di Sofa. Di sana digambarin Bofa ini suka baca dan ga peduli sama kita yang pencilakan di sekitarnya. Tetep aja asik baca.
Bunda tahu, sebagian besar anak-anak di luar negeri punya teman khayalan dengan berbagai bentuk. Nah, karakter teman khayalan yang di-create oleh Dr. Seuss ini, rata-rata berbulu. Cocok lah ama karakter-karakter di Monster Inc. Nyaman, empuk, nggak bikin anak-anak takut. Mestinya, sih.
Nah, entah, deh, kalo anak-anak Indonesia punya teman khayalan, bakalan kayak apa, ya? Kok, kalo dari cerita temen Bunda, yang semasa kecilnya suka ada yang ngikutin, penampakan mereka seram gitu. Hiiyyy! >_<
Semoga kalian nggak pernah punya teman khayalan yang menyeramkan!
Bunda pernah punya teman khayalan? Nggak, sih. Paling Bunda membayangkan lagi ngobrol sama teman-teman Bunda aja. Seperti itulah. :D
Terus, karakter apa yang paling Bunda suka di buku ini? Cuma tiga. Tiganyanya nyata banget bikin nyaman kalo tidur #eh
"And when I hear a TOCK, I know a ZLOCK's behind the CLOCK"
"But the BOFA on the SOFA acts as if he doesn't care"
"But the ZILLOW on my PILLOW always helps me fall asleep"
Sudah tahu, kan, yang mana karakter favorit Bunda? Hati-hati membedakan, mana kata benda dan mana karakter favorit Bunda di buku ini... ;)
Eniwei baidewei baswei...
Bunda membacakannya dan direkam di Soundcloud. Ada backsound adek ngakak-ngakak pas ngedengerinnya. Bunda sebenernya bingung. Adek kenapa ketawa? Pilihannya:
#1 Cara Bunda bacain emang lucu
#2 Adek sudah paham apa yang Bunda katakan (sounds impossible, mengingat Adek baru berumur 2 tahun)
#3 Karena rhyming lalu terdengar lucu?
#4 Entahlah....
Mau membuktikan Adek ketawa? Silakan cek di link ini....
All in all, Bunda sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali buku ini! Ukurannya kecil, warnanya kuning ngejreng, terus, kata dalam berima-nya..... TOP banget! Wajar, kan, kalo Bunda kasih 5 bintang buat buku ini? ;)
Customer (holding up a
book): What’s this? The Secret Garden? Well, it’s not so secret now, is
it, since they bloody well wrote a book about it!
Weird Things
Customers Say in Bookshops was a Sunday Times bestseller, and could be
found displayed on bookshop counters up and down the country. The
response to the book from booksellers all over the world has been one of
heartfelt agreement: it would appear that customers are saying bizarre
things all over the place - from asking for books with photographs of
Jesus in them, to hunting for the best horse owner’s manual that has a
detailed chapter on unicorns.
Customer: I had such a crush on Captain Hook when I was younger. Do you think this means I have unresolved issues?
More
Weird Things Customers Say in Bookshops has yet more tales from the
antiquarian bookshop where Jen Campbell works, and includes a selection
of ‘Weird Things...’ sent in from other booksellers across the world.
The book is illustrated by the BAFTA winning Brothers McLeod. (dari Goodreads)
ALERT:
REVIEW (ATAU BUKAN REVIEW?)
INI ISINYA CUMA SPOILER
*maaf*
Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Sekarang hari ke-15 bulan Ramadhan. Udah separuh bulan Ramadhan. Duh, tadarus Bunda tersendat begini...
Oh, ya... Akhirnya, Bunda dapet juga sekuel dari buku Weird Things Customers Say in Bookshops. Buku pertama, dalam format e-book yang Bunda dapet, meski jarak font, dll-nya bikin jereng, cukup sukses bikin Bunda ngekek-ngekek. Format ebook di buku kedua yang Bunda dapat, cukup beradab, lah... Yang jelas, bacanya ga pake perjuangan, selain kudu bisa bahasa Inggris. hihihi....
Buku ini terbagi atas tiga bagian. Eh, empat. Bagian pertama Introduction. Bagian kedua, tentang percakapan yang terjadi di Ripping Yarns Bookshop. Bagian ketiga, percakapan "weird" yang terjadi di bookshops lain. Dan bagian keempat, terakhir, adalah peristiwa celoteh orang-orang yang dateng saat acara Book Signings buku ini.
Menurut pendapat Bunda:
Kalo yang baca buku ini nggak pernah baca buku, nggak doyan Harry Potter atau nggak kenal dengan dunia imajinasi, maka buku ini adalah bacaan yang tidak mudah dipahami, tidak mudah dicerna. Jadi, untuk baca buku ini, haruslah punya wawasan cukup untuk bisa ngerti. Kenapa kesannya kayak baca buku yang satu itu, ya? X))
Sebab, buku ini emang bercerita tentang kelakuan aneh-aneh di sudut pandang bookseller. Jadi, wajar, kalo ada yang saking pengen merasa keren lalu baca buku ini, tapi dia nggak ngerti apa-apa, nggak tau di mana letak lucunya, bisa jadi, dia nggak pernah baca buku sebelumnya :D
Nah, apa yang bikin ngakak? Banyak. Sengaja Bunda ga pake tutup buka buat lihat spoilernya. Sebab, di atas udah dikasih tau bahwa review ini full of spoiler :D Atau sebenarnya ini bukan review? Reviewnya udah di atas. Cukup dua paragraf aja. Sisanya... Bunda suguhkan spoiler aja. Semoga berkenan :D
Di halaman pertama aja, udah nemu percakapan yang bikin pengen nejeh-nejeh customer :))
BOOKSELLER: Hi. Can I help you find anything?
CUSTOMER: Yes, Ths is your history section, right?
BOOKSELLER: Yep.
CUSTOMER: I can see you've got books on World War I and World War II.
BOOKSELLER: Yes, we do.
CUSTOMER: But I can't find any books on World War III. Where are those?
CHILD: Mummy, who was Hitler?
MOTHER: Hitler?
CHILD: Yeah. Who was he?
MOTHER: Erm, he was a very bad man from a long time ago.
CHILD: Oh. How bad?
MOTHER: He was like... he was like Voldemort.
CHILD: Oh! That's really, really bad.
MOTHER: Yes.
CHILD: (Pause) So, did Harry Potter kill Hitler, too?
CUSTOMER (picking up a copy of Little Women): Is this a book about really short people?
LITTLE GIRL (pointing at Dr. Seuss books): I made a hat for my cat, but he won't wear it. That book is full of lies.
CUSTOMER: I don’t like biographies. The main character pretty much always dies in the end. It’s so predictable!
WOMAN
(holding a copy of a Weight Watchers book in one hand, and The Hunger
Games in the other): Which of these dieting books would you recommend
most?
CUSTOMER: I really don’t like the planet today – can you recommend a book set far, far away?
CUSTOMER: Are you prepared?
BOOKSELLER: ... For what?
CUSTOMER: For the zombie apocalypse.
CUSTOMER: Do you believe in past lives? BOOKSELLER: Erm, well, I ... CUSTOMER: I do. I absolutely do. I feel very at one with everything. I’m pretty sure this is my seventh time on earth. BOOKSELLER: I see. CUSTOMER (looking pleased with herself): And I’m almost certain that in a past life I was Sherlock Holmes. BOOKSELLER: ... You know, Sherlock Holmes is a fictional character. CUSTOMER (outraged): ... Are you trying to tell me that I don’t exist? BOOKSELLER: ...
YOUNG GIRL (pointing to a cupboard under one of the bookshelves): Can you get to Narnia through there? BOOKSELLER: Unfortunately, I don’t think you can. YOUNG GIRL: Oh. Our wardrobe at home doesn’t work for getting to Narnia, either. BOOKSELLER: No?
YOUNG GIRL: No. Dad says it’s because Mum bought it at IKEA
CUSTOMER: Where are your books on war? BOOKSELLER:
They’ll be in with history. Our history section is split up into
British History, European History, American History and World History.
Which war are you looking for, specifically? CUSTOMER: I want a history
of the ongoing war between werewolves and vampires. BOOKSELLER: … CUSTOMER: Where would I find that?
Terus, ada juga yang paling epic dari semuanya...
YOUNG BOY: You should put a basement in your bookshop. BOOKSELLER: You think so? YOUNG BOY: Yeah. And then you could keep a dragon in it, and he could look after the books for you when you're not here. BOOKSELLER: That's pretty cool idea. Dragons breathe fire, though. Do you think he might accidentally burn the books? YOUNG BOY: He might, but you could get one who'd passed a test in bookshop-guarding. Then, you'd be OK BOOKSELLER: You know, I think you're on to something here.
---
Dan, kayaknya karena pas ditulis Fifty Shades of Grey - E.L James lagi marak, jadi sebagian besar isi percakapan mengenai buku itu. Di antaranya:
CUSTOMER: I'm looking for this picture book for my daughter. I read about it in a review somewhere, I think it's by someone called E. L. James.
BOOKSELLER: Erm, I don't think it was by that person; that's who wrote Fifty Shades of Grey.
CUSTOMER (going bright red and clutching her handbag, as though hiding something inside it): Oh! I don't know how that name cropped into my head, then, I've certainly never read any of those books! Never!
---
Terus ada yang curhat, dia ga mampu olahraga di sports club, minta ijin buat olahraga angkat beban pake buku-buku tebal yang ada di toko buku. Hadooooh! X))
Nah, ini pengalaman Jen Campbell pas acara book signings:
WOMAN: So. Are you the new J. K. Rowling then? You don't look like her. You've got different hair.
WOMAN (walks up to me, holding up a copy of Fifty Shades of Grey): Will you sign this for me?
ME: ... I didn't write that book
WOMAN: But the sign here says that you're signing books today.
ME: Yes... I'm signing the book that I wrote (indicates Weird Things...)
Nah... masih penasaran? Silakan dibaca bukunya. Syaratnya tetep satu: HARUS NGERTI BUKU biar tahu letak lucunya di mana :D
Oya, ini Bunda masukkan linky untuk yang mau posting review Books In English RC. Maaf, Bunda belum sempat blogwalk. Tapi kan kalo ada linky, Bunda bisa jalan-jalan jadinya nanti... :)
Despite the
tumor-shrinking medical miracle that has bought her a few years, Hazel
has never been anything but terminal, her final chapter inscribed upon
diagnosis. But when a gorgeous plot twist named Augustus Waters suddenly
appears at Cancer Kid Support Group, Hazel s story is about to be
completely rewritten.
Insightful, bold, irreverent, and raw, The Fault in Our Stars
is award-winning author John Green s most ambitious and heartbreaking
work yet, brilliantly exploring the funny, thrilling, and tragic
business of being alive and in love. (dari Goodreads)
Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Ini buku kedua di tahun 2013 ini yang Bunda selesai baca. Butuh waktu cukup lama buat bisa mencerna buku ini dengan "ekspresi datar". Sebab, buku ini sukses berat mengaduk emosi Bunda... Yah, kalian harus tahu, setiap baca buku yang mampu mengaduk emosi, Bunda suka tersendat bacanya...
The Fault In Our Stars bercerita tentang Hazel Grace yang menderita kanker paru-paru sejak berusia 13 tahun. Untuk menghadapi semuanya, Hazel ikut Cancer Kid Support Group, di mana dia berteman dengan Isaac yang sempat punya mata palsu sebelum akhirnya dioperasi dan menjadi buta total.
Dari pertemanannya dengan Isaac, dia bertemu dengan Augustus Waters yang punya kaki palsu. Gus ini anaknya menyenangkan, selalu bersikap positif.
Hazel memperkenalkan Gus pada buku kesayangannya, yang ditulis oleh Peter Van Houten, An Imperial Affliction. Buku ini bercerita tentang Anna yang berjuang dengan kanker hingga akhirnya meninggal. Sedemikian menyentuhnya buku ini, Hazel penasaran dengan apa yang terjadi dengan ibu Anna sepeninggal Anna. Hazel ingin tahu kelanjutan kisahnya. Dan dia pun menantikan sekuel buku itu. Berkali-kali Hazel mengirim surat pada Van Houten dan tidak pernah mendapatkan balasan.
Hingga suatu ketika, tanpa diduga, Augustus Waters mewujudkan impian Hazel untuk ketemu dengan Peter Van Houten, langsung ke Belanda! Padahal, untuk kondisi Hazel yang seperti itu, terbang ke Amsterdam kan persoalan besar. Dia sangat tergantung pada alat yang mengatur oksigen. Kalo terlepas atau berada di ketinggian tertentu, bukan tidak mungkin akan ada masalah dengan pernapasannya...
So, ini review Bunda tentang The Fault In Our Stars:
Cerita
Ceritanya keren. Menyentuh. Mengaduk emosi segala rasa.
Karakter
Bunda suka semua karakter yang ada di sini. Hazel Grace yang kuat, Augustus Waters yang selalu positif, Isaac yang pemberani. Orangtua Hazel juga Augustus yang penyayang dan tabah... Sungguh, mereka semua saling menguatkan.
Ada sih, satu tokoh annoying. Kehadirannya membuat cerita ini lebih kuat. Peter Van Houten.
Buku ini penuh drama. Mulai dari yang membuat geli, sedih, sekaligus haru. Jangan ditanya yang bikin nangis berapa scene. Tapi ada satu scene yang membuat Bunda sangat merasa dikeplak sekali lagi, buat bersyukur sama keadaan sekarang.
"I realized that I was the healthiest person in this room", kata Hazel Grace, sewaktu dia membantu membopong Augustus yang sudah mulai sangat lemah bersama Isaac yang sudah buta. Meski dalam keadaan "sekarat" pun, Hazel masih merasa bahwa dialah yang tersehat di ruangan itu, bersama Isaac dan Augustus yang sudah semakin lemah.
Oya, Bunda jadi ingat sesuatu...
Salah satu kenalan kita, bu Sofyan, juga menderita tumor di payudaranya. Kakak sama Adek sering ke rumahnya, karena di sana, beliau buka toko kecil di mana kalian suka sekali bawa oleh-oleh dari sana. Sampai beberapa waktu sekarang ini, saat Bunda menulis review ini, toko bu Sofyan tutup, karena kondisi Bu Sofyan yang udah semakin menurun... >_<
Kalo dari cerita Yangti, secara psikis, bu Sofyan udah kehilangan semangat hidup. Bunda juga jadi ingat cerita tetangga sewaktu Bunda hadir di pengajian Sabtu malam lalu. Gimana ayah salah satu tetangga kita juga menderita tekanan psikologis yang teramat dalam sewaktu mendapatkan diagnosa bahwa dia terserang stroke.
Bunda memang nggak pernah berharap akan mengalami sakit seperti ini. Tapi, kita nggak akan selalu berada di atas, nggak akan selalu hidup senang. Pasti akan mengalami rasa sakit, fisik atau pun di luar masalah penyakit badan, misalnya masalah kerjaan, rumah, apa pun itu. Bunda minta, setiap kalian menemukan orang-orang di sekitar kalian sedang "jatuh", kalian harus bantu membangkitkan rasa percaya dirinya. Dukung mereka, sesuai kemampuan kalian.
Sepertinya memang nggak mudah mengalami sesuatu yang sangat berat. Mungkin, penyakit yang diderita seseorang nggak terlalu parah. Tekanan psikislah yang mengakibatkan semuanya menjadi berat. Dan kalo udah gitu, cuma Allah-lah tempat kita bersandar...
Untuk buku ini, Bunda dengan senang hati kasih.... LIMA!
From the hugely popular blog, a miscellany of hilarious and peculiar bookshop moments: 'Can books conduct electricity?' 'My children are just climbing your bookshelves: that's ok... isn't it?'
A
John Cleese Twitter question ['What is your pet peeve?'], first sparked
the 'Weird Things Customers Say in Bookshops' blog, which grew over
three years into one bookseller's collection of ridiculous conversations
on the shop floor.
From 'Did Beatrix Potter ever write a book
about dinosaurs?' to the hunt for a paperback which could forecast the
next year's weather; and from 'I've forgotten my glasses, please read me
the first chapter' to'Excuse me... is this book edible?'
This full-length collection illustrated by the Brothers McLeod also includes top 'Weird Things' from bookshops around the world. (dari Goodreads)
Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Hei... sekarang sudah tujuh hari di tahun 2013. Dengan macam-macam niat baca yang sudah Bunda tuliskan juga. Semoga, tahun 2013 ini prestasi Bunda jauh lebih baik dibanding tahun lalu, yaaa...
Oya, Bunda mau buat challenge, ngadopsi dari challenge tante Melisa tahun lalu. Mungkin besok atau lusa baru akan Bunda post.
Ini adalah buku pertama yang Bunda kelarin bacanya. Hehehe... Senang, dong...
Sebetulnya, keriuhan buku ini sudah terjadi di akhir tahun lalu. Rame-rame baca di akhir tahun lalu. Terus terang, Bunda baru sempat bacanya... Tapi senangnya, akhirnya jadi buku pertama yang beres. Ini juga karena disambi baca buku-buku lainnya...
Buku ini cerita tentang apa yang suka ditanyain sama calon pembeli atau pengunjung toko buku bernama Ripping Yarn Bookshop. Banyak kisah lucu juga "menyedihkan". Menyedihkan itu maksudnya, ya, banyak yang keukeuh peuteukeuh bari jeung salah (banyak yang ngotot, tapi sok tahu).
Mungkin sebagai bayangan, Bunda copas aja spoilernya di sini, deh... :D
CUSTOMER: What kind of bookshop is this? BOOKSELLER: We're an antiquarian bookshop. CUSTOMER: Oh, so you sell books about fish.
CUSTOMER: Do you have a copy of Bella Swan's favourite book? You know, from Twilight? (Bookseller sighs and pulls a copy of Wuthering Heights off the shelf) CUSTOMER: Do you have the one twith the cover that looks like Twilight? BOOKSELLER: No. This is an antiquarian bookshop, so this is an old edition of the book. CUSTOMER: But it's still the one with that girl Cathy and the dangerous guy, right? BOOKSELLER: Yes, it's still the story by Emily Bronte. CUSTOMER: Right. Do you think they'll make it into a film? BOOKSELLER: They've made several films of it. The one where Ralph Fiennes plays Heathcliff is very good. CUSTOMER: What? Voldemort plays Heathcliff? BOOKSELLER: Well... CUSTOMER: But that's Edward's role. BOOKSELLER: Wuthering Heights was written well before both Harry Potter and Twilight. CUSTOMER: Yeah, but Voldemort killed Cedric, who's played by Robert Pattinson, and now Voldemort playing Edward's role in Wuthering Heights, because Edward's character is Heathcliff. I think that Emily Bronte's trying to say something about vampires. BOOKSELLER: ... that's £8. CUSTOMER: For what? BOOKSELLER: For the book. CUSTOMER: Oh, no, it's OK, I'm going to go and try and find the Voldemort DVD version.
CUSTOMER: Do you have any piano sheet music, but for guitars? BOOKSELLER: You mean, do I have sheet music for guitars? CUSTOMER: Yes.
CUSTOMER: Have you read every single book in here? BOOKSELLER: No, I can't say I have. CUSTOMER: Well you're not very good at your job, are you?
CUSTOMER: Do you have an easy version of Moonlight Sonata for piano? BOOKSELLER: We have box of sheet music by the music books section. I'll have a book. CUSTOMER: Thanks. BOOKSELLER: Yep. Here's a Moonlight Sonata for grade two. CUSTOMER: And that's easy? BOOKSELLER: Compared to the real thing, yes. CUSTOMER: So, I should be able to play it, yeah? BOOKSELLER: I don't know. How long have you been playing? CUSTOMER: Oh, I don't know how to play, I thought I'd just try. BOOKSELLER: Right. Can you read sheet music? CUSTOMER: Well... sure... it's just the alphabet, isn't it?
CUSTOMER: I've got some books to sell. BOOKSELLER: Hi, thanks. I'm just serving some customers at the moment. Could you join the back of the queue? CUSTOMER: Er, I'm selling you books, I'm here for your benefit. BOOKSELLER: These other people are here to buy books, they are also here for the shop's benefit. CUSTOMER: You've got thirty seconds to buy them, or I'm leaving. You need to learn to prioritise.
(Phone rings) BOOKSELLER: Hello, Ripping Yarns bookshop. CUSTOMER:
Hi there. If I buy a book and pay for it over the phone, could you
bring it over the road to my house? I just live round the corner. BOOKSELLER: Are you unable to leave your house? CUSTOMER: Well, no... but it's raining.
CUSTOMER: What books could I buy to make guests look at my bookshelf and think: "Wow, that guy's intelligent'?
CUSTOMER: I want to buy a book for my mother. She likes Danielle Steel. BOOKSELLER: Here she is, under 'S' for Steel. CUSTOMER: ... Well, I don't know which ones she's already read... Do you? BOOKSELLER: ....
BOOKSELLER: Can I help you at all? CUSTOMER: No, I don't think you're qualified. I need a psychiatrist; that's the only help I need. BOOKSELLER: .... OK.
Gimana? Berminat baca? Itu baru secuil. Masih ada banyaaaaak lagi yang lucu. (kakak Ilman pasti ingat, kalimat ini mengingatkan kita pada iklan apa :D)
Nah... Oke.. Bunda mau lanjut kerja dulu, ya... Abis itu, Bunda mau lanjutkan baca buku yang lain. Bulan ini harus produktif nulis blog! Semangat! Sampai ketemu di tulisan berikutnya, yaaa... ;)
Diterbitkan pertama kali oleh The Writer's Coffe Shop
Edisi 1, April 2011
e-book
ISBN: 978-1-61213-029-3
erotika, xxx, buku dewasa
When literature student
Anastasia Steele goes to interview young entrepreneur Christian Grey,
she encounters a man who is beautiful, brilliant, and intimidating. The
unworldly, innocent Ana is startled to realize she wants this man and,
despite his enigmatic reserve, finds she is desperate to get close to
him. Unable to resist Ana’s quiet beauty, wit, and independent spirit,
Grey admits he wants her, too—but on his own terms.
Shocked yet
thrilled by Grey’s singular erotic tastes, Ana hesitates. For all the
trappings of success—his multinational businesses, his vast wealth, his
loving family—Grey is a man tormented by demons and consumed by the need
to control. When the couple embarks on a daring, passionately physical
affair, Ana discovers Christian Grey’s secrets and explores her own dark
desires.
Erotic, amusing, and deeply moving, the Fifty Shades
Trilogy is a tale that will obsess you, possess you, and stay with you
forever.
This book is intended for mature audiences. (dari Goodreads)
Disclaimer: Saya nggak menulis ini buat anak-anak saya. Ini murni review saya sebagai orang dewasa dan bertanggung jawab atas diri sendiri. *ngomong apa, sih?*
Maksudnyaaaa... di sini kalian yang baca ini, nggak akan ditemukan style saya seperti biasa, menulis pake bahasa antara anak dan ibunya. Heuheu...
Oke, mari kita mulai ngobrol. Eh, maksudnya, biarkan saya bercerita tentang kisah saya selama membaca buku ini. Eh, bukan itu maksudnya. Apa, ya? Terserah, deh. Saya juga bingung. Pokoknya, saya mau cerita di sini. Titik. :D
Sebetulnya, saya termasuk sangat terlambat tahu tentang kehebohan buku ini. Mungkin, karena tadinya, teman-teman saya di Goodreads orangnya lurus-lurus, jadi, keberadaan buku ini sama sekali tidak ada di Home/Newsfeed Goodreads. Sampai akhirnya, saya berteman dengan beberapa penggemar buku kacrut, erotis, apa pun itu namanya dan mulai menemukan review buku ini dengan begitu hebohnya. Bahkan, ada review salah satu kontak saya di Goodreads yang diserang beberapa pembaca lain (orang luar, sih), karena ketidaksukaannya sama buku ini.
Jujurly, saya belum pernah baca buku bergenre seperti ini. Erotis, xxx, apa pun itu sebutannya. Jadi, ini buku pertama yang saya baca. Udah gitu, ada unsur BDSM pula! Di awal sebelum saya keidean buat baca buku ini, saya gugling dulu buat cari tahu tentang BDSM. Huwow! Seyeeem! Kok, pake diiket gitu? Kok, ada cambuk-cambuk begitu? Apakah... mereka bercinta pake acara dicambuk? Issh... Rasanya kok saya pernah, ya, nonton film, err.. bukan nonton, sih, lihat sekilas entah di tv mana, dan entah kapan juga itu, kayaknya saya masih kuliah, deh... Di situ ada orang lagi bercinta *kalo sebutannya begitu*, tapi perempuannya diikat di tempat tidur, mata ditutup dan dicambuki. Katanya, makin si perempuan mengerang, si pria makin terangsang. DOH!
Kesimpulan awal setelah saya baca FSOG, perempuan yang di film yang saya lihat secara nggak sengaja itu yang disebut sebagai Submissive, sementara si pria yang disebut Dominant. Harap dicatat, saya sama sekali nggak nonton bener film itu dan saya bahkan nggak tahu itu film ceritanya apa. Apalagi ingat judulnya. Boro-boro. Hahaha...
Lalu, saya teringat lagi, ketika membaca salah satu review FSOG di Goodreads, ada yang bilang, bahwa BDSM itu sebetulnya titik beratnya adalah pada masalah percaya. Percaya nggak si Submissive ini pada Sang Dominant. Percaya apa? Saya juga nggak tahu. Percaya bahwa Sang Dominant nggak akan menyakiti Si Submissive ketika dia pakai peralatan mengerikan itu? Entahlah. Saya belum cari tahu banyak dan memilih nggak tahu dulu. Karena saya sama sekali nggak tertarik dengan metode bercinta ala BDSM, kok. Serius. Cara yang romantis itu jauh lebih menyenangkan dan menggairahkan, kok. #eh
Lalu, Fifty Shades of Grey ini sebenarnya cerita tentang apa? Cerita tentang gadis clumsy bernama Anastasia Steele, mahasiswi tingkat akhir sebuah perguruan tinggi, yang terpaksa mewawancarai Christian Grey, CEO sebuah perusahaan miliknya sendiri, untuk keperluan majalah kampusnya. Ana ini menggantikan Katherine Kavanagh, sohibnya, temen serumahnya juga, yang lagi kena flu berat jadi nggak mungkin mewawancarai Grey dalam keadaan sakit.
Ternyata, dari ke-clumsy-an Ana ini, bikin Grey suka sama Ana. Dan nggak hanya itu, Grey ini stalk di mana pun Ana berada. Kayak gimana bisa "kebeneran" Grey datang ke tempat kerja Ana, buat beli beberapa barang yang rada aneh aja menurut Ana buat diborong sama Grey. Kayak kabel, kawat, dan lain-lain. Banyak, sih, kebeneran yang lainnya, yang membuat saya super yakin, kalo Grey ini nggak mau terlalu jauh dari Ana. Terus, gimana ceritanya Grey bisa tahu alamat pos Ana, karena dia kirim buku klasik Tess ke rumah tempat Ana tinggal.
Awalnya, Grey bilang dia nggak mungkin jatuh cinta. Tapi lalu, Ana diajak "ngamar". Dan karena Ana emang udah naksir berat sama Grey sejak awal ketemu, jadi mau-mau aja. Lagian dia juga horny lihat si Grey. Eh, tapi... Grey yang tadinya mau memberlakukan cara dia biasa bercinta, kaget sewaktu tahu Ana masih perawan.
Dan berikut-berikutnya... ya begitulah. Sedikit demi sedikit, Ana dikenalin sama cara bercinta ala Grey yang mengarah ke BDSM itu. Oh, ya, satu hal: Grey tidak menyebut berhubungan seks dengan Ana itu sebagai "make love" tapi sebagai "fuck hard".
Dan... kayaknya si Grey ini nggak kenal capek, ya... Setiap lihat Ana gigit bibir, dia pasti horny, walau pun baru aja dia habis "nyampe" setelah gedubrakan sama Ana. Dan lalu... gedubrakan lagi, deh, sama Ana.
Nah, sebetulnya, yang mengganggu di buku ini adalah: dari sejak bab ke sekian, isinya tentang perjanjian dan ketika halaman buku udah mau habis, masih aja bicara soal perjanjian yang belum juga disepakati sama Ana. Sebetulnya banyak sih, adegan annoying di buku ini.
Saya "suka" FSOG karena....
1. Ternyata, meski udah umur 20 something, Anastasia Steele itu masih virgin! Wow! Suatu prestasi yang teramat sulit buat remaja cewek di Amrik: menjaga keperawanan. Atau Ana nggak laku dipacari?
Apa pun itu, menjura, deh! Dia udah hebat bisa jaga keperawanan! Tapi... lalu, kenapa harus hilang keperawanannya sama Christian Grey? Kok mau-maunya? Segitu dahsyatnya kah, magnet yang ada pada Christian Grey, sampai dia suka rela nyerahin sesuatu yang udah dia pertahankan selama dua puluh tahunan? Padahal, sekalian aja, nunggu nikah sama dia. Blah! Bicara apa saya ini? Ini kan bukan novel Gone With The Wind, di mana perempuan Amerika pada masa itu masih jaga keperawanan sampai mereka menikah? #toyor diri sendiri.
2. Bagian mereka saling kirim email itu bikin ceritanya jadi lumayan hidup. Lucu aja, sih. Kebayang, Ana yang baru pertama kali gedebuk in lap segitu rupa ama seorang cowok, jadi suka penasaran ada email atau sms ga dari Christian, meski lagi bete atau ngambeuk. Beneran, deh, bagian ini cukup menghibur saya. Juga isi SMS mereka. Atau telponan mereka.
3. Christian itu sebenernya pemerhati soal isu kelaparan. Meski ga banyak diceritain, tapi, ya, saya suka lah. Berarti dia ada perhatian ama dunia. #apasih
4. Ada Taylor, karyawan Christian yang hebat. Diamnya pun mengademkan hati.
5. Ada Ray! Ayah tiri Ana yang bela-belain dateng buat wisuda Ana!
Ini yang saya nggak suka dari FSOG:
1. Ana yang pengumpat. Menjura banget, deh, sama yang niat menghitung ada berapa jumlah "holly shit", "holly fuck", "holly crap", nyebut nama lengkap si Kate dengan "Katherine Kavanagh berulang-ulang, dst.
2. Christian yang control freak, stalker. Dia kayaknya punya banyak mata-mata, deh. Tapi wajar, dia kan milyuner. Tinggal bayar orang buat melakukan apa yang dia mau. Cuma sayang aja, sih. Cakepnya katanya flawless. Tapi yah, cowok ganteng banget mah emang gitu, katanya. Kalo nggak dia brengsek, dia gay. Atau dia bodoh. Untuk Christian, berarti dia brengsek. Soalnya ga bodoh atau ga gay. Hahaha... Ups! Jangan bilang-bilang ama Christian, ya. Ntar dia mencambuk saya. Haesssh.. siapa sayaaa... jadi submissivenya juga ga mauuuuuu... meski dia bisa beliin saya Mac Book Pro sekontainer juga, saya ga maooooo....
3. Ana nggak ngerasa sakit gitu, pas kehilangan virginitasnya? Segitu jagoannya kah, Christian Grey, sampe si Ana nggak ngerasa sakit sama sekali? Tapi, kan....
4. Bercinta pake apa itu? Vagina balls? Ish... Eh, bukan bercinta, kan, itu, si Grey nyebutnya. Fuck hard. Iuuuh. Dan bercinta pas si Ana lagi bleeding karena datang bulan. Halooo... darah haid itu kan berpotensi nyebarin penyakit. Gimana, ih, si Grey teh... Sempet nyaris banting ebook reader. Tapi, kan, ebook readerku nggak salah. Mahal pula! *elus-elus iRiver*.
Jadi, akhirnya mengumpat aja. Tengah malem. Beneran melek, loh, pas baca bagian itu setelah asalnya nyaris tertidur. Melek bukan karena terangsang! Melek karena marah!
5. Grey yang mudah terangsang kalo lihat Ana gigit bibir. Dan bisa "fuck hard" si Ana di mana aja, walau pun itu di eskalator, asal liyat Ana lagi gigit bibir. *eyeroll*
6. Grey yang mudah marah kalo lihat Ana mutar bola matanya karena ngerasa aneh. Lalu menghukum Ana.
7. Grey yang nyembunyiin satu-satunya panties Ana pas ada acara dinner ama orangtua Grey. Jadi Ana ga pake panties selama acara itu dan sempet-sempetnya ber**** di salah satu ruangan dalam waktu yang mepet.
8. Katanya, Ana disediain segala perlengkapan baju baru sama Christian Grey. Disuruh ke salon yang udah ditunjuk. Dipertemukan oleh obgyn khusus. Tapi nggak disediain sikat gigi baru, jadi Ana pake sikat gigi punya Christian. Kaya raya, bisa beliin Mac Book Pro, Audi, Blackberry, baju selemari, tapi ga bisa beliin sikat gigi baru? INI BARU BERITA!
9. Kenapa Ana harus punya dua kepribadian lain? Subconcious ama Inner Goddes. Oke, yang satu genit yang satu pemalu. Tapi kenapa nggak jadi Anastasia Steele aja? Agak keganggu sih, ama si Subconcious atau Inner Goddes ini. Gimana, ya, cara Ana ngeliat keduanya?
10. BDSM-nya sih, di sini sebetulnya ga seseram yang saya baca atau lihat gambarnya di beberapa sumber. Di sini, Ana diiket. Pertama kalinya diiket pake dasi, ditutup matanya pake kaosnya sendiri. Berikut-berikutnya, pas udah di Red Pain Room, Ana mulai diborgol. Cuma yang ngeri pas udah mulai pake alat yang katanya bakalan ngeluarin darah dari kulit Ana, meski ga sakit *katanya* *tapi saya tetep meriang bacanya*, dengan tujuan Ana jadi lebih sensitif sama sentuhan.
So, yang saya pernah baca di review entah siapa, sebetulnya BDSM itu masalah kepercayaan. Jadi, siapa pun yang jadi Dominant nggak boleh menyakiti Submissive. Sayang, ilang linknya. Nanti lah kalo nemu, saya taruh di sini linknya.
11. Sampe selesai baca bukunya, perjanjian itu tetep nggak ditandatangani sama Ana. Tapi, kok, dia udah mau berada di Red Pain Room sebelum ditandatangani, ya? Ah... Ana labil...
Nah, bagi saya... bercinta itu buat bersenang-senang. Bisa saling menyentuh. Disentuh dan menyentuh. Dan menurut saya, tangan diikat, mata ditutup selama digerayangi dan disetubuhi itu sama sekali nggak seksi. Paling benci pas bagian Christian bilang, "keep still, Anastasia", setiap Ana nggak bisa diam pas digerayangin. Lah, orang si Ana menikmati apa yang Christian lakukan, masa ga boleh menggelinjang. Gimana, sih! *injak-injak Christian Grey*
Saya ngebayangin, Christian Grey berbahasa Inggris doang, dan Anastasia Steele berbahasa Inggris, Indonesia tapi bisa mengumpat dalam Basa Sunda.
Christian Grey: "Are you rolling your eyes, Miss Steele?"
Anastasia Steele (murmur): "Mau tau beneran atau mau tau aja?"
Christian Grey: "What did you say?"
Anastasia Steele: "Nothing. Nggak ada. I didn't roll my eyes on you, Sir. Lu aja berhalusinasi."
Christian Grey: "What? I saw you rolling your eyes at me, Anastasia."
Anastasia Steele: "Nggak, kok, cyyyn. No, I didn't, Sir."
Christian Grey: "Yes, you did. Now turn around, I will spank you now."
Anastasia Steele: "Terus, gue harus koprol sambil bilang wow gitu?" *kali ini, Ana beneran muter matanya*
Christian Grey: "Count, Anastasia! Count! You count!"
Anastasia Steele: "Koplok siah! Aing mbung deui sare jeung maneh!"
Christian Grey: "Don't count in Sundanese! I don't understand!"
Anastasia Steele: "Four!"
lalu, karena Christian Grey gusar, masa sih, "empat" dalam bahasa Sunda udah segitu panjangnya, gimana sepuluh? Akhirnya, Christian menghentikan pukulannya, karena dia udah cape duluan ngedengerin cara Anastasia berhitung.
Eh, tapi...
sebenernya saya nggak berminat meneruskan baca buku keduanya, kalo nggak karena endingnya yang justru bikin saya penasaran ama kelanjutan kisah Anastasia Steele ama Christian Grey.
Jadi, ya semoga buku kedua nggak mengecewakan banget, deh. Heuheu.
Saya... kasih 2 aja, ya... Buat covernya yang "mengundang". Buat email-emailannya. Buat endingnya yang mengundang saya buat baca buku kedua. Ihik. Ya, saya akui saya tergoda buat baca buku keduanya, karena ending Fifty Shades of Grey ini.
Eh, iya. Ini penting banget!
Buat yang belum nikah, terus menganggap buku ini sebagai pelajaran seks atau edukasi pra nikah, YOU GOT IT WRONG!
Carilah buku pelajaran seks yang lebih manusiawi. Novel ini sama sekali bukan acuan belajar seks.
*teringat thread di suatu jejaring sosial, ada yang bilang, jadi belajar tentang seks lewat buku ini, sebagai pemula.* GUBRAAAK!
Sekali lagi saya ingatkan, carilah buku pelajaran seks yang lebih edukatif. Bukan ala BDSM macam gini. Buat saya ini mah ga ada seksinya sama sekali. Nggak tahu, ya, kalo ada yang doyan bercinta sambil diiket mah. Da saya mah ga doyan :P
Sebenernya, kalo di bagian "gedubrakan"nya itu, biasa aja, sih, menurut saya. Nggak bikin saya sampai ikutan menggelinjang saat bacanya. Entah saya terlalu lempeng atau saya nggak tertarik membayangkan sentuhan Grey pada Ana? Nggak tahu juga, sih. Pokoknya, ya, kalo penulisnya lalu disebut Mommy Porn, kok, kayaknya masih banyak yang lebih layak dapat sebutan demikian karena adegan seksnya lebih gimanaaaa.... gitu. Hihihi...
Sebenarnya, saya nggak suka sama Grey, awalnya. Karena dia kok, orangnya abusive banget, yak! Ana harus tunduk sama dia. Harus nurut sama apa kata Grey tanpa Ana bisa mengelak. Seakan-akan Ana nggak punya hidupnya sendiri dan bahkan nggak boleh jatuh cinta sama Grey, hanya karena hubungan mereka sebagai Dominant - Submissive. Eh, dan satu lagi, sih. Sebetulnya, perjanjian mereka belum disepakati, lho, kok... bisa-bisanya Ana mau jadi Submissive dan gedubrakan sama Grey ala Grey? Seharusnya, Ana nggak mau! Seharusnya, Ana juga punya hak buat menentukan dia mau apa, kan perjanjian belum ditandatangani? Mereka kan belum sepakat? Kok, bisa, sih? Atau, saking lemahnya Ana, jadi dia pasrah aja? Ish!
Di bagian akhir cerita, entah kenapa... mereka berdua dapat simpati saya. Huh! Saya kan jadi tertarik buat baca buku berikutnya. Udah buka-buka bagian awalnya, sih. Tapi saya simpan aja dulu, deh. Buat dibaca tahun depan aja....
Apa yang saya dapat dari FSOG? Pengetahuan tentang BDSM? Mungkin, sih. Cuma, ternyata katanya, pas ngobrol ama teman, penulisnya sebenernya nggak menggali sangat jauh soal BDSM. Jadi, yah, nggak bisa dibilang akurat juga, yak, pengetahuan yang saya dapat dari BDSM.
Kalo soal gedebuk in lap antara Ana dan Grey... cerita di Twilight Series lebih keren. Well, oke, note to myself, kalo FSOG ini berangkat dari fanfic Twilight Series. Jadi, yah... yang lebih "seru" menurut saya ya ada di Twilight Series kalo soal cinta-cintaannya mah. Lebih seru karena lebih menyebalkan. Hahaha...
Jadi intinya begitu. Sebelum saya baca FSOG dan baca review orang-orang, saya cari tahu dulu apa itu BDSM. Jadi, akhirnya saya tahu, bahwa ada ya, manusia melakukan hubungan intim di luar pakem romantisme karena mereka pakai bantuan alat. Dan akhirnya saya juga tahu, bahwa ada orang-orang masokis yang hobi berhubungan intim dengan cara-cara begitu. Lalu saya memberanikan diri baca FSOG dengan siap-siap linu. Eh, ternyata, yah, ada sih yang bikin linu, cuma ternyata nggak seserem yang saya bayangin.
By the way, saya nemu gambar beginian di Goodreads. Hihihi...
Oke, sekian dan terima kasih. Mohon maaf kalo review saya kurang menggigit, kurang gereget, kurang memuaskan. Saya cuma bingung mau ceplas ceplos di sini... Soalnya jarak antara saya baca buku FSOG dengan nulis review di sini terbilang udah jauh banget... Dan saya udah abis-abisan di Goodreads. Udah kehabisan mau nulis apa lagi di sini soalnya. Kode spoiler yang saya dapet belum bisa diaplikasikan. Huhuhu...
Hailed for its coiled
eroticism and the moral claims it makes upon the reader, this
mesmerizing novel is a story of love and secrets, horror and compassion,
unfolding against the haunted landscape of postwar Germany. When he
falls ill on his way home from school, fifteen-year-old Michael Berg is
rescued by Hanna, a woman twice his age. In time she becomes his
lover--then she inexplicably disappears. When Michael next sees her, he
is a young law student, and she is on trial for a hideous crime. As he
watches her refuse to defend her innocence, Michael gradually realizes
that Hanna may be guarding a secret she considers more shameful than
murder. (dari Goodreads)
Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Sebenernya, akhirnya, Bunda selesai juga baca buku ini. Lama juga. Butuh waktu 2 minggu lebih buat bacanya. Huks... Entah karena memang bahasa Inggrisnya yang nggak mudah Bunda pahami atau otak Bunda aja yang lagi lemot alias teflon. Eh, emang biasanya berotak prima? Nah, biasanya kan, kalo Bunda baca buku berbahasa Inggris, maka resensinya pun Bunda tulis dalam Bahasa Inggris. Namun, berhubung Bunda mau nulis di blog yang lain, mungkin lain kali, deh, nulis versi Bahasa Inggris-nya.
Sekarang sudah masuk ke 10 hari kedua di bulan Ramadhan. Wah, ngaji Bunda banyak ketinggalan, nih... Huks... Tetap semangat!
Pertama, Bunda mau mengakui bahwa memilih membaca buku The Reader setelah menonton filmnya adalah kesalahan fatal. Bunda jadi membanding-bandingkan dan berusaha membayangkan scene di film, setiap baca kata-kata di dalam buku ini. Boleh dibilang buku sama filmnya sama, sih. Cuma bedanya, filmnya lebih menarik. Haha.
Kedua, kita mulai aja, deh...
Ceritanya tentang Michael Berg, ABG berumur 15 tahunan, yang sakit hepatitis. Sewaktu dia lagi jalan-jalan, tiba-tiba tubuhnya lemas dan
muntah-muntah di deket apartemen. Tanpa diduganya, ada seorang perempuan kira-kira berumur 30 tahun
sekian, nyamperin, nolongin, ngegantiin bajunya, nyiram bekas
muntahannya di jalan pake berember-ember air. Dan perempuan ini nganter dia sampai dekat
rumahnya. Waktu dia cerita ke mamanya, kalo ada yang nolongin waktu dia
muntah-muntah gitu, mamanya menyuruhnya untuk datang ke tempat perempuan buat berterima kasih.
Kemudian, Michael bertemu perempuan ini, yang kemudian
diketahui bernama Frau Schmidtz, tapi Michael memanggilnya Hanna, sementara Hanna memanggilnya, "Kid". Mereka ngobrol sampai
akhirnya waktu Michael mau keluar, Si Hanna ini
bilang, “wait.” Michael nunggu di depan pintu apartemen Hanna dengan
pintu rada ngebuka sedikit.
Hanna ganti baju di dapur yang keliatan dari pintu yang
ngebuka sedikit itu. Michael ngintip Hanna yang sedang ganti baju. Hanna memergoki Michael yang mengintip, lalu dia malah kabur.
Michael besok-besoknya
datang lagi ke apartemen Hanna. Michael berani
datang lagi dan malah punya hubungan serius dengan Hanna, antara laki-laki dan perempuan dewasa. Sebenarnya, mengingat Michael ini masih ABG, kayaknya dia agak kurang ajar, ya, menggoda Tante-tante...
Setiap hari, Michael punya jadwal rutin di
antara jam istirahat di sekolahnya. Lari ke apartemen Hanna untuk berkunjung. Terus lari lagi ke sekolahnya. Oh, iya. Beberapa waktu kemudian, Hanna
suka minta dibacain cerita sama Michael.
Sampai akhirnya,
Michael beneran jatuh cinta sama Hanna. Tapi Hanna meninggalkannya, tanpa pesan apa pun. Dan ini sukses membuat Michael patah hati.
Terus, sejarahnya di mana?
Cerita ini mengambil latar jaman Nazi berkuasa, lokasinya di
Jerman.
Sewaktu Michael jadi mahasiswa – dia
ngambil Hukum, jadi berurusan sama pengadilan gitu, dia lihat Hanna sebagai terdakwa. Hanna bergabung dengan sebuah organisasi perempuan dan "berperan” serta dalam kebakaran sebuah gereja, di mana di dalamnya ada
banyak perempuan Yahudi nggak berdosa. Yah, waktu jaman Nazi berkuasa, kan,
kalo bisa mah, semua orang Yahudi yang ada di Jerman (atau di dunia juga gitu?)
dihabisi. *merinding*
Hanna dinyatakan bersalah lalu dipenjara. Selama Hanna ada
di penjara, Michael baru sadar kalo Hanna ini buta huruf. Lalu dia membacakan
cerita lagi untuk Hanna dengan cara merekam sendiri suaranya lalu dikirim ke
penjara. Berkat kiriman rekaman suara Michael, Hanna belajar membaca dan menulis selama berada di penjara. Dia bahkan menulis surat untuk Michael. Tapi nggak tahu kenapa, Michael tidak pernah membalasnya.
Ketiga, ini kesan Bunda tentang buku The Reader.
Alur cerita? Lambat. Ngeselin. Cape. Kebanyakan deskripsi. Pengen
udahan dan nyerah aja bacanya, walau baru setengah baca. Sebab, ya itu. Kesalahan Bunda udah terlanjur
tahu filmnya. Tapi si penulis ini emang jagoan untuk membangkitkan perasaan
pembacanya pas bagian akhir. Jadi, feelnya
baru dapet pas menjelang halaman-halaman terakhir. Soalnya Bunda mewek sih.
Hahaha.
Buku ini mengambil latar belakang masa Nazi, iya. Tapi nggak detail. Suasana yang dibangkitkan juga nggak kuat. Hanya dakwaan terhadap Hanna aja yang membuat buku ini bercerita tentang kejahatan orang-orang anti Yahudi. Nggak seperti baca The Help yang sering bikin deg-degan. Tapi senggaknya rada
tahu lah, gimana situasinya waktu jaman Nazi berkuasa.
Bunda sengaja tidak ceritakan hubungan seperti apa yang terjadi antara Michael dengan Hanna secara rinci. Yang pasti Michael jatuh cinta pada Hanna. Titik. Sebab, buku ini buku untuk orang dewasa, yang terkadang beberapa adegan Bunda skip bacanya.
Lalu, The Reader di sini apa maksudnya? (menjawab pertanyaan Bunda Ory)
Kalo melihat kisah Michael ini, The Reader di sini maksudnya "pembaca". Atau lebih tepatnya, "yang membacakan". Hanna sering meminta Michael untuk membacakan buku untuknya. Bahkan, ketika Hanna berada di penjara, Michael pun masih membacakan buku untuknya.
Bunda jadi ingat waktu di angkot, ada ABG tuna netra yang menyebut-nyebut "reader". Orang yang membacakan naskah non-braille untuknya. Bunda berkesimpulan, bahwa "reader" ini adalah sebuah profesi. Profesi membacakan naskah untuk orang yang tidak bisa membaca.
Imagine tales so terrible
that as many as fifty million innocents have been ruined by them - tales so
indelibly horrid that the New York Times bestseller list has been unable to rid
itself of them for seven years. Now imagine if this scourge suddenly became
available in a shameful new edition so sensational, so irresistible, so riddled
with lurid new pictures that even a common urchin would wish for it. Who among
us would be safe?
Begin at the beginning –
even if it is a bad one - with the first in A Series of Unfortunate Events, now
even more disposable in paperback(from Goodreads)
Title: The Bad Beginnings (A Series of Unfortunate Events, #1)
Author: Lemony Snicket
Published by: Harper Collins Publishers
176 pages
e-book
first published March, 2009
ISBN: 0061757098
4/5 rating
Halo, Kakak Ilman and Adik Zidan...
Finally, Bunda took the challenge of reading Gothic Books with the BBI.
I choosed the thin one and it was recommended by Tante Ally, because she likes
it sooo much. She likes the way Lemony Snicket told the story. She loves
those characters like Violet Baudelaire and Sunny Baudelaire. And also it is on
Bunda’s 2012 list of books to read.
Hmm.. For the first time Bunda put this series into the books to read’s
list this year, Bunda don’t think it was about kids. Or even children books.
And Bunda was not even trying to search a thing about this book. Just because
of the BBI’s challenge choose gothic books and ASUE is one of it, Bunda picked
it to read.
And Bunda was surprised then. From the first page, the author has told
his reader that this book is not about happiness or even has a happy ending. If
you want a book with a happy ending or a happy story, just put it down. Well,
he’s a hundred percent right. This is not a kind of book like that.
Nah, The Bad Beginnings book is about three siblings of Baudelaire:
Violet, Klaus, and Sunny. Violet Baudelaire is 14 years old, Klaus Baudelaire
is 9 years old, and Sunny Baudelaire is about 2-3 years old. It was the time they
played in a beach when they heard a bad news from Mr. Poe, one of their
parents’ good friend. Mr. Poe told these children that their house was burnt
and their parents were died on the accident. And from that time they have to
live with Mr. Poe for some times until they meet their family’s relative.
Count Olaf, their family’s relative, was choosen to take care of the
siblings. But Count Olaf isn’t a nice man. He took the charge of taking care
the kids because the Baudelaire has a lot of money at the bank – where Mr. Poe
worked and they have to wait until Violet is at age to claim the money. Count
Olaf forced the kids to serve meal for him, give them uncomfortable bedroom and
scary them.
One day, Count Olaf had an idea to marry Violet in a drama. Count Olaf
is an actor. So, he asked the kids to play roles with them. Violet as the bride
and Count Olaf as the groom. All Violet to do was just saying, “I do.” And Ms.
Justice, the girl next door, who worked at a law department, played the role
too. She didn’t noticed that Count Olaf had a plan to make Violet his real
wife. Not just a drama. Not just an acting. Because, if Violet became Count Olaf's legally real wife, he will took the charge of the Baudelaire's own. Doh!
My reviews about this book:
Remembering Sunny, makes Bunda remembers Adek Zidan. Huhu.. Bunda don’t
want both of you to be orphant yet. Well, you know, Bunda’s mother, who
delivered Bunda to the world, has passed away when Bunda was still 6 years old.
And Bunda’s younger sister, one of your aunts, was 1,5 years old that time. So,
we know how it feels. But lucky us. We’re still have Eyangkung who raised both
of us. Though he is married to another woman, Bunda feels very lucky that she
is very nice to us. And Eyangti raised both of you too, right? Taking care of
both of you when Bunda and Papa was not around.
Ah. Stop bla bla blah. Back to the book. Though those characters made
their own story line, it was that the author kept on reminding us that this is
not a book with a happy ending. It’s a little bit annoying for Bunda. If he has
reminded us from the very first time about that, Bunda think he will keep the
promise, right? That this book is not about happiness or has a happy ending?
Over all, this book kept Bunda’s eyes dance with the words. Bunda used
to think not to read this book at night, because it’s an unhappy book. Learned
from Granny Osano, we shouldn’t talk about unhappy things in the night, so
Bunda chose to read it when the sun is still shining.
There was the time when PLN treat Bunda and friends some black out in
the office, Bunda chose to finish reading this book. And yes, Bunda could not
stop reading it till the last page. The story made Bunda breathless. And Bunda
loves the characters. Bunda loves Violet, Klaus, and Sunny. Bunda loves them a
lot. Bunda loves the way they played their role.
Violet is a very smart girl and think so fast. Klaus is also smart,
even the little Sunny. I love them. I love how they survive and think fast in a
short time how to solve their problems. Bunda thanked the author to create them
smart :D
Children books should tell happy story. Not unhappy story. But maybe, the
author has his own reason to write this gloomy book and categorized it on
Children Books’ shelf. Sometimes, gloomy books successfully made Bunda don’t
want to pick it up anymore. But, Bunda wants to know what’s next on Violet,
Klaus, and Sunny’s life.
So, will Bunda read the next book? I think so. But not now. Bunda needs
happy ending story. Haha.
Suatu hari, si sayah tersinggung sekali dengan ucapan seorang aki Hippo dari Hongkong, waktu itu dia bertanya kepada si Ipin, tentang link review Eleanor and Park. Si sayah kan nanya, "aki nggak nanyain review sayah?" Dia kemudian jawab,...
Saya memulai tahun 2015 ini dengan baca serial Warna karya Kim Dong Hwa. Aduh, mak! Meski komik, tapi isinya sarat makna banget. Bahasanya indah, bikin agak melayang-layang... hihihi...
yang jelas, buku ini saya umpetin dari anak-anak....
tagged:
bintang-5, cover-cakep, dibaca-2015, and korean-literature
denger dari temen yang udah nonton filmnya, sih, The Giver versi buku jauh lebih sederhana ketimbang filmnya yang udah banyak penambahan karakter, dll. Iya, saya belum nonton :D
suka dengan terjemahannya, mudah dikunyah juga dicerna.
r...
Pertamax! *ditabok segoodreads* :))
Waktu mau ngisi rak buku, terkaget-kaget, ternyata buku ini belum masuk di daftar Goodreads. Dengan senang hati, status sebagai Librarian bisa dimanfaatkan buat masukin buku ini. Pas gugling image bua...