Rasanya sudah lama sekali Bunda nggak ikut challenge apa-apa. Jangankan ikut challenge, baca buku aja keteteran banget, tiga tahun belakangan ini. Malah dua tahun kemarin, nggak pernah sampai memenuhi target apa pun.
Tahun ini, Bunda ingin memperbaiki kelakuan buruk Bunda di tahun-tahun lalu. Jadi, Bunda akan mulai baca dan nulis review lagi. Tentu saja ada yang harus dikorbankan, yaitu mengurangi nonton drama Korea, mungkin sampai 80%. Hihihi.
Berhubung target baca Bunda nggak banyak tahun ini, hanya 24 buku (minimal). Perlu waktu untuk memperbaiki semuanya. Jadi nggak berani pasang target muluk-muluk dulu. Rencananya, Bunda akan menyimpan IDR 25,000 untuk setiap buku yang sudah selesai dibaca. Baik itu buku cetak maupun e-book. Komik juga sama aja. Jadiii... kalo tahun ini Bunda baca minimal 24 buku aja, Insya Allah, tabungan Bunda akan sampai di IDR 600,000.
Sepertinya tabungannya akan Bunda simpan di buku rekening adek Zaidan. Kakak Ilman dan Adek Zaidan kan masing-masing sudah punya buku tabungan dan kartu ATM, ya. Untuk sementara, Bunda titip dulu di rekening Adek Zaidan. Kalo Kakak, Bunda akan tabungkan uang jajan Kakak untuk kepentingan Wisata Buku. Jadi, Kakak boleh beli buku yang harganya melebihi bujet dari sekolah nantinya ^_^
Doakan, semoga Bunda bisa berhasil membaca sedikitnya 24 buku tahun ini ^_^
2014 has been running for more than 30 days and I realized that I haven't posted my second Books in English Reading Challenge Master Post!
I'm sorry.
Okay, I will not make any excuses. I'll be hosting 2014 Books in English Reading Challenge chapter 3 starting on today. This challenge will be going on a "new" format that I classified them into 3 classes.
They are:
#1 Elementary Class
Elementary Class requires you to read 6-12 books and write down all the reviews.
#2 Intermediate Class
Intermediate Class requires you to read 13-24 books and write down all the reviews.
#3 Advance Class
Advance Class requires you to read >24 books and write down all the reviews.
Some rules in this challenge:
It requires you to have a book blog. If you don't have any, please make your own book blog, because it has an issue with rules number 3.
Make sure that you're Indonesian who lives in Indonesian or if you're studying abroad, make sure that you have Indonesian mailing address.
Choose your own class and write a master post about this challenge on your blog. You have to put the banner on your blog too. Copy paste the script below to put on your blog's sidebar.
You can sort down the books you'll read on the master post and edit them later if necessary.
Submit your link below for signing up. The sign-up linky will be opened from February 7, 2014 throughout the year until December 1, 2014
I also put linkies for monthly reviews. They're opened from the first day of each month till the end of each month.
At the end of the challenge, please write down a wrap-up post and submit the link in the linky too. The linky of wrap-up post will be opened from December 1, 2014 til February 7, 2015.
I will pick one winner from every class based on points you collect. The prizes will be revealed soon.
You may write the reviews in English or Bahasa Indonesia.
Comics or graphic novels are allowed, but not more than 2 books.
You may combine the books you read with other challenges.
I'll try to make 2 game posts to boost your points. It will be revealed soon.
Have fun!
Points:
Master Post: +10pts
Review Post: +5-10 pts
Wrap up Post: +25 pts
Game Post: +10-15 pts
And I will give you any addition points according to the genre of the books. For uneasy-to-read books according to what most people's opinion, I will give you extra points.
I can't wait to see what great books you bring to this challenge. I want you to have fun here!
If you have any questions, feel free to ask me in the comment below.
IMPORTANT NOTE:
I have an issue with the linky. So, if you want to sign up after February, you can contact me via email: peniastiti [at] gmail [dot] com. I can only post my linky that contains not more than 30 days of submissions T_____T
Master Post and Sign Up Linky February Review Linky
Someday when we are wiser,
When the world's older,
When we have learned.
I pray someday we may yet live to live and let live.
Someday life will be fairer,
Need will be rarer
Greed will not pay.
God speed this bright millennium on its way.
Let it come someday.
Someday our fight will be won then,
We'll stand in the sun then,
That bright afternoon.
Till then, on days when the sun is gone,
We'll hang on,
Wish upon the moon.
There are some days dark and bitter
Seems we haven't got a prayer
But a prayer for something better
Is the one thing we all share
(Someday - All 4 One/Mariah Carey)
Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Ini adalah hari terakhir dari serangkaian proyek mudik bareng ke blog sendiri. Terima kasih untuk om @irwanbajang atas ide dan kesempatannya. Sekali lagi, motivasi Bunda ikut ini bukan untuk dapat hadiah, walau, yeah, kalo dapet hadiah seneng banget, ye... Tapi, Bunda ingin berbagi, bahwa ada banyak buku yang Bunda baca telah mengubah hidup Bunda.
Bunda sengaja memilih buku ini untuk menutup serangkaian proses mudik bareng ini. Sejak awal, Bunda nggak tahu gimana caranya bisa bikin review komedi dari semua buku yang Bunda baca. Termasuk, nggak bisa bikin cerita komedi untuk kisah buku-buku Bunda. Jadi, Bunda minta maaf kalo asli garing. Hawhaw...
Nah.. yuk, kita mulai...
Begini. Sejak banyak orang curiga dengan perkembangan Kakak Ilman di usia dua tahun, seperti nggak menyahut ketika dipanggil, belum bisa berbicara alias masih bubbling, nggak berkomunikasi dua arah, menyendiri, dan lain-lain, Bunda makin defensif dan over protective ke Kakak. Bunda menyangkal kalo memang ada sesuatu yang harus dicurigai atas "unresponsive"-nya Kakak.
Kenapa Bunda menyangkal? Sebab, kalo sama Bunda, Kakak mau bertatapan mata. Kalo Bunda panggil, Kakak mau lihat Bunda. Karena Bunda baru pertama kali punya anak, jadi menurut Bunda, ga ada masalah dengan Kakak. Bunda marah sekali pada papa yang berkali-kali membujuk Bunda untuk memeriksakan Kakak.
Sampai suatu ketika, Bunda baca artikel mengenai anak autis yang terlambat ditangani. Makan waktu lebih lama untuk memperbaiki keadaan. Dan itu karena kesalahan orangtuanya yang "denial". Waktu itu, Bunda menangis. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Kakak dan itu karena Bunda sibuk denial, maka Bunda-lah yang patut disalahkan.
Maka, Bunda memberanikan diri membawa Kakak ke ahli tumbuh kembang. Kaget banget Bunda. Ternyata, untuk biaya observasi, terapi okupasi, terapi wicara dan terapi perilaku butuh biaya yang sangat besar. Waktu itu, Bunda dan papa nggak punya uang sebanyak itu untuk perilaku. Akhirnya, Bunda berusaha mencari tempat lain yang bisa dijangkau dengan harga lebih murah.
Sampai akhirnya, Bunda ketemu dengan sekolah tempat Kakak bersekolah sekarang. Sampai akhirnya, Bunda tahu bahwa diagnosa Kakak bukan sekadar "speech delayed". Bunda akhirnya tahu, bahwa speech delayed itu gejala dari salah satu ciri-ciri anak berkebutuhan khusus. Sekitar dua tahun lalu, setelah Kakak diperiksa secara intensif oleh salah satu psikiater dari RSHS, Kakak didiagnosa asperger.
Ini PR besar untuk Bunda juga papa. Karena kami berdua buta dan minim pengetahuan mengenai asperger. Ditambah lagi, kami harus menghadapi keseharian kami dengan Kakak yang seringkali tak terduga. Jangan salah. Kakak Ilman amazing banget. Seperti mampu menghafal nursery rhymes "This Old Man" yang panjang itu dan kata-kata berima yang bahkan Bunda aja butuh waktu lama untuk menghafalnya. Kakak melakukannya dalam waktu sebentar. Kakak juga mencoreti dinding dengan bagian-bagian lirik untuk membantu menghafal. Dan itu terjadi di usia kakak yang kelima tahun.
Kakak Ilman bahkan membuat takjub bu guru Kakak di TK Sarijadi, karena di hari kedua Kakak bersekolah, Kakak langsung menyusun balok huruf menjadi sebuah kalimat: T - H - I - S - O - L - D - M - A - N. Masih banyak hal-hal menakjubkan lain yang selalu membuat kami terpana. Kakak sudah kenal dengan mesin pencari bernama Google sejak usia 2 tahun. Kakak bahkan mengetik SMS berbunyi "EVERYTHING", "BONGKAR", "BENTO", dll di usia 2 tahun. Kakak sudah bisa mengetik semua kata di komputer, di usia 3 tahun.
Di sisi lain, kami terkadang lelah kalo harus menghadapi Kakak yang tantrum. Energi Kakak luar biasa sekali kalo sedang tantrum, mengingat usia Kakak masih batita.
Yang Bunda takutkan adalah... Bunda nggak mampu membimbing dan mendidik Kakak sehingga Kakak bisa menjadi orang yang bisa memanfaatkan potensi Kakak. Padahal, dengan seluruh energi dan cara berpikir Kakak, Bunda yakin, Kakak bisa menjadi agen perubahan bagi dunia menjadi lebih baik.
Nah, ketika baca buku ini, Bunda belajar bagaimana mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Bunda belajar untuk tidak memaksakan kehendak supaya Bunda dimengerti
oleh orang lain. Bunda belajar, bahwa orang-orang cenderung punya
pendapat sendiri dan terkadang sok tahu. Untuk bisa tahu perasaan orang
lain, kita memang harus bisa merasakan berdiri di sepatu orang lain.
Kalo nggak salah, peribahasa dalam bahasa Inggrisnya tuh, "standing on
other's shoes".
Sehingga, Bunda tahu, bahwa apa pun keadaan Kakak Ilman, Kakak adalah anugerah untuk Bunda. Untuk papa. Untuk eyang. Untuk adek Zidan. Untuk semesta. Kami diminta untuk mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Sulitnya komunikasi dengan Kakak membuat kami berusaha untuk mencari alternatif cara lain berkomunikasi, sehingga sekarang, komunikasi dengan Kakak lebih mudah.
Dengan kehadiran Kakak Ilman di kehidupan kami, justru membuka cakrawala kami. Bahwa Allah menciptakan manusia secara unik. Kita aja ga pernah tahu. Sejak Bunda mulai terbiasa dengan titel ibu dengan anak berkebutuhan khusus, Bunda belajar mensyukuri segala sesuatu mulai dari hal yang paling tampak sepele. Bunda belajar mengagumi kebesaran Allah, melalui hal paling kecil semisal debu.
Buku apa yang membawa perubahan paling besar dalam hidup Bunda?
Judul: Letters to Sam - Pelajaran dari Seorang Kakek tentang Cinta, Kehilangan, dan Anugerah Hidup
Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Nggak terasa sudah hari keempat Bunda ikut proyek mudik bareng ke blog sendiri. Semoga besok bisa bertahan. Sayang, kan, tinggal sehari lagi.
Kok, nadanya kayak udah mulai jenuh, ya? Sebetulnya bukan jenuh. Hanya saja, konsentrasi jadi terbelah ke mana-mana padahal ada deadline. Bingung mau nentuin mana duluan yang harus dikerjakan. Hiks. It's so me. Hiks (lagi)
Di hari ketiga ini, Bunda pengen cerita tentang sebuah buku bergenre young adult - romance yang sempat membuat Bunda mabuk kepayang.
Awalnya iseng aja, ngajakin tante Alvina baca bareng. Terus ternyata, tante Desty dan tante Putri juga ikutan. Jadi, teman-teman Spank Club minimal sudah pernah baca ini. Entah dengan pak presnya. Hihihi...
Sekarang, Bunda ngerti, kenapa buku ini dapat nominasi penghargaan di Goodreads. Sedang menanti vote. Bunda juga ngerti, kenapa buku ini banyak dibicarakan orang.
Genre romance, young adult, udah jelas, dong, arahannya ke mana? Pastinya tentang sepasang remaja yang saling jatuh cinta. Gitu, kan? Iya, memang tentang jatuh cinta yang kayak begitu, kok. Terus, jatuh cinta itu umumnya standar, gitu-gitu aja. Ada yang akhirnya pacaran, ada yang nggak. Iya, memang kayak begitu.
Terus, apa bedanya dengan cerita romance - young adult lainnya?
Bunda nggak tahu. Karena Bunda belum punya pembanding. Atau dibandingkan dengan salah satu novel romance - young adult lain kayak Anna and the French Kiss juga ga sebanding, sih. Ceritanya mungkin boleh klise. Ide ceritanya mungkin nggak asing.
Tapi yang membuat Bunda suka adalah meski tentang jatuh cinta, karakter yang ada di dalamnya membuat Bunda terpikat. Sangat terpikat. Dan asal kalian tahu, Bunda sadar bahwa Bunda pernah mengalami masa-masa mabuk kepayang.
Kalian perlu tahu sesuatu. Bunda ini orangnya nggak banci tampil. Benci malah kalo harus terlihat tampil. Itu sebabnya, kadang Bunda malu kalo nama Bunda terpajang di sebuah struktur organisasi, sementara Bunda belum tahu posisi Bunda atau tugas Bunda apa. Yang lebih mengenaskan lagi, Bunda malu kalo Bunda ga pernah berkontribusi apa-apa. Nampang iya, tapi kontribusi nggak ada. Bunda lebih suka bergerak di belakang layar. Lebih banyak orang yang ga tahu kalo itu hasil karya Bunda, lebih baik. Bunda merasa lebih comfortable dengan itu. Cuma emang susahnya, kalo ada yang complaint, mereka jadi ga tahu mesti complaint ke mana :D
Kenapa bisa begitu? Karena, Bunda punya... ummm... masalah dengan percaya diri. Parah banget, deh. Jadi ingat sewaktu Bunda pacaran dengan seseorang-yang-bukan-papa-kalian, selama empat tahun, dia bekerja keras mendongkrak Bunda supaya Bunda bisa semakin pede. Sedikit aja ada prestasi Bunda, dia kasih pujian. Anehnya, pujian itu malah bikin Bunda terpuruk. Bunda malah merasa itu adalah sarkasme. Parah banget ya?
Memang, sih, setelah menikah dan punya anak, masalah ga percaya diri ini seperti terabaikan. Mungkin karena Bunda punya banyak kesibukan, jadi nggak sempet lagi terlihat minder. Padahal, setiap ngobrol sama seorang sahabat Bunda, si pakde, mesti keluar ga pedenya. Bahkan ngobrol dengan papa pun, mesti ga keluar ga pedenya. Mesti curhat yang ujung-ujungnya "menjatuhkan" diri Bunda sendiri. What the heck is it?
Awal tahun ini pun, ketika Bunda dekat dengan seseorang, dan entah kenapa, bisa keluar tuh "menjatuhkan" diri di depan dia, sampai dia berkomentar, "kamu itu kok, nggak ngajeni?"
Jedang.
Mampus.
Berita buruknya sih, sayangnya dengan seseorang ini udah nggak dekat lagi. Mungkin beliau sudah ga peduli lagi #iyainicurhat
Balik lagi ke masalah ga percaya diri. Meski di luaran Bunda keliatan banci tampil atau apa aja, terkadang faktor-faktor orang dekat lah yang bikin rasa percaya diri Bunda jatuh, hancur berkeping-keping.
Lalu, Bunda baca buku ini. Di sana karakter cowok pernah bilang dalam hati, kalo si cewek kayak pengen tetep terlihat jelek.
Jleb.
Nggak pernah dipuji cantik bukan berarti jelek, lho. Sekalinya dipuji cantik tuh, bukan berarti sarkasme. Meski 99 dari 100 orang bilang ga cantik, pasti ada 1 orang yang bilang cantik. Hehe.
Nah, dari situlah, Bunda "bangkit". It's not about the way people look at you. It's about how you look into yourself. No matter how people see or treat you, if you respect yourself, you're a great person.
Satu lagi. Bunda belajar dari buku ini, kalo berharap punya anak yang menghormati dan menghargai orang lain, maka anak ini harus dilimpahi kasih sayang yang berawal dari rumah dan orangtuanya. Jadi, kalo kalian bertemu dengan anak yang ga bisa menghormati atau menghargai orang lain, kasihanilah. Mungkin dia nggak pernah tahu rasanya dihormati dan dihargai. Mungkin di rumahnya dia ga pernah dapat itu semua...
Selama baca buku ini, Bunda selalu terngiang lagu Looking through the Eyes of Love - Nikka Costa:
Please, don't let this feeling end It's everything I am Everything I wanna be I can see what's mine now Finding out what's true Since I've found you... Looking through the eyes of love...
Buku itu adalah...
Judul: Eleanor & Park
Penulis: Rainbow Rowell
Diterbitkan 12 April 2012
Penerbit: Orion
ISBN13: 978-1409-116-332
E-book
Jumlah halaman: 329 halaman
Genre: Fiksi Kontemporer, Romance, Young Adult
Status: Punya. Trus lagi pre-order juga di Bookdepository, seperti diceritakan di sini
Reviewnya bisa dilihat di sini.
*Ditulis dalam rangka mudik ke blog sendiri yang digagas oleh @irwanbajang. Syarat dan ketentuan ada di blog penggagas.
Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Wah! Nggak terasa, sudah hari ketiga Bunda ikut proyek ini. Biasanya, blog Bunda biarkan bersarang laba-laba. Ini jadi tiap hari ditengokin. Makasih, om @irwanbajang :D
Motivasi Bunda bukan pada hadiah, walau pun proyek mudik bareng ini berhadiah. Motivasi Bunda adalah untuk tetap menjenguk blog Bunda. Memperhatikan interaksi di sana. Dan terlebih, jadi lebih sering blog walking. Memang menghabiskan waktu. Tapi, berkenalan dengan orang lain lewat tulisan mereka itu bermanfaat, kok ^_^
Kali ini, Bunda mau cerita tentang sebuah buku lain yang mengubah hidup Bunda. Kalo kemarin Bunda cerita tentang berdirinya Spank Club karena beberapa kesamaan di antaranya karena #FiftyUnited dan #BukuBiruLegendaris, kali ini Bunda mau cerita tentang proyek baca bareng setiap bulan.
Sejak setahun lalu, ketika Bunda "ditemukan" oleh Rahib Tanzil, eh, kok sounds wrong, ya?
Oke, Bunda ralat.
Sejak setahun lalu, ketika blog khusus review buku Bunda ditemukan oleh Rahib Tanzil dan masuk ke salah satu daftar blogger buku di Goodreads, link blog buku Bunda ada di sana. Terus, Bunda nanya ke tante Ally, memangnya ada persyaratan tertentu untuk masuk komunitas itu? Karena setahu Bunda, memang tante Ally ada di sana. Bunda nggak tahu kalo kemudian ternyata tante Ally-lah justru salah satu pendiri komunitas ini.
Nah, ketika oleh tante Ally Bunda diundang masuk ke grupnya, betapa takjubnya Bunda. Ternyata grupnya heboh. Memang bukan pertama kalinya Bunda "masuk" ke komunitas bookworm atau kutu buku. Mungkin ini komunitas kedua Bunda ada di dalamnya. Komunitas pertama lebih sinting, apalagi mereka menamai diri mereka adalah "KuBuGil" alias "Kutu Buku Gila". Ada proyek baca bareng juga nulis review. Kadang ada hadiahnya juga. Tapi, seiring dengan ngehe-nya jejaring sosial bernama Multiply (yang sekarang sudah almarhum), komunitas itu pun ikut "mati suri". Kebanyakan masyarakat komunitas ini beralih ke otang (oven tangkring) dan kesibukan masing-masing setelah berkeluarga. Meraih cita-cita dan impian masing-masing. Semoga kelak dibangkitkan kembali dari kematiannya. Bunda kangen dengan komunitas itu.
Sama dengan KuBuGil, komunitas ini juga ada proyek baca bareng dan posting bareng. Dan yeah, hampir semua punya akun di Goodreads. Senang juga kalo bisa ikut proyek baca bareng. Apalagi ternyata, blog Bunda masuk ke agregator komunitas ini. Sehingga, kemungkinan besar, banyak yang tahu blog buku Bunda dari agregator ini. Otomatis, ini juga yang meningkatkan jumlah pengunjung blog Bunda.
Sebetulnya, apa, ya, keuntungan banyaknya jumlah pengunjung blog? Nggak tahu. Cuma seneng aja kalo lihat di statistik, pengunjung blog Bunda meningkat. Hahaha. Ini baru kesenangan pribadi. Keuntungannya sendiri Bunda belum tahu.
Ada satu lagi. Selain masuk ke agregator, ternyata, link postingan Bunda juga suka masuk ke twit komunitas ini. Jadi, ya, siapa tahu memang begitu adanya. Karena baca bareng, posting bareng, masuk agregator terus ditwit, pengunjung blog Bunda bertambah? Nggak tahu juga, sih. Wallaahu 'alaam. Yang penting, Bunda harus rutin produksi tulisan untuk menjamu tamu. Titik.
Hanya sajaaaaa... Komunitas ini seperti mengorek-ngorek kelemahan Bunda paling fatal. Dari sebelum kenal komunitas mana pun, Bunda terkenal tukang menimbun buku. Beli bukunya kapaaan, dibacanya entah kapan. Setelah berada di dalam komunitas ini, Bunda makin nggak berdaya. Terutama dalam hal menimbun buku. Itu sebabnya, kenapa nama blog Bunda: Ketimbun Buku. Karena memang beginilah adanya.
Nah, karena program baca bareng ini bertujuan meluaskan wawasan, terutama sebetulnya karena bacaan Bunda masih satu tema yang sama, otomatis membuat Bunda jadi compulsive buyer. Alasannya karena "Eh, Bunda kan ga punya buku itu? Gimana, dong? Mau ikut baca bareng..." terus, akhirnya beli.
Dari asalnya alasannya begitu, makin lama, makin mudah tergoda. Ada diskon, nitip. Ada yang lagi keluar negeri, nitip. Ada yang lagi di toko buku seken, nitip. Gitu aja terus. Sementara, kemampuan membaca Bunda berbanding terbalik dengan kemampuan membeli. Ini berbahaya sekali sebetulnya. Dan Bunda baru menyadari sekarang ini, setelah menyaksikan timbunan paket buku yang bahkan belum Bunda buka sama sekali. Sigh.
Itu sebabnya, Bunda berhenti ikutan giveaway. Itu sebabnya, Bunda ingin sekali berhenti belanja buku untuk sementara ini. Tapi entahlah. Bunda tuh mudah tergoda. Apalagi kalo baca reviewnya yang rata-rata bagus. Belum lagi godaan kaver buku. Belum lagi godaan sale. Titip menitip. Sigh. Sekali lagi, walau ini bertujuan investasi, tetep aja: BAHAYA.
Meski begitu, karena komunitas inilah, Bunda jadi termotivasi untuk membaca dan menulis reviewnya. Kalo nggak karena komunitas ini, Bunda ga akan tahu ada proyek mudik ke blog sendiri. Kalo nggak karena ada komunitas ini, mungkin blog Bunda bakalan bersarang laba-lama karena ga pernah disentuh. Selalu ada positif dan negatif dari semuanya. Untuk hal positif tinggal ditingkatkan. Untuk hal negatif, harus diperbaiki, kalo perlu ditinggalkan.
Ketika komunitas ini mulai "serius" dengan punya struktur organisasi, Bunda malah diajak terlibat di dalamnya. Dan yang bikin Bunda merasa "terhormat", Bunda bahkan dipercaya untuk mengurus sosial medianya. Uhuk. Terharu. Mudah-mudahan, Bunda nggak mengecewakan banyak orang, ya. Memang, sepak terjangnya, sih, terus terang, banyak yang rese. Tapi, itulah hidup. Hahaha. Nggak semua orang menyenangkan, toh :P
Lalu, buku apakah yang kemudian menjadi pengaruh dalam hidup Bunda di kemudian hari, karena keterlibatan Bunda ikut program Posting Bareng?
Judul: Love, Aubrey
Penulis: Suzanne LaFleur
Penerjemah: Ary Nilandari
Penyunting: Khairi Rumantati
Korektor: Herlina Sitorus
Tata Letak: MAB
Cover: Indra Bayu
Cetakan Pertama: Desember 2010
Diterbitkan oleh: M-pop (Kelompok Penerbit Matahati)
Waktu itu, pollingnya adalah baca bareng buku terbitan Serambi, Matahati, dan lain-lain. Yang tertinggi adalah terbitan Serambi dan tertinggi kedua adalah Matahati. Dan waktu itu Bunda lagi pingin baca buku Aubrey, maka Bunda ambil pilihan kedua dan memang jadinya diposting bareng. Sejak saat itu, Bunda selalu berusaha ikut baca posting bareng, walau pun buku yang dijadikan "seragam" bukan cangkir teh Bunda (maksudnya sih, my cup of tea :P). Posting-nya jarang bareng karena telat melulu :D
Minimal, karena ada acara ini, timbunan (seharusnya) berkurang. Tapi, karena ada program ini juga, terkadang timbunan malah bertambah. Bukunya nambah, yang dibaca makin kurang. Selalu ada dua sisi dalam setiap kehidupan. Tsaaah.
Karena nulis postingan ini, Bunda jadi terpikir sesuatu. Sudah waktunya mulai menghabiskan timbunan dan rajin memelihara blog ini. Dan blog-blog Bunda yang lain. Terima kasih, BBI. I love you a lot.
*Ditulis dalam rangka mudik ke blog sendiri yang digagas oleh @irwanbajang. Syarat dan ketentuan ada di blog penggagas.
Ketemu lagi di tantangan hari kedua proyek mudik bareng ke blog sendiri #5BukuDalamHidupku. Kali ini, Bunda mau cerita tentang sebuah buku yang mengubah hidup Bunda. Ada kelanjutan dari kisah buku yang kemarin Bunda posting.
Adalah sebuah review kacrut di Goodreads yang menimbulkan kontroversi di dunia perbukuan. Bedanya, karena ini penulis luar negeri dan yang jelas, terkenal banget gara-gara buku ini, si penulis nggak akan repot-repot nge-troll postingan kontak Bunda di Goodreads. Dia terlalu sibuk mempromosikan bukunya atau mungkin bikin skenario film dan melakukan casting? Entah. Yang jelas, buku ini mendunia. Beliau nggak akan menghabiskan waktunya untuk ngetroll review bukunya :D
Di satu sisi, di sebuah petak kecil di planet yang bernama Bumi, ada sekelompok orang yang sibuk menghabiskan waktunya untuk mereview buku yang mereka sebut kacrut. Nggak hanya bukunya yang disebut kacrut. Reviewnya sendiri juga... errr... kacrut. Haha. Dan mereka pun menghabiskan waktu mereka untuk membaca review teman lain juga saling komentar di sana. Ada triple kacrut yang "looping" di sini dan ga selesai-selesai. Buku kacrut - review kacrut - komentar kacrut. Terus aja gitu. #rauwisuwis
Mereka janjian untuk baca bareng dan mereview bareng. Sepertinya mereka berbakat jadi komedian saat mereview buku ini. Padahal, buku ini bukan buku komedi atau humor. Sama sekali bukan. Tapi entah kenapa, membaca review mereka justru membuat Bunda sukses terpingkal-pingkal. Hampir semua review mereka sukses jadi review terkocak yang pernah Bunda baca.
Karena review merekalah, Bunda jadi penasaran untuk membacanya. Sebetulnya, Bunda nggak mau ngaku sama mereka, kalo Bunda sudah baca buku ini. Yah, atas nama jaga image alias pencitraan, Bunda merasa nggak perlu dunia tahu kalo Bunda sudah baca buku ini. Ya, kan?
Nah, pas kejadian trolling di review buku biru legendaris itu, Bunda sering kirim direct message lewat bu dokter A.S Dewi, sebetulnya cuma share informasi aja sih, awalnya. Share informasi hasil stalk teman Bunda yang lain mengenai troll, sih. Setelah sekian lama ngobrol berdua aja berjalan, kami mulai menyeret tante Ren dan Aki Hippo (user Hippo ini sering banget ganti nama. Masih labil sepertinya. Butuh lebih sering bancakan bubur merah putih #dispankAki). Kami berempat memulai grup kecil dengan nama "Ngegosip ajalah".
Setelah kami sadar, bahwa kesamaan kami adalah sama-sama sudah baca buku yang membuat bumi sempat gonjang-ganjing itu, kami mulai menarik dua anggota lain, yaitu tante Alvina dan tante Desty. Sebetulnya, masih ada tiga anggota lain, yaitu Tukang Kueh, tante Putri, dan om Tezar. Ketiga member ini masih diperhitungkan keanggotaannya sekarang, karena mereka belum baca buku ini. Hahaha...
Oya, nama grup ini labil. Beberapa kali ganti. Maklum, masih dalam pencarian bentuk yang lebih stabil. Setelah dari "Ngegosip ajalah" berganti jadi "Grup Tentakel". Terus, jadi "Grup Pecinta Kipas". Terus berubah lagi menjadi "Grup Pecinta Kapas" dengan banyak ikon tentakel di belakangnya. Dan sekarang, grup ini menjadi "Spank Club".
Ada "aturan" baku di Spank Club ini. Yaitu, kalo ada yang typo di percakapan kami, akan ada sanksi. Yaitu kena spank. Iya, spank yang itu. Spank yang ada di emoticon whatsapp. Bisa kebayang, kan, satu orang dispank rame-rame. Untung cuma emot. Tapi kebayang ngilunya X))
Nggak hanya itu. Sanksi kena spank juga berlaku untuk salah kamar. Dan salah-salah yang lain. Hahaha... Biar begitu, nggak pernah kapok buat ngobrol bersama teman-teman Spank Club, karena mereka kayak sodara sendiri. Ketawa, nangis, tinggal nemplok ke mereka. Udah gitu lega banget kalo udah curhat ke mereka. Bersama mereka, Bunda bisa jadi diri sendiri. Nggak perlu pake topeng untuk jadi orang lain. Bersama mereka, Bunda bisa jujur jadi diri sendiri, nggak perlu nutup-nutupin siapa diri Bunda. Kalo sama yang lain, kan, tetep aja kudu pake ja-im. Sayangnya, di Spank Club, ja-im Bunda failed. Hahaha.
Yah, akhirnya memang Bunda pikir ngapain juga Bunda sembunyi dari kenyataan bahwa Bunda udah baca buku ini. Toh, gara-gara "kesamaan" ini, Bunda jadi punya sahabat tempat berbagi suka dan duka. Meski kadang, Bunda minder dengan pengetahuan mereka akan buku jauh lebih luas dari Bunda. At least, Bunda bersyukur ketemu mereka, karena Bunda jadi belajar banyaaaaak banget dari mereka.
Sepertinya kalian sudah tahu, buku apa yang Bunda maksudkan. Ya. Benar. Buku yang itu.
Judul: Fifty Shades of Grey (Fifty Shades #1)
Penulis: E. L. James
Cover image: Papuga2006 | Dreamstime.com
Cover design: Jennifer McGuire
Diterbitkan pertama kali oleh The Writer's Coffe Shop
Buku dasi abu-abu sudah membuat kami mendirikan #FiftyUnited dan Spank Club. Kami bahkan akan ada di IRF 2013 di Museum Bank Mandiri tanggal 8 Desember 2013, insya Allah. Cek aja booth C3. Infonya bisa dilihat di sini, apa nama booth kami X))
Tentu saja, Bunda berterima kasih pada ibu E.L James, atas apa pun kontroversi yang ditimbulkannya. Yang jelas, gara-gara karyanya yang totally epic ini, review Bunda yang itu jadi sering dilihat. Bahkan review tante Ren tentang buku ini mencapai angka 20.000 lebih untuk statistik "viewed"-nya. Congratulations!
Yang jelas, meski nama booth-nya demikian, kami bukan porn seeker. Justru gara-gara cerita-cerita beginilah, kami jadi ngetawain hal-hal bodoh yang dilakukan orang-orang yang "mendewakan" seks. Karena kami ini "brainiac" bukan "sex maniac" :D
*Ditulis dalam rangka mudik ke blog sendiri yang digagas oleh @irwanbajang. Syarat dan ketentuan ada di blog penggagas.
Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Adalah sebuah link yang diposting oleh Rahib Tanzil, sesepuh kami di Blogger Buku Indonesia alias BBI, yang membuat Bunda tersentak. Sesaat, karena image posting dalam blog ini yang memang eye-catching, kemudian proyeknya sendiri membuat Bunda tersadar, bahwa sebetulnya, selama sekian tahun Bunda menjadi blogger buku, nggak produktif. *sigh*
Terus terang, ini proyek ternekat yang pernah Bunda ikuti sepanjang sejarah #lebay emang. Karena selama lima hari berturut-turut, Bunda harus rutin posting. Dan memang, ada lebih dari 5 buku yang sudah mengubah hidup Bunda. Tapi tentu ada 5 yang wajib diceritakan, mengapa buku-buku itu mengubah hidup Bunda.
Mari kita mulai proyek mudik ini di hari pertama. Semoga Bunda sampai ke tempat tujuan dan ga nyasar. Karena kalo nyasar, nggak ada yang kehilangan apalagi mencari Bunda. #lho
Buku ini sempat heboh sekali di tahun 2012 (kalo Bunda nggak salah ingat). Kenapa? Sebab, ketika itu, ada review "kacrut" yang memancing virtual war di jejaring sosial khusus buku bernama Goodreads. Review itu membahas mengenai betapa kacrutnya jalan cerita di buku ini. Ide ceritanya sebetulnya bagus. Tapi eksekusinya payah. Wajarlah, kalo ada reviewer menulis kekecewaannya terhadap buku. Itu kan perasaannya terhadap buku yang dibacanya.
Apa yang membuat buku ini menjadi heboh? Perilaku penulisnya yang membuat semua pembaca, se-Indonesia, menoleh pada buku ini. Karena, penulisnya mengeluarkan sebuah syarat untuk menjadi pembaca bukunya.
Syarat untuk bisa mencerna buku ini adalah: KAMU HARUS BEROTAK PRIMA!
Setelah seluruh drama yang ditimbulkan, baik oleh penulis, teror fans berat penulis di thread reviewer, mau pun pendukung penulis review buku ini di Goodreads ada "hikmah" dan "pelajaran" di balik semua ini.
Penulis cuma manusia, bukan dewa. Wajar sekali kalo dia bereaksi keras dan merasa insecure sehingga mengeluarkan statement tertentu, demi melindungi karyanya. Walau itu membuatnya kehilangan harga diri. Wibawanya jatuh di mata pembaca. Apa pun itu. Dia nggak mau intelektualnya terinjak-injak. Dia mengerahkan segala caranya untuk melindungi hak intelektualnya.
Reviewer juga cuma manusia, bukan dewa. Wajar juga kalo pembaca yang menulis review menyampaikan pendapatnya mengenai buku yang dibacanya. Pembaca tuh ada usaha dalam membaca dan menuliskan review. Minimal, dia beli/pinjam bukunya. Kemudian, menyediakan waktu untuk membaca, memahami apa yang dibacanya. Terakhir, dia menulis pendapatnya di review.
Untuk review sedetail review kacrut tadi, reviewer harus punya ilmu yang berkaitan dengan apa yang dibacanya tadi. Misalnya, mengenai kedokteran. Berarti, kan, kalo berani mengkritik alur cerita atau adegan mengenai kedokteran, reviewer ini minimal tahu beberapa hal di bidang kedokteran? Intinya, sang reviewer ingin penulis tuh kalo menulis cerita, novel seimajinatif apa pun, tetap pakai riset yang masuk logika.
Dan Bunda setuju dengan sebuah quote "Buku adalah jendela dunia." Kita belajar mengenai apa pun melalui buku. Novel sekali pun. Berarti, untuk menjadi penulis, harus melakukan riset yang serius, karena nantinya bakalan disampaikan di tulisan mereka. Dan pembaca akan mencerna tulisannya.
Hidup memang keras. Begitu juga untuk bertahan di dunia tulis menulis. Orang nyinyir mah ada di mana aja. Kapan aja juga jadi kalo mau dinyinyirin mah. Dalam hidup tuh nggak ada yang sempurna. Pasti ada celanya. Karena kesempurnaan milik Tuhan semata. Selama kita menerima kritikan, berarti emang ada yang perhatian ke kita. Harus kita syukuri dulu fakta itu. Ada yang masih mau mengkritik, berarti ada yang perhatian. Kalo kita masih bereaksi buruk terhadap sebuah kritikan, mari kita berdoa, semoga kita diberikan cara pandang yang baru terhadap seluruh kritikan yang mengarah pada kita. Lalu, jadikan kritikan itu salah satu masukan yang membuat kita menjadi lebih baik. Harusnya, sih. Errr.. Look who's talking? X)) #ngakaksendiri
Dampak lain dari buku yang heboh ini adalah Bunda jadi berteman akrab dengan sang reviewer yang diserang oleh fans berat penulis buku ini. Bunda belum pernah ketemu muka dengan beliau. Tapi, sudah banyak cerita yang kami saling tukar hampir setahunan ini. Buku ini pun berhasil menyatukan banyak pembaca di Indonesia. Saling bahu membahu membela kebenaran #haiyah
Buku apakah itu?
Tadaaaaa...
Judul: Memory and Destiny
Penulis: Yunisa KD
Editor: Hetih Rusli
Co Editor: Raya Fitrah
Foto sampul: Jose AS Reyes
Diterbitkan oleh: PT Gramedia Pustaka Utama
April, 2010
Jumlah halaman: 264 hlm, 18 cm
ISBN: 978-979-22-5658-1
Bunda sudah pernah mereview buku ini. Dilihat dari kacamata Bunda sendiri. Silakan dilihat aja review Bunda di sini, ya... :D
*Ditulis dalam rangka mudik ke blog sendiri yang digagas oleh @irwanbajang. Syarat dan ketentuan ada di blog penggagas.
Halo semuanya.... Di sini, gaya saya nulis agak beda dari sebelumnya. Bukan bosen ama format biasanya, sih, cuma emang lagi mesti pake format kayak gini. Semoga nggak bikin pusing, ya... Postingan ini akan saya bagi tiga.
Bagian pertama: Happy Birthday, Papa....
Hari ini adalah hari ulang tahun papa kakak Ilman dan adik Zidan. Hehehe... Nggak ada acara spesial, sih. Lagian hari kerja juga. Nggak ngaruh ulang tahun atau nggak. Mungkin pulang nanti beli pizza aja. Atau apa, ya? Yang penting, jadi penanda aja, bahwa kami nggak lupa dengan ulang tahunnya.... XD
Yang jelas, nggak ada doa khusus hari ini, sebab setiap hari doanya selalu khusus #lho
Trus ada giveaway, nggak, sehubungan dengan ultah papanya anak-anak? Ada, sih. Cuma nanti sekalian digabung aja sama event BBI. Cuma selisih tiga hari, kok. Pantengin aja terus twitter saya. Pasti dipublish di sana. Rencananya, sih... :P
Bagian kedua: Review saya mengenai buku Norwegian Wood (Tokyo Blues)
Judul: Norwegian Wood (Tokyo Blues)
Judul asli: Noruwei no mori
Penulis: Haruki Murakami
Penerjemah: Jay Rubin
Diterbitkan oleh: The Harvil Press
Jumlah halaman: 353 halaman
e-book
Romance, Japanese Literature, Literary Fiction, Contemporary Fiction
Status: Punya
Sinopsis dari Goodreads
<
Toru, a quiet and preternaturally serious young college student in Tokyo, is devoted to Naoko, a beautiful and introspective young woman, but their mutual passion is marked by the tragic death of their best friend years before. Toru begins to adapt to campus life and the loneliness and isolation he faces there, but Naoko finds the pressures and responsibilities of life unbearable. As she retreats further into her own world, Toru finds himself reaching out to others and drawn to a fiercely independent and sexually liberated young woman.
A poignant story of one college student’s romantic coming-of-age, Norwegian Wood takes us to that distant place of a young man’s first, hopeless, and heroic love.
>
Pernah baca komentar siapa, ya, di
akun GR-nya, dia kipas-kipas kepanasan pas baca buku ini. Hihi... Dan
sebetulnya, saya pengen mulai baca ini tanggal 27 Maret, yang mana
dimaksudkan untuk ikut program posting barengnya BBI di bulan Maret.
Cuma, yah, apa daya. Standar banget saya, nggak bisa memenuhi target
karena emang sibuk *alesyan banget*. Iya, entah kenapa, kecepatan baca saya menurun banget. Faktor U-kah?
Atau mungkin juga karena saya lagi banyak kerjaan juga assignment. Trus
kondisi kesehatan yang belakangan agak menurun plus energi yang banyak
dikeluarkan karena anak-anak makin aktif dan butuh didampingi? Jangan
lupakan juga godaan menyelesaikan game atau chatting. *yang terakhir boleh diketawain, kok, asal jangan digampar aja* X)) Akhirnya saya baru bisa membacanya di bulan April, awal. Beuh!
Pertama kali baca, saya jatuh cinta dengan Haruki Murakami. Terus terang, meski udah lama dibicarakan teman-teman BBI, saya baru baca sekarang dan langsung suka. Mungkinkah karena gaya terjemahannya enak? Atau seandainya saya berbahasa Jepang pun, saya akan langsung menyukainya? Entah. Yang jelas, penuturannya enak dibaca. Kalo masalah butuh waktu lama untuk menyelesaikannya, sih, jangan salahkan bukunya. Itu faktor saya, kok. Scroll lagi ke atas, deh. Udah dibahas tadi X))
Khusus untuk Norwegian Wood atau Tokyo Blues ini, suasananya ternyata emang se-blue judulnya. Toru Watanabe berurusan dengan banyak perempuan dan berteman dengan beberapa pria juga, yang hampir semuanya bermasalah. Duh, kalo nggak pasang shield setebal setengah meter, kayaknya bakalan kebawa blue juga, deh. Tapi saya berhasil ikut suasana hati Watanabe yang mana dia punya shield super tebal. Jadi nggak kebawa desperate seperti orang-orang yang terlibat dalam hidupnya.
Norwegian Wood mengambil sudut pandang orang pertama, dengan Toru Watanabe menjadi si "aku" di buku ini. Watanabe adalah mahasiswa jurusan drama yang tinggal di sebuah dormitori, berbagi kamar dengan seseorang yang dijuluki sebagai Storm Trooper - saking OCD-nya. Nah, kisah Storm Trooper ini sering menjadi bahan cerita Watanabe ketika dia ketemu dengan cewek. Semisal Naoko, Rieko, kemudian nanti ada yang namanya Midori. Dan cerita mengenai Storm Trooper ini selalu sukses membuat ketiga perempuan ini tertawa. Selain cerita tentang Storm Trooper, Watanabe merasa nggak punya sesuatu yang menarik buat diceritakan terhadap ketiga perempuan ini.
Jadi, Watanabe ini gedebuk in lap sama mantan pacar sahabatnya (Kizuki) bernama Naoko. Kizuki dan Naoko bukan putus karena udah nggak saling sayang lagi. Mereka terpaksa berpisah, karena Kizuki memutuskan untuk bunuh diri, di usianya yang ke-17. Nah. Jelas, kan? Udah mulai blue? Belum... Masih panjang...
Sebagai sesama yang kehilangan Kizuki, Watanabe sering menghabiskan waktu dengan Naoko, meski nggak banyak bicara. Lalu mereka berdua saling jatuh cinta. Cuma tiba-tiba Naoko menghilang dan lalu ada kabar kalo Naoko dirawat di sebuah sanatorium, jauh dari Tokyo. Dan ketika akhirnya Watanabe berhasil mengunjunginya, dia juga berkenalan dengan Rieko. Seseorang yang menjadi sahabat dan orang kepercayaan Naoko selama ada di sanatorium ini.
Ketika Naoko berada di sanatorium, Watanabe berkenalan dengan seorang perempuan bernama Midori, yang ternyata mereka sekelas di kelas drama. Seorang perempuan unik, cenderung aneh. Tapi, Watanabe menyukai cara berpikirnya yang ajaib. Midori ini termasuk perempuan misterius, karena di balik keunikan dan keceriaannya, dia menyimpan banyak cerita sedih.
So far, nanti saya ceritakan di bagian spoiler, membaca buku ini benar-benar membuat napas beberapa kali seperti sesak. Mungkin, memang seperti itu ya, perilaku orang Jepang di masa lalu, terutama anak mudanya yang mudah sekali untuk depresi dan menyelesaikannya dengan cara mereka masing-masing, tanpa memikirkan hal lain. *sigh* Dan hati masih bertanya-tanya, apakah mereka masih seperti itu di jaman sekarang? Soalnya, ini settingnya tahun 1960-an.
Oya, meski settingnya tahun 1960-an, saya nggak sulit membayangkannya. Kok, kayaknya nggak jauh dengan tahun-tahun sekarang gitu :D Plus, di sini banyak diceritakan lagu-lagu klasik kesukaan saya, semisal karya Beethoven, Schumbert, Chopin. Juga diceritain tentang beberapa lagu The Beatles, di antaranya Norwegian Wood, yang sering dimainkan oleh Rieko.
Ini tentang tokoh-tokoh di dalam ceritanya. Mendingan ga usah dibuka, sih, kalo belum pernah baca. Sedikit mengandung spoiler :P
<
Toru Watanabe. Kayaknya, sih, kalo dari penuturan Midori *yang kemudian jadi pacarnya*, dia nggak cakep-cakep amat. Biasa aja. Tapi mungkin, inner-nya asik. Jadi, yah, gampang ditempel perempuan. Walau pun, dia bukan playboy juga. Kenapa? Soalnya, dia bukan tipe perayu gombaler gitu, sih. Cuma, yah, di sini diceritainnya kan, dia sering banget bolak balik bobo ama cewek gitu... Dan bahkan pernah mencampakkan cewek yang pernah dipacarinya sewaktu dia masih SMA.
Cuma kebayangnya sih, dia kayaknya karismatis. Tsaaaah! Ada kelakuan yang bikin saya sempat "suka" sama Watanabe. Yaitu, di adegan sewaktu dia nemenin ayah Midori di rumah sakit. Ayah Midori yang nggak mau makan apa pun, malah mau makan timun, karena kayaknya cara Watanabe makan tuh enak banget. Timun, setelah dibersihin, dibungkus pake nori terus dicocol ke semacam saus gitu. Nah, nggak cuma ayah Midori yang jadi kepingin, malah... Saya pun pengen juga... X))
Naoko. Watanabe kenal Naoko, karena Naoko ini pacaran dengan Kizuki, sahabatnya. Setelah kematian Kizuki, Naoko banyak menghabiskan waktu dengan Watanabe, sampai akhirnya mereka sempet "bobo-bobo senang" sekali. Setelah kejadian itu, Naoko menghilang. Nggak pernah muncul lagi. Dan ini membuat Watanabe ketakutan. Dia berusaha mencari Naoko, menghubunginya ke rumah orangtuanya. Dan akhirnya, ada kabar bahwa Naoko ada di sanatorium.
Sewaktu Watanabe berhasil mengunjunginya di sanatorium, Naoko akhirnya bercerita bahwa dia mengalami depresi berat. Dan ternyata, hidup Naoko ini dibayangi ama dua kejadian bunuh diri. Ish... Selain Kizuki yang ditemukan sudah dalam keadaan tak bernyawa, sewaktu dia masih kecil, dia pun menemukan kakak perempuan kesayangannya dalam keadaan tergantung. -____-"
Rasanya desperating banget, ya, jadi Naoko... Makanya, dia jadi depresi dan butuh treatment. Meski keadaannya begitu, nggak mengurangi rasa cinta Watanabe terhadap Naoko. Dan dia pun berjanji akan menunggu Naoko. Bahkan ngajak Naoko pindah ke rumah kontrakannya. Meski akhirnya nggak pernah kesampaian.
Rieko. Dia ini nggak kelihatan kayak orang sakit, padahal dia tuh pasien di sanatorium itu. Kata Rieko juga, pasien ama dokter di sana mirip. Saling bantu, saling peduli. Jadi, nyaris nggak kelihatan bedanya. Masalah Rieko yang membuatnya jadi pasien di situ di antaranya adalah dia pemain piano sewaktu kecil dan akan masuk kompetisi, ketika tiba-tiba salah satu jarinya tidak berfungsi dengan benar. Akhirnya dia melupakan impian jadi pianis profesional. Dia mulai depresi waktu itu. Sampai besar dan kemudian menikah.
Ketika dia udah nyaris sembuh dari depresi dan mulai berkarir menjadi guru piano, dia malah diabuse sama seorang murid perempuannya yang masih ABG, tapi justru berita yang beredar di lingkungannya Rieko-lah yang lesbian dan meng-abuse muridnya. Meski suaminya percaya bahwa kabar itu salah, tapi dia udah keburu stres. Mana permintaannya buat segera pindah nggak dikabulkan suaminya, karena karir suaminya lagi bagus. Dia pun cerai dan akhirnya jadi pasien di sanatorium itu, selama 8 tahun.
Midori. Cewek ini unik banget. Ceria, banyak menyembunyikan kedukaannya. Dia sempat berbohong pada Watanabe, bahwa ayahnya sedang berada di Uruguay. Padahal, ayahnya sedang mengalami sakit yang sama dengan almarhum ibunya. Keunikannya ini bikin dia justru dekat dengan Watanabe. Meski tadinya Watanabe nggak suka-suka amat, karena hatinya udah buat Naoko, kan. Cuma, Watanabe bisa banget memosisikan dirinya sebagai sahabat Midori.
>
Over all, saya suka ceritanya. Suka settingnya. Suka elemen penceritaannya. Suka suasananya yang Jepang banget. Ya eyalaaah... settingnya di Jepang, penulisnya juga orang Jepang... =)) Meski ada banyak info mengenai Jepang di dalamnya, saya sih nggak merasa digurui. Dibawa mengalir aja gitu... Meski bernuansa gloomy, tetep suka.
Bagaimana dengan "kipas"? Lebih kipas dari FSOG, sih, kata saya mah... Hahahaha... Mungkin karena nggak dituturkan in a porn way, jadi yah, kerasanya biasa aja. Cuma, yeah, lumayan bikin gerah, kok. Kalo kata si aki, nanti ada buku kulkas, bukan buku kipas lagi. Tenang aja, menurut saya, Norwegian Wood masih masuk kategori buku kipas atau AC. Belum ke kulkas, kok... X))
Jadi, untuk pengalaman saya pertama kalinya baca karya Haruki Murakami, saya terkesan dan suka. Bintang 4 layak, lah... ^_^
Lalu sekarang, bagian ketiga yang juga bagian terakhir:
[2013 - RC Books in English] April's Link Post
Ya, silakan memasukkan link teman-teman. Mohon maaf, saya belum sempat blogwalking. Tapi, setelah urusan saya selesai, saya akan segera meninggalkan komentar. Kemungkinan besar, sih, saya mau bikin giveaway sehubungan dengan challenge ini. Nanti saya rencanakan dulu konsepnya gimana. Soalnya, bulan ini mau ikut bloghop giveawaynya BBI. Nantikan kabar berikutnya, ya...
Suatu hari, si sayah tersinggung sekali dengan ucapan seorang aki Hippo dari Hongkong, waktu itu dia bertanya kepada si Ipin, tentang link review Eleanor and Park. Si sayah kan nanya, "aki nggak nanyain review sayah?" Dia kemudian jawab,...
Saya memulai tahun 2015 ini dengan baca serial Warna karya Kim Dong Hwa. Aduh, mak! Meski komik, tapi isinya sarat makna banget. Bahasanya indah, bikin agak melayang-layang... hihihi...
yang jelas, buku ini saya umpetin dari anak-anak....
tagged:
bintang-5, cover-cakep, dibaca-2015, and korean-literature
denger dari temen yang udah nonton filmnya, sih, The Giver versi buku jauh lebih sederhana ketimbang filmnya yang udah banyak penambahan karakter, dll. Iya, saya belum nonton :D
suka dengan terjemahannya, mudah dikunyah juga dicerna.
r...
Pertamax! *ditabok segoodreads* :))
Waktu mau ngisi rak buku, terkaget-kaget, ternyata buku ini belum masuk di daftar Goodreads. Dengan senang hati, status sebagai Librarian bisa dimanfaatkan buat masukin buku ini. Pas gugling image bua...