29 Des 2025

[Review] Heaven by Mieko Kawakami


 


Judul: Heaven     
Penulis: Mieko Kawakami
Penerjemah: Sam Bett and David Boyd
Cover Photographer: Takao Noel
Cover Design: Katie Tooke
Penerbit: Picador 
Cetakan pertama, 2022
Halaman: 175 halaman
Format: Paperback
ISBN: 978-150-98-9825-1
Genre: Fiction, Japanese Literature, Contemporary, Japan, Literary Fiction, Asian Literature, Coming of Age, Asia, Novels, Young Adult 
  Status: Pinjem sama Mama Heka


From the bestselling author of Breasts and Eggs and international literary sensation Mieko Kawakami, comes a sharp and illuminating novel about a fourteen-year-old boy subjected to relentless bullying.

In Heaven, a fourteen-year old boy is tormented for having a lazy eye. Instead of resisting, he chooses to suffer in silence. The only person who understands what he is going through is a female classmate, Kojima, who experiences similar treatment at the hands of her bullies. Providing each other with immeasurable consolation at a time in their lives when they need it most, the two young friends grow closer than ever. But what, ultimately, is the nature of a friendship when your shared bond is terror?

Unflinching yet tender, sharply observed, intimate and multi-layered, this simple yet profound novel stands as yet another dazzling testament to Mieko Kawakami’s uncontainable talent. There can be little doubt that it has cemented her reputation as one of the most important young authors at work today.



Hellow, Ilman dan Zi...

Aka pabar kalian?

Masih dalam rangka menghormati dan menghargai kebaikan Mama Heka yang udah minjemin segambreng buku untuk nemenin pas aku kena Covid v.5 di bulan Oktober 2025 lalu -- yang ternyata semuanya baru abis dibaca sampai akhir tahun 2025, eh, well, at least, I read a lot of books, eh? -- ini buku ke sekian yang mau aku review. 

Disclaimer: 
sebenernya di semua tulisanku ini aku pengennya pake ejaan yang disempurnakan, pakai cara penulisan yang sesuai dengan kaidah penulisan yang seharusnya -- misalnya untuk istilah asing aku buat italic dan lain-lain dan lain-lain. Tapi menurutku kalo harus kayak gitu, tulisan-tulisanku nggak akan pernah tayang, sebab waktu untuk ngedit bisa kupake buat nulis review lain, jadi kupikir ga usah formal-formal, deh. Kekeke. 

Ditambah ini kejar tayang juga. Karena setiap menulis review menunggu mood menulisku penuh dulu atau kadang setengah hati yang penting nulis daripada nggak -- lalu langsung klik Publish, jadi maafkan kalo isinya rough semua.


Oke. Mari kita bahas tentang novel Heaven yang ditulis oleh Mieko Kawakami ini. Dari sampulnya, banyak testimoni dari pembaca yang kurang lebih menggambarkan bahwa novel ini sifatnya "heartbreaking" alias bikin patah hati. Sepatah hati cinta yang cuma sepihak aja, kah? 

Heaven bercerita tentang dua remaja SMP, remaja laki-laki mendapat julukan Eyes (Ranpari), narator buku ini, tidak diketahui nama aslinya siapa. Eyes mendapat julukan seperti itu karena dia punya kelainan mata yang disebut "lazy eyes". Satunya lagi remaja perempuan bernama Kojima. Yang membuat mereka berdua menjadi dekat adalah keduanya sama-sama korban perundungan di sekolahnya. Eyes dirundung oleh geng anak laki-laki di sekolahnya, Kojima dirundung oleh geng anak perempuan. 

Eyes dirundung karena kelainan pada matanya, Kojima dirundung karena dia dianggap jorok. 

Keakraban Eyes dan Kojima dimulai ketika muncul surat-surat yang ditujukan untuk Eyes. Surat itu disimpan di laci atau di selipan halaman buku pelajaran Eyes, yang kemudian akan dibaca oleh Eyes secara sembunyi-sembunyi entah itu di kamarnya di rumah atau di toilet sekolah. Surat-surat dari Kojima membuat Eyes tidak merasa sendirian lagi. Awalnya mereka berkomunikasi melalui surat, lalu akhirnya keduanya bertemu secara langsung di tempat tersembunyi. Sampai akhirnya, Kojima mengajak Eyes mengunjungi tempat favoritnya: Heaven.

Saat dirundung, keduanya memilih diam. Namun suatu ketika, Eyes berusaha memberontak yang akhirnya membuat dia semakin disiksa oleh pasukan perundung itu.


Penderitaan Eyes nggak berhenti sampai di sana sebetulnya. Dia tinggal dengan ibu tirinya, ayahnya jarang pulang. Hal ini membuat Eyes sulit untuk bercerita soal keadaannya di sekolah pada ibu tirinya, karena dia merasa asing dengan ibu tirinya. Demikian juga dengan Kojima. Hal yang membuatnya nggak pengen tampak mengurus dirinya karena dia rindu ayahnya yang berpisah dengan ibunya dan tinggal di kota lain. 

Suatu ketika, harapan Eyes untuk memiliki mata normal muncul saat dia pergi ke rumah sakit usai disiksa mati-matian oleh si perundung. Dokter yang menanganinya mengusulkan untuk melakukan operasi matanya, karena lazy eyes akan berpengaruh ke nyeri kepala dan sebagainya. Ketika dia mengutarakan ini ke Kojima, justru Kojima tidak setuju. Baginya, mata Eyes cukup indah dan dia menyukainya, juga simbol kekuatan Eyes. Yang tidak Eyes sampaikan pada Kojima adalah bahwa lama kelamaan kondisi matanya akan menimbulkan nyeri kepala yang mungkin tidak dapat dikontrol lagi. 


Membaca ini sulit berhenti tapi juga membuat nafasku berkali-kali tertahan. Deskripsi Mieko menceritakan segalanya membuat kita seolah menyaksikan sendiri perundungan itu. Aku menghindari buku Breast and Egg, tapi aku malah baca Heaven. Aku menghindari baca Breast and Egg yang juga karya Mieko karena pernah baca diskusi di grup tentang buku itu dan kayaknya aku ga bakalan sanggup baca. Lah, tanpa ngecek lagi penulisnya siapa, aku main tunjuk aja saat Mama Heka nawarin pinjaman buku itu. Hahah. Gotcha, Peni!  

Terlepas dari seluruh kekejaman yang dipaparkan di novel ini, aku mengakui salah satu testimoni pembaca yang mengatakan bahwa "Mieko is a genius". Mieko jenius meramu alur, character building, juga emosi pembaca sehingga membaca buku ini seolah-olah membuat kita jadi saksi hidup seluruh kejadian di sisi Eyes. Hal ini yang membuatku yakin sepertinya nggak sulit mengadaptasinya ke dalam film dan animasi (yup, Heaven ada dalam format film dan animasi, tapi sepertinya aku nggak akan nonton, cukup di buku aja). 

Meski keduanya mengalami perundungan, namun keduanya berusaha menemukan kebahagiaan di antaranya. Ada humor yang nggak biasa yang muncul lewat celetukan Kojima, seperti "happamin", "lonelamin", "hurtamin".   

Aku kutip dari halaman 32-33:

"Happamine"
"What's that mean?"
"It's like, dopamine that comes out when you're really happy."
"Oh yeah?"
"And when you're really hurting," she explained, "that's called hurtamine."
"What about when you're lonely?" I asked.
"Lonelamine!" she laughed.

Cara berpikir Kojima memang beda. Mungkin saking hurt terlalu dalam, ya, dia pernah bilang gini, "Human beings are the only ones talking all the time and making problems and everything", halaman 35. 


Aku highly recommended baca ini, but please beware if your heart's not okay to read such bullying descriptions, because they're triggering your anxieties. Buku ini bukan untuk orang-orang yang mudah ke-trigger anxiety dan overthinking-nya. But I'm pleased to know one of Mieko Kawakami's work. Ceritanya pengen menghindari Breast and Egg, malah ketemu Heaven. Sama-sama buku dark. Hahaha. 

I will end this review. Keep reading and stay healthy. You will always need to read books because it's healthier than reading so many gossips on social media. Reading books will keep you out from brain rot. Believe me. See you on my other review! xoxo

Terusin baca - [Review] Heaven by Mieko Kawakami

16 Des 2025

[Review] Ketika Chat Room Menjadi Ruang Seksploitasi by Tim Flame


 

Judul: Ketika Chat Room Menjadi Ruang Seksploitasi     
Penulis: Tim Flame
Penerjemah: Dewi Ayu Ambarani
Penerbit: Penerbit Haru 
Cetakan pertama, 1 Maret 2023
Halaman: 396 halaman
Format: Paperback
ISBN: 978-623-54-6708-5
Genre: Non-Fiction, Investigasi, Korea Selatan, Kejahatan Siber, Crime 
  Status: Pinjem sama Mama Heka
 

Halo, kami Tim Flame, dua mahasiswi yang bercita-cita menjadi jurnalis.

Persiapan lomba jurnalisme membawa kami menemukan artikel dan tautan yang mengarahkan kami ke sebuah chat room. Dalam ruangan tersebut, video eksploitasi seksual terhadap anak-anak dan perempuan—tanpa pandang usia dan suku bangsa—disebarkan. Kasus ini kemudian dikenal dengan nama Kasus Nth Room.

Buku ini berisi catatan investigasi yang mengungkap Kasus Nth room serta jurnal perjuangan kami untuk menyambung suara para korban pascainsiden.

Kasus ngeri yang memperbudak lebih dari seratus korban ini mungkin akan membuat Anda tersiksa ketika membacanya. Namun, kami harap buku ini bisa menyadarkan bahwa siapa saja bisa menjadi korban eksploitasi seksual dan supaya kita selalu waspada karena pelaku kejahatan itu bisa jadi siapa saja`.

Salam,

Tim Flame 



Hellow, Ilman dan Zi...

Setahun sebelum aku menulis ini, aku pernah ngobrol sama Tante Putri. Dia cerita tentang aplikasi chat Telegram yang disalahgunakan sebagai ruang seksploitasi di Korea Selatan dan sempat ramai dibahas di platform Twitter. 

Di platform Twitter itu banyak bertaburan tangkapan layar dari chat room itu yang kalo aku mau cari tahu, aku bisa lakukan itu. Tapi karena aku juga sibuk dengan kerjaanku, aku nggak sempat nengok-nengok sampai hari ini. Begitu ada tawaran untuk pinjam buku ini, aku bersyukur karena aku tidak pernah sempat nengok-nengok topik itu di Twitter. Mentally exhausted pastinya.


Di buku yang ditulis Tim Flame ini memang nggak diposting isi tangkapan layarnya. Mereka hanya menulis sejauh apa seksploitasi itu dilakukan. Jadi ada chat room di Telegram yang disebut Nth Room yang berisi video dan foto pelecehan seksual terhadap perempuan, terutama pada anak-anak dan remaja. Ada yang dipaksa melakukan adegan tertentu (di bawah ancaman tentu saja) dan ada juga yang diam-diam direkam. Ini semua mengerikan memang. Hanya sebatas diceritakan itu aja, udah membuatku mual-mual. Apalagi kedua penulis ini yang bener-bener masuk ke dalam ruangan itu untuk melakukan investigasi. Di sana diceritakan dalam 24 jam sehari, ruang chat itu benar-benar sibuk dan terus saja ada video baru yang diunggah dan dikomentari dengan kasarnya. Nggak sedikit penuh fantasi vulgar yang sungguh busuk.

Awalnya, ketika kedua penulis ini melakukan investigasi, mereka menghubungi Biro Pusat Keamanan Siber Badan Kepolisian Nasional untuk melaporkan penyebaran video ini. Tanggapan si biro? "Apakah Anda korban?" karena mereka bukan korban, mereka berdua ini dianggap tidak layak melapor T__T

Semangat Tim Flame tidak runtuh hanya karena diperlakukan seperti itu. Mereka berdua mendatangi kantor polisi setempat, ke bagian "Tim Investigasi Siber" untuk menunjukkan beberapa video eksploitasi tersebut sebagai bukti adanya kejahatan itu dan alhamdulillaah, mereka cepat tanggap untuk meneruskannya ke Badan Investigasi Nasional. 

Usaha kedua penulis ini membuahkan hasil, sebab mulai diliput juga oleh media. Gunanya apa? Untuk meningkatkan kewaspadaan bagi para perempuan. Korban juga mulai banyak yang pada akhirnya speak up. Pelakunya pun nggak sedikit yang ternyata orang dekat mereka selain orang asing yang belum dikenal korban. Pelaku utama (pemilik chat room) berhasil dipenjarakan, beritanya juga banyak di internet. Namun kejahatan seperti ini tuh sebenernya sporadis. Mati satu tumbuh seribu. Satu ditutup, bisa aja tumbuh lagi seribu chat room baru, sebab pasti ada regenerasinya. 

Surprisingly, tidak sedikit penyebaran video-video ini dilakukan oleh orang yang disebut mantan pacar dari para korban. Misalnya ketika sudah putus pacaran, lalu karena mereka sudah pernah melakukan hubungan intim yang seharusnya tidak dilakukan di saat mereka masih berpacaran, namun sempat didokumentasikan, bisa disebarkan oleh mereka. Jahat? Iya. Nggak bermoral.


Banyaknya laki-laki yang memproduksi, menyebarkan, sampai mengonsumsi foto-foto dan video-video seperti ini membuatku berpikir keras. Mereka nggak sadar gitu, ya, kalo mereka lahir dari seorang perempuan? Segitu kuatnyakah prinsip memuja nafsu birahi sampai rela menghabiskan uang untuk berlangganan video kayak gitu? Ujungnya buat apa? Kenyang? Buktinya mereka makin "lapar". 

Dari sisi mana-mana juga, mau dari sisi moral, agama, sopan santun, etika, ini semua nggak ada pembenarannya. Yang mengejutkan, ketika melakukan investigasi bersama salah satu korban, momen saat korban itu mulai mengerucutkan follower di media sosialnya, "ketemu" dengan salah satu pelaku pengunggah videonya yang ternyata teman dia dalam sebuah kegiatan amal. Jadi si laki-laki ini sering merekam dia lalu mengunggahnya di chat room itu sambil membuka ruang komen, misalnya, "ini perempuan enaknya diapain, ya?" Sejenis itu. Mind blowing banget, kan? Bahwa nggak semua orang yang melakukan kegiatan amal baik punya moral baik juga. Astaghfirullaah. 


Baca buku ini cukup mencekam buatku. Membayangkan kedua penulis ini larut dalam ruang chat itu aja udah membuatku merasa remuk. Cuma sayangnya, ada banyak bagian pengulangan yang menurutku nggak perlu terus menerus dibahas. Maksudku, kan sudah dibahas bagian eksploitasinya. Seandainya mereka efisien dalam menulis buku, 200 halaman cukup sih, menurutku. Sebab sisanya itu pengulangan dan akhirnya aku bosan setengah mati. Pengen DNF tapi sayang juga udah lewat 200 halaman. Semula aku mau kasih rating 3 bintang karena banyak pengulangannya itu. Tapi aku tambahin satu bintang lagi untuk usaha keduanya yang bikin aku respek banget. Sebab setiap hari selama sekian bulan terjun dalam lautan chat penuh eksploitasi itu jelas menguras habis mental mereka, ditambah menuliskannya. Aku salut sama kekuatan keduanya. Sehingga tentang bagian pengulangannya aku maklumi aja. Mungkin mereka masih baru juga dalam menulis, ditambah editor yang mungkin nggak tega buang-buang hasil tulisan penulis ini. 

All in all, setengah-setengah sih aku merekomendasikannya. Semisal pengen tahu sejahat apa modus operandi chat room yang harus diwaspadai, buku ini cukup informatif dalam memaparkan pergerakannya. Bukan tidak mungkin masih ada chat room sejenis dengan platform berbeda. Iblis tuh cuma membisiki, 99%-nya mah manusia-manusia bejat yang jadi pelakunya. Yang pasti, aku peringatkan bahwa pemaparan di buku ini sepenuhnya mentally exhausted triggering. 


Okay. I will end my review here. Besok aku review apa lagi, ya? xD
See you tomorrow. xoxo

Terusin baca - [Review] Ketika Chat Room Menjadi Ruang Seksploitasi by Tim Flame

15 Des 2025

[Review] The Slippery Art of Book Reviewing by Mayra Calvani & Anne K. Edwards

 

Judul: The Slippery Art of Book Reviewing    
Penulis: Mayra Calvani, Anne K. Edwards
Penerbit: Paladine Timeless Books 
Cetakan pertama, June 2008
Halaman: 190 halaman
Format: E-Book
ISBN: 978-193-33-5322-7
Genre: Non-Fiction, Writing, Books about Books, Reference, E-book, Professional Development  
Status: Punya 

This book was written not only with the aspiring reviewer in mind, but also for the established reviewer who needs a bit of refreshing and also for anybody--be they author, publisher, reader, bookseller, librarian or publicist--who wants to become more informed about the value, purpose and effectiveness of reviews. 
The Slippery Art of Book Reviewing by Mayra Calvani and Anne K. Edwards is the Winner in the category of Reference Non-Fiction in the 2011 Global eBook Awards; Winner in the category of Writing in the ForeWord Magazine 2008 Book of the Year Award; an Award-Winning Finalist in the E-Book Non-Fiction category of the 2009 Next Generation Indie Book Awards, an Award-Winning Finalist in the "Business: Writing & Publishing" category of the National Best Books 2008 Awards, sponsored by USA Book News and an EPPIE finalist in the category of Non-Fiction - Self-Help. 



Hellow, Ilman dan Zi...

Aku tahu, seharusnya setelah baca buku ini, aku menerapkan ilmu yang aku dapat dari buku ini. Sebab, di The Slippery Art of Book Reviewing dikupas banget tentang mengulas buku secara profesional secara akurat.

The thing is.. I am no professional of book reviewer. Book reviewer pada dasarnya dibayar untuk menulis ulasan secara profesional dan terstruktur, sehingga calon pembaca buku yang diulas mendapat informasi terkait buku tersebut. Profesional dan terstruktur tuh maksudnya kalo memang ada kekurangan, nggak dibahas dengan kalimat yang menyudutkan buku tersebut, apalagi sampai cerita ke mana-mana soal penulisnya, misalnya.   

Di buku ini juga dibahas tentang penggunaan kalimat yang nggak klise saat menyatakan kekurangan atau kelebihan buku (praising the book). Misaaaal... "ini buku paling buruk yang pernah aku baca" atau "ini buku paling bagus yang pernah aku baca di tahun ini". Dipikir-pikir iya juga, ya. Soal terburuk atau terbaik dalam konteks kalimat itu jatuhnya bias, sebab nggak ada parameter ukurannya. Jadi, alih-alih pakai kalimat itu, mungkin bisa dibahas kenapa buku itu kurang berkenan di hati pengulas. 

Alhamdulillaah-nya (lho?) di The Slippery Art of Book Reviewing juga dibahas tentang review dari sisi pembaca. Kayak terserah pembaca mau nulis kayak gimana, sebab tidak ada tuntutan profesional. Pembaca kan umumnya beli sendiri bukunya, dia baca, lalu dia ulas. Jadi nggak ada batasan khusus karena dia nggak dibayar untuk mengulas buku itu. Tapi di sana juga dibahas, meski begitu, kalo bisa sih, ya nggak nyudutin banget penulisnya, apalagi sampai bawa urusan personal soal penulis, misalnya. 

Baca bagian itu aku kayak ketampar. Sebab, dulu banget, aku pernah nggak suka sama penulis yang ngata-ngatain pembacanya, sampai aku terniat beli satu bukunya, hanya untuk aku... review dengan panjang banget dan jujur. Detail bahkan. Ceritanya sendiri penuh emosi, kayak kita baca diary dia secara terbuka. Bedanya dia punya imajinasi dalam ceritanya itu untuk menghancurkan seseorang yang dia benci itu.

Balik ke The Slippery Art of Book Reviewing. Walau dari sudut pembaca yang membeli bukunya dengan uang sendiri, sebenernya saat pembaca menulis ulasannya bisa jadi bahan latihan sesuai tuntunan, karena siapa tahu nanti ada yang tertarik untuk minta bukunya diulas. Sebab itu yang terjadi pada beberapa kenalanku saat kami semua masih aktif nulis ulasan di blog buku. Ingat, kan, kalo aku adalah bagian dari Blogger Buku Indonesia? Nah, beberapa temanku yang bloger buku aktif sempat dijadikan pengulas buku dari beberapa penerbit. Banyak dari mereka menerima buku gratis untuk dibaca dan diulas lalu dipublish di blog mereka. Ketika penerbit suka, bloger ini akan terus dipakai jasanya dan sebagai bayarannya, dia akan menerima buku gratis. Bahkan mungkin bisa dibayar per tulisan.

Kayaknya aku pernah nyoba buat review satu buku karena dihubungi penerbit, tapi nggak berhasil menyelesaikan bukunya, karena aku menerima buku yang ternyata bukan cangkir tehku. Aku nggak punya cukup energi untuk menyelesaikan buku itu, sehingga aku didenda oleh penerbit, diminta bayar xD 


Catatan penting untuk jadi pengulas buku adalah harus siap dengan segala genre buku yang akan diterima dan diulas atau berani menolak buku yang nggak sesuai dengan cangkir tehmu. Risikonya kemungkinan nggak akan dipakai lagi oleh penerbit karena penolakan tersebut. Tapi ada juga kok, penerbit yang fair play, yang sadar penuh bahwa manusia punya selera dan takaran masing-masing. Jika perwakilan penerbitnya teliti, dia bisa aja nandain, misal pengulas A tuh luwes saat mengulas buku bergenre romance, pengulas B lebih ahli di buku bergenre non fiksi, pengulas C bisa dimintain tolong buat mengulas buku-buku yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya; misalnya dia seorang dokter -- jadi familiar dengan istilah-istilah kedokteran, dan seterusnya. Berbicara soal profesional, memang kayak harus sanggup "menelan" segala genre dan memuntahkannya kembali dalam sebuah tulisan berupa ulasan yang bisa dicerna dengan mudah oleh calon pembaca. 

Satu lagi yang aku highlight dari catatan untuk menjadi pengulas adalah ulasan yang ditulis karena profesinya sebagai pengulas atau reviewer sebaiknya tidak mencantumkan rating buku. Dia hanya "boleh" (ini kesimpulanku sendiri aja saat baca buku itu) menceritakan kedalaman buku ini seperlunya, misalnya kenapa sih, buku ini perlu dibaca? Intinya reviewer boleh punya opini pribadi, tapi harus netral. Dan penekanan kata "netral" ini berulang kali diingatkan penulis, walau si reviewer ini nggak suka sama sekali dengan buku itu. Itu sebabnya, sebenernya nggak mudah kan, untuk jadi reviewer kalo kita suka banget mencela keburukan orang yang walau cuma ada satu, tapi bisa berbab-bab dibahasnya. 

Aku butuh waktu lama untuk menyelesaikan buku ini, karena saat mulai baca buku ini, ada banyak yang harus aku catat, mengingat aku ini pelupa. Aku mulai baca buku ini di bulan Februari tahun 2023, nyangkut di bab awal karena aku nggak menyediakan pena dan notes untuk mencatat bagian penting yang niatnya mau aku buat dalam format sketch notes. Karena keinginan terlalu idealis itulah, aku jadi nggak maju dari halaman awal. Sampai akhirnya aku memutuskan baca lagi dari awal (tapi catatan di Goodreads aku biarin aja mulai dari 17 Februari 2023), kayaknya sekitar seminggu terakhir November 2025. Jadi aku selesai baca Thee Slippery Art of Book Reviewing di tanggal 3 Desember 2025, iya, banyak yang aku salin dari sana, yang nantinya, rencananya, mau aku buat versi sketchnotes. Harapannya sih, dengan punya semacam rangkuman ini tuh, bisa jadi panduan aku buat tetap ingat menjaga kenetralan pendapatku terkait sebuah buku. Walaupun menemukan kejanggalan, nggak sampai menyudutkan. Intinya gitu. 


The Slippery Art of Book Reviewing juga bahas terkait stars. Seperti pada umumnya, panduannya kurang lebih gini:


ini untuk OUTSTANDING, compelling plot and characterization, writing sparkles. Recommended highly


ini untuk GOOD to VERY GOOD. Plot characterizations still compelling, the book doesn't "sizzle" as much. Not strongly recommended.


ini untuk MEDIOCRE to FAIRLY GOOD. Has both good and bad qualities. Intriguing plot buat lacks characterization or inconsistencies. Weak plot. Spelling mistakes. Entertaining enough to keep reading.


ini untuk POOR. Poorly written. Poorly edited. Poorly executed plot and no characterization. Full of inconsistencies. Sometimes, DNF (Did Not Finish)


ini untuk TERRIBLE. Not worth reading. Badly written. Not edited at all. Filled with spelling and grammatical mistakes.

Dalam ngasih rating buku, misalnya rating 2 stars, nggak harus semua kriteria itu masuk. Salah satunya aja cukup. Kayak aku kasih rating 1 untuk buku yang aku sertakan tautannya di atas, alasanku adalah "not worth reading". Tapi buku itu juga punya kesan "badly written", "not edited at all". Terkait filled with spelling and grammatical mistakes tidak aku sebutkan, sepertinya aku nggak menemukan kesalahan itu. Tapi karena memang sifat penulisan buku itu TERRIBLE, jadi aku cuma sanggup kasih rating 1, untuk usaha dia menulis. 


Oh, ya. Ada lagi. Untuk menggambarkan "jiwa" buku yang sedang diulas, memang perlu mencantumkan quote atau bagian terpenting yang ditulis. Misalnya di halaman berapa yang menarik untuk disimak atau direnungkan. Tulis bagian itu aja. Nggak perlu semua quote bagus ditulis juga. Karena aku pernah menemukan penerbit "memarahi" reviewer (belasan tahun lalu) karena emang isinya cuma quote doang xD sementara orang tersebut udah dipercaya banyak penerbit untuk jadi first reader dan mengulas (bahkan dibayar lebih dari sekadar buku gratis). Pihak penerbit itu kesal karena si reviewer bukannya cerita tentang bukunya, malah banyakin quote dan jatuhnya spoiler. Aku masih inget marahnya pihak penerbit itu. Jadi pas dibahas di The Slippery Art of Book Reviewing langsung teringat karena pernah menyaksikan "kejadian" itu secara "langsung", saat itu percakapannya terjadi di platform Twitter (saat aku nulis ini namanya X). Penerbit terang-terangan memarahi reviewer yang kirim tautan ulasan buku yang diminta penerbit itu di utasnya di Twitter. Pas dicek, isinya quote semua. Marahlah penerbitnya.



Aku ngasih rating 4 untuk The Slippery Art of Book Reviewing bukan karena not highly recommended. Tetep rekomen, tapi aku ngerasa buku ini nggak untuk semua orang. Kalo nggak karena perlu banget, mungkin aku nggak akan kepikiran buat menyelesaikan buku ini, sebab aku lumayan berharap banyak sama buku ini. Tapi setengah buku ke sana, udah mulai kerasa boring. Aku masih bertahan karena hampir bagian terakhir buku dibahas tentang perspektif review yang dibuat oleh pembaca. Kalo nggak karena bagian ini, kemungkinan besar aku DNF, sih. Entah karena mood swing aku kurang oke entah memang jatuhnya aku jenuh xD 

Aku tetep rekomen untuk baca The Slippery Art of Book Reviewing kalo pengen dapet ilmu review buku, minimal dapat contoh supaya kalimat yang kita keluarkan nggak seklise "The best book I ever read this year!" Soalnya kalo baru dibaca Januari, ntar di bulan-bulan lain nemu buku yang lebih baik dari yang dibilang the-best-book-I-read-this-year kan jadi saru. Ya, nggak? xD

PS: Aku gagal menyelesaikan 50.000 kata di bulan November karena banyak kondisi yang tidak bisa aku ceritakan. Sepertinya tahun 2025 ini aku gagal dengan beberapa challenge, tapi setidaknya, per hari ini, aku berhasil melampaui target baca yang aku pasang di awal tahun 2025 ini: 45 buku. Bravo me! Alhamdulillaah... Masih ada buku yang mau aku selesaikan baca sampai akhir tahun 2025. 

Stay healthy, see you tomorrow! xoxo,

Terusin baca - [Review] The Slippery Art of Book Reviewing by Mayra Calvani & Anne K. Edwards

14 Nov 2025

[Review] Rumah Pohon Kesemek - Sakae Tsuboi

 




Judul: Rumah Pohon Kesemek  
Penulis: Sakae Tsuboi
Penerjemah: Asri Pratiwi Wulandari 
Penyunting: Reda Gaudiamo
Penyelaras Aksara: Andry Setiawan
Pemeriksa Bahasa: Ribeka Ota 
Penata Sampul dan Isi: Propanardilla
Illustrator Sampul dan Isi: Puty Puar 
Cetakan kedua, Januari 2023
Diterbitkan oleh Penerbit Mai
Jumlah halaman: 62 hlm
QRCBN: 62-1494-5219-467
Genre: Fiction, Japan Literature, Children, Classics  
Status: Pinjem sama tante Disty (mama Heka)


Di belakang rumah Fumie dan Yoichi berdirilah sebuah pohon kesemek besar. Pohonnya memukau, besarnya selebar rentangan lengan anak-anak. Pohon itu menemani keseharian keluarga Fumie dan Yoichi, menyaksikan setiap kegembiraan juga kesedihan mereka.

Halo, Kakak Ilman dan Adek Zi...

Rumah Pohon Kesemek merupakan sekumpulan cerita tentang sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu, Fumie, Yoichi, Kakek, Nenek, Paman, dan Bibi Santaro. Keluarga ini memiliki pohon kesemek yang besar yang sudah menemani keluarga mereka sejak Kakek masih kecil. 

Pohon kesemek milik keluarga ini berbuah sangat banyak dan berlimpah ruah, sampai pohonnya melengkung keberatan buah-buahnya. Namun, suatu ketika, terjadi kekeringan yang cukup menyusahkan warga desa, seakan-akan ada hubungannya dengan suburnya buah kesemek. Setelah berunding, diputuskan untuk membuat sumur agar dapat memenuhi kebutuhan air warga desa itu, yang berlokasi di halaman belakang rumah keluarga Yoichi. Ketika air sumur berhasil mengatasi masalah kebutuhan air warga desa, pohon kesemek berhenti berbuah. Kakek menyadari bahwa beliau meletakkan batu-batu di sekitar akar pohon kesemek yang mengakibatkannya tidak berbuah. Kakek merasa bersalah, lalu mengangkat satu persatu batu-batu itu, namun Kakek menderita kelelahan dan akhirnya meninggal dunia. Sampai setahun peringatan kematian Kakek, pohon kesemek masih tidak mau berbuah juga. 

Pohon kesemek adalah saksi hidup keluarga Yoichi. Masa kecil Kakek dilalui bersama pohon kesemek ini, sehingga Kakek sangat menyayangi sang pohon kesemek. Banyak peristiwa yang dilalui oleh keluarga Yoichi, pohon kesemek tetap berada di sana. 


Aku nggak tahu rasa buah kesemek, belum pernah nyicipin. Tapi saat baca gimana Paman Santaro sangat suka buah kesemek sampai Yoichi kerap menjadi kurir untuk mengantarkan buah kesemek untuk Paman Santaro, kayaknya emang enak pake banget xD 


Buku tipis berukuran mungil yang hanya terdiri atas 62 halaman ini merupakan buku sederhana yang menceritakan kisah manis, walau terselip juga cerita sedih, yaitu saat harus kehilangan Kakek. Ilustrasi buku yang manis ikut menguatkan kesederhanaan cerita ini. Cerita, ilustrasi, dan kemasan buku seolah-olah menuntun kita bahwa kita nggak perlu cerita tinggi dan rumit untuk sekadar menepi. Cerita sederhana seperti Rumah Pohon Kesemek mampu menghadirkan kehangatan di hati saat kita membutuhkannya. Buku ini termasuk bisa dibaca sekali duduk. Eh, tapi kayaknya pas aku baca ini dua hari, deh. Soalnya pas awal baca, aku ketiduran. Kan saat baca ini, aku lagi sakit dan dalam pengaruh obat. Dilanjutkan besok paginya, deh.. hihi...


Trivia:
Rumah Pohon Kesemek adalah karya klasik yang diterbitkan dua kali. Pertama kalinya diterbitkan pada tahun 1944. Pada versi awal, pembaca bisa mengetahui tempat kejadian cerita ini ada di Pulau Shoudo, sebuah pulau kecil di Laut Pedalaman Seto, yang merupakan tanah kelahiran Sakae Tsuboi san. Kemudian terjadi Perang Dunia Kedua. Ketika perang usai, versi kedua Rumah Pohon Kesemek terbit pada tahun 1949. Namun pada versi kedua, penulis memutuskan untuk menghapus cerita yang berhubungan dengan ayahnya - yang juga menyinggung soal perang - seolah ingin menunjukkan bahwa perang sudah benar-benar usai. Dampaknya, pembaca jadi tidak tahu menahu tentang Pulau Shoodo, sebab edisi terjemahan ini adalah dari buku versi kedua, sesuai keinginan penulis. 

Ada sisi lain cerita tentang proses penerjemahan buku ini, ternyata di bahasa asli, karena terbitnya di tahun 1940-an, banyak umpatan-umpatan cukup kasar yang kurang nyaman untuk dibaca. Sehingga penerbit di Indonesia memutuskan untuk "menghaluskan" atau mencari kata-kata lain agar tidak terbaca seperti sumpah serapah. Iya, di tahun-tahun itu, ucapan makian itu lumrah ada di dalam cerita keluarga. Itu sebabnya, banyak karya klasik yang berulang kali diterjemahkan, kerap berubah nuansa penerjemahannya, disesuaikan dengan tren bahasa sesuai waktu diterbitkan ulang versi terjemahannya. 


That's enough for today. I know I couldn't reach 1667 words daily, like I used to write in those years when I entered NaNoWriMo. For now, I just want to enjoy what I wrote. hihi. Alasan. Bilang aja keberatan dengan target 50.000 kata sebulan..  xD

See you tomorrow! xoxo

    


Terusin baca - [Review] Rumah Pohon Kesemek - Sakae Tsuboi

12 Nov 2025

[Review] Perkumpulan Anak Luar Nikah - Grace Tioso

 

Perkumpulan Anak Luar Nikah - Grace Tioso

Statistik saat aku baca buku ini via aplikasi Bookly

Judul: Perkumpulan Anak Luar Nikah  
Penulis: Grace Tioso 
Penyunting: Yuli Pritania
Penyelaras Aksara: Nuraini S., Dhiwangkara
Desainer: Ali Mustofa
Illustrator isi: freepik.com 
Cetakan pertama, Juni 2023
Diterbitkan oleh PT Noura Books
Jumlah halaman: 402 hlm
ISBN: 978-623-24-2398-5
Genre: Historical Fiction, Fiction, Indonesian Literature, Novels, Romance, Historica, Slice of Life, Contemporary Fiction  
Status: Pinjem sama tante Disty (mama Heka)



Shocking Confession from an Indonesian’s Ex-ASEAN Scholarship Recipient

Judul artikel itu mengguncang media sosial dalam semalam.

Martha, sang tersangka, panik. Keteledoran masa lalunya kini mencuat ke permukaan. Sebagai lulusan Computer Science, bagaimana bisa dia meninggalkan jejak digital yang menghantuinya dengan iming-iming penjara pada masa sekarang?

Pernikahannya guncang, kebebasannya terenggut, anak-anaknya terancam kehilangan sosok ibu hanya karena Martha memainkan “25 Question About Me” di blognya belasan tahun lalu dan menjawab terlalu jujur pertanyaan: “What is the wildest thing you’ve ever done when you’re 17 years old?”

I forged a legal document. Later, I used it to apply for a scholarship, and I got accepted!


Halo, Kakak Ilman dan adek Zi...

-- Curhat dulu --

Kemarin aku lupa cerita kalo sebenarnya aku tuh lagi "ngikut" NaNoWriMo (National November Writing Month 2025). Biasanya aku nulis jurnal yang kapan-kapan bisa aku ubah jadi novel kalo niat xD

Aku udah ikut NaNoWriMo dari tahun 2023. Saat itu masih ada website-nya yang bisa jadi setoran berapa jumlah kata tulisan yang berhasil kita buat (ada fitur words tracker-nya). Jadi, selama Oktober dan November biasanya aku sampai begadang, karena ngejar target. Oktober di gambar (ikut Inktober dan Viztober), November di nulis.

Unfortunately, di bulan Oktober aku nggak bisa selesaikan gambar-gambar itu karena ada kendala teknis, dan karena itu harus dikerjakan per hari, jadinya bertumpuk. Aku nggak bisa ngurusin energiku untuk menyelesaikan PR gambar-gambar itu karena aku juga punya banyak aktivitas lain, kerjaan juga lumayan lagi high. Jadi aku gagal Inktober dan Viztober 2025 ini. Semoga tahun depan aku bisa melakukannya dengan lebih baik. Dan selesai.

Awal November, walau masih sakit, aku sempat nulis jurnal satu hari, dalam rangka ikut NaNoWriMo. Tapi karena aku nggak sanggup berjaga sampai malam, pengaruh obat-obatan juga bolak-balik bikin aku tidur terus, akhirnya keteteran. Per kemarin, aku pikir, aku tetap harus melanjutkan menulis walau tertinggal banyak, paling tidak, menyelesaikan review buku-buku yang kubaca tahun ini. Aku nggak ingin blog ini mati suri selamanya. Jadi bangkitnya blog review ini sebenarnya karena NaNoWriMo 2025. Oh ya, sadly, aku baru tahu bahwa situs NaNoWriMo ternyata sudah ditutup sejak beberapa bulan lalu, due to finance matter. Yaudah, gapapa. Aku tetap berusaha konsisten melakukan ini setiap tahun, ada atau tidak writing tracker kayak di situs NaNoWriMo. 

Udah dulu curhatnya, mari balik ke novel. 


Martha adalah seorang Cindo (istilah yang lagi happening saat aku nulis ini, untuk warga Indonesia keturunan Cina) yang tinggal di Singapura. Di dalam kesehariannya, Martha adalah seorang ibu rumah tangga dengan dua anak dan menikahi suaminya bernama Ronny, yang adalah seniornya ketika di kampus dulu. Mereka bertemu ketika Martha kuliah di kampus itu, melalui jalur beasiswa.

Selain dua sahabat karibnya, Fanny dan Linda, tidak ada yang tahu kalo Martha adalah pemilik akun twitter dengan username @duolion163, bekerja sama dengan sepupunya, Yuni, istri juragan kecap, yang juga ibu rumah tangga. Akun twitter berfokus pada perilaku politikus. Mereka berdua menyajikan fakta-fakta terkait para politikus, yang cenderung bisa mendukung atau malah menjatuhkan para politikus yang sedang dibahas. Tidak sedikit politikus yang dikuliti oleh mereka berdua.  

Suatu hari, muncul berita nasional di Singapura, yang memberitakan bahwa telah terjadi pemalsuan dokumen yang digunakan untuk mengajukan beasiswa, akibat seseorang mengunggah "pengakuan" di blog lama Martha, yang membuat hidup Martha dan keluarganya berubah sepenuhnya, sebab Martha harus berurusan dengan hukum di Singapura. 

Apakah semua ini ada kaitannya dengan politikus yang baru saja menjadi pembahasan di akun @duolion163? Apakah akhirnya identitas Martha ketahuan, sehingga ada orang yang membocorkan kesalahannya di masa lalu?

 

Lewat Perkumpulan Anak Luar Nikah, aku baru tahu bahwa Anak Luar Nikah itu bukan anak-anak yang lahir di luar pernikahan, melainkan karena orang tua dari anak-anak ini adalah stateless (tidak memiliki kewarganegaraan). Walau status mereka ditulis sebagai WNA (Warga Negara Asing) di dokumen, anehnya, mereka sebetulnya lahir di Indonesia, tidak pernah keluar dari Indonesia dan tidak bisa berbahasa negara leluhur mereka. Untuk novel ini, khususnya bangsa Cina. 

Ketika menjalani pemeriksaan, banyak yang mengira bahwa pemalsuan dokumen yang dilakukan Martha tuh berupa mark up nilai atau membuat ijazah palsu. Penyelidik terkejut saat mengetahui bahwa "dosa" Martha hanya mengubah status Anak Luar Nikah menjadi "Anak dari..." di akta kelahirannya. Martha menulis nama papa dan mamanya. Sebab dia tidak merasa bahwa dia adalah anak haram. Dia lahir dari pernikahan yang sah. 


Walau ini adalah fiksi, di mana karakter-karakter dan ceritanya memang fiktif, namun sejarah yang dimunculkan adalah benar. Cocok buat jadi Historical Fiction, tapi bukan juga sih. Gimana ya? Atau mungkin bisa kita kasih nama "fiksi mengandung sejarah". Apa bahasa Inggrisnya sok?

Fokus cerita nggak hanya pada Martha, sebab semua karakter dibahas satu persatu di sini dengan baik. Bahwa mereka adalah Anak Luar Nikah. Pembaca juga bisa jadi tahu tentang apa yang terjadi di masa lalu, terkait pemberontakan di Tionghoa yang membuat "lahirnya" satu generasi Anak Luar Nikah. Pengalaman setiap karakter saat terjadi Tragedi 1998 pun membuat kita seolah sedang membaca biografi mereka. 

Di balik segala kesulitan yang dihadapi Martha, aku senang karena penulis nggak bener-bener bikin hidup Martha sengsara se-sengsara-sengsaranya. Ada tetangga apartemennya, seorang nenek warga India, yang mereka panggil "Paati" yang siap membantunya menjaga anak-anaknya. Ada sahabat-sahabatnya yang selalu mendukungnya. Dan ada wartawan Hongkong Post bernama Krisna, yang walau di sepanjang cerita karakter orang ini sangat mencurigakan, tapi ternyata dia pelaku turning table dari keseluruhan cerita Martha. 

Semua cerita ini terasa natural sehingga aku merasa bahwa Martha dan Ronny benar-benar ada, pernah mengalami semua cerita yang diceritakan. Nggak salah juga kalo Grace Tioso menjadi salah satu pemenang Mizan Writing Bootcamp.


Ada yang ingin aku kutip dari utas yang ditulis Martha di akun @duolion163, sebelum mereka memutuskan untuk menonaktifkan akun tersebut. 

"This is a super complex issue. Ada faktor politik perang ideologi. Yang paling susah tentu keturunan Tionghoa yang lahir setelah masa itu. Mereka nggak pernah memilih, tapi ikut menanggung akibatnya.

"Orang Tionghoa di Indonesia adalah keturunan Tionghoa yang memilih untuk tinggal dan jadi WNI".

Dengar, ya, kakak Ilman dan adek Zi.. aku tiap hari cerewet sama kalian untuk nggak pernah beda-bedain teman, apapun suku bangsanya. Kalo masih melanggarnya, buka lagi QS Al Hujurat ayat 13. Oke? 

Sampai ketemu besok. Besok review apa, yaaaa... 

xoxo 

 

   
Terusin baca - [Review] Perkumpulan Anak Luar Nikah - Grace Tioso