Tampilkan postingan dengan label semua umur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label semua umur. Tampilkan semua postingan

18 Feb 2015

Our Story by Orizuka



Judul buku: Our Story
Penulis: Orizuka
Penyunting: Agatha Tristanti
Penata letak: Teddy Hanggara
Desain sampul: Teddy Hanggara
Foto: Chusnul Chairudin
Penerbit: Authorized Books
Cetakan kedua, 2011
Jumlah halaman: 240 hlm, 13.5 cm x 19 cm
ISBN: 978-602-96894-1-9


Masa SMA. 
Masa yang selalu disebut sebagai masa paling indah, tapi tidak bagi anak-anak SMA Budi Bangsa.

SMA Budi Bangsa adalah sebuah SMA di pinggiran ibukota, yang terkenal dengan sebutan SMA pembuangan sampah karena segala jenis sampah masyarakat ada di sana.

Preman. Pengacau. Pembangkang. Pembuli. Pelacur.

Masuk dan pulang sekolah sesuka hati. Guru-guru honorer jarang masuk dan memilih mengajar di tempat lain. Angka drop-out jauh lebih besar daripada yang lulus. 

Sekilas, tidak ada masa depan bagi anak-anak SMA Budi Bangsa, bahkan jika mereka menginginkannya.

Masa SMA bagi mereka hanyalah sebuah masa suram yang harus segera dilewati.

Supaya mereka dapat keluar dari status 'remaja' dan menjadi 'dewasa'. Supaya tidak ada lagi orang dewasa yang bisa mengatur mereka. Supaya mereka akhirnya bisa didengarkan.

Ini, adalah cerita mereka.


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Ini adalah buku kedua dari author Orizuka yang Bunda baca. Sejauh ini, Bunda menikmati gaya bertutur Orizuka.

Our Story bermula dari seorang Yasmine, murid pindahan dari US, yang pendaftaran sekolahnya diurus oleh supir teman ayahnya. Yasmine kaget banget (lebih tepatnya shocked) ketika sekolah yang didatanginya jauh dari kesan sekolah internasional yang seharusnya, karena supir teman ayahnya itu (sepertinya) salah dengar dari kata SMA Bukti Bangsa (yang bertaraf internasional) malah mendaftarkan Yasmine ke SMA Budi Bangsa yang terkenal sebagai sekolah buangan.

Uang tiga puluh juta rupiah yang sudah digelontorkan untuk sekolah barunya itu nggak mungkin bisa diambil lagi. Yasmine cuma bisa bengong ketika dia bersekolah yang bisa dibilang, hidup nggak, mati segan.

Sebagai anak baru, bukan nggak mungkin Yasmine dibully oleh teman sekelasnya. Di sekolah itu ada ketua geng, Nino namanya, yang ditakuti geng-geng lain. Entah kenapa, Nino tidak mengganggu Yasmine sama sekali. Di antara siswa-siswa yang bisa dibilang nggak jelas masa depannya, Yasmine menemukan satu siswa yang kayak oase gitu. Namanya Ferris, yang juga jadi Ketua Osis, meski semua proposalnya selalu ditolak oleh sang kepala sekolah. Yasmine bisa akrab dengan Ferris dan akhirnya ikut Ferris berjuang di sekolah itu.

Perjalanan Yasmine selama menjadi siswa di SMA Budi Bangsa nggak menyenangkan dan membuatnya semakin benci sekolah. Nggak di US, nggak di negeri sendiri, masa SMA baginya nggak jauh-jauh dari neraka. Setelah ngobrol banyak dengan Ferris, Yasmine akhirnya mencoba mengubah cara pandangnya terhadap sekolah. Sampai akhirnya memang di bulan-bulan terakhir menjelang UN, terjadi perubahan drastis yang cukup mencengangkan: anak-anak itu mau belajar supaya lulus. 

Kalo Bunda ibaratkan, membaca Our Story ini seperti mengupas bawang. Oleh Orizuka, setiap lapis demi lapis diramu sedemikian rupa sehingga semakin mendekati akhir, gas air mata semakin kuat diembuskan dan mampu membuat pertahanan air mata kita jebol. Nggak, Bunda nggak lagi bicara soal menangis, karena Bunda sama sekali nggak menangis ketika baca Our Story. Yang Bunda maksudkan adalah setiap penokohan  karakter di sini kuat dan punya alasan masing-masing untuk berdiri di dalam cerita. Bahkan, setiap karakter dalam cerita ini mampu membuat ceritanya sendiri. Gimana Bunda bisa bayangin sosok Nino, Ferris, Yasmine, Mei, bahkan sampai Sisca sekalipun, dalam kisah mereka masing-masing.

Ferris kalo Bunda bayangin, dia cocok diperankan oleh Kang Ha Neul.  


Nino.. cocoknya oleh siapa, ya? Sebelumnya soalnya yang kebayang tukang bully itu pernah diperanin Kim Woo Bin, sih... 


Tapi kayaknya Lee Jong Suk cocok juga. Hahahaha...


Ini kok kayak nyuruh Our Story dibuat cerita versi drama koreyahnya, sih. Hahaha... 

Cover yang dibuat dengan nuansa kelam ini sebenernya udah memperlihatkan banget daleman ceritanya akan seperti apa. 

Bunda jadi teringat waktu Tante Asih mengajar jadi guru STM. Sekolah di mana kadang ada anak yang udah enam bulan nggak sekolah, sekolah yang di saat lagi ujian, salah satu tugas Tante Asih adalah kasih lembar jawaban ke masing-masing murid sebelum guru pengawas datang. Kalopun guru pengawas datang, sudah diamini oleh mereka. Karena ini emang kerja mereka. Yang penting, reputasi sekolah tetep dengan semua anak lulus, walau anaknya entah belajar entah nggak. Entah pernah masuk sekolah entah nggak. Yang penting pas ujian masuk dan lulus.

Tentu jadi beban berat untuk menjadi guru yang ditempatkan di sekolah seperti itu. Sekolah yang hidup segan, tapi mati juga nggak mau. Dengan berbagai tipe siswa, mulai dari yang cuma datang satu semester sekali, siswa yang udah tiga tahun nggak bayar uang sekolah, tapi rajin sekolah, walau buku aja mungkin dia nggak bawa, yang datang pagi terus entah ke mana ~ yang jelas berseragam, dan lain-lain dan lain-lain. Bunda jadi ngerti alasan anak-anak itu: dengan masuk sekolah, entah apa pun yang dilakukan di dalamnya, ada tempat "berlindung" dari kejamnya dunia luar. Kalo status mereka sudah lepas dari sekolah, mereka berubah jadi orang dewasa yang nggak lagi punya tempat berlindung.

Our Story menggambarkan banyak sekolah "bobrok" di Indonesia yang nggak keekspos cerita sebenernya. Alhamdulillaah, Bunda selalu bersekolah di sekolah yang terjamin, sehingga ketika mendengar sendiri cerita sejenis ini, Bunda cuma bisa bergidik. Begitu juga pas baca. Ada banyak sekali PR untuk pendidik, terutama di Indonesia ini, untuk meraih anak-anak yang terbilang "madesu" (masa depan suram). Miris? Iya. Itu sebabnya, selalu ada jurang yang sangat curam antara orang mampu dengan nggak mampu, apalagi menyangkut masalah pendidikan dan kepedulian.

Teriring doa dan harapan, semoga Bunda dan Papa bisa selalu menyekolahkan Kakak Ilman dan Adik Zaidan di sekolah yang layak, sehingga kalian bisa mendapatkan pendidikan yang layak, sesuai kebutuhan kalian.

Yasmine tahu, ia datang ke sekolah ini untuk sebuah alasan. Semua anak datang ke sekolah ini dan bertemu untuk sebuah alasan. Mereka semua masih berada di sini hari ini untuk sebuah alasan.

Masing-masing memiliki cerita. Masing-masing berbagi cerita. Masing-masing mendengarkan cerita. Dan cerita ini, tidak akan berakhir sampai di sini. Cerita itu masih akan terus berlanjut. ~p229

Love you both. Cheers! xoxo


Terusin baca - Our Story by Orizuka

26 Des 2012

[galau antara review sama curcol] Letters to Sam


Judul: Letters to Sam - Pelajaran dari Seorang Kakek tentang Cinta, Kehilangan, dan Anugerah Hidup
Penulis: Daniel Gottlieb
Penerjemah: Windy Ariestanty
Editor: Ninus D. Andarnuswari
Proofreader: Christian Simamora
Penata Letak: Nopianto Ricaesar
Desain Sampul: Dwi Annisa Anindhika
Diterbitkan oleh: GagasMedia
Cetakan kedua, 2011
Jumlah halaman: xiv + 218 hlm; 14 x 20 cm
ISBN 979-780-510-7
Nonfiksi/Memoar



Aku tak sanggup memikirkan hal ini, tetapi aku tahu, suatu hari nanti, kau akan mendengar seseorang berkata, 'Dia autis.' Kalau hal itu terjadi, aku khawatir, kau akan menyadari bahwa ketika orang melihatmu, mereka tak melihat seorang Sam. Mereka melihat sebuah diagnosis. Sebuah masalah. Sebuah pengelompokan. Bukan seorang manusia.

Dalam kekhawatiran dan ketidakpastian itulah, Daniel Gottlieb memutuskan untuk menulis surat-surat kepada Sam, cucunya. Bagi sang Kakek, Sam adalah sahabat sejiwanya karena dia sendiri mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan.

Sang Kakek ingin membagi pandangan tentang menjadi berbeda, bagaimana menghadapi ketakutan, merajut harapan, dan mengambil hikmah dalam rencana Tuhan. Inilah kisah yang dibagi Daniel Gottlieb untuk Sam dan untuk kita semua - tentang menjadi manusia.

... Berterimakasihlah kepada siapa pun yang datang... karena setiap tamu dikirimkan dari atas sana sebagai pemandumu. -- Jalaludin Rumi (dari sampul belakang).

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Phew! Udah lama banget, nih, Bunda nggak ngisi blog ini! Padahal niatan buat nulis udah numpuk aja... Dan bentar lagi akhir tahun, kaaan... huhuhu...

Hmmm... dari pertama tahu soal buku ini, Bunda emang penasaran... Begitu tahu penulisnya menulis surat buat cucunya yang termasuk ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) Bunda jadi pengen tahu, apa sih, yang ditulis sang kakek buat cucunya ini...

Ya sebetulnya, sih, tulisan-tulisan kakek Dan ini termasuk umum, ya. Tentang dirinya sendiri, tentang bagaimana beliau melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, tentang pengalaman beliau menghadapi pasiennya, dan lainnya. Bunda memang sudah menduga, kalo penulisnya punya latar belakang di bidang psikologi, jadi bisa memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Belajar dari pasiennya, bahkan. 

Yang bikin Bunda terenyuh adalah... sewaktu beliau bilang, kalo suatu saat ada yang nyebut Sam itu autis, maka orang itu bukan melihat Sam sebagai manusia. Tapi sebagai suatu kelompok. Sebagai diagnosis. Sama seperti kalo kita sakit flu, misalnya, terus orang bukan nyebut, "kamu sakit flu." melainkan dengan bilang, "kamu flu" yang artinya "kamu adalah flu".

Bunda tahu perasaan kakek Dan sewaktu cucunya mendapat diagnosis autis PDD NOS. Bunda salut dengan kedua orangtua Sam, yang bisa langsung mencurahkan segalanya untuk membimbing Sam dan membekali Sam untuk kehidupannya nanti. Bunda malu. Seharusnya, Bunda dan papa bisa meneladani mereka.

Gimana Bunda bisa tahu perasaan mereka? Yah, begitu. Menurut dokter yang katanya memeriksa Kakak Ilman, diagnosisnya asperger. Apakah hari itu jadi kiamat buat Bunda? Nggak. Tapi, Bunda sempat down. Bunda sebelumnya hanya berharap Kakak Ilman "speech delayed" semata. Namun, dengan adanya diagnosis itu, mau nggak mau, Bunda mulai cari tahu, apa sih, asperger itu? Terus harus ngapain? Dan gimana, nih, caranya supaya Kakak Ilman bisa berbaur dengan lingkungan Kakak sekaligus mengondisikan orang di sekitar Kakak supaya bisa menerima kehadiran Kakak dan ikut bekerja sama dengan Kakak.
Walau kemudian, setelah Bunda pelajari tentang asperger, Bunda merasa Kakak bukan penyandang asperger. Ada banyak hal menurut kriteria asperger, di mana Kakak Ilman bukan termasuk di dalamnya.

Bunda belajar banyak dari kakek Dan, bagaimana mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Bunda jadi belajar untuk tidak memaksakan kehendak supaya Bunda dimengerti oleh orang lain. Bunda jadi belajar, bahwa orang-orang cenderung punya pendapat sendiri dan terkadang sok tahu. Untuk bisa tahu perasaan orang lain, kita memang harus bisa merasakan berdiri di sepatu orang lain. Kalo nggak salah, peribahasa dalam bahasa Inggrisnya tuh, "standing on other's shoes".

Kayak gini, deh. Bunda sering banget dijudge jadi "ibu yang nggak sayang anak" karena Bunda bekerja di luar rumah. Bunda punya alasan tersendiri kenapa Bunda harus bekerja di luar rumah, yang nggak perlu Bunda umbar di sini. Nah, karena orang lain ngeliatnya Bunda nggak perlu kerja di luar rumah, jadi Bunda sering dapat cap "ibu yang nggak sayang anak", karena Bunda memilih bekerja di luar daripada berada di rumah mengurus anak-anak. Kalo seandainya mereka pakai sepatu Bunda, mungkin mereka tahu, kenapa Bunda harus bekerja di luar rumah, untuk saat ini. Nah, tapi Bunda nggak misuh-misuh sewaktu dapat label seperti itu. Bunda malah berterima kasih, ada yang sempat kasih label itu ke Bunda. Berarti orang-orang ini punya waktu buat mikirin Bunda... hehehe...

Oya, Bunda belajar tentang "bahagia" di sini. Orang-orang pada umumnya mengartikan kata "bahagia" itu dengan... bisa makan enak di restoran mewah, berkeluarga, punya uang banyak, punya mobil terbaru, dan lain-lainnya yang enak-enak dan indah-indah. Kakek Dan bilang, itu adalah "ilusi". 

Bunda jadi ingat banyak teman Bunda suka sekali pasang status lagi spa, nyalon atau makan enak di tempat mewah. Membuat iri? Jelas. Teman-teman Bunda yang lain yang merasa nggak belum mampu untuk makan di tempat mewah macam gitu, ada yang misuh-misuh. "Si anu seenaknya aja pasang status di jejaring sosial. Mau pamer, ya? Mau kasih tahu ke kita kalo dia bisa makan di tempat mewah?" atau gerutuan lainnya. Bunda cuma nyengir. Karena sesekali, Bunda pernah, kok, makan di tempat mewah. Ditraktir. Alhamdulillaah. Hahaha...

Soal "ilusi" itu, memang benar, sih. Kita yang dalam posisi "nggak punya" pasti mikirnya kalo "orang lain punya yang kita nggak punya" pasti "enak", pasti "bahagia". Padahal, itu bukan jaminan bahagia.

Karena, Bunda punya contoh nyata. Salah satu kenalan Yangkung, yang kaya raya banget, deh. Segala bisa dibelinya. Termasuk mobil mewah terbaru yang bahkan belum beredar di Indonesia, dia pasti bisa punya, kalo dia lagi mau. Tapi, rumah tangganya berantakan. Bercerai karena hasutan sana sini yang pengen ikut-ikutan menguasai kekayaannya. Lalu jatuh sakit dan sekarang yang bener-bener menguasai hartanya itu istri barunya. Mirip cerita sinetron? Iya. Tapi ini di dunia nyata dan betul-betul terjadi.

Kalo kita mampu bersyukur sama semua keadaan dan menjalaninya dengan senang, kita pasti bakalan jadi manusia paling berbahagia di muka bumi ini, meski kita nggak punya apa-apa atau nggak bisa liburan ke luar negeri. Sering juga Bunda diketawain kalo ditanya, "liburan ke mana? Gimana? Fun?" lalu jawaban Bunda, "fun banget. Nggak ke mana-mana. Di rumah aja." Laaah..., kok Bunda diketawain, sih? Salah Bunda apa, ya? Padahal, bisa ngumpul berempat, main sama kalian berempat itu adalah momen yang menyenangkan. Mau tempatnya di mana aja, that will be okay. Bunda selalu senang. Jadi, kalo ditanya "fun, nggak?" masa Bunda harus jawab, "nggak"?

Sudah, sudah. Ini bukan review buku, malah curcol. Abisnyaaa.. ini bukan novel, siiih. Mendingan kalian baca sendiri aja, kalo mau tahu isinya gimana.

Ini, deh, pendapat Bunda tentang buku ini:
#1 Terjemahannya. Oke, kok. Bunda bisa menikmati dengan baik apa yang ditulis kakek Dan ke cucunya. Bonding di dalam surat untuk Sam dari kakek Dan cukup terasa.
#2 Covernya. Bunda nggak masalah dengan desain covernya. Bunda suka. Dan ini juga, sih, yang bikin Bunda ngambil bukunya. Cumaaaa... yang jadi masalah bahan kertas sampulnya, sih. Jadi gampang kotor dan lusuh kalo nggak disampul.
#3 Kalo dari segi isinya, Bunda suka. Suka. Suka. Terlepas penulisnya berbeda keyakinan sama Bunda, tapi Bunda bisa belajar banyak soal kehidupannya, kok. Karena kalo ditarik benang merahnya, memang ada banyak hal yang sama soal hidup mah. 

Oya, Bunda punya riset sedikit tentang apa itu Autisme, PDD NOS dan Asperger (dari berbagai sumber).

Autisme sendiri pengertiannya (dari LRD Member)
Autisme sebenarnya adalah cacat syaraf
Istilah sulitnya adalah "gangguan neurobiologis"
Masalah terbesarnya, "gangguan" ini ternyata bukan masalah kecil.
Gangguan ini memengaruhi fungsi otak.
Anak yang "kena" autisme kehilangan kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungannya. 
Asperger: (dari Putra Kembara)
Seperti pada Autisme Masa Kanak, Sindrom Asperger (SA) juga lebih banyak terdapat pada anak laki-laki daripada wanita.
Anak SA juga mempunyai gangguan dalam bidang komunikasi, interaksi sosial maupun perilaku, namun tidak separah seperti pada Autisme.

Pada kebanyakan dari anak-anak ini perkembangan bicara tidak terganggu. Bicaranya tepat waktu dan cukup lancar, meskipun ada juga yang bicaranya agak terlambat. Namun meskipun mereka pandai bicara, mereka kurang bisa komunikasi secara timbal balik. Komunikasi biasanya jalannya searah, dimana anak banyak bicara mengenai apa yang saat itu menjadi obsesinya, tanpa bisa merasakan apakah lawan bicaranya merasa tertarik atau tidak. Seringkali mereka mempunyai cara bicara dengan tata bahasa yang baku dan dalam berkomunikasi kurang menggunakan bahasa tubuh. Ekspresi muka pun kurang hidup bila dibanding anak-anak lain seumurnya.

Mereka biasanya terobsesi dengan kuat pada suatu benda/subjek tertentu, seperti mobil, pesawat terbang, atau hal-hal ilmiah lain. Mereka mengetahui dengan sangat detil mengenai hal yang menjadi obsesinya. Obsesi inipun biasanya berganti-ganti.Kebanyakan anak SA cerdas, mempunyai daya ingat yang kuat dan tidak mempunyai kesulitan dalam pelajaran disekolah.

 Mereka mempunyai sifat yang kaku, misalnya bila mereka telah mempelajari sesuatu aturan, maka mereka akan menerapkannya secara kaku, dan akan merasa sangat marah bila orang lain melanggar peraturan tersebut. Misalnya : harus berhenti bila lampu lalu lintas kuning, membuang sampah dijalan secara sembarangan.

Dalam interaksi sosial juga mereka mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan teman sebaya. Mereka lebih tertarik pada buku atau komputer daripada teman. Mereka sulit berempati dan tidak bisa melihat/menginterpretasikan ekspresi wajah orang lain.

Perilakunya kadang-kadang tidak mengikuti norma sosial, memotong pembicaraan orang seenaknya, mengatakan sesuatu tentang seseorang didepan orang tersebut tanpa merasa bersalah (mis. “Ibu, lihat, bapak itu kepalanya botak dan hidungnya besar ”). Kalau diberi tahu bahwa tidak boleh mengatakan begitu, ia akan menjawab : “Tapi itu kan benar Bu.”

Anak SA jarang yang menunjukkan gerakan-gerakan motorik yang aneh seperti mengepak-ngepak atau melompat-lompat atau stimulasi diri.

PDD NOS (dari sini)
Disorder-Tidak Pervasive Developmental Otherwise Specified (PDD-NOS) adalah gangguan perkembangan pervasif (PDD), juga disebut spektrum autisme disorder (ASD). PDD-NOS adalah satu dari lima bentuk Gangguan Spektrum Autisme . PDD-NOS sering disebut autisme atipikal. Diagnosa Pervasive Develompmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD – NOS) umumnya digunakan atau dipakai di Amerika Serikat untuk menjelaskan adanya beberapa karakteristik autisme pada seseorang .

National Information Center for Children and Youth with Disabilities (NICHCY) di Amerika Serikat menyatakan bahwa Autisme dan PDD – NOS adalah gangguan perkembangan yang cenderung memiliki karakteristik serupa dan gejalanya muncul sebelum usia 3 tahun. Keduanya merupakan gangguan yang bersifat neurologis yang memengaruhi kemampuan berkomunikasi, pemahaman bahasa, bermain dan kemampuan berhubungan dengan orang lain. Ketidakmampuan beradaptasi pada perubahan dan adanya respon-respon yang tidak wajar terhadap pengalaman sensoris seringkali juga dihubungkan pada gejala autisme.
Oya, kalo pengen tahu penulisnya, kalian bisa klik website kakek Dan ini, ya...
Bunda juga sempat dapat beberapa foto kakek Dan dengan Sam...






Bunda jadi ingat bonding antara Kakak Ilman dengan Yangkung sejak kecil... hehehe...


Btw, ini kayaknya bukan review buku, deh. Tapi curhat... Hahaha...

Terusin baca - [galau antara review sama curcol] Letters to Sam

12 Okt 2012

Totto Chan's Children - A Goodwill Journey to the Children of the World




Judul: Anak-anak Totto - Chan - Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-anak Dunia (Totto - Chan's Children - A Goodwill Journey to the Children of the World)
Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Alih bahasa: Ribkah Sukito
Editor: RC. Rully Larasati dan Nina Andiana
Desain dan ilustrasi cover: Martin Dima
Diterbitkan oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kedua: Juli 2010
328 hlm; 20 cm
ISBN: 978-979-22-5998-8
Memoar



Totto-chan kini sudah dewasa. Ia sekarang menjadi aktris terkenal dan punya banyak penggemar. Tapi Totto-chan tak pernah melupakan masa kecilnya. Karena itulah Totto-chan langsung setuju ketika UNICEF menawarinya untuk jadi Duta Kemanusiaan.

Sejak itu, Totto-chan berkunjung ke banyak negara dan menemui berbagai macam anak. Di negara-negara yang mengalami kekeringan hebat atau terkena dampak perang, anak-anak yang sebenarnya polos dan tak berdosa selalu jadi korban. Ternyata masih banyak sekali anak-anak dunia yang tidak bisa makan, tidak bisa sekolah, tidak bisa dirawat di rumah sakit, bahkan mengalami trauma hebat akibat perang.

Lewat buku ini Totto-chan ingin menceritakan pengalamannya saat bertemu anak-anak manis itu supaya makin banyak orang bisa membantu anak-anak dunia menggapai masa depan yang lebih baik. (dari cover belakang)

Halo, kakak Ilman dan adik Zidan...
udah lama banget, ya, Bunda ga nulis review. Miiko's Time mandek. Maaf. 

Baca buku ini butuh waktu lebih dari sebulan untuk Bunda selesaikan. Setiap halamannya selalu membuat Bunda menahan napas, tangis, haru, dan lainnya. Buku ini jauh lebih desperating ketimbang novel masokis. Karena semua yang terjadi di buku ini betul-betul terjadi. Bukan mimpi. Bukan ilusi. Real. Nyata.

Buku ini bercerita tentang pengalaman Totto-chan dewasa yang dipilih menjadi duta UNICEF untuk mengunjungi anak-anak di berbagai negara. Terutama negara yang sedang krisis oleh perang atau bencana alam.

Tanzania. Daerah ini kekeringan sekali. Air susah sekali didapat. Jangankan air jernih. Bisa dapat air keruh aja udah anugerah. Dan untuk mendapatkannya mereka harus berjalan sangat jauh dari rumah mereka. 4,8 kilometer adalah jarak sangat dekat dengan sumber air, sementara 9,6 kilometer adalah jarak sumber air tidak dekat. Selain air yang susah didapat, makanan pun susah didapat. Ada sekitar 14 juta anak meninggal dunia di awal tahun 1980-an akibat kelaparan, lingkungan yang tidak sehat. Juga banyak anak terbunuh karena terjebak di tengah perang, khususnya perang saudara. Meski anak-anak Tanzania ini adalah anak-anak asli Afrika Selatan, mereka tidak pernah melihat jerapah, zebra, gajah Afrika yang sering kita lihat di buku atau televisi - dalam keseharian hidup mereka. Karena, hewan-hewan seperti ini hanya hidup di tempat yang banyak airnya. Jadi, bisa kalian bayangkan, betapa keringnya tempat anak-anak ini tinggal. Selain itu, di penjara anak-anak yang ada di sana, ada anak yang dipenjara karena kesalahannya adalah mencuri t-shirt. Di sini, banyak di antara kita yang sering dapat t-shirt gratis. Baik itu promo produk atau kampanye. Tapi di sana... untuk punya t-shirt saja harus mencuri...

Nigeria. Di sini, curah hujan hanya sedikit sekali. Padahal, kata Nigeria itu berarti "satu sungai besar di antara banyak sungai besar". Miris sekali, mengingat pada tahun 1985, ketika ibu Tetsuko berkunjung ke sana, hanya 2,5 persen sumber air yang tersisa. Menurut buku yang dibaca beliau, panjang sungai Nigeria adalah 4.179 kilometer - sungai terpanjang ketiga di Afrika dan lebarnya 0,8 kilometer. Bisa kalian bayangkan dampak kekeringan yang berkepanjangan ini, kan? Selain kekeringan dan minimnya curah hujan (yang hanya 2,5 cm per tahun ketika itu), Nigeria juga sering dilanda badai pasir.

India. Hampir seluruh isi dunia tahunya India itu negara dengan tingkat kebudayaan yang tinggi. Di sana juga ada universitas tempat berlabuhnya para IT mendalami ilmu komputer. Tapi di kota Madras, 92 persen anak-anak menderita kekurangan gizi. Dari 8,3 juta anak yang meninggal setiap tahunnya di Asia, 3,5 juta di antaranya terjadi di India. Anak-anak ini meninggal karena dehidrasi akibat diare dan penyakit menular lainnya. Mengejutkan, ya?

Mozambik. Dulunya, Mozambik adalah negara yang kaya, juga merupakan tujuan wisata yang indah. Karena pemerintahan kulit hitam yang sukses merupakan ancaman bagi negara tetangga Mozambik, yaitu Afrika Selatan yang memberlakukan sistem yang dikenal dengan apartheid - sebuah kebijakan segregasi dengan diskriminasi rasial berdasarkan warna kulit - Afrika Selatan memberikan dukungan kepada tentara gerilya antipemerintah di Mozambik dan Angola, dengan memberikan suplai senjata dan uang dengan harapan bisa meruntuhkan pemerintahan kulit hitam di kedua negara itu.
Tentara gerilya menanam ranjau darat, menjarah hasil panen, membakar ladang, melempar mayat ke sumur sehingga airnya tidak bisa diminum, para lelaki dibunuh tanpa sebab, perempuan diperkosa, anak-anak lelaki yang sudah cukup besar diculik untuk kerja paksa dan dilatih menjadi tentara gerilya. Iya. Negara itu dipenuhi anak-anak yatim piatu.

Kamboja. Di sini ada kuburan massal Chong Ek yang isinya sekitar 9000 tengkorak yang dibiarkan bertumpuk di atas rumput. Pusat tahanan Tuol Sleng yang dulu berada di bawah rezim Pol Pot, yang semula adalah sekolah menengah diubah menjadi penjara dan pusat penyiksaan. Sekitar 14.500 orang dibunuh di sana, 2.000 di antaranya adalah anak-anak. Bunda pernah melihat sekilas di tv, ada di youtube, kayaknya. Bunda nggak sanggup membayangkannya. Manusia yang dikuasai setan ada di sana. Nggak punya nurani menyiksa dengan sesuka hati. Heran! Terbuat dari apa, sih, mereka?

Vietnam. Anak-anak bersekolah di malam hari, karena siangnya mereka harus bekerja mencari nafkah, akibat buruknya ekonomi di negara itu pasca perang dengan Amerika. Tidak hanya itu, banyak anak-anak yang cacat, seperti tidak punya bola mata, akibat racun bom yang pernah diledakkan semasa perang.  

Angola. Dulunya, negara ini adalah negara kaya sumber daya alam seperti berlian dan bijih besi. Juga kaya minyak bumi dan emas. Logam-logam langka yang dibutuhkan teknologi tinggi juga bisa ditambang di sana. Perang saudara yang terjadi di sana menghancurkan semuanya.  Anak-anak dipotong kaki dan tangannya oleh tentara gerilya antipemerintah. Ayah dan ibu mereka dibunuh di depan mata mereka.

Banglades. Bencana alam banjir yang mampu merendam sepertiga luas negara mereka, telah menyebabkan kelaparan dan wabah penyakit merajalela.  Bahkan ada yang tinggal di pemukiman yang berada di tumpukan sampah! Oya, di negara ini juga, ada seorang ekonom hebat yang mendapatkan penghargaan Nobel bidang ekonomi untuk program Bank Grameen-nya. Beliau adalah Dr. Muhammad Yunus. Bank Grameen adalah bank untuk orang miskin. Sembilan puluh empat persen peminjamnya adalah perempuan. Jadi, setiap wanita yang meminjam di sini dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk saling membantu. Yang mengharukan, meski pinjamannya kecil, namun cukup untuk memutar roda perekonomian mereka! Misalnya, seorang perempuan diberi pinjaman untuk membeli ayam satu ekor. Nanti setelah ayamnya bertelur dan telurnya bisa dijual, keuntungan dari jual telur itu bisa dikembalikan. Sehingga bisa dipinjam oleh orang lain yang membutuhkannya. Dari hanya seekor ayam, bisa berbiak menjadi berekor-ekor ayam bahkan sapi! Hebat, ya! Profil Dr. Muhammad Yunus bisa dilihat di sini.


Dr. Muhammad Yunus. Ekonom dari Banglades. Pendiri Bank Grameen. Peraih Nobel bidang Ekonomi. Orang hebat yang peduli rakyat kecil

Irak. Perang Teluk yang dilancarkan Amerika dan Sekutunya menggunakan misil senilai 1,5 juta dolar satunya. Dalam Perang Teluk ini, diperkenalkan istilah baru: pengeboman tepat sasaran. Dalam pengeboman tepat sasaran itu, tempat-tempat perang nggak seperti habis perang karena nggak tampak puing-puing. Tapi langsung menghancurkan pada tujuannya sampai sangat remuk. Pembangkit listrik hancur, sehingga saluran pembuangan rusak dan kotoran mulai mengalir ke rumah-rumah. Anak-anak bahkan dijadikan alat pendeteksi ranjau darat. 

Etiopia. Perang saudara dan bencana kekeringan telah membuat Etiopia menjadi sangat miskin. Tubuh orang-orang di sana sangat kurus! Hanya kulit membalut tulang. Setiap orang dijatah makannya, berdasarkan gelang kertas yang dipakaikannya. Gelang kertas ini menjadi penanda butuh seberapa banyak makanan yang mereka dapatkan.

Sudan. Perang saudara telah membuat anak-anak kehilangan orangtua mereka. Sama seperti di Mozambik. Banyak anak yang ditembak ketika mereka bersembunyi di semak-semak. Atau kepala mereka digigit hyena.

Rwanda. "Tidak ada lagi iblis di neraka. Mereka semua ada di sini, di Rwanda." (dari Majalah Time, yang dikutip dari pendeta setempat). Di sini, anak-anak bisa saja berpapasan dengan pembunuh keluarga mereka. Peperangan yang terjadi di sini adalah perang antarkelompok etnis, suku Hutu dan Tutsi. Secara tradisional, suku Hutu adalah petani yang mengolah tanah, sedangkan suku Tutsi adalah gembala yang memelihara ternak. Rwanda merupakan koloni Jerman sampai pemerintahannya diserahkan kepada Belgia pada akhir Perang Dunia I. Tahun 1920-an, orang-orang Belgia memutuskan untuk membatasi pemberian posisi di pemerintahan dan akses pendidikan tinggi bagi suku Tutsi. Orang-orang Belgia mendaftarkan semua penduduk Rwanda sebagai suku Tutsi atau Hutu pada hari kelahiran mereka. Jurang antara suku Hutu dan Tutsi makin dalam pada tahun-tahun menjelang dan sesudah kemerdekaan, tahun 1960-an. Tindakan pembantaian dimulai setelah pesawat terbang yang membawa Presiden Habyarimana ditembak jatuh. Suku Hutu menyalahkan suku Tutsi dan merancang rencana untuk membantai mereka secara sistematis. Pembantaian memicu perang saudara yang hebat. Anak laki-laki dipaksa menjadi tentara. Orangtua mereka dibunuh. 


Haiti. Columbus menemukan pulau Haiti ketika dia tiba di daratan Amerika. Haiti adalah negara kecil yang letaknya di Laut Karibia. Wilayah ini, mulanya dikuasai Spanyol. Lalu dikuasai Perancis. Setelah negara ini merdeka dan melakukan pemilihan umum pertama, delapan bulan setelahnya, terjadi kudeta dan presiden Aristide diasingkan. Selama empat tahun, negara ini berada di bawah rezim autokratis yang mengerikan. Anak-anak perempuan banyak menjadi pelacur untuk menafkahi keluarga mereka. Banyak anak-anak yang dipenjara tanpa tahu kesalahan mereka.

Bosnia - Herzegovina. Yugoslavia merupakan negara gabungan dari enam republik. Pada tahun 1992, Bosnia-Herzegovina mendeklarasikan kemerdekaannya, namun lalu pecah perang saudara. Awalnya perang ini merupakan konfrontasi antara kelompok Serbia yang antikemerdekaan dan kelompok Muslim serta Kroasia yang prokemerdekaan. Para pemimpin kelompok ini menyebarkan kebencian dan ketakutan di antara masyarakat, sehingga pertempuran pun semakin intens. Kerap terjadi pembersihan etnis, bahkan bom ditujukan untuk anak-anak. Mereka menyimpannya di kue, permen, mainan, benda apa pun yang menarik perhatian anak-anak. Anak-anak menderita masalah psikologis yang sangat parah di sana.


---

Dear Kakak Ilman dan Adik Zidan sayang,
setiap halaman membaca buku ini, satu kata yang selalu Bunda lafazhkan: "alhamdulillaah." Mungkin  kita bukan termasuk keluarga yang bergelimangan harta. Tapi kita hidup di negara yang aman. Meski nggak setiap saat kita bisa makan makanan yang mewah, tapi kita bisa makan dengan nikmat. Masalah kita seringnya, "makan apa, ya, hari ini?" atau "aku nggak berselera makan."
Tapi buat sebagian anak-anak yang ada di cerita di buku ini: makan apa aja hajar, bleh! Yang penting MAKAN.

Air. Bunda sering lihat di sekitar kita, banyak orang membiarkan air bersih mengalir terbuang sia-sia. Padahal di Tanzania sana, buat ngambil air keruh aja jalannya sejauh itu! Bunda mohon sama kalian berdua, untuk bijak memakai air. Seperlunya. Nggak dibuang-buang. Hemat air. That's very important!

Makanan. Kakak Ilman, adik Zidan... Sewaktu Bunda menulis ini, tahun 2012, kalian masih bocah-bocah yang kadang nggak tahu mana yang benar dan salah. Tapi Bunda dan papa nggak akan pernah lelah untuk mengingatkan bahwa kita harus bersyukur untuk semua makanan yang ada di hadapan kita. Rasulullaah SAW tidak pernah mencela makanan. Kita juga harus begitu. Makanan adalah rezeki untuk kita. Jadi, kalian nggak boleh buang-buang makanan, ya. Kalo sudah terlihat kalian nggak akan memakannya, jangan dicuil. Sebaiknya diberikan pada orang yang memang mau memakannya. 

Ketentraman. Terkadang rasa lelah akibat aktivitas di luar atau juga rasa lapar yang mendera membuat kita nggak bisa mengontrol emosi. Kita menjadi lebih peka dan lebih mudah marah. Ini juga pernah terjadi di keluarga kita. Entah itu kakak Ilman suka tiba-tiba marah karena video di yutub buffering-nya butuh waktu lama. Atau karena gadget tiba-tiba lemot. Lalu kakak akan marah-marah. Bunda juga sama. Kadang hanya karena internet lambat, Bunda suka marah-marah. Apalagi kalo unduhan jadi putus. Padahal, kalau mau sekali lagi merenungi apa yang terjadi di tempat-tempat yang jangankan ada jaringan internet atau gadget canggih - buat minum atau hidup aja susah - kenapa kita nggak jalani semuanya dengan syukur? Kemarahan sama sekali nggak akan menimbulkan ketentraman. Kita yang sudah dikasih hidup tentram, malah cari-cari masalah? Wow! *salto*

Kesehatan. Kita dikasih makan yang cukup, tempat untuk bernaung yang nyaman tapi kita suka mengabaikan kesehatan kita. Padahal, untuk orang-orang yang di buku ini, untuk bisa bebas dari diare aja, kayaknya mimpi. 

Kalo sudah begini, apa kita yang setiap hari bisa makan dengan cukup masih bilang kekurangan? Sudah punya rumah yang layak, masih bilang miskin? Masih bisa tidur dengan nyenyak, masih cari-cari alasan untuk mengeluhkan insomnia yang terkadang dikarang sendiri?

Review Bunda tentang buku ini:
Meski Bunda susah payah membacanya, buku ini Bunda kasih 5 bintang. Bukan karena Bunda suka dengan penderitaan orang-orang yang tertuang di buku ini. 5 bintang untuk kehebatan bu Tetsuko saat mengunjungi mereka. Menebarkan kasih sayang, walau mereka tidak berbicara dalam bahasa yang sama. Kasih sayang itu menjadi satu bahasa sendiri yang dipahami semua manusia. Karena hati yang berbicara. 

Susah payah membacanya karena Bunda menderita. Tapi buku ini harus kalian baca. Harus. Semoga kalian selalu ingat bahwa ada banyak orang yang membutuhkan kepedulian kalian. Kalian dilahirkan bukan untuk kesia-siaan, sayang.

Untuk terjemahannya, Bunda rasa lumayan. Bunda bisa mengikutinya. Meski ada beberapa typo kadang-kadang. Bunda suka ilustrasi sampulnya. Sampul buku bu Tetsuko selalu didominasi warna putih. Di dalam buku ini ada beberapa foto hitam putih.

Oya, ini dia bu Tetsuko Kuroyanagi. Cantik, ya? Profilnya bisa kalian baca di sini.


Tetsuko Kuroyanagi. Duta Kemanusiaan UNICEF

Semoga, setelah membaca review Bunda yang ini, kalian menjadi manusia yang banyak bersyukur untuk segala hal yang kalian terima. Di balik semua keluhan kita, ada sangat banyak hal yang harus kita syukuri.


`Dan semua anak kecil itu memendam kesedihan luar biasa
Dalam hati mereka yang kecil mengira bahwa merekalah yang bersalah atas kematian keluarga mereka
"aku melakukan hal-hal yang dilarang ibu; karena itulah dia dibunuh".` hal 15


`Seorang gadis kecil pergi ke kamarnya
langsung menghampiri boneka kesayangannya
"maaf aku tidak bisa membawamu bersamaku. Terima kasih sudah menunggu," mungkin begitu katanya
mengambil mainannya untuk dipeluk
saat itulah bom meledak,
lalu membunuh anak itu.` Hal 22


`Mungkin ketika kengerian dan pengalaman terus menerus terjadi, dengan baik hati Tuhan menyediakan amnesia sebagai jalan menghapus ingatan itu dari pikiran mereka. Tapi cara itu pun sangat mengerikan.` Hal 290


`Kita tidak dilahirkan untuk saling membenci, kita dilahirkan untuk saling mengasihi.` Hal 299

Note: beberapa foto ngambil dari: 
- http://thetravelersduck.blogspot.com/
- http://alifiaonline.wordpress.com/
- juga hasil googling




Terusin baca - Totto Chan's Children - A Goodwill Journey to the Children of the World