Tampilkan postingan dengan label cerita dewasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita dewasa. Tampilkan semua postingan

21 Mar 2014

Marriageable by Riri Sardjono


Judul: Marriageable
Penulis: Riri Sardjono
Editor: Windy Ariestanty
Proofreader: Mita M. Supardi
Penata letak: Gita Ramayudha
Desain sampul: Dwi Annisa Anindhika
Diterbitkan oleh: Gagas Media
Cetakan ketujuh, 2013
Jumlah halaman: x + 358 hlm; 13 x 19 cm
ISBN: 979-780-651-0
Genre: Novel dewasa, Adult, Romance Indonesia, Romance, Indonesian Literature, Chicklit
Status: Punya. Beli di Rumah Buku. Harganya 49rb, diskon 20% + 2%
Namaku Flory. Usia mendekati tiga puluh dua. Status? Tentu saja single! Karena itu Mamz memutuskan pencarian Datuk Maringgi abad modern untukku.
"Kenapa, sih, gue jadi nggak normal cuma gara-gara gue belom kawin?"
"Karena elo punya kantong rahim, Darling," jawab Dina kalem.
"Kantong rahim sama kayak susu Ultra. Mereka punya expired date."
"Yeah," sahutku sinis. "Sementara sperma kayak wine. Masih berlaku untuk jangka waktu yang lama."
Mamz pikir aku belum menikah karena nasibku yang buruk.
Dan kalau beliau tidak segera bertindak, maka nasibku akan semakin memburuk. Tapi Mamz lupa bertanya apa alasanku hingga belum tergerak untuk melangkah ke arah sana.
Alasanku simple. Karena Mamz dan Papz bukan pasangan Huxtable. Mungkin jauh di dalam hatinya, mereka menyesali keputusannya untuk menikah. Atau paling tidak, menyesali pilihannya. Seperti Dina, sahabatku.
"Kenapa sih elo bisa kawin sama laki?"
Dina tergelak mendengarnya. "Hormon, Darling! Kadang-kadang kerja hormon kayak telegram. Salah ketik waktu ngirim sinyal ke otak. Mestinya horny, dia ngetik cinta!"
See?
"Oh my God!" desah Kika ngeri. "Pernikahan adalah waktu yang terlalu lama untuk cinta!"
Yup!
That's my reason, Darling!

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Bunda melewatkan banyak keriaan di acara ulang tahun BBI tahun ini. Soalnya... Bunda kan sakit dua pekan, sampai sempat jadi penghuni rumah sakit hampir semingguan. Jadi... ya sudahlah... Bunda emang dari awal udah prediksi ga bisa ikut serangkaian acara ultah BBI tahun ini. Udah punya feeling gitu aja. Entah kenapa.

Dampak bagusnya, sebelum Bunda dirawat di rumah sakit, Bunda jadi menghabiskan dua-tiga buku gitu, deh. Kalo pas dirawat di rumah sakit, malah ga baca buku sama sekali meski bekal buku. Ternyata, obat-obatan di dalam infus bikin Bunda terlelap terus. Coba kalo sehat. Butuh waktu sebulan buat menyelesaikan baca satu buku saja. Hihihi. Jadi, ada banyak bahan buat nulis di sini... ^_^

Oke. Sekarang, Bunda mau cerita tentang Marriageable ini. Seperti kalian baca di atas, itu adalah potongan adegan saat Flory ngumpul dengan sahabat-sahabatnya, curhat mengenai usaha mamanya buat mendapatkan suami untuk putri satu-satunya itu. Karena menurut Mamz, usia Flory saat itu udah SOS harus segera menikah. Alasannya ya seperti yang dibilang sama Dina itu. Perempuan itu punya kantung rahim yang punya expired date.

Terus, akhirnya Flory berkenalan dengan seorang Vadin, hasil temuan Mamz. Tante Mia, ibu Vadin cukup akrab sama Mamz. Semula, Flory benar-benar muak dengan perjodohan ini dan mengira bahwa Vadin juga punya perasaan yang sama. Sama-sama muak. Ternyata, di luar dugaan, Vadin santai aja dengan perjodohan ini. Nggak terlihat marah atau apa. Malah, #destiny mereka seperti sering dipertemukan secara ga sengaja. Yaelah, kebawa lagi, deh, kata #destiny.... #tepokjidat

Melihat Vadin yang santai dan nggak terlihat pengen menggagalkan perjodohan ini bikin Flory semakin kesal sebetulnya. Tapi Vadin sendiri nggak melihat alasan kenapa perjodohan ini harus digagalkan? Secara fisik, Flory menarik. Vadin juga. Terus kenapa mesti menolak? Kan gitu aja mikirnya, simple.

Sayangnya, Flory tetep keukeuh menolak perjodohan ini sampai akhirnya dia lelah dan kemudian mencoba menikah dengan Vadin dengan satu syarat yang Bunda nggak akan cerita di sini. Bunda mau cerita di blog lain aja. Hihihi...

Ini #sopiler. Ceritanya happy ending. Udah gitu aja :D

Nah, kesan Bunda terhadap buku ini satu kata aja: SUKA.

Kalo suka, kenapa Bunda nggak kasih rating yang lebih tinggi? Katakanlah lima? Nah, ini dia persoalannya. Si Flory ini bener-bener menjengkelkan tu de maks, deh. Ke-keukeuh-an Flory bikin cerita ini tarik ulur dan menyebalkan buat diikuti. Terus terang, karakter Flory dan semua perilakunya bikin Bunda sempat ilfeel banget sama cerita ini secara keseluruhan. Meski demikian, nggak pantes juga kalo Bunda hadiahi cuma dua atau satu bintang, karena memang Bunda suka dengan Marriageable ini.

Okelah, mungkin karena di sekitarnya, ada "teladan buruk" Flory yang membuat dia parno dengan pernikahan. Tapi ya nggak gitu juga keleuuusss....

Sepupu Bunda, salah satu tante Bunda, bahkan salah satu pakde Bunda juga ada yang mengalami gagal permikahan. Belum lagi ternyata banyak teman sekolah Bunda yang juga mengalami perceraian, bahkan satu sahabat Bunda yang dari luar Bunda yakin mereka kayak pasangan Huxtable, bisa bubar juga. Lalu apakah semua pernikahan harus berakhir dengan perceraian? Haruskah semua pasangan menikah tampak ideal seperti pasangan Huxtable?

Jawabannya: Nggak.

Seperti kata pepatah, "lain lubuk lain ikannya". Lain kepala, lain isi pikirannya. Lain orang, lain isi hatinya. Nggak semua pernikahan harus sama modelnya. Ada yang memang model romantis. Ada yang memang model cuek banget. Ada yang memang kerjanya berantem melulu tapi awet. Ada yang kayak adem ayem tapi di hati masing-masing punya dendam, sekalinya ada pemicu keluar semua lalu bubar jalan. Macam-macam. Tinggal kita milih mau seperti apa punya konsep pernikahan itu.

Terus, kalian (mungkin) akan bertanya. Gimana Bunda menjalani pernikahan dengan Papa?

Jawabannya simple aja. Cuma mengandalkan Allah. Karena Dia yang mengatur semuanya.

Bunda percaya dengan pilihan Bunda. Papa percaya dengan pilihan Papa. Kedengarannya gampang? Iya. Kalo segala sesuatu diserahkan ke Allah, sisanya kita tenang, kog. Tinggal fokus sama apa yang memang harus dihadapi. Bareng-bareng menghadapi rintangan walau memang nggak mudah. Ada, kok, di lubuk hati *kadang-kadang*, rasa penasaran apakah Papa happy dengan Bunda, dst.

Tapi, sewaktu Bunda memilih Papa, Bunda sudah konsultasi dengan Yang Maha Mengetahui. Dan DIA yang kasih jawaban Bunda. So, kayak apa pun Papa, meski nggak 100% ideal di mata Bunda, dia 1000% memenuhi kebutuhan Bunda. Tapi, Bunda nggak tau dengan Papa. Soalnya, Papa tuh kalo ditanya ya gitu deh jawabannya. Dia nggak memusatkan hal-hal sesepele ini.

Bunda jadi ingat sebuah quote.



Nah. Di sana jelas disebutkan "I received everything I needed". Memang, jujur aja, setiap ada pria yang mendekati Bunda sejak Bunda SD dulu, Bunda selalu mikir jauh ke depan. Bunda bakalan sering komunikasi dengan orang ini, loh, kalo sampe jadian. Apa bakalan betah? Nah, Bunda selalu percaya pada "jatuh cinta pada pandangan pertama". Jadi, kalo dari pertama ngeliat udah nggak nyaman, seterusnya ternyata emang gitu. Makanya, dulu itu, setiap Bunda merasa didekati seorang cowok, Bunda selalu langsung mundur teratur atau malah kabur. Karena, Bunda juga nggak mau ngasih harapan kosong atau terus malah jadi nggak enakan satu sama lain. Sebelum mereka nembak, Bunda udah lari duluan. Dan akhirnya, setelah bertahun-tahun kemudian, mereka baru ngaku satu per satu kalo dulu mereka deketin Bunda tapi Bunda-nya ngacir duluan sebelum "ditembak". Jumlahnya lumayan banyak. Berarti, feeling Bunda dulu ga pernah salah :D

Makanya, mantan pacar Bunda nggak banyak. Tapi mantan TTM banyak ternyata #gubrak.

Balik lagi ke soal memilih pasangan dan keputusan buat menikah. Ada yang ngeles dengan menikah jadi nggak bebas, semua ruang gerak terbatas karena ada yang menunggu di rumah, tanggung jawab jadi lebih besar, dst.

Menikah atau nggak, keduanya punya konsekuensi. Konsekuensi ini yang harus diterima setiap orang sejak awal. Bunda suka kesal kalo denger teman yang bilang, "iya, nih, gara-gara udah punya anak, gue jadi nggak bisa nonton konser, deh..". Please, deh, jangan bilang "gara-gara". Belum tentu yang wara-wiri bolak balik nonton konser *karena masih single* nggak ngiri dengan mereka yang udah berkeluarga, kok.

Dan satu lagi, kita nggak perlu kasih judgement pada orang yang sudah menikah di usia muda atau masih single meski usianya sudah kepala 3 atau 4. Setiap orang punya jalan hidup masing-masing, punya pilihan masing-masing yang bukan urusan kita untuk mencampurinya. Hargai setiap orang dengan keputusan dan jalan hidup masing-masing. Bicara kalo diminta pendapat aja. Karena kadang, kita bicara karena udah dimintai pendapat aja masih dibantah, kog.

Buat yang pengen menikah tapi masih takut, nggak perlu takut. Semua hal dalam hidup ada resikonya. Semua perlu dihadapi. Buat yang nggak mau menikah karena takut atau hal-hal lain juga, nggak masalah. Itu pilihan. Jangan tiba-tiba membuat keputusan menikah karena takut ketuaan atau iri sama orang lain. Buatlah keputusan menikah karena memang ingin menikah. Titik.

Nah, balik ke cerita Marriageable, tokoh Vadin ini adorable banget menurut Bunda. Bunda sukaaaaaaaaa banget sama Vadin. Dan ga tau kenapa, sejak awal ngikutin tentang Vadin, kebayang Bunda,
Vadin itu kayak gini:   


Terus, Bunda kesel sama Flory, karena apa-apa diceritain semua ke sahabatnya. Ini yang bikin Bunda kesel. Tapi mungkin, karena Flory masih takut gitu kali, ya... Entah deh. Tapi kan jadinya rahasia ranjang pun keluar ke sahabatnya. Padahal, katanya, sih, soal cerita ranjang itu baiknya ga diceritain ke siapa aja. Jadi rahasia berdua aja. Gitu.... Meski akhirnya, ternyata sahabat-sahabatnya juga yang mendukung supaya Flory tetep bertahan dengan pernikahannya... So sweet, ya... empat bintang oke deh, buat Marriageable...

Diposting juga buat:
Indonesian Romance Reading Challenge
Lucky No. 14 Reading Challenge

Review versi lain *karena mengandung adegan uhuk-uhuk* ada di sini.

Stay hungry stay foolish ~ Steve Jobs.
Love you both, xoxo



Terusin baca - Marriageable by Riri Sardjono

6 Feb 2014

All You Can Eat by Christian Simamora

Judul: All You Can Eat
Penulis: Christian Simamora
Editor: Alit Tisna Palupi
Proofreader: Mita M. Supardi
Penata letak: Gita Ramayudha
Desainer sampul: Jeffri Fernando
Ilustrasi isi dan paper doll: Levina Lesmana
Diterbitkan oleh Gagasmedia
Cetakan pertama, 2013
Jumlah halaman: xii + 460 hlm; 13 x 19 cm
ISBN: 979-780-643-x
Genre: Novel dewasa, drama, romance, chicklit, Indonesian Literature, Contemporary Romance
Status: punya, beli seken dari seseorang, dengan cap: BUKU INI TIDAK DIJUAL. PERSEMBAHAN PENERBIT


'CINTA KOK BIKIN SEDIH?'
Dear pembaca,
Berbeda dengan penulis lain di luar sana, aku akan berterus terang mengenai akhir novel ini: bahagia. Tapi kumohon, jangan desak aku untuk menceritakan awal ceritanya. Juga tentang siapa Sarah, siapa Jandro, dan apa yang menghubungkan mereka berdua.

Aku juga tak akan melebih-lebihkan penjelasanku mengenai novel kesepuluhku ini. 'All You Can Eat' memang bukan cerita yang orisinal. Jadi, jangan terkejut saat mendapati ceritanya mengingatkanmu pada curhatan seorang teman atau malah pengalaman hidupmu sendiri. Ini tentang seseorang yang istimewa di hati. Yang tak bisa kamu lupakan, juga tak bisa kamu miliki.

Jadi, apa keputusanmu? Kalau setelah penjelasan tadi kamu masih ingin membaca novel ini, tak ada lagi yang bisa aku katakan kecuali: selamat menikmati.

Dan selamat jatuh cinta.
Christian Simamora

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Bunda tergoda baca ini karena terpengaruh oleh beberapa review bagus mengenai buku ini yang melintas di mata ketika blogwalking. Ditambah kavernya yang oh-so-cute, karena simpel, bikin penasaran buat baca.

Kakak Ilman dan Adik Zidan,
suatu saat nanti, ketika kalian mulai mengenal yang disebut "cinta pertama", kalian akan tahu, bahwa itu akan sulit dilupakan seumur hidup kalian. Dari apa yang Bunda alami, cinta pertama bukanlah cinta monyet yang sekadar naksir-naksiran karena si target lucu, cakep, pinter, de el es be. Cinta pertama itu jelas sulit dilupakan, karena saat itulah pertama kalinya kita mulai resah, gelisah, galau gara-gara seseorang. Bikin nggak enak makan, tidur karena resah.

Cinta pertama itu selalu bikin bertanya-tanya: dia lagi apa sekarang? Dia di mana sekarang? Sama siapa? Apa dia baik-baik aja? Dan seterusnya.

Cinta pertama Bunda termasuk absurd, karena Bunda dulu naksir Takuya Kimura. Kenapa absurd? Karena dia cuma bisa Bunda lihat di layar TV, lewat dorama Asunaro Hakusho (Ordinary People) di stasiun tv bernama Indosiar. Iya, Takuya Kimura itu aktor, pemain dorama asal Jepang. Dan yes, dia cinta pertama Bunda.

Kok, nggak nemu cinta pertama yang wajar aja, sih, Bun? Temen sekolah, kek. Kakak kelas, kek. Adik kelas, kek.

Too bad.

Cuma Kimutaku yang bener-bener bikin Bunda degdegan pertama kalinya nunggu dia muncul. Dramanya cuma seminggu sekali tayang. Cuma Kimutaku yang pertama kalinya bikin Bunda resah. Kalo doramanya abis, nanti Bunda bisa lihat dia di mana lagi? Cuma Kimutaku yang bikin Bunda lost focus saat nonton drama, sampe nggak ngerti, sebenernya ini drama lagi ceritain apa, sih?

Kenapa?

Karena, Bunda sibuk memandangi Kimutaku. Rasa kangen terpuaskan setiap ketemu di layar kaca. Begitu drama kelar, langsung rindu lagi. Ga sabar nunggu minggu depan. Dan kalo mau ketemu Kimutaku, Bunda mandi dulu. Pake cologne biar wangi. Rambut disisir rapi, pake baju pergi. Biar kerasa banget, tampil spesial saat "ketemu" Kimutaku.

Gimana? Absurd, kan? Hihihi...

Terus, Bunda kapan jatuh cinta beneran sama orang yang bukan cuma bisa ditemui lewat tv?

Kayaknya pas Bunda udah kuliah, deh. Dan itu pun ke papa. Meski sebelumnya Bunda udah punya pacar, tapi sewaktu pacaran sama mantan, Bunda nggak bisa bilang itu real cinta pertama Bunda. Karena Bunda nggak ngerasain deg-degan, kangen atau perasaan apa pun yang dirasain ke pacar. Biasa aja. Cenderung terlalu lurus. Tau-tau diajak jadian. Terus tau-tau putus :D

Nah, pengalaman jatuh cinta pertama kalinya yang dialami Jandro Vimana adalah pada Sarah Kristina, sahabat kakaknya sendiri, Anye Vimana. Sewaktu Jandro yang katanya oh-so-nerd itu, pas SMP -- iya, masih SMP pake seragam putih biru -- nembak Sarah yang udah termasuk dewasa, langsung ditolak karena Jandro masih SMP.

Jelas lah, Jandro patah hati banget. Karena, Jandro nggak cuma tertarik pada fisik Sarah, melainkan menyukai Sarah secara utuh. Keseluruhan.

Setelah bertahun-tahun kemudian, terjadi pertemuan tak terduga antara Sarah dan Jandro lagi. Saat itu, Sarah sedang melarikan diri menyepi di Ubud, di vila milik keluarga Anye dan Jandro, sementara Jandro pun melarikan diri menenangkan diri ke vila milik keluarganya (iya, di tempat yang sama mereka ketemu) karena pacarnya yang sudah punya tunangan itu memilih tunangannya daripada memilihnya.

Terus terang, Bunda nggak suka dengan sikap Sarah yang berkali-kali merendahkan Jandro. Sikap Sarah ini selalu berhasil membuat emosi Bunda naik turun. Tapi kadang, sikap Jandro yang kadang berubah-ubah ini juga bikin gemes.

Christian Simamora berhasil bikin cerita dengan POV orang ketiga yang berubah-ubah secara mulus menurut Bunda. Bunda serasa nonton FTV, sih, pas baca ini. Cuma sayangnya, nggak bisa bikin Bunda jatuh cinta, meski penggambaran secara fisik begitu gamblang.

Tapi sialnya, begini.   
<
Di kantor Bunda, ada junior yang emang badannya atletis gitu. Selama ini, seumur-umur, Bunda tuh ga pernah mantengin badan cowok. Ga pernah tergoda sama yang namanya badan ala Ade Rai. Nah, pas kemaren, efek baca deskripsi mendetail bodi Jandro, mata Bunda pas ngeliat si om satu ini lagi pake kemeja ngepas badan. Yah, sebenernya, biasanya juga dia pake apa aja juga bodinya keliatan gimana gitu. Tapi, entah kenapa, cara Bunda ngeliat kemaren beda banget. Padahal kemeja itu sering dia pake. Mata Bunda sempet ke-lock ke dia dan euh! Tenaaaang... Ga sampe jadi horny, kok. Cuma sebel aja. Jadi sempet merhatiin bodi temen kantor Bunda itu. huh!
>

Nah, usai berhasil bikin emosi naik turun, endingnya sesuai janji penulis, kok. Happy. Meski menyebalkan sekali.

Sebetulnya, Bunda sempat kecewa dengan imajinasi Bunda sendiri. Jadi gini. Pas ngobrol di Spank Club, tante Desty bilang, kalo AYCE itu dari awal sampe akhir bikin kipas-kipas. Tentu, Bunda membayangkan kalo yang namanya kipas-kipas itu ya semacam buku yang bikin semua kipas Bunda rontok. Kenyataannya, buku ini emang bikin kipas-kipas karena Bunda kesel setengah mati sama Sarah. Juga Jandro.

Emang kenapa kalo Jandro jauh lebih muda? Papa kalian juga lebih muda dari Bunda, kok. *sempet ngerasa bete karena berasa dihina si Sarah ini*

Dan meski penuturannya mengalir, lancar dan enakeun, Bunda keganggu dengan kata-kata "puh-lizz", "ah-mazing", "oh-so-called", dst. Agak-agak gimana gitu. Tapi karena ini buku pertama Christian Simamora yang Bunda baca, jadi Bunda nggak tahu apakah ini memang style penulis seperti itu apa gimana.

Tiga bintang cukup untuk mengapresiasi All You Can Eat ini... 


Sedikit mengenai Christian Simamora:   
<


Christian Simamora started as a teenlit (teenage literature) writer, but didn't forget his forever love on romance genre.
His published works: Jangan Bilang Siapa-siapa (2006), Boylicious (2006), Kissing Me Softly (2006, under pseudonym Ino Crystal), Macarin Anjing (2007), and Coklat Stroberi (2007). His sixth novel, a collaboration with his former editor Windy Ariestanty, SHIT HAPPENS: Gue yang Ogah Nikah, Kok Lo yang Rese?! won Best Local Book 2007 from Free! Magazine.

On 2010, he started a series for adult readers: JBoyfriend. The male characters's name of each books would be start with letter J.

The first book: PILLOW TALK was named as 'Book of the Year (2010)' by the publisher, GagasMedia. GOOD FIGHT, the second installment, was already released on March 2012. The third, WITH YOU, is a Gagas Duet book, written together with fellow author, Orizuka.

Next, ALL YOU CAN EAT was already released on June 2013.

GUILTY PLEASURE, the latest installment, was already finished and will be released soon.

Meanwhile, he's working on his next work. Or book shopping. Or simply just get lazy in his home. Ah, life. :)
>


Cheers! Love you both,
Terusin baca - All You Can Eat by Christian Simamora

10 Apr 2013

[2013 - RC Books in English] April's Link Post dan [Review] Norwegian Wood

Halo semuanya.... Di sini, gaya saya nulis agak beda dari sebelumnya. Bukan bosen ama format biasanya, sih, cuma emang lagi mesti pake format kayak gini. Semoga nggak bikin pusing, ya... Postingan ini akan saya bagi tiga.

Bagian pertama: Happy Birthday, Papa....

Hari ini adalah hari ulang tahun papa kakak Ilman dan adik Zidan. Hehehe... Nggak ada acara spesial, sih. Lagian hari kerja juga. Nggak ngaruh ulang tahun atau nggak. Mungkin pulang nanti beli pizza aja. Atau apa, ya? Yang penting, jadi penanda aja, bahwa kami nggak lupa dengan ulang tahunnya.... XD
Yang jelas, nggak ada doa khusus hari ini, sebab setiap hari doanya selalu khusus #lho
Trus ada giveaway, nggak, sehubungan dengan ultah papanya anak-anak? Ada, sih. Cuma nanti sekalian digabung aja sama event BBI. Cuma selisih tiga hari, kok. Pantengin aja terus twitter saya. Pasti dipublish di sana. Rencananya, sih... :P

Bagian kedua: Review saya mengenai buku Norwegian Wood (Tokyo Blues)


Judul: Norwegian Wood (Tokyo Blues)
Judul asli: Noruwei no mori
Penulis: Haruki Murakami
Penerjemah: Jay Rubin
Diterbitkan oleh: The Harvil Press 
Jumlah halaman: 353 halaman
e-book
Romance, Japanese Literature, Literary Fiction, Contemporary Fiction
Status: Punya


Sinopsis dari Goodreads   
<
Toru, a quiet and preternaturally serious young college student in Tokyo, is devoted to Naoko, a beautiful and introspective young woman, but their mutual passion is marked by the tragic death of their best friend years before. Toru begins to adapt to campus life and the loneliness and isolation he faces there, but Naoko finds the pressures and responsibilities of life unbearable. As she retreats further into her own world, Toru finds himself reaching out to others and drawn to a fiercely independent and sexually liberated young woman.

A poignant story of one college student’s romantic coming-of-age, Norwegian Wood takes us to that distant place of a young man’s first, hopeless, and heroic love.
>

Pernah baca komentar siapa, ya, di akun GR-nya, dia kipas-kipas kepanasan pas baca buku ini. Hihi... Dan sebetulnya, saya pengen mulai baca ini tanggal 27 Maret, yang mana dimaksudkan untuk ikut program posting barengnya BBI di bulan Maret. Cuma, yah, apa daya. Standar banget saya, nggak bisa memenuhi target karena emang sibuk *alesyan banget*. Iya, entah kenapa, kecepatan baca saya menurun banget. Faktor U-kah? Atau mungkin juga karena saya lagi banyak kerjaan juga assignment. Trus kondisi kesehatan yang belakangan agak menurun plus energi yang banyak dikeluarkan karena anak-anak makin aktif dan butuh didampingi? Jangan lupakan juga godaan menyelesaikan game atau chatting. *yang terakhir boleh diketawain, kok, asal jangan digampar aja* X)) Akhirnya saya baru bisa membacanya di bulan April, awal. Beuh!

Pertama kali baca, saya jatuh cinta dengan Haruki Murakami. Terus terang, meski udah lama dibicarakan teman-teman BBI, saya baru baca sekarang dan langsung suka. Mungkinkah karena gaya terjemahannya enak? Atau seandainya saya berbahasa Jepang pun, saya akan langsung menyukainya? Entah. Yang jelas, penuturannya enak dibaca. Kalo masalah butuh waktu lama untuk menyelesaikannya, sih, jangan salahkan bukunya. Itu faktor saya, kok. Scroll lagi ke atas, deh. Udah dibahas tadi X))

Khusus untuk Norwegian Wood atau Tokyo Blues ini, suasananya ternyata emang se-blue judulnya. Toru Watanabe berurusan dengan banyak perempuan dan berteman dengan beberapa pria juga, yang hampir semuanya bermasalah. Duh, kalo nggak pasang shield setebal setengah meter, kayaknya bakalan kebawa blue juga, deh. Tapi saya berhasil ikut suasana hati Watanabe yang mana dia punya shield super tebal. Jadi nggak kebawa desperate seperti orang-orang yang terlibat dalam hidupnya.

Norwegian Wood mengambil sudut pandang orang pertama, dengan Toru Watanabe menjadi si "aku" di buku ini. Watanabe adalah mahasiswa jurusan drama yang tinggal di sebuah dormitori, berbagi kamar dengan seseorang yang dijuluki sebagai Storm Trooper - saking OCD-nya. Nah, kisah Storm Trooper ini sering menjadi bahan cerita Watanabe ketika dia ketemu dengan cewek. Semisal Naoko, Rieko, kemudian nanti ada yang namanya Midori. Dan cerita mengenai Storm Trooper ini selalu sukses membuat ketiga perempuan ini tertawa. Selain cerita tentang Storm Trooper, Watanabe merasa nggak punya sesuatu yang menarik buat diceritakan terhadap ketiga perempuan ini.

Jadi, Watanabe ini gedebuk in lap sama mantan pacar sahabatnya (Kizuki) bernama Naoko. Kizuki dan Naoko bukan putus karena udah nggak saling sayang lagi. Mereka terpaksa berpisah, karena Kizuki memutuskan untuk bunuh diri, di usianya yang ke-17. Nah. Jelas, kan? Udah mulai blue? Belum... Masih panjang...

Sebagai sesama yang kehilangan Kizuki, Watanabe sering menghabiskan waktu dengan Naoko, meski nggak banyak bicara. Lalu mereka berdua saling jatuh cinta. Cuma tiba-tiba Naoko menghilang dan lalu ada kabar kalo Naoko dirawat di sebuah sanatorium, jauh dari Tokyo. Dan ketika akhirnya Watanabe berhasil mengunjunginya, dia juga berkenalan dengan Rieko. Seseorang yang menjadi sahabat dan orang kepercayaan Naoko selama ada di sanatorium ini.

Ketika Naoko berada di sanatorium, Watanabe berkenalan dengan seorang perempuan bernama Midori, yang ternyata mereka sekelas di kelas drama. Seorang perempuan unik, cenderung aneh. Tapi, Watanabe menyukai cara berpikirnya yang ajaib. Midori ini termasuk perempuan misterius, karena di balik keunikan dan keceriaannya, dia menyimpan banyak cerita sedih.

So far, nanti saya ceritakan di bagian spoiler, membaca buku ini benar-benar membuat napas beberapa kali seperti sesak. Mungkin, memang seperti itu ya, perilaku orang Jepang di masa lalu, terutama anak mudanya yang mudah sekali untuk depresi dan menyelesaikannya dengan cara mereka masing-masing, tanpa memikirkan hal lain. *sigh* Dan hati masih bertanya-tanya, apakah mereka masih seperti itu di jaman sekarang? Soalnya, ini settingnya tahun 1960-an.

Oya, meski settingnya tahun 1960-an, saya nggak sulit membayangkannya. Kok, kayaknya nggak jauh dengan tahun-tahun sekarang gitu :D Plus, di sini banyak diceritakan lagu-lagu klasik kesukaan saya, semisal karya Beethoven, Schumbert, Chopin. Juga diceritain tentang beberapa lagu The Beatles, di antaranya Norwegian Wood, yang sering dimainkan oleh Rieko.



Ini tentang tokoh-tokoh di dalam ceritanya. Mendingan ga usah dibuka, sih, kalo belum pernah baca. Sedikit mengandung spoiler :P   
<
Toru Watanabe. Kayaknya, sih, kalo dari penuturan Midori *yang kemudian jadi pacarnya*, dia nggak cakep-cakep amat. Biasa aja. Tapi mungkin, inner-nya asik. Jadi, yah, gampang ditempel perempuan. Walau pun, dia bukan playboy juga. Kenapa? Soalnya, dia bukan tipe perayu gombaler gitu, sih. Cuma, yah, di sini diceritainnya kan, dia sering banget bolak balik bobo ama cewek gitu... Dan bahkan pernah mencampakkan cewek yang pernah dipacarinya sewaktu dia masih SMA.

Cuma kebayangnya sih, dia kayaknya karismatis. Tsaaaah! Ada kelakuan yang bikin saya sempat "suka" sama Watanabe. Yaitu, di adegan sewaktu dia nemenin ayah Midori di rumah sakit. Ayah Midori yang nggak mau makan apa pun, malah mau makan timun, karena kayaknya cara Watanabe makan tuh enak banget. Timun, setelah dibersihin, dibungkus pake nori terus dicocol ke semacam saus gitu. Nah, nggak cuma ayah Midori yang jadi kepingin, malah... Saya pun pengen juga... X))

Naoko. Watanabe kenal Naoko, karena Naoko ini pacaran dengan Kizuki, sahabatnya. Setelah kematian Kizuki, Naoko banyak menghabiskan waktu dengan Watanabe, sampai akhirnya mereka sempet "bobo-bobo senang" sekali. Setelah kejadian itu, Naoko menghilang. Nggak pernah muncul lagi. Dan ini membuat Watanabe ketakutan. Dia berusaha mencari Naoko, menghubunginya ke rumah orangtuanya. Dan akhirnya, ada kabar bahwa Naoko ada di sanatorium.

Sewaktu Watanabe berhasil mengunjunginya di sanatorium, Naoko akhirnya bercerita bahwa dia mengalami depresi berat. Dan ternyata, hidup Naoko ini dibayangi ama dua kejadian bunuh diri. Ish... Selain Kizuki yang ditemukan sudah dalam keadaan tak bernyawa, sewaktu dia masih kecil, dia pun menemukan kakak perempuan kesayangannya dalam keadaan tergantung. -____-"

Rasanya desperating banget, ya, jadi Naoko... Makanya, dia jadi depresi dan butuh treatment. Meski keadaannya begitu, nggak mengurangi rasa cinta Watanabe terhadap Naoko. Dan dia pun berjanji akan menunggu Naoko. Bahkan ngajak Naoko pindah ke rumah kontrakannya. Meski akhirnya nggak pernah kesampaian.

Rieko. Dia ini nggak kelihatan kayak orang sakit, padahal dia tuh pasien di sanatorium itu. Kata Rieko juga, pasien ama dokter di sana mirip. Saling bantu, saling peduli. Jadi, nyaris nggak kelihatan bedanya. Masalah Rieko yang membuatnya jadi pasien di situ di antaranya adalah dia pemain piano sewaktu kecil dan akan masuk kompetisi, ketika tiba-tiba salah satu jarinya tidak berfungsi dengan benar. Akhirnya dia melupakan impian jadi pianis profesional. Dia mulai depresi waktu itu. Sampai besar dan kemudian menikah.

Ketika dia udah nyaris sembuh dari depresi dan mulai berkarir menjadi guru piano, dia malah diabuse sama seorang murid perempuannya yang masih ABG, tapi justru berita yang beredar di lingkungannya Rieko-lah yang lesbian dan meng-abuse muridnya. Meski suaminya percaya bahwa kabar itu salah, tapi dia udah keburu stres. Mana permintaannya buat segera pindah nggak dikabulkan suaminya, karena karir suaminya lagi bagus. Dia pun cerai dan akhirnya jadi pasien di sanatorium itu, selama 8 tahun.

Midori. Cewek ini unik banget. Ceria, banyak menyembunyikan kedukaannya. Dia sempat berbohong pada Watanabe, bahwa ayahnya sedang berada di Uruguay. Padahal, ayahnya sedang mengalami sakit yang sama dengan almarhum ibunya. Keunikannya ini bikin dia justru dekat dengan Watanabe. Meski tadinya Watanabe nggak suka-suka amat, karena hatinya udah buat Naoko, kan. Cuma, Watanabe bisa banget memosisikan dirinya sebagai sahabat Midori.
>

Over all, saya suka ceritanya. Suka settingnya. Suka elemen penceritaannya. Suka suasananya yang Jepang banget. Ya eyalaaah... settingnya di Jepang, penulisnya juga orang Jepang... =)) Meski ada banyak info mengenai Jepang di dalamnya, saya sih nggak merasa digurui. Dibawa mengalir aja gitu... Meski bernuansa gloomy, tetep suka.

Bagaimana dengan "kipas"? Lebih kipas dari FSOG, sih, kata saya mah... Hahahaha... Mungkin karena nggak dituturkan in a porn way, jadi yah, kerasanya biasa aja. Cuma, yeah, lumayan bikin gerah, kok. Kalo kata si aki, nanti ada buku kulkas, bukan buku kipas lagi. Tenang aja, menurut saya, Norwegian Wood masih masuk kategori buku kipas atau AC. Belum ke kulkas, kok... X))

Jadi, untuk pengalaman saya pertama kalinya baca karya Haruki Murakami, saya terkesan dan suka. Bintang 4 layak, lah... ^_^

Postingan ini juga didedikasikan untuk



Lalu sekarang, bagian ketiga yang juga bagian terakhir: 
[2013 - RC Books in English] April's Link Post

Ya, silakan memasukkan link teman-teman. Mohon maaf, saya belum sempat blogwalking. Tapi, setelah urusan saya selesai, saya akan segera meninggalkan komentar. Kemungkinan besar, sih, saya mau bikin giveaway sehubungan dengan challenge ini. Nanti saya rencanakan dulu konsepnya gimana. Soalnya, bulan ini mau ikut bloghop giveawaynya BBI. Nantikan kabar berikutnya, ya...

Terusin baca - [2013 - RC Books in English] April's Link Post dan [Review] Norwegian Wood

27 Des 2012

Botchan, Si Anak Bengal


Judul buku: Botchan, Si Anak Bengal
Penulis: Natsume Soseki
Koordinator Penerjemah: Mikihiro Moriyama
Penerjemah: Jonjon Johana
Pewajah Sampul: Iksaka Banu
Pewajah Isi: Tim Khansa
Diterbitkan oleh: Khansa Books
Cetakan I, Juli 2012
Jumlah halaman: 233 halaman
Fiksi Klasik
ISBN-13: 978-602-97196-5-9
Status: Punya. Beli di Rumah Buku
Harga: IDR 32,000
 
 
Sejak kanak-kanak, Botchan tidak pernah lepas dari 'masalah'. Orangtuanya menganggapnya anak berandalan tanpa masa depan. Tidak ada yang menyukai maupun memahami tingkah lakunya, kecuali wanita tua yang menjadi pelayan keluarga mereka.

Berbekal warisan yang sedikit, Botchan berhasil lulus sekolah. Seperti biasa, tanpa berpikir panjang dan spontan, dia memutuskan untuk menerima tawaran menjadi guru. Ternyata, menjadi guru yang jujur di daerah pelosok tidak semudah yang dibayangkan...

Sebuah kisah yang akan membuat kita tertawa menangis dan marah di saat yang bersamaan. (dari sampul belakang buku)


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Hari ini Bunda berniat produktif. Soalnya sedang mengejar satu postingan lagi. Namanya wrap up post. Hahaha. Mumpung yang ngasih kerjaan lagi meeting di luar kota, Bunda mau habisin hari ini dengan posting aja. Biarin, deh, Bebi pusing terima mensyen dari Bunda terus #dikeplak Bebi.

Botchan si Anak Bengal ini ceritanya bukan si Botchan pas masih kecil yang bisa kalian bayangkan waktu baca Totto Chan gitu. Beda. Di buku ini, Botchan udah dewasa. Pas dia lulus sekolah menengah kejuruan di bidang Fisika dengan nilai pas-pasan, dia dapat kabar bahwa ada desa yang lagi cari guru Matematika. Maka, pergilah Botchan meninggalkan Tokyo untuk datang ke desa terpencil itu buat menjadi seorang guru.

Dari hari pertama kedatangannya ke desa itu, sudah nggak menyenangkan. Belum lagi perilaku murid-muridnya di kelas yang kurang ajar banget sama dia. Memang, sih, masa kecil Botchan terbilang bengal, nakal, sampai ayahnya aja bilang kalo dia bukan anak berguna. Lalu, pas ayahnya meninggal, dia dan kakaknya dapat warisan, kakaknya nggak mau ngurusin dia. Disuruh hidup mandiri aja.

Sebengal-bengalnya Botchan sewaktu masih sekolah, nggak diceritakan dia berbuat kurang ajar terhadap gurunya. Jadi, sewaktu dia menjadi guru dan mendapat perlakuan kurang ajar dari murid-muridnya, dia merasa kesal dan pengen murid-muridnya minta maaf.

Botchan ini ketika nggak lagi ngajar, dia pernah mampir ke warung dango. Lalu, begitu sampai kelas keesokan harinya, di papan tulis ada tulisan, "DANGO DUA PIRING, 7 SEN." Begitu juga waktu Botchan makan soba tempura, dia menemukan tulisan, "PROFESOR TEMPURA", "EMPAT PORSI SOBA TEMPURA, TAPI JANGAN TERTAWA", dan seterusnya.

Botchan tentu saja heran. Siapa yang iseng membuat dirinya ditertawakan murid-muridnya? Siapa yang tahu betul ke mana Botchan berada selepas mengajar? Dan lagi pula, apa salahnya makan soba tempura? Makan dango? Eh, anehnya, ternyata, malah "kesenangan" semacam ini justru dilarang pihak sekolah, lho!

Ternyata, meski Botchan ini bocah bengal, dia orang yang jujur. Dia tidak suka dengan "kekotoran politik" di ruang lingkup sekolah yang seharusnya menyanjung tinggi moral karena bergerak di bidang pendidikan. Sayangnya, terkadang dia ini lebih emosian, tipikal anak yang nggak berpikir panjang. Mungkin, karena dia juga merasa dirinya nggak pinter-pinter amat, kali, ya...

Anyway, terus terang, sebelum Bunda tahu kalo ini buku klasik, Bunda merasa agak kepayahan pas baca. Terjemahannya lumayan, kok. Typo ada, sih. Dan kerasa banget kalo ini terjemahan langsung dari Bahasa Jepang. Begitu browsing sana sini, ternyata... ini buku klasik. Pantesan... jadul banget. Hehehe...
 
Kalo boleh jujur, Bunda ketipu pas baca buku ini. Bunda pikir, memang cerita tentang anak-anak. Ternyata, cerita Botchan ini cerita tentang "politik kotor" di sekolah, tempat Botchan mengajar. Jadi, kalo memang ditanya apakah ini buku anak-anak, jawaban Bunda: bukan. Karena, kalo anak-anak yang baca, pasti bakalan nanya, "geisha" itu artinya apa? Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang hanya dipahami oleh orang dewasa.

Apa ya, yang bikin Bunda merasa tertipu? Oh. Mungkin covernya. Mungkin juga judul bukunya. Untuk terbitan Khansa Books ini, dari segi desain sampul, Botchan bernuansa buku anak-anak. 
 
Kalo nggak salah, sebelumnya pernah diterbitkan Gramedia, deh. Kurang lebih, kayak gini sampulnya. 


Botchan terbitan Gramedia

Gimana? Kelihatannya buku anak-anak apa bukan, kalo sampulnya kayak terbitan Gramedia gitu?

Meski begitu, walau tadinya Bunda nggak suka karena merasa tertipu karena desain sampul yang nggak mencerminkan isinya, ternyata feel-nya dapat. Bunda bisa ngerasain banget emosi si Botchan ini... Jadi... yah... Bunda kasih empat buat Botchan!
Terusin baca - Botchan, Si Anak Bengal