Tampilkan postingan dengan label buku terkenal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku terkenal. Tampilkan semua postingan

13 Nov 2013

Wonder - R.J Palacio


Judul: Wonder
Penulis: R.J. Palacio
Diterbitkan oleh: Knopf Books for Young Reader, 14 Februari 2012
ISBN: 978-037-589-9881
Jumlah halaman: 314 halaman
Format: e-book
Bahasa: Inggris
Genre: Young Adult, Realistic Fiction, Childrens - Middle Grade, Fiksi Kontemporer, Book Club, Family, Academic, Young Adult - Teen
Status: Punya. Dan pengen punya paperbacknya


I won't describe what I look like. Whatever you're thinking, it's probably worse.
August Pullman was born with a facial deformity that, up until now, has prevented him from going to a mainstream school. Starting 5th grade at Beecher Prep, he wants nothing more than to be treated as an ordinary kid—but his new classmates can’t get past Auggie’s extraordinary face. WONDER, now a #1 New York Times bestseller and included on the Texas Bluebonnet Award master list, begins from Auggie’s point of view, but soon switches to include his classmates, his sister, her boyfriend, and others. These perspectives converge in a portrait of one community’s struggle with empathy, compassion, and acceptance. (dari Goodreads)
Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Sewaktu memutuskan mau baca buku apa untuk #PostBarOkt #Debut BBI, Bunda bingung. Mau baca apa, ya? Sementara buku ini sebetulnya masih masuk ke dalam rak wish list. Tapi, Bunda punya e-booknya. Dan mengingat buku ini banyak mendapat award seperti Carnegie Medal in Literature Nominee (2013), The Judy Lopez Memorial Award for Children's Literature Medalist (2013), NAIBA Book of the Year for Middle Readers (2012), Waterstones Children's Book Prize (2013),  
rasanya pantas-pantas aja Bunda menempatkan buku ini untuk posting bareng.

Lalu Bunda mulai baca. Sayangnya, nggak seperti yang diperkirakan. Adaaaa aja distraksi yang membuat Bunda lama banget menyelesaikan baca buku ini. Jadi semakin mempertanyakan kemampuan Bunda dalam membaca sepanjang tahun ini. Turunnya kok makin mengenaskan begini, ya? #iyainicurhat

Oke, seperti kata sinopsis di atas, buku ini bercerita tentang August Pullman atau Auggie, yang mengalami deformed face sejak lahir. Walau sudah dilakukan banyak operasi untuk memperbaiki bentuk wajahnya, tetap saja dia mirip alien. Membuat semua orang yang melihatnya pertama kali takut. Dan buku ini bercerita tentang pengalaman Auggie memasuki middle school, yang mana ini pertama kalinya Auggie masuk ke sekolah resmi. Sekolah di mana ada gedung berisikan ruang kelas, auditorium, laboratorium, loker, kantin, guru, kepala sekolah, teman-teman sekelas, dan masih banyak lagi.

Sebelumnya, Auggie bersekolah di rumah alias home schooling. Ibunya yang menjadi gurunya. Auggie terpaksa home schooling karena jadwal operasinya yang memakan waktu sekolah. Meski begitu, Auggie bukan anak yang bodoh. Dia bahkan tertarik pada science subject.

Sebagai anak dengan deformed face, tentu dia mengalami banyak hal. Terutama reaksi orang-orang sekitar setiap melihat wajahnya. Dan Auggie sebetulnya sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Tepatnya, dia berusaha membiasakan diri. Auggie punya kakak, ibu, dan ayah yang sayang padanya. Dan itu bisa menjadi salah satu kekuatan Auggie menghadapi semuanya.

Buku ini disampaikan dalam berbagai PoV. Baik itu dari sisi Auggie sendiri, Via (kakak Auggie), Justin (pacar Via), Miranda (sahabat Via), Jack (teman sekelas Auggie), juga Summer (teman sekolah Auggie yang sering bersamanya di saat istirahat makan). Masing-masing PoV terkait satu sama lain, tapi alurnya ga terlalu jauh mundur, sehingga meski buku ini mirip puzzle, kita tetap bisa menikmati buku ini, walau berbeda sudut pandang.

Di sini diceritakan gimana pertama kalinya Auggie ditawari untuk bersekolah di sekolah formal oleh orangtuanya. Kita bisa merasakan kegalauannya. Kekhawatirannya untuk menapaki dunia baru. Pengalaman hari pertama di sekolah barunya. Gimana perasaannya sewaktu dia menemukan fakta bahwa orang yang dia kira best friend-nya ternyata bersandiwara. Cuma suruhan Mr. Tushman, kepala sekolahnya.

Semua karakter di buku ini adorable. Auggie yang bikin Bunda pengen meluk. Mom dan Dad-nya yang keren. Via yang yeah, meski abege dan sempat labil, tapi dia kakak penyayang. Daisy, anjing mereka yang adorable. Justin yang ternyata punya sifat melindungi. Summer yang unyu. Jack yang setia. Mr. Tushman yang wow! Beliau ini mengingatkan Bunda pada pak Kobayashi di cerita Totto Chan.

Meski begitu, nggak semua karakter di sini adorable, sih. Ada Justin dan ibunya yang bikin pengen lemparin kulit pisang. Ke ibunya, sih. Soalnya, ibunya Justin ini ngingetin Bunda ke Malcius Malfoy. Kenapa, ya, dewan sekolah itu, kok, isinya orang songong semua? Atau karena mereka songong, makanya dijadiin dewan sekolah? Kalo ya, crap banget!
Ada anak bernama Eddie yang perlu diajari sopan santun. Perlu diajari empati. Kemungkinan besar, dia berasal dari keluarga yang nggak pernah punya kasih sayang di dalamnya. Karena, untuk menumbuhkan empati pada orang lain, harus dibangun di dalam keluarga dulu. Keluarga itu rumah segala perasaan, kok...

Setiap chapter dalam buku ini hanya satu-tiga halaman. Nggak lebih. Dan ini yang membuat cerita mudah dicerna. Penggunaan kalimatnya nggak bertele-tele. Meski to the point, cara penceritaannya berhasil membangun emosi pembaca. Nggak salah emang, kalo buku ini memenangkan berbagai award. Karena emang buku ini keren banget. Dapet banget emosinya. Dan ada banyak quote yang pantas menenangkan hati kita.

Ini Bunda kumpulin quote-nya. Bunda mau bikin bookmark dengan quote ini.

The things we do are like monuments that people build to honor heroes after they've died. They're like the pyramids that the Egyptians built to honor the pharaohs. Only instead of being made out of stone, they're made out of the memories people have of you. That's why your deeds are like your monuments. Built with memories instead of with stones. - Auggie
"Sometimes you don't have to mean to hurt someone to hurt someone", said Veronica, Jack's baby sitter
Do people look the same when they get to heaven?"
“I don’t know, sweetie.” She sounded tired. “They just feel it. You don’t need your eyes to love, right? You just feel it inside you. That’s how it is in heaven. It’s just love, and no one forgets who they love. 
Dan masih ada lagi. Nanti Bunda masukkan ke bookmark dan Bunda jadiin freebies ^_^

Akhirnya, nambah satu lagi, deh, wish list Bunda. Worth it to collect, kok. Walau kavernya (meski representatif) kurang catchy :D

Tentang penulis:


R. J. PALACIO lives in NYC with her husband, two sons, and two dogs. For more than twenty years, she was an art director and graphic designer, designing book jackets for other people while waiting for the perfect time in her life to start writing her own novel. But one day several years ago, a chance encounter with an extraordinary child in front of an ice cream store made R. J. realize that the perfect time to write that novel had finally come. Wonder is her first novel. She did not design the cover, but she sure does love it. (copas dari Goodreads)

Cheers, Love you both!
Terusin baca - Wonder - R.J Palacio

23 Agu 2013

Harry Potter and The Order of Phoenix oleh JK Rowling




Judul: Harry Potter dan Orde Phoenix (Harry Potter and The Order of Phoenix, Harry Potter #5)
Penulis: J.K Rowling
Penerjemah: Listiana Srisanti
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama, Januari 2004
Jumlah halaman: 1200 halaman
Genre: Fantasy, Children Literature, Sastra Eropa
ISBN: 979-220-652-3
Status: Punya. Beli di pameran buku


 
Tak diragukan lagi tahun kelima Harry Potter bersekolah di Hogwarts merupakan tahun yang sangat penting. Kini ia berusia lima belas tahun, dan sebagai remaja ia mengalami gejolak masa muda yang mengubah beberapa sifat dasarnya. Ia akan menjalani ujian OWL yang menegangkan, yang menentukan akan jadi apa dirinya setelah lulus. Ia sering sekali bertengkar dengan Cho, sehingga bukan tidak mungkin hubungan mereka putus. Dan ketika ia berkelahi dengan Draco Malfoy, peranannya sebagai Seeker tim Quidditch Gryffindor terancam. Semua ini membuat Harry begitu nelangsa, sehingga untuk pertama kalinya ia ingin sekali meninggalkan Hogwarts. Di tengah semua kegalauan itu, Lord Voldemort dengan kekuatan sihirnya yang luar biasa terus-menerus menghantui Harry. Tanpa henti Pangeran Kegelapan menyiksanya melalui bekas lukanya, dan akhirnya memaksa Harry bertarung mati-matian melawan para Pelahap Maut. Dan puncaknya adalah ia harus menyaksikan kematian seseorang yang amat dicintainya...


Halo, Kakak Ilman dan Adek Zidan...
Sungguh, ini super late posting... Harusnya ini dikerjakan tiga bulan lalu... Kok, Bunda senang sekali melakukan kebingungan dan penundaan, ya...
Bulan ini udah mestinya jatahnya Harry Potter #7. Tapi, ya, gitu, deh....

STOP MENGELUH! X))

Ketika Bunda nulis ini, Bunda lagi di rumah sakit, nemenin papa yang terbaring karena typhoid dan demam berdarah. Tahu Bunda ga bisa diem aja, kecuali ada hal-hal yang harus dikerjakan saat menjaga papa, seperti nyuapin, nganter ke kamar mandi, manggil perawat dan lain-lain, papa menyarankan bawa laptopnya buat Bunda browsing atau main game. Lalu, karena terdesak deadline, Bunda memutuskan buat bikin review X))

Harry Potter and The Order of Phoenix tuh suasananya udah mulai suram. Diawali dengan suasana liburan yang sama sekali nggak menyenangkan, karena nggak ada kabar sedikitpun dari teman-temannya, membuat Harry kesal. Kemudian mereka berdiam di Grimmauld Place, rumah keluarga Black, yang diwariskan kepada Sirius Black, wali Harry. Di sana anggota Orde berkumpul dan mengadakan rapat rahasia. Saking rahasianya, anak-anak nggak boleh mendengarkan. Fred dan George yang sukses bikin toko "mainan" sendiri, menciptakan Telinga Julur buat menguping yang malah nggak bisa dengar apa-apa karena nggak mempan oleh mantra perlindungan. Hihihi...

Kemudian, Kementerian Sihir mulai ikut campur di Hogwarts dengan menempatkan Dolores Umbridge menjadi guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Dengan adanya Dolores Umbridge, kehidupan anak-anak Hogwarts jadi terasa nggak aman. Dia mengeluarkan berbagai dekrit yang ditandatangani oleh Menteri Sihir. Ngeselin abis, deh. Dan kegiatan Harry dan teman-temannya pun diawasi. 

Dolores Umbridge. Ya gitu, mukanya kayak kodok? XD

Gara-gara cara mengajar Umbridge di luar kebutuhan, teman-teman Harry meminta Harry untuk mengajari mereka Ilmu Pertahanan terhadap Sihir Hitam. Kenapa? Soalnya, Harry dianggap sudah beberapa kali menang lawan Kau Tahu Siapa. Lalu dibentuklah Laskar Dumbledore. Mereka memakai Kamar Kebutuhan sebagai tempat latihan, karena kegiatan mereka diawasi. Dalam dekrit disebutkan, nggak boleh ada kelompok murid yang terdiri lebih dari 3 orang.

Laskar Dumbledore
Nggak cuma kehadiran Umbridge yang bikin ngelus dada karena kesal sama orang Kementerian, Percy Weasley juga bikin ulah! Dia udah jadi anak durhaka karena berpihak kepada Kementerian dan memilih pergi dari rumah, bahkan bersikap tidak kenal ayahnya! Grrr!

Dampak dari kematian Cedric Diggory membawa banyak perubahan buat Harry. Misalnya saja, dia dianggap gila, mengarang cerita bahwa Lord Voldemort sudah kembali. Iya, sih. Nggak ada saksinya selain Pelahap Maut, kan.. Hanya Dumbledore yang percaya. Jadilah, Rita Skeeter itu bikin berita yang mengisyaratkan ketidakwarasan Harry di Daily Prophet. Begitu juga Kementerian menganggap Harry nggak waras. Makanya, bikin berbagai macam aturan, karena Menteri Sihir nggak mau mengakui kembalinya Lord Voldemort.

Oya, di sini, Harry sempat jadian ama Cho Chang, pacar Cedric. Tapi terus putus, karena Cho cemburu sama Hermione. Hihihi...

Soal Fred dan George, mereka dimodali Harry untuk bikin toko lelucon mereka sendiri. Hadiah Turnamen Triwizard yang diterima Harry, diserahkan semua oleh Harry kepada si kembar Weasley, karena menurutnya, dia nggak layak dapat hadiah itu. Tadinya sih, si kembar ga mau nerima. 1000 galeon gitu. Tapi, karena Harry bilang, dia jadi pemodal, akhirnya mereka berdua mau dan tokonya laris manis...

Karena toko mereka laris manis, mereka pun memutuskan keluar dari Hogwarts setelah sebelumnya meninggalkan kenang-kenangan untuk Umbridge, yang saat itu menjadi Kepala Sekolah Hogwarts yang sukses mengudeta Dumbledore.

Di buku ini, Harry berkenalan Luna Lovegood, dari asrama Ravenclaw. Atas bantuannya, nama Harry menjadi bersih. Dia dan ayahnya termasuk orang nyentrik. Ayahnya adalah editor The Quibbler, yang memuat wawancara sesungguhnya dengan Harry yang berhasil membuat orang percaya bahwa Kau Tahu Siapa sudah kembali. Luna juga termasuk anggota Laskar Dumbledore.  

Luna Lovegood
Oya. Karena ada koneksi pikiran antara Harry dengan Kau Tahu Siapa, Dumbledore meminta Harry buat belajar Occlumency dengan Snape. Harry nggak serius menutup pikirannya dan ini membuat Snape geram. Ada kejadian yang membuat Bunda semakin bersimpati terhadap Snape, ketika Harry berhasil tahu masa lalu Snape. Ternyata Snape menjadi korban bullying ayah Harry semasa muda. Kesimpulan Bunda, sih, Snape benci banget ama Harry karena Harry mengingatkannya ama James Potter kali, ya... :D

Terus terang, sejak buku kelima ini, progres baca Bunda jadi semakin lambat. Bukan karena tebalnya, itu sih nggak masalah. Tapi karena suram banget. Belum lagi, ada kematian yang tiba-tiba, yang kayaknya nggak mungkin, tapi betul-betul terjadi. Pertama kali baca buku ini, 7 tahun lalu, Bunda nangis, karena ikut merasakan penyesalan yang dirasakan Harry. Ternyata setelah baca ulang, Bunda tetep mewek juga.

Gabungan antara gemas, geli, lucu, seram, geram, marah, sedih ada di sini. Campur aduk. Kalo lihat di Goodreads, ada yang cuma kasih bintang 2 dan komentarnya: "jelek banget!"
Nggak tahu kenapa senepsong itu kasih bintang 2. Mungkin karena suram, kali, ya... Hihi.. Tapi banyak yang kasih bintang 5 kek Bunda, kok... 

Kalo Bunda kasih bintang 5 bukan untuk kematian Sirius Black. Tapi untuk Laskar Dumbledore, untuk Fred dan George, untuk Snape, untuk Dolores Umbridge, untuk Percy, dan lain-lain. Untuk semua perasaan campur aduk yang ada di buku ini...
Terusin baca - Harry Potter and The Order of Phoenix oleh JK Rowling

21 Jan 2013

[Buku #2-2013] The Fault In Our Stars


Judul: The Fault In Our Stars
Penulis: John Green
Penerbit: Dutton Books
Format: e-book
Jumlah halaman: 198 halaman
Terbit: Januari 2012
ISBN 13: 9781101569184
Genre: Young Adult, Contemporary, Romance
 



Despite the tumor-shrinking medical miracle that has bought her a few years, Hazel has never been anything but terminal, her final chapter inscribed upon diagnosis. But when a gorgeous plot twist named Augustus Waters suddenly appears at Cancer Kid Support Group, Hazel s story is about to be completely rewritten.

Insightful, bold, irreverent, and raw, The Fault in Our Stars is award-winning author John Green s most ambitious and heartbreaking work yet, brilliantly exploring the funny, thrilling, and tragic business of being alive and in love. (dari Goodreads)

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Ini buku kedua di tahun 2013 ini yang Bunda selesai baca. Butuh waktu cukup lama buat bisa mencerna buku ini dengan "ekspresi datar". Sebab, buku ini sukses berat mengaduk emosi Bunda... Yah, kalian harus tahu, setiap baca buku yang mampu mengaduk emosi, Bunda suka tersendat bacanya...

The Fault In Our Stars bercerita tentang Hazel Grace yang menderita kanker paru-paru sejak berusia 13 tahun. Untuk menghadapi semuanya, Hazel ikut Cancer Kid Support Group, di mana dia berteman dengan Isaac yang sempat punya mata palsu sebelum akhirnya dioperasi dan menjadi buta total.

Dari pertemanannya dengan Isaac, dia bertemu dengan Augustus Waters yang punya kaki palsu. Gus ini anaknya menyenangkan, selalu bersikap positif.

Hazel memperkenalkan Gus pada buku kesayangannya, yang ditulis oleh Peter Van Houten, An Imperial Affliction. Buku ini bercerita tentang Anna yang berjuang dengan kanker hingga akhirnya meninggal. Sedemikian menyentuhnya buku ini, Hazel penasaran dengan apa yang terjadi dengan ibu Anna sepeninggal Anna. Hazel ingin tahu kelanjutan kisahnya. Dan dia pun menantikan sekuel buku itu. Berkali-kali Hazel mengirim surat pada Van Houten dan tidak pernah mendapatkan balasan.

Hingga suatu ketika, tanpa diduga, Augustus Waters mewujudkan impian Hazel untuk ketemu dengan Peter Van Houten, langsung ke Belanda! Padahal, untuk kondisi Hazel yang seperti itu, terbang ke Amsterdam kan persoalan besar. Dia sangat tergantung pada alat yang mengatur oksigen. Kalo terlepas atau berada di ketinggian tertentu, bukan tidak mungkin akan ada masalah dengan pernapasannya...

So, ini review Bunda tentang The Fault In Our Stars:

Cerita
Ceritanya keren. Menyentuh. Mengaduk emosi segala rasa.

Karakter
Bunda suka semua karakter yang ada di sini. Hazel Grace yang kuat, Augustus Waters yang selalu positif, Isaac yang pemberani. Orangtua Hazel juga Augustus yang penyayang dan tabah... Sungguh, mereka semua saling menguatkan.
Ada sih, satu tokoh annoying. Kehadirannya membuat cerita ini lebih kuat. Peter Van Houten.


Buku ini penuh drama. Mulai dari yang membuat geli, sedih, sekaligus haru. Jangan ditanya yang bikin nangis berapa scene. Tapi ada satu scene yang membuat Bunda sangat merasa dikeplak sekali lagi, buat bersyukur sama keadaan sekarang.
"I realized that I was the healthiest person in this room", kata Hazel Grace, sewaktu dia membantu membopong Augustus yang sudah mulai sangat lemah bersama Isaac yang sudah buta. Meski dalam keadaan "sekarat" pun, Hazel masih merasa bahwa dialah yang tersehat di ruangan itu, bersama Isaac dan Augustus yang sudah semakin lemah.

Oya, Bunda jadi ingat sesuatu...
Salah satu kenalan kita, bu Sofyan, juga menderita tumor di payudaranya. Kakak sama Adek sering ke rumahnya, karena di sana, beliau buka toko kecil di mana kalian suka sekali bawa oleh-oleh dari sana. Sampai beberapa waktu sekarang ini, saat Bunda menulis review ini, toko bu Sofyan tutup, karena kondisi Bu Sofyan yang udah semakin menurun... >_<

Kalo dari cerita Yangti, secara psikis, bu Sofyan udah kehilangan semangat hidup. Bunda juga jadi ingat cerita tetangga sewaktu Bunda hadir di pengajian Sabtu malam lalu. Gimana ayah salah satu tetangga kita juga menderita tekanan psikologis yang teramat dalam sewaktu mendapatkan diagnosa bahwa dia terserang stroke.

Bunda memang nggak pernah berharap akan mengalami sakit seperti ini. Tapi, kita nggak akan selalu berada di atas, nggak akan selalu hidup senang. Pasti akan mengalami rasa sakit, fisik atau pun di luar masalah penyakit badan, misalnya masalah kerjaan, rumah, apa pun itu. Bunda minta, setiap kalian menemukan orang-orang di sekitar kalian sedang "jatuh", kalian harus bantu membangkitkan rasa percaya dirinya. Dukung mereka, sesuai kemampuan kalian.

Sepertinya memang nggak mudah mengalami sesuatu yang sangat berat. Mungkin, penyakit yang diderita seseorang nggak terlalu parah. Tekanan psikislah yang mengakibatkan semuanya menjadi berat. Dan kalo udah gitu, cuma Allah-lah tempat kita bersandar...

Untuk buku ini, Bunda dengan senang hati kasih.... LIMA!
Terusin baca - [Buku #2-2013] The Fault In Our Stars

27 Des 2012

Botchan, Si Anak Bengal


Judul buku: Botchan, Si Anak Bengal
Penulis: Natsume Soseki
Koordinator Penerjemah: Mikihiro Moriyama
Penerjemah: Jonjon Johana
Pewajah Sampul: Iksaka Banu
Pewajah Isi: Tim Khansa
Diterbitkan oleh: Khansa Books
Cetakan I, Juli 2012
Jumlah halaman: 233 halaman
Fiksi Klasik
ISBN-13: 978-602-97196-5-9
Status: Punya. Beli di Rumah Buku
Harga: IDR 32,000
 
 
Sejak kanak-kanak, Botchan tidak pernah lepas dari 'masalah'. Orangtuanya menganggapnya anak berandalan tanpa masa depan. Tidak ada yang menyukai maupun memahami tingkah lakunya, kecuali wanita tua yang menjadi pelayan keluarga mereka.

Berbekal warisan yang sedikit, Botchan berhasil lulus sekolah. Seperti biasa, tanpa berpikir panjang dan spontan, dia memutuskan untuk menerima tawaran menjadi guru. Ternyata, menjadi guru yang jujur di daerah pelosok tidak semudah yang dibayangkan...

Sebuah kisah yang akan membuat kita tertawa menangis dan marah di saat yang bersamaan. (dari sampul belakang buku)


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Hari ini Bunda berniat produktif. Soalnya sedang mengejar satu postingan lagi. Namanya wrap up post. Hahaha. Mumpung yang ngasih kerjaan lagi meeting di luar kota, Bunda mau habisin hari ini dengan posting aja. Biarin, deh, Bebi pusing terima mensyen dari Bunda terus #dikeplak Bebi.

Botchan si Anak Bengal ini ceritanya bukan si Botchan pas masih kecil yang bisa kalian bayangkan waktu baca Totto Chan gitu. Beda. Di buku ini, Botchan udah dewasa. Pas dia lulus sekolah menengah kejuruan di bidang Fisika dengan nilai pas-pasan, dia dapat kabar bahwa ada desa yang lagi cari guru Matematika. Maka, pergilah Botchan meninggalkan Tokyo untuk datang ke desa terpencil itu buat menjadi seorang guru.

Dari hari pertama kedatangannya ke desa itu, sudah nggak menyenangkan. Belum lagi perilaku murid-muridnya di kelas yang kurang ajar banget sama dia. Memang, sih, masa kecil Botchan terbilang bengal, nakal, sampai ayahnya aja bilang kalo dia bukan anak berguna. Lalu, pas ayahnya meninggal, dia dan kakaknya dapat warisan, kakaknya nggak mau ngurusin dia. Disuruh hidup mandiri aja.

Sebengal-bengalnya Botchan sewaktu masih sekolah, nggak diceritakan dia berbuat kurang ajar terhadap gurunya. Jadi, sewaktu dia menjadi guru dan mendapat perlakuan kurang ajar dari murid-muridnya, dia merasa kesal dan pengen murid-muridnya minta maaf.

Botchan ini ketika nggak lagi ngajar, dia pernah mampir ke warung dango. Lalu, begitu sampai kelas keesokan harinya, di papan tulis ada tulisan, "DANGO DUA PIRING, 7 SEN." Begitu juga waktu Botchan makan soba tempura, dia menemukan tulisan, "PROFESOR TEMPURA", "EMPAT PORSI SOBA TEMPURA, TAPI JANGAN TERTAWA", dan seterusnya.

Botchan tentu saja heran. Siapa yang iseng membuat dirinya ditertawakan murid-muridnya? Siapa yang tahu betul ke mana Botchan berada selepas mengajar? Dan lagi pula, apa salahnya makan soba tempura? Makan dango? Eh, anehnya, ternyata, malah "kesenangan" semacam ini justru dilarang pihak sekolah, lho!

Ternyata, meski Botchan ini bocah bengal, dia orang yang jujur. Dia tidak suka dengan "kekotoran politik" di ruang lingkup sekolah yang seharusnya menyanjung tinggi moral karena bergerak di bidang pendidikan. Sayangnya, terkadang dia ini lebih emosian, tipikal anak yang nggak berpikir panjang. Mungkin, karena dia juga merasa dirinya nggak pinter-pinter amat, kali, ya...

Anyway, terus terang, sebelum Bunda tahu kalo ini buku klasik, Bunda merasa agak kepayahan pas baca. Terjemahannya lumayan, kok. Typo ada, sih. Dan kerasa banget kalo ini terjemahan langsung dari Bahasa Jepang. Begitu browsing sana sini, ternyata... ini buku klasik. Pantesan... jadul banget. Hehehe...
 
Kalo boleh jujur, Bunda ketipu pas baca buku ini. Bunda pikir, memang cerita tentang anak-anak. Ternyata, cerita Botchan ini cerita tentang "politik kotor" di sekolah, tempat Botchan mengajar. Jadi, kalo memang ditanya apakah ini buku anak-anak, jawaban Bunda: bukan. Karena, kalo anak-anak yang baca, pasti bakalan nanya, "geisha" itu artinya apa? Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang hanya dipahami oleh orang dewasa.

Apa ya, yang bikin Bunda merasa tertipu? Oh. Mungkin covernya. Mungkin juga judul bukunya. Untuk terbitan Khansa Books ini, dari segi desain sampul, Botchan bernuansa buku anak-anak. 
 
Kalo nggak salah, sebelumnya pernah diterbitkan Gramedia, deh. Kurang lebih, kayak gini sampulnya. 


Botchan terbitan Gramedia

Gimana? Kelihatannya buku anak-anak apa bukan, kalo sampulnya kayak terbitan Gramedia gitu?

Meski begitu, walau tadinya Bunda nggak suka karena merasa tertipu karena desain sampul yang nggak mencerminkan isinya, ternyata feel-nya dapat. Bunda bisa ngerasain banget emosi si Botchan ini... Jadi... yah... Bunda kasih empat buat Botchan!
Terusin baca - Botchan, Si Anak Bengal

4 Sep 2012

Gone With The Wind Read Along 2012



Halo, kakak Ilman dan Adik Zidan...
pertama kali Bunda dengar judul ini waktu SMP kelas dua apa tiga gitu. Ada film serial Gone With The Wind tayang di televisi. Sahabat Bunda ketiganya nonton semua, kecuali Bunda. Kenapa? Karena umur Bunda belum 17 tahun, jadi sama Yangti, Bunda dilarang nonton film ini. Pecah bulu nanti, gitu kata Yangti. Hihi...

Katanya, ceritanya bagus. Nah, terus Bunda bertekad, suatu saat nanti, kalo sudah lebih dari 17 tahun, Bunda mau cari filmnya dan nonton. Eh, ternyata, Bunda sudah melupakannya sama sekali. Mwahahaha.

Nah, kebetulan, tante Fanda ngadain acara Gone With The Wind Read Along 2012 di blognya. Mulai dari 1 September sampai 7 Nopember 2012. Hmm.. Bunda pikir, kenapa nggak ikut coba aja?

Sebenernya satu masalah muncul: Bunda ga punya bukunya. Tapi kemudian, tante Maria nawarin, kalo mau beli buku titip lewat beliau, cincay lah. Jadi, sebelum lebaran lalu, Bunda sudah terima bukunya. 

Masya Allah! Bukunya! Tebal banget! Bukan tipe buku yang bakalan Bunda bawa naik angkot ini mah! *tepok muka*

Lalu, apakah Bunda tetep mau ikutan? Yah, kalo nggak dicoba, kenapa nggak? Tebal halaman 1124 *edisi terjemahan, terbitan Gramedia*. Mungkinkah? Nggak tahu juga sih. Tapi kalo nggak dicoba ya kita nggak pernah tahu. Kadang keajaiban bisa muncul kok. Hahaha... Kenapa Bunda berharap ada keajaiban, ya? Well, Bunda cukup tahu diri lah, punya ukuran sendiri untuk membaca. 

Oke, semoga Bunda sukses bersama orang-orang yang mendaftar jadi peserta Gone With The Wind Read Along 2012, ya. Tunggu laporannya nanti... ;)
Terusin baca - Gone With The Wind Read Along 2012

31 Agu 2012

To Kill A Mockingbird



Judul: To Kill A Mockingbird (Novel tentang Kasih Sayang dan Prasangka)
Penulis: Harper Lee
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penyunting: Berliani Mantili Nugrahani
Proofreader: Emi Kusmiati
Edisi Baru, Cetakan II, Juni 2008
Diterbitkan oleh Penerbit Qanita
Desain sampul: Windu Tampan
Jumlah halaman: 540 hlm; 20.5 cm
ISBN: 978-979-3269-87-8
Novel
Status: pinjem ama sepupu :D
5/5
Recommended!

Kehidupan Scout dan Jem Finch berubah total saat ayah mereka menjadi pembela seorang kulit hitam. Ketika Atticus membela seorang yang dianggap sampah masyarakat, kecaman pun datang dari seluruh penjuru kota. Di tengah terpaan masalah yang menimpa keluarganya, si kecil Scout belajar bahwa kehidupan tidak melulu hitam dan putih.

Dikisahkan dari sudut pandang gadis delapan tahun warga Maycomb, Alabama, novel ini akan menunjukkan bahwa sebuah prasangka sering kali membutakan manusia. Dan sebuah keadilan hanya dapat dilahirkan dari rasa cinta yang tak membedakan apa pun latar belakang seseorang. Harper Lee telah berhasil menyuguhkan sebuah novel menawan yang amat berkesan dan tak lekang oleh zaman. (dari cover belakang)


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Apa kabar? Eh, Bunda nulis ini setelah nulis tentang Mudik walau belum banyak. Nanti nulis lagi. Kalo kejar tayang tuh, segala jadi ga teratur. Haha. Badan masih ringsek gara-gara sakit. Tapi nggak nyalahin mudiknya. Bunda suka sekali mudik :D

Nah. Akhirnya Bunda berhasil menyelesaikan tantangan yang satu ini. Setelah pusing milih buku selama berhari-hari dan malah balik baca Perahu Kertas gara-gara abis nonton filmnya. Nah, waktu mudik kemarin, Bunda kayak disodorin disuruh baca buku ini. Buku itu tampil dengan manis di meja rumah Mbah di Semarang. Buku kepunyaan om Anan. Langsung aja Bunda tembak om Anan buat pinjem. Hehe.

Tante Ally yang suka buku ini dari dulu menyarankan buat baca. Atticus adalah papa favorit tante Ally. Iya, tante Ally suka banget dengan tokoh-tokoh ayah yang menyenangkan.

Buku ini bercerita tentang dua bersaudara Jem dan Scout Finch yang memulai petualangannya sewaktu musim panas. Di sekitar mereka, ada tetangga yang nggak pernah keluar rumah, namanya Boo Radley. Kenapa nggak pernah keluar rumah? Jem dan Scout nggak pernah tahu. Namun, keponakan Miss Rachel yang datang sewaktu liburan musim panas, Dill, membuat mereka jadi suka mancing-mancing Boo untuk keluar dari rumahnya. Banyak cerita menyeramkan yang beredar tentang Boo Radley, sehingga dibutuhkan nyali yang besar sekali untuk Jem, Scout atau Dill bisa menyentuh rumah keluarga Radley.

Ibu Jem dan Scout sudah lama meninggal. Mereka berdua diurus oleh Calpurnia. Jem sangat melindungi Scout. Oya, Scout ini perempuan. Namanya adalah Jean Louise Finch. Meski Scout perempuan, tapi dia paling gampang panasan dan suka sekali berkelahi untuk menyelesaikan masalahnya. 

Baik Jem maupun Scout adalah anak-anak yang pintar. Mereka suka membaca. Bahkan untuk Scout yang baru mulai sekolah, dia sudah pandai membaca, menulis, dan berhitung. Hal ini membuatnya sulit di sekolah, karena gurunya tidak suka murid yang sudah pintar duluan sebelum dia membuatnya pintar. Jadilah, Scout menyalahkan Calpurnia juga Atticus karena sudah membuatnya pintar.

Cerita ini mengambil setting waktu di mana rasis masih menjalar luas. Kemungkinan masih ada perbudakan juga. Jadi, orang kulit hitam selalu dianggap jelek oleh orang kulit putih. Dianggap bodoh. Nggak punya kesamaan hak. Nggak boleh pintar. Dianggap berpenyakit, hanya karena mereka berkulit hitam. Sekalinya orang kulit hitam membuat masalah dengan orang kulit putih, duh. Udah, deh. Segala upaya "hukum" ditegakkan.

Padahal, seperti yang kakak Ilman dan adik Zidan tahu, derajat semua manusia di mata Allah itu sama. Yang membedakan hanyalah akhlaq dan keimanannya saja. Mau kulit putih, kek, mau kulit hitam, kek, mau kulit biru, kek. Sama. Makhluk Allah juga. Kategorinya juga sama: manusia. Diberkahi perasaan dan akal. Sama-sama bisa digunakan.

Meski Jem dan Scout ini anak-anak kulit putih, tapi mereka sayang dengan orang-orang kulit hitam dan marah sewaktu Tom Robinson, orang kulit hitam yang dibela papa mereka di pengadilan karena suatu fitnah, dianggap bersalah. Padahal Tom nggak bersalah. Cuma karena Bob Ewell, orang kulit putih yang walau dianggap sampah, karena termasuk orang kulit putih, jadi dianggap benar. Walau dia bersalah. Menyedihkan, ya?

Atticus adalah ayah yang menyenangkan. Dia juga termasuk ayah yang adil dan bisa membuat Jem bertanggung jawab untuk melindungi adiknya. Atticus juga ayah yang bisa membuat anak-anaknya merasa nyaman. 

Ada satu percakapan yang Bunda suka, yang keluar dari Atticus:

"Sifat Scout yang gampang marah tidak akan hilang. Dia harus belajar menjaga perilakunya dan harus segera, dengan apa yang akan terjadi padanya beberapa bulan ke depan. Tapi dia sudah lebih baik. Jem semakin dewasa dan Scout meneladaninya. Yang dia butuhkan hanyalah bantuan, sekali-sekali."

"Atticus, kau belum pernah memukulnya."

"Aku mengakui itu. Sejauh ini aku berhasil hanya dengan mengancamnya. Jack, dia mematuhiku sebaik yang dia bisa. Kadang-kadang dia memang bandel, tetapi dia mencoba."

"Itu bukan jawabannya," kata Paman Jack.

"Tidak, jawabannya adalah dia tahu aku tahu dia mencoba. Itulah yang membedakan."

Setiap anak pasti punya kekeras kepalaan masing-masing. Seandainya semua orangtua belajar untuk berusaha memahami anaknya dan anaknya juga berusaha memahami orangtuanya, pasti ada kesepakatan. Nggak mungkin buntu terus. Ini yang ingin Bunda coba praktikkan di rumah bersama kalian. Semoga kita bisa saling mencoba untuk mengendalikan diri, sehingga nggak perlu ada ancaman atau teriakan. Terkadang, kita ingin mencoba melanggar justru karena kita dilarang. Bener, nggak?

Eh, ngomong-ngomong, kenapa judulnya "To Kill A Mockingbird", ya?

Jadi, ada percakapan antara Atticus dengan Scout, di mana katanya membunuh burung mockingbird itu dosa. Sebab, mockingbird adalah burung yang indah dan bersuara indah. Burung mockingbird suka sekali menyanyi dan menirukan suara-suara serangga. Jadi, membunuh burung tak berdosa itu, ya dosa.



Lalu, kenapa ngambil judul ini? Ada di bagian akhir yang dijelaskan. Kalo Bunda tulis di sini, namanya spoiler. Jadi Bunda nggak akan tulis. Yang pasti kalian harus baca. It's recommended!

Gimana dengan covernya? Bunda suka! Bunda suka desain cover versi terjemahan ini. Wajah Scout yang ada di cover buku sesuai dengan karakter Scout sendiri dalam bayangan Bunda.

Lalu, bagaimana dengan terjemahannya? Hmm... nggak tahu kenapa, Bunda ngerasa ada beberapa hal yang nggak dapat feel-nya ketimbang Bunda baca versi aslinya. Bunda kebetulan punya e-booknya, jadi agak bisa membandingkan. Tapi berhubung waktu Bunda mepet, Bunda jadi nggak bisa menuliskan di sini di mana letak perbandingannya. Yang pasti, sih, Bunda coba nikmati aja dua-duanya. Tapi nggak usah khawatir. Bisa dinikmati, kok. Buktinya Bunda kasih 5 untuk Harper Lee.

Lalu, terbuktikah ini termasuk 1001 books you must read before you die? Bunda bisa bilang, iya!
Terusin baca - To Kill A Mockingbird

6 Agu 2012

1001 Books You Must Read Before You Die #doh

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Judulnya panjang dan lebay, yah? Hu uh! Bener banget! :D

Ini adalah tema posting bareng di akhir bulan Agustus 2012 nanti, ala BBI. Pertama kali lihat, Bunda pikir, Bunda harus buat daftar 1001 buku yang harus Bunda baca sebelum Bunda mati. Lalu kelimpungan sendiri. Bakalan baca buku apa, ya? Rasanya nggak ada buku yang benar-benar Bunda ingin baca, sampai se-harus itu. Untuk saat ini, maksudnya. Apalagi kalo lihat tumpukan buku yang... Masya Allah... *malu banget lihatnya*

Lalu, Bunda tanya sama tante Ally. Nanti tante Ally mau baca apa di event BBI besok? Tahu apa jawaban tante Ally?

"Kalo punya bukunya, Bun... aku ikutan."

Punya bukunya? Hueh? Apa maksudnya?

Ternyata oh ternyata... sudah ada yang membuatkan daftarnya di sini. Jadi, Bunda tinggal mencari aja, buku apa yang Bunda mau baca berdasarkan daftar itu. Nyahahaha. Kirain harus bikin daftar sendiri =)) 

Dari daftar buku-buku itu, Bunda cuma tahu beberapa. Ada yang sudah Bunda baca ada yang belum Bunda baca. Mari kita buat daftarnya di sini, kandidat apa aja yang bakalan Bunda baca atau review di akhir bulan Agustus ini...

1. To Kill A Mockingbird - Harper Lee
2. Memoirs of Geisha - Arthur Golden
3. The Reader - Bernhard Schlink *sudah ada link berarti sudah direview :D*
4. The English Patient - Michael Ondaatje *pernah ada filmnya tapi kayaknya ga bakalan milih ini*
5. Nights at The Circus - Angela Carter
6. Midnight's Children - Salman Rushdie
7. Breakfast at Tiffany's - Truman Capote *sudah ada link berarti sudah direview :D*
8. The Lord of The Rings - J. R. R Tolkien *belum baca. Ada bukunya di rumah*
9. Lolita - Vladimir Nabokov
10. The Little Prince - Antoine de Saint-Exupéry
11. The Hobbit - J. R. R Tolkien
12. Gone with The Wind - Margaret Mitchell *ada event baca bareng buku ini bulan depan*
13. Around the World in Eighty Days – Jules Verne *kata papa filmnya membosankan*
14. Little Women – Louisa May Alcott
15. Alice’s Adventures in Wonderland – Lewis Carroll
16. Les Misérables – Victor Hugo
17. Jane Eyre – Charlotte Brontë *nerusin bacaan yang mogok? :D*
18. Wuthering Heights – Emily Brontë *niat baca tahun ini, sih :D*
19.  A Christmas Carol – Charles Dickens
20. Pride and Prejudice – Jane Austen
21. Sense and Sensibility – Jane Austen

Why, oh, why...
Untuk periode 2000-an ga ada buku Harry Potter the Series? The Secret of The Immortal of Nicholas Flamel tuh keren banget! Kok ga masuk? Kenapa nggak ada The Help atau The Book Thief? The Book Thief memang Bunda belum baca, tapi konon kabarnya itu buku bagus! The Help, Bunda suka banget sampai baca dua kali. Eh, belum ditulis reviewnya ya, di sini? Abis ini, deh!

Jadi gimana?

Kalo begitu lihat aja nanti, deh. Akhirnya Bunda posting apa di akhir Agustus 2012 nanti. Kalo jadi ini juga. Kan kepotong ama mudik kita... :D
Terusin baca - 1001 Books You Must Read Before You Die #doh

19 Feb 2010

Breakfast at Tiffany's


Terus terang, saya belum pernah menontonnya. Sudah mendownload filmnya, tapi nggak tahu kenapa, donlotannya nggak bisa dibuka. hiks.

Buku ini bercerita tentang Holly Golightly, seorang wanita yang dikenal sebagai ratu pesta, sosialita New York kelas atas dan juga kaki tangan mafia.

Cerita ini disampaikan lewat penuturan aku yang dipanggil Fred, nama kakak Holly, seorang penulis yang apartemennya satu lantai di atas apartemen Holly - yang juga jatuh cinta pada Holly. Cara penuturan tentang Holly dari sudut pandang aku ini, membuat cerita ini menarik, walau terkesan rumit. Mungkin, buat yang sudah pernah menonton filmnya akan merasa kesal saat membaca bukunya, karena konon, cerita di film dibuat lebih sederhana dan berbeda dari cerita di buku (hal ini yang telah membuat Truman Capote merasa dikhianati oleh Paramount Pictures).

Mengambil latar New York tahun 1940-an, novel ini terkesan menggambarkan kehidupan masyarakat kelas atas New York pada masa itu yang setiap malam suka berpesta, minum-minum, hidup penuh keglamoran, berpakaian mewah dan lengkap dengan perhiasannya. Di buku terjemahannya ini, ada gambar adegan pembuka film Breakfast at Tiffany's di mana Holly Golightly sedang sarapan di depan etalase toko perhiasan yang terkenal itu, Tiffany's.

Saya beruntung baca buku ini sebelum nonton filmnya. Walau rumit, tapi imajinasi saya tidak terkungkung. Yang kebayang sama saya saat baca buku ini, Holly Golightly punya paras secantik Audrey Hepburn, pemeran Holly Golightly di filmnya. Waktu itu, teman saya Inem - kasih saya link salah satu scene film itu. Saya nggak nolak, kalo ada yang mau kasih filmnya buat saya. hehehe. Asli pengen nonton, kok!

So far, nggak salah kalo kisah ini begitu legendaris. Terus terang, pertama kali dengar istilah Breakfast at Tiffany's ini tahun 1996 - kalo nggak salah - lewat band Deep Blue Something dalam lagunya Breakfast at Tiffany's. Tapi setelah saya baca bukunya, saya memuji buku ini. Keren.

Breakfast at Tiffany's
Penulis: Truman Capote
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penyunting: Anton Kurnia
Pemeriksa Aksara: Daniel Sahuleka
Cetakan II, Maret 2009
Diterbitkan oleh Penerbit Serambi
ISBN:978-979-024-107-7
Fiksi Klasik

Terusin baca - Breakfast at Tiffany's