Tampilkan postingan dengan label komedi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komedi. Tampilkan semua postingan

23 Jun 2023

[2023: Book 15 & 16] Agen Polisi 212 #15 ~ Umpan Beruang & Agen Polisi 212 #11 ~ Wasit Jalanan - Raoul Cavin & Daniel Kox

 



Judul: Agen Polisi 212 #5 ~ Umpan Beruang 
Naskah: Raoul Cavin 
Gambar: Daniel Kox
Pengalih bahasa: Herry Wijaya
Penyunting: Gabriella Felicia
Redesain: Maria Theresa
Cetakan keenam, 2017
Diterbitkan oleh PT Bhuana Ilmu Populer
Jumlah halaman: 46 hlm
ISBN: 979-074-345-9
Genre: Fiction, Komik Strip, French Literature, Komedi, Satir
Status: Ilman beli di Gramedia pas acara Wisata Buku sewaktu masih SD, sekitar kelas 5




Judul: Agen Polisi 212 #11 ~ Wasit Jalanan 
Naskah: Raoul Cavin 
Gambar: Daniel Kox
Pengalih bahasa: Sadika Nuraini Hamid
Penyunting: Gabriella Felicia
Redesain: Maria Theresa
Cetakan pertama, 2010
Diterbitkan oleh PT Bhuana Ilmu Populer
Jumlah halaman: 46 hlm
ISBN: 979-074-143-7 
Genre: Fiction, Komik Strip, French Literature, Komedi, Satir
Status: Ilman beli di Gramedia pas acara Wisata Buku sewaktu masih SD, sekitar kelas 5
Rondouillard, naïf et sympathique, l'Agent 212 est la cible de tous les ennuis et de toutes les mésaventures auxquels un agent de police peut se trouver exposé. Délinquants, conducteurs imprudents ou suicidaires obstinés se succèdent, pour la plus grande joie des lecteurs et de ses auteurs, Kox et Cauvin.  


Hai, Kakak Ilman dan Adek Zaidan...
Seminggu ini aku ga nulis review, karena pekan lalu, begitu kelar publish postingan, aku dapet kabar papa sakit dan lagi dalam perjalanan pulang pake taksol. Denger papa sakit bikin dunia serasa runtuh. Jadi aku menjauh dulu dari aktivitas menulis, buat fokus sama papa.
Sekarang sih, papa udah back to office. Bismillaah..




Dua judul buku aku jadikan satu postingan karena sebenernya memang ga terlalu banyak yang bisa dibahas mengingat ini komik strip yang bener-bener hiburan sepintas. 

Agen Polisi 212 bercerita tentang dua agen polisi, Arthur dan rekannya, Albert, yang sering melakukan tindakan yang terlihat konyol saat bertugas. 

Misalnya saja di buku #5, di judul Umpan Beruang, mereka berdua dikabari ada kecelakaan tunggal, sebuah mobil menabrak pohon dan pengemudinya terluka. Ternyata yang jadi masalah adalah mobil itu bawa beruang dan beruangnya lepas. Pengemudi bilang, kalo berangus beruang terpasang di mulutnya, jadi mereka tenang-tenang aja. Tapiiii.. pas mereka mulai mencari beruang itu, yang mereka temukan pertama adalah berangusnya yang tergeletak di tanah. Yes, berangusnya lepas! Dan mereka berdua berusaha menyelamatkan diri dengan cara...

berbaring...

Konon, kalo nggak melakukan gerakan apapun, seperti mati, beruang nggak akan ganggu. Karena beruang nggak makan mayat. Baik Arthur maupun Albert melakukan itu demi menyelamatkan diri mereka. Si beruang akhirnya menghampiri pemiliknya dan dipasanglah berangusnya dengan aman. Tepat pada saat itu, pak komisaris berikut ambulans datang cuma buat menyaksikan dua anak buahnya berbaring di tanah, bukannya melakukan penyelamatan. Lucu satir ga sih...

Nah, kalo di buku #11, ada kekonyolan yang nggak hanya dilakukan duo Arhur dan Albert. Justru sekian polisi kena prank perampok. Sekitar 14 petugas polisi "ditantang" buat memecahkan rekor dengan berada di dalam bilik telepon umum. Setelah hitungan ke-18 (Arthur dihitung empat orang), perampok tersebut mengunci bilik telepon umum tersebut dan melanjutkan niat pertamanya: merampok. 


Semua kelakuan konyol para agen polisi ini memang menggemaskan. Dan herannya banyak banget, karena bukunya ada sampai 24 volume, di mana masing-masing ada sekitar 18-20 cerita konyol. Semua konyol. Lawak memang. Slapstick.

Intinya sih kalo kalian butuh bacaan ringan dan konyol juga nggak bikin over thinking, aku rasa serial Agen 212 ini cukup menghibur. Hiburan yang bikin kesel saking recehnya... hihi...


Aku baca ini untuk memenuhi tantangan: 
- Goodreads Reading Challenge 2023
- BBBBC Reading Challenge 

Sehat-sehat, ya, kalian berdua... xoxo...
Terusin baca - [2023: Book 15 & 16] Agen Polisi 212 #15 ~ Umpan Beruang & Agen Polisi 212 #11 ~ Wasit Jalanan - Raoul Cavin & Daniel Kox

30 Mei 2014

Saya Cinta Indonesia: Ocehan Komika tentang Kelucuan di Negerinya by Isman H Suryaman, dkk

Judul: Saya Cinta Indonesia: Ocehan Komika tentang Kelucuan di Negerinya
Penulis: Isman H. Suryaman, Andi Gunawan, Sammy 'not a slim boy', Miund
Penyunting: Agus Wahadyo
Desain cover: Budi Setiawan
Penata letak: Eko Haryanto
Diterbitkan pertama kali oleh: mediakita
Cetakan kedua, 2013
ISBN: 979-794-368-2
Status: punya, edisi bertandatangan om Isman (dapet lewat nepotisme ke tante Primadonna Angela)


Blurb:
Kenapa orang Sunda ada yang susah membedakan arah? Saya baru menyadarinya ketika pergi ke Yogyakarta. Berkebalikan dengan karakteristik umum orang Sunda, prang Yogya umumnya sangat paham arah.
Saking pahamnya, kalau saya nanya jalan, saya tetap bingung.
"Permisi, Mas. Kalau ke Malioboro ke arah mana, ya?"
"Oh, Malioboro? Gampang itu. Ambil arah utara 500 meter, nanti ketemu persimpangan. Belok aja ke barat daya sekitar 300 meter. Belok lagi ke jalan yang tenggara, ikuti sekitar 700 meter. Nanti balik ke Utara. Gampang"
..."Saya telepon taksi aja, ya, Mas."

posting bareng BBI Mei 2014 tema Humor dan Komedi

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Setelah beberapa bulan absen, Bunda akhirnya ikut lagi baca dan posting barengnya BBI. Tapi bulan ini, Bunda nggak ikut tema Katulistiwa Literature Award 2013. Alasannya, karena Bunda nggak punya satu pun bukunya. Kedua juga belum tergerak untuk punya apalagi beli. Pasti mandek bacanya.
Kebetulan Bunda udah kelarin baca buku om Isman dan teman-temannya ini, jadi buku ini Bunda bisa pakein alasan untuk ikut posting bareng. Hehehe...

Mungkin kalian belum tahu siapa om Isman. Hmm... sebetulnya, om Isman itu lulusan Teknik Informatika ITB, kakak kelasnya om Fatah, om Ruli dan teman-teman Bunda lainnya yang membelot menjadi komedian dengan spesifikasi stand up comedy alias jadi komika. Nah, om Isman menikah dengan tante Dona, teman Bunda. Iya, tante Dona yang Primadonna Angela itu... 

Apakah sebagai komika, om Isman itu lucu? XD
Pertanyaan yang sulit. Soalnya, om Isman itu nggak cuma lucu, tapi juga absurd. Dan kalo udah merhatiin sahut-sahutannya sama tante Donna di twitter, Bunda bisa bayangin tiap hari ketawa melulu kalo ada di dekat mereka berdua. Hihihi. 
Om Isman membuktikan bahwa jadi orang pinter (pinter karena beliau mengenyam pendidikan di Teknik Informatika ITB ~ yang mana pas jaman Bunda mau masuk kuliah dulu, passing grade-nya paling tinggi se-Indonesia) nggak selamanya kaku, nggak bisa bercanda dan datar. Selain pinter secara akademik (yang dibuktikan dengan di mana beliau lulus kuliah), om Isman juga pinter ngelucu. 

Heiiii! Kenapa Bunda bahas tentang pinter nggak pinter di review, sih? KOK? Bunda mulai kebawa-bawa sama tante yang satu itu, sih... Yang setiap saat nulis, pasti bawa-bawa soal otak, kepintaran, dan teman-temannya. D'oh!

Hayu kita fokus ke review Bunda tentang buku ini. Hmmm... Bunda baru sadar, bedanya menyimak stand up comedy dengan baca ocehan mereka di buku, setelah baca buku ini. Hampir semua yang diceritain di buku ini sesungguhnya cerita yang miris, menyedihkan. Tapi karena yang ceritanya komika, tentu diserempet-serempetin biar lucu. Sayangnyaaaa... karena ini buku, sebetulnya bukan humor yang berasa, tapi kadang malah sedih. Nyengir ada sih. Tapi nggak sampai ngakak kayak kalo nonton mereka lagi open mic. Mungkin karena pengaruh mimik muka, gerak tubuh, suara, tatap mata saat komika open mic, kita bisa menertawakan sesuatu yang sebetulnya menyedihkan. 

Eh, tapi, di awal cerita ini, Bunda lumayan ngakak, lho. Ngebayangin tampang om Isman yang tinggal di Bandung, terus dikasih tau arah menuju Malioboro pas di Yogya... hihihi... Kayaknya, kalo jualan GPS di Yogyakarta nggak akan laku sama orang asli Yogya atau yang udah tinggal di sana lama, ya. Hahaha... Abisnya, ngasi tau arah, bener-bener sama akuratnya kayak di GPS! XD

Kalo cerita-cerita lain om Isman, kayak tentang debat capres, telemarketing, dan lain-lain, kita dibuat agak mikir. Soalnya konsep tulisannya lebih ke dialog. Masih kerasa lucu, cuma Bunda tetep susah ngakak, karena butuh visual komika untuk bisa menertawakan ini. 

Sementara untuk ocehan om Andi Gunawan cukup sukses bikin Bunda ngikik sekaligus miris. Segini parahnya kah, negeri kita saat ini? Rangkaian ocehan om Andi ditutup dengan komik strip yang bikin Bunda ngakak kejungkel saking lucunya...

Sementara ada cerita om Sammy 'not a slim boy' yang malah mengundang air mata haru. Misalnya, dia cerita tentang ketakutannya akan bapaknya diculik PKI karena bapaknya seorang perwira TNI. FYI, di masa Bunda kecil, sepertinya sama juga dengan om Sammy, semua siswa sekolah sempat diwajibkan untuk nonton film Penumpasan G30S/PKI setiap tahunnya. Beruntung banget, Bunda nggak perlu nonton ke bioskop, karena bioskop yang ada di Bandung terlalu jauh untuk dijangkau oleh kami. Film itu sebetulnya sadis dan bukan konsumsi anak SD. Nggak tahu kenapa, kami diwajibkan nonton itu setiap tahunnya... >_<
Ada, sih, cerita yang lucu. Tapi kebanyakan yang diceritain om Sammy di buku ini kok, malah sedih, ya? Favorit Bunda adalah cerita Guru Omar Bakrie, Sebuah Ilustrasi. Bikin mewek.

Buku ini ditutup dengan kumpulan ocehan tante Miund. Ocehan tante Miund ini beneran bikin ngakak, karena ceritanya nggak jauh dari lingkungan sehari-hari. Ngakaknya bukan karena lucu, tapi bener-bener miris. Ada ceritanya, tante Miund diajak ibunya untuk ngajarin ibu-ibu PKK di daerah kumuh di Jakarta Utara. Kumuhnya bener-bener kumuh. Rumah petak-petak sangat rapat, bau lembap, dan buang air atau mandi mesti di MCK. Tapi, pas lagi makan siang, tante Miund sempet ngeliat ada anak-anak yang pegang PSP terbaru. Asli, bukan KW apalagi palsu. Pas tante Miund nawarin makan siang ke mereka (saat itu konsumsinya adalah paket nasi Hokben), mereka jawab, "nggak, ah! Bosen Hokben mulu."

WHAT?

Ocehan-ocehan lain tante Miund bikin ngikik juga, kayak gimana komentar tante Miund tentang cerita dongeng ala Disney vs dongeng Indonesia. Kita digiring buat mikir soal dongeng-dongeng ala Disney itu. Hihi... Bikin Bunda agak merasa beruntung karena nggak harus mengenalkan princesses itu ke anak-anak Bunda, karena anak-anak Bunda laki-laki semua. Hahaha... Ada juga tentang perempuan di gym. Juga tentang Jakarta. Semuanya bikin nyengir lebar.

All in all, meski kerasa bedanya antara nonton komika saat open mic dengan baca cerita mereka di buku, buku ini tetep punya greget kalo menurut Bunda. Biarpun keempat komika ini gemes suremes sama negerinya sendiri, mereka bener-bener mencintai negerinya dan pastinya mendukung perubahan ke arah yang lebih baik. Dengan kata pengantar dari om Pandji Pragiwaksono, komika yang nggak pernah lelah mengajak anak-anak muda Indonesia untuk melek politik di Indonesia, Bunda yakin, kehadiran para komika yang bener-bener peduli sama perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik bisa jadi motor supaya alay-alay ikut peduli sama negaranya sendiri. Empat bintang untuk Saya Cinta Indonesia!

Love you both... Cheers!



Terusin baca - Saya Cinta Indonesia: Ocehan Komika tentang Kelucuan di Negerinya by Isman H Suryaman, dkk

7 Apr 2014

Belajar Berempati kepada Dokter Lewat Buku Ajar Koas Racun by Andreas Kurniawan, dr.


Judul: Buku Ajar Koas Racun - Panduan Wajib --bertahan hidup-- untuk Koas dan Mahasiswa Kedokteran
Penulis: Andreas Kurniawan, dr
Penyunting: Agus Wahadyo
Desain cover: Mutia Han
Penata letak: Andipa
Diterbitkan pertama kali oleh Mediakita
Cetakan kedua, 2012
Genre: Komedi, Non-fiksi, Indonesian-Literature, Kedokteran
ISBN: 979-794-365-8
Jumlah halaman: XII + 256 hlm; 13 x 19 cm


Hidup di dunia medis membuat kita (koas) memiliki satu kelebihan. Kita bisa menerapkan ilmu medis dalam melancarkan gombalan. Itu akan terlihat SANGAT KEREN.
"Mama kamu dulu ngidam lithium ya? Soalnya kalau deket kamu, mood aku yang biasanya naik turun, sekarang jadi stabil." [SUKSES!]

Tapi, gombalan ala medis kadang memiliki efek samping yang tidak diharapkan.

"Mama kamu dulu ngidam lithium, ya? Soalnya muka kamu kotak kayak batere HP." [GAGAL!]

***

KOAS...! Ini yang membuat mahasiswa Fakultas Kedokteran percaya bahwa neraka itu benar ada. Buku Ajar Koas Racun ini, selain menuturkan pengalaman yang mengundang gelak tawa, juga akan memberi pelajaran baru dalam melewati rintangan-rintangan yang kerap menghadang koas, seperti saat menghadapi konsulen (penguji) ketika ujian.

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...

Bab pertama buku ini, judulnya Koas dan Jaga Malam. Yang dimulai dengan
Jaga malam, kata yang berpotensi membuat koas merinding dari ujung rambut hingga ujung bulu jempol kaki. Setelah lelah seharian digiling di rumah sakit, seorang koas akan diperas kembali di IGD dari pukul 3 sore hingga pukul 6 pagi keesokan harinya. Jaga malam ini terjadi secara bergiliran dari hari ke hari, tergantung stase yang dijalani. Lain halnya dengan satpam yang kalau habis jaga malam diperbolehkan libur keesokan harinya, seorang koas yang sudah selesai jaga tetap harus menjalani pendidikan seperti biasa keesokan harinya.

Horor banget, ga sih?

Jadi zombie semaleman, terus masih mesti belajar di pagi hari. Nanti sore diperas lagi (emang sapi?) buat jaga di IGD. Bunda pernah sih, ada berjam-jam di UGD. Sewaktu nungguin hasil tes darah adek Zidan, plus Bunda sendiri pas menjelang rawat inap. Kalo pas Bunda yang mau dirawat sih, Bunda ga ngeliat langsung seluruh kesibukan UGD, karena Bunda berbaring, ruangan ditutup. Boro-boro pengen ngeliat sekitar, badan Bunda rasanya ambruk banget :D

Tapi, pas nemenin adek, karena saat itu Bunda dalam keadaan sehat, jadi Bunda menyaksikan banyak hal di UGD. Jadi, pas baca cerita tentang pengalaman para koas di buku ini, yang kebayang sih, kondisi para koas.

Nah, dengan segala kengocolannya lewat buku ini, Bunda jadi yakin bahwa para dokter sebetulnya manusia biasa. (Lah, jadi selama ini Bunda nganggep dokter apa? Dewa? x)))
Di sini diceritain juga tentang koas "pengundang pasien" dan "penolak pasien". Entah gimana, kok, berasa mistis gitu kedengarannya. Hihihi...

Jadi ingat, dulu, Yangkung pengen banget Bunda masuk FK, supaya Bunda bisa jadi dokter yang menolong orang banyak. Bahkan kalo bisa, kelak Bunda jadi dokter kaya yang kalo meriksa orang (terutama orang-orang ga mampu) bisa gratis, termasuk biaya operasi, rumah sakit, dll.
Bunda sekarang ngerti kenapa Yangkung dulu keukeuh pengen Bunda jadi dokter. Sayangnya, Bunda yang ga mau. Pertama, Bunda ga tahan bau-bauan bahan kimia (terutama yang beneran nyegrak kayak formalin atau asam asetat). Sementara buat jadi dokter, harus sering main dengan bahan-bahan kimia serupa, bahkan dengan yang lebih strong.

Kedua, Bunda ga kuat liyat darah segar lama-lama. Pasti pusing. Mungkin karena nggak biasa, kali ya. Tapi ga tau juga, kalo nekat cuma dua kemungkinan: jadi kebal atau malah sakit jiwa. Ketiga, Bunda orangnya ga tegaan. Gampang melow. Kebayang, kan, kalo misalnya mesti nyuntik, terus pasien belum apa-apa udah jerit-jerit ketakutan, Bunda kemungkinan besar ga melakukan tindakan. Haha. Nonton film berdarah-darah aja langsung mual, kok.

Keempat, Bunda ga terlalu suka ngafal, kecuali buat ngegombal. Dengan literatur sebanyak itu, masa iya semuanya bakalan jadi modal ngegombal? Kan nggak... Kasian pasiennya ntar... :D
Masih banyak alasan lain yang memang dasar aja Bunda ga mau jadi dokter :P

Bukan cuma tentang Koas dan Jaga Malam yang diceritain di sini. Ada tentang Koas dan Guru. Guru di sini ga cuma dosen atau yang mereka sebut dengan konsulen, tapi juga kadaver (mayat yang dijadikan bahan pelajaran koas) termasuk pasien-pasien yang mereka hadapi langsung. Ada juga cerita tentang tulisan dokter yang katanya jelek itu, tentang dokter yang katanya nggak bisa sakit itu, koas dan kejombloan, koas dan ujian, plus tentang koas yang nggak lagi nyante kalo nonton film atau baca buku yang bawa-bawa dunia kedokteran. Hihi. Tentu saja, bagian favorit Bunda adalah yang Bunda sebutkan terakhir barusan. Karena sukses bikin ngikik.

Oya. Dari tadi mungkin Kakak atau Adek bingung. Koas itu apa, sih? Kalo menurut tante Dewi, koas itu sebutan untuk mahasiswa Fakultas Kedokteran tingkat klinik. Kisaran tingkat 5-6).

Seru banget baca buku ini, sih. Baca kisah-kisahnya menyegarkan mata dan hati. Bunda nggak nyangka, selain tante A.s Dewi yang seorang dokter ngocol plus kacrut, ternyata banyak dokter lain yang sama kacrut. Menurut tante Dewi, yang lebih kacrut dari beliau banyak. Cuma Bunda aja nggak kenal, gitu katanya.

Sesuai judul review Bunda di atas, buku ini tetep bermanfaat buat kita atau mereka yang nggak pernah icip-icip sekolah di Fakultas Kedokteran. Minimal, kalo inget, kirimin makanan, gitu, ke IGD. Hihihi...

Terlepas dari semua pujian di atas, Bunda menyayangkan tata letak komik meme yang memotong cerita. Mungkin mestinya ditaruh di akhir bab aja kali, ya. Ilustrasinya emang menjelaskan cerita, sih, kadang. Tapi kurang enakeun aja gitu liyatnya.

Bintang empat, layak dong, buat om Andreas dan semua dokter yang ada di Indonesia. Fighting, ya!

Cheers! Love you both,



Terusin baca - Belajar Berempati kepada Dokter Lewat Buku Ajar Koas Racun by Andreas Kurniawan, dr.

8 Okt 2013

Genk Kompor One for All, All for Dhuaaar! by Genk Kompor



Judul: Genk Kompor - One for All, All for Dhuaaaar!
Penulis: Genk Kompor (Abe, Nando, Sandi, Erin, Eno, Deny)
Diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia
Tahun terbit 2013
Jumlah halaman: 195 hal + xxiv
Genre: Fiksi Kontemporer, Komedi, Teenlit
Status: Punya. Buntelan dari Tante Yudith


Ketika para peleduk bertemu, apa yang akan terjadi?
Korslet? Kebakaran? Kerusuhan?

Abe, Deni, Eno, Erin, Nando, dan Sandi adalah segerombolan anak dengan segudang sifat dan keanehan yang berbeda jenis tapi saling melengkapi. Melengkapi keonaran satu sama lain! Saling sulut-menyulut, saling kompor-mengompori, dan akhirnyaaa: Dhuaaar? Meleduk!!!

Genk Kompor: tidak hanya memancing tawa, tapi juga haru!


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...
Kali ini Bunda dapat "tugas" mereview buntelan yang dikasih ke Bunda sebagai member BBI. Hahay! Sewaktu om Dion nunjukin foto setumpuk buku, entah kenapa, Bunda jadi yang pertama komen dan bilang, "mau Genk Kompor!"

Mungkin karena Bunda butuh tertawa, makanya, begitu baca kata Genk Kompor langsung menarik perhatian tanpa pikir panjang. Di Goodreadspun, sepertinya baru Bunda yang kasih rating :P *err, setidaknya sampai hari ini*

Oke. Seperti yang diceritakan oleh sinopsis di atas, buku ini bercerita tentang persahabatan. Yang Bunda suka adalah idenya. Ternyata, nama-nama tokoh seperti Abe, Deni, Eno, Erin, Nando, dan Sandi diambil dari nama-nama penulisnya sendiri. Jadi, para penulis ini bikin proyek keroyokan serial Genk Kompor yang katanya termasuk Serial Laris Story Teenlit Magazine. 

Karakter di dalam buku ini, di antaranya:
Abe, si poni Justin Bieber. Dia ini anak IPA, tapi karena ada gebetannya di kelas IPS, jadi sering ikut pelajaran di kelas IPS. 
Deni, si penyair pantun. Kadang pantunnya nyambung, lucu, tapi banyakan ga jelasnya. Dia ini alergian, jadi gampang bersin. 
Eno, cewek mungil berkacamata, bawel. Suka banget mondar-mandir di koridor. Punya kucing jantan bernama Beldo dan kakak bernama Arum.
Erin, cewek penyuka coklat yang doyan banget dandan. Kapan aja ada kesempatan, pasti deh, lagi mupurin mukanya pake bedak. Agak heran juga, sih, anak SMA dia bawa-bawa perlengkapan lenong selengkap eye shadow, blush on dan lipstik. *eyeroll*
Nando, si jambul, yang dikit-dikit kerjanya benerin jambul. Dia sayang banget sama ibu dan adiknya. 
Sandi, cowok asal Medan yang pendiam ini semasa kecil bersahabat dengan Eno. Dialah yang paling misterius di antara kelima sahabat lainnya.

Blurbnya juga menjanjikan, sih. Jadi, Bunda sempat berharap banyak banget sama buku ini, supaya Bunda bisa teraduk-aduk karena tertawa.

Nah, sayangnya, pas awal-awal baca buku ini, Bunda mulai boring. Nggak ngakak. Biasa aja. Cengar-cengir standar. Pertanyaan Bunda cuma satu, sih, waktu itu, "Ini Bunda yang sense of humor-nya udah ngedrop sampai titik minus atau emang cerita komedinya garing?"

Meski ada pertanyaan kayak gitu, Bunda maju terus buat baca. Bunda yakin, bahwa "Warning! Ngakak Abis" di kaver nggak cuma omong kosong. Kalo iya, Bunda akan tuntut! *halah* :P

Ternyata, mulai di pertengahan buku, cengiran Bunda mulai melebar. Dan setelah hampir lembar-lembar terakhir, Bunda mulai tertawa. Bunda paling suka cerita Menjemput Masa Lalu yang udah mulai "panas" banget. Bunda inget, Bunda baca di angkot - yang, untunglah cuma ada dua penumpang lain di depan - terkikik geli membayangkan scene Nando yang dijuluki "bayi lumba-lumba" oleh teman-temannya ketika menginap di rumah Deni. Dan masih di cerita ini juga, Bunda dibuat menangis. 

Kenapa Bunda sempat pesimis dan mempertanyakan sense of humor Bunda? Karena cerita di awal, bodorannya (apa, ya, bahasa Indonesia-nya? Oh! Humornya!) garing, udah ketebak dan standar banget. Semacam.. ummm... klise? 

Terus pas giliran tebak-tebakan bahasa Inggris, Bunda sempat dibuat gemas. Ada banyak "pengetahuan umum" yang kalo dibaca sama anak-anak jaman sekarang, kalo sasarannya anak SMP-SMA sekarang, udah terbilang basi. Misalnya aja, ada tebakan yang jawabannya, "run no car no" (kalo diinget-inget itu adalah plesetan dari nama Rano Karno, salah satu aktor Indonesia, yang saat ini menjadi Wagub Banten). Masalahnya, Bunda nggak yakin, ada abege sekarang yang tahu siapa Rano Karno. Anaknya mungkin. Tapi segmen pembaca secara keseluruhan kayaknya ga tau siapa beliau.

Ada lagi sih, yang bikin Bunda cengar-cengir. Salah satu bab yang berjudul Tomboy kok Mellow. Nah, di situ ada adegan Sandi dan Eno ngobrol. Mereka berdua ngobrol pakai logat Batak. Bikin Bunda ingat sama Om Helvry dan Tante Putri yang kalo ngobrol, logat mereka Batak abis. Hihihi.

Walau Bunda sempat kecewa dengan warning ngakak abisnya itu, ternyata Bunda terhibur banget dengan buku ini. Bunda juga salut dengan persahabatan mereka. Misalnya, pas Abe udah berusaha banget mendekati Tria, cewek incerannya, tapi ketika dekat dengan Tria, Abe malah gugup dan salting. Trus, malah, Tria udah keembat duluan sama Vincent. Nah, pas akhirnya, Abe dapat kesempatan buat deketin Tria, dia malah milih nguntit Sandi yang misterius dan akhirnya kencan pertama Abe - Tria batal.

Kalo ditanya, Bunda paling suka karakter mana, yang jelas, Bunda suka semuanya secara adil dan merata. Karena, mereka semua adorable. Buku ini nggak cuma menghibur, tapi juga "mengajarkan" kasih sayang, kepedulian dalam persahabatan. 

Oya, itu di kaver belakang, ada kata-kata agak mengganggu. "saling sulut-menyulut, saling kompor-mengompori". Padahal cukup ditulis, "saling menyulut, saling mengompori" aja. 

Makasih, Genk Kompor dan Tante Yudith. Bunda terhibur! ^_^

Terusin baca - Genk Kompor One for All, All for Dhuaaar! by Genk Kompor

23 Jul 2013

More Weird Things Customers Say in Bookshops


Judul: More Weird Things Customers Say in Bookshops
Penulis: Jen Campbell
Ilustrasi: The Brothers McLeod 2013
Desain: Basement Press, Glaisdale
Diterbitkan oleh: Constable
ISBN-13: 978-1-47210-741-1
e-book
Genre: Humor, Funny, Non-fiction, Comedy, Contemporary


Customer (holding up a book): What’s this? The Secret Garden? Well, it’s not so secret now, is it, since they bloody well wrote a book about it!

Weird Things Customers Say in Bookshops was a Sunday Times bestseller, and could be found displayed on bookshop counters up and down the country. The response to the book from booksellers all over the world has been one of heartfelt agreement: it would appear that customers are saying bizarre things all over the place - from asking for books with photographs of Jesus in them, to hunting for the best horse owner’s manual that has a detailed chapter on unicorns.

Customer: I had such a crush on Captain Hook when I was younger. Do you think this means I have unresolved issues?

More Weird Things Customers Say in Bookshops has yet more tales from the antiquarian bookshop where Jen Campbell works, and includes a selection of ‘Weird Things...’ sent in from other booksellers across the world. The book is illustrated by the BAFTA winning Brothers McLeod. (dari Goodreads)

ALERT: 
REVIEW (ATAU BUKAN REVIEW?) 
INI ISINYA CUMA SPOILER 
*maaf*


Halo, Kakak Ilman dan Adik Zaidan...

Sekarang hari ke-15 bulan Ramadhan. Udah separuh bulan Ramadhan. Duh, tadarus Bunda tersendat begini...
Oh, ya... Akhirnya, Bunda dapet juga sekuel dari buku Weird Things Customers Say in Bookshops. Buku pertama, dalam format e-book yang Bunda dapet, meski jarak font, dll-nya bikin jereng, cukup sukses bikin Bunda ngekek-ngekek. Format ebook di buku kedua yang Bunda dapat, cukup beradab, lah... Yang jelas, bacanya ga pake perjuangan, selain kudu bisa bahasa Inggris. hihihi....

Buku ini terbagi atas tiga bagian. Eh, empat. Bagian pertama Introduction. Bagian kedua, tentang percakapan yang terjadi di Ripping Yarns Bookshop. Bagian ketiga, percakapan "weird" yang terjadi di bookshops lain. Dan bagian keempat, terakhir, adalah peristiwa celoteh orang-orang yang dateng saat acara Book Signings buku ini.

Menurut pendapat Bunda:
Kalo yang baca buku ini nggak pernah baca buku, nggak doyan Harry Potter atau nggak kenal dengan dunia imajinasi, maka buku ini adalah bacaan yang tidak mudah dipahami, tidak mudah dicerna. Jadi, untuk baca buku ini, haruslah punya wawasan cukup untuk bisa ngerti. Kenapa kesannya kayak baca buku yang satu itu, ya? X))

Sebab, buku ini emang bercerita tentang kelakuan aneh-aneh di sudut pandang bookseller. Jadi, wajar, kalo ada yang saking pengen merasa keren lalu baca buku ini, tapi dia nggak ngerti apa-apa, nggak tau di mana letak lucunya, bisa jadi, dia nggak pernah baca buku sebelumnya :D

Nah, apa yang bikin ngakak? Banyak. Sengaja Bunda ga pake tutup buka buat lihat spoilernya. Sebab, di atas udah dikasih tau bahwa review ini full of spoiler :D Atau sebenarnya ini bukan review? Reviewnya udah di atas. Cukup dua paragraf aja. Sisanya... Bunda suguhkan spoiler aja. Semoga berkenan :D

Di halaman pertama aja, udah nemu percakapan yang bikin pengen nejeh-nejeh customer :))

BOOKSELLER: Hi. Can I help you find anything?
CUSTOMER: Yes, Ths is your history section, right?
BOOKSELLER: Yep.
CUSTOMER: I can see you've got books on World War I and World War II.
BOOKSELLER:  Yes, we do.
CUSTOMER: But I can't find any books on World War III. Where are those?

CHILD: Mummy, who was Hitler?
MOTHER: Hitler?
CHILD: Yeah. Who was he?
MOTHER: Erm, he was a very bad man from a long time ago.
CHILD: Oh. How bad?
MOTHER: He was like... he was like Voldemort.
CHILD: Oh! That's really, really bad.
MOTHER: Yes.
CHILD: (Pause) So, did Harry Potter kill Hitler, too?

CUSTOMER (picking up a copy of Little Women): Is this a book about really short people?

LITTLE GIRL (pointing at Dr. Seuss books): I made a hat for my cat, but he won't wear it. That book is full of lies.


CUSTOMER: I don’t like biographies. The main character pretty much always dies in the end. It’s so predictable!

WOMAN (holding a copy of a Weight Watchers book in one hand, and The Hunger Games in the other): Which of these dieting books would you recommend most?

CUSTOMER: I really don’t like the planet today – can you recommend a book set far, far away?

CUSTOMER: Are you prepared? 
BOOKSELLER: ... For what? 
CUSTOMER: For the zombie apocalypse.

CUSTOMER: Do you believe in past lives?
BOOKSELLER: Erm, well, I ...
CUSTOMER: I do. I absolutely do. I feel very at one with everything. I’m pretty sure this is my seventh time on earth.
BOOKSELLER: I see.
CUSTOMER (looking pleased with herself): And I’m almost certain that in a past life I was Sherlock Holmes.
BOOKSELLER: ... You know, Sherlock Holmes is a fictional character.
CUSTOMER (outraged): ... Are you trying to tell me that I don’t exist?
BOOKSELLER: ...

YOUNG GIRL (pointing to a cupboard under one of the bookshelves): Can you get to Narnia through there?
BOOKSELLER: Unfortunately, I don’t think you can.
YOUNG GIRL: Oh. Our wardrobe at home doesn’t work for getting to Narnia, either.
BOOKSELLER: No? 
YOUNG GIRL: No. Dad says it’s because Mum bought it at IKEA

CUSTOMER: Where are your books on war?
BOOKSELLER: They’ll be in with history. Our history section is split up into British History, European History, American History and World History. Which war are you looking for, specifically?
 
CUSTOMER: I want a history of the ongoing war between werewolves and vampires.
BOOKSELLER: …
CUSTOMER: Where would I find that?

Terus, ada juga yang paling epic dari semuanya...

YOUNG BOY: You should put a basement in your bookshop.
BOOKSELLER: You think so?
YOUNG BOY: Yeah. And then you could keep a dragon in it, and he could look after the books for you when you're not here.
BOOKSELLER: That's pretty cool idea. Dragons breathe fire, though. Do you think he might accidentally burn the books?
YOUNG BOY: He might, but you could get one who'd passed a test in bookshop-guarding. Then, you'd be OK
BOOKSELLER: You know, I think you're on to something here.

---
Dan, kayaknya karena pas ditulis Fifty Shades of Grey - E.L James lagi marak, jadi sebagian besar isi percakapan mengenai buku itu. Di antaranya:

CUSTOMER: I'm looking for this picture book for my daughter. I read about it in a review somewhere, I think it's by someone called E. L. James.
BOOKSELLER: Erm, I don't think it was by that person; that's who wrote Fifty Shades of Grey.
CUSTOMER (going bright red and clutching her handbag, as though hiding something inside it): Oh! I don't know how that name cropped into my head, then, I've certainly never read any of those books! Never!

---

Terus ada yang curhat, dia ga mampu olahraga di sports club, minta ijin buat olahraga angkat beban pake buku-buku tebal yang ada di toko buku. Hadooooh! X))

Nah, ini pengalaman Jen Campbell pas acara book signings:

WOMAN: So. Are you the new J. K. Rowling then? You don't look like her. You've got different hair.

WOMAN (walks up to me, holding up a copy of Fifty Shades of Grey): Will you sign this for me?
ME: ... I didn't write that book
WOMAN: But the sign here says that you're signing books today.
ME: Yes... I'm signing the book that I wrote (indicates Weird Things...)
WOMAN: Just that one?
ME: ... Yes
WOMAN: Not any of others?
ME: ... No.
WOMAN: Oh, well, that's very odd. (She wanders off, looking confused)

Nah... masih penasaran? Silakan dibaca bukunya. Syaratnya tetep satu: HARUS NGERTI BUKU biar tahu letak lucunya di mana :D

Oya, ini Bunda masukkan linky untuk yang mau posting review Books In English RC. Maaf, Bunda belum sempat blogwalk. Tapi kan kalo ada linky, Bunda bisa jalan-jalan jadinya nanti... :)

Terusin baca - More Weird Things Customers Say in Bookshops