Tampilkan postingan dengan label 2023 Reading Challenge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2023 Reading Challenge. Tampilkan semua postingan

11 Jan 2024

[Wrap Up] Post Babat Timbunan Reading Challenge 2023

 Hai... hai... long time no update... 

sungguh, agak-agak sulit buat maintain habit habis baca langsung nulis itu sekarang ini... kenapa, yaa...

Babat Timbunan Reading Challenge 2023 itu as usual diadain sama temen-temen BBI cabang Joglosemar. Walau aku orang Bandung, alhamdulillaah... tergolong masuk ke sana.. hahaha...

Kali ini aku ga berani muluk-muluk karena hamdalah, mood baca anjlok gara-gara sesebuku... kayak peribahasa, "akibat nila setitik rusak susu sebelanga" benar adanya. gara-gara sesebuku bikin mood anjlok, berpengaruh ke buku-buku yang lain dan susah meng-upgrade semangat baca, bahkan sampai hari ini. Edun, ya... Aku ga akan cerita buku apa itu, karena well... ga hujatable sebenernya. Mungkin karena terpaksa baca sampe selesai meski ga cocok, jadi ambruk semua... huhuhu... give me back my reading mood... 

Baiklah, sekarang aku langsung aja melampirkan (halah) buku-buku apa aja sih yang udah aku baca selama ini sebagai bahan Babat Timbunan 2023? *nyontek Goodreads dulu btw*

1. Wizard Bakery - Gu Byeong Mo

2.  Colorful - Mori Eto 

3. Eternity's Wheels - Neil Gaiman, Michael Reaves, Mallory Reaves

4. Bausastra Lelembut - Lentera Nusantara 

5. The Little Prince (Le Petite Prince) - Antoine de Saint-Exupery edisi Livraria Lello Porto 

6.  A Place Called Perfect - Helena Duggan 

7. Membaca Lambang - Acep Zamzam Noor 

8. Whoopsy Whiffling Joke - Roald Dahl 

9. Dallergut - Toko Penjual Mimpi by Lee Miye

10. Dallergut 2 - Toko Penjual Mimpi by Lee Miye 

11. The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared - Jonas Jonasson 

12.  Laut Bercerita - Leila S. Chudori 

13. Cherry Crush - The Chocolate Box Girls #1 by Cathy Cassidy 

14. The Naked Traveler #1 - Trinity

15. Marshmallow Skye - The Chocolate Box Girls #2 by Cathy Cassidy

16. Summer's Dream - The Chocolate Box Girls #3 by Cathy Cassidy

17. Coco Caramel - The Chocolate Box Girls #4 by Cathy Cassidy 

18. Sweet Honey - The Chocolate Box Girls #5 by Cathy Cassidy 

19. Fortune Cookie - The Chocolate Box Girls #6 by Cathy Cassidy

20. Bittersweet - Shay's Story - The Chocolate Box Girls #7 by Cathy Cassidy 

21. Chocolate and Flowers - Alfie's Story - The Chocolate Box Girls #8 by Cathy Cassidy 

22. Hopes and Dreams - Jodie's Story - The Chocolate Box Girls #9 by Cathy Cassidy

23. Moon and Stars - Finch's Story - The Chocolate Box Girls #10 by Cathy Cassidy 

24. Snowflakes and Wishes - Lawrie's Story - The Chocolate Box Girls #11 by Cathy Cassidy 

25. Life is Sweet - A Chocolate Box Short Story Collection by Cathy Cassidy

26. Before the Coffee Gets Cold - Toshikazu Kawaguchi 

27. Tales from the Cafe - Before the Coffee Gets Cold #1 by Toshikazu Kawaguchi 

28. Memory Bookstore - Choung Myung Seob 

29. Episentrum - Adenita

30. Midnight without a Moon - Linda Williams Jackson

31. More About Boy - Tales of Childhood by Roald Dahl

32. Cigarette Girl - Ratih Kumala 




Berdasarkan kriteria yang ditetapkan di posting ini, aku termasuk Pecinta Buku... wahahaha... not bad, yah... ^^

Applause for me... 

Okay... aku sudahi dulu... semoga mood bacaku balik dan membaik, begitu juga mood nulis review di blog lagi...

See you.. xoxo... 

Terusin baca - [Wrap Up] Post Babat Timbunan Reading Challenge 2023

12 Jun 2023

[2023: Book 10] Bijak Ala Dalai Lama Berani Ala Nelson Mandela - Dion Yulianto

 

Judul: Bijak Ala Dalai Lama Berani Ala Nelson Mandela
Penulis: Dion Yulianto
Editor: Ayuniverse
Tata sampul: Ferdika
Tata Isi: Vitrya
Pracetak: Wardi
Cetakan pertama, 2021
Diterbitkan oleh Penerbit Laksana
Jumlah halaman: 156 hlm; 14x20 cm
ISBN: 978- 623-327-106-6
Genre: Non Fiction, Self Improvement, Indonesian Literature
Status: Beli lewat penulisnya 
Dibaca: 13 Februari 2023 - 20 Februari 2023


Dalai Lama adalah seorang biksu rendah hati pejuang kemerdekaan Tibet lewat jalur damai. Posisinya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi secara spiritual maupun politis hingga 2010 tidak menjadikannya tinggi hati.

Sedangkan Nelson Mandela adalah pejuang pembebasan dari Afrika Selatan. Selama lebih dari 40 tahun, ia berjuang tidak kenal lelah untuk menghapus sistem apartheid yang mendiskriminasi warga kulit hitam.

Lewat buku ini, Anda dapat menapaktilasi perjuangan dua tokoh besar tersebut. Dari Dalai Lama, Anda bisa belajar tentang kebijaksanaan hidup. Sedangkan dari Nelson Mandela, Anda akan termotivasi oleh keberaniannya yang tak terpatahkan.

Selamat membaca! Jadilah bijak dan berani seperti mereka.


Hai, Kakak Ilman dan Kakak Zi...
Ketemu lagi di tulisan aku yang ke-11 di blog ini. Ini buku non fiksi ke-3 yang aku baca tahun ini. Buku ini tulisannya om Dion. Aku belinya udah lama, deh, kayaknya pas bukunya baru rilis. Tentu aku beli lewat om Dion. Tapi aku lupa minta tanda tangan om Dion. hahaha. Aduh!

Kalo kalian bertanya-tanya, kenapa aku nggak minta buntelan aja ke om Dion, secara om Dion temen aku... well, this is my answer: aku nggak suka minta buntelan. Aku nerima buntelan hanya kalo penulisnya memang mau ngasih. Tapi kalo dia jual, ya aku beli. Supporting friends is just like that. 


Oke, sekarang kita bahas bukunya, ya...

Seperti yang dibahas di sinopsisnya, buku ini mengungkapkan bagaimana bijaknya seorang Dalai Lama dan beraninya seorang Nelson Mandela. 

Di buku ini ditulis bahwa Dalai Lama itu orangnya sangat sabar. Sebagai penganut Budha yang memang kesabaran dan ketenangan adalah inti ajarannya, Dalai Lama menjunjung tinggi ketenangan terutama dalam menghadapi masalah. Dibahas juga tentang bagaimana cara Dalai Lama menyelesaikan masalah kenegaraan yang pelik. Gimana dia harus menyingkir dulu sambil menyusun strategi tanpa menimbulkan peperangan. Karena di setiap peperangan yang terjadi selalu ada korban. Dan adanya korban itu bukan hal yang menyenangkan yang harus dilalui. Kalo bisa lewat cara damai, kenapa tidak?


Begitu juga dengan kisah Nelson Mandela yang berjuang melawan Apartheid (sistem pemisahan ras yang ditetapkan oleh pemerintah kulit putih di Afrika Selatan yang dimulai di sektitar awal abad ke-20 sampai tahun 1990). Berkali-kali Nelson Mandela dijebloskan ke penjara karena usahanya untuk melawan sistem yang membedakan ras kulit hitam dan kulit putih. Baginya, manusia semua sama, terserah warna kulitnya apa, bentuk hidungnya apa, punya hak yang sama. Jadi, seorang manusia berkulit putih nggak berarti lebih istimewa dibanding manusia berkulit hitam. Tuhan menciptakan kita beragam tapi dengan tujuan yang sama. Jadi ide pemisahan ras dengan mengistimewakan orang kulit putih di Afrika Selatan yang jelas-jelas bukan tuan rumah itu ya penghinaan banget bagi bangsa Afrika Selatan. Dan karena Nelson Mandela adalah orang yang menempuh pendidikan tinggi, itulah yang dia perjuangkan bagi bangsanya. Aku rasa, bangsa Afrika Selatan sekarang bersyukur karena sistem Apartheid sudah dihapuskan, salah satunya berkat keberanian Nelson Mandela dalam memperjuangkannya, walau nyawa taruhannya. 


Udah jelas lah ya, om Dion ngajak pembacanya untuk sama-sama jadi orang yang bijak dan cinta damai kayak Dalai Lama, sekaligus jadi pemberani kayak Nelson Mandela, belajar lewat kisah hidup mereka. Di buku ini, referensi penulis untuk Dalai Lama cukup banyak, terlihat dari daftar pustakanya memuat beberapa buku tentang Dalai Lama, begitu juga di footnote. Sayangnya, referensi tentang Nelson Mandela justru tidak diambil dari buku tertentu, melainkan dari internet atau koran. Aku ga paham juga apakah referensi biografi tentang Nelson Mandela yang memang sedikit atau nggak ada, tapi untuk menulis buku, sebaiknya referensi biografi seseorang diambil dari buku tentang biografi orang tersebut kali ya.  

Dan satu lagi, aku melihat karena kurangnya referensi inilah, pengulangan kalimat banyak terjadi di sekian bab. Misalnya sudah diceritakan di bab 1, diceritakan lagi di bab 2, ketemu lagi di bab 3, dan seterusnya. Kalo dapat editor kejam, lima bab bisa dipangkas jadi dua bab aja karena pengulangan materi yang terus menerus, meski kalimatnya berbeda. Aku nggak tahu apakah pengulangan simultan ini bertujuan untuk mengingatkan beraninya Nelson Mandela atau memang karena ada target minimal halaman. 

Bukan berarti di bagian Dalai Lama nggak ada pengulangan, hanya saja, pengulangan di bagian Nelson Mandela ini terlalu intens buatku. Jadi rasanya aku ga selesai-selesai baca bukunya. Sayang aja, sih, karena idenya bagus banget. Cuma eksekusinya agak-agak kendor kalo menurutku, karena bagian referensi masih kurang banyak. Tentu saja aku sangat tahu kalo penulis adalah pelahap buku. Tapi ini semua nggak membuat kenikmatan baca berkurang atau hilang sama sekali. Hanya saja kalo kamu terganggu dengan pengulangan yang terlalu intens, hal ini akan terasa betul.

Mudah-mudahan ke depannya, kalo bikin buku tentang tokoh besar seperti kedua orang ini, penulis bisa memperkaya referensi melalui buku biografi yang reliable. Aku nggak bilang artikel koran nggak reliable, lho, hanya saja rasanya kurang "dalem" jadinya informasinya. Sayang sekali.


Aku menyelesaikan baca buku ini untuk memenuhi tantangan:
- Goodreads Challenge 2023
- Tantangan Membaca Satu Bulan Satu NonFiksi MissFioree 2023
- Joglosemar Babat Timbunan 2023
- BBBBC Reading Challenge 2023

Stay healthy, both of you! xoxo
Terusin baca - [2023: Book 10] Bijak Ala Dalai Lama Berani Ala Nelson Mandela - Dion Yulianto

30 Mei 2023

[2023: Book 7] Hai, Miiko - Vol 35

 


Judul: Hai, Miiko! Vol. 35    
Mangaka: Ono Eriko
Alih Bahasa: Dian Indrinuswati  
Penyunting: D. Tyagita Ayuningtyas 
Artistik: Ikmal Aldwinsyah
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama - M&C! 
Cetakan pertama, 2023
Halaman: 102 halaman
ISBN: 978-623-03-0923-6
Genre: Fiksi, Children, Komik, Manga, Japan Literature   
Status: Beli, pre order 


Miiko yang penuh semangat sudah kelas 1 SMP! Miiko dan teman-temannya sedikit demi sedikit mulai menjadi lebih dewasa. 
Terkadang rasa gelisah muncul, dan terkadang kesalahpahaman juga bisa terjadi. Namun, keceriaan Miiko bisa kembali menyatukan mereka semua!

Ayo kita ikuti perkembangan Miiko dan kawan-kawan yang selalu penuh warna! 

 

Hae, Kakak Ilman dan Kakak Zi...

Aktivitas annual kita nungguin kedatangan Miiko tunai sudah. Berkat kedatangan Miiko volume 35 yang kontroversial. Ahahaha.

Kenapa kontroversial? Sebab... di edisi asli yang diterbitin Penerbit Ciao, totalnya ada 9 chapter, sedangkan yang diterbitkan di sini, hanya 6 chapter. Yak, betul! Dipangkas 3 chapter. Kenapa?

Dari kabar yang aku terima, sudah diverifikasi juga, bu Ono mengangkat issue LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual, dan Transgender) ke volume 35 (dan 36, karena sudah terbit di sana. Entah dengan volume 37 dan seterusnya). Aku nggak tahu apa yang membuat bu Ono mengangkat tema ini, mungkin di sana sedang berkampanye tentang LGBT? Entah. I don't follow juga, jadi belum bisa cerita banyak. Nanti kita coba cari tahu, ya.

Terkait isi volume 35 yang diterbitkan Ciao akan aku bahas di tulisan lain, karena aku udah titip Kocchimuite Miiko Vol 35 dan 36 ke temenku yang lagi sekolah di Jepang dan mudik di Lebaran tahun ini. 

Sekarang, kalian mungkin bertanya-tanya, kenapa, sih, tema LGBT "terlarang" betul di sini, sampai akhirnya Miiko vol 35 (dan mungkin 36) dipangkas halamannya sampai sebanyak itu?

Begini, di negara Wakanda ini, apa aja bisa jadi bahan ribut, termasuk salah satunya issue LGBT. Bisa jadi karena mayoritas penduduk negara Wakanda yang beragama Islam dan memang di ajaran Islam itu issue LGBT termasuk hal yang dilaknat Allah, sehingga untuk keamanan dan kenyamanan bersama, issue LGBT dijadikan issue sensitif yang sebisa mungkin tidak boleh dibahas sama sekali.

Misalnya, Penerbit M&C! nekat tidak memangkas 3 chapter tentang LGBT dengan alasan mau memberi edukasi kepada anak-anak dan remaja terkait issue ini, sama aja dengan berdiri di tepi jurang yang sangat dalam. Semacam tinggal tunggu waktu aja untuk "mati". Pastinya pihak M&C! juga berat menyampaikan hal ini ke bu Ono, gimanapun niat baik bu Ono untuk menyampaikan pesan penting ini ke pembaca. Pembaca juga jadinya merasa rugi dan gelisah, karena ada chapter yang hilang, yang seharusnya bisa dinikmati seperti biasanya.

"Untung"nya, pihak M&C! udah menyediakan merchandise yang menurutku "agak" sepadan dengan hilangnya 3 chapter, walau emang jelas tidak bisa dibanding-bandingke, dong, yaaa...

Merchandise Hai, Miiko! Vol 35

Lalu, apa yang menarik di Hai, Miiko! Volume 35 ini, selain hilangnya 3 chapter tentang LGBT? Keenam chapternya tentu seru, dong, ya... Cuma di sini Tappei kurang banyak muncul... huhu... Padahal aku tuh, ya, selalu deg-degan sama romance Miiko dan Tappei. 

Di volume 35 lebih banyak diceritakan tentang pengalaman ekstra kurikuler yang dijalani Miiko dan teman-temannya. Aku lihat lebih banyak eksplorasi tentang kegiatan ekstra kurikuler di SMP yang dulu nggak Miiko jalani sewaktu SD. Aku pikir ide bu Ono mengeksplorasi kegiatan ekstra kurikuler di SMP ini bagus untuk memberi insight ke pembaca muda, terutama yang akan masuk SMP kayak adek Zi sekarang ini, biar terbayang nanti di SMP mau berkegiatan apa.

Di volume sebelumnya, volume 34, Miiko sempet galau mau masuk klub Basket atau nggak gara-gara dikata-katain pendek sama kakak kelasnya yang ada di klub Basket. Mari Chan yang saat itu ikut denger juga, jadi tersinggung dan berusaha memengaruhi Miiko buat masuk Klub Komik aja dengan disclaimer kalo orang-orang Klub Komik nggak ada yang mempermasalahkan fisik dan mereka semua ramah. 

Ketika Tappei menegur Miiko dengan keras tentang motivasi Miiko yang gaje ini lumayan nabok Miiko, juga ditambah fakta bahwa kapten tim basket putri di SMP Suginoki ternyata sependek Miiko tapi jagoan banget shoot bola 3 points, memperkuat keputusan Miiko untuk masuk Klub Basket, apa pun yang terjadi. 

Di volume ini mulai diperlihatkan beratnya jadi anak Klub Basket. Walau kelas 1 tugasnya masih lap-lap bola sampai mengilap, mereka tetap harus berlatih sama kerasnya dengan kakak-kakak kelas. Sebab mereka akan ada di bangku cadangan di setiap pertandingan yang sewaktu-waktu bisa diturunkan untuk bertanding kalo perlu pergantian pemain. Jadi tetep harus siap tanding walau duduk di bangku cadangan. Makanya perlu latihan keras, sama kerasnya dengan pemain utama. Miiko juga punya teman baru, seorang artis remaja, yang harus pinter bagi waktu antara kerja, sekolah, dan latihan basket. 

Di volume ini juga mulai terasa "tension" menjadi anak SMP di sisi pergaulan dan percakapan. Di volume 34 masih ada transisi dari masa anak-anak ke masa remaja, karena beberapa chapter masih bahas keberadaan Miiko di SD sampai kelulusannya juga saat hari pertama bersekolah di SMP, sementara di volume 35, suasananya sudah betul-betul di masa remaja. Miiko sudah menjadi remaja secara otomatis, karena dia sekarang siswi SMP. 

Kinda sad? Yes! Absolutely! Natürlich! Tamaaman! For a very long time, I have known Miiko as a 4th/5th grader and now she's in 7th grade. Also known as a teenager. 

Selain Miiko, ada Tappei dan Kenta di Klub Basket. Cuma karena Klub Basket putra dan putri latihan dan tandingnya juga dipisah, intensitas kemunculan Miiko dan Tappei secara berbarengan agak berkurang. Soalnya kan emang sibuk ya, bun...

Lalu bagaimana dengan Mari Chan? Syukurlah, di SMP Suginoki ada Klub Komik yang bisa memfasilitasi obsesi Mari Chan untuk jadi komikus. Jadi di kesehariannya, ga jauh beda dengan semasa di SD, tetep sibuk dengan komiknya. Miiko tentu tetap jadi asistennya di sela-sela kesibukannya dengan latihan rutinnya sendiri. 

Sementara Yukko memilih ekskul Atletik. Keputusan ini sempat membuat Miiko kaget, karena kalo misalnya memang Yukko memang mau ikut ekskul olahraga, bisa sama-sama ikut basket bareng Miiko dan Kenta, kan? Celetukan Mari Chan yang menyadarkan Yukko sendiri, bahwa selama ini, Yukko selalu mengurusi orang lain dan ekskul Atletik termasuk kegiatan yang bisa dilakukan sendiri. 

Cerita nggak barunya tentang Yukko, sebagai remaja yang kelihatan lebih dewasa dari umurnya, sama aja kayak waktu SD, di SMP juga Yukko tetep banyak yang ngecengin, terutama kakak kelas. Terus gimana dong, kisahnya sama Kenta? Ya gitu, lah. Nothing new. Tetep akur walau Yukko suka tiba-tiba aneh. Mas Kenta sabar banget, ya, bun... Hihi..

Anak lain yang diceritain kegiatan ekskulnya adalah Yoshiki. Iya, si bocah yang gedenya nanti pengen jadi sutradara, yang ngecengin Tanimura Miho dan sekarang badannya mulai tinggi itu. Syukurlah, SMP Suginoki punya Klub Peneliti Film yang memfasilitasi cita-cita Yoshiki. Setiap pekan, anak-anak Klub Peneliti Film akan mengundang siswa lain untuk menonton film yang ditayangkan di hari itu, lalu ada diskusinya. Sewaktu Miiko dan Mari Chan lihat poster yang dipasang tim Klub Peneliti Film, tentu langsung setuju untuk datang karena pengen nonton film gratis, kan. 

Yang lucu di sini, saat Miho "ditembak" kakak kelas dan diajak nonton film di bioskop yang ditolaknya dengan alasan nggak punya uang, Miiko malah mendukung kencan mereka dengan bilang, "nonton di sini aja, gratis!" sambil nunjuk poster Klub Peneliti Film yang mau menayangkan film Charlie's Angels. Hahaha..

Sesuai janji bu Ono, karena di volume 34 nggak banyak adegan Yoshida (padahal ada, kok!), di volume 35 ada dua chapter yang bahas tentang hubungan Yoshida dan Miiko. Tappei tetep pasti muncul sih, tapi sayangnya di salah satu chapter, kehadiran Tappei beneran cuma cameo. Sedih, ga, sih... Ketika berharap banyak sama Tappei, eh, malah.... (isi sendiri).

Kayaknya semua chapter udah aku bahas, ya. Oh! Ada satu chapter lagi, yang bahas khusus tentang Momo Chan, yang dapat homeroom teacher baru di DayCare-nya. Terus terang, cerita di chapter ini sukses bikin mrebes mili.

Sampai selesai semua chapter dibahas, barulah aku sadar kalo Papa, Mamoru, dan juga pak Oonishi nggak muncul sama sekali. Meski sekelas lagi sama Watanabe dan Nasu, mereka juga nggak muncul. Rasanya aneh aja gitu. Di setiap volume Miiko, mereka selalu ada kan. Di volume 35 ini, mereka nggak muncul. Satupun! T___T

Di review berikut-berikutnya nanti, aku akan bahas perbedaan versi bahasa Indonesia dan versi bahasa Jepang, ya. Aku masih cicil review yang lain dulu... 

Baca ini buat cicil beresin: 
- Goodreads Challenge 2023
- Abroad and Beyond Reading Challenge 2023 
- BBBBC Reading Challenge 2023


Sehat-sehat, ya, kalian berdua... Sampai ketemu di posting berikutnya... xoxo




 





 



Terusin baca - [2023: Book 7] Hai, Miiko - Vol 35

17 Mar 2023

[2023: Book 6] Why? ~ Weather by Lee Kwang Woong & Lee Hye Jo

 


Judul: Why? Weather - Cuaca    
Penulis: Lee Kwang Woong
Ilustrator: Lee Hye Jo 
Alih Bahasa: Bambang Sudiyono  
Supervisor: Ann Myoung Hwan 
Penerbit: PT Elex Media Komputindo 
Cetakan pertama, 2010
Halaman: 159 halaman
ISBN: 978-979-27-7863-2
Genre: Non Fiksi, Children, Sains, Manhwa, Korean Literature   
Status: Pinjam di Perpustakaan Kota Cimahi 


Wilayah negara kita terletak di daerah tropis yang dilintasi oleh garis Khatulistiwa sehingga dalam setahun Matahari melintasi ekuator sebanyak dua kali. Matahari tepat berada di ekuator setiap tanggal 23 Maret dan 22 September. Sekitar April - September, Matahari berada di utara ekuator dan pada Oktober - Maret, Matahari berada di selatan. Pergeseran posisi Matahari setiap tahunnya menyebabkan sebagian besar wilayah Indonesia mempunyai dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Pada saat Matahari berada di utara ekuator, sebagian wilayah Indonesia mengalami musim kemarau, sedangkan saat Matahari ada di selatan, sebagian besar wilayah negara kita mengalami musim penghujan. 


Hellow, Ilman dan Zaidan...
Jumpa lagi sama aku, bahas buku pinjeman yang ga kunjung dibalikin karena mager ke perpus. Jangan ditiru, yah! No good! 

Di buku Why? ~ Weather karya pak Lee Kwang Woong yang berduet dengan pak Lee Hye Jo sebagai ilustratornya, segala sesuatu yang berhubungan dengan cuaca dikupas habis. Dimulai dari perubahan cuaca dari panas ke dingin atau sebaliknya, dingin ke panas, prinsip kerja termometer, suhu dan tekanan udara, pertanda setiap bentuk awan, macam-macam angin, macam-macam musim, sampai bahas gelombang panas dan juga lapisan ozon.

Buku ini dikemasnya buat anak-anak, tapi nggak menutup kemungkinan mudah dicerna juga buat remaja dan dewasa. Gambar-gambar di dalamnya mempermudah kita membayangkan teori ini. 

Pekerjaan seperti ini nggak mudah, karena harus menulis ulang bahasa sains ke dalam bahasa grafis yang mudah dicerna oleh semua kalangan itu termasuk pekerjaan yang sangat menantang. 

Dan karena settingnya di Korea, tentu saja keseluruhan isinya cerita tentang cuaca di Korea. Tapi kan semua awan di bumi ini sama. Tinggal cari tahu soal kemarau dan musim hujan aja buat pelengkap pengetahuan kita. 


Awal baca buku ini jadi keinget drama Korea (halah, malah bahas drakor) yang judulnya Love and Weather Forecast. Genrenya sih romance standar romance drakor lah, ya. Yang menarik itu latar dunia kerjanya. Bidang BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)-nya Korea sana. Terlepas dari drama tentang dua pasangan yang ribut-ribut gini gitu, yang lebih menarik perhatianku tentang orang-orang yang bekerja di dunia ini harus selalu siaga dan waspada terhadap perubahan cuaca yang bisa sewaktu-waktu terjadi. 


Secara informasi, baik dari grafis dan kontennya cukup banget. Tapi aku ngerasa terjemahannya kurang enak dicerna atau mungkin emang penuturan dari sananya kurang mengena, ya, jadi aku agak kesulitan mencerna beberapa cerita, terutama saat lagi menjelaskan konsep terjadinya sesuatu. Sebut saja, saat menjelaskan pusat angin topan. Tapi berkat ilustrasinya yang jelas, lebih mudah dicerna prosesnya ketimbang dari percakapan yang muncul di balon katanya.

Buatku ini bukan buku yang bisa dipahami dengan sekali baca. Mungkin harus 2-3 kali baca biar paham. Atau jangan-jangan otakku aja yang ga prima, ya? 

Buku ini layak buat dikoleksi. Someday, kita mulai koleksi serial ini, ya. Terutama untuk sains. Karena ini buku yang informatif dengan kemasan yang mudah dicerna karena infografisnya jelas dan sistematis. 

Aku kasih empat bintang (kurang dari lima), karena faktor terjemahannya kurang mudah dicerna. 

Aku baca buku ini untuk memenuhi tantangan baca:
- Goodreads Challenge 2023
- Abroad and Beyond Reading Challenge 2023 
- BBBBC Reading Challenge 2023
- Satu Bulan Satu Non Fiksi 


Stay healthy, you both! Love you! xoxo

Terusin baca - [2023: Book 6] Why? ~ Weather by Lee Kwang Woong & Lee Hye Jo

24 Feb 2023

[2023 ~ Book 5] The Little Prince Edisi Livraria Lello Porto

 


Title: The Little Prince (Le Petite Prince) Livraria Lello Porto edition   
Author: Antoine de Saint-Exupéry  
Translator: Katherine Woods 
Editor: BookBug
Foreword: Victor Hugo Mãe
Art Director & Graphic Design: Mariana Pereira - Livraria Lello 
Creative Director: Hugo Cardoso - Livraria Lello
Layout: Luís Santos
Cover's Illustrator: Antoine de Saint-Exupéry
6th Edition, November 2019
Printed and bound by EsenArt Basim Ltd
An exclusive edition of Livraria Lello - Porto Portugal 
Pages number: 132 pages
ISBN: 9-789898-939043
Genre: Fiction, Children Literature, Classic, Prince, Imagination  
Status: Femi gave it to me ^^


We've all been the crown prince of a kingdom called childhood. The prince is, here, king of a flock of one sheep. The one that, Pilot, after making an emergency landing in the Sahara Desert, was invited to draw. From here on, Little Prince and Pilot fly from planet to planet, finding, in each one, a single man who thus becomes a new citizen of this kingdom as imaginary and utopian as necessary. 


Hai, Ilman dan Zi...
I was very excited when I got this book from Femi. Femi was one of my pupil when I was a mentor at PAS ITB. Seeing her growing and now she is a wife and a mom-to-be made me realize that the time has really flew away. I met her when she was a toddler! 

As the collections, I already have the Indonesian and Sundanese editions. Yes, Sundanese. Seriously. It was also written in Sundanese font, Hanacaraka! I got this beautiful edition from Femi when we met after a long time and she just arrived from Germany to prepare her wedding here. 

I was meant to talk about the physic of this book, but I realize that I've never review The Little Prince in my blog, so I think I want to share how I felt about this book, since the first time I read it. This is the fifth book I read this year. 


The Little Prince is about a meeting between a child who called himself as a Prince with a man whose plane crashed in the desert. The man was stuck in the middle of nowhere. No water. No building. No other human at all. The man is the main character of the book, using the first point of view. The man is the writer of the book. I guess he was an Air Force pilot troops who flew the plane and got crashed in the middle of nowhere. 

The man used to like drawing when he was very young. He drew an elephant that swallowed by a snake, but when he showed the drawing to the adults, they interpreted the drawing as a hat. And he felt broken hearted. Since then, he judged the adults are always beyond imagination. 

But the prince, just popped up from nowhere, asked him to draw a sheep for him. The kid said that he only had a rose and three mountains in his planet, so he needed a sheep for his planet so he wouldn't feel to lonely. Then the prince asked him to draw a box to put the sheep so the sheep won't go anywhere. Unexpectedly, the little prince understood the man's drawing.

As the days go by, still trapped in the middle of nowhere and fixing the broken plane, the prince talked about this and that to the man. He talked about his own planet and how the other planets' conditions. The prince also talked about people he met and so on. The man didn't feel to lonely at all because the present of the little prince. 


The story itself always entertain me in some ways. I always in love with the story no matter how many times I re-read it. Sometimes you feel tickled, sometimes you feel touched, but sometimes you can cry too. I feel the warmth of the story and felt understood for some reasons. You should read it. You're gonna like it, kuddos! 


Now about the book. It said that it is exclusively printed for a collection in hard cover version. The size is so small that you can easily grab with your tiny palm. The jacket of the book cover was printed on a luxury paper, not a glossy one but doff one. The surface is so smooth but once it touched a sharp edge of an object, it kinda left a scretched mark on the surface. The edge of the book was printed in gold and it has an attached red ribbon to mark your page. 


I don't mean to disrespect Femi who gave me this copy, but sadly, this version was kinda a rejected product. It has scratch on the surface of the jacket book cover and also has some miss printed on several pages so the text looked shaded and so hard to read. Not just that, some pages were folded and bounded by the binding so I could not even open it. 

I don't have the heart to take pictures of them to post them here since my heart is aching to see this. I hope Femi paid it lesser than the actual price, € 15.90, as for the today's Indonesian currency, it is IDR 256.526. Add 11% for the taxes. 

But still. Even it has an unforgiven flaw, it's still a beautiful and easy grab book for me. So I think I can always re-read it anytime I miss the Little Prince. I still love it no matter what. But if you eagerly to buy this copy, make sure you have checked the physic of the book thoroughly, because you get what you paid.


I read this book to fill: 
- Goodreads Challenge 2023
- Abroad and Beyond Reading Challenge 2023 
- BBI Joglosemar Babat Timbunan 2023
- Books in English Reading Challenge 2023
- BBBBC Reading Challenge 2023




Enuff said. Stay healthy you two! See you on my next review! Love you both, xoxo!



             

Terusin baca - [2023 ~ Book 5] The Little Prince Edisi Livraria Lello Porto

26 Jan 2023

[2023 ~ Book 2] Colorful by Mori Eto

 


Judul: Colorful 
Penulis: Mori Eto
Penerjemah: Ribeka Ota
Editor: Dian Pranasari
Pemeriksa Aksara: Mpur Chan 
Penata Isi: Nurhasanah Ridwan
Ilustrasi sampul: Yopi Gozal dari Orkha
Cetakan pertama, Februari 2022
Diterbitkan oleh Penerbit BACA
Jumlah halaman: 264 + xiv hlm; 20 cm
ISBN: 978-602-6486-68-4
Genre: Fiction, Novel, Fantasy, Young Adult, Magical Realism, Asian Literature, Japanese Literature, Magic, Drama, Asia, Young Adult Fantasy, Life, Mental Health
Status: Beli tapi gratis. Karena belinya pake poin di TokPed sampai ongkirnya juga gratis... kekeke... 

Aku adalah jiwa yang baru saja meninggalkan tubuhku. Di hadapanku tahu-tahu muncul malaikat bernama Purapura. Dia bilang aku berdosa besar sehingga sebenarnya tidak dapat lahir kembali. Namun, karena aku memenangkan undian, aku diberikan kesempatan kedua.
Pada kesempatan kedua ini, aku bersemayam di tubuh seorang bocah 14 tahun bernama Makoto Kobayashi yang mencoba bunuh diri. Aku kecewa dan kesal karena Makoto ternyata anak pengecut yang tak punya teman, keluarganya yang tampak baik-baik saja juga penuh kepalsuan. Namun, aku tidak peduli karena ini bukan kehidupanku yang sebenarnya. Aku berperilaku seenaknya tanpa peduli respons orang-orang di sekitarku.

Lama-kelamaan aku mulai menyimak isi hati Makoto yang sesungguhnya. Aku jadi menyadari kesalahpahaman Makoto terhadap orang-orang di sekelilingnya. Sebenarnya hidup Makoto tidak monoton, melainkan penuh warna. Aku ingin memanggil kembali jiwa Makoto ke tubuh yang sedang kupinjam ini demi mengembalikan Makoto kepada keluarga dan teman-temannya. Untuk itu, aku harus mengingat kesalahan yang telah kuperbuat pada kehidupanku yang lalu. Tinggal 24 jam sebelum batas waktunya. Apakah aku bisa berhasil?

Sejak diterbitkan lebih dari dua puluh tahun yang lalu, Colorful menjadi bagian dari kanon sastra, tidak hanya di Jepang, tetapi di seluruh dunia. Setelah dialihwahanakan menjadi anime pemenang penghargaan, kini, karya klasik yang dicintai dan laris ini hadir untuk pertama kalinya dalam bahasa Indonesia.

Halo, Kakak Ilman dan Zi...

Sewaktu buku ini dibahas beberapa temen di grup chat BBI Joglosemar, jadi penasaran juga. Bahasnya bukan isinya sih. Tapi lebih ke "lagi diskon". Hahaha...

Aku duga buku ini bagus, karena jadi topik pembahasan di grup Joglosemar, walau bahasnya soal diskon. Hihi... Lalu aku mulai deh, nyari-nyari reviewnya di Goodreads. Sampai aku ketemu ini:

Beberapa hari lalu, aku nemu video ini di sebuah jejaring sosial:


Aku berpikir, ketika kita putus asa yang bener-bener putus asa tuh, rasanya memang pengen banget mengakhiri hidup kita. Sewaktu aku beranjak remaja sampai menjelang menikah, beberapa kali aku terpikir bunuh diri walau ga melakukannya. Aku ga seekstrem salah satu sahabatku yang sempet memotong nadinya saking udah putus asanya dia. 

Dulu, yang kulakukan adalah menyiksa diri dengan nggak makan atau benturin kepala. Berharap mati seketika aja. Apa yang bisa bikin aku seputus asa itu? Ketika berkonflik dengan orang tua dan merasa jadi anak yang nggak berguna di mata orang tua. 

Setelah baca Colorful, aku jadi ingat obrolan dengan salah satu adikku tahun lalu. Ternyata dia pernah sengaja makan singkong beracun biar cepat mati. Dia juga mengalami masalah depresi yang serupa denganku, kurang lebih dia merasa nggak berguna karena sakit-sakitan melulu. 

Kalo ditarik kesimpulannya, berdasarkan penuturan seseorang di atas, terus curhat deaf comedian di atas, latar belakang cerita Colorful, juga pengalamanku dan adikku: masa remaja itu masa rawan untuk mengakhiri hidup karena merasa putus asa. Atau lebih jelasnya lagi: masa remaja itu rentan dengan mudah merasa putus asa.  

Tentu saja hal ini membuatku harus betul-betul menjaga kalian berdua. Terutama menjaga perasaan kalian berdua. Itu sebabnya, kenapa setiap hari aku selalu bertanya pada kalian tentang apa saja, terutama tentang cerita-cerita kalian ketika di luar rumah. Minimal, kami harus membuat kalian merasa bahwa aku dan papa adalah orang-orang pertama yang menyayangi kalian dan tentu saja menjaga kalian. Walau kalian ada penjaga utama, yaitu Allah. Itu sebabnya, kami selalu berharap kalian ga menyimpan rahasia kalian, apalagi kalo kalian dirundung orang lain. Perundungan kerap membuat seseorang rapuh. 


Kisah Makoto Kobayashi yang mengalami masa-masa depresi karena apa yang dilihatnya (hanya melihat, tidak melakukan penelitian lebih dahulu) tergesa-gesa mengakhiri hidupnya ini dituturkan dengan sangat hati-hati oleh Mori Eto sensei. Makoto diberi "kesempatan kedua" oleh Purapura melalui jiwa yang baru saja mengakhiri hidupnya juga tapi belum sampai ke langit. Jiwa ini kemudian menuntun Makoto untuk melihat lebih dekat apa yang dulu dilihatnya dan membuatnya depresi. 


Intinya, dalam rangka berkumpul lagi bersama Allah di surga nanti, kita semua dikasih kehidupan yang macam-macam, berikut ceritanya. Tapi nggak pernah ada masalah yang nggak ada jalan keluarnya. Karena itulah fungsinya berdoa dan jadi makhluk berTuhan. Selain harus berdoa, kita juga harus ikhtiar cari jalan keluar. 

Seandainya kita punya orang tua toxic, harus cari pertolongan melalui lembaga resmi. KPAI, misalnya. Karena emang ga mungkin berlindung pada orang tua toxic. Lho, shalat aja ga cukup? Ya nggak cukup. Kalo udah kena mental, ikhtiar selain shalat dan berdoa adalah mencari pertolongan. 

Masalah depresi emang masalah sensitif dan sulit mendapatkan penanganan. Seringnya, banyak orang yang meremehkan masalah ini dan selalu menganggap bahwa depresi adalah sesuatu yang berlebihan alias lebay. Nggak jarang dituduh sebagai "kurang beribadah", "kurang yakin sama Tuhan". Dan lain-lain. Mungkin memang betul. Orang depresi kesannya orang yang nggak ber-Tuhan. Masalahnya adalah... mereka nggak bisa merasakan keberadaan Tuhan. Gimana caranya ngerasain, diajarin juga nggak.


Dan di cerita Colorful ini, memang ga dibahas tentang Tuhan maupun keyakinan pada Tuhan. Hanya saja, konsep kesempatan kedua ini agak sensitif menurutku, sebab hal ini nggak akan terjadi di dunia nyata. Di kehidupan nyata, kesempatan kedua itu nggak pernah ada kalo udah bener-bener mati. Di dalam Islam, Allah tidak pernah memaafkan orang yang mengakhiri hidupnya sendiri. Bisa panjang sih, kalo aku cerita di sini. 

Aku sangat merekomendasikan buku ini untuk mengajak kita berpikir bahwa belum tentu dugaan kita berdasarkan penglihatan kita itu adalah yang benar-benar terjadi. Buku ini mengajak kita untuk nggak berprasangka buruk apalagi sampai terpikir untuk mengakhiri hidup karena prasangka itu. 


Ah! Dan jadi kepikiran satu hal. Sepertinya masalah pembinaan kesehatan mental udah harus masuk kurikulum sekolah, deh. Karena menurutku ini urgent. Bukan sekadar ada tempat bernama BP sambil isinya cuma tentang anak "nakal" yang ditegur BP. Waktu aku SMP, aku sering bolak balik masuk BP untuk curhat. Hohoho. Semoga pak Mamat selalu sehat... Aku bersyukur dapet guru BP sebaik pak Mamat. Tempat aku curhat ga penting. 



Lah.... Cerita bukunya lebih sedikit dibanding curhatnya ternyata. Kalo gitu, udah dulu, ya. See you on the next review...

Buku ini dibaca untuk memenuhi tantangan baca
- Goodreads Challenge 
- BBI Joglosemar Babat Timbunan 2023
- Abroad & Beyond Reading Challenge 
- BBBBC Reading Challenge 2023

Love you both, xoxo   
 
Terusin baca - [2023 ~ Book 2] Colorful by Mori Eto