Tampilkan postingan dengan label family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label family. Tampilkan semua postingan

14 Nov 2025

[Review] Rumah Pohon Kesemek - Sakae Tsuboi

 




Judul: Rumah Pohon Kesemek  
Penulis: Sakae Tsuboi
Penerjemah: Asri Pratiwi Wulandari 
Penyunting: Reda Gaudiamo
Penyelaras Aksara: Andry Setiawan
Pemeriksa Bahasa: Ribeka Ota 
Penata Sampul dan Isi: Propanardilla
Illustrator Sampul dan Isi: Puty Puar 
Cetakan kedua, Januari 2023
Diterbitkan oleh Penerbit Mai
Jumlah halaman: 62 hlm
QRCBN: 62-1494-5219-467
Genre: Fiction, Japan Literature, Children, Classics  
Status: Pinjem sama tante Disty (mama Heka)


Di belakang rumah Fumie dan Yoichi berdirilah sebuah pohon kesemek besar. Pohonnya memukau, besarnya selebar rentangan lengan anak-anak. Pohon itu menemani keseharian keluarga Fumie dan Yoichi, menyaksikan setiap kegembiraan juga kesedihan mereka.

Halo, Kakak Ilman dan Adek Zi...

Rumah Pohon Kesemek merupakan sekumpulan cerita tentang sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu, Fumie, Yoichi, Kakek, Nenek, Paman, dan Bibi Santaro. Keluarga ini memiliki pohon kesemek yang besar yang sudah menemani keluarga mereka sejak Kakek masih kecil. 

Pohon kesemek milik keluarga ini berbuah sangat banyak dan berlimpah ruah, sampai pohonnya melengkung keberatan buah-buahnya. Namun, suatu ketika, terjadi kekeringan yang cukup menyusahkan warga desa, seakan-akan ada hubungannya dengan suburnya buah kesemek. Setelah berunding, diputuskan untuk membuat sumur agar dapat memenuhi kebutuhan air warga desa itu, yang berlokasi di halaman belakang rumah keluarga Yoichi. Ketika air sumur berhasil mengatasi masalah kebutuhan air warga desa, pohon kesemek berhenti berbuah. Kakek menyadari bahwa beliau meletakkan batu-batu di sekitar akar pohon kesemek yang mengakibatkannya tidak berbuah. Kakek merasa bersalah, lalu mengangkat satu persatu batu-batu itu, namun Kakek menderita kelelahan dan akhirnya meninggal dunia. Sampai setahun peringatan kematian Kakek, pohon kesemek masih tidak mau berbuah juga. 

Pohon kesemek adalah saksi hidup keluarga Yoichi. Masa kecil Kakek dilalui bersama pohon kesemek ini, sehingga Kakek sangat menyayangi sang pohon kesemek. Banyak peristiwa yang dilalui oleh keluarga Yoichi, pohon kesemek tetap berada di sana. 


Aku nggak tahu rasa buah kesemek, belum pernah nyicipin. Tapi saat baca gimana Paman Santaro sangat suka buah kesemek sampai Yoichi kerap menjadi kurir untuk mengantarkan buah kesemek untuk Paman Santaro, kayaknya emang enak pake banget xD 


Buku tipis berukuran mungil yang hanya terdiri atas 62 halaman ini merupakan buku sederhana yang menceritakan kisah manis, walau terselip juga cerita sedih, yaitu saat harus kehilangan Kakek. Ilustrasi buku yang manis ikut menguatkan kesederhanaan cerita ini. Cerita, ilustrasi, dan kemasan buku seolah-olah menuntun kita bahwa kita nggak perlu cerita tinggi dan rumit untuk sekadar menepi. Cerita sederhana seperti Rumah Pohon Kesemek mampu menghadirkan kehangatan di hati saat kita membutuhkannya. Buku ini termasuk bisa dibaca sekali duduk. Eh, tapi kayaknya pas aku baca ini dua hari, deh. Soalnya pas awal baca, aku ketiduran. Kan saat baca ini, aku lagi sakit dan dalam pengaruh obat. Dilanjutkan besok paginya, deh.. hihi...


Trivia:
Rumah Pohon Kesemek adalah karya klasik yang diterbitkan dua kali. Pertama kalinya diterbitkan pada tahun 1944. Pada versi awal, pembaca bisa mengetahui tempat kejadian cerita ini ada di Pulau Shoudo, sebuah pulau kecil di Laut Pedalaman Seto, yang merupakan tanah kelahiran Sakae Tsuboi san. Kemudian terjadi Perang Dunia Kedua. Ketika perang usai, versi kedua Rumah Pohon Kesemek terbit pada tahun 1949. Namun pada versi kedua, penulis memutuskan untuk menghapus cerita yang berhubungan dengan ayahnya - yang juga menyinggung soal perang - seolah ingin menunjukkan bahwa perang sudah benar-benar usai. Dampaknya, pembaca jadi tidak tahu menahu tentang Pulau Shoodo, sebab edisi terjemahan ini adalah dari buku versi kedua, sesuai keinginan penulis. 

Ada sisi lain cerita tentang proses penerjemahan buku ini, ternyata di bahasa asli, karena terbitnya di tahun 1940-an, banyak umpatan-umpatan cukup kasar yang kurang nyaman untuk dibaca. Sehingga penerbit di Indonesia memutuskan untuk "menghaluskan" atau mencari kata-kata lain agar tidak terbaca seperti sumpah serapah. Iya, di tahun-tahun itu, ucapan makian itu lumrah ada di dalam cerita keluarga. Itu sebabnya, banyak karya klasik yang berulang kali diterjemahkan, kerap berubah nuansa penerjemahannya, disesuaikan dengan tren bahasa sesuai waktu diterbitkan ulang versi terjemahannya. 


That's enough for today. I know I couldn't reach 1667 words daily, like I used to write in those years when I entered NaNoWriMo. For now, I just want to enjoy what I wrote. hihi. Alasan. Bilang aja keberatan dengan target 50.000 kata sebulan..  xD

See you tomorrow! xoxo

    


Terusin baca - [Review] Rumah Pohon Kesemek - Sakae Tsuboi

5 Jun 2023

[2023: Book 9] A Place Called Perfect - Helena Duggan

 


Judul: A Place Called Perfect 
Penulis: Helena Duggan 
Penerjemah: Nadya Andwiani 
Penyunting: Aprillia WIrahma 
Desainer: Alif Mustofa 
Cetakan pertama, 2020
Diterbitkan oleh Penerbit Bhuana Sastra
Jumlah halaman: 352 hlm; 20 cm
ISBN: 978- 623-04-0200-5
Dibaca: 22 Januari 2023 - 12 Februari 2023
Genre: Fiction, Novel, Fantasy, Young Adult, Drama, Family, Adventure, Young Adult Fantasy
Status: Pinjam punya Budhe Truly Rudiono 


Violet baru saja pindah ke kota baru yang bernama Perfect. Sama seperti namanya, kota ini terlihat sempurna, kecuali satu hal, semua penduduknya menjadi buta tidak lama setelah tiba di kota ini dan membutuhkan kacamata khusus untuk dapat melihat lagi. Saat ia menggunakan kacamata atau melepaskan kacamata keadaan sangat berbeda. Ia mencoba beberapa kali dan bergidik. Ia tidak menyukai kota yang membuatnya buta, adanya jam malam, suara aneh yang terdengar setiap malam, ibunya mulai bertingkah aneh sejak pindah ke kota ini, dan yang jelas ia tidak menyukai Archer bersaudara.  

Ketika ia bertemu Boy, ia menyadari bahwa ayahnya bukan satu-satunya orang yang menghilang dan rahasia Archer bersaudara mulai terungkap.

Halo, Kakak Ilman dan Kakak Zi...

Pernah, nggak, kalian bayangin kalo di dunia tempat kalian tinggal segala sesuatunya itu sempurna dan tampak indah? Nggak ada debu, kursi rusak, warna cat rumah selalu keliatan baru... Tapi semua itu hanya terlihat kalo kalian pakai kacamata khusus. Ketika kacamata itu kalian lepaskan, kalian buta. Tidak bisa melihat secara jelas. 

Mungkin awalnya menyenangkan ya, melihat segala yang indah, sempurna, tanpa satu kekurangan pun. Tapi sebagai manusia akan merasakan bahwa kehidupan seperti itu nggak baik-baik saja. Kekurangan dan ketidak sempurnaan itu bagian dari hidup semua orang. Jadi manusia yang berakal pasti akan merasakan bahwa segala yang selalu tampak sempurna itu adalah hal yang tidak lumrah.  


Di malam kedatangannya di kota Perfect, Violet disambut oleh dua bersaudara Archer, yang merupakan pemilik pabrik teh di kota itu. Violet merasakan keanehan pada dua sosok bersaudara itu, selain secara fisik tubuh mereka tidak biasa, sikap mereka berdua juga tidak menyenangkan bagi Violet. 

Mungkin karena pas Violet datang ke kota itu dalam keadaan tidak baik-baik saja (Violet terpaksa ikut pindah ke kota Perfect, karena ayahnya yang ahli mata punya pekerjaan baru di kota itu). Violet benci harus pindah ke tempat baru, yang artinya dia harus meninggalkan teman-temannya, sekolahnya, dan seluruh kehidupan lamanya yang menurutnya menyenangkan. 

Ketika terbangun dari tidurnya, di hari pertama Violet berada di kota Perfect, dia merasakan keanehan. Matanya tiba-tiba buram dan tidak bisa melihat dengan jelas. Dia mencari-cari kacamatanya sendiri yang biasa digunakannya nggak ketemu. Dan ketika dia menggunakan kacamata yang tersedia di meja dekat tempat tidurnya, barulah dia bisa melihat dengan jelas dan berbeda.

Saat menjalani kehidupannya di kota Perfect, keluarganya berubah menjadi tidak seperti biasa. Perubahan paling kentara adalah perubahan sikap ibu. Ibu tidak lagi menjadi ibu yang Violet kenal. Ayahnya jadi jarang pulang cepat. Intinya, keluarga Violet berubah total sebelum semua menyadarinya.

Adalah seorang anak lelaki, Boy, berasal dari kota Buangan, yang selalu menyelinap masuk ke dalam kota Perfect. Dia termasuk buronan para penjaga kota Perfect. Boy percaya, Violet akan membantunya mengubah keadaan, menyadarkan semua warga kota Perfect bahwa mereka sedang hidup dalam suatu pengendalian. Terlebih lagi, Violet merasakan keanehan pada ketidakhadiran ayahnya selama beberapa waktu. 

Setelah Boy dan Violet mulai saling mengenal, terlebih karena kebutuhan mendesak Violet untuk mengetahui keberadaan ayahnya, mereka pun mulai menyusun rencana. Violet tidak punya pilihan selain memercayai Boy yang kebetulan tahu di mana ayah Violet berada. Selain mereka berdua, ada orang dewasa lain yang terlibat. Orang dewasa yang termasuk orang buangan, yang tidak lain masih Archer Bersaudara.


Mengikuti petualangan Violet dan Boy terbilang menegangkan. Namun mengingat karakternya adalah bocah SD, rasanya level menegangkannya bertambah. Terlebih untuk Violet yang terbiasa berada dalam pelukan keluarga hangat, kali ini terpaksa harus bertaruh nyawa untuk menemukan dan menyelamatkan ayahnya sendiri dengan seluruh ketakutan dan jauh dari rasa nyaman yang selama ini dia dapatkan. Oke, dia memang tidak sendirian, melainkan berjuang bersama anak-anak dari kota Terbuang yang tidak dia kenal. Tapi semua itu baru baginya. Jadi jelas, semua ini menambah tingkat ketegangan saat ikut menyaksikan petualangan Violet.


Aku suka cara Helena Duggan mengeksekusi idenya dengan rapi, hampir tanpa cela. Banyak petunjuk mengarah ke pemecahan misteri, membuat kita yang membacanya dapat menebak semua kepingan puzzle yang tersebar di beberapa bab terakhir. In the end, untuk pembaca muda ketika tebakannya sesuai dengan akhir dari ceritanya, hal ini menyenangkan. Karena it was be lyke, "hei, tebakanku bener, kan..." 

Versi terjemahan yang kubaca mudah untuk dinikmati, meski kadang aku merasa harus membandingkannya dengan buku versi asli. Aku memiliki kekhawatiran pemangkasan beberapa hal yang mungkin dianggap nggak perlu karena memang aku menemukan banyak pengulangan fakta untuk memperjelas petunjuk. Tapi sudahlah, toh, akhirnya kelar juga bacanya. 

A Place Called Perfect adalah buku pertama dari serial Perfect yang sekarang sudah ada buku ketiganya. Setelah pinjam dari Bude Truly, aku jadi merasa harus punya sebagai koleksi, sebab menurutku, kalian perlu baca buku bagus ini. Tentu artinya aku harus koleksi buku ini. Tadinya aku memang mau beli, tapi Budhe Truly bilang, coba baca punyaku dulu aja, biar nggak menyesal beli. It looks like aku nggak akan nyesel belinya nanti, karena buku ini bagus dan worth to collect. 

I enjoyed reading it a lot, meski disela baca yang lain yang ternyata ga kelar juga. Sometimes I need to be sick to finish a whole book in a day or two. But I don't wanna get sick everyday. That's why I work out daily, to get me always in good shape.

Do I recommend it to you? Yep, I do. Pesan moral utama dari cerita ini adalah: hidup itu sangat bermakna kalo kita punya imajinasi. Ketika imajinasi kita ditutup, dimatikan, dihentikan, hidup kita akan kosong dan tidak bermakna lagi. Beruntunglah kita yang bisa berimajinasi dan tetap berimajinasi. Keep on imagining! Because imagination makes our life worths more...  

Baca ini buat berpartisipasi di:
- Goodreads Challenge 2023
- Abroad and Beyond Reading Challenge 
- Joglosemar Babat Timbunan 2023
- BBBBC Reading Challenge 2023



See you on my other post, stay healthy, both of you! xoxo,

 
Terusin baca - [2023: Book 9] A Place Called Perfect - Helena Duggan

12 Jan 2016

ibuk, oleh Iwan Setyawan





Judul: ibuk,
Penulis: Iwan Setyawan
Editor: Mirna Yulistianti
Proof Reader: Dwi Ayu Ningrum
Ilustrasi dan desain sampul: Itjuk Rahay
Setter: Ayu Lestari
Cetakan pertama, Juni 2012
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 293 hal + xi
ISBN: 978-979-22-8568-0
Genre: Novel, Fiksi, Indonesian Literature, Family, True Story, Drama, Inspirational
Status: Punya. Beli seken di tante Selebvi keknya



"Seperti sepatumu ini, Nduk. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kamu mesti kuat. Buatlah pijakanmu kuat."
-Ibuk-

Masih belia usia Tinah saat itu. Suatu pagi di Pasar Batu telah mengubah hidupnya. Sim, seorang kenek angkot, seorang playboy pasar yang berambut selalu klimis dan bersandal jepit, hadir dalam hidup Tinah lewat sebuah tatapan mata. Keduanya menikah, mereka pun menjadi Ibuk dan Bapak.

Lima anak terlahir sebagai buah cinta. Hidup yang semakin meriah juga semakin penuh perjuangan. Angkot yang sering rusak, rumah mungil yang bocor di kala hujan, biaya pendidikan anak-anak yang besar, dan pernak-pernik permasalahan kehidupan dihadapi Ibuk dengan tabah. Air matanya membuat garis-garis hidup semakin indah.

ibuk, novel karya penulis national best seller Iwan Setyawan, berkisah tentang sebuah pesta kehidupan yang dipimpin oleh seorang perempuan sederhana yang perkasa. Tentang sosok perempuan bening dan hijau seperti pepohonan yang menutupi kegersangan, yang memberi napas bagi kehidupan. 



Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...

Sakit itu bikin segala nggak enak, ya. Males ngapa-ngapain. Haha. Sakit selama dua minggu sebelum tahun baru trus balik lagi kena flu berat itu sungguh mengganggu!

Untungnya, bacanya nggak kena males. Walau kecepatan baca masih seperti siput, sakit kepala dan running nose nggak menghalangi buat balik halaman berikutnya. Dan masih aja nekat duet nyanyi di Smule, dong! Hahahahaha. Kedengeran banget lah, melernya :P

Oke. Sekarang kita ngomongin buku ini. Beberapa tahun lalu, sekitar tahun 2013 waktu pertama kalinya Bunda ikutan Secret Santa, Bunda beli buku ini untuk hadiah target Bunda. Saat itu sih nggak tertarik buat beli untuk diri sendiri.

Beberapa waktu kemudian, waktu lihat banyak yang mereview buku ini, akhirnya jadi pengen baca juga. Tapi masih belum tergerak buat beli sampai tante Selvi jual buku ini bareng buku Pintu Harmonika dan beberapa buku lainnya. ibuk, ini jadi salah satu pilihan Bunda kemudian. Berhasil menarik perhatian papa, jadi dia yang baca duluan. Hihihi.

ibuk, bercerita tentang seorang Tinah muda yang harus putus sekolah di masa muda, lalu ikut mbahnya, Mbok Pah, berjualan pakaian bekas. Banyak yang menyukai Tinah, karena kesederhanaannya, kecantikannya juga. Di sebelah kios Mbok Pah, ada kios yang berjualan tempe. Pemuda penjual tempe itu kerap memberikan tempe pada Tinah, sebagai wujud rasa sukanya kepada Tinah.

Dari banyak pemuda yang tertarik pada Tinah, hanya Sim-lah yang membuat jantung Tinah berdegup. Sim adalah seorang kenek playboy yang menjaga penampilan. Walau seadanya, dia nggak berpenampilan lusuh seperti umumnya kenek. Justru dia tampil klimis dan rapi. Singkat cerita, Tinah dan Sim saling jatuh cinta, lalu menikah.

Apakah cinta sesederhana itu?

Cerita ibuk, ini menggambarkan bahwa "happily ever after the end" itu nggak seindah cuma senang-senang tanpa keluh kesah, rasa susah, dan lain-lain. Penceritaan ibuk, diambil dari sisi Bayek, anak Ibuk nomer tiga. Satu-satunya lelaki.

Suatu ketika, Bayek pernah "mati suri". Nggak sakit, tertidur lama, tapi nggak bernapas. Namun detak jantung ada. Hal ini membuat Ibuk sangat cemas. Bayek juga pernah "diramalkan" akan menjadi orang yang membahagiakan Ibuk. 

Ibuk adalah sosok seorang perempuan hebat yang perkasa, jauh dari manja. Ibuk mampu mengurus suami dan kelima anaknya dengan tangannya sendiri.

Awal baca buku ini sebenernya emosinya datar, tapi lumayan bisa dinikmati. Ibarat baca diary orang. Namun, ketika membaca penuturan perjuangan Ibuk, di saat Bapak mengeluh angkot bolak balik mogok, anak-anak rewel karena sudah waktunya bayar SPP, rapor Bayek harus tertahan tidak dibagikan disebabkan belum bayar SPP dan kalender (nggak abis pikir, kenapa diwajibkan beli kalender, ya?), sepatu semua anak jebol berbarengan, Ibuk harus ngutang dan cicil sana sini juga mengatur keuangan seadanya dan memutar otak supaya semua bisa kebagian, nggak kerasa air mata Bunda mengalir.

Ibuk berjuang membesarkan hati Bapak juga kelima anaknya. Ibuk mengajarkan kesederhanaan pada anak-anaknya. Ibuk juga mengajarkan anak-anaknya untuk punya pijakan yang kuat. Ibuk menumbuhkan kasih sayang di hati anak-anaknya. Ibuk yang punya tekad kuat supaya semua anaknya menyelesaikan sekolah, apapun yang menjadi rintangannya.

Ingatan Bunda kembali ke masa Bunda masih SD. Waktu itu, YangKung lagi belum ada kerjaan, karena banyak proyek yang sebetulnya sudah kelar, tapi pembayaran masih tersendat. Jadi, mau ngerjain pekerjaan berikutnya belum ada modal, disebabkan dari hasil pekerjaan sebelumnya belum
dapat bayaran. YangKung dulu berprofesi sebagai arsitek dan pembuat maket (miniatur gedung). Dibayarnya per proyek selesai. Jangankan untuk beli bahan-bahan maket, untuk makan sehari-hari aja udah abis bis bis.

Hari itu, Bunda pulang sekolah, mendapati YangTi sedang duduk di ruang tengah. Menunggu YangKung. YangTi membelai rambut Bunda dan bilang, "kita belum bisa makan dulu. Belum ada uang untuk beli beras. Tunggu Bapak, ya. Mudah-mudahan, ada yang mau bayar, walau baru sepuluh ribu saja". Saat itu, nilai sepuluh ribu rupiah mungkin sama dengan seratur ribu rupiah saat ini. Bunda duduk berdua YangTi. YangKung rupanya sudah berangkat dari pagi, nagih-nagih ke klien kayaknya. Pulang-pulang, beneran bawa uang selembar sepuluh ribu rupiah. YangTi langsung ke pasar untuk beli beras dan beberapa lauk.

Mungkin karena pernah ngalamin cerita sejenis, pas Papa bilang, "ceritanya nggak ada emosinya", Bunda malah punya perasaan yang berbeda. Bunda sempet baper juga, karena memang pernah mengalami hal serupa dengan Bayek. Papa juga pernah ngalamin hal serupa, kok :D

Bersyukurlah kalian yang nggak ngalamin masa susah ketika kecil dan semoga nggak membuat kalian mati rasa melihat orang lain yang lebih susah dari kalian.

Kalimat-kalimat yang ditulis Iwan Setyawan ini sederhana dan mengena, mengalir juga. Walau "status" bukunya novel, tapi jadi kayak baca semi biografi. Yang agak "kurang" sebenernya saat ada hal-hal yang bisa diungkapkan secara emosional, keluarnya jadi datar. Terus terang agak geregetan jadinya. Namun di beberapa bagian emang ada juga penuturan yang bisa hit my nerve lalu nggak kerasa bikin meleleh. 

Mestinya sontreknya masih A Song for Mama juga, nih. Heuheu.


Sayangnya kurang ditunjang sampul yang mestinya bikin adem (Bunda kurang tertarik dengan sampulnya, ke-rame-an) plus banyak penuturan yang emosinya nggak keluar hingga terasa agak datar, Bunda tetep kasih bintang empat untuk Ibuk yang hebat dan menginspirasi semua ibu di dunia agar tidak menjadi ibu dan istri yang cengeng dalam mengantarkan anak-anaknya menjadi anak yang hebat! :D

Semoga Bunda bisa jadi Ibuk yang baik buat kalian berdua! Aamiin...

Cheers and love! xoxo,





Terusin baca - ibuk, oleh Iwan Setyawan

4 Jan 2016

Pintu Harmonika oleh Clara Ng dan Icha Rahmanti



Judul: Pintu Harmonika
Penulis: Clara Ng dan Icha Rahmanti
Penyunting: Arief Ash Shiddiq
Perancang Sampul: Diani Apsari
Pemeriksa aksara: Dias Rifanza Salim
Penata aksara: Kuswanto
Desain: Teguh Pandirian
Ilustrasi: Herdiyani
Diterbitkan oleh: PlotPoint Publishing (PT Bentang Pustaka)
Cetakan Pertama, Januari 2013
ISBN: 978-602-9481-10-5
Genre: Novel, Young Adult, Fiksi, Family, Drama, Indonesian Literatur
Status: Punya, beli di Selebvi (seken tapi masih segel :D)
Harga: Lupa!


Dijual cepat: S U R G A!

Punyakah kamu surga di Bumi, tempatmu merasa bebas, terlindungi dan begitu bahagia hanya dengan berada di situ?

Rizal, Juni, dan David menemukan surga lewat ketidaksengajaan. Buka pintu harmonika, berjalan mengikuti sinar matahari, dan temukan surga. Surga yang tersembunyi di belakang ruko tempat tinggal mereka.

Walau mereka berbeda usia dan tidak juga lantas bermain bersama, Surga membuat mereka menemukan bukan hanya sahabat, tetapi juga saudara dan keluarga. Ketika surga mereeka akan berakhir, semangat mempertahankannya membawa mereka pada sebuah petualangan lewat tengah malam. Apa pula hubungannya dengan pencitraan Rizal, masalah Juni di sekolah dan bulu hitam misterius yang berpendar cantik temuan David serta suara-suara misterius di atap rukonya?



 Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...

Selamat tahun baru 2016! Semoga di tahun 2016 ini target baca yang sudah diset terpenuhi, begitu juga target menulis review di blog ini. Tertampar akibat target baca dan nulis review di tahun lalu yang begitu kendor, berantakan dan buyatak, tahun ini Bunda bertekad mau memperbaiki bacaan Bunda. Rencananya nggak pake perencanaan mau baca apa, random aja. Yang penting, harus jadi mood booster untuk baca dan nulis review, biar nggak disemprit atau sampai ditendang oleh Divisi Membership BBI.  *peace* :D

Sebelumnya, pengen teriak dulu...

INI REVIEW PERTAMA DI 2016! *colok sound system*

Akibat sakit cukup lama, Bunda dikasih istirahat di Surga kita. Diambil secara random, keambil buku ini, deh. Buku bintang lima pertama yang Bunda baca di tahun 2016. Senang sekali! Semoga bisa menjadi mood booster untuk baca yang berikut-berikutnya, ya...

Alasannya kenapa sampai Bunda kasih lima bintang? Emang ceritain apa aja, sih?

Buku ini dibagi tiga bagian. Masing-masing bagian diceritakan oleh setiap karakter. Awal buku ini dikisahkan oleh Rizal Zaigham Harahap, remaja lelaki siswa SMP yang baru pindah ke kompleks ruko di mana Surga berada. Ayah Rizal, om Firdaus, punya toko kelontong di rukonya. Rizal adalah seorang seleb di dunia maya, blogger yang punya fans fanatik tersendiri bernama Rizal's Angels. Di blognya, Rizal sering bercerita tentang travelling ke luar negeri. Intinya, sebagai blogger muda, dia punya pengaruh besar bagi kalangan netizen. Rizal juga cakep, bodinya keren karena sering ditempa di "gym" bernama Firdaus Bootcamp.

Bunda suka dengan gaya bahasa Rizal. Santai dan dalem. Rizal baru saja ditinggal ibunya sebelum mereka pindah ke ruko itu. Oya, ada "cerita" tersendiri, nih. Pas baca bagian Rizal sedang mengenang mendiang ibunya, pas Kakak Ilman lagi pilih-pilih lagu di playlist. Trus, ada lagu A Song for Mama-nya Boyz II Men yang kebetulan kepencet Kakak. Eh, Bunda minta Kakak perdengarkan lagu itu. Lagunya sendiri emang punya efek membuat leleh alias menangis, dipadu dengan kisah Rizal sedang mengenang Ibunya, Bunda jadi nangis bombay, deh. Hahaha. Baper, yak.

Tulisan Rizal sebenernya sarat muatan "pesan" untuk orang-orang dewasa yang disampaikan lewat gaya abege. Terutama tentang pencitraan. Ngena banget!

Oya, soal Rizal's Angel. Ini bagian yang cukup bikin ngakak, mengingat Bunda adalah Emotional Angels. Apa itu? YongHwa CNBLUE ahjussi kan Emotional, nah, karena Bunda adalah salah satu front pembela YongHwa ahjussi, Bunda masuk Emotional Angels XD

Di bagian kedua, disampaikan oleh karakter Juni. Sebenernya jadi agak ada pengulangan cerita, karena beberapa sebelumnya sudah diceritakan oleh Rizal. Tapi nggak mengganggu, karena memang ada beberapa detail mengenai Juni yang Rizal nggak tahu, kan? :D

Juni Syahnaz, gadis pintar, tetangga sebelah rumah Rizal, ayahnya pemilik usaha sablon. Dulunya sering dibully kakak kelasnya karena dia pintar, namun kemudian berubah menjadi pembully. Salah satu efek sampingnya adalah bisnis sablon ayahnya nyaris gulung tikar akibat kelakuannya membully adik kelasnya.

Di bagian ketiga, disampaikan oleh David Edogawa, seorang anak SD imut-imut yang pintar bermain piano. David anak tante Imelda, seorang pembuat kue. Kue malaikat adalah kue terkenal buatan tante Imelda. Namun, ketika Rizal mempromosikan kue malaikat untuk penggalangan dana tim dance di sekolahnya, ada yang salah dengan kue itu. Senyum khas yang biasa menghiasi kue malaikat menghilang! Ini misterius!

Sebagai seorang yang sangat memuja Conan Edogawa, David merasa tersinggung karena dianggap anak kecil oleh Juni dan Rizal, salah satunya ketika nggak diajak untuk beroperasi tengah malam. Agak aneh juga, karena di dua bagian cerita, sama sekali nggak melibatkan David yang padahal dia pintar dan bahkan telah membuat laporan penemuan hilangnya kucing tetangga mereka. Mestinya mereka perlu bantuan David, tuh!

Ketika dua sudut pandang bercerita tentang pengalaman Rizal dan Juni melakukan operasi PIA (Progressive Indirect Attack) untuk mencegah dijualnya Surga, diceritakan ada suara gaduh dari ruko tante Imelda, tapi nggak pernah dibahas baik di sudut Rizal maupun Juni. Tentu saja ini mengundang penasaran. Apaan, sih?

Twist dan akhir cerita yang sama sekali tidak tertebak sejak awal membuat sulit sekali berhenti membacanya. Sama seperti ketika membaca The Da Vinci Code ~ Dan Brown dan PREY ~ Michael Crichton, susah naruh buku walau ada yang lain yang lebih penting yang harus dilakukan. Hihihi.

Kalo ditanya, dari sudut siapa Bunda paling suka, Bunda paling suka dari sudut Rizal. Bunda suka dengan gaya ayah Rizal, juga ketika Rizal menulis untuk mengakui kesalahannya! Keren!

Covernya yang cantik, cara berceritanya yang renyah kayak makan keripik jagung ~ susah berhentinya, bikin Bunda ngerasa buku ini pantes dapat bintang lima versi Bunda.

Filmnya sendiri udah tayang tahun 2013. Bunda belum nonton, sih. Entah, deh, kalo liyat trailernya doang, keknya nggak seperti bayangan Bunda pas baca. Kalo nanti udah nonton, Bunda coba bikin reviewnya di sini, deh...


Oke, sampai ketemu di review berikutnya. Have a nice day! ^_^

Love and cheers! xoxo,








Terusin baca - Pintu Harmonika oleh Clara Ng dan Icha Rahmanti

9 Mei 2014

Bliss (The Bliss Bakery Trilogy #1) by Kathryn Littlewood


Judul: Bliss (The Bliss Bakery Trilogy #1)
Penulis: Kathryn Littlewood
Penerjemah: Nadia Mirzha
Penyunting: Lulu Fitri Rahman
Penyelaras aksara: Aini Zahra
Penata aksara: elcreative
Diterbitkan oleh Noura Books ~ Mizan Fantasi
Cetakan pertama, November 2012
ISBN: 978-979-433-690-8
Paperback, 320 halaman
Genre: Novel, Fantasy, Children, Middle Grade, Fantasy, Magic, Foodie, Mystery, Young Adult, Adventure, Family, Juvenile
Status: Punya. Dikasih tante Ferina sebagai hadiah giveaway karena Bunda ngasih komen paling koplak #eh



Musim panas itu, Rosemary Bliss melihat ibunya mengaduk halilintar ke dalam semangkuk adonan dan semakin yakin bahwa orangtuanya menggunakan sihir di Toko Roti Bliss. Rahasianya ada pada sebuah buku resep Bliss Cookery Booke.

Namun apa jadinya jika Rose dan Ty memutuskan bereksperimen dengan beberapa resep saat orangtua mereka pergi? Yah, beberapa Muffin Asmara dan Cookie kebenaran sepertinya tak akan menimbulkan masalah, bukan?


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...
Sebenernya, buku ini udah lama banget ada di tangan Bunda, hadiah dari tante Ferina. Waktu itu dia bikin giveaway di blognya, terus Bunda berpartisipasi dengan ngasih komen koplak. Eh, ga nyangka. Taunya malah Bunda yang dapet. Rafflecopter saat itu sedang berpihak pada Bunda. Alhamdulillaah :D

Terus, ya baru dapet kesempatan baca dua bulan lalu. Mestinya sih jadi posting bareng sama BBI buat tema Kuliner. Tapi dikarenakan Bunda sempet dirawat di RS itu, ya batal deh posting barengnya.

Buku ini cerita tentang Rose yang dititipi ibunya toko bakery Bliss karena ibu dan ayahnya mendapat tugas dari walikota untuk membuat kue dalam jumlah banyak selama beberapa minggu karena ada wabah penyakit aneh, sementara menurut penduduk di kota itu, hanya ibu dan ayah Rose lah yang mampu membuat kue ajaib untuk menyembuhkan penyakit itu.

Tepat ketika ibu dan ayah Rose pergi, muncullah seorang perempuan yang mengaku bibi mereka, bernama bibi Lily. Pada awalnya, Rose merasa jenuh ketika menjaga toko bakery mereka karena merasa nggak ada sesuatu yang menarik seperti ketika orangtua mereka ada di rumah. Maka dia dan Ty, abangnya, mulai melakukan sesuatu yang seharusnya tidak mereka lakukan. Yaitu membuat kue dari buku resep Bliss Cookery Booke yang disimpan di ruang penyimpanan khusus. 

Dari situ, kejadian-kejadian ganjil ~ atau kalo boleh dibilang mengacaukan satu kota terjadi. Dan mereka berusaha membalikkan keadaan. Dan di sini, sikap bibi Lily yang tadinya mencurigakan Rose, berperan penting dalam ikut membalikkan keadaan. Rose sempat menyesal karena dia sudah mencurigai bibi Lily.

Hmmm...
Gimana, ya?

Pertama, kalo dari kover, tampak menjanjikan. Sungguh! Meski nggak dapat hadiah giveaway juga Bunda punya niat beli. Syukurnya, ternyata ini emang cover asli. Worth it kalo beli juga.

Kedua, terjemahannya mengalir banget. Meski Bunda baru kali ini baca nama penerjemah, maksudnya ini buku pertama terjemahan sang penerjemah yang Bunda baca ~halah mbulet~ kalo baca nama penyuntingnya sih, yakin kalo penyuntingnya bisa bikin buku kacrut kek apa juga jadi tampak indah. Hehe. Beberapa buku yang terjemahannya kacau balau berhasil disulap jadi enak dibaca oleh penyunting yang satu ini. Jadi, tentu saja baca terjemahannya enak aja gitu...

Ketiga. Dari sisi font. Oke, kok, untuk genre Young Adult atau Children - Middle Grade. Nyaman di mata dan bikin betah baca.

Keempat. Mungkin ini faktor penentu, ya... Jadi gini, kebanyakan orang ngereview buku ini bilangnya ngiler pas baca semua deskripsi makanan di sini. Termasuk pakde Iwan yang sering banget nyuruh Bunda baca buku ini ketika tahu Bunda punya buku ini.
Sayangnya...
Entah imajinasi Bunda yang nggak sampai apa gimana, Bunda sama sekali nggak ngeces ngebayangin makanan yang ada di cerita ini. Huhuhuhu. Asli sedih banget. Awalnya, Bunda pikir cuma Bunda aja yang kayaknya ngerasa aneh. Berkali-kali baca ulang pun, tetep. Dalam keadaan lapar pun tetep. Sama sekali ga bikin Bunda merasa lapar. Lalu, Bunda cek tret kapan itu Bunda pernah share di sebuah sosmed. Ternyata beberapa teman Bunda seperti Tante Kobo dan Tante Donna juga bilang hal yang sama. Tante Vina malah bilang, "kecut". 

Bunda malah ngeces ngebayangin bolu kuali atau jus labu kuning di Harry Potter daripada kue-kue di sini. Nggak tahu kenapa. Mungkin karena deskripsi bahannya, salah satunya pakai air mata atau apa lah itu, bikin Bunda udah ilfeel duluan, bukannya pengen makan. Hehehe... Gitu, deh.

Jadi... bintang 3 kayaknya cukup untuk semua yang udah Bunda tuturkan di atas kali, ya...

Oya, ini skrinsyut komen koplak Bunda di giveaway tante Ferina itu



Yang jelas, meski kecewa karena ga sesuai harapan, nggak menyurutkan langkah Bunda untuk baca kelanjutan trilogi ini dan nunggu buku ketiga terbit.

Diposting juga buat Children Literature Challenge dan Young Adult Challenge

Love you both, cheers



Terusin baca - Bliss (The Bliss Bakery Trilogy #1) by Kathryn Littlewood

23 Jan 2014

Takkan Pernah Menyerah - Sari Meutia dan Emak-emak AAB


Judul: Takkan Pernah Menyerah
Penulis: Sari Meutia, dkk
Penyunting: Budhyastuti R.H
Proofreader: Adriyani Kamsyach
Desainer sampul: Agung Wulandana
Ilustrasi hlm 130: Agung Wulandana
Foto: koleksi pribadi
Penerbit: Qanita
Cetakan pertama, Desember 2013
Jumlah halaman: 136 hal + xii, 20,5 cm
ISBN: 978-602-1637-17-3
Genre: Inspirasi, Kehidupan, Family, Non Fiksi, Memoar

"Aku kadang tidak tahu, apakah aku berdoa agar dia diberi usia panjang atau minta dihentikan saja penderitaannya."

"Dia pun pergi dengan meninggalkan aku yang tak kuasa membendung air mata.Bau parfumnya yang tertinggal di kamar membuatku semakin mual..."

"Tapi, putriku? Aku khawatir akan terjadi penyesalan di masa datang dan semua itu karena salahku dalam pengambilan keputusan saat ini."

Para ibu, tergabung dalam komunitas Arisan Antar Benua (AAB) yang mengawali persahabatannya di kegiatan Pembinaan Anak-anak Salman ITB,

Euis Fauziah - Hepti Mulyati Hakim - Ira Shintia - Keukeu Nurjannah Abdullah - Meilani Dewi Mayasari - Niken Sesanti Suci Rohani - Sangganiawaty - Sari Meutia - Sinta Asfandiyar - Ummi Aisyah,

menuliskan pengalaman mereka menjalankan bahtera rumah tangga dengan suka dukanya. Dari urusan mencari sekolah yang layak untuk anak, merawat suami atau anak yang divonis sakit berat bahkan meninggal, merantau menemani suami, hingga suami yang menikah lagi. Persoalan-persoalan khas istri yang tidak mudah dijalani, kecuali ketangguhan dan kesabaran menjadi perisainya. Perjuangan untuk menjadi manusia yang lebih baik, yang mandiri.

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Selamat tahun baru 2014.. masih "hangat" dari sisa-sisa pesta akhir tahun lalu. Pastinya penuh harapan. Bunda belum punya semangat buat bikin master post bakalan ikut challenge apa aja tahun ini. Bikin resolusi baca juga belum. Haha.

Bunda sih kepingin men-challenge sendiri dengan minimal 30 review bisa Bunda produksi di tahun 2014 ini. Entah, deh. Mari kita hadapi aja apa yang akan terjadi di tahun ini dengan semua harapan ;)

Nah, di tanggal awal di tahun baru ini akan Bunda isi dengan buku yang sudah selesai Bunda baca dengan penuh lelehan air mata. Lebay? Mungkin. Meski bukunya berwarna pink, yang Bunda sebut dengan "buku pinkih", bukan berarti isinya penuh keceriaan, romantisme yang mendayu-dayu menggetarkan hati sekaligus bikin kasmaran...

Jadi, buku ini berisi sepuluh kisah nyata para ibu dalam merawat keluarganya. Misalnya aja, ada Uwak Sari yang sepenuh hati merawat Uwak Basrah yang sakit dan harus bolak balik cuci darah. Jadi kebayang kayak apa perjuangan Uwak Sari juga Uwak Basrah saat menghadapi ujian itu. Bukan hanya waktu dan tenaga yang harus dikeluarkan, biaya juga nggak sedikit yang harus dikeluarkan. Banyak nahan napas pas baca kisah mereka.

Terus ada Uwak Ira yang nahan napas karena khawatir melihat kak Safa berkutat di bawah kayak pas kayaknya terbalik di air yang arusnya yang super deras. Meski kak Safa sudah ahli eskimo roll saat simulasi, tetep aja pas kayak kebalik di air yang arusnya deras beda urusan.

Ada lagi cerita tentang kak Fahmi-nya Uwak Nia yang termasuk ABK seperti Kakak Ilman. Gimana perjuangan Uwak Nia mengasuh dan mengantar kak Fahmi supaya mandiri dan bisa bersosialisasi dengan teman-teman biasa.

Juga cerita Uwak Maya yang bikin waswas karena anaknya tiba-tiba kena stroke pasca kejeduk... T_____T 

Belum lagi cerita Bude Uci yang bikin.... napas sempat berhenti. Bunda nggak kuasa menuliskannya di sini. Selain jadi sop iler juga kok, malah nanti bikin mewek. Mending baca sendiri aja.

Nggak semua cerita di sini bikin sesak napas karena sedih, kok. Ada yang "ceria" seperti yang ditulis Uwak Euis, yang ceritain pengalamannya sewaktu sempat menjadi penduduk Jeddah. Atau cerita Uwak Sinta yang stres karena milih sekolah buat anaknya. Juga cerita inspiring yang bikin bersyukur banget dari cerita Uwak Hepti.

Empat bintang sangat layak Bunda persembahkan buat ibu-ibu hebat ini... ^_^

Terusin baca - Takkan Pernah Menyerah - Sari Meutia dan Emak-emak AAB

31 Des 2013

Cookie by Jacqueline Wilson #PostBarDes #Liburan #BBI

Judul: Cookie
Penulis: Jacqueline Wilson
Penerjemah: Muntya Ayudya
Editor: Mery Riansyah
Ilustrasi: Nick Sharratt
Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama
Januari, 2012
ISBN: 978-979-22-7934-4
Jumlah halaman: 376 hlm; 20 cm
Genre: Realistic Fiction, Childrens, Young Adult, Young Reader, Family, Liburan (oke, yang terakhir rada maksa :P)
Status: Punya. Beli di Rumah Buku. Harga IDR 48,000

Wajah Beauty Cookson biasa saja, ia juga pemalu. Karena itu teman-teman di sekolahnya memberinya julukan baru-Ugly, si Jelek!
Tapi ada yang lebih parah daripada ejekan itu: Dad. Suasana hati Dad gampang berubah, hal paling sepele bisa memicu amarahnya. Untung ada Mum yang sangat menyayangi Beauty dan selalu berusaha membahagiakannya. Mereka bahkan punya hobi baru, yaitu membuat cookie.
Makin lama, Dad sayangnya makin tak terkendali. Mampukah Beauty dan Mum terus bertahan? Ataukah ada cara lain untuk memulai hidup baru yang lebih indah?

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Tak terasa, ini sudah masuk ke penghujung tahun 2013. Posting bareng terakhir dengan BBI di tahun 2013. Tema yang dipilih untuk posting bareng tanggal 31 Desember 2013 adalah liburan. Kebetulan Bunda sedang baca ini, ya sudah, Bunda jadiin salah satu pilihan aja buat posting bareng. Maksa banget sih, padahal. 

Sekilas cerita mengenai Cookie
Jadi ceritanya ada anak perempuan yang biasa banget, badannya besar, wajahnya bundar berbintik-bintik, rambut panjang bernama Beauty. Nah, karena dia nggak cantik, pas dia masuk ke sekolah baru, sekolah khusus anak perempuan, dia malah dapat julukan Ugly alias si Jelek, oleh beberapa anak yang populer di sekolahnya, seperti Skye - yang sialnya, dia emang cantik banget. Kayaknya lebih cocok jadi anak Mr. Cookson, deh, daripada Beauty.

Di satu sisi, Mr. Cookson ini seorang kontraktor kaya raya banget. Dia punya berbagai Happy Homes. Mulai dari Happy Home sederhana sampai Happy Home Deluxe. 

Meski Beauty terlahir sebagai anak orang kaya banget yang kamarnya itu mungkin harganya milyaran, dia sama sekali nggak bahagia. Dad bukanlah seorang yang penyabar.  Dad tuh moody banget. Kalo mood swing Dad buruk, beuh... abis, deh...

Di balik semuanya, Beauty punya Mum yang teramat menyayanginya. Mum juga takut pada Dad. Jadi, setiap Beauty bermaksud memberontak pada Dad, Mum selalu membelanya. Oya, Beauty juga punya sahabat, yang sayangnya, sahabatnya ini udah sahabatan duluan dengan Skye, bernama Rhona. Rhona sayaaang banget pada Beauty. Ibunya pun menyayangi Beauty. Dia dapat hadiah kembaran boneka teddy bear Rhona - saat pesta ulang tahun Rhona, yang dicemplungin Skye di kolam renang sehingga ga ketemu meski sudah dicari ke mana-mana. 

Suatu ketika, Beauty dan Mum sudah tidak tahan dengan seluruh perlakuan Dad. Mum mengajak Beauty melarikan diri. Ternyata, Mum tak tahu mau melarikan diri ke mana. Yang jelas, Mum menyuruh Beauty membawa barang terpenting, dia membawa semua peralatan gambarnya juga hasil karyanya yang selama ini dia buat untuk Sam dan Lily si kelinci, di acara Rabbit Hutch, acara yang menurut Beauty, hanya untuk bayi.

Sementara Mum membawa serta semua buku petunjuk memasak cookie, karena Mum bertekad untuk punya keterampilan membuat Cookie, supaya Beauty tidak dipanggil Ugly lagi, melainkan Cookie, karena Mum bermaksud "mengubah" Beauty menjad "peri Cookie" :D

Setelah berkelana tanpa tujuan, mereka berdua sampai di sebuah tempat indah bernama Rabbit Cove. Langsung saja, Beauty dan Mum menyebut kunjungan mereka ke sana sebagai liburan. Tempat di Rabbit Cove begitu tenang dan menyenangkan, sehingga mereka lupa, bahwa mereka baru saja mengalami kejadian menyedihkan. Mereka berdua betah sekali berada di sana. Terlebih, pemilik cottage tempat mereka tinggal di sana, Mike, orang yang sangat baik hati dan suka melukis. Dia sangat menyayangi Beauty.

Yang jelas, setelah semuanya terjadi, meski Dad datang menyusul mereka, Beauty berkeras tidak mau pulang. Dan cookie buatan Mum semakin hari semakin enak dan bagus, membuat Beauty dan Mum menjadi terkenal di Rabbit Cove.

Review Bunda

Aduh! Cerita karya bu Jackie ini lagi-lagi, deh... bikin hati berasa diremas-remas. Nggak sampai nangis, sih. Tapi emosinya selalu dapat. Ceritanya dalem banget. Cerita kayak gini sebetulnya "lazim" terjadi di beberapa keluarga. Terutama, para ayah yang punya tekanan tinggi dalam pekerjaan mereka, keinginan untuk membahagiakan keluarga secara materi, jadi lupa, bahwa kebahagiaan sejati letaknya bukan pada materi. Meski memang, untuk bisa berlibur bersama keluarga ke tempat indah, makan enak di tempat mewah, semua perlu uang yang sangaaaaat banyak. 

Jadi ingat, Papa pernah minta maaf pada Bunda, karena sampai sekarang, belum pernah bisa bawa kita liburan ke tempat-tempat keren seperti Disneyland - Tokyo, atau bahkan tempat sedekat Kuta, Bali. Well, Bunda cuma nyengir aja tiap Papa minta maaf begitu. Buat Bunda, liburan itu ga penting ke mananya. Toh, meski "cuma" pergi ke Semarang buat nengokin si Mbah (om Bunda) atau ke Garut buat ke rumah Nenek, itu udah bisa kita anggap liburan, kan? Atau bisa spare time di rumah dengan bikin sesuatu yang menyenangkan, itu sudah liburan yang luar biasa menurut Bunda.

Kadang-kadang, cuma keliling Cimahi, kejebak macet aja, itu udah liburan menyenangkan buat Bunda, lho. Bisa pergi berempat, menikmati banyak hal di jalan, ngobrol dengan Papa dalam keadaan macet itu jadi hiburan tersendiri.

So... liburan itu adalah gimana kita mau manfaatin situasinya aja. Kalo kita ada di tempat seindah Kuta Bali, misalnya, tapi kita nggak bisa menikmatinya karena sakit perut atau lagi sedih luar biasa, ya, percuma udah keluar uang banyak. Meski murah atau nyaris ga keluar uang sama sekali, kalo kita enjoy dengan liburan itu, ya tetap jadi liburan yang menyenangkan. Liburan bukan sekedar menghasilkan foto supaya ga dibilang "no picture = hoax" :D

Liburan terletak pada hati kita menyukai apa yang ada di luar rutinitas dan bahagia dengan itu. Misalnya, liburan ke hati Lee Min Ho. Uuuuuuuppppsssss!

Nah, balik lagi ke cerita Cookie di atas, meski cerita liburannya nggak banyak, tapi di sana Beauty menemukan arti sesungguhnya dari liburan itu sendiri. Jauh dari rutinitas yang sering membuatnya tertekan menjadi lebih rileks, menemukan sesuatu yang mengubah caranya berpikir, lebih banyak menghargai dirinya sendiri, dan seterusnya. Liburan memang harus seperti itu. Bisa membuat kita lebih rileks - alih-alih stres karena pengeluaran biayanya, lebih menghargai diri kita sendiri, dan lain-lain.

Lagi-lagi, bu Jackie membuat hati teremas-remas karena kita harus "menikmati" kemarahan Dad pada Mum atau Beauty. Sungguh, pengalaman "wisata hati" yang membuat perasaan diaduk-aduk. Kita dibuat bisa berempati pada Beauty juga Mum. Dan selalu khas karya Bu Jackie, setiap bikin cerita penuh masalah, beliau juga kasih penyelesaiannya. Karena memang Tuhan menciptakan masalah selalu bersama solusinya. Sooo, keep the spirit high, ya....

Nah, ga salah, deh, ya, kalo Bunda kasih 4 untuk Cookie. Terjemahannya juga oke, kok... 

Cheers! Love you both!
Terusin baca - Cookie by Jacqueline Wilson #PostBarDes #Liburan #BBI

14 Nov 2013

Curhatan Emak-emak dalam Komik - Mamomics

Judul: Curhatan Emak-emak dalam Komik
Penulis: Mamomics
Penyunting: Juliagar R. N
Ilustrator: Mamomics
Penata Letak: Andipa Sandy
Desain cover: Ticks
Diterbitkan pertama kali oleh: Anak Kita
Paperbacks, 116 halaman
Cetakan pertama: 2013
ISBN: 978-602-286-002-0
Genre: Parenting, Komik, Aktual, Spiritual
Status: punya. Beli di buku-plus
Harga: IDR 27.700 belum sama ongkir


Mereka bisa membuat ruangan yang sudah rapi, jadi berantakan dalam sekejap.

Mereka punya keingintahuan besar yang membuat orang dewasa kagum.

Mereka punya daya imajinasi yang liar dan bebas, juga kepolosan yang bikin tercengang.

Mereka punya 1001 tingkah ajaib yang membuat hari-hari para emak jauh dari yang namanya bosan.

Inilah cerita hari-hari para emak bersama tingkah laku anak-anak mereka, si "monster kecil" dengan sejuta pesona.

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Rekor, loh! Bunda berhasil baca satu buku dalam waktu sekejap tadi malam! Padahal jumlah halamannya lumayan di atas 100. 116 kurang lebih. Hihi. Soalnya dalam bentuk komik, sih. Yeah! Kasih standing applause, dong, ke Bunda, karena berhasil kelarin baca buku sebentar. Komik aja biasanya berhari-hari, kan... Biasa sih. Ditinggal tidur.

Bunda tertarik baca buku ini bukan karena komik semata. Bukan juga karena Bunda kebetulan "kenal" dengan salah satu dua komikus di dalamnya. Tapi memang karena komik yang mereka buat terinspirasi dari anak-anak mereka sendiri. Semacam curhat yang dibuat dalam bentuk komik. Apa yang bikin menarik? Karena disampaikan dalam bentuk gambar. 

Menurut seorang praktisi pendidikan seni rupa untuk anak-anak yang Bunda kebetulan kenal juga (karena Bunda pernah ikut jadi salah satu fasilitator di klub bermain miliknya), ibu Luna Setiati, bahasa rupa atau bahasa gambar itu lebih mudah dicerna dan mampu bercerita banyak daripada teks. Jadi, kalo mau memperkenalkan membaca pada anak, kenalkan dengan buku-buku minim teks yang gambarnya maksimal. 

Sebentar. Bunda kok malah bahas teori belajar membaca, sih? 

Ayo, balik ke tujuan semula!

Yah, intinya, curhat dalam bentuk gambar itu ga bisa bertele-tele mainin kata-kata. Sedikit kata-kata tapi berbicara banyak. Begitu, deh, kurang lebih. Makanya, ketika baca setiap halaman di buku ini, feel-nya dapet. Bunda bisa ngakak terpingkal-pingkal. Sekaligus terharu. Nangis, bisa juga, karena terharu.

Ada lah empat orang emak-emak dan satu orang gadis yang doyan curhat lewat komik. Mereka suka curhat di facebook mereka, kejadian sehari-hari dengan anak-anak mereka. 
Kita bahas satu persatu, ya...

1. Andriani Suryansyah
Karya ibu dua anak cowok ini, di keseluruhan judul, ceritanya bikin ngakak semua.
Baik ibu maupun kedua anaknya sama-sama kocak. Ini Bunda ambil dari facebook Mamomics aja, ya... hehe...












See? Kocak semua, kan? X)) Itu baru seprintil. Masih banyaaaak lagi di komik ini... :D

2. Dyah Dydy
Ibu dua anak ini tinggal di Amerika. Kalo lihat gambarnya, duh... Rasanya Bunda jadi pengen di rumah aja, menikmati imajinasi kalian. Tapi gimana. Saat-saat ini, Bunda masih harus kerja di kantor.







3. Dyotami Febriani
Nah, ini salah satu komikus yang tadi Bunda bilang, Bunda "kenal". Kenal akrab di dunia maya, sih, dari jaman dulu masih di Multiply. Pssst! Bunda fans berat uwak Dyo ini, lho! Sebab, dulu, Bunda suka baca nomik (novel komik) terbitan DAR! Mizan yang novelnya ditulis oleh uwak Ali Muakhir sementara bagian komiknya dibuat oleh uwak Dyo. Uh! Keren banget! Uwak Dyo pernah bikin Bunda mimpi jadi komikus. Mimpi doang. Belajar nggambarnya ga pernah. #mintadigetok

Dulu sewaktu di Multiply, uwak Dyo suka sharing tentang Ziya, seumuran kakak Ilman, kalo ga salah. Eh, di atas kakak Ilman, ding. Bunda juga suka sharing tentang kakak Ilman di Multiply. Nah, karena inilah jadi "akrab". Trus, karena Multiply bubar, ya gitu, deh. Nyaris putus komunikasi. Tapi ketemu sih, di pesbuk. Hihihi.. 

Kalo bacain status-status uwak Dyo sewaktu dia hamil si kembar Aji dan Magi, keknya seru. Padahal, yang dulu pengen hamil anak kembar tuh Bunda. Lah, yang dapet anak kembarnya malah uwak Dyo. Alhamdulillaah... :D

Ini salah sekian karya uwak Dyo di komik ini



Kebayang ribet dan serunya punya anak kembar X))
Di bagian jurnal uwak Dyo juga ada yang bikin Bunda menitikkan air mata. Yaitu waktu salah satu dari si kembar demam. Hiks...

4. Harlia Hasjim a.k.a Ibu Ranger
Beliau ini Bunda udah "kenal" lamaaa banget dari jaman Multiply juga, tapi baru berinteraksi beberapa bulan lalu karena pesan kaos Totoro ke beliau :D
Bunda termasuk fans berat si abang yang keren. Ngefans juga sama ibunya, sih. Ini salah satu karyanya di buku ini


5. Lia Hartati
Kalo dia ini, karena belum berkeluarga, jadi bercerita tentang pengalaman keluarga orang lain. Bikin ngakak juga. Yang paling bikin ngakak sih sebetulnya baca profilnya. Ngakunya suka banget nggambar cowok pake celemek sambil ngegendong anak. Nggak ada kesan melambai, melainkan tampak macho. IH! ITU SIH IYA BANGET! Bunda paling suka lihat pria gendong anak. Bunda paling suka lihat Kimutaku lagi gendong anak. Serius! Loh! Kok, bawa-bawa Kimutaku? Maksudnya, kalo pemandangan papa gendong anak sih emang biasa, walau di hati berbunga-bunga liyatnya... Uhuk! Apalagi kalo lihat dia mengerjakan pekerjaan rumah. Uh! Gitu, deh! :P

Tentu saja, tingkah anak-anak itu memang sering bikin kesal, tapi di lain waktu, bikin ketawa. Bener juga, sih. Selama ini, Bunda belum pernah merasa bosan sejak kehadiran papa lalu ada kalian berdua. Meski kadang kalian tuh suka bikin tensi naik alias esmoni, tapi di sisi lain, kalian adalah penyejuk hati Bunda. Sumber semangat Bunda. Sumber inspirasi Bunda. Bunda memang bukan ibu yang sempurna, tapi Bunda, sama seperti ibu-ibu yang ada di dunia ini, sangat mencintai anak-anaknya. 

Komik ini nggak cuma mengajari banyak hal atau mengajak menertawai diri sendiri melihat tingkah laku "perwakilan" anak-anak di dunia. Buku ini berhasil mengajak Bunda bersyukur atas semua yang Bunda miliki, termasuk kalian berdua juga papa. Buku ini juga berhasil mengajak Bunda membuka wawasan, bukan cuma kalian anak-anak yang heboh. Anak-anak memang pada dasarnya heboh dan itu normal. Alaminya anak-anak. 

Karena Bunda pesan buku ini pas pre-order, Bunda dapat hadiah stiker.

 
Oya. Buku ini jadi rebutan Bunda dan papa, lho! Setelah Bunda berhasil menyampulinya dulu, Bunda langsung kasih ke papa, biar papa baca duluan. IH! Ga sampai lima menit, papa selesai bacanya. Huhuhu... I envy you, papaaa... Bunda butuh 30 menit buat beresin baca... :(


Kesimpulannya, sih... Ilmu parenting itu nggak melulu harus teori pakar. Ilmu parenting bisa dibagi oleh semua orang yang mengalami menjadi orangtua dengan keseharian mereka menjadi orangtua. Berbagi pengalaman menjadi orangtua itu juga ilmu parenting. Dan ilmu parenting juga ga melulu harus dituangkan dalam bentuk teks. Komik seperti yang dibuat Mamomics ini terbilang unik tapi jleb. "Pesan"nya sampai.

Tentu saja, Bunda suka buku ini. Nggak salah, kan, kalo Bunda sematkan empat bintang untuk Mamomics edisi pertama ini? Bunda doakan, ada Mamomics edisi kedua dan seterusnya. Ada yang Bunda tunggu. Karya Uwak Sheila Rooswita belum masuk, nih ^_^


Nah, Kakak Ilman dan Adik Zidan... makasih, ya... udah jadi inspirasi Bunda. Memang nggak mudah untuk ga marah-marah kalo kalian ngeselin. Setiap hari, Bunda belajar dari kalian... Doakan, Bunda dan papa selalu mampu memperbaiki diri dan bisa menjadi orangtua terbaik untuk kalian...

Cheers! Love you both, 
Terusin baca - Curhatan Emak-emak dalam Komik - Mamomics