Tampilkan postingan dengan label contemporary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label contemporary. Tampilkan semua postingan

29 Des 2025

[Review] Heaven by Mieko Kawakami


 


Judul: Heaven     
Penulis: Mieko Kawakami
Penerjemah: Sam Bett and David Boyd
Cover Photographer: Takao Noel
Cover Design: Katie Tooke
Penerbit: Picador 
Cetakan pertama, 2022
Halaman: 175 halaman
Format: Paperback
ISBN: 978-150-98-9825-1
Genre: Fiction, Japanese Literature, Contemporary, Japan, Literary Fiction, Asian Literature, Coming of Age, Asia, Novels, Young Adult 
  Status: Pinjem sama Mama Heka


From the bestselling author of Breasts and Eggs and international literary sensation Mieko Kawakami, comes a sharp and illuminating novel about a fourteen-year-old boy subjected to relentless bullying.

In Heaven, a fourteen-year old boy is tormented for having a lazy eye. Instead of resisting, he chooses to suffer in silence. The only person who understands what he is going through is a female classmate, Kojima, who experiences similar treatment at the hands of her bullies. Providing each other with immeasurable consolation at a time in their lives when they need it most, the two young friends grow closer than ever. But what, ultimately, is the nature of a friendship when your shared bond is terror?

Unflinching yet tender, sharply observed, intimate and multi-layered, this simple yet profound novel stands as yet another dazzling testament to Mieko Kawakami’s uncontainable talent. There can be little doubt that it has cemented her reputation as one of the most important young authors at work today.



Hellow, Ilman dan Zi...

Aka pabar kalian?

Masih dalam rangka menghormati dan menghargai kebaikan Mama Heka yang udah minjemin segambreng buku untuk nemenin pas aku kena Covid v.5 di bulan Oktober 2025 lalu -- yang ternyata semuanya baru abis dibaca sampai akhir tahun 2025, eh, well, at least, I read a lot of books, eh? -- ini buku ke sekian yang mau aku review. 

Disclaimer: 
sebenernya di semua tulisanku ini aku pengennya pake ejaan yang disempurnakan, pakai cara penulisan yang sesuai dengan kaidah penulisan yang seharusnya -- misalnya untuk istilah asing aku buat italic dan lain-lain dan lain-lain. Tapi menurutku kalo harus kayak gitu, tulisan-tulisanku nggak akan pernah tayang, sebab waktu untuk ngedit bisa kupake buat nulis review lain, jadi kupikir ga usah formal-formal, deh. Kekeke. 

Ditambah ini kejar tayang juga. Karena setiap menulis review menunggu mood menulisku penuh dulu atau kadang setengah hati yang penting nulis daripada nggak -- lalu langsung klik Publish, jadi maafkan kalo isinya rough semua.


Oke. Mari kita bahas tentang novel Heaven yang ditulis oleh Mieko Kawakami ini. Dari sampulnya, banyak testimoni dari pembaca yang kurang lebih menggambarkan bahwa novel ini sifatnya "heartbreaking" alias bikin patah hati. Sepatah hati cinta yang cuma sepihak aja, kah? 

Heaven bercerita tentang dua remaja SMP, remaja laki-laki mendapat julukan Eyes (Ranpari), narator buku ini, tidak diketahui nama aslinya siapa. Eyes mendapat julukan seperti itu karena dia punya kelainan mata yang disebut "lazy eyes". Satunya lagi remaja perempuan bernama Kojima. Yang membuat mereka berdua menjadi dekat adalah keduanya sama-sama korban perundungan di sekolahnya. Eyes dirundung oleh geng anak laki-laki di sekolahnya, Kojima dirundung oleh geng anak perempuan. 

Eyes dirundung karena kelainan pada matanya, Kojima dirundung karena dia dianggap jorok. 

Keakraban Eyes dan Kojima dimulai ketika muncul surat-surat yang ditujukan untuk Eyes. Surat itu disimpan di laci atau di selipan halaman buku pelajaran Eyes, yang kemudian akan dibaca oleh Eyes secara sembunyi-sembunyi entah itu di kamarnya di rumah atau di toilet sekolah. Surat-surat dari Kojima membuat Eyes tidak merasa sendirian lagi. Awalnya mereka berkomunikasi melalui surat, lalu akhirnya keduanya bertemu secara langsung di tempat tersembunyi. Sampai akhirnya, Kojima mengajak Eyes mengunjungi tempat favoritnya: Heaven.

Saat dirundung, keduanya memilih diam. Namun suatu ketika, Eyes berusaha memberontak yang akhirnya membuat dia semakin disiksa oleh pasukan perundung itu.


Penderitaan Eyes nggak berhenti sampai di sana sebetulnya. Dia tinggal dengan ibu tirinya, ayahnya jarang pulang. Hal ini membuat Eyes sulit untuk bercerita soal keadaannya di sekolah pada ibu tirinya, karena dia merasa asing dengan ibu tirinya. Demikian juga dengan Kojima. Hal yang membuatnya nggak pengen tampak mengurus dirinya karena dia rindu ayahnya yang berpisah dengan ibunya dan tinggal di kota lain. 

Suatu ketika, harapan Eyes untuk memiliki mata normal muncul saat dia pergi ke rumah sakit usai disiksa mati-matian oleh si perundung. Dokter yang menanganinya mengusulkan untuk melakukan operasi matanya, karena lazy eyes akan berpengaruh ke nyeri kepala dan sebagainya. Ketika dia mengutarakan ini ke Kojima, justru Kojima tidak setuju. Baginya, mata Eyes cukup indah dan dia menyukainya, juga simbol kekuatan Eyes. Yang tidak Eyes sampaikan pada Kojima adalah bahwa lama kelamaan kondisi matanya akan menimbulkan nyeri kepala yang mungkin tidak dapat dikontrol lagi. 


Membaca ini sulit berhenti tapi juga membuat nafasku berkali-kali tertahan. Deskripsi Mieko menceritakan segalanya membuat kita seolah menyaksikan sendiri perundungan itu. Aku menghindari buku Breast and Egg, tapi aku malah baca Heaven. Aku menghindari baca Breast and Egg yang juga karya Mieko karena pernah baca diskusi di grup tentang buku itu dan kayaknya aku ga bakalan sanggup baca. Lah, tanpa ngecek lagi penulisnya siapa, aku main tunjuk aja saat Mama Heka nawarin pinjaman buku itu. Hahah. Gotcha, Peni!  

Terlepas dari seluruh kekejaman yang dipaparkan di novel ini, aku mengakui salah satu testimoni pembaca yang mengatakan bahwa "Mieko is a genius". Mieko jenius meramu alur, character building, juga emosi pembaca sehingga membaca buku ini seolah-olah membuat kita jadi saksi hidup seluruh kejadian di sisi Eyes. Hal ini yang membuatku yakin sepertinya nggak sulit mengadaptasinya ke dalam film dan animasi (yup, Heaven ada dalam format film dan animasi, tapi sepertinya aku nggak akan nonton, cukup di buku aja). 

Meski keduanya mengalami perundungan, namun keduanya berusaha menemukan kebahagiaan di antaranya. Ada humor yang nggak biasa yang muncul lewat celetukan Kojima, seperti "happamin", "lonelamin", "hurtamin".   

Aku kutip dari halaman 32-33:

"Happamine"
"What's that mean?"
"It's like, dopamine that comes out when you're really happy."
"Oh yeah?"
"And when you're really hurting," she explained, "that's called hurtamine."
"What about when you're lonely?" I asked.
"Lonelamine!" she laughed.

Cara berpikir Kojima memang beda. Mungkin saking hurt terlalu dalam, ya, dia pernah bilang gini, "Human beings are the only ones talking all the time and making problems and everything", halaman 35. 


Aku highly recommended baca ini, but please beware if your heart's not okay to read such bullying descriptions, because they're triggering your anxieties. Buku ini bukan untuk orang-orang yang mudah ke-trigger anxiety dan overthinking-nya. But I'm pleased to know one of Mieko Kawakami's work. Ceritanya pengen menghindari Breast and Egg, malah ketemu Heaven. Sama-sama buku dark. Hahaha. 

I will end this review. Keep reading and stay healthy. You will always need to read books because it's healthier than reading so many gossips on social media. Reading books will keep you out from brain rot. Believe me. See you on my other review! xoxo

Terusin baca - [Review] Heaven by Mieko Kawakami

30 Jan 2015

PostBarSSBBI2014 - Meet the Sennas by Orizuka


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Sama seperti di postingan sebelum posting ini, Bunda tetep nggak akan ngebongkar siapa Santa Bunda. Hihihi. Bunda hanya akan posting review aja. Sebetulnya nggak wajib review keduanya, sih. Tapi, berhubung Bunda udah kelar bacanya (salah satunya karena ada event Readathon Day pada hari Sabtu lalu, 23 Januari 2015), Bunda merasa harus bikin reviewnya juga. Ini salah satu bentuk terima kasih Bunda pada Santa, kan...


Judul: Meet the Sennas - Bahkan Matematika pun Nggak Serumit Cinta
Penulis: Orizuka
Penyunting: Dellafirayama
Penyelaras aksara: Fakhri Fauzi, Lian Kagura
Penata aksara: Nurhasanah
Perancang Sampul: Fahmi Ilmansyah
Penggambar ilustrasi: Maima Widya Adiputri
Diterbitkan oleh teen@noura
Cetakan I, Januari 2014
ISBN: 978-602-7816-66-4
Jumlah halaman: 364 + Galeri halaman, 13x19 cm
Genre: Novel Remaja, Romance, Family, Young Adult, Coming of Age, Indonesian Literature, Contemporary Fiction, Humor
Status: PUNYA. Hadiah dari Santa

Aku Daza Senna.
Anak kedua dari tiga bersaudara. Yang artinya aku anak tengah...

Astaga. Aku menulis apa, sih?
Oke, mari coba lagi.

Aku Daza Senna.
Aku tinggal bersama orang-orang yang sama sekali tak bisa disebut normal. Dan sialnya, orang-orang itu adalah keluargaku.

Hmm, ini sudah lebih bagus.

Siapa sih yang mau tinggal dengan orang-orang yang memberi semacam formulir pendaftaran dan serangkaian ujian kepada setiap cowok yang ingin dekat denganku? Memangnya cowok-cowok itu mau SNMPTN? Coba bayangkan penderitaanku. Belum terbayang? Berarti kalian harus bertemu dengan mereka.

Tinggal bersama keluarga besar yang hampir semuanya "aneh" itu luar biasa. Hihihi. Setiap hari, pasti ada yang dicemaskan. Ketika Daza ulang tahun ke-17, semua anggota keluarganya memberinya hadiah-hadiah luar biasa. Luar biasa menyebalkan maksudnya. Mulai dari Bundanya yang menghadiahinya Rumah Barbie, Ayahnya yang menghadiahinya piano Casio kecil (aduh, itu jaman Bunda SD, harganya mahaaaaal banget! Tapi keren, dan Bunda seneng banget maininnya. Entah barang itu berada di mana sekarang. Sudah rusak, mungkin?), Kakek yang menghadiahinya sempoa, Nenek yang memberinya ban renang berbentuk bebek berwarna pink, Om Sony memberi komik Doraemon jilid pertama, Tante Amy yang menghadiahi Daza sebuah diari dengan bau menyengat, Denis, abang Daza, memberinya gamewatch Tetris yang bisa ditekuk, dan terakhir, Zenith, adik Daza, memberinya permainan halma.

Sebenernya semuanya nggak aneh, sih, kalo menurut Bunda. Namanya juga hadiah ulang tahun. Tapi yang paling ajib emang hadiah dari Bunda dan Nenek. Di satu sisi, ini jelas aneh, sebetulnya, mengingat ternyata, Kakek dan Ayah Daza adalah konglomerat. Jadi, mereka pasti mampu beliin hadiah super mewah. Kemudian, di sisi lain, Daza adalah seorang gadis SMA yang sedang bertumbuh, wajar saja kalo dia berharap ada hadiah keren, misalnya mobil (ingat, ini Daza yang sedang berulang tahun ke-17, berasal dari keluarga kaya tujuh turunan, dan sudah boleh punya KTP juga SIM, kan?) atau apa, deh, hadiah lain yang agak-agak waras. 

Nggak sampai di situ. Tante Amy sedang hamil besar, ternyata menikah dengan teman kuliahnya, yang lalu meninggalkannya, tapi Tante Amy santai aja. Kayak nggak ada masalah atau beban, padahal dia sedang mengandung. Badass, sih, menurut Bunda, Tante Amy ini. Karena dia santai dengan persoalan besar ini. Kebayang kalo Bunda yang ngalamin.

Cerita bermula dari keputusan Ayah untuk memberi Daza seorang guru les matematika. Guru les matematika Daza ini adalah sahabat Dennis yang super galak. Udahlah Daza benci Matematika, ditambahin lagi harus les Matematika, setiap hari. Namanya Logan.

Ternyata, Logan ini galak-galak ngangenin. Meski Logan galak, judes, menyebalkan, dia telah berhasil membuat Daza memikirkannya. Kalo Daza bertanya urusan pribadi Logan, Logan pasti marah dan memintanya untuk nggak mencampuri urusannya.

Sementara itu, ada seorang Dalas yang manis, yang jelas-jelas suka padanya. Mereka memutuskan jadian, tapi back street, karena Daza khawatir, Dalas akan dikerjai oleh keluarganya. Ternyata benar! Meski mereka pacaran back street, ketahuan juga hingga akhirnya Dalas harus mengikuti ujian demi ujian supaya bisa menjadi bagian dari keluarga Daza. Duh. Kebayang, ya, kalo anak Bunda diperlakukan begitu sama keluarga pacarnya... Bunda pasti nggak rela. Terlebih lagi, ternyata emang keluarga Daza nggak menginginkan keberadaan Dalas, meskipun Daza suka padanya atau Dalas suka banget sama Daza.

Meet the Sennas menurut Bunda pas buat jadi bacaan remaja. Dari segi bahasa dan penuturan enak banget, mengalir. Humor yang dilemparkannya juga segar, nggak krik krik. Gaya penuturan Orizuka nggak kaku untuk novel remaja ini. Bunda kemudian baru tahu kalo ternyata sebelumnya, Meet the Sennas pernah diterbitkan dengan judul berbeda di tahun 2006. Nggak diceritakan oleh penulisnya gimana nasib bukunya itu. Yang jelas, di Meet the Sennas, pastinya banyak perombakan yang disesuaikan dengan tahun terbit, 2014.

Covernya pun dibuat segar. Warnanya eye catching, meski Bunda nggak ngerti, kenapa gambarnya harus roti? :D Bookmarknya juga lucu.
Ilustrasi bagian dalam juga pas untuk ukuran novel remaja. Cuma bagi Bunda, masih kurang bikin naksir sama Logan kalo berdasarkan ilustrasi semata. Tapi, Bunda bisa kebayang cakepnya Logan atau cute-nya Dalas, kalo dari imajinasi cerita. Hihihi...

Sepertinya, Bunda masih bisa baca novel buat remaja, ya. Hihihi. Mungkin aja, kalo teman-teman seusia Bunda baca ini bakal bilang, garing atau apa. Bunda sih suka-suka aja. Walau Bunda emang nggak berharap banyak sama cerita ini, Bunda mendapat twist yang cukup keren. Bunda kasih tiga untuk Meet the Sennas ;)


Cheers! Love you both! xoxo




Terusin baca - PostBarSSBBI2014 - Meet the Sennas by Orizuka

1 Okt 2013

Eleanor and Park


Judul: Eleanor & Park
Penulis: Rainbow Rowell
Diterbitkan 12 April 2012
Penerbit: Orion
ISBN13: 978-1409-116-332
E-book
Jumlah halaman: 329 halaman
Genre: Fiksi Kontemporer, Romance, Young Adult
Status: Punya. Trus lagi pre-order juga di Bookdepository, seperti diceritakan di sini 


Eleanor is the new girl in town, and she's never felt more alone. All mismatched clothes, mad red hair and chaotic home life, she couldn't stick out more if she tried. Then she takes the seat on the bus next to Park. Quiet, careful and, in Eleanor's eyes, impossibly cool, Park's worked out that flying under the radar is the best way to get by. Slowly, steadily, through late-night conversations and an ever-growing stack of mixed tapes, Eleanor and Park fall in love. They fall in love the way you do the first time, when you're 16, and you have nothing and everything to lose .. Set over the course of one school year in 1986, Eleanor and Park is funny, sad, shocking and true - an exquisite nostalgia trip for anyone who has never forgotten their first love.

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Sebetulnya, Bunda ga tau mau review apa dengan buku ini. Yang jelas... Bunda tersepona banget sama cerita di buku ini. Terutama, Bunda tersepona dengan karakter cowok yang bernama Park Sheridan. Lah, kok, namanya agak mirip dengan nama adek Zidan, ya? *maksaaaa*

Ceritanya, Park ketemu dengan Eleanor, yang murid baru ketika itu, di bis sekolah. Sewaktu baru naik, Eleanor ini kayak "raksasa" gitu keliatannya. Badannya tinggi besar *kayaknya montok banget*, wajahnya penuh bintik dan rambutnya merah kayak api. Seketika itu, dia langsung nggak disukai karena penampilannya oleh teman-teman sebisnya. Tapi, Park nggak bersikap lain. Dia sih biasa aja. Untuk beberapa pelajaran, Park sekelas dengan Eleanor. Di antaranya pelajaran Bahasa Inggris. Dan Eleanor langsung jadi idola guru Bahasa Inggris.

Suatu ketika, Park memperhatikan, Eleanor kayak memandangnya. Sebenernya bukan. Setelah diperhatikan lagi, ternyata Eleanor lagi baca komik yang dibawanya. Sejak saat itu, Park menaruh komik yang dia maksud pinjamkan ke Eleanor, di bangku tempat Eleanor duduk. Lucunya, mereka tetap nggak bicara satu sama lain. Cuma minjemin, terus ntar Eleanor balikin bukunya. Lucu, yaaa...

Trus ada momen, yang bikin Bunda merinding ngebayanginnya saking romantisnya, Park masangin headset ke telinga Eleanor, supaya Eleanor dengerin musik yang lagi didengerin Park. Ketika mereka mulai berbicara satu sama lain, Park bahkan bikinin kompilasi musik di kaset tersendiri. Juga minjemin walkman ke Eleanor. Kyaaaa... soooo sweeeeet!

Eleanor & Park mengambil setting tahun 1986, di Omaha, Nebraska. Dengan settingan tahun itu, masih musim kaset dan walkman. Jadi, yang diceritain ya kaset dan tape, juga walkman. Walkman itu biasanya pake batre kecil AA, dua buah. Yang kekuatannya cuma beberapa jam aja. Kalo rajin tekan Rewind, ya paling cuma tiga jam tahannya. Nggak kayak sekarang, yang semua gadget dengerin musik bisa dicharge. Dulu, kalo ga punya batre, terus ga punya duit... ya wassalaam.

Jadi inget, Bunda juga dulu suka bikin kompilasi musik dalam kaset. Kayaknya pernah cerita di sini, deh, ya, sampai dibisnisin segala. Hahaha...

Balik lagi ke apa yang bikin Bunda terpesona dengan Park... Dia nggak seperti cowok kebanyakan yang mementingkan fisik. Dengan fisik Eleanor yang katanya ajaib itu, Park tetep suka. Kadang, Park berpikir, apakah Eleanor emang pengen terlihat jelek? Park berasal dari keluarga yang hangat. Ibunya seorang Korea, makanya Park berwajah Asia. Kalo mau dijelasin lagi, mungkin berwajah Asia Timur, kali, ya. Dan bukan Oriental. Sebab, Oriental itu buat makanan. Gitu kata buku ini.

Park punya ayah dan ibu yang hangat dan perhatian. Nenek dan kakek dari pihak ayahnya juga begitu hangat. Pokoknya bertentangan banget dengan keadaan keluarga Eleanor, deh.

Sementara itu, Eleanor berasal dari keluarga broken home. Ibunya bercerai, tapi punya anak lima. Terus menikah lagi dengan seorang pemabuk, pemarah juga kasar. Bahkan, Eleanor pernah terusir sampai tinggal di rumah tetangganya. Bukan tinggal bersama ayah kandungnya. Entah demi apa, ibunya sepertinya sangat berusaha supaya suami barunya ini nggak pernah marah. Padahal, Eleanor sangat membenci Richie. 

Singkat cerita, mereka berdua, Park dan Eleanor jadian. Ibu Park sempat nggak suka, tapi pas tahu gimana latar belakang Eleanor, bahkan ibu Park mengundang Eleanor untuk sering datang ke rumah mereka.

Cerita kisah manis mereka tiba-tiba berubah ketika akhirnya Eleanor tahu siapa yang suka menulis di balik buku Matematikanya dengan kata-kata menjijikkan, lebih ke melecehkan Eleanor. Semula, Eleanor mencurigai Tina, salah satu cewek populer di sekolahnya. Sebab, Tina ini suka menghina dia.

Jadiiii.... Sungguh! Bunda jatuh cinta sama Park! Baca buku ini, bikin Bunda tersipu-sipu sendiri. Tertawa. Dan jatuh cinta! Kok, malah Bunda yang kasmaran, sih? Yeah! Congratulations, Sheridan Park! You're my first book boyfriend now. And also, your dad. He's my second book father now, after Atticus.

Cuma, yang sama sekali nggak nyangka, ending buku ini. Bikin pengen banting e-book reader. Nggak jadi, sih. Buktinya, tetep pre-order paperbacknya. Walau lama. Hahaha... 

Oke... 
Ini sebagian kata-kata Park yang bikin....

"I don't like you. I need you."

"Nothing before you counts," he said. "And I can't even imagine an after." 

"I look like a hobo?"
"Worse," he said. "Like a sad hobo clown."
"And you like it?"
"I love it."
As soon as he said it, she broke into a smile. And when Eleanor smiled, something broke inside of him.
Something always did."
 
Mau nggak gedebuk in lap gimana, coba? 

Ya udah. Bunda ga mau bahas lebih jauh. Ini aja berusaha menajamkan otak, biar bisa cerita serileks mungkin. Ternyata, kalo udah menyangkut Park... susah!

Note:
Eleanor and Park adalah buku pertama yang jadi bahan baca bareng Grup Spank. Nantikan postingan baca bareng bulan berikutnya, ya...
Terusin baca - Eleanor and Park

23 Jul 2013

More Weird Things Customers Say in Bookshops


Judul: More Weird Things Customers Say in Bookshops
Penulis: Jen Campbell
Ilustrasi: The Brothers McLeod 2013
Desain: Basement Press, Glaisdale
Diterbitkan oleh: Constable
ISBN-13: 978-1-47210-741-1
e-book
Genre: Humor, Funny, Non-fiction, Comedy, Contemporary


Customer (holding up a book): What’s this? The Secret Garden? Well, it’s not so secret now, is it, since they bloody well wrote a book about it!

Weird Things Customers Say in Bookshops was a Sunday Times bestseller, and could be found displayed on bookshop counters up and down the country. The response to the book from booksellers all over the world has been one of heartfelt agreement: it would appear that customers are saying bizarre things all over the place - from asking for books with photographs of Jesus in them, to hunting for the best horse owner’s manual that has a detailed chapter on unicorns.

Customer: I had such a crush on Captain Hook when I was younger. Do you think this means I have unresolved issues?

More Weird Things Customers Say in Bookshops has yet more tales from the antiquarian bookshop where Jen Campbell works, and includes a selection of ‘Weird Things...’ sent in from other booksellers across the world. The book is illustrated by the BAFTA winning Brothers McLeod. (dari Goodreads)

ALERT: 
REVIEW (ATAU BUKAN REVIEW?) 
INI ISINYA CUMA SPOILER 
*maaf*


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...

Sekarang hari ke-15 bulan Ramadhan. Udah separuh bulan Ramadhan. Duh, tadarus Bunda tersendat begini...
Oh, ya... Akhirnya, Bunda dapet juga sekuel dari buku Weird Things Customers Say in Bookshops. Buku pertama, dalam format e-book yang Bunda dapet, meski jarak font, dll-nya bikin jereng, cukup sukses bikin Bunda ngekek-ngekek. Format ebook di buku kedua yang Bunda dapat, cukup beradab, lah... Yang jelas, bacanya ga pake perjuangan, selain kudu bisa bahasa Inggris. hihihi....

Buku ini terbagi atas tiga bagian. Eh, empat. Bagian pertama Introduction. Bagian kedua, tentang percakapan yang terjadi di Ripping Yarns Bookshop. Bagian ketiga, percakapan "weird" yang terjadi di bookshops lain. Dan bagian keempat, terakhir, adalah peristiwa celoteh orang-orang yang dateng saat acara Book Signings buku ini.

Menurut pendapat Bunda:
Kalo yang baca buku ini nggak pernah baca buku, nggak doyan Harry Potter atau nggak kenal dengan dunia imajinasi, maka buku ini adalah bacaan yang tidak mudah dipahami, tidak mudah dicerna. Jadi, untuk baca buku ini, haruslah punya wawasan cukup untuk bisa ngerti. Kenapa kesannya kayak baca buku yang satu itu, ya? X))

Sebab, buku ini emang bercerita tentang kelakuan aneh-aneh di sudut pandang bookseller. Jadi, wajar, kalo ada yang saking pengen merasa keren lalu baca buku ini, tapi dia nggak ngerti apa-apa, nggak tau di mana letak lucunya, bisa jadi, dia nggak pernah baca buku sebelumnya :D

Nah, apa yang bikin ngakak? Banyak. Sengaja Bunda ga pake tutup buka buat lihat spoilernya. Sebab, di atas udah dikasih tau bahwa review ini full of spoiler :D Atau sebenarnya ini bukan review? Reviewnya udah di atas. Cukup dua paragraf aja. Sisanya... Bunda suguhkan spoiler aja. Semoga berkenan :D

Di halaman pertama aja, udah nemu percakapan yang bikin pengen nejeh-nejeh customer :))

BOOKSELLER: Hi. Can I help you find anything?
CUSTOMER: Yes, Ths is your history section, right?
BOOKSELLER: Yep.
CUSTOMER: I can see you've got books on World War I and World War II.
BOOKSELLER:  Yes, we do.
CUSTOMER: But I can't find any books on World War III. Where are those?

CHILD: Mummy, who was Hitler?
MOTHER: Hitler?
CHILD: Yeah. Who was he?
MOTHER: Erm, he was a very bad man from a long time ago.
CHILD: Oh. How bad?
MOTHER: He was like... he was like Voldemort.
CHILD: Oh! That's really, really bad.
MOTHER: Yes.
CHILD: (Pause) So, did Harry Potter kill Hitler, too?

CUSTOMER (picking up a copy of Little Women): Is this a book about really short people?

LITTLE GIRL (pointing at Dr. Seuss books): I made a hat for my cat, but he won't wear it. That book is full of lies.


CUSTOMER: I don’t like biographies. The main character pretty much always dies in the end. It’s so predictable!

WOMAN (holding a copy of a Weight Watchers book in one hand, and The Hunger Games in the other): Which of these dieting books would you recommend most?

CUSTOMER: I really don’t like the planet today – can you recommend a book set far, far away?

CUSTOMER: Are you prepared? 
BOOKSELLER: ... For what? 
CUSTOMER: For the zombie apocalypse.

CUSTOMER: Do you believe in past lives?
BOOKSELLER: Erm, well, I ...
CUSTOMER: I do. I absolutely do. I feel very at one with everything. I’m pretty sure this is my seventh time on earth.
BOOKSELLER: I see.
CUSTOMER (looking pleased with herself): And I’m almost certain that in a past life I was Sherlock Holmes.
BOOKSELLER: ... You know, Sherlock Holmes is a fictional character.
CUSTOMER (outraged): ... Are you trying to tell me that I don’t exist?
BOOKSELLER: ...

YOUNG GIRL (pointing to a cupboard under one of the bookshelves): Can you get to Narnia through there?
BOOKSELLER: Unfortunately, I don’t think you can.
YOUNG GIRL: Oh. Our wardrobe at home doesn’t work for getting to Narnia, either.
BOOKSELLER: No? 
YOUNG GIRL: No. Dad says it’s because Mum bought it at IKEA

CUSTOMER: Where are your books on war?
BOOKSELLER: They’ll be in with history. Our history section is split up into British History, European History, American History and World History. Which war are you looking for, specifically?
 
CUSTOMER: I want a history of the ongoing war between werewolves and vampires.
BOOKSELLER: …
CUSTOMER: Where would I find that?

Terus, ada juga yang paling epic dari semuanya...

YOUNG BOY: You should put a basement in your bookshop.
BOOKSELLER: You think so?
YOUNG BOY: Yeah. And then you could keep a dragon in it, and he could look after the books for you when you're not here.
BOOKSELLER: That's pretty cool idea. Dragons breathe fire, though. Do you think he might accidentally burn the books?
YOUNG BOY: He might, but you could get one who'd passed a test in bookshop-guarding. Then, you'd be OK
BOOKSELLER: You know, I think you're on to something here.

---
Dan, kayaknya karena pas ditulis Fifty Shades of Grey - E.L James lagi marak, jadi sebagian besar isi percakapan mengenai buku itu. Di antaranya:

CUSTOMER: I'm looking for this picture book for my daughter. I read about it in a review somewhere, I think it's by someone called E. L. James.
BOOKSELLER: Erm, I don't think it was by that person; that's who wrote Fifty Shades of Grey.
CUSTOMER (going bright red and clutching her handbag, as though hiding something inside it): Oh! I don't know how that name cropped into my head, then, I've certainly never read any of those books! Never!

---

Terus ada yang curhat, dia ga mampu olahraga di sports club, minta ijin buat olahraga angkat beban pake buku-buku tebal yang ada di toko buku. Hadooooh! X))

Nah, ini pengalaman Jen Campbell pas acara book signings:

WOMAN: So. Are you the new J. K. Rowling then? You don't look like her. You've got different hair.

WOMAN (walks up to me, holding up a copy of Fifty Shades of Grey): Will you sign this for me?
ME: ... I didn't write that book
WOMAN: But the sign here says that you're signing books today.
ME: Yes... I'm signing the book that I wrote (indicates Weird Things...)
WOMAN: Just that one?
ME: ... Yes
WOMAN: Not any of others?
ME: ... No.
WOMAN: Oh, well, that's very odd. (She wanders off, looking confused)

Nah... masih penasaran? Silakan dibaca bukunya. Syaratnya tetep satu: HARUS NGERTI BUKU biar tahu letak lucunya di mana :D

Oya, ini Bunda masukkan linky untuk yang mau posting review Books In English RC. Maaf, Bunda belum sempat blogwalk. Tapi kan kalo ada linky, Bunda bisa jalan-jalan jadinya nanti... :)

Terusin baca - More Weird Things Customers Say in Bookshops