Tampilkan postingan dengan label memoar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label memoar. Tampilkan semua postingan

23 Jan 2014

Takkan Pernah Menyerah - Sari Meutia dan Emak-emak AAB


Judul: Takkan Pernah Menyerah
Penulis: Sari Meutia, dkk
Penyunting: Budhyastuti R.H
Proofreader: Adriyani Kamsyach
Desainer sampul: Agung Wulandana
Ilustrasi hlm 130: Agung Wulandana
Foto: koleksi pribadi
Penerbit: Qanita
Cetakan pertama, Desember 2013
Jumlah halaman: 136 hal + xii, 20,5 cm
ISBN: 978-602-1637-17-3
Genre: Inspirasi, Kehidupan, Family, Non Fiksi, Memoar

"Aku kadang tidak tahu, apakah aku berdoa agar dia diberi usia panjang atau minta dihentikan saja penderitaannya."

"Dia pun pergi dengan meninggalkan aku yang tak kuasa membendung air mata.Bau parfumnya yang tertinggal di kamar membuatku semakin mual..."

"Tapi, putriku? Aku khawatir akan terjadi penyesalan di masa datang dan semua itu karena salahku dalam pengambilan keputusan saat ini."

Para ibu, tergabung dalam komunitas Arisan Antar Benua (AAB) yang mengawali persahabatannya di kegiatan Pembinaan Anak-anak Salman ITB,

Euis Fauziah - Hepti Mulyati Hakim - Ira Shintia - Keukeu Nurjannah Abdullah - Meilani Dewi Mayasari - Niken Sesanti Suci Rohani - Sangganiawaty - Sari Meutia - Sinta Asfandiyar - Ummi Aisyah,

menuliskan pengalaman mereka menjalankan bahtera rumah tangga dengan suka dukanya. Dari urusan mencari sekolah yang layak untuk anak, merawat suami atau anak yang divonis sakit berat bahkan meninggal, merantau menemani suami, hingga suami yang menikah lagi. Persoalan-persoalan khas istri yang tidak mudah dijalani, kecuali ketangguhan dan kesabaran menjadi perisainya. Perjuangan untuk menjadi manusia yang lebih baik, yang mandiri.

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Selamat tahun baru 2014.. masih "hangat" dari sisa-sisa pesta akhir tahun lalu. Pastinya penuh harapan. Bunda belum punya semangat buat bikin master post bakalan ikut challenge apa aja tahun ini. Bikin resolusi baca juga belum. Haha.

Bunda sih kepingin men-challenge sendiri dengan minimal 30 review bisa Bunda produksi di tahun 2014 ini. Entah, deh. Mari kita hadapi aja apa yang akan terjadi di tahun ini dengan semua harapan ;)

Nah, di tanggal awal di tahun baru ini akan Bunda isi dengan buku yang sudah selesai Bunda baca dengan penuh lelehan air mata. Lebay? Mungkin. Meski bukunya berwarna pink, yang Bunda sebut dengan "buku pinkih", bukan berarti isinya penuh keceriaan, romantisme yang mendayu-dayu menggetarkan hati sekaligus bikin kasmaran...

Jadi, buku ini berisi sepuluh kisah nyata para ibu dalam merawat keluarganya. Misalnya aja, ada Uwak Sari yang sepenuh hati merawat Uwak Basrah yang sakit dan harus bolak balik cuci darah. Jadi kebayang kayak apa perjuangan Uwak Sari juga Uwak Basrah saat menghadapi ujian itu. Bukan hanya waktu dan tenaga yang harus dikeluarkan, biaya juga nggak sedikit yang harus dikeluarkan. Banyak nahan napas pas baca kisah mereka.

Terus ada Uwak Ira yang nahan napas karena khawatir melihat kak Safa berkutat di bawah kayak pas kayaknya terbalik di air yang arusnya yang super deras. Meski kak Safa sudah ahli eskimo roll saat simulasi, tetep aja pas kayak kebalik di air yang arusnya deras beda urusan.

Ada lagi cerita tentang kak Fahmi-nya Uwak Nia yang termasuk ABK seperti Kakak Ilman. Gimana perjuangan Uwak Nia mengasuh dan mengantar kak Fahmi supaya mandiri dan bisa bersosialisasi dengan teman-teman biasa.

Juga cerita Uwak Maya yang bikin waswas karena anaknya tiba-tiba kena stroke pasca kejeduk... T_____T 

Belum lagi cerita Bude Uci yang bikin.... napas sempat berhenti. Bunda nggak kuasa menuliskannya di sini. Selain jadi sop iler juga kok, malah nanti bikin mewek. Mending baca sendiri aja.

Nggak semua cerita di sini bikin sesak napas karena sedih, kok. Ada yang "ceria" seperti yang ditulis Uwak Euis, yang ceritain pengalamannya sewaktu sempat menjadi penduduk Jeddah. Atau cerita Uwak Sinta yang stres karena milih sekolah buat anaknya. Juga cerita inspiring yang bikin bersyukur banget dari cerita Uwak Hepti.

Empat bintang sangat layak Bunda persembahkan buat ibu-ibu hebat ini... ^_^

Terusin baca - Takkan Pernah Menyerah - Sari Meutia dan Emak-emak AAB

26 Des 2012

[galau antara review sama curcol] Letters to Sam


Judul: Letters to Sam - Pelajaran dari Seorang Kakek tentang Cinta, Kehilangan, dan Anugerah Hidup
Penulis: Daniel Gottlieb
Penerjemah: Windy Ariestanty
Editor: Ninus D. Andarnuswari
Proofreader: Christian Simamora
Penata Letak: Nopianto Ricaesar
Desain Sampul: Dwi Annisa Anindhika
Diterbitkan oleh: GagasMedia
Cetakan kedua, 2011
Jumlah halaman: xiv + 218 hlm; 14 x 20 cm
ISBN 979-780-510-7
Nonfiksi/Memoar



Aku tak sanggup memikirkan hal ini, tetapi aku tahu, suatu hari nanti, kau akan mendengar seseorang berkata, 'Dia autis.' Kalau hal itu terjadi, aku khawatir, kau akan menyadari bahwa ketika orang melihatmu, mereka tak melihat seorang Sam. Mereka melihat sebuah diagnosis. Sebuah masalah. Sebuah pengelompokan. Bukan seorang manusia.

Dalam kekhawatiran dan ketidakpastian itulah, Daniel Gottlieb memutuskan untuk menulis surat-surat kepada Sam, cucunya. Bagi sang Kakek, Sam adalah sahabat sejiwanya karena dia sendiri mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan.

Sang Kakek ingin membagi pandangan tentang menjadi berbeda, bagaimana menghadapi ketakutan, merajut harapan, dan mengambil hikmah dalam rencana Tuhan. Inilah kisah yang dibagi Daniel Gottlieb untuk Sam dan untuk kita semua - tentang menjadi manusia.

... Berterimakasihlah kepada siapa pun yang datang... karena setiap tamu dikirimkan dari atas sana sebagai pemandumu. -- Jalaludin Rumi (dari sampul belakang).

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Phew! Udah lama banget, nih, Bunda nggak ngisi blog ini! Padahal niatan buat nulis udah numpuk aja... Dan bentar lagi akhir tahun, kaaan... huhuhu...

Hmmm... dari pertama tahu soal buku ini, Bunda emang penasaran... Begitu tahu penulisnya menulis surat buat cucunya yang termasuk ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) Bunda jadi pengen tahu, apa sih, yang ditulis sang kakek buat cucunya ini...

Ya sebetulnya, sih, tulisan-tulisan kakek Dan ini termasuk umum, ya. Tentang dirinya sendiri, tentang bagaimana beliau melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, tentang pengalaman beliau menghadapi pasiennya, dan lainnya. Bunda memang sudah menduga, kalo penulisnya punya latar belakang di bidang psikologi, jadi bisa memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Belajar dari pasiennya, bahkan. 

Yang bikin Bunda terenyuh adalah... sewaktu beliau bilang, kalo suatu saat ada yang nyebut Sam itu autis, maka orang itu bukan melihat Sam sebagai manusia. Tapi sebagai suatu kelompok. Sebagai diagnosis. Sama seperti kalo kita sakit flu, misalnya, terus orang bukan nyebut, "kamu sakit flu." melainkan dengan bilang, "kamu flu" yang artinya "kamu adalah flu".

Bunda tahu perasaan kakek Dan sewaktu cucunya mendapat diagnosis autis PDD NOS. Bunda salut dengan kedua orangtua Sam, yang bisa langsung mencurahkan segalanya untuk membimbing Sam dan membekali Sam untuk kehidupannya nanti. Bunda malu. Seharusnya, Bunda dan papa bisa meneladani mereka.

Gimana Bunda bisa tahu perasaan mereka? Yah, begitu. Menurut dokter yang katanya memeriksa Kakak Ilman, diagnosisnya asperger. Apakah hari itu jadi kiamat buat Bunda? Nggak. Tapi, Bunda sempat down. Bunda sebelumnya hanya berharap Kakak Ilman "speech delayed" semata. Namun, dengan adanya diagnosis itu, mau nggak mau, Bunda mulai cari tahu, apa sih, asperger itu? Terus harus ngapain? Dan gimana, nih, caranya supaya Kakak Ilman bisa berbaur dengan lingkungan Kakak sekaligus mengondisikan orang di sekitar Kakak supaya bisa menerima kehadiran Kakak dan ikut bekerja sama dengan Kakak.
Walau kemudian, setelah Bunda pelajari tentang asperger, Bunda merasa Kakak bukan penyandang asperger. Ada banyak hal menurut kriteria asperger, di mana Kakak Ilman bukan termasuk di dalamnya.

Bunda belajar banyak dari kakek Dan, bagaimana mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Bunda jadi belajar untuk tidak memaksakan kehendak supaya Bunda dimengerti oleh orang lain. Bunda jadi belajar, bahwa orang-orang cenderung punya pendapat sendiri dan terkadang sok tahu. Untuk bisa tahu perasaan orang lain, kita memang harus bisa merasakan berdiri di sepatu orang lain. Kalo nggak salah, peribahasa dalam bahasa Inggrisnya tuh, "standing on other's shoes".

Kayak gini, deh. Bunda sering banget dijudge jadi "ibu yang nggak sayang anak" karena Bunda bekerja di luar rumah. Bunda punya alasan tersendiri kenapa Bunda harus bekerja di luar rumah, yang nggak perlu Bunda umbar di sini. Nah, karena orang lain ngeliatnya Bunda nggak perlu kerja di luar rumah, jadi Bunda sering dapat cap "ibu yang nggak sayang anak", karena Bunda memilih bekerja di luar daripada berada di rumah mengurus anak-anak. Kalo seandainya mereka pakai sepatu Bunda, mungkin mereka tahu, kenapa Bunda harus bekerja di luar rumah, untuk saat ini. Nah, tapi Bunda nggak misuh-misuh sewaktu dapat label seperti itu. Bunda malah berterima kasih, ada yang sempat kasih label itu ke Bunda. Berarti orang-orang ini punya waktu buat mikirin Bunda... hehehe...

Oya, Bunda belajar tentang "bahagia" di sini. Orang-orang pada umumnya mengartikan kata "bahagia" itu dengan... bisa makan enak di restoran mewah, berkeluarga, punya uang banyak, punya mobil terbaru, dan lain-lainnya yang enak-enak dan indah-indah. Kakek Dan bilang, itu adalah "ilusi". 

Bunda jadi ingat banyak teman Bunda suka sekali pasang status lagi spa, nyalon atau makan enak di tempat mewah. Membuat iri? Jelas. Teman-teman Bunda yang lain yang merasa nggak belum mampu untuk makan di tempat mewah macam gitu, ada yang misuh-misuh. "Si anu seenaknya aja pasang status di jejaring sosial. Mau pamer, ya? Mau kasih tahu ke kita kalo dia bisa makan di tempat mewah?" atau gerutuan lainnya. Bunda cuma nyengir. Karena sesekali, Bunda pernah, kok, makan di tempat mewah. Ditraktir. Alhamdulillaah. Hahaha...

Soal "ilusi" itu, memang benar, sih. Kita yang dalam posisi "nggak punya" pasti mikirnya kalo "orang lain punya yang kita nggak punya" pasti "enak", pasti "bahagia". Padahal, itu bukan jaminan bahagia.

Karena, Bunda punya contoh nyata. Salah satu kenalan Yangkung, yang kaya raya banget, deh. Segala bisa dibelinya. Termasuk mobil mewah terbaru yang bahkan belum beredar di Indonesia, dia pasti bisa punya, kalo dia lagi mau. Tapi, rumah tangganya berantakan. Bercerai karena hasutan sana sini yang pengen ikut-ikutan menguasai kekayaannya. Lalu jatuh sakit dan sekarang yang bener-bener menguasai hartanya itu istri barunya. Mirip cerita sinetron? Iya. Tapi ini di dunia nyata dan betul-betul terjadi.

Kalo kita mampu bersyukur sama semua keadaan dan menjalaninya dengan senang, kita pasti bakalan jadi manusia paling berbahagia di muka bumi ini, meski kita nggak punya apa-apa atau nggak bisa liburan ke luar negeri. Sering juga Bunda diketawain kalo ditanya, "liburan ke mana? Gimana? Fun?" lalu jawaban Bunda, "fun banget. Nggak ke mana-mana. Di rumah aja." Laaah..., kok Bunda diketawain, sih? Salah Bunda apa, ya? Padahal, bisa ngumpul berempat, main sama kalian berempat itu adalah momen yang menyenangkan. Mau tempatnya di mana aja, that will be okay. Bunda selalu senang. Jadi, kalo ditanya "fun, nggak?" masa Bunda harus jawab, "nggak"?

Sudah, sudah. Ini bukan review buku, malah curcol. Abisnyaaa.. ini bukan novel, siiih. Mendingan kalian baca sendiri aja, kalo mau tahu isinya gimana.

Ini, deh, pendapat Bunda tentang buku ini:
#1 Terjemahannya. Oke, kok. Bunda bisa menikmati dengan baik apa yang ditulis kakek Dan ke cucunya. Bonding di dalam surat untuk Sam dari kakek Dan cukup terasa.
#2 Covernya. Bunda nggak masalah dengan desain covernya. Bunda suka. Dan ini juga, sih, yang bikin Bunda ngambil bukunya. Cumaaaa... yang jadi masalah bahan kertas sampulnya, sih. Jadi gampang kotor dan lusuh kalo nggak disampul.
#3 Kalo dari segi isinya, Bunda suka. Suka. Suka. Terlepas penulisnya berbeda keyakinan sama Bunda, tapi Bunda bisa belajar banyak soal kehidupannya, kok. Karena kalo ditarik benang merahnya, memang ada banyak hal yang sama soal hidup mah. 

Oya, Bunda punya riset sedikit tentang apa itu Autisme, PDD NOS dan Asperger (dari berbagai sumber).

Autisme sendiri pengertiannya (dari LRD Member)
Autisme sebenarnya adalah cacat syaraf
Istilah sulitnya adalah "gangguan neurobiologis"
Masalah terbesarnya, "gangguan" ini ternyata bukan masalah kecil.
Gangguan ini memengaruhi fungsi otak.
Anak yang "kena" autisme kehilangan kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungannya. 
Asperger: (dari Putra Kembara)
Seperti pada Autisme Masa Kanak, Sindrom Asperger (SA) juga lebih banyak terdapat pada anak laki-laki daripada wanita.
Anak SA juga mempunyai gangguan dalam bidang komunikasi, interaksi sosial maupun perilaku, namun tidak separah seperti pada Autisme.

Pada kebanyakan dari anak-anak ini perkembangan bicara tidak terganggu. Bicaranya tepat waktu dan cukup lancar, meskipun ada juga yang bicaranya agak terlambat. Namun meskipun mereka pandai bicara, mereka kurang bisa komunikasi secara timbal balik. Komunikasi biasanya jalannya searah, dimana anak banyak bicara mengenai apa yang saat itu menjadi obsesinya, tanpa bisa merasakan apakah lawan bicaranya merasa tertarik atau tidak. Seringkali mereka mempunyai cara bicara dengan tata bahasa yang baku dan dalam berkomunikasi kurang menggunakan bahasa tubuh. Ekspresi muka pun kurang hidup bila dibanding anak-anak lain seumurnya.

Mereka biasanya terobsesi dengan kuat pada suatu benda/subjek tertentu, seperti mobil, pesawat terbang, atau hal-hal ilmiah lain. Mereka mengetahui dengan sangat detil mengenai hal yang menjadi obsesinya. Obsesi inipun biasanya berganti-ganti.Kebanyakan anak SA cerdas, mempunyai daya ingat yang kuat dan tidak mempunyai kesulitan dalam pelajaran disekolah.

 Mereka mempunyai sifat yang kaku, misalnya bila mereka telah mempelajari sesuatu aturan, maka mereka akan menerapkannya secara kaku, dan akan merasa sangat marah bila orang lain melanggar peraturan tersebut. Misalnya : harus berhenti bila lampu lalu lintas kuning, membuang sampah dijalan secara sembarangan.

Dalam interaksi sosial juga mereka mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan teman sebaya. Mereka lebih tertarik pada buku atau komputer daripada teman. Mereka sulit berempati dan tidak bisa melihat/menginterpretasikan ekspresi wajah orang lain.

Perilakunya kadang-kadang tidak mengikuti norma sosial, memotong pembicaraan orang seenaknya, mengatakan sesuatu tentang seseorang didepan orang tersebut tanpa merasa bersalah (mis. “Ibu, lihat, bapak itu kepalanya botak dan hidungnya besar ”). Kalau diberi tahu bahwa tidak boleh mengatakan begitu, ia akan menjawab : “Tapi itu kan benar Bu.”

Anak SA jarang yang menunjukkan gerakan-gerakan motorik yang aneh seperti mengepak-ngepak atau melompat-lompat atau stimulasi diri.

PDD NOS (dari sini)
Disorder-Tidak Pervasive Developmental Otherwise Specified (PDD-NOS) adalah gangguan perkembangan pervasif (PDD), juga disebut spektrum autisme disorder (ASD). PDD-NOS adalah satu dari lima bentuk Gangguan Spektrum Autisme . PDD-NOS sering disebut autisme atipikal. Diagnosa Pervasive Develompmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD – NOS) umumnya digunakan atau dipakai di Amerika Serikat untuk menjelaskan adanya beberapa karakteristik autisme pada seseorang .

National Information Center for Children and Youth with Disabilities (NICHCY) di Amerika Serikat menyatakan bahwa Autisme dan PDD – NOS adalah gangguan perkembangan yang cenderung memiliki karakteristik serupa dan gejalanya muncul sebelum usia 3 tahun. Keduanya merupakan gangguan yang bersifat neurologis yang memengaruhi kemampuan berkomunikasi, pemahaman bahasa, bermain dan kemampuan berhubungan dengan orang lain. Ketidakmampuan beradaptasi pada perubahan dan adanya respon-respon yang tidak wajar terhadap pengalaman sensoris seringkali juga dihubungkan pada gejala autisme.
Oya, kalo pengen tahu penulisnya, kalian bisa klik website kakek Dan ini, ya...
Bunda juga sempat dapat beberapa foto kakek Dan dengan Sam...






Bunda jadi ingat bonding antara Kakak Ilman dengan Yangkung sejak kecil... hehehe...


Btw, ini kayaknya bukan review buku, deh. Tapi curhat... Hahaha...

Terusin baca - [galau antara review sama curcol] Letters to Sam

12 Okt 2012

Totto Chan's Children - A Goodwill Journey to the Children of the World




Judul: Anak-anak Totto - Chan - Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-anak Dunia (Totto - Chan's Children - A Goodwill Journey to the Children of the World)
Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Alih bahasa: Ribkah Sukito
Editor: RC. Rully Larasati dan Nina Andiana
Desain dan ilustrasi cover: Martin Dima
Diterbitkan oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kedua: Juli 2010
328 hlm; 20 cm
ISBN: 978-979-22-5998-8
Memoar



Totto-chan kini sudah dewasa. Ia sekarang menjadi aktris terkenal dan punya banyak penggemar. Tapi Totto-chan tak pernah melupakan masa kecilnya. Karena itulah Totto-chan langsung setuju ketika UNICEF menawarinya untuk jadi Duta Kemanusiaan.

Sejak itu, Totto-chan berkunjung ke banyak negara dan menemui berbagai macam anak. Di negara-negara yang mengalami kekeringan hebat atau terkena dampak perang, anak-anak yang sebenarnya polos dan tak berdosa selalu jadi korban. Ternyata masih banyak sekali anak-anak dunia yang tidak bisa makan, tidak bisa sekolah, tidak bisa dirawat di rumah sakit, bahkan mengalami trauma hebat akibat perang.

Lewat buku ini Totto-chan ingin menceritakan pengalamannya saat bertemu anak-anak manis itu supaya makin banyak orang bisa membantu anak-anak dunia menggapai masa depan yang lebih baik. (dari cover belakang)

Halo, kakak Ilman dan adik Zidan...
udah lama banget, ya, Bunda ga nulis review. Miiko's Time mandek. Maaf. 

Baca buku ini butuh waktu lebih dari sebulan untuk Bunda selesaikan. Setiap halamannya selalu membuat Bunda menahan napas, tangis, haru, dan lainnya. Buku ini jauh lebih desperating ketimbang novel masokis. Karena semua yang terjadi di buku ini betul-betul terjadi. Bukan mimpi. Bukan ilusi. Real. Nyata.

Buku ini bercerita tentang pengalaman Totto-chan dewasa yang dipilih menjadi duta UNICEF untuk mengunjungi anak-anak di berbagai negara. Terutama negara yang sedang krisis oleh perang atau bencana alam.

Tanzania. Daerah ini kekeringan sekali. Air susah sekali didapat. Jangankan air jernih. Bisa dapat air keruh aja udah anugerah. Dan untuk mendapatkannya mereka harus berjalan sangat jauh dari rumah mereka. 4,8 kilometer adalah jarak sangat dekat dengan sumber air, sementara 9,6 kilometer adalah jarak sumber air tidak dekat. Selain air yang susah didapat, makanan pun susah didapat. Ada sekitar 14 juta anak meninggal dunia di awal tahun 1980-an akibat kelaparan, lingkungan yang tidak sehat. Juga banyak anak terbunuh karena terjebak di tengah perang, khususnya perang saudara. Meski anak-anak Tanzania ini adalah anak-anak asli Afrika Selatan, mereka tidak pernah melihat jerapah, zebra, gajah Afrika yang sering kita lihat di buku atau televisi - dalam keseharian hidup mereka. Karena, hewan-hewan seperti ini hanya hidup di tempat yang banyak airnya. Jadi, bisa kalian bayangkan, betapa keringnya tempat anak-anak ini tinggal. Selain itu, di penjara anak-anak yang ada di sana, ada anak yang dipenjara karena kesalahannya adalah mencuri t-shirt. Di sini, banyak di antara kita yang sering dapat t-shirt gratis. Baik itu promo produk atau kampanye. Tapi di sana... untuk punya t-shirt saja harus mencuri...

Nigeria. Di sini, curah hujan hanya sedikit sekali. Padahal, kata Nigeria itu berarti "satu sungai besar di antara banyak sungai besar". Miris sekali, mengingat pada tahun 1985, ketika ibu Tetsuko berkunjung ke sana, hanya 2,5 persen sumber air yang tersisa. Menurut buku yang dibaca beliau, panjang sungai Nigeria adalah 4.179 kilometer - sungai terpanjang ketiga di Afrika dan lebarnya 0,8 kilometer. Bisa kalian bayangkan dampak kekeringan yang berkepanjangan ini, kan? Selain kekeringan dan minimnya curah hujan (yang hanya 2,5 cm per tahun ketika itu), Nigeria juga sering dilanda badai pasir.

India. Hampir seluruh isi dunia tahunya India itu negara dengan tingkat kebudayaan yang tinggi. Di sana juga ada universitas tempat berlabuhnya para IT mendalami ilmu komputer. Tapi di kota Madras, 92 persen anak-anak menderita kekurangan gizi. Dari 8,3 juta anak yang meninggal setiap tahunnya di Asia, 3,5 juta di antaranya terjadi di India. Anak-anak ini meninggal karena dehidrasi akibat diare dan penyakit menular lainnya. Mengejutkan, ya?

Mozambik. Dulunya, Mozambik adalah negara yang kaya, juga merupakan tujuan wisata yang indah. Karena pemerintahan kulit hitam yang sukses merupakan ancaman bagi negara tetangga Mozambik, yaitu Afrika Selatan yang memberlakukan sistem yang dikenal dengan apartheid - sebuah kebijakan segregasi dengan diskriminasi rasial berdasarkan warna kulit - Afrika Selatan memberikan dukungan kepada tentara gerilya antipemerintah di Mozambik dan Angola, dengan memberikan suplai senjata dan uang dengan harapan bisa meruntuhkan pemerintahan kulit hitam di kedua negara itu.
Tentara gerilya menanam ranjau darat, menjarah hasil panen, membakar ladang, melempar mayat ke sumur sehingga airnya tidak bisa diminum, para lelaki dibunuh tanpa sebab, perempuan diperkosa, anak-anak lelaki yang sudah cukup besar diculik untuk kerja paksa dan dilatih menjadi tentara gerilya. Iya. Negara itu dipenuhi anak-anak yatim piatu.

Kamboja. Di sini ada kuburan massal Chong Ek yang isinya sekitar 9000 tengkorak yang dibiarkan bertumpuk di atas rumput. Pusat tahanan Tuol Sleng yang dulu berada di bawah rezim Pol Pot, yang semula adalah sekolah menengah diubah menjadi penjara dan pusat penyiksaan. Sekitar 14.500 orang dibunuh di sana, 2.000 di antaranya adalah anak-anak. Bunda pernah melihat sekilas di tv, ada di youtube, kayaknya. Bunda nggak sanggup membayangkannya. Manusia yang dikuasai setan ada di sana. Nggak punya nurani menyiksa dengan sesuka hati. Heran! Terbuat dari apa, sih, mereka?

Vietnam. Anak-anak bersekolah di malam hari, karena siangnya mereka harus bekerja mencari nafkah, akibat buruknya ekonomi di negara itu pasca perang dengan Amerika. Tidak hanya itu, banyak anak-anak yang cacat, seperti tidak punya bola mata, akibat racun bom yang pernah diledakkan semasa perang.  

Angola. Dulunya, negara ini adalah negara kaya sumber daya alam seperti berlian dan bijih besi. Juga kaya minyak bumi dan emas. Logam-logam langka yang dibutuhkan teknologi tinggi juga bisa ditambang di sana. Perang saudara yang terjadi di sana menghancurkan semuanya.  Anak-anak dipotong kaki dan tangannya oleh tentara gerilya antipemerintah. Ayah dan ibu mereka dibunuh di depan mata mereka.

Banglades. Bencana alam banjir yang mampu merendam sepertiga luas negara mereka, telah menyebabkan kelaparan dan wabah penyakit merajalela.  Bahkan ada yang tinggal di pemukiman yang berada di tumpukan sampah! Oya, di negara ini juga, ada seorang ekonom hebat yang mendapatkan penghargaan Nobel bidang ekonomi untuk program Bank Grameen-nya. Beliau adalah Dr. Muhammad Yunus. Bank Grameen adalah bank untuk orang miskin. Sembilan puluh empat persen peminjamnya adalah perempuan. Jadi, setiap wanita yang meminjam di sini dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk saling membantu. Yang mengharukan, meski pinjamannya kecil, namun cukup untuk memutar roda perekonomian mereka! Misalnya, seorang perempuan diberi pinjaman untuk membeli ayam satu ekor. Nanti setelah ayamnya bertelur dan telurnya bisa dijual, keuntungan dari jual telur itu bisa dikembalikan. Sehingga bisa dipinjam oleh orang lain yang membutuhkannya. Dari hanya seekor ayam, bisa berbiak menjadi berekor-ekor ayam bahkan sapi! Hebat, ya! Profil Dr. Muhammad Yunus bisa dilihat di sini.


Dr. Muhammad Yunus. Ekonom dari Banglades. Pendiri Bank Grameen. Peraih Nobel bidang Ekonomi. Orang hebat yang peduli rakyat kecil

Irak. Perang Teluk yang dilancarkan Amerika dan Sekutunya menggunakan misil senilai 1,5 juta dolar satunya. Dalam Perang Teluk ini, diperkenalkan istilah baru: pengeboman tepat sasaran. Dalam pengeboman tepat sasaran itu, tempat-tempat perang nggak seperti habis perang karena nggak tampak puing-puing. Tapi langsung menghancurkan pada tujuannya sampai sangat remuk. Pembangkit listrik hancur, sehingga saluran pembuangan rusak dan kotoran mulai mengalir ke rumah-rumah. Anak-anak bahkan dijadikan alat pendeteksi ranjau darat. 

Etiopia. Perang saudara dan bencana kekeringan telah membuat Etiopia menjadi sangat miskin. Tubuh orang-orang di sana sangat kurus! Hanya kulit membalut tulang. Setiap orang dijatah makannya, berdasarkan gelang kertas yang dipakaikannya. Gelang kertas ini menjadi penanda butuh seberapa banyak makanan yang mereka dapatkan.

Sudan. Perang saudara telah membuat anak-anak kehilangan orangtua mereka. Sama seperti di Mozambik. Banyak anak yang ditembak ketika mereka bersembunyi di semak-semak. Atau kepala mereka digigit hyena.

Rwanda. "Tidak ada lagi iblis di neraka. Mereka semua ada di sini, di Rwanda." (dari Majalah Time, yang dikutip dari pendeta setempat). Di sini, anak-anak bisa saja berpapasan dengan pembunuh keluarga mereka. Peperangan yang terjadi di sini adalah perang antarkelompok etnis, suku Hutu dan Tutsi. Secara tradisional, suku Hutu adalah petani yang mengolah tanah, sedangkan suku Tutsi adalah gembala yang memelihara ternak. Rwanda merupakan koloni Jerman sampai pemerintahannya diserahkan kepada Belgia pada akhir Perang Dunia I. Tahun 1920-an, orang-orang Belgia memutuskan untuk membatasi pemberian posisi di pemerintahan dan akses pendidikan tinggi bagi suku Tutsi. Orang-orang Belgia mendaftarkan semua penduduk Rwanda sebagai suku Tutsi atau Hutu pada hari kelahiran mereka. Jurang antara suku Hutu dan Tutsi makin dalam pada tahun-tahun menjelang dan sesudah kemerdekaan, tahun 1960-an. Tindakan pembantaian dimulai setelah pesawat terbang yang membawa Presiden Habyarimana ditembak jatuh. Suku Hutu menyalahkan suku Tutsi dan merancang rencana untuk membantai mereka secara sistematis. Pembantaian memicu perang saudara yang hebat. Anak laki-laki dipaksa menjadi tentara. Orangtua mereka dibunuh. 


Haiti. Columbus menemukan pulau Haiti ketika dia tiba di daratan Amerika. Haiti adalah negara kecil yang letaknya di Laut Karibia. Wilayah ini, mulanya dikuasai Spanyol. Lalu dikuasai Perancis. Setelah negara ini merdeka dan melakukan pemilihan umum pertama, delapan bulan setelahnya, terjadi kudeta dan presiden Aristide diasingkan. Selama empat tahun, negara ini berada di bawah rezim autokratis yang mengerikan. Anak-anak perempuan banyak menjadi pelacur untuk menafkahi keluarga mereka. Banyak anak-anak yang dipenjara tanpa tahu kesalahan mereka.

Bosnia - Herzegovina. Yugoslavia merupakan negara gabungan dari enam republik. Pada tahun 1992, Bosnia-Herzegovina mendeklarasikan kemerdekaannya, namun lalu pecah perang saudara. Awalnya perang ini merupakan konfrontasi antara kelompok Serbia yang antikemerdekaan dan kelompok Muslim serta Kroasia yang prokemerdekaan. Para pemimpin kelompok ini menyebarkan kebencian dan ketakutan di antara masyarakat, sehingga pertempuran pun semakin intens. Kerap terjadi pembersihan etnis, bahkan bom ditujukan untuk anak-anak. Mereka menyimpannya di kue, permen, mainan, benda apa pun yang menarik perhatian anak-anak. Anak-anak menderita masalah psikologis yang sangat parah di sana.


---

Dear Kakak Ilman dan Adik Zidan sayang,
setiap halaman membaca buku ini, satu kata yang selalu Bunda lafazhkan: "alhamdulillaah." Mungkin  kita bukan termasuk keluarga yang bergelimangan harta. Tapi kita hidup di negara yang aman. Meski nggak setiap saat kita bisa makan makanan yang mewah, tapi kita bisa makan dengan nikmat. Masalah kita seringnya, "makan apa, ya, hari ini?" atau "aku nggak berselera makan."
Tapi buat sebagian anak-anak yang ada di cerita di buku ini: makan apa aja hajar, bleh! Yang penting MAKAN.

Air. Bunda sering lihat di sekitar kita, banyak orang membiarkan air bersih mengalir terbuang sia-sia. Padahal di Tanzania sana, buat ngambil air keruh aja jalannya sejauh itu! Bunda mohon sama kalian berdua, untuk bijak memakai air. Seperlunya. Nggak dibuang-buang. Hemat air. That's very important!

Makanan. Kakak Ilman, adik Zidan... Sewaktu Bunda menulis ini, tahun 2012, kalian masih bocah-bocah yang kadang nggak tahu mana yang benar dan salah. Tapi Bunda dan papa nggak akan pernah lelah untuk mengingatkan bahwa kita harus bersyukur untuk semua makanan yang ada di hadapan kita. Rasulullaah SAW tidak pernah mencela makanan. Kita juga harus begitu. Makanan adalah rezeki untuk kita. Jadi, kalian nggak boleh buang-buang makanan, ya. Kalo sudah terlihat kalian nggak akan memakannya, jangan dicuil. Sebaiknya diberikan pada orang yang memang mau memakannya. 

Ketentraman. Terkadang rasa lelah akibat aktivitas di luar atau juga rasa lapar yang mendera membuat kita nggak bisa mengontrol emosi. Kita menjadi lebih peka dan lebih mudah marah. Ini juga pernah terjadi di keluarga kita. Entah itu kakak Ilman suka tiba-tiba marah karena video di yutub buffering-nya butuh waktu lama. Atau karena gadget tiba-tiba lemot. Lalu kakak akan marah-marah. Bunda juga sama. Kadang hanya karena internet lambat, Bunda suka marah-marah. Apalagi kalo unduhan jadi putus. Padahal, kalau mau sekali lagi merenungi apa yang terjadi di tempat-tempat yang jangankan ada jaringan internet atau gadget canggih - buat minum atau hidup aja susah - kenapa kita nggak jalani semuanya dengan syukur? Kemarahan sama sekali nggak akan menimbulkan ketentraman. Kita yang sudah dikasih hidup tentram, malah cari-cari masalah? Wow! *salto*

Kesehatan. Kita dikasih makan yang cukup, tempat untuk bernaung yang nyaman tapi kita suka mengabaikan kesehatan kita. Padahal, untuk orang-orang yang di buku ini, untuk bisa bebas dari diare aja, kayaknya mimpi. 

Kalo sudah begini, apa kita yang setiap hari bisa makan dengan cukup masih bilang kekurangan? Sudah punya rumah yang layak, masih bilang miskin? Masih bisa tidur dengan nyenyak, masih cari-cari alasan untuk mengeluhkan insomnia yang terkadang dikarang sendiri?

Review Bunda tentang buku ini:
Meski Bunda susah payah membacanya, buku ini Bunda kasih 5 bintang. Bukan karena Bunda suka dengan penderitaan orang-orang yang tertuang di buku ini. 5 bintang untuk kehebatan bu Tetsuko saat mengunjungi mereka. Menebarkan kasih sayang, walau mereka tidak berbicara dalam bahasa yang sama. Kasih sayang itu menjadi satu bahasa sendiri yang dipahami semua manusia. Karena hati yang berbicara. 

Susah payah membacanya karena Bunda menderita. Tapi buku ini harus kalian baca. Harus. Semoga kalian selalu ingat bahwa ada banyak orang yang membutuhkan kepedulian kalian. Kalian dilahirkan bukan untuk kesia-siaan, sayang.

Untuk terjemahannya, Bunda rasa lumayan. Bunda bisa mengikutinya. Meski ada beberapa typo kadang-kadang. Bunda suka ilustrasi sampulnya. Sampul buku bu Tetsuko selalu didominasi warna putih. Di dalam buku ini ada beberapa foto hitam putih.

Oya, ini dia bu Tetsuko Kuroyanagi. Cantik, ya? Profilnya bisa kalian baca di sini.


Tetsuko Kuroyanagi. Duta Kemanusiaan UNICEF

Semoga, setelah membaca review Bunda yang ini, kalian menjadi manusia yang banyak bersyukur untuk segala hal yang kalian terima. Di balik semua keluhan kita, ada sangat banyak hal yang harus kita syukuri.


`Dan semua anak kecil itu memendam kesedihan luar biasa
Dalam hati mereka yang kecil mengira bahwa merekalah yang bersalah atas kematian keluarga mereka
"aku melakukan hal-hal yang dilarang ibu; karena itulah dia dibunuh".` hal 15


`Seorang gadis kecil pergi ke kamarnya
langsung menghampiri boneka kesayangannya
"maaf aku tidak bisa membawamu bersamaku. Terima kasih sudah menunggu," mungkin begitu katanya
mengambil mainannya untuk dipeluk
saat itulah bom meledak,
lalu membunuh anak itu.` Hal 22


`Mungkin ketika kengerian dan pengalaman terus menerus terjadi, dengan baik hati Tuhan menyediakan amnesia sebagai jalan menghapus ingatan itu dari pikiran mereka. Tapi cara itu pun sangat mengerikan.` Hal 290


`Kita tidak dilahirkan untuk saling membenci, kita dilahirkan untuk saling mengasihi.` Hal 299

Note: beberapa foto ngambil dari: 
- http://thetravelersduck.blogspot.com/
- http://alifiaonline.wordpress.com/
- juga hasil googling




Terusin baca - Totto Chan's Children - A Goodwill Journey to the Children of the World

25 Jul 2012

Wishful Wednesday [2]



Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Uh. Bunda memang payah! Masa, terakhir nulis Wishlist Wednesday itu 6 Juni 2012! Yang benar saja! Harusnya kan, Bunda rajin nulis, ya...
Janji-janji tinggal janji... 

Ini karena ada Giveaway di blog tante Astrid, jadi Bunda memaksakan diri untuk ingat bahwa hari ini hari yang tepat untuk posting Wishful Wednesday (lagi).

Bunda ingat, pertama kali beneran ngulik rak buku Bunda di Goodreads tuh, Bunda nandain buku ini untuk masuk ke rak to-read. Sudah lama sekali, deh, kayaknya. Tapi sampai sekarang, Bunda belum pernah lihat buku ini terpajang di toko buku yang Bunda kunjungi, such as Gramedia atau Rumah Buku. Atau memang kelupaan aja, kali, ya, pas ada di sana. Keburu kalap sama Miiko. Hihi.

Jadi, buku yang Bunda inginkan sekarang adalah:


Menurut Goodreads, isinya kurang lebih seperti ini:

In 1993 Greg Mortenson was the exhausted survivor of a failed attempt to ascend K2, an American climbing bum wandering emaciated and lost through Pakistan's Karakoram Himalaya. After he was taken in and nursed back to health by the people of an impoverished Pakistani village, Mortenson promised to return one day and build them a school. From that rash, earnest promise grew one of the most incredible humanitarian campaigns of our time-Greg Mortenson's one-man mission to counteract extremism by building schools, especially for girls, throughout the breeding ground of the Taliban.Award-winning journalist David Oliver Relin has collaborated on this spellbinding account of Mortenson's incredible accomplishments in a region where Americans are often feared and hated. In pursuit of his goal, Mortenson has survived kidnapping, fatwas issued by enraged mullahs, repeated death threats, and wrenching separations from his wife and children. But his success speaks for itself. At last count, his Central Asia Institute had built fifty-five schools. Three Cups of Tea is at once an unforgettable adventure and the inspiring true story of how one man really is changing the world-one school at a time

Kayaknya asik, ya, berpetualang sama penulis yang bikin sekolah buat anak-anak Pakistan yang ada di bawah tekanan Taliban. 
 
Sebetulnya, Bunda suka takut baca buku semacam ini. Soalnya kan *mungkin* bakalan ada cerita kekerasan gitu. Yah, kalo sebatas fiksi, mungkin ngilu, tapi kalo udah realita, biasanya Bunda bakalan nangis berhari-hari membayangkan nasib orang-orang di sana. Tapi Bunda penasaran, plus bintang yang bertaburan di Goodreads juga banyak yang kasih 4. Dan Bunda juga pengen nambah wawasan biar nggak baca buku fiksi melulu. Hihi. 

Ternyata, buku ini bisa dibeli di Bukabuku.  Tapi, yah, syukur-syukur ada yang mengabulkan wish list Bunda...

Nah, kalo teman-teman Bunda ada yang mau ikutan meme yang diadakan Tante Astrid, caranya gampang, kok!
1. Follow aja blog Book To Share.
2. Buat postingan tentang buku-buku yang menjadi incaran minggu ini. Mulai dari yang akan dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi saja. Tulis juga kenapa buku itu masuk ke dalam wish list.
3. Meninggalkan link Wishful Wednesday di Mr. Linky (ada di bawah postingan tante Astrid). Boleh juga tambahkan button Wishful Wednesday di postingan.
4. Blogwalking, deh, ke sesama blog yang ikut share wish list...
Terusin baca - Wishful Wednesday [2]

6 Jun 2012

Wishful Wednesday


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Ini pertama kalinya Bunda ikut blog hop Wishful Wednesday. Konon, di blog hop Wishful Wednesday ini, kita bisa nulis buku apa saja yang sedang menjadi incaran atau harapan untuk kita miliki.

Well, sudah lama Bunda kepingin punya buku ini. 



Terlepas dari banyak orang yang membenci beliau, Bunda tetap menyayangi beliau. Pancaran wajahnya yang sumeh, membuat Bunda merasa menyayangi beliau seperti kakek Bunda sendiri. Hahaha. Konyol. Kenal juga nggak :p

"Harga 300 ribu memang layak untuk buku ini. Sebuah buku yang akan menghuni rak koleksi sepanjang masa. Berisi penuturan 113 narasumber mengenai kesan pribadi mereka tentang Pak Harto.

Yang paling menarik, pendapat para kepala negara ASEAN. Jadi rindu ketika Indonesia menjadi Macan Asia, yang disegani bukan hanya negara2 ASEAn, tapi juga negara2 lain. Mungkin pendapat Pak Mahathir Mohamad ada benarnya juga, bahwa IMF memang sengaja ditempatkan di negara kita untuk menjatuhkan Pak Harto..." -- review dari tante Fanda di Goodreads dan di blognya.

Mudah-mudahan Bunda bisa punya buku ini, ya... Hehe... Siapa, ya, yang mau berbaik hati membelikan Bunda buku ini? :D


Share yuk Wishful Wednesday-mu, dengan cara...

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =) 



  • Terusin baca - Wishful Wednesday

    5 Jun 2012

    Biar Miskin yang Penting Senang!






    Judul buku: Saga no Gabai Bāchan (Nenek Hebat dari Saga)
    Penulis: Yoshichi Shimada
    Koordinator Penerjemah: Mikihiro Moriyama
    Penerjemah: Indah S. Pratidina
    Penyunting: Tim Khansa
    Pewajah Sampul: Iksaka Banu
    Pewajah Isi: Husni Kamal
    Diterbitkan oleh: Mahda Books
    Jumlah halaman: 264 halaman
    Cetakan I: April 2012
    Cetakan II: Mei 2012
    ISBN: 978-602-97196-2-8
    5 dari 5 bintang
    Children Books

    Akihiro yang kehilangan ayahnya setelah Hiroshima dibom, terpaksa berpisah dari ibu untuk tinggal bersama neneknya di Saga. Meski[pun keluarganya hidup prihatin, namun kehidupan di Saga satu peringkat lebih miskin. Tetapi sang nenek selalu punya ratusan akal untuk meneruskan kehidupan dan membesarkan cucunya.

    Dengan ide-ide cemerlang sang nenek, kehidupan selalu mereka jalani penuh tawa. Sulit memang, tapi menarik dan mengasyikkan. Namun waktu terus berjalan dan tibalah hari ketika Akihiro harus mengambil keputusan. Dia harus memilih antara nenek dan Saga yang dia cintai atau mengejar mimpi-mimpinya.

    Diterjemahkan langsung dari Bahasa Jepang oleh Indah S. Pratidina, buku ini membuat kita tersenyum, terenyuh, dan mungkin berpikir ulang tentang nilai-nilai kesederhanaan.


    Dalam waktu kurang dari satu tahun, buku ini telah terjual 100.000 eksemplar di negeri asalnya. Kisah Nenek Hebat dari Saga begitu terkenal sehingga diadaptasi dalam bentuk film, layar lebar, game maupun manga.  (dari cover belakang)

    “Kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh uang. Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang ditentukan sendiri oleh diri kita sendiri, oleh hati kita.” – akhir dari bagian prolog.

    “Hanya dengan berkata, ‘kita turun temurun miskin’ sambil membusungkan dada, Nenek sudah menunjukkan bahwa dia mengusung cara hidup miskin garis keras.” – halaman 67.

    “Hidup itu gabungan berbagai kekuatan.” – halaman 171.


    Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
    Apa, sih, tolak ukur kebahagiaan seseorang? Rumah mewah? Mobil mewah? Rutin memanjakan diri ke salon dan spa? Makan enak di restoran mewah? Liburan sebulan sekali keliling dunia? Lalu, kalo semua itu nggak tercapai sekali saja, kita akan merasa nelangsa? Merasa melarat?

    Seperti yang diceritakan di cover belakang di atas, Akihiro yang sudah miskin akibat bom Hiroshima dan juga kepergian sang ayah untuk selamanya, semakin miskin lagi satu peringkat di bawah kemiskinan yang dijalaninya, ketika mulai tinggal dengan sang nenek. Penyambutan sang nenek sewaktu Akihiro kecil sampai di gubuknya, bukanlah pelukan atau hiburan, tapi bagaimana cara menanak nasi. Karena mulai keesokan harinya, dialah yang akan menanak nasi. Sebab Nenek harus berangkat bahkan sebelum subuh untuk bekerja sebagai tukang bersih-bersih.

    Ide Nenek Osano tentang “supermarket” di sungai depan rumahnya cukup unik dan hebat. Sederhana padahal. Nenek hanya memasang galah yang dapat menjaring sampah yang melewati sungai. Di antara sampah-sampah itu, ada “sampah” yang masih bisa digunakan. Misalnya, sayuran yang sebetulnya masih segar, tapi karena bentuknya tidak sempurna, maka dibuang ke sungai. Nenek Osano bilang, sayuran yang lewat sungai itu dicuci oleh air sungai, jadi sudah bersih. Timun yang bengkok, kalo sudah diiris-iris tetap saja namanya sama: timun.

    Well, sungai di Saga tempat Nenek Osano tinggal yang Bunda bayangkan, tidak sama dengan sungai Citarum di Bandung atau Sungai Ciliwung di Jakarta yang penuh dengan timbal, ya. Membayangkan kita memulung sayuran dari sungai-sungai hari gini langsung membuat Bunda merasa mual. Mungkin saja, sungai Citarum atau Ciliwung di tahun 50-an – ketika setting cerita ini berlangsung – sama bersihnya dengan sungai tempat supermarket Nenek Osano berada.

    Semua anak, Bunda rasa sama. Pengen punya sesuatu yang dibanggakan. Sama juga dengan Akihiro kecil. Ketika dia mengagumi orang yang bermain kendo dan ingin juga menjadi seorang atlet kendo. Dia minta izin sama neneknya, untuk ikut latihan kendo. Awalnya, Nenek mengizinkannya. Tapi begitu tahu, bahwa harus membayar, Nenek kemudian bilang, “lupakan saja.”

    Nah, sewaktu Akihiro ingin sekali berlatih judo dan Nenek bilang, “lupakan”, dia berusaha merayu sang nenek bahwa dia butuh olahraga. Nenek kemudian bilang bahwa beliau punya usul, “bagaimana kalo lari saja?” Sejenak, Bunda tertawa terbahak. Usulnya lucu sekaligus miris. Kalo memang hanya mau olahraga, kan, bisa tuh, lari? Gratis, nggak usah bayar. Bener juga, ya.. hihi...

    Karena memang Akihiro bersungguh-sungguh mau berolahraga, maka berlari pun ditekuninya. Sehingga, setiap ada festival olahraga di sekolahnya, Akihiro selalu memenangkan lomba atletik.

    Banyak cerita-cerita lain yang menyentuh hati. Sebut saja cerita tentang tukang tahu, tukaran bekal makan siang di hari festival olahraga atau juga kisah acar kulit semangka. Kalo Bunda ceritakan, sih, nanti jadi spoiler. Biarlah kalian baca sendiri, bagaimana menyentuhnya buku ini.

    Intinya satu: bagaimana kita menghadapi hidup kita. Mau dengan ceria atau terus menerus mengeluh merasa kurang? Nenek Osano memilih hidup miskin yang ceria. Sudahlah hidup susah, masa harus makin susah dengan banyak mengeluh?

    Jadi ingat. Pernah Bunda ada undangan ngumpul sama teman-teman Bunda, di kafe yang cukup mahal harga makanan dan minumannya. Memang, sih, semahal-mahalnya tarif di sana nggak semahal restoran berkelas yang per hidangan bisa sampai sejuta dua juta. Tapi tetep aja, dibanding warung ramen atau bakso malang langganan Bunda, masih jauh harganya. Hahaha. Nah, waktu itu, Bunda sama Papa memang lagi bokek. Tapi kepaksa ke sana, karena ada keperluan sama teman-teman Bunda. Bunda sama Papa nggak makan, karena memang udah makan di rumah. Tapi, alamak! Buat minum aja, udah hampir dua ratus ribu...

    Nah, waktu menyadari penampakan wajah Papa yang nggak suka dengan keadaan itu, perasaan Bunda jadi nggak enak banget ke Papa saat ngumpul sama teman-teman Bunda itu. Besok harinya, Papa negur Bunda dengan bilang, “lain kali, kalo tahu tempat ngumpulnya mahal, nggak usah datang aja. Bukan nggak boleh berteman. Papa juga banyak undangan ngumpul di kafe mahal. Tapi ya, Papa mikir, lah. Uang segitu bisa buat ini dan itu yang lebih penting.”

    Bulan April lalu, ramai dibicarakan tentang buku ini. Dan ramai-ramai memberi bintang empat sampai lima. Dan ternyata, ketika buku ini akhirnya sampai ke tangan Bunda, memang sudah cetak ulang di bulan Mei. Wow. Buku ini banyak penggemarnya!

    Memang wajar dan sudah seharusnya buku ini banyak penggemarnya. Kalau semua orang baca buku ini, termasuk pejabat-pejabat negeri kita yang doyan korupsi, harusnya mereka merasa malu sama Nenek Osano. Dan memang iya, semakin banyak harta kita, semakin panjang juga nanti daftar perhitungan kepemilikan kita selama di dunia di akhirat nanti, kan?  Tapi bedakan antara hidup hemat dengan medit alias pelit, lho! Hemat tidak sama dengan pelit! Hemat itu bisa menjadikan seseorang kreatif. Seperti Nenek Osano.

    Jadi, nyambung juga, ya, teguran Papa dengan buku ini. Atau Papa negur Bunda karena sudah baca buku ini? :D

    So... Ada banyak hal yang bisa kita pelajari tentang hidup di buku ini, dengan mudah dan ringan. Nggak merasa digurui, tapi merasa ditempelengi iya. Buat yang ngerasa, sih... :D

    Soal fisik buku... Meski font-nya font standar, nggak masalah, sih. Terima kasih buat ibu Indah S. Pratidina dan tim editor Khansa yang sudah membuat buku ini menjadi enak dibaca dalam Bahasa Indonesia. Buat Bunda yang waktu membacanya sangat terbatas, Bunda bisa menyelesaikannya dalam waktu dua hari. Ingat. Waktu membaca Bunda yang sangat terbatas. Hehe...

    Oke, lima bintang untuk buku ini. Selamat tertawa dan menangis pada waktu yang bersamaan dengan buku ini, ya! Kalo pakai perasaan, sih, bacanya... :D

    Kalo review Bunda di Goodreads, sih, gini...

    Terusin baca - Biar Miskin yang Penting Senang!

    1 Jun 2012

    [update] Antrian Buku Bulan Juni 2012

    Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

    Dalam rangka rajin menulis efek dari baca ini, Bunda kepikiran buat posting tiap hari di mana saja. Hehe.

    Hari ini sudah tanggal 1 Juni 2012. Nah, sepertinya Bunda harus mulai membuat daftar bacaan, supaya buku yang sudah demikian menumpuk benar-benar dibaca satu per satu sesuai jadwalnya. 

    Oke, mari kita buat target yang nggak terlalu muluk. Enam buku satu bulan ini cukup? Hmmm... Naik jadi delapan? Jangan dulu, deh... Enam dulu saja. Kalo tengah bulan keenam buku itu sudah rampung, bisa ditambahkan lagi...

    Baik. Mari kita masuk ke daftar buku yang akan diantrikan... *tata bahasa yang sungguh berantakan*
    2. Anna and The French Kiss - Stephanie Perkins
    3. A Series of Unfortunate Events - The Bad Beginnings - Lemony Snickett
    4. Hetty Feather - Jacqueline Wilson (dapet hadiah dari tante Ally, nih!)
    5. Hunger Games - Suzanne Collins
    6. Breaking Dawn - Stephanie Meyer (belum baca... hehe)
    sepertinya daftarnya akan berubah. Entah itu bertambah atau malah ada yang diganti. Nunggu kabar quest dari BBI dulu. Hihihi... Sampai ketemu di postingan berikutnya, ya!




    *updated*
    uh! Sepertinya akan ada yang berubah, nih. Atau mudah-mudahan malah penambahan. BBI sudah menetapkan, posting bareng tanggal 29 Juni nanti adalah buku dari genre Gothic. Nah, karenanya, Bunda menetapkan salah satu judul dari A Series of Unfortunate Event, The Bad Beginning-nya Lemony Snickett. Entah itu jadi bertambah satu atau salah satu dari keenam buku di atas Bunda ganti dengan buku gothic. We'll see it...
    Terusin baca - [update] Antrian Buku Bulan Juni 2012

    13 Jan 2011

    Tumbuh di Tengah Badai


    Tumbuh di Tengah Badai
    Penulis: Herniwatty Moechiam
    Penyunting: Gunawan BS
    Perancang Sampul: Tyo
    Pemeriksa Aksara: Kus Wardani
    Penata Aksara: Sih Gagas dan Anya
    Cetakan I, April 2009
    Diterbitkan oleh: Penerbit Bentang
    xii + 236 hlm; 20,5 cm
    ISBN: 978-979-1227-56-8
    Memoar

    Hati ibu mana yang tak hancur saat mengetahui anaknya tak mungkin tumbuh normal seperti anak-anak lainnya? Catra didiagnosis autis, sebuah gangguan perkembangan yang belum dikenal luas pada masa itu. Di saat anak-anak lain mulai berinteraksi, dia malah sibuk dengan dunianya sendiri, sebuah dunia yang tak bisa dimasuki orang lain, tak terkecuali ibu yang telah melahirkannya.

    Saya kenal dengan penulis buku ini lewat sebuah aplikasi game di jejaring sosial. Kebetulan, beliau adalah tante dari ibutio. Kenal sama nini, begitu saya menyebut beliau, gara-gara sama-sama menyukai aplikasi game di jejaring sosial itu. Difasilitasi chat box di game itu, saya mulai berinteraksi dengan nini.

    Nini banyak bercerita tentang pengalamannya membesarkan putranya yang kini kuliah di Yogyakarta. Bukanlah suatu hal yang mudah, mengingat di sana, anaknya seorang diri dengan keadaannya yang autis, sementara nini di Bekasi. Itu membuktikan, bahwa nini sudah berhasil menjadikan Catra sebagai anak autis yang mandiri.

    Jangankan punya anak autis, punya anak normal aja sering kali orangtua mengurut dada. Apalagi punya anak autis atau anak-anak berkebutuhan khusus lainnya. Ya tenaga, ya tangki kesabaran, ya materi, ya waktu dan lainnya, mesti senantiasa diupgrade.

    Banyak hal yang saya dapatkan setelah membaca buku ini. Mulai dari gejala-gejala autis, bagaimana menghadapi reaksi orang lain, belum lagi minimnya dukungan dari keluarga dan suami. Menurut saya, nini adalah perempuan super. Dengan segala hal yang dihadapinya, nini masih sanggup bertahan.

    Yah, saya mengamini apa yang dikatakan Farhan ketika mengomentari buku ini. Pengalaman orang lain adalah pelajaran yang paling berharga. Apapun kondisi anak, orangtua harus kompak dalam segala halnya. Ma kasih, nini, udah berbagi dengan kami. Bintang 4 buat nini.
    Terusin baca - Tumbuh di Tengah Badai

    2 Mar 2010

    Honeymoon with My Brother - Bertualang Keliling Dunia Gara-gara Putus Cinta


    Honeymoon with My Brother - Bertualang Keliling Dunia Gara-gara Putus Cinta
    Penulis: Franz Wisner

    Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
    Penyunting: Anton Kurnia

    Pemeriksa Aksara: Daniel Sahuleka
    Cetakan IV, Maret 2009

    Diterbitkan oleh Penerbit Serambi

    Halaman: 485 halaman, 15 x 23 cm
    ISBN:978-979-024-101-5

    Memoar
    Siapa, sih, yang nggak patah hati, pas udah deket tanggal menikah, yang harusnya jadi hari paling berbahagia, trus malah diputusin? Padahal sudah sepuluh tahun bersama? Itu juga yang dirasakan oleh Franz Wisner. Saya seakan bisa ikut merasakan pedihnya Franz, ketika ia harus menelpon orang-orang yang sudah diundang untuk datang ke acara pernikahannya.

    Saya terhenyak, ketika ia tetap menggelar pesta pernikahan yang tanpa mempelai wanita. Walau semua orang yang hadir berusaha menghibur, saya percaya, hati tidak pernah bisa berbohong, kan?
    Apalagi bulan madu ke Costa Rica yang sudah direncanakan matang-matang yang tidak mungkin dibatalkan. Yang akhirnya, Annie - mantan calon istrinya itu, lalu digantikan oleh Kurt, sang adik.

    Saya begitu menikmati semua hal yang dituturkan oleh Franz di buku ini. Pertama, saya bisa membayangkan emosi campur aduk yang dirasakan oleh Franz. Sebagai orang yang pernah patah hati, rasanya apa yang pernah saya alami, masih tidak sebanding dengan apa yang Franz rasakan. hahaha.
    Kedua, ketika ia memutuskan untuk mulai menjadi back packer, pasca perjalanan bulan madu pertamanya bersama Kurt, ia memutuskan meninggalkan pekerjaannya. Pastilah orang akan mencibir atas keputusannya itu. Seakan-akan keputusan yang diambilnya bukanlah sebuah keputusan yang normal. Ketiga, bagaimana ia berjuang untuk keluar dari sakit hatinya yang amat dalam itu. Keempat, bagaimana akhirnya ia mendapatkan kembali persaudaraan bersama adiknya itu. Walaupun kakak beradik, ternyata Franz tidak benar-benar mengenal Kurt.

    Ternyata, menjadi back packer itu tidak mudah, ya. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, mereka berdua mulai belajar. Lagi-lagi buku ini menunjukkan bahwa nggak ada kata terlambat untuk memulai segala sesuatu. Every clouds has its silver lining, seakan-akan betul-betul dipaparkan di sini. No wonder, buku ini masuk ke Book Oprah's Club. Emang keren.


    Oya, karena ada semacam "tuntutan" untuk menulis jurnal perjalanan mereka pada La Rue, nenek mereka, baca buku ini berasa baca diari aja. Tapi bukan sekadar curhat yang tampil, sekaligus informasi yang pastinya berguna kalo suatu saat kita memutuskan buat jadi back packer. Saya suka bagaimana penulisnya bisa ngambil hikmah dengan mengunjungi negara dunia ketiga.


    Jujur aja, saya sempat terhenyak waktu saya sadar, bahwasanya Indonesia ternyata termasuk negara dunia ketiga. Hahaha. Soalnya, saya pernah nulis di status pesbuk, quote dari halaman 474-475 yang isinya,

    "Seorang temanku mengirim e-mail saat aku berada di Kamboja. Dia ingin tahu apakah negara itu sesuai intuk anak-anak. 'Tentu saja,' jawabku, merasa anak-anak akan senang melihat teman-teman mereka berlarian dengan gembira di depan gubuk-gubuk satu ruangan beratap seng. Mereka bisa belajar banyak dari orang miskin. Begitupula orangtua mereka. Aku tahu, karena aku telah mengalaminya.
    Mereka akan belajar bahwa mandi dengan air dingin lebih baik daripada tidak bisa mandi sama sekali.

    Mereka akan memahami bahwa dunia tidak dipenuhi oleh double-espresso latte, tetapi susu bubuk dan air panas. Ironis, tapi pesanlah kopi di negara yang terkenal akan kopinya - Kolombia atau Indonesia, misalnya - dan kau mungkin akan diberi kopi instan. Biji kopi terbaik langsung dikirim ke Starbuck atau Folger's.

    Mereka akan tahu bahwa sebagian besar penduduk Dunia Ketiga memandang pekerjaan sebagai emas, dan mereka jarang mendengar seseorang mengatakan ini bukan pekerjaanku.


    dst"


    Ups! Spoiler :D


    Bener, kok. Buku ini memang keren. Saya betul-betul menikmati semua cerita dan perjalanannya.


    Satu lagi, saya belajar dari ini:
    Melihat Annie selama lima menit langsung menghapuskan waktu yang kuhabiskan selama di jalan untuk berandai-andai dan memikirkan tentang membangun kembali hubungan kami.

    Seharusnya aku pulang untuk berhadapan langsung dengan dirinya berbulan-bulan yang lalu.
    Ketika aku akhirnya bertemu dengan Annie, mimpi itu pun mati. Dengan cepat, mudah, tanpa ritual apapun. (hal 419-420)

    To tell you the truth, this is exactly just like how I felt, when me and my ex met accidentally couple of mos ago. Hehehe


    Untuk buku ini, saya kasih bintang 5, karena ada banyak pelajaran yang saya dapatkan di sini. Buku ini lumayan mengubah cara berpikir saya.
    Terusin baca - Honeymoon with My Brother - Bertualang Keliling Dunia Gara-gara Putus Cinta